Anda di halaman 1dari 32

PENDAHULUAN

Antibiotik adalah senyawa zat terlarut yang terbuat dari organisme yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik baik topikal maupun oral
merupakan obat yang sering diresepkan oleh ahli dermatologi untuk menangani
penyakin infeksi kulit dan dermatosis inflamasi. Data peresepan sejak 1999
sampai 2003 menunjukkan bahwa dermatolog meresepkan sekitar 9 juta
antibiotik oral, dengan 65% diantaranya golongan tetrasiklin, dan sebanyak 10%
sefalosporin. Pemberian antibiotik sistemik harus dipertimbangkan dengan sangat
hati-hati oleh karrena prevalensi dan penyebaran bakteri multiresisten terhadap
obat masih terus meningkat. Data menunjukkan bahwa 68-70% kasus infeksi kulit
di Amerika Serikat diakibatkan oleh S. Aureus resisten metisilin (MRSA).
Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diperkirakan
sekitar 94.360 kasus infeksi MRSA, dimana MRSA juga terkait dengan 18.650
kematian.
Terdapat berbagai jenis klasifikasi antibiotik, beberapa diantaranya yaitu
berdasarkan sifat toksisitas, spektrum kerja dan mekanisme kerjanya. Berdasarkan
sifat toksisitas antibiotik terbagi menjadi bakterosidal dimana antibiotik bersifat
membunuh mikroba, dan bakteriostatik dimana antibiotik hanya menekan proses
perbanyakan diri mikroba. Berdasarkan spektrum kerjanya, antibiotik dibagi ke
dalam kelompok spektrum sempit dan spektrum luas. Berdasarkan mekanisme
kerjanya antibiotik dibagi dalam 5 kelompok, yaitu yang mengganggu
metabolisme sel mikroba (Para-aminobenzoic acid (PABA) antagonis,
menghambat sintesis dinding sel mikroba, mengganggu permeabilitas membrane
sel mikroba, menghambat sintesis protein sel mikroba, yang menghambat sintesis
atau merusak asam nukleat sel mikroba. Beberapa contoh yaitu penisilin dan
sefalosporin bekerja pada dinding sel bakteri, sulfonamida dan trimetroprim
menghambat sistesis asam nukleat, kuinolon bekerja pada enzim DNA gyrase,
metronidazol memecah rantai DNA bakteri, serta aminoglikosida, tetrasiklin,
klindamisin dan makrolida menyerang subunit ribosom yang berbeda-beda pada
bakteri.

1
Setiap golongan antibiotik memiliki karakteristik baik mekanisme kerja,
farmakokinetik, spektrum kerja (indikasi), interaksi dengan obat lain, dosis dan
efek samping yang berbeda-beda,. Pemahaman yang baik mengenai karakteristik
setiap antibiotik sangat penting dalam penentuan jenis antibiotik yang akan
diberikan dalam menangani kasus-kasus infeksi agar antibiotik yang diberikan
tepat dan bekerja optimal, tanpa mempengaruhi terapi lainnya serta meminimalisir
efek samping terapi.

2
PEMBAHASAN

I. Definisi
Antibiotik adalah senyawa zat terlarut yang terbuat dari organisme yang
dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik merupakan zat yang
dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau
dapat membasmi mikroba jenis lain.

II. Klasifikasi Antibiotik Sistemik


Antibiotik yang terkini bersifat sintetik atau semi-sintetik. Berdasarkan
sifat toksisitas selektif, antibiotik dibagi menjadi dua jenis yaitu yang bersifat
menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik
dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas
bakterisidal. Walaupun perbedaannya tidak begitu jelas, misalnya eritromisin
dapat bersifat bakteriostatik atau bakterisidal tergantung dari organisme yang
menginfeksi dan konsentrasi obat.

Tabel 1. Klasifikasi antibiotik berdasarkan sifat toksisitas selektif.

Bakteriostatik Bakterisidal
Kloramfenikol Aminoglikosida
Klindamisin Basitrasin
Eritromisin Karbapenem
Sulfonamida Monobaktam
Tetrasiklin Penisilin
Trimetoprim Polymyxin B
Kuinolon
Vankomisin

Pada penggunaan klinik, antibiotik dibagi ke dalam kelompok spektrum


sempit dan spektrum luas yang berespon terhadap mikroorganisme Gram-

3
negatif dan Gram-positif. Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik dibagi
dalam lima kelompok, yaitu:
1. mengganggu metabolisme sel mikroba (Para-aminobenzoic acid (PABA)
antagonis,
2. menghambat sintesis dinding sel mikroba,
3. mengganggu permeabilitas membrane sel mikroba,
4. menghambat sintesis protein sel mikroba, dan
5. menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba.

Tabel 2. Klasifikasi antibiotik sistemik berdasarkan mekanisme kerja.

Tempat Mekanisme Kerja Nama antibiotik


Dinding sel Penisilin
Sefalosporin
Karbapenem
Monobaktam
Vankomisin
-lactamase inhibitor
Menghambat sintesis asam nukleat Sulfonamida
Trimetoprim
DNA gyrase Kuinolon
Memecah rantai DNA Metronidazol
Subunit Ribosom Aminoglikosida30S
Tetrasiklin30S
Kloramfenikol50S
Klindamisin50S
Makrolid50S

4
Gambar 1. Ilustrasi gambar sel bakteri dan tempat mekanisme kerja
antibiotik.

III.Karakteristik Antibiotik Sistemik


1. Penisilin
a.
Mekanisme Kerja
Merupakan golongan -laktam, bekerja dengan berikatan secara
ireversibel pada target protein pengikat penisilin (Penicillin-Binding
Protein, PCP), seperti karboksipeptidase, endopeptidase, dan
transpeptidase. PCP merupakan suatu enzim yang dibutuhkan untuk
biosintesis dan remodelling peptidoglikan pada dinding sel bakteri.
Penisilin berikatan dengan PCP oleh kemiripan molekulnya dengan
dipeptida D-Ala-D-Ala pada peptidotglikan, dan membentuk asil-
enzim yang memblokir transfer asil selanjutnya.
b.
Farmakokinetik
Absorpsi penisilin bervariasi tergantung stabilitas tiap senyawa
asam dan jumlah yang terikat pada makanan. Kebanyakan penisilin
harus di konsumsi minimal 1 jam sebelum atau 1 jam setelah makan.
Absorpsi amoksisilin tidak dipengaruhi oleh makanan. Obat ini
berdifusi dengan baik di jaringan dan cairan tubuh, tapi penetrasi ke
dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami
infeksi. Obat ini diekskresi ke urin dalam kadar terapeutik.
c.
Indikasi

5
1) Sifilis.
2) Infeksi kulit dan jaringan lunak oleh Streptococcus sp. (erysipelas,
demam scarlet, impetigo, dll).
3) Antraks (bila sensitif).
4) Aktinomikosis.
5) Gigitan serangga yang terinfeksi.
d.
Sediaan dan Dosis
Tabel 3. Sediaan dan dosis antibiotik penisilin

Nama Generik Rute Dosis


Penisilin G IM, IV Dewasa: 2-24 juta unit per hari terbagi 4
dosis
(18-24 juta unit per har untuk
neurosifilis)
Neonatus: 50mg/kg dosis terbagi 2
Bayi: 75mg/kg dosis terbagi 3
Anak 1-12 tahun: 100mg/kg dosis
terbagi 4
Benzatin penisilin G IM Dewasa:
2,4 juta unit x1 (sifilis awal)
2,4 juta unit tiap minggu x3 (sifilis > 1
tahun)
Dicloxacillin Oral Dewasa:
500 mg tiap 6 jam
Anak:
12,5-50 mg/kg/hari terbagi 4 dosis
Nafsilin IM, IV Dewasa:
IM: 500 mg tiap 4-6 jam
IV: 0,5-2 gr tiap 4-6 jam
Oksasilin Oral Dewasa:
1-2 gr tiap 4-6 jam
Amoksisilin Oral Dewasa:
500 mg tiap 8 jam
Anak:
20-40 mg/kg/hari terbagi 3 dosis
Amoksisilin/klavulanat Oral Dewasa:
250 mg tiap 12 jam
Anak:
20-40 mg/kg/hari terbagi 2-3 dosis
e.
Peringatan
1) Hipersensitivitas terhadap penisilin
2) Peningkatan kadar penisilin dengan probenesid dan disulfiram
3) Peningkatan efek oleh metotreksat dan warfarin

6
f.
Efek Samping
1) Reaksi hipersensitivitas: sering terjadi eksantem dan urtikaria. Pada
kasus jarang dapat terjadi dermatitis eksfoliatif, Sindroma Steven
Johnson (SSJ), vaskulitis, angioedema, reaksi anafilaksis, reaksi
anafilaktoid.
2) Diare, pada kasus jarang dapat terjadi kolitis pseudomembranosa.
3) Hepatitis, nefritis intersisiel, neurotoksisitas (pada dosis tinggi),
infiltrat eosinofil pulmonal, serta reaksi hematologis dimediasi
imun jarang terjadi.

2. Sefalosporin
a.
Mekanisme Kerja
Merupakan golongan -laktam dengan mekanisme kerja yang sama
dengan penisilin. Baik sefalosporin maupun penislin memiliki struktur
dasar yang unik yang disebut cincin -laktam, yang menjadi dasar
mekanisme kerja kedua antibiotik. Cincin -laktam pada keduanya
berikatan pada tiazolidin dan membentuk asam nukleat 6-amino-
penisilanat (rantai samping R1). Sefalosporin berbeda dari penisilin
secara struktur dimana cincin -laktam juga terikat pada cincin
dihidrotiazin (rantai samping R2).

Gambar 2. Struktur dasar -laktam.


Sefalosporin terbagi atas 4 generasi, berdasarkan aktivitas
spektrum dan perkembangan evolusinya. Generasi pertama antara lain
sefaleksin, sefadroksil, sefazoiln dan sefalotin parenteral, dimana
semuanya memiliki aktivitas yang baik melawan S. Aureus dan

7
Streptococcus sp yang sensitif-metisilin, serta aktivitas yang sangat
terbatas melawan bakteri gram negatif. Generasi kedua antara lain
sefprozil, sefaklor, sefuroksim asetil, dan agen parenteral sefotetan,
sefoksitin, sefuroksim, dapat digunakan lebih luas pada bakteri gram
negatif dibanding generasi pertama, secara spesifik melawan
Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. Generasi ketiga
termasuk sefdinir, sefditoren, serta agen prenteral sefotksim,
seftriakson, seftazidime, sefoperazon, sangat aktif melawan bakteri
gram negatif dengan spektrum yang luas. Sefalosporin generasi ketiga
sangat efektif untuk infeksi nosokomial bakteri gram negatif. Satu-
satunya generasi keempat yang tersedia di Amerika adalah sefepim,
obat parenteral dengan aktivitas yang baik terhadap baik gram positif
maupun gram negatif spektrum luas, termasuk P. Aeruginosa.
b.
Farmakokinetik
Dari sifat farmakokinetik, sefalosporin dibedakan menjadi 2
berdasarkan rute pemberian. Sefaleksin, sefadroksil, sefaklor,
sefprozil, asetil sefuroksim, sefdinir, dan sefditoren dapat diberikan per
oral karena diabsorpsi melalui saluran cerna. Sefalosporin lainnya
diberikan parenteral. Beberapa sefalosporin generasi ketiga misalnya
moksalaktam, sefotaksim, seftizoksim dan seftriakson mencapai kadar
tinggi dalam cairan serebrospinal. Sefalosporin juga melewati sawar
plasenta, mencapai kadar tinggi dalam cairan sinovial dan cairan
perikardium. Pada pemberian sistemik kadar sefalosporin generasi
ketiga dalam cairan mata relatif tinggi, tapi tidak mencapai vitreus.
Kadar dalam empedu umumnya tinggi, terutama sefoperazon.
Kebanyakan sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh ke urin,
kecuali sefoperazon yang sebagian besar diekskresi melalui empedu.
Sefalosporin generasi pertama, kedua, dan ketiga dapat diberikan pada
ibu menyusui, dan ekskresi pada ASI berbeda-beda tiap obat.
c.
Indikasi
1) Infeksi kulit dan jaringan lunak oleh Staphylococcus aureus dan
Streptococcus pyogenes tanpa komplikasi dapat diberikan

8
sefalosporin generasi pertama dan kedua, juga sefdinir dan
sefditoren.
2) Gonore
3) Penyakit lyme dapat diberikan seftriakson pada tahap lanjut, dan
sefuroksim pada onset awalnya.
d.
Sediaan dan Dosis
Tabel 4. Sediaan dan dosis antibiotik sefalosporin.

Nama generik Dosis anak Dosis dewasa


Sefaleksin 25-100 mg/kg/hari 250-500 mg 4x1
terbagi 2 atau 4 dosis
Sefadroksil 30 mg/kg/hari terbagi 2 1-2 gr per hari
dosis
Sefaklor 40 mg/kg/hari terbagi 2 250-500 mg 3x1
atau 3 dosis
Lorakarbef 15-30 mg/kg/hari terbagi 200-400 mg 2x1
2 dosis
Sefprozil 30 mg/kg/hri terbagi 2 250-500 mg per
dosis hari
Seforuksim 20-30 mg/kg/hari terbagi 250-500 mg 2x1
aksetil 2 dosis
Sefpodoksim 10 mg/kg/hari terbagi 2 100-400 mg 2x1
proksetil dosis
Seftibuten 9 mg/kg/hari 400 mg per hari
Sefiksim 8 mg/kg/hari terbagi 1 200 mg 2x1 atau
atau 2 dosis 400 mg 1x1
Seftriakson 50 mg/kg IM (maks. 1 1-4 gr per hari IM;
gr) 250 mg IM (maks.
1 gr) untuk gonore
non komplikata
Sefdinir 14 mg/kg/hari terbagi 1 300 mg 2x1 atau
atau 2 dosis 600 mg 1x1
e.
Peringatan
1) Hipersensitivitas terhadap sefalosporin maupun penisilin.
2) Absorpsi sefdinir berkurang dengan antasida dan preparat besi.
3) Kadar siklosporin meningkat dengan seftriakson dan
seftazidim.
4) Perubahan efek warfarin dengan sefotetan, sefamandole,
sefoperazon, sefiksim, dan sefaklor.
5) Ekskresi renal terganggu oleh hampir semua sefalosporin
bersama probenesid.
f.
Efek Samping

9
1) Reaksi hipersensitivitas: sering terjadi eksantem dan urtikaria.
Pada kasus jarang dapat terjadi dermatitis eksfoliatif, SSJ,
vaskulitis, angioedema, reaksi anafilaksis, reaksi anafilaktoid.
2) Diare, pada kasus jarang dapat terjadi pseudokolelitiasis.
Nekrosis tubular ginjal, reaski disulfiram-like (spesifik),
tromboplebitis (lokasi IV), serum sickness like reaction
(sefaklor, sefprozil).

3. Tetrasiklin
Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan ialah
klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces aureofacien. Tetrasiklin
sendiri dibuat secara semisintetik dari klortetrasiklin, tetapi juga dapat
diperoleh dari spesies Streptomyces lain.

Gambar 3. Struktur kimia golongan tetrasiklin.


a. Mekanisme Kerja
Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada
ribosomnya. Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya
antibiotik kedalam ribosom bakteri Gram-negatif pertama secara difusi
pasif. Tetrasiklin diyakini dapat menjadi bakteriostatik, tetapi
kemudian ditemukan bahwa dapat menjadi bakteriostatik dan
bakterisidal. Antibiotik ini memiliki dua mode mekanisme antibiotik.
Tetrasiklin memperlihatkan spektrum antibakteri luas yang meliputi
kuman Gram-positif dan negatif, aerobik dan anaerobik, selain itu juga

10
aktif terhadap spiroket, mikoplasma, riketsia, klamidia, legionela dan
protozoa tertentu. Doxycycline dan minocycline adalah tetrasiklin
sistemik generasi kedua yang paling umum digunakan dalam
dermatologi.

b.
Farmakokinetik
Tetrasiklin diserap tidak sempurna di lambung dan usus kecil, yang
terutama dikonsumsi saat perut kosong. Doxycycline dan minocycline
tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya makanan dan mempunyai
waktu paruh lebih lama dari tetrasiklin, dan membutuhkan dosis yang
sedikit. Tetrasiklin tidak bisa dikonsumsi bersama dengan makanan,
terutama yang mengandung susu. Besi, kalsium dan magnesium dapat
mengurangi 50% penyerapan.
Tetrasiklin diekskresikan terutama di ginjal, dan pasien dengan
gagal ginjal memerlukan dosis penyesuaian. Doxycycline
diekskresikan dalam tinja dan tidak ada penyesuaian untuk gagal ginjal
atau hati yang diperlukan. Minocycline sebagian besar dimetabolisme
sebelum diekskresi, tapi tidak terakumulasi pada pasien dengan gagal
hati. Tetrasiklin melewati plasenta dan terdapat dalam konsentrasi
tinggi dalam ASI. Antibiotik ini dapat menumpuk dan mempengaruhi
pertumbuhan tulang dan gigi sehingga penggunaan selama kehamilan
dan saat menyusui harus dihindari.
c.
Indikasi
a) Aktinomikosis
b) Gigitan serangga (Pasteurella multocida)
c) Infeksi Anthrax (Bacillus anthracis)
d) Infeksi Chlamydia sp.
e) Ehrlichiosis
f) Penyakit Lyme
g) Infeksi MRSA
h) Penyakit riketsia
i) Sifilis (penisilin-alergi granuloma inguinale pasien)
d.
Sediaan dan Dosis

11
Untuk pemberian oral, tetrasiklin tersedia dalam bentuk kapsul dan
tablet. Untuk pemberian parenteral tersedia bentuk larutan obat suntik
(oksitetrasiklin) atau bentuk bubuk yang harus dilarutkan lebih dulu
(tetrasiklin HCL, tigesiklin, doksisiklin, minosiklin).

Tabel 5. Sediaan dan dosis antibiotik tetrasiklin.


Derivat Sediaan Dosis
Tetrasiklin Kapsul/tablet 250mg dan 500mg Oral,4 kali 250-500mg
Bubuk obat suntik IM 100mg Parenteral, 300IM mg sehari
dan 200mg/vial yang dibagi dalam 2-3 dosis,
dosis atau 250-500mg IV
Bubuk obat suntik IV 250 dan diulang 2-4kali sehari.
500mg/vial
Parenteral,untuk pemberian IM
15-25 mg/kgBB/hari sebagai
dosis tunggal atau dibagi dalam
2-3 dosis dan IV 20-
30mg/kgBB/hari dibagi dalam
2-3 dosis.
Doksisiklin Kapsul atau tablet 100mg, tablet Oral, dosis awal 200mg,
50mg selanjutnya 100-200 mg/hari
Sirup 10mg/ml
Minosiklin Kapsul 100mg Oral, dosis awal 200mg,
dilanjutkan 2 kali sehari
100mg/hari

e.
Peringatan
a) Pasien dengan gagal ginjal (ekskresi terganggu dan anti anabolik)
b) Fotosensitifitas (doxycycline)
c) Menyusui, kehamilan, dan pada anak (< 9 tahun)
d) Gangguan penyerapan oleh kalsium, magnesium, aluminium
(kation lainnya), besi, natrium bikarbonat, dan simetidin
e) Peningkatan metabolisme doxycycline dengan penggunaan
fenitoin, karbamazepin, barbiturat, dan alkohol

12
f) Kebutuhan insulin berkurang pada pasien diabetes
g) Peningkatan kadar serum digoxin, lithium, dan warfarin
h) Anestesi metoksifluran (gagal ginjal)
f.
Efek Samping
Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan
tetrasiklin ialah erupsi mobiliformis, urtikaria, dan dermatitis
eksfoliatif. Reaksi yang lebih hebat ialah edema angioneutrotik dan
reaksi anafilaksis. Pada pemberian minosiklin dapat terjadi
hiperpigmentasi dari kulit dan kuku, iritasi pada lambung serta pada
anak- anak dapat terjadi hiperpigmentasi dari gigi. Terapi dalam waktu
lama dapat menimbulkan kelainan darah tepi seperti leukositosis,
limfosit atipi, granulasi toksik pada granulosit dan trombositopenia.
4. Florokuinolon
a.
Mekanisme kerja
Florokuinolon adalah derivat kuinolon generasi pertama (nalidixic
acid). Golongan kuinolon menghambat enzim DNA girase pada
mikroba yang fungsinya menata kromosom yang sangat panjang
menjadi bentuk spiral hingga bisa muat dalam sel mikroba yang kecil.
Antibiotik ini menghambat kerja enzim topoimerase II (DNA girase)
dan IV dimana enzim ini berfungsi pada replikasi DNA, transkripsi,
dan perbaikan DNA. Kuinolon aktif pada bakteri yang dihambat adalah
bakteri aerob gram-negatif, staphylococci, dan streptococci tetapi tidak
cukup aktif pada bakteri anaerob.

13
Gambar 4. Struktur kimia antibiotik florokuinolon.

Antibiotik ini aktif melawan jenis organisme gram-negatif seperti,


Salmonella, Shigella, Enterobacter, Campylobacter, dan Neisseria.
Ciprofloxacin cukup aktif melawan untuk Pseudomonas aeruginosa.
Gemifloksasin dan mofifloksasin terbukti bisa aktif pada
mikroorganisme gram-positif, walaupun secara umum florokuinolon
memiliki aktivitas terbatas untuk organisme gram-positif.
Florokuinolon termasuk antibiotik yang poten berspektrum luas
dan sering digunakan pada penyakit infeksi. Florokuinolon
menghambat supercoiling dalam sel bakteri yang akan merusak
replikasi DNA (dosis rendah) dan mematikanj sel (dosis letal). Sel
target utama pada bakteri gram-negatif adalah DNA gyrase, sedangkan
sel target utama pada mikroorganisme gram-positif adalah topoimerase
IV.

14
Gambar 5. Mekanisme topoimerase tipe II pada DNA. Pengontrolan
supercoiling untuk menentukan jumlah rantai ganda yang dibutuhkan
menyusun kromosom bakteri.
b.
Farmakokinetik
Florokuinolon diabsorpsi dengan cepat setelah ingesti oral dengan
distribusi volume yang besar. Kuinolon terdistribusi dengan luas di
seluruh tubuh. Penetrasi ke jaringan lebih besar dari konsentrasi yang
dicapai di plasma, feses, cairan empedu, jaringan prostat, dan jaringan
paru-paru.
Makanan tidak menghambat absorpsinya dan dapat diberikan dua
kali sehari. Florokuinolon diekskresi oleh ginjal. Mofifloksasin
dieliminasi di hati dengan cara dikonjugasikan dengan glukoronid dan
sulfat. Florokuinolon tidak dapat dihilangkan dengan dialisis.
Kebanyakan diekskresi bersama ASI tetapi jarang menimbulkan efek
samping pada bayi. Ciprofloksasin bisa menimbulkan fototoksik,
kolitis psudomembran, dan erupsi gigi. Ketika digunakan dalam
kombinasi dengan agen dari kelas antibiotik lain, seperti beta-laktam
dan aminoglikosida, kuinolon diduga tidak sinergis. Ciprofloxacin dan
rifampisin bersifat antagonis terhadap Staphylococcus aureus. Waktu
paruh kuinolon bervariasi mulai dari 1,5 jam sampai 16 jam,
kebanyakan diberikan setiap 12 jam sampai 24 jam.

15
c.
Indikasi
1) Terapi lini pertama
Antrhax, Skin and sof-tissue infection (SSTIs) akibat
mikroorganisme patogen gram-negatif, infeksi Pseudomonas
aeroginosa (otitis eksterna, ektima gangrenosum, SSTI).
2) Terapi lini kedua
Infeksi Bartonella sp, canchroid, chlamydia, , gonorrhea,
granuloma inguinale, infeksi Rickettsia sp.
d.
Sediaan dan Dosis
Tabel 6. Sediaan dan dosis antibiotic florokuinolon

Nama generik Rute Dosis pada orang dewasa


Gonore: 500 mg x 1
Gonococcemia: 500 mg tiap 12 jam x 7 hari
PO,
Ciprofloksasin Canchroid: 500 mg tiap 12 jam x 3 hari
IV
Anthrax kutaneus: 10-15 mg/kgBBq 12 jam x
60 hari
PO, Tanpa komplikasi: 500 mg tiap 24 jam
Levofloksasin
IV Dengan komplikasi: 750 mg tiap 24 jam
e.
Peringatan
Florokuinolon dapat menurunkan bioavaibilitas dengan antasid
(aluminium, magnesium, alum), besi, zinc, dan sucralfat.
Siprofloksasin dapat menghambat metabolisme
theophylline/aminophylline. Secara umum kuinolon bisa menyebabkan
arthropati pada studi hewan imatur. Ruptur tendon dapat ditemukan
pada pasien dengan penyakit ginjal, hemodialisis, atau penggunaan
steroid. Florokuinolon bisa menurunkan ambang kejang dan
menurunkan metabolisme silosporin dan warfarin.
f.
Efek Samping
Efek samping yang biasa didapatkan pada pasien adalah adanya
mual, muntah, sakit kepala, dan menggigil. Sedangkan efek samping
yang jarang didapatkan adalah exanthem, fotosensitivitas delirium,
kejang, rupture pada tendon, artropati, pemanjangan interval QT, dan
hepatitis. Komplikasi yang bermanifestasi pada kulit seperti rash,
pruritus, dan reaksi fotosensitivitas.

5. Trimetoprim/Sulfametoksazol

16
a. Mekanisme Kerja
Trimetoprim / sulfametoksazol (kotrimoksazol) adalah kombinasi
dari trimetoprim (TMP) dan sulfametoksazol (SMX) dengan
perbandingan 1:5. Kedua senyawa ini menghambat sintesis asam
nukleat dengan menghambat dua enzim dalam jalur sintesis asam
tetrahydrofolic bakteri. Bersama-sama, senyawa ini bersifat sinergis
yang relatif spesifik untuk sel-sel bakteri.

Gambar 6. Struktur kimia antibiotik trimetoprim dan


sulfametoksazol.

SMX menghambat produksi dihidrofolat dari komponen prekursor


p-aminobenzoat, pteridin, dan glutamat. TMP bekerja pada
metabolisme folat secara kompetitif dengan menghambat dihidrofolat
reduktase, yaitu enzim yang memproduksi tetrahidrofolat aktif.
TMP/SMX adalah antibiotik spektrum luas dengan aktivitas yang baik
terhadap banyak aerobik gram-positif seperti Staphylococcus aureus,
S. pyogenes, S. viridans. Obat ini tidak memiliki aktivitas terhadap
mikroorganisme anaerob. TMP dan SMX bila digunakan tunggal akan
bersifat bakteriostatik, sedangkan jika dikombinasikan atau bentuk
kotrimoksazol akan bersifat bakterisidal.

17
Gambar 7. Mekanisme kerja trimetoprim dan sulfametoksazol.

Bakteri memerlukan PABA (p-aminobenzeic acid)) untuk


membentuk asam folat yang digunakan untuk sintesis purin dan asam
nukleat. Sulfametoksazol merupakan penghambat bersaing PABA.
b. Farmakokinetik
Trimetoprim dan sulfametoksazol baik diabsorpsi secara oral
dengan distribusi ke seluruh jaringan pada tubuh. Distribusinya juga
melalui cairan serebrospinal dan sputum. Absorpsi melalui saluran
cerna terjadi dengan mudah dan cepat. Sekitar 70-100% dosis oral
diabsorpsi melalui saluran cerna dan dapat ditemukan dalam urin 30
menit setelah pemberian. Absorpsi melalui vagina, saluran napas, kulit
yang terluka pada umumnya kurang baik, tetapi cukup menyebabkan
reaksi toksik atau hipersensitivitas. Semua terikat pada protein plasma
terutama albumin. Dalam cairan tubuh kadar obat bentuk bebas
mencapai 50-80% kadar dalam darah. Dalam tubuh, terjadi proses
asetilasi dan oksidasi. Hasil oksidasi ini yang akan menyebabkan
reaksi toksik sistemik berupa lesi pada kulit dan hipersensitivitas,
sedangkan hasil asetilasi menyebabkan hilangnya aktivitas obat.
Hampir semua diekskresi melaui ginjal dan sebagian kecil diekskresi
melalui feses, empedu dan ASI.
Farmakokinetik TMP-SMX tidak berubah secara signifikan dan
waktu paruhnya tidak memanjang jika terjadi gangguan hati. Saat ini

18
belum ada studi yang melaporkan dosis maksimum TMP-SMX untuk
gangguan ginjal.
c. Indikasi
Trimetoprim dan sulfametoksazol digunakan untuk community
acquired MRSA, infeksi Nocardia asteroids, Skin and Soft Tissue
Infections (SSTIs) yang tidak berkomplikasi, dan pada chancroid.
d. Sediaan dan Dosis
Tabel 7. Sediaan dan dosis antibiotik trimetoprim dan sulfametoksazol.

Antibiotik Rute Dosis pada orang dewasa


180 mg/800mg (DS) pemberian
Trimetoprim- PO
setiap 12 jam
sulfametoksazol
(Kotrimoksazol) IV 5 mg/kgBB pemberian setiap 6-8
jam

e. Peringatan
Penggunaan TMP-SMX pada pasien dengan HIV/AIDS dapat
terjadi reaksi berat, pasien dengan terapi warfarin akan terjadi
pemanjangan protrombin, dan dikontraindikasikan terhadap pasien
yang mendapat metroteksat.
f. Efek Samping
Efek samping yang biasa didapatkan pada penggunaan antibiotik
TMP-SMX adalah adanya eksantem, fotosensitivitas, mual, muntah,
anoreksia, glossitis, stomatitis (sering pada pasien HIV/AIDS).
Sedangkan efek samping yang jarang didapatkan adalah delirium,
sindroma steven johnson, nekrolisis epidermal toksik, vaskulitis,
urtikaria, erupsi pustular, Sweet Syndrome, hepatitis kolestatik,
nekrosis hepatik, reaksi hipersensitivitas berat, sefalgia, halusinasi,
tremor, nefrolitiasis, dan nefritis intertisiel. Sekitar 8% antibiotik ini
juga dapat menyebabkan reaksi kulit tipikal pada pasien.
6. Klindamisin
Klindamisin adalah antibiotik linkosamid yang diperoleh melalui
modifikasi kimia dari linkomisin. Yang dimana penyerapan dan aktifitas
spektrumnya yang lebih baik dari pendahulunya, yang sekarang sudah
ditinggalkan.
a. Mekanisme Kerja

19
Klindamisin berikatan dengan bakteri subunit ribosom 50s dan
menghambat sintesis protein melalui blokade inisiasi rantai peptida.
Klindamisin memudahkan opsonisasi serta fagositosis dan mengurangi
adhesi bakteri (sel inang) dan produksi eksotoksin stafilokokus.
Klindamisin efektif terhadap sebagian besar kokus Gram-positif,
anaerob, dan beberapa protozoa. Dalam bidang dermatologi,
klindamisin efektif terhadap sebagian besar jenis streptococcus
(termasuk S. viridans), methicillin-sensitif S. aureus, serta
S.epidermidis. Aktifitas spektrum anaerob termasuk Peptococci,
Peptostreptococci, Propionibacteria, Clostridium perfringens, serta
fusobacteria. Toxoplasma gondii seringkali efektif diobati dengan
kombinasi termasuk klindamisin.
b. Farmakokinetik
Klindamisin diserap hampir sempurna pada pemberian oral.
Adanya makanan dalam lambung tidak banyak mempengaruhi
absorpsi obat ini. Klindamisin merupakan obat pilihan dalam
kelompok ini karena penetrasi jaringan yang baik kecuali pada SSP.
Klindamisin memiliki daya serap peroral yang baik dan tidak ada
persyaratan dosis yang diperlukan jika terdapat penyakit ginjal,
klindamisin juga merupakan alternatif pada pasien yang alergi pada
penisilin. Klindamisin terutama dimetabolisme oleh hati serta
diekskresikan di empedu, meskipun 10% diekskresikan di urin. Dosis
harus disesuaikan untuk pasien dengan gagal hati atau kombinasi gagal
hati dengan gagal ginjal.

c. Indikasi
a) Infeksi dalam jaringan: necrotizing fasciitis
b) Profilaksis bedah pada pasien alergi penisilin
c) Profilaksis untuk infeksi stafilokokus berulang
d) Ulkus kaki diabetik (kombinasi dengan infeksi Gram-negatif)
e) Bakterial vaginosis

d. Sediaan dan Dosis

20
Tabel 8. Sediaan dan dosis antibiotik klindamisin
pada orang dewasa.
Rute pemberian Dosis

Klindamisin
Oral 150-450 mg per 6 jam
Intravena 600-800 mg per 8 jam

Untuk anak atau bayi berumur lebih dari 1 bulan diberikan 15-25
mg/kgBB sehari. Untuk infeksi berat dosisnya 25-40 mg/kgBB sehari
yang dibagi dalam beberapa dosis pemberian.
e. Peringatan
Penggunaan antibiotik klindamisin harus mendapat perhatian jika
pasien dengan gagal hati, terdapat peningkatan blokade neuromuskular
dengan tubocurare dan pancuronium. Antibiotik ini bersifat antagonis
terhadap eritromisin.
f. Efek Samping
Diare dilaporkan terjadi pada 2-20% pasien yang mendapat
klindamisin. Diperkirakan sekitar 0,01-10% pasien dilaporkan
menderita kolitis pseudomembranosa yang ditandai oleh demam, nyeri
abdomen, diare dengan darah dan lendir pada tinja. Bila selama terapi
timbul diare atau kolitis, maka pengobatan harus dihentikan. Obat
terpilih untuk keadaan ini adalah vankomisin yang diberikan 4 kali 125
mg sehari peroral atau IV selama 7-10 hari atau metronidazole oral 3 x
500 mg/hari.

7. Makrolid
Eritromisin adalah antibiotik prototip makrolid; derivatif termasuk
dirithromycin, klaritromisin, dan azitromisin. Makrolid bervariasi dalam
aktivitasnya terhadap patogen Gram-positif: klaritromisin>eritromisin>
azitromisin. Makrolid secara luas digunakan untuk mengobati infeksi
ringan pada jaringan saluran pernapasan. Antibiotik ini aktif terhadap
bakteri Gram-negatif dan Gram-positif, termasuk kuman intraseluler
seperti Chlamydia dan Legionella.

21
a.
Mekanisme Kerja
Golongan makrolid menghambat sintesis protein kuman dengan
jalan berikatan secara reversibel dengan ribosom subunit 50S dan
umumnya bersifat bakteriostatik, walaupun terkadang dapat bersifat
bakterisidal untuk kuman yang sangat peka.
b.
Farmakokinetik
Makrolid terakumulasi secara intraseluler pada leukosit
polimorfonuklear dan makrofag, antara lain beraktivitas untuk
melawan bakteri patogen pada intraseluler. Eritromisin diserap baik
oleh usus kecil bagian proksimal, aktivitasnya menurun karena dirusak
oleh asam lambung, eritromisin diberi selaput yang tahan asam atau
digunakan dalam bentuk ester stearat atau etilsuksinat, adanya
makanan juga menghambat penyerapan eritromisin. Dibandingkan
dengan eritromisin, klaritromisin dan azitromisin lebih asam stabil dan
memiliki bioavailabilitas oral yang lebih besar.
Konsentrasi makrolid umumnya melewati kadar plasma.
Konsentrasi eritromisin dalam ASI sekitar 50% dari kadar serum.
Eritromisin dapat melewati plasenta, kecuali klaritromisin (kategori
kehamilan C), secara umum makrolid adalah Kategori B.
Klaritromisin dimetabolisme di hati oleh sitokrom P450 3A4
(CYP3A4) menjadi bentuk enzim 14-hidroksi aktif dan enam produk
tambahan. Sekitar 30-40% dari dosis oral klaritromisin diekskresikan
dalam urin sebagai 14-hidroksi metabolit yang aktif atau tidak
berubah. Eliminasi Azitromisin terjadi terutama dalam feses sebagai
obat yang tidak mengalami perubahan, dan ekskresi urin minimal.
Tidak seperti klaritromisin, azitromisin tidak berinteraksi dengan
sistem sitokrom P450.
c.
Indikasi
a) SSTIs tanpa komplikasi (folikulitis, erysipelas, selulitis)
b) Lyme disease
c) Chlamydia
d.
Sediaan dan Dosis

22
Tabel 9. Sediaan dan dosis antibiotik makrolid.

Oral 500mg per 6 jam atau 12 jam


Eritromisin
IV 1gr per 6jam
Klaritromisin Oral 250-500 mg per 12 jam
Makrolid 500 mg hari pertama, lalu 250 mg
Oral setiap hari 2-5 kali untuk
Azitromisin klamidian, 1gr dosis tunggal
IV 500 mg per 24jam

e.
Peringatan
1) CYP 3A4 inhibition
Meningkatkan toksisitas obat (meningkatkan konsentrasi serum):
warfarin, karbamazepin, buspiron, benzodiazepin, kortikosteroid
(methylprednisolon), HMG CoA reductase inhibitor, kontrasepsi
oral, cyclosporine, tacrolimus, disopyramide, felodipin, ergot
alkaloid.
2) CYP 1A2 inhibition
Meningkatkan toksisitas obat (meningkatkan konsentrasi serum):
theophylline, omeprazol.

3) Lainnya
Digoxin (konsentrasinya meningkat akibat perubahan metabolisme
obat oleh gut flora), Fluconazol (meningkatkan konsentrasi
klaritromisin)
f.
Efek samping
Pada eritromisin efek samping berat jarang terjadi, reaksi alergi
mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinofilia dan eksantem yang
cepat hilang bila terapi dihentikan. Efek samping klaritromosin adalah
iritasi saluran cerna dan peningkatan sementara enzim hati.

V. Korelasi Klinis Penggunaan Antibiotik Sistemik pada Pengobatan


Penyakit Kulit
A.
Pioderma (impetigo, folikulitis, selulitis, dan erisypelas)

23
1. Terapi lini pertama
a. Kloksasilin: Dewasa 4 x 250-500 mg per hari per oral. Anak: 50
mg/kg per hari terbagi dalam 4 dosis selama 5 sampai 7 hari.
b. Pada S.aureus yang resisten terhadap eritromisin dapat diberikan:
1) Amoksisilin dan asam klavulanat: Dewasa 3 x 250 - 500 mg
per hari. Anak: 25 mg/kgBB per ,hari terbagi dalam 3 dosis
selama 5 - 7 hari.
2) Sefaleksin 40- 50 mg/kgBB per hari terbagi dalam 4 dosis
selama 5-7 hari.
3) Sefaklor: 20 mg/kgBB per hari terbagi dalam 3 dosis.
2. Terapi lini kedua
a. Azitromisin: 1x500 mg per hari (hari pertama), dilanjutkan 1x250
mg (hari ke-2 sampai hari ke-5).
b. Klindamisin: 15 mg/kgBB per hari terbagi dalam 3 dosis selama 10
hari.
c. Eritromisin: Dewasa 4x250-500 mg per hari. Anak: 20-50
mg/kgBB terbagi dalam 4 dosis selama 5-7 hari.

B.
Antraks
Terapi pilihan untuk antraks adalah kristalin penisilin G parenteral 2
juta unit setiap 6 jam, yang diberikan selama 7-14 hari (sampai edema
lokal menghilang atau lesi kulit mengering). Antibiotik yang
direkomendasikan saat ini adalah terapi siprofloksasin dengan dosis 20-
30mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis (dosis maksimum untuk dewasa 500mg
2 kali sehari) atau doksisiklin 100mg 2 kali sehari peroral selama 60 hari.
Untuk anak dan wanita menyusui diberikan amoksisilin dengan dosis
40mg/kgBB (BB kurang dari 20kg) dibagi dalam 3 dosis atau 500mg
3x/hari untuk anak BB lebih dari 20kg/dewasa.

C.
Acne Vulgaris
Antibiotik oral diberikan pada acne vulgaris derajat sedang sampai
berat, diberikan selama minimal 68 minggu, maksimal 1218 minggu.
Antibiotik oral pilihan:

24
1. Tetrasiklin 500 mg 2x/hari (saat ini penggunaannya jarang digunakan
karena terdapat resistensi terhadap tetrasiklin)
2. Doksisiklin 50-100 mg 2x/hari
3. Minosiklin 50-100 mg 2x/hari
4. Klindamisin 150-300 mg 2-3x/hari
D.
Eritrasma
Antibiotik oral diberikan pada eritrasma dengan lesi yang luas, dimana
eritromisin terbukti efektif diberikan 1 gram sehari (4 x 250mg) selama 2-
3 minggu dan antibiotik klaritomisisn 1 gram dosis tunggal.
E.
Aktinomikosis
Terapi pilihan untuk aktinomikosis adalah penisilin G, 18-24 juta unit
secara intravena selama 2-6 minggu, kemudian diteruskan dengan
penisilin atauamoksisilin oral selama 6-12 bulan.
F.
Infeksi Methicillin Resistance Staphylococcus aureus (MRSA)
Tabel 10. Dosis Antibiotik pada Penyakit MRSA

Antibiotik Dosis dewasa Dosis anak


30 mg/kg/hari dalam 2 40 mg/kg/hari dalam 4
Vankomisin
dosis terbagi/ IV dosis terbagi/ IV
25-40 mg/kg/hari dalam
Klindamisin 600 mg/8 jam/IV
3 dosis terbagi
Daptomisin 4 mg/kg/hari/IV Tidak digunakan
Seftarolin 600 mg/12 jam/IV Tidak digunakan
Tidak
Doksisiklin 100 mg 2x1 PO direkomendasikan
dibawah 8 tahun
8-12 mg/kg/hari
(berdasarkan
Trimetroprim-
1-2 tablet 2x1 PO trimetoprim) dalam 4
sulfametoksasol
dosis terbagi IV atau 2
dosis terbagi PO

G.
Penyakit Lyme
1. Terapi lini pertama (per oral)
a. Doksisiklin 100mg peroral 2 x sehari

25
b. Amoksisilin 500mg peroral 3 x sehari
c. Cefuroxime 500mg peroral 2 x sehari
2. Terapi alternatif (peroral)
a. Azitromisin 500mg peroral 4 x sehari
b. Eritromisin 500mg peroral 4 x sehari
c. Klaritromisin 500mg peroral 2 x sehari
3. Terapi lini pertama (parenteral)
Ceftriaxone 2gr/intravena 4x/sehari
4. Terapi alternatif (parenteral)
a. Penisilin G (18-24 unit dibagi dalam 6 dosis tiap 4 jam)
b. Cefotaksim 2gr per intravena setiap 8 jam
c. Doksisiklin 200-400mg perhari per intavena dibagi dalam 2 dosis

H.
Sifilis
1. Terapi pilihan
a. Stadium dini (stadium I, II, dan laten < 2 tahun): Benzatinpenisilin
G 2,4 juta unit.
b. Stadium lanjut (stadium laten > 2 tahun dan III): Benzatinpenisilin
G 7,2 juta unit (injeksi intramuskular Benzatinpenisilin G 2,4 juta
unit/kali dengan interval 1 minggu).
2. Terapi alternatif
a. Tetrasiklin 4x500mg/hari
b. Eritromisin 4x500mg/hari
c. Doksisiklin 2x100mg/hari
Lama pengobatan 30 hari (stadium dini) atau lebih 30 hari (stadium
lanjut).

I.
Gonore
1. Terapi pilihan: Sefiksim 400mg per oral.
2. Terapi alternatif
a. Levofloksasin 500mg per oral dosis tunggal

26
b. Tiamfenikol 3,5gram per oral dosis tunggal
c. Kanamisin 2 gram injeksi IM, dosis tunggal
d. Seftriakson 250mg injeksi intamuskular dosis tunggal (tidak boleh
diberikan pada ibu hamil, menyusui, atau anak di bawah 12 tahun)

J.
Infeksi Chlamydia sp
1.
Limfogranuloma venereum
a. Doksisiklin dosis 2x 100mg/hari selama 14-21 hari atau tetrasiklin
2 gr/hari atau tetrasiklin 2gr/hari atau minosiklin 300mg diikuti
200mg 2x/hari.
b. Sulfonamid: dosis 3-5 gr/hari selama 7 hari.
c. Eritromisin: (pilihan kedua) dosis 4x500mg/ hari selama 21 hari
terutama pada kasus-kasus alergi obat golongan cycline, pada
wanita hamil dan menyusui.
d. Kotrimoksasol: 480mg 3x 2 tablet/ hari selama 7 hari.
2.
Uretritis Non Gonore
a. Golongan tetrasiklin
1) Tetrasiklin 250-500mg, 4x sehari selama 7-21 hari
2) Doksisiklin 100mg, 2x sehari selama 7-21 hari
3) Minosiklin 100mg, 2x sehari selama 7-21 hari
b. Golongan makrolid
1) Eritromisin 250-500 mg selama 7-21 hari terutama untuk
resistensi tetrasiklin dan untuk wanita hamil
2) Azitromisin 1 gram dosis tunggal
c. Golongan kuinolon
Ofloksasin 200mg 2x sehari selama 7-14 hari

VI. Antibiotik Sistemik untuk Alergi Obat pada Pengobatan Penyakit Kulit
Antibiotik golongan beta laktam penisilin adalah antibiotik yang paling
sering digunakan. Antibiotik ini terbukti sebagai antibiotik yang efektif untuk
infeksi bakteri. Golongan beta laktam merupakan salah satu terapi pilihan pada
pengobatan penyakit kulit. Berdasarkan studi epidemiologi, dilaporkan bahwa

27
antibiotik sering menyebabkan alergi obat. Dari berbagai kelas antibiotik,
golongan antibiotik beta laktam (penisilin dan sefalosporin) sering didapatkan
kasus alergi obat.
Golongan antibiotik yang termasuk aman adalah vankomisin. Vankomisin
merupakan pilihan terapi untuk pasien dengan alergi obat penisilin maupun
sefalosporin. Vankomisin juga aktif melawan bakteri penyebab MRSA.
Vankomisin adalah antibiotik glukopeptida trisiklik yang diproduksi oleh
Stretococcus orientalis yang dapat dibuktikan keamanannya melalui hasil
studi porspektif.
Tabel 11. Dosis antibiotik vankomisin

Nama Generik Rute Dosis


Vankomisin IV Dewasa: 30mg/kgBB dibagi dalam 2-3
dosis per hari
Neonatus (<7 hari): diberikan dosis
dimulai dari15mg/kg kemudian
diteruskan 10mg/kg setiap 12 jam
Bayi (8 hari-30 hari): diberikan dosis
dimulai dari15mg/kg kemudian
diteruskan 10mg/kg setiap 8 jam
Anak: diberikan dosis dimulai
dari15mg/kg kemudian diteruskan
10mg/kg setiap 6 jam

28
KESIMPULAN

Setiap golongan antibiotik memiliki karakteristik baik mekanisme kerja,


farmakokinetik, spektrum kerja (indikasi), interaksi dengan obat lain, dosis dan
efek samping yang berbeda-beda. Pemahaman yang baik mengenai karakteristik
setiap antibiotik sangat penting dalam penentuan jenis antibiotik yang akan
diberikan dalam menangani kasus-kasus infeksi agar antibiotik yang diberikan
tepat dan bekerja optimal, tanpa mempengaruhi terapi lainnya serta meminimalisir
efek samping terapi.
Tabel 12. Rekomendasi terapi antibiotik untuk pengobatan penyakit kulit
Organisme Terapi Lini Terapi Alternatif
Pertama

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Gasbarre C. Antibiotics. In: Fitzpatrick's Dermatology In General


Medicine 8th Ed. Goldsmith L, Katz S, Gilchrest B, Paller A, Leffell, Wolff K eds.
USA: McGraw Hill; 2012. 3941-56 p.
2. Rosso JQ. The Scientific Panel on Antibiotic Usage in Dermatology
(PAUD). Extensions Educational Newsletter For Physician and Nurse Practitioner
in Dermatology. 2006.
3. Jones H. Systemic Antibiotic Treatment of Skin, Skin Structure, and Soft
Tissue Infections in the Outpatient Setting. Advances in skin and wound care
2012;20(3):132-40.
4. Setiabudy. Antimikroba. In: Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta:
Bagian Farmakologi FKUI; 2001. 571-83 p.
5. Breatnach S, Chalmers, Hay. Systemic Therapy. In: Rook's Texbook of
Dermatology. UK: Wiley-Blackwell; 2010. 3930-4 p.
6. Jack L. Antimicrobial Drugs. In: Bolognia: Dermatology, 2nd ed.2008.
7. Craft JC, Parish LC. Systemic antimicrobial therapy. In: Drug Therapy in
Dermatology. Milikan LE ed. 2000. Newyork: Marcel Dekker Inc. 65 p.
8. Liarrul LI, Testero SA, Fisher JF et al. The Future of the -lactams.
Current Opinion in Microbiology. 2010;13:551-7.
9. Yulinah et al. ISO Farmakoterapi. Jakarta: PT ISFI; 2008. 774-7 p.
10. Kim MH, Lee MJ. Diagnosis and Management of Immediate
Hypersensitivity Reactions to Cephalosporins. Allergy Asthma Immunol Res.
2014;6(6):485-95.
11. Priya S, Radha K. Brief Review Of Spectrophotometric Methods For The
Detection Of Tetracycline Antibiotics. International Journal Of Pharmacy And
Pharmaceutical Sciences. 2014;6:48-51.
12. Werner E. A Systematic Review Of The Effects And Side Effects Of
Treatment With Oral Tetracycline In Acne Vulgaris. Sweden: University of
Gothenburg. 2013.

30
13. Soni K. Fluoroquinolones: Chemistry & Action A Review. New Delhi:
Indo Global Journal of Pharmaceutical Sciences. 2012;2(1):43-53.
14. Redgrave. Fluoroquinolone resistance: mechanisms, impact on bacteria,
and role in evolutionary success. Birmingham: Trends in Microbiology.
2014;22(8):438-8.
15. Oliphant C. Quinolones: A Comprehensive Review. USA: American
Family Physician. 2002;65(3):455-64.
16. Brown GR. Cotrimoxazole - optimal dosing in the critically ill. Brown
Annals of Intensive Care. Canada: Springer. 2014;4(13):1-9.
17. Mohanasoundaram KM. The Prevalence of Inducible Clindamycin
Resistence Among Gram Positive Cocci From Various Clinical Spesimens. Journal
of Clinical and Diagnostic Research. 2011;5:38-40.
18. Alzolibani AA, Zedan K. Macrolides In Chronic Inflammatory Skin
Disorder. Hindawi Publishing Corporation. 2012.
19. Zuckerman JM, Qamat F, Bono BR. Review of Macrolide (Azithromycin),
Ketolids (Telithromycin) and Glycycyclines (Tigecycline). Med Clin N Am.
2011:761-791.
20. PERDOSKI. Panduan Pelayanan Medis Dokter Spesialis Penyakit Kulit
dan Kelamin. Jakarta: PP PERDOSKI. 2011.
21. Aisah S et al. Panduan Pelayanan Medis Departemen Kulit dan Kelamin
RSCM. Jakarta: PPMDKK RSCM. 2007.
22. Stevens DL et al. Practice Guidelines for the Diagnosis and Management
of Skin and Soft Tissue Infections: 2014 Update by the Infectious Diseases Society
of America. USA: IDSA Guidline. 2014;59(2):e1052.
23. Amiruddin MD. Penyakit Menular Seksual. Jogjakarta: PT. LKiS Pelangi
Aksara. 2004.
24. Holloway K, Dijk LV. The World Medicines Situation 2011: Rational Use
of Medicines. Geneva: WHO. 2011:8.
25. Thong. Update on the Management of Antibiotic Allergy. Korea: Allergy
Asthma Immunol Res. 2010;2(2):77-86.

31
26. Bruniera et al. The use of vancomycin with its therapeutic and adverse
effects: a review. European Review for Medical and Pharmacological Sciences.
2015;19:694-700.

32

Anda mungkin juga menyukai