Anda di halaman 1dari 14

TUGAS SHOFSKILL

EKONOMI MONETER
UNIVERSITAS GUNADARMA

BAB V : Pengelolaan Bank Umum Syariah

Nama anggota kelompok :

Eko Prasetyo (52213838)


Rafi Satya W.
Akmal Fauzan (59213748)
Sejarah Perbankan Syariah
Perbankan syariah pertama kali muncul di Mesir tanpa menggunakan
embel-embel islam, karena adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa
saat itu akan melihatnya sebagai gerakan fundamentalis. Pemimpin
perintis usaha ini Ahmad El Najjar, mengambil bentuk sebuah bank
simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di kota Mit Ghamr
pada tahun 1963. Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan
saat itu sudah berdiri 9 bank dengan konsep serupa di Mesir. Bank-bank
ini, yang tidak memungut maupun menerima bunga, sebagian besar
berinvestasi pada usaha-usaha perdagangan dan industri secara langsung
dalam bentuk partnership dan membagi keuntungan yang didapat dengan
para penabung.

Masih di negara yang sama, pada tahun 1971, Nasir Social bank
didirikan dan mendeklarasikan diri sebagai bank komersial bebas bunga.
Walaupun dalam akta pendiriannya tidak disebutkan rujukan kepada
agama maupun syariat islam.

Islamic Development Bank (IDB) kemudian berdiri pada tahun 1974


disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi
Konferensi Islam, walaupun utamanya bank tersebut adalah bank antar
pemerintah yang bertujuan untuk menyediakan dana untuk proyek
pembangunan di negara-negara anggotanya. IDB menyediakan jasa
finansial berbasis fee dan profit sharing untuk negara-negara tersebut dan
secara eksplisit menyatakan diri berdasar pada syariah islam.

Dibelahan negara lain pada kurun 1970-an, sejumlah bank berbasis


islam kemudian muncul. Di Timur Tengah antara lain berdiri Dubai Islamic
Bank (1975), Faisal Islamic Bank of Sudan (1977), Faisal Islamic Bank of
Egypt (1977) serta Bahrain Islamic Bank (1979). Dia Asia-Pasifik, Phillipine
Amanah Bank didirikan tahun 1973 berdasarkan dekrit presiden, dan di
Malaysia tahun 1983 berdiri Muslim Pilgrims Savings Corporation yang
bertujuan membantu mereka yang ingin menabung untuk menunaikan
ibadah haji.
Pengelolaan Bank Umum Syariah

Bank Bagi Hasil sering disebut Bank Syariah (Bank Islam) merupakan
lembaga perbankan yang menggunakan system dan operasi berdasarkan
prinsip-prinsip hukum atau syariah islam, seperti diatur dalam Al Quran
dan Al Hadist. Istilah bank syariah atau bank bagi hasil dapat
diterjemahkan menjadi lebih dari satu pengertian, terutama apabila
dikaitkan dengan pelaksanaan kegiatan operasional sehari-hari. Agar
kegiatan operasional bank syariah lebih terarah, maka Bank Indonesia
memberikan pedoman dan prinsip-prinsip yang harus dijalankan oleh bank
syariah di Indonesia. Prinsip-prinsip tersebut ditungkan dalam UU Nomor 7
Tahun 1992 tentang perbankan, UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992, dan SK Dir.BI Nomor
32/34/KEP/DIR Tanggal 12 Mei 1999 tentang Bank Berdasarkan Prinsip
Syariah.

Bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan prinsip


syariah atau prinsip agama Islam. Sesuai dengan prinsip Islam yang
melarang sistem bunga atau riba yang memberatkan, maka bank syariah
beroperasi berdasarkan kemitraan pada semua aktivitas bisnis atas
kesetaraan dan keadilan. Pada dasarnya, semua jenis transaksi perniagaan
melalui bank syariah diperbolehkan asalkan tidak mengandung unsur
bunga (riba).

Konsep Pengelolaan Dana Nasabah

Dalam system bank syariah dana nasabah dikelola dalam bentuk


titipan maupun investasi. Cara titipan dan investasi berbeda dengan
deposito pada bank konvensional dimana deposito merupakan upaya
membungakan uang. Konsep dana titipan berarti kapan saja nasabah
membutuhkan, bank syariah harus dapat memenuhinya. Akibatnya dana
titipan menjadi sangat likuid. Likuiditas yang tinggi inilah membuat dana
titipan kurang memenuhi syarat suatu investasi yang membutuhkan
pengendapan dana. Sesuai dengan fungsi bank sebagai intermediary yaitu
lembaga keuangan penyalur dana nasabah penyimpan kepada nasabah
peminjam, dana nasabah yang terkumpul dengan cara titipan atau
investasi tadi kemudian dimanfaatkan atau disalurkan ke dalam transaksi
perniagaan yang diperbolehkan pada sistem syariah. Keuntungan dari
pemanfaatan dana nasabah yang disalurkan ke dalam berbagai usaha
itulah yang akan dibagikan kepada nasabah. Jika hasil usaha semakin
tinggi maka semakin besar pula keuntungan yang dibagikan bank kepada
nasabahnya. Namun jika keuntungannya kecil otomatis semakin kecil pula
keuntungan yang dibagikan bank kepada nasabahnya.

Karakteristik Bank Syari'ah

Bank Syari'ah mempunyai ciri yang berbeda dengan bank


konvensional. cirri-ciri ini bersifat Universal dan kualitatif, artinya Bank
Syari'ah beroperasi dimana harus memenuhi ciri-ciri tersebut.

a. Beban biaya yang telah disepakati pada waktu akad perjanjian


diwujudkan dalam bentuk jumlah nominal yang besarnyan tidak
kaku dan dapat ditawar dalam batas yang wajar.

b. Penggunaan prosentasi dalam hal kewajiban untuk melakukan


pembayaran selalu dihindarkan. Karena prosentase bersifat melekat
pada sisa hutang meskipun utang bada batas waktu perjanjian telah
berakhir.

c. Didalam kontrak pembiayaan proyek bank tidak menetapkan


perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti (Fiset Return) yang
ditetapkan dimuka. Bank Syari'ah menerapkan system berdasarkan
atas modal untuk jenis kontark al mudharabah dan al musyarakah
dengan system bagi hasil (Profit and losery) yang tergantung pada
besarnya keuntungan. Sedangkan penetapan keuntungan dimuka
ditetapkan pada kontrak jual beli melalui pembiayaan pemilkikan
barang (al murabahah dan al baiu bithaman ajil, sewa guna usaha
(al ijarah), serta kemungkinan rugi dari kontrak tersebut amat
sedikit.
d. Pegarahan dana masyarakat dalam bentuk deposito atau tabungan
oleh penyimpan dianggap sebagai titipan (al-wadiah) sedangkan
bagi bank dianggap sebagai titipan yang diamanatkan sebagai
pernyataan dana pada proyek yang dibiayai oleh bank sesuai
dengan prinsip-prinsip syari'ah hingga kepada penyimpan tidak
dijanjikan imbalan yang pasti (fixed return). Bentuk yang lain yaitu
giro dianggap sebagai titipan murni (al-wadiah) karena sewaktu-
waktu dapat ditarik kembali dan dapat dikenai biaya penitipan.

e. Bank Syari'ah tidak menerapkan jual beli atau sewa-menyewa uang


dari mata uang yang sama dan transaksinya itu dapat menghasilkan
keuntungan. Jadi mata uang itu dalam memberikan pinjaman pada
umumnya tidak dalam bentuk tunai melainkan dalam bentuk
pembiayaan pengadaan barang selama pembiayaan, barang
tersebut milik bank.

f. Adanya dewan syari'ah yang bertugas mengawasi bank dari sudut


syari'ah.

g. Bank Syari'ah selalu menggunakan istilah-istilah dari bahasa arab


dimana istilah tersebut tercantum dalam fiqih Islam

h. Adanya produk khusus yaitu pembiayaan tanpa beban murni yang


bersifat social, dimana nasabah tidak berkewajiban untuk
mengembalikan pembiayaan (al-qordul hasal)

i. Fungsi lembaga bank juga mempunyai fungsi amanah yang artinya


berkewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas keamanan dana
yang telah dititipkan dan siap sewaktu-waktu apabila dana ditarik
kembali sesuai dengan perjanjian.

Ciri-ciri Bank Syariah

a. Dalam Bank Syari'ah hubungan bank dengan nasabah adalah


hubungan kontrak (akad) antara investor pemilik dana (shohibul
maal) dengn investor pengelola dana (mudharib) bekerja sama
untuk melakukan kerjasama untuk yang produktif dan sebagai
keuntungan dibagi secara adil (mutual invesment relationship).
Dengan demikian dapat terhindar hubungan eskploitatif antara bank
dengan nasabah atau sebaliknya antara nasabah dengan bank.

b. Adanya larangan-larangan kegiatan usaha tertentu oleh Bank


Syari'ah yang bertujuan untuk menciptakan kegiatan perekonomian
yang produktif (larangan menumpuk harta benda (sumber daya
alam) yang dikuasai sebagian kecil masyarakat dan tidak produktif,
menciptakan perekonomian yang adil (konsep usaha bagi hasil dan
bagi resiko) serta menjaga lingkungan dan menjunjung tinggi moral
(larangan untuk proyek yang merusak lingkungan dan tidak sesuai
dengan nilai moral seperti miniman keras, sarana judi dan lain-lain.

c. Kegiatan uasaha Bank Syari'ah lebih variatif disbanding bank


konvensional, yaitu bagi hasil sistem jual beli, sistem sewa beli serta
menyediakan jasa lain sepanjang tidak bertentangan dengan nilai
dan prinsip-prinsip syariah.

Struktur Organisasi

Didalam struktur organisasi suatu bank syariah diharuskan adanya


Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS bertugas mengawasi segala aktivitas
bank agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. DPS ini dibawahi
oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Berdasarkan laporan dari DPS pada
masing-masing lembaga keuangan syariah, DSN dapat memberikan
teguran jika lembaga yang bersangkutan menyimpang. DSN juga dapat
mengajukan rekomendasi kepada lembaga yang memiliki otoritas seperti
Bank Indonesia dan Departemen Keuangan untuk memberikan sanksi.

Jasa Untuk Peminjam Dana


a. Mudhorobah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan
pengusaha. Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut
rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh
oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan
pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti
penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan.
b. Musyarokah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model
partnership atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi
dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi
berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak.
Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini
ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan
mudharabah tidak ada campur tangan.
c. Murobahah , yakni penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank
akan membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian
menjualnya kembali ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan
sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank, dan pengguna jasa
dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya angsuran flat sesuai
akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah margin
yang disepakati. Contoh:harga rumah, 500 juta, margin
bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah
peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati
diawal antara Bank dan Nasabah.
d. Takaful (asuransi islam) adalah encana perlindungan berdasarkan prinsip
Syariah. Dengan berkontribusi sejumlah uang untuk dana takaful umum dalam bentuk
kontribusi partisipatif, Anda melakukan kontrak (aqad) menjadi salah satu peserta
dengan menyetujui untuk saling membantu satu sama lain.

Jasa Untuk Penyimpan Dana

a. Wadi'ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip


dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem
wadiah Bank tidak berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk
memberikan bonus kepada nasabah.
b. Deposito Mudhorobah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam
kurun waktu yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana
nasabah yang dilakukan bank akan dibagikan antara bank dan
nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu.

Prinsip Perbankan Syariah

Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam


antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau
pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan
syariah.

Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah


antara lain :

a. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai


pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
b. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai
akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.
c. Islam tidak memperbolehkan "menghasilkan uang dari uang". Uang
hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena
tidak memiliki nilai intrinsik.
d. Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua
belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka
peroleh dari sebuah transaksi.
e. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak
diharamkan dalam islam. Usaha minuman keras misalnya tidak
boleh didanai oleh perbankan syariah.

Prinsip perbankan syariah pada akhirnya akan membawa kemaslahatan


bagi umat karena menjanjikan keseimbangan sistem ekonominya.

Fungsi Bank Umum Syariah Yaitu Sebagai Berikut:

a. Manajemen Investasi

Bank-bank Islam dapat melaksanakan fungsi ini ber-dasarkan


kontrak mudharabah atau kontrak perwakilan.

b. Investasi
Bank-bank Islam menginvestasikan dana yang ditem-patkan pada
dunia usaha (baik dana modal maupun dana rekening investasi)
dengan menggunakan alat-alat investasi yang konsisten dengan
syariah.

c. Jasa-Jasa Keuangan

Bank Islam dapat juga menawarkan berbagai jasa ke-uangan lainnya


berdasarkan upah (fee based) dalam sebuah kontrak perwakilan
atau penyewaan.

d. Jasa-Jasa Sosial

Konsep perbankan Islam mengharuskan bank Islam me-laksanakan


jasa sosial, bisa melalui dana qardh (pinjaman kebajikan), zakat,
atau dana sosial yang sesuai dengan ajaran Islam. Lebih jauh lagi,
konsep perbankan Islam juga mengharuskan bank Islam memainkan
peran dalam pengembangan sumber daya insani dan menyumbang
dana bagi pemeliharaan serta pengembangan lingkungan hidup.

Kendala-kendala opersional perkembangan Bank Syariah di Indonesia :

1. Jaringan kantor pelayanan dan keuangan Syariah masih relatif terbatas.

2. Sumber Daya Manusia yang kompeten dan professional masih belum optimal.

3. Pemahaman masyarakat terhadap bank syariah sudah cukup baik, namun minat
untuk menggunakannya masih kurang dan masih adanya anggapan bahwa bank
syariah hanya untuk orang-orang Islam saja.

4. Belum adanya Undang-undang yang mengatur bank syariah secara khusus


(masih campur dengan bank konvensional).

5. Bank syariah dimanfaatkan untuk menyimpan dana pasif, sedangkan dana aktif
ditransaksikan serta disimpan di bank konvensional.

Upaya-upaya untuk mengatasi kendala-kendala Perbankan syariah :


1. Untuk mengantisipasi kendala jaringan kantor pelayanan Bank Syariah, pihak BI telah
membuat regulasi tentang kemungkinan pembukaan layanan Syariah pada counter-
counter Unit Kovensional Bank-Bank yang telah mempunyai Unit Usaha Syariah
melalui PBI No.8/3/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006. Dengan demikian, diharapkan
masalah jaringan pelayanan dan keuangan Syariah dapat diatasi karena masyarakat
dapat dilayani dimana saja saat membutuhkan transaksi Bank Syariah.

2. Untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia yang kompeten dan professional adalah
dengan melakukan kursus-kursus atau pelatihan perbankan syariah.

3. Meningkatkan promosi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang apa dan


bagaimana bank syariah seperti melalui pengadaan penyuluhan, seminar dan
sebagainya.

4. Adanya dukungan pemerintah dan otoritas moneter dengan terus melengkapi


peraturan-peraturan yang memberi keleluasaan gerak bagi perbankan syariah, untuk
kian mengembangkan diri sebagai salah satu kekuatan sistem keuangan nasional.

5. Meningkatkan Kualitas pelayanan dan keragaman produk untuk menarik nasabah-


nasabah. Pada era sekarang, pengembangan produk tak bisa dilepaskan dari teknologi.
Pelayanan semacam e-banking, phonebanking, dan kartu debet sudah menjadi suatu
keharusan (meski tetap melalui pengajian apakah sesuai dengan prinsip syariah atau
tidak).

Grand Strategy Pengembangan Pasar Perbankan Syariah

Sebagai langkah konkrit upaya pengembangan perbankan syariah di Indonesia, maka


Bank Indonesia telah merumuskan sebuah Grand Strategi Pengembangan Pasar Perbankan
Syariah, sebagai strategi komprehensif pengembangan pasar yg meliputi aspek-aspek
strategis, yaitu: Penetapan visi 2010 sebagai industri perbankan syariah terkemuka di ASEAN,
pembentukan citra baru perbankan syariah nasional yang bersifat inklusif dan universal,
pemetaan pasar secara lebih akurat, pengembangan produk yang lebih beragam, peningkatan
layanan, serta strategi komunikasi baru yang memposisikan perbankan syariah lebih dari
sekedar bank.
Selanjutnya berbagai program konkrit telah dan akan dilakukan sebagai tahap
implementasi dari grand strategy pengembangan pasar keuangan perbankan syariah, antara
lain adalah sebagai berikut:

1. Menerapkan visi baru pengembangan perbankan syariah pada fase I tahun 2008
membangun pemahaman perbankan syariah sebagai Beyond Banking, dengan
pencapaian target asset sebesar Rp.50 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 40%,
fase II tahun 2009 menjadikan perbankan syariah Indonesia sebagai perbankan syariah
paling atraktif di ASEAN, dengan pencapaian target asset sebesar Rp.87 triliun dan
pertumbuhan industri sebesar 75%. Fase III tahun 2010 menjadikan perbankan
syariah Indonesia sebagai perbankan syariah terkemuka di ASEAN, dengan
pencapaian target asset sebesar Rp.124 triliun dan pertumbuhan industri sebesar 81%.
2. Program pencitraan baru perbankan syariah yang meliputi aspek positioning,
differentiation, dan branding. Positioning baru bank syariah sebagai perbankan yang
saling menguntungkan kedua belah pihak, aspek diferensiasi dengan keunggulan
kompetitif dengan produk dan skema yang beragam, transparans, kompeten dalam
keuangan dan beretika, teknologi informasi yang selalu up-date dan user friendly, serta
adanya ahli investasi keuangan syariah yang memadai. Sedangkan pada aspek
branding adalah bank syariah lebih dari sekedar bank atau beyond banking.
3. Program pemetaan baru secara lebih akurat terhadap potensi pasar perbankan syariah
yang secara umum mengarahkan pelayanan jasa bank syariah sebagai layanan
universal atau bank bagi semua lapisan masyarakat dan semua segmen sesuai dengan
strategi masing-masing bank syariah.
4. Program pengembangan produk yang diarahkan kepada variasi produk yang beragam
yang didukung oleh keunikan value yang ditawarkan (saling menguntungkan) dan
dukungan jaringan kantor yang luas dan penggunaan standar nama produk yang
mudah dipahami.
5. Program peningkatan kualitas layanan yang didukung oleh SDM yang kompeten dan
penyediaan teknologi informasi yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan
nasabah serta mampu mengkomunikasikan produk dan jasa bank syariah kepada
nasabah secara benar dan jelas, dengan tetap memenuhi prinsip syariah; dan
6. Program sosialisasi dan edukasi masyarakat secara lebih luas dan efisien melalui
berbagai sarana komunikasi langsung, maupun tidak langsung (media cetak,
elektronik, online/web-site), yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang
kemanfaatan produk serta jasa perbankan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat.
Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Bank syariah berbeda dengan bank konvensional dalam hal


Pengertian dan Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah akad dan
aspek legalitas, struktur organisasi, lembaga penyelesaian sengketa,
usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja serta corporate
culture/budayanya. Berikut ini penjelasan dari perbedaan kedua jenis bank
tersebut :

Akad atau Perjanjian

Pada bank konvensional perjanjian dibuat berdasarkan hukum


yang positif.

Pada bank syariah perjanjian yang dibuat berdasarkan hukum


islam

Hasil atau Bunga

Pada bank konvensional menggunakan sistem bunga dan


memprioritaskan keuntungan.

Penentuan dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu


untung

Besarnya presentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang


dipinjamkan

Pembayaran bunga tetap tanpa melihat untung atau rugi.

Pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan


berlipat

Pada bank syariah tidak menggunakan sistem bunga melainkan sistem


bagi hasil.
Besarnya dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada
kemungkinan untung rugi

Besarnya berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh

Bergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila merugi,


kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak

Pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan pendapatan.

Dewan Pengawas

Pada bank konvensional tidak terdapat dewan pengawas.

Pada bank syariah terdapat dewan pengawas yang bertugas


mengamati dan mengawasi operasional bank dan semua produk-
produknya sesuai dengan syariat islam.

Lembaga Penyelesai Sengketa

Jika terdapat permasalahan pada bank konvensional


penyelesaiannya dilakukan di pengadilan negeri atau
berdasarkan hukum negara.

Jika pada perbankan syariah terdapat perbedaan atau


perselisihan antara bank dan nasabahnya, kedua belah pihak
tidak menyelesaikannya di pengadilan negeri, tetapi
menyelesaikannya sesuai tata cara dan hukum syariah.

Ikatan dengan Nasabah

Pada bank konvensional hubungan dengan nasabah bersifat


kredutur-debitur

Pada bank syariah ikatan dengan nasabahnya bersifat kemitraan

Referensi:
-http://www.google.com

- Sawitri, Peni dan Eko Hartanto. 2007. Bank dan Lembaga Keuangan Lain.
Jakarta: Gunadarma.

- http://ekiszone.co.cc/category/perbankan-islam

http://www.gfpanjalu.com/2012/08/pengertian-tujuan-dan-ciri-ciri-bank-
syariah/

http://duniabaca.com/sejarah-prinsip-serta-produk-perbankan-syariah.html

http://www.bi.go.id/id/perbankan/syariah/Contents/Default.aspx

http://jalusho.blogspot.co.id/2008/05/kendala-kendala-opersional-bank-
syariah.html