Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

RETARDASI MENTAL

1. Konsep Penyakit
1.1 Definis/deskriptif penyakit
Menurut International Stastistical Classification of Diseases and Related Health
Problem (ICD-10), retardasi mental adalah suatu keadaan perkembangan mental
yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh adanya
keterbatasan (impairment) keterampilan (kecakapan, skills) selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada semua tingkat inteligensia yaitu
kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Retardasi mental dapat terjadi
dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya. Prevalensi dari
gangguan jiwa lainnya sekurang-kurangnya tiga sampai empat lipat pada
populasi ini dibanding dengan populasi umum (Lumbantobing, 2006).

Menurut American Association on Mental Retardation (AAMR, 2002) juga


menguraikan bahwa retardasi mental adalah suatu keadaaan dengan ciri-ciri,
yaitu disabilitas yang ditandai dengan suatu limitasi/keterbatasan yang bermakna
baik dalam fungsi intelektual maupun perilaku adaptif yang diekspresikan dalam
keterampilan konseptual, sosial dan praktis. Keadaan ini terjadi sebelum usia 18
tahun (Kusumawardhani, 2013).

Retardasi mental adalah fungsi intelektual di bawah rata-rata (IQ di bawah 70)
yang disertai dengan keterbatasan yang penting dalam area fungsi adaptif, seperti
keterampilan interpersonal atau sosial, penggunaan sumber masyarakat,
penunjukkan diri, keterampilan akademis, pekerjaan, waktu senggang, dan
kesehatan serta keamanan (King, 2000 dalam Videback, 2008).

Berdasarkan The ICD-10 Classification of Mental and Behavioural Disorders,


WHO, Geneva tahun 2004 retadarsi mental dibagi 4 golongan:
a. Mild retardation (retardasi mental ringan), IQ 50-69
Retardasi mental ringan dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dididik
(educable). Anak mengalami gangguan berbahasa tetapi masih mampu
menguasainya untuk keperluan bicara sehari-hari dan untuk wawancara
klinik. Umumnya mereka juga mampu mengurus diri sendiri secara
independen (makan, mencuci, memakai baju, mengontrol saluran cerna dan
kandung kemih), meskipun tingkat perkembangannya sedikit lebih lambat
dari ukuran normal. Kesulitan utama biasanya terlihat pada pekerjaan
akademik sekolah, dan banyak yang bermasalah dalam membaca dan
menulis. Dalam konteks sosiokultural yang memerlukan sedikit kemampuan
akademik, mereka tidak ada masalah. Tetapi jika ternyata timbul masalah
emosional dan sosial, akan terlihat bahwa mereka mengalami gangguan,
misal tidak mampu menguasai masalah perkawinan atau mengasuh anak,
atau kesulitan menyesuaikan diri dengan tradisi budaya.
b. Moderate retardation (retardasi mental sedang), IQ 35-49
Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dilatih
(trainable). Pada kelompok ini anak mengalami keterlambatan
perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa, serta pencapaian
akhirnya terbatas. Pencapaian kemampuan mengurus diri sendiri dan
ketrampilan motor juga mengalami keterlambatan, dan beberapa diantaranya
membutuhkan pengawasan sepanjang hidupnya. Kemajuan di sekolah
terbatas, sebagian masih bisa belajar dasardasar membaca, menulis dan
berhitung.
c. Severe retardation (retardasi mental berat), IQ 20-34
Kelompok retardasi mental berat ini hampir sama dengan retardasi mental
sedang dalam hal gambaran klinis, penyebab organik, dan keadaan-keadaan
yang terkait. Perbedaan utama adalah pada retardasi mental berat ini
biasanya mengalami kerusakan motor yang bermakna atau adanya defisit
neurologis
d. Profound retardation (retardasi mental sangat berat), IQ <20
Retardasi mental sangat berat berarti secara praktis anak sangat terbatas
kemampuannya dalam mengerti dan menuruti permintaan atau instruksi.
Umumnya anak sangat terbatas dalam hal mobilitas, dan hanya mampu pada
bentuk komunikasi nonverbal yang sangat elementer.

1.2 Eiologi
Beberapa kasus retardasi mental dapat disebabkan oleh masalah biologis yang
teridentifikasi, termasuk cacat genetik dan kromosom, racun yang berasal dari
lingkungan, kekurangan nutrisi pada wanita hamil dan bayi, dan penyakit-
penyakit yang menimpa wanita hamil, bayi dan anak-anak (Leonard & Wen,
Haugaard, 2008). Etiologi retardasi mental dapat terjadi mulai dari fase pranatal,
perinatal dan postnatal.
1.2.1 Penyebab pranatal
a. Kelainan kromosom
Kelainan kromosom penyebab retardasi mental yang terbanyak adalah
sindrom Down. Sindroma Down adalah penyebab paling umum
masalah kromosom pada retardasi mental. Sindroma Down umumnya
terjadi karena kromosom 21 dari ibu gagal terpisah selama proses
meiosis (pembelahan sel yang terjadi selama pembentukan sel
reproduksi). Ketika sepasang kromosom yang tidak terpisah ini
bersatu dengan kormosom 21 dari ayah, anak tersebut menerima tiga
salinan koromosom 21 satu (label trisomi 21 juga digunakan untuk
mendeskripsikan Sindroma Down). Kasus langka ketika Sindroma
Down disebabkan oleh translokasi bagian kromosom 21 ke kromosom
14.

b. Kelainan metabolik
Phenylketonuria (PKU) adalah gangguan yang dihasilkan oleh sebuah
mutasi gen Phenylalanine Hydroxylase (PAH), yang ditemukan pada
bagian lengan pendek pada kromosom 12. Akibat defisiensi yodium
pada masa perkembangan otak karena asupan yodium yang kurang
pada ibu hamil meyebabkan retardasi mental pada bayi yang
dilahirkan. Kelainan ini timbul bila asupan yodium ibu hamil kurang
dari 20 ug ( normal 80-150 ug) per hari.
c. Infeksi
Infeksi rubela pada ibu hamil triwulan pertama dapat menimbulkan
anomali pada janin yang dikandungnya. Risiko timbulnya kelainan
pada janin berkurang bila infeksi timbul pada triwulan kedua dan
ketiga. Manifestasi klinis rubela kongenital adalah berat lahir rendah,
katarak, penyakit jantung bawaan, mikrosefali, dan retardasi mental.
Infeksi cytomegalovirus tidak menimbulkan gejala pada ibu hamil
tetapi dapat memberi dampak serius pada janin yang dikandungnya.
Manifestasi klinis antara lain hidrosefalus, kalsifikasi serebral,
gangguan motorik, dan retardasi mental.

d. Intoksikasi
Fetal alcohol syndrome (FAS) merupakan suatu sindrom yang
diakibatkan intoksikasi alkohol pada janin karena ibu hamil yang
minum minuman yang mengandung alkohol, terutama pada triwulan
pertama. Di negara Amerika Serikat FAS merupakan penyebab
tersering dari retardasi mental setelah sindrom Down.
e. Racun yang berasal dari lingkungan
f. Kekurangan nutrisi atau malnutrisi selama tahun pertama kehidupan
bisa membahayakan fungsi kognitif, tetapi tampaknya hanya ketika
malnutrisi berat. Trismester tiga dan bulan keenam kehidupan
merupakan waktu yang paling sensitif karena saat itu perkembangan
otak terjadi.

1.2.2 Penyebab Perinatal


Koch menulis bahwa 15-20% dari anak retardasi mental disebabkan karena
prematuritas. Keadaan fisis anak-anak tersebut baik, kecuali beberapa yang
mempunyai kelainan neurologis, dan gangguan mata. Penulis-penulis lain
berpendapat bahwa semakin rendah berat lahirnya, semakin banyak
kelainan yang dialami baik fisis maupun mental. Asfiksia, hipoglikemia,
perdarahan intraventrikular, kernikterus, meningitis dapat menimbulkan
kerusakan otak yang ireversibel, dan merupakan penyebab timbulnya
retardasi mental.

1.2.3 Penyebab Postnatal


Faktor-faktor postnatal seperti infeksi, trauma, malnutrisi, intoksikasi,
kejang dapat menyebabkan kerusakan otak yang pada akhirnya
menimbulkan retardasi mental.

1.3 Tanda dan Gejala


Gejala klinis retardasi mental terutama yang berat sering disertai beberapa
kelainan fisik yang merupakan stigmata kongenital, yang kadang-kadang
gambaran stigmata mengarah kesuatu sindrom penyakit tertentu. Dibawah ini
beberapa kelainan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental, yaitu
(Swaiman, 1989):
a. Kelainan pada mata
b. Kejang
c. Kelainan kulit
d. Kelainan rambut
e. Kepala
f. Perawakan pendek
g. Distonia
h.
i. Sedangkan gejala dari retardasi mental tergantung dari tipenya, adalah
sebagai berikut:
1. Retradasi Mental Ringan
j. Keterampilan social dan komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun-
tahun prasekolah. Tetapi saat anak menjadi lebih besar, deficit koognitif tertentu
seperti kemampuan yang buruk untuk berpikir abstrak dan egosentrik mungkin
membedakan dirinya dari anak lain seusianya.
2. Retradasi Mental Sedang
k. Keterampilan komunikasi berkembang lebih lambat. Isolasi social dirinya
mungkin dimulai pada usia sekolah dasar. Dapat dideteksi lebih dini jika
dibandingkan retradasi mental ringan.
3. Retradasi Mental Berat
l. Bicara anak terbatas dan perkembangan motoriknya buruk. Pada usia
prasekolah sudah nyata ada gangguan. Pada usia sekolah mungkin kemampuan
bahasanya berkembang. Jika perkembangan bahasanya buruk, bentuk komunikasi
nonverbal dapat berkembang.
m. 4. Retradasi Mental Sangat Berat
n. Keterampilan komunikasi dan motoriknya sangat terbatas. Pada masa
dewasa dapat terjadi perkembangan bicara dan mampu menolong diri sendiri
secara sederhana. Tetapi seringkali masih membutuhkan perawatan orang lain.
Terdapat ciri klinis lain yang dapat terjadi sendiri atau menjadi bagian dari
gangguan retradasi mental , yaitu hiperakivitas, toleransi frustasi yang rendah,
agresi, ketidakstabilan efektif , perilaku motorik stereotipik berulang, dan perilaku
melukai diri sendiri.
o.
1.4 Patofisiologi
p. Retardasi mental merujuk pada keterbatasan nyata fungsi hidup sehari-hari.
Retardasi mental ini termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif yang muncul
pada masa kanak-kanak ( sebelum usia 18 tahun ) yang ditandai dengan fungsi
kecerdasan di bawah normal ( IQ 70 sampai 75 atau kurang ) dan disertai keterbatasan-
keterbatasan lain pada sedikitnya dua area adaftif, berbicara dan berbahasa,
kemampuan/ketrampilan merawat diri,ketrampilan sosial, penggunaan sarana-sarana
komunitas, pengarahan diri, kesehatan dan keamanan , akademik fungsional, bersantai
dan bekerja.
q. Penyebab retardasi mental bisa digolongkan kedalam prenatal, perinatal dan pasca
natal. Diagnosis retardasi mental ditetapkan secara dini pada masa kanak-kanak.
r.
1.5 Pemeriksaan Penunjang
1.5.1 Pemeriksaan kromosom
1.5.2 Pemeriksaan urin, serum atau titer virus
1.5.3 Pemeriksaan logam berat dalam darah
1.5.4 Test diagnostik seperti : EEG, CT Scan untuk identifikasi abnormalitas
perkembangan jaringan otak, injury jaringan otak atau trauma yang
mengakibatkan perubahan.
s.
1.6 Komplikasi
1.6.1 Serebral palsi
1.6.2 Gangguan kejang
1.6.3 Gangguan kejiwaan
1.6.4 Gangguan konsentrasi / hiperaktif
1.6.5 Defisit komunikasi
1.6.6 Konstipasi (karena penurunan motilitas usus akibat obat-obatan kurang
mengkonsumsi makanan berserat dan cairan)
t.
1.7 Penatalaksanaan
1.7.1 Farmakologi
u. Anak Retardasi mental biasanya disertai dengan gejala hyperkinetik
(selalu bergerak, konsentrasi kurangdan perhatian mudah dibelokkan).
Obat-obat yang sering digunakan dalam bidang retardasi mentaladalah
terutama untuk menekan gejala-gejala hyperkinetik, misalnya :
Amphetamin dosis 0,2 - 0,4 mg/kg/hari
Imipramin dosis 1,5 mg/kg/hariEfek sampingan kedua obat diatas
dapat menimbulkan convulsi
Valium, Nobrium, Haloperidol dsb. dapat juga menekan gejala
hyperkinetik
1.7.2 Non farmakologis
v. Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat, perlu diambil
anamnesis dari orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan, persalinan, dan
pertumbuhan serta perkembangan anak. Dan bila perlu dilakukan
pemeriksaan laboratorium Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk
Penderita Retardasi Mental
1. Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang
dimiliki dengan sebaik-baiknya.
2. Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang
salah.
w. Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental Ada beberapa jenis
dapat diberikan kepada penderita retardasi mental, yaitu:
1. Latihan di rumah: belajar makan sendiri, membersihkan badan dan
berpakaian sendiri.
2. latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap social
3. Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis
kelamin penderita, dan
x.
y.
z.
aa.
ab.
ac.
ad.
ae.
af.
ag.
ah.
ai.
aj.
ak.
al.
am.
an.
ao.
ap.
aq.
ar.
as.
at. II. Rencana Asuhan Klien dengan Gangguan Retardasi Mental
2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat pengkajian
2.1.1.1 Riwayat kesehatan sekarang
au. Pasien menunjukkan Gangguan kognitif ( pola, proses
pikir ), Lambatnya ketrampilan ekspresi dan resepsi bahasa, Gagal
melewati tahap perkembangan yang utama, Lingkar kepala diatas
atau dibawah normal ( kadang-kadang lebih besar atau lebih kecil
dari ukuran normal ), lambatnya pertumbuhan, tonus otot abnormal
( lebih sering tonus otot lemah ), ciri-ciri dismorfik, dan
terlambatnya perkembangan motoris halus dan kasar.
2.1.1.2 Riwayat penyakit dahulu
av. Kemungkinan besar pasien pernah mengalami Penyakit
kromosom ( Trisomi 21 ( Sindrom Down), Sindrom Fragile X,
Gangguan Sindrom(distrofi otot Duchene ), neurofibromatosis ( tipe
1), Gangguan metabolisme sejak lahir ( Fenilketonuria ), Abrupsio
plasenta, Diabetes maternal, Kelahiran premature, Kondisi neonatal
termasuk meningitis dan perdarahan intracranial, Cedera kepala,
Infeksi, Gangguan degenerative.
aw.
ax.
ay.
2.1.1.3 Riwayat kesehatan keluarga
az. Ada kemungkinan besar keluarga pernah mengalami
penyakit yang serupa atau penyakit yang dapat memicu terjadinya
retardasi mental, terutama dari ibu tersebut.
ba.
2.1.2 Pemeriksaan fisik: data fokus
a. Kepala: Mikro/makrosepali, plagiosepali (bentuk kepala tidak simetris)
b. Rambut : Pusar ganda, rambut jarang/ tidak ada, halus, mudah putus
dan cepat berubah
c. Mata : mikroftalmia, juling, nistagmus.
d. Hidung : jembatan/punggung hidung mendatar, ukuran kecil, cuping
melengkung keatas.
e. Mulut : bentuk V yang terbalik dari bibir atas, langit-langit lebar/
melengkung tinggi
f. Telinga : keduanya letak rendah
g. Muka : panjang filtrum yang bertambah, hypoplasia
h. Leher : pendek; tidak mempunyai kemampuan gerak sempurna
i. Tangan : jari pendek dan tegap atau panjang kecil meruncing, ibu jari
gemuk dan lebar, klinodaktil
j. Dada & Abdomen : terdapat beberapa putting, buncit
k. Genitalia : mikropenis, testis tidak turun
l. Kaki : jari kaki saling tumpang tindih, panjang & tegap/ panjang kecil
meruncing diujungnya, lebar, besar, gemuk.
bb.
2.1.3 Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan kromosom
b. Pemeriksaan urin, serum atau titer virus
c. Test diagnostic sepetti : EEG, CT Scan untuk identifikasi abnormalitas
perkembangan jaringan otak, injury jaringan otak atau trauma yang
mengakibatkan perubahan.
bc.
2.2 Diagnosa keperawatan yang mungkin Muncul
bd. Diagnosa 1 : Resiko mencederai diri sendiri
2.2.1 Definisi
be. Beresiko melakukan perilaku mencederai diri yang di sengaja yan
menyebabkan kerusakan jaringan dengan maksud menyebabkan kerusakan
jaringan dengan maksud menyebabkan cedera yang tidak fatal untuk
meringankan/meredakan tekanan.
2.2.2 Faktor resiko
individu autistic
Anak dianiaya
Gangguan kepribadian
Borderline
Gangguan karakter
Penyakit masa kanak-kanak
Penganiayaan sexual padamasa kanak-kanak
Pembedahan pada masakanak-kanak
Individu yang mengalami keterlambatan perkembangan
Hubungan interpersonal yang terganggu
Riwayat perilaku merusak diri dalam keluarga
bf.
bg. Dianogsa 2 : Hambatan Komunikasi verbal
2.2.3 Definisi
bh. Penurunan, keterlambatan, atau tidak adanya kemampuan untuk
menerima, memproses, menghantarkan, dan menggunakan sistem simbol
(segala sesuatu yang memiliki atau menghantarkan makna)
2.2.4 Batasan karateristik
Tidak ada kontak mata
Kesulitan mengungkapkan pikiran secara verbal
Kesulitan mengolah kata-kata atau kalimat
Disorentasi dalam lingkup ruang, waktu, dan orang
Tidak dapat berbicara
Ketidakmampuan mengunakan ekspresi tubuh atau wajah
Verbalisasi yang tidak sesuai
Kesulitan berbicara atau mengungkapkan dengan kata-kata
bi.
2.2.5 Faktor yang berhubungan
Perubahan pada harga diri atau konsep diri
Gangguan persepsi
Kondisi fisiologis
Hambatan psikologis
Efek samping obat
Perbedaaan yang dikaitkan dengan usia perkembangan
Kendala lingkungan
bj.
bk. Diagnosa 3: Keterlambatan Pertumbuhan dan Perkembangan
2.2.6 Definisi
bl. Kondisi yang menunjukkan penyimpangan dari norma kelompok
usianya
2.2.7 Batasan karakteristik
bm. Objektif
Perubhan pertumbuhan fisik
Menurunnya massa respon
Keterlambatan atau keslitan dalam menguasai keterampilan
(misalnya: motorik, sosial, atau ekspersif)
Afek datar
Ketidakmampuan untuk melakukan perawatan diri
Tidak bergairah
2.2.8 Faktor yang berhubungan
Defisiensi lingkungan dan stimulasi
Ketidakadekuatan penerima asuhan
Responsivitas yang tidak konsisten
Kelainan kongenital
Gawat janin selama atau setelah kelahiran atau persalinan
Perawatan prenatal yang tidak adekuat
Penyakit neonatal
Prematuritas
Gaya hidup ibu yang tidak sehat selama kehamilan
bn.
2.3 Perencanaan
bo. Diagnosa 1: resiko mencederai diri sendiri
bp. 2.3.1 Tujuan dan Kriteria Hasil
bq. Tujuan:
Klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan.
br. Kriteria Hasil:
Kriteria Hasil :
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Dapat mengidentifikasi melakukan cara berespons terhadap kemarahan
secara konstruktif.
bs. 2.3.2 Intervensi
Bina hubungan saling percaya.
bt. R: Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat
dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya.
Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya.
bu.R: Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien
dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif
Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal
bv. R: pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak
mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir
penyelesaian persoalan.
Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel.
bw. R: Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari
penyelesaian masalah yang konstruktif pula.
bx.
by. Diagnosa 2 : Hambatan komunikasi verabl
bz. 2.3.3 Tujuan dan kriteria hasil
ca. Tujuan
Komunikasi terpenuhi sesuai tahap perkembangan anak.
cb. Kriteria hasil
Setelah dilakukan perawatan anak dapat berkomunikasi secara baik dengan
orang lain
cc.
cd. 2.3.4 Intervensi :
Kaji tingkat penerimaan pesan klien
Rasional :Mengetahui seberapa parah gangguan komunikasi verbal
pasien
Tingkatkan komunikasi verbal dan stimualsi taktil
Rasional :Untuk tetap melancarkan proses pengobatan / melatih
perkembangan anak
Berikan instruksi berulang dan sederhana
Rasional :Agar anak bisa menerima hal apa yang akan kita sampaikan
Ajarkan teknik-teknik kepada orang terdekat dan pendekatan berulang
untuk meningkatkan komunikasi.
Rasional :Mempermudah berkomunikasi dengan orang lain
ce.
cf. Diagnosa 3 : keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
cg. 2.3.5 Tujuan dan kriteria hasil
ch. Tujuan
pertumbuhan dan perkembangan berjalan sesuai tahapan
ci. Kriteria hasil
Setelah diberikan asuhan keperawatan anak dapat berkembang
sesuai dengan tingkatnya
cj. 2.3.4 intervensi
Kaji factor penyebab gangguan perkembangan anak
Rasional :Agar tindakan yang dilakukan lebih tepat dan akurat
Indentifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi
perkembangan anak yang optimal
Rasional :Meningkatkan upaya perkembangan mental anak
Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
Rasional :Meningkatkan rasa percaya diri anak
Manajemen perilaku anak yang sulit
Rasional :Melatih otak untuk lebih perpikir supaya otak mengalami
perkembangan
Berikan perawatan yang konsisten
Rasional :Agar perkembangan mental anak tidak mengalami
pemberhentian atau kemunduran.
ck.
cl.
cm.
cn.
co.
cp. III. Daftar Pustaka
cq. Keperawatan Pediatrik edisi 4, Penerbi t buku kedokteran. EGC1999 : Jakarta.
cr.
cs. Rencana asuhan keperawatan. Marlynn E. Doenges, Mary Frances Moorhouse.
EGC. 1999 : Jakarta.
ct.
cu. Videbeck, S.L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa (terjemahan). Cetakan I.
Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC
cv.
cw. Wilkinson, Judith M. & Ahern, Nancy R, (2009). Buku Saku Diagnosis
Keperawatan.Edisi 9. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
cx.
cy.
cz.
da.
db.
dc. Banjarmasin, 23 januari 2017
dd.
de.
df. Preseptor Akademik Perseptor Klinik
dg.
dh.
di.
dj.
dk. () (..)
dl.
dm.
dn.
do.