Anda di halaman 1dari 3

Mentari Rania Dwiyandhari

1406571256 S1 Reguler
Hukum Internasional B

Penerapan Teori Monis dan Dualist di Negara-


negara di Dunia
Persoalan mengenai hubungan internasional dalam tata hukum nasional adalah
persoalan yang mempunyai banyak perspektif. Dengan itu, ada dua cara untuk
membahasnya yaitu dapat dilihat dari sudut teori atau ilmu hukum maupun dari sudut
praktis. Terdapat dua sudut pandangan yang dapat dilihat dalam hukum internasional,
yaitu teori voluntarisme dan teori objektivitas, dimana voluntarisme mendasarkan
berlakunya hukum internasional pada hukum negara, yang menanggap hukum
internasional dan hukum negara adalah dua hukum yang terpisah, namun dalam
praktiknya saling berjalan berdampingan, teori ini melahirkan lagi teori dualisme.
Sedangkan teori objektivitas menganggapnya sebagai dua bagian dari satu kesatuan
perangkat hukum hukum, yang melahirkan teori monisme.

Negara yang menganut teori dualisme adalah Mesir seperti yang dapat dilihat dari
konstitusi negaranya dalam Pasal 151,

ARTICLE 151. FOREIGN RELATIONS


- The President of the Republic represents the state in foreign relations and concludes
treaties and ratifies them after the approval of the House of Representatives. They
shall acquire the force of law upon promulgation in accordance with the
Provisions of the Constitution.
- With regards to any treaty of peace and alliance, and treaties related to the rights of
sovereignty, voters must be called for a referendum, and they are not to be ratified
before the announcement of their approval in the referendum.
- In all cases, no treaty may be concluded which is contrary to the provisions of the
Constitution or which leads to concession of state territories.
( - Presiden negara mewakili negara (Mesir) dalam hubungan dengan negara asing
dan mengakhiri pakta dan meratifikasinya setelah ada persetujuan dari perwakilan
rakyat. Mereka harus menyocokkan bahwa hukum yang dipromosikan sejalan dengan
visi konstitusi
- Dalam mempertimbangkan semua pakta mengenai perdamaian dan persekutuan,
dan pakta yang menyangkut hukum yang tinggi, parlemen harus mengadakan voting,
dan pakta tersebut tidak akan diratifikasi sebelum adanya pengumuman atas
penerimaan referendum
- Dalam semua hal, tidak ada perjanjian/pakta yang berlaku jika bertentangan
dengan visi dari konstitusi, atau yang memicu konsesi dari teritori negara )

Dalam konstitusi Negara Mesir terlihat jelas bahwa Mesir memberlakukan satu
hukum yang paling tinggi, dimana semua hukum harus berkiblat padanya, yaitu
konstitusi. Dan jika ada peraturan-peraturan yang bertentangan dengan konstitusi
maka peraturan itu tidak dapat diberlakukan. Sama halnya dengan jika ada
perjanjian/pakta internasional yang tidak berjalan sama dengan konstitusi, mereka
tidak akan meratifikasinya. Dan butuh persetujuan dari parlemen jika akan
meratifikasi hukum internasional.

Sedangkan yang menganut teori monism adalah Netherlands

ARTICLE 91
1. The Kingdom shall not be bound by treaties, nor shall such treaties be denounced
without the prior approval of the States General. The cases in which approval is not
required shall be specified by Act of Parliament.
2. The manner in which approval shall be granted shall be laid down by Act of
Parliament, which may provide for the possibility of tacit approval.
3. Any provisions of a treaty that conflict with the Constitution or which lead to
conflicts with it may be approved by the Houses of the States General only if at least
two-thirds of the votes cast are in favor.

ARTICLE 92
Legislative, executive and judicial powers may be conferred on international
institutions by or pursuant to a treaty, subject, where necessary, to the provisions of
Article 91 paragraph 3.

Di Indonesia, contoh dari hasil ratifikasi undang-undang terdapat pada Undang


Undang No. 17 Tahun 1985 Tentang Pengesahan United Nations Convention On The
Law Of The Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa Tentang Hukum Laut).
Dengan meratifikasi konvensi ini, Indonesia setuju dalam memberlakukan batas garis
pantai dari sebuah negara pantai berhak atas laut territorial sejauh 12 mil lain, zona
tambahan sejauh 24 mil laut, zona ekonomi ekslusif sejauh 200 mil laut, dan landas
kontinen (dasar laut) sejauh 350 mil laut atau lebih. Selain itu diatur juga apa yang
dimaksud laut bebas dan Kawasan (the Area). Lebar masing-maisng zona ini diatur
dari garis pangkal (baselines) yang dalam keadaan biasa merupakan garus pantai saat
air surut terendah.

Selain undang-undang, ratifikasi dapat dilakukan melalui keputusan presiden. Contoh


ratifikasi yang berdarkan keputusan presiden adalah keputusan Presden Rpeublik
Indonesia Nomor 36 Tahun 1990 mengenai Pengesahan Convention on the Rights of
the Child (Konvensi tentang hak-hak anak) yang memahas mengenai hak-hak anak
yang harus dipenuhi oleh negara, yaitu non diskriminasi, berdasarkan kepentingan
terbaik anak, mengadakan hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, dan
partisipasi anak.

***