Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGAWETAN SPESIMEN


Pengaruh Efektivitas Hidrogen Peroksida (H2O2) Terhadap Proses
Pemutihan Tulang Ikan Patin (Pangasius sp.)

Laporan ini disusun guna memenuhi nilai praktikum matakuliah Teknik


Pengawetan Spesimen yang dibimbing oleh:
Ir. E. Mulyati Effendi, MS

Disusun oleh:
Dhea Aini Syifa (0611 14 011)
Nisa Silvanti (0611 14 020)
Lia Shoraya (0611 14 024)
Yanuar Raharja (0611 14 025)
Fiki Bastian (0611 14 029)
Muhamad Nizar Zulfikar (0611 14 036)
Muhammad Faisal Darajat (0611 14 040)

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
2016
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas


segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat menyusun makalah
dengan judul: Pengaruh Efektivitas Hidrogen Peroksida (H2O2) Terhadap Proses
Pemutihan Tulang Ikan Patin (Pangasius sp.) dengan baik.
Bagimanapun penyusun telah berusaha membuat laporan ini dengan sebaik-
baiknya, namun tidak ada kesempurnaan dalam sebuah karya manusia. Penyusun
menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan buku ini. Untuk itu pula
segala masukan, kritik dan saran dari pembaca dapat menjadikan acuan bagi
penyusun dalam penyempurnaan dan pembuatan buku berikutnya.
Tiada untaian kata yang dapat penyusun sampaikan selain panjatkan doa,
semoga Allah SWT selalu membuka hati kita dengan cahaya-NYA dan
mengajarkan ilmu-NYA kepada kita, serta menghindarkan kita dari ilmu yang
tidak bermanfaat.

Bogor, 3 November 2016

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I: PENDAHULUAN
1.1.......................................................................................................................La
tar Belakang.................................................................................................1
1.2.......................................................................................................................Tu
juan...............................................................................................................2
1.3.......................................................................................................................Hi
potesis...........................................................................................................2
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
2.1.......................................................................................................................De
skripsi Umum Kelas Pisces..........................................................................3
2.2.......................................................................................................................Kl
asifikasi dan Morfologi................................................................................4
2.3.......................................................................................................................Ra
ngka..............................................................................................................5
2.3.1. Rangka hewan.....................................................................................5
2.3.2. Sistem Rangka pada Ikan...................................................................5
2.4.......................................................................................................................La
rutan Hidrogen Peroksida (H2O2).................................................................7
BAB III: METODOLOGI
3.1.......................................................................................................................W
aktu dan Tempat...........................................................................................9
3.2.......................................................................................................................Al
at dan Bahan.................................................................................................9
3.2.1. Alat.....................................................................................................9
3.2.2. Bahan..................................................................................................9
3.3.......................................................................................................................M
etode Kerja...................................................................................................9
BAB IV: PEMBAHASAN

2
4.1.......................................................................................................................Pe
mbahasan......................................................................................................11
BAB V: PENUTUP
5.1.......................................................................................................................Ke
simpulan.......................................................................................................14
5.2.......................................................................................................................Sa
ran.................................................................................................................14
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

3
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Biologi merupakan Ilmu pengetahuan yang mempelajari seluk beluk
makhluk hidup beserta lingkungan tempat hidupnya. Agar tujuan pembelajaran
dapat terwujud dan tercapai dengan baik, diperlukan ketekunan dan ketrampilan
serta semangat juang yang tinggi dari guru biologi, disamping adanya faktor yang
mendukung proses pembelajaran. Salah satu yang mendukung adalah dengan
memanfaatkan media pembelajaran, karena dengan adanya media pembelajaran
siswa dapat lebih mudah dan cepat untuk menguasai materi pelajaran yang
disampaikan oleh guru. Apalagi mata pelajaran Biologi erat kaitannya dengan
kegiatan praktikum yang dalam hal ini akan selalu membutuhkan media
pembelajaran yaitu dalam bentuk preparat atau spesimen biologi (Roestiah, 2001).
Rangka tubuh merupakan salah satu bagian tubuh hewan yang sangat
penting untuk menunjang aktivitasnya. Rangka tubuh pada vetebrata berfungsi
untuk melindungi bagia-bagian yang lunak seperti struktur-struktur berdaging,
organ-organ vital yang terdapat di dalam rongga tengkorak dan dada, dan
mengandung sumsusm tulang belakang sebagai tempat sel darah dibentuk.
Rangka tubuh juga berfungsi dalam membentuk system tuas yang yang
melipatgandakan kekuatan yang timbul selama kontraksi otot rangka dan
mengubahnya menjadi gerak tubuh.
Pemutihan, bertujuan untuk pemutihan agar penampilan tulang lebih bagus,
bersih dan lebih putih. Caranya tulang direndam dalam larutan 10-15% hydrogen
peroksida. Lama penyelupan dalam larutan peroksida bergantung pada bedar
kecilnya tulang, dapat beberapa menit sampai beberapa jam. Hindarkan agar
tulang tidak terlalu lama di dalam larutan peroksida, karena tulang akan rapuh.
Perlu diketahui larutan hydrogen peroksida sangat berbahaya apabila kena kulit
dan bias menyebabkan luka bakar.
Ikan (Pisces) merupakan hewan poikiloterm yang hidup di air. Ikan di sebut
hewa poikiloterm karena suhu tubuhnya tidak tetap (berdarah dingin), yaitu
terpengaruh oleh suhu sekitarnya. Tubuh ikan terbagi atas kepala, badan dan ekor.
2

Kulit terdiri dari dermis dan epoidermis, yang pada umumnya bersisik dan
berlendir.
Ikan patin (Pangasius sp) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang
popular di kalangan menu masakan ikan air tawar. Ikan patin ini memiliki cita
rasa yang enak. Disisi lain, ikan ini mampu bertahan hidup di perairan yang
jelek. Sehingga ikan ini menjadi menarik untuk di budidayakan secara
komersial. (Khairuman, 2007).

1.2. Tujuan
1. Mengetahui susunan skeleton yang ada pada hewan.
2. Membuat awetan rangka
3. Mengetahui mekanisme pemutihan tulang

1.3. Hipotesis
Jika tulang mengalami perebusan dan perendaman teralu lama maka
akan mengalami kerapuhan pada tulang tersebut.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Deskripsi Umum Kelas Pisces


Pisces adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) hidup di
air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling
beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara
taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya
masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas
Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas
Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), sisanya tergolong ikan
bertulang keras (kelas Osteichthyes) (Rio, 2005).
Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain, seperti moluska
dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan sebagai
sumber makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan dalam jumlah kecil
atau olah raga sering disebut sebagai memancing. Hasil penangkapan ikan dunia
setiap tahunnya berjumlah sekitar 100 juta ton.
Ikan dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran besar
baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat
permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun, danau yang
terlalu asin seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan (Budiyanto, 2003).
Ciri utama Pisces sebagai berikut:
1. Hewan berdarah dingin yang hidup di dalam air.
2. Bernapas dengan insang (operculum) dan dibantu oleh kulit.
3. Tubuh terdiri atas kepala, badan.
4. Rangka tersusun atas tulang sejati.
5. Jantung terdiri atas satu serambi dan satu bilik.
6. Tubuh ditutupi oleh sisik dan memiliki gurat sisi untuk menentukan arah
dan posisi berenang.
4

2.2. Klasifikasi dan Morfologi


Menurut Saanin (1984) diacu oleh Hernowo (2001) klasifikasi Pangasius
sp. adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies : Pangasius sp.
Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna putih seperti perak dengan
punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120 cm,
suatu ukuran yang cukup besar untuk ukuran ikan air tawar domestik. Kepala
patin relatif kecil dengan mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah.
Hal ini merupakan ciri khas golongan catfish. Pada sudut mulutnya terdapat dua
pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Sirip punggung memiliki
sebuah jarijari keras yang berubah menjadi patil yang bergerigi dan besar di
sebelah belakangnya. Jari-jari lunak sirip punggung terdapat enam atau tujuh
buah. Pada punggungnya terdapat sirip lemak yang berukuran kecil sekali.
Adapun sirip ekornya membentuk cagak dan bentuknya simetris. Ikan patin tidak
memiliki sisik. Sirip duburnya panjang, terdiri dari 30 33 jari-jari lunak,
sedangkan sirip perutnya memiliki enam jari-jari lunak. Sirip dada memiliki 12
13 jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi senjata yang
dikenal sebagai patil (Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, 2011).
Ikan patin memiliki spesies yang cukup banyak. Ikan yang memiliki nama
ilmiah Pangasius di Indonesia terdiri atas Pangasius pangasius atau Pangasius
djambal, Pangasius humeralis, Pangasius lithostoma, Pangasius macronema,
Pangasius micronemus, Pangasius nasutus, Pangasius niewenhuisii, dan
Pangasius polyuranodom. Jenis-jenis tersebut merupakan ikan atau spesies asli
(indigenous species) yang berada di perairan umum Indonesia. Jenis Pangasius
5

sutchi dan Pangasius hypophthalmus yang dikenal dengan jambal siam, patin
siam, atau lele Bangkok merupakan ikan introduksi dari Thailand (Kordi, 2010).
2.3. Rangka
Rangka adalah susunan tulang yang saling berhubungan dan membentuk
tubuh serta membentuk dukungan fisik bagi mahluk hidup. Fungsi lainnya adalah
untuk melindungi organ penting, sebagai alat gerak pasif, tempat daging dan otot
dan menegakkan tubuh (Ehariani, 2011).
2.3.1. Rangka hewan
Rangka tubuh merupakan salah satu bagian tubuh hewan yang sangat
penting untuk menunjang aktivitasnya. Rangka tubuh pada hewan vertebrata
berfungsi untuk melindungi bagian-bagian yang lunak seperti struktur-
struktur berdaging, organ-organ vital yang terdapat di dalam rongga
tengkorak dan dada, dan mengandung sumsum tulang belakang sebagai
tempat sel darah dibentuk. Rangka tubuh juga berfungsi dalam membentuk
sistem tuas yang melipat gandakan kekuatan yang timbul selama kontraksi
otot rangka dan mengubahnya menjadi gerakan tubuh. Tanpa rangka tubuh
sebagian hewan darat akan terkulai akibat bobotnya sendiri. Bahkan hewan
yang hidup dalam air menjadi masa yang tidak berbentuk tanpa rangka
tubuh untuk mempertahankan bentuknya. Terdapat tiga jenis utama rangka
tubuh pada hewan: rangka tubuh hidrostatik, eksoskeleton dan
endoskeleton.
2.3.2. Sistem Rangka pada Ikan
Berdasarkan letak dan fungsinya rangka ikan menurut (Manda, 2009)
dapat dibedakan menjadi:
1. Rangka axial
Mencakup tulang tengkorak, tulang punggung dan tulang rusuk.
Rangka tengkorak secara embrionik pertumbuhan tengkorak ikan berasal
dari tiga sumber, yaitu chondrocranium (neurocranium), democranium dan
splanchnocranium. Chondrocranium adalah pembungkus otak yang pada
mulanya berasal dari tulang rawan (elemen chondral). Dermocranium
adalah tulang tengkorak yang asalnyadibuat dari sisik yang berdifusi dalam
dermis atau corium kulit,dimna tulang tersebut tulang tambahan pada
6

chondrocranium. Splanehnocranium adalah tulang tengkorak yang berasal


dari rangka visceral(tulang penyokong lengkung insang) dan akan menjadi
tulang tipis pada tengkorak. Jadi tengkorak ikan, walaupun permulaan
bersal dari tiga sumber yang pembentukannya terpisah, merupakan satu
kesatuan.Umumnya tulang-tulang dermal membentuk atap tengkorak.
a. Sepasang tulang parietal terletak didaerah atap tengkorak paling
belakang
b. Sepasang tulang frontal yang merupakan keeping dermal yang luas
berkembang tepat didepan tulkang parietal
c. Sepasang tulang nasal yang bentuknya memanjang dan terletak diantara
dua lubang hidung.Beberapa tulang dermal yang terdapat pada tulang-
tulang tersebut yaitu post frontal,prefrontal, postnarietal dan masih
banyak lagi.
d. Sepasang tulang lacrimal terdapat pada bagian anterior sisik
tengkorak .Pada bagian telinga terdapat pada tulang squamosal, yang
merupakan tulang dermal.
Tulang punggung didaerah badan berbeda dengan yang didaerah
ekor.Tiap-tiap ruas didaerah badan dilengkapi oleh sepasang tulang rusuk
kiri dan kanan untuk melindungi organ- organ bagian rongga badan. Pada
batang ekor tiap- tiapruasnya di bagian bawah hanya terdapat satu cucuk
haemal, pada bagian atas tulang punggung terdapat cucuk neural.

2. Rangka visceral
meliputi struktur tulang yang menyokong insang dan mengelilingi
pharynx. Struktur ini terdiri dari tujuh tulang lengkung insang. Dua
lengkung insang yang pertama menjadi bagian dari tulang-tulang tengkorak,
sedangkan lima bagiannya berfungsi sebagai penyokong insang.

3. Rangka apendicular
Meliputi tulang-tulang penyokong sirip dan melekatnya. Pada ikan
terdapat lima macam sirip yaitu sirip tunggal (punggung, ekor, dan dubur)
dan sirip berpasangan (sirip perut dan dada).
7

Secara tidak langsung, bentuk rangka menentukan bentuk tubuh ikan yang
beraneka ragam. Bentuk tubuh ikan merupakan interaksi antara sistem rangka
dengan sistem otot serta evolusi dalam adaptasi kedua sistem tersebut terhadap
lingkungannya. Rangka yang menjadi penegak tubuh ikan terdiri dari tulang
rawan dan atau tulang sejati.

2.4. Larutan Hidrogen peroksida (H2O2)


Hidrogen peroksida ditemukan oleh Louis Jacques Thenard ditahun1818
dikenal sebagai dihidrogen dioksida, hidrogen dioksida, oksidol dan peroksida,
dengan rumus kimia H2O2, pH 4.5, cairan bening, tidak berwarna dan tidak
berbau, dan lebih kental dari air. Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida
adalah gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2). Hidrogen peroksida merupakan
bahan oksidator kuat yang paling sering digunakan dan tersedia dalam berbagai
konsentrasi, larutan ini berfungsi juga sebagai bahan pemutih dan desinfektan.
Karateristik dari hidrogen peroksida adalah sangat cepat dipecah menjadi air dan
oksigen. Oksigen murni yang dilepaskan tersebut sangat reaktif dan dapat
berperan pada proses pemutihan tulang. Dalam pembentukan berbagai oksigen
reaktif tersebut, hidrogen peroksida dipengaruhi oleh kondisi reaksi, diantaranya
suhu, pH, cahaya, dan adanya transisi mineral. Mekanisme reaksinya tergantung
substrat, lingkungan, dan katalis. Adanya katalis enzim peroksidase dan katalase
yang banyak ditemukan dalam tubuh dapat mempercepat reaksi tersebut.
Teknologi yang banyak digunakan di dalam industri hidrogen peroksida
adalah auto oksidasi Anthraquinone. Hidrogen peroksida mempunyai sifat-sifat
sebagai berikut:
a. Bukan asam, tetapi dapat mengubah warna lakmus menjadi merah.
b. Larutan pekat hidrogen peroksida dapat merusak kulit.
c. Memiliki daya desinfektan (Bariqina dan Ideawati, 2001).
Hidrogen peroksida diperdagangkan mulai dari kosentrasi 3% sampai 35%.
Untuk kebutuhan reaksi oksidasi dan bleaching biasanya mengandung 27.5% -
35% H2O2. Hidrogen peroksida banyak digunakan sebagai zat pengelantang atau
bleaching agent, pada industri pulp, kertas dan tekstil. Selain itu, industri-industri
lain yang menggunakan hidrogen peroksida di antaranya elektronika (pembuatan
8

PCB), waste water treatment, kimia, medis, deterjen, makanan dan minuman, dan
lain-lain.
Salah satu keunggulan hidrogen peroksida dibandingkan dengan oksidator
yang lain adalah sifatnya yang ramah lingkungan karena tidak meninggalkan
residu yang berbahaya, kekuatan oksidatornya pun dapat diatur sesuai dengan
kebutuhan (Hughes,1987).
9

BAB III
METODELOGI

3.1. Waktu dan Tempat


Waktu pelaksanaan praktikum dilaksanakan pada hari Senin, 31 Oktober
2016 pukul 10.30 WIB. Tempat pelaksanaan praktikum di laboratorium biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pakuan Bogor.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Alat
1. Kompor

2. Panci
3. Bak lilin
4. Pisau
5. Pinset
6. Sikat gigi

3.2.2. Bahan
1. Ikan patin (Pangasius sp.)
2. Larutan H2O2 (Hidrogen peroksida)
3. Lem plastik / Superglue
4. Kawat

3.3. Metode kerja


1. Disiapkan 1 ekor ikan patin. Ikan yang digunakan sebaiknya telah mati
tetapi masih segar, atau jika ikan yang akan digunakan masih hidup kita
dapat bius dengan perendaman dengan air es. Setelah mati, ikan dikuliti
hingga tinggal daging dan tulangnya.
2. Selanjutnya ikan tersebut disiram dengan air mendidih selama beberapa
menit sampai dagingnya lunak dan mudah diambil.
3. Setelah lunak ikan diangkat kemudian dagingnya diambil atau disuwiri
dengan pinset.
4. Tulang-tulang dikumpulkan dan dibersihkan kembali menggunakan
sikat gigi, kemudian direndam dalam larutan H 2O2 (Hidrogen
10

Peroksida) sampai tulangnya memutih. Lama perendaman dalam


larutan hidrogen peroksida sekitar 30 menit. Hindarkan agar tulang
tidak terlalu lama direndam karena tulang akan mudah rapuh.
5. Langkah selanjutnya mengeringkan tulang dengan di angin-anginkan.
Dihindarkan dari cahaya matahari secara langsung dan disimpan
ditempat yang aman.
6. Selanjutnya tulang yang terlepas disambung kembali dengan
menggunakan lem dan kawat. Diberi dudukan sehingga dapat disimpan
dengan mudah.

BAB IV
PEMBAHASAN
11

4.1. Pembahasan
Pada praktikum yang dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 2016 dilakukan
praktikum pemutihan tulang yang dimana proses ini merupakan suatu upaya untuk
mengembalikan (merestorasi) warna normal pada tulang akibat adanya
diskolorisasi (perubahan warna) dengan cara mengubah warna noda menjadi lebih
sedikit berpigmen menggunakan bahan oksidasi atau reduksi berkekuatan tinggi.
Tujuan pemutihan tulang adalah untuk membuat tulang tampak lebih bagus,
bersih dan lebih putih sehingga dapat dengan mudah mengetahui susunan skeleton
pada tubuh makhluk hidup.
Bahan utama yang kami gunakan dalam praktikum kali ini adalah ikan patin
(Pangasius hypopthalamus) dan larutan Hidrogen Peroksida (H2O2). Ikan patin
yang kami gunakan memiliki susunan tulang dan tengkorak yang lebih kokoh
sehingga tidak mudah rusak atau rapuh pada proses perebusan dan perendaman
dengan hidrogen peroksida (H2O2)
Pada mulanya kami menggunakan ikan gurame (Osphronemus goramy)
untuk proses pemutihan tulang. Ikan gurame memiliki tulang yang relatif kecil
dan tipis sehingga menyebabkan tulang menjadi lebih rapuh pada saat proses
perebusan tubuh ikan dan pada saat perendaman dengan H 2O2 yang terlalu lama.
Sehingga terjadi kerusakan terutama pada bagian tengkorak ikan. Sehingga kami
memilih ikan patin (Pangasius hypopthalamus) untuk proses pemutihan tulang.
Proses pemutihan tulang dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, proses
pemisahan daging ikan dari tulang, proses ini bertujuan untuk membersihkan
tulang ikan dari daging karena jika masih terdapat daging yang melekat pada
tulang akan menyebabkan ikan tersebut terkena bakteri sehingga dapat mengalami
pembusukan.
Kedua, proses perebusan ikan dengan air yang mendidih, namun hal ini
dirasa kurang efektif karena pada saat air mendidih justru menyebabkan tulang
menjadi sangat rapuh sehingga pada proses ini kami tidak melakukan perebusan
namun dilakukan proses penyiraman tubuh ikan dengan air yang mendidih dengan
tujuan membuat daging yang masih melekat pada tubuh ikan menjadi lebih lunak
dan mudah dibersihkan.
Ketiga, proses perendaman tubuh ikan di dalam larutan Hidrogen Peroksida
12

(H2O2) konsentrasi 10%, proses ini merupakan proses pemutihan tulang.


Perendaman ini hanya dilakukan dalam kurun waktu 30 menit sampai tulang ikan
terlihat lebih putih dan bersih, hindarkan agar tulang tidak terlalu lama direndam
karena akan rapuh. Berdasarkan kemampuannya Hidrogen peroksida mampu
menembus struktur tulang yang terkena pewarnaan. Penembusan ini terjadi karena
berat molekul hidrogen peroksida yang rendah dan mempunyai kemampuan
denaturasi protein sehingga dapat meningkatkan gerakan ion-ion melalui tulang.
Selain itu, hidrogen peroksida merupakan oksidator kuat dan dapat menghasilkan
radikal bebas bermuatan yang sangat reaktif. Radikal bebas bermuatan tersebut
merupakan radikal yang tidak stabil dan akan beraksi dengan molekul organik
atau radikal bebas lainnya terutama molekul-molekul zat warna pada noda yang
menumpuk pada tulang dengan cara merusak satu atau lebih ikatan rangkap dalam
ikatan konjugasi pada molekul zat warna, atau dengan mengoksidasi bagian kimia
lain pada ikatan konjugasi. Dengan adanya reaksi tersebut, molekul organik yang
berukuran besar dan berpigmentasi tinggi akan menjadi molekul berukuran lebih
kecil dan lebih sedikit berpigmen. Molekul seperti ini meningkatkan panjang
gelombang warna dan lebih banyak merefleksikan cahaya. Hasil akhirnya tulang
tampak lebih putih.

Gambar 1. Perendaman tubuh ikan dalam hidrogen peroksida

Keempat, proses pengeringan tubuh ikan yang telah direndam dalam larutan
H2O2, proses pengeringan ini dilakukan dengan menyimpan tubuh ikan dalam
suatu ruangan.
13

Gambar 2. Proses pengeringan

Kelima, proses berikutnya adalah proses pemasangan atau penyambungan


bagian bagian tubuh ikan yang terpisah dengan menggunakan lem dan kawat
dibentuk kembali sesuai dengan kondisi ikan pada mulanya.
14

BAB V
PENTUTUP

5.1. Kesimpulan
Kegagalan pembuatan rangka pada ikan gurame disebabkan karena
tingginya suhu pada saat perebusan dan masih terdapatnya daging pada
bagian kepala ikan tersebut sehingga menyebabkan adanya belatung.
skeleton pada ikan patin tersebut terdapatnya tengkorak, rongga mata,
tulang belakang,rongga insang, tulang rusuk,sirip dada, sirip punggung,
sirip perut dan sirip ekor.
Pembuatan awetan rangka dilakukan untuk mengetahui rangka yang
menyusun ikan patin
Pemutihan dilakukan ddengan cara perendaman didalam hydrogen
peroksida, karena hydrogen peroksida berfungsi untuk bahan pemutih
dan desinfektan

5.2. Saran
Dari hasil praktikum yang kami dapat sebaiknya pada praktikum pemutihan
tulang ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, pada proses
pemutihan tulang khususnya jika bahan yang digunakan adalah ikan pilihlah ikan
yang memiliki struktur tulang yang kokoh. Kedua, untuk bahan ikan dianjurkan
untuk melakukan penyiraman dengan menggunakan air panas yang telah
mendidih atau dengan melakukan pengukusan. Ketiga, proses perendaman tubuh
ikan dalam larutan hidrogen peroksida tidak terlalu lama berkisar sekitar 10
sampai 15 menit saja. Keempat, pastikan tubuh ikan sudah bersih dari daging.
Kelima, bagian-bagian yang terpisah sebaiknya ditandai menggunakan label dan
diberi keterangannya.
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Adiyanto, Intan Oktaviana. 2009. Pengaruh Lama Perendaman Gigi dengan Jus
Buah Pir (Pyrus communis) Terhadap Perubahan Warna Gigi pada Proses
Pemutihan Gigi Secara In Vitro. Fakultas Kedokteran, Universitas
Dipenogoro Semarang
E. Hariati. 2010. Taksonomi dan morfologi ikan patin. <http://e-
journal.uajy.ac.id/2142/3/2BL00935.pdf> diakses pada tanggal 29 Oktober
2016 pukul 09.30 wib
Ypp lubis. 2014 .klasifikasi ikan patin (Pangasius sp.)
<http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40002/4/Chapter
%20II.pdf> diakses pada tanggal 29 Oktober 2016 pukul 11.00 wib
Hasan. 2015. Hidrogen Peroksida
<http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/52217/4/Chapter
%20II.pdf> diakses pada tanggal 30 Oktober 2016 pukul 10.00 wib