Anda di halaman 1dari 11

PELESTARIAN KOTA PUSAKA

KOTA PUSAKA DI KOTA PALEMBANG

Disusun Oleh :

Siti Khodijah 03061281419057

Yenny Ambari Soelaiman 03061281419059

Dosen Pembimbing :

Program Studi Teknik Arsitektur

Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Definisi Kota Pusaka


Pusaka adalah peningalan masa lalu yang
bernilai sejarah, mengandung kualitas pemikiran,
rencana dan pembuatannya, serta memiliki peran
yang sangat penting bagi keberlanjutan hidup
manusia (Adishakti, 2015). Kota pusaka dalam
penataan ruang merupakan sebuah rumusan dan
langkah strategis penataan ruang kota dalam sinergi
kegiatan pelestarian yang tepat. Tak hanya
melibatkan kebijakan atau keputusan dan berbagai
bentuk advokasi maupun mitigasi terkini, tetapi juga
penting mempertimbangkan kota dalam
peradabannya di masa lampau. Salah satu cara yaitu
dengan memperlajari tipologi perkembangan sebuah
kota. Hal ini akan memberikan gambaran mengenai
pengaruh pengaruh terhadap bentuk tata ruang
kota, perbedaannya serta mengidentifikasi kearifan
lokal yang kemungkinan bisa direpakan di masa kini.
Kota pusaka adalah kota yang memiliki kekentalan
sejarah yang besar yang terwujud dan berisikan
keragaman pusaka alam, busaya baik ragawi dan tak
ragawi, serta saujana (Balai Informasi Ruang).
Indonesia menggunakan istilah kota pusaka sebagai
pendefinisian terhadap bentuk kota yang
memfokuskan penerapan kegiatan pelestarian pusaka
sebagai strategis utama pengembangan kota.

Kota hijau dan kota pusaka

Kota pusaka bertujuan untuk menciptakan kota


pusaka yang berkelanjutan dan dapat meningkatkan
kesejahteraan bagi penduduk kotannya yang
menghasilkan quality of space sampai kepada quality
of life. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat
diketahui pelestarian kota pusaka tidak hanya
berfokus pada peningkatan kualitas raungan
sajamelainkan juga berfokus pada peningkatan
kualitas hidup masyarakat. Peningkatan kualitas hidup
ini secara otomatis mengacu pada peningkatan
kualitas lingkungannya, terutama kualitas lingkungan
di kawasan kota pusaka. Peningkatan kualitas
lingkungan kawasan pusaka juga meningkatkan
kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan
pusaka. Salah satu upaya pemerintah dalam
peningkatan kualitas lingkungan kawasan pusaka
yaitu berupa implementasi kebijakan yang mendorong
kota hijau dan kota pusaka untuk mendukung kota
yang berkelanjutan.

Kota Palembang telah ditetapkan sebagai Kota


Pusaka dengan adanya peninggalan bersejarah dan
budaya yang dimiliki namun sampai saat ini belum
dikembangkan secara maksimal dikarenakan
ketidaktahuan, ketidakpedulian, ketidakmampuan dan
salah urus. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan
arahan pengembangan Kota Pusaka di Kota
Palembang dengan beberapa tahapan analisa yaitu
dengan mengidentifikasi objek yang berpotensi
mendukung Kota Palembang sebagai Kota Pusaka
dengan menggunakan analisis expert judgement skala
likert, kedua menentukan zonasi kawasan Kota Pusaka
di Kota Palembang melalui analisis deliniasi, ketiga
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
pengembangan Kota Pusaka di Kota Palembang
beserta arahan pengembangannya dengan
menggunakan analisis delphi. Hasil analisa
menunjukkan terdapat 9 Objek yang sangat
berpotensi mendukung Kota Palembang sebagai Kota
Pusaka yang menjadi zonasi kawasan Kota Pusaka.
Dari zonasi kawasan Kota Pusaka, dihasilkan 8 faktor
yang mempengaruhi pengembangan Kota Pusaka di
Kota Palembang yang terbentuk pada 3 zona yaitu
zona inti, pendukung dan penyangga. Arahan
pengembangan Kota Pusaka Palembang dirumuskan
untuk setiap zona dengan pertimbangan faktor-faktor
yang mempengaruhi. Dengan dilakukannya penelitian
ini, diharapkan dapat mengetahui urban heritage
planning dalam bidang Perencanaan Wilayah dan Kota
di Kota Palembang.
Identifikasi Objek yang Berpotensi Menduk
ung Kota Palembang Sebagai Kota Pusaka

20 objek yang berpotensi mendukung Kota


Palembang Sebagai Kota Pusaka. Kedua puluh objek
tersebut tersebar di sepanjangTepian Sungai Musi. Objek
tersebut yaitu Benteng KutoBesak, Masjid Agung,
Kampung Kapiten 7 Ulu, KelentengChandra Nadi 10 Ulu,
Kampung Arab Al Munawar 13 Ulu,Pasar 16 Ilir, Sekanak,
Jalan Merdeka, Kampung 3-4 Ulu,Sungai Musi, Lansekap
Budaya di sepanjang Sungai Musi,Kampung Assegaf,
Makam Kesultanan PalembangDarussalam, Talang
Semut, Situs Karanganyar, BukitSiguntang, Pulau
Kemaro, PT. Pusri, PT. Pertamina Plaju,Pelabuhan Boom
Baru.

Kategori Potensi Objek yang dapat mendukung Kota


Palembang sebagai kota pusaka.

Sangat Cukup Kurang


Berpotensi Berpotensi Berpotensi
Benteng Kuto Kampung asegaf PT. Pusri
Besak
Masjid agung Makam PT. Pertamina
kesultanan plaju
Palembang Pelabuhan Boom
Darussalam Baru
Kampung Talang Semut
kapiten 7ulu
Klenteng Situs
chandra nadi karanganyar
10ulu
Kampung arab Bukit Siguntang
al-munawar
13ulu
Pasar 16ilir Pulau kemaro
Sekanak
Jalan merdeka
Kampung 3-4ulu
Sungai musi
Sumber : JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No.2, (2014)
ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)

Zonasi Kawasan Kota Pusaka di Kota


Palembang

Untuk objek kota pusaka dengan kategori sangat


berpotensi dijadikan input dalam penentuan kawasan kota
pusaka terpilih. Kawasan kota pusaka Palembang beradapada
lokasi di pusat kota yang terdiri dari objek kota pusakayaitu
Benteng Kuto Besak, Masjid Agung, Jalan Merdeka,Sekanak,
Pasar 16 Ilir, Kampung Kapiten 7 Ulu, Kampung3-4 Ulu,
Kelenteng Chandra Nadi 10 Ulu dan KampungArab Al-Munawar
13 Ulu.Analisa deliniasi dilakukan untuk
menentukanzonasi/mintakat kawasan kota pusaka di Kota
Palembang.Arc Gis, merupakan salah satu alat (tools)
yang bisa digunakan untuk analisa deliniasi. Zonasi kawasan
KotaPusaka di Kota Palembang terbagi menjadi tiga yaitu
zonainti, zona pendukung dan zona penyangga. Zona inti
adalahzona yang terdiri dari luasan situs/objek kota pusaka dan
aktivitas pendukung situs/objek tersebut. Sehingga dengan
demikian bentuk zona intinya adalah berupa sel yangtersebar.
Terdapat 7 zona inti, pendukung dan penyangga. Dalam
penentuan zonasi ini terdapat

beberapa variabel yang digunakan yaitu variabel batas budaya


dan aktivitas budaya digunakan dalam menentukan zona inti,
sedangkan untuk menentukan zona pendukung dan
penyangga menggunakanvariabel ketersediaan fasilitas
penunjang kawasan kota pusaka.

Benteng Kuto Besak, Untuk zona inti Benteng


KutonBesak memiliki luas lahan sebesar 22,8 Ha,
dengan luaslahan situs sebesar 20,5 Ha dan luas lahan
untuk kegiatanaktivitas budaya yang ada yaitu sebesar
2,3 Ha. Aktivitas budaya yang ada di Benteng Kuto
Besak berupa kegiatan Kerajaan Palembang
Darussalam seperti upacara Kerajaanyang
berada tepat di depan Benteng Kuto Besak.
Kampung Kapiten memiliki luas sebesar 1,75Ha
dengan luas lahan situs sebesar 1,05 Ha dan luas
lahanuntuk keperluan aktivitas budaya sebesar
0,7 Ha. Aktivitasbudaya yang ada di Kampung
Kapiten ialah perayaan arak-arakan upacara
Imlek. Arak-arakan ini dilakukan dariKampung
Kapiten menuju dermaga Kampung Kapiten
dandilanjutkan melalui Sungai Musi menuju
dermaga KelentengChandra Nadi. Selanjutnya
untuk mintakat inti KelentengChandra Nadi ialah
lahan situs dengan luas sebesar 0,22 Hadan
ditambahkan dengan lahan untuk kegiatan
upacara umatTionghoa yang berada tepat di
depan Kelenteng dengan luassebesar 0,1 Ha.
Upacara yang dilakukan di KelentengChandra
Nadi ini berupa peringatan Imlek, upacra Cio
Ko,dsb. Berikut merupakan peta zonasi kawasan
Kota Pusaka diKota Palembang.

Faktor faktor yang berpengaruh dalam


pengembangan kota pusaka di kota Palembang

1. Faktor perubahan fungsi penggunaan lahan


Faktor perubahan fungsi penggunaan lahan lahan kota
pusaka ini terkait dengan terkendalinya alihfungsi
lahan di kawasan kota pusaka yang berlandaskan
pada pelestarian objek kota pusaka. Penggunaan
lahan baru yang ada di kawasan kota pusaka akan
dapat merusak situs/objek kota pusaka jika kaidah-
kaidah pelestarian tidak ditaati.
C perubahan fungsi bangunan dari kantor menjadi
restoran di kawasan BKB
2. Faktor sumber daya manusia
3. Faktor keaslian bangunan
4. Faktor implementasi kebijakan

5. Faktor pengembangan ekonomi kreatif


6. Faktor kepemilikan lahan
7. Faktor aktivitas kebudayaaan masyaraka
Faktor ini terbentuk dari variabel adanya jenis
kegiatan masyarakat berlandasan budaya di
kawasan kota pusaka yang sebelumnya telah
disepakati. Jenis kegiatan masyarakat
berlandasakan budaya ini berkaitan dengan
adanya tradisi budaya masyarakat setempat
yang dapat mendukung pengembangan kota
pusaka di kota palembang. Tradisi budaya
masyarakat ini masih bisa ditemui di kampung
arab al-munawar 13 ulu seperti tradisi rajaban,
tradisi ziarah kubro. Upacara etnis tionghoa
diklenteng chandra nasi 10ulu dan kampung
kapiten 7ulu.

Arahan Pengembangan Kota Pusaka di Kota


Palembang

FAKTOR ARAHAN

Perubahan fungsi Tetap mempertahankan


penggunaan lahan tata guna lahan dan
kawasan kota pusaka memperbolehkan fungsi
penggunaan lahan baru di
minta sebagai pendukung
dan pentangga dengan
syarat pelestarian.
Sumber daya manusia Memberikan penyadaran
kawasan kota pusaka dan pemahaman
terhadap masyarakat
dengan cara sosialisasi
dan loka karya tekait
dengan bangunan
bersejarah yang ada
merupakan aset yang
berharga bagi kota atau
kawasan kota yang perlu
dilestarikan dan dijaga
keasliannya.
Keaslian bangunan Mempertahankan wujud
bangunan asli baik
bentuk dan massa
bangunan serta adanya
pemeliharaan bangunan
bersejarah tersebut.
Aktivitas kebudayaan Menggiatkan atraksi
masyarakat budaya dan menjadika
kegiatan tersebut sebagai
kgiatan rutin.
Peningkatan aksebilitas Perlu peningkatan
infrasruktur di kawasan
kota pusaka sebagai
upaya mengdukung
pengembangan kota
namun harus tetap tidak
merusak objek kota
pusaka.
Kepemilikan lahan Pembebasan tanah/lahan
yang mempengaruhi atau
terhadap bangunan
bersejarah yang bernilai
tinggi untuk
mempermudah
pelestarian maupun
perawatan.
Pengembangan ekonomi Pemberian modal usaha
kreatif dan pelatihan bagi
masyarakat terkait
dengan usaha kreatif
yang dapat
dikembangkan di
kawasan kota pusaka.
Implementasi kebijakan Memuatsubstansi
pelestarian kota pusaka
ke dalam rencana tata
ruang kawasan dan
rencana tata bangunan
dan lingkungan yang
masuk ke dalam zonasi
kawasan kota pusaka.

Kesimpulan

Terdapat 9 Objek yang sangat berpotensi mendukung


Kota Palembang sebagai Kota Pusaka yaitu Benteng
Kuto Besak, Kantor Wali kota, Masjid Agung,
Sekanak,Pasar 16 Ilir, Kampung 3-4 Ulu, Kampung
Kapiten 7Ulu, Kelenteng Chandra Nadi 10 Ulu dan
Kampung Arab AL-Munawar 13 Ulu. Dari objek-objek
tersebut,didapatkan zonasi kawasan Kota Pusaka di Kota
Palembang dengan terdapat 3 zona untuk masing-
masing objek. Zonasi kawasan kota pusaka tersebut
didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi
pengembangan Kota Pusaka di Kota Palembang yaitu
faktor perubahan fungsi penggunaan lahan, sumber
daya manusia, keaslian bangunan, implementasi
kebijakan,aktivitas kebudayaan masyarakat,
peningkatanaksesibilitas, kepemilikan lahan dan
pengembangan ekonomi kreatif kawasan kota pusaka.

Anda mungkin juga menyukai