Anda di halaman 1dari 45

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

Nama Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila


Jumlah sks :2
Perguruan Tinggi : Poltekkes, Akpar, AAK, AKG.
Dosen : Drs.H.Syahri Nehru Husain, M.Pd
Drs.H. Ismail Djamil, SKM.

Perkuliahan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan


ke..
1. Landasan Pend. Pancasila
1. Pendahuluan 2. Pembahasan Pancasila secara Ilmiah
3. Pengertian Pancasila

2. Sejarah Perjuangan bangsa 1. Perjuangan bgs Indo. ( masa kejayaan )


Indonesia

3. Sda 2. Masa Penjajahan

4. Sda 3. Proses Perumusan Pancasila

5. Pembukaan UUD 1945 1. Hakikat Pembukaan UUD 1945

6. Sda 2. Isi Pembukaan UUD 1945


3. Kedudukan Pembukaan UUD 1945.

7. Sda 4. Fungsi Pembukaan UUD 1945


5. Hubungan Pembukaan UUD 1945

8. Mid Semester Materi 1 s/d 7

9. Batang Tubuh UUD 1945 1. Hukum Dasar


2. Konstitusi.
3. Struktur Premerintahan Indonesia

10. Sda 4. Isi Batang Tubuh UUD 1945


5. Hubungan Antar Lembaga.
6. HAM berdasarkan UUD 1945

11. Sda 7. Dinamika Pelaksanaan UUD 1945

12. Pancasila sebagai Sistem Filsafat 1. Pengertian Filsafat


Ontologi, Epistemologi) 2. Perumusan Pancasila sbg sistem
3. Kesatuan Pancasila sbg Sistem Filsafat.
1 2 3

13 Pancasila sebagai sistem Etika 1. Pengertian Nilai, Norma, Moral.


(Axiologi) 2. Pancasila sbg, Nilai Fundamental
3. Makna nilai-nilai Pancasila

14 Pancasila sbg Ideologi 1. Pengertian Ideologi.


2. Kedudukan dan fungsi Pancasila.
3. Perbandingan Ideologi.

15 Pancasila sbg Paradigma dalam 1. Bidang Iptek


Pembangunan 2. Bidang Ipoleksosbudhankam
3. Dalam k4hidupan sehari-hari.

16 Ujian Final semester Materi 9 s/d 15


Kuliah 1 PENDAHULUAN.

1. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti materi kuliah, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan tentang Landasan pelaksanaan pend. Pancasila
2. Menguraikan Pembahasan Pancasila secara Ilmiah
3. Menjelaskan pengertian Pancasila.

2. LANDASAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN PANCASILA

Perjuangan Sejak Zaman Kerajaan Kutai, Sriwijaya, Mojopahit

Budaya Indonesia Asli

UU No.20/2003 dan No.PP No.60/1999.


Kep. Dirjen DIKTI No.
467/DIKTI/KEP/1999 dan 265/2000

Sebagai Bangsa Yang :


- Berketuhanan
- Bersatu
- Berkemanusiaan
- Bermusyawarah
- Berkeadilan

H K Y F
I U U I
S L R L
T T I O
O U D S
R R I O
I S F
S I
S
* LANDASAN HISTORIS
Bangsa Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang :
- Zaman kerajaan Kutai, Sriwijaya, Mojopahit, dll.
- Meliliki prinsip atau pandangan hidup yang kuat dan mandiri
- Memiliki nilai-nilai yang melekat dalam kehidupan.
LANDASAN KULTURAL.
Bangsa Indonesia memiliki suatu pandangan hidup dan filsafat hidup sebagai
ideologinya.
*. Nilai-nilai kemasyarakatan.
*. Nilai-nilai kenegaraan.
*. Indonesia sbg bangsa yang heterogen (suku, agama, ras, budaya.
*. Pancasila sbg petunjuk yang kuat untuk mempersatukan bangsa yang beragam

C. LANDASAN YURIDIS
* UUD 1945
* UU Nomor : 20 Tahun 2003 ttg. Sistem Pendidikan Nsional
* PP Nomor 60 Tahun 1999. tentng Pendidikan Tinggi
* Kepmen Dikti 265/Dikti/Kep/2000 Kurikulum Pancasila

LANDASAN FILOSOFIS
Nilai-Nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat adalah:
Ketuhanan.
Kemanusiaan.
Kesatuan
Musyawarah dan kerakyatan.
Berkeadilan.
3. PEMBAHASAN PANCASILA SECARA ILMIAH
SYARAT-SYARAT SUATU ILMU :
1. MEMPUNYAI OBYEK
2. MEMPUNYAI METODE
3. MEMPUNYAI SISTEM
4. BERSIFAT UNIVERSAL
OBYEK PANCASILA :
1. OBYEK FORMAL
2. OBYEK MATERIAL
OBYEK FORMAL :
PANCASILA DAPAT DIPANDANG DALAM BERBAGAI SUDUT PANDANG
Misalnya dilihat dari sudut :
Moral maka Pancasila mempunyai obyek pembahasan pada moral Pancasila
Ekonomi, maka obyek pembahasannya pada Ekonomi Pancasila
dll.

OBYEK MATERIAL: Pancasila merupakan sasaran pembahasan dan pengkajian yang bersifat
empiris dan non empiris. Secara Empiris Pancasila merupakan hasil budaya Bangsa
Indonesia. Dengan demikian obyek material Pancasila adalah bangsa Indonesia dengan
segala aspek budaya. Secara non empiris meliputi nilai-nilai budaya nilai moral, religi,
sifat dan karakter dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara.

MEMPUNYAI METODE
Yaitu suatu cara atau system pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan suatu kebenaran
yang bersifat obyektif.
Salah satu pembahasan Pancasila adalah dengan menggunakan metode Analitika Syntetic karena :
Obyek pancasila adalah berkaitan dengan hasil budaya dan obyek sejarah. Oleh karena itu
digunakan metode hermeneutika yaitu suatu metode untuk menemukan makna dibalik obyek.
Dengan demikian metode koherensi historis, metode pemahaman, penafsiran dan interpretasi
didasarkan atas hukum-hukum logika dalam penarikan kesimpulan.

MEMPUNYAI SISTEM
Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh. Merupakan kesatuan yang majemuk tunggal. Sila-
sila Pancasila tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling memberi makna satu dengan lainnya.

BERSIFAT UNIVERSAL
Kajian Pancasila tidak dibatasi oleh ruang, keadaan, situasi, kondisi maupun jumlah tertentu.
Pancasila mengandung esensi yang bersifat universal.
TINGKATAN PENGETAHUAN ILMIAH:
1. Pengetahuan Deskriptif ( bagaimana )
2. Pengetahuan Kausal (mengapa)
3. Pengetahuan Normatif ( kemana)
4. Pengetahuan Esensial (apa )

4. BEBERAPA PENGERTIAN PANCASILA


1. Pancasila Secara Etimologis
2. Pancasila Secara Historis
3. Pancasila Secara Terminologis
Secara Etimologis
Panca = lima, Sila = dasar, azas, fundamen
Secara Historis
Ditetapkan tgl 1 Juni 1945 setelah melalui proses sidang-sidang, BPUPKI, PPKI, Piagam Jakarta
Secara Terminologis
Ditetapkan dalam:
Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat.
Penjabarannya pada Batang Tubuh UUD 1945 yang terdiri:
o 37 pasal
o 1 Aturan peralihan ( 4 pasal ), dan
o 1 Aturan peralihan ( 2 ayat)

RUMUSAN PANCASILA
1. KETUHANAN YANG MAHA ESA.
2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB.
3. PERSATUAN INDONESIA.
4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM
PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN
5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
Kuliah II

PERJUANGAN BANGSA INDONESIA


PADA MASA KEJAYAAN
A. MASA KERAJAAN SRIWIJAYA
1. Berdiri Abad VII (600 1400)
2. Letak bagian selatan Selat Malaka (Sekitar Palembang Sekarang).
3. Raja pertama Wangsa Syailendra (Termuat dalam prasasti Kedukan Bukit di kaki gunung
Siguntang yang bertarikh 605 caka atau 683 M).
4. Wilayahnya meliputi :
Selat Malaka
Selat Karimata
Selat Sunda
Pantai Siam
* Beberapa kerajaan yang ditaklukan dan masuk dalam kekuasaannya seperti :
Kerajaan Melayu di Jambi (686 M )
Kerajaan Bangka (688 M)
Kerajaan Tulang Bawang
Kerajaan Brunai
Kerajaan Taruma Negara

5. Tahun 775 merupakan kerajaan terbesar, bentuk kerajaan Maritim yang bercirikan kedatuan
( Datuk)

6. Sriwijaya terkenal sebagai :


Kunci lalu lintas perdagangan di Selat Sunda

7. Beberapa hal yang merupakan awal kepribadian bangsa :


Perdagangan
Hubungan luar negeri
Kehidupan keagamaan/kepercayaan
System kedatuan ; terdapat adanya:
Petugas pengumpul barang dagangan
Pengawas
Pengaruh Hindu dan Budha
8. Beberapa ajaran Hindu:
Kasta dalam masyarakat :
Brahmana ; Pendeta, Raja-raja
Ksatria
Waisya ; Pedagang, petani
Sudra ; Tidak mempunyai pekerjaan
Kebudayaan barat Teknologi

B. MASA KERAJAAN MOJOPAHIT


1. Berdiri tahun 1293 : Oleh Raden Wijaya (Brawijaya).
2. Masa kejayaan dibawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Patih Gajahmada serta Laksamana
Nala.
3. Wilayahnya :
Mulai Semenanjung Melayu (Malaysia sekarang), Irian Jaya, Kalimantan Utara.
4. Ciri keagungan Mojopahit :
a. Satya Bhakti Aprabu ; Setia kepada Negara dan Kerajaan.
b. Tan Satresna ; tak pernah memikirkan pribadi dan balas jasa.
c. Hanyanken Musuh ; keberanian dan kemampuan menghalau musuh.
d. Prabu Ginung Pratina ; selalu mengagungkan kebesaran raja dan Negara.

Tekad Mojopahit oleh Panglima Gajah Mada untuk menumpas pemberontakkan sadeng
adalah Sumpah Palapa yaitu tekad untuk mempersatukan Nusantara, yaitu : Seram,
Tanjung Haru, Pohan, Dompo, Bali, Palembang, dan Tumasik.

5. Susunan ketatanegaraan Mojopahit (dalam buku NEGARAKERTAGAMAMpu Prapanca)


tahun 1365, sbb :
a. Bidang Ketata Negaraan :
Negara Pusat / Agung
Daerah Bawahan
b. Susunan Pemerintahan :
Raja
Dewan Mahkota / Dewan Sabta Prabu
Dewan Menteri
Majelis Pendeta (Darmadyaksa)
Kesenian dan Kebudayaan
Misalnya. Bangunan Candi, bangunan Istana, dll.
6. Beberapa nilai-nilai kebudayaan yang dapat kita gali dari kebesaran keprabuan Mojopahit :
Semboyan Bhineka Tunggal Ika ( Mpu Tantular = Sutasoma)
Nilai Kemanusiaan = Kerukunan
Nilai Keagamaan = Hindu dan Budha
Nilai Persatuan = Saling menolong
Nilai Kerakyatan = Musyawarah, Damai
Nilai Keadilan = Melindungi Masyrakat
Nilai Budaya = Sopan santun, kerja keras, dll.
Hubungan Luar Negeri.

Kuliah III
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA PADA MASA PENJAJAHAN

Dibagi dalam 2 periode :


Perjuangan sebelum tahun 1900
Perjuangan setelah tahun 1900
PERJUANGAN SEBELUM TAHUN 1900
Pada akhir abad Ke XIX dan permulaan abad XX, Bangsa Belanda telah menguasai seluruh
kepulauan Nusantara.
Pada awal kedatangan bangsa Belanda pimpinan Cornelis De Houtman tahun 1596 mendarat di
Indonesia.
Bangsa-bangsa Barat yang datang ke Indonesia dengan tujuan dagang seperti :
~ Portugis
~ Spanyol
~ Inggris
~ Belanda
Mereka memperebutkan Indonesia karena:
~ Kesuburan
~ Hasil Bumi.
Sejak datangnnya bangsa-bangsa penjajah, bangsa Indonesia memperjuangkan apa yang sudah
dimilikinya (Sriwijaya dan Mojopahit) sehingga dapat dikatakan sebagai suatu tonggak sejarah
penting dalam perjuangan bangsa
Pada awal kedatangan bangsa Belanda adalah berdagang;
sehingga :
~ Diterima baik oleh bangsa Indonesia
Akan tetapi :
~ Berubah menjadi penjajah mereka mengasai bidang:
Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Keamanan
Melancarkan politik devide et impera dengan cara memecah belah bangsa :
~ Muncul dengan kerajaan-kerajaan baru
~ Monopoli perdagangan
~ Tanam paksa
~ Membatasi orang-orang untuk pendidikan.
Segala kekayaan Indonesia diangkut ke Belanda :
~ Rempah-rempah sangat dibutuhkan.
~ Negeri Belanda tergolong miskin
Dengan kenyataan ini bangsa Indonesia melakukan perlawanan, antara lain:
Sultan Agung di Mataram, tahun 1645
Sultan Agung Tirtajasa di Banten, 1650
Sultan Hasanuddin di Makassar, 1660
Untung Suropati dan Trunojoyo di Jawa Timur, 1670
Iskandar di Minangkabau, 1680

Pada awal abad XIX Belanda mengubah system politik kolonialnya, yaitu membentuk perseroan
dagang Partikelir yang disebut Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) akhir abad ke 17
(1602)

Melihat kondisi bangsa Indonesia pada waktu itu yang penuh dengan penindasan dan
kesengsaraan dalam bidang :
~ Ekonomi / perdagangan
~ Pendidikan
~ Sosial, budaya
~ Politik
Maka pada permulaan abad ke 19 bangsa Indonesia mengadakan perlawanan seperti :
Pattimura Ambon/Maluku, 1817
Imam Bonjol Minangkabau, 1822-1837
Diponegoro Mataram, 1825-1930
Sultan Badaruddin Palembang, 1817
Pangeran Antasari Kalimantan, 1860
Jelantik Bali, 1850
Anak Agung Made Lombok, 1895
Teuku Umar Aceh, 1873-1904
Sisingamangaraja Batak, 1900
dll.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sifat perlawanan sehingga mengalami kegagalan :
Melakukan perlawanan fisik
Terjadi didaerah masing-masing
Tidak ada koordinasi
Tidak ada persatuan
Penjajah menggunakan tenaga-tenaga bangsa Indonesia sendiri utnuk menghantam
bangsanya sendiri
Peralatan yang sangat sederhana
System pecah belah (adu domba)

PERJUANGAN SETELAH TAHUN 1900

1. Perjuangan Antara tahun 1908-1927


Menyadari bahwa dengan perjuangan fisik tidak cukup untuk mengusir bangsa penjajah.
Perlu ada cara yang lebih terkoodinir dan terpadu.
Sehingga lahirlah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. (20-Mei-1908)
yang diberi nama Budi Utomo yang dipimpin oleh Dr Wahidin Sudiro Husodo.

Tujuan Budi Utomo :


Menciptakan kesadaran Kebangkitan nasional, dalam bidang :
~ Pendidikan
~ Sosial
~ Kebudayaan
~ Politik
Keanggotaan Budi Utomo :
~ Kalangan Priyayi (Bupati, Wedana, Pegawai)
~ Kaum terpelajar
Faktor-faktor penyebab Budi Utomo mengalami kemunduran :
1. Keanggotannya
2. Dipengaruhi kebudayaan Jawa
3. Bersikap moderat dengan Belanda

Tahun 1911 di Surakarta didirikan organisasi ekonomi yang berasaskan Islam dengan nama
Serikat Dagang Islam oleh H. Samanhudi.
Organisasi mengalami perkembangan sehingga tahun 1912 dirubah menjadi Serikat Islam
yang tidak hanya terbatas pada golongan pedagang Islam.

Faktor kemunduran Serikat Islam :


Pertentangan dalam tubuh pimpinan sehingga muncul paham Komunisme melalui Indische
Social

persatuan dan kesatuan untuk perjuangan Kemerdekaan yang mempunyai wadah organisasi :
~ Muhamadiyyah
~ NU
~ PKI
~ Taman Siswa

2. Perjuangan Antara Tahun 1927-1938


Setelah ada koordinasi perjuangan ditingkatkan untuk menuntut kemerdekaan, maka lahirlah
organisasi-organisasi :
~ PNI 9-7-1928
~ PPKI sebagai Federasi PNI, Budi Utomo, Pasundan, Kaum Betawi, dsb.
~ Pemuda-pemuda tidak ketinggalan yang dipelopori oleh :
Muh. Yamin
Kuntjoro Purbopranoto
Wongso Suseno, dll.
Mengumandangkan ikrar Sumpah Pemuda, yang berisi pengakuan adanya :
Bangsa
Tanah air
Bahasa
yaitu Indonesia.
PNI bubar 25 April 1931, kemudian
Partindo didirikan, 30 April 1931 oleh Mr. Sartono. Tujuan Partindo adalah :
Menentang Imperialisme, Kapitalisme dan bersikap non Koperasi.
Lahir pula Pendidikan Nasional Indonesia oleh Bung Hatta dan Sutan Syahrir.

3. Perjuangan Antara Tahun 1938-1942


Pada tahun 1939 lahirlah gabungan politik Indonesia yang merupakan Federasi Partai
Indonesia.
Gerakan ini terkenal dengan nama Indonesia Berparlemen.

Karena gerakan-gerakan yang non koperasi belum berhasil, maka dirubah menjadi
berkoperasi dengan pemerintah Hindia Belanda.

4. Perjuangan Antara Tahun 1942-1945


Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, 9 Maret 1942.
Pada awal Jepang berada di Indonesia, banyak semboyan yang dikumandangkan, seperti :
Nippon Indonesia sama-sama (Rumpun Asia)
Nippon Indonesia Saudara tua
Nippon Cahaya Asia
Jepang memahami apa yang, diinginkan oleh Indonesia, yakni kemerdekaan.
Untuk menarik simpati, dan tujuan agar bangsa Indonesia membantu dalam PD II, maka :
Dijanjikan akan Kemerdekaan
Membebaskan dari penjajahan barat
Membentuk BPUPKI (29-April-1945)

Terbentuknya BPUPKI secara legal Indonesia :


~ Mempersiapkan kemerdekaannya.
~ Dilakukan sidang-sidang BPUPKI (tugas BPUPKI selesai)
Dibentuk PPKI (9-Agustus-1945)
(DOKURITZU JUNBI IINKAI)
Organisasi inilah yang bertugas untuk :
~ Menentapkan dasar Negara
~ Menetapkan Presiden dan Wakil Presiden.

Kuliah IV
PROSES PERUMUSAN PANCASILA
DAN KEMERDEKAAN INDONESIA

A. LAHIRNYA BPUPKI
1. Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) adalah badan
bentukan pemerintah Jepang dengan nama Dokuritzu Jumbi Choosakai pada tanggal 29 April
1945, yang pelantikannya tanggal 28 Mei 1945, oleh Saiko Syikikan.
2. BPUPKI terdiri :
Ketua : Dr. Radjiman Wedyodiningrat
Ketua Muda : Ichibanggase
Ketua Muda : R. Pandji Soeroso
Anggota : 60 orang, terdiri :
54 orang Indonesia
4 orang keturunan Cina
1 orang keturunan Eropa
1 orang keturunan Arab
Anggota Istimewa : 7 orang Jepang

3. Sidang-sidang pertama yang dilakukan mulai tanggal 29 Mei 1945 s/d 1 Juni 1945.
a. Pada sidang Pertama oleh Ketua: Dr. Radjiman telah membicarakan tentang dasar Indonesia
merdeka.
b. Muhammad Yamin tampil pada tanggal 29 Mei 1945 dengan mengemukakan konsep dasar
Indonesia merdeka baik secara lisan maupun secara tertulis. Konsep tersebut :
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
( Naskah Persiapan UUD 1945 )
c. R.P Soepomo pada tanggal 31 Mei 1945 mengemukakan pandangan-pandangan tentang
Indonesia merdeka :
1. Negara yang akan dibentuk harus berdasarkan aliran pikiran kenegaraan (staatsidee)
Negara kesatuan yang bersifat integalistis atau Negara nasional yang bersifat totaliter.
2. Setiap WN dianjurkan untuk hidup berketuhanan, tetapi urusan Negara terpisah dengan
urusan agama, urusan agama diserahkan kepada pemeluk agama masing-masing.
3. Dalam susunan pemerintahan Negara harus dibentuk Badan Permusyawaratan agar
pimpinan Negara dapat bersatu jiwa dengan wakil-wakil rakyat.
4. Sistem ekonomi hendaknya diatur berdasarkan asas kekeluargaan, system tolong
menolong, dan system koperasi.
5. Negara Indonesia yang berdasar atas semangat kebudayaan Indonesia asli, dengan
sendirinya akan bersifat Negara Asia Timur Raya.

d. Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, merumuskan dasar Indonesia merdeka yaitu dengan
memberi nama Pancasila dengan susunan sebagai berikut :
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan

e. Panitia kecil (Panitia 9) merumuskan dasar Negara yang terkenal dengan nama Jakarta
Charter atau Piagam Jakarta, merumuskan sebagai berikut :
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
2. Kemanusian yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada Sidang yang kedua tanggal 10 s/d 17 Juli 1945. Ir. Soekarno sebagai Ketua Panitia Sembilan
melaporkan hasil kerja kepada BPUPKI, yaitu konsep Piagam Jakarta dan konsep Pembukaan UUD.
Dengan demikian selesailah kerja BPUPKI setelah menerima rancangan tersebut. (16 Juli 1945).

Setelah sidang BPUPKI selanjutnya tanggal 9 Agustus 1945 dibentuklah Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritzu Junbi Iinkai.
Pada tanggal 10 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta masing-masing sebagai Ketua dan
Wakil ketua PPKI dan Dr. Radjiman bertolak ke Indo Cina memenuhi panggilan Panglima Angkatan
Perang Jepang di Kawasan Asia Tenggara untuk merundingkan tentang kemerdekaan Indonesia.
Di sepakati :
1. PPKI akan dilantik tanggal 18 Agustus 1945
2. Kemerdekaan Indonesia tanggal 24 Agustus 1945
Oleh karena tanggal 14 Agustus 1945 Jepang kalah dalam Perang Dunia kedua sehingga kesepakatan
tersebut tidak lagi dilaksanakan.

PPKI mengadakan rapat tanggal 15 Agustus 1945 dengan tujuan akan mengumumkan kemerdekaan
Indonesia dan mengesahkan UUD, akan tetapi terjadi peristiwa Rengasdengklok sehingga nanti
tanggal 16 Agustus 1945 baru dicapai kata sepakat untuk mengumumkan kemerdekaan pada esok
harinya.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 pada hari Jumat pukul 10.00 diproklamirkan kemerdekaan Indonesia
dan pada tanggal 18 Agustus 1945 disahkan pembukaan UUD dan Pancasila sebagai dasar Negara
Republik Indonesia.

PROKLAMASI KEMERDEKAAN
1. Naskah
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara yang
saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945


Atas Nama Bangsa Indonesia

Soekarno Hatta
2. Arti Proklamasi
a. Menurut kata-katanya :
Suatu pernyataan yang memberitahukan bahwa Indonesia telah Merdeka.
Pernyataan bahwa Indonesia telah berdiri sebagai yang telah lepas dari belenggu
penjajahan.
Bangsa Indonesia siap untuk mempertahankannya.
b. Arti Kejiwaan, Arti Religius.
Pada akhir pidato diucapkan Insya Allah yang mengandung pengertian :
Di berkati oleh Allah. Swt
Dengan pertolongan Allah yang telah memberi karunia-Nya
3. Jiwa Kemanusiaan.
Kembali pada nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabat sebagai manusia.
4. Jiwa Persatuan.
Barsatu padu dalam segala langkah atau perbuatannya.
5. Jiwa kerakyatan.
Proklamasi adalah pengejawantahan kehendak rakyat.
Kuliah V
UNDANG-UNDANG DASAR 1945
UUD 1945 terdiri dari
Pembukaan
Batang Tubuh terdiri :
- 16 Bab
- 37 pasal
- 1 aturan tambahan dan
- 2 ayat aturan peralihan
Penjelasan.

PEMBUKAAN UUD 1945

1. HAKIKAT PEMBUKAAN UUD 1945


1. Sebagai Tertib Hukum Tertinggi
memiliki 2 aspek yang utama:
faktor mutlak bagi terwujudnya tertib hukum tertinggi.
Pembukaan UUD 1945 termuat didalamnya meliputi suasana kebatinan dari UUD Negara
Indonesia, serta mewujudkan suatu cita-cita hukum
Pokok-Pokok pikiran yang ada dalam pembukaan UUD 1945 harus dikonkritkan (dijelmakan)
dalam Batang Tubuh UUD 1945 (pasal)
Penjabaran direalisasikan kedalam hukum-hukum positif yang terdiri: TAP MPR, UU, PP, dll.
2. Memenuhi Syarat Tertib Hukum Indonesia
Syarat-syarat sbb :
(2) Adanya kesatuan subyek, yaitu penguasa yang mengadakan peraturan hukum.
(3) Adanya kesatuan asas kerohanian yaitu adanya sumber dari segala sumber hukum
(4) Adanya kesatuan daerah yaitu dimana berlakunya peraturan tersebut.
(5) Adanya kesatuan waktu yaitu waktu berlakunya peraturan-peraturan.
Dengan demikian kedudukan Pembukaan UUD 1945 dalam tertib hukum Indonesia sbb:
1. Menjadi dasar, krn memberikan faktor mutlak adanya tertib hukum.
2. Memasukan diri didalamnya sebagai ketentuan hukum yang tertinggi.

3. Sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental.


Karena didalamnya memberikan faktor mutlak bagi tertib hukum baik yang tertulis maupun
yang tidak tertulis.
Pokok kaidah Negara yang fundamental adalah:
(1) Dari segi terjadinya, ditentukan oleh Pembentuk Negara.
(2) Dari segi Isinya, memuat:
* Dasar tujuan Negara
* Ketentuan diadakannya UUD Negara
* Bentuk Negara.
* Dasar filsafat Negara (asas kerohanian negara)

Dalam hubungannya dengan Pasal-Pasal UUD 1945, Kedudukan Pembukaan UUD 1945 sbb:
1. Pembukaan terpisah dengan batang tubuh UUD.
2. Pembukaan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi.
3. Pembukaan menguasai hukum dasar tertulis maupun yang tidak tertulis.
4. Pokok-Pokok pikiran dalam Pembukaaan dijabarkan dalam pasal-pasal UUD 1945

4.Pembukaan UUD 1945 tetap Terlekat pada Kelangsungan Hidup Negara RI.
Mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena tidak dapat dirubah; alasan - alasanya:
1. Sbg Staatfundamentalnorm, ini ditentukan oleh Pembentuk Negara yaitu suatu lembaga
yang menentukan dasar Negara, bentuk Negara, kekuasaan Negara.
2. Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber mutlak adanya tertib hukum di Indonesia.
3. Dari segi yuridis tidak dapat dirubah, dan dari segi materil tetap terlekat pada
kelangsungan hidup Negara RI.
TATA URUTAN PERUNDANG-UNDANGAN
1. PEMBUKAAN UUD 1945
2. BATANG TUBUH UUD 1945.
3. TAP MPR
4. UUD
5. U U
6. PERATURAN PEMERINTAH
7. KEPMEN
8. PERDA.

Kuliah VI
II. PENGERTIAN ISI PEMBUKAAN UUD 1945
Pembukaan terdiri 4 Alinea :
Alinea I :
a. Tekat bangsa Indonesia untuk merdeka, bebas dari penjajahan merupakan dalil
objektif.
b. Berdiri dibarisan terdepan dalam menentang dan menghapuskan penjajahan di dunia.

Alinea II:
a. Perjuangan pergerakkan telah sampai pada tingkat yang menentukan.
b. Momentum yang dicapai harus dimanfaatkan untuk menyatakan kemerdekaan.
c. Kemerdekaan bukan tujuan akhir, akan tetapi harus diisi dengan mewujudkan
Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur berdasarkan
Pancasila.

Alinea III
a.Motivasi cita luhur riil dan materiil tugas Indonesia untuk menyatakan
kemerdekaannya.
b.Motivasi spiritual yang luhur bahwa maksud menyatakan kemerdekaan diberkati oleh
Allah. Swt yang maha Kuasa

Alinea IV:
a.Menetapkan tujuan Negara :
Melindungi segenap bangsa Indonesia
Memajukan kesejahteraan umum
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Ikut melaksanakan ketertiban dunia
b.Menetapkan bentuk Negara ialah Republik
c.Menetapkan dasar Negara ialah Pancasila

HUBUNGAN LOGIS ANTAR ALINEA


Alinea I terdapat : Hak Kemerdekaan bangsa berarti :
Hak yang melekat pada manusia/bangsa yaitu hak kodrat dan hak moral.
Penjajahan tidak sesuai dengan hakikat kemanusiaan dan keadilan.

Alinea II terdapat : Hak pribadi (bangsa) karena :


Pihak penjajah tidak memberikan hak kodrat dan hak moral
Bangsa Indo. Berjuang menentukan nasibnya sendiri.
Kemerdekaan dijelmakan dalam suatu Negara yang merdeka, bersatu, berdaulat,
adil, dan makmur.

Alinea III terdapat Pernyataan untuk kemerdekaan atas perjuangannya sendiri :


Perjuangan didasari oleh hak kodrat dan hak moral
Perjuangan diridhoi dan dirahmati oleh Allah SWT.
Alinea IV merupakan konsekuensi dari suatu perjuangan meliputi pembentukan
pemerintahan Negara yang meliputi 4 prinsip Negara:
Tujuan Negara; melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia,
dst
Ketentuan diadakannya UUD Negara.
Ketentuan tentang bentuk Negara ( Republik)
Ketentuan tentang dasar filsafat Negara (Pancasila).

3. KEDUDUKAN PEMBUKAAN UUD 1945


1. Pembukaan UUD 1945 sebagai Pernyataan Kemerdekaan yang terinci.
* Proklamasi pada hakekatnya memiliki makna;
- Pernyataan kemerdekaan.
- Tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan berkaitan dengan kemerdekaan.
* Baik suatu pernyataan maupun tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan setelah
kemerdekan rinciannya adalah sbb:
(1) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indo.
(2) memajukan kesejah. Umum dan mencerdaskan kehidup bgs.
(3) ikut melaksanakan ketertiban dunia.
(4) membentuk pemerintahan Negara dgn menyusun UUD Negara.
(5) UU yang dimaksud adalah suatu susunan Negara yang berkedaulatan rakyat.
(6) Negara RI berdasarkan sila I,II, III, IV, V

2. Kedudukan dan Fungsi Pembukaan UUD 1945 sebagai Dasar, Rangka dan Suasana bagi
Kehidupan Negara dan Tertib Hukum Indonesia.
(1) Pembukaan berdudukan sbg pandangan hidup bangsa adalah merupakan dasar filsafat,
asas kerohanian, dan basis berdirinya Negara RI (dasar).
(2) Diatas dasar itulah berdiri suatu negara yang berkedaulatan rakyat.
(3) Kemudian dasar tersebut diwujudkan pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara yang
tercantum dalam hukum positif Indo. (UUD 1945 )
(4) Di atas UUD sebagai basis berdirinya bentuk, susunan dan system pemerintahan, serta
peraturan hukum positif bgs Indo.
(5) Keseluruhannya merupakan tujuan Negara untuk mencapai kebahagian hidup (sebagai
suasana)
3. Pembukaan memuat Sendi-Sendi Mutlak Kehidupan Negara.
Sendi-sendi tersebut adalah sbb:
(1) Hakekat dan sifat Negara.
(2) Tujuan negara.
(3) Kerakyatan (demokrasi).
(4) Dasar pemerintahan Negara.
(5) Bentuk susunan Pemerintahan.
4. Nilai-Nilai Hukum/Ketentuan Tuhan, Hukum Kodrat dan Hukum Etis yang terkandung
dalam Pembukaan UUD 1945.

HUKUM KODRAT SUMBER BAHAN


ALINEA I HUKUM ETIS

CITA-CITA DAN
KEMERDEKAAN

HUKUM TUHAN
HUKUM ETIS SUMBER NILAI
ALINEA II
ALINEA III

ALINEA IV
HUKUM FILOSOFIS SUMBER BENTUK
(PANCASILA) DAN SIFAT

PELAKSANAAN HUKUM POSITIF PELAKSANAAN


NEGARA DAN NEGARA
INDONESIA PELAKSANAANNYA INDONESIA

Kuliah VII
4. FUNGSI PEMBUKAAN UUD 1945
Pembukaan UUD 1945 mengandung Pokok Pikiran yang meliputi suasana kebatinan dari UUD
Negara Indo. Pokok Pikiran itu diwujudkan dalam cita-cita hukum (Rechtsidee) yang menguasai
hukum dasar tertulis (UUD) dan tidak tertulis (konvensi).
Pokok Pikiran tersebut dijabarkan secara normative dalam pasal-pasal UUD 1945 sbb:
ok Pikiran Pertama, menegaskan bahwa:
Diterimanya aliran pengertian Negara Persatuan yaitu:
melindungi segenap bangsa.
Mengatasi paham perorangan, golongan,
(merupakan penjabaran sila ketiga).
Pokok Pikiran Kedua, merupakan cita-cita yang ingin dicapai yaitu:
Penetapan tentang aturan-aturan yang akan dilaksanakan
Setiap WN mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
( Penjabaran sila kelima).

Pokok Pikran Ketiga, mengandung konsekwensi logis tentang system Negara, yaitu:
* Kedaulatan rakyat yang mendasarkan pada musyawarah/perwakilan.
(penjabaran sila keempat)
Pokok Pikiran Keempat, mengandung isi tentang kewajiban pemerintah dan penyelenggara
Negara untuk:
* memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dengan upaya menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
(penjabaran sila I dan sila II )
Dalam kehidupan kenegaraan haruslah mendasarkan pada suatu moral dasar Negara yaitu:-
Ketuhanan Yang Mahaesa,
dan Kemanusiaan yang adil dan beradab
sehingga untuk mewujudkan diperlukan adanya:
suatu keadilan dalam hidup bersama, dan
tujuan untuk melindungi segenap bangsa Indo.
Cita-cita tersebut haruslah dijiwai segenap bangsa :
Warga Negara
Penyelenggara Negara.
Pimpinan Partai Politik, Golongan
1. Pembukaan UUD 1945 merupakan Suasana Kebatinan dari UUD 1945
Suatu UUD terdiri dari:
Bagaimana dictum pasal-pasalnya.
Bagaimana prakteknya.
Bagaimana suasana kebatinannya
Berdasarkan Penjelasan dalam Pembukaan UUD 1945 yang terdiri dari 4 pokok pikran adalah
merupakan asas kerohanian Negara Pancasila yang memberi arah bagi cita-cita hukum
(Rechtsidee) dari UUD dan peraturan perundang-undangan lainnya.
2. Pembukaan UUD 1945 mewujudkan Cita-cita Hukum yang menguasai Hukum Dasar Negara
* Pembukaan UUD 1945 merupakan Kaidah Pokok fundamental (Norma Dasar).
* Mengandung Nilai-Nilai Universal:
* Hukum / Ketentuan Allah/Tuhan.
* Hukum Kodrat.
* Hukum Etis.
* Hukum Filosofis
Hukum Tuhan, Hukum Kodrat, dan Hukum Etis merupakan bahan dan sumber Hukum positif
Indonesia, sedangkan
Hukum Filosofis merupakan bentuk dan dan sifat Negara.

3. Pembukaan UUD 1945 merupakan Sumber Semangat bagi UUD 1945


Dalam Pembukaan UUD 1945 terkandung didalamnya Pokok Pikiran yang memuat isi Pancasila:
adalah merupakan sumber semangat bagi:
Penyelenggara Negara.
Pimpinan Pemerintahan.
Partai Politik.
Pimpinan Golongan.
Sumber Semangat itu berupa:
Semanagat Ketuhanan
Semangat Kemanusiaan
Semangat Persatuan
Semangat dan Kerakyatan
Semangat Keadilan Sosial.

5. Hubungan Pembukaan UUD 1945 dengan Batang Tubuh UUD 1945
1. Pokok Pikiran dalam Pembukaan dijelmakan dalam pasal-pasal UUD
2. Pembukaan UUD memuat dasar Pancasila, filsafat Negara.
3. Sifat Hubungan Pembukaan dengan Batang Tubuh UUD
Bagian I, II, III dari Pembukaan tidak mempunyai hubungan Kausal Organis
dengan Batang Tubuh.
Bagian IV mempunyai hubungan kausal Organis yang mencakup:
UUD ditentukan akan ada.
Yang diatur dalam UUD tentang Pembentukan pemerintahan Negara.
Negara Indonesia berbentuk Republik.
Ditetapkan dasar kerohanian Negara ( Pancasila)

6. Hubungan Antara Pembukaan UUD dengan Pancasila.


Secara Formal:
Rumusan Pancasila ada dalam Pembukaan (alinea IV)
Pembukaan UUD merupakan Pokok Kaidah Fundamental.
Tidak dapat dipisahkan keduanya.
Pancasila yang ada dalam Pembukaan tetap terlekat dalam kelangsungan hidup
bangsa Indo.
Secara Materil:
Inti dari Pokok Kaidah Fundamental adalah Pancasila

7. Hubungan Antara Pembukaan UUD 1945 dengan Proklamasi 17 Agustus 1945


Terdapat beberapa pernyataan:
1. Pernyataan Proklmasi kemerdekaan ada pada alinea ketiga pembukaan UUD
2. Pembukaan UUD bersamaan ditetapkan dengan UUD.
3. Pembukaan UUD merupakan uraian terinsi sebagai pendorong semangat kemerdekaan untuk
bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Beberapa sifat hubungan:
1. Adanya penegasan hak kodrat, dan hak moral setiap bangsa akan kemerdekaan.
2. Penegasan bahwa perjuangan sesuai dengan peri kemanusiaan dan perikeadilan.

3. Memberi pertanggungjawaban kepada bangsa bahwa kemerdekaan diperoleh melalui


perjuangan, disusun dalam Negara Kesatuan Indonesia yang berdasarkan kedaulatan rakyat
dengan berdasar kepada Pancasila.

UNDANG-UNDANG DASAR 1945

I. UUD 1945 terdiri :


Hukum Dasar tertulis.
Hukum Dasar tidak tertulis
UNDANG-UNDANG DASAR TERTULIS
UUD ( Constitutional Law ) adalah suatu naskah yang memaparkan kerangka dan tugas-tugas
pokok dari badan-badan pemerintahan negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-
badan tersebut.
UUD 1945 bersifat:
Singkat, karena hanya memuat 37 pasal, aturan peralihan, dan tambahan.
Supel (elastic) dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan situasi masyarakat.
Berdasarkan sifat UUD 1945 tersebut maka:
Rumusannya jelas dan merupakan hukum tertulis yang mengikat semua Warga negara, pemerintah
dan penyelenggara negara
Karena hanya memuat aturan-aturan pokok saja, maka dapat dikembangkan sesuai dengan
perkembangan masyarakat.
Norma-norma, aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan dilaksanakan secara konstitusional.
UUD merupakan tertib hukum tertinggi sehingga merupakan alat kontrol terhadap norma hukum
yang ada dibawahnya.

UNDANG-UNDANG TIDAK TERTULIS


UU tidak tertulis adalah aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek
penyelenggaraan negara.
UU tidak tertulis ( Convensi) mempunyai sifat-sifat:
Kebiasaan yang berulang terjadi dan terpelihara dalam masyarakat.
Tidak bertentangan dengan UUD tertulis.
Diterima oleh seluruh masyarakat.
Bersifat pelengkap dari UUD tertulis.

II. KONSTITUSI
Kata
Constitution ( Inggeris),
Constitutie (Belanda).
Grondwet (Jerman)
Berarti UU yang tertulis
Dal|am ketatanegaraan konstitusi mempunyai arti
Lebih luas daripada UUD, karena terdapat Hukum dasar tertulis dan tidak tertulis.
Sama dengan UUD, artinya hanya memuat UUD tertulis saja.

III. STRUKTUR PEMERINTAHAN INDONESIA BERDASARKAN UUD 1945.


Berdasarkan Asas Demokrasi yang berarti:
Sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat.
Mengakui adanya kebebasan dan persamaan hak warga negara.
Secara Umum sistem pemerintahan yang bersifat demokratis haruslah mendasarkan pada.
Keterlibatan WN dalam pembuatan keputusan politik.
Tingkat persamaan diantara WN
Tingkat kebebasan diakui oleh WN.
Suatu Sistem perwakilan.
Suatu sistem pemilihan kekuasaan mayoritas
Dalam suatu sistem demokrasi akan kita jumpai:
Supra struktur Politik,
- Legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Infra struktur Politik ( Parpol, Golongan, Golongan penekan, Alat komunkasi Politik, Tokoh-tokoh
Politik).

Demokrasi berdasar UUD 1945 adalah:


a. Konsep Kekuasaan, terdiri:
Kekuasaan ditangan Rakyat
Pembagian kekuasaan
Pembatasan kekuasaan
b. Konsep Pengambilan Keputusan.
c. Konsep Pengawasan.
d. Konsep partisipasi .

SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA.


Tujuh kunci pokok sistem pemerintahan negara:
Indo. Adalah negara yang berdasarkan Hukum (Rechtstaat)
Sistem Konstitusional.
Kekuasaan Negara Tertinggi di tangan MPR
Presiden adalah Penyelenggara Negara Yang tertinggi di bawah Majelis.
Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR.
Menteri Negara adalah Pembantu Presiden, dan tidak bertanggung jawab kepada DPR.
Kekuasaan Kepala Negara tidak tak terbatas.

ISI POKOK BATANG TUBUH UUD 1945.


Bab I. Bentuk dan Kedaulatan ( Pasal 1 ).
Bab II. MPR ( Pasal 2, dan 3 )
Bab III. Kekuasaan Pemerintahan Negara (Pasal 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, dan 15)
Bab IV. DPA (Pasal 16)
Bab V. Kementerian Negara (Pasal 17)
Bab VI. Pemerintahan Daerah (Pasal 18)
Bab VII. DPR (Pasal 19, 20, 21, dan 22)
Bab VIII. Hal Keuangan (Pasal 23)
Bab IX. Kekuasaan Kehakiman (Pasal 24 dan 25)
Bab X. Warga Negara (Pasal 26, 27, dan 28)
Bab XI. Agama (Pasal 29)
Bab XII. Pertahanan Negara (Pasal 30)
Bab XIII. Pendidikan (Pasal 31 dan 32)
Bab XIV. Kesejahteraan Sosial (Pasal 33 dan 34)
Bab XV. Bendera dan Bahasa (Pasal 35 dan 36)
XVI. Perubahan UUD (Pasal 37)
Pasal-pasal yang berisi tentang sistem pemerintahan negara, termasuk pengaturan tentang
kedudukan, tugas, wewenang dan saling hubungan dengan kelembagaan negara.
Pasal-pasal yang berisi hubungan negara dengan warga negara dan penduduk serta berisi konsepsi
negara diberbagai bidang : Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Hamkam, dll.

HAKEKAT PEMBUKAAN UUD 1945


Alinea pertama : Pasal-pasal 27, 28, 29, 30, 31
Alinea kedua : Pasal-pasal 23, 27, 28, 29, 31, 33, 34
Alinea ketiga : Pasal-pasal 29
Alinea keempat : Pasal-pasal 1, 32, 35, 36
Hubungan Antara Lembaga-lembaga Negara Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945
1. Hubungan Antara MPR dan Presiden
2. Hubungan Antara MPR dengan DPR
3. Hubungan antara DPR dengan Presiden
4. Hubungan Antara DPR dengan Menteri-menteri
5. Hubungan Antara Presiden dengan Menteri-menteri
6. Hubungan Antara Mahkamah Agung dengan lembaga Negara Lainnya.
7. Hubungan Antara BPK dengan DPR
8. Hubungan Antara DPA dengan Presiden
9. Kedudukan dan hubungan Tata Kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau Lembaga-
lembaga tinggi Negara Menurut Ketetapan MPR No. III/MPR/197

Hak Asasi Manusia Menurut Undang-Undang Dasar 1945


Rincian hak-hak asasi manusia dalam pasal-pasal UUD 1945 adalah sebagai berikut :
a. Hak atas Kebebasan untuk Mengeluarkan Pendapat
Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28:
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran baik lisan maupun
tulisan dan sebagainya diatur dalam undang-undang.
Declaration of Human Right, Pasal 19., Convenant on Civil and Political Right Pasal 19.

b. Yang Sama di Muka Bumi


Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 27 ayat (1)
Segala warga negara bersamaan kedudukannya di muka hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Declaration of Human Right, Pasal 27., Convenant on Civil and Political Right, Pasal
26.
c. Hak atas Kebebasan Berkumpul
Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun
tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
Declaration of Human Right, Pasal 20., Convenant on Civil and Political Right, Pasal 21

d. Hak atas Kebebasan Beragama


Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 29
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Declaration of Human Right, Pasal 18

e. Hak atas Penghidupan yang Layak


Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 27 ayat (2), Pasal 34
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, (Pasal 27
ayat (2). Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, Pasal 34.
Declaration of Human Right, Pasal 25., Convenant on Economic, Social and Cultural
Right, Pasal 11

f. Hak atas Kebebasan Berserikat


Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan
dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
Declaration of Human Right, Pasal 23, (4) ; Convenant on Economic, Social and
Cultural Right, Pasal 8 ; Convenant on Civil and Political Right, Pasal 13
g. Hak atas Pengajaran
Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 31
(1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
(2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu pengajaran nasional yang
diatur dalam undang-undang.
Declaration of Human Right, Pasal 26., Convenant on Economic, Social and Cultural
Right, Pasal 13.

h. Hak atas Kewarganegaraan


Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 26
(1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang Indonesia asli, dan orang-orang
bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang.
(2) Syarat-syarat mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undang.
Declaration of Human Right, Pasal 15., Convenant on Civil and Political Right, Pasal 24
KULIAH XI
DINAMIKA PELAKSANAAN UUD 1945

A. AWAL KEMERDEKAAN
1. Sistem Pemerintahan belum dilaksanakan
karena :
DPR-MPR melalui Pemilu
Presiden Berdasarkan Keputusan Rapat BPUPKI
Sehingga :
Dibentuklah MPR, DPR, DPA sementara
Berlaku pasal Aturan Peralihan yaitu sebelum MPR, DPR, DPA terbentuk maka segala kekuasaan
dilaksanakan oleh Presiden yang dibantu oleh Komite Nasional.

Terjadilah suatu perkembangan sistem ketatanegaraan.


Berubahnya fungsi KNIP dari pembantu presiden menjadi badan yang diserahi kekuasaan legislatif
yang ikut menetapkan GBHN.
Berdasarkan maklumat wakil Presiden No. X tanggal 16 Nopember 1945, dan maklumat pemerintah
tanggal 14-11-1945, isinya adalah:
Sistem Kabinet Presidensial menjadi Sistem Kabinet Parlementer.
Akibat perubahan tersebut pemerintahan tidak stabil, sehingga :
Tanggal 3 Nopember 1945, dikeluarkan maklumat tentang pembentukan partai-partai politk.
Tanggal 14 Nopember 1945, kekuasaan pemerintah (eksekutif) dipegang oleh perdana menteri
sebagai pimpinan kabinet.
Perdana menteri bertanggungjawab KNIP
Tanggal 27 Desember 1949, berdasarkan Konferensi Meja Bundar di Den Haag dibentuklah
konstitusi RIS berlakulah UUD RIS
Ibukota RI di Yogyakarta
Berlaku s/d 1950
Tanggal 17 Agustus 1950, sepakat untuk kembali ke UUD 1945 sehingga dibentuklah UUD yang
menganut sistim Parlementer.
Tahun 1955 Pemilu I untuk memilih :
DPR
Anggota Konstituante
Tugas anggota konstituante menyusun UUD sebagai pengganti UUDS
Tanggal 5 Juli 1959, Presiden mengeluarkan Dekrit yang isinya :
Pembukaan Konstituante
Berlakunya kembali UUD 1945
MPRS ditambah dari :
Utusan daerah/golongan.

B. ORDE LAMA
Mulai kembalinya ke UUD 1945.
Banyak diwarnai paham Komunisme. Misal : Ideologi Nasakom.
Beberapa penyimpangan :
Kepala Negara sekaligus pemimpin besar revolusi.
Jabatan Presiden seumur hidup.
Demokrasi diarahkan ke demokrasi terpimpin
Presiden mengeluarkan produk hukum tanpa melalui DPR
Peran eksekutif (pmerintah) lebih daripada legislatif (DPR)
Pimpinan lembaga tertinggi dan Tinggi negara dijadikan menteri atau pembantu Presiden

Orde Lama berakhir s/d 30 September 1965


Dipelajari oleh pemuda menyampaikan Tritura :
Pembubaran PKI.
Bersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI.
Turunkan harga/perbaikan ekonomi.
C. MASA ORDE BARU
1. MPRS mengeluarkan berbagai keputusan :
TAP MPRS No : XIII/1966
TAP MPRS No : XVIII/1966
TAP MPRS No : XX/1966
TAP MPRS No : XXII/1966
TAP MPRS No : XXV/1966
2. DPRGR meminta Sidang Istimewa sehingga Maret 1967 menetapkan:
Presiden Soekarno tidak dapat memenuhi:
Pertanggungjawaban Konstitusional
Tidak menjalankan haluan negara
Pengangkatan Soeharto sebagai Presiden
3. Pemilu I masa Orde Baru tahun 1969
susunan dan kedudukan MPR/DPR/DPRD
GBHN Pelita I tahun 1969
Strategi Pembangunan (PJP)
Jangka pendek (1 tahun)
Jangka menengah (5 tahun)
Jangka panjang (25 tahun)
UUD 1945 banyak memberi porsi kepada Presiden

D. MASA REFORMASI
1. ~ Tanggal 1997 Presiden Soeharto menyerahkan tugas kepada wakilnya (B.J. Habibie)
~ Memberantas KKN
2. Reformasi dibidang :
Hukum
Partai Politik
Susunan dan kedudukan :
MPR.
DPR.
Utusan daerah/golongan.
Amandemen UUD 1945.
KULIAH XII

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT


A. Pengertian

Secara Etimologis Kata Filsafat berasal dari Latin. yaitu


Philein = Cinta, dan
Sophos = Hikmah, kebijaksanaan, kebenaran
Jadi Filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan atau kebenaran.
Filsafat dikelompokan dalam 2 macam:
Filsafat sebagai pengetahuan, ilmu, konsep, pemikiran-pemikiran.
Filsafat sebgai jenis problem yang dihadapi manusia. Jadi manusia mencari kebenaran
yang timbul akibat persoalan yang bersumber dari akal manusia.
Definisi
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli
( Plato )

Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung


didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retirika, etika, ekonomi, politik dan estetika.
( Aristoteles )

Jadi filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang mendalam sehingga
dapat menghasilkan suatu kebenaran.

Pengertian Filsafat Pancasila adalah suatu ilmu yang menyelidiki sila-sila panmcasila sebagai
pandangan hidup, filsafat hidup, dan pedoman hidup bangsa Indonesia.

Cabang-Cabang Filsafat:
1. Metafisika; yang membahas tentang hal-hal keberadaan atau
hakekat yang mendalam meliputi:
Ontologi, kosmologi, antropologi.
2. Epistemologi (persoalan hakekat ilmu pengetahuan).
3.Aksiologi Pancasila;
1. Etika ( hal yang berkaitan dengan tingkah laku manusia)
2. Estetika (hal yang berkaitan dengan keindahan)

B. Rumusan Pancasila sebagai suatu sistem.


Suatu sistem adalah merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan, maka Pancasila sebgai
suatu sistem adalah:
1. Kesatuan sila-silanya bersifat Organis tidak terlepas dari hakekat manusia yang monopluralis
yang memiliki:
* Susunan kodrat (jasmani/rohani)
* Sifat kodrat (Individu dan sosial),
* Kedudukan kodrat ( sebagi pribadi dan sbg mahluk Tuhan).

2. Susunan Pancasila yang bersifat khierarkis dan berbentuk piramidal.


- Susunan Pancasila merupakan sila yang mempunyai hubungan yang mengikat. ( Tuhan,
manusia, satu, rakyat, adil).
- Susunan Pancasila berbentuk piramidal karena sila yang teratas melandasi sila yang ada
dibawahnya.
Sila I dijiwai sila II, III, IV, V
Sila II menjiwai sila I, dan dijiwai III, IV. V
Sila III menjiwai sila I, II dan dijiwai sila IV, V.
Sila IV menjiwai sila I, II, III dan dijiwai sila V
Sila V menjiwai sila I, II, III, IV.
3. Rumusan Sila-Sila Pancasila saling mengisi dan saling
mengkualifkasi.
Hal tersebut dimaksudkan adalah setiap sila memiliki sifat saling mengisi dan saling
megkualifikasi artinya setiap sila terkandung nilai yang saling berhubungan secara
keseluruhan.

C. Kesatuan Sila-Sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem Filsafat


Kesatuan sila Pancasila merupakan kesatuan dasar:
1. Dasar Kosmologi ,ontologi, antropologi Pancasila.
2. Dasar epistemogi Pancasila.
3. Dasar aksiologis Pancasila.
Dasaar Kosmologi; Ilmu yang membahas tentang alam semesta (jagatraya). Pokok
pembahasannya adalah tentang dunia infra human, yaitu apa saja yang memiliki arti dan nilai
dalam hub ungannya dengan manusia, alam sekitar.
Manusia berada dalam alam jagatraya akan mampu menjaga hubungannya dengan alam,
mengelolanya dengan bejak sehingga dapat mendatangkan kebahagian dan terpenuhi kebutuhan
hidupnya. Dengan interaksi manusia dengan alam akan mampu mendatangkan kebutuhan hidup
(materil).
Dasar antropologi, kajiannya adalah manusia yang memiliki sifat hakiki yaitu sebagai
monopluralis (invdividu dan sosial) pendukung dari Pancasila.
Manusia Indonesia secara substansi sadar akan dirinya sebagai subyek dan pendukung Pancasila,
mempunyai hak dan kewajiban terhadap bangsa, negara dan masyarakat . Karenanya harus
tunduk dan taat atas segala peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Dasar Ontologi adalah ilmu yang menyelidiki tentang sifat dasar atau eksistensi. Keberadaan
trhadap adanya Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia adalah merupakan sesuatu yang
diusahakan ada dalam kehidupan manusia/bangsa. Karena itu apa yang sudah diadakan akan
terus dipelihara, dijaga, dan diamalkan sehingga akan berguna dalam hidupnya.
Dasaar Epistemologi Pancasila adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan yang harus dipahami.
Pancasila mengakui kebenaran yang bersumber dari akal manusia, empiris, dan intuisi. Karena
sumber tersebut diakui sebagai suatu kebenaran.
Pancasila sebagai epistemplogi adalah merupakan sumber kebenaran karena mempunyai tujuan,
metode, ruang lingkup, obyek, dan manfaat. Sila-sila Pancasila memenuhi syarat untuk diterima
sebagai suatu kebenaran.
Dasar Aksiologi Pancasila berkaitan dengan teori nilai yaitu kegunaan dari ilmu pengetahuan
yang telah diperoleh.
Setiap sila mengandung nilai-nilai berupa:
Nilai materil
Nilai vital

- nilai kebenaran yang bersumber dari akal manusia (ratio,


budi, cipta)
- nilai keindahan bersumber dari rasa manusia
- nilai religius yang bersumber dari kepercayaan manusia.
5
Kuliah XIII
54PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA

A. PENGANTAR
PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA FILSAFAT PADA HAKEKATNYA MERUPAKAN
SUATU NILAI SEHINGA MERUPAKAN:
A. NORMA MORAL
B. NORMA HUKUM, dan
C. NORMA KETATANEGARAAN
Norma Moral adalah tingahlaku manusia yang dapat diukur dengan baik buruknya suatu
perbuatan.
Norma Hukum adalah sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku (tertulis dan tidak
tertulis).
Norma Ketatanegaraan adalah peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh negara/pemerintah.
B. PENGERTIAN ETIKA
Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang perbuatan baik dan atau buruknya sehingga
menyebabkan orang tersebut bermoral atau tidak bermoral.

C. PENGERTIAN NILAI
Pengertian Nilai (Value) adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk
memuaskan manusia.
Nilai dapat dikelompokkan dalam 4 tingkatan:
1. Nilai-Nilai kenikmatan, yaitu nilai-nilai yang menyebabkan orang menjadi enak, senang.
2. Nilai-Nilai kehidupan, yaitu nilai-nilai yang menyebabkan sehingga orang itu dapat hidup
secara sehat, sejahtera.
3. Nilai-Nilai kejiwaan, yaitu nilai-nilai yang berkaitan dengan keindahan, kebenaran.
4. Nilai-Nilai kerohanian yaitu nilai-nilai kesucian dan atau nilai-nilai pribadi.

Nilai-nilai manusiawi dapat digolongkan dalam kelompok :


1. Nilai ekonomis (harga)
2. Nilai kejasmanian (kesehatan jasmani)
3. Nilai hiburan (permainan/rekreasi)
4. Nilai sosial (kerjasama manusia)
5. Nilai watak (keutuhan kepribadian)
6. Nilai estetis (Keindahan)
7. Nilai intelektual (pengetahuan kebenaran)
8. Nilai keagamaan.

Notonegoro membagi Nilai menjadi 3:


1. Nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan
kegiatan.
2. Nilai vital yaitu nilai yang berguna untuk kehidupan manusia dalam melakukan berbagai
kegiatan.
3. Nilai kerohanian yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

Nilai kerohanian ini dapat dibagi atas 3 macam:


1. Nilai kebenaran/kenyataan yang bersumber dari unsur akal manusia (ratio, budi, cipta)
2. Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa manusia (gevoels, aesthetic).
3. Nilai religius, yang bersumber pada kepercayaan/keyakinan manusia.

D. NILAI DASAR, INSTRUMENTAL, PRAKSIS


Nilai Dasar adalah nilai yang berkaitan dengan tingkah laku manusia yang bersifat nyata, yaitu
perbuatan-perbuatan manusia yang bersifat hakikat, esensi, intisari atau makna yang terdalam
dari nilai-nilai tersebut (ontologi)
Nilai dasar ini sering disebut nilai kodrat yang bersifat universal dan menyangkut kenyataan
obyektif.

Nilai Instrumental adalah merupakan suatu pedoman yang dapat diukur dan dapat diarahkan.
Misalnya nilai instrumental ini berkaitan dengan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari maka
akan berupa suatu norma moral.

Nilai Praksis merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam suatu kehidupan
nyata.

E. MAKNA NILAI-NILAI SETIAP SILA DALAM PANCASILA


SILA PERTAMA
1. Sila I merupakan pengejawantahan tujuan manusia sebagai makhluk Tuhan YME, maka dalam
penyelenggaraan kenegaraan selalu menempatkan dan menjiwai nilai-nilai Ketuhanan yang
mendasarinya.
SILA KEDUA
1. Nilai kemanusiaan bersumber dari filsafat antropologis yang menjunjung tinggi hakekat
manusia baik susunan kodrat rohani (jiwa) dan raga, sifat kodrat (individu dan sosial), dan
kodrat
pribadi makhluk berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan YME.
2. Nilai yang harus dijunjung tinggi :
Harkat dan martabat manusia.
Dalam kehidupan kenegaraan/kemasyarakatan dilandasi dengan moral kemanusiaan.
Nilai kemanusiaan yang adil adalah yang mengandung makna manusia yang berbudaya
dan beradab.
SILA KETIGA
Nilai persatuan mengandung nilai bahwa negara adalah penjelmaan dari sifat kodrat manusia
sebagai individu dan sosial. (monodualis).
Negara merupakan persekutuan hidup bersama (ras, agama, suku, golongan). Perbedaan-
perbedaan tersebut adalah merupakan keragaman yang harus bersatu padu (Bhineka Tunggal
Ika).
Negara melindungi atas perbedaan-perbedaan.
Nilai-nilai seperti :
ii. Ketuhanan dan kemanusiaan adalah mengandung nilai nasionalisme yang bermoral
ketuhanan.
iii. Nilai-nilai nasionalisme ini harus tercermin dalam praktek penyelenggaraan negara.
SILA KEEMPAT
Nilai Filosofis pada sila ini adalah bahwa hakekat negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat
manusia sebagai makhluk monodualis.
Rakyat adalah subyek pendukung daripada negara oleh karenanya nilai-nilai demokrasi
mutlak dilaksanakan.
Nilai-Nilai Demokrasi yang harus ditegakkan :
1. Adanya kebebasan manusia yang disertai tanggung jawab.
2. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
3. Memperkokoh persatuan dan hidup bersama.
4. Mengakui atas perbedaan individu.
5. Mengakui adanya persamaan hak.
6. Mengarahkan perbedaan dalam bentuk kerjasama.
7. Menjunjung tinggi musyawarah.
8. Mewujudkan dan mendasarkan keadilan dalam kehidupan sosial.
SILA KELIMA
Pada sila kelima terkandung nilai tujuan negara sebagai tujuan dalam hidup bersama.
Nilai-nilai keadilan harus terwujud dalam hidup bersama :
Keadilan distributif
Keadilan legal
Keadilan komunitatif

Kuliah XIV
PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI

A. PENGERTIAN
Ideologi berasal dari kata :
Idea yang berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita.
Logos berarti ilmu.

Ideologi dalam bahasa Yunani berarti bentuk. Jadi ideologi adalah suatu cita-cita untuk membangun
sistem pengetahuan (Desult de Tracy).

Ideologi secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan,
kepercayaan-kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis yang menyangkut : bidang politik, sosial,
kebudayaan, dan keagamaan.

Ideologi dapat dibagi :


1. Ideologi terbuka, dan
2. Ideologi tertutup.
Ideologi terbuka adalah sistem pemikiran terbuka.
Ideologi tertutup adalah merupakan sistem pemikiran tertutup, yang dapat dikenali sikap hidup
masyarakat secara turun temurun dipertahankan.

Ideologi terbuka dapat dibenarkan apabila masyarakat itu membutuhkan berdasarkan pandangan-
pandangan dan nilai-nilai itu didasarkan pada nilai dasar normatif bangsa.
Ideologi Partikular dan Ideologi Komprehensif
Ideologi Partikuler adalah sebagai suatu keyakinan yang tersusun secara sistematis dan terkait erat
dengan kepentingan suatu kelas sosial tertentu dalam masyarakat.

Berdasarkan tipelogi ideologi tersebut dikenal dengan ideologi komunis yang membela kelas proletar
dan ideologi liberalis yang memperjuangkan kebebasan individu.

Ideologi komprehensif adalah sisttem pemikiran menyeluruh tentang semua aspek kehidupan sosial.
Termasuk dalam ideologi Pancasila yang memiliki ciri menyeluruh.

B. MAKNA IDEOLOGI BAGI BANGSA DAN NEGARA

Manusia dalam meningkatkan harkat dan martabatnya membutuhkan orang lain, oleh karena itu
manusia membutuhkan lembaga (negara) yang dapat melindungi hak-haknya.

Pada hakekatnya ideologi adalah hasil refleksi manusia berkat kemampuannya untuk
mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya.

Ideologi sangat berguna :


1. Menentukan eksistensi suatu bangsa untuk membimbing dalam mencapai tujuannya.
2. Sumber motivasi yang merupakan sumber semangat dalam berbagai kehidupan negara.

C. PERBANDINGAN IDEOLOGI
Ideologi Pancasila bersumber dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa Indonesia (adat-istiadat,
kebudayaan dan agama)
Ideologi Pancasila mendasarkan hakekat sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial. Karena itu, Ideologi Pancasila mengakui kebebasan dan kemerdekaan individu,
namun juga mengakui hak hidup orang lain.

Negara Pancasila
Negara Indonesia terbentuk memiliki karakteristik :
1. Paham Negara Persatuan (Bhineka Tunggal Ika)
2. Paham Negara Kebangsaan
3. Paham Negara Integralistik
4. Negara yang berketuhanan Yang Maha Esa
5. Negara yang berkemanusiaan yang adil dan beradap
6. Negara yang berkebangsaan dan kekerakyatan (demokrasi)
7. Negara yang berkeadilan sosial

PENGARUH ASPEK KETAHANAN NASIONAL


TERHADAP KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

1. PENGARUH ASPEK IDEOLOGI


Ideologi adalah sistem nilai sekaligus kebulatan ajaran yang memberikan motivasi.

Ideologi mengandung konsep dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan oleh suatu bangsa.

A. IDEOLOGI DUNIA
1. LIBERALISME
ALIRAN PIKIRAN PERSEORANGAN
ALIRAN INI MENGAJARKAN :
NEGARA ADALAH MASYARAKAT HUKUM (LEGAL SOCIETY)
ALIRAN PIKIRAN INI :
KEPENTINGAN HARKAT DAN MARTABAT INDIVIDU DIJUNJUNG TINGGI.
KEBEBASAN.
LIBRALISME BERTOLAK BELAKANG DARI HAK ASASI YANG MELEKAT PADA
INDIVIDU SEJAK LAHIR.
MANUSIA BEBAS MENGEJAR KEBAHAGIAAN HIDUP

2. KOMUNISME
ALIRAN PIKIRAN GOLONGAN, YANG BERANGGAPAN :
NEGARA ADALAH SUSUNAN GOLONGAN UNTUK MENINDAS GOLONGAN
YANG LAIN.
EKONOMI YANG KUAT MENINDAS EKONOMI YANG LEMAH.
ERAT KAITANNYA DENGAN ALIRAN MATERIALISTIK.
CARA MEMPERTAHANKAN KEKUASAAN :
1) MENCIPTAKAN KONFLIK
2) AJARAN BERSIFAT ATHEIS
3) MASYARAKAT INTERNASIONAL
4) MASYARAKAT KOM. CITA-CITA MASYARAKAT TANPA KELAS.

3. PAHAM AGAMA
NEGARA MEMBINA KEHIDUPAN UMAT.

B. IDEOLOGI PANCASILA
PANCASILA TATANAN NILAI-NILAI YANG DIGALI DARI NILAI-
NILAI DASAR BUDAYA BANGSA INDONESIA
SILA I NILAI SPIRITUAL
SILA II KESAMAAN DERAJAT, HAK, KEWAJIBAN
SILA III FAKTOR PENGIKAT
SILA IV KEDAULATAN
SILA V NILAI KEADILAN

C. IDEOLOGI LIBERAL
Paham liberalisme adalah paham yang meletakkan ratio sebagai sumber kebenarn tertinggi,
materialisme sebagi nilai yang tertinggi, dan empirisme pada kenyatan, individualisme yang
meletakan pada nilai kebebasan sebagai dalam kehidupan.
Secara ontologis manusia pada hakekatnya adalah mahluk indiidu yang bebas, karena itu
paham liberalis memandang manusia sbg pribadi yang utuh terlepas dari manusia lainnya.
Berdasar paham materialisme, rasionalisme, empirisme, individualisme (liberalisme) maka
demikrasi liberalis senantiasa mendasarkan atas kebebasan. Rasio merupakan tingkatan
tertinggi dalam negara.
Eksistensi manusia (rakyat) sebagai bagian integral dari elemen-elemen penyusunan negara.
D. Ideologi Sosialisme Komunis.
Berkembangnya paham indivudualisme liberalisme berakibat munculnya masyarakat
kapitalisme. Menurut paham ini mengakibatkan penderitaan rakyat, shg komunisme muncul
sebagai reaksi atas penindasan rakyat kecil.
Berdasarkan pemikiran Karl Mark memandang bahwa paham liberalisme individualisme atau
kebebasan, hak individu tidak ada. Karen itu dengan mendasarkan pada suatu keyakinan
bahwa manusia adalah kumpulanrelasi dari suatu komunitas. Manusia dipandang sbg mahluk
sosial.