Anda di halaman 1dari 13

LEMBARAN KERJA MAHASISWA

MATA KULIAH FARMASI SOSIAL

PROGRAM PENDIDIKAN APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UIVERSITAS ANDALAS

Dosen : Dra. Rustini, M.Si., Apt


Pokok Bahasan: Sarana Pelayanan Kefarmasian di Apotek

IDENTITAS MAHASISWA DAN TUGAS


Nama Farras Amany Husna
No BP 1741013122
Kelompok A
Pertemuan ke 6
Hari/Tanggal Rabu/29 Maret 2017
Sub Pokok Bahasan Persyaratan Pendirian Apotek

A. KASUS
Seorang pemilik sarana apotek memberikan tawaran kepada apoteker Roni
untuk menjadi apoteker di apotek yang akan didirikannya. PSA menyerahkan
sepenuhnya kepada apoteker Roni untuk mempersiapkan pendirian apotek ini
Instruksi:
a. Buatlah peta konsep sehingga kasus tersebut menjadi jelas bagaimana
problem utamanya dan bagaimana pula solusi yang diharapkan
b. Apa yang perlu dilakukan oleh apoteker Roni dalam kasus ini (menurut per UU
yang berlaku)

B KEY WORDS/TERMINOLOGI FARMASI


1. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh Apoteker.
2. Surat Izin Apotek yang selanjutnya disingkat SIA adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada Apoteker sebagai
izin untuk menyelenggarakan Apotek.
3. Pemilik Sarana Apotek (PSA) adalah orang yang memiliki modal yang
mendirikan apotek
4. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.
5. Surat Tanda Registrasi Apoteker yang selanjutnya disingkat STRA adalah
bukti tertulis yang diberikan oleh konsil tenaga kefarmasian kepada
apoteker yang telah diregistrasi.

6. Surat Izin Praktik Apoteker yang selanjutnya disingkat SIPA adalah bukti
tertulis yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada
Apoteker sebagai pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik
kefarmasian.

C RUMUSAN KASUS
1. Apa problem utama dan bagaimana solusi dari kasus ini?
2. Apa saja syarat atau hal-hal yang perlu dipersiapkan apoteker Roni untuk
mendirikan apotek?

D ANALISIS KASUS
Problem utama dari kasus ini adalah PSA tidak hanya menawarkan apoteker Roni
untuk menjadi apoteker di apoteknya namun menyerahkan sepenuhnya urusan
pendirian apotek miliknya kepada apoteker Roni, sehingga apoteker Roni harus
benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengurus pendirian apotek
milik PSA tersebut. Berikut beberapa aturan terkait pendirian apotek (Merujuk
pada PMK No.9 tahun 2017 tentang Apotek)
BAB II
PERSYARATAN PENDIRIAN

Bagian Kesatu
Umum
Pasal 3
1. Apoteker dapat mendirikan Apotek dengan modal sendiri dan/atau modal dari
pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan.
2. Dalam hal Apoteker yang mendirikan Apotek bekerjasama dengan pemilik
modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh
Apoteker yang bersangkutan.
Pasal 4
Pendirian Apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi:
a. lokasi;
b. bangunan;
c. sarana, prasarana, dan peralatan; dan
d. ketenagaan.
Bagian Kedua
Lokasi

Pasal 5
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat mengatur persebaran Apotek di
wilayahnya dengan memperhatikan akses masyarakat dalam mendapatkan
pelayanan kefarmasian.
Bagian Ketiga
Bangunan

Pasal 6
1. Bangunan Apotek harus memiliki fungsi keamanan, kenyamanan, dan
kemudahan dalam pemberian pelayanan kepada pasien serta perlindungan dan
keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan
orang lanjut usia.
2. Bangunan Apotek harus bersifat permanen.
3. Bangunan bersifat permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
merupakan bagian dan/atau terpisah dari pusat perbelanjaan, apartemen,
rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis.
Bagian Keempat
Sarana, Prasarana, dan Peralatan

Pasal 7
Bangunan Apotek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 paling sedikit memiliki
sarana ruang yang berfungsi:
a. penerimaan Resep;
b. pelayanan Resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas);
c. penyerahan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan;
d. konseling;
e. penyimpanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan; dan
f. arsip.
Pasal 8
Prasarana Apotek paling sedikit terdiri atas:
a. instalasi air bersih;
b. instalasi listrik;
c. sistem tata udara; dan
d. sistem proteksi kebakaran.
Pasal 9
1. Peralatan Apotek meliputi semua peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
pelayanan kefarmasian.
2. Peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain meliputi rak obat,
alat peracikan, bahan pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi, komputer,
sistem pencatatan mutasi obat, formulir catatan pengobatan pasien dan
peralatan lain sesuai dengan kebutuhan.
3. Formulir catatan pengobatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
merupakan catatan mengenai riwayat penggunaan Sediaan Farmasi dan/atau
Alat Kesehatan atas permintaan tenaga medis dan catatan pelayanan apoteker
yang diberikan kepada pasien.
Pasal 10
Sarana, prasarana, dan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 sampai
dengan Pasal 9 harus dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan baik.
Bagian Kelima
Ketenagaan

Pasal 11
1. Apoteker pemegang SIA dalam menyelenggarakan Apotek dapat dibantu oleh
Apoteker lain, Tenaga Teknis Kefarmasian dan/atau tenaga administrasi.
2. Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) wajib memiliki surat izin praktik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Lokasi Pendirian Apotek
Pemilihan lokasi apotek sangat penting karena dengan memilih lokasi yang dapat
mempengaruhi kelancaran usaha apotek tersebut. Dalam penentuan lokasi
pendirian apotek, hal hal yang perlu dipertimbangkan antara lain:
1. Strategis, dekat dengan pusat-pusat pelayanan kesehatan seperti, Poliklinik,
praktek bersama dengan dokter. Apotek yang didirikan berada di dekat atau
sekitar pusat pelayanan kesehatan akan memudahkan pasien untuk
menebus obat.
2. Berada di jalan utama.
3. Di pusat kota atau berada disekitar perumahan terutama di perumahan
baru.
4. Arus lalu-lintas yang mendukung kelancaran mobilitas ke apotek, mudah
atau tidaknya pasien menjangkau apotek, kemudahan dalam memarkir
kendaraannya.
5. Jumlah dan jarak apotek dan toko obat yang berada disekitar lokasi, karena
semakin banyak apotek serta jarak yang terlalu dekat maka semakin tinggi
persaingan antar apotek.
6. Keadaan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Makin tinggi tingkat pendidikan
masyarakat, kesadaran untuk hidup sehat akan semakin besar, sehingga
kemauan untuk berobat lebih tinggi.
7. Jumlah penduduk sekitar apotek. Semakin padat penduduknya maka
kemungkinan penduduk yang akan berobat semakin banyak.
8. Tersedianya sarana penunjang seperti listrik, telepon, air yang memadai di
lokasi sehingga memudahkan dalam melakukan kegiatan di apotek.

Bangunan apotek
Persyaratan ini dalam keputusan menteri kesehatan Nomor 1027 tahun 2004
tentang Standar pelayanan Kefarmasian di apotek yaitu:
1. Apotek berlokasi pada daerah yang ramai, sehingga mudah dikenali oleh
masyarakat
2. Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata
apotek
3. Apotek harus dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat
4. Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari
aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk
menunjukan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko
kesalahan penyerahan
5. Masyarakat diberi akses secara lagsung dan mudah oleh apoteker untuk
memperoleh informasi dan konseling
6. Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya, apotek harus bebas dari
hewan pengerat, serangga/pest
7. Apotek mempunyai suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari
pendingin
8. Apotek harus memiliki:
a. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
b. Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan
brosur/materi informasi
c. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan
meja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien
d. Ruang racikan
e. Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien.
9. Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan
obat dan barang-barang lain yang tersusun rapi, terlindung dari debu,
kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi
ruangan dengan temperatur yang telah ditetapkan
Pasal 18
1. Apotek wajib memasang papan nama yang terdiri atas:
a. papan nama Apotek, yang memuat paling sedikit informasi mengenai nama
Apotek, nomor SIA, dan alamat; dan
b. papan nama praktik Apoteker, yang memuat paling sedikit informasi
mengenai nama Apoteker, nomor SIPA, dan jadwal praktik Apoteker.
2. Papan nama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dipasang di dinding
bagian depan bangunan atau dipancangkan di tepi jalan, secara jelas dan
mudah terbaca.
Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang Pelayanan
Kefarmasian di Apotek meliputi sarana yang memiliki fungsi:
1. Ruang penerimaan Resep
Ruang penerimaan Resep sekurang-kurangnya terdiri dari tempat
penerimaan Resep, 1 (satu) set meja dan kursi, serta 1 (satu) set
komputer. Ruang penerimaan Resep ditempatkan pada bagian paling depan
dan mudah terlihat oleh pasien.
2. Ruang pelayanan Resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas)
Ruang pelayanan Resep dan peracikan atau produksi sediaan secara
terbatas meliputi rak Obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang
peracikan sekurang-kurangnya disediakan peralatan peracikan, timbangan
Obat, air minum (air mineral) untuk pengencer, sendok Obat, bahan
pengemas Obat, lemari pendingin, termometer ruangan, blanko salinan
Resep, etiket dan label Obat. Ruang ini diatur agar mendapatkan cahaya
dan sirkulasi udara yang cukup, dapat dilengkapi dengan pendingin ruangan
(air conditioner).
3. Ruang penyerahan Obat
Ruang penyerahan Obat berupa konter penyerahan Obat yang dapat
digabungkan dengan ruang penerimaan Resep.
4. Ruang konseling
Ruang konseling sekurang-kurangnya memiliki satu set meja dan kursi
konseling, lemari buku, buku-buku referensi, leaflet, poster, alat bantu
konseling, buku catatan konseling dan formulir catatan pengobatan pasien.
5. Ruang penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai
Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur,
kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan
keamanan petugas.Ruang penyimpanan harus dilengkapi dengan rak/lemari
Obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari
penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan Obat
khusus, pengukur suhu dan kartu suhu.
6. Ruang arsip
Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
serta Pelayanan Kefarmasian dalam jangka waktu tertentu.
Sumber Daya Manusia di Apotek
A. Struktur Organisasi Apotek
Dalam pengelolaan apotek yang baik, sistem organisasi yang jelas merupakan
salah satu faktor yang dapat mendukung keberhasilan suatu apotek. Oleh
karena itu dibutuhkan adanya garis wewenang dan tanggung jawab yang jelas
dan saling mengisi, disertai dengan job description (pembagian tugas) yang
jelas pada masing-masing bagian didalam struktur organisasi tersebut.
B. Personil Apotek
Personil apotek merupakan faktor penting dan perlu diperhatikan dalam
menentukan kelangsungan sebuah apotek karena personil apotek merupakan
pelaku utama segala kegiatan yang terjadi di apotek.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan


Kefarmasian, pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek dilakukan oleh
Apoteker dan tanggung jawab berada di tangan Apoteker. Dalam menjalankan
pekerjaan kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian, Apoteker dapat
dibantu oleh Apoteker Pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian.

Untuk dapat menjalankan pekerjaan kefarmasian, Apoteker harus memiliki


sertifikat kompetensi profesi, memiliki ijazah dari institusi pendidikan sesuai
peraturan perundang-undangan, Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) dan
Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) untuk dapat melaksanakan pekerjaan
kefarmasian pada apotek.

Syarat untuk memperoleh STRA tercantum dalam Peraturan Pemerintah No.


51 tahun 2009 Bab III mengenai Tenaga Kefarmasian pasal 40, antara lain :
1. Memiliki ijazah Apoteker
2. Memiliki sertifikat kompetensi profesi
3. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker
4. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang
memiliki surat izin praktik
5. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi

tentang Apotek dijelaskan dengan detil mengenai rincian persyaratan pendirian


apoteknya. Terkait perizinan, setiap apotek masih membutuhkan Surat Izin Apotek
(SIA), yakni:
Bagian III
PERIZINAN

Bagian Kesatu
Surat Izin Apotek
Pasal 12
1. Setiap pendirian Apotek wajib memiliki izin dari Menteri.
2. Menteri melimpahkan kewenangan pemberian izin sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
3. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa SIA.
4. SIA berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi
persyaratan.
Pasal 13
1. Untuk memperoleh SIA, Apoteker harus mengajukan permohonan tertulis
kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dengan menggunakan Formulir 1.
2. Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditandatangani oleh
Apoteker disertai dengan kelengkapan dokumen administratif meliputi:
a. fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli;
b. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);
c. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker;
d. fotokopi peta lokasi dan denah bangunan; dan
e. daftar prasarana, sarana, dan peralatan.
3. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima permohonan dan
dinyatakan telah memenuhi kelengkapan dokumen administratif sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menugaskan tim
pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotek
dengan menggunakan Formulir 2.
4. Tim pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus melibatkan unsur
dinas kesehatan kabupaten/kota yang terdiri atas:
a. tenaga kefarmasian; dan
b. tenaga lainnya yang menangani bidang sarana dan prasarana.
5. Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak tim pemeriksa ditugaskan,
tim pemeriksa harus melaporkan hasil pemeriksaan setempat yang dilengkapi
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
dengan menggunakan Formulir 3.
6. Paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja sejak Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota menerima laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan
dinyatakan memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
menerbitkan SIA dengan tembusankepada Direktur Jenderal, Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi, Kepala Balai POM, Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, dan Organisasi Profesi dengan menggunakan Formulir 4.
7. Dalam hal hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dinyatakan
masih belum memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota harus
mengeluarkan surat penundaan paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari
kerja dengan menggunakan Formulir 5.
8. Tehadap permohonan yang dinyatakan belum memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud pada ayat (7), pemohon dapat melengkapi persyaratan
paling lambat dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat penundaan diterima.
9. Apabila pemohon tidak dapat memenuhi kelengkapan persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (8), maka Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
mengeluarkan Surat Penolakan dengan menggunakan Formulir 6.
10. Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menerbitkan SIA melebihi
jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (6), Apoteker pemohon dapat
menyelenggarakan Apotek dengan menggunakan BAP sebagai pengganti SIA.
Pasal 14
1. Dalam hal pemerintah daerah menerbitkan SIA sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13 ayat (6), maka penerbitannya bersama dengan penerbitan
SIPA untuk Apoteker pemegang SIA.
2. Masa berlaku SIA mengikuti masa berlaku SIPA.
D PETA KONSEP/MIND MAP

PMK No 9 tahun 2017

Pendirian Apotek

PSA Apoteker

Lokasi SPR SIA

Apoteker
Bangunan Ketenangan

diperiksia

Ditolak Diterima
E RESUME/LO
Pendirian Apotek harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan,
sarana,prasarana, dan peralatan, dan ketengan.
Apoteker dapat mendirikan Apotek dengan modal sendiri dan/atau modal dari
pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan.
Dalam hal Apoteker yang mendirikan Apotek bekerjasama dengan pemilik
modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh
Apoteker yang bersangkutan.

F DAFTAR PUSTAKA

Republik Indonesia. 2017. UU No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek. Sekretariat


Kabinet RI. Jakarta.