Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH MIKROBIOLOGI

Algae Dan Protozoa

DisusunOleh :

KELOMPOK 7

1. NIA HERIANI G 701 14 005


2. FITRA G 701 14 131
3. WIWIT YUNI KATRIKA G 701 14 152
4. NINING ANGRIANA G 701 12 068
5. MOH RONALDI G 701 14 188

JURUSAN FARMASI

UNIVERSITAS TADULAKO

TAHUN AKADEMIK 2015 / 2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis mengucapkan kepada Tuhan yang telah memberikan berkat-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Algae dan Protozoa.
Guna memenuhi tugas mata kuliah Mikrobiologi.. Tanpa pertolongan-Nya, mungkin
penulis tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah ini di susun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri
penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan walaupun masih ada
kesalahan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kekurangan. Penyusun mohon untuk saran
dan kritiknya agar makalah ini dapat menjadi lebih baik.. Terima kasih.

Palu, 10 agustus 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................................................
KATA PENGANTAR.......................................................................................................
DAFTAR ISI .....................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................

A. LATAR BELAKANG.....................................................................................
B. RUMUSAN MASALAH............

BAB II PEMBAHASAN

A. TINJAUAN TENTANG ALGA.............................................................................


B. SIKLUS HIDUP ALGA..........................................................................................
C. PERAN ALGA DALAM KEHIDUPAN................................................................
D. TINJAUAN TENTANG PROTOZOA...................................................................
E. SIKLUS HIDUP PROTOZOA................................................................................
F. PERAN PROTOZOA DALAM KEHIDUPAN......................................................
BAB III PENUTUP...........
A. KESIMPULAN.........
DAFTAR PUSTAKA.......

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kingdom prosita mencakup semua spesies uniseluler cukariotik.
Sebagian diantara organisme ini serupa dengan hewan (protozoa), yang lainnya
mirip tumbuhan (prosita alga), dan yang lainnya lagi menunjukkan ciri-ciri
fungsi. Namun, yang akan kami bahas disini adalah Algae dan Protozoa beserta
pengelompokkannya.

Algae adalah sekelompok organisme autotroph yang tidak memiliki


organ dengan perbedaan fungsi yang nyata. Algae pernah digolongkan sebagai
tumbuhan bertallus. Algae memiliki 6 kelompok, yaitu Euglunophyta,
Chlorophyta (Ganggang Hijau ), Pacophyta (Ganggang Cokelat), Chhysophyta
( Ganggang Pirang atau keemasan), Rhodophyta (Ganggang merah) dan
Phyrrophyta (ganggang Api).

Protozoa adalah oganisme-organisme heterotik yang ditemukan disemua


habitat utama, sedangkan yang lainnya hidup sebagai parasite di dalam tubuh
hewan. Kelompok protozoa antara lain, Rhizopoda atau Sarcodina (berkaki
Semut), Ciliata (berambut getar), Flagellates atau Mastigophora (bercambuk),
dan Sporozoa (penghasil Spora).

I.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Biologi dan Siklus Hidup Algae ?


2. Bagaimana Biologi dan Siklus Hidup Protozoa ?
3. Bagaimana Peran Algae dan Protozoa dalam Kehidupan ?

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Tinjauan Tentang Alga


Alga adalah tumbuhan nonvascular yang memilika benruk thalli yang
beragam, uniseluler atau multiseluler, dan berpigmen fotosintetik. Alga bentik
(makroalga) dapat hidup di perairan tawar dan laut.

Makroalga adalah tumbuhan tidak berpembuluh yang tumbuh melekat


pada subtract didasaran laut. Tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang
daun, bunga, buah, dan biji ssejati. Makroalga terbesar didaerah litoral dan
sublitoral. Daerah tersebut masih dapat memperoleh cahaya matahari yang
cukup sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung

Makraoalga menyerap nutrisi berupa fosfor dan nitrogen dari lingkungan


sekitar perairan. Menurut atmaja & sulistijo), makroalga dapat diklasifikasikan
menjadi tiga divisi berdasarkan kandungan pigmen fotosintetik dan pigmen
asesoris, yaitu: cholorophyta, phaeophyta, dan rhodophyta.

Alga merupakan tumbuhan thallus yang tidak mempunyai akar, batang,


daun, dan bunga. Struktur perkembangbiakannya hampir selalu bersel tunggal,
jika ada yang bersel banyak setiap komponen sel membentuk satuan reproduksi
baik sebagai zoospora maupun gamet.

a) Klasifikasi Alga
Alga yang hidup melayang-layang di permukaan air disebut neuston,
sedangkan yang hidup di dasar perairan disebut bersifat bentik. Alga yang
bersifat bentik digolongkan menjadi :
epilitik (hidup di atas batu)
epipalik (melekat pada lumpur atau pasir)
epipitik (melekat pada tanaman)
epizoik (melekat pada hewan).

Berdasarkan habitatnva di perairan, alga dibedakan atas :


alga subaerial, yaitu alga yang hidup di daerah permukaan
alga intertidal, yaitu alga yang secara periodik muncul di permukaan
karena naik turunnya air akibat pasang surut
alga sublitoral, yaitu alga yang hidup di bawah permukaan air
alga edafik, yaitu alga yang hidup di dalam tanah.

Beberapa jenis alga dapat bersimbiosis dengan organisme lainnya.


Misalnya, Chlorella sp. hidup bersama Paramecium, Hydra, atau Mollusca; alga
Platymonas sp. hidup bersama cacing pipih Convoluta roscoffensis.

Alga ada yang bersel tunggal (uniseluler), membentuk koloni berupa


filamen (kumpulan sel berbentuk benang) atau koloni yang tidak membentuk
filamen. Alga uniseluler ada yang dapat bergerak atas kekuatan sendiri (motil)
dan ada yang tidak dapat bergerak (nonmotil). Alga uniseluler yang mikroskopis
tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Sebaliknya, ada alga yang membentuk
koloni berupa. filamen berukuran cukup besar sehingga dapat dilihat dengan
mata telanjang. Sel yang terletak paling bawah pada filamen membentuk alat
khusus untuk menempel pada batu, batang pohon, pasir, atau lumpur. Alat
tersebut dinamakan pelekap. Koloni alga yang tidak membentuk filamen
umumnya berbentuk bola atau pipih tanpa pelekap.

b) Reproduksi Alga
Alga bereproduksi melalui dua cara yaitu seksual dan aseksual.
Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembelahan sel, fragmentasi, dan
pembentukan zoospora. Reproduksi secara seksual terjadi melalui isogami dan
oogami.

Reproduksi Aseksual
Reproduksi aseksual terjadi melalui pembelahan sel
menghasilkan dua sel anak yang masing-masing akan menjadi individu
baru. Reproduksi dengan cara pembelahan sel umumnya terjadi pada
alga bersel tunggal. Alga berbentuk koloni tanpa filamen atau yang
berbentuk filamen umumnya bereproduksi melalui fragmentasi.
Fragmentasi adalah terpecah-pecahnya koloni menjadi beberapa bagian.
Selain melalui pembelahan sel dan fragmentasi, alga juga dapat
bereproduksi melalui pembentukan zoospora. Zoospora merupakan sel
tunggal yang diselubungi oleh selaput dan dapat bergerak atau berenang
bebas dengan menggunakan satu atau lebih flagela. Setiap zoospora
merupakan calon individu baru.

Reproduksi Seksual
Reproduksi seksual melibatkan peleburan dua gamet untuk
membentuk zigot dan tumbuh menjadi individu baru. Terdapat dua tipe
reproduksi seksual, yaitu isogami dan oogami.

Pada tipe isogami, gamet jantan dan gamet betina berukuran


sama besar dan umumnya dapat bergerak. Jika zigot hasil peleburan
gamet betina dengan jantan mengalami dormansi, maka disebut
zigospora.

Pada tipe oogami, ukuran gamet jantan berbeda dengan ukuran


gamet betina. Gamet betina atau telur berukuran besar dan tidak
bergerak, sedangkan gamet jantan berukuran kecil dan dapat bergerak.
Jika zigot yang terbentuk tidak berkecambah tetapi mengalami dormansi,
maka disebut oospora.

c) Kelompok-Kelompok Alga
Alga memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat
melakukan fotosintesis. Selain itu, alga juga memiliki pigmen lain yang
dominan. Berdasarkan dominansi pigmennya, alga dapat dibedakan menjadi alga
cokelat, alga merah, alga keemasan, diatom, dan alga hijau.

1) Alga Cokelat (Phaeophyta)


Warna alga cokelat ditimbulkan oleh adanya pigmen cokelat
(fukosantin) yang secara dominan menyelubungi warna hijau dari klorofil
pada jaringan. Selain fukosantin, alga cokelat juga mengandung pigmen lain
seperti klorofil a, klorofil c, violasantin, beta-karoten, dan diadinosantin,
Alga cokelat merupakan alga yang
memiliki talus terbesar dibandingkan jenis
alga lainnya. Pada kondisi yang
sesuai, Macrocystis sp. atau alga
cokelat raksasa dapat mencapai
panjang 100 meter dan kecepatan tumbuh mencapai 15 cm per hari. Alga
cokelat yang sering ditemukan di tepi pantai sedang mengalami fase diploid
dari siklus hidupnya.

Ciri-ciri alga cokelat


o Ukuran talus mulai dari mikroskopis sampai makroskopis. Berbentuk tegak,
bercabang, atau filamen tidak bercabang.
o Memiliki kloroplas tunggal. Ada kloroplas yang berbentuk lempengan
diskoid (cakram) dan ada pula yang berbentuk benang.
o Memiliki pirenoid yang terdapat di dalam kloroplas. Pirenoid merupakan
tempat menyimpan cadangan makanan. Cadangan makanan yang terdapat
pada alga ini berupa laminarin.
o Bagian dalam dinding sel tersusun dari lapisan selulosa, sedangkan bagian
luar tersusun dari gumi. Pada dinding sel dan ruang antarsel terdapat asam
alginat (algin).
o Mempunyai jaringan transportasi air dan zat makanan yang analog dengan
jaringan transportasi pada tumbuhan darat.

Habitat
Alga cokelat umumnya hidup di air laut, terutama laut yang bersuhu
agak dingin dan sedang. Hanya ada beberapa jenis alga cokelat yang hidup
di air tawar. Di daerah subtropis, alga cokelat hidup di daerah intertidal,
yaitu daerah literal sampai sublitoral. Di daerah tropis, alga cokelat biasanya
hidup di kedalaman 220 meter pada air yang jernih.

Cara hidup
Alga cokelat bersifat autotrof. Foto-sintesis terjadi di helaian yang
menyerupai daun. Gula yang dihasilkan ditransportasikan ke tangkai yang
menyerupai batang.

Reproduksi
Reproduksi pada alga cokelat terjadi secara aseksual dan seksual.
Reproduksi aseksual dengan pembentukan zoospora berflagela dan
fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual terjadi secara oogami atau
isogami. Reproduksi seksual alga cokelat hampir serupa dengan pembiakan
generatif tumbuhan tingkat tinggi. Contohnya adalah reproduksi pada Fucus
vesiculosus. Selain berkembang biak secara aseksual dengan fragmentasi,
Fucus vesiculosus juga berkembang biak dengan cara seksual dengan
oogami.

Proses oogami adalah sebagai berikut. Ujung lembaran talus yang


fertil membentuk reseptakel, yaitu badan yang mengandung alat pembiak.
Di dalam reseptakel terdapat konseptakel yang mengandung anteridium
yang menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoid) dan oogonium yang
menghasilkan sel telur dan benang-benang mandul (parafisis).

Anteridium berupa sel-sel berbentuk jorong yang terletak rapat satu


sama lain pada filamen pendek bercabang-cabang yang muncul dari dasar
dan tepi konseptakel. Tiap anteridium menghasilkan 64 spermatozoid

Oogonium berupa badan yang duduk di atas tangkai. Oogonium


jumlahnya sangat banyak dan tiap oogonium mengandung 8 sel telur. Akan
tetapi, hanya 40% dari sel telur yang dapat dibuahi dan hanya 1 atau 2 dari
setiap 100.000 spermatozoid dapat membuahi sel telur. Zigot lalu
membentuk dinding selulosa dan pektin, kemudian melekat pada suatu
substrat dan tumbuh menjadi individu baru yang diploid.

Contoh alga cokelat, antara lain:


a) Fucus serratus
b) Macrocystis pyrifera
c) Sargassum vulgare
d) Turbinaria decurrens

2) Alga Merah (Rhodophyta)


Alga merah berwarna merah
sampai ungu, tetapi ada juga yang
lembayung atau kemerah-merahan.
Kromatofora berbentuk cakram atau
lembaran dan mengandung klorofil a,
klorofil b, serta karotenoid. Akan tetapi,
warna lain tertutup oleh warna merah
fikoeritrin sebagai pigmen utama yang mengadakan fluoresensi. Jenis
Rhodophyta tertentu memiliki fikosianin yang memberi warna biru.

Ciri-ciri alga merah


Talus berupa helaian atau berbentuk seperti pohon. Banyak alga merah
yang tubuhnya dilapisi kalsium karbonat.
Tidak memiliki flagela.
Dinding sel terdiri dari komponen yang berlapis-lapis. Dinding sel
sebelah dalam tersusun dari mikrofibril, sedangkan sisi luar tersusun dari
lendir. Komponen kimia mikroribril terutama adalah xilan, sedangkan
komponen kimia dinding mikrofibril luarnya adalah manan. Dinding sel
alga merah mengandung polisakarida tebal dan lengket yang bernilai
komersial.
Memiliki pigmen fotosintetik fikobilin dan memiliki pirenoid yang
terletak di dalam kloroplas. Pirenoid berfungsi untuk menyimpan
cadangan makanan atau hasil asimilasi. Hasil asimilasinya adalah sejenis
karbohidrat yang disimpan dalam bentuk tepung fluorid, fluoridosid
(senyawa gliserin dan galaktosa), dan tetes minyak. Tepung fluorid jika
ditambah lodium menunjukkan warna kemerah-merahan.
Cara hidup
Alga merah umumnya bersifat autotrof. Akan tetapi ada pula yang
heterotrof, yaitu yang tidak memiliki kromatofora dan biasanya bersifat
parasit pada alga lain.

Habitat
Alga merah umumnya hidup di laut yang dalam, lebih dalam daripada
tempat hidup alga cokelat. Sepertiga dari 2500 spesies yang telah diketahui,
hidup di perairan tawar dan ada juga yang hidup di tanah. Biasanya
organisme ini merupakan penyusun terumbu karang laut dalam. Alga merah
berperan penting dalam pembentukan endapan berkapur, baik di lautan
maupun di perairan tawar.

Reproduksi
Alga merah dapat bereproduksi secara seksual dan aseksual.
Reproduksi seksual terjadi melalui pembentukan dua anteridium pada ujung-
ujung cabang talus. Anteridium menghasilkan gamet jantan yang disebut
spermatium. Gametangium betina disebut karpogonium yang terdapat pada
ujung cabang lain.

Karpogonium terdiri dari satu sel panjang. Bagian karpogonium


bawah membesar seperti botol, sedangkan bagian atasnya membentuk gada
atau benang dan dinamakan trikogen. Inti sel telur terdapat di bagian bawah
yang membesar seperti botol.

Spermatium mencapai trikogen karena terbawa air (pergerakan secara


pasif). Spermatium kemudian melekat pada trikogen. Setelah dinding
perlekatan terlarut, seluruh protoplasma spermatium masuk dalam
karpogonium. Setelah terjadi pembuahan, terbentuklah sumbat di bagian
bawah. karpogonium. Sumbat itu memisahkan karpogonium dan trikogen.
Zigot hasil pembuahan akan membentuk benang-benang sporogen. Dalam
sel-sel di ujung benang sporogen itu, terbentuk spora yang masing-masing
memiliki satu inti dan satu plastida; spora tersebut dinamakan karpospora.
Karpospora akhirnya keluar dari sel-sel ujung benang sporogen sebagai
protoplasma telanjang berbulu cambuk. Karpospora ini mula-mula
berkecambah menjadi protalium yang akhirnya tumbuh menjadi individu baru
lengkap dengan alat-alat generatifnya.

Reproduksi aseksual terjadi dengan membentuk tetraspora. Tetraspora


akan menjadi gametangium jantan dan gametangium betina. Gametangium
jantan dan betina akan bersatu membentuk karposporofit. Karposporofit
kemudian menghasilkan tetraspora, Contoh anggota-anggota Rhodophyta
antara lain: Corrallina, Palmaira, Batrachospermum moniliforme, Gelidium,
Gracilaria, Eucheuma, dan Scicania furcellata.

3) Alga Keemasan (Chrysophyta)


Chrysophyta diambil dari kata
Yunani chrysos yang berarti emas.
Kelompok alga keemasan memiliki
keragaman komposisi pigmen, dinding sel,
dan tipe flagela sel. Alga keemasan
mengandung klorofil a dan c, karoten, dan
santofil.

Ciri-ciri alga keemasan


Bentuk talus ada yang berupa batang atau telapak tangan.
Alga keemasan yang bersel satu ada yang memiliki 2 flagela
heterodinamik, yaitu sebagai berikut.(1) Satu flagela mempunyai tonjolan
seperti rambut yang disebut mastigonema. Flagela seperti ini disebut
pleuronematik. Flagela pleuronematik mengarah ke anterior. (2) Satu
flagela lagi tidak mempunyai tonjolan seperti rambut disebut
akronematik, mengarah ke posterior. Kedua flagela heterodinamik ini
ada yang hampir sama panjangnya (contohnya pada synura) ada pula
yang sedikit berbeda panjangnya (contohnya pada Ochromonas). Tidak
semua alga. keemasan memiliki flagela heterodinamik, ada pula yang
hanya mempunyai satu flagela atau dua flagela yang sama bentuknya.
Pada kloropas alga keemasan jenis tertentu, ditemukan pirenoid yang
merupakan tempat persediaan makanan. Persediaan makanan berupa
krisolaminarin (dahulu disebut leukosin). Selain itu di dalam vakuola
terdapat tetes-tetes minyak.

Habitat
Habitatnya di air tawar atau air laut, serta tempat-tempat yang basah.

Cara hidup
Alga keemasan hidup secara autotrof. Artinya dapat mensintesis
makanan sendiri karena memiliki klorofil untuk berfoto-sintesis. Klorofil
yang dimilikinya antara lain klorofil a, klorofil c, dan karotenoid, termasuk
juga fukbsantin.

Reproduksi
Reproduksi pada alga keemasan dapat terjadi secara aseksual dan
seksual. Reproduksi aseksual dengan cara membelah diri menghasilkan
spora motil berflagela, yang disebut zoospora. Reproduksi seksual dengan
cara membentuk sel khusus yang disebut auksospora. Auksospora adalah
zigot yang dilindungi oleh suatu dinding sel yang berbeda dengan dinding
sel pada umumnya.

4) Diatom (Bacillariophyta)
Inti sel dan kloropas diatom berwarna
cokelat keemasan, tetapi ada juga yang berwarna
hijau kekuningan atau cokelat tua. Sebagian besar
diatom bersifat uni-seluler, walaupun ada juga
yang berkoloni.

Ciri-ciri umum diatom


o Talus bersel satu. Struktur talus terdiri dari dua bagian, yaitu wadah
(kotak) disebut hipoteka dan tutupnya disebut epiteka. Epiteka berukuran
lebih besar daripada hipoteka. Di antara dua kotak dan tutup terdapat
rafe atau celah, dindingnya mengandung zat kersik (silika).
o Inti sel berada di pusat sitoplasma,
o Kloroplasnya mempunyai bentuk yang bervariasi, yaitu seperti cakram,
seperti huruf H, periferal, dan pipih.

Habitat
Hidup di air tawar, laut, dan daratan yang lembab sebagai plankton
atau bentos.

Cara hidup
Diatom termasuk organisme autotrof karena memiliki pigmen-pigmen
fotosintesis. Pigmen fotosintensisnya adalah klorofil a, klorofil c, karoten,
fukosantin, diatoksantin, dan diadi-noksantin.

Reproduksi
Reproduksi diatom terjadi secara seksual dan aseksual. Pada saat
diatom bereproduksi secara aseksual melalui mitosis, hipoteka dan epiteka
memisah. Setiap bagian akan membentuk bagian baru di dalam bagian yang
lama. Artinya, hipoteka sel lama menjadi epiteka sel baru dan epiteka sel
lama tetap menjadi epiteka sel baru. Jadi, salah satu sel anakan berukuran
tetap, sedangkan satu sel anakan lainnya berukuran lebih kecil daripada sel
induknya. Pembelahan mitosis terus berlangsung sampai terbentuk sel anakan
yang berukuran sekitar 30% dari besar sel aslinya. Setelah mencapai ukuran
minimum tersebut, diatom kemudian bereproduksi secara seksual. Sel diatom
menghasilkan sperma dan telur. Sperma kemudian bergabung dengan telur
membentuk zigot. Zigot akan tumbuh dan berkembang menjadi berukuran
normal seperti aslinya. Setelah diatom mencapai ukuran normal, diatom akan
kembali melakukan reproduksi aseksual melalui pembelahan mitosis.

5) Alga Hijau (Chlorophyta)


Alga hijau memiliki pigmen, hasil
metabolisme, dan struktur dinding sel yang
mirip dengan tumbuhan darat. Berdasarkan
data molekuler saat ini, banyak ilmuwan yang
memasukkan kelompok ini dalam kingdom
Plantae.

Ciri-ciri alga hijau


Ada yang bersel satu, ada yang membentuk koloni.
Bentuk tubuhnya ada yang bulat, filamen, lembaran, dan ada yang
menyerupai tumbuhan tinggi.
Bentuk dan ukuran kloroplas beraneka ragam, ada yang seperti mangkok,
busa, jala, atau bintang. Di dalam kloroplas terdapat ribosom dan DNA.
Selain itu terdapat pirenoid sebagai tempat penyimpanan hasil asimilasi
yang berupa tepung dan lemak. Organel lainnya adalah badan Golgi,
mitokondria, dan retikulum endo-plasma.
Pada sel reproduktif yang motil terdapat pigmen yang disebut stigma
(bintik mata merah).
Di dalam sitoplasma sel yang dapat bergerak terdapat vakuola kontraktil,
Vakuola kontraktil berfungsi sebagai alat osmoregulasi.
Inti sel alga hijau memiliki dinding, sehingga bentuknya tetap. Inti yang
demikian disebut eukarion.
Pada alga hijau yang motil terdapat dua flagela yang sama panjang.

Habitat
Habitat alga ini di air tawar, air laut, dan tanah-tanah yang basah. Ada
pula yang hidup di tempat yang kering.

Cara hidup
Alga hijau hidup secara autotrof. Alga ini berwarna hijau karena
adanya klorofil a, b, beta-karoten, dan santofil. Ada pula yang bersimbiosis
dengan jamur membentuk lumut kerak.

Reproduksi
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yaitu
spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Zoospora berbentuk seperti
buah pir yang memiliki dua sampai empat bulu cambuk, vakuola kontraktil,
dan satu bintik mata berwarna merah (stigma). Reproduksi seksual
berlangsung dengan konjugasi, yaitu bersatunya zigospora. Zigospora tidak
mempunyai alat gerak.

Ciri-ciri dan Perbedaan Alga Cokelat, Merah, Keemasan, Hijau, dan Diatom :
Ciri-ciri Alga cokelat Alga merah Alga Alga hijau Diatom
(Phaeophyta) (Rhodophyta) keemasan (Chlorophyta) (Bacillariophyta)
(Chrysophyta)
Contoh Turbinaria Gracilaria Navicula Chlorella Ulva Actinastrum
Fucus Gelidium Pinnularia Spirogyra Desmidium
Sargassum Eucheuma Synura Bacteriastrum

Pigmen klorotil a dan klorofil a dan klorofil a dan klorofil a, b, B- klorofil a dan c,
c, fukosantin, b, karotenoid, c, B-karoten, karoten, santofil karotenoid,
karolen, . fikosianin, santofil fukosatin,
sanlofil fikoeritrin diatoksantin,
diadinoksantin

Habitat pantai, air laut, air tawar dan air tawar dan 90% di air tawar air tawar dan air laut
air tawar air laut air laut dan 10% di laut

Bentuk benang atau benang atau batang atau benang, lembaran, talus terdiri dari 2
talus seperti seperti seperti telapak bola bagian, epiteka dan
tumbuhan tumbuhan tangan hipoteka
tingkat tinggi tingkat tinggi

Reproduksi zoospora spora haploid zoospora zoospora pembelahan hipoteka


1. aseksual berflagela dua berflagela dan epiteka
dan banyak
fragmentasi

2. seksual Isogami/ persatuan sel persatuan sel konjugasi persatuan sel sperma
oogami spermatium sperma dan dan ovum
dan ovum
karpogonium
Dinding sel selulosa, asam manan dan kersik/silika selulosa silika (kersik)
alginat xilan

Peranan Fitoplankton bahan agar- plankton, fitoplankton dalam bahan isolasi,


dalam penyekat dinamit,
agar dan sup produsen di ekosistem air,
ekosistem air, penggosok
asam alginat perairan laut bahan makanan
untuk industri
makanan,
farmasi, dan
pupuk

II.2 Siklus Hidup Alga


Alga memiliki tiga pola siklus hidup secara seksual yaitu :
1) Pada pola siklus hidup yang pertama terdapat satu tipe individu yang hidup
bebas yangbersifat haploid. Dalam hal ini terjadi pembentukkan gamet pada
alga yang telah matang.Gamet-gamet ini kemudian akan menyatu membentuk
zygote yang bersifat diploid dan dapat mengalami dormansi. Bilamana
saatnya tiba (kondisi baik), zigot ini dapat berkecambah, dan pada saat ini
intinya mengalami meiosis sehingga menghasilkan zoospora, aplanospora
atau juvenile yang mirip alga dewasa dan bersifat haploid. Pola siklus hidup
yang pertama ini disebut pola haplobiontik dan dilambangkan dengan simbul
H,h dan banyak terjadi pada alga hijau.

2) Pada pola hidup yang kedua, satu tipe individu alga yang hidup bebas bersifat
diploid. Pola siklus hidup seperti ini dilambangkan dengan H,d. Individu
yang bersifat diploid dapat memperbanyak dengan cara aseksual. Contoh alga
yang memiliki pola siklus hidup seperti ini adalah alga hijau yang berbentuk
tabung, dan alga batu (Fucales) dari divisi Phaeophyta.

3) Pada pola siklus hidup yang ketiga terdapat dua tipe individu yang hidup
bebas yaitu individu penghasil gamet (gametophyt) yang bersifat haploid dan
individu penghasil spora (sporophyt) yang bersifat diploid. Gamet-gamet
yang dihasilkan dapat menyatu membentuk zygote yang tidak mengalami
masa dormansi. Zygote ini kemudian tumbuh menjadi sporophyt yang
bersifat diploid. Dalam hal ini meosis terjadi pada saat pembentukkan spora
(sporogenesis). Spora yang dihasilkan bersifat haploid dan berkembang
menjadi gametophyte. Baik sporophyt maupun gametophyte masing-masing
dapat memperbanyak dirinya dengan cara aseksual. Pola siklus hidup seperti
ini dikenal dengan diplobiontik yang dilambangkan dengan simbul D, h+d,
dan banyak terjadi pada alga merah (Rhodophyta). Siklus hidup diplobiontik
ada dua macam yaitu isomorphik dan heteromorphik. Dikatakan isomorphik
bilamana gametophyt dan sporophyt memiliki kesamaan bentuk, sedangkan
heteromorphik bilamana gametophyt dan sporophyt masing-masing
bentuknya berbeda. Isomorphik dilambangkan dengan simbul Di, h+d,
sedangkan heteromorphik dilambangkan dengan Dh, h+d.

II.3 Peran Alga Dalam Kehidupan

Alga memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat
melakukan fotosintesis. Selain itu, alga juga memiliki pigmen lain yang
dominan. Berdasarkan dominansi pigmennya, alga dapat dibedakan menjadi alga
cokelat, alga merah, alga keemasan, diatom, dan alga hijau.

1) Alga Cokelat (Phaeophyta)


Alga cokelat bermanfaat bagi industri makanan dan farmasi. Algin (asam
alginat) yang merupakan bagian koloid dari alga cokelat digunakan dalam
pembuatan es krim, pil, tablet, salep, obat pembersih gigi, losion, dan krem
sehabis bercukur. Selain itu, alga cokelat digunakan untuk makanan ternak dan
sebagai pupuk karena kandungan nitrogen dan kaliumnya cukup tinggi
sedangkan fosfornya rendah.

2) Alga Merah (Rhodophyta)


Alga merah jenis tertentu dapat menghasilkan agar yang dimanfaatkan
antara lain sebagai bahan makanan dan kosmetik, misalnya Eucheuma spinosum.
Di beberapa negara, misalnya Jepang, alga merah ditanam sebagai sumber
makanan. Selain itu juga dipakai dalam industri agar, yaitu sebagai bahan yang
dipakai untuk mengeraskan/memadatkan media pertumbuhan bakteri. Beberapa
alga merah yang dikenal dengan sebutan alga koral menghasilkan kalsium
karbonat di dinding selnya. Kalsium karbonat ini sangat kuat dalam mengatasi
terjangan ombak. Kelebihan ini menjadikan alga kural memiliki peran penting
dalam pembentukan terumbu karang (Campbell et al. 2003; Solomon et al.
2005).

3) Alga Keemasan (Chrysophyta)


Alga keemasan merupakan penyusun utama plankton yang berperan
penting sebagai produsen di lingkungan perairan laut .

4) Diatom (Bacillariophyta)
Diatom yang mati di lautan akan mengendap di dasar laut menjadi tanah
diatom. Tanah diatom berguna sebagai bahan penggosok, bahan pembuat isolasi,
penyekat, dinamit, pembuat saringan, bahan penyadap suara, bahan pembuat cat,
pernis dan piringan hitam.

5) Alga Hijau (Chlorophyta)


Alga hijau memiliki pigmen, hasil metabolisme, dan struktur dinding sel
yang mirip dengan tumbuhan darat. Berdasarkan data molekuler saat ini, banyak
ilmuwan yang memasukkan kelompok ini dalam kingdom Plantae.

II.4 TINJAUAN TENTANG PROTOZOA


Protozoa merupakan hewan bersel
tunggal, berinti sejati (eukariotik) da tidak
memiliki dinding sel. Protozoa berasal dari
kata protos yang berarti pertama dan zoo
yang berarti hewan sehingga dapat diartikan
sebagai hewan pertama. Ukurannya antara
3-100 mikron dan merupakan organisme
mikroskopis bersifat heterotrof. Tempat
hidupnya adalah tempat yang basah yang kaya zat organic, air tawar atau air laut
sebagai zooplankton, beberapa jenis bersifat parasit dan menyebabkan penyakit
pada manusia dan hewan ternak.

Bentuk Tubuh Protozoa


Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Ukuran
tubuhnya antara 3-1000 mikron. Tubuh protozoa amat sederhana, yaitu terdiri
dari satu sel tunggal (unisel). Namun demikian, Protozoa merupakan sistem
yang serba bisa. Semua tugas tubuh dapat dilakukan oleh satu sel saja tanpa
mengalami tumpang tindih. Bentuk tubuh macam-macam ada yang seperti bola,
bulat memanjang, atau seperti sandal bahkan ada yang bentuknya tidak menentu.
Juga ada memiliki flagel atau bersilia.

Habitat Protozoa
Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka
umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan.
Beberapa spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang. Inang protozoa
yang bersifat parasit dapat berupa organisme sederhana seperti algae, sampai
vertebratayang kompleks, termasuk manusia. Beberapa spesies dapat tumbuh di
dalam tanah atau pada permukaan tumbuh-tumbuhan. Semua protozoa
memerlukan kelembaban yang tinggi pada habitat apapun. Beberapa jenis
protozoa laut merupakan bagian dari zooplankton. Protozoa laut yang lain hidup
di dasar laut. Spesies yang hidup di air tawar dapat berada di danau, sungai,
kolam, atau genangan air. Ada pula protozoa yang tidak bersifat parasit yang
hidup di dalam usus termit atau di dalam rumen hewan ruminansia. Beberapa
protozoa berbahaya bagi manusia karena mereka dapat menyebabkan penyakit
serius. Protozoa yang lain membantu karena mereka memakan bakteri berbahaya
dan menjadi makanan untuk ikan dan hewan lainnya.

Ciri-ciri Protozoa
Protozoa adalah mikroorganisme menyerupai hewan yang merupakan
salah satu filum dari Kingdom Protista. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan
oleh sel itu sendiri dengan menggunakan organel-organel antara lain membran
plasma, sitoplasma, dan mitokondria. Ciri-ciri umum :
Organisme uniseluler (bersel tunggal)
Eukariotik (memiliki membran nukleus)
Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)
Sifat hidupnya kosmopolit artinya dapat hidup di tempat atau habitat apapun.
Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof)
Hidup bebas, saprofit atau parasit
Protozoa merupakan bagian plankton di air tawar atau air laut dan berperan
penting sebagai indikator polusi
Sejumlah protozoa dapat menimbulkan penyakit.
Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup
Alat gerak berupa pseudopodia, silia, atau flagela

Morfologi Protozoa
Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola dapat berperan
sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk mengatur
tekanan osmosis. Jumlah dan letak vakuola kontraktil berbeda pada setiap
spesies. Protozoa dapat berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau bentuk
istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang tidak menguntungkan
dapat membentuk kista untuk mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada
keadaan yang menguntungkan, maka akan berkecambah menjadi sel
vegetatifnya. Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak mengandung
selulosa atau khitin seperti pada jamur dan algae. Kebanyakan protozoa
mempunyai bentuk spesifik, yang ditandai denganfleksibilitas ektoplasma yang
ada dalam membran sel. Beberapa jenis protozoa seperti Foraminifera
mempunyai kerangka luar sangat keras yang tersusun dari Si dan Ca. Beberapa
protozoa seperti Difflugia, dapat mengikat partikel mineral untuk membentuk
kerangka luar yang keras. Radiolarian dan Heliozoan dapat menghasilkan
skeleton. Kerangka luar yang keras ini sering ditemukan dalam bentuk fosil.
Kerangka luarForaminifera tersusun dari CaO2 sehingga koloninya dalam waktu
jutaan tahun dapat membentuk batuan kapur. Protozoa merupakan sel tunggal,
yang dapat bergerak secara khas menggunakan pseudopodia (kaki semu), flagela
atau silia, namun ada yang tidak dapat bergerak aktif. Berdasarkan alat gerak
yang dipunyai dan mekanisme gerakan inilah protozoa dikelompokkan ke dalam
4 kelas.

Cara Reproduksi Protozoa


Untuk mempertahankan jenisnya, Protozoa berkembang biak dengan
cara aseksual/vegetatif dan seksual/generatif. Reproduksi secara aseksual, yaitu
dengan cara membelah diri atau pembagian selnya sama. Pembelahan ini dapat
terjadi, baik secara membujur atau melintang pada sepanjang selnya sehingga
menghasilkan anak-anak sel yang dapat berukuran sama atau tidak sama. Jika
pada proses pembelahan diri (pembagiannya) menghasilkan dua anak sel, maka
disebut pembelahan biner, namun apabila terbentuk banyak anak sel dinamakan
pembelahan bahu rangkap (multipel fission). Beberapa kelompok Protozoa
bereproduksi secara seksual, yaitu dengan cara penggabungan atau penyatuan
fisik sementara antara dua individu kemudian terjadi pertukaran nukleus.
Dengan demikian, akan terjadi perpaduan sifat yang dibawa oleh kedua individu
tersebut dan menghasilkan satu individu baru. Cara pembiakan ini disebut
dengan konjugasi. Berikut adalah gambar dari proses konjugasi

Klasifikasi Protozoa
Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan alat gerak:
1. Rhizopoda (Sarcodina)
Pada kelompok ini, alat geraknya berupa aliran isi sel atau
tonjolan sitoplasma yang disebut pseudopodia. Contoh spesies dalam
kelas Rhizopoda yang sangat dikenal adalah Amoeba sp. Selain Amoeba,
ada beberapa Protozoa yang termasuk dalam Rhizopoda, yaitu
Foraminifera dan Arcella. Keduanya merupakan Rhizopoda yang
diselimuti oleh cangkang. Bentuk sel amoeba tidak tetap, sitoplasmanya
terdiri dari ektoplasma dan endoplasma. Habitat organisme ini di air
tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan sebagian kecil hidup di dalam
tubuh hewan atau manusia. Ektoplasma Amoeba sp. bersifat lebih kental
dari endoplasma, sehingga aliran endoplasma dan ektoplasma tersebut
berperan dalam penjuluran dan penarikan pseudopodia. Dengan cara ini
Amoeba bergerak untuk menangkap makanan. Dengan kaki semunya,
Amoeba dapat menangkap dan mengambil makanan. Mula-mula kaki
semu (pseudopoda) dijulurkan ke arah makanan lalu mengelilingi
makanan tersebut. Kemudian, membran plasma bergerak mendekati dan
mengikuti kaki semu mengelilingi makanan. Bersatunya kedua ujung
membran plasma membentuk vakuola.
Makanan dicerna di dalam vakuola
makanan. Dari sini, sari makanan
diedarkan ke seluruh tubuh. Sisa
makanan yang berupa cairan
dikeluarkan melalui vakuola berdenyut. Cara Amoeba
mendapatkan makanannya dapat dilihat padaa gambar berikut.

2. Flagellata (Mastigophora)
Flagellata berasal dari kata flagel artinya cambuk atau
Mastigophora dari mastig artinya cambuk, phora artinya gerakan. Semua
anggota filum flagellata bergerak menggunakan flagel. Bentuk tubuh
flagellata tetap karena dilindungi oleh pelikel. Di antara Flagellata ada
yang hidup bebas, ada pula yang hidup bersimbiosis dalam tubuh hewan,
tetapi kebanyakan bersifat parasit. Flagellata berkembang biak secara
aseksual dengan pembelahan biner secara longitudinal, sedangkan
reproduksi seksual belum banyak diketahui.

3. Cilliata (Ciliophora)
Ciliata adalah Protozoa yang mempunyai alat gerak berupa
rambut getar (cilia). Rambut getar ini adalah bulu-bulu halus yang
melekat pada membran sel. Dengan menggunakan rambut getar,
makhluk hidup dapat bergerak bebas ke segala arah di dalam air.Alat
gerak berupa cilia atau bulu getar. Bentuk tubuh tetap, hidup di air tawar
yang banyak mengandung zat organik dan bakteri. Ada yang hidup
bersimbiosis di dalam usus vertebrata.

Contoh: Paramaecium caudatum, adalah Ciliata yang hidup


bebas. Bentuk selnya seperti sandal, ukuran kira-kira 250 mikron,
mempunyai sitostom (celah mulut) pada membran plasma, dan selnya
diselubungi oleh pelikel. Sel berisi dua inti sel yang terdiri atas inti kecil
(mikronukleus) dan inti besar (makronukleus), sitoplasma, vakuola
makanan (pencerna makanan), serta vakuola kontraktil (pengeluaran zat
sisa). Gerakan Paramaecium caudatum dilakukan dengan menggetarkan
cilianya. Gerakan cilia sulit diamati oleh mikroskop karena gerakannya
sangat cepatbereproduksi secara aseksual dengan membelah diri dengan
arah transversal, seksual dengan konjugasi dengan terjadi pertukaran inti
kecil (mikronukleus).

4. Sporozoa
Tidak mempunyai alat gerak. Dapat membentuk semacam spora
dalam siklus hidupnya, bersifat parasit pada manusia atau hewan. Sporozoid
memiliki organel-organel kompleks pada salah satu ujung (apex) selnya yang
dikhususkan untuk menembus sel dan jaringan inang. Hidupnya parasit pada
manusia dan hewan. Tubuh Sporozoa berbentuk bulat atau oval, mempunyai
nukleus, tetapi tidak mempunyai vakuola kontraktil. Makanan diserap
langsung dari hospesnya melalui permukaan tubuh, demikian pula respirasi
dan ekskresinya melalui permukaan tubuh. Beberapa contoh hewan yang
termasuk dalam filum Sporozo adalah Toxoplasma gondii yang
menyebabkan penyakit Toksoplasmosis. Toxoplasma gondii masuk ke dalam
tubuh manusia melalui makanan, misalnya daging yang tercemar kista
toxoplasma dari kotoran kucing. Infeksi Toxoplasma gondii membahayakan
bagi ibu hamil karena dapat mengakibatkan bayi yang lahir cacat, bahkan
dapat membunuh embrio. Contoh lainnya adalah Plasmodium yang
menyebabkan penyakit malaria pada manusia. Contoh lainnya adalah
Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae,Plasmodium vivax.
Gregarina.

II.5 SIKLUS HIDUP PROTOZOA


Kebanyakan protozoa memiliki potensi reproduksi yang sangat besar
karena mereka memiliki waktu generasi pendek, mengalami perkembangan
sekuensial cepat dan menghasilkan sejumlah besar keturunan oleh proses
aseksual atau seksual. Karakteristik ini bertanggung jawab untuk banyak infeksi
protozoa yang menyebabkan cepat sindrom penyakit akut. Parasit dapat
berkembangbiak dengan pembelahan aseksual (fisi / membelah atau internal
yang pemula / endogen) atau reproduksi seksual (pembentukan gamet dan
fertilisasi untuk membentuk zigot, atau proses yang unik konjugasi di mana
ciliates pertukaran mikronukleus).

Protozoa tahap perkembangan yang terjadi di dalam umumnya terdiri


dari trofozoit makan, dan mereka dapat ditemukan intraseluler (dalam sel inang)
atau ekstrasel (dalam organ berongga, cairan tubuh atau ruang interstitial antara
sel-sel). Sementara trophozoites ideal untuk modus parasit mereka keberadaan,
mereka tidak sangat tahan terhadap kondisi lingkungan eksternal dan tidak
bertahan hidup di luar panjang host mereka. Untuk berpindah , parasit protozoa
menggunakan salah satu dari empat mode utama penularan: langsung, fekal-oral,
transmisi vektor dan predator-mangsa.

II.6 PERAN PRTOZOA DALAM KEHIDUPAN


Protozoa dapat menguntungkan dan merugikan manusia. Protozoa
berperan penting dalam mengontrol jumlah bakteri di alam karena Protozoa
adalah pemangsa bakteri. Di perairan, protozoa juga merupakan zooplankton
dan bentos. Zooplankton dan bentos adalah sumber makanan hewan air
termasuk udang, kepiting, dan ikan yang secara ekonomi bermanfaat bagi
manusia.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

III.1 Kesimpulan
Alga merupakan tumbuhan thallus yang tidak mempunyai akar, batang,
daun, dan bunga.Alga tidak pernah menghasilkan embrio, yaitu zigotnya tidak
pernah berkembang menjadi tumbuhan muda yang bersel banyak ketika masih
terbungkus oleh alat kelamin betina. Sedangkan protozoa merupakan hewan
bersel tunggal, berinti sejati (eukariotik) da tidak memiliki dinding
sel.Kebanyakan protozoa memiliki potensi reproduksi yang sangat besar karena
mereka memiliki waktu generasi pendek, mengalami perkembangan sekuensial
cepat dan menghasilkan sejumlah besar keturunan oleh proses aseksual atau
seksual.

III.2 Saran
Semoga makalah ini dapat menjadikan tambahan ilmu bagi pembaca
pada umumnya dan penulis pada khususnya. Namun,penulis juga membutuhkan
kritik yang membangun untuk menjadikan tambahan ilmu bagi penulisnya.
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohartono Slamet, Suhargono Hardisumarto. 1999. Sains Biologi. Jakarta: Bumi


Aksara
Campbell. 2002. Biologi edisi kelima jilid I. Jakarta: Erlangga
Campbell Neil A. dan Reece Jane B., 2008, Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1, Jakarta :
Erlangga, 222-226
Pratiwi. D. A, 2007, Biologi, Jakarta: Erlangga
Tenser. Amy, 2003, Bahan Ajar, Malang: Dirjen Dikti
http://forester-untad.blogspot.com/2013/11/laporan-praktikum-biologi-protozoa.html
http://nsimeon.blogspot.com/2014/02/peran-protozoa-dalam-kehidupan.html
http://tatangsma.com/2015/01/siklus-hidup-protozoa.html
http://yayanajuz.blogspot.com/2012/04/kehidupan-alga.html