Anda di halaman 1dari 3

Menurut Ermawati, dkk.

, (2009, dalam Pieter, Janiwarti & Saragih, 2011) Ansietas merupakan


respon emosional dan penilaian individu yang subjektif yang dipengaruhi oleh alam bawah sadar
dan belum diketahui secara khusus faktor penyebabnya.Sedangkan menurut Freud (1933, dalam
Semiun, 2006) menyatakan bahwa kecemasan merupakan keadaan perasaan afektif yang tidak
menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya
yang akan datang. Keadaan yang tidak menyenangkan itu sering kabur dan sulit menunjuk
dengan tepat, tetapi kecemasan itu sendiri selalu dirasakan.

Ada dua proses terjadinya kecemasan, yang pertama Faktor predisposisi kecemasan. Menurut
Stuart & Laraia (1998) mengemukakan bahwa penyebab kecemasan dapat dipahami melalui
beberapa teori yaitu Teori Psikoanalitik, Teori Tingkah Laku (Pribadi), Teori Keluarga, dan Teori
Biologis. Sedangkan yang kedua yaitu Faktor presipitasi kecemasan. Menurut Stuart & Laraia
(1998), faktor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Ada dua kategori
faktor pencetus kecemasan, yaitu ancaman terhadap integritas fisik dan terhadap sistem diri.

Kecemasan bisa terjadi pada siapa saja. Misalkan lansia, pekerja, maupun mahasiswa. Sehingga
banyak sekali tips-tips mnangani kecemasan. Misalnya bersyukur, meditasi, aromaterapi dan
lain-lain. Banyak juga jurnal yang menangani kecemasan dengan mekanisme koping.

Mekanisme koping adalah sebagai apa yang dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi
yang dinilai sebagai suatu tantangan, luka, kehilangan, atau ancaman (Siswanto, 2007).
Mekanisme koping lebih mengarah pada yang orang lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan
yang penuh tekanan atau yang membangkitkan emosi. Penyesuaian diri dalam mengahadapi
stres, dalam konsep kesehatan mental dikenal dengan istilah koping (Lubis, 2006). Jadi menurut
Siswanto dan Lubis mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam
menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi, dan situasi yang mengancam, baik
secara kognitif maupun perilaku.

Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (Stuart dan Sundeen, 1995
dalam Nasir, 2010) yaitu: Mekanisme koping adaptif Adalah mekanisme koping yang
mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah
berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan
seimbang dan aktivitas konstruktif. Mekanisme koping maladaptive Adalah mekanisme koping
yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung
menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan atau tidak makan, bekerja
berlebihan, menghindar.

Mekanisme koping juga dibedakan menjadi dua tipe menurut (Kozier, 2004) yaitu : Mekanisme
koping berfokus pada masalah (problem focused coping), meliputi usaha untuk memperbaiki
suatu situasi dengan membuat perubahan atau mengambil beberapa tindakan dan usaha segera
untuk mengatasi ancaman pada dirinya. Contohnya adalah negosiasi, konfrontasi dan meminta
nasehat. Mekanisme koping berfokus pada emosi (emotional focused coping), meliputi usaha-
usaha dan gagasan yang mengurangi distress emosional. Mekanisme koping berfokus pada emosi
tidak memperbaiki situasi tetapi seseorang sering merasa lebih baik.

Menurut Sawi Sujarwo, 2013. Dalam jurnal pengaruh relaksasi terhadap kecemasan mahasiswa
praktikan program studi DIII kebidanan sekolah tinggi ilmu kesehatan bina husada Palembang.
Berdasarkan hasil angket awal yang disebarkan kepada 94 mahasiswa semester VI Program
Studi Kebidanan STIK Bina Husada Palembang yang saat ini sedang melakukan praktik klinik
kebidanan dan wawancara kepada beberapa mahasiswa yang diperoleh data bahwa 20 orang
mahasiswa tidak memiliki kecemasan, 64 orang mahasiswa mengalami kecemasan ringan, 9
orang memiliki tingkat kecemasan sedang dan 5 orang mengalami kecemasan berat. Dari hasil
angket diperoleh informasi bahwasebagian besar mahasiswa yang mengalami kecemasan
tersebut menyatakan gejala cemas yang mereka alami adalah mudah tersinggung, mudah
terkejut, bingung, gugup, gelisah, otot punggung terasa kaku, takut, terbangun tengah malam,
tidur tidak nyenyak, berdebar-debar, pusing, gemetar, mudah marah dan panik, sulit
berkonsentrasi, gelisah dan sering buang air kecil.

Menurut Dwi Indah Iswanti, dkk. 2015. Dalam jurnal hubungan karakteristik dan lingkungan
belajar klinik dengan kecemasan mahasiswa saat praktek klinik di rsjd dr. amino gondohutomo
semarang. Hasil studi awal melalui wawancara dengan CI Ruang dari 10 mahasiswa yang
praktek di RSJD Dr Amino Gondohutomo Semarang dinyatakan bahwa mahasiswa mengalami
kecemasan, 6 dari mahasiswa mengatakan cemas saat pertama kali bertemu dengan pasien jiwa
dan 4 lainnya mengatakan merasa cemas dengan beban tugas dan apa yang harus dijalankan saat
praktik di Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
Peneliti merasa tertarik untuk meneliti fenomena tersebut, karena walaupun mahasiswa telah
dibekali dengan teori-teori dan praktik-praktik lab sebelumnya, tetapi mahasiswa masih merasa
cemas untuk menghadapi praktik klinik.