Anda di halaman 1dari 5

http://studioarsitektur.

com/forum/konsep-dan-teori/sistem-tanda-semiotika-teks-dan-
teori-kode/

SISTEM TANDA, SEMIOTIKA TEKS DAN TEORI KODE


on: June 26, 2008, 01:33:07 AM

SISTEM TANDA, SEMIOTIKA TEKS DAN TEORI KODE

Karya arsitektural selalu mengandung pesan didalamnya, baik itu berupa gagasan,
ideologi, dan bahkan misi yang ingin dicapai oleh sang arsitek melalui hasil karyanya
tersebut. Pesan ini kemudian terwujud dalam bentukan elemen-elemen arsitektural
bangunannya, baik yang secara lepas maupun saling terintegrasi kemudian membentuk
suatu sistem tanda baik pada ruang luar (eksterior) maupun ruang dalam (interior) dan
menjadi karakter dari bangunan tersebut. Pembahasan sistem tanda tak akan lepas dari
bahasan semiotika. Semiotika (semiotics) berasal dari bahasa Yunani semeion yang
berarti tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat
komunikatif, mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat
dipikirkan atau dibayangkan (Broadbent, 1980).
Metode semiotika secara prinsip bersifat kualitatif-interpretatif dan dapat diperluas
sehingga bersifat kualitatif-empiris. Metode kualitatif-interpretatif lebih berfokus kepada
teks dan kode yang nampak secara visual sedang metode kualitatif-empiris membahas
pada subyek pengguna teks (Yusita Kusumarini,2006).

Sistem Tanda (Semiotik)


Semiotik (semiotic) adalah teori tentang pemberian tanda. Secara garis besar semiotik
digolongkan menjadi tiga konsep dasar, yaitu semiotik pragmatik (semiotic pragmatic),
semiotik sintatik (semiotic syntactic), dan semiotik semantik (semiotic semantic)
(Wikipedia,2007).

Semiotik Pragmatik (semiotic pragmatic)


Semiotik Pragmatik menguraikan tentang asal usul tanda, kegunaan tanda oleh yang
menerapkannya, dan efek tanda bagi yang menginterpretasikan, dalam batas perilaku
subyek. Dalam arsitektur, semiotik prakmatik merupakan tinjauan tentang pengaruh
arsitektur (sebagai sistem tanda) terhadap manusia dalam menggunakan bangunan.
Semiotik Prakmatik Arsitektur berpengaruh terhadap indera manusia dan perasaan
pribadi (kesinambungan, posisi tubuh, otot dan persendian). Hasil karya arsitektur akan
dimaknai sebagai suatu hasil persepsi oleh pengamatnya, hasil persepsi tersebut
kemudian dapat mempengaruhi pengamat sebagai pemakai dalam menggunakan hasil
karya arsitektur. Dengan kata lain, hasil karya arsitektur merupakan wujud yang dapat
mempengaruhi pemakainya.

Semiotik Sintaktik (semiotic syntactic)


Semiotik Sintaktik menguraikan tentang kombinasi tanda tanpa memperhatikan
maknanya ataupun hubungannya terhadap perilaku subyek. Semiotik Sintaktik ini
mengabaikan pengaruh akibat bagi subyek yang menginterpretasikan. Dalam arsitektur,
semiotik sintaktik merupakan tinjauan tentang perwujudan arsitektur sebagai paduan dan
kombinasi dari berbagai sistem tanda. Hasil karya arsitektur akan dapat diuraikan secara
komposisional dan ke dalam bagian-bagiannya, hubungan antar bagian dalam
keseluruhan akan dapat diuraikan secara jelas.

Semiotik Semantik (semiotic semantic)


Semiotik Sematik menguraikan tentang pengertian suatu tanda sesuai dengan arti yang
disampaikan. Dalam arsitektur semiotik semantik merupakan tinjauan tentang sistem
tanda yang dapat sesuai dengan arti yang disampaikan. Hasil karya arsitektur merupakan
perwujudan makna yang ingin disampaikan oleh perancangnya yang disampaikan melalui
ekspresi wujudnya. Wujud tersebut akan dimaknai kembali sebagai suatu hasil persepsi
oleh pengamatnya. Perwujudan makna suatu rancangan dapat dikatakan berhasil jika
makna atau arti yang ingin disampaikan oleh perancang melalui rancangannya dapat
dipahami dan diterima secara tepat oleh pengamatnya, jika ekspresi yang ingin
disampaikan perancangnya sama dengan persepsi pengamatnya.

Teori Semiotik
Di dalam bidang filsafat, bidang linguistik hingga arsitektur dikenal beberapa tokoh
yang mengungkapkan teori-teori mereka tentang semiotika. Teori semiotika tersebut
biasa dikelompokkan menjadi teori semiotika dikotomi (yang dibagi menjadi dua bagian)
dan trikotomi (yang dibagi menjadi tiga bagian). Teori semiotika yang banyak digunakan
dalam pengkajian sistem tanda antara lain, Teori Semiotika Ferdinand De Saussure,
Semiotika Roland Barthes, Semiotika C.K. Ogden dan I.A. Richard, dan Semiotika
Charles Sanders Peirce.

Semiotika Saussure
Teori Semiotik ini dikemukakan oleh Ferdinand De Saussure (1857-1913). Dalam teori
ini semiotik dibagi menjadi dua bagian (dikotomi) yaitu penanda (signifier) dan pertanda
(signified). Penanda dilihat sebagai bentuk/wujud fisik dapat dikenal melalui wujud karya
arsitektur, sedang pertanda dilihat sebagai makna yang terungkap melalui konsep, fungsi
dan/atau nilai-nlai yang terkandung didalam karya arsitektur. Eksistensi semiotika
Saussure adalah relasi antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi, biasa disebut
dengan signifikasi. Semiotika signifikasi adalah sistem tanda yang mempelajari relasi
elemen tanda dalam sebuah sistem berdasarkan aturan atau konvensi tertentu.
Kesepakatan sosial diperlukan untuk dapat memaknai tanda tersebut.

Semiotika Barthes
Teori ini dikemukakan oleh Roland Barthes (1915-1980), dalam teorinya tersebut
Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat
denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan
penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti.
Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda
yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti
(Yusita Kusumarini,2006).

Semiotika Ogden & Richard


Teori Semiotika C. K. Ogden dan I. A. Richard merupakan teori semiotika trikotomi
yang dikembangkan dari Teori Saussure dan Teori Barthes yang didalamnya terdapat
perkembangan hubungan antara Petanda (signified) dengan Penanda (signifier) dimana
Penanda kemudian dibagi menjadi dua yaitu Peranti (Actual Function/Object Properties)
dan Penanda (signifier) itu sendiri. Petanda merupakan Konotasi dari Penanda, sedangkan
Peranti merupakan Denotasi dari Penanda. Pada teori ini Petanda merupakan makna,
konsep, gagasan, sedang Penanda merupakan gambaran yang menjelaskan peranti,
penjelasan fisik obyek benda, kondisi obyek/benda, dan cenderung (tetapi tidak selalu)
berupa ciri-ciri bentuk, ruang, permukaan dan volume yang memiliki suprasegmen
tertentu (irama, warna, tekstur, dsb) dan Peranti merupakan wujud obyek/benda/fungsi
aktual (Christian).

Semiotika Peirce
Teori ini dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce, seorang filsuf Amerika. Menurut
Peirce, tanda adalah something which stands to somebody for something in some
respect or capacity (Noth, 1995). Menurut Peirce subjek berperan sebagai bagian yang
tak terpisahkan dari pertandaan. Hal ini yang membuat eksistensi semiotika Peirce adalah
semiotika komunikasi (Yusita Kusumarini,2006). Peirce mengelompokkan tanda menjadi
3 jenis, yaitu indeks (index), ikon (icon), dan simbol (symbol). Indeks adalah ungkapan
tanda atau representasi suatu obyek akibat hubungan dinamis antara obyek yang
diterima secara fisik dan mempengaruhi perasaan atau ingatan seseorang dalam
pembentukan persepsinya. Ikon adalah ungkapan tanda suatu obyek berdasarkan
persepsi imajenatif yang mengkaitkan obyek tersebut dengan obyek lain yang belum
tentu ada. Sedangkan simbol adalah ungkapan tanda suatu obyek berdasarkan konsep
tertentu, biasanya asosiasi terhadap suatu gagasan umum (Christian). Pada Indeks
hubungan antara penanda dan petanda di dalamnya bersifat kausal, pada Ikon hubungan
antara penanda dan petandanya bersifat keserupaan, sedangkan pada simbol hubungan
antara penanda dan petandanya bersifat arbiter (Piliang, 2003).

Semiotika Teks
Pengertian teks secara sederhana adalah kombinasi tanda-tanda (Piliang, 2003).
Dalam pemahaman yang sama, semua produk desain (termasuk arsitektur dan interior)
dapat dianggap sebagai sebuah teks, karena produk desain tersebut merupakan kombinasi
elemen tanda-tanda dengan kode dan aturan tertentu, sehingga menghasilkan sebuah
ekspresi bermakna dan berfungsi (Yusita Kusumarini,2006). Dalam menganalisis dengan
metode semiotika, pada prinsipnya dilakukan dalam dua tingkatan analisis, yaitu :
Analisis tanda secara individual (jenis tanda, mekanisme atau struktur tanda), dan
makna tanda secara individual.
Analisis tanda sebagai sebuah kelompok atau kombinasi (kumpulan tanda yang
membentuk teks), biasa disebut analisis teks.
Untuk menganalisis tanda secara individual dapat digunakan model analisis tipologi
tanda, struktur tanda, dan makna tanda (Piliang, 2003). Analisis tipologi tanda tersebut
menggunakan teori semiotik pengelompokan tanda Charles Sanders Peirce. Sedangkan
dalam hal analisis struktur tanda menggunakan teori semiotik Ferdinand de Saussure.
Kemudian dalam menganalisis makna tanda dapat dilakukan dengan menggabungkan
hasil analisis tipologi tanda dan struktur tanda. Gabungan analisis keduanya (tipologi
tanda dan struktur tanda) akan menghasilkan makna tanda yang lebih kuat (Yusita
Kusumarini,2006).

Untuk menganalisis tanda secara kelompok atau kombinasinya (analisis teks), tidak
hanya sebatas menganalisis tanda (jenis, struktur, dan makna) tetapi juga termasuk
pemilihan tanda yang dikombinasi dalam kelompok atau pola yang lebih besar (teks)
yang mengandung representasi sikap, ideologi, atau mitos tertentu (latar belakang
kombinasi tanda). Ada beberapa model dan prinsip analisis teks, salah satunya yang
diajukan oleh Thwaites (Piliang, 2003). Prinsip dasar analisis teks adalah polisemi
(keanekaragaman makna sebuah penanda). Konotasi tanda berkaitan dengan kode nilai,
makna sosial, dan berbagai perasaan, sikap, atau emosi. Tiap teks adalah kombinasi
sintagmatik tanda-tanda yang melalui kode sosial tertentu menghasilkan konotasi tertentu
(metafora dan metonimi menjadi bagian dari kombinasi tanda). Konotasi yang berbeda
bergantung pada posisi sosial pembaca dan faktor lain yang mempengaruhi cara berpikir
dan menafsirkan teks. Konotasi yang diterima luas secara sosial akan menjadi denotasi
(makna teks yang dianggap benar). Denotasi merepresentasikan mitos budaya,
kepercayaan, dan sikap yang dianggap benar (Yusita Kusumarini,2006).

Teori Kode
Kode adalah seperangkat aturan atau konvensi (kesepakatan) bersama yang di
dalamnya tanda-tanda dapat dikombinasikan, sehingga memungkinkan pesan dapat
dikomunikasikan dari seseorang kepada yang lain (Eco, 1979).
Di dalam kehidupan manusia banyak ditemukan penggunaan kode-kode sebagai
perwujudan suatu makna tertentu. Salah satunya adalah budaya, budaya dapat dianggap
sebagai kumpulan kode yang membentuk tingkah laku manusia, menjadi bermacam
tingkatan dan cara, tergantung pada lingkungan. Ada 2 arti dari istilah kode. Pertama,
kode menunjukkan bentuk status yang sistematis, aturan, dan sebagainya. Kedua, kode
menyangkut suatu ide rahasia, satu set bentuk, huruf, atau simbol yang mengaburkan arti,
dan dapat dipecahkan bila diketahui penyusunan pokok kode tersebut. Jika kedua aspek
tersebut dikombinasikan (sistematis dan rahasia), maka kode tersebut kemudian dikenali
sebagai kode kultur (culture code), yaitu mengarah dalam budaya yang tidak dikenal
tetapi mempunyai struktur jelas dan spesifik (Berger, 2005).
Pierre Guiraud mengemukakan 3 jenis kode, yaitu kode sosial, kode estetika, dan kode
logika. Kode sosial berkaitan dengan hubungan pria-wanita, dan mencakup wilayah
identitas dan tingkatan, aturan tingkah laku, mode, dan sebagainya. Kode estetika
berkaitan dengan seni dan bagaimana menginterpretasi dan mengevaluasi seni.
Sedangkan kode logika mencakup usaha kita untuk membuat sadar akan dunia dan
pengetahuan ilmiah, dan sistem komunikasi tanpa bahasa (Berger, 2005). Kode ilmiah
(logika) cenderung statis, kode estetika dan sosial terus mengalami perubahan (dinamis).
Dalam membahas suatu hasil karya arsitektur, pembacaan kode menggunakan batasan
kode teknik, kode sintagmatik, dan kode semantik (Yusita Kusumarini,2006).

REFERENSI
Berger, Arthur Asa, 2005, Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, Sebuah
Pengantar Semiotika (Terjemahan dari: Signs in Contemporary Culture, An Introduction
to Semiotics), Jogja: Tiara Wacana.

Broadbent, Geoffrey, 1980, Sign, Symbol and Architecture, Jhon Wiley & Sons, New
York.

Christian, J.S.T., Materi Kuliah Teori Arsitektur 2, BAB VII Semiotika.

Eco, Umberto, 1979, A Theory of Semiotics, Indiana University Press.

Kusumarini, Yusnita, 2006, Analisis Teks Dan Kode Interior Gereja Karya Tadao Ando
Church of The Light dan Church on the Water. Dimensi Interior, Vol.4, No.1.
Bandung: Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra.

Noth, Winfried. 1995, Handbook of Semiotics, Indiana University Press.

Piliang, Yasraf Amir, 2003, Hipersemiotika, Yogyakarta: Jalasutra.

www.id.wikipedia.org/wiki/Semiotika

(disusun oleh :Jefry Sanjaya Putra, 8 Oktober 2007, sebagai sebuah rangkuman mengenai
teori semiotika)