Anda di halaman 1dari 27

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal 10 Maret 2016 telah dipresentasikan portofolio oleh:
NamaPeserta : dr. Firda Rani Fahlevia
Denganjudul/topik : Hipertensi Dalam Kehamilan
Nama Pendamping : dr. Endry Winarko, Sp.OG
Nama Wahana : RSD dr. Haryoto Lumajang

No. Nama Peserta Presentasi No. Tanda Tangan


1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesunguhnya.
Pendamping

(dr. Dasit Riyadi) (dr.Guntur Sugiharto)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal 10 Maret 2016 telah dipresentasikan portofolio oleh:
NamaPeserta : dr. Firda Rani Fahlevia
Denganjudul/topik : Hipertensi Dalam Kehamilan
Nama Pendamping : dr. Endry Winarko, Sp.OG
Nama Wahana : RSD dr. Haryoto Lumajang

No. Nama Peserta Presentasi No. Tanda Tangan


1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesunguhnya.
Pendamping Pembimbing

(dr. Dasit Riyadi) (dr.Guntur Sugiharto) (dr. Endry Winarko, Sp.OG)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


Borang Portofolio

Nama Peserta: dr. Firda Rani Fahlevia

Nama Wahana: RSD dr.Haryoto Lumajang


Topik: Hipertensi Dalam Kehamilan

Tanggal (kasus):15 Desember 2015

Nama Pasien:Ny. S No. RM : 22.83.15


Tanggal Presentasi: Nama Pendamping:

Tempat Presentasi:

Obyektif Presentasi:

Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka

Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil

Deskripsi: Wanita 36 th dengan kehamilan berusia 34 minggu dan tekanan darah yang tinggi.

Tujuan: Memahami mengenai hipertensi dalam kehamilan, perkembangan penyakit dan penanganannya.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


Bahan bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit

Cara membahas: Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos

Data pasien:
Nama:Ny. S Nomor Registrasi: 22.83.15

Nama SMF: Kebidanan & Kandungan Terdaftar sejak : 15 Desember 2015

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Pasien datang ke poli kandungan untuk kontrol rutin kehamilan. Pasien mengeluh pusing dan batuk. Dari pemeriksaan fisik,
tekanan darah pasien 240/100 mmHg. Pasien menyangkal adanya nyeri ulu hati dan penglihatan kabur.

2. Riwayat Pengobatan:
Pernah mengonsumsi obat penurun tekanan darah, pasien lupa nama obatnya

3. Riwayat Kesehatan/Penyakit:
Riwayat Hipertensi

4. Riwayat keluarga:
Pasien menyangkal adanya anggota keluarga lain yang mengalami penyakit yang sama
5. Riwayat pekerjaan: Ibu Rumah Tangga

Daftar Pustaka:

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


1. Angsar MD. 2007. Hipertensi Dalam Kehamilan. Surabaya : Bagian SMF Obstetri-Ginekologi FK UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya.
2007
2. Cunningham GF et al. 2010. Pregnancy Hypertension in Section 7 Obstetrical Complications. Williams Obstetrics 21 st ed. USA:
McGraw-Hills Companies.

3. Avnas AT. 2000. Manual of Obstetrics 6 th Edition, Lippincott Williams and Wilkins.

4. Belfort MA, Saade GR, Thornton S. 2003. Hypertension in Pregnancy. New York: Marcel Dekker, Inc.

5. Prawirohardjo S, dkk. 2013. Ilmu Kebidanan Edisi Keempat. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Hasil Pembelajaran:

1. Mengetahui mengenai definisi, patofisiologi dan perjalanan penyakit hipertensi dalam kehamilan.

2. Mengatahui faktor resiko yang berkaitan dengan hipertensi dalam kehamilan.

3. Mengetahui mengenai tata laksana, diagnosa, dan terapi hipertensi dalam kehamilan.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


1. Subyektif:
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poli kandungan untuk kontrol rutin kehamilan. Pasien mengeluh pusing dan batuk. Pasien menyangkal adanya nyeri ulu
hati dan penglihatan kabur. Pasien tidak merasa kencang-kencang.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien mengaku memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi sebelum kehamilan.
Riw. DM disangkal
Riwayat Pengobatan:
Pernah mengonsumsi obat penurun tekanan darah, pasien lupa nama obatnya
Riwayat Keluarga:
Pasien menyangkal adanya anggota keluarga lain yang mengalami penyakit yang sama
Riwayat Pernikahan:
Suami pertama, selama 18 tahun
Riwayat Persalinan:
Laki-laki/aterm/2,900 gram/SptB/Dukun beranak/meninggal
Laki-laki/aterm/3000 gram/SptB/Bidan/17 thn
Hamil sekarang
Riwayat KB:
KB Pil setelah persalinan pertama

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


2. Obyektif:
Status generalis:
KU baik; TD 240/100; N 94x/m; RR 24x/m
Kepala dan leher : A/I/C/D -/-/-/-
Thorax : S1S2 tunggal reguler, suara nafas vesikular, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen : BU (+) normal, soefl, nyeri tekan ulu hati, perkusi timpani.
Extremitas atas : oedema (-)
Extremitas bawah : pitting oedema +/+ ; akral hangat

Status Obstetrik:
Leopold
- I: TFU teraba 3 jari dibawah processus xyphoideus. Teraba bagian besar janin dengan konsistensi padat kenyal, batas tidak tegas, tidak
melenting, Kesan: Bokong
- II: Teraba bagian janin yang keras memanjang sepanjang perut kanan ibu, Kesan : Punggung Kanan
- III: Teraba bagian bayi besar janin bulat dengan konsistensi keras, batas tegas, tidak terfiksir, Kesan : Kepala belum masuk PAP
- IV: Konvergen
TFU: 24cm
HIS: (-)
DJJ: Doppler 157x/menit
VT belum ada pembukaan

Laboratorium:
Jenis Hasil
No Nilai Normal
Pemeriksaan Pemeriksaan
Hb 11.4 13,0-18,0 mg/dl
Hct 33 35-47%
1
Leukosit 10.420 3500-10000/cm2
Trombosit 141.000 150000-450000
Albumin urine ++++ Negatif
2
Leukosit urine 1-3 0-1/plp

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


3. Assesment:
GIIIP2001 + UK 32-33 minggu + T/H/I/U + Let. Kep. + Hipertensi kronis superimposed preeklampsia + tak inpartu

4. Planning:
a. Diagnosis
LDH, Faal hati, Faal ginjal, Serum elektrolit, Gula Darah Acak.
b. Pengobatan
Inf. RL 1000cc/24jam
Inj. SM 20% 4 gram bolus IV pelan dilanjutkan Drip SM 6 gram
Inj. Furosemide 3x2 amp
Inj. Dexametason 2x1 amp
Nifedipine 10mg 3x1
Pasang DC
Induksi persalinan bila tekanan darah sistolik <200mmHg
c. Edukasi
Menjelaskan tentang kondisi pasien, rencana pemeriksaan dan terapi selanjutnya.
Menjelaskan bahwa kondisi pasien memerlukan penanganan dari dokter spesialis kandungan.
Menjelaskan pengaruh kondisi pasien terhadap janin.
Menjelaskan pencegahan penyakit hipertensi dalam kehamilan.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendahuluan

Hipertensi dalam kehamilan (HDK) merupakan 5-15 % penyulit kehamilan. Hipertensi kehamilan merupakan salah satu dari tiga penyebab
tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi dalam kehamilan juga masih cukup tinggi. Hal ini
disebabkan selain etiologi HDK tidak jelas, juga disebabkan penanganan dalam persalinan masih ditangani oleh petugas non medik dan sistim rujukan
yang belum sempurna. HDK dapat dialami oleh semua lapisan ibu hamil, sehingga pengetahuan tentang pengelolaan HDK harus benar-benar dipahami
oleh semua tenaga medis baik dipusat maupun di daerah 1,5.

B. Faktor Resiko
Primigravida
Primipaternitas
Hiperplasentosis:
- Mola hidatidosa
- Kehamilan multipel
- Diabetes melitus
- Hydrops fetalis
- Bayi besar
Umur yang ekstrim
Riwayat keluarga preeklampsi/eklampsi
Penyakit ginjal dan hipertensi sebelum kehamilan
Obesitas

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


C. Klasifikasi
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High
Blood Pressure in Pregnancy tahun 2001 antara lain 1,5:

1. Hipertensi kronis
Hipertensi yang timbul sebelum kehamilan 20 minggu, atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan
hipertensi menetap setelah 12 minggu pasca persalinan.
2. Preeklampsia
Hipertensi yang timbul setelah kehamilan 20 minggu disertai proteinuria.
3. Eklampsia
Preeklampsia disertai kejang dan/atau koma.
4. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia
Hipertensi kronik yang disertai dengan tanda-tanda preeklampsia atau proteinuria
5. Hipertensi gestasional (transient hypertension)
Timbulnya hipertensi pada kehamilan tanpa proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 12 minggu pascapersalinan atau kehamilan dengan
tanda-tanda preeklampsia tapi tanpa proteinuria.

Penjelasan tambahan 1,5:


1. Hipertensi, ialah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg, diukur sekurang-kurangmya 2 kali selang 4 jam setelah penderita
beristirahat. Kenaikan sistolik 30 mmHg dan diastolik 15 mmHg tidak dipakai lagi sebagai parameter hipetensi.
2. Proteinuria :

Adanya protein 30mg/L dari urine tengah, acak.


Adanya protein 300 mg dalam urine 24 jam.
Dengan memakai dipstick 1+

3. Edema tungkai tidak dipakai lagi sebagai kriteria hipertensi dalam kehamilan, kecuali edema anasarka

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


D. Patofisiologi
Penyebab HDK hingga kini belum diketahui dengan jelas. Banyak teori telah dikemukakan tentang terjadinya HDK, namun tidak ada satupun
teori tersebut yang dianggap mutlak benar. Teori yang sekarang banyak dianut 1,5:
1. Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Pada HDK tidak terjadi invasi trophoblast ke dalam arteri spiralis dan jaringan arteri sekitar arteri spiralis. Lapisan otot arteri spiralis menjadi
tetap kaku dan keras sehingga arteri spiralis tidak mengalami distensi dan vasodilatasi. Hal ini mengakibatkan arteri spiralis relatif mengalami
vasokontriksi dan terjadi kegagalan remodelling arteri spiralis, sehingga aliran darah uteroplasenta menurun dan terjadi hipoksia dan iskemia
plasenta. Diameter rata-rata arteri spiralis pada hamil normal sekitar 500 mikron sedangkan pada preeklampsia 200 mikron. Pada kehamilan normal,
vasodilatasi lumen arteri spiralis dapat meningkatkan 10 kali aliran darah uteroplasenta 1,5.

2. Teori iskemia plasenta, radikal bebas dan disfungsi endotel


Kerusakan sel endotel mengakibatkan disfungsi sel endotel. Hal ini akan menyebabkan 1,5:
Gangguan metabolisme prostaglandin yaitu prostacycline (PGE2) suatu vasodilator kuat.
Agregasi sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami kerusakan yang ertujuan menutup tempat di lapisan endotel yang rusak.
Agregasi trombosit memproduksi Thromboxane (TXA2) suatu vasokontriktor kuat. Pada preeklampsia, kadar TXA2 lebih tinggi dari
kadar PGE2 sehingga terjadi vasokontriksi dan peningkatan tekanan darah.
Meningkatnya permeabilitas vaskular.
Meningkatnya produk bahan vasopresor yaitu endothelin, suatu vasokontriktor.
Peningkatan faktor koagulasi.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


7. Teori inflamasi
3. Teori ini berdasakan
Teori intoleransifakta bahwa lepasnya
imunologik debris
antara ibu dantrofoblas
janin dalam sirkulasi merupakan rangsangan utama terjadinya inflamasi. Pada kehamilan
normal jumlah debrishamil
Pada wanita masih wajar
yang sehingga
normal, responreaksi
imun inflamasi masihadanya
tidak menolak dalamhasil
bataskonsepsi
normal.yang
Padabersifat
preeklampsia terjadi
asing oleh peningkatan
karena stres leukocyte
adanya human oksidatif,
sehingga produksi
antigen protein debrisberperan
G yang apoptosis dan modulasi
dalam nekrotik trofoblas juga1,5.meningkat. Respon inflamasi ini mengaktivasi sel endotel, makrofag/granulosit yang
sistem imun
lebih besar
Padapula sehingga
plasenta HDKterjadi
terjadireaksi sistemik
penurunan inflamasi
human yangantigen
leukocyte menimbulkan
proteingejala
G ataupreeklampsia. Redman (1999)
plasenta memproduksi humanmenyatakan bahwa protein
leukocyte antigen disfungsi
G
endotel disebabkan
dalam bentuk oleh kekacauan
lain sehingga adaptasi dari
terjadi intoleransi proses inflamasi
ibu terhadap plasentaintravaskuler
1,5
. pada kehamilan mengakibatkan aktivitas leukosit yang sangat tinggi
pada sirkulasi ibu 1,5.
4. Teori adaptasi kardiovaskuler
E. Manifestasi Klinis
Pada kehamilan normal pembuluh darah refrakter terhadap bahan-bahan vasopressor akibat adanya sintesis prostaglandin yaitu Prostacycline.
Preeklampsia
Pada HDK terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor. Artinya daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang

sehingga pembuluh
Preeklampsia darahpenyulit
merupakan menjadi kehamilan
sangat pekaakut
terhadap bahan
dan dapat vasopressor.
terjadi pada ante-, intra-, dan postpartum. Dari gejala klinik preeklampsia dapat dibagi
menjadi preeklampsia ringan dan berat.

5.
Pembagian Teori defisiensi
preeklampsia genetikberat dan ringan tidak berarti adanya dua penyakit yang jelas berbeda, sebab seringkali ditemukan penderita
menjadi
Faktor keturunan dan familial terlibat dalam terjadinya HDK. Telah terbukti bahwa ibu yang mengalami preeklampsia, 26% anak wanitanya
dengan preeklampsia ringan dapat mendadak mengalami kejang dan jatuh dalam koma 2. 1,5

mengalami
Secara preeklampsia
teoritik pula,gejala
urutan-urutan sedangkan hanya 8%
yang timbul padaanak menantu mengalami
preeklampsia preeklampsia
adalah, edema, hipertensi,. dan terakhir proteinuria, sehingga bila gejala-gejala
ini timbul
6. tidak
Teoridalam urutangizi
defisiensi diatas, dapat dianggap bukan preeklampsia.
Dari semua gejala-gejala
Penelitian tersebut,bahwa
membuktikan timbulnya hipertensi
konsumsi minyakdanikan
proteinuria merupakanresiko
dapat mengurangi gejalapreeklampsia
yang paling penting, namunikan
karena minyak sayangnya penderita
mengandung sering
banyak asam
kali
lemaktidak merasakan
tidak perubahan
jenuh yang ini. Bila produksi
menghambat penderita thromboxane,
sudah mengeluh nyeri kepala,
menghambat gangguan
aktivasi penglihatan
thrombosit dan atau nyeri epigastrium,
mencegah makapembuluh
vasokonstriksi penyakit darah.
ini
sudah cukup
Beberapa lanjut.juga menganggap bahwa defisiensi calcium pada diet wanita hamil mengakibatkan resiko terjadinya preeklampsia atau eklampsia.
peneliti
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen kalsium pada ibu hamil dengan defisiensi kalsium menurunkan angka kejadian
preeklampsia dan eklampsia.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


Eklampsia
F. Diagnosis
Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeklampsia yang disertai kejang dan koma. Eklampsia dapat timbul ante, intra dan post partum.
Berdasar National High Blood Pressure Education Program, Working Group Report on High Blood Pressure in Pregnancy 2000
Eklampsia post partum umunya hanya terjadi 24 jam pertama setelah persalinan 2.
1. Hipertensi
Pada penderita penderitaGestasional
preeklampsia yang akan kejang umumnya terdapat gejala atau tanda khas yang dianggap sebagai tanda prodromal akan
Tekanan darah 140/90 mmHg ditemukan pertama kali dalam kehamilan.
terjadi kejang
disebut
Tidak Impending
disertai Eclampsia.
proteinuria Tanda
sampai saat atau gejalapersalinan
berakhirnya impending eklampsia antara lain: nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah,
Tekanan darah
dan nyeri epigastrium 2
. kembali normal > 12 minggu persalinan.
Diagnosis akhir hipertensi
Eklampsia selalu didahului dengan gestasional, Perawatan
preeklampsia. hanya ditegakkan
prenatalsetelah
untuk post partum dengan predisposisi preeklampsia perlu ketat dilakukan agar
kehamilan
Dapat disertai gejala lain preeklampsia, misalnya: nyeri epigastriun, trombositopenia 2.
dapat dikenal
2. sedini mungkin gejala-gejala prodromal eklampsia 2.
Preeklampsia
Kejang dimulai
denganpreeklampsia
Diagnosa kejang tonikringan
kemudian segera disusul
ditegakkan berdasardengan kejang klonik.
atas timbulnya Komadisertai
hipertensi terjadi proteinuria
setelah kejang,
dan berlangsung sangat bervariasi
atau edema setelah kehamilandan
20
bila tidak diberi obat anti kejang akan segera disusul dengan kejang berikutnya. Setelah kejang berakhir, frekuensi nafas meningkat akibat hiperkarbia
minggu.
Hipertensi:
atau hipoksia, beberapa 140/90
kasus dapat terjadimmHg
sianosis. Penderita yang sadar setelah koma, umumnya mengalami disorientasi dan sedikit gelisah 2.
Proteinuria: 300 mg /24 jam atau 1 + dipstick
Edema lokal tidak dimasukkan dalam kriteria preeklampsia, kecuali edema pada lengan, muka dan perut, edema generalisata 2.
Diagnosa preeklampsia berat ditegakkan bila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut:
Tekanan darah tidak menurun meskipun ibu sudah dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring.
Proteinuria: 5 gram /24 jam atau 4 + dalam pemeriksaan kuantitatif
Oliguria yaitu produksi urine kurang dari 500 cc/24 jam
Kenaikan kadar kreatinin plasma

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


Gangguan visus, penurunan kesadaran, nyeri kepala, scotoma dan pandangan kabur
Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat teregangnya kapsul Glisson)
Edema paru dan cyanosis
Trombositopenia berat
Gangguan fungsi hepar
Pertumbuhan janin intrauterine yang terhambat
Sindroma HELLP 2

Preeklampsia berat dibagi menjadi 2:


a) Preeklampsia berat tanpa impending eclampsia
b) Preeklampsia berat dengan impending eclampsia

Impending eclampsia:
Bila Preeklampsia berat disertai dengan gejala-gejala dibawah ini:
1) Nyeri kepala hebat
2) Gangguan visus
3) Muntah-muntah
4) Nyeri epigastrium
5) Kenaikan progresif tekanan darah 2

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


3. Eklampsia

Timbulnya kejang pada preeklampsia, dimana timbulnya kejang tidak dapat dibuktikan oleh sebab lain 2.

4. Superimposed preeklampsia pada hipertensi kronis

1) Timbulnya proteinuria 300 mg /24 jam, pada kehamilan > 20 minggu dan pada wanita yang memang sebelumnya mengalami
hipertensi kronis.

2) Timbul mendadak :

Proteinuria

Trombositopenia <100.000/mm3, pada wanita hipertensi dan terjadi proteinuria < kehamilan 20 minggu.

5. Hipertensi kronis

1) Tekanan darah 140/90 mmHg sebelum kehamilan, atau ditemukan tekanan darah 140/90 sebelum umur kehamilan 20 minggu.

2) Tekanan darah 140/90 pertama kali dalam kehamilan dan hipertensi menetap setelah 12 minggu pasa persalinan 2.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


G. Tatalaksana

Manajemen Umum Preeklampsia Ringan

Pada setiap kehamilan disertai penyulit suatu penyakit, maka selalu dipertanyakan, bagaimana:
1) Sikap terhadap penyakitnya, berarti pemberian obat-obatan atau terapi medikamentosa
2) Sikap terhadap kehamilan, berarti mau diapakan kehamilan ini
a. Apakah kehamilan akan diteruskan sampai aterm?
Disebut penanganan kehamilan konservatif atau ekspektatif
b. Apakah kehamilan akan dikahiri (diterminasi)?
Disebut penanganan kehamilan aktif atau aggresive 1

Tujuan utama penanganan preeklampsia


1. Mencegah kejang
2. Mencegah perdarahan intrakranial
3. Mencegah gangguan fungsi organ vital
4. Melahirkan bayi sehat. 1

Rawat Jalan (Ambulatoir)


a. Banyak istirahat (berbaring /tidur miring)
b. Diet: (Cukup protein, diet rendah karbohidrat, lemak dan garam secukupnya).
c. Roborantia

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


3. Pemeriksaan
d. Tidak perlu diberikesejahteraan
obat-obatan :janin
diuretik, antihipertensi dan sedative

e. Kunjungana)Perhitungan gerakan janin


ulang tiap 1 minggu
1,5
f. b) laboratorim
Pemeriksaan Nonstress(Hb,
test Hct,
2 kaliUrine
seminggu
lengkap, Asam urat darah, Trombosit, Fungsi ginjal dan hepar)

Rawat Inapc)Pemeriksaan USG dan doppler


1. Kriteria
4. untuk rawat inap
Konsultasi untuk
dengan preeklamsia
bagian: ringan dll. 1,5
mata, jantung,
a) Bila tidak ada perbaikan : tesakan darah maupun kadar proteinuria selama 2 minggu
b) Penanganan
Ada salah satu / lebih gejala
Obstetrik: Sikapdan tanda preeklampsia
terhadap kehamilan berat
2. Evaluasi selama di rumah sakit
a) Pemeriksaan fisik Preterm (<37 minggu)
a) Pada kehamilan
Pengukuran
Bila tekanantekanan darah setiap
darah mencapai 4 jam kecuali
normotensif ibu perwatan,
selama tidur persalinan ditunggu sampai aterm.
Observasi adanya edema pada
b) Pada kehamilan Aterm (>37 minggu) perut dan muka
Observasi
Persalinanadanya gejala-gejala
ditunggu sampai impending eclampsia
onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan pada Taksiran Tanggal
b) Pemeriksaan laboratorium
Persalinan.proteinuria dengan dipstick pada waktu masuk dan tiap 2 hari
Pemeriksaan
c) Bila pasien sudah
Pemeriksaan Hct daninpartu, perjalanan
trombosit setiap 2persalinan
minggu diikuti dengan grafik Friedman atau Partograf WHO
d) Cara persalinan
Pemeriksaan fungsi hepar setiap 2 minggu
Pemeriksaan produksi
Persalinan dapat urine tiap
dilakukan 3 jam
secara spontan, bila perlu memperpendek kala II. 1,5
Pemeriksaan serum kreatinin, asam urat dan BUN

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


Penanganan Preeklampsia Berat
Penanganan preeklampsia dan eklampsia mencakup:
1) Pencegahan kejang
2) Pengobatan hipertensi
3) Pengelolaan cairan
4) Pelayanan suportif terhadap penyulit organ yang terlibat
5) Saat yang tepat untuk persalinan
Sikap terhadap Penyakit
1. Segera masuk rumah sakit untuk rawat inap
2. Tirah baring ke satu sisi (kiri)
3. Pengelolaan cairan
a. Pengelolaan cairan sangat penting karena penderita preeklampsia mempenyai resiko tinggi terjadi edema dan oliguria.
b. Monitoring input cairan (melalui oral dan infus) dan output cairan (melalui urine) sangat penting. Artinya harus dilakukan pengukuran
secara tepat berapa jumlah cairan yang keluar melalui urine. Bila terjadi tanda-tanda edema paru segera dilakukan tindakan koreksi.
c. Pemberian cairan intravena
Cairan yang diberikan adalah 5% Ringer Dextrose atau garama faali dengan jumlah tetesan <125 cc/jam.
Infus Dextrose 5% yang tiap 1 liternya diselingi dengan infus Ringer Lactate (60-125 cc/jam)
Dipasang foley catheter untuk mengukur urine output.
d. Oliguria terjadi bila produksi urine < 500 cc per 24 jam

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


4. Diet : cukup protein, diet rendah karbohidraat, lemak dan garam secukupnya.
5. Pemberian obat anti kejang : MgSO4 (Magnesium Sulfas)
Cara pemberian Magnesium Sulfas
a. Loading dose
MgSO4 20% 4 g IV selama 5 menit (1g/menit) dilanjutkan MgSO4 40% 10 g IM pada bokong kanan/ kiri masing-masing 5g.
b. Maintenance dose
Diberikan 4 atau 5 g IM, 40% setelah 6 jam pemberian loading dose. Selanjutnya maintenance dose diberikan 4 g IM setiap 6 jam.
c. Syarat pemberian :
- Siapkan antidotum jika terjadi henti nafas lakukan ventilasi (masker dan balon, ventilator), beri kalsium glukonas 1 gram 10 %
(diberikan IV pelan pada intoksikasi MgSO4)
- Reflex patella (+) kuat
- Frekuensi respirasi > 16x/menit, dan tidak ada tanda distres nafas
- Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/KgBB/jam)
d. Sulfas Magnesium dihentikan bila :
- Ada tanda-tanda intoksikasi
- Setelah 24 jam pasca persalinan
6. Anti hipertensi
Anti Hipertensi diberikan bila
- Tekanan darah sistolik 180 mmHg
- Tekanan darah diastolik 110 mmHg
Desakan darah diturunkan secara bertahap:
a. Penurunan awal 25% dari desakan sistolik
b. Tekanan darah diturunkan mencapai < 160/105 dan MAP <125
c. Obat anti hipertensi yang diberikan adalah Nifedipine
- Dosis awal: 10-20 mg, diulangi 30 menit bila perlu
- Dosis maksimum 120 mg/24 jam
- Nifedipine tidak boleh diberikan sublingual karena efek vasodilatasi sangat cepat sehingga hanya boleh diberikan peroral.
7. Glukokortikoid
Pemberian Glukokortikoid untuk pematangan paru janin tidak merugikan ibu. Diberikan pada kehamilan 32-34 minggu, 2 x 24 jam.
8. Lain-lain
a.
Antasida : untuk menetralisir asam lambung, bila mendadak kejang, dapat menghindari resiko aspirasi asam lambung.
b.
Diuretik tidak diberikan, kecuali bila ada:

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


- Edema paru
- Payah jantung kongestif
- Edema anasarka
c.
Antipiretik: diberikan bila suhu rektal di atas 38,5C
d.
Antibiotik: Diberikan bila ada indikasi1,5
Sikap terhadap Kehamilan
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat selama penanganan, maka penanganan dibagi menjadi:
A. Aktif berarti kehamilan segera diakhiri bersamaan dengan pemberian pengobatan medikamentosa.
B. Konservatif berarti kehamilan tetap dipertahankan bersamaan memberi pengobatan medikamentosa.
A. Penanganan Aktif
a. Indikasi: Indikasi penanganan aktif apabila didapatkan satu/lebih keadaan dibawah ini:
1) Ibu
a) Umur kehamilan 37 minggu
b) Adanya gejala-gejala/tanda-tanda Impending Eclampsia

c) Kegagalan terapi pada penanganan Konservatif, yaitu: keadaan klinik dan laboratorium memburuk
2) Janin
a) Adanya tanda-tanda fetal distress
b) Adanya tanda-tanda IUGR
3) Laboratorium
a) Adanya HELLP Syndrome
b. Cara mengakhiri kehamilan
1) Belum inpartu
a) Induksi persalinan (biasanya dengan oxytocin drip[OD])
b) Sectio Caesarea, bila:
- Syarat induksi tidak memenuhi syarat dan ada kontraindikasi OD
- Atau OD gagal
2) Sudah inpartu
a) Kala I: Diikuti sesuai dengan grafik Friedman dan manajemennya bila terjadi kelainan-kelainan grafik Friedman atau dengan partograf
WHO
b) Kala II: Pada persalinan pervaginam, maka Kala II diselesaikan dengan partus buatan (Ibu tidak boleh mengejan) 5

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


B. Penanganan Konservatif
a. Indikasi : Pada usia kehamilan 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eclampsia dengan keadaan janin baik.
b. Pengobatan medikamentosa : Sama dengan penanganan medikamentosa pada pengelolaan aktif. Hanya loading dose MgSO4 tidak diberikan secara
IV, cukup IM saja.
c. Penanganan Obstetrik Konservatif :
1. Selama penanganan konservatif observasi dan evaluasi sama seperti penanganan aktif hanya disini tidak ada terminasi.
2. Magnesium sulfat dihentikan bila sudah terdapat tanda-tanda preeklampsia ringan, selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam.
3. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan, karena keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan harus diterminasi.
d. Penderita boleh dipulangkan bila :
1.
Penderita kembali ke gejala-gejala/tanda-tanda preeklampsia ringan tetap dirawat selama 3 hari.
2.
Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan preeklampsia ringan, penderita dapat dipulangkan sebagai preeklampsia ringan. 5

Penanganan Eklampsia
Pada hakikatnya penanganan yang sangat penting dalam penanganan pasien eklampsia adalah penanganan medikamentosa dan suportif. Tujuan
utama dari pengobatan medikamentosa eklampsia adalah
1)
Mencegah dan menghentikan kejang
2)
Mencegah dan mengatasi penyulit khususnya hipertensi krisis
3)
Mencapai stabilitas ibu seoptimal mungkin sehingga dapat melahirkan janin pada saat ddan dengan cara yang tepat 1

Pengobatan medikamentosa
Obat anti kejang yang menjadi pilihan utama adalah magnesium sulfat. 5

Pengobatan suportif
Pengobatan suportif terutama ditujukan untuk gangguan fungsi organ penting misalnya untuk mengoreksi asidosis, mempertahankan ventilasi
paru, mengatur tekanan darah, mencegah gagal jantung.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


Pengobatan Obstetrik
a) Sikap dasar : Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin
b) Bilamana diakhiri : kehamilan diakhiri bila sudag terjdai stabilisasi hemodinamika dan metabolisme ibu.
c) Cara terminasi kehamilan (seperti pada preeclampsia berat)
d) Perawatan pasca persalinan
-
Bila persalinan terjadi pervaginal monitoring tanda-tanda vital dilakukan sebagaimana lazimnya.
-
Pemeriksaan laboratorium dikerjakan setelah 1x24 jam persalinan 5
Pencegahan Preeklampsia
1
Pencegahan dilakukan pada wanita hamil yang mempunyai resiko terjadinya preeklampsia. Pencegahan dapat dilakukan dengan:
1. Non medikamentosa : restriksi garam, suplementasi diet (minyak ikan; makanan kaya antioksidan seperti vitamin C, E, beta karoten , C0Q10, N-
asetilcystein, asam lipoic; elemen logam berat seperti zinc, magnesium, kalsium)
2. Medikamentosa: diuretik, antihipertensi, antitrombotik (aspirin), antioksidan

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


Penanganan Hipertensi Kronik dalam Kehamilan
Tujuan pengelolaan hipertensi kronik dala m kehamilan adalah me mi ni ma lkan atau mencegah da mpak buruk hipertensi
maupun obat antihipertensi terhadap ibu dan janin, ya ng dapat dicapai dengan carafar makologis dan perubahan pola hidup
(diet, rokok, alkohol, substance abuse ). Terapi hipertensi kronik berat hanya me mperti mbangkan kesela matan ibu tanpa
me ma ndang status keha milan untuk menghindari terjadinya CVA, infark miokard, serta disfungsi jantung dan ginjal.
Antihipertensi
Antihipertensi diberikan bila: tekanan darah sistolik 180 mmHg, diastolik 110 mmHg, dan/atau terjadi end organ
dysfunction

- -Methyldopa dosis awal 3x500mg, maksimal 3g/hari


- Ca channel blocker Nifedipine dosis bervariasi 30-90mg/hari
- Diuretik thiazide tidak diberikan karena mengganggu aliran darah uteroplasenta
Evaluasi janin

- Nonstress test sejak umur kehamilan 32 minggu


- USG bila curiga adanya fetal groth restriction atau telah terjadi superimposed preeclampsia

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia
Diagnosis superimposed preeklampsia sulit, apalagi hipertensi kronik disertai kelainan ginjal dengan proteinuria. Tanda-tanda superimposed
preeklampsia pada hipertensi kronik adalah:
- Proteinuria, gejala neurologik, nyeri kepala hebat, gangguan visus, edema anasarka, oliguria, edema paru.
- Laboratorium: peningkatan serum kreatinin, trombositopenia, peningkatan transaminase serum hepar.
Persalinan pada kehamilan dengan hipertensi kronik
Sikap terhadap persalinan ditentukan oleh derajat tekanan darah dan perjalanan klinis. Bila tekanan darah terkendali, perjalanan kehamilan
normal, janin normal, dan volume amnion normal maka dapat diteruskan sampai aterm. Bila terjadi komplikasi maka segera diterminasi. Secara
umum persalinan diarahkan pervaginam.
Perawatan pascapersalinan
- Perawatan postpartum sama dengan preeklampsia.
- Edema serebri, edema paru, gangguan ginjal, dapat terjadi 24-36 jam post partum.
- Setelah persailnan: 6 jam pertama tahanan perifer meningkat, akibatnya terjadi peningkatan kerja ventrikel kiri, bersamaan dengan itu
akumulasi cairan interstitial mask ke intravaskular sehingga perlu terapi cepat dengan atau tanpa diuretik.
- Terapi terbaik bila terjadi perdarahan post partum adalah transfusi.

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|


H. HELLP Syndrome

Definisi
HELLP Syndrome adalah preeklampsia-eklampsia dengan adanya hemolisis, peningkatan kadar enzym hepar, disfungsi hepar dan
trombositopenia. H = hemolisis, EL = peningkatan enzim hati (Elevated Liver Enzyme) dan LP = rendahnya platellet (Low Platelet Count). 5

Diagnosis 5
1) Tanda dan gejala tidak khas
a. Mual
b. Muntah
c. Nyeri kepala
d. Malaise
2) Tanda dan gejala preeklampsia
a. Hipertensi
b. Proteinuria
c. Nyeri epigastrium
d. Edema
3) Tanda-tanda hemolisis intravaskular
a. Kenaikan LDH, AST, dan bilirubin indirek
b. Kenaikan urobilinogen dalam urine
c. Apusan darah tepi: fragmentasi eritrosit
4) Tanda kerusakan/disfungsi sel hepatosit hepar yaitu kenaikan ALT,AST, LDH.
5) Trombositopenia 150.000/cc

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|



Klasifikasi
Klasifikasi HELLP Syndome menurut Mississippi berdasarkan kadar trombosit, antara lain: 5
1) Klas 1
a. Trombosit 50.000/cc
b. LDH 600 IU/L
c. AST dan/atau ALT 40 IU/L
2) Klas 2
a. Trombosit 50.000-100.000/cc
b. LDH 600 IU/L
c. AST dan/atau ALT 40 IU/L
3) Klas 3
a. Trombosit 100.000-150.000/cc
b. LDH 600 IU/L
c. AST dan/atau ALT 40 IU/L

Tatalaksana
Terapi medikamentosa
1)
Mengikuti terapi medikamentosa preeklampsia-eklampsia.
2)
Pemeriksaan lanoratorium untuk trombosit dan LDH setiap 12 jam.
3)
Bila trombosit < 50.000/ml atau ada tanda-tanda koagulopati konsumptif maka harus diperiksa
a. Protrombine time
b. Partial tromboplastine time
c. Fibrinogen

4)
Pemberian Dexamethasone rescue
BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|
5)
Dapat dipertimbangkan pemerian transfusi trombosit bila trombosit < 50.000/cc. 5
Sikap terhadap kehamilan
Sikap kehamilan pada sindroma HELLP adalah Aktif yaitu kehamilan diakhiri tanpa memandang umur kehamilan. Persalinan dapat dilakukan
pervaginam atau perabdominam. 5
I. Prognosis
Prognoss eklampsia ditentukan dengan kriteria Eden (1922) antara lain: (bila didapatkan satu atau lebih dari gejala tersebut, prognose buruk)
1.
Koma yang lama
2.
Nadi di atas 120/menit
3.
Suhu di atas 103 F
4.
Tekanan darah sistolik di atas 200 mmHg
5.
Kejang > 10 kali
6.
Proteinuria > 10g/L
7.
Tidak ada edema1

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA|