Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS RUANGAN

SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun oleh :
Asri Paramytha S 110 2010 038
Cepti Juanda 110 2010 054
Marleni 110 2010 156
Shinta Mariana 110 2010 268
Silmi Arfiyani 110 2010 269

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa


RSUD Kota Subang

Pembimbing :
dr. Soeponco Eddi W, SpKJ. MARS

SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA RSUD KOTA SUBANG


PERIODE 16 NOVEMBER 18 DESEMBER 2015

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
serta shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Rasulullah SAW karena dengan
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ruangan yang
berjudul Skizofrenia Paranoid
Penulis menyadari sepenuhnya, dalam penyusunan laporan kasus ruangan ini
masih jauh dari sempurna, tetapi penulis mencoba untuk memberikan yang terbaik
dengan segala keterbatasan yang penulis miliki. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas
dari bantuan dan dorongan banyak pihak. Untuk itu dalam kesempatan kali ini, penulis
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada dr. Soeponco Eddi Wahyono, Sp. KJ,
MARS selaku Pembimbing Medik yang telah meluangkan waktu untuk membimbing,
memberikan saran, nasehat, dan semangat untuk menyelesaikan makalah ini. Terima
kasih penulis sampaikan, dengan segala kerendahan hati, saya doakan semoga kebaikan
dan bimbingan selama ini diterima oleh Allah SWT dan semoga selalu dilimpahkan
berkah, rahmat, dan hidayah-Nya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini, kesalahan
dan kekurangan tidak dapat dihindari, baik dari segi materi maupun bahasa yang
disajikan. Oleh karena hal tersebut penulis memohon maaf atas segala kekurangan dan
kekhilafan yang tidak disengaja. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi
penulis dan pembaca, dalam memberikan sumbangan dan perkembangan ilmu
pengetahuan di dunia kedokteran. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan guna memperoleh hasil yang lebih baik di dalam penyempurnaan
makalah ini dari cara penulisan hingga isi dan pembahasannya.
Subang, Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI

2
Kata Pengantar .................................................................................................................i

Daftar Isi ............................................................................................................................3

Pendahuluan.......................................................................................................................4

1.1.. Latar Belakang .......................................................................................................5


1.2.. Tujuan .....................................................................................................................5

BAB I Laporan Kasus Ruangan .....................................................................................6

BAB II Tinjauan Pustaka................................................................................................17

BAB III Analisa Kasus ....................................................................................................29

Daftar Pustaka ..................................................................................................................34

PENDAHULUAN

3
1.1. Latar Belakang

Gangguan jiwa merupakan salah satu permasalahan kesehatan di dunia, contohnya


adalah skizofrenia. Para pakar kesehatan jiwa menyatakan bahwa semakin modern dan
industrial suatu masyarakat, semakin besar pula stressor psikososialnya, yang pada gilirannya
menyebabkan orang jatuh sakit karena tidak mampu mengatasinya.
Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai gangguan klinis, banyak tokoh psikiatri
dan neurologi yang berperan. Mula-mula Emil Kreaplin (18-1926) menyebutkan gangguan
dengan istilah dementia prekok yaitu suatu istilah yang menekankan proses kognitif yang
berbeda dan onset pada masa awal. Istilah skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen
Bleuler (1857-1939), untuk menggambarkan munculnya perpecahan antara pikiran, emosi
dan perilaku pada pasien yang mengalami gangguan ini. Bleuler mengindentifikasi symptom
dasar dari skizofrenia yang dikenal dengan 4A antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan
Ambivalensi.
Diagnosis skizofrenia lebih banyak ditemukan dikalangan sosial ekonomi rendah.
Beberapa pola interaksi keluarga dan faktor genetik diduga merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya skizofrenia.5 75% penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia
16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang beresiko tinggi karena tahap kehidupan
ini penuh stressor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya
karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.
Salah satu pembagian skizofrenia adalah skizofrenia paranoid. Skizofrenia paranoid
ditandai dengan suatu waham dan/atau halusinasi yang menonjol. Suara halusinasi yang
mengancam atau memberi perintah, halusinasi auditori tanpa bentuk verbal seperti bunyi
pluit, mendengung atau tawa. Serta waham yang dapat berupa; waham dikendalikan
(delusion of control), waham dipengaruhi (delusion of influence) atau keyakinan dikejar
kejar. Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang
dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika
muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik, psikologis
dan sosial-budaya.
Di Indonesia diperkirakan satu sampai dua persen penduduk atau sekitar dua sampai
empat juta jiwa akan terkena penyakit ini. Bahkan sekitar sepertiga dari sekitar satu sampai

4
dua juta yang terjangkit penyakit skizofrenia ini atau sekitar 700 ribu hingga 1,4 juta jiwa
kini sedang mengidap skizofrenia. Tiga per empat dari jumlah pasien skizofrenia umumnya
dimulai pada usia 16 sampai 25 tahun pada laki-laki. Pada kaum
perempuan,skizofrenia biasanya mulai diidap pada usia 25 hingga 30 tahun. Penyakit yang
satu ini cenderung menyebar di antara anggota keluarga sedarah.

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum


Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti program studi kepaniteraan
kedokteran jiwa di Rumah Sakit Umum Daerah Subang.

1.2.2. Tujuan Khusus


Untuk mengetahui dan memahami lebih mendalam mengenai gangguan sindrom
ekstrapiramidal.

5
BAB II
Laporan Kasus Ruangan

Identitas Pasien:
Nama Lengkap : Tn. Rudi Hartono
Nama Kecil : Rudi
No. Med. Rec. : 38 73 55
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 21 tahun
Alamat : Pagon kecamatan Purwodadi, Subang
Status Perkawainan : Belum menikah
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Suku : Sunda
Pekerjaan : belum bekerja

Keluarga Terdekat:
Nama : Ny. Uswina
Hubungan : Ibu
Alamat : Pagon kecamatan Purwodadi, Subang
Telpon : 085320416525

Keterangan Diperoleh Dari:


Nama : Ny. Uswina
Hubungan : Ibu
Sifat Perkenalan : Akrab
Kebenaran Anamnesa : Dapat dipercaya

Keluhan Utama:

Mendengar bisikan (halusinasi auditorik)

6
Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien di konsulkan ke bagian Jiwa karena sering mendengar bisikan sejak 1 bulan yang
lalu. Saat pasien dirawat di RS karena mengalami nyeri perut(gastritis), muntah(vomitus), BAB
hitam(melena) serta sariawan(stomatitis). Pasien mengalami gejala-gejala ini sudah sejak 6 bulan
yang lalu, sehingga pasien jadi sering dirawat di RS. Pasien juga sedang menjalani pengobatan
TB Paru sejak 3 bulan yang lal. Pasien mengatakan sejak menjalani pengobatan pola tidurnya
menjadi tidak teratur. Pasien menjadi sulit tidur(insomnia). Saat mengalami sulit tidur selama 1
bulan terakhir pasien menjadi sering mendengar bisikan-bisikan di telinga(halusinasi dengar)
yang tidak dapat didengar oleh orang lain, seperti bunyi tawa(laughing). Pasien juga mengatakan
melihat bayangan hitam besar(halusinasi lihat), seperti orang yang ingin menembak kearah ia
dan keluarganya, sehingga pasien merasa takut. Pasien merasa ada yang berbicara di pikirannya
berulang-ulang seakan akan seperti memberitahu bahwa dirinya diguna-guna oleh
tetangganya(thought echo, thought insertion, delusion of perception), sehingga pasien jadi
curiga(paranoid) terhadap tetangganya dan mempercayai bahwa dirinya sakit karena diguna-
guna(delusion of influence).

Pasien tidak merasa bahwa isi pikirannya ditarik keluar oleh sesuatu dan tidak merasa
jika pikiran dari luar masuk ke dalam otaknya. Pasien menyangkal bahwa dirinya telah
dikendalikan oleh sesuatu dan pasien menyangkal dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
sesuatu kekuatan dari luar.

Sejak 1 tahun yang lalu, pasien telah putus dari kekasihnya yang sangat dicintainya
karena ketahuan sering berganti ganti pasangan. Sejak saat itu pasien menjadi sering
sedih(depresi), sering menyendiri(solitary), mudah tersinggung(irritable) dan marah-
marah(aggressive verbal). Pasien merasa bersalah atas perbuatan yang telah ia lakukan bersama
kekasihnya dan pasangannya yang lain. Pasien mengaku sering berhubungan seksual dengan
mantan kekasihnya dan pasangannya yang lain sejak 2 tahun terakhir. Pasien saat ini tidak
bekerja karena sering keluar masuk RS untuk dirawat.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien dibawa ke IGD RSUD Subang pada 23 Desember 2015 oleh ibunya karena nyeri
perut hebat. Riwayat menderita kejang, penyakit hati, dan penyakit ginjal disangkal. Pasien

7
sedang dalam pengobatan TB Paru sejak 3 bulan yang lalu. Riwayat trauma kepala hingga koma
disangkal. Riwayat penggunaan obat-obatan terlarang dan minuman beralkohol disangkal.

Riwayat Keluarga:

No. Nama Status Usia Pekerjaan Sifat Keterangan


1. Tn. Karnali Ayah 51 Petani Bertanggung -
jawab
2. Ny. Uswina Ibu 50 tahun IRT Penyayang -
3. Tn. Rudi Pasien 21 tahun Belum bekerja Sakit

Pasien anak kedua dari dua bersaudara. Pasien tinggal serumah dengan ayah dan ibunya karena
kakanya sudah berkeluarga dan pisah rumah. Keluarga pasien tidak ada yang pernah memiliki
penyakit seperti pasien.

Riwayat Hidup Penderita:


1. Pasien dilahirkan ketika usia kehamilan memasuki 9 bulan, lahir ditolong Paraji, dan
langsung menangis. Tidak ada penyulit persalinan.
2. Saat bayi, pasien diasuh oleh ibunya namun tidak mendapatkan ASI eksklusif
dikarenakan ASI yang tidak keluar sehingga disusui oleh tetangganya.
3. Masa prasekolah: Pertumbuhan dan perkembangan pasien sesuai dengan anak
seumurannya.
4. Masa sekolah: Prestasi pasien cukup baik dikelas. Pasien memiliki banyak teman.
5. Masa remaja: Pasien sekolah sampai lulus SMP dan melanjutkan ke STM namun tidak
sampai selesai.

Kepribadian sebelum sakit:


Pasien termasuk orang yang baik, banyak teman dan pandai bergaul. Pasien adalah anak
yang penurut, tidak nakal namun kurang dekat dengan kedua orangtuanya. Sehingga pasien
jarang bercerita jika memiliki masalah dan lebih suka memendamnya sendiri. Pasien cenderung
menyukai hal hal yang berbau mistis.

Autoanamnesis :

8
Roman muka : Tenang
Sikap : Kooperatif
Tingkah laku : Normoaktif
Dekorum : Baik

D : Assallamualaikum mas namanya siapa?


P : Rudi Hartono
D : Nama panggilannya siapa ?
P : Rudi
D : Usianya berapa?
P : 21
D : Rumahnya dimana?
P : Kaliwadas desa pagong
D : Disini ditemani siapa?
P : Bapak dan ibu
Daya ingat baik, orientasi tempat baik, orientasi waktu baik, orientasi orang baik
D : Apa yang mas Rudi rasakan saat ini?
P : Saya sering mendengar bisikan-bisikan di telinga yang orang lain tidak dapat
mendengarnya, seperti orang tertawa
Halusinasi dengar (laughing)
D : Sejak kapan dengernya?
P : 1bulan yang lalu
D : Kalau malam bisa tidur?
P : Tidak, sudah 3 bulan gabisa tidur..
Inomnia
D : Suka ada bisikan di dalam hati ngga?
P : Ngga dok. Saya juga sering melihat bayangan hitam seperti orang yang ingin menembak
ke arah saya dan keluarga saya.
D : Ada baunya ngga?
P : Tidak dok
D : Apakah mas merasa ada isi pikiran dari luar yang masuk ke dalam pikirannya mas?

9
P : Iya, saya merasa ada yang memberitahu saya jika sata duguna gua oleh tetangga saya
Thought insertion, delusion of perception
D : Apakah mas merasa isi pikirannya bergema/berulang ulang?
P : Iya, saya selalu memikirkan kalau saya diguna guna
Thought echo
D : Apakah mas merasa jika isi pirannya ditarik keluar oleh sesuatu?
P : Tidak
D : Apakah mas merasa orang lain sudah mengetahui isi pikiran mas rudi?
P : Tidak
D : Apakah mas rudi jadi curiga terhdap orang lain?
P : Iya, saya menjadi curiga terhdap tetangga saya bahwa saya jadi sakit karena diguna
guna
Waham paranoid, delusion of influence
D : Mas rudi sakit dan dirawat disini sejak kapan?
P : 1 bulan yang lalu karena nyeri perut, mntah, BAB kehitaman dan sariaawan. Saya juga
menjalani pengobatan paru sejak 3 bulan yang lalu
Gastritis, vomitus,stomatitis, melena, TB paru
Saya jadi sering dirawat di RS karena itu dok, sejak saat itu saya jadi sering sulit tidur
Insomnia
D : Jika sulit tidur apa yang mas pikirkan?
P : Saya sedih putus dari pacar saya 1 tahun yang lalu. Saya jadi sering menyendiri, marah-
marah, mudah tersinggung. Karena saya merasa bersalah atas perbuatan saya selama ini.
Gejala depresif, solitary, aggressive verbal, irritable
D : Apa yag membuat mas merasa bersalah?
P : Saya telah selingkuh dari pacar saya. Dan saya telah melalukan hubungan sex dengan
pacar saya dan selingkuhan saya 2 tahun yang lalu. Sejak saat itu saya merasa sangat
sedih, sulit tidur, dan mulai ada bisikan bisikan di telinga saya yang membuat saya
terganggu. Saya ingin bisikan-bisikan itu hilang.
D : Apakah mas tau penyebab mas jadi seperti ini?
P : Saya seperti ini karena diguna guna oleh tetangga saya.

10
D : Jika nanti diberi obat untuk mengurangi gejala gejala sulit tidur dan mengurangi bisikan
apakah mas mau minum?
P : Ya saya mau sembuh.
Tilikan 3 (menyalahkan fakor lain sebagai penyebab sakitnya)

Status fisikus

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Tekanan darah :110 / 70

Nadi : 92 x / menit

Suhu : 36.5oc

Respirasi : 19 x/menit

Keadaan gizi : kurang

Bentuk tubuh : kahektis

Kulit : sawo matang

Mata : edema palpebra -/-

Conjungtiva : baik

Funduscopy : tidak dilakukan

Pupil : isokor

Sklera : tidak ada kelainan (ikterik)

Pergerakan : baik kesegala arah

Refleks cahaya: +/+

Hidung : tidak ada kelainan

Telinga : tidak ada kelainan

Mulut : tidak ada kelainan

11
Leher : Tidak ada pembesaran KGB

Thoraks

Jantung : Bunyi jantung normal regular, dan batas jantung normal

Paru-paru : Bunyi paru-paru normal vesikuler, ronkhi +/+

Abdomen

Hepar : Tidak ada pembesaran hepar

Lien : Tidak ada pembesaran lien

Ruang traube : Kosong

Bising usus : Normal, nyeri tekan epigastrium

Genitalia : Tidak dilakukan

Ekstremitas : Edema -/-/-/- akral hangat +/+/+/+

Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran KGB

Keadaan susunan saraf :

Saraf otak : Baik

Sensibilitas : Baik

Motoris : Baik

Vegetatif : Baik

Reflex Fisiologis : +/+

Patologis : Negatif

Status Psikikus

Roman muka : tenang

Kontak/Raport : ada/ adekuat

12
Kesadaran : Compos mentis

Orientasi

Tempat : Baik

Waktu : Baik

Orang : Baik

Persepsi

Ilusi :-

Halusinasi : Halusinasi auditorik dan halusinasi visual

Ingatan

Masa kini : Baik

Masa dulu : Baik

Daya ingat : Baik

Daya ulang : Baik

Paraamnesia : Tidak ada

Hiperamnesia : Tidak ada

Intelegensia : Baik

Pikiran

Bentuk pikiran : Autistik

Jalan pikiran : koheren

Isi pikiran : thought echo, thought insertion, delusion of perception,


delusion of influence, waham paranoid
Organisasi pikiran : terganggu

Penilaian

13
Norma sosial : Baik

Waham : Waham paranoid

Wawasan penyakit : Tilikan 3

Decorum

Sopan santun : baik

Cara berpakaian : baik

Kebersihan : baik

Kematangan jiwa : Matur

Tingkah laku : normoaktif

Bicara : koheren

Emosi : eutimik

Laboratorium :

Darah Lengkap

Leukosit 11 . 103/L
Limfosit 1,3 . 103/L
Monosit 1,0 . 103/L
Granulosit 4,0 . 103/L H
Limfosit% 17,7 % H
Monosit% 14,0%
Granulosit% 68,3% H
Eritrosit 4,97 . 106/L L
Hemoglobin
Hematokrit 14,1 g/dL L
MCV 42,5 % L
MCH 85,5 fL
MCHC 28,4 pg/mL
Trombosit 33,2 g/dL
160 . 103/L

14
Psikodinamika

Laki-laki, 21 tahun, lajang, pendidikan terakhir SMP saat ini tidak bekerja, dikonsulkan
ke bagian jiwa karena sering mendengar bisikan sejak 1 bulan yang lalu. Sebelum sakit pasien
termasuk orang yang baik, pandai bergaul, namun cenderung pendiam. Pasien cenderung
menyukai hal hal yang berbau mistis.
Setelah pasien putus dari pacarnya 1 tahun yang lalu pasien menjadi sering
sedih(depresi), sering menyendiri(solitary), mudah tersinggung(irritable) dan marah-
marah(aggressive verbal). Saat ini pasien sedang menjalani pengobatan TB paru sejak 3 bulan
yang lalu, pasien juga mengatakan kesulitan tidur sejak itu. Namun baru 1 bulan ini pasien
menjadi sering mendengar bisikan-bisikan(halusinasi dengar) seperti bunyi tawa(laughing).
Pasien juga mengatakan melihat bayangan hitam besar(halusinasi lihat). Pasien merasa ada yang
berbicara di pikirannya berulang-ulang (thought echo) seakan akan seperti memberitahu bahwa
dirinya diguna-guna oleh tetangganya(thought insertion, delusion of perception), sehingga pasien
jadi curiga(paranoid) terhadap tetangganya dan mempercayai bahwa dirinya sakit karena diguna-
guna(delusion of influence).
Mekanisme mental yang digunakan : fantasi

Diagnosis Multiaksial
AKSIS I
Gangguan klinik : Skizofrenia Paranoid Akut (F 20.0)
Diagnosis banding : Skizofrenia Herbefrenik (F 20.1)
Kondisi lain yang menjadi fokus perhatian klinik : Tidak ada diagnosa
AKSIS II
Gangguan kepribadian : Tidak ada diagnosa
Retardasi mental : Tidak ada diagnosa
AKSIS III
Kondisi medik umum : Penyakit Sitem Pernapasan (TB Paru on OAT suspect HIV),

15
AKSIS IV
Masalah psikososial dan lingkungan : Lingkungan
AKSIS V
Penilaian fungsi secara global (GAF Scale) : 60-51 Gejala sedang,disabilitas sedang

Pengobatan
Somatoterapi : Olanzapine 2x2mg
Psikoterapi : Terapi suportif individual: suportif
Rehabilitasi :-
Terapi lain :-

Usul-Usul
Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal. Rapid test

Prognosa
Quo ad vitam : Dubia ad Malam
Quo ad fungsionam : Dubia ad Malam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu skizo yang artinya retak atau pecah, dan frenia yang
artinya jiwa, dengan demikian, seseorang yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang
mengalami keretakan jiwa atau keretakkan kepribadian (Hawari, 2003).
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi
individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan realitas,
merasakan dan menunjukan emosi serta berperilaku dengan sikap yang tidak dapat diterima
secara sosial (Isaacs, 2005).

16
2.2 Etiologi Skizofrenia

Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etiologi) yang pasti mengapa seseorang
menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak.Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah
dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir
antara lain : (Yosep, 2010)

Faktor genetik;
Virus;
Autoantibodi;
Malnutrisi.
Dari penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut : (Yosep, 2010)

1) Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5,6%, saudara kandung 10,1%;
anak-anak 12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9%.
2) Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan pada kembar identik 59,20%;
sedangkan kembar fraternal 15,2%. Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan
pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi timbulnya skizofrenia
kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena kekurangan gizi,
infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal. Penelitian mutakhir menyebutkan
bahwa meskipuna ada gen yang abnormal, skizofrenia tidak akan muncul kecuali
disertai faktor-faktor lainnya yang disebut epigenetik faktor. Skizofrenia muncul bila
terjadi interaksi antara abnormal gen dengan : (Yosep, 2010)
a. Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu perkembangan
otak janin;
b. Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama kehamilan;
c. Komplikasi kandungan; dan
d. Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.
Seseorang yang sudah mempunyai faktor epigenetik tersebut, bila mengalami stresor
psikososial dalam kehidupannya, maka risikonya lebih besar untuk menderita skizofrenia dari
pada orang yang tidak ada faktor epigenetik sebelumnya. (Yosep, 2010)

2.3 Penegakkan diagnosis

17
Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ-III, adalah sebagai berikut (Maslim,
2003):

- Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namun kualitasnya berbeda atau thought insertion or withdrawal yang
merupakan isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau
isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
thought broadcasting, yaitu isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya;
b. delusion of control, adalah waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar atau delusion of passivitiy merupaka waham
tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar;
(tentang dirinya diartikan secara jelas merujuk kepergerakan tubuh/anggota
gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus), atau delusional
perceptionyang merupakan pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
c. Halusinasi auditorik yang didefinisikan dalam 3 kondisi dibawah ini:
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien, atau
Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri
(diantara berbagai suara yang berbicara), atau
Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap
tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya
mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia
lain).
e. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan

18
(over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak
relevan, atau neologisme;
Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,
dan stupor;
Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan
oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
e. Adanya gejala-gejala khas di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan
atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal)
f. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara
sosial.
Adapun kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM IV adalah (Tomb, 2003):

Berlangsung minimal dalam enam bulan


Penurunan fungsi yang cukup bermakna di bidang pekerjaan, hubungan
interpersonal, dan fungsi dalam mendukung diri sendiri
Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama berlangsungnya
sebagian dari periode tersebut
Tidak ditemui dengan gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood
mayor, autisme, atau gangguan organik.

2.4 Jenis-jenis skizofrenia

19
Kraepelin membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita digolongkan ke dalam
salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Akan tetapi batas-batas golongan-
golongan ini tidak jelas, gejala-gejala dapat berganti-ganti atau mungkin seorang penderita tidak
dapat digolongkan ke dalam salah satu jenis. Pembagiannya sebagai berikut :(Maramis, 2009).
Gejala klinis skizofrenia secara umum dan menyeluruh telah diuraikan di muka, dalam PPDGJ
III skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang mempunyai spesifikasi masing-
masing, yang kriterianya di dominasi dengan hal-hal sebagai berikut :

Skizofrenia paranoid

Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya penyakit.
Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan menunjukkan gejala-gejala
skizofrenia simplex, atau gejala-gejala hebefrenik dan katatonik bercampuran. Skizofrenia
paranoid memiliki perkembangan gejala yang konstan. Gejala-gejala yang mencolok adalah
waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara
lebih teliti juga didapatkan gangguan proses pikir, gangguan afek, dan emosi.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya mungkin subakut,
tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan skizoid,
mudah tersinggung, suka menyendiri dan kurang percaya pada orang lain.Berdasarkan PPDGJ
III, maka skizofrenia paranoid dapat didiganosis apabila terdapat butir-butir berikut :
Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia
Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan atau waham harus menonjol :
Suara-suara halusinasi satu atau lebih yang saling berkomentar
tentang diri pasien, yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit,
mendengung, atau bunyi tawa.
Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual
mungkin ada tetapi jarang menonjol.
Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau Passivity (delusion of passivity), dan

20
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang
paling khas.
o Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta
gejalakatatonik secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.

Pasien skizofrenik paranoid memiliki karakteristik berupa preokupasi satu atau lebih
delusi atau sering berhalusinasi. Biasanya gejala pertama kali muncul pada usia lebih tua
daripada pasien skizofrenik hebefrenik atau katatonik. Kekuatan ego pada pasien skizofrenia
paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan hebefrenik. Pasien skizofrenik paranoid
menunjukkan regresi yang lambat dari kemampuan mentalnya, respon emosional, dan
perilakunya dibandingkan tipe skizofrenik lain.

Pasien skizofrenik paranoid biasanya bersikap tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak
ramah.Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif.Pasien skizofrenik paranoid kadang-
kadang dapat menempatkan diri mereka secara adekuat didalam situasi sosial.Kecerdasan
mereka tidak terpengaruhi oleh gangguan psikosis mereka dan cenderung tetap intak.

Skizofrenia Hebefrenik

Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara
15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan kemauan dan
adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism,
neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia heberfenik. Waham
dan halusinasi banyak sekali.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia hebefrenik dapat didiganosis apabila terdapat
butir-butir berikut Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
Diagnosis hebefrenikbiasanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset
biasanya mulai 15-25 tahun)..
Untuk diagnosis hebefrenik yang menyakinkan umumnya diperlukan pengamatan
kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas
berikut ini memang benar bertahan :
o Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta
mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku
menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;
21
o Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai
oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendirir
(self-absorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa
menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks),
keluhan hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);
o Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling)
serta inkoheren.
o Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya
menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol
(fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak
o (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan,
sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan
(aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu preokupasi yang
dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak
lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.
Menurut DSM-IV skizofrenia disebut sebagai skizofrenia tipe terdisorganisasi.

Skizofrenia Katatonik

Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya akut serta sering didahului
oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik atau stupor katatonik. Stupor
katatonik yaitu penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali terhadap lingkungannya.
Gejala paling penting adalah gejala psikomotor seperti:
1. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup
2. Muka tanpa mimik, seperti topeng
3. Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberapa hari, bahkan
kadang sampai beberapa bulan.
4. Bila diganti posisinya penderita menentang : negativisme
5. Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga berkumpul dalam mulut dan meleleh keluar,
air seni dan feses ditahan
6. Terdapat grimas dan katalepsi
Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai
berbicara dan bergerak. Gaduh gelisah katatonik adalah terdapat hiperaktivitas motorik, tetapi
tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi rangsangan dari luar.

22
Penderita terus berbicara atau bergerak saja, menunjukan stereotipi, manerisme, grimas dan
neologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum sehingga mungkin terjadi dehidrasi atau
kolaps dan kadang-kadang kematian (karena kehabisan tenaga dan terlebih bila terdapat juga
penyakit lain seperti jantung, paru, dan sebagainya)
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila terdapat butir-
butir berikut :
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
o Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam
gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):
o Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
o Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
o Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua
perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang
berlawanan);
o Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya
menggerakkan dirinya);
o Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan tubuh
dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
o Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis
terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.
o Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan
katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti
yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain.
o Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk
diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit
otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi
pada gangguan afektif.
Pasien dengan skizofrenia katatonik biasanya bermanifestasi salah satu dari dua bentuk
skizofrenia katatonik, yaitu stupor katatonik dan excited katatatonik. Pada katatonik stupor,
pasien akan terlihat diam dalam postur tertentu (postur berdoa, membentuk bola), tidak
melakukan gerakan spontan, hampir tidak bereaksi sama sekali dengan lingkungan sekitar
bahkan pada saat defekasi maupun buang air kecil, air liur biasanya mengalir dari ujung mulut
23
pasien karena tidak ada gerakan mulut, bila diberi makan melalui mulut akan tetap berada di
rongga mulut karena tidak adanya gerakan mengunyah, pasien tidak berbicara berhari-hari, bila
anggota badan pasien dicoba digerakkan pasien seperti lilin mengikuti posisi yang dibentuk,
kemudian secara perlahan kembali lagi ke posisi awal. Bisa juga didapati pasien menyendiri di
sudut ruangan dalam posisi berdoa dan berguman sangat halus berulang-ulang.

Pasien dengan excited katatonik, melakukan gerakan yang tanpa tujuan, stereotipik
dengan impulsivitas yang ekstrim. Pasien berteriak, meraung, membenturkan sisi badannya
berulang ulang, melompat, mondar mandir maju mundur.Pasien dapat menyerang orang
disekitarnya secara tiba-tiba tanpa alasan lalu kembali ke sudut ruangan, pasien biasanya
meneriakka kata atau frase yang aneh berulang-ulang dengan suara yang keras, meraung, atau
berceramah seperti pemuka agama atau pejabat.Pasien hampir tidak pernah berinteraksi dengan
lingkungan sekitar, biasanya asik sendiri dengan kegiatannya di sudut ruangan, atau di kolong
tempat tidurnya.

Walaupun pasien skizofrenia katatonik hanya memunculkan salah satu dari kedua diatas,
pada kebanyakan kasus gejala tersebut bisa bergantian pada pasien yang dalam waktu dan
frekuensi yang tidak dapat diprediksi.Seorang pasien dengan stupor katatonik dapat secara tiba-
tiba berteriak, meloncat dari tempat tidurnya, lalu membantingkan badannya ke dinding, dan
akhirnya dalam waktu kurang dari satu jam kemudian kembali lagi ke posisi stupornya.

Selama stupor atau excited katatonik, pasien skizofrenik memerlukan pengawasan yang
ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis
mungkin ddiperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau cedera yang
disebabkan oleh dirinya sendiri.

Skizofrenia Simplex

Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis simplex adalah
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya sulit
ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan
sekali. Permulaan gejala mungkin penderita mulai kurang memperhatikan keluarganya atau
mulai menarik diri dari pergaulan.

24
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila terdapat butir-
butir berikut :
Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung
pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari :
o Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat
halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik, dandisertai
dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi
sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan
hidup, dan penarikan diri secara sosial.
o Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe
skizofrenia lainnya.
Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas.Gejala utama pada
jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir
biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat.Jenis ini timbulnya
perlahan-lahan sekali.Pada permulaan mungkin penderita mulai kurang memperhatikan
keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia makin mundur dalam
pekerjaan atau pelajaran dan akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang
menolongnya ia mungkin akan menjadi pengemis, pelacur, atau penjahat.

Skizofrenia residual

Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu episode
psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke arah gejala negatif yang lebuh menonjol.
Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpula afek, pasif
dan tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspresi nonverbal yang menurun, serta
buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua :
Gejala negative dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan
psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan
inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal
yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi
tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk;

25
Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofenia;
Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal)
dan telah timbul sindrom negative dari skizofrenia;
Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik lain, depresi kronis
atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negative tersebut.
Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang terus menerus adanya
gangguan skizofrenik, tanpa adanya kumpulan lengkap gejala aktif atau gejala yang cukup untuk
memenuhi tipe lain skizofrenia.Penumpulan emosional, penarikan social, perilaku eksentrik,
pikiran yang tidak logis, dan pengenduran asosiasi ringan adalah sering ditemukan pada tipe
residual.Jika waham atau halusinasi ditemukan maka hal tersebut tidak menonjol dan tidak
disertai afek yang kuat.

Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated).

Seringkali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan kedalam
salah satu tipe.PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci. Kriteria
diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia


Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau
katatonik.
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.

Depresi Pasca-Skizofrenia

Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :

Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis umum


skizzofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;
Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran
klinisnya); dan

26
Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk
episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu.
Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis menjadi episode
depresif. Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan menonjol, diagnosis harus
tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai.

Skizofrenia lainnya

Bouffe Delirante (acute delusional psychosis)


Konsep diagnosis skizofrenia dengan gejala akut yang kurang dari 3 bulan, kriteria
diagnosisnya sama dengan DSM-IV-TR. 40% dari pasien yang didiagnosa dengan bouffe
delirante akan progresif dan akhirnya diklasifikasikan sebagai pasien skizofren
Oneiroid
Pasien dengan keadaan terperangkap dalam dunia mimpi, biasanya mengalami
disorientasi waktu dan tempat.Istilah oneiroid digunakan pada pasien yang terperangkap
dalam pengalaman halusinasinya dan mengesampingkan keterlibatan dunia nyata.
Early onset schizophrenia
Skizofrenia yang gejalanya muncul pada usia anak-anak. Perlu dibedakan dengan
retardasi mental dan autisme
Late onset schizophrenia
Skizofrenia yang terjadi pada usia lanjut (>45 tahun). Lebih sering terjadi pada wanita
dan pasien-pasien dengan gejala paranoid.

BAB III
ANALISIS KASUS

ANALISA KASUS

27
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit
yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetic, fisik dan
social budaya.

Adapun pedoman diagnostik skizofrenia menurut PPDGJ III adalah sebagai berikut:
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda, atau
Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar
dirinya (Withdrawal) dan
Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umumnya mengetahuinya.
b. Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar atau
Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar atau
Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus).
Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna
sangat khas bagi dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
c. Halusional Auditorik ;
i. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku
pasien .
ii. Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara atau
iii. Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap
tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya
mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau
dunia lain)

28
Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan terus menerus.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation)
yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau
neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang
menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari
pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.
i. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat
sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan penarikan diri
secara sosial.

Adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau
lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal).

Berdasarkan hasil analisa kasus diatas dapat ditarik kesimpulan pada pasien ini didiagnosis
Skizofrenia.

Sedangkan sesuai pedoman diagnostik skizofrenia paranoid PPDGJ III yang mengatakan:
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofenia.
2. Sebagai tambahan:
Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien ataupun memberi perintah,
atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling)
mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing)

29
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual atau lain-lain
persaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi tidak menonjol
c) Waham dapat berupa hamper setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of controling), dipengaruhi (delusion of influence), atau passivity
(delusion of passivity), dan keyakinan dikejar kejar yang beraneka ragam
adalah yang paling khas
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik
secara relative todak nyata/tidak menonjol.

Pada pasien ini terdapat gejala yang khas yaitu adanya halusinasi baik auditorik maupun
visual, waham curiga (paranoid) yaitu menganggap sakitnya ini karena diguna guna oleh
tetangganya, merasa ide pikiran masuk dari luar (thought insertion) serta ide pikiran yang
berulang (thought echo) dan prilaku autistik. Terdapat gejala prodormal yang jelas yaitu gejala
negatif sedih(depresi), sering menyendiri(solitary) dan mudah tersinggung(irritable), marah-
marah(aggressive verbal) dikarenakan oleh stressor berupa peristiwa putus dari pacarnya.
Keluhan atau gejala mengenai katatonik disangkal. Riwayat adannya penggunaan obat-obatan
terlarang, minum-minuman beralkohol disangkal. Onset penyakit sudah terjadi selama 1 bulan.
Sehingga pada pasien ini dapat didiagnosis sebagai Skizofrenia Paranoid (F.20.0) hal tersebut
dikarenakan berdasarkan heteroanamnesis, autoanamnesis dan pemeriksaan pada pasien ini
sesuai dengan kriteria DSM - IV TR dan PPDGJ III mengenai diagnosis skizofrenia
hebefrenik.
Prognosis pada pasien skizofrenia dapat diprediksi melalui beberapa hal seperti pada tabel
dibawah:

30
Prognosis Baik Prognosis Buruk

Onset lambat Onset muda

Faktor pencetus yang jelas Tidak ada factor pencetus

Onset akut Onset tidak jelas

Riwayat sosial, seksual dan pekerjaan Riwayat social dan pekerjaan


premorbid yang baik premorbid yang buruk

Gejala gangguan mood (terutama Prilaku menarik diri atau autistic


gangguan depresif)
Tidak menikah, bercerai atau janda/
Menikah duda

Riwayat keluarga gangguan mood Sistem pendukung yang buruk

Sistem pendukung yang baik Gejala negatif

Gejala positif Tanda dan gejala neurologist

Riwayat trauma perinatal

Tidak ada remisi dalam 3


tahun/banyak relaps

31
Pada pasien ini prognosis baik ditunjukkan dengan adanya faktor pencetus yang jelas dan
gejala positif. Sedangkan prognosis buruk terlihat dengan adanya onset muda, adanya perilaku
menarik diri atau autistic, belum menikah, serta terdapat pennyakit lain sebagai penyerta.
Sehingga pada pasien ini prognosis baik Ad vitam dan Ad Functionam nya adalah Ad malam.

32
Daftar Pustaka

1. Muslim R: Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III,
Jakarta, 2001
2. Sadock BJ, Sadock VA. 2013. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
3. Nasrun, MW.2014. Skizofrenia. Buku Ajar Psikiatri, Edisi 2. Jakarta : Fakultas
kedokteran Universitas Indonesia

33