Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah gizi merupakan masalah yang ada di tiap-tiap negara, baik
negara miskin, negara berkembang dan negara maju. Negara miskin
cenderung dengan masalah gizi kurang, hubungan dengan penyakit infeksi
dan negara maju cenderung dengan masalah gizi lebih (Soekirman, 2000).
Saat ini di dalam era globalisasi dimana terjadi perubahan gaya hidup
dan pola makan, Indonesia menghadapi permasalahan gizi ganda. Di satu
pihak masalah gizi kurang yang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan,
kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan,
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi. Selain itu masalah gizi lebih
yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu
disertai dengan kurangnya pengetahuan tentang gizi (Azrul,2004).
Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu
mengakibatkan perubahan gaya hidup dan pola makan. Perubahan pola
makan ini dipercepat dengan maraknya arus budaya makanan asing yang
disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi dan globalisasi ekonomi.
Disamping itu perbaikan ekonomi menyebabkan berkurangnya aktifitas fisik
masyarakat tertentu. Perubahan pola makan dan aktifitas fisik ini berakibat
semakin banyaknya penduduk dengan golongan tertentu mengalami masalah
gizi lebih berupa kegemukan dan obesitas (Almatsier,2009).

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan budaya ?
2. Apa yang dimaksud dengan gizi?
3. Apa yang dimaksud dengan masalah gizi masyarakat ?
4. Bagaimana perubahan social dan kebudayaan berkaitan dengan pola
konsumsi pangan dan gizi masyarakat ?
5. Bagaimana menentukan keadaan gizi dengan penilaian status gizi ?
6. Bagaiamana kaitan budaya dengan masalah gizi maysarakat ?
7. Bagaimana solusi untuk masalah gizi masyarakat ?
8. Bagaimana pencegahan masalah gizi masyarakat ?

1 | Anrop ologi Kelomp ok 2


C. Tujuan penulisan
Umum :
Memberikan pengetahuan dan pemahaman terhadap masyarakat
tentang kebudayaan yang dapat mempengaruhi gizi.
Khusus :
1. Mahasiswa dapat mengerti tentang budaya; gizi dan masalah gizi
pada masyarakat.
2. Mahasiswa dapat membantu memberikan pemahaman dan
menanggulangi maslaah gizi pada masyarakat.

BAB II
ISI
A. Pengertian
1. Budaya

Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan


adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui
kehidupan sosial, seni agama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran
manusia dari suatu kelompok manusia. Menurut Koentjaraningrat budaya adalah

2 | Anrop ologi Kelomp ok 2


keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka
kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.
Arti kata Budaya secara Terminologis Budaya adalah suatu hasil dari budi
dan atau daya, cipta, karya, karsa, pikiran dan adat istiadat manusia yang secara
sadar maupun tidak, dapat diterima sebagai suatu perilaku yang beradab.
Dikatakan membudaya bila kontinyu, konvergen kebudayaan didefinisikan
sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang
digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan
pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya.
Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan
manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan
menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi
tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu
masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-
anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui
proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam
bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan
yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat
mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat
tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan
proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka
hadapi tidak selamanya sama.

2. Gizi
Istilah gizi berasal dari bahasa Arab Giza yang berarti zat makanan, dalam
bahasa Inggris dikenal dengan istilah nutrition yang berarti bahan makanan atau
zat gizi. Lebih luas diartikan sebagai suatu proses organisme menggunakan
makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses pencernaan, penyerapan,
transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat gizi untuk
mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal organ tubuh serta
untuk menghasilkan tenaga.

3 | Anrop ologi Kelomp ok 2


a. Fungsi dari Gizi

Gizi memiliki beberapa fungsi yang berperan dalam kesehatan tubuh makhluk
hidup, yaitu:

1. Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/perkembangan serta


mengganti jaringan tubuh yang rusak
2. Memperoleh energi guna melakukan kegiatan sehari-hari
3. Mengatur metabolisme dan mengatur berbagai keseimbangan air, mineral
dan cairan tubuh yang lain
4. Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit
(protein)
b. Pola Konsumsi Pangan

Pengukuran konsumsi makanan sangat penting untuk mengetahui kenyataan


apa yang dimakan oleh masyarakat dan hal ini dapat berguna untuk mengatur
status gizi dan menemukan faktor diet yang dapat menyebabkan malnutrisi.

1. Refleksi Pola Pangan

Secara sederhana pola makan yang benar dapat kita terjemahkan sebagai
upaya untuk mengatur agar tubuh kita terdiri dari sepertiga padatan (berupa
makanan), seperti cairan dansepertiganya adalah ruangan kosong untuk udara.
Prinsip sepertiga padatan,sepertiga cairan dan sepertiga ruang kosong tersebut
mengajarkan kepada kita suatu pola keseimbangan tubuh melakukan metabolisme
secara wajar.

Dewasa ini berbagai penyakit akibat infeksi dan gizi kurang telah berhasil
di tekan berkat kemajuan ilmu kesehatan,teknologi pangan dan kesejahteraan
masyarakat. Akan tetapi meningkatnya kemakmuran masyarakat Indonesia yang
disertai gaya hidup santai (sedentary life style) dan perubahan pola makan,
menyebabkan meningkatnya berbagai penyakit akibat gizi lebih,dan penyakit
degenaratif (seperti jantung,diabetes,kanker,osteoporosit,dll).

Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan refleksi dari apa yang
kita makan sehari-hari, status gizi dikatakan baik apabila pola makan kita

4 | Anrop ologi Kelomp ok 2


seimbang, artinya banyak dan jenis makanan yang nkita maakan sesuai dengan
yang dibutuhkan tubuh. Apabila yang dimakan melebihi kebutuhan tubuh maka
tubuh akan kegemukan, sebaliknya bila yang dimakan kurang dari yang
dibutuhkan maka tubuh akan kurus dan sakit-sakitan. Kedua keadaan tersebut
sama tidak baiknya sehingga disebut gizi salah.

Status gizi seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tingkat
pendapatan, pengetahuan gizi dan budaya setempat. Tingginya pendapatan yang
tidak diimbangi pengetahuan gizi yang cukup, akan menyebabkan seseorang jadi
konsumtif dalam pola makanya sehari-hari. Dapat dipastikan bahwa pemilihan
suatu bahan makanan lebih didasarkan kepada pertimbangan selera ketimbang
gizi.

The national Academy of Sciences menyatakan, faktor makanan


bertanggung jawab atas 60% kasus kanker pada wanita dan 40% pada pria.
Beberapa cara untuk mencegah kanker yang dapat disarankan adalah ;
menghindari obesitas; mengurangi berlemak; meningkatkan makanan berserat,
meningkatkan konsumsi anti oksidan berupa vitamin A, C, dan E, menghindari
penggunaan alkohol, serta membatasi makanan yang diawetkan dengan garam,
asap dan nitrat.

2. Variasi Makanan

Didunia ini tidak ada satupun bahan pangan yang mengandung sekaligus
semua unsur gizi yang kita perlukan, dalam jumlah yang cukup. Dengan demikian
bila kita ingin memenuhi kebutuhan semua zat gizi, baik macam maupun
jumlahnya, maka tidak ada cara lain kecuali menambah keragaman bahan pangan
yang dikonsumsi sehari-hari.

Dengan kombinasi konsumsi yang beragam, maka unsur-unsur gizi dari


bahan pangan tersebut akan saling melengkapi satu sama lain, kekurangan zat gizi
dari bahan pangan satu, akan ditutupi oleh bahan pangan lainnya. Dengan

5 | Anrop ologi Kelomp ok 2


demikian maka konsumsi pangan yang beragam akan lebih baik bagi kesehataan
tubuh, dibandingkan dengan pola konsumsi yang hanya mengandalkan kepada
bahan pangan tunggal tertentu.

Contoh diversifikasi konsumsi pangan adalah mengkombinasikan sumber


karbohidrat yang berupa jagung,umbi dan sagu dengan ikan dan kacang-kacangan
sebagai sumber protein dan sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral. Supaya
suatu bahan menarik perhatian maka harus diolah dan divariasikan, sehingga
diperoleh produk pangan denagn penampilan bentuk, tekstur, warna, aroma, dan
cita rasa yang memikat.

3. Pedoman Umum Gizi Seimbang

Pada tahun 1992 di Roman, Italia diadakan kongres gizi internasional yang
merekomendasikan agar setiap negara menyusun Pedoman Umum Gizi Seimbang
(PUGS) untuk menghasilkan sumber tenaga manusia yang handal. Oleh karena itu
indonesia melalui Direktorat Bina Gizi masyarakat, Departemen Kesehatan
(Depkes) membuat pedoman umum gizi seimbangdengan logo yang berbentuk
kerucut atau tumpeng yang berbentuk dari 3 tngkat,yaitu :

1) Tingkat dasar menggambarkan zat tenaga, yaitu padi-padian, umbi-umbian,


dan tepung-tepungan

2) Diisi dengan kelompok makanan zat pengatur, yaitu sayur-sayuran dan buah-
buahan

3) Kelompok makanan zat pembangun, yaitu gabungan makanan hewani


(termasuk susu) dan nabati.

Di indonesia PUGS tersebut dijabarkan sebagai 13 pesan dasar yang dapat


dijadikan pedoman bagi setiap penduduk, adalah sebagai berikut :

6 | Anrop ologi Kelomp ok 2


1. Makanlah aneka ragam makanan, yaitu makanan sumber zat tenaga
(kerbohidrat), zat pembangun (protein), serta zat pengangkut (vitamin dan
mineral).
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kebutuhan energi, kebutuhan
tersebut dapat dipenuhi dari tiga sumber utama, yaitu karbohidrat, protein,
dan lemak.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.
Konsumsi gula sebaiknya dibatasi 5% dari jumlah kecukupan energi atau
sekitar 3-4 sendok perhari, 50-60% kebutuhan energi diperoleh dari
karbohidrat kompleks, setara dengan 3-4 piring nasi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan
energi. Mengkonsumsi lemak hewani secara berlebihan dapat
menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri dan penyakit jantung
karoner.
5. Gunakan garam beryodium,untuk mencegah timbulnya gangguan akibat
kekurangan iodium (GAKI).
6. Makanlah makanan sumber zat besi, untuk mencegah anemia besi.
7. Pemberian ASI saja pada bayi sampai 6 bulan. Pemberian ASI secara
eksklusif ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi.
8. Biasakan makan pagi, untuk memelihara ketahanan fisik dan
meningkatkan produktifitas kerja
9. Minumlah air bersih aman dan cukup jumlahnya, yaitu minimal 2 Liter
atau setara dengan 8 gelas perhari.
10. Lakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur, untuk mencapai berat
badan normal dan mengimbangi konsumsi energi yang berlebihan.
11. Hindari minum-minuman berakhohol
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, yaitu bebas dari cemaran
bahan kimia dan mikroba berbahaya yang dapat menyebabkan sakit.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas, untuk mengetahui komposisi
bahan penyusun (ingridien), komposisi gizi serta kadarluasanya.

4. Konsumsi Energi dan Protein

Berdasarkan hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WKNPG) VI,


1998, terjadi perubahan tingkat kecukupan konsumsi energi dan protein menjadi
2200 Kalori/kapita/hari (AKE) dan 48 gram/kapita/hari (AKP).

7 | Anrop ologi Kelomp ok 2


Terdapat kecenderungan tingkat konsumsi energi di desa lebih tinggi
daripada di kota dan sebaliknya tingkat konsumsi protein di desa lebih rendah
daripada kota. Fenomena ini menunjukkan bahwa pada tingkat pendapatan
tertentu, rumah tangga akan memprioritaskan pada pangan dengan harga murah
seperti pangan sumber energi, kemudian dengan semakin meningkatnya
pendapatan, akan terjadi perubahan preferensi konsumsi yaitu dari pangan dengan
harga murah beralih ke pangan yang harganya mahal seperti pangan sumber
protein.

Di negara maju, sudah banyak orang yang mengubah pola konsumsi


pangan hewaninya, dari red meat (daging-dagingan) ke white meat (ikan-ikanan),
karena makan ikan lebih menyehatkan daripada makan daging. Namun kondisi di
Indonesia, tingkat partisipasi konsumsi daging masih tinggi dan cenderung
meningkat, apalagi untuk daging ayam. Konsumsi daging sapi masih rendah
karena harga daging relatif mahal sehingga tidak semua lapisan masyarakat
mampu membelinya.

Indonesia adalah negara maritim yang merupakan negara penghasil


berbagai jenis ikan, justru masyarakatnya cenderung meninggalkan ikan dan
menyenangi daging yang bahan baku pakan ternaknya masih diimpor.
Kecenderungan ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak terutama dari
pemerintah. Orientasi kebijakan ekspor ikan untuk memperoleh devisa jangan
sampai menyebabkan harga ikan domestik menjadi mahal, sehingga sulit
dijangkau oleh masyarakat luas. Padahal peranan ikan dalam peningkatan kualitas
sumberdaya sangat erat, karena asam amino yang diperlukan untuk kecerdasan
pada ikan lebih lengkap dan juga efek sampingnya lebih sedikit. Mengkonsumsi
ikan dapat terhindar dari penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya.

B. Masalah Gizi Masyarakat


Masalah gizi masyarakat adalah hal yang sangat penting dan mendasar
dari kehidupan manusia kekurangan gizi selain dapat menimbulkan masalah
kesehatan (morbiditas, mortalitas dan disabilitas), juga menurunkan kualitas
sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa. Dalam skala yang lebih luas,

8 | Anrop ologi Kelomp ok 2


kekurangan gizi dapat menjadi ancaman bagi ketahanan dan kelangsungan
hidup suatu bangsa.
Kekurangan Gizi adalah masalah yang dialami beberapa orang dimana
indikatornya adalah berat badan yang sangat kurang dari normal, sehingga
orang tersebut tampak sangat kurus, dan lemas. Penyebab kekurangan gizi
dibagi menjadi 2 yaitu penyebab langsung, penyebab tidak langsung.
Penyebab langsung terdiri dari :
1. Penyakit infeksi

Penyebab tidak langsung terdiri dari :


1. Kemiskinan keluarga
2. Tingkat pengetahuan dan pengetahuan orang tua rendah
3. Sanitasi lingkungan yang buruk
4. Pelayanan kesehatan yang kurang memadai

Masalah gizi terbagi menjadi 2, yaitu :


1. Masalah gizi makro adalah masalah yang utamanya disebabkan
kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energi dan protein.
Manifestasi dari masalah gizi makro bila terjadi pada wanita usia subur
dan ibu hamil yang Kurang Energi Kronis (KEK) adalah berat badan bayi
baru lahir yang rendah (BBLR). Bila terjadi pada anak balita akan
mengakibatkan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor dan
selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah.
Anak balita yang sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui
dengan membandingkan antara berat badan menurut umur atau berat
badan menurut tinggi, apabila sesuai dengan standar anak disebut Gizi
Baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut Gizi Kurang, sedangkan jika
jauh di bawah standar disebut Gizi Buruk. Bila gizi buruk disertai dengan
tandatanda klinis seperti ; wajah sangat kurus, muka seperti orang tua,
perut cekung, kulit keriput disebut Marasmus, dan bila ada bengkak
terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab disebut Kwashiorkor.
Marasmus dan Kwashiorkor atau Marasmus Kwashiorkor dikenal di
masyarakat sebagai busung lapar.

9 | Anrop ologi Kelomp ok 2


2. Gizi mikro adalah masalah gizi mikro yang permasalahannya terus
berkembang, dimulai dari masalah Anemia Gizi Besi, Kekurangan
Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI), dan
akhir-akhir ini mulai lebih diteliti gangguan akibat kekurangan Zink,
Folat maupun Selenium. (khususnya Kurang Vitamin A, Anemia Gizi
Besi, dan Gangguan Akibat Kurang Yodium).

Masalah gizi yang sering muncul di masyarakat :

1. Marasmus

Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama


akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun
pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot.
Mempunyai Individu dengan marasmus mempunyai penampilan yang sangat
kurus dengan tubuh yang kecil dan tidak terlihatnya lemak. (Dorland,
1998:649).

Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang


dapat terjadi karena diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat
atau karena kelainan metabolik dan malformasi kongenital.

Tanda gejala yang muncul pada orang yang mengalami marasmus


yaitu pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan
kehilangan berat badan sampai berakibat kurus, dengan kehilangan turgor
pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan
hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama
beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput, serta wajah
seperti orang tua. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot
dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat,
tekanan darah dan frekuensi napas menurun, kemudian lesu dan nafsu makan
hilang. Biasanya terjadi konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut

10 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mucus dan
sedikit.

2. Kwasiorkor

Kwashiorkor ialah suatu keadaan kekurangan gizi ( protein ) yang


merupakan sindrom klinis yang diakibatkan defisiensi protein berat dan
kalori yang tidak adekuat. Walaupun sebab utama penyakit ini adalah
defisiensi protein, tetapi karena bahan makanan yang dimakan kurang
mengandung nutrisi lainnya ditambah dengan konsumsi setempat yang
berlainan, maka akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di
berbagai negara.

Penyebab terjadinya Kwasiorkor ini selain oleh pengaruh negatif faktor


sosial ekonomi, budaya yang berperan terhadap kejadian malnutrisi
umumnya, keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula disebabkan
oleh diare kronik, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air
kemih (sindrom nefrotik), infeksi menahun, luka bakar dan penyakit hati.

Tanda dan gejala yang muncul pada orang yang terkena


Kwasiorkor adalah :

1. Pertumbuhan terganggu, BB dan TB kurang dibandingkan


dengan yang sehat

2. Pada sebagian penderita terdapat edema baik ringan dan berat

3. Gejala gastrointestinal seperti anoreksia dan diare

4. Rambut mudah dicabut, tampak kusam kering, halus jarang


dan berubah warna

5. Hilangnya massa otot

11 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
6. Dermatitis dan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi

7. Kulit kering dengan menunjukan garis garis kulit yang


mendalam dan lebar, terjadi persisikan dan hiperpigmentasi

8. Terjadi pembesaran hati, hati yang teraba umumya kenyal,


permukaannya licin dan tajam

9. Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita

10. Kelainan kimia darah yang selalu ditemukan ialah kadar


albumin serum yang rendah, disamping kadar globulin yang
normal atau sedikit meninggi

3. Kurang Energi Protein (KEP)

Kurang energi protein (KEP) disebabkan oleh kekurangan makan


sumber energi secara umum dan kekurangan sumber protein. Pada anak-
anak, KEP dapat menghambat pertumbuhan terhadap penyakit terutama
penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat koduktivitas kerja
dan derajat kecerdasan. Sedangkan pada orang dewasa KEP menurunkan
kesehatan sehingga menyebabkan rentan terhadap penyakit. KEP
diklafikasian dalam gizi buruk, gizi kurang dan gizi baik.

4. Anemia Defisiensi Besi

Adalah penyakit kurangnya haemoglobin dalam darah dimana


haemoglobin ini berfungsi mengikat zat besi. Anemia defisiensi besi
biasanya menyerang ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak usia sekolah.
Anemia defisiensi besi disebapkan oleh kurangnya jumlah zat besi yang

12 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
masuk dalam tubuh sehingga menyebapkan penderita merasa lemas dan
letih.

5. Defisiensi Iodium

Adalah penyakit dimana penderita kekurangan Iodium yang berfungsi


dalam proses metabolisme dan pertumbuhan. Masalah ini biasanya dialami
oleh orang-orang yang hidup di tempat tinggi seperti penggunungan, bukit
dan daerah-daerah gersang dimana Iodium sangat sulit untuk diperoleh.
Ciri orang dengan masalah defisiensi Iodium biasanya pendek, lemas, dan
daya konsentrasi yang rendah.

C. Perubahan Sosial Dan Kebudayaan Berkaitan Dengan Pola Konsumsi


Pangan Dan Gizi Masyarakat

1. Makanan Sebagai Identitas Kelompok

Nasi adalah satu komoditas makanan utama bagi masyarakat Sunda-Jawa.


Semantara jagung menjadi komoditas makanan utama masyarakat Madura. Bagi
orang barat mereka tidak membutuhkan nasi setelah mengkonsumsi roti karena
roti merupakan makanan utama dalam budaya barat. Persepsi dan penilaian seperti
ini merupakan makna makanan sebagai budaya utama sebuah masyarakat, oleh
karena itu tidak mengherankan bila orang sunda, kendati sudah makan roti kadang
kala masih berkata belum makan kerena dirinya belum makan nasi.

Karena ada kesangsian terhadap makanan hasil olahan atau makanan


instan, banyak di antara masyarakat kota yang sudah mulai pidah ketradisi
vegetarian. Bagi kelompok gang, meenghirup ganja, narkoba, dan merokok
merupakan ciri kelompoknya. Kacang diidentikan sebagai makan yang biasa
menemani orang menonton sepak bola, merokok menjadi teman untuk

13 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
menghadirkan inspirasi atau kreativitas. Pemahaman dan persepsi inilah lebih
merupakan sebuah persepsi budaya tandingan (counter-cultulre) terhadap budaya
dominan.

Selain mengandung budaya dominan dan budaya tandingan, makanan pun


menjadi bagian dari budaya populer. Terakhir makanan sebagai makanan khusus
untuk kelompok tertentu. Makanan sub kultural misalnya , ketupat bagi kalangan
muslim di hari lebaran, dodol bagi Cina dihari imlek, coklat menjadi icon budaya
dalam menunjukan rasa cinta dan kasih.

Berdasarkan talaahan ini, makanan mengandung makna sebagai:

a) Identitas arus budaya utama (dominan culture), artinya harus ada dan menjadi
kebutuhan utama masyarakat.

b) Budaya tandingan (counterculture), yaitu menghindari arus utama akibat


adanya kesangsian atau ketidak sepakatan dengan budaya arus utama, dan

c) Makanan sebagai identitas budaya bagi suatu kelompok tertentu (subculture)

2. Makanan sebagai keunggulan etnik

Bila orang mendengar kata gudek, maka akan terbayang kota Yogyakarta,
mendengar kata pizzahat akan terbayang Italia, mendengar kata dodol dan jeruk
terbayang kota Garut, tetapi bila mendengar jeruk bangkok atau ayam bangkok
sudah tentu akan terbayang Bangkok-Thailand.

Contoh tersebut menunjukan bahwa makanan merupakan unsur budaya


yang membawa makna budaya komunitasnya. Di dalam makanan itu, orang tidak
hanya mengkonsumsi material makananya melainkan mengkonsumsi kretivitas
dan keagungan budaya. Tidak ada yang heran bila ada orang yang makan tahu
sumedang terasa hampa makna bila tahu itu dibeli diluar sumedang dan dirinya
pun tidak pegi kesumedang. Begitu pula sebaliknya, masyarakat akan memiliki
kebanggaan tertentu bila mengkonsumsi moci yang dibeli asli dari Cianjur.

14 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
Makanan adalah icon keunggulan budaya masyarakat. Semakin variatif
makanan itu dikenal publik semakin tinggi apresiasinya masyarakat daerah itu,
semakin luas distribusi wilayah pasar dari makanan tersebut, menunjukan kualitas
makanan tersebut diakui oleh masyarakat.

3. Perubahan Produksi pangan

Secara tradisional, makanan diperoleh melalui pertanian. Dengan


meningkatnya perhatian dalam agribisnis atas perusahaan-perusahaan
multinasional yang memiliki pasokan makanan dunia melalui paten pada makanan
yang dimodifikasi secara genetis, telah terjadi tren yang sedang berkembang
menuju pertanian berkelanjutan praktek. Pendekatan ini, sebagian didorong oleh
permintaan konsumen, mendorong keanekaragaman hayati , daerah kemandirian
dan pertanian organik metode.

Dalam budaya populer, produksi massal produksi pangan, khususnya


daging seperti ayam dan daging sapi, mendapat kecaman dari berbagai
dokumenter mendokumentasikan pembunuhan massal dan perlakuan buruk
terhadap binatang, terutama padaperusahaan-perusahaan besar. Produksi serealia
pun dilakukan secara massal dan menggunakan peralatan modern.

Produksi pangan yang dilakukan secara modern dapat mempermudah


proses produksi. Hal tersebut juga dapat mempengaruhi perubahan sosial dan
kebudayaan. Contohnya adalah jika produksi pangan dilakukan secara tradisional
maka masyarakat akan saling bekerja sama dan saling bergotong-royong, dan
dapat meningkatkan hubungan sosial antar masyarakat. Sedangkan produksi
pangan yang dilakukan secara modern menggunakan alat-alat canggih dapat
meregangkan hubungan antar masyarakat. Karena dalam proses produksi hanya
dibutuhkan tenaga kerja dengan jumlah yang relatif sedikit.

4. Perubahan Konsumsi Pangan

15 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
Pola konsumsi pangan masyarakat di setiap daerah berbeda-beda, yaitu
perbedaan pola konsumsi pada masa pra-ASI, balita, anak-anak, remaja, dewasa,
ibu hamil, dan lanjut usia.

Pada masa sebelum adanya pengetahuan masyarakat tentang gizi, para


orang tua mengambil peran penting dalam memperhatikan kebutuhan gizi
keluarganya. Pengetahuan orang tua yang minim dapat mempengaruhi status gizi
keluarganya.

Sebelum adanya panduan tentang gizi, makanan pra-ASI yang dikonsumsi


bayi dibawah 6 bulan adalah madu, air tajin, pisang, air kelapa, dan kopi.
Masyarakat belum mengetahui bahwa bayi berumur dibawah 6 bulan tidak boleh
diberi makanan lain kecuali ASI. Setelah adanya panduan ilmu gizi yang
menyebar di masyarakat, pemberian makanan pra-ASI yang salah semakin
berkurang.

Pada kalangan anak-anak dan remaja, pola konsumsi makanan dipengaruhi


oleh budaya masyarakat yang menganggap bahwa makanan memiliki pantangan
atau tabu untuk dimakan. Contohnya bagi anak-anak dan balita dilarang memakan
makanan yang asam, pedas, anyir, karena dapat mengakibatkan perut menjadi
panas bahkan sakit perut. Di era globalisasi, pola konsumsi anak-anak dan remaja
beralih ke makanan cepat saji (fast food), snack, dan konsumsi gula yang
berlebihan. Hal tersebut dapat memperburuk status gizi dan kesehatan.

Masyarakat beralih pada tempat-tempat yang menjual makanan cepat saji,


yaitu restoran, cafe, pizza hut, dan outlet-outlet lainnya. Kepercayaan masyarakat
terhadap makanan tertentu dapat mempengaruhi pola konsumsi pangan pada
setiap kalangan. Perubahan pola konsumsi pangan tersebut dapat menjadikan
status gizi lebih baik ataupun menjadi semakin buruk.

5. Perubahan Distribusi Pangan

Secara sederhana, proses distribusi pangan hanya menggunakan alat


transportasi sederhana, yaitu gerobak sapi, angkutan umum, truk, dan sebagainya.

16 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
Di era modern, peralatan yang digunakan adalah teknologi canggih yang dapat
mempermudah proses distribusi pangan. Bahkan, proses distribusi dapat
melibatkan hubungan kerja antar negara. Alat transportasi yang digunakan pun
semakin modern, seperti pesawat, helikopter, paket kilat, dan sebagainya.

Di era pra-modern, penjualan makanan surplus berlangsung seminggu


sekali saat petani mengambil barang-barang mereka pada hari pasar, ke pasar desa
setempat. Berikut makanan dijual kegrosir untuk dijual di toko-toko lokal mereka
untuk membeli oleh konsumen lokal. Dengan terjadinya industrialisasi, dan
pengembangan industri pengolahan makanan, yang lebih luas makanan dapat
dijual dan didistribusikan di jauh lokasi. Biasanya toko-toko kelontong awal
akan kontra didasarkan toko di mana pembeli kepada toko-penjaga apa yang
mereka inginkan, sehingga toko-penjaga bisa mendapatkannya untuk mereka.

Pada abad ke-20 supermarket lahir. Supermarket membawa mereka self


service pendekatan untuk belanja menggunakanshopping cart, dan mampu
menawarkan makanan berkualitas dengan biaya yang lebih rendah melalui skala
ekonomi dan mengurangi biaya staf. Di bagian akhir abad ke-20, ini telah lebih
jauh merevolusi oleh perkembangan luas gudang berukuran, luar kota
supermarket-, menjual berbagai macam makanan dari seluruh dunia.

D. Menentukan Keadaan Gizi dengan Penilaian Status Gizi.

Status gizi adalah Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu, contoh
gondok endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan dan
pengeluaran yodium dalam tubuh.

Terdapat beberapa jenis teknik penilaian status gizi, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung terbagi menjadi
empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.

Antropometri : Antropometri dapat berarti ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari


sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam

17 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat
ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat
pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan
jumlah air dalam tubuh.

Bentuk aplikasi penilaian status gizi dengan antropometri antara lain


dengan penggunaan teknik Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index
(BMI). IMT ini merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status
gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan
berat badan. Dengan IMT ini antara lain dapat ditentukan berat badan beserta
resikonya. Misalnya berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap
penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap
penyakit degeneratif.

Berikut contoh penggunaan metode IMT ini untuk mementukan kondisi


berat badan kita. Pada contoh ini akan disampaikan penjelasan tentang cara-cara
yang dianjurkan untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT yang
kemudian disesuaikan dengan keseimbangan konsumsi sehari-hari.

Untuk memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan


berat badan dan pengukur tinggi badan. Penggunaan IMT hanya untuk orang
dewasa berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja,
ibu hamil, dan olahragawan.

Untuk mengetahui nilai IMT ini, dipergunakan formula sebagai berikut :

Berat Badan (Kg)

IMT = -

Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)

18 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
Berdasarkan perhitungan diatas maka akan dapat ditentukan standard IMT
seseorang dengan berpedoman sebagai berikut :

Kategori IMT

Kurus sekali Kekurangan berat badan tingkat berat <>

Kurus Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 18,4

Normal Normal 18,5 25,0

Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1 27,0

Obes Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0

Klinis : Teknik penilaian status gizi juga dapat dilakukan secara klini.
Pemeriksaan secra klinis penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini
didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan
ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial
epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-
organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid
clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda
klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Di samping itu
digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan
pemeriksaan fifik yaitu tanda (sign) dan gejala (Symptom) atau riwayat penyakit.

19 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
Biokimia : Penilaian status gizi secara biokimia dilakukan dengan melakukan
pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai
macam jaringan tubuh, seperti darah, urine, tinja, jaringan otot, hati.

Penggunaan metode ini digunakan untuk suata peringatan bahwa


kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala
klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak
menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.

Biofisik : Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status
gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat
perubahan struktur dari jaringan. Metode ini secara umum digunaakan dalam
situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindnes).
Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

Penilaian gizi secara tidak langsung

Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu : Survei
Konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.

Survei Konsumsi Makanan : Survei konsumsi makanan adalah metode


penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat
gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan
gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan
individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.

Statistik Vital : Pengukuran status gizi dengan statistik vital dilakukan dengan
menganalisis statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka
kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang
berhubungan. Teknik ini digunakan antra lain dengan mempertimbangkan
berbagai macam indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.

20 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
Faktor Ekologi : Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi
beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang
tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan
lain lain (Bengoa). Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk
mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk
melakukan program intervensi gizi

E. Kaitan Budaya dengan Masalah Gizi Masyarakat

Bila dilihat kaitan lebih lanjut antara sosial budaya dengan


permasalahan gizi masyarakat, perlu dipertimbangkan pendapat Pelto (1980)
yang menjelaskan kebudayan sebagai sistem pengetahuan yang
memungkinkan untuk melihat berbagai perubahan dan variasi pengetahuan
yang terjadi dalam berbagai perubahan sosial, budaya, dan ekonomi
masyarakat. Termasuk di dalamnya perubahan-perubahan gaya hidup atau
perilaku jangka panjang sebagai konsekuensi langsung ataupun tidak
langsung dari perubahan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Perubahan
gaya hidup pada gilirannya akan memengaruhi kebiasaan makan, baik secara
kualitas maupun kuantitas (Pelto, 1980).
Berkaitan dengan pengaruh budaya terhadap asupan makan kepada
keluarga, menarik untuk disimak pendapat Baliwati yang menyampaikan
bahwa kegiatan ekonomi, sosial dan budaya suatu keluarga, suatu kelompok
masyarakat, suatu negara atau suatu bangsa mempunyai pengaruh yang kuat
dan kekal terhadap apa, kapan, dan bagaimana penduduk makan. Kebudayaan
masyarakat dan kebiasaan pangan yang mengikutinya, berkembang sekitar
arti pangan dan penggunaan yang cocok. Pola kebudayaan ini mempengaruhi
orang dalam memilih pangan, jenis pangan yang harus diproduksi,
pengolahan, penyaluran dan penyajian (Baliwati, dkk, 2004).
Menurut Suhardjo (1986) faktor sosial budaya yang memengaruhi
status gizi adalah pengetahuan, suku/etnis, pengetahuan, distribusi makanan,

21 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
pantangan makanan, dan jumlah anggota keluarga. Koentjaraningrat (1993)
juga menjelaskan untuk melihat kondisi sosial seseorang maka perlu
diperhatikan faktor pengetahuan.
Kebudayaan suatu keluarga, kelompok masyarakat, negara atau
bangsa mempunyai pengaruh yang kuat terhadap apa dan bagaimana
penduduk makan atau dengan kata lain pola kebudayaan mempengaruhi
orang dalam memilih pangan. Hal ini terlihat dari adanya beberapa jenis
makanan tertentu yang mempunyai nilai lebih dalam masyarakat dan bila
seseorang mengkonsumsi makanan tesebut maka akan meningkatkan
prestisenya dalam masyarakat. Dimana terkadang makanan tersebut kurang
mengandung nilai gizi atau mungkin mengandung nilai gizi yang cenderung
berlebihan yaitu protein dan lemak yang tinggi yang akan mempengaruhi
terjadinya obesitas (Irawati, 2000).
Indikator masalah gizi dari sudut pandang sosial-budaya antara lain
stabilitas keluarga dengan ukuran frekuensi nikah-cerai-rujuk, anak-anak
yang dilahirkan di lingkungan keluarga yang tidak stabil akan sangat rentan
terhadap penyakit gizi kurang. Juga indikator demografi yang meliputi
susunan dan pola kegiatan penduduk, seperti peningkatan jumlah penduduk,
tingkat urbanisasi, jumlah anggota keluarga, serta jarak kelahiran.
Banyak sekali penemuan para peneliti yang menyatakan bahwa faktor
budaya sangat berperan dalam proses terjadinya masalah gizi di berbagai
masyarakat dan negara. Unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu
kebiasaan makan penduduk yang kadang-kadang bertentangan dengan
prinsip-prinsip ilmu gizi. Berbagai budaya memberikan peranan dan nilai
yang berbeda-beda terhadap pangan atau makanan. Misalnya bahan-bahan
makanan tertentu oleh suatu budaya masyarakat dapat dianggap tabu untuk
dikonsumsi dengan alasan-alasan tertentu, sementara itu ada pangan yang
dinilai sangat tinggi baik dari segi ekonomi maupun sosial karena mempunyai
peranan yang penting dalam hidangan makanan pada suatu perayaan yang
berkaitan dengan agama atau kepercayaan.

22 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
Di sisi yang lain, kebiasaan makan juga memiliki hubungan dengan
hampir semua agama, walaupun berlainan dari agama satu dengan agama
lainnya. Kebanyakan kelompok agama juga mempunyai peraturan tertentu
terhadap makanan. Pada mulanya, mereka mengembangkan sebagai
prasangka terhadap beberapa bahaya yang berhubungan dengan pangan yang
kini dipantang atau karena faktor lain. Apapun alasannya, jenis pangan
tertentu tidak dapat diterima anggota suatu kelompok beragama (Suhardjo,
2005).

F. Solusi Masalah Gizi Masyarakat


Menurut Hadi (2005), solusi yang bisa kita lakukan adalah berperan
bersama-sama.
Peran Pemerintah dan Wakil Rakyat (DPRD/DPR). Kabupaten Kota
daerah membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, misalnya kebijakan
yang mempunyai filosofi yang baik menolong bayi dan keluarga miskin agar
tidak kekurangan gizi dengan memberikan Makanan Pendamping (MP) ASI.
Peran Perguruan Tinggi. Peran perguruan tinggi juga sangat penting
dalam memberikan kritik maupun saran bagi pemerintah agar pembangunan
kesehatan tidak menyimpang dan tuntutan masalah yang riil berada di tengah-
tengah masyarakat, mengambil peranan dalam mendefinisikan ulang
kompetensi ahli gizi Indonesia dan memformulasikannya dalam bentuk
kurikulum pengetahuan tinggi yang dapat memenuhi tuntutan zaman.

Menurut Azwar (2004). Solusi yang bisa dilakukan adalah :


1. Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari
kebijakan penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan
penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian
tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak
terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan
begitu juga sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi
dampak kepada perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan

23 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan
keterlibatan seluruh sektor terkait.
2. Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan
peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat
diharapkan kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat,
sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan.
3. Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian best practice
(efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan
mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik
tetapi membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian
Yodium pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah
cacat permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan.
Pada keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan
publik.
4. Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang
akurat dan evidence base dalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem
informasi yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan
monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui
kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan.
5. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya
penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan
manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk
pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa
aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi,
misalnya kesehatan, pertanian, pengetahuan diintegrasikan dalam suatu
kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
6. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk
melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan
dengan swasta, LSM dan masyarakat.
G. Penanggulangan Masalah Gizi Masyarakat

24 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
Seperti yang telah kita ketahui, masalah gizi yang salah kian marak di
negara kita. Dengan demikian diperlukan penanggulangan guna memperbaiki
gizi masyarakat Indonesia. Berikut ini cara-cara yang dapat dilakukan untuk
menanggulangi gizi salah, baik gizi kurang maupun gizi lebih.
Penanggulangan masalah gizi kurang
1. Upaya pemenuhan persediaan pangan nasional terutama melalui
peningkatan produksi beraneka ragam pangan;
2. Peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yng diarahkan
pada pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan
pangan tingkat rumah tangga;
3. Peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan sistem rujukan
dimulai dari tingkat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), hingga
Puskesmas dan Rumah Sakit;
4. Peningkatan upaya keamanan pangan dan gizi melalui Sistem
Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG);
5. Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi di bidang pangan
dan gizi masyarakat;
6. Peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan berbagai
produk pangan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat luas;
7. Intervensi langsung kepada sasaran melalui pemberian makanan
tambahan (PMT), distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi, tablet
dan sirup besi serta kapsul minyak beriodium;
8. Peningkatan kesehatan lingkungan;
9. Upaya fortifikasi bahan pangan dengan vitamin A, Iodium, dan Zat
Besi;
10. Upaya pengawasan makanan dan minuman;
11. Upaya penelitian dan pengembangan pangan dan gizi.

Penanggulangan masalah gizi lebih


Dilakukan dengan cara menyeimbangkan masukan dan keluaran
energi melalui pengurangan makanan dan penambahan latihan fisik atau
olahraga serta menghindari tekanan hidup/stress. Penyeimbangan masukan
energi dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta
menghindari konsumsi alkohol.

25 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari materi tersebut kita dapat membuat kesimpulan bahwa untuk
mencapai status gizi yang baik,baik fisik ,maupun mental,setiap individu harus
memenuhi status gizi.masalah status gizi masyarakat adalah masalah gizi yang
dialami karena adanya penurunan kualitas kesehatan masyarakat.jika masyarakat
masih berpegang teguh pada kepada budaya yang mereka anut tanpa mikirkan benar
atau tidaknya budaya yang diketahui oleh pengetahuan masyarakat tersebut maka
yang akan terjadi adalah masalah gizi masyarakat tersebut.solusi dan pencegahan
dan pencegahan untuk masalah gizi tersebut adalah untuk lebih diperhatikan dalam
asupan makanan terutama bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi dengan
menu makanan yang seimbang.

B. Saran
Masalah gizi dikalangan masyarakat tidak hanya terjadi karenabeberapa
faktor saja karena masalah tersebut terjadi karena adanya beberapa faktor,maka kami
meminta bantuan kepada kalangan masyarakat untuk dapat memberikan informasi
tentang masalah kesehatan dan dapat mencegah masalah tersebut,adabaiknya jika
masyarakat lebih memperhatikan masyarakat sehingga dapat bisa memilih bahan

26 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2
makanan yang dapat memenuhi status gizi dan sedangkan untuk instansi kesehatan
dapat memberikan pelayanan kesehatan khususnya untuk gizi dan bahan makanan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Koentjaraningrat, 1996, Pengantar Anthropologi
2. Elling, Socio Cultural Influences On Health and Health Care
3. Foster, 1973, Traditional Societes in Technological Change
4. Elling,Ray,H,socio cultural influences on health and helth care
5. Foster,G,M, traditional societes in technological
change,1973.Loentjaraningrat,pengantar anthropologi,1996
6. http://publichealth-journal.helpingpeopleideas.com/penentuan-
status-gizi
( diakses pada tanggal 4 februari 2016)
7. https://www.academia.edu/6354422/
(diakses pada tanggal 4 February 2016)
8. http://catatansafira.wordpress.com/2011/10/19/determinan-yang-
mempengaruhi-status-kesehatan-2/
(diakses pada tanggal 4 February 2016)

27 | A n r o p o l o g i K e l o m p o k 2