Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PEMBUKAAN

A. Latar Belakang
Hutan Indonesia merupakan hutan alam besar dengan ekosistem yang lengkap dan
relatif tidak terganggu, sehingga proses ekologis dan suksesi dapat berlangsung dengan
baik(Bryant dkk. 1997). Hutan sangat penting dalam keberlangsungan makhluk hidup dan
menjadi habitat alami bagi banyak spesies tumbuhan maupun hewan. Hutan Indonesia
memerlukan pengelolaan ekstra dari semua pihak. Turunnya fungsi hutan sebagaimana
mestinya akhir-akhir ini menjadi isu nasional bahkan internasional. Penurunan fungsi hutan
terjadi karena beberapa faktor dan menimbulkan ancaman pada keanekaragaman hayati.
Kualitas dan kuantitas keanekaragaman hayati dapat berkurang, salah satu penyebab
utamanya adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan merupakan fenomena global yang
dapat terjadi di semua wilayah, termasuk Provinsi Riau khususnya kota Pekanbaru. Adanya
semak belukar dan alang-alang menyebabkan keadaan cenderung lebih kering dan rentan
terhadap api. Ditambah lagi dengan musim kering atau kemarau. Selain itu ada juga ulah
manusia yang sengaja membakar hutan untuk kepentingan pribadi seperti pembukaan lahan
perkebunan. Terkadang pembakaran hutan ini menjadi tak terkendali dan meluas ke daerah
lain yang akhirnya memperburuk keadaan ekosistem hutan tersebut. Dalam makalah ini, kami
akan memaparkan penyebab terjadinya kebakan hutan, dampak negatif kebakaran hutan
terhadap ekosistem, penanggulangan kebakaran hutan, dan langkah-langkah untuk
memperbaiki ekosistem hutan pasca kebakaran.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah makalah ini adalah sebagai
berikut:
a. Apa penyebab terjadinya kebakaran hutan ?
b. Apa saja dampak negatif kebakaran hutan bagi ekosistem ?
c. Bagaimana penanggulangan kebakaran hutan ?
d. Apa saja langkah-langkah yang di lakukan untuk memperbaiki ekosistem hutan
pasca kebakaran ?

C. Tujuan dan Manfaat


a. Memberikan informasi mengenai penyebab kebakaran hutan, dampak kebakaran
hutan terhadap ekosistem, penanggulangan kebakaran hutan, dan langkah-langkah
untuk memperbaiki ekosistem hutan pasca kebakaran.
b. Menambah pengetahuan mengenai suksesi pada hutan pasca kebakaran.
c. Menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen.

1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati merupakan salah satu bentuk kehidupan di bumi. Interaksi
antar makhluk hidup dengan lingkungannya mencakup seluruh di bumi ini. Mulai dari
makhluk terkecil hingga makhluk yang terbesar. Keanekaragaman hayati dibagi menjadi tiga
tingkatan yaitu keanekaragaman genetik, spesies, dan ekosistem(Indrawan etal 2007).
Keanekaragaman genetik adalah variasi genetik yang terjadi dalam satu spesies.
Keanekaragaman spesies mencakup segala kehidupan yang ada di bumi serta spesies dari
semua kingdom. Dan keanekaragaman ekosistem merupakan komunitas biologi yang
berbeda, serta asosiasinya dengan lingkungan fisik(ekosistem) masing-masing.
Suatu kawasan yang memiliki keanekaragaman ekosistem yang tinggi biasanya
memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi dengan varietas genetis yang tinggi pula
(IBSAP Dokumen Nasional 2004). Keanekaragaman hayati di muka bumi ini tidak tersebar
secara merata, Indonesia termasuk salah satu kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati
yang tinggi karena merupakan kawasan tropis. Inilah sebabnya Indonesia memiliki
keanekaragaman hayati yang bermacam-macam.
Keanekaragaman yang terus-menerus mengalami penurunan diindikasikan dapat
mengalami kepunahan. Suatu spesies dikatakan punah apabila tidak ada lagi ditemukan satu
individu pun dari spesies itu di muka bumi ini. Salah satu penyebab terjadinya penurunan
keanekaragaman hayati dimuka bumi ini adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan
merupakan salah faktor yang sangat rentan mengancam keanekaragaman hayati karena
kebakaran hutan bersifat eksplosif (menghancurkan sesuatu secara cepat).

B. Kebakaran Hutan dan Lahan


Kebakaran hutan terjadi setiap tahunnya dengan jumlah luas lahan dan intensitas
kebakaran yang berbeda-beda. Di Provinsi Riau, kebakaran hutan terjadi hampir setiap tahun.
Pada awal tahun 2017, sekitar 64 hektar lahan terbakar di Provinsi Riau. Sedangkan di kota
Pekanbaru, pernah terjadi kebakaran lahan seluas 3 hektar yang sengaja di bakar oleh salah
satu warga pemilik lahan yang pada akhirnya pembakaran lahan itu merembes ke lahan petani
lain dan menjadi kebakaran lahan di Jalan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Kota
Pekanbaru pada Selasa, 9 Agustus 2016. Hal ini menyebabkan vegetasi yang ada di lahan
terbakar tersebut menjadi rusak.

C. Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan


Kebakaran hutan disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia.
Secara alami, faktor penyebab kebakaran hutan adalah saling berkaitan antara iklim dan
cuaca, tipe vegetasi, dan bahan sisa vegetasi. Sumber api umumnya berasal dari kejadian
alam seperti sambaran petir, letusan gunung berapi(Darwo 2009). Kebakaran hutan secara
umumnya disebabkan banyak daun-daun kering yang mudah terbakar dan merambatkan api
dengan cepat. Pada daerah dengan lereng langsung menghadap matahari, kebakaran hutan
juga sering terjadi, dimana sinar mata hari membakar daun-daun kering dan api merambat
dengan cepat. Menurut Manan(1994) kegiatan ladang berpindah, pembakaran padang alang-

2
alang, rekreasi dan perkemahan di alam bebas, penebangan hutan, penggembalaan ternak,
dan perburuan mempunyai potensi yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Kebakaran
hutan juga di sebabkan oleh manusia yang sering meninggalkan api ketika berekreasai atau
perkemahan di hutan yang kadang lupa memadamkannya dan bahkan sengaja
membiarkannya karena mengira api tersebut akan mati dengan sendirinya. Akibatnya, bisa
saja merambat dan menyebabkan kebakaran hutan. Atau terjadi kebakaran rumah di
pemukiman warga yang kemudian merambat ke hutan dan menyebabkan kebakaran hutan.
Kebakaran hutan terjadi bisa saja sengaja dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggungjawab dengan alasan pembukaan lahan pertanian.

D. Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Terhadap Ekosistem dan


Keanekaragaman Hayati
Kebakaran hutan menyebabkan perubahan fisik dan sifat kimia tanah hutan.
Kebakaran hutan menyebabkan meningkatnya kandungan unsur karbon(C), nitrogen(N),
fosfor(P), kalium(K), kalsium(Ca), dan magnesium(Mg). Kebakaran hutan dapat
menyebabkan penurunan penyerapan tanah, presentase air tanah yang tersedia dan
penurunan pH tanah. Menurut Kahfi(1986) kebakaran dapat merubah dominasi dan
keragaman organisme tanah yang ada. Berkurangnya organisme tanah akibat kebakaran
sangat ditentukan oleh intensitas kebakaran. Kebakaran hutan membawa dampak yang besar
pada keanekaragaman hayati.
Hutan alam mungkin akan membutuhkan ratusan tahun untuk berkembang menjadi
sistem yang rumit yang mengandung banyak spesies yang saling bergantung satu sama lain.
Pada tegakan pohon phon yang ditanam murni, lapisan permukaan tanah dan tumbuhan
bawahnya diupayakan relatif bersih. Pohon-pohon muda akan mendukung sebagian kecil
spesies asli yang telah ada sebelumnya. Pohon-pohon hutan hujan tropis perlu waktu
bertahun-tahun untuk dapat dipanen dan tidak dapat digantikan dengan cepat. Demikian juga
komunitasnya yang kompleks juga tidak mudah digantikan bila rusak. Luas hutan hujan
tropika di dunia hanya meliputi 70% dari luas permukaan bumi, tetapi mengandung lebiih
dari 50% total jenis yang ada di seluruh dunia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa hutan
hujan tropika merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di bumi. Namun
jika kebakaran terjadi pada areal hutan maka banyak spesies yang berkurang dan menjadi
terancam punah (Soemarsono 1997).
Kehilangan keanekaragaman hayati secara umum juga berarti bahwa spesies yang
memiliki potensi ekonomi dan sosial mungkin akan hilang sebelum mereka ditemukan.
Sumber daya obat-obatan dan bahan kimia yang bermanfaat yang dikandung oleh spesies
liar mungkin hilang untuk selamanya. Kekayaan spesies yang terdapat pada hutan hujan
tropis mungkin mengandung bahan kimia dan obat-obatan yang bermanfaat. Banyak spesies
air tawar maupun air laut yang mempertahankan dirinya secara kimiawi dan ini merupakan
sumber bahan obat-obatan yang penting.

E. Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan


Menurut Purbowaseso(2004) pencegahan merupakan upaya yang dilakukan pada fase
sebelum kejadian berlangsung. Hal yang harus dilakukan untuk mencegah kebakaran hutan
adalah :

3
1. Membuat Peta Daerah Rawan Kebakaran Hutan
Peta ini dapat dibuat dangan bantuan citra satelit yang memanfaatkan saluran
thermal. Berdasarkan citra satelit ini, dari beberapa tahun dapat ditentukan titik-titik
api pada suatu wilayah. Jadi dapat diketahui tingkat kerawanan daerah tersebut
terhadap kebakaran hutan. Sehingga wilayah yang memiliki tingkat kerawanan yang
tinggi bisa mendapatkan pengawasan yang intensif.

2. Pemantauan Cuaca
Kegiatan ini dilakukan untuk memantau tingkat kerawanan api. Kerawanan api
tergantung pada faktor hujan, suhu, kelembaban, sturktur bahan bakar, susunan bahan
bakar, angin dan topografi sehingga diperlukan adanya stasiun pemantauan cuaca.

3. Penyiapan Regu Pemadam


Penyiapan regu pemadam kebakan yang cepat dan siap siaga apabila terjadi
kebakaran hutan sangat dibutuhkan dalam meminimalisir jumlah luas hutan yang
terkena api. Pemilihan regu pemadam kebakaran harus dengan baik sehingga
terbentuk regu yang cepat tanggap.

4. Pembangunan Menara Pengawas


Menara pengawas harus dibagun ditempat yang strategis dan mudah dijangkau.
Pengawasan terhadap munculnya kebakaran hutan harus dilakukan secara rutin untuk
mendeteksi kebakaran hutan sedini mungkin.

5. Penyiapan Peralatan Pemadam


Alat pemadam yang harus disiapkan pada dasarnya dibagi menjadi empat, yaitu
peralatan perorangan, perlatan kelompok, peralatan bantuan, dan sarana bantuan
nasional. Peralatan yang lengkap dan memadai akan mememudahkan pengendalian
api secara cepat.

6. Membuat Sekat Bakar


Sekat bakar dibedakan menjadi dua, yaitu jalur kuning dan jalur hijau. Jalur kuning
adalah sekat dengan lebar tertentuk (12-20m) dan mengelilingi areal sampai bertemu
gelang dan sekat dalam kondisi bersih dari bahan bakar. Jalur hijau terletak pada
penanaman pohon yang tahan api.

7. Penyuluhan
Penyuluhan merupakan kegiatan penting dalam rangka menyadarkan pihak yang
terkait dengan pembakaran hutan. Agar penyuluhan dapat efektif, maka pihak yang
diberi penyuluhan sebagai objek harus tepat. Materi yang disampaikan habus dalam
bahasa yang mudah dipahami dan diterima.

4
F. Memperbaiki Kembali Ekosistem Hutan dan Lahan Pasca
Kebakaran
Hal yang harus kita lakukan dalam memperbaiki ekosistem hutan pasca kebakaran
adalah melakukan reboisasi. Hal ini dapat menimbulkan suksesi karena hutan yang
direboisasi akan membentuk ekosistem kembali walaupun terkadang mendatangkan spesies
baru yang belum pernah ada sebulumnya di wilayah hutan tersebut. Selain reboisasi, kita juga
bisa membawa dan melepaskan individu atau spesies yang sudah berkurang di wilayah hutan
tersebut dengan membawa individu atau spesies baru dengan jenis yang sama dari daerah
lain. Contohnya jika di wilayah hutan A populasi burung kutilang telah berkurang akibat
kebakaran hutan, kita bisa membawa burung kutilang dari wilayah hutan B yang masih
banyak populasinya dan melepaskannya di wilayah hutan A.

5
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

A. Defenisi Konsepsional
1. Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan adalah suatu faktor lingkungan yang diakibatkan oleh api yang
memiliki dampak negatif terhadap hutan.
2. Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati adalah tingkat variasi bentuk kehidupan mulai dari
keanekaragaman gen, spesies, dan ekosistem.
3. Ekosistem
Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannnya.
4. Suksesi
Suksesi adalah proses perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu menuju ke
arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil.
5. Reboisasi
Reboisasi adalah penghijauan atau menanami kembali hutan yang telah rusak atau
gundul.

B. Defenisi Operasional
Kita tahu bahwa kebakaran hutan harus dicegah agar tidak mengurangi
keanekaragaman hayati di hutan dan tidak merusak ekosistem hutan.
Kebakaran hutan itu sendiri dapat diartikan sebagai bencana yang dapat mengurangi
keanekaragaman hayati di hutan dan tidak merusak ekosistem hutan dam harus kita
cegah agar tidak terjadi.
Keanekaragaman berarti variasi makhluk hidup yang ada di hutan yang dapat
berkurang bahkan punah jika terjadi kebakaran hutan di habitatnya.
Ekosistem sendiri artinya hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya yang harus kita jaga agar tidak terjadi ketidakseimbangan alam.
Suksesi maksudnya kita harus melakukan suksesi terhadap hutan yang telah
terbakar dengan cara reboisasi.
Reboisasi yaitu hal yang kita lakukan dalam program suksesi untuk memperbaiki
ekosistem hutan yang rusak setelah terjadinya kebakaran hutan.

C. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilakukan di Jalan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Kota
Pekanbaru pada tanggal 19 Maret 2017 mulai jam 10 pagi hingga selesai.

D. Populasi dan Sampel

6
Populasi dan sampel diambil dari literatur-literatur tentang kebakaran lahan yang
terjadi di tempat penelitian.

7
E. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dipakai ketika melakukan penelitian adalah ;

- Buku

- Pulpen

- Handphone

- Laptop

- Dan alat-alat lainnya.

F. Metodologi Pengambilan Sampel


Karena penulis hanya melakukan pengamatan terhadap daerah penelitian dan tidak
melakukan penelitian yang intensif, penulis hanya melakukan penjabaran pada
tinjauan pustaka tentang apa yang penulis teliti yaitu suksesi pada hutan/lahan pasca
kebakaran yang di resume dari artikel yang sesuai atau berkaitan dengan penelitian
dan literatur tambahan dari internet.

8
Bab 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Terjadinya Kebakaran Lahan
Kebakaran lahan yang terjadi di tempat penelitian adalah unsur kesengajaan dari
pihak tertentu. Dari artikel dan informasi yang penulis dapatkan dari warga
sekitar, pihak tersebut melakukan pembakaran untuk membuka lahan baru. Tetapi
pembakaran tersebut menjadi tidak terkendali dan akhirnya meluas ke lahan lain.
Pada akhirnya banyak spesies hewan dan tumbuhan yang memiliki manfaat
menjadi berkurang seperti burung dan ular yang merupakan predator alami dari
beberapa hama tumbuhan. Di daerah penelitian masih bisa ditemukan bekas
kebakaran seperti dedaunan kering dan tanah yang masih gosong.

B. Pembahasanan
1. Dampak yang Terjadi Akibat Kebakaran Lahan
Kebakaran lahan yang terjadi memiliki dampak negatif terhadap ekosistem di
lahan tersebut, dan juga menyebabkan terkontaminasinya udara bersih di Kota
Pekanbaru. Dampak negatif terhadap ekosistem adalah berkurangnya beberapa
spesies hewan dan tumbuhan yang ada di daerah tersebut. Selain itu, kebakaran
lahan tersebut menyebabkan udara di Kota Pekanbaru menjadi terkontaminasi
karbon(C), dimana jika karbon(C) berikatan dengan oksigen(O) maka akan
CO2
menimbulkan senyawa CO dan yang merupakan senyawa berbahaya
apabila terhirup dan suhu udara di Kota Pekanbaru pun meningkat. Masyarakat
pun bisa saja terkena penyakit pernafasan seperti asma dan pnumonia. Kebakaran
hutan/lahan juga dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan bisa saja
menyebabkan perubahan iklim. Secara ekonomi, kebakaran hutan menimbulkan
kerugian yang tidak sedikit.

2. Cara Memperbaiki Kembali Kebakaran Hutan/Lahan


Kebakaran hutan/Lahan sudah pasti mengakibatkan rusaknya habitat dan
ekosistem yang ada di lahan dan hutan tersebut. Untuk memperbaiki kembali
ekosistem dan habitat yang ada di hutan/lahan tersebut adalah dengan cara
reboisasi. Reboisasi bisa saja menimbulkan suksesi dan memiliki pengaruh yang
sangat baik bagi ekosistem dan habitat di hutan/lahan tersebut,walaupun harus
memakan waktu yang lama supaya menjadi ekosistem dan habitat yang lebih baik
bagi flora dan fauna di hutan/lahan tersebut. Ada baiknya, Pemerintah mengajak
masyarakat untuk melakukan reboisasi massal yang bisa saja menimbulkan rasa
cinta lingkungan dalam diri masyarakat. Reboisasi akan menimbulkan habitat baru
bagi flora dan fauna yang habitat lamanya hilang akibat kebakaran hutan/lahan.
Reboisasi juga bisa menjadi pencegah pemanasan global. Selain itu reboisasi pada
tanah bekas pembakaran akan berdampak baik pada tumbuhan baru yang ditanam
karena arang dari pohon yang terbakar akan menjadi pupuk alami bagi tumbuhan
baru yang ditanam, ini memiliki peluang besar untuk timbulnya suksesi.

9
BAB 5
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Kebakaran hutan/lahan mengakibatkan banyak spesies hewan dan tumbuhan yang
memiliki manfaat menjadi berkurang seperti burung dan ular yang merupakan
predator alami dari beberapa hama tumbuhan.
2. Kebakaran lahan yang terjadi memiliki dampak negatif terhadap ekosistem di lahan
tersebut, dan juga menyebabkan terkontaminasinya udara bersih. Dampak negatif
terhadap ekosistem adalah berkurangnya beberapa spesies hewan dan tumbuhan
yang ada di daerah tersebut
3. Kebakaran hutan/lahan menyebabkan suhu udara meningkat.
4. Masyarakat pun bisa saja terkena penyakit pernafasan seperti asma dan pnumonia.
5. Kebakaran hutan/lahan juga dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan bisa
saja menyebabkan perubahan iklim.
6. Secara ekonomi, kebakaran hutan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.
7. Cara memperbaiki kembali ekosistem dan habitat yang ada di hutan/lahan tersebut
adalah dengan cara reboisasi.
8. Reboisasi akan menimbulkan habitat baru bagi flora dan fauna yang habitat
lamanya hilang akibat kebakaran hutan/lahan.
9. Reboisasi pada tanah bekas pembakaran akan berdampak baik pada tumbuhan baru
yang ditanam karena arang dari pohon yang terbakar akan menjadi pupuk alami
bagi tumbuhan baru yang ditanam, ini memiliki peluang besar untuk timbulnya
suksesi.

B. Saran
Berdasarkan pembahasan diatas, saran yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut.
1. Pemerintah harus mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam program
reboisasi agar.
2. Kita harusnya menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan.
3. Kita harusnya mengajak masyarakat untuk cinta terhadap lingkungan agar
masyarakat tidak melakukan tindakan yang dapat merusak lingkungan.
4. Pemerintah harusnya memberikan sangsi keras terhadap pihak yang melakukan
pembakaran hutan agar ada efek jera.

10
DAFTAR PUSTAKA

Purbowaseso B. 2004. Pengendalian Kebakaran Hutan. Jakarta: RinekaCipta.


Kementerian lingkungan hidup dan UNDP. 1998. Ringkasan Eksekutif Kebakaran Hutan
dan Lahan Di Indonesia.
Indrawan M, Richard BP, Jatna S. 2007. Biologi Konservasi. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
http://www.google.com

11