Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRESENTASI

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SISTEM POLITIK ISLAM

OLEH :

KELOMPOK 10
Teknik Mesin (B) 2014
Ahmad Galih, Furqon Alkafi, Erlangga

Kata Pengantar

Alhamdulillah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan anugeraNya kepada kita semua. Terimakasih kita sampaikan
kepada doesn pengajar, teman-teman, dan semua pihak yang telah membantu
pembuatan laporan hasil presentasi sistem politik agama islam tentang dinamika gerak
rotasi ini.
Selain itu, kami juga mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang dapat
kami jadikan koreksi dalam pembuatan laporan ini. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat dan dapat digunakan dengan sebaik mungkin sehingga akan menghasilkan
hasil yang memuaskan dan sesuai keinginan.

Indralaya, 1 November 2014

Pengertian Sistem Politik

Kata politik berasal dari bahasa latin politicos atau politicus yang berarti relating to
citizen (hubungan warga negara) keduanya berasal dari kata polis (kota), dalam
bahasa arab politik diartikan dengan siyasah yang berasal dari kata saasa-yasuusu
(mengemudi, mengendalikan dan mengatur)

Politik dapat definisikan sebagai proses pembentukan dan pembagian kekuasaan


dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya
dalam negara.
Dari hal ini, dapat kita artikan bahwa politik Islam merupakan upaya penggapaian
kekuasaan dengan mengindahkan ketentuan yang telah digariskan dalam ajaran Islam.

Menurut Abdul Qadir Zallum menyatakan bahwa politik atau siyasah mempunyai
makna mengatur urusan rakyat, baik dalam maupun luar negeri. Politik dilaksanakan
oleh pemerintah dan rakyat.
Negara adalah institusi yang mengatur urusan tersebut secara praktis, sedangkan
rakyat mengoreksi pemerintah dalam melakukan tugasnya

Paradigma Sistem Politik Islam

Dalam wacana kontemporer, paradigma sitem politik Islam setidaknya berpusat


pada 3 pokok pikiran, yakni :

1. Kelompok pertama berpendapat bahwa Islam adalah agama yang serba lengkap
yang bukan hanya mengatur urusan ibadah manusia dengan Tuhan, melaikan juga
mengajarkan pada urusan keduniawian. Dalam hal ini, sistem politik dan
ketatanegaraan dalam Islam adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam
yang wajib untuk diteladani sebagaimana Rasulullah mencontohkan di Madinah.
Beberapa tokoh yang mendukung gagasan ini seperti, Abu Ala al Maududi.

2. Kelompok kedua, sebagai anti tesa terhadap gagasan kelompok pertama


berpendapat bahwa Agama Islam dengan urusan politik dan ketatanegaraan
adalah tidak ada hubungannya sama sekali. Oleh karena itu, permasalahan
politik dan ketatanegaraan adalah murni hasil pemikiran manusia bukan dari
ajaran agama Islam.

3. Kelompok ketiga, sebagai golongan yang mencoba mengakomodir pertentangan


antara kelompok pertama dengan kelompok kedua, berpandangan bahwa Islam adalah
agama yang serba lengkap yang didalamnya terdapat sistem kehidupan termasuk
politik dan ketatanegaraan, namun hanya dalam bentuk seperangkat etika dalam
membangun kehidupan politik dan bernegara.

Lima Konseptual dalam Memahami Politik

1. Sebagai usaha warga negara dalam membicarakan dan mewujudkan kebaikan


bersama.
2. Berkaitan dengan penyelenggaraan negara.
3. Sebagai kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan
dalam masyarakat.
4. Digunakan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan
kebijakan umum.
5. Sebagai konflik dalam rangka mencari atau mempertahankan sumber-sumber yang
dianggap penting.

Nilai - Nilai Dasar dalam Sistem Politik Islam

Kemestian mewujudkan persatuan dan kesatuan umat (Q.S. 23:52)


Keharusan musyawarah dalam menyelesaikan maslah-masalah ijtihadiyah (Q.S.
42:38, 3:159)
Keharusan menunaikan amanat dan menetapkan hukum secara adil (Q.S. 4:58)
Keharusan menaati Allah, Rasul, dan Ulil Amri (Q.S. 4:59)
Keharusan mendamaikan konflik antar kelompok dalam masyarakat (Q.S. 49:9)
Keharusan mempertahankan kedaulatan negara dan larangan melakukan agresi dan
invansi (Q.S. 2:190)
Mementingkan perdamaian daripada permusushan (Q.S. 8:61)
Keharusan meningkatkan kewaspadaan dalam bidang pertahanan dan keamanan
(Q.S. 8:60)
Keharusan menepati janji (Q.S. 16:91)
Keharusan mengutamakan perdamaian bangsa-bangsa (Q.S. 49:13)
Mengupayakan peredaran harta dalam seluruh lapisan masyarakat (Q.S. 59:7)
Keharusan mengikuti prinsip-prinsip dalam pelaksanaan hukum

Secara garis besar obyek pembahasan sistem politik Islam meliputi :


Siyasah Dusturiyah, dalam fiqh modern disebut dengan Hukum Tata Negara
Siyasah Dauliyah, biasa disebut dengan Hukum Internasional (hukum dalam
hubungan antar bangsa)
Siyasah Maliyah, mengatur tentang pemasukan, pengelolaan, dan pengeluaran uang
milik negara.

Beberapa hal yang berkaitan dengan Siyasah Dusturiyah antara lain:


Persoalan imamah ( hak, kewajibannya)
Persoalan rakyat (status, hak, dan kewajibannya)
Persoalan baiat (sumpah setia)
Persolan waliyyul ahdi (pemimpin/khalifah)
Persoalan perwakilan rakyat (Ahlul Halli Wal Aqdi)
Wizarah (kementrian) dan pembagiannya

Sedangkan dasar-dasar Siyasah Dauliyah antara lain:


Mewujudkan kesatuan umat manusia
Mewujudkan keadilan
Menghargai persamaan
Menghargai kehormatan manusia
Mengembangkan toleransi
Mewujudkan kerjasama kemanusiaan
Menghargai kebebasan/kemerdekaan
Mewujudkan perilaku moral yang baik

Adapun orientasi masalahnya berkaitan dengan:


Penentuan situasi damai atau perang (penentuan sifat darurat kolektif)
Perlakuan terhadap tawanan
Kewajiban suatu negara terhadap negara lain
Aturan dalam perjanjian internasioanal
Aturan dalam pelaksanaan peperangan.
Siyasah Maliyah meliputi pembahasan:
Prinsip-prinsip dalam kepemilikan harta
Tanggung jawab sosial dalam masalah harta
Zakat, infaq, shadaqah, waqaf.
Khoroj, jizyah, ghanimah, fai, usyr
Aturan dalam eksploitasi sumberdaya alam

Kontribusi Umat Islam dalam Politik Indonesia

Didirikannya partai-partai politik yang berasas Islam, juga partai-partai nasionalis


yang berbasiskan umat Islam
Sikap proaktifnya tokoh-tokoh politik Islam dan umat Islam terhadap terwujudnya
keutuhan NKRI, termasuk menerima pancasila sebagai azas dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.

Islam di Indonesia telah membentuk budaya bernegara, ideologi tentang jihad, dan
kontrol sosial yang terarah dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan.
Tingginya partisipasi masyarakat Islam dalam event-event politik kenegaraan (pemilu,
pilkada, dll.)

Islam merupakan agama yang serba lengkap, selain mencakup persoalan spiritual juga
politik. Oleh karena itu, umat Islam melalui ajarannya telah memberikan kontribusi
yang dapat dikatakan cukup signifikan terhadap kehidupan politik dunia internasional
maupun nasional.
Islam telah membentuk Civic Culture, yaitu budaya bernegara yang meliputi
solidaritas nasinal, ideology jihad, dan kontrol sosial. Sumbangan tersebut berujung
pada keutuhan Negara serta terwujudnya persatuan dan kesatuan. Hal ini
menghasilkan banyaknya partai politik yang berbasiskan idiologi Islam baik langsung
maupun tak langsung dan terpengaruhinya sistem politik pemerintahan Indonesia
yang dilandasi nila-nilai keislaman.
Daftar Pustaka

Ambarwati, Sri. 2006. Agtama Islam untuk SMA/MA Kelas X Semester Genap.
Klaten: Viva Pakarindo.
Badudu. 1995. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 2009. Agama Islam.(http://wikipedia.com/sistem-politik-islam.html)