Anda di halaman 1dari 21

Makalah

Perkembangan Islam di Indonesia

KELOMPOK 1 :
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya kepada kita sehingga kita dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia dan Dunia ini.
Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih kepada :
orang tua kami,
kepala SMA N 1 Bantul, Dra. Titi Prawiti Sariningsih, M.Pd,
guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas XII IPA 3, Drs. Sartono, Msi,
teman-teman kelas XII IPA 3,
dan semua orang yang telah turut serta membantu dalam proses penyusunan makalah ini.
Makalah ini memuat materi mengenai masa kemunduran peradaban Islam, masa tiga kerajaan
besar, dan hikmah yang dapat kita ambil dari perkembangan Islam pada abad pertengahan.
Harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi setiap para pembaca.

Bantul, Oktober 201


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I, PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Manfaat 1
BAB II, PEMBAHASAN 2
A. Masa Kemunduran Peradaban Islam 2
B. Masa Tiga Kerajaan Besar 2
1.Kerajaan Usmani 2
2.Kerajaan Safawi di Persia 5
3.Kerajan Mughal di India 7
C. Hikmah Perkembangan Islam Pada Abad Pertengahan 9
BAB III, PENUTUP 11
DAFTAR PUSTAKA 12
BAB I, PENDAHULUAN

Latar Belakang
Agama Islam lahir dan berkembang di Jazirah Arab. Para mubaliggh Islam kemudian
menyebarkan agama Islam ke wilayah sekitar Arab. Dalam perkembanagannya, Islam tersebar ke
seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh ara pedagang
muslim dari Arab dan India sekitar abad ke-7M. Para pedagang muslim tersebut melakukan
kegiatan perdagangan sambil menyebarkan agama Islam. Agama Islam dapat diterima dengan
baik oleh masyarakat Indonesia, sehingga dapat dengna cepat tersebar ke pelosok nusantara.
Kehadiran agama islam pada abad ke-6 Masehi membawa kemajuan peradaban di Jazirah Arab
dan sekitarnya. Peradaban dunia Arab yang semula terbelakang, menjadi peradaban yang maju
dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Seiring dengan perkembangan Daulah Islamiah,
wilayah kekuasaan Islam semakin luas, hingga mencapai daratan Eropa. Para mubalig kemudian
mengajarkan agama islam kepada penduduk di seluruh wilayah kekuasaan islam tersebut.
Sehingga islam dapat tersebar sampai jauh di luar Arab. Dalam perkembangan selanjutnya, islam
tersebar sampai keseluruh benua di dunia.

Rumusan Masalah
Bagaimana perkembangan Islam pada periode pertengahan?

Manfaat
Mengetahui sejarah perkembangan Islam pada periode pertengahan.
Dapat mengambil hikmah dari sejarah perkembangan Islam pada periode pertengahan.

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA


A. Masuknya Islam Ke Indonesia

Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke delapan masehi. Ini
mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah
binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau 1082 M. Sedangkan menurut
laporan seorang musafir Maroko Ibnu Batutah yang mengunjungi Samudra Pasai dalam
perjalanannya ke Negeri Cina pada 1345M, Agama islam yang bermadzhab SyafiI telah mantap
disana selama seabad. Oleh karena itu, abad XIII biasanya dianggap sebagai masa awal
masuknya agama Islam ke Indonesia.

Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme,
dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa
wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha.
Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan
Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya.
Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam
datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada
kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam Islam
sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan.

Agama Islam berasal dari tanah Arab dan dari tanah Arab berkembanglah agama Islam kemana-
mana, diantaranya ke Gujarat (India) dan Persia. Demikian pula berangsur-angsur meluas kearah
timur hingga Semenanjung Malaka.

Menurut kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia di Medan tahun 1963, Islam
masuk ke Indonesia sudah semenjak abad pertama Hijriyah (abad ke-7 M).

Seminar Masuknya Islam di Indonesia tersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut:


1) Menurut sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya telah masuk ke
Indonesia pada abad pertama hijrah (abad ke 7/8 M) dan langsung dari Arab.
2) Daerah yang pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera dan bahwa setelah
terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam yang pertama berada di Aceh.
3) Mubaliq-mubaliq Islam pertama yang datang ke Indonesia merangkap sebagai saudagar.
4) Penyiaran itu di Indonesia dilakukan secara damai.
5) Kedatangan Islam membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk
kepribadian bangsa Indonesia dalam menahan penderitaan dan perjuangan melawan penjajahan
bangsa asing.

a. Cara masuknya Islam di Indonesia


Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 atau ke-8 M yang bertepatan dengan abad ke-1 atau
ke-2 H. Rute yang dilewati adalah jalur Utara dan Selatan.
Jalur Utara, dengan rute :
Arab (Mekah dan Madinah) meliputi ; Damaskus Bagdad Gujarat Srilangka Indonesia
Jalur Selatan, dengan rute :
Arab (Mekah dan Madinah) meliputi ; Yaman Gujarat Srilangka Indonesia

Daerah yang mula-mula menerima Agama Islam adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari
tempat itu, Islam kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Beberapa tempat penyebarannya
adalah :
a. Pesisir Sumatera bagian Utara di Aceh
b. Pariaman di Sumatera Barat
c. Gresik dan Tuban di Jawa Timur
d. Demak di Jawa Tengah
e. Banten di Jawa Barat
f. Palembang di Sumatera Selatan
g. Banjar di Kalimantan Selatan
h. Makassar di Sulawesi Selatan
i. Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo di Maluku
j. Sorong di Irian Jaya
b. Jalur-jalur yang Penyebaran Agama Islam di Indonesia:

1. Melalui jalur perdagangan


Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan
orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan
kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke
Nusantara (Indonesia). Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari
keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil
menyiarkan agama Islam.

2. Melalui jalur perkawinan


Para pedagang muslim itu ada yang menetap di Indonesia dan menikah dengan penduduk
setempat. Sudah barang tentu mereka menjadi keluarga muslim dan penyebar agama Islam yang
gigih.

3. Melalui jalur tasawuf


Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai
persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehinnga
agama baru itu mudah dimengerti dan mudah diterima. Kehidupan mistik bagi masyarakat
Indonesia sudah menjadi bagian dari kepercayaan mereka. Oleh karena itu, penyebaran Islam
melalui jalur tasauf atau mistik ini mudah diterima karena sesuai dengan alam pikiran
masyarakat Indonesia. Misalnya, menggunakan ilmu-ilmu riyadhat dan kesaktian dalam proses
penyebaran Islam kepada penduduk setempat.

4. Melalui jalur pendidikan


Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan
Islam di Indonesia. Para dai dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara
adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo
dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar
ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara.
Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran
Islam di seluruh Indonesia.

5. Melalui jalur kesenian


Penyebaran Islam melalui kesenian berupa wayang, satra, dan berbagai kesenian lainnya.
Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti Walisongo untuk menarik
perhatian di kalangan mereka, sehingga dengan tanpa terasa mereka telah tertarik kepada ajaran-
ajaran Islam sekalipun pada awalnya mereka tertarik karena media kesenian itu. Misalnya, Sunan
Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Ia tidak pernah meminta bayaran pertunjukkan seni,
tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian
cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabrata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu
disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan media
islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni arsitektur, dan seni ukir.

6. Melalui jalur Politik


Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan.
Di pulau Jawa, misalnya kesultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung
perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di
Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa.
Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong
menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini menjadi cikal bakal
tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.

B. Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah di Indonesia

a) Perkembangan Islam di Sumatera


Daerah Pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatera bagian Utara,
seperti Pasai dan Perlak. Karena wilayah Pasai dan Perlak letaknya di tepi selat Malaka, tempat
lalu lintas kapal-kapal dari India.
Pada abad XIII-XV M berdiri kerajaan Samudra Pasai dan merupakan kerajaan Islam pertama
di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai terletak di kampung Samudra di tepi sungai Pasai dan
berdiri sejak tahun 1261 M. Raja-raja yang memerintah Samudra Pasai berturut-turut sebagai
berikut :
Sultan Al Malikus Shaleh
Sultan Al Malikuz Zahir I
Sultan Al Malikuz Zahir II
Sultan Zainal Abidin
Sultan Iskandar

Persia dan Gujarat yang juga para mubalig Islam banyak yang menetap di bandar-bandar
sepanjang Sumatera Utara. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya
telah diislamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim. Para mubalig pada waktu itu
juga ke Cina.
Para pedagang dari India, yakni bangsa Arab berdakwa kepada para Raja-raja kecil, ketika raja
tersebut masuk Islam, rakyatnya pun banyak yang ikut masuk Islam sehingga berdirilah kerajaan
Islam pertama, yaitu Kerajaan Samudera Pasai. Seiring dengan kemajuan Samudera Pasai yang
sangat pesat, perkembangan agama Islam pun mendapat perhatian dan dukungan penuh dan para
ulama serta mubalignya menyebar ke seluruh nusantara.

b) Perkembangan Islam di Jawa


Masuknya Islam di Pulau Jawa pada awalnya dibawa oleh pedagang muslim setelah berdirinya
kerajaan Malaka yang mencapai punjak kejayaannya pada asa Sultan Mansursah. Wilayah
perdagangannya sangat luas sampai ke Demak, Jepara, Tuban dan Giri. Melalui hubungan
perdagangan tersebut, akhirnya masyarakat Jawa mengenal Islam.

Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Sanga, yaitu:

a. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik


Beliau dikenal juga dengan sebutan Syeikh Magribi. Ia dianggap pelopor penyebaran Islam di
Jawa. Beliau juga ahli pertanian, ahli tata negara dan sebagai perintis lembaga pendidikan
pesantren. Wafat tahun 1419 M.(882 H) dimakamkan di Gapura Wetan Gresik .

b. Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)


Dilahirkan di Aceh tahun 1401 M. Ayahnya orang Arab dan ibunya orang Cempa, ia sebagai
mufti dalam mengajarkan Islam tak kenal kompromi dengan budaya lokal. Wejangan terkenalnya
Mo Limo yang artinya menolak mencuri, mabuk, main wanita, judi dan madat, yang marak
dimasa Majapahit. Beliau wafat di desa Ampel tahun 1481 M.
Jasa-jasa Sunan Ampel :
Mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya. Dari pesantren ini lahir para mubalig
kenamaan seperti :
*Raden Paku (Sunan Giri)
* Raden Fatah (Sultan Demak pertama)
*Raden Makhdum (Sunan Bonang)
* Syarifuddin (Sunan Drajat)
* Maulana Ishak yang pernah diutus untuk menyiarkan Islam ke daerah Blambangan.
Berperan aktif dalam membangun Masjid Agung Demak yang dibangun pada tahun 1479 M.
Mempelopori berdirinya kerajaan Islam Demak dan ikut menobatkan Raden Patah sebagai
Sultan pertama.

c. Sunan Giri (Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku)


Ia putra Syeikh Yakub bin Maulana Ishak. Ia sebagai ahli fiqih dan menguasai ilmu Falak.
Dimasa menjelang keruntuhan Majapahit, ia dipercaya sebagai raja peralihan sebelum Raden
Patah naik menjadi Sultan Demak. Ketika Sunan Ampel wafat, ia menggantikannya sebagai
mufti tanah Jawa.

d. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)


Putra Sunan Ampel lahir tahun 1465. Sempat menimba ilmu ke Pasai bersama-sama Raden
Paku. Beliaulah yang mendidik Raden Patah. Beliau wafat tahun 1515 M.

e. Sunan Kalijaga (Raden Syahid)


Ia tercatat paling banyak menghasilkan karya seni berfalsafah Islam. Ia membuat wayang kulit
dan cerita wayang Hindu yang diislamkan. Sunan Giri sempat menentangnya, karena wayang
Beber kala itu menggambarkan gambar manusia utuh yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Kalijaga mengkreasi wayang kulit yang bentuknya jauh dari manusia utuh. Ini adalah sebuah
usaha ijtihad di bidang fiqih yang dilakukannya dalam rangka dakwah Islam.

f. Sunan Drajat
Nama aslinya adalah Syarifudin (putra Sunan Ampel, adik Sunan Bonang). Dakwah beliau
terutama dalam bidang sosial. Beliau juga mengkader para dai yang berdatangan dari berbagai
daerah, antara lain dari Ternate dan Hitu Ambon.

g. Syarif Hidayatullah
Nama lainnya adalah Sunan Gunung Jati yang kerap kali dirancukan dengan Fatahillah, yang
menantunya sendiri. Ia memiliki keSultanan sendiri di Cirebon yang wilayahnya sampai ke
Banten. Ia juga salah satu pembuat sokoguru masjid Demak selain Sunan Ampel, Sunan Kalijaga
dan Sunan Bonang. Keberadaan Syarif Hidayatullah dengan kesultanannya membuktikan ada
tiga kekuasaan Islam yang hidup bersamaan kala itu, yaitu Demak, Giri dan Cirebon. Hanya saja
Demak dijadikan pusat dakwah, pusat studi Islam sekaligus kontrol politik para wali.
h. Sunan Kudus
Nama aslinya adalah Jafar Sadiq. Lahir pada pertengahan abad ke 15 dan wafat tahun 1550
M. (960 H). Beliau berjasa menyebarkan Islam di daerah kudus dan sekitarnya. Ia membangun
masjid menara Kudus yang sangat terkenal dan merupakan salah satu warisan budaya Nusantara.

i. Sunan Muria
Nama aslinya Raden Prawoto atau Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga. Beliau
menyebarkan Islam dengan menggunakan sarana gamelan, wayang serta kesenian daerah
lainnya. Beliau dimakamkan di Gunung Muria, disebelah utara kota Kudus.
a) Perkembangan Islam di Sulawesi
Masuknya Islam di Sulawesi, tidak terlepas dari peranan Sunan Giri di Gresik. Hal itu karena
sunan Giri melaksanakan pesantren yang banyak didatangi oleh santri dari luar pulau Jawa,
seperti Ternate, dan Situ. Di samping itu, beliau mengirimkan murid-muridnya ke Madura,
Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara.
Pada abad ke-16, di Sulawesi Selatan telah berdiri kerajaan Hindu Gowa dan Tallo. Penduduknya
banyak yang memeluk agama Islam karena hubungannya dengan kesultanan Ternate. Pada tahun
1538, Pada masa Pemerintahan Somba Opu, kerajaan Gowa dan Tallo banyak dikunjungi oleh
pedagang Portugis. Selain untuk berdagang, mereka juga bermaksud untuk mengembangkan
agama katolik. Akan tetapi, Islam telah lebih dahulu berkembang di daerah itu.

b) Perkembangan Islam di Kalimantan


Berdasarkan prasasti-prasasti yang ada disekitar abad V M di Kalimantan Timur telah ada
kerajaan hindu yakni kerajaan Kutai. Sedangkan kerajaan-kerajaan Hindu yang lain adalah
kerajaan Sukadana di Kalimantan Barat, kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan.
Pada abad XVI Islam memasuki daerah kerajaan Sukadana. Bahkan pada tahun 1590 kerajaan
Sukadana resmi menjadi kerajaan Islam, yang menjadi sultan pertamanya adalah sultan Giri
Kusuma. Setelah itu digantikan oleh putranya Sultan Muhammad Syafiuddin. Beliau banyak
berjasa dalam pengembangan agama Islam karena bantuan seorang muballigh bernama Syekh
Syamsudin.
Di kalimantan Selatan pada abad XVI M masih ada beberapa kerajaan Hindu antara lain
Kerajaan Banjar, Kerajaan Negaradipa, Kerajaan Kahuripan dan Kerajaan Daha. Kerajaan-
kerajaan ini berhubungan erat dengan Majapahit.
Ketika Kerajaan demak berdiri, para pemuka agama di Demak segera mnyebarkan agama
Islam ke Kalimantan Selatan. Raja Banjar Raden Samudra masuk Islam dan ganti nama dengan
Suryanullah. Sultan Suryanullah dengan bantuan Demak dapat mengalahkan Kerajaan
Negaradipa. Setelah itu agama Islam semakin berkembang di Kalimantan.
Diatas telah diutarakan, bahwa Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia dan sebagai kerajaan
Hindu. Dengan pesatnya perkembangan Islam di Gowa, Tallo dan terutama Sombaopu, maka
Islam mulai merembas ke daerah Kutai. Mengingat Kutai terletak di tepi Sungai Mahakam maka
para pedagang yang lalu lalang lewat selat Makasar juga singgah di Kutai. Sebagai muballigh
mereka tidak menyianyiakan waktu untuk berdakwah. Islam akhirnya dapat memasuki Kutai dan
tersebar di Kalimantan Timur mulai abad XVI.

c) Perkembangan Islam di Maluku dan sekitarnya


Penyebaran Islam di Maluku tidak terlepas dari jasa para santri Sunan Drajat yang berasal dari
Ternate dan Hitu. Islam sudah dikenal di Ternate sejak abad ke-15. Pada saat itu, hubungan
dagang dengan Indonesia barat, khususnya dengan Jawa berjalan dengan lancar. Selain
berdagang, para pedagang juga melakukan dakwah.
Pada abad XVI perkembangan Islam di Indonesia agak terhambat dan menghadapi tantangan
berat karena kedatangan Portugis pada tahun 1512 dan Spanyol pada tahun 1521 dengan
membawa penyiaran agama Nasrani. Pada permulaan abad XVII Belanda dapat mengalahkan
Portugis, setelah berperang bertahun-tahun di Ambon. Sementara itu kerajaan Ternate dan Tidore
selalu bertentangan sehingga menjadi makin lemah dan tidak mampu membendung meluasnya
VOC ke Maluku Utara. Belanda mulai menjajah Indonesia dimulai dari Maluku sejak menguasai
Ambon pada tahun 1605.
Berangsur-angsur Belanda memperluas wilayahnya ke Barat, dan Makasar pada tahun 1669
dapat ditundukkan. Selanjutnya seluruh Indonesia, kecuali Aceh yang mampu bertahan sampai
akhir abad XIX.
Dalam rangka mempertahankan wilayah dan kelangsungan pengembangan Islam, maka
kerajaan-kerajaan Islam tidak dengan mudah menyerah, bahkan mengadakan perlawanan
terhadap penjajah. Sehingga banyak berjatuhan pahlawan-pahlawan muslim, antara lain :
a. Sultan Iskandar Mahkota Alam dari Aceh
b. Sultan Agung dari Mataram
c. Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten
d. Sultan Hasanudin dari Makasar
e. Sultan Babullah dari Ternate
f. Imam Bonjol dari Sumatra Barat
g. Teuku Umar dari Aceh
h. Pangeran Diponegoro
Perkembangan Islam tidak hanya tergantung pada raja-raja, tetapi perang para muballigh juga
menetukan. Pada abad XVI muncul ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf
Singkil, Syekh Nuruddin Ar Raniri yang ketiganya dari Aceh dan Syekh Yusuf Tajul Khalwari
dari Makasar.
Pada abad itu umat Islam menghadapi penjajah terutama dari Eropa dengan membawa agama
Nasrani yang telah berpengalamn dalam Perang salib.
Selain Islam masuk dan berkembang di Maluku, Islam juga masuk ke Irian yang disiarkan oleh
raja-raja Islam Maluku, para pedagang, dan para mubalignya.

C. Peranan Perkembangan Islam di Indonesia

1. Masa penjajahan
a. Peranan Umat Islam pada masa Penjajahan
Sebelum bangsa Belanda masuk ke Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia telah
memeluk agama Islam. Ajaran Islam telah diamalkan dengan baik oleh sebagian besar kaum
muslimin. Keyakinan bahwa manusia disisi Allah SWT adalah sama, tidak ada perbedaan drajat
kecuali dalam hal iman dan taqwanya kepada Allah SWT, menumbuhkan kesadaran terhadap
kemandirian dan kebebasan untuk menentukan arah dan tujuan kehidupannya, baik kehidupan
pribadi, bermasyarakat maupun berbangsa dan bernegara.

Perubahan yang terjadi pada mayoritas masyarakat Indonesia setelah dianutnya agama Islam:
Masyarakat Indonesia dibebaskan dari pemujaan berhala dan pendewaan raja-raja serta
dibimbing agar menghambakan diri hanya kepada Allah, Tuhan yang maha Esa.
Rasa persamaan dan rasa keadilan yang diajarkan islam mampu mengubah masyarakat
Indonesia yang dulunya menganut sistem kasta dan diskriminasi menjadi masyarakat yang setiap
anggotanya mempunyai kedudukan, harkat, martabat dan hak-hak yang sama.
Semangat cinta tanah air dan rasa kebangsaan yang didengungkan Islam dengan
semboyanHubbul-watan minaliiman (cinta tanah air sebagian dari iman) mamou mengubah
cara berpikir masyarakatIndonesia, khususnya para pemudanya, yang dulunya bersifat sectarian
(lebih mementingkan sukunya dan daerahnya) menjadi bersifat nasionalis. Hal ini ditandai
dengan lahirnya organisasi pemuda yang bernama Jong Indonesia pada bulan februari 1927 dan
dikumandangkannya sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928.
Semboyan yang diajarkan Islam yang berbunyi Islam adalah agama yang cinta damai,
tetapi lebih cinta kemerdekaan telah mampu mendorong masyarakat Indonesia untuk
melakukan usaha-usaha mewujudkan kemerdekaan bangsanya dengan berbagai cara.

b. Perlawanan Kerajaan Islam dalam Menentang Penjajahan


Perlawanan terhadap Penjajah Portugis
Pada tahun 1522 Portugis telah menetap dan mendirikan benteng pertahanan di wilayah Sunda
Kelapa (Jakarta). Portugis disamping berdagang juga membawa ajaran agama Khatolik.
Melihat keadaan seperti itu kerajaan Islam Demak sangat khawatir. Maka pada tahun 1526
tentara Demak dibawah pimpinan Fatahillah berangkat menuju Sunda Kelapa melalui jalan laut.
Selanjutnya Fatahillah berhasil berusaha mengusir tentara Portugis dalam peperangan yang
sengit terjadi dan akhirnya Portugis kalah. Sunda Kelapa dapat direbut Fatahillah pada 22 Juni
1527 M kemudian Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta, kemudian sekarang
menjadi Jakarta (Ibukota Negara).
Pada masa Sultan Agung sebagai Raja Islam Mataram di Jawa Tengah, penjajah Belanda sudah
menguasai Batavia (Jakarta), pada tahun 1628 Sultan Agung berusaha mengusir penjajah
Belanda dari tanah Jawa, tetapi usahanya tidak berhasil. Dan pada tahun 1629 beliau melakukan
penyerangan lagi ke Batavia dengan kekuatan yang lebih besar. Namun karena persenjataan
Belanda lebih modern, akhirnya perlawanan itu dapat dipatahkan.
Demikian pula Tueku Umar di Aceh, Imam Bonjol di Sumatra Barat, Sultan Hasanuddin di
Sulawei Selatan, Sultan Babullah di Ternate, Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah, dan daerah-
daerah lainnya mereka dengan dukungan masyarakatnya berjuang dan berperang mengusir
penjajah Belanda.

Perlawanan terhadap Penjajah Belanda


Belanda telah melakukan penindasan dan penjajahan terhadap bangsa Indonesia yang semakin
lama semakin kuat kekuasaannya, di seluruh Nusantara. Perbuatan Belanda yang demikian
sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam yang dianut oleh sebagian besar bangsa
Indonesia, dan nilai-nilai peri kemanusian dan keadilan.
Melihat keadaan seperti ini kaum muslimin yang terhimpun pada kerajaan Islam pada waktu
itu di seluruh Nusantara mengadakan perlawanan secara terpisah, masing-masing menentang
penjajahan Belanda. Kesultanan Banten di pulau Jawa yang berulang kali mengadakan
perlawanan terhadap penjajah Belanda. Terutama pada masa Sultan Ageng Tirtayasa yang
memerintah Banten dari tahun 1651-1682 M, sangat anti terhadap penjajahan Belanda.
Perjuangan mengusir penjajah itu terus menerus dilancarkan sampai akhir pemerintahan Beliau
di Kesultanan Banten.

2. Masa Perang Kemerdekaan


a. Peranan Umat Islam pada Masa Kemerdekaan
Perilaku kaum penjajah makin lama makin kejam terhadap bangsa Indonesia. Penindasan,
kesewenang-wenangan dan ketidak adilan penjajah merajalela. Bangsa Indonesia tertindas,
miskin, terbelenggu oleh kaum penjajah.
Kaum muslimin yang merupakan penduduk terbesar bangsa Indonesia sangat merasakan
perilaku kaum penjajah itu. Para ulama bersama kaum muslimin bangkit, berusaha
membebaskan bangsa Indonesia dari tangan penjajah itu. Di seluuh pelosok Nusantara kaum
muslimin bangkit untuk merebut kembali kemerdekaannya yang telah dirampas oleh penjajah.
Pahlawan-pahlawan pejuang kemerdekaan berjuang terus tiada henti-hentinya dengan segala
pengorbanan, baik berupa harta maupun jiwa.

Pejuang muslim dan pahlawan kemerdekaan itu antara lain:


v K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasym Ashari, HOS Cokroaminoto di Pulau Jawa,
v Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, Cut Mutiah, Panglima Polim (Aceh)
v Imam Bonjol (Sum-Bar), Sultan Mahmud Badruddin (Palembang)
v Raden Intan (Lampung) di Sumatra
v Pangeran Antasari di Kalimantan
v Sultan Hasanuddin di Sulawesi dan lain-lain yang tersebar diseluruh Nusantara.
Para pejuang muslim itu dengan ikhlas dan semangat jihad berjuang di jalan Allah SWT
menentang dan mengusir penjajah Belanda maupun Jepang dengan pengorbanan harta benda,
jiwa dan raganya.
i. Peranan Organisasi Islam dan Pondok Pesantren pada masa Perang Kemerdekaan
Sejak awal Islam masuk ke Indonesia dan pada masa perkembangan selanjutnya, ulama Islam
menempatkan pendidikan sebagai tugas utama. Wujud kongkrit pendidikan adalah pesantren dan
muridnya disebut santri. Tempat pendidikannya ada yang menyatu dengan masjid dan ada juga
yang secara khusus dibangun biasanya dekat masjid.
Melalui pesantren ulama mendidik santri mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan terutama
mengenai ilmu agama. Disini diajarkan tentang keimanan, ibadah, Al Quran, akhlak, Syariah,
muamalah dan tarikh. Selain itu ditanamkan pengertian hak dan kewajiban kaum muslimin
sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial serta perjuangan untuk memperoleh hak
kemerdekaan yang telah dirampas oleh kaum penjajah.
Santri yang belajar di pesantren datang dari berbagai suku dab daerah. Setelah mereka selesai
belajar, umumnya mereka kembali ke daerah asalnya kemudian mereka mendirikan lagi
pesantren dan mengajarkan agama di daerahnya masing-masing, sehingga tersebarlah pesantren
dan pendidikan agama ke seluruh pelosok tanah air. Pesantren sebagai tempat mendidik generasi
muda muslim, para santri dididik dan dipersiapkan untuk menjadi kader umat dan pemimpin
masyarakat.
Belanda mengetahui keadaan dan perkembangan pesantren, kemudian mengawasi kegiatan
pondok pesantren, karena tempat itu dianggap sebagai tempat pembinaan kader umat yang akan
menentang kekuasaannya.
Hubungan dan jalinan santri, ulama/Kyai dan masyarakat kaum muslimin sangat kuat, mereka
bersama-sama menghadapi penjajah, namun usaha itu banyak mengalami kegagalan karena
belum tertibnya organisasi dan masih lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa.
Kaum muslimin menyadari bahwa perjuangan tnpa dihimpun dalam suatu organisasi yang
baik akan mengalami kesulitan dan kegagalan. Setelah putra-putri kaum muslimin banyak
memperoleh pendidikan di luar negri, di Eropa dan Timur Tengah serta meningkatkan peranan
pendidikan di pondok pesantren, timbullah kesadaran mereka untuk membuat perkumpulan
organisasi yang modern yang berciri khas keagamaan.

Organisasi Keagamaan tersebut, yaitu:

1. Syarikat Dagang Islam


Syarikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam berdiri pada tahun 1905
dipimpin oleh H. samanhudi, A.M. Sangaji, H.O.S. Cokroaminoto dan H. Agus Salim.
perkumpulan ini berdiri dengan maksud untuk meningkatkan taraf hidup bangsa ndonesia,
terutama dalam dunia perniagaan.

2. Jamiatul Khair
Berdiri pada tahun 1905 M di Jakarta adalah pergerakan Islam yang pertama di pulau Jawa.
Anggotanya kebanyakan keturunan (peranakan) Arab.

3. Al- Irsyad
Al Irsyad adalah organisasi Islam yang didirikan tahun 1914 M oleh para pedagang dan ulama
keturunan Arab, seperti Syekh Ahmad Sorkali.

4. Perserikatan Ulama
Gerakan modernis Islam yang berdiri pada tahun 1911 M oleh Abdul Halim dan berpusat di
Majalengka Jawa Barat. Organisasi ini diakui keberadaannya oleh Belanda tahun 1917 dan
bergerak dibidang ekonomi dan sosial, seperti mendirikan panti asuhan yatim piatu pada tahun
1930 M.

5. Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan bertepatan
tanggal 8 Zulhijah 1330. Muhammadiyah bukan merupakan partai politik, tetapi gerakan Islam
yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan.

6. Nahdatul Ulama
Didirikan pada bulan Januari 1926 oleh KH. Hasyim Asyari yang bertujuan membangkitkan
semangat para ulama Indonesia dengan cara meningkatkan dakwah dan pendidikan karena saat
itu Belanda melarang umat Islam mendirikan sekolah-sekolah yang bernafaskan Islam seperti
Pesantren.

Para Kyai dan santri juga mendirikan organisasi bersenjata untuk melawan penjajahan Belanda
yaitu Hizbullah dan gerakan-gerakan kepanduan Islam.
Organisasi tersebut mendidik, membina dan melatih generasi muda muslim mengenal berbagai
pengetahuan dan semangat perjuangan, dalam menentang penjajahan.
Hasil tempaan dan pendidikan disini menumbuhkan semangat juang sehingga lahirlah tokoh-
tokoh perjuangan kemerdekaan
HOS Cokroaminoto
K.H. Ahmad Dahlan
K.H Hasyim Asyari dan lain-lain.

3. Masa Pembangunan

a. Peranan Umat Islam pada Masa Pembangunan


Setelah merdeka, bebas dari kungkungan kaum penjajah, kaum muslimin secara bertahap
mengisi kemerdekaan itu dengan pembangunan disegala bidang, pembangunan fisik material
berupa perbaikan sarana transportasi, pertanian, perumahan dan perekonomian, sehingga
pembangunan fisik material secara bertahap makin lama makin meningkat. Pembangunan bidang
mental seperti meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama,
meningkatkan pendidikan, mengembangkan kehidupan dan sosial kemasyarakatan yang aman
tertib dan rukun juga dilaksanakan.
Kaum muslimin selalu membangun dan mengisi kemerdekaan itu dengan menselaraskan
pembangunan materiil dan spirituil dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat,
adil dan makmur. Kaum muslimin bersama segenap anggota bangsa Indonesia lainnya kini
mengatur dan memerintah bangsanya sendiri. Pemerintahan dilaksanakan dengan cara yang
demokratis. Keamanan, ketertiban dan kesejahteraan sosial terus diupayakan dan ditegakkan.
Demikian juga persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga terwujudlah negara yang aman, adil dan
makmur dengan penuh limpahan rahmat dan ridha Allah SWT, sesuai dengan cita-cita
kemerdekaan yang dituangkan dalam UUD 1945.

b. Peranan Organisasi Islam dalam Masa Pembangunan


Organisasi Islam yang sejak zaman penjajah selalu membina dan mendidik umat dengan
berbagai ilmu pengetahuan dan mengembangkan semangat perjuangan menentang penjajah,
maka setelah merdeka usaha itu pada dasarnya tetap terus dikembangkan dan ditingkatkan lebih
baik. Sikap menentang penjajahan dialihkan dan diganti dengan sikap giat, semangat dan etos
kerja untuk mencapai ketinggian ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam rangka memenuhi
kebutuhan hidup dan mengisi pembangunan bangsa.
Dalam rangka ikut serta meningkatkan pengetahuan, kecerdasan dan kualitas masyarakat
telah diupayakan melalui pendidikan pada jalur sekolah. Didirikanlah oleh organisasi-organisasi
Islam berbagai lembaga pendidikan dari jenjang pendidikan dasar seperti SD, SMP, pendidikan
menengah seperti SMA dan pendidikan tinggi seperti Universitas dan Institut yang tersebar
diseluruh daerah. Diantara oragnisasi Islam yang giat dalam bidang pendidikan dan
kemasyarakatan ialah Majelis Ulama Indonesia, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Al-
Washliyah, Al-Irsyad, Djamiat Khair, GUPPI, PUI, Al-Khairat, ICMI dan lain-lain.

c. Peranan Para Individu Muslim dalam Pembangunan


Organisasi Islam yang berperan dalam pembangunan Nasional bukan hanya mereka yang
tergabung dalam organisasi. Banyak orang Islam secara pribadi baik sebagai dokter, dosen,
pejabat negara, wakil rakyat di DPR, pengusaha, Cendikiawan, petani, guru, pengrajin, dan lain-
lain mereka semuanya melakukan kegiatan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan profesi dan
keahliannya masing-masing. Tanpa terikat dengan organisasi keagamaan, mereka
menyumbangkan dharma baktinya kepada nusa dan bangsa. Memang menjadi umat Islam tidak
harus menjadi anggota organisasi atau partai Islam. Menurut Al Quran orang Islam yang baik
adalah yang paling bertakwa, yang beriman kepada Allah dan beramal shaleh, dimanapun
mereka berada.
d. Peranan Lembaga Pendidikan dalam Masa Pembangunan
Lembaga pendidikan Islam dalam kegiatannya lebih menekankan pembinaan, peningkatan
ilmu pengetahuan dan kecerdasan masyarakat melalui pendidikan pada jalur sekolah dan luar
sekolah.
Peningkatan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas yang melalui jalur pendidikan
sekolah biasanya terdiri dari pendidikan sekolah umum, seperti SD, SMP, SMA dan Perguruan
Tinggi dan Madrasah seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan
perguruan tinggi agama seperti IAIN
Melalui pendidikan ini secara bertahap ilmu pengetahuan bertambah meningkat dan Sumber
Daya Manusia lebih berkualitas. Dengan meningkatnya kualitas masyarakat maka hasil kerja
masyarakatpun semakin meningkat. Dengan demikian meningkatnya hasil umat melalui jalur
luar sekolah, antara lain dilaksanakan melalui pengajian, Taman Bacaan Al Quran, kursus-
kursus ilmu keagamaan dan pembinaan di Masjid-Masjid.
Demikanlah betapa besar peranan kelembagaan pendidikan Islam dalam pembangunan
pembangunan bangsa erat kaitannya dengan sumber daya manusianya sebagai pelaksana
pembangunan itu sendiri.

D. Manfaat yang dapat diambil dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia

a. Mengetahui dan memahami sejarah perkembangan Islam di Indonesia


b. Mengetahui dan memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
c. Menjadi cermin untuk memacu kehidupan yang lebih baik
d. Mempelajari sejarah agar dapat melakukan perubahan yang lebih baik
e. Menghargai kerja keras para pahlawan bangsa
f. Kehadiran para pedagang Islam yang telah berdakwah dan memberikan pengajaran Islam di
bumi Nusantara turut memberikan nuansa baru bagi perkembangan pemahaman atas suatu
kepercayaan yang sudah ada di nusantara ini.
g. Hasil karya para ulama yang berupa buku sangat berharga untuk dijadikan sumber
pengetahuan.
h. Kita dapat meneladani Wali Songo telah berhasil dalam hal-hal seperti berikut :
1. Menjadikan masyarakat gemar membaca dan mempelajari Al Quran.
2. Mampu membangun masjid sebagai tempat ibadah dalam berbagai bentuk atau arsitektur
hingga ke seluruh pelosok Nusantara.
3. Mampu memanfaatkan peninggalan sejarah, termasuk situs-situs peninggalan para ulama,
baik berupa makam, masjid, maupun peninggalan sejarah lainnya.
4. Seorang ulama atau ilmuwan dituntut oleh Islam untuk mempraktikkan tingkah laku yang
penuh keteladanan agar terus dilestarikan dan dijadikan panutan oleh generasi berikutnya.
5. Para ulama dan umara bersatu padu mengusir penjajah meskipun dengan persenjataan
yang tidak sebanding.
E. Hikmah perkembangan Islam di Indonesia

Setelah memahami bahwa perkembangan Islam di Indonesia memiliki warna atau ciri yang khas
dan memiliki karakter tersendiri dalam penyebarannya, kita dapat mengambil hikmah,
diantaranya sebagai berikut:
Islam membawa ajaran yang berisi kedamaian.
Penyebar ajaran Islam di Indonesia adalah pribadi yang memiliki ketangguhan dan pekerja
keras.
Terjadi akulturasi budaya antara Islam dan kebudayaan lokal meskupin Islam tetap memiliki
batasan dan secara tegas tidak boleh bertentangan dengan ajaran dasar dalam Islam.

PENUTUP

Kesimpulan:

Masuknya Islam di Indonesia agak unik bila dibandingkan dengan masuknya Islam ke daerah-
daerah lain. Keunikannya terlihat kepada proses masuknya Islam ke Indonesia yang relatif
berbeda dengan daerah lain. Islam masuk ke Indonesia secara damai dibawa oleh para pedagang
dan mubaligh. Sedangkan Islam masuk di daerah lain pada umumnya lewat penaklukan, seperti
masuknya Islam ke Irak, Iran, Mesir, Afrika Utara sampai Andalusia.
Perbedaan pendapat tentang kapan, darimana, dan dimana pertama kali Islam datang ke
Indonesia. Namun secara garis besar, perbedaan pendapat itu dapat dibagi menjadi sebagai
berikut:
a. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah,
terdapat 3 teori dalam buku tersebut, yaitu: Teori Gujarat, Teori Makkah dan Teori Persia
b. Berita Jepang
c. Berita Ibnu Battutah
d. Menurut Taufik Abdullah
e. Seminar tentang masuknya Islam di Indonesia pada tahun 1963 di Medan dan di Kuala
Simpang Aceh tahun
Masuknya Islam di Indonesia pada umumnya berjalan secara damai. Akan tetapi, adakalanya
penyebaran harus diwarnai dengan cara-cara penaklukan. Hal itu terjadi jika situasi politik di
kerajaan-karajaan itu mengalami kekacauan akibat perebutan kekuasaan. Secara umum Islam
masuk di Indonesia dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Perdagangan
b. Perkawinan
c. Gerakan Dakwah
d. Pendidikan
e. Tasawuf
f. Akulturasi Budaya dan Kesenian

Kerajaan Islam di Indonesia, antara lain:


a. Kerajaan Samudera Pasai
b. Kerajaan Perlak
c. Kerajaan Malaka
d. Kerajaan Aceh
e. Kerajaan Demak
f. Kerajaan Mataram
g. Kerajaan Cirebon
h. Kerajaan Banten
i. Kerajaan Gowa-Tallo
j. Kerajaan Ternate dan Tidore

Proses penyebaran Islam di wilayah Nusantara tidak dapat dilepaskan dari peran aktif yang
dilakukan oleh para ulama. Melalui merekalah Islam dapat diterima dengan baik dikalangan
masyarakat Nusantara. Para ulama yang pertama kali menyebarkan Islam di Nusantara antara
lain sebagai berikut:
a. Hamzah Fansuri
b. Syamsudin Al-Sumatrani
c. Nuruddin Ar-Raniri
d. Syeikh Muhammad Yusuf Al-Makassari
e. Syeikh Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani
f. Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau
g. Wali Songo

DAFTAR PUSTAKA
Darsono, dkk. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 3 kelas IX Mts. Solo: PT Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri, 2013.
Daulay, Haidar Putra. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007.
LKS MA kelas XII program agama, Ulul Albab. Mojokerto: Mutiara Ilmu, 2014.
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2012.
Wathoni, Kharisul. Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Ponorogo: STAIN
Press, 2011.
https://m.facebook.com/ilmuagama/post/358642620955202

http:id.m.wikipedia.org/wiki/walisongo
http://silmiasuniarizki.blogspot.in/2013/11/makalah-perkembangan-islamdi-nusantara.html