Anda di halaman 1dari 3

HUKUM KEWARISAN ADAT BANJAR

Oleh :
Fitrian Noor Hata

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kajian-kajian para ahli hukum semenjak masa penjajahan Belanda
sampai masa kemerdekaan juga menunjukkan adanya keberadaan
Hukum Adat, di mana dalam perkembangannya terhadap studi hukum
yang hidup dalam masyarakat Indonesia telah melahirkan teori yang
saling tarik menarik dalam melihat keutamaannya. Teori-teori tersebut
1
adalah receptio in complexu, receptie theorie, dan receptio a contrario.
Hukum Adat Banjar adalah Hukum Adat lokal yang ada di
Kalimantan Selatan, karenanya ia adalah salah satu bagian dari Hukum
Adat Indonesia. Hukum Adat Banjar merupakan hukum asli yang berlaku
pada masyarakat Banjar, yang sifatnya tidak tertulis, sekalipun demikian
Hukum Adat itu telah terakomodir dalam beberapa tulisan dan
dokumen-dokumen, seperti yang tertuang dalam Undang-undang Sultan
Adam Tahun 1835 dan dalam Kitab Sabilal Muhtadin karangan Syekh
Muhammad Arsyad Al-Banjary.
Adapun suku bangsa Banjar ialah penduduk asli sebagian wilayah
Propinsi Kalimantan Selantan. Mereka diduga berintikan penduduk asal
Sumatera atau daerah sekitarnya, yang berimigrasi ke kawasan ini
sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama
dan setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli (biasanya
disebut suku Dayak), serta bercampur dengan imigran-imigran yang
berdatangan belakangan, maka terbentuklah setidak-tidaknya tiga sub
suku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu dan Banjar
(Kuala). Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar,
yang asalnya ialah bahasa Melayu. Sedangkan nama Banjar diperoleh

1
Neng Djubaedah, Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dalam Masyarakat
Muslim di Indonesia Suatu Harapan, Artikel dalam Mimbar Hukum, No. 40, Tahun IX,
1998, hlm. 5.
2
karena mereka dahulu, sebelum dihapuskan pada tahun 1960, adalah
warga kerajaan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama
2
ibu kotanya.
Dahulu pada Kerajaan Banjar, pengaruh agama Hindu adalah
sangat besar, terutama setelah adanya hubungan perdagangan dengan
Kerajaan Majapahit yang Raja dan rakyatnya menganut agama Hindu.
Sehingga dalam Kerajaan Banjar itu sendiri banyak ditemui kebudayaan
3
keraton Majapahit.
Sedangkan bentuk-bentuk kepercayaan dan praktek-praktek
kehidupan masyarakat Dayak yang mendiami pegunungan Meratus
adalah berdasarkan pemujaan nenek moyang dan percaya akan adanya
makhluk-makhluk halus di sekitar manusia (animisme). Orang-orang
Dayak yang hidup dalam batas-batas wilayah Tanah Banjar, percaya
pada seorang dewa tertinggi, dan juga memberi persembahan kepada
makhluk-makhluk halus lainnya, termasuk ruh orang yang dianggap
4
sebagai nenek moyang mereka.
Adapun Islam menjadi agama resmi kerajaan Banjar
menggantikan agama Hindu adalah sejak Pangeran Samudera
dinobatkan sebagai Sultan Suriansyah di Banjarmasin, yaitu kira-kira
400 tahun yang lalu. Namun sebenarnya jauh sebelum itu, pemeluk
Islam sudah ada di kota-kota pelabuhan atau di pemukiman-pemukiman
yang lebih dekat ke pantai. Karena daerah pemukiman dekat pantai
tersebut adalah daerah yang sering didatangi pedagang-pedagang dari
Tuban dan Gresik yang sudah memeluk Islam, dan mereka
menyebarkan Islam pada masyarakat Banjar. Sejak masa Sultan
Suriansyah inilah proses islamisasi berjalan cepat, sehingga dalam

2
Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa Kebudayaan
Banjar. (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1997), hlm. 25.
3
Amir Hasan Kiai Bondan, Suluh Sejarah Kalimantan, (Banjarmasin: Fajar,
1953), hlm. 18.
4
Alfani Daud, Op.Cit., hlm. 50.
Thank you for using www.freepdfconvert.com service!
Only two pages are converted. Please Sign Up to convert all pages.

https://www.freepdfconvert.com/membership