Anda di halaman 1dari 2

Contoh Kasus :

Ikhwal kasus Natalegawa bisa dimulai dari putusan PN Jakarta Pusat No.
33/1981/Pidana Biasa tertanggal 10 Februari 1982. Natalegawa divonis bebas dari
seluruh dakwaan (kumulatif) yakni Pasal 1 ayat (1) sub a; primer Pasal 1 ayat (1) sub
b UU No. 3 Tahun 1971tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 KUHP, subsider Pasal
419 ayat (2) KUHP jo Pasal 1 ayat (1) sub c UU No. 3 Tahun 1971, lebih subsider Pasal
418 KUHP jo Pasal 1 ayat (1) sub c UU No. 3 Tahun 1971.

Natalegawa dianggap tidak terbukti melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau
badan yang merugikan keuangan negara (korupsi). Terdakwa menyetujui pencairan
kredit sebesar Rp14,247 miliar kepada pengurus PT Jawa Building (Endang Widjaja)
yang dianggap jaksa tak sesuai peruntukan yakni membangun 658 rumah (real estate)
tanpa persetujuan Bank Indonesia dan melanggar SEBI No. SE 6/22/UPK tanggal 30 Juli
1973 yang salah satunya melarang pemberian kredit untuk proyek real estate.

Namun, vonis bebas itu dibatalkan Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta melalui putusan No.
45/1982/PT Pidana yang menerima permohonan banding jaksa. Majelis PT Jakarta yang
mengadili sendiri menghukum Natalegawa selama 2 tahun dan 6 bulan penjara karena
terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi seperti dalam dakwaan kesatu dan
kedua primer itu.

Masih tak puas, saat hampir bersamaan jaksa dan terdakwa Natalegawa mengajukan
kasasi pada pertengahan Desember 1982 yang diterima di Kepaniteraan PN Jakarta
Pusat. Alhasil, majelis kasasi yang diketuai Adi Andojo Soetjipto beranggotakan Ismail
Rahardjo dan Karlinah Palmini Achmad Soebroto mengabulkan kasasi keduanya dengan
tetap menghukum Natalegawa selama 2 tahun dan 6 bulan penjara. Sebab, unsur
memperkaya diri atau badan dan merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara telah terbukti.

Majelis kasasi merujuk pertimbangan putusan perkara No. 32/Subv/1978/Pid/VOR yang


menyebut adanya fasilitas berlebihan dan keuntungan yang diterima (dinikmati)
terdakwa Endang Widjaja. Selain itu, pemberian kredit kepada PT Jawa Building setelah
berlakunya aturan larangan pemberian kredit untuk proyek real estate. Akibatnya, dana
yang dikucurkan itu tidak dapat digunakan untuk sektor-sektor yang diprioritaskan
pemerintah.

Meski vonisnya sama dengan putusan PT Jakarta, amar putusan kasasi MA No.
275K/Pid/1983 ini justru membatalkan kedua putusan judex factie terutama
menyangkut penerapan Pasal 67 jo Pasal 244 KUHAP. Dalam pertimbangannya
disebutkan dapat tidaknya putusan bebas dimintakan banding masih menjadi masalah
hukum karena KUHAP baru berlaku (saat itu), sehingga masih belum pasti jawabannya.
Karena itu, masa peralihan yang menimbulkan ketidakpastian hukum itu, MA
menganggap adil apabila jaksa yang keberatan atas putusan bebas yang dijatuhkan
pengadilan negeri harus diartikan ditujukan ke MA.

Namun sesuai yurisprudensi (doktrin), apabila putusannya bebas murni (unsur-unsur


yang didakwakan tidak terbukti sama sekali) sesuai Pasal 244 KUHAP, maka permohonan
kasasi tersebut harus dinyatakan tidak dapat diterima. Sebaliknya, apabila putusannya
bebas tidak murni - seperti adanya unsur kekeliruan unsur tindak pidana, melampaui
kewenangan (kompetensi absolut/relatif), nonyuridis maka permohonan kasasi
tersebut harus diterima.

Analisa

Analisa saya tentang kasus diatas adalah hakim telah menetapkan hukuman yang
dijatuhi terhadap Natalegawa yang sesuai dengan dasar dan aturan hukum yang berlaku
karna iya memang terbukti bersalah telah memperkaya diri sendiri dan merugikan pihak
lain. Hukum yang didapatkannya adalah selama 2 tahun 6 bulan, ini ditetapkan dengan
berbagai ketetapan yang dibuat hakim sesuai perbuatan yang ia lakukan.