Anda di halaman 1dari 415

Model-Model Pemberdayaan

Masyarakat
MODEL-MODEL
Pemberdayaan Masyarakat

Rr. Suhartini A.
Halim Imam
Khambali
Abd.Basyid (eds)
_
MODEL-MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Rr. Suhartini, A. Halim,
Imam Khambali, dan Abd. Basyid (eds.)
Rr. Suhartini, A. Halim, Imam Khambali, dan Abd. Basyid (eds.),
dan Pustaka Pesantren, 2005

xii + 446 halaman: 1 2 x 1 8 cm.


1. Pemberdayaan pesantren 3. Pembaruan pesantren
2. Pesantren

ISBN: 979-8451-38-4

Editor: Rr. Suhartini, A. Halim, Imam Khambali, dan Abd. Basyid


Penyelaras Akhir: Nur Khalik Ridwan Rancang Sampul: Cultdesain
Setting/Z-ayouf: Santo Penyelaras Aksara: Abdurrahman

Penerbit:
Pustaka Pesantren
(Kelompok Penerbit LK\S)
Salakan Baru No. I Sewon Bantul Jl. Parangtritis Km. 4,4 Yogyakarta
Telp.: (0274) 387194, 7472110 Faks.: (0274) 387194 e-mail:
elkis@indosat.net.id

Cetakan I: Juli 2005

Percetakan dan distribusi:


PT LKiS Pelangi Aksara
Salakan Baru No. I Sewon Bantul Jl. Parangtritis Km. 4,4 Yogyakarta
Telp.: (0274) 387194, 7472110 Faks.: (0274) 387194 e-mail:
elkis@indosat.net.id
PEN6ANTAR REDAKSI

s^paguna kata memiliki sekian ratus ribu alumni


sekolahjang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh?
Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadipenjajah
rakyat dengan modal kepintaran mereka.
(Y.B. Mangunwijaya)

Apa yang dikatakan Romo Mangun di atas,


sungguh mengingatkan siapa pun betapa nasib
rakyat bawah, kelompok miskin, dan kaum mar-
jinal senantiasa terpuruk. Saat yang sama, banyak
para alumni sekolah (Akadami, Universitas, Ins-
titute Seminari, Sekolah Tinggi, dst.) meluluskan
orang-orang, yang konon dalam mitos pendidikan
modern adalah sarjana-sarjana hebat, tetapi tidak
banyak lagi memikirkan nasib kaum bawah, apalagi
melakukan praksis pembelaan. Bahkan
Modal-Modal Parnbardayaan Masyarakat

dalam beberapa hal tidak jarang sarjana-sarjana


itu melakukan eksploitasi terhadap kaum bawah,
dengan bekal kepintaran (atau tepatnya: kelicik- an)
mereka.
Dalam buku ini, kelompok-kelompok
miskin merupakan konsen seriusnya. Kelompok
miskin di sini adalah dalam pengertian kelompok
marjinal secara ekonomi, dan buku ini menggugah
betapa pentingnya memikirkan nasib kelompok
bawah dan miskin ini.
Secara teknis, buku ini adalah kumpulan
makalah-makalah panjang tentang model-model
pemberdayaan masyarakat. Sedangkan isinya,
misalnya berbicara tentang: keadaan rakyat miskin
di perkotaan, di' sekitar tanah longsor, kaum ne-
layan kecil, dan petani. Buku ini juga membicara-
kan karakterisdk dan pendekatan pemberdayaan
yang bisa digunakan atas kaum bawah, dengan
memberikan perspektif-perspektif dari banyak
negara.
Dari sisi substansi dan tema-tema yang ada
di buku ini tampak memiliki sumbangan berarri
untuk wacana perubahan sosial. Setidak- nya
setelah membaca buku ini, kita akan tahu betapa
membela kelompok miskin dalam segala
segmennya sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi.

vi
Pangantar Radaksi

Seperti yang dikatakan Romo Mangun, betapa


kaum terdidik sudah harus memikirkan kaum
bawah ini, bukan malah menjajah mereka dengan
segala eksploitasi gaya akademis dan politisnya
seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian para
sarjana kita.
Selamat membaca!
&AFTAR ISI

Pengantar Redaksi ^ v
Daftar Isi > ix Bagian I
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perkotaan ~
Imam Khambali dan A. Halim ^ 3

Bagian II
Bentuk Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat
Miskin Perkotaan ^11

vi i
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan Nelayan Tradisional ~ Bagong
Suyanto ^31
Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis
Komunitas (PSBK) ~ H. Nur Syam 5s" 83

Bagian III
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan
Melalui Pemberdayaan Masyarakat di Daerah
Rawan Longsor ~ Sri Soehartatie dan Pardoto
Iman Santoso ^101
Pendekatan Sosio-Kultural dalam Pemberdayaan
Masyarakat ~ H. Moh. Ali Aziz 5s" 131
Dimensi Jender dalam Pemberdayaan Masyarakat
di Daerah Rawan Longsor ~ Hj. Rr. Suhartini
^137
Pengelolaan Ekosistem Kawasan untuk Kon-
servasi Sumber Daya Air dan Plasma Nutfah ~
Imam Khambali ^149
Penyuluhan kepada Masyarakat Kehutanan di
Daerah Rawan Longsor ~ A. Halim r 161
Tingkat Kerawanan dan Pengukuran Indikator
Rawan Longsor ~ Imam Khambali ^191
Implementasi Program Pemberdayaan Masyarakat
di Daerah Rawan Longsong ~A. Halim dan
Imam Khambali ^ 201

vi i i
Daftar Isi

Bagian IV
Model Pembelajaran Masyarakat: Memberdaya- kan
Bangunan Akuifer Buatan Simpanana Air Hujan
(ABSAH) > 211

Bagian V
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Melaluai Usaha Ternak Domba Tanpa Rumput
~Fatkur Rohman ^273
Pembuatan Mesin Ulesan dan Mesin Pilin/ Tampar
Pelepah Pohon Pisang di Desa Suko
KecamatanWringinanom Kabupaten Gresik ~
Abdul Qolik > 299
Teknologi Kerupuk pada Industri Skala UKM
~ Susinggih Wijana > 305
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di
Jawa Timur ^317

Bab VI
Model Pengembangan Masyarakat Pedesaan ~
M. Yahya Mansyur ^ 339

Biodata Penulis ^ 429


Bagian I
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MISKIN PERKOTAAN
(Model Pengentasan Kemiskinan Kota Surabaya
dengan Pendekatan TRIDAYA)

Imam Khambali A. Halim

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang
Daerah kumuh yang merupakan akibat dari
berbagai aktivitas yang kurang bertanggungjawab,
juga akibat dari ketidakmerataan pembangunan
suatu kota, merupakan penyebab utama terjadi-
nya kantong-kantong kemiskinan kota. Ini adalah
salah satu masalah sosialyang sampai dengan saat
ini sulit terpecahkan, dan nyaris mustahil dapat
diselesaikan hanya dalam hitungan satu dua
tahun.
Sebuah kota yang berkembang menuju mega
urban, seperti kota Surabaya, dengan perkem-
bangan pembangunan yang sedemikian pesatnya,

3
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

terbukti dengan berdirinya gedung-gedung


ber- tingkat yang dilengkapi dengan berbagai
macam fasilitas mewah, mobil mewah yang
berjajar di sepanjang jalan protokol, kerlap-kerlip
lampu di sepanjang jalan yang begitu semarak
gemerlapan, hingga kota kelihatan demikian
glamornya, sebe- namya bertujuan untuk
meningkatkan status kota. Masalahnya itu tidak
diimbangi dengan pening- katan kesejahteraan
bagi penduduk miskin, dan diperparah dengan
arah kebijaksanaan pemerin- tah yang cenderung
kurang mendukung golongan masyarakat miskin,
sehingga mengakibatkan putus- nya akses bagi
masyarakat miskin, dan timbulnya kawasan
kumuh tidak dapat dihindari.
Kota Surabaya yang berhak mengklaim seba-
gai kota besar yang maju dan otonom,
sesungguh- nya harus berkaca pada dua hal yaitu:
Pertama, sejauh mana kota itu ikut berpartisi-
pasi dalam proses pembedayaan penduduknya,
khususnya penduduk miskin yang belum mempu-
nyai akses dan cenderung menyebabkan berbagai
macam masalah, dan di antaranya adalah masalah
kumuh.
Kedua, sejauh mana penduduk kota yang ter-
golong marjinal telah berhasil dientas dari
kungkung- an kemiskinan, dan sejauh mana
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

kesenjangan sosial telah dieliminasi. Namun


demikian, pemerintah
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perkotaan

sebenarnya telah melaksanakan berbagai


macam upaya untuk mengurangi masalah sosial,
tetapi hasilnya masih belum optimal. Ini terbukti
masih ada kawasan kumuh baik yang berkategori
kumuh kota, kumuh pantai, dan kumuh pinggiran
yang masih perlu pembenahan.
Ke depan dalam rangka mengurangi masalah
tersebut maka pemerintah Kota Surabaya akan
melaksanakan berbagai macam upaya, dan salah
satu diantaranya adalah melaksanakan upaya
pemberdayaan masyarakat (pemberdayaan
manusia, pemberdayaan usaha, dan
pemberdayaan lingkungan) yang melibatkan
langsung masyarakat dalam pembangunan Kota
Surabaya. Praksis- nya melalui Program
Pemberdayan Masyarakat Miskin Perkotaan,
yaitu Kegiatan Pembentukan Kelompok Usaha
Bersama bagi Keluarga Miskin, Perbaikan Rumah
Tidak Layak Huni dan Perba- ikan Sanitasi
Lingkungan Permukiman.
Program Pemberdayan Masyarakat Miskin
Perkotaan di Kota Surabaya merupakan program
pembangunan berdasar partisipasi masyarakat
(community based development). Pelaksanaan program
diarahkan untuk melakukan pemberdayaan ke-
pada warga masyarakat kampung setempat, agar
dapat meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan
lingkungannya secara mandiri/berkelanjutan.

5
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Program Rehabilitasi Sosial dirumuskan dan


dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan
bottom up, di mana pada pelaksanaan kegiatan di
lapangan, dilakukan atas inisiatif dan aspirasi dari
masyarakat, mulai dari kegiatan perencanaan,
pelaksanaan sampai dengan pengawasan pelak-
sanaan pembangunan. Masyarakat memiliki peran
yang sangat penting dan dituntut untuk terlibat
secara aktif dalam pelaksanaan program pem-
bangunan ini, berhasil atau tidaknya pelaksanaan
program ini ditentukan oleh partisipasi masya-
rakat itu sendiri.
' Untuk mendukung pelaksanaan Program
Pemberdayan Masyarakat Miskin Perkotaan pada
masing-masing lokasi kampung, Pemerintah Kota
Surabaya dalam hal ini Dinas Sosial dan Pember-
dayaan Perempuan, bekerja sama dengan Tim
Pendamping yang akan berperan sebagai motiva-
tor dan fasilitator agar implementasi program-
pro- gram pada masing-masing kawasan kumuh
dapat sesuai dengan target dan sasaran yang telah
di- tetapkan. Kegiatan pendampingan ini lebih
ber- sifat sebagai kegiatan untuk memotivasi
masyarakat kampung, agar mereka lebih peduli
terhadap perencanaan dan pelaksanaan Program
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perkotaan.
b. DasarHukum
Pelaksanaan Program Pemberdayan Masyarakat

6
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perkotaan

Miskin Perkotaan menggunakan dasar atau


landasan hukum, di antaranya adalah:
- UUD 1945 Pasal 34 ayat 2 yang menyatakan
bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipeli-
hara oleh negara; dan Pasal 27 ayat 2 yang
menyatakan bahwa setiap warga negara
berhak atas penghidupan yang layak.
- UURI No. 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial.
- UURI No. 1 tahun 1964 tentang Pokok-
pokok Perumahan.
- UURI No. 22 tahun 1999 tentang
Pemerintah Daerah (Otonomi Daerah).
- PPRI No. 42 tahun 1981 tentang Pelayanan
Kesejahteraan Sosial bagi Fakir Miskin.
- SK Walikota No. 188.45/21/402.1/2003
tentang Pembentukan Komite Penanggulang-
an Kemiskinan di Surabaya.

c. Tujuan Pelaksanaan Program Pemberdayaan


Masyarakat Miskin Perkotaan
Tujuan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat
Miskin Perkotaan sebagai berikut:

7
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

Meningkatkan kualitas lingkungan permukim- an


melalui suatu upaya penanganan terpadu, baik
dari aspek fisik, sarana dan prasarana, mau- pun
kondisi sosial ekonomi masyarakatnya.
Pemberdayaan masyarakat untuk menumbuh-
kan inisiatif, kreativitas dan jiwa kemandirian
dalam pelaksanaan kegiatan peningkatan ke-
sejahteraan di lingkungan tempat tinggalnya.
Meningkatkan kemampuan usaha dalam rangka
pengembangan sumber pendapatan yang dapat
menunjang perekonomian keluarga/warga.
Bagian II
BENTUK KEGIATAN
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MISKIN PERKOTAAN

1. Bentuk Kegiatan

Program Pemberdayan Masyarakat Miskin


Perkotaan di Kota Surabaya merupakan program
pembangunan berdasar partisipasi masyarakat
(community based development). Pelaksanaan program
diarahkan untuk melakukan pemberdayaan ke-
pada warga masyarakat kampung setempat, agar
dapat meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan
lingkungannya secara mandiri dan berkelanjutan.
Program Pemberdayan Masyarakat Miskin
Perkotaan dirumuskan dan dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan bottom up, dimana pada
pelaksanaan kegiatan di lapangan dilakukan atas
inisiatif dan aspirasi dari masyarakat, mulai dari
kegiatan perencanaan, pelaksanaan sampai dengan
pengawasan pelaksanaan pembangunan. Masya-
rakat memiliki peran yang sangat penting dan
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
dituntut untuk terlibat secara aktif dalam pelak-
sanaan program pembangunan ini, berhasil atau
tidaknya pelaksanaan program ini ditentukan oleh
partisipasi masyarakat itu sendiri.
Pelaksanaan Program Pemberdayan Masyarakat
Miskin Perkotaan di Surabaya merupakan salah satu
upaya peningkatan kondisi permukim- an dan sosial
di Kota Surabaya, di mana penangan- annya
dilakukan secara terpadu, baik dalam hal perbaikan
fisik lingkungan maupun kondisi sosial ekonomi
masyarakat di lingkungan perkampung- an tersebut.

a. Komponen Kegiatan
Program Pemberdayaan Masyarakat Miskin
Perkotaan meliputi:
- Pengembangan Sumber Daya Manusia yang
meliputi Pelatihan Ketrampilan Pelaksanaan
kegiatan yang berkaitan dengan upaya
pemberdayaan masyarakat dan peningkatan
Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu meliputi
antara lain pelatihan manajemen kelembagaan,
dan pelatihan ketrampilan (komputer, menjahit,
membuat kue, memasak,
dll.).
- Penguatan Lembaga Pengelola program di
masyarakat dengan dibentuk Unit Pembinaan
Keluarga Miskin (UPKm) di setiap kelurahan

12
Bentuk Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Miskin ...

yang bertugas untuk mengelola dan membina


keluarga miskin.
- Pengembangan Usaha Kecil Menengah.
Pelaksanaan kegiatan sebagai upaya untuk
pengembangan usaha kecil menengah, mem-
buka peluang/kesempatan kerja dalam rangka
meningkatkan taraf hidup masyarakat, meli- puti
antara lain pelatihan industri kecil, dan
pemberian kredit untuk modal usaha.
- Perbaikan Rumah. Kegiatan-kegiatan yang
bertujuan untuk meningkatkan kualitas rumah
tinggal, baik fisik maupun kejelasan status per-
i2inannya, antara lain meliputi perbaikan dapur,
KM/WC, dan komponen rumah lainnya.
- Perbaikan Prasarana Lingkungan. Pelaksanaan
perbaikan fisik lingkungan (prasarana) per-
mukiman kampung, meliputi antara lain per-
baikan jalan lingkungan, saluran, fasilitas
persampahan, dan MCK umum.
Berdasarkan lingkup kegiatan program yang
akan ditangani, maka pelaksanaan Pemberdayaan
Masyarakat Miskin Perkotaan meliputi: Daya
Manusia (Pengembangan Sumber Daya Manusia);
Daya Usaha (Pengembangan Usaha Kecil dan
Menengah); dan Daya Lingkungan (Peningkatan
Kondisi Fisik Lingkungan dan Permukiman)

13
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
b. Metode Pelaksanaan
Untuk menjaga efektivitas pelaksanaan kegiatan
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perkotaan,
digunakan metode pelaksanaan yang kegi- atannya
meliputi :
b.1. Pemberian pendampingan kepada warga
1) Tujuan dari pendampingan masyarakat ini
adalah:
Agar Pelaksanaan program dengan pola pen-
dampingan dan pendekatan bottom-up dapat
terlaksana dengan baik dan sekaligus mampu
menumbuhkan motivasi dan peran serta warga
masyarakat kampung dalam menyukseskan
pelaksanaan kegiatan rehabilitasi sosial sesuai
dengan target dan sasaran yang telah ditentu-
kan.
*) Memberikan fasilitas jasa dan pelayanan
kepada masyarakat dalam bentuk arahan /
bimbingan teknis tentang prosedur dan
mekanisme pelaksanaan kegiatan rehabili- tasi
sosial pada masing-masing kampung.
*) Mengoptimalkan peran lembaga masyarakat
dan meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam mendukung dan menyukseskan pe-
laksanaan pembangunan di wilayahnya..
*) Menjalin suatu kerja sama dengan segenap
potensi yang ada di masyarakat (profesio- nal,

14
Bentuk Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Miskin ...

Perguruan Tinggi, LSM, dll.) terutama dalam


hal alih pengalaman, ilmu pengetahu- an dan
teknologi dalam rangka peningkatan dan
pengembangan program pembangunan
sosial.
*) Menumbuhkan motivasi dan upaya keman-
dirian warga masyarakat dalam pelaksanaan
program pembangunan agar pada masa
mendatang masyarakat tersebut dapat me-
laksanakan pembangunan secara mandiri,
terbuka, bertanggung jawab, dan berke-
lanjutan.
2) Pendampingan Masyarakat
Pelaksanaan Program Pemberdayan Masyarakat
Miskin Perkotaan adalah pembangunan yang
bertumpu pada masyarakat, di mana pola
pendekatan yang akan digunakan adalah bot-
tom up, dari masyarakat, oleh masyarakat, dan
untuk masyarakat itu sendiri, sehingga dalam
pelaksanaan program di kampung Tim Pen-
damping akan lebih banyak berperan sebagai
motivator dan fasilitator. Sebagai\motivatorJ
Tim Pendamping harus ber usaha untuk dap at
* menumbuhkan motivasi dan inisiatif masya-
rakat agar masyarakat ini turut berpartisipasi
secara aktif dalam mendukung pelaksanaan
rehabilitasi sosial. Selain itu, Tim Pendamping
ini juga harus menanamkan semangat keman-
dirian agar pada saatnya nanti masyarakat dapat

15
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
melaksanakan pembangunan secara man- diri,
bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Dalam
perannya sebaga^fasilitator^Tim Pen- damping
akan membantu masyarakat, terutama dalam
memberikan arahan dan bimbingan teknis
prosedur pelaksanaan program, mulai dari
sosiali- sasi dan pengenalan manfaat program,
penguat- an kelembagaan, penyusunan rencana
kegiatan, pencairan dana, implementasi
program sam- pai pada pengawasan.
3) Tugas Tim Pendamping masyarakat adalah
sebagai berikut:
*) Melakukan kajian dan verifikasi terhadap
data-data penduduk miskin khususnya yang
menjadi sasaran kegiatan.
*) Melaksanakan pengamatan lingkungan pada
masing-masing lokasi kampung untuk pe-
ngenalan lapangan, identifikasi awal, dan
pengumpulan data tentang kondisi fisik
lingkungan.
*) Memberikan Pelatihan kepada Lembaga
Pengelola Kegiatan di Masyarakat.
*) Memfasilitasi pelaksanaan pemberian pe-
latihan ketrampilan bagi warga.
*) Memberikan bimbingan teknis kepada warga
untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan
fisik (rumah dan prasarana lingkungan)

16
Bentuk Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Miskin ...

*) Memfasilitasi pelaksanaan pembinaan/


pengembangan KUBE (Kelompok Usaha
Bersama) peremberdayaan masyarakat miskin
perkotaan.
*) Melakukan monitoring dan evaluasi selama
pelaksanaan kegiatan pemberdayan masya-
rakat miskin perkotaan tahun 2003.
*) Menyusun buku laporan pelaksanaan kegiatan
program pemberdayan masyarakat miskin
perkotaan.
4) Kewajiban Tim Pendamping
Dalam pelaksanaan tugas-tugas pendampingan
masyarakat pada masing-masing kampung Tim
Pendamping harus mampu bekerja sama dengan
segenap pihak yang terlibat dalam Kegiatan Pro-
gram Pemberdayan Masyarakat Miskin Perkotaan.
Tim pendampingan ini memiliki peran dan
posisi yang strategis dalam mendukung pelaksanaan
program, turut menentukan berhasil tidaknya
implementasi program pada masing- masing
kampung. Kepada masyarakat kam- pung, secara
moral Tim Pendamping memiliki tanggung jawab
agar kegiatan pendampingan dan pemberdayaan
masyarakat dapat berjalan baik, sehingga mampn
rnenumbuhkan motivasi dan inisiatif masyarakat
untuk berperan serta dalam menyukseskan program
ini. Sedangkan kepada Pemerintah Kota Surabaya
(Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan) Tim

17
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
Pendamping ini secara teknis dan administrasi juga
memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan
kegiatan pendampingan dengan baik, agar
pelaksanaan kegiatan pada masing-masing kampung
dapat mencapai sasaran dan target yang telah
ditetapkan.
Berkaitan dengan tanggungj awab ter- sebut
Tim Pendamping masyarakat ini memiliki
kewajiban antara lain:

18
Bentub Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Miskin
*) Melaksanakan tugas-tugas pendampingan
masyarakat dengan penuh tanggung jawab,
dan memberikan laporan-laporan pelaksanaan
kegiatan pendampingan pada masing- masing
kampung sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
*) Terlibat secara aktif dalam kegiatan-kegiat- an
proyek, baik kegiatan di lapangan mau- pun
kegiatan-kegiatan dalam rangka koordi- nasi
dengan pihak-pihak terkait yang terlibat dalam
pelaksanaan Kegiatan Program Pemberdayaan
Masyarakat Miskin Perkotaan.
*) Terlibat secara aktif dalam kegiatan moni-
toring, evaluasi dan pengawasan terhadap
perkembangan pelaksanaan pada masing-
masing kampung.
*) Mendukung Pemerintah Kota Surabaya
(Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perem-
puan) dan masyarakat dalam upaya mencari
pemecahan masalah yang berkaitan dengan
proses pelaksanaan kegiatan di lapangan.
5) Susunan Personil Tim Pendamping
Untuk melaksanakan pendampingan masyarakat
pada masing-masing kampung. Tim Pen-
damping masyarakat dipimpin oleh seorang
Ketua Tim Pendamping ini akan dibantu oleh
seorang Koordinator Lapangan yang akan ber-
tindak selaku koordinator bagi tenaga pendam-

19
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
ping di lapangan, dan selanjutnya untuk pelak-
sanaan tugas pendampingan masyarakat pada
masing-masing kampung, maka Tim Pen-
damping ini akan menugaskan personil sebagai
Pendamping Masyarakat untuk setiap lokasi
kampung.
6) Gambaran Umum Kegiatan Pendampingan
Masyarakat untuk Program Pemberdayaan
Masyarakat Miskin Perkotaan.
Berikut ini akan dipaparkan gambaran umum
kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan:
*) Tahap pra-pendampingan
Pada tahap pra-pendampingan ini, terdiri dari
beberapa kegiatan diantaranya:
- Kegiatan sosialisasi tentang program
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Per-
kotaan kepada masyarakat di Kelurahan
sasaran. Tahap sosialisasi ini dimaksud-
kan untuk memperkenalkan program
kegiatan yang akan dilaksanakan, tata cara
pelaksanaan dan partisipasi warga yang
dapat dilakukan untuk mendukung
program ini.
- Kegiatan survey pendahuluan yang
dilakukan Tim Pendamping dan peng- urus
UPKM di Kelurahan sasaran.
- Pelaksanaan Kegiatan Lokakarya Ke-
lembagaan Unit Pembinaan Keluarga Miskin

20
Bentub Kegiatan Pemberdayaan Masyarabat Misbin

(UP Km) yang merupakan bagian dari


kegiatan sosialisasi program.
- Penyusunan Laporan Pendahuluan/
Petnniuk Teknis Pelaksanaan.
*) Tahap Pendampingan di Lapangan
Pada tahap pendampingan di lapangan ini,
terdiri dari beberapa kegiatan di antaranya:
- Seleksi dan Penentuan Keluarga Miskin
(Gakin) dan KUBE (Kelompok Usaha
Bersama) oleh UPKm yang didampingi oleh
Tim Pendamping (yang ditunjuk oleh
Pemerintah Kota Surabaya cq. Dinas Sosial
dan Pemberdayaan Perem- puan).
- Setelah terbentuknya Unit Pembinaan
Keluarga Miskin (UPKm), maka selanjut- nya
adalah pengajuan Rencana Kegiatan
Kampung (RKK) yang disusun oleh UPKm.
Penyusunan Kesepakatan Rencana Kegiatan
Kampung (KRKK) dilakukan untuk,setiap
tahap implementasi
Pemberdayaan Masyarakat Miskin Per-
kotaan (PMMP), KRKK ini berisi tentang
kesepakatan-kesepakatan dari pro- gram-
program yang akan dilaksanakan dalam
tiap tahap implementasi. Sebagai
penanggung jawab pelaksanaan program
ini adalah Kelompok Usaha Bersama
(KUBE) yang telah dibentuk dan diawasi

21
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
oleh UPKm.
- Setelah disepakatinya KRKK oleh Dinas
Sosial dan Pemberdayaan Perem- puan
(dalam hal ini adalah pimpinan proyek)
dan ketua UPKm, maka untuk selanjutnya
adalah tahap pencairan dan penyerapan
dana ke Gakin dan KUBE untuk
melaksanakan program-program
pembangunan kampung yang telah
disepakati bersama dalam KRKK.
b.2. Pemberian Pelatihan
Untuk jenis pelatihan yang akan dilaksanakan
antara lain:
1) Pelatihan Kolektif untuk menyiapkan program
kegiatan yang dilakukan secara kolektif atau
kelompok anggota masyarakat meliputi: -
Lingkungan, rumah, dan keluarga sehat.
- 10program pokok PKK.
- Kewirausahaan.
2) Pelatihan Individual untuk menyiapkan program
kegiatan yang dilakukan secara individual atau
kelompok kecil masyarakat.
3) Bentuk Pelatihan Penghayatan SDM yang terdiri
dari:
*) Pelatihan Sumber Daya Manusia (indi-
vidual)
Memasak, dengan diutamakan untuk

22
Bentub Kegiatan Pemberdayaan Masyarabat Misbin

Gakin yang mempunyai usaha di


bidang makanan, dan berminat pada
ketrampilan memasak.
Menjahit, dengan peserta diutamakan
untuk Gakin yang mempunyai minat
terhadap ketrampilan menjahit.
Membuat Kue, dengan diutamakan
untuk Gakin yang mempunyai usaha
di bidang makanan dan berminat pada
ketrampilan membuat kue.
Kursus Mengemudi, dengan diuta-
makan untuk Gakin yang mempunyai
usaha di bidang makanan dan ber-
minat pada ketrampilan mengemudi.
Perbengkelan/Montir, dengan di- utamakan
untuk Gakin yang mem- punyai usaha di
bidang makanan dan berminat pada
ketrampilan per- bengkelan/montir.
Kursus Komputer, dengan diutama- kan
untuk Gakin yang mempunyai usaha di
bidang makanan dan berminat pada
ketrampilan komputer.
*) Pelatihan Sumber Daya Manusia (Kolektif)
Ada 5 materi yang akan diberikan dalam
pelatihan kolektif ini, yaitu pelatihan rumah sakit
dan lingkungan sehat, keluarga sehat, dan
pelatihan kewirausahaan. Pelatihan mengenai 10
program pokok PKK dan Pelatihan

23
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
Pembangunan Kesejahteraan Sosial.
Peserta diutamakan untuk Gakin pene- rima
bantuan pinjaman PMMP.
*) Penguatan Pengelola
Penguatan pengelola sebaiknya diberikan pada
saat pra-pelaksanaan, dan pada pelaksanaan
program kegiatan yang ber- tujuan untuk
memberikan, juga meningkatkan ketrampilan
mengelola
kegiatan program pemberdayaan masya-
rakat miskin perkotaan.
Kegiatan ini meliputi penguatan dalam
perencanaan kegiatan, sosialisasi dan
advokasi, pengadministrasian kegiatan
program, serta monitoring dan evaluasi,
dan lain-lain.
*) Program Daya Usaha, yang terdiri dari:
Stimulan Modal Usaha untuk keluarga miskin
melalui pinjaman bantuan dan bergulir di
mana besar pinjaman akan ditentukan melalui
rapat penyandang dana dengan pengelola
program.
Pengelola bantuan ini dilaksanakan oleh
kelompok usaha ekonomi bersama (KUBE)
yang telah dibentuk oleh masyarakat.
*) Program Daya Lingkungan yang terdiri dari:
perbaikan rumah dan perbaikan lingkungan.

24
Bentub Kegiatan Pemberdayaan Masyarabat Misbin

Dana untuk perbaikan rumah dan lingkungan


diberikan kepada keluarga miskin dan
lingkungannya. Besarnya dana ditentukan
oleh penyandang dana dan pengelola.
b. 3. Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan pemanfaatan dana dimonitor dengan
format-format monitoring yang disusun
oleh KUBE-KUBE, dinilai oleh pengelola dana
(UPKM), dan diketahui oleh Konsultan Pen-
damping. Monitoring ini akan dilengkapi dengan
rekaman visual (foto) dari keadaan 0%, 25%, 50%,
75% hingga 100%.
Kegiatan evaluasi dan monitoring ini akan terus
dilaksanakan oleh masyarakat selama dana masih
bergulir, meskipun secara kontraktual Konsultan
Pendamping telah selesai masa kerjanya.
Untuk mendukung pelaksanaan Program-pro-
gram Pemberdayan Masyarakat Miskin Perkotaan
pada masing-masing lokasi kampung. Pemerintah
Kota Surabaya dalam hal ini Dinas Sosial dan
Pemberdayaan Perempuan bekerjasama dengan
Tim Pendamping yang akan berperan sebagai mo-
tivator dan fasilitator agar implementasi program-
program pada masing-masing kawasan kumuh
dapat sesuai dengan target dan sasaran yang telah
ditetapkan. Kegiatan pendampingan ini lebih
bersifat sebagai kegiatan untuk memotivasi

25
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
masyarakat kampung, agar mereka lebih peduli
terhadap perencanaan dan pelaksanaan program
pemberdayan masyarakat miskin perkotaan.
3. Pembiayaan dan Anggaran
Dana kegiatan pembangunan fisik dan per-
modalan untuk masyarakat dimanfaatkan dengan
menggunakan dua pola, yaitu:
a. Dana Habis/Hibah
Yaitu dana dimanfaatkan oleh warga tanpa harus
dikembalikan/diangsur. Kegiatan yang dibiayai
secara hibah adalah kegiatan-kegiatan yang
memberikan manfaat bagi warga atau
masyarakat secara luas/umum (komunal); dan
dalam hal ini meliputi: kegiatan perbaikan fisik
lingkungan dan kegiatan penguatan lembaga
pengelola program di masyarakat.
b. Dana/Pinjaman Bergulir
Yaitu dana dimanfaatkan dalam bentuk pin-
jaman lunak yang diberikan kepada warga dan
harus dikembalikan kepada pengelola dana
program di kampung, dan nantinya digulirkan
atau dipinjamkan kepada warga lainnya.
Kegiatan yang dibiayai dengan dana bergulir
(pinjaman) adalah kegiatan yang memberikan
manfaat kepada warga (KK) secara individual,
dan dalam hal ini meliputi: kegiatan program
pelatihan ketrampilan, pinjaman rumah tangga
untuk perbaikan rumah, dan Kredit Modal

26
Bentub Kegiatan Pemberdayaan Masyarabat Misbin

Usaha Kecil.
4. Sasaran Penerima Program
Kelompok sasaran (target group) yang akan
diberi bantuan program adalah warga kampung
dengan kategori Keluarga Miskin (Gakin) di mana
penyusunan rencana kegiatan, seleksi, dan penyu-
sunan skala prioritasnya, ditentukan berdasarkan
aspirasi dan dimusyawarahkan oleh warga masya-
rakat kampung itu sendiri.
Penajaman sasaran dilakukan dengan mem-
perhatikan kriteria-kriteria, baik dari aspek teknis,
yaitu objek yang akan ditangani/dibiayai sesuai
dengan persyaratan pada tiap komponen program
(misal, ukuran bangunan); dan aspek non-teknis,
yaitu hal-hal yang menyangkut kemampuan dan
kredibilitas penerima pinjaman (misalnya: ke-
mampuan KK untuk mengangsur pinjaman).

5. Kelembagaan Lokal
Untuk pelaksanaan kegiatan program pem-
berdayan masyarakat miskin perkotaan pada ma-
sing-masing kampung akan dilakukan penguatan,
atau dibentuk suatu lembaga (forum) lokal yang
akan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
kegiatan dan pengelolaan dana secara berkelan-
jutan. Pola pembentukan kelembagaan lokal harus
berdasarkan atas inisiatif dan aspirasi dari masya-
rakat (bottom up).

27
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
6. Sasaran dan Target
Target keluaran (out put) dan hasil yang di-
harapkan dari kegiatan pendampingan masyarakat
dan implementasi kegiatan sosial pada masing-
masing kampung ini adalah: telah diberikannya
Pelatihan Ketrampilan bagi Keluarga Miskin; ter-
bentuknya KUBE bagi Keluarga Miskin; diper-
baikinya rumah tidak layak huni; diperbaikinya unit
prasarana lingkungan; tersalurkannya bantuan
modal pinjaman (stimulan) bagi KUBE.
PEMBERD/W/MN NELAYAN
TRADISIONAL

Bagong Suyanto

1. Pendahuluan

Yang disebut nelayan tradisional adalah ne-


layan yang memanfaatkan sumber daya perikanan
dengan peralatan tangkap tradisional, modal usa-
ha yang kecil, dan organisasi penangkapan yang
relatif sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari,
nelayan tradisional lebih berorientasi pada peme-

28
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

nuhan kebutuhan sendiri (subsistence). Dalam arti


hasil alokasi hasil tangkapan yang dijual lebih ba-
nyak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan
pokok sehari-hari, khususnya pangan, dan bukan
diinvestasikan kembali untuk pengembangan
skala usaha (Satria, 2001).
Berbeda dengan nelayan modern yang acap-
kali mampu merespon perubahan, lebih kenyal
dalam menyiasati tekanan perubahan dan kondisi
overfishing, nelayan tradisional sering kali justru
mengalami proses marjinalisasi, dan menjadi
korban dari program pembangunan/modemisasi
perikanan yang sifatnya a-historis. Akibat keter-
batasan teknologi yang dimiliki, ruang gerak nela-
yan tradisional umumnya sangat terbatas: mereka
hanya mampu beroperasi di perairan pantai {in-
shore). Kegiatan penangkapan ikan dilakukan
dalam satu hari sekali melaut (one day afishing trip)
(Kusnadi, 2003:86). Beberapa contoh nelayan
yang termasuk tradisional adalah nelayan jukung,
nelayan pancingan, nelayan udang, dan nelayan
teri nasi.
Sejak krisis mulai merambah ke berbagai
wilayah pertengahan tahun 1997, nelayan tradi-
sional boleh dikata adalah kelompok masyarakat
pesisir yang paling menderita, dan merupakan
korban pertama dari perubahan situasi sosial-
ekonomi yang terkesan tiba-tiba, namun berke-
panjangan. Bisa dibayangkan, apa yang dapat

29
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
dilakukan nelayan tradisional untuk bertahan dan
melangsungkan kehidupannya, jika dari hari ke
hari potensi ikan di luar makin langka karena cara
penangkapan yang berlebihan? Dengan hanya
mengandalkan pada perahu tradisional dan alat
tangkap ikan yang sederhana, jelas para nelayan
tradisional ini tidak akan pernah mampu bersaing
dengan nelayan modern yang didukung perangkat
yang serba canggih dan kapal besar yang memiliki
daya jangkau jauh dan lebih luas.
Bagi nelayan tradisional, musim kemarau yang
panjang bukan saja sama dengan memper- lama
masa kesulitan mereka dalam memperoleh hasil
tangkapan, tetapi juga menyebabkan kehi- dupan
mereka menjadi makin miskin, dan mereka
terpaksa masuk dalam perangkap hutang yang
tidak berkesudahan. Keterbatasan kemampuan
nelayan-nelayan tradisional dalam berbagai aspek
adalah hambatan potensial bagi mereka untuk
meningkatkan kesejahteraan sosial dan mengatasi
kemiskinan yang membelit mereka selama ini
(Kusnadi, 2003:98).
Pemerintah sendiri, sebetulnya bukan tidak
memahami penderitaan dan tekanan kemiskinan
yang dialami masyarakat desa pesisir, khususnya
para nelayan tradisional. Salah satu progam
pembangunan yang dirancang khusus untuk
membantu upaya pemberdayaan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat pesisir adalah Program

30
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

PEMP (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat


Pantai). Seperti dikatakan Meriteri Kelautan dan
Per- ikanan RI bahwa sasaran Program PEMP
adalah nelayan tradisional, nelayan buruh,
pedagang, dan pengolah ikan berskala kecil,
pembudidaya ikan berskala kecil, dan pengelola
sarana penunjang usaha perikanan berskala kecil,
yang mana mereka semua adalah termasuk
kelompok sosial dalam masyarakat pesisir yang
memiliki kerentanan ekonomi (Kusnadi,
2003:xvi).
Di atas kertas, PEMP sebetulnya adalah salah
satu program unggulan untuk meningkatkan ke-
sejahteraan masyarakat miskin di desa pesisir
secara terencana dan berkelanjutan. Tetapi, yang
menjadi masalah di wilayah dan komunitas ter-
tentu seperti desa pantai, berbagai upaya untuk
memberdayakan kegiatan ekonomi produktif
rakyat miskin atau ekonomi rakyat, sering kali
gagal karena kompleksnya permasalahan yang
membelenggu komunitas nelayan, khususnya
nelayan tradisional. Bagi nelayan tradisional, per-
soalan yang dihadapi bukan sekadar makin ter-
batasnya sumber daya laut yang bisa dieksplorasi,
tetapi juga karena keterbatasan mereka sendiri.
Yang namanya usaha perikanan yang ditekuni
nelayan tradisional, sebagian besar umumnya
masih didominasi usaha berskala kecil, teknologi
sederhana, sangat dipengaruhi irama musim, dan

31
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
hasil-hasil produksinya pun terbatas hanya untuk
konsumsi lokal.
Pengalaman selama ini telah menunjukkan
bahwa tidak mudah mengatasi kemiskinan struk-
tural yang membelenggu nelayan tradisional di
berbagai segi kehidupan. Kesulitan untuk
meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional,
selain dipengaruhi sejumlah kelemahan internal,
juga karena pengaruh faktor eksternal.
Kerterbatasan pendidikan, kurangnya kesempatan
untuk meng- akses dan menguasai teknologi yang
lebih modem, dan tidak dimilikinya modal yang
cukup adalah faktor-faktor internal yang sering
kali menyulit- kan usaha-usaha untuk
memberdayakan kehidupan para nelayan
tradisional. Di lain pihak, ada sejumlah faktor
eksternal, seperti makin terbatasnya potensi
sumber daya laut yang bisa dimanfaatkan nelayan,
persaingan yang makin intensif, meka- nisme
pasar, posisi tawar nelayan di hadapan teng-
kulak, keadaan infrastruktur pelabuhan perikanan,
dan yurisdiksi daerah otonomi adalah beban
tambahan yang makin memperparah keadaan.
Siapakah yang harus dipersalahkan?
Banyak kajian telah membuktikan bahwa
tekanan kemiskinan struktural yang melanda
kehidupan nelayan tradisional sesungguhnya
disebabkan oleh faktor-faktor yang kompleks
(Satria, 2002; Suyanto dkk., 2003). Faktor-faktor

32
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

tersebut tidak hanya berkaitan dengan fluktuasi


musim-musim ikan, keterbatasan sumber daya
manusia, modal, akses, dan jaringan perdagangan
ikan yang eksplotatif terhadap nelayan sebagai
produsen, tetapi juga disebabkan oleh dampak
negatif modernisasi perikanan atau Revolusi Biru
yang mendorong terjadinya pengurasan sumber
daya laut secara berlebihan. Proses demikian
masih terus berlangsung hingga sekarang, dan
dampak lebih lanjut yang sangat dirasakan oleh
nelayan adalah semakin menurunnya tingkat pen-
dapatan mereka dan sulitnya memperoleh hasil
tangkapan. Hasil-hasil studi tentang tingkat kese-
jahteraan hidup di kalangan nelayan, telah me-
nunjukkan bahwa kemiskinan dan kesenjangan
sosial-ekonomi atau ketimpangan pendapatan
merupakan persoalan krusial yang dihadapi dan
tidak mudah untuk diatasi (Kusnadi, 2002: 26-
27).
Di Propin si Jawa Timur, menurut catatan
dari sekitar 1,7 juta jiwa penduduk yang
menekuni pekerjaan sebagai nelayan (10,6% dari
total nelayan di Indonesia) diperkirakan sekitar
70% masih tergolong miskin (Kompas, 29 April
2003). Di berbagai desa pantai Propinsi Jawa
Timur, modernisasi perikanan selain
menyebabkan terjadinya proses marjinalisasi
nelayan tradisional dan nelayan kecil, kebijakan
ini juga telah mendorong timbulnya situasi

33
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
overfishing di sejumlah kawasan perairan. Gejala
demikian dan tidak ter- kontrolnya penggunaan
peralatan tangkap yang bisa merusak kelestarian
lingkungan telah menim- bulkan kompetisi yang
semakin ketat dalam mem- perebutkan sumber
daya perikanan, sehingga ujung-ujungnya bisa
ditebak: konflik menjadi ter- buka, pembakaran
kapal trawl terjadi di berbagai perairan,
kes.enjangan sosial-ekonomi makin men- jadi-
jadi, dan kemiskinan bertambah meluas di
kawasan desa pantai.
Untuk mencegah agar polarisasi sosial-eko-
nomi dan konflik antarnelayan modern dengan
nelayan tradisional tidak makin meluas, saat ini
yang dibutuhkan tak pelak adalah strategi pem-
bangunan dan pemberdayaan komunitas nelayan
miskin dan benar-benar efektif. Studi sebagai-
mana dilaporkan bermaksud untuk belajar dari
berbagai kekurangan yang selama ini mewamai
pelaksanaan program-program pemberdayaan
komunitas pantai yang telah dilakukan, untuk
kemudian merumuskan strategi baru yang lebih
baik. Studi ini penting dilakukan, sebab sebagai
kelompok komunitas nelayan yang relatif paling
miskin, nelayan tradisional bagaimana pun harus
diberi kesempatan untuk memperbaiki taraf ke-
hidupannya, termasuk pula meningkatkan daya
tahan mereka menghadapi perubahan situasi se-
keras apa pun.

34
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

Populasi studi ini adalah keluarga nelayan


tradisional yang tersebar di sepanjang wilayah pe-
sisir Propinsi Jawa Timur. Sebagai sampel lokasi
penelitian, dalam penelitian ini secara purposive
telah dipilih 4 kabupaten, yakni: Kabupaten
Lamongan, Banyuwangi, Malang, dan Trenggalek.
Dalam penelitian ini, jumlah responden yang
diwawan- carai adalah 200 keluarga nelayan
tradisional.

2. Kondisi Ekonomi

Komunitas desa pantai, khususnya nelayan


tradisional pada dasamya adalah kelompok
masyarakat yang kehidupannya sangat tergantung
pada hasil laut. Seperti juga masyarakat petani
yang kehidupannya tergantung pada irama
musim, pa- sang-surut kelangsungan hidup
keluarga nelayan tradisional sangat dipengaruhi
musim panen dan paceklik ikan. Ketika laut
sedang tak bersahabat, dan ikan-ikan cenderung
bersembunyi di dasar laut, maka pada saat itu
pula rejeki terasa seret, dan jangan heran jika
banyak keluarga-keluarga nelayan tradisional
kemudian harus hidup serba irit, bahkan
kekurangan.
Berbeda dengan juragan kapal atau nelayan
modem yang rata-rata hidup berkecukupan, kon-
disi ekonomi keluaga nelayan tradisional sering

35
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kali hidup serba pas-pasan (28,5%), relatif ke-


kurangan (17,5%) atau bahkan sangat kekurang-
an (16%). Dari 200 keluarga nelayan tradisional
yang diteliti hanya 35% yang merasa kehidupan-
nya sekarang cukup, dan 3% menyatakan kehi-
dupannya sekarang berlebih. Dengan kondisi
musim rame ikan yang hanya sekitar tiga bulan
dalam setahun, memang sulit berharap keluarga
nelayan tradisional bisa memperoleh penghasilan
rutin yang memadai, apalagi menabung.
Tabel 1
Kondisi Ekonomi dan Pemilikan Pekerjaan
Sampingan
Kondisi Ekonomi Sangat kurang 16,0%
Sehari-hari Relatif kurang 17,5%
Pas-pasan 28,5%
Cukup 35,0%
Berlebih 3,0%
Kondisi Membaik 18,5%
Kesejahteraan
Setahun Terakhir Relatif sama saja 42,5%
Memburuk 39,0%
Tidak memiliki pekerjaan
Pemilikan Pekerjaan sampingan 64,0%
Sampingan Ya, memiliki pekerjaan sampingan 20,0%
tetap
Ya, memiliki tapi tidak tetap 16,0%
Tidak memiliki pekerjaan
Pekerjaan Sampingan sampingan 64,0%
yang Ditekuni Pedagang 3,5%
Pracanagan 2,5%
Buruh bangunan 1,5%
Tukang ojek 3,5%
Sektor informal 1,0%
Sektor industri kecil 3,0%
Serabutan' 21,0%

Bagi juragan kapal dan nelayan modern yang

36
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

memiliki banyak perahu, asset produksi lebih,


memiliki sumber pemasukan alternatif di luar
sektor perikanan yang bisa diandalkan, dan
ditambah lagi dengan pemilikan tabungan yang
cukup, memang kondisi ekonomi mereka relatif
tidak akan ter- pengaruh musim. Tetapi, orang-
orang seperti ini di wilayah desa pantai umumnya
bisa dihitung dengan jari. Seperti ditemukan
dalam penelitian ini, dari 200 keluarga nelayan
tradisional yang diwawancarai, sekitar tiga per-
empatnya mengaku kehidupan sehari-hari mereka
relatif pas-pasan. Dalam struktur sosial di desa
pantai, keluarga nelayan tradisional ini umumnya
tergolong keluarga miskin, atau maksimal mereka
berada sedikit di atas garis kemiskinan atau near
poor. Bisa di- bayangkan, apa yang dapat
dilakukan keluarga nelayan tradisional jika hasil
sehari-hari yang mereka peroleh tidak menentu,
sementara kebu- tuhan sehari-hari terus
melambung tak terkendali?
Jika selama ini banyak kajian menyatakan
bahwa nelayan pada umumnya merupakan
kelompok masyarakat yang tergolong paling
miskin (Mubyarto, 1984; Kusnadi, 2002), maka
yang namanya keluarga nelayan tradisional boleh
jadi adalah lapisan yang lebih miskin lagi: mereka
adalah korban pertama yang paling menderita
dan mengalami marjinalisasi akibat proses

37
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

modernisasi perikanan dan tekanan krisis. Seperti


diakui responden penelitian ini, bahwa dalam
setahun terakhir kondisi ekonomi mereka
cenderung memburuk (39%) atau sekurang-
kurangnya tetap miskin seperti yang sudah-sudah.
Dari 200 nelayan tradisional yang diteliti hanya
18,5% yang menyatakan kondisi kesejahteraannya
setahun terakhir cenderung membaik.
Bagi warga masyarakat di desa pantai seperti
keluarga nelayan tradisional, tekanan krisis dan
memang terasa makin berat tatkala jumlah ikan
yang ada di perairan sekitar mereka makin lama
makin langka. Di perairan sekitar Pulau Jawa,
kondisi sumber daya laut umumnya sudah over ex-
ploited. Nelayan tradisional yang hanya mengan-
dalkan teknologi sederhana, sebagian besar meng-
aku hasil tangkapan mereka makin lama makin
menurun (Suyanto, 2003). Sebagian besar infor-
man yang diwawancarai menyatakan bahwa sejak
satu atau dua tahun terakhir pendapatan kaum
nelayan memang tidak lagi bisa diandalkan, kecu-
ali juragan kapal yang memiliki jaring dan me sin
yang mampu membawa awaknya mencari ikan
jauh ke tengah laut. Cuma, masalahnya berapa
jumlah warga desa pantai yang termasuk juragan
kapal?
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat j
f
Untuk saat ini, di desa pantai yang diteliti me- |

38
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
mang cukup banyak nelayan modern, dan mereka
. . I
mengaku telah memiliki perahu bermotor sebagai i
alat untuk mendukung/mencari ikan di laut, atau [
secara ringkas mereka dikategorikan nelayan mod- ern.
Akan tetapi, ukuran modernitas nelayan sen- |
diri sebetulnya bukan semata-mata karena meng- f
gunakan motor untuk menggerakkan perahu, j
melainkan juga pada besar-kecilnya motor yang f
digunakan, serta tingkat eksploitasi dari alat tang- f
kap yang digunakan (Sawit, 1988:67-68). Selain |
itu, wilayah tangkap juga menentukan ukuran
modernitas suatu alat. Teknologi penangkapan
ikan yang modem akan cenderung memiliki ke-
mampuan jelajah sampai di lepas pantai (offshore),
sebaliknya untuk nelayan tradisional wilayah
tangkapnya biasanya hanya sebatas pada perairan
pantai.
Tabel 2
Kemampuan Keluarga Nelayan Tradisional Memenuhi
Berbagai Kebutuhan
Kondisi Saat Ini
Selalu
Bentuk Tekanan Sering Terkadang Mampu Jumlah
Tidak Tidak
Mampu Mampu
3% 4,5% 92,5% 100%
Memenuhi kebutuhan sehari-
hari
47,5% 35% 17,5% 100%

Kebutuhan pendidikan anak


Kebutuhan kesehatan 32% 39% 29% 100%
Biaya sosial lingkungan 42,5% 30% 27,5% 100%

Kebutuhan Hidup (Dalam %, N=200)


39
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
Bagi nelayan tradisional, jelas dengan tidak memiliki
alat tangkap ikan yang modern akan me- nyebabkan
kehidupan mereka makin terpuruk tat- kala sumber daya
laut makin langka. Nelayan tradisional ini, mereka
umumnya adalah kelompok masyarakat desa pantai yang
paling miskin, dan tidak berdaya. Dikatakan tidak berdaya
karena mereka rawan menjadi korban eksploitasi para
tengkulak dan pengijon. Dikatakan miskin, karena
perbulan penghasilan mereka sekeluarga rata-rata hanya
berkisar antara 250-500 ribu. Bisa diba- yangkan, apa
yang dapat dilakukan keluarga nelayan tradisional jika
penghasilan mereka hanya sekecil itu? Dengan jumlah
anak rata-rata lebih
dari 2-3 orang, mungkinkah mereka dapat meng-
hidupi keluarganya secara layak?
Seseorang yang sehari-hari bekerja sebagai
nelayan tradisional saja, kondisi ekonominya bisa
dipastikan kurang-lebih sama dengan buruh ne-
layan. Hanya bedanya, jika buruh nelayan ber-
penghasilan kecil akibat sistem bagi hasil yang
timpang, maka untuk nelayan tradisional peng-
hasilan mereka pas-pasan karena hasil tangkapan
ikan setiap harinya memang sedikit atau bahkan
sama sekali kosong tatkala musim paceklik ikan
tiba.
Menurut pengakuan nelayan tradisional yang
diteliti, memang untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi sehari-hari sampai saat ini relatif tidak
menjadi masalah meski mungkin dalam ukuran
yang sangat sederhana. Tetapi, lain soal bila

40
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
responden ditanya tentang kemampuan mereka
memenuhi kebutuhan dasar lain di luar
kebutuhan pangan. Ketika responden ditanya
tentang kebutuhan pendidikan anak, misalnya
hampir separuh responden (47,5%) menyatakan
sering kali tidak mampu, dan 35% responden
menyatakan ter- kadang tidak mampu. Hal yang
sama juga terjadi ketika responden ditanya
tentang kemampuannya memenuhi kebutuhan
kesehatan dan biaya sosial lingkungan. Hampir
separuh responden menya-

41
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

takan mereka sering kali tidak mampu ketika


ada salah satu anggota keluarganya yang jatuh
sakit. Dengan besar penghasilan yng sangat
minimal dan pas-pasan untuk makan sehari-hari,
memang berat jika keluarga nelayan tradisional
yang miskin itu harus mengeluarkan biaya ekstra
untuk berobat ke dokter, atau membeli obat di
apotik yang me- nurut ukuran mereka relatif
mahal.
Kalau berbicara idealnya, memang sebuah
keluarga yang tidak lagi bisa mengandalkan ke-
langsungan hidupnya hanya dari satu mata pen-
caharian di sektor perikanan, maka pilihan yang
paling realistis adalah berusaha mencari sumber
pendapatan alternatif, terutama pekerjaan di sek-
tor non-perikanan yang tidak terpengaruh musim.
Tetapi, untuk mewujudkan hal ini tentu tidaklah
semudah membaik telapak tangan.
Ada sejumlah faktor yang sering kali mem-
persulit kemungkinan responden untuk melaku-
kan deversifikasi usaha atau mencari pekerjaan
lain di luar sektor perikanan.
Pertama, berkaitan dengan persoalan tingkat
pendidikan responden yang rata-rata rendah. Bagi
warga masyarakat desa pantai yang memiliki ke-
ahlian khusus dan berpendidikan tinggi, jika pada
satu titik hasil dari sektor perikanan tidak lagi bisa
mereka harapkan,-kemungkinan untuk ber- alih
profesi paling-tidak di atas kertas masih ter- buka.
42
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
Seseorang yang berpendidikan sarjana, misalnya
masih mungkin ia mengadu nasib ke kota besar
dengan berbekal ijazah yang dimiliki. Tetapi, bagi
nelayan tradisional yang tidak berpendidikan dan
tidak memiliki ketrampilan alternatif, maka mati-
hidup mereka sebetulnya mudak tergantung pada
hasil dari sektor perikan- an.
Kedua, berkaitan dengan penguasaan ke-
trampilan alternatif yang dimiliki responden.
Selama ini, sebetulnya sudah segala cara ditempuh
dan dikembangkan penduduk desa pantai untuk
mencari sumber alternatif, namun tidak sekali-
dua kali responden yang diteliti mengaku seolah-
olah selalu menemui jalan buntu. Akibat tidak
memiliki ketrampilan yang memadai dan juga
karena tidak dimilikinya aset produksi yang cukup
layak, maka upaya untuk mencari pekerjaan baru
bagi seorang nelayan tradisional yang miskin jelas
bukan hal yang mudah dilakukan.
Dari tabel 13 bisa kita lihat, bahwa sebagian besar
responden umumnya tidak memiliki atau
menguasai variasi ketrampilan yang memadai.
Ketrampilan di bidang kerajinan atau industri
kecil, misalnya sebanyak 86% responden
mengaku tidak menguasainya. Demikian pula
ketrampilan di sektor pertanian (75,5%),
pertukangan (86,5%), buruh bangunan (85%)
atau ketrampilan mengemudi kendaraan roda
empat (93%), semua- nya rata-rata tidak dikuasai

43
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

oleh nelayan tradisional.


Jadi, sekali pun ke tengah-tengah mereka
belakangan ini telah dikucurkan dana program
pemberdayaan desa pantai yang besar, tetapi jika
tidak didukung dengan kemampuan untuk me-
ngembangkan alternatif usaha, maka bisa dipasti-
kan program itu akan gagal di tengah jalan.
Ketiga, berkaitan dengan dukungan asset pro-
duksi yang dimiliki responden. Kalau pun respon-
den memiliki dan mengusai jenis ketrampilan
tertentu, pertanyaan berikutnya adalah: mungkin-
kah mereka mengembangkan sebuah usaha baru
atau kegiatan produktif yang prospektif, jika yang
namanya aset produksi ternyata hanya sebagian
kecil responden yang memiliki. Modal uang di
atas 1 juta (82,5%) atau sepeda motor (75%)
untuk mendukung kelancaran mobilitas keluarga
nelayan tradisional dalam mengembangkan usaha
baru, ternyata bagi sebagian besar responden
masih merupakan hal yang langka. Demikian juga
ketika responden ditanya apakah memiliki mesin
sederhana untuk mendukung pengmbangan
usaha industri kecil di sektor perikanan, ternyata
96,5% responden menyatakan tidak memilikinya.
Dengan demikian, akibat tidak memiliki dukung-
an sumber daya yang cukup, maka nyaris mustahil
sebuah keluarga nelayan miskin yang hidupnya
pas-pasan dan tidak berketrampilan akan dapat
mengembangkan usaha alternatif dengan mak-

44
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
simal.
Dalam penelitian ini, ketika ditanya tentang
pekerjaan alternatif apa yang dimiliki, sebagian
besar responden menjawab tidak memiliki (64%).
Dari 200 keluarga yang diteliti, hanya 20% yang
secara terus terang mengaku memiliki pekerjaan
alternatif atau sampingan yang sifatnya tetap,
dalam arti dari segi pemasukan sudah bisa secara
rutin diandalkan. Sementara itu, sebanyak 16%
responden mengaku hingga kini masih belum
memiliki pekerjaan sampingan yang tetap: masih
bersifat sambilan dan tidak bisa diandalkan se-
bagai salah satu sumber pemasukan rutin bagi
keluarganya.
Bagi keluarga miskin di komunitas desa
pantai, lantas apa yang mereka lakukan untuk ber-
tahan dan melangsungkan hidupnya? Di kalangan
keluarga nelayan tradisional, sudah lazim terjadi
kiat pertama dan yang paling mudah, meski se-
benarnya sangat terpaksa mereka lakukan, untuk
menyiasati krisis adalah dengan melakukan ber-
bagai pnyederhanaan kegiatan konsumsi sehari-
hari atau dalam bentuk mengurangi frekuensi
makan, khususnya bagi orang tua yang sudah ter-
biasa menahan lapar (Suyanto dan Karnaji, 2001).
Sudah menjadi cara paling umum, apabila
kondisi keuangan memang tidak memungkinkan,
maka cara yang paling mudah dilakukan keluarga-
keluarga miskin adalah makan seadanya, menye-

45
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

derhanakan menu makanan, dan sejenisnya yang


penting setiap hari pengeluaran bisa lebih diirit.
Jadi, ketika tekanan kemiskinan dirasa makin
kuat, maka yang dilakukan keluarga nelayan
tradisional adalah mencoba mengikat sabuk lebih
kencang, dengan jalan makan sekali sehari atau
beralih ke makanan yang mutunya lebih rendah.
Bila kiat pertama yang dilakukan masih
belum mencukupi, usaha yang dikembangkan
keluarga-keluarga miskin untuk tetap bertahan
hidup adalah dengan menggadaikan atau menjual
barang, utang ke sana-sini, dan yang tak kalah
penting dengan mengandalkan pada dukungan-
dukungan kerabat: semacam mekanisme bertahan
hidup dengan cara mencari asuransi sosial dari
kerabat yang difungsikan sebagai semacam patron.
Seperti diakui sebagian besar keluarga
nelayan tradisional, bahwa salah satu strategi yang
acap- kali mereka kembangkah untuk mengatasi
tekan- an kebutuhan hidup sehari-hari adalah
dengan mengandalkan dukungan dari kerabat.
Kendati tidak dijelaskan bantuan apa yang dapat
mereka peroleh dari kerabat, tetapi menurut
penuturan responden, keberadaan kerabat
sesungguhnya adalah semacam asuransi sosial
yang sifatnya sangat fungsional untuk tempat
melakukan sambatan.
Berbeda dengan keluarga di kota yang ke-
banyakan bertipe keluarga batih (nuclearfamily), di

46
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
daerah desa pantai keluarga-keluarga yang tinggal
umumnya lebih berpola somah [extended family), di
mana hubungan personal antaranggota kerabat
masih sangat erat satu dengan yang lain- nya.
Peter von Blakenburg dan Reinhold Sachs,
misalnya menyatakan bahwa bagi keluarga
miskin, fungsi kerabat pada dasarnya memang
bukan hanya sebagai tempat untuk
mensosialisasikan anak-anak, tetapi kerabat juga
berfungsi sebagai kelompok primer yang
menopang dan memberikan jaminan sosial-
ekonomi bagi anggota kerabat- nya (Planck,
1993). Masalahnya sekarang: sejauh mana peran
kerabat seperti ini dapat terus diper- tahankan
oleh masyarakat di desa pantai yang ke-
hidupannya belakangan ini makin kontraktual
dan komersial?
3. Riwayat Usaha

Bagi masyarakat desa pantai, nelayan tradisi-


onal boleh jadi adalah lapisan atau kelas sosial
yang berada pada posisi terbawah, terutama dari
segi ekonomi. Banyak studi telah membuktikan
bahwa, keluarga nelayan tradisional umumnya
lebih miskin daripada keluarga petani, pengrajin,
dan bahkan pekerja di sektor informal (Suyanto,
2003; Kusnadi, 2004; Satria, 2002).
Bagi para nelayan tradisional, khususnya
mereka'yang diwawancarai dalam penelitian ini,
sering kali hidup memang tidak terlalu menawar-

47
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kan banyak pilihan. Sekali pun disadari bahwa


dalam kehidupan sehari-hari hasil dari melaut
acapkali tidak bisa diandalkan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga, tetapi karena pekerjaan itu
sudah mereka tekuni bertahun-tahun, bahkan
merupakan usaha warisan secara turun-temurun,
maka tidak bisa lain, yang dilakukan adalah
menjalani dan menerimanya sebagai takdir.
Tidak sedikit responden yang diteliti mengaku
sudah menekuni pekerjaan sebagai nelayan tra-
disional lebih dari 25 tahun. Paling tidak hampir
dua pertiga responden mengaku sudah menekuni
pekerjaannya sekarang lebih dari satu dasawarsa.
Dari 200 nelayan tradisional yang diteliti, se-
banyak 14% mengaku baru menekuni pekerjaan
ini kurang dari 6 tahun. Responden yang
tergolong pemain baru dalam dunia perikanan
laut ini, umumnya adalah anak-anak muda yang
melanjut- kan tradisi pekerjaan orang tuanya:
menjadi nelayan tradisional. Berbeda dengan
anak-anak muda di daerah pertanian yang
sebagian nekat mengadu nasib menjadi migran
atau TKI/TKW luar negeri, untuk anak-anak
muda di lingkungan komunitas pesisir, sebagian
dari mereka tetap memilih mengadu nasib di laut:
menjaring atau menjala ikan tanpa ada sedikit pun
keinginan untuk memutus mata rantai takdirnya.
Kalau berbicara di atas kertas, memang secara
rasional sebuah pekerjaan yang tidak lagi men-

48
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
janjikan, bahkan acapkali hasilnya nihil karena
sumber daya laut yang makin langka, logikanya
pekerjaan itu harus segera ditinggalkan dan kemu-
dian mencari pekerjaan alternatif yang lebih
menjanjikan. Tetapi, yang menarik adalah: kendati
nasib sebagian besar nelayan tradisional acapkali
berkutat dengan tekanan kemiskinan dan bahkan
mengalami marjinalisasi karena proses moderni-
sasi perikanan, temyata masih banyak orang-orang
di desa pantai yang tetap memilih menekuni pe-
kerjaan ini. Tekanan dari berbagai sisi termasuk
kemiskinan, struktur sosial yang rigid, lemahnya
persaingan berebut sumber daya alam di lautan,
dan lemahnya posisi bargaining mereka di hadapan
tengkulak, anehnya tidak menjadi penyebab
hengkangnya orang-orang yang menekuni bidang
ini untuk kemudian mencari pekerjaan di sektor
non-perikanan.
Studi ini menemukan, alasan utama respon-
den menekuni pekerjaan sebagai nelayan tradisio-
nal adalah karena tidak ada alternatif pekerjaan
lain yang dapat mereka akses (38%). Berbeda
dengan lingkungan kota besar yang dalam banyak
hal lebih menawarkan kemudahan, dan memiliki
kemampuan involuif yang luar biasa untuk
menyerap setiap penambahan migran dan tenaga
kerja baru. Untuk daerah pantai, kesempatan bagi
warga untuk mencari pekerjaan alternatif acapkali
seperti menemui jalan buntu.

49
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Bagi warga masyarakat yang tinggal di desa


atau daerah dengan sumber daya ekonomi yang
mencukupi dan relatif bervariasi di luar sektor
perikanan, sebetulnya di sana ada banyak ke-
sempatan yang memungkinkan penduduk desa
setempat menekuni bidang lain di luar nelayan.
Cuma, sayangnya dalam kenyataan tidak semua
daerah pantai memiliki potensi sumber daya alam
yang dapat mendukung nelayan tradisional atau
buruh nelayan yang miskin untuk mencari
pekerja-
-a?
an di luar sektor perikanan. Bisa dibayangkan,
bagaimana mungkin warga desa pantai dapat
mencari pekerjaan alternatif lain di luar sektor
perikanan jika mereka tinggal di daerah tandus
yang tidak memiliki areal pertanian yang dapat
didaya- gunakan. Kondisi alam yang tandus dan
kering jelas akan mengakibatkan kesempatan bagi
penduduk untuk mengeksplorasi sumber daya
alam di sekitarnya menjadi terbatas.
Dari 200 nelayan tradisional yang diteliti, se-
banyak 22,5% responden menyatakan alasan
utama mereka menekuni pekerjaannya sekarang
adalah karena sesuai dengan keahlian. Responden
yang memberi alasan seperti ini antara lain di-
karenakan sejak usia anak-anak telah dikenalkan
dan ikut terlibat langsung dengan pekerjaan or-
ang tuanya. Seperti sudah dikaji Suyanto dkk.

50
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
(2003), bahwa keterlibatan anak-anak dalam pe-
kerjaan orang tuanya sebagai nelayan tradisional
atau buruh nelayan umumnya lebih banyak di-
dasarkan pada kebutuhan ekonomi keluarga yang
kekurangan, sehingga mereka kemudian memu-
tuskan untuk melibatkan anak-anak dalam kegiat-
an produktif.
Bagi keluarga nelayan tradisional, sehemat
apa pun mereka menyiasati kebutuhan hidup,
disadari bahwa semata hanya mengandalkan mata
pencaharian sebagai nelayan jelas tidak akan
pernah mencukupi. Seperti keluarga miskin lain,
untuk menyiasati kebutuhan hidup cara yang
dikembangkan keluarga-keluarga nelayan tradisio-
nal biasanya adalah dengan mendayagunakan
sumber daya keluarga yang masih tersedia,
khususnya istri dan anak.
Tabel 3
Anggota Keluarga di Luar Kepala Keluarga yang
Ikut Bekerja
Anggota-Keluarga
Ya Tidak Jumlah
F % F % F %
100.
Isteri 130 65,0 70 35,0 200 0
100.
Anak 91 45,5 109 54,5 200 0
Orang Tua 25 12,5 175 87,5 200 100.
0

Dari 200 responden yang diteliti, 65% menya-


takan bahwa saat ini istri mereka bekerja di sektor
non-perikanan untuk memenuhi kebutuhan

51
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

hidup, terutama di musim paceklik ikan. Hasil


studi ini sama seperti hasil kajian yang dilakukan
Nurland (1987) bahwa para istri nelayan
umumnya aktif bekerja dengan cara berdagang
ikan, menjual hasil tangkapan suaminya atau
menyiapkan kebutuhan bahan baku usaha
keluarga.
Sementara itu, studi yang dilakukan Andriati
(1992) yang dilakukan di daerah pantai Kenjeran
Surabaya menemukan bahwa para istri ikut ter-
libat aktif mengatasi kesulitan ekonomi keluarga
dengan cara membantu menjual ikan hasil tang-
kapan suaminya. Studi yang dilakukan Indrawasih
(1985) juga menemukan hasil yang kurang lebih
sama: sebagian besar istri nelayan terlibat dalam
pekerjaan berdagang ikan hasil tangkapan suami-
nya atau membeli dari nelayan lainnya. Selain itu
istri-istri nelayan juga berdagang membuka
warung yang menjual makanan kecil atau kebu-
tuhan sehari-hari di sekitar rumahnya.
Selain istri, anggota keluarga lainnya yang
juga ikut bekerja membantu orang tua mereka
mencari nafkah adalah anak-anak. Dari 200
responden yang diteliti, hampir separuh (45,5%)
menyatakan bahwa anak-anak mereka terpaksa
ikut bekerja membantu orang tua karena
penghasilan orang tuanya tidak mencukupi.
Seperti hasil studi Susilowati (1987), di
lapangan penelitian ini menemukan anak-anak

52
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
perempuan biasanya membantu ibunya yang
bekerja di industri-industri pengolahan ikan.
Sedangkan studi yang dilakukan Kasim (1985)
menemukan bahwa anak laki-laki usia sekolah
telah ikut terlibat membantu orang tuanya yang
bekerja sebagai buruh nelayan atau pandega.
Anak-anak ini ikut mengangkut ikan dari perahu
ke tempat pelelangan ikan atau pasar terdekat.
Pendek kata, bagi komunitas desa pantai
keterlibatan perempuan dan anak dalam kegiatan
produktif bukanlah hal yang baru. Di pendaratan
perahu atau di tepi pantai, bisa dilihat setiap hari
para istri bekerja mengangkut ikan dari perahu
yang baru datang. Di tempat lain para istri juga
terlihat bekerja membersihkan perahu yang baru
saja datang dari melaut. Di pasar-pasar ikan atau
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dipenuhi para istri
nelayan yang menjadi pedagang ikan hasil tang-
kapan suaminya, atau menjadi perantara nelayan
dan juragan lain untuk menjualkan hasil tangkap-
an dengan memperoleh sejumlah komisi. Biasa-
nya besar komisi yang diperoleh pedagang per-
antara yang menjualkan ikan nelayan lainnya
sekitar 10% dari jumlah yang berhasil dijual.
Di industri kecil yang masih berkaitan dengan
sektor perikanan, seperti pembuatan trasi atau
krupuk ikan, tak sulit menemukan para istri nela-
yan dan sebagian anak perempuan aktif bekerja.
Para istri nelayan acapkali terlihat menjemur

53
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

udang-udang kecil di tempat penjemuran. Di sisi


lain terlihat istri nelayan dan anak-anak dengan
cekatan tangannya sedang menggiling, memo-
tong, dan mencetak bahan trasi membentuk
kotak-kotak seukuran seperempat kilogram. Di
tempat lain acapkali juga terlihat para istri ini
sedang sibuk menjernyr trasi yang sudah dicetak
dengan ukuran seberat seperempat kilogram ber-
bentuk kotak-kotak di bawah terik panas mata-
hari. Di tempat industri pembuatan ikan asin yang
banyak terdapat di sekitar pantai, kelompok pe-
rempuan juga terlibat dalam pembuatan ikan
kering. Para istri terlibat dalam semua tahap
pekerjaan mulai pemilahan ikan, mengolah, men-
jemur, dan pengepakan. Ikan-ikan yang telah di-
belah dan kemudian dilumuri garam dijemur di
tempatnya yang terbuat dari bambu.
Di lingkungan desa pantai, baik anak laki- laki
maupun anak perempuan sudah biasa turut aktif
bekerja membantu orang tuanya, bahkan ter-
kadang dalam usia yang tergolong dini. Anak laki-
laki biasanya ikut melaut ketika tidak sekolah atau
membantu mengangkut ikan hasil tangkapan dari
perahu ke daratan. Selain itu anak laki-laki biasa-
nya juga terlihat meminta ikan kepada nelayan
yang baru saja datang dari laut. Biasanya nelayan
yang menjadi tempat meminta anak-anak adalah
nelayan yang masih ada hubungan kerabat. Ikan-
ikan pemberian nelayan ini kemudian dijual di

54
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
pasar sehingga mendapatkan sedikit tambahan
uang.
Di lingkungan komunitas masyarakat desa
pantai, peran istri dan anak-anak dalam
membantu ekonomi keluarga umumnya besar,
dan bahkan tidak jarang menjadi sumber utama
pemasukan keluarga. Di tengah situasi yang tidak
menentu dan kecilnya pendapatan yang diperoleh
nelayan, terutama pada musim paceklik ikan,
maka peran istri dan anak menjadi sangat
strategis. Apalagi pendapatan nelayan akhir-akhir
ini dirasakan semakin berkurang karena
terkurasnya sumber daya laut oleh kapal-kapal
besar (trawl) yang tanpa pandang bulu menjaring
ikan dari ukuran apa pun.
Tabel 4
Kondisi Usaha yang Digiati NelayanTradisional
Jumlah tangkapan ikan setahun 70,0%
terakhir Berkurang Sama saja 22,0
Bertambah %
Pemasaran ikan setahun terakhir 8 0%
Makin sulit Sama saja 48,0%
Makin mudah 37,0%
15,0%
Pemanfaatan ikan hasil tangkapan Sebagian besar dijual 47,0%
Semua dijual 53,0%

Bagi nelayan tradisional, sangat mereka sa-


dari bahwa dari tahun ke tahun laut tampaknya
tidak lagi terlalu bisa diandalkan. Berbeda pada
saat kekayaan laut masih berlimpah, sejak kebi-
jakan modernisasi perikanan dicanangkan, maka

55
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

sejak itu pula mulai ruang gerak nelayan tradisi-


onal menjadi makin sempit. Daerah sekitar per-
airan pantai yang dulu-menjadi tempat mereka
menjaring ikan, kini makin sepi. Dari 200 nelayan
tradisional yang diwawancarai, 70% menyatakan
bahwa dalam setahun terakhir jumlah ikan hasil
tangkapan mereka cenderung berkurang, bahkan
sebagian pengurangan yang terjadi berlangsung
drastis. Hanya 8% nelayan tradisional yang meng-
aku hasil tangkapan mereka belakangan ini justru
bertambah, dan itu pun karena mereka nekat
memperluas daya jelajah perahu kecilnya agak ke
tengah laut.
Iklim persaingan yang makin ketat, dan
agresivitas nelayan modern dalam menangkap
ikan di laut maupun pada saat memasarkannya di
daratan, bagi nelayan tradisional jelas menjadi
ancaman serius. Bahkan menurut responden,
akibat modernisasi perikanan, yang mereka alami
bukan hanya terkurasnya sumber daya laut secara
drastis, tetapi ruang gerak mereka untuk mema-
sarkan hasil tangkapannya juga terpengaruh. Bisa
dibayangkan, betapa berat beban yang mesti di-
tangung nelayan tradisional jika yang dihadapi
bukan saja jumlah tangkapan ikan yang ber-
kurang, tetapi juga pemasaran ikan yang makin
sulit. Studi ini menemukan sebanyak 48% res-
ponden mengaku saat ini usaha mereka untuk
memasarkan ikan relatif makin sulit. Hanya 15%

56
Pemberdayaan Nelayan Tradisional
responden yang mengaku lebih mudah, dan 37%
menyatakan sama saja.
Berbeda dengan petani kecil yang acapkali
mengembangkan pola konsumsi yang subsisten,
di kalangan nelayan tradisional separo lebih res-
ponden lebih memilih menjual semua ikan hasil
tangkapan ke pasar daripada mengkonsumsinya
sendiri untuk makan sehari-hari (53%). Seperti
layaknya masyarakat perkebunan, bagi nelayan
tradisional tampaknya mereka cenderung lebih
mengembangkan perekonomian yang sifatnya
komersial daripada bersikap subsisten. Dengan
menjual ikan dan kemudian memperoleh uang
dari sana, menurut responden pengaturannya
menjadi lebih fleksibel. Hanya saja, diakui
responden bahwa dengan menjual semua hasil
tangkapan- nya, terkadang risiko yang harus
ditanggung adalah ulah tengkulak yang cenderung
membeli ikan dari nelayan tradisional dengan
harga yang tidak terlalu tinggi, atau bahkan
dengan harga yang rendah.
Pada musim paceklik, di mana ikan sedang
langka dan alam laut juga tidak terlalu bersahabat
karena musim gelombang besar, kebanyakan
keluarga nelayan tradisional hany bisa pasrah.
Bagi nelayan tradisional yang memiliki alternatif
pekerjaan sampingan, memang meski mereka
tidak dapat melaut, tetapi umumnya masih dapat
diatasi dengan menekuni pekerjaan di luar

57
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

nelayan. Tetapi bagi nelayan tradisional yang tidak


me-

58
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

miliki alternatif pekerjaan di luar nelayan, jelas


musim paceklik akan sangat mengganggu kondisi
ekonomi keluarganya.
Kalau dicoba untuk dirinci, dalam setahun
sebenarnya musim panen bagi masyarakat desa
pantai hanya tiga bulan. Sedangkan sembilan
bulan sisanya dapat di katakan sebagai musim
paceklik. Pada musim paceklik seperti ini hasil
tangkapan ikan nelayan niscaya akan turun drastis.
Bahkan tak jarang nelayan tradisional tidak
mendapatkan hasil sama sekali. Tidak adanya ikan
yang dapat ditangkap berarti para nelayan
tradisional juga tidak memperoleh penda- patan.
Dengan kata lain pada saat musim paceklik yang
relatif panjang, nelayan tradisional akan
menghadapi masalah penurunan pendapatan yang
serius. Ketika musim paceklik tiba, jika para ne-
layan memaksa diri pergi ke laut untuk menang-
kap ikan, maka tidak mustahil mereka akan meng-
hadapi kemungkinan kerugian lebih besar.
Ketika musim angin timur datang, para nela-
yan biasanya jarang bisa melaut akibat gelombang
laut yang sangat besar. Nelayan umumnya lebih
memilih beristirahat atau menunda melaut dengan
menambatkan perahunya di sejumlah tempat,
sehingga akibatnya kemudian mereka nyaris tidak
memperoleh penghasilan. Dalam kondisi itu,
untuk memenuhi keutuhan hidup sehari-hari
mereka biasanya akan menggadaikan barang-

59
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

barang berharga miliknya untuk memenuhi ke-


butuhan sehari-hari menjadi salah satu alternatif
mendapatkan uang segar memenuhi kebutuhan
ekonomi keluarga yang tak dapat dihindari.
Biasanya, barang yang digadaikan nelayan
tradisional akan diambil kembali setelah mereka
mempunyai uang. Menjaminkan barang-barang
berharga baik di pegadaian, koperasi (KUD),
mau- pun ke tetangga, bagi masyarakat di desa
pantai merupakan hal yang biasa. Terlebih pada
musim paceklik sehubungan dengan datangnya
musim angin timur. Barang yang digadaikan pun
ber- macam-macam, seperti tape recorder, VCD
player, dan TV. Bahkan, ada juga yang meng-
gadaikan sepeda motor.

60
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

Tabel 5
Mekanisme Survival Nelayan Tradisional di
Musim Paceklik (Dalam %, N=200)
Mekanisme Survival Jumlah
Intensitas
Sering Jarang Tidak
Pernah
32,5% 24,5% 43,0% 100%
Mencari pekerjaan di luar
sektor perikanan
39,0% 26,5% 34,5% 100%
Bekeija sebagai buruh
nelayan di nelayan modem
Hidup dari tabungan 44,0% 20,0% 36,0% 100%
Hidup dari utang 17,0% 15,5% 67,5% 100%

Menurut responden, bentuk-bentuk mekanis-


me survival yang biasa mereka kembangkan untuk
menyiasati tekanan kebutuhan hidup selama
musim paceklik adalah: Pertama, mengandalkan
pada tabungan yang masih tersisa untuk membeli
kebutuhan hidup sehari-hari. Kedua, bekerja se-
bagai buruh nelayan di kapal besar yang modern.
Ketiga, hidup dari tabungan, dan keempat, hidup
dari hutang serta uluran tangan orang lain. Di
mata responden semua pilihan ini tentu bukan
hal yang mudah untuk dilakukan. Tetapi, karena
sudah puluhan tahun terlatih hidup serba kekura-
ngan, maka sekeras apa pun tekanan kemiskinan
yang harus dihadapi, hal itu biasanya tidak lagi
mengagetkan nelayan tradisional. Bagi keluarga
nelayan tradisional, kemiskinan dalam beberapa
hal memang terasa menyakitkan, tetapi ketika

61
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

tekanan kemiskinan itu terus-menerus terjadi dan


dialami, maka pelan-pelan mereka pun lebih
dapat menyesuaikan dengan keadaan.

4. Modernisasi Perikanan

Seperti halnya Revolusi Hijau atau mo-


dernisasi di bidang pertanian, kebijakan Revolusi
Biru (blue revolutioti) berupa program motorisasi
perahu nelayan dan modernisasi peralatan
tangkap sebetulnya telah lama menuai kecaman.
Kebij akan modernisasi perikanan ini, terbukti
mendorong timbulnya gejala lebih tangkap
(overfishing) dan pengurasan sumber daya
perikanan secara eks- ploitatif di perairan pantai
(inshore) maupun di perairan lepas pantai (offshore).
Alih-alih meningkatkan kesejahteraan masya-
rakat pesisir, selama seperempat abad kebijakan
modernisasi perikanan dilaksanakan, tingkat
kesejahteraan hidup masyarakat nelayan boleh di-
kata nyaris tidak banyak berubah secara substan-
tif. Bahkan ironisnya yang terjadi justru sebalik-
nya, yakni makin melebarnya kesenjangan sosial-
ekonomi antarkelompok sosial dalam masyarakat
nelayan dan meluasnya kemiskinan.
Studi sebagaimana dilaporkan menemukan
banyak bukti bahwa berbagai program intervensi
yang dilakukan pemerintah, khususnya dalam
bentuk program motorisasi ternyata sebagian

62
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

justru melahirkan polarisasi sosial-ekonomi antara


nelayan modern dan nelayan tradisional. Kendati
harus diakui bahwa modernisasi di sektor per-
ikanan secara kuantitas memang telah berhasil
meningkatkan jumlah total tangkapan nelayan,
tetapi di sisi lain modernisasi perikanan sesung-
guhnya juga menimbulkan sejumlah masalah.
Program motorisasi perahu nelayan, bukan saja
mengakibatkan pengurasan ikan yang serius di
daerah pesisir, serta menyebabkan perahu layar
tradisional mengalami penurunan yang cukup
besar dalam tangkapan perperahu. Lebih dari itu,
modernisasi perikanan pada akhirnya juga sema-
kin mempertegas jurang polarisasi antara nelayan
modern dengan nelayan tradisional.
Tabel 6
Perbandingan NelayanTradisional dengan
Nelayan Modern
Perbandingan harga Lebih murah nelayan tradisional 23,0%
ikan nelayan Relatif sama 75,0%
tradisional Lebih mahal nelayan tradisional 2,0%
Jumlah tangkapan ikan Jauh lebih sedikit nelayan 51,5%
nelayan tradisional tradisional Lebih sedikit nelayan 36,0%
tradisional Relatif sama saja 12,5%

Pengaruh nelayan mod- Sangat mempengaruhi Cukup 41,0%


em terhadap mempengaruhi Relatif tidak 25,0%
pendapatan nelayan mempengaruhi 34,0%
tradisional

Seperti diakui sebagian besar responden


(51,5%) bahwa dibandingkan nelayan modern,
jumlah ikan yang setiap harinya mereka peroleh

63
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

umumnya jauh lebih sedikit. Dari 200 nelayan


tradisional yang diteliti hanya 12,5% yang menya-
takan jumlah tangkapan ikan mereka sama saja
dengan nelayan modern, dan 36% responden
menyatakan lebih sedikit. Bagi nelayan tradisional
yang hanya bermodal perahu layar dan jaring
yang sederhana, memang sudah sewajarnya jika
mereka tidak bisa berharap dapat memperoleh
hasil tangkapan ikan sebanyak nelayan modern
yang memiliki jaring yang lebih besar dan awak
perahu yang lebih banyak. Seperti diakui nelayan
tradisional yang diwawancarai, dalam sekali
melaut biasanya mereka hanya mampu
memperoleh hasil tangkap- an berupa 2-6
kilogram rajungan, 5-10 kilogram ikan gembung,
1-5 kilogram udang, sekitar 5-10 kilogram ikan
layur, dan beberapa kilogram jenis ikan lain.
Dibandingkan 5-10 tahun yang lalu, jumlah
tangkapan ikan nelayan tradisional sekarang ini,
menurut mereka sudah turun drastis, dan bahkan
dalam musim paceklik nyaris tidak ada yang bisa
diambil nelayan tradisional dari laut.
Dalam situasi paceklik, terutama, kesenjangan
penghasilan antara nelayan tradisional dengan
nelayan modern biasanya akan makin menyolok.
Di musim paceklik atau pada saat sumber daya
laut makin langka, nelayan yang bisa bertahan
umumnya hanyalah nelayan bermodal besar atau
nelayan modern yang kemampuan jelajah pe-

64
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

nangkapannya hingga ke lepas pantai (off-shore)


(Kusnadi, 2003: 17).
Sementara itu, untuk nelayan tradisional
mereka biasanya akan menerima nasib sembari
menunggu musim paceklik berlalu dengan cara
mencoba mencari sumber penghasilan lain di luar
sektor perikanan. Bagi nelayan tradisional, musim
paceklik benar-benar dalam artian yang harfiah,
karena perahu dan jaring yang dimiliki memang
tidak memungkinkan mereka mencari ikan ke
perairan lain yang sedang musim ikan, sehingga
hampir-hampir tidak ada lagi penghasilan yang
bisa mereka harapkan dari kekayaan laut, kecuali
untuk sekadar makan.
Di desa-desa pasisir, ketika musim paceklik
tiba para nelayan tradisional biasanya mencoba
bertahan hidup dengan cara mencari kerja di
darat. Ketika biaya operasional untuk melaut
terus me- ningkat, sementara sumber daya
perikanan yang bisa dijangkau alat tangkap
mereka yang seder- hana makin berkurang, maka
bisa dipahami jika nelayan tradisional akhirnya
lebih memilih untuk sementara waktu berhenti
melaut.
Sebagian besar responden (41%) penelitian
ini menyatakan bahwa kehadiran nelayan mod-
ern, bagaimanapun memang sangat
mempengaruhi kelangsungan usaha mereka, dan

65
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

25% responden lain menyatakan cukup


mempengaruhi. Pada musim paceklik, sudah
bukan rahasia lagi jika para nelayan tradisional
terpaksa harus menggadai- kan barang-barang
yang dimiliki, atau bahkan terpaksa menjualnya
karena tidak ada lagi penyangga ekonomi yang
dapat dipergunakan untuk bertahan hidup selama
musim paceklik.
Menurut nelayan tradisional yang diwawan-
carai, mereka sebetulnya bukan tidak menyadari
berbagai kelemahan dan kerugian yang mesti di-
tanggung akibat keterbatasan teknologi penang-
kapan ikan yang dimiliki. Hampir semua respon-
den menyatakan bahwa sebagai nelayan tradisi-
onal, mereka bukan saja harus puas hanya dengan
hasil tangkapan ikan yang makin sedikit (97%),
tetapi juga areal jelajah perahu terbatas (94%) dan
jenis ikan yang ditangkap pun ikut terbatas pula
(95%). Berbeda dengan nelayan modem yang bisa
menjelajah laut hingga ke tengah samudra dan
mencari ikan di wilayah perairan yang lain yang
sedang musim rame ikan, untuk nelayan
tradisional mereka mau tidak mau harus puas
dengan segala keterbatasannya. Dengan hanya
bermodal perahu kecil dan layar tanpa bantuan
mesin yang memadai, jelas mustahil para nelayan
tradisional dapat mencari ikan hingga lepas
pantai.

66
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

Kalau diperbolehkan dapat memilih, para


nelayan tradisional sebetulnya juga berkeinginan
memiliki perahu yang besar dan mengubah status
mereka menjadi nelayan modern layaknya
tetangga mereka yang rata-rata kehidupan eko-
nominya lebih sejahtera. Tetapi, untuk membeli
perahu besar dan jaring modern dengan harga
puluhan atau bahkan seratus juta lebih, jelas bagi
mereka adalah hal yang nyaris mustahil. Seperti
diakui 92,5% responden penelitian ini, bahwa
faktor penyebab mereka tidak mempergunakan
teknologi modern dalam penangkapan ikan ada-
lah karena mereka tidak memiliki dana yang
cukup untuk membelinya. Bahkan, jikalau pun
ada pinjaman atau bantuan untuk membeli
perahu besar, sebagian responden menyatakan
gamang untuk mengambilnya karena berbagai
alasan.
Menurut nelayan tradisional yang diwawan-
carai, diakui bahwa salah satu kesulitan atau per-
ubahan baru yang harus dihadapi jika mereka ber-
ubah status menjadi nelayan modern adalah
hilangnya, atau paling tidak berkurangnya keman-
dirian dalam bekerja. Seperti dikatakan 62,5%
responden, bahwa yang menjadi pertimbangan
mereka jika menjadi nelayan modern adalah me-
ningkatnya ketergantungan pada orang lain dalam
pengoperasian kapal atau perahu modem. Di luar
itu, sebanyak 45,5% responden juga mengaku

67
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

mereka sebetulnya juga kurang menguasai atau


kutzngfamiliar dengan cara pengoperasian perahu
modem.
Sekali pun disadari bahwa dengan berubah
status menjadi nelayan modern berarti kans
mereka untuk melakukan mobilitas menjadi lebih
terbuka. Tetapi, para nelayan tradisional yang
diteliti juga mengakui bahwa untuk mengubah
status dan memperbaiki nasib tidaklah semudah
membalik telapak tangan. Dengan latar belakang
pendidikan yang rendah, ketrampilan yang ter-
batas, dan modal yang nyaris tidak nol, mereka
pun akhirnya mau tidak mau harus berpikir rea-
listis: pasrah menerima nasib dan berpikir bagai-
mana bertahan hidup daripada berpikir
bagaimana memperbaiki taraf kehidupan mereka.

5. Strategi Pemberdayaan

Dalam rangka memperbaiki taraf hidup dan


memberi peluang kepada nelayan tradisional agar
dapat melakukan mobilitas vertikal, paling-tidak
ada dua jalan yang bisa ditempuh. Pertama, adalah
dengan cara mendorong pergeseran status
nelayan tradisional menjadi nelayan modern.
Kedua, dengan cara tetap membiarkan nelayan
tradisional dalam status tradisional, tetapi
memfasilitasi mereka agar lebih berdaya dan
memiliki ke- mampuan penyangga ekonomi

68
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

keluarga yang kenyal terhadap tekanan krisis.


Pilihan mana yang diambil dari dua jalan di
atas, sudah barang tentu sangat tergantung pada
kemampuan sumber daya pemerintah, dan
kondisi internal nelayan tradisional yang
bersangkutan. Yang jelas, pilihan apa pun yang
bakal diambil, pertimbangan utama yang
semestinya dijadikan dasar pengambilan
keputusan adalah kepentingan dan nasib nelayan
tradisional itu sendiri sebagai subjek
pembangunan. Berikut ini, beberapa hal yang
harus diperhatikan sebelum melaksanakan
program pemberantasan kemiskinan struktural
nelayan tradisional adalah:
Pertama, sejak awal harus disadari bahwa
upaya pemberdayaan nelayan tradisional tidak
mungkin dilakukan hanya dengan cara mentrans-
plantasikan teknologi modern kepada kelompok
nelayan tradisional itu secara top-down. Pemberda-
yaan nelayan tradisional seyogianya memper-
timbangkan, dan bahkan harus bertumpu pada
keberadaan pranata sosial-budaya di masing-
masing komunitas lokal nelayan tradisional.
Dalam proses pembentukan kelompok usaha
bersama di kalangan nelayan tradisional, misalnya
niscaya akan jauh lebih efektif dan berkelanjutan
jika bertumpu pada potensi sosial-budaya masya-
rakat setempat. Di kalangan nelayan tradisional,

69
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

studi ini menemukan bahwa organisasi penang-


kapan ikan yang berkembang di Jawa Timur
umumnya bersifat sederhana dan personal: lebih
banyak melibatkan anggota keluarga sendiri atau
kerabat daripada bekerja dalam tatanan yang
sifatnya impersonal. Jadi, program apa pun yang
digulirkan atas nama program pemberdayaan
masyarakat pantai atau masyarakat pesisir,
khususnya nelayan tradisional alangkah bijak jika
dalam pelaksanaannya tidak mencoba mem-
bentuk kelompok-kelompok target di luar organi-
sasi penangkapan ikan yang sudah sekian lama
eksis.
Tabel 7
Strategi Pemberantasan Kemiskinan Struktural
Nelayan Tradisional

Strategi Tujuan Program


Modernisasi
nelayan Memberi kesempatan Bantuan modal usaha
tradisional nelayan tradisional ber- Bantuan teknologi modem
ubah status menjadi alat tangkap ikan
nelayan modem Pelatihan manajemen
usaha perikanan
Revitalisasi Memperkuat penyangga
Deversifikasi usaha non-
nelayan ekonomi dan posisi
perikanan
tradisional tawar nelayan
Bantuan m odal usaha dan
tradisional
kebutuhan konsumsi di
musim paceklik melalui
kelompok-kelompok lokal
yang sudah terbentuk
Pemberdayaan perem-
puan dan lansia keluarga
nelayan tradisional

70
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

Kedua, apa pun bantuan yang diberikan


kepada kelompok nelayan tradisional seyogianya
tidak berorientasi pada kepentingan jangka pen-
dek, sekadar menekankan pada kepentingan
efisiensi pengembalian dana. Padahal semestinya,
harus lebih berorientasi pada pemupukan inves-
tasi sosial yang berjangka panjang dan bersifat
strategis. Program bantuan modal yang berusaha
memfasilitasi proses pemilikan asset produksi
kepada nelayan miskin, pemupukan tabungan
yang dapat memperkuat penyangga ekonomi
keluarga nelayan tradisional, dan sejenisnya ada-
lah contoh-contoh program yang dapat dijadikan
modal sosial oleh nelayan tradisional.
Ketiga, mencoba memberdayakan dan
meningkatkan kadar kekenyalan, serta sekaligus
mengu- rangi kadar kerentanan nelayan
tradisional yang miskin dengan cara mendorong
terjadinya proses deversifikasi hasil tangkapan
dan deversifikasi usaha non-perikanan. Sudah
menjadi pengetahu- an umum, bahwa makin
lama, areal penangkapan ikan nelayan tradisional
makin terbatas akibat terjadinya overfishing dan
keterbatasan teknologi penangkapan yang
dimiliki. Untuk mencari sumber-sumber
pemasukan subtitutif, dua hal yang bisa dilakukan
nelayan tradisional adalah: (1) mendorong
terjadinya deversifikasi hasil tangkapan ikan
dengan cara mengembangkan alat tangkap

71
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

alternatif di luar kebiasaan yang selama ini mereka


lakukan; (2) memfasilitasi proses deversifikasi
usaha atau pencarian pekerjaan alternatif di ranah
perekonomian darat, khususnya pada masa
paceklik yang sering kali memberatkan kehidupan
nelayan tradisional.
Keempat, berusaha mengurangi kadar keren-
tanan keluarga nelayan tradisional dengan cara
meningkatkan daya tahan dan nilai tawar dari
produk yang mereka hasilkan. Di satu sisi, benar
bahwa pola subsistensi yang dikembangkan kelu-
arga nelayan tradisional akan dapat mengurangi
kadar tekanan kebutuhan hidup sehari-hari yang
terus melambung, tetapi sebagian hasil tangkapan
ikan yang lain akan lebih baik jika tidak dipasar-
kan dalam bentuk mentahan langsung sepulang
dari melaut. Harga jual produk nelayan
tradisional, niscaya akan lebih meningkat jika
mereka dapat mengembangkan produk-produk
alternatif yang berasal dari hasil pengolahan ikan
mentah men- jadi krupuk, petis, makanan
alternatif, atau men- jadi produk yang dapat
dijadikan buah tangan warga masyarakat yng lain.
Kelima, pemberdayaan perempuan dan lansia
untuk mendukung proses penguatan penyangga
ekonomi keluarga nelayan tradisional. Di ling-
kungan komunitas nelayan, sudah lazim terjadi
ada semacam pembagian kerja, bahwa lelaki ber-
tugas mencari ikan di laut, sedangkan peran pe-

72
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

rempuan cenderung pada tahap pengolahan dan


pemasaran ikan hasil tangkapan.
Untuk ke depan, baik di tahap proses
produksi maupun pemasaran, ada baiknya jika
peran lansia lebih dikedepankan, sementara
peran perempuan dapat difasilitasi untuk mencari
peluang-peluang kegiatan ekonomi lain yang
lebih mandiri dan menguntungkan.
Keenam, bagaimana memutus mata rantai
eksploitasi yang selama ini merugikan posisi
nelayan tradisional. Caranya tidak semata-mata
mengandalkan kebijakan regulatif dari peme-
rintah atau pemerintah daerah, tetapi yang utama
harus bertumpu pada pemberdayaan komunitas
nelayan tradisional itu sendiri sebagai sebuah
kelompok sosial. Alangkah baiknya, jika sebagai
sebuah kelompok sosial, nelayan tradisional
mampu mengembangkan progam-program man-
diri yang dapat menjalankan fungsi sebagai ga-
ransi atau asuransi sosial jika anggotanya meng-
alami tekanan atau krisis, Pada musim paceklik,
misalnya sering terjadi nelayan tradisional
menjadi korban jerat hutang yang biasanya
ditawarkan rentenir atau tengkulak, yang ujung-
ujungnya tidak memungkinkan nelayan
tradisional menjual produk tangkapannya ke
pihak lain meski harga- nya lebih menjanjikan.
Jika dari nelayan tradisional itu sendiri bisa

73
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

dibentuk kelompok sosial yang mampu


menjalankan peran sebagaimana layaknya
rentenir, tetapi dengan lebih manusiawi dan
didukung solidaritas kelompok yang kuat, niscaya
kemungkinan nelayan tradisional menjadi korban
eksploitasi rentenir akan dapat dieliminasi.
Ketujuh, perlu disadari bahwa yang namanya
nelayan atau komunitas desa pantai sebetulnya
bukanlah kelompok yang homogen. Buruh nela-
yan dan nelayan tradisional umumnya adalah
golongan masyarakat pesisir yang berada pada
lapisan sosial paling bawah, yang dalam banyak
hal memiliki kadar keretanan, ketidakberdayaan,
kelemahan jasmani, kemiskinan, dan keteriso-
lasian yang lebih parah dibandingkan nelayan mo-
dern. Untuk mencegah agar program intervensi
dan berbagai bantuan yang disalurkan tidak
bersifat meritokratis (kelihatan di awal menghargai
persamaan atau egaliter, tetapi menghasilkan se-
suatu yang tidak adil), oleh karena itu yang dibu-
tuhkan adalah spesifikasi program, terutama pro-
gram yang bertujuan untuk memberdayakan
nelayan tradisional.
Selain program-program yang bertujuan
untuk perbaikan teknis dan manajemen usaha
perikanan, yang tak kalah penting bagi nelayan
tradisional adalah program pemberdayaan masya-
rakatnya atau program yang ditujukan untuk me-
ningkatkan kemampuan sumber daya manusia

74
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

nelayan tradisional. Untuk jangka pendek, bahkan


mungkin diperlukan kebijakan serta program-
pro-

75
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

gram yang lebih memihak, dan bertujuan


memberikan perlindungan sosial kepada nelayan
tradisional agar tidak menjadi objek eksploitasi
kelompok sosial-ekonomi yang di atasnya.
Kedelapan, sebagai tindak lanjut dari program
perlindungan dan pemberdayaan keluarga nelayan
tradisional melalui program pengembangan
diversifikasi usaha, tahap berikutnya yang tak
kalah penting untuk dikembangkan di lingkungan
komunitas pesisir adalah bagaimana mendorong
nelayan tradisional agar dapat lebih produktif,
efisien, dan lebih mampu berkompetisi di sektor
perikanan atau sektor non-perikanan yang dite-
kuninya. Pada satu titik ketika nelayan tradisional
sudah makin kenyal dan memiliki beberapa alter-
natif sumber penghasilan, maka ada baiknya jika
dijajaki kemungkinan mendorong mereka untuk
bekerja lebih profesional, dan pelan-pelan mulai
mengakses perkembangan teknologi modern pe-
nangkapan ikan agar secara kuantitatif produk-
tivitas kerja mereka dapat meningkat lebih pesat
dan lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA

Arif Satria, 2001. Dinamika Modernisasi Perikanan:


Formasi Sosial dan Mobilitas Nelayan.
Bandung: HUP.
, 2002.PengantarSosiologi Masyarakat
Pesisir. Jakarta: Pustaka Cidesindo.

76
I;
Pemberdayaan Nelayan Tradisional

Bagong Suyanto, 1993. Dampak Motorisasi dan


Komersialisasi Perikanan Terhadap Per-
ubahan Tingkat Pendapatan, Pola Bagi Hasil
dan Munculnya Polarisasi Sosial- TLkonomi
di Kalangan Nelayan Tradisional dan
Modern. Ker jasama YIIS dan Toyota
Foundation.
, 2003.Kajian Model Pemberdayaan
Ukonomi Rakyat di Desa Pantai Madura
dan Kawasan Selatan Jawa Timur. K.er ja-
sama Lemlit Unair dengan Balitbang
Propinsijatim.
Chambers, Robert, 1987. Pembangunan Desa, Mulai
Dari Belakang. Jakarta: LP3ES.
Imron, Masyhuri, 2003. Kemiskinan dalam
Masyarakat Nelayan, dalam Jurnal
Masyarakat dan Budaya Vol. 5/No. 1/
2003.
Izzedin Bakhit (ed.). 2001.
M.enggempury\.kar~yikar Kemiskinan.
Jakarta: Yakoma-PGI.
Kusnadi, 2002. Nelayan: Strategi s\daptasi dan
Jaringan Sosial. Bandung: Humaniora
Utama Press.
, 2002. Konflik SosialNelayan, Kemiskinan,
dan Perebutan Sumber Daya Perikanan.
Yogyakarta: LKiS.
,2003. yikar Kemiskinan Nelayan.

77
Yogyakarta: LKiS.
Mubyarto, Loekman Soetrisno & Michael Dove,
1984. Nelayan dan Kemiskinan, Studi
Ekonomi slntrvpologi di Dua Desa Pantai.
Jakarta: Rajawali Press.
Mubyarto dkk., 1993. Duapuluh Tahun Penelitian
Pedesaan. Yogyakarta: Aditya media.
Nikijuluw, Victor PH., 2002. Re^im Pengelolaan
Sumberdaya Perikanan. J akarta: Pustaka
Cidesindo bekerjasama dengan Pusat
Pemberdayaan dan Pembangunan Re-
gional (P3R).
PENGELOLAAN SUMBER DAYA
PERIKANAN BERBASIS
KOMUNITAS (PSBK):
Suatu Alternatif Model Pemberdayaan
Masyarakat
H. Nur Syam

1. Pendahuluan

Luas wilayah maritim Indonesia diperkirakan


mencapai 5,8 juta Km2 (75,3%) dan untuk wilayah
daratan mencapai 1,9 juta Km2 (24,7%).

78
Berdasarkan potensi tersebut, sumber daya kela-
utan akan menjadi tumpuan harapan bagi bangsa
di masa depan. 1 Perlu diketahui bahwa wilayah
laut dan pesisir terkandung sejumlah potensi
pembangunan yang besar dan beragam, antara
lain:
(1) sumber daya yang dapat diperbarui, seperti
ikan, udang moluska, kerang mutiara, kepiting,
rumput laut, hutan mangrove, hewan karang,
lamun, dan biota laut lainnya. (2) sumber daya tak
dapat diperbarui, seperti minyak bumi dan gas,
bauksit, timah, bijih besi, mangan, fosfor, dan
mineral lainnya. (3) energi kelautan, seperti energi
gelombang, pasang surut, angin, dan lainnya. (4)
jasa-jasa lingkungan, misalnya tempat habitat yang
indah untuk lokasi pariwisata dan rekreasi, media
transportasi dan komunikasi, pengatur lklim,
penampung limbah, dan sebagainya 2.

1
Hal ini yang mengilhami dibentuknya suatu departemen baru yang
memiliki fungsi khusus di bidang pengembangan sumber daya dan
pemanfaatan laut kita di era kabinet reformasi. Pada tahap awal
memang banyak orang meragukan departemen baru ini, terutama
di dalam kerangka fungsi dan wewenangnya di dalam
sumbangannya terhadap perekonomian nasional. Akan tetapi
senyatanya bahwa departemen baru ini sangat prospektif di masa
depan berkenaan dengan pengembangan sumber daya kelautan
yang memang memiliki asset ekonomi yang luar biasa besarnya.
2
Laporan pendahuiuan dalam Perencanaan Pengelolaan Sumber
Daya Perikanan Berbasis Komunitas di Prigi Trenggalek dan
Muncar Banyuwangi Untuk Proyek PMP2SP Jawa Timur (Bagpro
Pembangunan Masyarakat Pantai Pengelolaan Sumberdaya Per-
ikanan Jawa Timur dan Komisi Riset Pengembangan Wilayah dan
Sumberdaya Malang), him. 1.

79
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Selaras dengan pelaksanaan otonomi daerah


sesuai dengar Undang-Undang Nomor 22 tahun
1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-
Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perim-
bangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah,
maka di sektor pembangunan kelautan dan per-
ikanan akan diarahkan untuk penguatan

80
Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis

kelembagaan dan meningkatkan kapasitas di


bidang ekonomi, sehingga sumbangannya bagi
pemerintah daerah dan pusat menjadi signifikan.
Dalam hal ini maka pengembangan kelautan dan
perikanan memperoleh momentum yang tepat di
tengah usaha untuk memperoleh masukan se-
besar-besarnya bagi pembangunan masyarakat.
Namun demikian, pengelolaan pembangunan
kelautan dan perikanan menghadapi masalah kru-
sial yaitu: kerusakan sumber daya habitat; indi-
kasi penurunan ukuran persediaan sumber daya
perikanan, dan lemahnya kesadaran hukum pada
tingkat masyarakat, dan belum optimalnya pera-
nan kinerja dari lembaga-lembaga yang berfungsi
dalam pengawasan terhadap peraturan
3
perikanan.
Problema ini tak pelak menjadi kendala bagi
pengembangan sumber daya kelautan dan per-
ikanan, sehingga akan menjadi penyebab bagi
kurang maksimalnya masukan (input) bagi pen-
danaan pembangunan di masa datang. Indikator
itu ialah semakin menurunnya jumlah tangkapan
ikan dari nelayan, sehingga selain mengakibatkan
kecilnya masukan bagi pemerintah lewat (BPPI),
juga menyebabkan semakin rentannya kesejah-
teraan masyarakat nelayan di sisi lain. Selain itu

3
Laporan Pendahuluan, Perencanaan Pengelolaan..., 3.
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

juga, semakin berkurangnya hutan bakau


sebagai sarana pengembangan biota laut yang
sangat penting bagi kelestarian sumber daya
habitat. Jumlah hutan mangrove (bakau) dari
tahun ke tahun semakin mengecil, dewasa ini luas
hutan mangrove hanya sekitar 1,5 juta hektar.
Berdasarkan studi sumber daya ekologi
(REA) yang dilakukan oleh Fakultas Perikanan
Universitas Brawijaya Malang 4 bekerja sama
dengan Co-Fish Project menunjukkan bahwa
kerusakan habitat disebabkan oleh penggunaan
bom/dinamit, dan juga kerusakan hutan bakau
(mangrove) karena dilakukan penebangan oleh
masyarakat nelayan. Berdasar studi ini, maka di-
perlukan sebuah model pengembangan dan pem-
berdayaan sumber daya perikanan yang berbasis
komunitas. Artinya melibatkan masyarakat di
dalam program pengelolaan sumber daya per-
ikanan, sehingga ancangan program, pelaksanaan
dan evaluasi dilakukan oleh masyarakat sendiri
sesuai dengan kapasitasnya.
2. Gambaran Kondisi Lokal

Kabupaten Banyuwangi terletak pada keting-


gian 0-1000 M di atas permukaan laut, yang ter-
diri dari daerah dataran rendah, sedikit miring di

4
Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang, Penyusunan
Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Pantai di Prigi dan Muncar
(Surabaya: Bapro-PMP2SP, 1998/1999)

86
Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis .

arah barat laut ke tenggara. Sedangkan di wilayah


bagian timur, utara dan selatan ialah daerah
persawahan, dan wilayah barat-utara merupakan
daerah berpegunungan. Di wilayah ini terdapat
sebanyak 39 sungai dengan panjang keseluruhan
735 Km yang berfungsi untuk pertanian, per-
ikanan, air minum, dan lain-lain.
Dilihat dari jumlah penduduknya, pada tahun
1999 ialah berjumlah 1.453.048 jiwa dengan mata
pencaharian 0,6 % berprofesi sebagai petani ikan
dan 1,4% sebagai nelayan. Konsentrasi penduduk
yang bermata pencaharian nelayan ialah di sem-
bilan kecamatan berpantai, sedangkan untuk pe-
tani tambak payau berada di delapan kecamatan.
Jumlah penduduk terbesar ialah di Muncar
sebesar 115.440 jiwa dengan komposisi 10.468
jiwa sebagai nelayan.
Wilayah Banyuwangi dibatasi oleh sebelah
timur selat Bali dan samudra Indonesia di sebelah
selatan yang merupakan daerah perikanan utama
di Jawa Timur. Wilayah selat Bali seluas 960 mil
merupakan daerah penghasil lemuru dengan
potensi penangkapan sebesar 36.000 pertahun.
Selain itu juga merupakan perairan yang potensial
untuk ikan hias, nener, benur, dan sebagainya.
Sedangkan untuk samudra Indonesia yang
luasnya 2000 mil dengan basis utamanya Pancer
dan Grajagan, maka potensi lestari setiap tahun
ialah 212.500 ton.

87
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Jumlah nelayan pada tahun 1999 sebanyak


22.188 orang dengan sebagian besar berada di
Muncar. Produksi perikanannya ialah 61.274.846
kg, dibanding produksi tahun 1988 sebesar
57.967.229 atau mengalami kenaikan sebesar
5,7%.

3. Permasalahan Pengembangan Sumber Daya


Kelautan

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh


Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang
di Muncar tahun 1988, dan kemudian divalidasi
oleh Tim Komisi Riset Pengembangan wilayah
dan Sumber Daya Manusia Malang, maka ada
empat permasalahan pokok yang dihadapi oleh
pengembangan sumber daya kelautan.
Pertama, permasalahan Sumber Daya Habitat
(SOH). Sumber Daya Habitat yang rusak akibat
ulah manusia yang tidak bertanggungjawab ialah
semakin mengecilnya jumlah hutan bakau. Di
kabupaten Banyuwangi, kerusakan hutan bakau
itu terdapat di dusun Tratas, Kabatman- tren,
Krajan, dan Tegalpare. Namun demikian, dewasa
ini telah dilakukan replantasi tanaman bakau
melalui proyek silvofisheries atau minawana melalui
kegiatan reboisasi hutan bakau oleh kelompok
PSBK. Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk
menanam bakau baik secara individual dan

88
Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis .

kelompok juga telah tumbuh misalnya di


Kedung- wringin dan Wringinputih. Kerusakan
terumbu karang terjadi di pantai Sumbersewu dan
Tanjung Sembulungan sebagai dampak dari
penggunaan potasium, pengambilan kerang, dan
karang. Terumbu karang secara alami adalah
tempat untuk pengasuhan dan pembesaran ikan
karang, udang, dan ikan hias serta keragaman
ekologis lingkungan pesisir lainnya. Perusakan ini
tentunya akan ber- dampak bagi kelestarian ikan
di masa yang akan datang. Penggunaan potasium
akan berakibat terhadap kerusakan Sumber Daya
Habitat, sumber daya ikan dan sumber daya
lingkungan.
Kedua, permasalahan Sumber Daya Ling-
kungan (SDL). Ada beberapa faktor kerusakan
lingkungan yang dapat dicermati di wilayah
Banyuwangi, ialah tekanan pendudukan dan
penataan pemukiman penduduk yang tidak mem-
pertimbangkan keselarasan lingkungan. Hal ini
juga terkait dengan rendahnya kesadaran mem-
buat MCK dan sanitasi lingkungan yang ramah
terhadap lingkungan. Kondisi seperti ini akan
mempercepat peningkatan kandungan coliform di
pesisir pantai. Faktor lain ialah industri peng-
olahan ikan yang menyebabkan kandungan soda
api yang pada gilirannya akan merusak ekosistem
kelautan. Hal lain yang menjadi faktor kerusakan
habitat lingkungan ialah ketiadaan sempadan

89
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

pantai di daerah Muncar (6-7 km) belum terlin-


dung oleh tanaman pelindung pantai, sehingga
memudahkan terjadinya abrasi, kerusakan pantai,
dan kelestarian lingkungan pesisir.
Ketiga, permasalahan Sumber Daya Ikan
(SDI). Akhir-akhir ini terjadi penurunan populasi
beberapa jenis ikan di wilayah perairan Banyu-
wangi. Penurunan itu terjadi pada jenis ikan
lemuru dan udang gragu. Penurunan populasi
ikan itu salah satu di antaranya disebabkan oleh
penangkapan ikan dengan menggunakan bahan
peledak sehingga ikan di sekitar tempat tersebut
akan mati, dan penangkapan ikan yang belum
matang benar.5 Jika hal ini terus berlangsung
maka dapat dipastikan bahwa sumber daya ikan
akan menurun, dan akibatnya ialah rendahnya
hasil tangkapan ikan, serta akan berakibat lebih
lanjut menurunnya penghasilan nelayan.
K.eempat, permasalahan Manajemen Perikan-
an. Salah satu di antara faktor penting terjadinya
konflik di antara para nelayan ialah disebabkan
oleh rendahnya kesadaran batas wilayah penang-
kapan, mana wilayah alat tangkap purse sein sejauh
3 mil diluar garis pantai dengan nelayan yang

5
Ikan belum matang gonat untuk jenis lemuru ialah jenis lemuru
sempenit dan protolan, yang pada tahun 1997 hasil tangkap-
annya mencapai 93,5%. Penangkapan ikan kategori ini terus
terjadi sebab tersedianya pengepul ikan untuk kepentingan pem-
buatan tepung ikan.

90
Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis .

menggunakan alat tangkap lain. Di wilayah sering


terjadi konflik antara nelayan banjang dan nela-
yan jaring. Konflik ini tentunya akan berakibat
terhadap keselarasan sosial sebagai salah satu
modal kehidupan di dalam masyarakat.

4. PSBK: Antara Partisipasi, Legislasi, dan


Personal Judgment

Salah satu dan ciri pengembangan masyarakat


berbasis komunitas ialah penumbuhan partisipasi
masyarakat. Partisipasi atau peran serta masya-
rakat pada dasamya ialah suatu usaha untuk me-
numbuhkan semangat dan rasa memiliki
terhadap berbagai kegiatan pembangunan
masyarakat berdasar atas keterlibatannya di
dalam perencana pelaksanaan dan evaluasi
pembangunan. Yang penting di dalam partisipasi
itu ialah penyadaran diri {self conciousness) dan
penumbuhan semangat untuk terlibat di dalam
berbagai proyek pemberdayaan mereka sendiri.
Di dalam pertemuan stakeholder, yang diha-
diri oleh banyak pihak, maka dapat diketahui se-
berapa tingkat partisipasi warga masyarakat ter-
hadap program perencanaan pengelolaan sumber
daya perikanan berbasis komunitas ini. Ada bebe-
rapa indikator untuk memahami tingkat partisi-
pasi mereka, antara lain ialah: (1) jumlah peserta
yang datang di dalam setiap pertemuan stake-

91
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

holder, yeng berdasarkan pengalaman lapangan


dapat diidentifikasi berkisar di antara angka 25
sampai 30 peserta; (2) dinamika kelompok yang
relatif hidup, yang ditandai dengan berbagai usul-
an, dan pernyataan yang terkait dengan berbagai
pengembangan program dimaksud; (3) keterbuka-
an di antara para anggota stakeholder yang ditan-
dai dengan pemyataan-pemyataan, dan ungkapan-
ungkapan yang langsung tanpa terkesan menutupi
apa yang diketahui dan dirasakan; (4) keakraban di
antara para peserta dengan lainnya yang ditandai
dengan saling meledek, bergurau, dan sebagai-
nya yang menandakan bahwa keakraban itu telah
tercipta sedemikian rupa.
Proyek PSBK, memang merupakan pilot
proyek untuk mengembangkan masyarakat dan
perikanan di Indonesia. Pemilihan Muncar
sebagai wilayah pilot proyek tentunya didasari
oleh kenya- taan bahwa wilayah ini memiliki
kemampuan ber- kembang secara ekonomis yang
sangat tinggi. Program ini didahului dengan
pemetaan potensi dan masalah yang akan
dijadikan sebagai dasar pengembangan sumber
daya perikanan. Pemetaan dilakukan untuk
memahami apa yang sebenarnya menjadi potensi
sumber daya perikanan di wilayah Muncar dan
masalah apa yang dominan sebagai penghambat
pengembangan sumber daya perikanan
tersebut.Kegiatan dilanjutkan dengan pen-

92
Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis .

dampingan terhadap pengelolaan kelompok, yang


disebut sebagai PSBK dimaksud.
Orientasi pendampingan pada dasarnya ialah
agar masyarakat mengenal siapa dirinya, dan apa
yang dilakukannya terhadap pengembangan
sumber daya perikanan. Kemudian pada tahap
berikutnya ialah menyusun rencana pengelolaan
sumber daya perikanan berbasis komunitas. Dari
rencana inilah akan dilanjutkan dengan program
pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh
untuk mencapai kesejahteraan.
Dengan demikian, keberadaan tim dari luar
LSM hakikatnya hanyalah sebagai fasilitator
perubahan, sedangkan subjek pelaku perubahan
pada dasarnya ialah masyarakat sendiri. Tanpa
kesadaran dari masyarakat, maka perubahan yang
diperoleh hanyalah perubahan semu yang tak
langgeng sifatnya. Di sinilah arti pentingnya ke-
bersamaan antara faktor eksternal dengan internal
di dalam mengelola perubahan secara teren- cana.
Sampai saat ini, masyarakat telah menyadari
bahwa mereka bermasalah dan memiliki kemam-
puan untuk mengembangkan diri. Di dalam hal
ini, maka segala keputusan untuk memberdaya-
kan diri sangat tergantung pada bagaimana
mereka menyelesaikan masalahnya. Inilah arti
pentingnya legislasi, atau proses menjadikan
aturan sebagai dasar pijak secara bersama untuk

93
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kepentingan bersama. Memang, telah banyak


aturan yang ter- kait dengan pengembangan
sumber daya perikanan, apakah itu berupa
undang-undang, surat keputusan atau aturan-
aturan hukum lain yang memiliki kekuatan
mengikat. Akan tetapi karena aturan itu tidak
dibuat dari bawah maka terkadang aturan itu
hanyalah kata tanpa makna. Ada banyak aturan
tetapi juga semakin banyak pelang- garan. Hal ini
tak lain ialah karena aturan itu tidak dirasakan
sebagai milik bersama yang mengikat secara
bersama.
Oleh karena itu, di dalam pertemuan stake-
holder itulah diputuskan beberapa aturan dasar
yang dianggap penting bagi masyarakat. Sebagai
contoh bisa disebutkan: (1) Aturan yang terkait
dengan kerusakan sumber daya habitat (terumbu
karang dan hutan bakau) yang disebabkan oleh
perilaku penangkapan ikan dengan menggunakan
bahan peledak dan penebangan hutan bakau,
maka menurut mereka perlu diberi sanksi. Bagi
yang melakukan pemotasan, maka diberi sanksi
denda sebesar satu juta rupiah, alat tangkapnya
disita, dan dihukum sesuai dengan aturan yang
berlaku. Bagi yang menebang bakau, maka di-
denda sebesar satu juta rupiah atau jika menebang
satu batang harus menanam 100 batang, dan me-
rawatnya, dan atau dihukum sesuai dengan aturan
yang berlaku. (2) Aturan yang terkait dengan ke-

94
Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis .

rusakan sumber daya perikanan (penangkapan


ikan belum matang dan penurunan udang gragu)
maka dikenai sanksi ialah alat tangkap ditahan,
dan didenda sesuai dengan kesepakatan, dan di-
hukum sesuai dengan aturan yang berlaku. (3)
Permasalahan manajemen perikanan (perselisihan
antarnelayan karena sumber daya perikanan)
maka diberi sanksi alat tangkapnya disita jika me-
langgar wilayah bebas tangkap, dan dihukum
sesuai dengan aturan yang berlaku. Nah, inilah
yang sekurang-kurangnya disepakati oleh stake-
holder di dalam pertemuan mereka.
Selanjutnya, bagaimana mekanisme pengem-
bangan berikutnya, maka dilakukanlah kegiatan
sosialisasi melalui Information, Education and
Champaign (1EC) di dalam berbagai pertemuan
yang memungkinkan bagi pelaksanaan IEC ter-
sebut. Misalnya melalui jamiyah yasinan, tahlilan,
organisasi sosial-keagamaan NU dan Muhamma-
diyah, dan pembuatan brosur-brosur, window dis-
play, integrasi dengan kurikulum sekolah, dan
seterusnya.
Di dalam kerangka tindakan bersama, maka
juga dilibatkan berbagai pihak yang terkait atau
Local Project of -Advisory Committee (LPAC) yang
terdiri dari lembaga pemerintah dan masyarakat.
Masing-masing komponeri LPAC memiliki
wewe- nang dan tanggung jawab yang berbeda
tetapi merupakan satu kesatuan. Contohnya,

95
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Bappeda ber- tanggung jawab menyusun


pengembangan program kelautan, AIRUD
bertanggung jawab terhadap pengawasan dan
keamanan di perairan laut, Dinas Perikanan
bertanggung jawab terhadap program perikanan,
Dinas Kehutanan dan konservasi tanah bertugas
membantu penghutanan bakau, PSBK bertugas
untuk merancang, melaksanakan dan mengawasi
secara langsung terhadap mekanisme
pengembangan sumber daya perikanan.

96
Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis .

Dengan dibantu oleh tim ahli dan berbagai


sudut pandang keilmuan (personaljudgmenf) maka
berbagai perencanaan program akan dapat dike-
tahui kekuatan dan kelemahannya, sehingga
apiikasinya akan dapat diefektifkan. Oleh karena
itu, keterlibatan semua komponen di dalam pe-
ngembangan masyarakat dirasakan sebagai sesu-
atu yang penting di dalam kerangka membangun
masyarakat seutuhnya.
Tradisi melakukan penebangan hutan bakau
telah terjadi secara turun menurun. Sehingga
kalaupun tradisi ini harus dipotong, maka memer-
lukan waktu yang cukup panjang. Artinya, me-
motong bakau sudah menjadi kelaziman masya-
rakat setempat yang disebabkan oleh rendahnya
kesadaran akan arti pentingnya hutan bakau bagi
kelestarian Sumber Daya Habitat. Kerusakan
hutan bakau akan menyebabkan pengasuhan
habitat ikan dan biota laut lainnya akan
terganggu, dan belum lagi akan terjadinya abrasi
pantai sebagai akibat lemahnya penyangga pantai.
Di sisi lain, kecenderungan melakukan pe-
motasan sebagai jalan pintas untuk memperoleh
ikan dalam jumlah banyak, sebenarnya didasari
oleh mental menerabas, yaitu tanpa bekerja
keras mendapatkan hasil yang banyak. Mereka
tidak menyadari bahwa pemotasan akan merusak
sumber daya perikanan dan sumber daya ling-

97
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kungan. Lemahnya kesadaran ini telah berjalan


dalam kurun waktu yang panjang, dan meskipun
hal tersebut disadari akan tetapi mereka tetap me-
lakukannya karena dorongan egoisme yang tinggi.
lnilah sebabnya, pengembangan dan penge-
lolaan sumber daya perikanan ini membutuhkan
waktu yang panjang, disebabkan yang akan
diubah adalah faktor mental yang membutuhkan
penya- daran dan penyembuhan. Karenanya,
untuk ini memerlukan pendekatan yang tepat,
sesuai dengan masalah yang dihadapi. Di dalam
kerangka ini keterpaduan atau sinkronisasi dari
berbagai komponen masyarakat, baik individual
maupun kelembagaan menjadi penting di dalam
menyele- saikan dan mengentas persoalan
dimaksud.
Dengan demikian, PSBK dapat digunakan
sebagai salah satu alternatif di dalam pengem-
bangan masyarakat.
Bagian III

98
KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGELOLAAN
HUTAN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI
DAERAH RAWAN LONGSOR

Sri Soehartatie Pradoto Iman Santoso

1. Pendahuluan

Makna Pengelolaan Hutan, sebagai unsur


penting sumber daya alam nasional, memiliki arti
dan peran yang sangat besar pengaruhnya pada
aspek kehidupan sosial, lingkungan hidup, dan
pembangunan. Hutan sebagai salah satu penentu
ekosistem, pengelolaannya perlu ditingkatkan
secara terpadu dan berwawasan lingkungan. Di
samping itu, pengelolaan hutan sangat membantu
pendapatan dan penerimaan devisa bagi negara
dalam rangka mencapai kesejahteraan rakyat.
Munculnya berbagai aspek dan kepentingan
dari kegiatan pengelolaan hutan, menimbulkan
adanya sejumlah persepsi dari jarak penginderaan
masing-masing. Pengertian pengelolaan hutan
yang bersifat plural adalah sesuai dengan fungsi
dan peranan hutan di dalam proses interaksi kehi-
dupan makhluk bumi.
Pengelolaan hutan adalah suatu bentuk ke-
giatan usaha yang dilakukan dalam rangka mem-

99
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

peroleh manfaat hutan dan hasil hutan menurut


peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bentuk pengelolaan hutan dibagi ke dalam dua
bagian:
a. Pengelolaan hutan negara
Bentuk kegiatan usaha yang dilakukan oleh
pemerintah atau badan hukum yang ditunjuk
dalam rangka memperoleh manfaat hutan dan
hasil hutan di kawasan hutan hutan negara,
berdasarkan pengaturan-pengaturan perun-
dang-undangan yang berlaku.
b. Pengelolaan hutan rakyat
Suatu bentuk kegiatan usaha yang dilakukan
orang atau badan hukum dalam rangka mem-
peroleh manfaat hutan dan hasil hutan, di atas
tanah milik atau hak lainnya, berdasarkan per-
aturan perundang-undangan yang berlaku.

100
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

2. Tujuan dan Peran pembangunan


kehutanan

Pengelolaan pembangunan kehutanan adalah


kelestarian hutan dan manfaat yang progresif op-
timal. Hal ini dapat pula diklasifikasikan sebagai
pembangunan kehutanan yang berorientasi tata
lingkungan hidup manusia.
Atas dasar dan orientasi itu tujuan yang akan
dicapai dalam pembangunan kehutanan adalah
manfaat yang sebesar-besamya secara serbaguna
dan lestari, baik langsung maupun tidak langsung,
dalam usaha turut membangun masyarakat Indo-
nesia yang adil dan makmur berdasarkan Panca-
sila.
Sesuai dengan asas dan tujuan tersebut, maka
pembangunan kehutanan meliputi, antara lain:
a. Pembangunan Ideologi/Politik
Pancasila sebagai tujuan hidup bangsa Indone-
sia, menganut asas keseimbangan dan kesela-
rasan antara manusia dengan penciptanya yaitu
Tuhan Yang maha Esa, antara manusia dengan
alam semesta (antara lain hutan yang kaya raya
dengan flora dan fauna) ciptaan Tuhan, dan
antara manusia dengan manusia lainnya. Man-
faat hutan secara seimbang dan serasi, meru-
pakan pencerminan rasa syukur bangsa Indo-
nesia kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
sekaligus merupakan upaya Pembangunan

101
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

manusia Pancasila seutuhnya yang mencintai


Tanah Air.
b. Sosial Ekonomi
Dalam bidang sosial ekonomi, pembangunan
kehutanan mempunyai peranan dalam rangka
mewujudkan kesejahteraan rakyat. Hal ini
dapat dicapai melalui:
(1) Peran pembangunan kehutanan di dalam
bidang produksi untuk meningkatkan pen-
dapatan negara (dalam negeri dan untuk
devisa), serta menyediakan kayu dan hasil
hutan lainnya untuk industri dan masya-
rakat.
(2) Peranan kehutanan yang berfungsi lindung
antara lain: pengaturan tata air dan pence-
gahan penghayutan tanah (hidrologis),
pengaturan klimatologi dan lingkungan
hidup yang memberikan dampak pada ter-
peliharanya kesuburan tanah, peningkatan
produktivitas tanah, pengaturan debit air
untuk penyediaan pengairan sawah, perikan-
an, air minum, dan sebagainya.
c. Sosial Budaya
Peranan hutan yang tercerminkan dalam ben-
tuk kekayaan flora dan fauna serta keindahan
alam dalam pengembangan budaya bangsa,
dan berproyeksi menurut kurun waktu. Pada
masa lalu, hutan merupakan tempat lahirnya
inspirasi dan penggemblengan fisik maupun

102
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

maupun mental manusia untuk


mempertahankan eksis- tensinya dalam
menghadapi tantangan dalam dan lingkungan,
sehingga secara seimbang manusia merupakan
bagian dari luar alam sekeli- lingnya.
Masa sekarang dan masa yang akan da-
tang, hutan merupakan sarana untuk mening-
katkan kehidupan manusia, baik secara fisik
maupun mental, langsung maupun tidak
langsung.
Dari uraian tersebut nyatalah bahwa hutan
merupakan bagian dari/atau yang dikuasai oleh
manusia.
Dalam hal ini, peranan hutan terhadap
perkembangan budaya manusia dapat dibukti-
kan dengan lahirnya berbagai jenis seni, lagu,
tarian, lukisan, pahatan, baik nasional maupun
daerah yang menggambarkan keindahan, ke-
kayaan dan kegunaan dari hutan tersebut.

103
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat
3. Asas - Asas Pengelolaan Kehutanan

Pengelolaan kehutanan dideklarasikan ke


dalam 3 asas pokok, yaitu:
a. Asas Kesejahteraan Sosial. maksudnya asas
ke- utamaan yang menitikberatkan perhatian
pada realitas kesejahteraan di sektor kehidupan
masyarakat bawah/miskin. Dalam pengelolaan
hutan, penduduk asli dan anggota masyarakat
yang bermukin di dalam dan di sekitar hutan
memiliki peranan penting untuk melestarikan
hutan.
Mereka mempunyai potensi; pengetahuan,
pengalaman, dan kebiasaan tradisional yang
bermanfaat bagi pengelolaan dan pelestarian

hutan. Masyarakat ini perlu diberikan peranan


ngunan hutan berkelanjutan. Di samping ber-
hak untuk mendapatkan sesuatu kehidupan
yang baik, dan produktif serta harmonis de-
ngan lingkungan pemukimannya.
b. Asas Keuntungan Ekonomi. Ia disebut juga
asas profitabilitas, yakni suatu prinsip penge-
lolaan hutan yang berorientasi pada perolehan
laba dalam rangka peningkatan pendapatan
dan kemajuan usaha. Hal ini ditujukan pada
hutan produksi yang mempunyai fungsi utama

104
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

sebagai salah satu sumber pendapatan negara


dalam rangka peningkatan perekonomian
nasional.
c. Asas Kelestarian Lingkungan. Ini disebut prin-
sip Ekologi, yaitu suatu prinsip pengelolaan
hutan yang berorientasi pada usaha peman-
faatan hutan lestari dengan sistem silvikultur.
Sistem ini merupakan proses penanaman, pe-
meliharaan, penebangan, dan penggantian
suatu tegakan hutan untuk menghasilkan pro-
duksi kayu atau hasil hutan lainnya dalam ben-
tuk tertentu. Penerapan sistem silvikultur di
kawasan hutan produksi dilakukan dengan 3
(tiga) cara, yaitu : Tebang Pilih Tanam, Tebang
Habis dengan Permudaan Alam, Tebang
Habis dengan Permudaan Buatan.

4. Landasan Pembangunan Bidang


Kehutanan

Pembangunan kehutanan merupakan bagian


dari pembangunan nasional mempunyai landasan
filosofis, konstitusional dan konsepsional, yang
ketiganya telah ditetapkan secara nasional. Di
samping tiga landasan tersebut menjadi dasar
pembangunan kehutanan, dan landasan yang
bersifat teknis operasional juga menjadi landasan
dalam pelaksanaan pembangunan kehutanan.
Rencana pembangunan kehutanan (RUK)
merupakan dasar arahan pembangunan bidang

105
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

kehutanan, yakni dalam melaksanakan semua ke-


giatan mempunyai jangka waktu tertentu (lima
belas tahun) dan setiap lima tahun disempuma-
kan.
UU No. 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-
ketentuan pokok kehutanan berbunyi antara lain:
Pemerintah membuat suatu rencana umum
mengenai peruntukan penyediaan, pengadaan dan
penggunaan hutan semacam serba guna dan
lestari di seluruh wilayah Republik Indonesia ...
Penjelasan atas landasan-landasan tersebut
dapat disebutkan sbb.:
a. Landasan Filosofis
Dalam landasan filosofis dijelaskan bahwa
pembangunan kehutanan merupakan suatu
bagian dari pembangunan nasional, maka
harus pula menunjukkan rangkaian usaha yang
men- cerminkan pengalaman Pancasila.
Dengan ber- pegang teguh pada Pancasila,
bangsa Indonesia dalam membangun
kehutanan akan tetap terjaga dan selalu berada
dalam rangkuman kiprah pembangunan
nasional.
b. Landasan Konsititusional
Sudah barang tentu secara keseluruhan,
Undang-Undang Dasar 1945 merupakan lan-
dasan konsititusional bagi setiap bidang pem-
bangunan nasional, termasuk pengelolaan
pembangunan kehutanan.

106
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 di-


tegaskan bahwa hutan sebagai salah satu keka-
yaan alam dengan keanekaragaman fungsinya
yang menyangkut hajat hidup orang banyak,
harus dikuasai negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.
c. Landasan Konsepsional
Garis-garis Besar Haluan Negara yang telah di-
tetapkan dalam Tap MPR pada hakikatnya ada-
lah Pola Umum Pembangunan Nasional yang
merupakan rangkaian program pembangunan
secara menyeluruh, terarah, dan terpadu yang
berlangsung secara terus menerus.
Pengelolaan pembangunan kehutanan
menurut UUD 1945, bertujuan untuk mewu-
judkan masyarakat yang sejahtera berdasarkan
Pancasila yang merupakan landasan konsep-
sional untuk pembangunan kehutanan telah
ditunjukkan arahnya yaitu: Dalam melaksana-
kan pembangunan, sumber alam Indonesia
harus digunakan secara rasional. Penggalian
sumber kekayaan alam tersebut harus diusaha-
kan agar tidak merusak tata lingkungan (penya-
ngga sumber air dan plasma nutfah) yang me-

107
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

nyeluruh dan dengan memperhitungkan ke-


butuhan generasi yang akan datang.
Wawasan Nusantara menegaskan tentang
perwujudan Kepulauan Nusantara, yang antara
lain sebagai salah satu kesatuan politik, dalam
arti bahwa kebulatan wilayah nasional dengan
segala isi kekayaannya termasuk sumber daya
alam hutan merupakan satu kesatuan wilayah,
wadah, ruang hidup dan kesatuan matra se-
luruh bangsa, dan sebagai kesatuan ekonomi
dalam arti bahwa kekayaan hutan di Wilayah
Nusantara baik potensial maupun efektif ada-
lah modal dan milik bersama bangsa. Manfaat-
nya harus dirasakan merata di seluruh tanah air
secara seimbang dan serasi.
d. Landasan Operasional
Sebagai landasan operasional dalam pem-
bangunan bidang kehutanan antara lain:
(1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1967 ten-
tang ketentuan pokok-pokok kehutanan.
(2) Undang-Undang Nomor 11 tahun 1974
tentang pengairan.
(3) Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997

(4) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1984 ten-


tang perindustrian

108
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan
(5)Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 ten-
tang peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.
(5) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974 ten-
tang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.
(6) Undanng-undang Nomor 5 tahun 1990 ten-
tang konservasi Sumber Daya Alam Hayati
dan Ekosistemnya (Departemen Kehutan-
an, 1986: 14-19).
(7) Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992
tentang Penataan Ruang.
(8) Peraturan Perundang-undangan lainnya
yang berkaitan dengan pembangunan hutan
dan kehutanan seperti Undang-Undang Per-
tambangan dan sebagainya.

5. Modal Dasar Pembangunan Kehutanan


a. Sumber Daya Alam Hutan
(1) Hutan Alam
Sumber daya alam tropika dengan berbagai
tipe hutan yang dimiliki berbagai macam
jenis flora dan fauna sebagai kekayaan
negara Republik Indonesia adalah karunia
Tuhan Yang Maha Esa, dan merupakan
salah satu benteng terakhir dari hutan tro-
pika basah di dunia.

I ll
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

Dengan memperoleh keuntungan dari


pengaruh faktor geografi, hidrografi, geo-
logi, topografi dan klimatologi serta penye-
baran jenis tumbuhan yang khas, hutan
alam Indonesia mempunyai potensi yang
besar untuk dikembangkan.
(2) Hutan Tanaman Hutan tanaman di Jawa
yang sudah mulai dibuat sejak dua abad
yang lalu seluas 1.5 juta hektar, di
antaranya seluas 0,8 juta hektar berupa
tanaman jati. Hal ini merupakan poensi
yang dapat diandalkan sebagai pendukung
pokok ekspor nonmigas. Selain itu terdapat
0.3 juta hektar hutan tanaman sebagai hasil
reboisasi di sekitar pulau Jawa.
b. Sumber Daya Manusia
Jumlah penduduk yang sangat besar dapat
dibina dan dikembangkan sebagai tenaga kerja
yang efektif dan merupakan modal pemba-
ngunan yang sangat besar dan sangat meng-
untungkan bagi pembangunan kehutanan.
Dengan meningkatnya jumlah olah kejuruan
serta pendidikan latihan kerja, akan meningkat
pula mutu tenaga kerja yang tersedia.
Penambahan perguruan Tinggi Kehutanan,
penigasan pegawai kehutanan dalam pen-
didikan D-3, S-2 dan S-3 akan lebih menjamin
sasaran tujuan kehutanan

112
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

c. Peraturan Perundang-undangan
Secara teknis spesifik, telah cukup tersedia
Undang-Undang sebagai landasan pembangun-
an kehutanan. Telah cukup pula penjabaran
dalam bentuk peraturan pemerintah dan surat
keputusan yanng mengatur pelaksanaannya.
Dengan menambah beberapa peraturan
perundang-undangan baru dan menyempurna-
kan yang sudah ada. Penyelenggaraan pemba-
ngunan kehutanan akan menjadi lebih mantap.
d. Ilmu dan Teknologi
Berbagai disiplin ilmu dan teknologi yang
sudah ada, dan diharapkan berkembang di In-
donesia telah cukup memadai untuk menun-
jang pembangunan kehutanan.
Peningkatan tenaga ahli serta sarana pe-
nelitian dan pengembangan akan meningkat-
kan pengembangan teknologi terapan yang
sangat diperlukan.
e. Stabilitas dan Iklim Usaha Kebijaksanaan
dan pendekatan nasional untuk
mengembangkan dunia usaha, menempatkan
sektor swasta untuk berperan serta dalam pem-
bangunan. Ikut sertanya penanaman modal
perseorangan, modal koperasi, modal kecil dan
menengah dalam menyerasikan keseimbangan
dan pemerataan pembangunan, memang
sangat diperlukan.

113
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

TNI Sebagai Kekuatan Sosial


Di samping adanya kekuatan-kekuatan sosial,
TNI sebagai kekuatan sosial dan kekuatan
pertahanan, dan keamananan yang tumbuh
dari rakyat dan bersama rakyat merupakan
kekuatan stabilisator pembangunan. TNI pada
se- dap saat untuk terjun sebagai penunjang
berbagai kegiatan pembangunan kehutanan,
antara lain dalam kegiatan reboisasi, pencegah-
an dan penanggulangan kebakaranan hutan
serta keamanan hutan dan hasil hutan.

6. Upaya Pokok Pengelolaan Pembangunan


Kehutanan

Beberapa kegiatan yang mendukung arah dan


tujuan pengelolaan pembangunan kehutanan telah
ditetapkan dalam buku Rencana Umum Kehutan-
an Departemen Kehutanan yang ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor
191/Kpts-II/1986, tanggal 14 Juli 1986 yang
dilakukan dengan upaya-upaya pokok, sebagai
berikut:

114
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan .
a. Inventarisasi Hutan
Inventarisasi hutan bertujuan untuk menge-
tahui dan mengevaluasi merencanakan peman-
faatan secara lestari. Inventarisasi hutan di-
laksanakan secara periodik, yaitu setiap lima
tahun dan setiap sepuluh tahun sekali. Hal ini
disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan
oleh keadaan hutannya sendiri, baik karena
faktor alami maupun faktor buatan. Sasaran
inventarisasi hutan tersebut adalah hutan di
seluruh Indonesia seluas 143 juta hektar.
Mengingat sangat luasnya hutan, maka
inventarisasi hutan seluas itu dilakukan dengan
memanfaatkan teknologi mutakhir di bidang
pengindraan jarak jauh. Cara ini menerapkan
multi-stage) dan didukung verifikasi lapangan
yang memadai. Dalam rangka penggunaan
hasil teknologi pengindraan jarak jauh ini sam-
pai dengan pelita II telah dilaksanakan inven-
tarisasi hutan melalui penafsiran citra satelit
seluas 17, 2 juta hektar, penafsiran potret udara
dengan berbagai skala seluas 81 juta hektar.
b. Penatagunaan Hutan
Penatagunaan hutan bertujuan untuk men-
jamin kepastian kawasan hutan tersebut
dengan fungsinya, baik secara fisik di lapangan
maupun secara hukum. Sasaran penatagunaan
hutan adalah kawasan hutan tetap seluas 113
juta hektar, terdiri dari kawasan hutan lindung

115
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

30 juta hektar, kawasan hutan suaka dan hutan


wisata 19 juta hektar, dan kawasan hutan
produksi 64 juta hektar.
Sampai dengan pada pelita IV dengan
pembuatan batas luar sepanjang 52.800 km dan
batas fungsi kawasan hutan sepanjang 76,600
km, sisanya sepanjang 79,200 km batas luar dan
sepanjang 2,000 km batas fungsi kawasan
hutan.
Kemudian pada pelita V dilaksanakan
rekonstruksi batas hutan sepanjang 30,000 km.
Khususnya di pulau Jawa diupayakan pemugaran
dan perluasan hutan dari 20 % luas wilayah
pada akhir pelita IV menjadi 30% luas wilayah
pada akhir Pelita VI, baik melalui kegiatan
perluasan kawasan hutan maupun perluasan
kegiatan penghijauan tanah kritis di luar kawasan
hutan.
Dalam rangka penyiapan lahan hutan untuk
pembangunan sektor bukan kehutanan, perlu
dilakukan perencanaan dalam Pelita IV untuk
penyediaan lahan transmigrasi seluas 3 juta
hektar, sedangkan pada Pelita V dan VI
perencanaan pemanfaatan areal hutan produksi
yang dapat dikonversi disesuaikan dengan ke-
butuhan pengembangan sektor bukan
kehutanan tersebut.

116
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

c. Pengukuran dan Perpetaan


Kehutanan
Pengembangan pengukuran dan perpetaan ke-
hutanan bertujuan untuk mempersiapkan dan
menyajikan peta baku kehutanan yang mampu
memberi data dan informasi secara lengkap,
baru, dan tepat.
d. Konservasi Sumber Daya Alam
Kon_servasi sumber daya alam bertujuan me-
lindungi proses ekologi yang menunjang
sistem penyangga kehidupan, mengawetkan
keaneka- ragaman jenis dan ekosistem, serta
melestari- kan pemanfaatan sumber daya alam
bagi kesejahteraan umat manusia. Adapun
untuk mencapai tujuan ini akan dilakukan
kegiatan sebagai berikut:
(l) Penunjukan Kawasan Konservasi Tipe
Ekosistem
Hasil penunjukan kawasan konservasi yang
terdiri dari suaka alam, hutan wisata, taman
nasional, hutan lindung, suaka alam laut,
sampai akhir pelita III seluas 23,6 juta hek-
tar. Pada Pelita IV akan ditunjuk kawasan
konservasi darat yang terdiri dari suaka
alam dan hutan wisata (taman Wisata dan
taman Buru) seluas 6,7 juta hektar, dan hutan
lindung seluas 19,5 juta hektar. Di samping itu
pula kawasan konservasi laut seluas 9.3 juta
hektar.

117
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

(2) Penataan batas


Pada pelita IV dan Pelita V, penataan batas
suaka alam, hutan wisata, taman nasional, dan
hutan lindung diprioritaskan. Penataan batas
suaka lama laut dimulai penanganan- nya pada
Pelita V dan dilanjutkan pada Pelita VI.
(3) Penataan Kawasan
Penataan kawasan baru mencapai tahap pe-
rencanaan zonasi.
(4) Pembukaan Wilayah
Dilakukan pembuatan jalan di dalam taman
nasional dan hutan wisata sepanjang 275 km,
sedangkan pada Pelita V dan Pelita VI masing-
masing sepanjang 250 km.
(5) Inventarisasai potensi
Inventarisasi potensi flora langka dan satwa
akan dilakukan terhadap areal tambahan dan
areal yang sudah dikukuhkan secara de- finitif.
Diiventarisasikan areal tambahannya, baik
kawasan konservasi darat maupun kawasan
konservasi laut.
(6) Perpetaan
Peta tematik dari hasil iventarisasi potensi
untuk mengetahui jumlah jenis dan penye-
baran flora dan fauna dengan prioritas flora
dan fauna langka serta daerah rawan, dengan
skala yang sesuai untuk berbagai ke- perluan
(7) Intensifikasi pengelolaan
Upaya pokok ini meliputi pembentukan unit

118
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

kesatuan pemangkuan Taman Nasional,


kesatuan pemangkuan Hutan Wisata, kesatuan
pemangkuan suaka alam, Kesatuan
pemangkuan Hutan Lindung dan Pemben-
tukan organisasai pengelolaan taman nasional.
Pembentukan Balai Konservasi Sumber Daya
Alam akan diselesaikan termasuk intensifikasi
pengelolaan dan pemanfaatan- nya.
(8) Pengembangan dan Pembinaan Kawasan
Konservasi dan Areal Pengungsian Satwa
Untuk memantapkan kawasan konservasi yang
ada antara lain akan dibangun dan di- bina
Taman Nasional, suaka alam hutan wisata
(taman wisata dan taman berburu), hutan
lindung, daerah penyangga, serta daerah
perlindungan dan pengungsian.
(9) Pengembangan Wisata Alam dan Wisata Buru.
Kegiatan produksi jasa konservasi berupa
wisata alam dan wisata buru akan dikem-
bangkan dan dibina, baik untuk kegiatan yang
berada dalam taman wisata dan taman buru
serta kawasan hutan lainnya, maupun yang
berada di luar kegiatan ini, dikaitkan pula
dengan daerah tujuan wisata yang telah
ditetapkan oleh Departemen Pariwisata, Pos
dan Telekomonunikasi.
(10) Pembinaan Habitat/Pembinaan Populasi
Dalam rangka memulihkan kembali fungsi
kawasan konservasi, perlu dilakukan pem-

119
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

binaan habitat dan pembinaan populasi.


(11) Konservasi di Luar Kawasan
Upaya pokok konservasi di luar kawasan
meliputi kegiatan pembinaan pemanfaatan
flora dan fauna, penangkaran dan domes- tika
jenis, pembinaan terhadap kebun bina- tang,
kebun botani, arboretum, serta pe- ngendalian
lalu lintas flora dan fauna, dimaksudkan untuk
menentukan status dan jatah pemungutan,
antara lain untuk ekspor dan keperluan ilmu
pengetahuan.
(12) Perlindungan dan Pengamanan Hutan
Kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan
sebagai penegasan hak-hak negara atas hutan,
merupakan upaya yang sangat penting untuk
mengamankan kawasan hutan dari gangguan,
yang berupa pencuri- an kayu, perambahan
kawasan, pembakaran hutan, perladangan liar,
penggembalaan liar, penggalian bahan tambang
liar, hama, dan penyakit.
(13) Reboisasi
Reboisasi bertujuan mewujudkan fungsi
hidrologis, dan tata lingkungan kawasan hutan,
serta meningkatkan produksi hasil hutan.
(14) Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah
Rehabilitasi lahan dan konservasi tanah ber-
tujuan untuk memulihkan, meningkatkan dan
mempertahankan kondisi lahan sehingga dapat
berfungsi secara optimal sebagai un- sur

120
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

produksi, media pengatur tata air, dan


perlindungan alam lingkungan.
(15) Pembinaan dan pengaturan Sumber
Pembinaan dan pengaturan sumber bertujuan
menertibkan dan memantapkan pembinaan
hutan produksi dalam rangka meningkatkan
produktivitasnya. Sehubungan de-
ngan itu dilakukan kegiatan yang meliputi:
pembinaan dan pengembangan sistem infor-
masi dan pendataan bidang pengusahaan
hutan, penataan batas, pembukaan wilayah
hutan produksi, pembangunan unit-unit
Kesatuan Pemangku Hutan Produksi
(KPHP), dan pemantapan rencana karya
pengusahaan, serta pembinaan hutan.
(16) Pemanfaatan Sumber
Pemanfaatan sumber bertujuan meningkat-
kan efisiensi pemungutan dan pengolahan
hasil hutan kayu dan non-kayu.

7. Kebijakan Program Pembangunan


Kehutanan Ke Depan

Sejak eksploitasi hutan dikenal oleh masya-


rakat, pembangunan bidang kehutanan ikut serta
mengiringi laju eksploitasi hutan yang tidak lain
sebagai sarana menyeimbangkan antara kegiatan
eksploitasi hutan dengan upaya mempertahankan
fungsi hutan.

121
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

Pembangunan kehutanan merupakan salah


satu subsektor Pembangunan Nasional di mana
Garis-garis Besar Haluan Negara, telah meng-
amanatkan agar Pembangunan Kehutanan diarah-
kan untuk memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya bagi kemakmuran rakyat dengan tetap
menjaga kelestarian dan kelangsungan fungsi
hutan sebagai penyangga sumber daya air, antara
lain:
a. Program Pemanfaatan Kawasan Hutan
dan Peningkatan Produktivitas Hutan
Alam.
Tujuan utama program ini untuk mening-
katkan pemanfaatan kawasan hutan tetap dan
untuk meningkatkan produktivitas hutan alam
yang mencakup produksi kayu dan hasil hutan
non-kayu, memenuhi kebutuhan masyarakat
dan industri akan hasil hutan secara lestari. Di
samping itu dikembangkan pula penatagunaan
hutan konservasi secara terpadu untuk me-
ningkatkan nilai tanah kawasan hutan tersebut.
Dilakukan pula peningkatan efisiensi dan pro-
duktivitas hutan alam melalui penyempurnaan
manajemen pengusahaan hutan produksi.
Melalui program ini akan dilaksanakan kegiat-
an-kegiatan: percepatan pemantapan kawasan
hutan, pemeliharaan dan peningkatan mutu
hutan alam serta rehabilitasi, peningkatan
efisiensi pembakalan dan produktivitas hutan

122
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

alam, pengembangan produksi hasil hutan


non- kayu, pengembangan sistem manajemen
hutan lestari, perkembangan kelembagaan
HPH, pe- ningkatan peran serta aktif
masyarakat, dan upaya pengembangan
ekoturisme.
b. Program Pembangunan Hutan Tanaman
Baru
Tujuan program ini adalah untuk mening-
katkan potensi hutan tanaman yang dibangun
di dalam kawasan hutan produksi dalam rang-
ka meningkatkan produksi hasil hutan dan
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan
pembangunan hutan.
c. Program Pembangunan Usaha Perhutan-
an Rakyat
Tujuannya adalah untuk meningkatkan
peran aktif masyarakat dalam pembangunan
hutan tanaman dan rehabilitasinya pada lahan
milik rakyat, milik warga, dan hutan konversi
yang tidak berhutan, sehingga potensi hutan
meningkat, dan masyarakat memperoleh
manfaat dari program ini. Untuk keberhasilan
program ini mutlak dibutuhkan partisipasi
masyarakat dengan menumbuhkembangkan
kelompok tani, sebagai pelaku utama pem-
bangunan hutan rakyat tersebut.
d. Program Pengembangan Usaha Penge-

123
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

lolaan Hasil Hutan


Tujuan program ini adalah untuk mening-
katkan nilai tambah dari hasil hutan, baik hasil
hutan berupa kayu maupun non-kayu dalam
rangka efisiensi pemanfaatan bahan baku yang
semakin terbatas. Di samping itu hasil hutan
yang bersifat jasa akan dikembangkan
terutama jasa ekoturisme dengan pemanfaatan
objek wisata alam. Untuk keberhasilan ini,
maka perlu pengembangan kemampuan rakyat
dalam mengolah hasil hutan.
e. Program Inventarisasi dan Evaluasi Sum-
ber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
Tujuannya adalah untuk meningkatkan
jumlah dan mutu informasi sumber daya alam
serta mengembangkan neraca dan tataguna
sumber alam dan lingkungan hidup untuk me-
ngetahui daya dukung dan menjamin
kesediaan sumber alam yang berkelanjutan.
Beberapa kegiatan pendukung program ini,
yaitu:
(l) Inventarisasi jumlah mutu sumber daya
hutan dan keanekaragaman hayati secara
terpadu, yang hasilnya digunakan dasar
untuk pemantapan kawasan hutan, dan pe-
ningkatan produktivitas hutan alam.
(2) Pemetaan sumber daya alam hutan dan ke-
anekaragaman hayati secara terpadu. Hasil
kegiatan ini dituangkan dalam peta tematik

124
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

sesuai dengan jenis data yang diperoleh.


Peta ini digunakan untuk menyusun peren-
canaan pembangunan kehutanan.
(3)Pengembangan sistem informasi neraca
sumber daya hutan. Sebagai barometer
untuk menilai adanya perubahan lingkungan
alam dan sekaligus menilai sejauh mana per-
ubahan itu masih berada dalam batas tole-
ransi.
Program Penyelamatan Hutan dan Air
Tujuan program ini adalah untuk meles-
tarikan fungsi dan kemampuan sumber alam
hayati, non-hayati dan lingkungan hidup, ter-
utama diperuntukkan untuk memulihkan kon-
disi hutan, tanah, dan air sebagai bagian keka-
yaan alam, agar dapat berfiingsi secara optimal
dalam memelihara, dan mendukung
peningkatan daya dukung lingkungan.
Kegiatan pendukung program ini seperti:
Pengelolaan dan pengembangan kawasan suaka
alam, pembangunan 31 unit Taman Nasional
dan pembentukkan 9 Taman Nasional Baru,
pengelolaan dan pengembangan hutan lindung,
dan engembangan Tanaman Hutan Raya
(Tahura).
g. Program Rehabilitasi Lahan Kritis.
Tujuan program ini adalah untuk mening-
katkan kembali kemampuan hutan dan tanah

125
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

yang sudah rusak agar dapat berfungsi kembali


dalam produksi kelestarian lingkungan hidup,
erosi, dan sedimentasi semakin menurun,
banjir, dan kekeringan dapat terkendali, yang
didukung dengan kegiatan pokok:
(1) Reboisasi hutan lindung dan suaka alam.
(2) Penghijauan dan konservasi tanah di luar
kawasan dan lingkungan perkantoran.
(3) Pengembangan pengelolaan daerah aliran
sungai.
h. Program Penataan Ruang
Tujuan program ini adalah untuk menyu-
sun dan mengembangkan pola tataruang dan
mekanisme pengelolaan yang dapat menyerasi-
kan berbagai kegiatan pemanfaatan air, tanah,
dan sumber daya alam lainnya, serta untuk
meningkatkan keterpaduan penyelenggaraan
tata guna air, tataguna lahan, dan kehutanan.
i. Program Penataan Pertanahan
Tujuan program ini adalah untuk meng-
upayakan peningkatan dan pengembangan
sistem pengelolaan pertanahan yang terpakai
sehingga pemanfaatannya sesuai dengan pelak-
sanaan pembangunan lingkungan hidup.
j. Program Pengarahan dan Pembinaan
Transmigrasi dan Perambahan Hutan
Program ini mempunyai tujuan untuk
menyiapkan permukiman transmigrasi baru

126
Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Hutan

termasuk untuk para peladang berpindah dan


perambah hutan, serta mengembangkan per-
mukiman transmigrasi yang ada.
k. Program Pembangunan Usaha Menengah
dan Keeil
Program ini bertujuan untuk meningkat-
kan kemampuan usaha menengah, usaha kecil
dan tradisional dalam berusaha dalam jangka
peningkatan pendapatan masyarakat, pencipta-
an lapangan kerja, dan meningkatkan efisiensi
dan produktivitas pembangunan ekonomi.

8. Kesimpulan

Meskipun aturan dan kebijakan tentang


Pengelolaan Hutan telah ditetapkan, namun dalam
mengimplementasikan semua aturan dan
kebijakan tesebut perlu dukungan penuh dari
masyarakat, sejak mulai dari sosialisasi aturan dan
kebijakan dan perencanaan, sampai pada moni-
toring dan evaluasi.
Hal ini dimaksudkan sebagai upaya menum-
buhkan rasa ikut memiliki (sense of belonging
terhadap hutan dan pengelolaannya juga sumber
daya air dan pengelolaannya, serta memanfaat-
kannya untuk usaha-usaha produktif (peningkat-
an ekonomi dan kesejahteraan) dengan tidak
mengorbankan pelestarian hutan dan sumber
daya air.

127
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

PENDEKATAN SOSIO-
KULTURAL DALAM
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
H. Moh. Ali Aziz

1. Apa yang Dimaksud dengan Pendekatan Sosio-


Kultural Itu?

Pendekatan sosio-kultural adalah salah satu


pendekatan yang dilakukan sebagai upaya me-
lakukan perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu
terciptanya keadilan dan kesejahteraan sosial bagi
masyarakat dengan memperhatikan berbagai
aspek yang mempengaruhinya. Di samping pen-
dekatan sosio-kultural ini, sering kali terjadi per-
ubahan itu dilakukan dengan menggunakan pen-
dekatan struktural, yaitu pendekatan dari atas ke
bawah.
2. Aspek Apa Saja yang Mempengaruhi
Kehidupan Sosial Masyarakat Itu?

Di antara beberapa aspek yang mempeng-


aruhi kehidupan sosial masyarakat itu adalah aga-

128
ma, budaya, pendidikan, adat istiadat, ekonomi,
politik, hukum, dan lain sebagainya. Aspek-aspek
itulah yang dalam proses perubahan sosial sering
disebut dengan dimensi sosio-kultural.

3. Aspek Mana yang Dominan dalam


Mempengaruhi Kehidupan Sosial
Masyarakat?

Aspek yang paling dominan mempengaruhi


kehidupan sosial masyarakat biasanya tergantung
pada sistem nilai yang dipegang oleh masyarakat
itu sendiri. Misalnya pada masyarakat perkotaan
yang paling berpengaruh adalah dimensi ekonomi
dan pendidikan, sedangkan pada masyarakat desa
biasanya adalah adat istiadat atau budaya setem-
pat dan agama. Sedangkan pada masyarakat san-
tri, nilai yang paling dominan berpengaruh adalah
agama.
Pendekatan Sosio-Ku!turaI dalam Pemberdayaan

4. Bila Demikian, Apa Fungsi Agama dalam


Proses Perubahan Sosial Itu?

Fungsi agama dalam proses perubahan sosial


adalah sebagai pemersatu nilai-nilai yang
berkembang dalam masyarakat, pengontrol peri-
laku sosial, dan penggerak perubahan. Di sam-
ping itu, agama juga berfungsi sebagai penguat
adat setempat yang tidak bertentangan dengan
nilai-nilai agama itu sendiri, seperti semangat
gotong royong, kerukunan, toleransi, pemeli-
haraan lingkungan, dan sebagainya. Dengan
demikian agama juga berfungsi sebagai
pemelihara ikatan bersama yang mendasari
sistem-sistem kewajiban sosial yang harus ditaati
oleh seluruh lapisan masyarakat.

5. Apa Hubungan antara Perubahan Sosial,


Pembangunan, dan Pemberdayaan?

Istilah perubahan sosial sesungguhnya mem-


punyai arti yang sama dengan pembangunan dan
pemberdayaan. Hanya saja istilah pembangunan
biasanya menggunakan strategi top down yang ber-
arti masyarakat hanya sebagai objek dan sasaran
dari pembangunan itu, sedangkan pemberdayaan
biasanya menggunakan strategi bottom up. Artinya,
masyarakat sejak awal dilibatkan dalam proses
perencanaan sampai pada pelaksanaan dan

130
Pendekatan Sosio-Kultural dalam Pemberdayaan

peme- liharaan hasil-hasil pembangunan itu.


Dengan demikian di samping menjadi objek,
masyarakat juga menjadi subjek dan pelaku
pembangunan. Antara pembangunan dan
pemberdayaan itu, ke- duanya merupakan bagian
dari proses perubahan sosial.

6. Bila Demikian, Siapa yang Berperan dalam


Proses Pemberdayaan Itu?

Dengan memperhatikan salah satu ciri utama


pemberdayaan yang menitikberatkan pada peran
dan partisipasi masyarakat sejak perencanaan
sampai pelaksanaan dan pemeliharaan, maka yang
paling berperan dalam proses pemberdayaan
adalah masyarakat itu sendiri. Artinya, proses
pemberdayaan itu terjadi atas dasar kemandirian
masyarakat dalam memanfaatkan segala bentuk
potensi yang dimilikinya, seperti: potensi agama,
ekonomi, kekuatan budaya, dan sebagainya.

7. Mengapa Demikian?

Hal itu terjadi karena masyarakat itu sendiri


yang paling mengetahui tentang kebutuhannya
dan bagaimana memenuhinya. Dengan demikian
pihak luar hanyalah berfungsi sebagai motivator
dan fasilitator dalam proses perubahan dan
pemberdayaan masyarakat tersebut. Karena itulah

131
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

maka agen-agen perubahan itu harus dari kala-


ngan masyarakat itu sendiri.

8. Bagaimana Pemberdayaan Itu Dilakukan oleh


Masyarakat Secara Mandiri?

Ada beberapa tahapan yang seharusnya di-


lalui dalam melakukan pemberdayaan. Pertama,
membantu masyarakat dalam menemukan
masalahnya. Kedua, melakukan analisis (kajian)
terhadap permasalahan tersebut secara mandiri
(partisipatif). Kegiatan ini biasanya dilakukan de-
ngan cara curah pendapat, membentuk
kelompok- kelompok diskusi, dan mengadakan
pertemuan warga secara periodik (terus menerus).
Ketiga, menentukan skala prioritas masalah, dalam
arti memilah dan memilih tiap masalah yang
paling mendesak untuk diselesaikan. K.eempat,
mencari cara penyelesaian masalah yang sedang
dihadapi, antara lain dengan pendekatan sosio-
kultural yang ada dalam masyarakat. K.elima,
melaksanakan tin- dakan nyata untuk
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.
Keenam, mengevaluasi seluruh rangkaian dan
proses pemberdayaan itu untuk di- nilai sejauh
mana keberhasilan dan kegagalannya.

132
DIMENSI JENDER DALAM
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI
DAERAH RAWAN LONGSOR

Hj. Rr. Suhartini

1. Pendahuluan

Pengelolaan daerah rawan longsor membu-


tuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak,
utamanya masyarakat setempat. Baik individu
maupun kelompok secara bersama-sama berusaha
mencari akar permasalahan apa yang menyebab
kannya rawan longsor, dan apa yang harus dilakukan
untuk mengatasi kondisi tersebut.
Secara fisik, kondisi rawan longsor telah dapat
diketahui dengan mudah oleh orang awam, karena
pengalaman dan dapat diketahui secara teknis oleh
para ahli dalam bidang itu. Karenanya, tidak ada satu
alasan pun yang dapat dibenarkan, kalau tidak ada
perhatian pada daerah berkecen- derungan rawan
longsor.
Hanya saja, secara non-fisik perlu ada suatu
motivasi kepedulian masyarakat pada lingkungan-
nya, antara lain: melalui bimbingan sosial dalam
berbagai forum. Alternatif yang dapat ditawarkan
untuk membangun kepedulian masyarakat dalam

133
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

dimensi jender adalah perempuan terlibat dalam


transformasi sosial. Perempuan terlibat dalam
pembangunan sosial dan bukan menjadi objek
pembangunan sosial, sehingga seluruh potensinya
dapat berkembang secara wajar tanpa diskriminasi
jender.
Sebagaimana dikemukakan Midgley (1995: 103-
138) bahwa terdapat 3 strategi besar dalam
pembangunan sosial, yaitu:
a. Melalui individu (tanpa menunjuk jenis kelamin).
Individu-individu dalam masyarakat secara
swadaya membentuk usaha pelayanan masyarakat
guna memberdayakan masyarakat.
b. Melalui komunitas kelompok masyarakat secara
bersama-sama berupaya mengembangkan
komunitas lokalnya.
c. Melalui pemerintah, di mana pembangunan sosial
dilakukan oleh lembaga-lembaga di dalam
organisasi pemerintah.
2. Mengapa Jender

Untuk dapat menjelaskan mengapa relasi jender


dimunculkan dalam setiap usaha pemberdayaan
masyarakat/transformasi sosial/pem- bangunan
sosial, perlu ada kejelasan terlebih dahulu sosok
jender itu sendiri.
Jender adalah perbedaan yang tampak antara
laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan
tingkah laku (Websters New World Dictionary). Jender
merupakan konsep kultural yang berupaya membuat
134
Dimensi Jender dalam Pemberdayaan Masyarabat
pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas,
dan karakter emosional antara laki- laki dan
perempuan yang berkembang dalam masyarakat
(Women s Studies l i n y elope did). Jender sebagai suatu
dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-
laki dan perempuan pada kebu- dayaan dan
kehidupan kolektif, yang akibatnya mereka menjadi
laki-laki dan perempuan (H.T. Wilson dalam Sex and
Gender).
Sedangkan, pada saat phalic stage, perkem- bangan
kepribadian anak laki-laki dan perempuan mulai
berbeda. Perbedaan inilah yang melahirkan
perbedaan formasi sosial.
Perbedaan peran laki-laki dan perempuan ber-
sifat kodrati (Teori Nature), ditentukan oleh
konstruksi masyarakat. (Teori Nurture). Yang jelas,
perspektif jender dalam Al-Quran tidak sekadar
mengatur keserasian relasi jender (hubungan laki-
laki dan perempuan dalam masyarakat) tetapi juga
mengatur keserasian pola relasi antara mikrokos-
mos (manusia), makrokosmos (alam), dan Tuhan.
Perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan
perempuan adalah sebagai pembagian peran
untuk melestarikan harmoni dan stabilitas di
dalam masyarakat (Parsons). Oleh karena itu re-
lasi jender sepenuhnya diserahkan kepada masya-
rakat.
Kelamin laki-laki maupun perempuan mem-
punyai kewajiban yang sama untuk memberikan
kepeduliannya pada kondisi lingkungan di mana ia
135
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

berada, mengkontrol kehidupan mereka sendiri


dan mengusahakan untuk membentuk masa
depan sesuai dengan keinginan mereka bersama.
Perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan
perempuan dikatakan Parsons sebagai pembagian
peran untuk melestarikan harmoni dan stabilitas
didalam masyarakat. Oleh karena itu, relasi jender
sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat.
Kembali pada permasalahan awal, mengapa
pertimbangan jender menjadi salah satu pemba-
hasan dalam program pemberdayaan masyarakat,
hal ini lebih disebabkan (secara statistik) jumlah
perempuan lebih besar daripada laki-laki. Sebalik-
nya, dalam mengatasi permasalahan pembangun-
an dan transformasi sosial justru tidak
perempuan mendapatkan kesempatan
(terlupakan) terlibat langsung, (maupun tidak
langsung) dalam proses pembangunan sosial itu
sendiri. Apalagi proses pembangunan sosial itu
bukanlah suatu bentuk perubahan yang bersifat
cepat dan langsung jadi. Tidak jarang
pembangunan masih merupakan bentuk
perubahan antargenerasi, di mana perubahan
yang diharapkan tidak dapat langsung jadi satu
atau dua bulan kemudian, tetapi mungkin baru
dapat dirasakan beberapa generasi.
Ada beberapa kendala mengapa perempuan
terlupakan (Johnson) dalam pembangunan,
antara lain:

136
Dimensi Jender dalam Pemberdayaan Masyarabat
a. Kendala Struktur Sosial
Dalam hal ini perempuan masih
diperhadapkan dengan laki-laki, bahwa laki-
laki berada dalam wilayah publik dan
perempuan dalam wilayah domestik.
Karenanya, kontrol budaya pada perempuan
masih sangat kuat.
b. Kendala Minoritas Unik
Posisi lemah perempuan kurang disadan oleh
perempuan sendiri. Di samping itu ada juga
kelompok perempuan tenang walaupun
kelompok perempuan lain prihatin.
Ada juga yang melihat terdapat kelompok pe-
rempuan yang meresahkan, dan pada saat itu pula
ada yang memandang tidak meresahkan.
c. KendalaMitos
Yang telah mengendap sekian lama sehingga
perempuan menerima kenyataan dirinya ter
subordinasi, misalnya mitos tulang rusuk,
menstruasi, dsb.
Selain itu, kaum perempuan dianggap sebagai
masalah ekonomi modern. Keterbelakangannya
adalah akibat dari kebodohan dan sikap irrasional,
serta teguh pada nilai-nilai tradisional. Perbedaan
antara laki-laki, dan perempuan bukanlah menjadi
pembeda yang hanya menguntungkan satu pihak saja,
tetapi perbedaan tersebut adalah untuk mendukung
obsesi Al-Quran, yaitu terciptanya hubungan
harmonis yang didasari rasa kasih sayang, sehingga
cikal bakal terwujudnya komunitas ideal dalam suatu
137
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

negeri yang damai penuh ampunan (lihat AI-Quran


surat 30 ayat 21).

3. Pendekatan Jender dalam Mengatasi


Permasalahan Masyarakat di Daerah Rawan
Longsor

Dengan melihat kenyataan bahwa perbedaan


laki-laki dan perempuan tidak untuk dalam rangka
melakukan diskriminasi, maka keterlibatan pe-
rempuan dalam pembangunan sosial/transformasi
sosial/perubahan sosial juga mempunyai posisi
sentral.
Sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran bahwa
perempuan dibenarkan menyuarakan ke- benaran
dan melakukan gerakan oposisi terhadap berbagai
kebobrokan (Al-Quran surat 9 ay at 71). Perempuan
memiliki kemandirian politik (Al- Quran surat 60
ayat 12, 27 dan 23), perempuan memiliki
kemandirian ekonomi (Al-Quran surat 16 ayat 97,
28, dan 23). Perempuan memiliki kemandirian dalam
menentukan pilihan pribadi yang diyakini
kebenarannya: menghadapi suami bagi perempuan
yang telah menikah (Al-Quran surat 66 ayat 11), dan
menentang opini publik bagi perempuan belum
menikah (Al-Quran surat 66 ayat 12).
Dengan kemerdekaan berpendapat, perempuan
dapat menyuarakan ide-ide kecerdasannya untuk
terlibat langsung dalam memunculkan maupun
mengatasi permasalahan yang ada di wilayah daerah
rawan longsor. Lalu apa yang harus dilakukan oleh
138
Dimensi Jender dalam Pemberdayaan Masyarabat
kaum perempuan? Yang pertama adalah membuat
(laporan) analisis kebutuhan dalam mengatasi dampak
tanah longsor, atau menganti- sipasi jangan sampai
terjadi tanah longsor dalam kaca mata perempuan.
Dalam analisis kebutuhan ini Goodin (1990: 12-
29) berpandangan bahwa ada dua komponen pokok
yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu prioritas
dan kerelatifan. Metode yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kebutuhan menurut Green (1987)
antara lain: melalui tinjau- an pustaka; menggunakan
metode Delbecq; menggunakan metode Delphi;
menggunakan metode Curah Pendapat (brainstorming
dan menggunakan metode diskusi kelompok
terfokus.
Metode ini juga dapat digunakan untuk meng-
identifikasikan masalah dan kondisi sosial ekonomi
suatu masyarakat.
Dalam tulisan ini, metode yang dianjurkan ke-
pada para pengembang mayarakat daerah rawan
longsor dengan mempertimbangkan dimensi jender
untuk mengidentifikasikan dan menyusun kerangka
prioritas masalah adalah metode Delbecq, dengan
tahapan sebagai berikut:
a. Membentuk National Group Process. Adalah
mengatur agar dalam setiap pertemuan jumlah
peserta tidak melebihi 8 orang. (antara 6-8 orang),
dengan melalui seleksi (tentang pema- haman
mereka terhadap komunitasnya). Peserta adalah
merupakan perwakilan dari unsur positif dan
negatif dalam masyarakat (misal- nya: kelompok
139
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

kaya, miskin, dsb.). Pertemuan


Nominal Group Process (NGP) dilakukan beberapa
kali, dengan komposisiyang berbeda- beda
komposisi berubah-ubah, sehingga dapat
diperoleh suatu informasi yang merata. Kalau
pertemuan NGP dipandang telah cukup (yaitu
telah diperoleh informasi yang semakin menge-
rucut, maka selanjutnya dibuat kesimpulan tentang
prioritas permasalahan masyarakat yang ada di
desa wilayah tersebut.
b. Menyediakan selembar kertas untuk mencatat 3
masalah utama yang dihadapi desa/ wilayah
tersebut menurut masing-masing peserta, di
samping juga ditulis di papan tulis (sehingga
semua orang tahu). Pertanyaan yang diajukan oleh
peserta haruslah sesuai dengan tujuan dari
pertemuan itu sendiri. Pertemuan ini dipimpin
oleh moderator diskusi (yaitu pengembang
masyarakat).
c. Memberikan kesempatan kepada masing- masing
peserta untuk menjawab pertanyaan yang
diajukan. Jawaban peserta ditulis pada kertas yang
telah disediakan dan tidak dibenar- kan berkata-
kata dengan peserta lain. Kemu- dian jawaban
peserta itu ditulis di papan tulis
d. Memulai proses pencatatan jawaban peserta/
partisipan. Setiap peserta membacakan jawaban
yang ia berikan, moderator menuliskannya

140
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat
di papan tulis sampai seluruh jawaban peserta/
partisipan selesai dipresentasikan. Selama proses ini,
diskusi belum dilakukan.
Klarifikasi jawaban partisipan. Masing-masing peserta
diberi kesempatan untuk mengklarifi- kasikan
jawabannya pada partisipan lain. Untuk mencapai
efektivitas dan efisiensi klari- fikasi, moderator
diskusi harus dapat meng- arahkan secara tegas dan
lugas.
Melaksanakan pemungutan suara pertama. Masing-
masing partisipan diminta untuk me- milih sekitar 7
jawaban yang mereka anggap penting. Kemudian
diadakan penilaian yang dianggap paling penting
dengan skor 7 dan yang paling tidak penting dengan
skor 1. Moderator mencatat dan menjumlahkan nilai
pe- ringkat yang diberikan oleh masing-masing
partisipan. Jumlah nilai terbesar adalah pering- kat
pertama, dst.
Mendiskusikan hasil pemungutan suara pertama.
Pada saat ini adalah memperjelas jawaban yang
terpilih pada peringkat utama, se- hingga seluruh
partisipan dapat memperoleh pemahaman yang sama
mengenai jawaban- jawaban tersebut.
Dimensi Jender dalam Pemberdayaan Masyarabat
h. Melaksanakan proses penilaian suara yang ter-
akhir. Peringkat jawaban yang telah ada diuji lagi
dalam penilaian suara, yaitu memberikan nilai 10
pada jawaban paling penting, dan memberikan
nilai 0 pada jawaban yang kurang penting.
Kemudian dibuat nilai rata-rata setiap jawaban.
i. Melakukan kalkulasi suara secara keseluruhan.
Jawaban dari masing-masing kelompok disatu-
kan dan diatur dalam satu kategori baru. Ke-
mudian dilakukan penghitungan suara berda-
sarkan hasil rata-rata jawaban masing-masing
kelompok, dan jawaban dengan nilai yang paling
tinggi menjadi prioritas untuk dibahas.
Dari metode Delbecq ini, dimensi jender dapat
melalui komposisi peserta atau partisipan secara
proporsional. Walaupun dalam kenyataan- nya
(mungkin) sulit mencari banyak kaum perempuan
yang bersedia aktif dalam kegiatan ini.
&AFTAR PUSTAKA

Fauzil Ridjal, Lusi Margiani, Agus Fachri Husein


(ed.), 1993. Dinamika Gerakan Perempuan di
Indonesia. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Goodin, Rovbert, E., 1990. Relative Needs in
Ware, Robert E. Goodin (eds.), Needs and
Welfare. London: Sage Publications Ltd.
HA.R. Tilaar, 1997. Pengembangan STDM dalam Era
Globalisasi1Yisi, Misi, dan Program s\ksi
Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020. Jakarta:
Grasindo.
147
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

Isbandi Rukminto Adi, 2003. Pemberdayaan Pengem-


bangm Masyarakat dan Intervensi Komunitas
(Pengantar Pada Pemikiran dan Pendekat-
an Praktis). Jakarta:UI.
Mansour Faqih, V-)96.sl nalisis Gender dan Transfor-
masi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nasaruddin Umar, 2000. s\ rgumen Kesetaraan Jender
PerspekdifSil-Quran. j akarta: Paramadina.
PENGELOLAAN EKOSISTEM
KAWASAN UNTUK KONSERVASI
SUMBER DAYA AIR DAN PLASMA
NUTFAH

Imam Khambali

1. Pendahuluan

Ekosistem adalah sistem yang berlaku dalam


lingkungan di mana subsistem yang satu ber-
interaksi dengan subsistem yang lain membentuk
suatu keadaan yang menjamin terselenggaranya
kehidupan bagi semua mahluk hidup yang ada dalam
lingkungan tersebut. Manusia, sebagai makhluk yang
berakal, sering kali menggunakan akalnya untuk
memenuhi kebutuhannya tanpa mengindahkan
ekosistem ini. Karenanya, kerusakan lingkungan lebih
sering terjadi karena per- buatan manusia .
148
Semua air, baik yang di permukaan tanah mau-
pun yang di lautan, karena terik matahari akan

149
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

menguap ke udara. Hasil penguapan ini ditambah


dengan hasil-hasil penguapan dari tumbuhan, hewan,
dan manusia akan terkumpul di udara menjadi awan,
yang apabila temperaturnya men- capai titik cair akan
turun ke bumi sebagai air hujan. Air hujan ini
sebagian akan meresap ke dalam tanah, sebagian
lainnya akan mengalir di permukaan tanah menjadi
sungai dan bermuara di lautan. Penguapan air yang
kemudian berubah menjadi awan dan turun menjadi
air hujan ini disebut sebagai siklus air. Siklus air yang
terjadi secara alamiah (sunatullah) ini akan berjalan
baik dan menjadi rahmat bagi semua mahluk hidup
apabila tidak terganggu oleh perbuatan manusia.
Plasma nutfah adalah semua jenis mahluk hidup
asli di suatu lingkungan yang bernilai ter- tentu bagi
lingkungannya, yang kadang-kadang tidak dipahami
manfaatnya oleh manusia, tetapi harus dijaga
kelestariannya, agar lingkungan tersebut tidak
menjadi gangguan bagi manusia. Contoh akar
tanaman dan humus yang selain menjaga stabilitas
tanah, juga menahan air hujan yang meresap ke
dalam tanah untuk tidak cepat mengalir ke sungai
atau ke tempat rendah lainnya. Barangkali masih
banyak fungsi akar tanaman dan humus lainnya yang
belum diketahui manusia akan manfaatnya, sehingga
manusia menjadi kurang peduli terhadap keberadaan
mereka.
Manusia diciptakan Allah SWT. sebagai kha-
lifah di bumi ini. Khalifah yang baik hendaknya
memiliki kearifan dan kemampuan yang tinggi untuk
mengelola bumi dan isinya ini, termasuk di dalamnya
150
Pengelolaan Ekosistem kawasan untuk Konservasi
adalah menjaga (mengkonsetvasi) sumber daya air
dan plasma nutfah tersebut. Ber- ikut ini kita bahas
bagaimana kita mengkonservasi sumber daya air dan
plasma nutfah dalam suatu kawasan atau lingkungan
hidup tertentu.

2. Konservasi Sumber Daya Air

Konservasi sumber daya air adalah pengelolaan


sumber daya air yang menjamin pemanfaatan- nya
secara bijaksana dan menjamin kesinambung- an
persediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai dan kuantitas keber-
adaannya.
Terdapat 3 aspek yang terkandung dalam pe-
ngertian konservasi sumber daya ini, yaitu: aspek
kearifan dalam pemanfaatan (supaya lestari); aspek
perlindungan sistem penyangganya; dan aspek
pengawetan dan pemeliharaan atas keberadaan- nya.
Pemanfaatan lahan pertanian untuk industri dan
perumahan karena pertumbuhan penduduk yang
pesat serta pemeliharaan kebutuhannya yang makin
berkembang, akan mendesak lahan hutan di atasnya
untuk kegiatan pertanian dan peter- nakan (lihat
gambar 1) serta sumber mata pencaharian lainnya.
Hutan sebagai penyangga keber- adaan sumber daya
air menjadi terancam keber- adaanya.
Secara teoretis, untuk menyangga keberadaan
sumber daya air hutan lingkup pada ketinggian 400
m dari muka laut, minimum harus diper- tahankan
151
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

pada 35 % dari keseluruhan lahan yang ada.


Sedangkan untuk lokasi-lokasi tertentu, misalnya di
daerah hulu pengaliran sungai, harus lebih besar dari
35 %. Akibat dari perkembangan yang disebutkan di
atas, prosentase hutan lindung tersebut tinggal 12
DID (hasil studi 1972). Pada- hal kondisi sistem tata
air pada suatu kawasan, ditentukan oleh 4 faktor
berikut ini: tumbuhan penutup tanah (mengurangi
surface run-ojf)\ topo- grafi; iklim; dan geologi.
Pemanfaatan yang arif dari sumber daya air akan
terjadi bila manusia tetap berprinsip mena- nam
tidak melebihi kemampuan daya autoregene-
rasinya. Pendekatan ekosistem perlu dilakukan agar
pemanfaatan air untuk berbagai keperluan selalu
dilihat dalam proporsi yang luas dan menye- luruh,
sehingga aspek-aspek sampingan yang me- rugikan
dapat dihindari. Apabila kita mengalami banjir di
musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, ini
adalah petanda bahwa kita tidak arif dalam
memanfaatkan sumber daya alam, dan tidak
menggunakan pendekatan ekosistem dalam
menjalani kehidupan.
Selain ini, koordinasi kegiatan yang diberita- kan
untuk melindungi sumber daya air, selalu ber- kisar
antarlembaga pemerintah dan industri swasta. Tidak
pernah diungkap betapa besar peran masyarakat
(utamanya masyarakat kehutanan) dalam
menyukseskan upaya melindungi sumber daya air
tersebut.
Baru-baru ini (2 Juli 2003 di Palangkaraya)
152
Pengelolaan Ekosistem kawasan untuk Konservasi
Menteri Kehutanan RI mencanangkan pemberdayaan
masyarakat kehutanan agar dapat mene- kan illegal
loging (pembabatan hutan secara liar). Prinsip
pemberdayaan tersebut adalah mem- bangun
masyarakat kehutanan sebagai subjek pembangunan
yang perlu mendapat perhatian lebih, sehingga tidak
saja menjadi pelaku pembangunan hutan, pemanfaat
hutan, tetapi sekaligus juga pengawas hutan.
Pada saat masyarakat telah berfungsi sebagai
pembangun, pemanfaat, dan pengawas hutan, maka
sumber daya air akan lestari, dan bahkan meningkat
dari segi kualitas nilai maupun kuan- titas
keberadaannya. Berikut ini kegiatan yang
perlu dilakukan masyarakat kehutanan, dengan
turut menkonservasi sumber daya air.

3. Menjaga Kawasan Hutan Lindung, Agar Tanahnya


Selalu Tertutup oleh Tanaman (Tidak Membiarkan
Tanah Terbuka Tanpa Tanaman)

Perhatikan data air larian berikut ini:


Tabel 1
Kondisi Air Lapisan Menurut Jenis Penutup Tanah

153
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat
Jenis penutup tanah
Erosi dalam tiap
% air hujan yang ha/tahun
mengalir di atas tanah

Hutan rimba
0.8 20
Hutan terbakar 2.6 470
Tanah berumput 1.51 540

Tanah ditanami jagung 17.59 41500

Tanah ditanami kapas 19.97 46900


Tanah gundul 49 514000

Sumber: Hadi Poemomo: masalah pengendalian airdidaerah aliran sungai


Solo Hulu dalam Seminar Pengelolaan Sumber daya Air, 27-29. Maret
1974

4. Apabila Memanfaatkan Potensi Sumber Daya


Hutan, Apakah yang Harus Diperhatikan?

a. Hutan Lindung mudak. Hutan ini benar-benar


dikhususkan fungsinya untuk melindungi dan
dibebaskan dari fungsi produksi.
b. Hutan lindung dengan fungsi terbatas. Di sini
hutan berperanan utama melindungi dan masih
mempunyai fungsi produksi walaupun sangat
terbatas.
Ketentuan tersebut membatasi pemanfaatan
vegetasi sebagai salah satu sumber daya hutan yang
keberadaannya berfungsi sebagai pelindung atas
tanah dan sumber daya lainnya. Hal ini di- dasarkan
pada pedoman pelaksanaan prioritas berikut ini:
a. Pada ketinggian di atas 500 m dari muka laut
dengan lereng lebih dari 15% merupakan hutan
lindung mudak.
b. Pada ketinggian di atas 500 m dari muka laut
154
Pengelolaan Ekosistem kawasan untuk Konservasi
dengan lereng lebih kecil dari 15% adalah hutan
lindung dengan fungsi terbatas.
c. Pada ketinggian di bawah 500 m dari muka laut
dengan lereng lebih dari 25% merupakan hutan
lindung mudak.
Walaupun pedoman tersebut dibuat untuk
melindungi sumber daya air, namun penetapan- nya
juga masih harus mempertimbangkan faktor
topografi, iklim, tanah, dan kepadatan penduduk.
Kebijaksanaan membangun peran serta aktif
masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya
air dengan memberikan peluang masyarakat
mengambil manfaat hutan, perlu disertai pena-
naman pemahaman tentang keuntungan dan ke-
rugian dari keberadaan vegetasi dan sumber daya air
di hutan kawasan aliran sungai. Selain itu, perlu juga
diatur kesepakatan-kesepakatan dengan masyarakat
pemanfaat hasil hutan dengan segala sanksi yang
diterapkan bagi setiap pelanggaran atas kesepakatan
tersebut.

5. Konservasi Plasma Nutfah

Pertumbuhan penduduk dan perkembangan


teknologi yang pesat menyebabkan permintaan akan
sumber daya alam yang meningkat pula. Sementara
itu kemampuan untuk mengelola lingkungan hidup
masih tertinggal, sehingga terjadi kemerosotan
kualitas lingkungan yang besar. Pengelolaan
memerlukan pemahaman akan kerja sama yang baik
155
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

antara semua yang berkepen- tingan dengan


lingkungan hidup, tidak hanya antarlembaga
pemerintah dan swasta saja, tetapi juga antara
pemerintah dan masyarakat. Kegiatan meningkatkan
pemahaman masyarakat akan pentingnya lingkungan
hidup bagi kepentingan manusia dan generasi
selanjutnya, menjadi sangat penting untuk
diselenggarakan.
Undang-undang tentang lingkungan hidup
menjelaskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup
bertujuan sebagai berikut:
a. Tercapainya keselarasan hubungan antara
manusia dengan lingkungan hidup sebagai tujuan
membangun manusia Indonesia seutuh- nya.
b. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara
bijaksana.
c. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai pem-
bina lingkungan hidup.
d. Terlaksananya pembangunan berwawasan ling-
kungan untuk kepentingan generasi sekarang dan
mendatang.
e. Terlindunginya negara terhadap dampak kegiatan
di luar wilayah negara yang menyebab- kan
kerusakan dan pencemaran lingkungan.
Tujuan seperti ini hanya akan terwujud bila disertai
peran serta aktif manusia Indonesia, baik

156
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

sebagai individu maupun sebagai masyarakat secara


bersama. Pemerintah berkewajiban mengatur agar
antara peran serta masyarakat dengan
kepentingan/kesejahteraan mereka mendapat
perhatian yang seimbang.
Plasma nutfah, sebagaimana disebutkan di muka,
adalah mahluk hidup asli yang berinteraksi dalam
suatu lingkungan hidup (kawasan) yang
keberadaannya menentukan kelestarian dari
lingkungan hidup tersebut. Karena itu perlu dijaga
agar keberadaannya mencapai keserasian dan
keseimbangan lingkungan walaupun telah terjadi
perubahan akibat adanya pembangunan. Peman-
faatan hutan dan lingkungannya dengan sekecil
mungkin menimbulkan gangguan terhadap plasma
nutfah adalah wujud dari tujuan butir a dan b di atas.
Undang-undang tentang lingkungan hidup juga
menjelaskan tentang konservasi sumber daya alam.
Plasma nutfah sebagai sumber daya alam perlu
dikonservasi, artinya dikelola dengan men- jamin
pemanfaatannya secara bijaksana dan men- jamin
kesinambungan persediaannya dengan tetap
memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan
keseragamannya. Konservasi plasma nutfah dapat
dilakukan dengan tindakan atau usaha sebagai
berikut:
a. Perlindungan sistem kehidupan.
b. Pengawetan keragaman jenis.
c. Pelestarian pemanfaatan plasma nutfah dan tata
lingkungannya.
157
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

Tindakan ini dapat diselenggarakan dengan


mencegah terjadinya erosi, mencegah terjadinya
penebangan hutan secara tidak terkendali, dan
menjaga tata air dan ekosistemnya. Wujudnya dapat
dilakukan dengan menjaga kestabilan sistem tata air
melalui usaha reboisasi dan penghijau- an di daerah-
daerah kritis. Selain itu dapat pula dilakukan kegiatan
berikut ini:
a. Terassering bukit/lereng gundul.
b. Cara bercocok tanam di lereng secara contour
farming atau contour plowing.
c. Penanaman tanaman ground covers dan tanaman-
tanaman yang dapat mencegah atau mengura- ngi
erosi.
d. Pembuatan waduk di sungai-sungai, dengan
tujuan utamanya untuk menampung air di musim
hujan dan menyediakan air untuk irigasi maupun
untuk keperluan lainnya di musim kemarau.
e. Pengaturan dan perbaikan sungai.
f. Pencegahan penebangan hutan secara liar (tidak
berencana).
Agar semua usaha dan tindakan tersebut dapat
terselenggara dengan baik, perlu disusun rencananya
secara cermat, dilaksanakan dengan baik, dan diawasi
pelaksanaannya secara rutin sehingga tidak akan
menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

158
Pengelolaan Ekosistem kawasan untuk Konservasi
K Hardjasoemantri, 1983. Hukum Tata Ung- kungan.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Otto Soemarowto, dkk., 1997. Ekologi dan
Pembangunan No. 5, Juli 1977. Dalam
Seminar Pengelolaan Sumber Daya Air,
Kumpulan Kertas Kerja danKertas Kerja
Tambahan. bandung: Lembaga Ekologi
Universitas Pajajaran.
Otto Soemarwoto, 1985. Ekologi, Ungkungan Ylidup
dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan.
Salvato, JAJr, 1972. EnvironmentalEngineering and
Sanitation. New York: Wiley-Interscience.
Supriharyono, dkk., Ekologi Sistem, Suatu Pengantar.
Semarang: Universitas Diponegoro.

159
PENYULUHAN KEPADA
MASYARAKAT KEHUTANAN DI
DAERAH RAW AN LONGSOR

A . Halim

1. Pendahuluan

Sumber Daya Hutan (SDH) selama hampir tiga


dasa warsa terakhir ini telah memberikan sumbangan
yang cukup signifikan bagi pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun
pemanfaatan SDH secara bijaksana dan
berkelanjutan telah dituangkan dalam konsep
GBHN, tetapi dalam praktiknya justru terjadi
pengrusakan hutan yang tidak terkendali dengan
segala bentuk kerusakan lingkungan (banjir, erosi,
kekeringan, dan tanah longsor) yang sangat meng-
khawatirkan, termasuk merosotnya fungsi hidro-
logis Daerah Aliran Sungai (DAS).
Oleh karena itu, Departemen Kehutanan telah
meletakkan paradigma baru pembangunan kehutanan
dengan pendekatan ekosistem resource based management
yang berbasis pada forest community based development
(FCBO). Dengan demikian pembangunan kehutanan
harus memperhatikan daya dukung ekosistem Sumber
Daya Hutan (SDH), sehingga fungsi ekonomi, ekologi,

160
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

dan sosial SDH dapat berfungsi optimal, selaras, dan


seimbang.
Pembangunan kehutanan ke depan juga harus
mengakomodir berbagai isu sehubungan dengan era
globalisasi dan pelaksanaan otonomi daerah, antara lain:
sorotan internasional terhadap kerusakan lingkungan,
perdagangan bebas (AFTA dan APEC), kemerosotan
biodiversitas, illegal logging, kebakaran hutan,
pengelolaan SDA oleh pemerintah daerah, perimbangan
pendapatan SDA pusat dan daerah, serta masalah
kemiskinan dan hak asasi manusia.
Dengan adanya pergeseran paradigma pembangunan
kehutanan, menghadapi tantangan era globalisasi dan
pelaksanaan otonomi daerah, maka perlu dipersiapkan
Sumber Daya Manusia (SDM)/ masyarakat yang
berkualitas, mandiri, dan ber- peran aktif sebagai pelaku
pembangunan kehutanan. Dalam rangka itu penyuluhan
kehutanan memiliki peran strategis, baik dalam upaya
meningkatkan kualitas, kemandirian, dan pemberdayaan
masyarakat, maupun dalam upaya peles- tarian SDH dan
pengelolaan DAS.
Oleh karena itu, perlu dilakukan orientasi
konsep/paradigma penyuluhan kehutanan, ke-
bijaksanaan, strategi, program, dan koordinasi
pelaksanaan kegiatan prioritasnya. Sebagai bagian dari
pembangunan kehutanan, penyuluhan kehutanan
mendukung terciptanya sebesar-besar kemakmuran
rakyat yang berkeadilan dan ber- kelanjutan dengan
peningkatan kemampuan untuk mengembangkan
kapasitas dan keberda- yaan masyarakat secara
161
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan


sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan
ekonomi.
Mengingat peranan penyuluhan kehutanan
merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan,
pengembangan kapasitas dan keberdayaan masyarakat,
maka penyelenggaraan kegiatan operasional penyuluhan
kehutanan harus tetap menjadi prioritas pembangunan
kehutanan di masa mendatang. Caranya dengan melalui
koordinasi penyelenggaraannya yang lebih baik lagi
antar- dinas/instansi terkait, swasta kelompok/lembaga
masyarakat dan dunia usaha, agar penyelenggaraan
kegiatan penyuluhan. kehutanan dan pember-

162
I
I
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat
dayaan masyarakat dapat berjalan sesuai dengan i i

yang diharapkan.

2. Maksud

Model penyelenggaraan penyuluhan kehutan-


an dimaksudkan sebagai acuan dasar untuk mem-
fasilitasi pelaksanaan penyuluhan kehutanan oleh
lembaga yang mempunyai fungsi penyuluhan dan
pemberdayaan masyarakat.

3. Pengertian

a. Penyuluhan adalah proses perubahan perilaku


di kalangan masyarakat agar mereka tahu,
mau, dan mampu melakukan perubahan demi
tercapainya peningkatan produksi, pendapat-
an/keuntungan dan perbaikan kesejahteraan-
nya.
b. Penyuluhan kehutanan adalah proses
perubahan perilaku masyarkat, dunia usaha,
dan aparat pemerintah mengarah pada
pemahaman tentang manfaat pembangunan
kehutanan agar terdorong untuk berperan
aktif dan berdaya dalam posisinya sebagai
pelaku maupun pen- dukung pembangunan
kehutanan.

163
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

c. Penyuluh kehutanan adalah pegawai negeri sipil yang


diberi tugas, tanggung jawab, dan wewe- nang
melakukan kegiatan penyuluhan kehutanan secara
penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan
organisasi yang memiliki kewe- nangan di bidang
penyuluhan kehutanan.
d. Penyuluhan kehutanan swadaya masyarakat adalah
anggota masyarakat, baik individu maupun kelompok
yang secara swadaya aktif ber- peran dalam upaya
penyuluhan kehutanan.
e. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk
membangun, menguatkan dan mengembangkan
kelembagaannya serta dilakukan pendampingan secara
berkelanjutan menuju ke arah kemandirian.
f. Materi penyuluhan kehutanan adalah materi- materi
yang berasal dari institusi Departemen Kehutanan,
dunia usaha dan kelompok masyarakat yang terkait
bidang kehutanan.
g. Metoda penyuluhan kehutanan adalah cara
mempertemukan penyuluh dengan masyarakat
sasaran penyuluhan yang dapat dikelompokkan
dengan tiga pendekatan yaitu: pendekatan per-
orangan; pendekatan kelompok; dan pendekatan
massal.
4. Keadaan dan Permasalahan

a. Keadaan/Kondisi Saat Ini


(1) Ketergantungan masyarakat di sekitar hutan
terhadap pemanfaatan sumber daya hutan sebagai
mata pencaharian untuk menopang kelangsungan
164
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

hidupnya masih dominan.


(2) Kelembagaan masyarakat yang berbasis kehutanan
umumnya masih lemah, baik di bidang
pengorganisasian, manajerial maupun aturan
pengikatnya.
(3) Keadaan rendahnya kualitas SDM masyarakat
sekitar hutan, masalah permodalan, dan tidak
adanya akses pasar, juga menjadi faktor yang
kurang mendukung upaya pemberdayaan
masyarakat sekitar hutan.
(4) Keadaan jumlah dan penyebaran Sumber Daya
Manusia (SDM) penyuluh kehutanan yang ada
masih belum mencukupi sehingga penyebarannya
belum merata sesuai dengan keadaan wilayah
binaan yang ada.
(5) Perkembangan penyelenggaraan Kegiatan
penyuluhan kehutanan sampai saat ini yang
menyangkut dengan peningkat- an kemampuan
kelembagaan (penyusunan rencana dan program,
kerja sama dengan lembaga terkait), SDM
penyuluh (kualitas maupun kuantitasnya), dan
pengembangan metoda/materi (media cetak, audio
visual, dan rapat regional), masih belum dapat ber-
jalan sesuai yang diharapkan.

b. Permasalahan
(1) Lemahnya kelembangaan masyarakat, rendahnya
tingkat pendidikan dan kemiskinan masyarakat
sekitar hutan merupakan permasalahan
fundamental yangperlu dita- ngani secara terpadu
165
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

dan sebagai bagian integral dari pembanguan


kehutanan.
(2) Potensi sumber daya masyarakat, dunia usaha,
LSM dan pihak swasta dalam pelaksanaan
penyuluhan kehutanan belum ter- salurkan secara
optimal, sehingga intensifi- kasi program
penyuluhan kehutanan secara nasional maupun
regional belum sesuai harapan.
(3) Pendekatan metoda dan sistem peyuluhan
kehutanan dipandang sudah kurang sesuai lagi,
sehingga ke depan perlu dilakukan re- orientasi
konsep penyelenggaraan penyuluhan kehutanan
sesuai dengan era demokrasi dan otonomi daerah.
(4) Organisasi dan Tata Hubungan Kerja ke-
lembagaan penyuluhan kehutanan antara
pemerintah, pemerintah propinsi dan
kabupaten/kota setelah berlakunya UU Nomor 22
Tahun 1999 dan PP Nomor 25 tahun 2000 belum
ditata secara mantap, se- hingga penyelenggaraan
penyuluhan kehutanan di tingkat kabupaten/kota
masih belum bisa berjalan secara optimal.
(5)Penggalian sumber dana dari pemerintah,
pemerintah propinsi, kabupaten/kota,
swasta/dunia usaha, kelompok masyarakat dan
bantuan luar negeri (BLN) untuk pembinaan dan
pelaksanaan penyuluhan kehutanan belum
optimal.

166
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

5. Dasar Hukum dan Organisasi

a. Dasar Hukum
Sebagai dasar hukum penyelenggaraan penyuluhan
kehutanan adalah tertuang dalam:
(l) Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999, tentang
kehutanan:
(a) Penyuluhan kehutanan bertujuan untuk me-
ningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan
mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau
dan mampu mendukung pembangunan kehutanan
sehingga terwujud masyarakat mandiri yang
berbasis kehutanan.
(b) Sedangkan sasaran penyuluhan kehutanan adalah:
- Masyarakat yang berbeda di dalam dan di luar
kawasan hutan yang berkaitan dengan
pembangunan kehutanan.
- Kegiatan pembangunan kehutanan yang
meliputi: pengelolaan hutan alam, pem-
bangunan hutan tanaman, HKM, hutan
desa/adat, aneka usaha kehutanan, per-
benihan, pengelolaan Taman Nasional, kegiatan
konservasi SDA, rehabilitasi lahan, dan
pengelolaan DAS.
(c) Penyelenggaraan penyuluhan kehutanan dilakukan
oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
(d) Pemerintah mendorong dan menciptakan kondisi
yang mendukung terselenggarannya kegiatan
penyuluhan kehutanan.
167
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

(2) Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, tentang


Pemerintah Daerah, Peraturan Pemerintah No. 62
tahun 1998, tentang Penyerahan Sebagian Urusan
Pemerintah di Bidang
Kehutanan kepada Daerah, dan Peraturan
Pemerintah No. 25 tahun 2000.

b. Organisasi
Organisasi penyelenggaraan penyuluhan kehutanan
diatur sebagai berikut:
(1) Pemerintah
(a) Pemerintah pusat.
(b) Kegiatan penyuluhan kehutanan diseleng-
garakan oleh Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan
bersama-sama dengan kelompok Fungsional
Penyuluhan Kehutanan Ahli (PKA).
(c) Pemerintah Propinsi.
(d) Pada pemerintah propinsi kegiatan penyuluhan
kehutanan diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan
Propinsi.
(e) Di samping itu juga sebagai pendukung
penyelenggaraan penyuluhan kehutanan dilakukan
juga oleh UPT Departefnen Kehutanan yang
mempunyai fungsi pemberdayaan masyarakat
antara lain: Balai Pengelolaan (BP) DAS, Balai
Taman Nasional (BTN), Balai Konservasi Sumber
Daya Alam (BKSD).
(2) Pemerintah Kabupaten/Kota
Pada pemerintah Kabupaten/kota penye- lenggaraan
kegiatan penyuluhan kehutanan diselenggarakan oleh
168
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

Dinas Kehutanan, Kehutanan, dan Dinas


Perkebunan/Pertanian.
(3) Dunia Usaha
Penyuluhan kehutanan pada dunia usaha dilaksanakan
oleh pelaku-pelaku usaha di bidang kehutanan yang
mempunyai fungsi pemberdayaan masyarakat antara
lain: PT. PERHUTANI Unit II.
(4) Masayarakat
Penyelenggaraan penyuluhan kehutanan oleh
masyarakat dilaksanakan secara:
- Perorangan, yang didasarkan atas kesadar- an dan
kemampuan individu antara lain: Penyuluh
Kehutanan Swadaya Masyarakat ( PKSM), Kontak
Tani Nelayan Andalan (KTNA), petani pembantu,
kader Konservasi dll.
- Kelompok yang umumnya terbentuk dengan satu
usaha bersama atau kebutuhan yang sama, antara
lain Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM ), KPSA,
Kelompok Pecinta Alam ( KPA ), Karang Taruna
dll.

169
/ Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat
6. Visi, Misi, Kebijakan, dan Strategi

a. Visi

Sejalan dengan perkembangan peraturan perundang-


undangan kehutanan, otonomi daerah, dan kebijakan
program Departemen Kehutanan, maka penyuluhan
kehutanan ke depan mengem- ban visi: 'Tenvujudnya
Penyuluhan Kehutanan Nlrnuju M.asyarakatM.andiri Berbasis
Kehutanan.
Masyarakat mandiri berbasis kehutanan me-
ngandung arti bahwa masyarakat telah memiliki
kelembagaan yang kuat, kemampuan, dan kemandirian
secara ekonomi-sosial dengan berbasis pada SDH dan
lahan, serta pemahaman fungsi dan manfaatnya sebagai
lestari penyangga kehidupan, se- hingga berpartisipasi
aktif dalam pelestarian SDH dan pengelolaan DAS.

b. Misi

Dalam rangka mewujudkan visi yang telah di-


tetapkan tersebut, maka misi penyuluhan kehutanan
adalah sebagai berikut:
(1) Mengembangkan dan memantapkan program
pembagunan kehutanan secara kemitraan dengan
para stakeholders dan masyarakat.

170
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

(2) Mengembangkan metode dan materi penyuluhan


kehutanan sesuai dengan kemajuan teknologi dan
kebutuhan masyarakat.
(3)Meningkatkan pembinaan dan pelayanan kehutanan
secara profesional dengan tetap mem- perhatikan
nilai-nilai sosial dan budaya lokal.
(4)Mengembangkan akses pelayanan penyuluhan
kehutanan kepada seluruh lapisan masyarakat.

c. Kebijakan
Kebijakan operasional penyelenggaraan penyuluhan
kehutanan yang akan ditempuh sebagai
berikut:
(1)Pengembangan sistem perencanaan dan program
penyuluhan kehutanan dengan pendekat- an bottom up-
top down yang melibatkan semua instansi dan
stakeholders yang terkait.
(2)Peningkatan fungsi kelembagaan penyuluhan
kehutanan, baik di tingkat pemerintah pusat, propinsi,
kabupaten/kota, dunia usaha, dan kelompok
masyarakat.
(3)Peningkatan peran penyuluhan kehutanan dalam
pembangunan kehutanan dengan pen- dekatan sistem
penyuluhan yang berorientasi pada paradigma
penyuluhan sebagai proses pemberdayaan
masyarakat sesuai kebijakan pemerintah,
perkembangan teknologi, informasi pasar, dan
tuntutan era otonomi daerah.
(4)Desentaralisasi penyelenggaraan penyuluhan
kehutanan dititikberatkan pada pemerintah
171
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

kabupaten/kota untuk mendorong partisipasi aktif


dunia usaha dan kelompok masyarakat dalam
kegiatan penyuluhan kehutanan
(5)Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM penyuluh,
sarana, prasarana, dan pendanaan sesuai dengan
kebutuhan, sehingga penyuluhan kehutanan dapat
dilaksanakan secara profesio- nal, efektif, dan efesien

7. Strategi Pelaksanaan
a. Reorientasi sistem dan metode penyelenggaraan
penyuluhan kehutanan yang semula
berparadigmaproses alih informasi dan teknologi menjadi
prosespemberdayaan mayarakat.
(1) Reorientasi kebijaksanaan penyelenggaraan
penyuluhan berparadigma baru dengan
pendekatan kemitraan bersama swasta/
BUMN/LSM.
(2) Meningkatkan peran penyuluhan dalam
pembangunan kehutanan melalui pemberdayaan
masyarakat.
(3)Pengembangan metode dan materi penyuluhan
kehutanan sesuai dengan perkem- bangan
teknologi dengan pendekatan antara lain: metode
penggalian teknologi kearifan lokal melalui
learningprocess, kerja sama teknik luar negeri, dengan
Perguruan Tinggi dan LSM.
b. Mengembangkan Forum Koordinasi Program (FKP)
penyuluhan kehutanan secara nasional dan regional,
serta networking antara pemerintah, DPR, DPRD, dan
para pihak/stake- holders yang terkait.
172
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

c. Memantapkan kelembagaan (organisasi dan tata


hubungan kerja) penyuluhan kehutanan:
(1)Pemantapan kelembagaan pemerintah pusat dan
daerah dalam penyelenggaraan penyuluhan
kehutanan
(2) Penguatan kelembagaan masyarakat melalui
pendekatan pendampingan
d. Meningkat jumlah tenaga dan kemampuan SDM
penyuluh kehutanan melalui pendidikan dan
latihan/training dalam dan luar negeri, serta
penjenjangan tenaga fungsional penyuluh.
e. Mengembangkan Sistem Informasi Manajemen (SIM
), penyuluhan kehutanan, sosialisasi, dan penyebaran
informasi.

173
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

f. Meningkatkan sarana dan prasarana penyuluhan


kehutanan sesuai dengan kebutuhan dan, penggalian
sumber dana pemerintah, dunia usaha, masyarakat,
dan sumber dana dari Bantuan Luar Negeri (BLN)
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

8. Program dan Sasaran Kegiatan Penyuluhan

a. Program dan Kegiatan Pokok Penyuluhan Kehutanan


(1) Program pengembangan jaringan kelembagaan dan
kemitraan penyuluhan dalam rangka otonomi daerah.
Tujuan:
Untuk memantapkan sistem perencanaan bottom up-top
down, koordinasi, dan mengembangkan komunikasi
dua arah antara penyelenggara penyuluhan kehutanan
dengan stakeholders/ masyarakat.
Kegiatanpokok:
- Pengembangan dan penguatan kelembagaan dan
kemitraan penyuluhan kehutanan.
- Fasilitas dialog dan networking penyuluhan
kehutanan antara pemerintah (pusat, pem-

174
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

prop, dan pemkab/kota), dunia usaha, dan


masyarakat.
(2) Program pengembangan sistem, metode, dan materi
penyuluhan kehutanan.
Tujuan:
Untuk memantapkan sistem, metode, dan materi
penyuluhan kehutanan sesuai dengan perkembangan
teknologi dan tuntutan pembangunan kehutanan serta
kondisi spesifik lokal.
Kegiatanpokok:
- Pengembangan metode dan materi penyuluhan
kehutanan dalam rangka konservasi dan
rehabilitasi SDA.
- Pengembagnan model pemberdayaan masyarakat
sekitar kawasan hutan Taman Nasional dan
Daerah Aliran Sungai.
- Sosialisasi pembinaan generasi muda terhadap
pelestarian hutan dan lingkungan pendidikan luar
sekolah.
(3) Program penguatan kelembagaan dan pemberdayaan
masyarakat sekitar hutan dalam pe- nanggulangan
illegal loging, kebakaran hutan, rehabilitasi, dan
konservasi hutan.

t
t

175
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

Tujuan:
Untuk meningkatkan kemampuan kelem- bagaan dan
kemandirian masyarakat sehingga berfungsi sebagai
penggerak utama dalam pengembangan
perekonomian masyarakat berbasis aneka usaha
kehutanan secara berke- lanjutan dan pelestarian
SDA.
Kegiatan pokok:
- Pembinaan dan penyelenggaraan pelayanan
penyuluhan kehutanan di daerah ( propinsi,
kabupaten/kota).
- Penguatan dan pemberdayaan masyarakat di
sekitar hutan.
- Penguatan dan pemberdayaan masyarakat dalam
rangka pengelolaan DAS terpadu.
(4)Program pengembangan akses pelayanan informasi
dan kampanye penyuluhan rehabilitasi serta
konservasi SDA.
Tujuan:
Untuk meningkatkan pelayanan dan akses informasi
penyuluhan kepada seluruh lapisan masyarakat secara
aktual, tepat, dan cepat.
Kegiatan pokok:
- Pengembangan SIM dan peta data base
penyuluhan kehutanan.
- Penyelenggaraan PPKAN tingkat propinsi.
- Kampanye penyuluhan penanggulangan illegal
logging dan kebakaran hutan, konservasi, dan
rehabilitasi lahan/SDA melalui media elektronik
176
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

dan cetak.
(5) Program peningkatan profesionalisme SDM
penyuluhan dan pengembangan sumber dana serta
sarana prasarana.
Tujuan:
Untuk meningkatkan kemampuan dan pro-
fesionalisme SDM penyuluhan, penggalian sumber
pendanaan, pemenuhan sarana, serta prasarana sesuai
kebutuhan dan perkembangan pembangunan
kehutanan.
Kegiatan Pokok:
- Peningkatan profesionalisme SDM penyuluhan
kehutanan.
- Pembinaan SDM penyuluh swadaya.
- Pengembangan sarana dan prasarana serta
peralatan penyuluhan kehutanan.
b. Sasaran Kegiatan Penyuluhan Kehutanan
Kelompok sasaran penyuluhan kehutanan, pada
dasamya adalah penerima manfaat atau beneficiaries
pembangunan kehutanan yang terdiri dari individu atau
kelompok masyarakat yang terlibat secara langsung
maupun tidak langsung dalam kegiatan pembagunan
kehutanan.
Adapun yang termasuk penerima manfaat
pembangunan kehutanan ini adalah masyarakat desa
hutan baik yang tinggal di dalam maupun di luar
kawasan hutan, aparat pemerintah dinas/ instansi terkait,
peneliti, Perguruan Tinggi, dan lembaga pelayanan/jasa
yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam
177
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

kegiatan pembangunan kehutanan.


Dilihat dari cakupan wilayahnya kelompok sasaran
penyuluhan kehutanan adalah mencakup seluruh warga
masyarakat penerima manfaat pembangunan kehutanan.
Di dalamnya, baik yang tinggal di dalam maupun yang
tinggal di sekitar kawasan hutan, dan mereka yang
hidup/menggantung- kan kehidupannya secara langsung
dari usaha kehutanan (komoditas kayu maupun non-
kayu, flora, fauna, dan keragaman hayati lainnya).
Dalam hal ini pemanfaatan hutan seyogianya
tidaklah berdasarkan pada suatu persepsi yang
melihat bahwa hutan adalah sebagai sumber ke-
untungan. Sebaliknya, itu semua harus berdasarkan
pada suatu pengertian bahwa hutan adalah sumber
kehidupan manusia, khususnya manusia yang tinggal
di dalam dan di sekitar hutan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka kelompok
sasaran penyuluhan kehutanan dibeda- kan:
(l) Masyarakat desa hutan sebagai kelompok. sasaran
utama
Seperti telah diketahui bersama bahwa sebagian
besar dari masyarakat yang tinggal di dalam dan
sekitar kawasan hutan adalah ber- mata
pencaharian pertanian, akan tetapi ber- beda
dengan pertanian yang berada di daerah dataran
rendah. Hal itu disebabkan para petani yang
tinggal di sekitar kawasan hutan memiliki
ketergantungan yang sangat tinggi, sebab
menurutnya hutan adalah jaminan terhadap
ketahanan makanan atau food security.
178
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

Berkaitan dengan penyelenggaraan program


penyuluhan kehutanan pada masyarakat desa
hutan, ada 3 (tiga) target group dengan masing-
masing mempunyai permasalahan, yaitu:
(a) Kelompok petani hutan dengan usaha tani
subsistem.
Adalah kelompok petani yang tidak memiliki lahan,
atau memiliki lahan sempit yang hanya cukup untuk
usaha tani subsistem. Usaha taninya dikelola dengan
teknologi sederhana tanpa masukan sarana produksi
baru yang berasal dari luar lokalitas usaha tani
tersebut, dan komoditi yang diusahakan terbatas
berupa komoditi yang ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan subsistensi masyarakat setempat, yakni
dikerjakan oleh tenaga kerja keluarga sendiri, dan
seluruh produknya hanya untuk memenuhi kebutuhan
keluarga dan masyarakatnya. Peran penyuluhan
kehutanan terhadap sasaran ini mencakup 3 (tiga)
kegiatan utama yaitu:
- Pengorganisasian.
- Penyediaan sumberya, sasaran, prasarana,
produksi, dll.
- Peningkatan motivasi.
(b) Kelompok remaja pedesaan
Yang termasuk kelompok ini adalah para remaja
berumur antara 12-18 tahun, baik laki-laki maupun
perempuan. Kelompok ini merupakan kelompok yang
terbesar jumlah- nya dari masyarakat desa hutan.
Peran penyuluh kehutanan terhadap sasaran ini
adalah melalui pembentukan kelompok- kelompok
179
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

remaja: karang taruna, pramuka, santri


penghijauan, pelatihan, karya wisata, dll.
(c) Kelompok wanita pedesaan
Peran penyuluh kehutanan terhadap sasaran ini
adalah bekerja sama dengan penyuluh lain (PLKB,
Jupen, PPI, dll.), khususnya dalam meningkatkan
peranan wanita dalam pembangunan pedesaan.
(2) Kelompok sasaran penentu dalam penyuluhan
kehutanan.
Yang dimaksud dengan sasaran penentu adalah
kelompok masyarakat yang terlibat dalam
pengambilan keputusan tentang pembangunan
wilayah, dan pembangunan kehutanan, ter- masuk
juga pengambilan keputusan tentang kebijaksanaan
strategis, program, dan kegiatan penyuluhan
kehutanan.
Termasuk kelompok ini adalah: penguasa/ pemimpin
wilayah beserta aparat jajarannya; tokoh-tokoh
informal sebagai panutan masyarakat; masyarakat
Perguruan Tinggi; dan tokoh-tokoh swasta, dll.
(3) Kelompok sasaran pendukung penyuluhan
kehutanan.
Yang dimaksud dengan sasaran pendukung
adalah pihak-pihak yang secara langsung maupun
tidak langsung, tidak memiliki hubungan kegiatan
dengan pembangunan kehutanan, tetapi dapat
diminta bantuannya guna melancarkan kegiatan
penyuluhan kehutanan.
Termasuk dalam kelompok ini adalah: para

180
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

pekerja sosial (LSM, Kontak Tani, dll.); seniman


(ludruk, dalang, ketoprak, dll.); kon- sumen
hasil/produk aneka usaha kehutanan; dan biro iklan,
jasa pelayanan wisata, media cetak maupun
elektronika, dll.

9. Metode dan Teknik Penyelenggaraan

a. Metode dan Materi


(1) Metode dan materi penyuluhan kehutanan
disesuaikan dengan 5 (lima) kebijakan prioritas
Departemen Kehutanan.
(2) Metode dan materi penyuluhan kehutanan
difokuskan pada masalah pokok yang diha- dapi
pada daerah tersebut.
(3)Metode dan materi yang harus dikuasai penyuluh
kehutanan adalah teknologi penyuluhan,
pemberdayaan masyarakat, substansi kehutanan,
dan sistem agro sylvo bisnis.
b. Metode
(1)Pendekatan Perorangan
Pendekatan perorangan dilakukan khusus- nya
untuk mencapai sasaran yang diperkira- kan akan
mendorong atau menghambat kegiatan
pembangunan kehutanan. Pendekatan perorangan
terhadap pihak-pihak tertentu, seperti pemuka
masyarakat dan pengusaha, bertujuan untuk
menyakinkan mereka tentang informasi inovasi
yang akan disampaikan. Biasanya jika pihak-pihak
tertentu ini diyakinkan tentang manfaat inovasi
181
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

tersebut, maka penduduk lainnya juga akan


terpengaruh. Kelemahan pendekatan ini adalah
memerlukan tenaga penyuluh yang handal dan
waktu yang lama. Hal itu disebabkan penentuan
sasaran penyuluh strategis harus selektif.
Pendekatan perorangan dilaksanakan dengan
teknik: kunjungan dari rumah ke rumah atau
tempat usaha; dan magang.
(2) Pendekatan Kelompok
Pendekatan kelompok ini lebih cepat dan praktis.
Adapun persoalannya adalah banyaknya kelompok
(strategis ) yang akan dijadikan sasaran penyuluhan
kehutanan. Di sini, kelompok tani adalah salah satu
dari berbagai kelompok di masyarakat yang dapat
dijadikan kelompok sasaran strategis. Kelompk tani,
LSM, pecinta alam, kelompok remaja, dan pramuka
perlu didekati untuk mempersamakan pengertian dan
pan- dangan tentang arti, hakikat, dan manfaat
penyuluhan kehutanan.
Pendekatan kelompok dilaksanakan dengan teknik:
lomba; demonstrasi/peragaan; kur- sus/pelatihan;
pertemuan diskusi; temu wicara; dan
widyawisata/karya wisata
(3) Pendekatan Massal
Pendekatan massal dalam penyuluhan kehutanan
biasanya dilakukan jika tujuan penyuluhan sekadar
bersifat memberi informasi atau penerangan
pendahuluan saja tanpa memperhatikan pihak-pihak
strategis. Akan tetapi jika sudah menyangkut pemem-
bujukan, dan mendorong sasaran untuk ber- buat
182
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

maka pendekatan perorangan dan pen-


dekatan kelompok yang harus dilakukan
agar penyuluhan tersebut berdaya guna dan
berhasil guna.
Pendekatan massal dilaksanakan dengan
teknik: ceramah; pameran; siaran pedesaan
melalui media televisi/radio; penyebaran
poster; penyebaran brosur, booklet/leaflet,
folder dan majalah

10. Materi

Pada tahap ini yang harus dilakukan adalah


menyusun materi penyuluhan yang disusun dalam
suatu dokumen tertulis yang jelas dan terinci.
Materi disusun dan disyahkan bersama-sama
dengan tokoh masyarakat formal maupun infor-
mal, petani, kontak group,dan penyuluh sendiri.
Pada prinsipnya materi penyuluhan
mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut:

a. Penetapan Tujuan Penyuluhan Kehutanan


Secara umum pengertian tujuan adalah ke-
inginan dan harapan yang ingin dicapai.
Sedangkan yang dimaksud dengan tujuan penyu-
luhan kehutanan di sini adalah perbaikan kondisi
sosial ekonomi yang diharapkan terwujud yang
diupayakam melaui kegiatan pembangunan, mela-
lui dukungan kegiatan penyuluhan kehutanan.
Tujuan penyuluhan kehutanan dapat dinya-
183
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

takan dalam bentuk pernyataan yang sederhana,


antara lain seperti: tersedianya kayu bakar yang
cukup bagi masyarakat; terkontrolnya erosi tanah
pada lahan-lahan kritis; dan tersedianya pakan
temak pada musim kemarau.
Tujuan tersebut sebagian besar dalam penye-
lenggaraan penyuluhan kehutanan pada suatu
wilayah kerja.

b. Penetapan Sasaran Antara untuk Mencapai


Tujuan
Sasaran antara untuk mencapai tujuan adalah
merupakan upaya-upaya yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan penyuluhan kehutanan
yang telah ditetapkan. Misalnya tujuan penyuluh-
an adalah terkontrolnya erosi tanah pada lahan-
lahan kritis, maka sasarannya antara lain: upaya-
upaya perlindungan lahan dari bahaya erosi tanah
(pembangunan trasering, penghijauan, dll.), dan
pelatihanan mengenai pengendalian erosi tanah.
c. Penetapan dan Pembagian Tugas serta
Penyusunan Rencana Kerja
Selanjutnya adalah tentang penetapan dan
pembagian tugas atas rincian kegiatan untuk
men- capai tujuan tersebut yang disusun dalam
bentuk bagan-bagan yang disebut Rencana
Definitif Kelompok (RDK) dengan isian tentang
- Kapan dan bagaimana kegiatan tersebut di-
laksanakan ?
- Rincian kegiatan apakah yang diperlukan

184
Penyuluhan Kepada Masyarabat Kehutanan

untuk melaksanakan tujuan?


- Siapakah yang bertangung jawab atas pelak-
sanaan kegiatan tersebut?

d. Penetapan Kebutuhan Sasaran Prasarana

Sarana prasarana kebutuhan yang diperlukan


untuk melaksanakan kegiatan tersebut disusun
dan dirinci dalam sebuah daftar kebutuhan yang
disebut dengan Rincian Definitif Kebutuhan
Kelompok (RDKK) dengan estimasi yang reali-
stik dan tidak terlalu berlebihan.

e. Pengembangan dan Pembinaan Kelompok Tani


Hutan
Sasaran pengembangan dan pembinaan
kelompok adalah terwujudnya kelompok-
kelompok tani hutan yang memiliki disiplin
tanggung jawab dan terampil dalam mengelola
usahanya dengan materi pembinaan meliputi:
- Pembinaan kerja sama yang mencakup pemilih-
an kegiatan sebagai sarana untuk menjalin
kerja sama, pembagian tugas yang adil, dan pe-
mupukan rasa keakraban di antara anggota,
dll.

11.Penutup
Model penyelenggaraan penyuluhan kehutan-
an adalah sebagai acuan dalam penyusunan ren-
cana, pelaksanaan, dan pengendalian.
185
TINGKAT KERAWANAN DAN
PENGUKURAN INDIKATOR
RAWAN LONSSOR

Imam Khambali

1. Pendahuluan

Degtadasi/kerusakan hutan dan lahan yang


terjadi pada saat ini sudah sangat menghawatir- kan.
Hal ini sebagai akibat pengunaan lahan dalam
jangka pendek yang kurang memperhatikan teknik-
teknik konservasi tanah dan air, yang menyebab-
kan terjadinya proses pengikisan tanah yang
melebihi laju pembentukan, yang dengan kata lain
disebut erosi. Akibat lebih lanjut apabila proses
erosi yang berkepanjangan tersebut dibiarkan, maka
akan menyebabkan terjadinya lahan-lahan kritis dan
tanah longsor. Di samping itu, kebutuhan kayu
pada saat ini semakin meningkat sejalan dengan
pertambahan jumlah penduduk maupun laju
kemajuan teknologi pengolahan kayu.
Kerusakan ini sudah sangat mengkhawatirkan
karena berdampak pada ketidakseimbangan dan
kerusakan ekosistem dalam tatanan Daerah Aliran

186
Tingbat Kerawanan dan Penguburan Indifeator
Sungai (DAS), serta terganggunya masyarakat di
dalam dan di sekitar kawasan hutan. Apabila hal ini
tidak dapat diatasi secara cepat dan tepat, maka
sumber daya alam hutan dan lahan tersebut akan
bertambah rusak dan kelangsungan pembangunan
akan tergganggu.
Apabila permasalahan kemiskinan, erosi, tanah
longsor, dan sedimentasi terus berlanjut, maka akan
terjadi kerusakan sumber daya alam hutan, tanah,
dan air: dapat merugikan bagi daerah yang tererosi
[on- farm), maupun daerah yang berada pada daerah
hilir {off- farm). Selain itu kondisi sosial ekonomi
dan masih kurangnya pengetahuan penduduk
terhadap teknik-teknik konservasi tanah, serta
perilaku penduduk dalam menggunakan lahannya
untuk keperluan jangka pendek akan semakin
memperburuk kondisi lahan, sehingga terjadinya
degradasi hutan, dan lahan sebagai akibat adanya
erosi dan sedimentasi yang cenderung meningkat.
2. Deskripsi Permasalahan

a. Analisis Masalah

Tingginya tingkat erosi rata-rata yang terjadi


(ton/ha/th) dan tingkat sedimentasi (mm/th) seba-
gai akibat terjadinya erosi tersebut, telah meng-
akibatkan makin luasnya lahan kritis dan tidak
produktif. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya
kekeringan, serta kerusakan lingkungan hidup yang
pada akhimya akan membentuk kantong-kantong

187
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

kemiskinan.
Penyebab utama terjadinya erosi tersebut adalah
masih kurang rapatnya penutupan lahan dan belum
sempurnanya kondisi konservasi tanah pada lahan
tegalan, sehingga masih besar aliran permu- kaan
yang dapat menyebabkan terjadinya erosi, banjir,
dan tanah longsor.

b. Erosi

Erosi adalah peristiwa pelepasan, pengikisan,


dan pengangkatan partikel tanah dari satu tempat ke
tempat lain, ter utama oleh air hujan dan juga oleh
angin.
c. Faktor Penentu
Faktor-faktor penentu terjadinya erosi, adalah:
erosivitas hujan (lama dan intensitas hujan); erodi-
bilitas hujan (daya tahan tanah terhadap erosi);
panjang dan kepanjangan lereng; penutupan lahan
oleh vegetasi; dan konservasi tanah yang diper-
gunakan.

d. Bentuk Erosi
Bentuk erosi terdiri dari berbagai macam
meliputi:
- Erosi percikan adalah erosi yang ditimbulkan
oleh pukulan butir- butir air hujan.
- Erosi limpasan permukaan adalah erosi di per-
mukaan lahan secara merata yang terjadi karena

188
Tingbat Kerawanan dan Penguburan Indifeator
limpasan permukaan {overland/low/run off).
- Erosi parit adalah erosi nyang terjadi karena ter-
kumpalnya limpasan permukaan sehingga daya
kikisnya besar. Alur parit ini masih dapat di-
tanggulangi pada saat pengolahan tanah.
- Erosi jurang adalah erosi parit yang membesar
sehingga tidak dapat dihilangkan pada saat
pengolahan.
- Erosi tepi sungai adalah erosi yang terjadi di
pinggiran sungai.
- Tanah longsor adalah sebagai akibat terjadinya
erosi yang berkelanjutan.

3. Tingkat Bahaya Erosi

a. Perhitungan Bahaya Erosi


Bahaya erosi ditentukan berdasarkan jumlah
tanah yang hilang maksimum (ton) dari lahan seluas
1 hektar dalam kurun waktu 1 tahun. Adapun untuk
memperhitungkan bahaya erosi diperguna- kan
rumus USLE (UniversalSoil I jjss liquation) dari Smith
and Wischmeier sebagai berikut:
A = RxKxLxSxCxP
A: Jumlah tanah hilang maksimum (ton/ha/th).
R: Faktor erosivitas hujan.
K: Faktor erodibilitas tanah.
L: Indeks faktor panjang.

189
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

S: Indeks faktor kemiringan.


C: Indeks faktor pengolahan.
P: Indeks faktor teknik konservasi tanah.
Jumlah tanah yang hilang maksimum (A) yang
telah dihitung kemudian di kelompokkan dalam
kelas I sampai V disebut: kelas Bahaya Erosi seperti
pada tabel di bawah ini:
Tabel 1:
Kelas Bahaya Erosi
No. Kelas
Bahaya Erosi
(ton/ha/th)
2 1 < 15
3 8 150 - 60
4 III 60 -180
5 IV 180 - 480

6 V >480

b. Tingkat Bahaya Erosi


Tingkat Bahaya Erosi (TBE) dihitung berda-
sarkan pada Bahaya Erosi (BE) dengan memper-
timbangkan kedalaman solum tanah. Perhitungan
kelas Tingkat Bahaya Erosi sebagai mana tabel di
bawah ini:

190
Tingbat Kerawanan dan Penguburan Indifeator
Tabel 2
Perhitungan Kelas Tingkat Bahaya Erosi
No Solum Tanah(cm)
Kelas Erosi

I II III IV V

Erosi (ton/tia/th )

<16 15....60 60-180 180-480 >480

1. Dalam SR R S B SB
> 90 I II III IV
0

2. Sedang R S B SB SB
60-90 II II III IV IV

3. Dangkal S B SB SB S
30-60 II III IV IV IV

4. Sangat Dangkal B SB SB SB SB
<30 III IV IV IV IV

Keterangan:
0 - SR = Sangat
Ringan II - S = Sedang
1 -R = Ringan
IV - SB = Sangat Berat

c. Erosi Yang Dibolehkan/Diperkenankan


Berdasarkan hasil perhitungan dan
pengamat- an lapangan dapat ditetapkan besarnya
nilai erosi yang diperbolehkan/diperkenankan
untuk tanah- tanah di Indonesia sebagaimana
tabel berikut:
Tabel 3:
Penilaian Erosi Dibolehkan (At)

191
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat
No Sifat Tanah Dan Sub Stratum
Nilai At
(mm/th)
Tanah sangat dangkal di atas batuan induk
1. 0,0

2. Tanah sangat dangkal di atas bahan induk yang telah melapuk


(bahan tertonsilidast) 0,4
3. Tanah dangkal di atas batuan induk yang telah melapuk 0,8
4.
Tanah dengan kedalaman sedang di atas batuan yang telah
melapuk 1,2
5. Tanah dalam dengan lapisan bawah kedap air, di atas substrata

yang telah melapuk 1,6

6. Tanah dalam dengan lapisan bawah berpermeabilitas rendah di


atas substrata yang telah melapuk 2,0
7.
Tanah dalam dengan lapisan bawah berpermeabilitas tinggi di atas
2,5
substrata yang telah melapuk

4. Kesimpulan

Dengan mengetahui kelas Tingkat Bahaya


Erosi dan erosi yang diperkenankan pada setiap
unit lahan dasar berdasarkan hasil perhitungan dan
pengamatan di lapangan, maka akan dapat diketa-
hui tingkat kerawanan dan indikator rawan longsor
pada suatu wilayah/daerah, dan selanjutnya dapat
ditentukan diperlakukan/kegiatan yang akan di-
rencanakan dan dilaksanakan untuk menurunkan
laju erosi sampai dengan tingkat erosi yang diper-
kenankan. Di samping itu juga perlakuan/kegiatan
pada wilayah/daerah yang tingkat erosinya masih
dalam batas diperkenankan berupa pemeliharaan,

192
Tingkat Kerawanan dan Pengukuran Indikator ...

pengaturan, dan lain sebagainya.


IMPLEMENTASI PROGRAM
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DI DAERAH RAWAN LONGSOR
A. Halim Imam Khambali

Hasil kegiatan konsultasi dan advokasi publik


dalam tangka implementasi program
pemberdayaan masyarakat di daerah rawan
longsor dan hulu sungai yang diikuti oleh warga
desa/masyarakat sekitar kawasan Taman Hutan
Raya Raden Suryo Jawa Timur adalah sebagai
berikut:
1. Masyarakat pada umumnya berpendapat
bahwa organisasi kemasyarakatan di daerahnya
perlu dibentuk (ada) dengan alasan:
a. Dapat mengumpulkan gagasan dinamis
sesuai misi dan yisi kesejahteraan.
b. Masyarakat/kelompok lebih meningkat.
c. Pelestarian lingkungan.
d. Untuk pengelolaan dan pemanfaatan alam
(hutan).
e. Meningkatkan pengetahuan/kemampuan
dengan baik.

193
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

f. Dapat menggali potensi lokal yang arif.


g. Untuk melindungi hutan dan sumber mata
air.
h. Membina dan menjalin kerukunan warga
desa (anggotanya).
i. Menjembatani keinginan masyarakat dalam
pengelolaan hutan dengan instansi terkait.
j. Menggali potensi lokal sesuai dengan akar
budaya yang berkelanjutan.
2. Bidang garapan yang ada dan diikuti masya-
rakat melalui organisasi kemasyarakatan dan
merupakan kegiatan rutin yang telah diren-
canakan pada saat ini adalah: reboisasi; tera-
sering; pembuatan bibit (pembibitan); pem-
buatan pupuk (kompos); dan obat-obatan
organik; pelestarian sumber air; pertanian ber-
kelanjutan; wisata alam; penjagaan kawasan
hutan; menanam Tanaman Umur Panjang
(TUP); tanaman tumpang sari; sosialisasi dan
penguatan kelompok; kemasyarakatan; irigasi;
simpan pinjam; kebersihan lingkungan di
kawasan wisata air panas; dan pembuatan
warung/kios.
3. Dalam pelaksanaan kegiatan organisasi ke-
masyarakatan tersebut, hambatan yang sering
ditemui adalah sebagai berikut: permodalan
(dana); sumber mata air kecil (debit keeil ter-

194
Implementasi Program Pemberdayaan Masyarakat.

utama pada musim kemarau); jaringan perpi-


paan kurang memadai; adanya pertanian
kontrakan di sekitar mata air; kesadaran dan
partisipasi masyarakat/anggota kurang; fasi-
litas pendukung kurang; sosialisasi masyarakat
kurang; masalah medan cukup berat; advokasi
belum optimal; perlindungan hukum terhadap
kesadaran masyarakat peduli alam lestari belum
terlaksana dengan optimal; dan masyarakat
umumnya malas melakukan kerja bakti.
4. Untuk mengatasi hambatan-hambatan di atas,
hal-hal yang telah diperbuat masyarakat di
antaranya adalah: menggali partisipasi masya-
rakat (donatur) dan instansi terkait; mencari
pinjaman lunak; mengadakan iuran; mengada-
kan rapat dengan semua pengurus; mem-
bangun jaringan kekutan bersama; memberi
penyuluhan tingkat bawah; mengajukan bantu-
an pemerintah dalam pembinaan; swadaya
kelompok, membuka jaringan pendanaan, dan
advokasi; dan konsultasi pada instansi terkait/
LSM yang membidangi.
5. Dalam pelaksanaan kegiatannya, organisasi
kemasyarakatan yang ada telah dapat memfasi-
litasi kebutuhan masyarakat. Namun masya-
rakat merasa perlu untuk menambahkan/
memperkuat bidang garapan organisasi ter-
sebut sehingga dapat memenuhi seluruh

195
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

kebutuhan masyarakat, yaitu: ekonomi/materi;


pemberdayaan SDM pada masyarakat; ke-
amanan lingkungan sekitar mata air (peng-
gundulan hutan); peternakan; dan penyuluhan
hukum; pembuatan bibit perlu ditambahkan;
jaringan pendanaan advokasi
Masyarakat di sekitar kawasan hutan menya-
takan bahwa hulu sungai/sumber air tidak
ber- sifat abadi, sehingga perlu dipelihara dan
di- lestarikan dengan cara sebagai berikut:
a. Menanami pohon (kayu yang banyak me-
ngandung air).
b. Melindungi kawasan hutan dan hulu
sungai tersebut dari kegundulan agar tidak
terjadi kelongsoran yang akhimya menutup
sumber air tersebut atau mencegah dari
kerusakan lingkungan.
c. Memelihara lingkungan mata air dengan
radius 50 meter dari sumber air (kayu tidak
boleh ditebang).

196
Implementasi Program Pemberdayaan Masyarakat.

d. Mengganti pohon yang ditebang dengan


pohon baru.
7. Tanpa disadari, kegiatan sebagian orang atau
kelompok tertentu yang bertujuan untuk
memanfaatkan sumber daya alam kehutanan
justru akan menyebabkan pengrusakan hutan.
Kegiatan tersebut yang sering ditemukan di
lapangan adalah sebagai berikut:
a. Penebangan pohon secara besar-besaran
tanpa diimbangi penanaman lebih dahulu.
b. Terjadi kebakaran, baik disengaja/tidak,
yang mempengaruhi ekosistem kehutanan.
c. Pembangunan kehutanan tanpa memper-
timbangkan dampak logis/negatif, yang
menyebabkan kerusakan ekosistem ke-
hutanan.
d. Pembukaan lahan baru yang merugikan
ekosistem kehutanan.
8. Untuk menghindari/mencegah rusaknya
kawasan mata air sungai dan bencana longsor
di kawasan kehutanan adalah sebagai berikut:
a. Melibatkan semua komponen masyarakat
yang ada dalam pengelolaan kehutanan
(mulai dari perencanaan hingga penentuan
akhir kegiatan serta pengawasan pelaksana-
an kegiatan), sehingga masyarakat merasa
memiliki dan ikut bertanggung jawab dalam

197
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

pelestarian kehutanan.
b. Penghijauan/reboisasi.
c. Penyuluhan/pelatihan untuk menanamkan
kesadaran masyarakat dalam menjaga keles-
tarian alam.
d. Meningkatkan keamanan kawasan hutan.
9. Selama ini pihak-pihak yang terkait dan ikut
serta berperan dalam kegitan untuk mencegah
pengrusakan ekosisitem kawasan hutan dan
bencana longsor adalah: kepala desa; donatur
perorangan; PT. Perhutani; dan swasta (ter-
masuk LSM).
10. Hutan dan kawasan hulu sungai
sesungguhnya dapat dijadikan sebagai sumber
peningkatan penghasilan/kesejahteraan
masyarakat sekitar tanpa merusak kelestarian
hutan, dengan cara:
a. Menanami bambu dan tanaman produktif
(rambutan, kemiri, durian, nangka, apokat,
dll.), dan tanpa membuka lahan baru.
b. Memanfaatakan sebagai obyek wisata.
c. Memanfaatkan sebagai sumber air baku
untuk air minum kemasan.
11. Dalam kegiatan pemanfaatan dan
pelestarian hutan perlu digagas/digalang kerja
sama lintas

198
Implementasi Program Pemberdayaan Masyarabat

sektor. Bentuk bantuan/kerja sama yang


diperlukan pada saat ini yaitu: bantuan
peningkatan kemampuan dan
ketrampilan/teknis (pendidik- an dan latihan);
bantuan peningkatan kemampuan dan
ketrampilan pengelolaan organisasi
(pendidikan dan latihan); bantuan permodalan;
bantuan pendampingan (advokasi dan konsul-
tasi); perlunya akses informasi yang berkaitan
dengan pelestarian hutan lindung guna me-
nambah wawasan tentang hutan lindung; studi
banding; transportasi; dan peralatan komuni-
kasi.

199
gH
Model-Model Pemberdayaan Masyarafeat

Bagian IV

200
i

I;

MODEL PEMBELAJARAN
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

MASYARAKAT: MEMBERDAYAKAN
BANGUNAN AKUIFER BUATAN
SIMPANAN AIR HUJAN (ABSAH)

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Upaya pemberdayaan masyarakat telah men-
dapat perhatian besar dari berbagai pihak yang
meliputi aspek perberdayaan ekonomi, sosial, dan
politik. Pemberdayaan masyarakat dalam hal ini
adalah dengan memberikan akses kepada masya-
rakat, lembaga, dan organisasi masyarakat dengan
memperoleh/memamfaatkan hak masyarakat bagi
peningkatan kualitas kehidupannya, karena pe-
nyebab ketidakberdayaan masyarakat disebabkan
oleh keterbatasan akses, kurangnya pengetahuan dan
keterampilan, serta adanya kondisi kimiskinan yang
dialami sebagian masyarakat.
Melihat kegagalan pembangunan masyarakat
pada masa lalu, dikarenakan pelaksanaan program
pembangunan yang tidak berdasar pada partisipasi
masyarakat. Karenanya, pemerintah saat ini lebih
mengupayakan pada pelaksanaan program
pembangunan yang memberikan porsi terbesar pada
upaya pemberdayaan masyarakat, agar dapat

212
Model Pembelajaran Masyarakat: Memberdayakan

meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan ling-


kungannya secara mandiri-berkesimbungan. Pola ini
mengharuskan untuk menggunakan pendekatan
bottom up di mana pada tataran pelaksanaan di
lapangan, dilakukan atas inisiatif dan aspirasi dari
masyarakat. Paradigma inilah yang mengisya- ratkan
perlunya memampukan masyarakat menjadi
masyarakat yang mandiri.
Balai Pemberdayaan Kimpraswil Surabaya
mempunyai tugas pokok yang salah satunya adalah
melaksanakan pembelajaran masyarakat. Salah satu
program kegiatan pada tahun anggaran 2003 adalah
melaksanakan kerja sama dengan Pusat Penelitian
dan Pengembangan Sumber Daya Air.
Berdasarkan hal tersebut, Balai Pemberdayaan
Kimpraswil Surabaya memprogramkan satu
kegiatan penyusunan silabus/kurikulum pembe-
lajaran masyarakat, dan memberdayakan prototif
bangunan Akuifer Buatan dan Simpanan Air
Hujan (ABSAH) di daerah bergambut, dan daerah
karts, di mana bangunan fisiknya telah dibangun
oleh Puslitbang Sumber Daya Air, dan terletak di
desa Sugihwaras Kecamatan Pringkuku Kabupaten
Pacitan Jawa Timur.
Sesuai tahapan pembelajaran masyarakat, maka
pelaksanakan kegiatan ini, diawali dengan
penyusunan silabus/kurikulum yang meliputi
semiloka (lokakarya). Kegiatan tersebut bertujuan
untuk mendapat masukan materi, survey lokasi dan
213
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

penyusunan materi. Tahapan selanjutnya adalah


melaksanakan pembelajaran masyarakat agar
memberdayakan bangunan Akuifer Buatan dan
Simpanan Air Hujan (ABSAH), yang dilaksanakan
di lokasi ABSAH tersebut, yakni di desa Sugihwaras
Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan.

1.2. Tujuan Pembelajaran


a. Meningkatkan pengetahuan masyarakat agar
mengenal keberadaan air di alam, sehingga
masyarakat mampu memilih air sesuai kuan-
titas dan kualitasnya dalam memenuhi kebu-
tuhan air bersih untuk kehidupan sehari-hari.
b. Meningkatkan pengertian dan motivasi masya-
rakat untuk melakukan upaya bersama dalam
penyediaan air bersih untuk kebutuhannya.
c. Mendorong dan meningkatkan aktivitas,
kreativitas, prestasi, dan partisipasi masyarakat
dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber air
guna memenuhi air bersihnya.
d. Meningkatkan ketrampilan masyarakat dalam
pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan
ABSAH.
e. Menciptakan kehidupan ekonomi masyarakat
yang berdampak pada peningkatan produktivitas
masyarakat.
f. Meningkatkan dan memanfaatkan peranan
lembaga-lembaga masyarakat yang berfungsi
sebagai wadah partisipasi masyarakat pengelolaan

214
Model Pembelajaran Masyarakat: Memberdayakan

dan pemanfatan, dan pemeliharaan bangunan


ABSAH.
g. Mendorong terciptanya kesadaran dan kepe-
dulian akan kelestarian alam guna menyangga
ketersediaan air.

1.3. Manfaat Pembelajaran


a. Terjadinya transfer/diperolehnya pengetahuan
dan ketrampilan oleh masyarakat tentang
penyediaan air bersihnya.
b. Diperolehnya kemampuan dalam merencana-
kan, melaksanakan, dan memantau kualitas air
bersinya, sesuai kemampuan dan potensi yang
dimiliki secara partisipatif.
c. Terjadi sharingpcngalaman antarpeserta dalam
upaya peningkatan dan pemberdayaan masya-
rakat sekitarnya dalam menumbuhkan dasar-
dasar untuk hidup sehat dan produktif atas
kemampuannya sendiri.
d. Terjadi penguatan kelembagaan organisasi
masyarakat, sehingga kegiatan ini mampu me-
nimbulkan daya ungkit terhadap performen
masyarakat tentang air dan pemanfaatannya
sesuai pengetahuan, keilmuan, dan ketrampilan
masyarakat. Ini semua berguna bagi kelang-
sungan program kesehatan, dan secara khusus
kesehatan lingkungan sebagai modal dalam
meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dan
man diri.

215
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

e. Diperolehnya masukan-masukan dari masyarakat


dalam penyempurnaan substansi modul
pembelajaran masyarakat untuk memanfaatan
bangunan Akuifer Buatan dan Simpanan Air
Hujan (ABSAH).

2. Metode Pembelajaran

2.1. Latar Belakang


Metode pelatihan ini menggunakan Metode
Pembinaan untuk Orang Dewasa (Andragogi).
Pertimbangan dalam penggunaan metode ini ada-
lah didasarkan pada pencapaian tujuan kurikulum
dari pembelajaran masyarakat dengan memberda-
yakan bangunan ABSAH dalam menghadapi dan
memecahkan masalah air bersih, dan perlindungan
air bersih, sehingga dengan pelatihan ini akan dapat
dilihat bagaimana cara memecahkan per-
masalahannya secara sistematis, praktis, dan ber-
kesinambungan yang berkaitan dengan memenuhi
kerbutuhan air bersih.
Ada tiga prinsip yang digunakan dalam proses
pembelajaran pada masyarakat untuk member-
dayakan bangunan ABSAH yang meliputi yaitu:
a. Orang dewasa akan belajar dengan lebih baik
apabila sekaligus langsung mempraktikkannya.
b. Dalam diri orang dewasa harus senantiasa tum-
buh keinginan untuk menambah pengetahuan,
guna meningkatkan kemampuan, serta untuk
216
Model Pembelajaran Masyarakat: Memberdayakan

mewujudkan sasaran dan tujuan yang telah di-


tetapkan dalam pelatihan.
c. Orang dewasa mampu belajar dengan baik
melalui pengalaman, sehingga keberhasilan pela-
tihan ini tergantung pada prakarsa, dan parti-
sipasi peserta di samping
narasumber/fasilitator/ instruktur yang
mumpuni dan berpengalaman.
Seperti yang telah diutarakan di atas mengenai
pendekatan dan prinsip pembinaan, maka metode
pembelajaran yang digunakan dalam pelatihan ini
adalah sebagaimana di bawah ini.

2.2. Metode Pembelajaran


a. Ceramah dan Tanggung jawab Merupakan
pembekalan materi yang lebih me- nekankan
pada pengenalan dan pemahaman konsep/materi
pelatihan pembelajaran masyarakat dalam
memberdayakan bangunan ABSAH.
b. Diskusi Terstruktur
Adalah tahap pemantapan pemahaman kon-
sep/materi pembinaan dan penyamaan pe-
mahaman antarpeserta, sehingga diperoleh satu
persepsi dalam memahami setiap materi
pelatihan (pembelajaran masyarakat guna
memberdayakan bangunan ABSAH). Hal ini
mengingat pengetahuan dan kemampuan setiap
peserta pada awal pelatihan ini tidak sama (lihat
hasil pretest peserta).
217
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

c. Simulasi dan Praktik


Adalah tahap pemantapan sebuah pemahaman
dan ketrampilan peserta dalam mengidentifi-
kasi, membuat rencana, dan melaksanakan ke-
giatan pemecahan masalah/persoalan yang di~
hadapi oleh masyarakat sekitar kawasan hutan.

218
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

d. Praktik Lapangan
Metode ini bertujuan untuk memberikan
pengalaman belajar langsung kepada peserta
pelatihan, dan meningkatkan interaksi antar-
peserta, peserta dengan instruktur/pelatih dalam
memahami, meningkatkan ketrampilan berkaitan
dengan objek pembelajaran. Karena- nya, dalam
penerapan metode peserta diharap- kan
terangsang untuk mengaitkan atau meng-
hubungkan pengalaman belajamya dalam satu
kehidupan nyata.

3. Kurikulum Model Pembelajaran Masyarakat


untuk Memberdayakan Bangunan ABSAH

3.1. Pendekatan Sosio-Religius terhadap ABSAH


a. Deskripsi
Air dan sumber air adalah karunia Allah kepada
umat manusia yang keberadaannya perlu di- jaga,
dilestarikan, dan dibudayakan untuk ke-
sejahteraan bersama. Oleh karena itu, diperlukan
seperangkat aturan atau norma yang berbasis
kebersamaan agar pelestarian air tersebut dapat
dilakukan. Di dalam kerangka ini, peran serta
masyarakat dalam bentuk konsensus atau
kesepakatan kiranya menjadi modalitas pen- ting
di dalam proses pelestarian air dimaksud.
Konsensus dalam kehidupan sosial sudah
menjadi kelaziman, hanya saja sering terdapat
kendala dan tantangan yang tidak sedikit, yang

219
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

bisa datang dari kalangan dalam atau kalangan


luar. Dari kalangan dalam, biasanya terkait
dengan perbedaan kepentingan dalam peman-
faatan air tersebut, sedangkan dari kalangan luar
bisa saja terjadi karena rivalitas, perten- tangan
dan konflik di seputar pemanfaatan air.
Karena kebutuhan bersama, maka diper-
lukan program yang berbasis pada kepentingan
bersama, kebutuhan bersama, dan akses bersama.
Di dalam hal ini, kiranya diperlukan perencanaan
program aksi untuk kepentingan pelestarian air
sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan
sosial.
b. Tujuan
(1) Tujuan Umum:
Memberikan pemahaman kepada masyarakat
tentang bagaimana fungsi dan peranan
masyarakat dalam memanfaatkan air, ter-
utama bagi kesejahteraan sosial.
(2) Tujuan Khusus:
(a) Memberikan pemahaman bagi masyarakat
dalam rangka pelestarian air untuk
kepentinganjDersama.
(b) Memberikan pemahaman kepada masya-
rakat tentang arti pentingnya konsensus
dan kerjasama dalam pelestarian sumber
daya air.
(c) Memberikan pemahaman kepada masya-

220
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

rakat agar dapat membuat program pe-


lestarian air berbasis kebutuhan, keber-
samaan dan kepentingan bersama.
c. Materi:
(1) Fungsi agama terhadap pendayagunaan air.
(2) Fungsi sosial terhadap pendayagunaan air.
(3) Air dan pembangunan masyarakat.
(4) Air dan kesejahteraan masyarakat.

3.2. Pendekatan Kultural Religius terhadap ABSAH


a. Deskripsi
Air sebagai sumber kehidupan memiliki makna
penting di dalam kehidupan masyarakat. Makna
itu tidak hanya bersifat fisikal, tetapi juga spiri-
tual. Secara fisikal air digunakan untuk peme-
nuhan fisik-biologis, sedangkan dalam makna
spiritual air adalah sarana untuk menyucikan diri
dari berbagai kotoran atau najis yang di- sandang
oleh manusia. Posisi air yang sentral
menyebabkan air menjadi faktor utama dalam
kehidupan masyarakat.

221
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .
Di dalam pelestarian air, setiap masyarakat
memiliki cara dan tradisinya sendiri yang selama
ini diambil dari berbagai kebijakan lokal yang
berbasis tradisi. Kebijakan lokal itu, selama ini
sering kali tidak lagi mengikat disebab- kan oleh
kuatnya daya tarikan kepentingan akan air, baik
bagi pemenuhan fisik maupun lainnya. Tarikan-
tarikan itu tidak ayal juga dapat menyebabkan
terjadinya berbagai konflik yang tajam. Oleh
karena itu, penguatan tradisi lokal untuk
pelestarian air kiranya menempati posisi penting
di dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu cara dan strategi itu ialah dengan
menggali dan merumuskan tradisi yang berbasis
nilai lokal, dan hal itu dijadikan pijak- an untuk
merumuskan kebijakan yang menge- depankan
kebersamaan. Di dalam hal ini, kiranya
diperlukan penyusunan program pelestarian dan
pemanfaatan air yang berbasis pada nilai lokal
dan kebijakan lokal, sehingga masyarakat merasa
apa yang dihasilkan melalui kebijakan-kebijakan
lokal itu sebagian dari apa yang seharusnya
dipelihara dan dikembangkan.
b. Tujuan:
(l) Tujuan Umum:
Untuk memberikan pemahaman kepada ma-
syarakat tentan^penguatan tradisi di dalam
pelestarian air dalam kerangka peningkatan
kesajahteraan masyarakat.

222
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .
(2)Tujuan Khusus:
(a) Memberikan pemahaman kepada masya-
rakat tentang fungsi penguatan tradisi
dalam pelestarian air.
(b) Memberikan pemahaman kepada masya-
rakat tentang makna air bagi kesejahteraan
masyarakat.
(c) Memberikan pemahaman kepada masya-
rakat tentang pentingnya local wisdom, atau
kebijakan lokal untuk memperkuat basis
tradisi pelestarian air.
(d) Memberikan pemahaman kepada masya-
rakat tentang penyusunan program pe-
lestarian air berbasis tradisi masyarakat.
c. Materi:
(1) Makna air bagi lingkungan alam.
(2) Makna air bagi kehidupan manusia.
(3) Tradisi pemanfaatan air dalam kehidupan
manusia
(4) Perlunya pelestarian tradisi pemanfaatan air.
3.3. Tinjauan Hukum Islam terhadap Air ABSAH
a. Deskripsi:
Dalam pandangan hukum Islam, air ditinjau dari
kondisinya, terbagi menjadi empat macam, yaitu:
pertama, air muthlaq fair suci dan men- sucikan).
Termasuk kategori ini adalah tujuh macam air,
yakni air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air

223
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

mata air (sumber air), air es yang sudah hancur,


dan air embun.
Kedua, air suci tetapi tidak dapat difungsi-
kan sebagai alat bersuci, baik untuk menghi-
langkan najis atau hadats. Ada tiga macam air yang
termasuk kategori ini, yaitu: (1) Air yang telah
berubah salah satu sifatnya karena ber- campur
dengan sesuatu benda suci, kecuali ikan, seperti
kopi, teh, gula, dan sebagainya.
(2) Air yang jumlahnya kurang dari dua qullah,
yaitu jumlah air yang kurang dari ukuran volume
60 x 60 x 60 cm, sudah terpakai untuk
menghilangkan najis atau hadats. Air jenis ini biasa
disebut airmustamal. (3) Air pepohonan atau buah,
seperti air kelapa.
Ketiga, air yang mengandung najis, yaitu air
sedikit jumlahnya kurang dari dua qullah yang
terkena najis, biasa disebut dengan air mutanajjis.
Air jenis ini tidak boleh dipakai lagi, dan
hukumnya sama dengan najis. Meskipun
demikian, apabila jumlah air tersebut lebih dari dua
qullab, hukumnya tetap suci mensucikan.
K.eempat, air suci mensucikan namun makruh
dipakai (lebih baik tidak dipakai), yaitu air yang
terjemur oleh panas matahari dalam bejana selain
emas dan perak. Air jenis ini makruh dipakai untuk
badan, tetapi tidak makruh untuk pakaian.
Dilihat dari hukum Islam, air dalam ABSAH
pada awalnya dikategorikan sebagai air musta mal,

224
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

tetapi karena volume air yang diproses dalam


ABSAH ini jumlahnya lebih dari dua qullah (diatas 60
x 60 x 60 cm), maka air yang tertampung di
dalamnya secara oto- matis menjadi airmuthlaq yang
suci mensucikan tanpa melalui proses penyaringan.
Sedangkan air dalam ABSAH yang berasal dari
bekas air wudhu, yang berarti mustamal, agar menjadi
suci dan mensucikan, maka di samping vol- umenya
harus lebih dari dua qullab (lebih dari 60 x 60 x 60
cm) sebaiknya diproses terlebih dahulu dengan alat
penyaring yang memiliki fungsi seperti fungsi tanah,
yakni menyimpan (mengendap), atau dengan
menyalurkan air tanah seperti ait sumber. Dengan
demikian, air yang mengalir ke dalam penampungan
akhir bisa dianggap (dihukumi) sama dengan air
yang
keluar dari sumber baru. Melalui proses dan
penyaringan seperti itulah, air dalam ABSAH,
selain suci dan mensucikan (karenannya bisa
dipakai untuk bersuci), sekaligus juga bersih dan
higienis.
b. Tujuan
(1) Tujuan Umum
Meningkatkan pemahaman masyarakat
tentang macam-macam air, macam-macam
hukum air, dan penggunaannya.
(2) Tujuan Khusus
(a) Masyarakat dapat menyebutkan macam-
macam air dan sumbernya.

225
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

(b) Masyarakat dapat menyebutkan macam-


macam hukum air dan penggunaannya.
(c) Masyarakat dapat menyebutkan jenis dan
kondisi air dalam ABSAH.
(d) Masyarakat dapat menyebutkan hukum air
dalam ABSAH dan penggunaannya.
(e) Meningkatkan pengertian dan kesadaran
masyarakat untuk melakukan upaya- upaya
penghematan dan penggunaan air bersih,
higienis, suci, dan mensucikan.
c. Materi
(1) Macam-macam air.
(2) Macam-macam hukum air.
(3) Pemakaian air.
(4) Kondisi air ABSAH.
(5)Tinjauan hukum Islam terhadap air ABSAH.

3.4. Air dan Kesehatan


a. Deskripsi
Program penyediaan air bersih bagi masyarakat,
yaitu membantu penyediaan air bersih yang
memenuhi syarat kualitas, kuantitas, dan
kontinuitas bagi seluruh masyarakat, baik yang
tinggal di perkotaan maupun yang ada di
pedesaan.
Pelaksanaan program penyediaan air bersih
di Indonesia, dilaksanakan melalui lintas sektor;

226
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

yakni sektor kesehatan bertanggung- jawab atas


penyuluhan, pembinaan, dan peng- awasan
kualitas air; sektor KIMPRASWIL ber- tanggung
jawab atas pembinaan teknis dan konstruksi
sarana air bersih; dan sektor dalam negeri
bertanggung jawab atas pembinaan kelembagaan.
Ketiga sektor tersebut juga bertanggung jawab
atas peningkatan peran serta melalui
pemberdayaan masyarakat.
Modul ini akan memberikan pemahaman
kepada masyarakat tentang keterkaitan air dan
kesehatan, khususnya penyehatan air, sarana
penyediaan air bersih, pengawasan kualitas, dan
pengamanan kualitas dalam kaitannya untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
penyediaan air bersih bagi masyarakat.
b. Tujuan
(1) Tujuan Umum
Meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan masyarakat dalam pengamanan
kualitas air/penyehatan air untuk berbagai
kebutuhan dan kehidupan manusia.
(2) Tujuan Khusus
(a) Masyarakat dapat menyebutkan sumber
air dan mengidentifikasi kualitasnya.
(b) Masyarakat dapat menjelaskan jenis sarana
penyediaan air bagi masyarakat.
(c) Masyarakat dapat menyebutkan penya-

227
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kit-penyakit bawaan air.


(d) Masyarakat mampu melakukan upaya
pengawasan kualitas dan melaksanakan
upaya perbaikan.
(e) Meningkatkan pengertian dan kesadaran
untuk melakukan upaya pengamanan
kualitas air.
c. Materi
(1) Sumber air dan kualitasnya.
(2) Sarana air bersih.
(3) Penyakit bawaan air.
(4) Pengawasan kualitas air.

3.5. Opsi Teknologi Penyediaan Air Bersih


a. Deskripsi
Penetapan mengenai opsi (pemilihan) Teknologi
Penyediaan Air Bersih bagi masyarakat harus
dipertimbangkan dari berbagai faktor. Faktor-
faktor tersebut berbeda antara satu daerah
dengan daerah lainnya, seperti kemampuan
masyarakat, kondisi daerah, dan tingkat
kebutuhan masyarakat akan air bersih.
Modul ini akan memberikan uraian yang
mengajak kepada masyarakat agar dapat me-
milih dan mencocokkan kebutuhannya dengan
opsi teknis, kemampuan, kemauan, dan tingkat
kebutuhannya sendiri akan air bersih. Hal yang
perlu dikaji mencakup kesetaraan dan partisipasi

228
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan,


meningkatkan kesinambungan

229
Model Pembelajaran Masyarabat-. Memberdayafean ...

sarana, perubahan perilaku yang berhubungan


dengan kesehatan, dan memberikan prioritas
pada keragaman kebutuhan masyarakat.
b. Tujuan
(1) Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran dan informasi ter-
hadap kemampuan/kemauan dan kebutuhan
masyarakat akan pilihan teknologi/tek- nis
penyediaan air bersih bagi masyarakat.
(2) Tujuan Khusus
(a) Masyarakat dapat menilai tingkat kebu-
tuhan air bersih yang sesuai dengan pilihan
teknis yang ada.
(b) Masyarakat mampu mengkaji atau me-
nerapkan opsi/pilihan teknis penyediaan air
bersih sesuai kebutuhannya.
(c) Meningkatkan kemampuan, kesadaran,
kemauan masyarakat dalam perencanaan,
dan pengelolaan sehingga menjadi program
berkesinambungan.
c. Materi
(1) Pemutusan penyebaran penyakit.
(2) Pilihan teknis.
(3) Tangga air (opsi).
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
(4) Tangga simulasi (opsi).
(5)Pilihan peningkatan perilaku hidup bersih dan
sehat (opsi).

3.6. Aspek Teknis Penerapan ABSAH


a. Deskripsi
Bangunan ABSAH (Akuifer Buatan dan Sim-
panan Air Hujan) adalah bangunan penyediaan
air baku mandiri yang terlepas dari sistem
penyediaan air umum. Bangunan ini dibuat
dengan memanfaatkan air hujan, yang dialirkan
dari talang bangunan ke dalam akuifer atau lapisan
air tanah buatan (yaitu kerikil, pasir, hancuran
bata merah, arang, sedikit batu gamping, pasir
laut jika ada, ijuk, dan bantalan- bantalan pasir),
yang kemudian disimpan di dalam reservoir,; dan
merupakan modifikasi terhadap bangunan PAH
(Penampungan Air Hujan).
Modul ini akan menjelaskan tentang as- pek-
aspek teknis dan pertimbangan teknologi
ABSAH (Akuifer Buatan dan Simpanan Air
Hujan) yang akan diterapkan, mencakup: kri-
teria desain, unit proses, dan pengoperasian
ABSAH, dan pemeliharaan sarana ABSAH.
Penerapan aspek teknis ABSAH ini tetap
mengacu pada kemampuan, kemauan, dan
potensi lokal yang tersedia, sehingga mempu-
nyai daya ungkit terhadap kemandirian masya-
rakat dalam penyediaan air bersih.
b. Tujuan

230
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

(1) Tujuan Umum


Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
merencanakan, melaksanakan, dan
mengoperasikan pilihan sarana penyediaan air
bersih.
(2) Tujuan Khusus
(a) Masyarakat dapat menjelaskan desain dan
prasyarat teknis yang ada.
(b) Masyarakat dapat memilih dan menetap-
kan material yang sesuai dengan yang
dibutuhkan.
(c) Masyarakat dapat mengoperasikan dan
memelihara sarana yang tersedia.
c. Materi
(1) Kriteria desain.
(2) Unit proses dan operasi.
(3) Operasi dan pemeliharaan.

3.7. Penerapan ABSAH


a. Deskripsi
Bangunan Penampung Air Hujan (PAH) saat ini
masih berukuran kecil dengan kualitas air
yang miskin mineral, dan kadang-kadang sering
retak akibat tidak adanya sistem pembasahan yang
terus-menerus terhadap bahan bangun- annya.
Dengan curah hujan yang tinggi dan dengan
penguapan alami yang bisa ditiadakan untuk skala
lokal, maka volume air hujan yang dikumpulkan bisa
diperbesar dan cukup memadai. Dalam bangunan

231
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

ABSAH, ukuran reservoir penyimpanan air hujan


disesuaikan dengan melakukan perhitungan neraca
hidro- logi, dengan memperhatikan besar curah
hujan dan luas atap bangunan. Kualitas air yang di-
peroleh bisa ditingkatkan mutunya, dan kon- struksi
bangunan dibuat tahan terhadap retakan.
Bangunan ABSAH merupakan bangunan
kombinasi yang terdiri dari:
(1) Bak pemasukan air dengan penyaringan bantalan
air.
(2) Bak pengambilan air dengan penyaringan
bantalan air.
(3) Bak akuifer buatan berisi material berupa pasir,
pasir laut, kerikil, hancuran bata merah, arang,
kapur, bantalan pasir, dan ijuk.

232
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .
(4) Bak penyimpanan air atau reservoir
Bangunan tampungan dan akuifer diga-
bungkan sedemikian rupa sehingga berbentuk
persegi panjang atau empat persegi panjang.
Bagian tembok pada sisi terluar maupun di
bagian dalam dinding ditanam anyaman besi
ukuran 6-8 mm dengan jarak 40 cm dari satu sisi
ke sisi lainnya, dan dari atas ke bawah se- hingga
berbentuk seperti jala dan harus disemen dengan
adukan semen standar yang berlaku untuk
pengerjaan bangunan di dalam air. Demikian pula
dengan bagian sisi dalam dinding dan alasnya.
Modul ini memberikan penjelasan yang
berkaitan dengan penetapan lokasi, desain bak
akuifer buatan, desain bak penyimpanan air,
pelaksanaan kegiatan, dan pengorganisasian
masyarakat (pembentukan tim kerja masyarakat)
dalam mengelola sarana penyediaan air bersih.
b. Tujuan
(l) Tujuan Umum
Masyarakat dapat menerapkan ABSAH se-
bagai sarana penyediaan air bersih.
(2) Tujuan Khusus
(a) Masyarakat dapat memilih dan mem-
bentuk tim kerja masyarakat.
(b) Masyarakat dan tim kerja
masyarakat dapat menentukan kebutuhan
sarana air bersih yang diinginkan.
(c) Masyarakat dan tim kerja masyarakat dapat

233
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

memilih desain ABSAH dan lokasi


pembangunan sarana penyediaan air bersih.
(d)Masyarakat dan tim kerja masyarakat dapat
mengelola keberadaan ABSAH.
c. Materi
(1) Pemilihan lokasi.
(2) Penetapan dosen, perhitungan kapasitas.
kebutuhan air, dan kebutuhan material.
(3) Pelaksanaan kegiatan.
(4) Pengorganisasian masyarakat dan
pembentukan TKM.

4. Proses Pembelajaran Masyarakat untuk


Memberdayakan Bangunan ABSAH
Materi 1:

Penguatan Pengenalan ABSAH Hj. Rr. Suhartini A.


Halim

1. Ringkasan Materi

Pengenalan bangunan ABSAH selain dilakukan


dengan kunjungan lapangan secara langsung, juga
ditayangkan slide film (LCD) tentang ABSAH. Inti
pokok penayangan ini adalah memberikan
gambaran secara visual tentang bangunan ABSAH
yang ada di desa Sugih Waras. Dimulai dengan
menjelaskan dasar pemikiran dibangunnya ABSAH

234
Mode! Pembelajaran Masyarakat: Memberdayaban .
ini, material yang dibutuhkan, hingga pada
pengelolaan dan perawatannya. Dari sini masyarakat
mendapatkan gambaran secara utuh, tentang
kondisi alam, kondisi masyarakat, kondisi sarana
penyediaan air bersih semula yang ada, dan
gambaran secara lengkap tentang bangunan
ABSAH. Proses pemilihan lokasi, pembuatan,
pengisian media, pengoperasian, dan pemeliharaan
bangunan ABSAH tergambar secara jelas pada
penayangan slide tersebut.
Setelah penayangan berlangsung selama lebih
kurang 15 menit, kemudian diberikan penjelasan/

235
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

penguatan lebih detail tentang bangunan ABSAH


tersebut. Kelebihan dan kekurangan bangunan
ABSAH dibandingkan dengan sarana yang telah
ada, menunjukkan bahwa bangunan ABSAH
lebih menghasilkan kualitas air dengan
kandungan mineral lebih baik. Hal ini juga
tergantung dari susunan dan jenis media yang
digunakan dalam bangunan ABSAH tersebut.

2. Proses Pembelajaran

Peserta oleh instruktur dibagi menjadi bebe-


rapa kelompok (3 kelompok).
Setelah dibagi perkelompok, masing-masing
kelompok diminta duduk melingkar.
Instruktur membagi form isian kepada
masing- masing kelompok.
Untuk dapat mengisi form tersebut, masing-
masing kelompok diperkenankan untuk me-
lihat bangunan ABSAH yang ada di lokasi.
(target yang ingin dicapai adalah masing-ma-
sing kelompok dapat lebih mengerti dan
paham apa yang ada di bangunan ABSAH
tersebut. Dengan demikian, ke depan masing-
masing warga dan peserta, terpacu untuk
membuat bangunan yang sama dengan
kondisi yang seder- Yiana tetapi metnenuYu
standat).
Masing-masing kelompok mendiskusikan form
Model Pembelajaran Masyarakat: Memberdayakan

isian yang telah dibagikan oleh instruktur.


Setelah form diisi, masing-masing kelompok
menyerahkan ke instruktur.
Instruktur membahas form isian yang telah diisi
masing-masing kelompok per item pertanyaan.
Peserta diajak mendiskusikan keberadaan
bangunan ABSAH (kondisi di dalam bangunan,
berapa sekat, dan berapa ruang). Target yang
ingin dicapai adalah peserta menjadi pa- ham
bagaimana sebenarnya bangunan ABSAH yang
benar dan sesuai standar itu (konstruksi dan
bahan material yang ada di dalamnya).

3. Konfirmasi Instuktur
8
Keberadaan ABSAH sebenarnya merupakan
jawaban riil atas kenyataan lapangan yang ada di
Pacitan di mana secara geografis wilayah ini
relatif sulit untuk melakukan penyimpanan air.
Dengan kondisi seperti itu, maka keberadaan
akuifer ini pada hakikatnya merupakan alat
penyimpan air modifikatif di mana kondisi air
yang ada di dalamnya diupayakan (seakan- akan)
mervyempai aslmya.
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Lalu dari mana sumber-sumber air itu? Secara


global sumber air itu berasal dari hujan, per-
mukaan, dan tanah. Melihat kondisi geografis
wilayah Pacitan, maka sumber air yang dapat
dimanfaatkan adalah air yang berasal dari hujan.
Untuk mendapatkan rasa keaslian air, maka air
hujan yang rasanya ampyang tersebut di-
modifikasi dengan cara memasukkannya pada
bangunan ABSAH (ingat dalam bangunan itu
terdapat berbagai material yang dapat meng-
ubah rasa air hujan, misalnya penambahan
mineral air).
Pengembangan pengelolaan air model ABSAH
ini, tidak hanya dilakukan pada air yang berasal
dari hujan, tapi dapat juga menggunakan sisa air
wudhu. Melalui berbagai modifikasi air yang
terkategori mustamaltersebut diolah sedemi- kian
rupa (tidak hanya layak, tetapi juga suci dari
berbagai najis), sehingga dapat digunakan untuk
wudhu lagi.
Secara kualitas air dikatakan bersih dan layak
untuk diminum, apabila air tersebut bebas dari
beberapa bahan kimia seperti Fe (besi) dan Mn
(mangan), di samping tidak bolah mengandung
kuman. Untuk menyerap kuman dalam air maka
diperlukan zat karbon aktif.
Ada beberapa cara memperbaiki dan mening-
katkan kualitas air, misalnya dengan modal
ABSAH. Karena itulah dibutuhkan kesadaran

238
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

seseorang untuk merawat dan menjaga kondisi


bangunan tersebut, agar bangunan tersebut awet
dan airnya tidak tercemar.
Satu hal yang perlu diketahui bahwa sebenarnya
kualitas air dapat menurun. Misalnya secara
alamiah disebabkan oleh debu, kotoran, dan lain-
lain. Secara tidak alamiah kualitas air akan
menurun jika kita sendiri mengabaikan
kebersihannya. Di samping itu perlu memper-
hatikan teknik penyusunannya (tidak asal nyusun,
karena akan berkonsekuensi pada kualitas air
yang di hasilkan).

4. Penguatan Materi

Untuk menguatkan materi, bisa dengan meng-


gunakan beberapa hal di bawah ini.
Pertanyaan (Pak Kades):
Menurut saya, air ABSAH memiliki kele- bihan.
Oleh karena itu, perlu disampaikan kelebihan-
kelebihan air ABSAH ini, dan bagaimana
pengelolaannya.
Menurut bapak, waktu yang tepat untuk
melakukan perawatan itu kapan? Apakah
memungkinkan di saat awal musim hujan kita
melakukan pembersihan.
Jawaban.
Keberadaan bangunan ABSAH ini memang
dirancang untuk meningkatkan kualitas air yang

239
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kita inginkan. Jika kita hanya meng- andalkan air


yang berasal dari alam (apa adanya), maka
kualitasnya belum tentu baik, mengapa? Karena
air (khususnya yang ada di wilayah ini)
mengandung zat kapur yang begitu tinggi. Akan
tetapi sebenarnya juga kandungan kapur dalam
air itu dapat diturunkan dengan batu dan pasir
marmer sebagai media filtrasi.
Memang kita harus tahu bagaimana kondisi bak
tersebut apakah bersih atau tidak. Untuk itu
perlu dilakukan pembersihan terhadap bak
tersebut. Sangat tidak mungkin melakukan
pembersihan total terhadap bak tersebut. Oleh
karena itu, kita harus menge- tahui bagaimana
cara pembersihan yang efektif, misalnya bak
penampung air (yang merupakan hasil akhir)
untuk kali pertama dikeluarkan, setelah itu
ditampung kembali.
Tentang waktunya bisa dilakukan pada saat
musim penghujan.

Pertanyaan.
Apakah air setelah masuk bangunan ABSAH sudah
siap untuk diminum?
Jawab.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, air
pada bangunan ABSAH telah memenuhi
persyaratan fisik dan kimiawi. Mineral yang di-

240
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

butuhkan oleh tubuh kita memang dapat terpenuhi,


namun dari persyaratan mikrobio- logi,
menunjukkan bahwa air dari bangunan ABSAH
masih belum memenuhi persyaratan sebagai air
minum. Untuk itu air dari bangunan ABSAH tidak
siap untuk diminum secara langsung. Dalam
penggunaannya sebagai air minum harus dilakukan
proses sterilisasi/pemanasan dengan cara memasak
air sampai mendidih.

Pertanyaan
Bagaimana cara pemeliharaan bangunan ABSAH
agar tetap awet (tidak rusak)?
Jawak
Untuk memelihara bangunan ABSAH agar tidak
mudah rusak (pecah/retak), perlu meng- kondisikan
bangunan tersebut agar tetap menyisakan air dalam
bangunan tersebut. Konstruksi bangunan ini telah
didesain (dibuat) untuk tetap menyisakan air di
dalamnya yang cukup jumlahnya untuk membuat
kelembaban dalam bangunan agar tetap berada
pada kondisi yang diinginkan (tidak panas). Hal ini
dapat menjaga bangunan sipil (beton) yang
digunakan untuk menyimpan air tersebut.
Pemanfaatan lahan di sekeliling bangunan untuk
kolam ikan juga dapat mendukung pemeliharaan
bangunan ABSAH ini.
Pertanyaan.

241
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Apakah fungsi penggunaan arang dalam bangunan


ABSAH tersebut?
Jawab.
Arang digunakan sebagai media untuk menye- rap
(mengabsorbsi) air hujan yang kemungkinan
mengandung bahan-bahan yang bersifat toksik
(racun) dari udara yang terlarut oleh air hujan. Di
samping itu media arang juga dapat menye- rap bau
yang mungkin ada dalam air hujan tersebut.
MATERI 2: Mengenali Daur Air dan Akuifer Alam
Pradoto Iman Santoso Moch. Choirul Arif

1. Ringkasan Materi

Daur air di alam terjadi secara alamiah sesuai


dengan kondisi lingkungan tersebut. Lingkungan,
sebagai media transfer air, ikut menentukan kondisi
kualitas air selanjutnya. Kondisi udara yang tercemar
(gas, asap, dan debu) akan berpengaruh terhadap
kualitas air yang turun sebagai hujan di tanah.
Demikian juga jenis dan susunan batuan yang ada
dalam tanah turut berperan dalam meningkatkan
kualitas air yang masuk/meresap ke dalamnya.
Siklus air secara umum tidak dapat diketahui
dengan jelas dari mana asalnya. Air berputar secara
alamiah dalam jumlah yang tetap. Proses
perpindahan materi zat cair dari tanah ke udara
melalui proses evaporasi/penguapan, baik dari
sungai, laut, rawa, dan telaga, maupun hasil res-

242
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

pirasi manusia/binatang.
Kondisi air dari hasil penguapan akan ter-
kondensasi/terkumpul dan apabila telah cukup
jumlah dan beratnya akan turun sebagai air hujan.
Hujan yang turun di bumi (tanah) di samping
kembali ke badan air seperti sungai, laut, rawa, dan
sebagainya, juga terjadi proses peresapan (me- resap)
dalam tanah. Air meresap ke dalam tanah yang
berlapis-lapis, baik jenis maupun pori-pori yang
terkandung di dalamnya. Hingga pada ke- dalaman
dan lapisan tanah tertentu air tersebut sudah tidak
dapat meresap lagi, dan akhimya akan terkumpul
sebagai simpanan air dalam tanah (air tanah).
Simpanan air dalam tanah di atas lapisan yang kedap
air (tidak tembus air) disebut sebagai akuifer alam.
Air dalam akuifer ini dapat diman- faatkan dengan
cara pengambilan secara langsung
(pemompaan/pembuatan sumur) ke dalam tanah.
Pengambilan dan penggunaan air juga akan
mengembalikan air tersebut di atas tanah, sebagai air
permukaan dan akhirnya akan menguap ke angkasa.
Demikian siklus ini terjadi secara terus menerus,
tanpa mengurangi jumlah air yang ada di alam
sekitarnya. Secara kuantitas jumlah air cenderung
tetap, namun secara kualitas kondisi air akan
semakin menurun kualitasnya, karena
penggunaannya yang menghasilkan buangan/
limbah.

243
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .
2. Penguatan Materi

Ada bebetapa pertanyaan dan jawaban untuk


bisa dijadikan untuk mengutkan materi.

Pertanyaan.
Bagaimanakah proses pelarutan mineral dalam
tanah?
Jawab.
Secara alamiah, tanah mengandung mineral yang
dibutuhkan kehadirannya dalam air bersih. Air
hujan yang miskin mineral, akan bertambah
jumlah mineralnya bila meresap ke dalam tanah.
Air yang meresap ke dalam tanah akan
mentransfer mineral yang dikandung oleh lapisan
tanah tersebut. Semakin panjang per- jalanan air
tersebut ke dalam tanah, maka semakin banyak
jumlah mineral yang dapat diserap oleh air
tersebut. Hanya saja, pada kondisi tertentu
(jenuh), air tersebut sudah tidak dapat menyerap
lagi mineral dalam tanah tersebut.
Pertanyaan.
Bagaimanakah kondisi air tanah rata-rata di Pacitan.
Jawab.
Tanah di Pacitan rata-rata kondisinya porous air
(mudah meloloskan air ke dalam tanah). Lapisan
tanah (batuan) di daerah ini cenderung tidak dapat
menahan air yang meresap dari atas, karena tidak
mengandung batuan yang kedap air yang mampu

244
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

menahan dan mengumpulkan air dalam tanah.


Resapan air dalam tanah secara terus menerus
diloloskan dan dialirkan ke tempat lain berdasarkan
perbedaan tekanan. Namun tanah di Pacitan
mampu menyimpan air sebatas pada pori-pori di
antara materi tanah tersebut, yang hanya bisa
mengalir secara kapiler, dan hanya dapat
dimanfaatkan oleh tumbuhan, di daerah tersebut.

Pertanyaan.
Mengapa air hujan kandungan mineralnya ren- dah
dibanding dengan air tanah?
Jawab.
Air hujan berasal dari hasil penguapan/evapo- rasi
air di bumi. Pada proses penguapan ini
hanya air murni saja (H 2 0) yang dapat meng- uap
naik sampai di atas. Sedangkan kandungan
mineral yang ada dalam air tersebut ditinggal- kan
(contoh pembuatan garam). Dengan demikian
yang jatuh sebagai hujan adalah air yang miskin
mineral.

MATERI 3: Pengenalan Sumber dan Sarana Air

Bersih

H. Moh. Ali Aziz

245
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
1. Ringkasan Materi

Secara umum sumber air berasal dari 3 tempat:


air angkasa, yaitu air hujan; air permukaan, yaitu
sungai, laut, danau, rawa, dan lain-lain; dan air tanah
yaitu sumur gali, sumur bor, dan sumur pompa
tangan.
Dari masing-masing asal air tersebut mem-
punyai kelebihan dan kekurangannya, baik dari segi
kualitas maupun kuantitas. Air hujan dari segi
kualitas lebih baik, dibanding air permukaan, namun
dari segi kuantitas dan kontinuitas, air permukaan
lebih terjamin. Demikian juga dengan air tanah, dari
segi kualitas lebih baik, namun dari segi kuantitas
cukup terbatas. Penggunaan air tanah secara besar-
besaran, terutama di daerah dekat pantai akan
menyebabkan menurunnya kualitas air tanah
tersebut. Hal ini disebabkan oleh masuknya (proses
intrusi) air laut ke dalam tanah. Pemulihan kualitas
air pada kondisi seperti ini, memerlukan waktu yang
cukup lama, atau teknologi yang sangat mahal.
Ada beberapa macam sarana yang digunakan
untuk mendapatkan air bersih. Untuk pengambilan
air tanah, yang secara umum memberikan kualitas
air bersih yang lebih baik, maka proses peng-
ambilannya pun juga lebih mudah. Sumur gali, dan
sumur pompa tangan merupakan sarana penyediaan
air bersih yang digunakan untuk meng- ambil air
tanah dangkal. Sumur bor dan sumur pompa tangan
dalam adalah sarana yang digunakan untuk

246
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

pengambilan air tanah dalam. Kualitas dan kuantitas


air tanah dalam biasanya lebih baik dibanding air
tanah dangkal. Pada air tanah ini, biasanya bisa
digunakan secara langsung sebagai air bersih.
Untuk air permukaan, penggunaannya me-
merlukan proses pengolahan terlebih dahulu.
Pengolahan bisa dilakukan dari teknologi yang
paling sederhana hingga yang mutakhir. Hal ini

247
Model Pembelajaran Masyarabat-. Memberdayaban

tergantung dari kualitas air permukaan tersebut.


Semakin baik kualitas air permukaan, maka tek-
nologi pengolahan yang digunakan akan semakin
sederhana, dan biaya yang lebih murah. Pengolahan
dapat dilakukan baik secara fisik (pengendap- an,
penyaringan, dan filtrasi), maupun secara kimia
(penambahan bahan kimia seperti tawas).
Penggunaan air hujan sebagai sumber air bersih,
memerlukan sarana penampung tertentu. Kualitas
air hujan yang miskin mineral ini, juga dipengaruhi
oleh kondisi udara di daerah tersebut, yang relatif
ikut menentukan kualitas airnya. Dari bak
penampung tanpa pengolahan apa pun yang
digunakan pada masing-masing rumah tangga,
sarana penampungan air hujan (PAH) dengan
proses filtrasi saja, hingga bangunan ABSAH,
masing-masing akan memberikan kondisi air yang
berbeda kualitasnya.

2. Penguatan Materi

Untuk menguatkan secara materi bisa di-


dalami dengan beberapa pertanyaan dan jawaban di
bawah ini.
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
Pertanyaan.
Apakah kelebihan bangunan ABSAH dengan PAH
yang telah banyak digunakan di daerah- daerah.
Jawab.
Bangunan ABSAH didesain untuk mendapat- kan
air secara alamiah, sehingga air yang di- hasilkan
kualitasnya menyerupai kualitas air tanah yang
cukup mineral. Dengan menggunakan beberapa
jenis media secara berlapis- lapis dan waktu kontak
yang cukup, akan mem- bantu kelarutan mineral
dari media tersebut ke dalam air. Sedangkan PAH
hanya menampung air hujan sama pada reservoir
(tandon) sesuai dengan kebutuhannya. Kualitas air
PAH masih sama dengan kualitas air hujan murni
(miskin mineral).
Pertanyaan.
Dapatkah bangunan seperti ABSAH diterap- kan
dengan menggunakan air baku dari sungai?
Jawab.
Prinsip pengolahan dengan bangunan ABSAH
adalah proses penyaringan multimedia (media
beragam) yang mengalir secara horisontal
(lurus/mendatar). Hal ini dapat diterapkan dengan
menggunakan air baku dari sungai, namun harus
dilihat kualitas kekeruhannya. Bila air sungai
tersebut terlalu keruh, maka se- belum masuk
bangunan ini hendaknya dien- dapkan terlebih
dahulu (membuat bak pengen- dapan), sehingga

250
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

kekeruhan air tersebut dapat terkurangi. Hal ini


perlu dilakukan karena untuk mencegah terjadinya
penyumbatan pada pori-pori media penyaring
tersebut. Biasanya pencucian media lebih sering
dilakukan bila menggunakan air baku dari sungai.

Pertanyaan.
Mengapa air tanah lebih baik kualitasnya dari air
hujan?
Jawab.
Air tanah kualitasnya relatif lebih baik dari air hujan.
Karena air tanah tersedia dalam lapisan tanah, telah
melalui proses penyaringan, dan pelarutan mineral
dalam tanah. Namun pada daerah-daerah tertentu
seperti kualitas air hujan mungkin lebih baik, karena
air tanah tersebut telah tercemar, baik oleh limbah,
maupun terintrusi air laut.
MATERI 4: Penyimpangan Kualitas Air dan
Dampak yang Ditimbulkan

Imam Khambali

1. Ringkasan Materi

Standar kualitas air bersih telah ditetapkan


berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI
Nomor 416 tahun 1992. Ada beberapa parameter
yang dipersyaratkan harus ada dan maksimal yang

251
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

diperbolehkan konsentrasinya di dalam air bersih.


Parameter-parameter tersebut meliputi parameter
fisik, kimia, maupun mikrobiologis. Dari beberapa
parameter yang dipersyarakatkan untuk air bersih
tersebut, di samping bertujuan untuk menjaga ke-
sehatan bagi pemakainya (bila memenuhi per-
syaratan), juga untuk menjaga dampak negatif yang
ditimbulkan oleh penggunaan air bersih itu sendiri,
bila kondisinya tidak memenuhi persyaratan standar
tersebut.
Penyediaan air bersih di samping bermanfaat
bagi masyarakat juga dapat menyebabkan media
pertumbuhan agen penyakit bila penangannya
kurang baik. Ada beberapa jenis penyakit yang
penularannya melalui penggunaan air bersih yang
tidak memenuhi syarat kesehatan, misalnya desentri,
tipus, diare, dan lain-lain. Di samping dari segi
kualitas, maka kuandtas air bersih juga penting
untuk dipenuhi, karena penggunaan air bersih yang
secara kuantitias tidak terpenuhi dapat
menyebabkan beberapa penyakit, seperti: gatal-gatal
pada kulit.

2. Penguatan Materi

Penguatan materi bisa dilakukan dengan


mendalami beberapa pertanyaan dan jawaban di
bawah ini.

252
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .
Pertanyaan
Apakah air hasil pengolahan dari bangunan
ABSAH telah memenuhi persyaratan sebagai air
bersih, sebagaimana peraturan yang ada?
Jawab.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel (contoh
air) di laboratorium yang telah diambil pada
bangunan tersebut, menunjukkan bahwa be-
berapa parameter telah memenuhi persyaratan
sebagai air bersih. Secara umum air tersebut telah
memenuhi persyaratan sebagai air ber-
sih. Namun bilamana digunakan untuk minum,
harus dimasak dahulu sampai mendidih.

. Pertanyaan.
Apakah air yang sudah tampak jernih, memenuhi
persyaratan sebagai air bersih?
Jaivak
Harusnya air bersih itu jernih, namun bukan berarti
air yang jernih telah memenuhi persyaratan sebagai
air bersih. Persyaratan secara fisik dapat diukur
secara visual (dilihat dengan indera kita), namun
persyaratan kimiawi dan mikrobiologis, harus
dibuktikan dengan peme- riksaan pada
laboratorium.

Pertanyaan.

253
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Air dari mata air (air tanah) adakalanya masyarakat


mengkonsumsi secara langsung untuk diminum
tanpa dimasak terlebih dahulu. Bagai- mana hal ini
bisa terjadi?
Jaivab.
Mengkonsumsi air yang berasal dari sumber mata
air (air tanah) untuk minum secara langsung
memang telah banyak kita ketemukan di
berbagai daerah. Sepanjang kualitas air tersebut
baik, tidak tercemar dan tubuh mampu mene-
rimanya, hal ini tidak menjadi masalah. Memang
biasanya air dari mata air (air tanah) dari beberapa
sumber mata air, kualitasnya sebagai air bersih
jauh lebih baik dibandingkan dengan kualitas air
bersih hasil olahan. Bila kondisinya demikian
maka air tersebut aman untuk diminum.

MATERI 5: Pengawasan Kualitas Air Imam

Khambali

1. Ringkasan Materi

Pengawasan kualitas air dapat dilakukan dengan


cara memelihara dan melindungi sumber air yang
ada dari pengaruh pencemaran dari luar.
Pencemaran tersebut dapat diakibatkan oleh
pemeliharaan sarana yang kurang baik, misalnya
sarana tersebut tidak dilindungi dari pengaruh

254
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

pencemaran oleh binatang. Pembuatan pagar


pembatas untuk melindungi sumber air sangat
diperlukan. Penggunaan air yang tidak terkontrol,
misalnya penggunaan secara besar-besaran tanpa
diperhitungkan debit yang dihasilkannya, akan
menyebabkan tercemamya sumber air atau hilang-
nya mata air tersebut, yang biasanya ditandai dengan
berkurangnya debit air yang dihasilkan.
Pengawasan juga perlu dilakukan pada setiap
periode tertentu dengan mengambil sampel/ contoh
air pada sumber tersebut, untuk dilakukan analisis
laboratorium. Hal ini perlu dilakukan, mengingat
pencemaran dapat terjadi baik secara sengaja
maupun tidak disengaja. Tindakan anti- sipasi
terhadap pencemaran yang akan terjadai, perlu
dilakukan sedini mungkin. Bila air bersih tersebut
didapatkan dengan menggunakan sarana berupa
bangunan sipil, maka bangunan sipil ini harus selalu
dipantau, baik kondisinya secara umum, maupun
proses pengolahan yang terjadi. Penambalan dan
perbaikan dari masalah yang paling kecil perlu
dibenahi untuk kelangsungan proses penyediaan air
bersih tersebut.

2. Penguatan Materi

Untuk menguatkan dan memperdalam


materi bisa dilakukan dengan melihat beberapa
pertanyaan dan jawaban di bawah ini.
Pertanyaan.

255
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Untuk menjaga agar kualitas air dalam bangunan


ABSAH tetap terjaga, tindakan apa yang harus
dilakukan?
Jawab.
Bangunan tersebut harus dilindungi dari pengaruh
binatang dari luar dan lingkungan yang tidak sehat
di sekitarnya. Karena keberadaan binatang dan
kondisi lingkungan yang tidak sehat di sekitarnya
tersebut memungkinkan meiicemari air yang ada di
dalamnya. Untuk itu pembuatan pagar di sekeliling
bangunan sangat diperlukan. Semua lubang yang
me- mungkinkan masukknya binatang, seperti
katak, tikus, dan serangga lain ke dalam bangunan
tersebut, harusnya ditutup dengan kasa, dan
menjaga kebersihan di luar bangunan ABSAH harus
selalu diperhatikan.
Pertanyaan.
Pemeriksaan sampel air pada laboratorium apakah
wajib hukumnya?
Jawab.
Untuk pertama kali unit tersebut dioperasional- kan,
sangat diperlukan hasil analisis laboratorium.
Namun setelah beberapa waktu diopera-
sionalkan, bilamana pemeliharaan kebersihan
bangunan terjamin dan cara pengambilan air
dilakukan dengan benar dan saniter, maka
pemeriksaan sampel pada laboratorium bisa
ditekan.

256
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

Pertanyaan.
Apakah yang dimaksud dengan debit?
Jawab.
Yang dimaksud debit adalah debit air, yaitu
jumlah air yang dihasilkan persatuan waktu ter-
tentu. Satuan dari debit ini adalah liter/detik,
liter/hari, m3/hari, dan seterusnya.

MATERI 6:

Perbaikan Kualitas Air Imam Khambali

1. Ringkasan Materi

Perbaikan kualitas air diperlukan bilamana


kondisi air yang tersedia di daerah tersebut tidak
memenuhi persyaratan, baik dari segi fisik, kimia- wi
maupun bakteriologi. Hal ini perlu dilakukan

257
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .

di samping untuk memenuhi syarat kesehatan,


juga untuk memenuhi dari segi estetika air tersebut
agar dapat diterima keberadaannya di masyarakat.
Pengolahan yang paling sederhana dilakukan adalah
pengolahan secara fisik, yaitu proses pengendapan
dan peyaringan sederhana. Hal ini dapat dilakukan
bilamana padatan yang menyebabkan kekotoran air
tersebut ukurannya lebih besar, dan dapat
dipisahkan melalui proses pengendapan dan
peyaringan. Proses pengendapan memerlukan
waktu tertentu untuk memberikan kesempatan zat
pengotor tersebut mengendap secara alami. Untuk
proses penyaringan memerlukan media saringan,
misalnya pasir dengan diameter tertentu (0,5-1 mm)
dengan ketebalan media minimal 60 cm.
Bilamana zat pengotornya berupa padatan yang
ukurannya lebih kecil lagi, sehingga perlu waktu
pengendapan yang lebih lama, maka untuk
mempercepat proses pemisahan zat pengotor
tersebut adalah menggunakan bahan koagulan
(tawas) dengan dosis tertentu. Untuk air badan air
(sungai) biasanya penggunaan tawas tersebut sebesar
1 sendok makan setiap 1 m air yang akan diolah.
Setelah diberi tawas yang telah dilarutkan dengan air
bersih, maka dilakukan pengadukan secara merata
lebih kurang 1 menit. Setelah itu didiamkan untuk
proses pengendapan selama 30 menit. Pada bagian
air yang bersih (bagian atas) dipisahkan dari endapan
di dasar bak. Endapan dibuang/dikeringkan.

258
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban

Sedangkan airnya dapat disaring dengan


menggunakan saringan pasir seperti di atas.
Untuk memenuhi kualitas secara bakterio- logis,
maka pengolahan dapat dilanjutkan dengan
membubuhkan kaporit pada air setelah dilakukan
penyaringan. Dosis kaporit yang dibubuhkan
biasanya sebesar 1 sendok teh setiap 1 m3 air yang
akan diolah. Penggunaan air sebagai air bersih dapat
dilakukan setelah 30 menit dari waktu pembubuhan
kaporit tersebut. Untuk keperluan konsumsi
sebaiknya dilakukan proses sterilisasi dengan
melakukan pemanasan air tersebut sampai
mendidih.

2. Penguatan Materi:

Untuk penguatan materi bisa dilihat dalam


pertanyaan dan jawaban di bawah ini.

Pertanyaan.
Mengapa dalam pengolahan air tersebut
diperlukan tawas?
Jawab.
Penambahan tawas dalam pengolahan air bersih
diperlukan untuk membantu proses pengendapan
zat pengotor dalam air. Tawas mempunyai sifat
dapat menyatukan partikel pengotor dalam air,
sehingga kotoran tersebut menjadi lebih besar
ukurannya dan lebih berat, dengan demikian dapat
259
I
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

mengendap dengan cepat. Selain tawas dapat juga


menggunakan bahan seperti dukem dan lain-lain.

Pertanyaan.
Pengolahan air bersih itu apakah tidak cukup
dengan proses penyaringan saja (penyaringan pasir)?
Jawab.
Apabila langsung dilakukan penyaringan tanpa
diendapkan terlebih dahulu, maka yang terjadi
saringan pasir tersebut akan cepat buntu, karena
masuknya zat-zat pengotor di sela-sela saringan
tersebut. Untuk menghindari hal ini maka sebelum
disaring sebaiknya air tersebut diendapkan terlebih
dahulu, sehingga proses pencucian media penyaring
(pasir) akan lebih lama.

260
1

Model-Model Pemberdayaan Masyarabat


Pertanyaan.
Penggunaan kaporit biasanya menimbulkan bau
yang kurang disukai masyarakat, sehingga enggan
menggunakannya. Bagaimana cara menghilangkan
bau tersebut?
Jawab.
Untuk keperluan air bersih sebenarnya air yang
sedikit berbau kaporit tidak membahayakan bagi
kesehatan. Untuk keperluan konsumsi se- hari-hari,
bau kaporit dapat dihilangkan dengan cara
pemanasan, kaporit akan menguap. Atau dapat
menggunakan arang aktif (arang) sebagai media
penyerap bau (absorbsi).
Pertanyaan.
Apakah air laut dapat diolah menjadi air bersih?
Jawab.
Pengolahan air laut dilakukan dengan cara me-
misah kadar garam yang terkandung di dalam- nya.
Karena ukuran partikel garam sangat kecil, maka
dengan penyaring biasa (pasir) tidak mampu
memisahkan kadar garam yang larut dalam air.
Proses pengolahannya hanya dapat dilakukan
dengan cara destilasi (penyulingan) atau
menggunakan teknologi mikrofiltrasi, seperti proses
osmosis balik. Untuk melakukan
hal ini semua dalam kapasitas yang besar me-
merlukan biaya yang cukup mahal.

261
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

MATERI 7:

Jenis Sarana Perbaikan Kualitas Air Imam Khambali

1. Ringkasan Materi

Untuk melakukan pengolahan dalam rangka


memperbaiki kualitas air, diperlukan sarana- sarana
tertentu. Jenis sarana tersebut disesuaikan dengan
air baku yang akan diolah, serta disesuaikan dengan
kondisi di daerah tersebut. Pada daerah seperti di
Pacitan yang mengandalkan sumber air bersih dari
angkasa (hujan), sarana penyediaan air bersih yang
dapat dikembangkan adalah PAH (penampungan
air hujan), atau bangunan ABSAH. Kedua
bangunan ini dibuat dan diper- hitungkan
kapasitasnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari selama periode tertentu (1 tahun) sesuai dengan
kondisi curah hujan pada daerah tersebut.
Bangunan ini sangat bermanfaat untuk memenuhi
kebutuhan air bersih sehari- hari.
Untuk daerah yang curah hujannya kecil, dan
terdapat badan air (sungai), maka pengolahan yang
diperlukan adalah berupa bak pengendapan dan bak
penyaringan pasir. Hal ini dilakukan untuk
memperbaiki kualitas air semula sehingga lebih bisa
diterima baik secara fisik maupun secara este- tika.
Sedangkan untuk daerah yang menggunakan air
tanah sebagai sumber air bersih, maka sarana air

262
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .
bersih dari segi konstruksi maupun proses
pengambilannya memerlukan desain tertentu
sehingga kualitas air tetap terjaga kemurniannya.
Tidak meresapkan air buangan pada jarak tertentu
(<11 meter) merupakan tindakan pencegahan
terhadap sumber air yang digunakan. Tindakan
pemanasan air hingga mendidih sebelum di-
konsumsi merupakan tindakan yang paling baik
dalam mencegah terjadinya penyakit akibat peng-
gunaan air bersih.

2. Penguatan Materi

Penguatan materi bisa didalami dengan


beberapa pertanyaan dan jawaban di bawah ini.

Pertanyaan.
Bagaimanakah cara menghitung kebutuhan air
dalam masyarakat?
Jawab.
Kebutuhan air bersih dapat dihitung berdasarkan
kebutuhan air bersih setiap orang setiap hari.
Misalnya dalam 1 keluarga terdiri dari 5 anggota
keluarga dan setiap orang memerlukan 100 liter air
bersih setiap harinya, maka kebutuhan air bersih
untuk keluarga tersebut setiap harinya adalah 5
orang x 100 liter=500 liter. Dengan demikian air
bersih yang harus tersedia pada keluarga tersebut
setiap harinya adalah 500 liter.

263
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
Pertanyaan.
Mengapa pembuangan air kotor/limbah harus
memenuhi jarak minimal 11 meter dari sumber air
bersih?
Jawab.
Dengan jarak tersebut bakteri yang ada dalam air
limbah akan mati karena kehabisan makanan dan
tidak dapat menjangkau sumber air bersih tersebut.

Pertanyaan.
Apakah bangunan PAH bisa dijadikan bangunan
ABSAH?
Jawab.
Kedua jenis bangunan ini didesain sangat ber-
beda, sehingga bangunan PAH tidak bisa di-
jadikan bangunan ABSAH. Pada bangunan PAH
lebih dominan berfungsi sebagai pe- nampungan
air hujan saja. Sedangkan pada bangunan ABSAH
selain penampungan juga terjadi proses
pengolahan (penambahan mineral) pada air hujan
tersebut, sehingga hasilnya akan lebih baik dari
pada hanya ditampung saja seperti pada PAH.

MATERI 8:

Operasi dan Pemeliharaan Bangunan ABSAH Ferry

Kriswandana

264
Model Pembelajaran Masyarabat: Memberdayaban .
1. Ringkasan Materi

Kebutuhan air bersih untuk dimasak (makan dan


minum) secara normal dalam sebuah rumah
tangga 40 liter/hari/4-5 orang.
Yang menentukan ketersediaan air hujan yang
digunakan sebenarnya didasarkan pada inten-
sitas hujan yang turun dalam suatu daerah (diukur
dalam 1 tahun). Sebagai contoh daerah Pacitan
curah hujan setiap tahunnya sekitar 1000 mm (1
meter).
Untuk mengetahui kebutuhan air bersih dalam 1
tahun bisa menggunakan ukuran intensitas curah
hujan dalam suatu daerah. Dengan demikian
kebutuhan air bersih dalam 1 tahun di sebuah
wilayah dapat dihitung dari kebutuhan air bersih
perhari dikalikan dengan jumlah hari selama 1
tahun (40 lt/hari x 365 hari/tahun) diperoleh
14.600 liter/tahun atau sekitar 15 m3/tahun.
Mengacu kebutuhan air bersih dalam satu kelu-
arga selama 1 tahun, jika dibuatkan bak penam-
pung air dengan ukuran sekitar 2 x 3 x 2,5 m,
maka volumenya mencukupi, yaitu 15 m3.
Lalu bagaimana dengan kebutuhan tangkapan air
yang dapat menangkap air hujan dengan volume
tersebut. Karenanya, luas atap tangkapan air
hujan yang dibangun atau digunakan adalah
sekitar 15 m2 (luas atap=kebutuhan air bersih
dibagi dengan curah hujan pertahun:15 m3: 1 m =
15 meter persegi. Dengan demikian diperlukan

265
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

luas atap sebagai tangkapan air hujan seluar 15 m2


atau 3 m x 5 m luas atap.
Mengingat kebutuhan air yang kita inginkan
adalah air yang memenuhi syarat dalam arti layak
minum, maka penggunaannya harus di-
minimalkan atau dihilangkan kuman yang ada di
air itu.
Sebagai bentuk upaya perbaikan kualitas air
tersebut, dapat dilakukan dengan cara mem-
bangun bangunan ABSAH (metode rekayasa
yang didasarkan pada proses penjernihan air
secara alamiah).
Satu hal yang perlu diperhatikan dalam peng-
olahan air hujan adalah keberadaan alat filter
(saringan media). Dalam konteks ABSAH, maka
media penyaring berada pada material pasir
halus, sementara dakron atau ijuk lebih
difokuskan pada penyaringan terhadap benda-
benda yang kasar. Salah satu manfaat yang ada
pada media pasir halus adalah dapat memberikan
tambahan suplai mineral dalam air.
Sementara itu untuk menyerap bahan-bahan
yang tidak dikehendaki dalam air, misalnya
keracunan, atau terpolusi maka perlu diberikan
material arang aktif. Kemudian untuk menahan
agar material arang masuk ke tandon, perlu
diberikan material kerikil.

266
Model Pembelajaran Masyarabat-. Memberdayaban
2. Penguatan Materi
Penguatan materi bisa dilihat dari beberapa
pertanyaan dan jawaban di bawah ini.

Pertanyaan.
Apakah dengan kondisi bak yang kecil tersebut,
menentukan tingkat kebersihan air tersebut?
Jawaban.
Bak yang ada sama sekali tidak dimaksudkan
untuk meningkatkan kualitas air hujan menjadi
lebih bersih dan layak minum, melainkan hanya
sebagai media penampung saja. Karena itu, jika
air yang ada di bak tersebut akan digunakan
sebagai kebutuhan sehari-hari dalam se- buah
keluarga, maka perlu diolah lagi, apakah dengan
model ABSAH atau model yang lain (PAH).
Model ABSAH yang sampai sekarang lebih baik
dibandingkan dengan model penyaring langsung
(PAH), dan sebagai contoh adalah dari sisi
perawatan dan cara member- sihkan alat tersebut.
Oleh sebab itu kesadaran untuk menjaga
kebersihan bangunan atau alat itu menjadi
penting untuk diperhatikan.
Bagian V

267

MODEL PEMBERDAYAAN
EKONOMI MASYARAKAT
MELALUI USAHA TERNAK
DOMBA TANPA RUMPUT

Fatkur Rohman

1. Pendahuluan

Mencermati terjadinya krisis ekonomi di In-


donesia yang berlangsung hingga saat ini, ternyata
membuktikan bahwa telah terjadi kerapuhan
sendi-sendi perekonomian Indonesia secara glo-
bal yang berujung terhadap tingginya tingkat
kemiskinan, 6 yang juga akan menjadi ancaman
terjadinya konflik sosial masyarakat dalam masya-
rakat Indonesia. Oleh sebab itu, secara individu-
individu masyarakat harus mulai kita arahkan
dengan cara mendorong dan membangun untuk
mencari alternatif-alternatif strategi pemberdaya-
an masyarakat, sebab mencari peluang usaha pada
era global sekarang ini bukanlah pekerjaan mu-
dah, tetapi membutuhkan kecerdasan, kejelian,
dan daya kreativitas yang tinggi. Lebih-lebih bagi
masyarakat pedesaan yang pada umumnya lebih
bersifat pasif dan menerima realitas hidup yang
serba apa adanya (baca: nrimo ingpandom). Sementara
tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-
hari mudak tidak bisa ditangguhkan barang sehari
pun karena menyangkut kelangsungan hidup hari
berikutnya.
Sebenarnya kalau kita mau jeli dan cerdas,
potensi sumber daya alam di Indonesia secara
umum adalah sangat subur. Hanya persoalannya
mungkin kualitas sumber daya manusia dan
sumber dana yang jadi persoalan, sehingga berapa
pun besarnya potensi sumber daya alam yang kita
miliki kalau tidak memiliki kualitas sumber daya
manusia, maka dapat dipastikan kita tidak mampu

6
Tingginya tingkat kemiskinan menurut pengamat ekonomi salah
satunya disebabkan masih besarnya tingkat korupsi yang dilakukan
oleh pejabat negara. Hal ini disampaikan oleh Direktur Bank
Dunia Bert Hofman dalam Harian Kompas, Sabtu, 21 Juni (2003).

273
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

mengelola dengan baik. Misalnya saja paket-paket


program baik yang dilakukan oleh pemerintah
maupun non-pemerintah kaitannya dengan pem-
berdayaan masyarakat. Bentuknya melalui Dolog
dengan paket beras murah Jaring Pengaman

274
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Sosial-Operasi Pasar Khusus (JPS-OPK), JPS-


Pendidikan, JPS-Kesehatan dsb., dan juga melalui
LSM-LSM7. Masih sarat dengan KKN (Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme), makanya model paket-
paket program semacam ini tidak mujarab dan
belum mampu merubah kondisi mereka secara
berkelanjutan. Artinya, paket program maupun
bantuan bersifat temporer dan habis pakai.
Bukan pada inti permasalahan yang dituju, yakni
mencetak seseorang bagaimana dia dapat
menciptakan lapangan kerja, sehingga bisa meng-
hasilkan keuntungan secara materiil di samping
dapat merekrut tenaga-tenaga baru.
Tulisan ini merupakan salah satu bagian kecil
yang mencoba menawarkan model
pemberdayaan masyarakat melalui usaha ternak
domba tanpa rumput. Bicara soal ternak hewan
(baca: domba) barangkali bukan hal baru di
kalangan masyarakat, karena memang secara
historis masyarakat Indonesia sebagian besar juga
hidup dari sektor peternakan. Secara umum
orang ketika bicara per- soalan ternak hewan
(domba) tergambar di benak mereka, bahwa
domba adalah sebuah hewan kotor, kumuh, dan
bahkan menjijikkan, dan istilah jelek lainnya.
7
Paket-paket program semacam ini dalam praktiknya sering
dimanfaatkan sebagai ajang untuk menghamburkan-hamburkan
kepentingan sebagian orang dan tidak tepat sasaran. Ini terbukti
dari hasil Evaluasi Tim LPM IAIN Sunan Ampel Surabaya
kerjasama dengan Dolog Jawa Timur dalam Evaluasi JPS-OPK.
275
Baca Laporan Evaluasi Program JPS-OPK Jawa Timur tahun 2000.
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Padahal domba adalah salah satu hewan yang


sejak awal adanya sampai sekarang menjadi
bagian kebutuhan masyarakat untuk di- konsumsi
yang berupa daging. Bahkan pada tatar- an
nasional 8 dan internasional, permintaan daging
masih relatif tinggi dan mantap dengan harga
yang menguntungkan para peternak lokal 9.
Besarnya permintaan pasar (baik ekspor atau-
pun pasar dalam negeri) memberikan angin segar
bagi para petani ternak untuk mengembangkan
jumlah dan mutu ternaknya. Sebagai salah satu
jenis ternak yang cukup potensial untuk dikem-
bangkan dalam rangka menjawab tuntutan pasar
adalah ternak kambing dan domba, karena jika
dibandingkan dengan ternak lain (ayam, sapi, dan
8
Ternak domba masih menjadi salah satu penghasii daging yang
bisa diandalkan. Ini dapat dilihat sejak Pelita I, pemerintah telah
menyebarkan ternak domba kepada petani kecil yang sampai
pada tahun 1996 sebanyak 3.334.512 ekor domba. Kenyataan ini
diperkuat oleh Departemen Pertanian melalui Direktorat
Jenderal Peternakan setelah tahun 1995 mengembangkan proyek
domba yang disebut Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas
Unggulan Domba (SPAKU Ternak Domba) di Sumatra Utara
(Kab.Langkat) dan Jawa Barat (Kab. Garut) yang bertujuan untuk
mengembangkan sentra-sentra produksi yang berorientasi
agrobisnis modern. Proyek pengembangan ternak domba ini
dilakukan melalui dua bentuk, yakni Gerbang Rukan (Gerakan
Pengembangan Rumah Kandang) dan Gerbang Anak Desa
(Gerakan Pengembangan Areal Peternakan Pedesaan). Untuk
lebih jelas baca : Prospek Mendirikan Proyek Kemitraan
Terpadu Pemeliharaan Domba, (Online)
http://www.bi.go.id/sipuk/lm/ind/ domba/pendahuluan.htm.
17 Juni (2003).
9
Baca :
http://www.bi.go.id/sipuk/lm/ind/domba/pendahuluan.htm.
tanggal 17 Juni (2003).
276
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

kerbau) ternak kambing dan domba memiliki


keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
a. Risiko kerugian dan kematian sangat kecil.
b. Biaya yang dibutuhkan lebih kecil dibanding-
kan ternak sapi.
c. Tidak memerlukan lahan yang terlalu luas.
d. Polusi yang ditimbulkan lebih kecil daripada
ternak ayam, sapi, atau kerbau.
e. Kotorannya dapat dipergunakan sebagai
pupuk.
. Mudah berkembang biak.
g. Di dalam pemeliharaan tidak banyak mem-
butuhkan tenaga dan waktu.
h. Mudah adaptasi terhadap berbagai keadaan
lingkungan.
i. Penjualannya lebih mudah (setiap waktu
dapat dipasarkan) karena dari segi harga sangat
ter- jangkau oleh masyarakat bawah.
j. Ternak kambing lebih banyak diminati oleh
sebagian besar bangsa Indonesia, karena
dilihat dari segi sosio-kultural religius
mayoritas masyarakat Indonesia adalah
beragama Islam, sehingga kegiatan-kegiatan
yang bersifat tem- porer seperti perayaan hari
raya kurban, meng- akikahi anak dan
sebagainya, kambing menjadi pilihan yang
tepat.10

10
Balai Informasi Pertanian Jawa Timur, Bertemak Kambing,
(Surabaya: Balai Pertanian Jawa Timur, 1990), him. 7.
277
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Namun demikian kalau kita cermati, ternyata


usaha ternak kambing dan domba semacam ini
hanya menjadi usaha sampingan bagi para petani.
Hal ini misalnya bisa kita lihat hasil penelitian
yang dilakukan Mathius dan Subandriyo yang
me- nyimpulkan bahwa pada umumnya kambing
atau domba dipelihara petani ternak sebagai
usaha sambilan dengan kepemilikan ternak yang
sedikit, antara 2 sampai 4 ekor (rata-rata 3,3
ekor/pe- ternak). Lebih dari 69% populasi ternak
kambing dan domba terdapat di pulau Jawa, dan
80% di antaranya tersebar di wilayah pedesaan.
Sebagai- mana tergambar dalam tabel 1 berikut
ini adalah distribusi ternak kambing dan domba
di Indonesia tahun 1988. 11
Tabel 1
Distribusi Ternak Kambing/Domba di Indonesia
Tahun 1988

Daerah Penyebaran Kambing Domba Total


6.296.619 4.792.244 11.088.863
Pulau Jawa Luar Jawa
4.258.381 652.756 4.911.137

Jumlah 10.555.000 5.445.000 16.000.000

Walaupun dilaksanakan sebagai usaha sambil-


an, namun sumbangannya terhadap pendapatan
keluarga cukup besar, yaitu antara 14-25%.
11
Mathius Mathius. I. W., Pokok-Pokok Pikiran Budidaya Kambing
Domba di Pedasaan. Dalam Jumal Penelitian dan Pengembangan
Pertanian oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Jakarta, Vol: X, No. 4, Oktober (1991).
278
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

Sedangkan secara nasional ternak kambing dan


domba berhasil memberikan sumbangan sebesar
10,1 % atau 93.600 kg dari total kebutuhan da-
ging nasional sebesar 928.800 kg (data tahun
1988). Jumlah daging kambing domba tersebut
berasal dari pemotongan sejumlah 1.757.201
ekor.
Dari angka ini terlihat bahwa sumbangan
kambing dan domba terhadap penyediaan daging
cukup kecil, namun mempunyai arti ekonomis
yang cukup besar bagi peternak-peternak kecil.
Di sisi lain perkembangan populasi kambing dan
domba menunjukkan kenaikan angka yang kecil
namun demikian ternak ini tetap dipelihara oleh
petani-peternak.
Dalam upaya pengembangan kambing dan
domba, telah ditetapkan paket teknologi intensi-
fikasi kambing dan domba (Inkado) yaitu: pemi-
lihan bibit yang baik, sistem perkandangan yang
baik, pemberian pakan (ransum) yang tepat,
pengendalian penyakit ternak, dan penanganan
usaha (manajemen usaha) yang baik. Sedangkan
faktor yang paling mempengaruhi keberhasilan
pengembangan usaha ternak kambing dan domba
ada tiga hal: bibit {breed), pakan (feed), dan mana-
jemen.12
Bibit yang baik, memiliki ciri-ciri antara lain:

12
Departemen Pertanian, Kita Sukses Berternak Domba. Liputan.
No.2 12/1991, edisi September (1991).
279
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

sehat, lincah, umur antara 6-10 bulan dengan


berat tubuh antara 15-20 kg. Dengan pemilihan
bibit yang benar, berat badan domba dapat men-
capai 0,15 kg perhari atau 4,50 kg perbulan. Se-
mentara jika pemilihan bibit kurang diperhatikan
(tidak benar), kenaikan bobot badan domba
hanya mencapai 0,020-0,030 kg perhari atau 0,6
kg perbulan. 13
Pakan ternak yang baik adalah yang meme-
nuhi kandungan serat kasar, karbohidrat dan
lemak sebagai sumber energi, protein, vitamin,
dan mineral. 14 Sedangkan yang dimaksudkan de-
ngan pengelolaan meliputi sistem perkandangan,
pengobatan penyakit ternak serta penanganan
hasil produksi ternak, termasuk cara penjualan-
nya.
Dalam hubungan dengan pakan ternak, se-
benarnya kita dapat membuat formula atau menu
sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan lain
sebagai pengganti rumput. Bahan-bahan tersebut
cukup banyak tersedia, misalnya ampas tepung
tapioca atau ampas tahu (gamblong) sebagai sum-
ber serat kasar, dan dedak atau katul sebagai sum-
ber energi dan protein. Sedangkan untuk lemak,
vitamin, dan mineral dapat kita berikan sebagai

13
Mathius. I. W., Pokok-pokok Pikiran Budidaya Kambing Domba di
Pedasaan", dalam Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta, Vol:
X, No. 4, Oktober (1991).
14
Tillman, dkk., Ilmu Pakan Ternak Dasar, (Yogyakarta: Fak.
Peternakan UGM, 1984).
280
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

makanan tambahan atau aditif sesuai kebutuhan


ternak. Dengan demikian, upaya pengembangan
ternak (khususnya domba) dapat dilakukan di
wilayah manapun dan pada saat kapan pun, baik
pada musim hujan ataupun musim kemarau pada
saat rumput sulit didapatkan.
Apabila hal ini dapat dilaksanakan, tentu akan
meningkatan penghasilan keluarga, meningkatkan
ketersediaan daging sebagai sumber gizi masyara-
kat, meningkatkan produksi pertanian melalui
ketersediaan pupuk kandang, dan secara nasional
akan meningkatkan pendapatan (income) negara
sebagai hasil meningkatnya ekspor daging domba.
Apa yang penulis suguhkan dalam tulisan ini
terinspirasi dari hasil observasi dan penelitian
kami di Grati Pasuruan Jawa Timur, di rumah sa-
lah seorang pengusaha ternak domba tanpa rum-
put. Harapan penulis mungkin usaha semacam
ini bisa menjadi virus yang menggugah semangat
untuk berusaha dan berkarya.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa domba
merupakan salah satu jenis ternak yang banyak
dipelihara oleh petani, sebab secara geografis he-
wan tersebut banyak hidup di daerah
persawahan, dan di situlah terdapat banyak
ladang rerumputan yang memang makanan
sehari-harinya. Di sam- ping itu usaha ini sangat
cocok dengan kondisi petani yang memiliki
keterbatasan dalam per- modalan, serta lahan
281
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

yang tidak terlalu luas. Usaha perternakan domba


juga sangat membantu dalam upaya peningkatan
modal petani (sebagai inves- tasi) dan pupuk
kandang yang dihasilkannya sangat berguna bagi
peningkatan hasil produksi pertanian.
Memelihara domba lebih digemari petani/
peternak karena risikonya lebih kecil daripada
memelihara ternak yang lain (ayam atau sapi).
Modal yang diperlukan juga tidak begitu besar
dan penjualannya lebih mudah daripada ternak
sapi, sehingga pada saat petani/peternak
memerlukan modal yang tidak terlalu besar, dapat
segera dida- patkan dengan menjual ternak
dombanya.
Salah satu faktor pembatas di dalam usaha
memelihara domba adalah ketersediaan pakan
yang cukup, dan cara pemeliharaan yang masih
sangat sederhana. Pada saat ini, pemeliharaan
domba masih dilaksanakan sebagai usaha
sampingan dengan skala pemilikan antara 2-5
ekor dengan teknologi sangat sederhana, sehingga
pertumbuhan dan produk- tifitasnya masih
rendah.15
Selama ini dengan usaha domba secara
sampingan, petani cukup mengandalkan pakan

15
Musofie, dkk., Pengaruh Perbaikan Pakan Pada Induk Domba
Ekor Gemuk Terhadap Pertumbuhan Anak hingga Dipisah, dalam
Jumal llmiah Penelitian Temak Grati, Vol. 1, No. 1, edisi Juli,
(1990).
282
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

ternaknya dari sisa-sisa hasil pertanian (misalnya


batang jagung, daun ketela pohon, kacang atau
kedelai) maka untuk keberhasilan pengembangan
usaha ternak domba, masalah jaminan ketersedia-
an pakan tersebut harus menjadi pertimbangan
utama. Dengan meningkatnya pertumbuhan pen-
duduk, meningkatnya daya beli masyarakat, dan
meningkatnya kesadaran terhadap kebutuhan gizi,
mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan
bergizi termasuk daging. Untuk menjawab
kondisi tersebut, perlu dilaksanakan upaya pe-
ngembangan usaha ternak domba yang dikelola
secara lebih intensif.
Apabila di dalam usaha ternak domba kita
hanya mengandalkan pakan hijauan (baik rumput
atau rambanan),16 maka usaha tersebut akan
menghadapi masalah pada saat musim kering
(musim kemarau) di mana pada saat tersebut sulit
didapatkan rumput atau rambanan. Di samping
itu pengembangannya tidak akan dapat menyen-
tuh daerah yang lebih luas lagi. Karena itu perlu
diupayakan suatu formula (menu) pakan domba
yang tidak lagi mengandalkan rumput segar se-
bagai satu-satunya pakan, seperti yang dilaksana-
kan oleh banyak peternak pada saat ini. Karena-
nya, formula menu sebagai alternatif pakan ternak
tersebut yang penting harus tetap memenuhi

16
Istilah bahasa Jawa yang mengandung arti sebagian jenis
dedaunan yang bisa dimakan hewan herbivora.
283
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kebutuhan gizi dasar (karbohidrat, serat kasar,


protein, lemak, dan vitamin) bagi ternak domba
yang kita pelihara, sehingga dapat tumbuh dan
berkembang sebagaimana yang kita harapkan.
Dilihat dari segi efektivitas dan efisiensi
waktu, cara pemeliharaan domba tanpa rumput
(menggunakan pakan jadi) lebih mudah diban-
dingkan pemeliharaan domba dengan pakan
rumput (pakan hijau-hijauan atau rambanan).
Apalagi jika usaha ternak tersebut berskala besar
dengan jumlah ternak yang cukup banyak, tentu-
nya akan semakin merepotkan pemiliknya mau-
pun penggembalanya, khususnya ketika mencari
pakan ternak.
Untuk mengetahui lebih jelas keuntungan
memelihara ternak domba dengan rumput dan
tanpa rumput (pakan jadi) dapat dilihat dalam
tabel 2 sebagai berikut.
Tabel 2
Perbedaan Keuntungan Memelihara Ternak
Domba Dengan Rumput dan Tanpa Rumput

284
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

Pakan Jadi an Rumput (Pakan Hijauan)

Hanya cocok untuk skala usaha kecil


karena tidak memerlu- kan biaya
Mudah penyediaannya, baik untuk skala pembelian pakan.
usaha kecil maupun besar, untuk waktu
dan lokasi manapun. Sulit dilaksanakan untuk skala usaha yang
apat dilakukan untuk usaha lebih besar, lebih besar, karena sulit penyediaan
karena tidak bergantung pada pakannya.
ketersediaan rumput (pakan hijauan).

Tidak menimbulkan penyakit cacing Kemungkinan terserang penyakit cacing,


sehingga pertambahan berat badan lebih sehingga pertambahan berat badan
cepat. domba kurang cepat.

Kandang lebih kotor oleh sisa- sisa pakan


Kandang lebih bersih, karena pakan dan dan feses yang basah sehingga
feses-nya kering sehingga tidak terlalu menimbulkan bau.
menimbulkan polusi/bau.
___ 3 _
2. Temuan di Lapangan

Dalam proses usaha ternak kambing dan


domba tersebut ada beberapa langkah-langkah
yang harus dilakukan, untuk menghindari risiko
yang paling buruk (rugi) sehingga hasil yang
diharapkan dapat maksimal. Langkah-langkah
yang harus diperhad- kan:

a. Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit ini menjadi faktor utama
dalam proses pertumbuhan seekor kambing dan
domba karena kalau salah memilih bibit akan
ber- akibat fatal, yakni mengalami kerugian. Bibit
yang baik, memiliki ciri-ciri antara lain: sehat,
lincah, dan umur antara 6-10 bulan dengan berat

285
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

tubuh antara 15-20 kg. Dengan pemilihan bibit


yang benar, berat badan domba dapat mencapai
0,15 kg perhari atau 4,50 kg perbulan, sementara
jika pemilihan bibit kurang diperhatikan (tidak
benar), kenaikan bobot badan domba hanya
mencapai 0,020-0,030 kg perhari atau 0,6 kg
perbulan. Namun dari sekian ciri-ciri tersebut,
yang paling harus diperhatikan adalah kambing
dan domba tersebut terbebas dari segala macam
penyakit.
Untuk menghindari kesalahan dalam
memilih bibit, sebaiknya pemilihan bibit ternak
domba me- nyesuaikan dengan pedoman
peternakan, dengan umur antara 6-8 bulan
dengan berat badan 15-20 kg. Pada awal
pemeliharaan, bibit segera diberi obat cacing
untuk memastikan bahwa domba tersebut
terbebas dari berbagai penyakit cacing, sebab
salah satu penyakit yang sangat mempengaruhi
pertumbuhan dan kualitas daging adalah cacing.
Untuk mengetahui bahwa ternak domba tersebut
benar-benar terbebas dari penyakit cacing
biasanya ditandai dengan keringnyafeces (kotoran
yang dihasilkan). Sebaliknya apabila domba
masih mengandung cacing, biasanya feces
menggumpal dan basah sehingga kotor dan
baunya sangat me- nyengat. Penyakit lain yang
mesti diwaspadai adalah penyakit kulit yang bisa
dilakukan dengan se- lalu memperhatikan bulu

286
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

domba, misalnya dengan mencukur dan


memandikan. Memandikan itu pun tidak harus
dilakukan setiap hari tetapi cukup se- kali dalam
sebulan.

b. Kandang
Kandang ini juga sangat pen ting dalam
proses perkembangbiakan karena memiliki
beberapa fungsi, antara lain:
(1) Melindungi ternak dari panas matahari, ke-
dinginan, kehujanan, pencurian, dan lain-lain.
(2)Memudahkan di dalam pemeliharaan,
pemberi- an pakan, air minum, dan
pengontrolan terhadap penyakit.
(3)Memudahkan di dalam pengambilan kotoran.
Kalau pada umumnya ternak kambing dan
domba itu letak kandang berjauhan dengan
rumah, maka dalam usaha ini kandang bisa
diletakkan tidak terlalu jauh dengan rumah.
Karena tidak menim- bulkan bau yang kurang
sedap.
Dalam proses pembuatan kandang, menggu-
nakan sistem kandang panggung, yang disekat-
sekat dengan ukuran 1,0 m X 1,10 m. Setiap sekat
atau petak, diisi 3 ekor domba, dan masing-
masing domba diberi tempat pakan dan minum
masing-masing. Bahan yang digunakan untuk
pembuatan kandang berasal dari bambu dan
kayu, sehingga biayanya relatif murah dan untuk
287
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

atap digunakan genteng atau alang-alang.

c. Makanan
Pakan yang digunakan adalah pakan lengkap
tanpa menggunakan rumput atau pakan hijauan.
Pakan yang diperlukan sebanyak 1 kg perhari
untuk setiap ekor domba dengan pemberian air
minum secukupnya (kira-kira 1,5-2,5 liter perekor
setiap hari). Sama halnya dengan manusia, tidak
semua domba memiliki nafsu makan yang sama.
Artinya, ada juga yang membutuhkan makanan
tambahan (suplemen) sehingga dapat menambah
nafsu makan domba tersebut.
Nah, untuk menambah nafsu makan domba
bisa dilakukan dengan memberikan zat aditif be-
rupa jamu, dan perasan temu lawak (curcuma).
Sedangkan untuk menyempurnakan pencemaan,
dan mengurangi bau feces digunakan bakteri ru-
men yang fungsinya dapat mengurangi amoniak-
nya, yang dicampurkan pada makanan dengan
takaran 1 kg untuk 400 kg pakan (ini bisa dilaku-
kan paling tidak satu kali dan dapat diulangi apa-
bila dianggap perlu).

d. Perkembangbiakan
Untuk perkembangbiakan, masa pemelihara-
an setiap periode adalah 4 bulan, sehingga setiap
tahun dapat dilaksanakan 3 periode pemeliharaan.
Yang harus dilakukan dalam perkembangbiakan
288
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

tersebut adalah melakukan penimbangan


terhadap ternak domba, yang tujuanya adalah
untuk menge- tahui tingkat pertumbuhan berat
badan domba tersebut. Penimbangan pertama
dilaksanakan pada saat pembelian bakalan dan
dianggap sebagai berat awal. Penimbangan
selanjutnya dilaksanakan setiap 2 minggu untuk
mengetahui pe- nambahan berat badan yang
didapatkan. Hasil penambahan berat badan
keseluruhan yang didapatkan dibagi menjadi 24
(jumlahpengamatan) merupakan rata-rata
penambahan berat badan per ekor.
(l) Penambahan berat badan harian
Dengan penggunaan pakan jadi (tanpa
rumput) menghasilkan pertambahan berat
badan harian (PBBH) yang lebih tinggi
dibandingkan dengan penggunaan pakan
rumput (pakan hijauan). Untuk
membandingkan hasil pertambahan berat
badan harian dengan penggunaan pakan jadi vs
pakan rumput (pakan hijauan) dapat dilihat
dalam tabel 3 berikut ini.
Tabel 3
Perbandingan Hasil Pertambahan Berat Harian
Pakan Jadi dengan Pakan Rumput (Pakan
Hijauan)

289
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Perlakuan Hasil penimbangan dalam (kg) pada minggu ke Rata-rata(kg)


Awal 2 4 6 8 10 12 14 16
Pakan Jadi 19 20 22 24 27 27 29 31 34 1,86
Pakan 17
Rumput
20 30 1,0

(2) Biaya pemeliharaan


Sebagaimana yang sudah dikemukakan di
muka bahwa pemeliharaan ternak domba
dengan model seperti ini bisa diawali dengan
tidak memerlukan modal/pembiayaan yang
besar, dan sangat mudah dilakukan oleh semua
orang bahkan sampai pada tingkatan
masyarakat yang paling rendah (buruh tani).
Terkecuali kalau usaha semacam ini sudah
menjadi komoditas ekspor dalam par- tai
besar, tentunya biaya yang dibutuhkan juga
sangat besar.
Sebagai gambaran modal awal untuk pem-
belian 1 ekor kambing, hanya membutuhkan
biaya kurang lebih Rp.400.000,- biaya ini sudah
termasuk pembelian bibit ternak domba dan
biaya pemeliharaan sampai pada saat
penjualan. Untuk mengetahui lebih jelas
berapa biaya yang dibutuhkan dan berapa
keuntungan yang dihasilkan dapat tersaji dalam
tabel 4 sebagai berikut.
Tabel 4

17
Data tidak lengkap, tetapi untuk pemeliharaan selama 4 buian (16
minggu) menghasilkan berat kurang dari 30 kg.
290
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

Rincian Biaya dan Pendapatan Usaha Ternak


Domba Tanpa Rumput Perekor
No Uraian Jumlah Rp
1. -Biaya pembelian bakalan/bibit umur 6-8 bulan -
250.000,-
Biaya kandang (Rp. 25.000,-/ekor/ 5 kali
5.0, -
peliharaan) -Biaya pakan (1 kg/hari/ekor) smp
75.000,-
120 hr @Rp,625, -Biaya obat cacing (Rp.
600,-
150.000/1 untuk 250 ekor) -Pembelian bahan
1.0, -
aditif
5.000,-
Tenaga kerja untuk pemberian pakan dan
Jumlah modal yang dibutuhkan 336.000,-
2. Masil penjualan domba (berat 30-35 kq) 18 420.000,-
3. Keuntungan usaha (2-1) 83.400,-

Dari tabel tersebut, tampak bahwa dengan


penggunaan pakan jadi, diperoleh keuntungan
minimal Rp.83.400,-/ekor selama jangka
waktu empat bulan atau sekitar Rp.20.000,-/
ekor/bulan. Keuntungan tersebut dapat lebih
tinggi pada saat hari raya Idul Qurban, karena
pada saat tersebut harga per-kg domba hidup
dapat mencapai Rp. 17.000,- bahkan bisa
lebih.

Harga di atas adalah harga standar di pasaran pada umumnya,


tetapi harga itu bisa menjadi tinggi pada saat pelaksanaan hari
raya Idul Qurban, karena permintaan yang besar dari para
konsumen sehingga keuntungannya pun bisa mencapai 2-3 kali
lipat dari hari-hari biasa.
291
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

e. Penyakit dan Pencegahannya


Sama seperti makhluk lainnya, hewan ternak
kambing dan domba ini juga rawan dengan ber-
bagai macam penyakit. Oleh sebab itu, sejak awal
harus dilakukan tindakan preventif sehingga pada
pertumbuhan berikutnya tidak mengalami pe-
nyakit. Salah satu penyakit yang sering menjang-
kiti hewan ini adalah cacing. Oleh karena itu,
untuk memastikan bahwa ternak domba kita ter-
bebas dari penyakit cacing, pada saat awal pe-
meliharaan perlu diberikan obat cacing yang kita
berikan melalui mulut, dengan dosis 3-4 cc/ekor.
Dua hari setelah pemberian obat cacing tersebut,
biasanya feces yang dihasilkan oleh domba kita
langsung kering, dan itu merupakan petanda
bahwa di dalam tubuh domba tersebut tidak lagi
mengandung cacing.
Hal lain yang harus diwaspadai adalah ke-
mungkinan terjangkitnya penyakit mata pada
ternak kita, yang disebabkan oleh debu-debu yang
berasal dari pakan yang kita berikan. Mungkin
juga keadaan ini tidak terjadi, karena hal itu
sangat bergantung pada daya tahan tubuh domba
masing-masing. Jika hal itu terjadi,
pengobatannya sangat mudah, yaitu dengan
menggunakan air garam dapur beryodium yang
disemprotkan ke mata ternak kita. Dalam waktu
3-4 hari ternak
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

akan sembuh kembali dan tidak akan terkena


penyakit tersebut untuk yang kedua kalinya,
karena sudah kebal. 19
Untuk mengurangi bau kotoran ternak dom-
ba, dapat dilakukan dengan memberikan zat aditif
berupa bakteri rumen (saluran kotoran) yang
dikemas dalam bentuk bubuk sebagai campuran
pakan, atau micro organisme lain yang dikemas
berupa cairan yang dapat dicampurkan ke dalam
air minum. Zat aditif tersebut pada dasarnya ada-
lah mempercepat penghancuran bahan pakan di
dalam rumen, dan meningkatkan serapan pakan,
sehingga meningkatkan konversi atau pemben-
tukan daging pada ternak kita dan mengurangi
pembentukan amoniak, sehingga mengurangi bau
yang ditimbulkan oleh kotoran ternak kita.

3. Penutup

Dari apa yang tergambar di atas jelas bahwa


usaha ternak kambing dan domba tanpa rumput
menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat,
khususnya masyarakat pedesaan untuk menopang
kebutuhan ekonominya, sehingga dalam suasana
apa pun tetap bisa bertahan dalam memenuhi ke-
butuhan hidupnya. Namun yang perlu diperha-
tikan adalah bahwa keseriusan menjadi suatu hal

19
Pengalaman tersebut dibuktikan oleh bapak A.R. Afandy di Grati
Pasuruan Jawa Timur.
294
Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat...

yang wajib dimiliki oleh siapa pun yang akan


men- coba, sebab tanpa keseriusan impossible
usaha apa pun tidak akan dapat membuahkan
hasil yang memuaskan. Mudah-mudahan harapan
penulis, tulisan ini menjadi virus yang dapat
menebarkan semangat baru dalam berusaha dan
berkarya yang pada giliranya akan ditemukan
alernative-alter- natif lain dalam proses
pemberdayaan ekonomi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Harian Kampas. 21 /6/2003. Pengaruh Korupsi Pada


Tingkat Kemiskinan Rakyat.
Hasil Evaluasi Tim LPM IAIN Sunan Ampel
Surabaya kerjasama dengan Dolog Jawa
Timur, 2000. Dalam Evaluasi Jaringan Pengaman
Sosial- Operasi Pasar Khusus Jawa Timur.
Prospek Mendirikan Proyek Kemitraan Terpadu
Pemeliharaan Domba. Dalam http:// wwn>.
bi.go. id/sipuk/ Im/ ind/ domba/
pendahuluan.htm.,diakses 17 Juni (2003).
Balai Informasi Pertanian Jawa Timur, 1990. Be
ternak Kambing. Surabaya: Dinas Pertanian
Jawa Timur.
Mathius Mathius. I. W., 1991. Pokok-pokok
Pikiran Budidaya Kambing Domba di Pedesa-
an. Dalam JumalPenelitian dan Pengembangan
Pertanian oleh Badan Penelitian dan Pengem-
295
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

bangan Pertanian Jakarta, 4 (10).


Departemen Pertanian, 1991. Kita Sukses Ber-
ternak Domba. Dalam LJptan, 2 (12).
Tillman, dkk., 1984. Ilmu Pakan Ternak Dasar.
Yogyakarta: Fak. Peternakan UGM.
Musofie, dkk., 1990. Pengaruh Perbaikan Pakan
pada Induk Domba Ekor Gemuk terhadap
Pertumbuhan Anak hingga Dipisah. Dalam
Jumal IlmiahPenelitian Ternak Grati, Vol. l,No. 1.

296
PEMBUATAN MESIN ULESAN
DAN MESIN PILIN/TAMPAR
PELEPAH POHON PISANS DI
DESA SUKO KECAMATAN
WRIN6INANOM KABUPATEN
SRESIK

Abdul Qolik

1. Analisis Situasi

Usaha kerajinan kecil yang menghasilkan


barang seni terbuat dari pelepah pohon pisang
banyak dijumpai di desa Suko, kecamatan
Wringinanom, kabupaten Gresik yang berupa
wadah tisu, tas ten- teng, keranjang mas, tempat
koran yang dilapis dengan pelepah pisang, dan
bahkan perabot rumah tangga yang berupa set
meja kursi yang di kombinasi dengan pelepah
pohon pisang, dan pelepah pohon pisang
dikombinasikan dalam bentuk lembaran-
lembaran yang disusun dengan rapi, atau dalam
bentuk dipilin menjadi tampar.
Sebagai bentuk usaha ekonomi produktif,

297
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

tingkat produktivitas usaha ini relatif tinggi. Apa-


lagi dengan adanya mitra usaha yang dapat
menampung produk-produk kerajinan yang
berkualitas untuk dijadikan komoditas ekspor,
membuat pengrajin di daerah Suko ini semakin
berupaya untuk meningkatkan produknya, baik
kualitas maupun kuantitas produknya. Di desa ini
selain adanya pengrajin didukung juga adanya
ketersediaan bahan baku pohon pisang yang tum-
buh ditanam di areal perkebunan dan pematang
sawah/tambak yang dapat dipanen pada waktu-
waktu tertentu.
Pengrajin sudah berorientasi pasar.
Komitmen atas pengembangan usaha relatif
ringgi. Hal itu teramati dari keanekaragaman
upaya untuk memberikan sentuhan pada produk
yang dihasil- kan, seperti mencoba menghasilkan
berbagai jenis ukuran pilinan tampar, yaitu besar,
kecil atau menengah, atau bahkan memilih bahan
baku yang bermotif.
Permasalahan pokoknya adalah sebagian
proses produksi dilaksanakan secara tradisional,
belum ada sentuhan teknologi, termasuk dalam
mengules dan menampar pelepah pohon pisang,
sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas
produk rendah. Mengules dan menampar/pilin
adalah pekerjaan yang memakan waktu jika

298
Pembuatan Mesin Ulesan dan Mesin Pilin/Tampar

dilakukan seeara manual. Oleh karena itu, mas-


alah ini menjadi prioritas untuk dipecahkan dan
ditangani agar dapat meningkatkan kualitas dan
kuantitas produk, termasuk di dalamnya adalah
keseragaman pilinan pada tampar yang dibuat.
Penerapan teknologi terpilih yakni ditekankan
pada lini produksi yang berupa pembuatan mesin
ules dan mesin penampar/pemilin.

2. Spesifikasi Alat

Mesin Ulesan adalah berfungsi untuk menja-


dikan serpihan pelepah pohon pisang yang masih
lembaran menjadi terpilin yang siap dipintal pada
klos pengikal yang dipersiapkan untuk dipilin
pada mesin penampar. Mesin ini terdiri dari tiang
penyangga yang terbuat dari baja siku 40 x 40 x 4
mm, dengan dimensi tinggi 70 cm, lebar 20 cm,
panjang 30 cm, poros putar 3/4 dim yang
ditumpu dengan 2 bantalan poros seri P204, yang
dileng- kapi dengan pulei baja tuang diameter 180
mm. Maksimum putaran poros klos 650 rpm,
dilengkapi pedal gas kecepatan putar.
Mesin pemilin/tampar mesin pemilin tampar
adalah berfungsi sebagai penyatu ulesan yang ke-
luar dari klos pengikal yang dipasang pada rumah
klos, kemudian ditarik oleh rol karet sebagai

299
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

penggerak jalannya tampar yang sudah terbentuk.


Panjang atau pendeknya belitan tapar diatur
melalui pengencangan atau pengendoran baut
pengikat klos. Spesifikasi selengkapnya sebagai
berikut:
Dimensi rangka utama: pipa besi kotak 40 x
40 x 2 mm, lebar 90 cm, dan tinggi 60 cm, serta
panjang 130 cm. Dimensi rumah klos: besi kotak
30 x 30 x 2 mm, panjang 58 cm, lebar 40 cm.
Poros penggerak 3/4 dim, putaran akhir poros
tergerak 140 rpm, yang diperoleh dari penurunan
bertingkat 2 dengan menggunakan puli dari
putaran penggerak utama motor. Motor peng-
gerak 1/4 Hp, putaran 1400 rpm.

3. Potensi Mesin Ules dan Pilin

Jika dilihat secara fiingsional kegunaan mesin,


maka mesin pilin tersebut sangat potensial digu-
nakan dalam pengembangan berbagai jenis in-
dustri kerajinan basis serat. Selain yang utama di-
gunakan untuk pengolahan pelepah pisang, mesin
tersebut dapat digunakan untuk membuat tempat
dari bahan lain seperti:
a. Mendong, yang saat sekarang banyak diguna-
kan sebagai variasi dalam industri furniture
skala ekspor.

300
Pembuatan Mesin Ulesan dan Mesin Pilin/Tampar

b. Daun enceng gondok, yang banyak digunakan


untuk kerajinan tas.
c. Tapas atau sejenis bahan dari daun palma
yang banyak digunakan untuk kerajinan tas
dan topi di Bali.
d. Serat rami dan agave, yang kini mulai dikem-
bangkan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengguna-
an mesin pilin adalah preparasi awal bahan untuk
ulesan dengan menggunakan mesin ules. Hal ter-
sebut disebabkan untuk bahan berserat memer-
lukan tenaga yang khusus dan telaten dibanding-
kan pelepah pisang dan mendong.

301
TEKNOLOGI KERUPUK PADA
INDUSTRI SKALA UKM

Susinggih Wijana

1. Pendahuluan

Kerupuk merupakan salah satu produk pa- ngan


yang telah banyak diusahakan oleh industri kecil dan
rumah tangga di Indonesia. Produk tersebut
mempunyai kelebihan, dapat dikembang- kan
dengan berbagai bentuk dan aneka rasa sehingga
mempunyai prospek yang tinggi untuk
dikembangkan.
Beberapa hal lain yang menunjang industri
kerupuk dapat dikembangkan, karena produk ini
tidak memerlukan investasi dan peralatan yang
terlalu rumit, akan tetapi dapat dikembangkan secara
bertahap. Mulai dari skala industri mikro dengan
menggunakan peralatan dapur, dan bila telah
berkembang dapat ditingkatkan dengan
menggunakan peralatan TTG, dan selanjutnya
berkembang dengan menggunakan mesin yang lebih
modern.

302
Teknologi Kerupuk Pada Industri Skala UKM

Bila dilihat dari kualitasnya, produk kerupuk


dapat diklasifikasikan menjadi berbagai tingkatan
kualitas, mulai dari kerupuk kualitas rendah sebagai
lauk untuk makan, hingga makanan camilan seperti
halnya kerupuk puli dan kerupuk ikan. Hampir
semua kerupuk mengandalkan bahan baku pada
pari, baik dari tapioka atau bahan lain yang dapat
diolah dari berbagai bahan, di antara- nya adalah ubi
kayu, ubi jalar, beras, sagu, terigu, tapioka, dan talas.
Akan tetapi sebagian besar menggunakan pati dari
tepung tapioka, karena di samping harga yang
murah, mudah didapat, dan juga kualitasnya sangat
bagus.

2. Aneka Jenis Kerupuk

Kerupuk adalah bahan pangan kering berupa


lempengan tipis yang terbuat dari adonan yang
bahan utamanya adalah pati. Pada umumnya
pembuatan kerupuk adalah sebagai berikut: bahan
berpati dilumatkan bersama atau tanpa bumbu,
kemudian dimasak (direbus atau dikukus) dan
dicetak berupa lempengan tipis yang disebut
kerupuk kering. Sebelum dikonsumsi, kerupuk
kering digoreng atau dipanggang terlebih dahulu.
Untuk memperbaiki kualitas, biasanya ditambah-
kan ikan, telur dan daging sebagai bahan penyedap
yang dapat digunakan pada pembuatan kerupuk.
Sedangakan merica, bawang putih, bawang merah,
dan garam merupakan bumbu utama.

303
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Secara umum bahan yang digunakan dalam


proses produksi kerupuk meliputi: umbi ubi kayu,
garam, bawang putih, dan bubuk merica. Sedangkan
peralatan yang digunakan meliputi: pisau dan
telenan, kukusan, penggiling adonan, pembuat
lembaran tipis kerupuk, gelang pemotong, penge-
ring, wajan, dan tungku atau kompor.
Tahapan proses pembuatan kerupuk secara
umum meliputi: persiapan bahan, pembuatan ado-
nan, pencetakan dan pengukusan, pendinginan,
pengeringan, dan penggorengan.

a. Kerupuk Puli
Kerupuk puli adalah sejenis kerupuk yang di-
buat dari beras sebagai bahan utama, dan bahan-
bahan lainnya sebagai penyedap. Kerupuk puli lebih
banyak digunakan sebagai produk makanan atau
camilan, jarang digunakan untuk lauk pauk.
Bahan yang digunakan meliputi: betas (1 kg);
udang saih kering (0,1 kg); bawang putih (50
gram); garam (40 gram); merica (20 gram); dan
minyak goring plus gula (20 gram).
Peralatam
(1) Penggiling nasi, di mana alat ini digunakan untuk
menggiling nasi sehingga menjadi adonan yang
dapat dicetak. Pada usaha rumah tangga, adonan
dapat dibuat dengan menumbuk nasi di dalam
lesung.

304
Teknologi Kerupuk Pada Industri Skala UKM

(2) Wajan untuk penggorengan.


(3) Pisau dan talenan.
(4) Panci, alat ini digunakan untuk memasak beras
menjadi nasi
Carapembuatan:
(1) Pencucian dan pemasakan beras. Beras dicuci
hingga air bilasannya agak jernih. Setelah itu
dimasak sampai menjadi nasi. Setiap 1 kg beras
dimasak dengan 2 liter air.
(2) Penyiapan bumbu. Bumbu yang digunakan
adalah udang saih kering, bawang putih, garam,
dan gula. Setiap 1 kg beras memerlukan 50 gram
bawang putih, 50 gram udang saih kering, 20
gram gula pasir halus, dan 20 gram garam.
(a) Udang masih kering disanghai sampai kering
tapi tidak sampai gosong. Kemudian udang
digiling atau diblender sampai halus.
(b) Gula pasir digiling atau diblender sampai
halus.
(c) Bawang putih dan garam digiling sampai
halus, kemudian dicampur dengan udang dan
gula pasir yang sebelumnya telah diha- luskan.
Campura ini disebut dengan bumbu kerupuk.
(d)Pemberian bumbu dan penggilingan. Nasi yang
baru masak dan masih panas dicampur sampai
rata dengan bumbu kerupuk. Setelah itu, nasi
digiling atau ditumbuk sampai menjadi adonan
yang rata dan halus. Hasil yang diperoleh

305
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

disebut adonan kerupuk.


(3) Pembentukan dodolan dan penjemuran.
(4)Adonan tersebut dibentuk seperti silinder
(panjang 20 cm dan diameter 6 cm) yang disebut
dodolan mentah.
(5) Dodolan mentah diangin-anginkan sampai se-
tengah kering dan dapat diiris.
(6)Pengirisan dodolan. Dodolan yang telah diangin-
anginkan tersebut diiris-iris dengan ketebalan 2-3
mm. Hasil pengirisan ini disebut dengan kerupuk
puli basah.
(7)Penjemuran kerupuk puli basah. Kerupuk puli
basah dijemur dan dikeringkan dengan alat
pengering sampai kadar air di bawah 9 %. Hasil
pengeringan ini disebut kerupuk puli kering.
(8)Pengemasan. Kerupuk puli kering dikemas di
dalam kantong plastik atau di dalam kotak ka-
leng yang tertutup rapat.
(9)Penggorengan. Kerupuk puli kering yang akan
dikonsumsi harus digoreng sebelum dikonsumsi.
Penggorengan dilakukan di dalam minyak panas
dengan suhu 170c dengan menggunakan wajan.

b. Kerupuk Udang atau Ikan


Ikan merupakan bahan makanan yang banyak
dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi
ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan
dibandingkan dengan bahan makanan lain. Bak- teri

306
Teknologi Kerupuk Pada Industri Skala UKM

dan perubahan kimiawi yang ada pada ikan mad,


menyebabkan pembusukan. Mutu olahan ikan
sangat tergantung pada mutu bahan mentah- nya.
Tanda ikan yang sudah membusuk: mata suram
dan tenggelam; sisik suram dan mudah lepas; warna
kulit suram dengan lendir tebal; insang berwarna
kelabu dengan lendir tebal; dinding perut lembek;
dan warna keseluruhan suram dan berbau busuk.
Sedangkan tanda ikan yang masih segar: daging
kenyal; mata jernih menonjol; sisik kuat dan
mengkilat; sirip kuat; warna keseluruhan ter- masuk
kulit cemerlang; insang berwarna merah; dinding
perut kuat; dan bau ikan segar.
Ikan merupakan sumber protein hewani yang
banyak dikonsumsi masyarakat, mudah untuk
mendapatkanya dan harganya murah. Namun ikan
cepat mengalami pembusukan. Oleh sebab itu
pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan
masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional
bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh
ikan, sehingga tidak memberikan kesem- patan bagi
bakteri untuk berkembang biak.
Untuk mendapatkan hasil awetan yang ber-
mutu tinggi diperlukan perlakuan yang baik selama
proses pengawetan ikan, seperti: menjaga kebersihan
bahan dan alat yang digunakan, menggunakan ikan
yang masih segar, serta gara yang bersih.
Ada bermacam-macam cara pengawetan ikan,

307
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

antara lain dengan cara: penggaraman, pengering-


an, pemindangan, pengasapan, peragian, dan pen-
dinginan ikan. Nilai gizi ikan seperti bisa dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1
Nilai Gizi Ikan (Per 100 gram)
NO
. KOMPONEN KANDUNGAN
01. Air 76 gram
02. Protein 17 gram
03. Lemak 4,5 gram
04. Mineral 2,52 gram
05. Vitamin 4,50 gram

Dari tabel 1, dapat dilihat bahwa ikan mempu-


nyai nilai protein tinggi, dan kandungan lemaknya
rendah sehingga banyak memberikan manfaat
kesehatan bagi tubuh manusia. Manfaat makan
ikan sudah banyak diketahui orang, seperti di ne-
gara Jepang dan Taiwan ikan merupakan makanan
utama dalam lauk sehari-hari yang memberikan
efek awet muda, dan harapan hidup lebih tinggi
dari negara lainnya. Pengolahan ikan dengan ber-'
bagai cara dan rasa menyebabkan orang mengon-
sumsi ikan lebih banyak.
Kerupuk udang atau ikan adalah produk
makanan kering yang berasal dari udang atau
ikan yang dicampur dengan tepung tapioka atau
tepung terigu. Limbah kulit dan kepala udang
dapat digunakan untuk bahan pembuat petis dan

308
Teknologi Kerupuk Pada Industri Skala UKM

terasi.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan
kerupuk ikan terdiri dari:
(1) Udang segar 3A %
(2) Tepung terigu 3 kg.
(3) Tepung tapioka V4 %
(4) Bawang putih 60 gram (12 siung).
(5) Garam dapur 3 sendok makan.
(6) Bleng 3 sendok makan.
Alat yang digunakan dalam pembuatan keru-
puk udang terdiri dari:
(1) Baskom.
(2) Dandang.
(3) Alat penghancur bumbu (cobek).
(4) Pisau.
(5) Tampah (nyiru).
(6) Kompor.
(7) Loyang.
(8) Sendok kayu.
(9) Sendok makan.
Sedangkan tahapan pembuatan adalah:
(1) Kupas udang, kemudian buang kepala dan
kulitnya. Selanjutnya cuci dengan air bersih.
(2) Tumbuk udang sampai halus.
(3)Haluskan bawang putih dan garam, kemudian
campurkan dengan udang yang telah dihalus- kan.
Aduk-aduk dan remas-remas sampai adonan

309
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

bercampur menjadi satu.


(4)Larutkan bleng dengan air panas, kemudian
campurkan dengan adonan tadi.
(5)Setelah tercampur rata, tambahkan tepung terigu,
tepung tapioka dan air. Aduk-aduk adonan
sampai kental.
(6)Tuangkan adonan ke dalam loyang, kemudian
kukus sampai matang lalu dinginkan.
(7)Iris-iris adonan dengan tebal 0,1 s/d 0,2 mm,
kemudian jemur sampai kering;

Tabel 2
Komposisi Kerupuk Ikan dan Udang (Per-100 gram)
NO. KOMPONEN KANDUNGAN
01. Air 16,6 - 12,0 gram
Karbohidrat 65,6 - 68,0 gram
02.
03. Protein 16,0 - 17,2 gram
04. Lemak 0,4 - 0,6 gram
05. Vitamin A 0 - 50,0 (lU)

06. Vitamin B-1 0,04 mgr

310
Teknologi Kerupuk Pada Industri Skala UKM
c. Kerupuk Noodle/Uyel
Kerupuk ini disebut juga kerupuk Bandung,
berbentuk seperti mie instant karena dalam proses
pembuatannya menggunakan tekanan tinggi,
dilewatkan pada lubang kecil, dan di belok-belok-
kan. Kelebihan dari kerupuk ini adalah dari bahan
yang sedikit menjadi produk jadi yang banyak, akan
tetapi memerlukan alat proses yang cukup seperti
pada gambar.

3. Standar Kualitas Kerupuk

Kualitas kerupuk yang diperdagangkan secara


resmi diatur oleh pemerintah tentang persyaratan
minimal yang harus dipenuhi, seperd disajikan pada
tabel 3, sedangkan khusus untuk kerupuk yang
mengandung (diperkaya) protein yang ber- asal dari
ikan atau udang standar mutunya seperd disajikan
pada tabel 4.
Selain standar mutu yang telah ditentukan
seperti pada tabel 3 dan 4, produk kerupuk ddak
diperbolehkan mengandung bahan pengawet seperti
Borak, karena pada prinsipnya bila kadar air kerupuk
tidak melebihi 12 % produk tersebut relatif tahan
lama hingga berbulan-bulan jika dikemas dalam
plastik yang tertutup rapat.
Tabel 3
Syarat Mutu Kerupuk Menurut SII No. 0272- 90

311
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

No KRITERIA PERSYARATAN

Kerupuk tak Kerupuk


bersumber bersumber
protein protein
1. Keadaan:
Bau Normal Normal
Rasa Normal Normal
Wama Normal Normal

2. Keutuhan (% bib) Minimal 95 Minimal 95


3.
Benda-benda asing, serangga,
dan potongan-potongannya. Tidak ternyata Tidak ternyata
4. Kadar air (% bib) Maksimal 12 Maksimal 12

5. Abu tanpa garam (% bib) Maksimal 1 Maksimal 1


-
6. Protein (% bib) Minimal 5

Tabel 4
Syarat Mutu Kerupuk Udang dan Ikan

KARAKTERISTIK Standar Mutu 1 Standar Mutu 2


Udang Ikan Udang Ikan
Kadar Air (%), Maksimum 12,0 12,0 12,0 12,0
Kadar Protein (%),
Minimum 4,0 5,0 2,0 5,0
Kadar Abu (%), Maksimum 1,0 1,0 1,0 1,0
Benda Asing (%),
Maksimum 1,0 1,0 1,0 1,0
Bau Khas Khas Khas Khas

TTG DALAM PENGEMBANGAN


UKM-KERAJINAN DI
JAWA TIMUR

Susinggih Wijana

312
1. Pendahuluan

Industri kerajinan di Indonesia pada saat se-


karang memiliki potensi yang sangat besar untuk
dikembangkan. Sebagai contoh, usaha kerajinan
kayu bagi masyarakat Indonesia terutama yang
tinggal di daerah pariwisata umumnya merupakan
usaha yang telah lama ditekuni dan merupakan usaha
turun temurun dari generasi sebelumnya.
Sentra kerajinan kayu dari daerah kunjungan
wisata yang menonjol antara lain dari Bali, Jawa
Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Papua
dan Nusa Tenggara. Barang-barang kerajinan kayu
tersebut diminati oleh wisatawan asing yang ber-
kunjungke Indonesia. Malahan ada beberapa produk
mainan yang sudah diekspor ke manca negara,

313
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

meskipun secara volume dan nilai ekspor belum


dapat bersaing dengan volume dan nilai ekspor
komoditi andalan yang lainnya, baik di sektor migas
maupun non-migas. Khususnya barang- barang
ekspor Indonesia di luar non-migas yang berbahan
kayu, lebih didominasi oleh ekspor kayu lapis dan
kayu olahan lainnya. Oleh karena itu, data ekspor
yang khusus kerajinan kayu dari BPS belum dapat
diobservasi secara langsung, karena masih dikaitkan
dengan ekspor barang-barang dari kayu lainnya.
Dengan melihat prospek pengembangan usaha
kerajinan kayu yang baik tersebut disertai
pertimbangan local content dari produknya yang
tinggi, serta banyaknya pertimbangan tenaga kerja
yang dibutuhkan, cukup menjadi pertimbangan bagi
perbankan untuk membiayai sektor usaha kecil
dimaksud. Selain produk kerajinan kayu, di
Indonesia banyak ditemui industri kerajinan basis
pertanian yang lain seperti halnya kerajinan dari
tempurung kelapa (P. Tonduk, Raas), kerajinan
enceng gondok (Lamongan), mendong (Malang),
dan kerajinan tikar (P. Bawean). Pro- duk-produk
kerajinan tersebut sangat potensial dikembangkan
dengan mengikuti pola pengembangan yang terjadi
pada kerajinan basis kayu.
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur

Dalam upaya pengembangan industri kerajinan


tersebut pemerintah telah memfasilitasi melalui
berbagai program. Salah satu program yang in- tensif
adalah adanya Program Kemitraan Terpadu. Pada
program tersebut jaminan keamanan dari
pembiayaannya dapat ditingkatkan dengan me-
libatkan peranan pemasaran, bantuan teknis
produksi, bantuan pengadaan bahan baku, dan
penyediaan jaminan tambahan dari Perusahaan Mitra
Usaha Besar yang menjadi mitra kerjanya.
Disamping itu, tentu peran pihak perusahaan Pen-
jamin Kredit juga cukup potensial untuk diman-
faatkan.
Bahan baku kayu bagi industri kerajinan dapat
dikatakan hampir tidak mempunyai batasan jenis dan
ukuran, bahkan limbah kayu pun dapat
dimanfaatkan sehingga secara nasional pengem-
bangan usaha ini akan memberikan dampak posi- tif
terhadap kenaikan efisiensi sumber daya alam
Indonesia dan Jawa Timur pada khususnya
Dengan tulisan ini diharapkan dapat digunakan
sebagai acuan untuk: (a) Memberikan informasi bagi
perbankan mengenai model kemitraan yang layak
untuk di biayai, khususnya usaha kerajinan kayu. (b)
Memberikan informasi dan acuan yang diharapkan
dapat dimanfaatkan oleh usaha kecil maupun usaha
besar yang berminat mengembangkan kemitraan
usaha kerajinan kayu.

319
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

2. Perkembangan UKM di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang


mempunyai wilayah hutan penghasil aneka kayu
yang cukup luas. Hasil produksi hutan Indonesia
merupakan produk unggulan komparatif di mana
sebagian besar hasil produksi hutan berupa kayu dan
produk agro lain dalam segala bentuknya di ekspor
ke manca negara. Indonesia juga merupakan
penghasil devisa unggulan sektor non-migas. Sebagai
referensi, data statistik industri dan per- dagangan
tahun 1998 menunjukkan perkembangan volume
dan nilai ekspor barang-barang dari kayu seperti
terlihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1
Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Barang-
Barang dari Kayu di Indonesia

320
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur

Jenis Barang Tahun Volume/ton Nilai/USD

Plywood, 1993 6.488748,12 4.585.604,47

triplek, 1994 6.192.426,98 4.125.224,85

verners, wood 1995 5,740.009,92 3.826.965,36


worked
1996 5.321.971,06 3.991.449,03

1997 5.321.971,06 3.742.789,22


1998 (Juli) 2.997.740,56 1.287.102,97
Barang-barang 1993 512.402,08 534.411,35

kerajinan kayu
1994 703.147,20 707.656,35

1995 638.498,21 836.051,29

1996 632.476,46 851.361,29

1997 574.811,65 711.820,79

1998 (Juli) 263.438,64 283.864,20

Pada tabel 1. tampak belum dapat memberikan


informasi mengenai volume dan nilai ekspor
kerajinan kayu, sehingga belum dapat dijadikan
patokan menilai perkembangan peluang usaha
kerajinan kayu. Untuk itu perlu di lihat juga
perkembangan produksi dari kerajian kayu daerah
setempat. Sebagai contoh dapat dilihat perkem-
bangan industri kerajinan kayu di daerah Bali,
menurut data Kanwil Deperindag Propinsi Bali nilai
ekspor kerajinan kayu {wood craft) tahun 1993-1997
seperti terlihat pada tabel 2. Dengan metoda linear
didapat perkiraan pertumbuhan ekspor seperti
terlihat pada tabel 3.
Tabel 2

321
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Perkembangan Nilai Ekspor Kerajinan Kayu


Propinsi Bali Tahun 1993-1997

Tahun Nilai/USD
1993 35,306,000
1994 40,443,000
1995 61,910,000
1996 64,500,000
1997 86,881,000

Tabel 3
Perkiraan Pertumbuhan Ekspor Kerajinan Kayu
Propinsi Bali Tahun 1998-2000
Tahun Nilai/USD

1998 94,954,100
1999 106,670,800
2000 118,387,500
2001 130,104,200
2002 141,820,900

Kecenderungan perkembangan industri kera-


jinan kayu tersebut menunjukkan kecenderungan
produksi yang meningkat, dengan perkataan lain
usaha tersebut berkembang dengan baik. Ini ber- arti
bahwa peluang usaha kerajinan kayu utama- nya
untuk ekspor masih terus berkembang dan
mempunyai prospek yang baik. Perkembangan
tersebut akan lebih baik apabila diimbangi dengan
pengembangan bentuk dan aneka desain kerajinan
yang berbasis pada kayu.

322
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur
3. TTG Penunjang UKM-Kerajinan

Sarana produksi yang kebanyakan digunakan


oleh UKM kerajinan adalah mesin dan peralatan
yang digunakan untuk pembuatan kerajinan kayu
dalam setiap tahapan sebagai berikut:
a. T ahap penyiapan bahan baku kayu umumnya
menggunakan mesin potong kayu (band saw) dan
alat pengering {dry kliti).
b. Tahap pembentukan dibantu oleh band saw kecil
dan mesin potong handy seperti gergaji dan pahat.
c. Tahap pembentukan halus atau pengukiran
dengan menggunakan pahat.
d. Tahap penghalusan biasanya menggunakan am-
plas dan banyak menggunakan tenaga manusia.
e. Tahap finishing biasanya dibantu dengan mesin
semprot cat dan kuas untuk mewarnai.
f. Tahap pengepakan untuk keperluan pengirim- an.
Selain peralatan di atas yang sifatnya umum,
untuk kerajinan kayu dan bambu diperlukan juga
berbagai alat yang sifatnya spesifik, dan dalam
pengadaannya sulit didapatkan di pasaran. Oleh
sebab itu diperlukan kerjasama dengan Perguruan
Tinggi yang selama ini komitmen dengan pengem-
bangan UKM, terutama yang kaya akan inovasi alat
dan mesin yang dapat menunjang UKM kerajinan di
Indonesia. Beberapa peralatan lain yang diperlukan
dalam industri kerajinan antara lain:
a. Mesin pelintir (ulesan) untuk bahan pelepah
pisang, mendong, daun enceng gondok dan

323
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

bahan berserat lain.


b. Mesin pembuat tampar (double atau triple) untuk
membuat tampar dari bahan berserat yang telah
mengalami pelintiran.
c. Mesin poles tusuk gigi dari bambu.
d. Mesin pembuat kawat perak untuk kerajinan
perak.
e. Mesin cetakan industri kerajinan tembaga dan
kuningan, dll.
Bentuk bangunan produksi dan ukurannya
bervariasi, tergantung pada jenis produk yang
dibuat, ada yang memanfaatkan ruang di rumah,
tetapi ada juga yang membuat bangunan khusus
berbentuk gudang. Ketersediaan listrik bagi per-
alatan dan penerangan merupakan sarana yang
sangat menunjang proses produksi kerajinan kayu.
Dalam hal finishing menggunakan cat/pli- tur,
umumnya proses produksi memerlukan rak- rak
tempat pengeringan. Jenis dan jumlah mesin/
peralatan yang diperlukan tentu saja tergantung pada
jenis produk dan skala produksinya, dan umumnya
peralatan tersebut dapat diperoleh di dalam negeri.

4. Model Pemberdayaan UKM Kerajinan

Hingga saat ini pemerintah telah meluncur- kan


berbagai program pembinaan bagi UKM kerajinan
untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas. Hal
tersebut terutama dengan diberlakukannya

324
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur

perdagangan global yang menuntut pembinaan


manajemen bagi UKM di Indonesia, yang sebagian
besar masih rentan terhadap persaingan interna-
sional.
Salah satu model kemitraan yang digulirkan
adalah kemitraan terpadu, yang melibatkan per-
usahaan inti (swasta/eksportir), UKM kerjainan, dan
peran pemerintah melalui pembinaan koperasi.
Kemitraan antara perajin/kelompok tani/koperasi
dengan perusahaan mitra, dapat di- buat menurut
dua pola yaitu:
a. Perajin yang tergabung dalam kelompok-
kelompok tani mengadakan perjanjian kerja-
sama langsung kepada Perusahaan Perkebun-
an/Pengolahan Eksportir. Bila dibuat gambar
seperti di bawah ini.

KOPERASI

Petani Kelompok
Tani/Usaha Kecil
/\ Perusahaan Inti

Dengan bentuk kerjasama seperti ini, pembe- rian


kredit yang berupa KKPA kepada perajin plasma
dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai
Channeling stgent, dan pengelolaannya langsung
ditangani oleh Kelompok tani. Sedangkan

325
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

masalah pembinaan harus bisa diberikan oleh


Perusahaan Mitra.
b. Perajin yang tergabung dalarn kelompok-
kelompok perajin, melalui koperasinya meng-
adakan perjanjian yang dibuat antara koperasi
(mewakili anggotanya) dengan perusahaan
perkebunan/pengolahan/eksportir. Bila di-
gambar seperti di bawah ini.

Dalam bentuk kerja sama seperti ini, pem- berian


KKPA kepada perajin plasma dilakukan dengan
kedudukan koperasi sebagai Executing Agent.
Masalah pembinaan teknis produksi/ pengelolaan
usaha, apabila tidak dapat dilaksanakan oleh pihak
Perusahaan Mitra, akan menjadi tanggung jawab
koperasi.
Adanya model kemitraan terpadu seperti yang
diuraikan di atas sangat bagus untuk mengem-
bangkan UKM kerajinan yang ada di Indonesia,
karena peran pembinaan akan dilakukan ber- sama-
sama oleh pemerintah dan pelaku ekspor atau
industri inti yang langsung berkepentingan dengan
perkembangan UKM kerajinan.

326
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur

5. Potensi dan Kendala Pengembangan UKM


Kerajinan

Dari berbagai jenis aneka kerajinan yang ter-


sebar di berbagai daerah, seperti halnya furniture
berbasis pelapah pisang dan perak (Gresik), fur-
niture kayu jati (Probolinggo), kerajinan mendong
(Malang), kerajinan enceng gondok (Lamongan),
tempurung kelapa (P/Tonduk Raas), kerajinan tas
dan topi dari tapas (Kangean), kerajinan kayu seni
(Blitar), dan Onyx (Tulungagung) menunjukkan
peluang pengembangan industri kerajinan di pro-
pinsi Jawa Timur.
Pada dasamya desain dan bahan baku kerajinan
kayu Indonesia bersifat spesifik, sehingga umum-
nya pesaing datang dari dalam negeri, bukan dari
luar negeri. Persaingan dalam negeri ini umumnya
usaha kecil juga, sehingga karakteristik usaha di
sektor ini antara lain adalah:
a. Mitra UK tidak mempunyai kemampuan ekspor
langsung, tetapi melalui eksportir.
b. Dalam hal desain yang sama, baku mutu produk
agak sulit untuk diterapkan, sehingga pe- sanan
dalam jumlah besar agak sulit untuk dipenuhi.
c. Banyak di antara eksportir adalah orang asing
yang langsung membawa desain sendiri yang
diminati konsumen luar negeri, sehingga produk
yang dihasilkan menjadi tidak spesifik lagi dan
kehilangan sebagian keunggulan kompe- titifnya

327
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

dalam jangka panjang, dan kondisi ini secara


nasional tidak menguntungkan
d. Karena eksportir (terutama orang asing) dapat
berhubungan secara langsung dengan mitra UK,
maka jika di antara Mitra UK tidak ada ikatan
persatuan yang kuat bargainingposition menjadi
melemah.
Faktor karekteristik usaha kerajinan tersebut di
atas perlu dikaji lebih mendalam apabila pemerintah
daerah ingin mengembangkan sektor UKM
kerajinan dimaksud. Selain itu juga perlu ditata
strategi pembinaan/pendampingan yang melibatkan
multisektor, sehingga permasalahan yang dihadapi
dapat diselesaikan secara menye- luruh.

6. Karaktersitik UKM Kerajinan

Ada beberapa karakteristik umum yang dapat


dicermati dalam mengembangkan UKM kerajinan di
Indonesia, di antaranya adalah: bentuk produk,
desain produk, tingkat ketrampilan, bahan baku dan
pembantu, dan proses produksi secara umum.

a. Bentuk Produk
Secara umum jenis produk kerajinan kayu
terdiri dari 2 jenis, yaitu: art product (sebagian besar
pengerjaan tangan/seni), mass product (sebagian
besar pengerjaan mesin dan seni). Jenis-jenis
pokok produk kerajinan kayu tersebut bentuk dan

328
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur

jenisnya sangat variatif dengan jumlah yang relatif


banyak. Jenis-jenis

329
Model-Model Pemberdayaan Masyarakat

produk tersebut ada yang berbentuk


binatang, bunga-bungaan, buah-buahan, ikan-
ikanan, perabot rumah tangga, aksesoris, mainan
anak, dan jenis lainnya. Dari sisi fungsinya dapat
dibedakan dua jenis, yaitu untuk barang seni
(pajangan) dan barang seni sekaligus fungsional
seperti untuk perabotan rumah tangga.

b. Desain Produk
Desain produk kerajinan kayu memerlu- kan
inovasi dan kreativitas yang dinamis, karena dari
waktu ke waktu desain produk kerajinan kayu
sangat cepat berubah sesuai dengan selera pasar,
khususnya dengan pasar orientasi ekspor. Desain
kerajinan kayu dengan tujuan ekspor bisa berasal
dari order importir atau atas kreativitas seniman/
pengrajin kayu lokal.
Dalam model pembinaan Program Kemit-
raan Terpadu, jenis produk kerajinan kayu yang
diproduksi sebaiknya adalah mass dan art product
berbentuk binatang (kodok), dan alat rumah
tangga (kursi matahari dan cermin), dan lain- lain
produk cinderamata yang bercirikan khas
kedaerahan di Indonesia.
c. Ketrampilan UK Kerajinan Kayu
Ketrampilan UK Kerajinan Kayu mem-
produksi kerajinan kayu yang umumnya di-
peroleh secara turun temurun dari orang tua
maupun tetangga di sekitarnya, tetapi ketram-
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur

pilan menciptakan desain baru hanya dimiliki


oleh orang/seniman tertentu. Karenanya, ke-
trampilan memproduksi dan finishing UK Ke-
rajinan Kayu tidak perlu diragukan lagi, tetapi
yang perlu diperhatikan adalah kemampuan
menciptakan desain baru yang memenuhi selera
konsumen.
Kerja sama dengan Dewan Kerajinan serta
Rumah Desain perlu dikembangkan untuk
menciptakan alternatif produk yang lebih baik
dan mempunyai prospek pasar yang lebih
menguntungkan. Di samping itu perlu
diinformasikan pada UK Kerajinan Kayu tentang
perlunya memperhatikan dan mendaftar- kan hak
paten desain baru.

d. Bahan Baku dan Bahan Pembantu


Bahan baku yang digunakan dalam pem-
buatan berbagai macam jenis produk kerajinan
kayu diantaranya adalah kayu sengon, jabon, dan
jati. Sumber bahan baku tersebut didapat- kan
secata lokal atau didatangkan dan luar da-
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

erah.Bahan pembantu yang digunakan


dalam pembuatan berbagai macam jenis
kerajinan kayu terdiri dari berbagai jenis cat
tembok, pe- warna, dan senur.

e. Proses Produksi
Proses pembuatan kerajinan kayu merupakan
gabungan proses mekanik (pemotongan dan
pemolaan kayu), dan pengerjaan seni tradisional
(pembentukan produk jadi secara manual).
Kerajinan kayu yang dihasilkan merupakan hasil
kerajinan yang mempunyai kandungan seni (art)
dan fungsional. Dalam proses pembuatannya
dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu;
pemotongan kayu gelondongan, pemotongan
kayu sesuai dengan ukuran model produk,
pembentukan model- model produk dengan
mesin bubut, pengukir- an (pembentukan produk
jadi), pengamplasan, pewaman danfinishing. Aliran
proses pembuatan berbagai macam jenis kayu
tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1
Tahapan Proses Pembuatan Kerajinan Kayu

332
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur

7. Manfaat Pengembangan UKM Kerajinan

Melihat kenyataan sejarah yang menunjukan


bahwa adanya krisis ekonomi pada tahun 1998
menyebabkan banyaknya industri manufakur yang
mengalami kebangkrutan, dan kemampuan bertahan
dari UKM hingga kini maka pengembangan
UKM kerajinan di Indonesia umumnya dan
wilayah Jawa Timur khususnya, maka sangat rele-
van untuk dikembangkan.
Ada beberapa manfaat industri kerajinan

333
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kayu bagi daerah setempat berupa: peningkatan


pen- dapatan daerah/retribusi; penyediaan
lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat;
peningkatan pengembangan usaha di bagian hulu
dan hilir sebagai multiplier effect yang positif seperti
terhadap pengembangan industri parawisata dan
pemanfaatan limbah kayu; peningkatan
pendapatan para pengusaha kerajinan kayu; dan
peningkatan pembangunan daerah.
Secara nasional industri kerajinan kayu yang
bersifat padat karya dan banyak memanfaatkan
limbah akan membantu usaha pemerintah me-
nyediakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan
efisiensi pemanfaatan hasil hutan berupa kayu.
Dalam hal produk kerajinan kayu diekspor, maka
secara nasional industri dimaksud akan menambah
devisa nasional dan membantu mempromosikan
pariwisata.

8. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa


UKM kerajinan di Indonesia mempunyai prospek
yang sangat baik untuk dikembangkan pada era
perdagangan global saat sekarang, karena kerajin-
an mempunyai karakteristik khas daerah yang tidak
dapat direproduksi oleh pesaing luar negeri.
Persaingan yang paling besar dalam pengem-
bangan UKM kerajinan adalah persaingan antar-

334
TTG dalam Pengembangan UKM-Kerajinan di Jawa Timur

UKM (bukan dari luar negeri). Oleh sebab itu,


diperlukan upaya pemberdayaan sikap mental ke-
wirausahaan, dan pembinaan kerja sama ke arah
asosiasi dengan model kemitraan terpadu.
Perlunya inventarisasi dan produk Teknologi
Tepat Guna (TTG) untuk memenuhi berbagai
kebutuhan mesin dan peralatan yang belum
diproduksi oleh industri peralatan (belum ada di
pasaran), karena setiap jenis produk kerajinan me-
merlukan sarana pengolahan yangt berbeda-beda.
Perguruan Tinggi di Jawa Timur yang mempunyai
inovasi TTG mempunyai peluang yang cukup besar
untuk bersinergi dengan UKM kerajinan dan
pemerintah daerah dalam pengembangan UKM di
Indonesia pada umumnya, dan Jawa Timur pada
khususnya.

335
Bagian VI
j

MODEL PEN6EMBAN6AN
MASYARAKAT PEDESAAN

M. Yohya Mansyur

Berdasarkan laporan Philip H. Combs dan


Manzoor Ahmed (1985: 41-174), tipologi
pengembangan masyarakat ada empat model
pendekatan, yaitu model: pendekatan penyuluhan;
pendekatan pelatihan; pendekatan koperasi swadaya;
dan pendekatan pembangunan terpadu.
Tipologi yang dikemukakan oleh Combs dan
Ahmed ini merupakan contoh-contoh dari model
pengembangan masyarakat di luar negeri. Adapun
contoh-contoh tipologi pengembangan masyarakat
pedesaan tentang desa tertinggal, diambil- kan dari
laporan Prof. Dr. Mubyarto (1994), sebagai
percontohan pembangunan pedesaan di dalam
negeri.
Modef-Modef Pemberdayaan Masyarakat
Bagian akhir dari pembahasan bab ini dike-
mukakan gagasan ripologi pengembangan masya-
rakat pedesaan.

1. Contoh Model Pengembangan Masyarakat


Luar dan Dalam Negeri

a. Contoh Model Pengembangan Masyarakat Luar


Negeri

1) Pendekatan Penyuluhan
(a) Model Konvensional
Dengan beberapa modifikasi pada tiap negara,
model ini mempunyai ciri-ciri umum:

Tujuanyang dicapair.
*) "Tujuan utama, menggairahkan dan mem-
bantu kaum tani meningkatkan produksi
dengan menerapkan cara-cara kerja teknis
yang sempurna.
*) Tujuan lain, diikhtiarkan memperbaiki
kesejahteraan keluarga penduduk pedesaan
dengan memberi pendidikan kesejahteraan
rumah tangga kepada kaum ibu.
*) Tujuan lain lagi ialah membina kaum petani
muda yang modern dengan mendiri- kan
klub pemuda gaya 4-H, yaitu kelompok-
kelompok pemuda pedesaan yang
menyediakan pendidikan dalam bidang

340
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

pertanian dan ilmu rumah tangga. (4-H


artinya: Head/Kepala; Heart/Hati;
Hand/Tangan; dan Health /Kesehatan).

Golongan sasaran.
Kelompok sasaran utama dan semula adalah
kaum tani. Selanjutnya, para wanita (para istri
petani) dan anak muda (termasuk yang dewasa).
Akan tetapi yang diutamakan kaum tani yang
berladang atau berlahan, berjiwa pro- gresif, di
wilayah geografis tertentu, dengan budidaya
tanaman tertentu.

Organisasi dan struktur


Orgmsasi biasanya dikaitkan dengan dinas-
dinas pertanian. Adapun strukturnya sebagai
berikut:
Tabel I
Garis Komando Dinas Penyuluhan di Kenya,
Nigeria, dan India.

Kenya! Nigeria 1 India 3

341
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Keterangan:
1. E.R. Watts, Agricultural Extension in
Embu District of Kenya, dalam Journal of
Rural Development, (1969), p. 69.
2. James M. Kincaid, Jr., Strategies for Improvement of
AgriculturalExtension Work and Non- Degree
Agricultural 'Training in Nigeria, CSNRD-13, (East
Lansing: Michigan State University, September
1968), p. 18.
3. Dosald C. Green, Relating Education and Training to
Agricultural Development, ICED Background Paper
No. 2 (Essex, Conn, May, 1972).

342
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

* Sumber: Philip H. Comba & Manzoor Ahmed,


NLemerangi Yjimiskinan di Pedesaan ISAelahd
Pendidikan Non-Formal, (Jakarta: CV. Rajawali,
1985), him. 45.

Tenaga keif a
Tenaga kerjanya, terutama terdiri dari karyawan
yang telah memperoleh pendidkan dasar pertanian
atau teknologi produksi, dan dilengkapi dengan
keahlian teori dan metode penyuluhan. Hal-hal lain
diatur tersendiri.

Bahanpendidikan
Dikhususkan pada teknologi produksi. Lain-lain
adalah soal ekonomi logistik, peren- canaan dan
pengelolaan usaha pertanian, pemanfaatan kredit,
dan pengadaan input dan pemasaran produksi.

NLetode-metode
metodenya adalah kombinasi dari ilmu pen-
didikan, ilmu komunkasi, ilmu dakwah, dan ilmu
perniagaan.
Sedangkan dalam penyuluhan ada 5 (lima)
tahap: memupuk kesadaran, (radio dianggap media
yang tepat untuk tujuan ini); membang- kitkan minat
(motivasi) melalui rapat setempat, poster, pameran,

343
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

dan sebagainya; informasi dan persuasi, termasuk


kunjungan kelompok binaan ke kebun peragaan;
percobaan oleh kaum tani di ladang milik sendiri,
sambutan kaum tani yang telah diyakinkan.

Biaya dan dana


Usaha ini padat karya, perlu biaya. Biaya satuan
dihitung perpetani yang diberi berbagai macam
pelayanan, tergantung syarat-syarat pelatihan dan
skala gaji petugas lapangan. Sumber dana bisa dari
pusat, propinsi, atau negara bagian, atau sumber
lain.
Model ini, contohnya dilakukan oleh Office of
Rural Development atau ORD di Korea Selatan.

2) Model Konvensional Versi Mutakhir

Tujuan
Lembaga pelaksana adalah ORD, dan
kegiatannya di Korea Selatan. Lembaga ini banyak
menerima bantuan teknis dari Amerika Serikat.
*) Tujuan utama ialah tercapainya kenaikan
produk dengan menggunakan cara kerja teknis
yang telah disempurnakan.
*) Usaha membantu keluarga-keluarga di
pedesaan untuk menambah pendapatannya
melalui: peningkatan hasil budidaya tradisional;

344
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

dan memperkenalkan budidaya baru seperti


buah-buahan dan sayuran.
*) Mengadakan usaha pertanian sembilan seperti:
ternak babi (tentu saja untuk masyarakat
muslim, tidak diperkenankan); dan ternak
ayam. Kesemuanya ini untuk pasar di per-
kotaan.
*) Aneka ragam kerajinan untuk waktu seng- gang,
seperti membuat wig, barang-barang sulaman;
dan untuk pasar luar negeri yang memberikan
tambahan pendapatan untuk musim salju.

Gobngan sasaran
*) Sasaran utama adalah kaum tani bersama istri dan
anak-anaknya yang telah dewasa di seluruh negeri.
Bantuan yang diberikan pada kaum tani ialah:
membuka ladang baru; melakukan usaha
pelestarian tanah; dan menggairahkan dan
menunjang usaha penyempurnaan ladang dan
rumah tangga. Para istri petani diberi
pengetahuan ke- rumah-tanggaan. Kaum pria
diberi pengetahuan untuk menjadi tukangyang serba
bisa, seperti pekerjaan kayu, batu, dan lain-lain.
*) Sasaran kaum muda, dan titik beratnya adalah
cara-cara kerja pertanian modem; gerak- an
kelompok 4-H; dan pusat latihan khusus untuk
pengajar 4-H.
Organisasi

345
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

ORD sebagai alat pelaksana dari kemen- terian


pertanian dan kehutanan dengan otonomi yang luas,
dipimpin seorang direktur.
Sedangkan struktur dibagi dengan tingkat-
tingkat (eselon): tingkat nasional, propinsi,
kabupaten, dan cabang tingkat lokal di mana tempat
proyek diselenggarakan.

Tenagi Kerja
*) Ada 60.000 petugas penyuluhan: 2/3-nya bertugas
di lapangan, 1/3-nya bertugas di kabupaten dan di
kantor cabang lokal.
*) Ada 100.000 sukarelawan yang memimpin tiga
jenis kelompok lokal: kelompok pe- muda 4-H;
kelompok penyempurnaan la- dang; dan para
petani pria.
*) Kelompok kesejahteraan rumah tangga di
kalangan wanita; dan fungsi tambahan sebagai
pemelihara atau pelestari hubungan erat antara
jawatan penyuluhan dengan masyarakat petani.
Partisipasi penduduk digambarkan pada tabel
di bawah ini.

Tabel 2
Partisipasi Penduduk dalam Penyuluhan ORD*

346
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan
Jenis Jumlah Jumlah Anggota
Perkumpulan Perkumpulan Jumlah
Perkumpulan
Pemimpin
Sukarela dalam
Perkumpulan
Perkumpulan
untuk perbaikan
tanah pertanian 28.949 356.140 32.582
Perkumpulan
untuk perbaikan
rumah tangga 18.189 266.468 19.962
Perkumpulan 4-
H 29.803 633.481 63.208
Jumlah 76.941 1.256.269 115.752

Catatan: Data tersebut, menurut penulis,


memberi gambaran cukup menge-
sankan tentang jumlah orang yang
terlibat dalam penyuluhan. Tetapi data
di atas belum dibedakan kuantitas
hasil mobilisasi dan partisipasi.
* Sumber: Philip Combs & Manzoor Ahmed,
Memerangi Kemiskinan di Pedesaan
Melalui Pendidikan Non Formal,
(Jakarta: CV. Rajawali 1985), him. 48.
Meiode-Metode
*) Segala metode konvensional penyuluhan di- pakai.
*) Penggunaan media massa: radio, film, dan kartu
bolak-balik (flip cards).
*) Pemakaian buletin dan majalah pertanian, serta
perpustakaan keliling bagi m asyarakat yang
tingkat melek hurufnya tinggi.

347
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
Penilaian
Evaluasi yang dilakukan Combs & Ahmed
(1985) pada tahun 1974 demikian: bahwa kele- bihan
pola ORD sangat maju dibanding dengan jawatan
penyuluhan nasional gaya lama. Kegiatannya yang
disaksikan oleh regu ICED (International Council for E
ducation Development) pada akhir tahun 1971 rupanya
jauh lebih sem- purna dibanding dengan yang
disaksikan di wilayah lain (kecuali beberapa contoh
istimewa di daerah Tagor-India, dan daerah Jombang
di Indonesia).
Di samping itu, ORD juga mempunyai masalah
dan kelemahan. Ada yang diakibatkan oleh
keterbatasan dana yang tersedia, namun ada juga
yang berakar lebih mendalam. Suatu
masalah pokok ialah masalah tenaga kerja.
Beberapa tahun berselang pegawai baru ORD
90% terdiri atas tenaga sarjana, dan selebihnya
berpendidikan sekolah lanjutan. Pada tahun 1971
perbandingan itu malah terbalik, dan juga
mutasinya sangat banyak.
Sedangkan banyak pegawai baru hanya
memandang ORD sebagai batu loncatan untuk
menjadi pegawai pemerintah, dan pada kesem-
patan pertama mereka pindah ke jawatan lain.
Sementara itu, pendidikan prakarya/prajabatan
dan jawatan untuk petugas lapangan banyak di-
kurangi, suatu tindakan penghematan yang kurang
cermat. Para petugas penyuluhan di lapangan

348
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

mengeluh bahwa mereka ditugaskan oleh


pemerintah daerah untuk melakukan pekerjaan
kantor yang tiada berkaitan dengan tugas
pokoknya, sehingga berkurang kesem- patan
untuk menghubungkaan dengan kaum tani.
3) Model SATEC (Societe dAid Tehnique et de Co-
operation) atau Himpunan Bantuan Teknik dan
Kerjasama di Senegal
luitarbelakang
Setelah Senegal mencapai kemerdeka- annya,
subsidi Prancis untuk harga-harga salah
satu budidaya utamanya akan dicabut dalam masa
singkat. Setelah itu mayoritas terbesar petani kacang
tanah di Senegal menghadapi pilihan: apakah
meningkatkan produksi kacang yang dijual dengan
harga rendah, atau meng- alami turunnya
pendapatan.
SATEC, menurut Combs & Ahmed (1985),
adalah suatu organisasi bantuan teknik semi- swasta
yang ditugaskan membantu para petani dalam masa
peralihan itu. Badan tersebut di- dirikan pada tahun
1964 dengan bantuan bersama dari FED {Fund of
Europe Development) atau Dana Pembangunan Eropa,
dan FAC (Fund forSisistence and Cooperation) atau Dana
Bantuan dan Kerjasama dari Prancis.
Rencana SATEC mencakup daerah-daerah
produksi kacang tanah yang utama di Senegal
Tengah. Rencana itu digagaskan sebagai suatu

349
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

intervensi pendidikan kejujuran yang bertujuan


melengkapi dan mengokohkan kegiatan pe-
ngembangan masyarakat pedesaan yang di-
selenggarakan sebelumnya, termasuk program
Animation Rurale (penggairahan daerah pedesaan).
Organisasi
Organisasi SATEC yang baru didirikan pada
hakikatnya bertindak selaku sumber penyediaan
nasihat dan pengetahuan, serta sebagai koordinator
dan pemacu untuk organi- sasi-organisasi yang
sudah berjalan. Fungsi- fungsi penyediaan kredit dan
pemasaran tetap diselenggarakan oleh badan-badan
koperasi (di antaranya terdapat 1.500 yang melayani
petani kacang tanah).
Penyediaan alat-alat pertanian yang muta- khir
diselenggarakan oleh CISCOMA, suatu perusahaan
swasta yang mempunyai pabrik sendiri di dekat
Dakar. Usaha penelitian khas mengenai budidaya
kacang tanah tetap merupakan tugas Pusat
Penelitian Pertanian Nasional di Bambey, yang
menyelenggarakan enam pusat penelitian daerah dan
ladang peragaan (demonstration field) untuk penelitian
adaptif, dan pengujian cara-cara bercocok tanam
yang dianjurkan.

Tujuan
SATEC memulai usahanya berdasarkan asumsi
bahwa segala masalah teknik berkena- an dengan

350
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

peningkatan produksi kacang tanah dan sekoi (millet,


semacam padi-padian) sudah dipecahkan dengan
sempurna oleh usaha penelitian terdahulu, namun
disadari pula bahwa penelitian lanjutan mungkin
dapat menghasilkan penyempurnaan pemecahan
yang lama.
Katenanya, anggapan yang merupakan masalah
hanyalah menyempurnakan penyalur- an
pengetahuan/ketrampilan kepada para pe- ladang,
membantu mereka untuk memilih input dan alat-alat
pertanian yang tepat, dan me- nerapkan cara kerja
yang lebih efisien, serta untuk memperluas areal
ladangnya.

Golongan sasaran
Program pendidikan SATEC dipersiapkan
untuk dua golongan petani: pertama, program
berat untuk petani besar (10 ha ke atas) yang
menggunakan hewan penghela dan yang diha-
rapkan memberi sumbangan besar dan tercepat
untuk mencapai target produksi (10 % kenaik- an
produksi setiap tahun). Kedua program ringan
untuk kaum petani lainnya.
Bahanpendidikan
Dalam rangka usaha ini unsur-unsur pendi-
dikannya digabungkan dalam paket anjuran- anjuran
berkenaan dengan benih unggul dan campuran
pupuk, dengan petunjuk-petunjuk mengenai

351
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

pengelolaan tanah, rapatnya pena- naman, cara-cara


menyiang dan penggunaan insektisida. Semuanya
dituangkan dalam petunjuk-petunjuk untuk
dipahami mengenai urutan langkah-langkah yang
harus dikerjakan pada setiap kegiatan.

Vimpinan danpersonel
Untuk menjamin kelancar pelaksanaan
program, telah diadakan struktur pimpinan dan
personel yang dipimpin oleh satu kelompok
manajemen (termasuk juga ahli komunikasi dan
informasi) di Dakar. Tiga kantor penyuluhan
dipimpin oleh manajer lapangan (tingkat ahli
agronomi) yang mencakup 29 zona penyuluhan.
Sementara itu, staf tenaga lapangan ber- jumlah:
62 pejabat dan pembantu pada tingkat ahli teknis
pertanian (di antaranya 20 orang siswa bangsa
Sinegal); dan 700 orang petugas lapangan yang
dikerahkan dari kalangan keluarga petani di
pedesaan yang harus paling sedikit pernah
memperoleh pendidikan formal dan pandai ber-
bahasa Prancis. Ini untuk mempermudah
komunikasi dengan para pejabat yang umumnya
berbahasa Prancis. Pada mulanya dimak- sudkan
agar para petugas lapangan hanya bekerja sebagai
petugas sambilan, di samping tetap menggarap
ladangnya masiang-masing, dengan imbalan
sederhana ($35 perbulan) dari program SATEC.

352
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Namun lama kelamaan banyak di antara mereka


bekerja sebagai pekerja penuh.
Para pejabat teknis, yang kebanyakan sudah
berpengalaman kerja pada proyek-proyek
penyempurnaan pertanian di Afrika, hanya diberi
latihan kerja saja. Sedang para petugas penyuluhan
harus menempuh latihan intensif yang singkat
mengenai usaha penyaluran paket cara kerja yang
dianjurkan pada kaum petani.
Fasilitas modal hanya diperlukan untuk kantor
manajemen senior, direktur wilayah, dan pejabat-
pejabat atasan. Maksudnya ialah supaya segala
kegiatan berlangsung di lapangan. Untuk keperluan
pengangkutan disediakan anggaran cukup besar.
Masilguna
Program SATEC merupakan suatu kam- panye
yang matang perencanaannya dan sem- purna
pengelolaannya, dengan sasaran yang terinci, jadwal
waktu tepat, dan dengan instruksi tegas untuk segala
pihak yang bersangkutan, serta dengan kebebasan
maksimal dari pihak biro- krasi.
Rencana itu pada mulanya berjalan baik:
produktivitas dan jumlah produksi meningkat
dengan pesat selama dua tahun permulaan (1964-
1965 dan 1965-1966). Namun dalam dua tahun
berikutnya hujan tidak turun, produksi merosot dan
para petani kecewa dan hilang kepercayaannya pada
rencana tersebut. Belum dapat dipastikan di mana
letak kesalah- annya. Tetapi seluruh pendekatan ini

353
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

ditinjau kembali, dan selanjutnya diputuskan untuk


diadakan reorganisasi yang drastis.
Kedua kasus, ORD dan SATEC adalah sekadar
contoh tentang berbagai pengalaman dan
pendekatan penyuluhan dalam rangka pembangunan
pertanian di negara-negara berkembang. Kedua
program tersebut mencermin- kan dasar pemikiran
dan teknik pendekatan penyuluhan, serta
menyingkapkan kesulitan- kesulitan utama yang
dialami oleh jawatan-
jawatan penyuluhan hampir di seluruh dunia.
Kesulitan-kesulitan itu, terutama mengenai: (1)
kekutangan anggatan belanja; (2) masalah
pengerahan, pendidikan, dan manfaat tenaga
kerja; (3) kekurangan dukungan usaha penelitian
dan kewajaran anjuran-anjuran mengenai cara
kerja yang sempurna; (4) soal urutan prioritas di
antara berbagai tujuan; dan (5) soal koordinasi
usaha pendidikan dengan penyediaan input dan
jasa-jasa pelengkap.

b. Pendekatan Diktat
Menurut Combs dan Ahmed (1985) pe-
ngembangan masyarakat pedesaan dengan
pendekatan diklat atau pendidikan dan pe-
latihan, dilakukan sebagai proyek-proyek yang
sifatnya intemasional, seperti di Kenya, Senegal,
Filipina, dan Kolumbia.
1) Model FTC atau Farmer Training Centres, atau

354
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Pusat-Pusat Pelatihan Petani di Kenya (Afrika)


Tatar be la hang
FTC gaya Kenya bersumber dari sekolah
Jeanes, suatu lembaga pendidikan non-formal
berasrama, yang mulai menyelenggarakan
kursus-kursus untuk petani muda bersama
istri masing-masing sejak tahun 1934, Pen- didikan
kaum petani tetap merupakan ciri- ciri khas Program
Sekolah Jeanes, sampai saatnya sekolah itu ditutup
pada tahun 1961, dan hasil bagus yang dicapainya
banyak mempengaruhi cara pendekatan Kementeri-
an Pertanian Kenya terhadap usaha pendi- dikan
petani.
Dalam beberapa tahun sesuah PD II, juga
dalam rangka usaha yang memungkinkan
kembalinya bekas prajurit Afrika, Jawatan Pertanian
Pemerintah Inggris mengadakan usaha menciptakan
suatu sistem ladang kelompok keluarga. Dalam
rangka itu Jawatan itu menyelenggarakan suatu
kursus pendi- dikan petani satu tahunan pada
sebuah pusat pelatihan petugas lapangan di Kenya
bagian Barat. Percobaan dengan ladang kelompok
keluarga itu telah gagal, dan pusat pendidik- an itu
diubah polanya menjadi satu Lembaga Pertanian,
yang khusus menyelenggarakan kursus pendidikan
petani saja, yang diper- singkat hanya setahun saja.
Karena kursus semacam itu terbukti menjadi tenar,
dan juga karena terjadi pemberontakan gerakan
Mau- Mau, antara tahun 1951 dan 1954, telah

355
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

dibuka dua pusat pendidikan tambahan di Kenya


Barat.
Tjguan
Karena sistem pusat pendidikan ber- asrama ini
sukses, maka diadakan ikhtiar pertama dari
Pemerintah Kolonial Inggris pada tahun 1954 untuk
mengajak kaum petani Afrika mengadakan usaha
perkebun- an, yang sebelumnya merupakan bidang
yang belum terbuka bagi mereka. Untuk dapat
melaksanakan kebijakan gaya baru ini, diadakan
langkah serentak menciptakan suatu Dinas
Penyuluhan Pertanian yang luas, sambil menambah
jumlah lembaga- lembaga pertanian, dan membuka
kesem- patan bagi kaum petani Afrika untuk mem-
peroleh kredit produksi dengan menggunakan
sarana-sarana swasta. Usaha besar- besaran untuk
melepaskan beribu-ribu petani Afrika dari cara-cara
bercocok tanam subsistensi yang tradisional, ternyata
me- nimbulkan suatu tantangan dalam bidang
pendidikan yang jauh lebih berat dan rumit daripada
memperkenalkan teknologi muta- khir kepada kaum
petani yang sudah berpengalaman dalam usaha
pertanian gaya kolonial.
Stmktur
Program pendidikan petani yang dise-
lenggarakan untuk menghadapi tantangan tersebut
memerlukan pembentukan suatu prasarana
administrasi dan kelembagaan yang sangat
memperlancar perkembangan secara pesat setelah

356
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

dicapai kemerdekaan.
Pada tahun 1961 sudah terdapat 13 pusat
pendidikan petani yang kebanyakan bertempat di
wilayah Kenya Tengah dan daerah-daerah Kenya
Barat yang subur. NCCK atau National Christian
Council of Kenya dalam kerjasama yang agak longgar
dengan pihak pemerintah, memulai pro- gramnya
sendiri dengan mendirikan pusat- pusat pendidikan
di pedesaan. Pusat-pusat pendidikan NCCK itu
dimaksudkan untuk melayani daerah pertanian yang
luas dengan areal dua juta acre, di daerah dataran
tinggi yang dahulu merupakan daerah orang kulit
putih, yang tanahnya sudah dipotong-potong dan
dibagikan kepada penduduk Afrika yang tidak
memiliki tanah. Sementara itu pihak pemerintah
membuka delapan pusat pendidikan, termasuk satu
pusat pendidikan khusus untuk kaum petani Afrika
yang me- ngambil alih perkebunan milik bangsa
Eropa dalam keadaan utuh; sebuah pusat
pendidikan khas untuk budidaya teh, dan sebuah lagi
untuk ilmu kedokteran hewan.
Pada tahun 1967 sudah terdapat 27 Pusat
Pendidikan Petani, termasuk 21 yang
diselenggarakan oleh pemerintah dan enam oleh
pihak NCCK, seluruhnya dilengkapi tempat tidur
untuk 1.500 orang. Menjelang tahun 1971 jumlahnya
tetap sama, namun dibuka beberapa yang baru dan
ditump yang lama.
Lazimnya, sebuah FTC melayani 50- 60 orang

357
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

petani (atau petani beserta istri masing-masing). Tiap


FTC meliputi satu atau dua gedung asrama, kantor,
ruang kelas, dapur, dan sebuah aula merangkap
ruang makan. Biasanya di sana terdapat ladang
komersial berukuran 100 acre atau lebih. Tujuannya
untuk menghasilkan dana untuk pembiayaan pusat
yang bersangkutan. Selain itu juga dibuat sebuah
kebun peraga, dan sebidang kebun rakyat.
Disediakan pula kendaraan truk atau bis untuk
mengangkut para siswa dari dan ke berbagai kursus
serta untuk darmawisata.

Lazimnya staf pengajar dari sebuah FTC terdiri


atas seorang direktur (dengan pangkat asisten
pejabat pertanian, dengan pendidikan SL-4 tahun
serta ijazah pertanian), dua asisten pertanian pria
dan seorang asisten pertanian wanita untuk memberi
pelajaran ilmu rumah tangga. Kebanyakan tenaga
pengajar ini terdiri atas ahli-ahli produksi pertanian,
dengan hanya sedikit atau sama sekali tanpa
pendidikan dalam bidang penyuluhan atau pelatihan.
Mereka termasuk suatu jawatan atau dinas lapangan
pertanian umum yang diperbantukan kepada FTC.
Direktur FTC itu melapor kepada ke- pala
distrik pertanian serta pemimpin Bagian Pelatihan
Petani pada Kementerian Pertanian di Nairobi.
Direktur FTC juga meng- adakan hubungan dengan
tenaga penyuluh di lapangan dengan perantaraan
kepala distrik pertanian. Setiap kursus dirancang

358
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

dengan konsultasi dengan kepala distrik pertanian


tersebut, dan dialah yang wajib mengusahakan
pengerahan calon siswa.
Kegiatanpelatihan
Dari tahun ke tahun kursus-kursus petani itu
semakin dipersingkat, dan akhir- nya dari masa
setahun pada pertengahan dasawarsa 50-an
dipersingkat umumnya hanya seminggu saja. Bahan
pelatihannya juga mengalami perubahan, bertambah
menjadi lebih khusus, dan semakin dipusat- kan pada
suatu aspek tunggal berkenaan dengan produksi
tanaman komersial atau peternakan hewan. Namun
tidak jarang pula diadakan kursus yang bersifat lebih
umum. Pokok kursus lazimnya ditentukan sesuai
dengan kebutuhan khas dari sekelompok petani di
daerah bersangkutan, dan dibeda- bedakan daerah
demi daerah. Tetapi metode pelatihannya seragam,
yaitu suatu rangkap- an, ceramah di ruang kelas, dan
bergantian dengan kerja praktik di lapangan. Selain
itu juga dimanfaatkan untuk mengadakan pe- nataran
petugas lapangan pertanian. Departemen dan
instansi pemerintah lain juga memanfaatkan lembaga
ini untuk keperluan pendidikan, termasuk kelompok
4-H dan badan-badan kooperasi, serta juga untuk
para pemimpin, kepala daerah, dan petugas
pembangunan pedesaan. Kegiatan luar biasanya
dilakukan pada waktu senggang dari kegiatan FTC,
pada musim menanam atau menuai.

359
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
Pembiayaan
Dari kaum petani dipungut uang iuran sejumlah
kira-kira US $2 seminggu. Iuran ini tidak cukup
untuk menutup biaya penyelenggaraan, dan sulit
sekali untuk menentukan biaya penyelenggaraan
yang sebenarnya. Anggarannya dikuasai oleh kepala
distrik pertanian dan umumnya tidak disediakan
mata anggaran khusus untuk pembiayaan FTC.
Biaya perdaerah berbeda satu dengan yang lain, dan
bisa diperoleh dari beberapa sumber, termasuk
pendapatan ladang komersial milik FTC. Biaya
investasi untuk FTC yang baru meningkat dengan
pesat dengan bertambah sulit memilih gedung yang
diperlukan. Perkiraan modal untuk sebuah FTC
pada tahun 1970 mencapai sejumlah US $250,000
(kira-kira 100.000 poundsterling Kenya). Semakin
banyak diterima bantuan dari lembaga- lembaga
bantuan luar negeri untuk biaya pembangunan FTC,
dan dengan penyediaan beasiswa untuk menutup
kekurangan biaya penyelenggaraan.

NLasalah-masalah terakhir
Dalam tahun-tahun terakhir ini dialami berbagai
masalah berkenaan dengan sistem FTC.
(1) Kapasitas FTC sangat kurang dimanfaat- kan.
Misalnya pada tahun 1971,40% dari tempat FTC
tidak terisi, dan 30% dari seluruh kursus terpaksa
dibatalkan.

360
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

(2) Partisipan petani sangat merosot. Keha- diran


para petani beserta istri mereka merosot 1/3
antara tahun 1970-1971, dan lebih dari 45%
merosot antara tahun 1966 dan 1977.
(3) Kesulitan memperoleh dana untuk biaya rutin.
Karena kesulitan ini banyak satuan FTC terpaksa
ditutup untuk beberapa lama. Dalam tahun 1971
ada yang terpaksa ditutup selama 6 bulan.
(4) Banyak sekali mutasi staf pengajar. Dalam tahun
1967 hanya 7 satuan FTC pemerintah yang tidak
berganti direktur, sedangkan dalam tahun 1971
hanya 6 tidak berganti direktur.
(5)Rendahnya semangat kerja pada staf FTC.
Masalah ini senantiasa disebut- sebut dalam
berbagai laporan resmi, studi bebas, dan tulisan
resmi lainnya.
(6)Meningkatnya pemanfaatan fasilitas FTC oleh
pihak luar. Berdasarkan daftar kehadiran siswa,
ternyata pada tahun 1963 hanya 6% bukan
peserta kursus bidang pertanian. Pada tahun 1966
meningkat menjadi 28%, dan pada tahun 1971
mencapai hampir 60%. Pemanfaatn fasilitas FTC
untuk keperlu- an non-pertanian tidaklah buruk,
tetapi pasti tidak dikehendaki bila pemanfaatan itu
harus mengorbankan program bidang pertanian
yang menjadi tujuan utama FTC. Gejala ini dapat
dipandang sebagai indikator kemerosotan minat
di kalangan kaum tani.
Penilaian

361
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Keterangan-keterangan yang tersedia untuk


mengadakan penelitian, sungguh pun jumlah
terbatas dan kurang jelas sifatnya, memberi kesan
seakan-akan hasil-hasil FTC
cukup memuaskan, walaupun beberapa tahun
terakhir mungkin agak kurang. Beberapa studi
penilaian, yang kurang lengkap, pada umumnya
membenarkan bahwa: (1) kaum tani bekas
siswa FTC lebih banyak menerapkan cara kerja
yang dianjurkan dibanding dengan kaum tani
lainnya; (2) suatu prosentase tinggi dari petani
bekas FTC menyebut FTC sebagai sumber
informasi utama mengenai cara kerja yang
mutakhir; (3) petani bekas FTC rupanya
mempunyai pengaruh terhadap petani
tetangganya untuk lebih cepat menerapkan cara
kerja yang sempurna; (4) sebagian besar
menyatakan hasrat akan kembali mengunjungi
FTC untuk pendidikan lanjutan. Hal ini
rupanya bertentangan dengan kenyataan
tentang merosotnya minat di kalangan petani;
dan
(5) kaum petani bekas FTC menerima pen-
dapatan uang dan taraf kehidupan yang lebih
tinggi daripada petani lainnya.

2) Model RTC atau Rura/Training Centres, atau


Pusat-Pusat Pelatihan Pedesaan di Senegal
(Afrika)

362
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Latar belakang.perencanaan untuk proyek perintis


RTC di Senegal dimulai pada tahun
1960, dan pada tahun 1963 tercapai persetuju- an
dengan pihak UNDP (UnitedNations Development
Programmes) yang akan memben dukung- an kepada
proyek ini selama tahap lima tahun permulaan
(1963-1967). Titik beratnya selama kurun ini ialah
pembangunan fasilitas, pe- ngerahan tenaga ahli
internasional dan latihan staf pribumi, tetapi sasaran
yang diterapkan untuk anak didik kelompok pertama
sangat tinggi juga. Demikian laporan Combs dan
Ahmed (1985).
Selanjutnya, menjelang tahun 1971 sudah ada 8
pusat yang berjalan untuk pelatihan petani, 4 untuk
pelatihan pertukangan, dan satu pusat untuk
pendidikan kaum wanita pedesaan. Setiap pusat
pendidikan petani perintis dapat menampung 40
siswa. Setiap pusat di- lengkapi secukupnya dengan
asrama, ruang pengajaran, kantor-kantor, perumahan
guru, dan ladang praktik.

Kelompok sasaran
Para peserta (siswa) di pusat-pusat pelatihan ini
terdiri atas petani usia muda yang telah beristri, yang
mempunyai lahan paling sedikit dua hektar, dan
ditunjuk oleh pejabat lokal dari /1 nimation Kurale
atau Penggairahan Masyarakat Pedesaan, berdasarkan
sifat-sifat kecerdasan dan kepemimpinan calon

363
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

peserta, agar pelatihan mereka menghasilkan efek


ganda setelah mereka pulang ke desanya.
Alasan untuk pengajaran melek huruf
(pengetahuan umum) ialah untuk mengim- bangi
perbedaan dalam tingkat kecerdasan masing-masing.

Kegiatanpelatihan
Ada empat ciri khas isi program pelatihan ini
yang perlu disoroti. Pertama, sedapat mung- kin
diusahakan menyesuaikan bahan pelatihan dengan
pola budidaya dan keadaan lingkungan di kampung
halaman para peserta. Kedua, seluruh latihan (kursus)
diselenggarakan menurut siklus sepenuhnya untuk
budidaya bersang- kutan, dan setiap bagian pelatihan
disesuaikan degan tahap tertentu dalam siklus
budidaya tersebut. Ketiga, bagian terbanyak dari masa
pela- jaran disediakan untuk kerja praktik di ladang,
25-33 sesi pelatihan dari jumlah keseluruhan: 48 sesi.
Keempat, pelajaran di ruang kelas lebih difokuskan
pada diskusi dalam kelompok- kelompok kecil
daripada menggunakan metode ceramah. Di
samping itu, juga diselenggarakan kursus-kursus
singkat atas dasar bahan peng- ajaran khusus.
Mula-mula dimaksudkan banyak menggunakan
alat-alat bantu mengajar atau audio visual aids,
khususnya film pendidikan. Namun temyata film-
film yang tersedia kurang sesuai, maka sekarang
kurang diutamakan penggunaan alat-alat tersebut. Di

364
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

samping itu disediakan juga bahan-bahan bacaan,


dan setiap peserta diberi ikhtisar atau ringkasan dari
tiap bahan pengajaran.

Tenagapengajar atau instruktur


Kebanyakan staf pengajar adalah bangsa
Senegal, berumur paling kurang 18 tahun dan
mempunyai ijazah Akademi Pertanian atau yang
setaraf. Bagi orang yang tidak memilikinya harus
menempuh pendidikan khusus selama setahun. Pada
tiap pusat pelatihan terdapat tiga tenaga ahli bangsa
asing dan 6 instruktur bangsa Senegal. Para peserta
dibagi dalam ke- lompok-kelompok, masing-masing
terdiri dari 8 peserta dengan tugas mengadakan
latihan praktik dan diskusi yang dimotivasi oleh
seorang monitor. Setiap kursus pada masing- masing
pusat pelatihan diikuti paling banyak 40 orang
peserta.

Hasilgma
Sepanjang yang diamati oleh regu peneliti
ICED usaha pelatihan RTC berjalan dengan lancar,
tetapi programnya mengalami berbagai kesulitan
yang tak terduga. Jumlah seluruh peserta yang tamat
kursus selama tahap pertama jauh dari sasaran (382
orang yang tamat, dari sasaran sebanyak 700 orang),
mungkin terlam- bat tersedianya instruktur atau
tenaga pengajar dan tersedianya fasilitas, di samping

365
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kesulitan usaha pengerahan calon peserta. Ada 17


orang calon guru atau instruktur bangsa Senegal
diberi latihan khusus. Sedangkan sasarannya
sebanyak 20 orang, tetapi beberapa di antaranya
berhenti bekerja untuk pindah ke jawatan
pemerintah yang lebih menyenangkan.
Suatu penilaian proyek yang dilakukan pada
tahun 1970 menunjukkan bahwa hasil pa- nen
perhektar pada ladang bekas peserta telah meningkat
antara 50-100%, bahkan ada juga yang lebih. Akan
tetapi ada pula keterangan yang membuktikan
berbagai kesulitan yang di- alami oleh bekas peserta
sepulang ke kampung
halaman. Pertama, karena mereka merupakan
golongan elit yang baru, mereka kurang dise-
nangi oleh para tetangga. Kedua, karena tak ada
jasa-jasa tindak lanjut yang disediakan bagi
mereka, termasuk jasa-jasa penasihat teknik dan
kredit untuk pembelian saran produksi {input) dan
alat-alat pertanian yang sempurna, maka mereka
tak dapat dengan sempurna me- nerapkan
teknologi baru yang telah mereka pelajari.
Akibatnya timbul rasa kecewa dan jengkel di
kalangan bekas peserta terhadap sistem RTC.
Dalam pada itu, sampai pada tahun 1971 pihak
pemerintah Senegal rupanya masih yakin akan
faedah program RTC dan telah memutuskan
untuk melanjutkan, bahkan memperluas
penyelenggaraan RTC.

366
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

3) Model IRRI atau International Rice Research Institute


atau Lembaga Penelitian Padi Intema- sional di
Philipina (Asia).
LMIOT belakang
Dengan berhasilnya pengembangan varietas padi
unggul baru pada pertengahan pertama dasawarsa
60-an oleh IRRI, selutuh jawatan penyuluhan
pertanian dihadapkan pada suatu tantangan berat.
Varietas padi unggul ini mem-
beri harapan akan memperoleh hasil panen yang jauh
lebih besar pada setiap hektar di negara-negara
berkembang di wilayah Asia Tenggara. Tetapi
bagaimanakah kabar ini dapat disampaikan kepada
berjuta-juta kaum tani penanam padi kecil-kecilan
yang berada di seluruh Asia Tenggara, dan bahkan ke
seluruh wilayah penanam padi di belahan dunia yang
lain? Tak mungkin dicapai hanya dengan me-
nyebarkan benih padi unggul ke wilayah penanam
padi tersebut dengan dibiarkan menggunakan cara
menanam yang tradisional.
Benih varietas padi unggul memerlukan
penggarapa dan penanganan khusus, jarak, da-
lamnya, penjadwalan pembibitan secara khusus,
pemupukan lebih banyak, pengairan secara ter- atur,
dan kewaspadaan terhadap gangguan hama dan
penyakit tetumbuhan, karena benih padi varietas
unggul ini kurang kebal terhadap segala hama dan
penyakit biasa. Jika terdapat gangguan, diperlukan
pula pengobatan khusus dengan menggunakan

367
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

bahan kimiawi yang tepat untuk menyelamatkan


tanamannya.
Masalah yang lebih sulit ialah varietas padi
unggul ini dikembangkan dalam situasi khusus yang
terdapat di Philipina, dan mungkin perlakuannya
akan berbeda dalam situasi lingkungan lain. Karena
itu diperlukan pula usaha penelitian khusus untuk
mengembangkan varietas serta teknik penanaman
dan peng- garapan khusus yang sesuai dengan
keadaan di setiap negara. Ini merupakan tantangan
bagi usaha penelitian pada masing-masing negara, di
samping tantangan untuk jawatan penyuluhan
pertanian masing-masing. Demikian masa- lah-
masalah yang dirumuskan oleh Combs & Ahmed
(1985: 67-68).
Selanjutnya mereka menerangkan bahwa
sekalipun IRRI dimaksudkan khusus untuk
melakukan penelitian saja, tetapi para pimpin- an
dan petugasnya segera menyadari bahwa mereka
terpaksa akan menyelenggarakan usaha pelatihan
(pendidikan) pula untuk menjamin agar hasil
penelitian mereka dapat dimanfaatkan secepat
mungkin.
Pada tahun 1964 IRRI memulai suatu program
untuk melatih petugas penyuluhan di Philipina, dan
menjelang tahun 1967 dise- lenggarakan pula
program pelatihan intensif selama 6 bulan untuk
pejabat senior Dinas Penyuluhan dari berbagai
negara Asia, lalu seterusnya di wilayah-wilayah luar

368
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Asia. Tabel di bawah ini memberikan informasi


tentang negara-negara mana yang menguamkan
peserta
untuk mengikuti pelatihan yang diselenggara-
kan oleh IRRI, dan ternyata ada juga para
peserta yang dari Indonesia..

Tabel 8
Peserta Pelatihan Produksi Padi IRRI Menurut
Negara Asal 1964-1971*

369
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Negara Jumtah Peserta

Philipina 66
India 23

Sri Langka 22
Indonesia 19
Pakistan 13
Vietnam Selatan (sekarang: Vietnam) 10
Thailand (Muangthai) 9

Amerika Serikat 9
Laos 8
Birma (sekarang: Myanmar)
6
Fiji 5
Malaysia 3
Lain-lain 20
18

Jumlah 211

Tujuan
Oleh pihak IRRI diharapkan, para bekas peserta
pelatihan IRRI sekembali di Tanah Air masing-
masing akan menyelenggarakan pelatihan untuk
petugas lapangan dinas penyuluhan, dengan
menggunakan bahan-bahan dan metode dari
pelatihan IRRI untuk pelatihan di negara masing-
masing. Dengan cara demikian pelatihan IRRI akan
mempunyai efek ganda yang lebih besar untuk
meningkatkan program- program penyuluhan padi

20
Negara-negara yang mengirim peserta seorang
atau dua, yaitu Afganistan, Kamboja, Ghana,
Irak, Jepang, Kenya, Korea (selatan), Nepal,
Nigeria, Sierra Leone, Sudan, dan Tanzania.
* Sumber: Philip H. Combs & Manzoor Ahmed
(1985: 69), dimodifikasi.

370
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

secara nasional di tiap negara. Dengan demikian,


investasi modal besar berkenaan dengan program ini
dapat dipertanggungjawabkan.

Bahan-bahan dan metodepelatihan


Ciri khas dari program pelatihan IRRI, yang
perlu dikemukakan ada tiga. Pertama, jad- wal
pelatihan disesuaikan dengan siklus leng- kap
penanaman padi sampai pada masa panen. Para
peserta, yang pada mulanya enggan, diha- ruskan
melakukan sendiri semua kegiatan ini. Dengan
demikian, belajar bagi sebagian peserta berarti untuk
pertama kalinya adalah mempe- ragakan pada kaum
petani cara bekerja nyata di sawah. Kerja praktik di
lapangan diselingi

371
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan
dengan ceramah dan diskusi di ruang kelas di-
pimpin oleh kelompok yang terdiri daii gabung- an
dari ahli penyuluhan dan ahli peneliti IRRI.
Kedua, para peserta ditugaskan melakukan
percobaan sendiri di sawah, sesuai dengan penelitian
untuk penyesuaian yang perlu dilakukan kelak di
Tanah Air masing-masing. Sering kali diperlukan
percobaan bandingan dengan menggunakan varietas
padi asli yang dibawa dari masing-masing negara.
Ketiga, pada pelatihan ini juga diletakkan teknik
komunikasi dan pendidikan: tiap peserta harus
menyusun suatu program pelatihan dua mingguan,
lalu secara nayata harus melatih suatu kelompok
peserta latihan singkat dari berbagai badan pertanian.

Hasilguna
Sampai berapa jauhkah daya-guna dari program
pelatihan IRRI ini untuk mencapai tujuannya, yaitu
mempercepat pemanfaatan varietas padi unggul
dengan melatih tokoh- tokoh utama dari berbagai
jawatan penyuluhan pertanian suatu negara?
Khususnya, berapa banyak di antara peserta
pelatihan IRRI secara nyata kembali ke Tanah Air
mereka, dan me- limpahkan segala apa yang telah
mereka pela- jari kepada sejumlah besar petugas
penyuluhan, untuk diteruskan lagi kepada kaum
petani?
Ketika para penyelidik ICED mengun- jungi

372
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

IRRI pada tahun 1971 kurang sekali ke- terangan


yang dapat dipakai dasar untuk men- jawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pihak IRRI tidak
menyelenggarakan studi tindak lanjut, adakah dan
dengan cara bagaimanakah 200 orang bekas peserta
pelatihan IRRI itu memanfaatkan pelatihan yang
diperoleh dari pelatihan IRRI itu. Diduga bahwa
yang dinyatakan oleh seorang pejabat senior IRRI
bahwa kurang dari 30% dari para bekas peserta itu
sungguh-sungguh memanfaatkan pelatihan itu
seperti yang dimaksudkan, sebagian besar telah
diberi tugas lain.
Keterangan-keterangan yang dikumpul- kan
secara mandiri oleh Regu ICED mengenai bekas
peserta dari India, bahkan memperoleh angka yang
lebih rendah lagi. Sebaliknya, di Sri Langka diadakan
ikhtiar sungguh-sungguh untuk memanfaatkan
hampir seluruh bekas peserta didikan IRRI guna
memperkuat jawatan Penyuluhan Pertanian di negara
tersebut.
Keadaan agak mulai betubah membaik
setelah pihak IRRI lebih bersungguh-sungguh
mengerahkan dan menyaring calon peserta yang
tepat, dan setelah lebih banyak negara menyadari
betapa perlunya ditingkatkan ke- pandaian dan
ketrampilan para petugas penyuluhan sebagai
upaya utama utuk menyebar- luaskan penggunaan
padi varietas unggul.

373
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

4) Model SENA (Servicio National de y\pprendi^aje)


atau Pelayanan (Pelatihan) Permagangan Nasional
di Kolumbia (Amerika Latin)
Tatar be lahang
SENA telah didirikan oleh pemerintah Kolumbia
pada tahun 1957 untuk menyedia- kan pelatihan
ketrampilan bagi kaum dewasa yang sudah
bekerja, dan pendidikan magang (apprentice) bagi
kaum remaja (usia 14-20 tahun). Secara
administratif SENA merupakan bagian adri
Kementerian Perburuan dengan otonomi yang
amat luas. Direktur SENA langsung diangkat
oleh Presiden Republik Kolumbia. Dana
pembiayaan diperoleh langsung dari suatu pajak-
upah khusus, bukan dari anggaran belanja rutin.
SENA tumbuh secara pesat dan menjelang
tahun 1970 sudah terdaftar 268.000 orang pe-
serta pada sebagian besar lembaga pelatihan
untuk kejuruan dalam bidang industri, per-
niagaan, dan pertanian. Selama dasawarsa
pertama, SENA memusatkan kegiatannya pada
pelatihan bidang perindustrian, khususnya
penataran kelompok kerja yang telah bekerja
dengan fasilitas dan sarana yang lengkap di
daerah perkotaan dengan menerapkan teknik
pelatihan kejuruan yang baku. Pada waktu itu
juga telah diselenggarakan kegiatan bidang
perniagaan dan pertanian (Combs & Ahmed,
1985: 72).

374
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Seterusnya, Combs & Ahmed menerang-


kan bahwa pada tahun 1967 SENA memulai
suatu program baru, yaitu program PPP-R,
kepanjangan dari Promotion ProfesionalPopular
Kurale, atau Peningkatan Kejuruan untuk Penduduk
Pedesaan. Maksudnya, menyelenggarakan
pelatihan ketrampilan biaya-rendah, masa
singkat, bagi para petani, buruh tani, tu- kang,
dan pengusaha kecil di pedesaan. Bentuk kegia ta
nnya berupa: Unit Pelatihan Keliling yang di
dalamnya terdapat para instruktur (guru) dan
sarana yang diperlukan. Unit-Keliling ini adalah
ikhtiar meletakkan (on the spot) pelatih-
an SDM sampai ke pelosok-pelosok yang sangat
terpencil sekalipun di Kolumbia.

Tujuan
Tujuan utama program tersebut (termasuk
cabang untuk perkotaan, yang disingkat PPP- U,
yaitu Promotion Profesional Popular Urban) adalah
peningkatan ketrampilan dan perluasan kesempatan
kerja bagi kaum buruh yang menganggur
(unemployment) atau setengah- menganggur (disguised
unemployment). Tujuan sampingan adalah menekan ants
urbanisasi yang menyebabkan kota-kota besar di
Kolumbia menjadi membengkak populasinya, yang
selanjutnya berakibat timbulnya pengangguran yang
gawat, serta kekurangan perumahan dan prasarana
umum di daerah perkotaan.

375
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat
Kelompok sasaran
Sasaran pelatihan PPP-R adalah golongan
buruh, dewasa dan remaja, pria dan wanita, baik
bidang pertanian maupun di luar itu. Fokusnya
adalah ketrampilan yang berfaedah untuk usaha
pertanian. Kelompok kerja pertanian yang
dikerahkan adalah petani-pemilik tanah (kecuali
tuan-tuan besar), petani bagi hasil, dan buruh tani
yang tidak memiliki tanah. Pengikut pelatihan ini
tanpa syarat-syarat pendidikan formal.

Struktur dan ruang lingkuppelatihan


Program pelatihan PPP-R diselenggarakan
secara desentralisasi, dengan 14 Kantor wilayah
yang tersebar di seluruh negara. Pada umumnya,
kantor-kantor PPP-R ditempatkan pada suatu Pusat
Pelatihan SENA, kalau di dalam wilayah yang
bersangkutan terdapat SENA. Tetapi pelajaran
diberikan di tempat fasilitas sementara di pedesaan.
Kegiatan PPP- R, menurut angka-angka statistik,
merupakan program yang terbesar dalam
lingkungan SENA, atas dasar jumlah peserta yang
terdaf- tar. pada tahunl970 peserta yang terdaftar se-
banyak 105.000 orang, sama dengan 39% dari
seluruh peserta. Tetapi perlu dicatat, bahwa waktu
pelatihan bagi tiap peserta dan biaya satuan
pelatihan rata-rata, temyata lebih ren- dah pada
PPP-R dibanding dengan angka- angka pada kursus
kejuruan di daerah perkotaan. Sebagai contoh, pada

376
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

program PPP-R, termasuk 47.000 buruh keliling


{migrant workers), masing-masing hanya diberi waktu
latihan memetik bunga kapas selama 20 jam saja,
bila di tempat lain tentu saja lebih lama dari itu.

fimlitas
Unit berkeliling yang dipakai untuk mendidik
penduduk pedesaan, ada yang terdiri atas seorang
tenaga pengajar yang membawa kendaraan yang
dilengkapi dengan alat-alat dan sarana pengajaran.
Akan tetapi ada juga yang terdiri atas seorang guru,
yang membawa seperangkat bahan pengajaran,
termasuk peralatan dan sarana audio-visual. Untuk
unit berkeliling itu SENA memakai aneka ragam
kendaraan, bahkan juga bagal atau sampan, yang
perlu dan cocok untuk mencapai pelosok- pelosok
yang terjauh. Di sejumlah besar pemu- kiman
diusahakan untuk memanfaatkan sarana yang sudah
tersedia, umpamanya ruang sekolah. Tetapi juga
sudah dilakukan percobaan dengan memakai ruang-
kelas rakitan, yang dapat dipasang dan dibongkar
dengan mudah ditempat yang dikehendaki.

Metodepelatihan
Pelatihan lebih banyak bersifat praktik daripada
teori, dan jarang sekali diadakan cera- mah. Para
pelatih lebih banyak mengandalkan peragaan dan
para peserta ditugaskan meniru dan menerapkan

377
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

unjuk kerja {performance) yang dilakukan instruktur.


Para instruktur, sebanyak mungkin menggunakan
alat-alat yang tersedia di daerah yang bersangkutan,
agar para peserta dapat melanjutkan pendidikannya
sehabis masa pelatihan.

Bahanpelatihan
Bahan pelatihan beraneka ragam. Bagian
terbesar meliputi kelompok budidaya pertanian,
peternakan hewan, perusahaan pertanian seperti
peternakan lebah, kelinci atau unggas, dan kerajinan
tangan. Juga diadakan kusus membangun rumah,
melayani, dan memelihara mesin-mesin dan bahan-
bahan yang bersiat lebih umum, seperti PPPK dan
hubungan antarmanusia {human relation).
Setiap latihan dipandang sebagai suatu satuan
lengkap, dengan bahan pengajaran se- cukupnya
yang dapat dipelajari dalam masa yang disediakan.
Lama pelatihan ada yang 40 jam dan paling lama 120
jam. Rata-rata lama pelatihan ialah 73 jam, tidak
terhitung pelatihan singkat untuk buruh kebun
berkeliling.
Pada umumnya, masanya kurang dari sebulan, dan
tidak ada yang lebih dari 3 bulan. Jam pelatihan
berkisar anatara 2-6 jam sehari. Untuk pelatihan
PPP-R tidak dipungut biaya, dan jam pelajaran diatur
agar diadakan pada musim sepi dan pada jam
sengggang-kerja, yang paling cocok untuk penduduk

378
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

daerah yang bersang- kutan.

Tenantkerja
Lebih dari 300 orang tenaga-penuh dipe-
kerjakan pada program PPP-R. Di samping itu ada
juga tenaga pengajar dari 11 Pusat Pendidikan
Pertanian SENA yang sewaktu-waktu diperbantukan
pada PPP-R untuk mengajar 1 atau 2 pelatihan
penuh.
Untuk menjadi staf-pelatihan syaratnya ialah
mempunyai ljazah sekolah teknik lanjutan atau ijazah
guru sekolah pertanian dengan spesialisasi selama
setahun atau pengalaman praktik dua tahun, atau
pelatihan khusus yang dianggap setaraf. Akan tetapi
dalam kenyata- annya, sebagian pengajar tidak
mempunyai pendidikan akademis lengkap. Segala
tenaga pengajar atau instruktur harus menempuh
pelatihan 3 atau 6 bulan pada Pusat Pelatihan
Nasional SENA. Bahan pelatihan itu berupa ilmu
pendidikan dan spesialisasi teknik dan tugas khusus
sebagai pengajar PPP-R sebagai agen perubahan
sosial di daerah pedesaan yang terpencil.

Penilaian
Program PPP-R ini membuktikan bahwa, secara
logistik, mungkin saja diselenggarakan suatu
program pelatihan berkeliling skala-besar yang dapat

379
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

menjangkau daerah pedesaan yang terpencil dengan


biaya yang relatif rendah. Tetapi, negara-negara lain
yang hendak men- contoh pengalaman PPP-R ini
perlu memper- hatikan beberapa ciri-khas dan
berbagai masalah yang telah dialami pada masa
permulaan, dan sedang diusahakan
penanggulangannya.
PPP-R telah dikembangkan sebagai suatu
cabang dari organisasi nasional yang mantap
landasannya, mempunyai dana yang cukup, dan
sudah cukup berpengalaman dalam bidang pelatihan
kejuruan. SENA dari semula dan kirn pun masih
tetap memberi dukungan adminis- tratif dan teknik
pada program PPP-R, dan program PPP-R banyak
ditunjang oleh kewi- bawaan SENA di seluruh
Kolumbia. Biaya tambahan yang diperlukan untuk
pelaksanaan program cabang pendidikan keliling
yang telah berjalan lancar mungkin jauh lebih rendah
dari- pada jika membuat program baru pendidikan
keliling yang dimulai dari tata permulaan.
Keterangan terbatas yang dapat dikumpul- kan
oleh regu ICED dari lapangan untuk keperluan
evaluasi memberikan kesan bahwa pelatihan yang
diselenggarakan oleh SENA, dalam keadaan
tertentu, kurang besar penga- ruhnya, dan dalam
keadaan yang lain jauh berkurang pengaruhnya.
Pengaruh yang paling besar rupanya terjadi bila
pelatihan-pelatihan SENA diselenggarakan dalam
kerja sama dengan suatu badan atau organisasi lain

380
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

yang telah membina suatu rancangan pembangunan


daerah yang lebih luas, yang cocok untuk di-
gabungkan dengan pelatihan SENA. Sayang sekali
keadaan khusus semacam ini jarang sekali terjadi.
Di samping itu, masalah yang di alam i juga
berkenaan dengan pemeliharaan staf tenaga yang
bermutu, yang bersedia bepergian dalam masa cukup
lama ke daerah dengan kondisi yang serba
primitif. Suatu masalah yang tidak kalah peliknya
ialah memilih dan me- rancang pelatihan-pelatihan
yang tepat untuk
setiap bidang. Para pejabat SENA juga menya-
dari adanya berbagai kelemahan dalam prog-
ramnya yang relatif baru, termasuk juga ke-
kurangan patokan untuk evaluasi, dan sudah
mulai berusaha untuk menanggulanginya.
5) Model MITS zt&u Mobile Trade Trainingschools
atau Sekolah Keliling untuk Pendidikan Kejuruan
di Muangthai atau Thailand (Asia Tenggara)

Didirikan tahun 1960-an, untuk menye-


diakan pendidikan ketrampilan dan perbaikan
kesempatan kerja bagi kaum pemuda di luar
sistem persekolahan, dan kaum dewasa golo-
ngan muda, dengan maksud memenuhi kebu-
tuhan akan pekerja setengah trampil dan yang
trampil, yang diduga akan meningkat sejalan
dengan kemajuan rencana pembangunan
nasional.

381
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Semula diutamakan daerah rawan tertentu


sebagai tempat kegiatan-kegiatan kelompok anti-
pemerintah, tetapi kemudian pro- gramnya
diperluas meliputi daerah-daerah lain pula.
Menjelang tahun 1972 sudah terdapat 34 satuan
MTTS di pelbagai kota pedesaan, dan ibukota
propinsi di seluruh Muangthai.
6) Model VIC atau Vocational Improvement Centers
atau Pusat-Pusat Peningkatan Kejuruan di
Nigeria Afrika
Didirikan di enam negara bagian Nigeria
Utara sebagai hasil dari suatu diagnosis peme-
rintah, bahwa hambatan utama bagi pembinaan
industri kecil, kenyataannya, terletak pada
rendahnya taraf ketrampilan dan kurangnya
kesempatan pendidikan bagi kaum tukang dan
pengrajin.
Pada tahun 1965 dengan bantuan Ford
Foundation telah dibuka suatu Pusat Pendidikan
Magang Pemiagaan di Kaduna. Semenjak itu ada
enam pemerintah negara bagian yang mendirikan
pusat-pusat semacam ini, dan sekarang sudah ada
12 pusat, dengan masing- masing dari enam
negara bagian terdapat dua buah pusat, yang
diselenggarakan di berbagai kota di wilayah
Nigeria Utara. Tujuan VIC adalah peningkatan
ketrampilan para tukang dan pembantu tukang
yang sudah bekerja.

382
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

7) Model RATP atau Rural y\rtisant 'Training


Programme atau Program Pelatihan Tukang Pe-
desaan di Senegal Afrika.
Tujuan program ini ialah membina suatu
kader elit dari pengusaha pertukangan yang akan
mampu melayani kebutuhan penduduk kaum
petani berkaitan dengan produksi dan reparasi
alat-alat pertanian, dan juga pembangunan
perumahan. Program ini tidak dimak- sudkan
untuk mengembangkan ketrampilan gaya
perkotaan yang merangsang para tukang itu untuk
meninggalkan kampung halaman. Calon peserta
terdiri atas kaum tukang muda yang sudah
bekerja, khususnya para tukang kayu dan pandai
besi, dari masyarakat pedesaan, yang berhasrat
memperbaiki nasib dan sang- gup meninggalkan
rumah dan perusahaannya untuk masa lebih dari
setengah tahun, untuk mengikuti program
peningkatan ketrampilan pada suatu pusat
pendidikan regional sepenuh- nya {fulltime).

8) Model India berupa Program-Program untuk


Kaum Tukang dan Pengusaha Kecil (Combs &
Ahmed, 1985: 91-100).

*) Program Industri Skala Kecil


Program yang paling luas dan lama
(dimulai tahun 1954), dan program ini juga
paling beraneka ragam. Program ini dise-

383
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

lenggarakan di bawah pengayoman Organisasi


Pengembangan Industri Skala Kecil atau SSIDO,
yaitu Small Scale Industry Development Organisation, dalam
lingkungan Kementrian Pembinaan Industri, Ilmu
Pengetahuan, dan Teknologi, yang juga mengawasi
Program RIP (Rural Industries Project).
SSIDO menyediakan pendidikan bagi kaum
majikan dan karyawan dari beraneka ragam
perusahaan kecil, mendidik tenaga kerja bagi
organisasi itu sendiri dan pihak luar, serta
menyediakan aneka ragam jasa untuk perusahaan
kecil. Pemerintah negara bagian memegang saham
besar dalam penyelenggaraan program ini.
Sebagian tujuan program ini dinyata- kan: (1)
segera menciptakan lapangan kerja luas dengan biaya
modal serendah-rendah- nya; (2) memperlancar
pengerahan dana dan daya yang mungkin kurang
dimanfaatkan;
(3) mengusahakan integrasi industri skala kecil
dalam dunia perekonomian di daerah pedesaan di
satu pihak dengan industri besar di lain pihak; (4)
meningkatkan produk- tivitas karyawan dan mutu
produksi industri kecil; dan (5) mengusahakan
pemerataan

384
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

pendapatan serta pemerataan pembinaan industri


di berbagai wilayah untuk meletak- kan dasar bagi
masyarakat yang desentral- isasi.
*) Rura/Industries Prv/ect/BIP (Proyek Industti- Industri
Pedesaan)
Tujuan program RIP ini ialah untuk
memupuk pertumbuhan perusahaan pedesaan
yang amat kecil dan lapangan kerja di luar
pertanian. Caranya dengan meladh dan
memodernisasi ketrampilan para tukang
tradisional anak laki-laki mereka; mendidik
pendatang baru dalam kelompok atau baris- an
angkatan kerja; menyediakan kredit dan bengkel-
bengkel untuk dimanfaatkan ber- sama-sama; dan
juga dengan mengadakan jasa-jasa penyuluhan
dan tindak lanjut untuk kepentingan para
usahawan kecil.
*) Program Pelatihan untuk Pengusaha Baru di
Gujarat

Pada tahun 1970 tiga organisasi pem-


karsai suatu program mutakhir untuk mendidik
calon-calon wiraswasta atau wira- usahawan, dan
membantu mereka memulai usahanya. Dalam
tahun itu juga pihak pemerintah India memulai
suatu program

385
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

yang serupa, tetapi secara lebih luas bertujuan


membantu para insinyur dan tenaga teknik yang
menganggur untuk dididik menjadi wiraswastawan
industri yang berdiri sendiri.
Para calon yang ingin ikut serta pada Pusat
Pelatihan di Ahmedabad yang baru, harus bertekat
sungguh-sungguh untuk menjadi wiraswastawan atau
wirausahawan yang mandiri, dan sudah mempunyai
gagas- an yang tegas dan layak tentang jenis barang
yang hendak diproduksi. Pendidikan formal bukan
merupakan syarat utama. Di antara 55 peserta yang
pertama, hanya kira-kira seperdua memiliki ijazah
sekolah teknik atau gelar sarjana muda, dan
selebihnya hanyalah tamatan SD atau SL. Hal yang
diutamakan ialah pengalaman kerja, dan peserta
rombongan semua sudah berpenga- laman paling
sedikit setahun, serta ada yang sudah berpengalaman
kerja selama enam tahun atau lebih. Dengan sengaja
diusaha- kan agar rombongan pertama terdiri atas
peserta-peserta dengan pengalaman ber- aneka
ragam, berdasarkan teori bahwa mereka mungkin
akan dapat saling belajar, dan tukar pengalaman
masing-masing.
Program MTTS di Thailand dan sistem
pelatihan tukang-tukang di pedesaan di
Senegal, semata-mata terbatas pada fungsi
pendidikan saja. Sedangkan semua program di
India mengaitkan pendidikan dengan aneka
jasa pelengkap. Program MTTS, ter- utama,

386
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

memberikan pendidikan ketrampilan prakarya.


Sedangkan program di Gujarat ditujuakn
kepada calon usahawan, dan pro- gram-
program yang lain ditujukan, terutama kepada
pelatihan ketrampilan kaum tukang yang sudah
bekerja atau berusaha sendiri. Program-
program di India banyak sekali memperhatikan
pembinaan keahlian mana- jemen, di samping
keahlian teknik yang diperlukan oleh seorang
usahawan. Sedangkan di Tahiland dan Senegal,
khusus hanya mengembangkan ketrampilan
teknik saja, sekalipun sebagian pesertanya
sudah atau bakal menjadi pengusaha kecil.

c. Pendekatan Swadaya Kooperatif


Philip Combs dan Manzoor Ahmed (1985: 107-
140) menjelaskan bahwa sekalipun program-
program yang menjunjung pendekatan swadaya ini
bersumber pada filsafat pembangunan atau
pengembangan masyarakat yang sama, tetapi dalam
beberapa segi mereka saling berbeda.
1) Model CD atau Community Development
Adalah pengembangan atau pembangunan
masayarakat di India, dan ^Animation Rurale atau
Penggairahan Pedesaan di Senegal. Kedua pro-
gram tersebut merupakan kegitana nasional yang
luas, dan disponsori oleh pemerintah.
Tujuannya membangkitkan semangat serta
hasrat pembangunan di kalangan penduduk

387
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

pedesaan, dan untuk mencetuskan gairah/daya


kerja agar dapat membantu mencapai tujuan dan
kebijakan nasional dengan dibantu oleh jawatan
teknik yang berwenang.

Program CD di India
Program CD ini pada mulanya diseleng-
garakan sebagai suatu proyek perintis dengan pola
sempurna dengan bantuan Ford Foundation.
Akan tetapi karena kuatnya desakan harapan
rakyat yang meningkat, maka proyek perintis ini
dengan tergesa-gesa diperluas menjadi skala
nasional yang menyeluruh dalam rangka Rencana
Pembangunan Lima Tahun Pertama (1952-1956),
sebelum sempat dibahas dan dinilai hasil-hasil dari
proyek perintis ters.
Pada saat yang sama telah didirikan juga
Jawatan Penyuluhan Nasional. Tujuannya,
menyediakan jasa-jasa keahlian dari Kemen- terian
Pertanian, Kesehatan, Pendidikan, Pekerjaan Umum,
Koperasi, dan Industri Kecil, untuk menunjang
usaha pengembangan masyarakat. Maksudnya juga
agar mudah dijangkau oleh penduduk daerah
pedesaan.
Program Animation Rurale
Gerakan A. nimation Rurale (AR) di Afrika wilayah
bekas jajahan Prancis (Franciphone Africa), seperti
halnya gerakan pengembangan masyarakat (CD)
telah digairahkan oleh keya- kinan bahwa

388
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

pembangkitan hasrat dan sema- ngat penduduk


pedesaan merupakan syarat mudak untuk setiap
usaha pembangunan pedesaan. Gerakan AR ini pun
muncul sebagai suatu gerakan nasional dengan
maksud melaksanakan sasaran dan rencana
pembangunan nasional yang luas. Akan tetapi,
berlainan dengan gerakan CD, AR ini memusatkan
usaha- nya pada identifikasi dan pendidikan secara
sistematis untuk suatu kelompok perintis atau
animateurs. Mereka ini harus bertindak selaku
perintis/katalisator pembaruan di daerah pedesaan,
dan juga sebagai tokoh penghubung antara pihak
pemerintah dengan penduduk pedesaan.
Cjerakanyl R di Senegal.
Kabamya suatu himpunan bantuan teknik
swasta Prancis telah mencetuskan gagasan AR dan
menguji gagasan ini di Maroko pada dasa- warsa 50-
an. Intisari AR ini adalah suatu padu- an gagasan
sosiologi dan politik dengan sedikit bumbu
ekonomi. Anggapannya adalah kaum petani di
pedesaan harus digairahkan oleh te- man sekampung
agar mereka mampu menya- dari dan
mengungkapkan harsat akan perbaikan nasib sendiri;
berprakarsa untuk mengada- kan tindakan swakarya
dan meminta bantuan/ jasa-jasa yang dibutukannya
dari pihak pemerintah pusat atau dinas-dinas teknik
lainnya; dan untuk memperlancar usaha swakarya itu
agar bisa menjamin tercapainya cita-cita dan sasaran
nasional.

389
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Orang yang menjadi tokoh perintis perubahan


dalam proses ini, yang disebut ani- mateurs haruslah
terdiri atas kaum petani yang ditunjuk oleh teman-
teman sekampung, dan diberi pendidikan khusus
agar mereka dapat bertindak selaku pembimbing,
dan penggairah untuk penduduk desanya. Di
samping itu mereka bertindak pula sebagai
penghubung dengan sumber-sumber bantuan teknik
dan material.
2) Model PRRM/Philippine Rural Reconstruction Movement/
Gerakan Pembangunan Pedesaan Philipina
Gerakan ini dimulai sebagai suatu gerakan
sukarela dalam wilayah geografi terbatas di Philipina,
namun kemudian menjalar tersebar mencakup
negara-negara berkembang lainnya. Gerakan ini
mencerminkan suatu pola baru dalam usaha
mengantar kaum petani tradisional ke dalam dunia
modem, khususnya melalui usaha pendidikan.
Keadaan daerah pedesaan Philipina pada per-
tengahan pertama dasawarsa 50-an, terutama di
wilayah Luzon Tengah, sangat rusuh. Kebanyakan
penduduk daerah hidupnya sengsara. Badan-badan
pemerintah yang harus memberi jasa-jasa kepada
penduduk sangat kurang sempurna, bahkan sering
tidak hadir sama sekali. Sementara beberapa daerah
dikuasai oleh gerakan Huk Blahap, suatu gerakan
gerilya yang bekerja di bawah tanah, yang umumnya
dianggap dikuasai oleh golongan ko- munis.
Karenanya, pejabat-pejabat pemerintah dengan

390
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

gembira merestui dan menjanjikan bantuannya ketika


Y.C. Jimmy Yen, seorang tokoh dengan sifat-sifat
perikemanusiaan dan kepemimpinan unggul, yang
sudah banyak berpengalaman dalam kegiatan
pembangunan pedesaan di Tiongkok masa sebelum
perang, menyatakan kesediaan untuk
menyelenggarakan suatu proyek pengembangan
pedesaan di Philipina. Dari situ pada tahun 1952
didirikan Gerakan Pembangunan Pedesaan Philipina
(PRRM) sebagai suatu organisasi penyantun swas- ta.
Setelah itu mulai dilaksanakan berbagai proyek di
beberapa desa di propinsi Nueva Ecija Luzon.

3) Sistem Pendidikan Koperasi di Tanzania


Sistem pendidikan ini telah didirikan dan
mempunyai kegiatan yang disetujui pemerintah
pusat, tetapi bukan merupakan bagian dari sistem
pendidikan formal. Model ini telah mengadakan
kegiatan untuk memperkuat gerakan kooperasi di
setiap tingkat. Sistem ini dipandang sebagai suatu
lembaga ekonomi dan sosial yang utama untuk
merombak masyarakat agraris menuju sistem
sosiolisme gaya Afrika.
Kepada gerakan koperasi diserahkan peranan
utama dalam strategi asli negara Tanzania yang
bertujuan mengubah daerah pedesaan yang amat luas
untuk menjelma menjadi suatu masyarakat agraris
Afrika gaya baru yang didasarkan pada asas-asas

391
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

sosialisme. Segera setelah dicapai kemerdekaan maka


diambil keputusan untuk mengganti golongan
pedagang swasta dengan suatu sistem pemasaran
saluran tunggal untuk segala hasil bumi di bawah
naungan sejumlah badan-badan pemasaran nasional
dengan organisasi koperasi primer setempat
dengan gabung- an koperasi sedaerah yang
bertindak selaku agen pemasaran.
Untuk menyediakan sarana pendidikan yang
dibutuhkan karena kebijakan baru yang bersifat
sangat luas ini, di Tanzania dibentuk satu jaringan
pendidikan non-formal yang khusus ditujukan untuk
mendidik para anggota dan karyawan koperasi pada
setiap tingkat, mengenai asas-asas dan cara kerja
berkenaan dengan penyelenggaraan koperasi
serbaguna.

4) Proyek Comilladi Bangladesh


Proyek ini secara kontras merupakan suatu
percobaan perintis yang non-konvensional dan
bersifat semi-otonom dalam suatu daerah geo- grafis
terbatas yang berganti-ganti disetujui atau dicurigai
oleh pihak yang berkuasa.
Ciri-ciri inovasi proyek Comilla di Bangladesh
pada mulanya adalah penduduk desa sendiri memilih
seorang warga untuk bertindak sebagai peng-
hubung urusan pendidikan dengan berbagai sum-
ber pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan

392
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

mereka, menurut pandangan mereka sendiri.


Kegiatan ini merupakan bagian dari suatu rang-
kaian prosedur mengenai pembentukan pengurus
dan penyelenggara berbagai koperasi lokal yang
dibina pada waktu bersamaan oleh pihak Aka- demi
Pembangunan Pedesaan bersama dengan penduduk
desa. Berdasarkan persetujuan ini, para penduduk
desa menyatakan kesediaan: (1) mem- bentuk
koperasi resmi dengan memilih seorang ketua; (2)
mengadakan rapat setiap minggu yang wajib dihadiri
oleh seluruh anggota; dan (3) menunjuk seorang
warga koperasi yang harus mengunjungi akademi
seminggu sekali untuk mengikuti latihan supaya
dapat bertindak sebagai pembimbing dan guru bagi
kelompoknya; (4) memelihara ketelitian dan catatan;
(5) menggunakan kredit produksi dengan diawasi
oleh pihak yang berwajib (berkewajiban); (6)
menerapkan cara-kerja dan teknologi pertanian yang
mutakhir; (7) secara berkala menabung uang tunai
dan bahan naturcr, (8) ikut serta pada gabungan sentral
koperasi dalam wilayah thana (suatu nama
koperasi di Bangladesh dari Asosiasi Pusat Koperasi
Thana atau TCCA; dzn (9) menyelenggarakan sidang
pendidikan berkala untuk para anggota.
5) Model ACPO (A.ction Cultural Popular) atau Gerakan
Kebudayaan Rakyat di Kolumbia
Gerakan ini termasuk suatu kelompok ter-
sendiri karena merupakan badan pendidikan nasional
dan swasta yang didukung oleh gereja, yang banyak

393
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

sekali menggunakan media komu- nikasi mutakhir.


Tujuannya mendidik kaum campe- sino, yaitu orang-
orang yang terlantar dan miskin, agar dapat
menjelma sebagai manusia Amerika Latin gaya
baru, yang diberi semangat dan sarana untuk
memperbaiki nasib atas kemampuan sendiri.
ACPO ini sebenarnya hanya didukung oleh
Gereja Katholik, tetapi tidak dikelolanya. Usaha
gerakan ini dimulai sejak tahun 1947 dengan siaran
pendidikan dari suatu pemancar radio. Kemudian,
sejak itu telah dikembangkan menjadi suatu sistem
pendidikan aneka-media yang bekerja siang-malam
yang ditujukan kepada seluruh pendudk daerah
pedesaan Kolumbia. Adapun sasaran utama adalah
anggota masyarakat yang paling melarat.
Proyek kegiatan ACPO dalam rangka kam-
panye pembangunan pedesaan tergambar dalam
tabel di bawah ini.
Tabel 3 Bentuk Proyek Kampanye Pembangunan
Desa ACPO Masa Pelaksanaan 1954-1968*

394
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Kategori Proyek f-Proyek terlaksana

Perbaikan rumah 93.440


Rumah baru 29.271

Air pipa 32.257


Jamban 50.457

Taman bunga 85.702


Tanaman pohon 4.469.106

Kebun sayur 108.058


Timbunan kompos 136.509
Vaksinasi hewan 99.977
Kandang sapi/kuda 29.078

Kandang babi 37.507


Kandang ayam 44.241
Sarang lebah 24.481
Penyemprotan tanaman dengan insektisida
88.606
Pembentukan dewan rukun tetangga 18.397
Pembangunan jembatan 6.635
Perbaikan jalan-desa 37.348

Pembuatan lapangan olah raga 14.279


Kelompok musik 10.306
Kelompok teater desa 14.121

* Sumber: Philip H. Combs & Manzoor Ahmed


(1985:126), telah dimodofikasi.

d. Pendekatan Pembangunan Terpadu


Di kalangan para ahli pada lembaga-lembaga taraf
international, bilateral, dan nasional terjadi- lah
semacam konsensus yang lebih menyukai pen-
dekatan yang komprehensif dan lebih terpadu
penuju ke arah pengembangan pertanian. Pende-
katan terpadu berbeda dengan pendekatan par-
sial yang dianut sebelumnya.

395
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

1) Model TADP/Intensive y\gricultural District Prog-


amrne/Program Distrik Intensifikasi Pertanian di
India
Program CD yang diselenggarakan di India,
segera setelah negeri itu merdeka, bertujuan men-
capai peningkatan produksi pertanian dan sekali- gus
mencapai kemajuan sosial. Selama dasawarsa 50-an
situasi penyediaan pangan di India meng- hadapi
pesatnya pertumbuhan penduduk. Sekira- nya tidak
diadakan impor bahan pangan secara besar-besaran
dari negara-negara Barat, pasti akan terjadi bahaya
kelaparan yang gawat pada musim gersang tahun-
tahun 1957 dan 1958.
Suatu tdm ahli intemasional memperingatkan
bahwa krisis pangan itu bukan suatu gejala
sementara saja, tetapi bisa bertambah gawat lagi
sekalipun pada musim penghujan yang lebat, kecuali
jika diadakan tindakan yang tegas untuk
menanggulanginya.
Tim ahli intemasional mengajukan program
paket berisi sepuluh pokok anjuran. Paket ini
diterima oleh pemerintah India dengan beberapa
penyesuaian dan dijadikan dasar IADP. Program
paket itu terdiri dari: (1) penyediaan kredit yang
memadai bagi petani dengan melalui koperasi; (2)
penyediaan sejumlah sarana produksi yang cukup
melalui koperasi jasa yang kokoh; (3) insentif harga
untuk merangsang ikut sertanya petani dalam
kegiatan pembangunan; (4) tersedianya sarana dan

396
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

jasa pemasaran untuk menjamin agar petani dapat


menikmati harga hasil buminya dengan pantas; (5)
jasa-jasa pendidikan, teknik, dan pengelolaan intensif
harus tersedia di tiap desa atau distrik; (6)
mengusahakan agar seluruh petani, besar atau kecil,
diikutsertakan dalam perencanaan peningkatan
produksi; (7) perencanaan yang melibatkan seluruh
desa dalam setiap program peningkatan produksi
atau penyempurnaan kondisi desa, dapat
mengokohkan organisasi dan kepemimpinan di
lingkungan pedesaan; (8) mem- pekerjakan
penduduk desa untuk melaksanakan program
pekerjaan umum seperti penyaluran limpahan air,
tanggul-tanggul, konservasi tanah, irigasi kecil-
kecilan, pembangunan jalan dan sarana lain yang
langsung berfaedah untuk usaha peningkatan
produksi; (9) analisis dan penilaian program dari
sejak awal; dan (10) koordinasi yang didasarkan pada
urutan prioritas pada setiap desa.

2) Model CADU atau Chilalo Agricultural Development


Unit/Unit Pengembangan Pertanian Chilalo di
Etiopia
IADP, bersama proyek Comilla dan eksperi- men
Israel dalam usaha pengembangan pertanian terpadu
banyak pengaruhnya terhadap: desain untuk proyek
CADU di Etiopia; dan keputusan badan bantuan
bilateral Swedia (SIDA= Swedish International Development
^Agency atau Agen Pembangunan Intemasional

397
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Swedia) untuk memberikan dukungan besar dan


dalam waktu lama terhadap proyek tersebut. Dari
pengalaman sendin berkenaan dengan proyek-
proyek kecil-kecilan dalam bidang pertanian di
Aljazair dan Tunisia, serta dari hasil penyelidikan
tentang pengalaman pihak lain, maka para pejabat
bantuan Swedia menarik kesimpulan bahwa untuk
memberikan dorongan kuat kepada pengembangan
pertanian sebagai prasyarat untuk memperbaiki
nasib petani dalam masyarakat yang miskin,
diperlukan pendekatan yang komprehensif, dan
lebih terko- ordinasi agar pertaniannya dapat
didorong maju. Di antara beberapa negara telah
dipilih, misalnya adalah Etiopia. Di samping
memang negara ini telah minta bantuan Swedia.
Sasaran proyek tersebut ialah: (1) melaksanakan
pembangunan ekonomi dan sosial di seluruh wilayah
yang dijadikan proyek; (2) membang- kitkan
kesadaran dan rasa tanggungjawab penduduk
berkenaan dengan usaha pembangunan; dan (3)
menguji kesepadanan berbagai metode
pengembangan pertanian; dan (4) mendidik tenaga
pribumi Etiopia untuk kemudian ditugaskan dalam
usaha pembangunan pedesaan.

3) ModelPACCA (Programme on Agricultural Credit and


Cooperation in Afghanistan) atau Program Kredit dan
Koperasi Pertanian di Afghanistan
Program tersebut tumbuh berkat adanya minat

398
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

bersama FAO (Food and Agriculture Organisation dari


PBB) dan SIDA, untuk mengembangkan gerakan
kooperasi sebagai upaya untuk me- nanggulangi
hambatan kredit pertanian. Secara lebih luas adalah
mengadakan pendekatan yang lebih menyeluruh dan
terpadu terhadap usaha pengembangan pertanian,
dengan memberikan peranan lebih penting kepada
organisasi kaum petani sendiri.
Afghanistan, karena pemerintahnya telah me-
minta bantuan untuk memperkokoh lembaga-
lembaga pedesaannya, telah dipilih sebagai negara
tempat mencoba pendekatan tersebut. Memang
tidak dikhayalkan, bahwa pendekatan semacam ini
dapat diterapkan dengan mudah di salah satu negara
yang paling terpencil, paling miskin, dan paling
terbelakang dilihat dari sudut modernisasi.
Para utusan penjajakannya berkata jelas: Di
Afghanistan tidak dapat diharapkan keberhasilan
dengan mudah. Tetapi setiap metode yang ber- hasil,
dalam keadaan sulit seperti itu, dapat di- pandang
mantap kesehihannya.

4) Model Proyek Puebla di Mexico


Proyek ini bersumber pada keresahan di
kalangan peneliti pada CIMMYT (Centro International de
M.ejoramiento de Mai%y Trigo atau Pusat Internasional
untuk Pemulihan Jagung dan Gandum) yang
bertempat di dekat Mexico City. Sebabnya, karena

399
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

kurang luasnya penerapan teknologi yang


disempumakan (termasuk jagung varietas unggul) oleh
kaum petani subsistensi (memproduk untuk
kebutuhan sendiri, bukan untuk pasar) yang kecil-
kecil, pada ladang tadah hujan, kalau diban- dingkan
dengan luasnya penerapan di kalanan petani
berladang besar di lingkungan yang lebih
menguntungkan.
Melalui kerja sama dengan pemerintah nasional
dan negara bagian, dan dengan Akademi Pertanian
yang berdekatan di Chapingo, sekelompok ahli
peneliti menyusun suatu rencana eksperimen dalam
rangka ikhtiar menanggulangi aneka kesu- litan, yang
rupanya telah menghambat penerapan teknologi
mutakhir tersebut. Untuk proyek ini mereka pilih
suatu daerah bagian Timur Laut Negara bagian
Puebla.
Tujuan proyek Puebla amat bersahaja dan tegas,
yaitu membina suatu metodologi untuk membantu
46.000 orang petani subsistensi kecil- kecilan di
daerah ladang tadah hujan tersebut. Selanjutnya
disebarkan ke daerah-daerah yang serupa
keadaannya, untuk meningkatkan kadar gizi dan
jumlah pendapatan mereka dengan meningkatkan
hasil bahan pangan, umpan hewan, dan komoditi
komersial.

5) Program Pengembangan Tanah Lilongwe di

400
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Malawi
Program tersebut diselenggarakan di daerah
pusat Malawi, luasnya lebih dari 1,1 jura acre dari
tanah yang paling subur di seluruh negara Malawi.
Di wilayah itu terdapat 52.000 ladang, rata-rata
seluas 5 acre. Penduduknya 350.000 jiwa. Keba-
nyakan para petani di wilayah itu menanam bahan
pangan untuk keperluan keluarga (subsistensi).
Disamping itu, sejak lama, juga menghasilkan
budidaya komersial, terutama jagung, kacang tanah,
dan tembakau. Jumlah produksi mereka terbatas,
bukan karena kurang tersedia tanah garapan
melainkan karena cara kerja yang primitif
menggunakan tenaga otot dan kelaziman kolot
lainnya. Asalkan mereka dapat memanfaatkan tenaga
hewan (yang banyak lembu), input, dan cara kerja
yang lebih sempurna, tingkat produktivitas mereka
akan dapat naik banyak sekali.
Tujuan jangka pendek ialah meningkatkan
produksi pertanian dan para petani yang telah
mencapai taraf pertanian setengah komersial di-
arahkan agar memasuki lingkungan ekonomi uang
tunai sepenuhnya. Tujuan jangka panjang ialah
mengusahakan pembangunan daerah pedesaan
dalam arti kata yang luas, untuk me- nyempumakan
penyediaan jasa-jasa pengobatan, pemerintahan
daerah, pendidikan wanita dan remaja, dan mutu
kehidupan pada umumnya di wilayah tersebut.

401
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

2. Contoh Model Pengembangan Masyarakat Pedesaan


dalam Negeri Berbentuk Tipologi Desa dan
Berdasarkan Mata-pencaharian
Banyak contoh pengembangan masyarakat
pedesaan yang bisa dikemukakan, baik pem-
bangunan dari atas (top-down) seperti tipologi desa
swasembada, swakarya, dan swadaya, atau dari
bawah (bottom up seperti desa miskin, sedang, dan desa
makmur. Juga bisa menggunakan tipologi lain seperti
desa rawan, desa tandus, desa subur, atau tipologi
desa yang oleh Prof. Dr. Mubyarto (1994)
didasarkan pada mata-pencaharian penduduknya.
Contoh model pengembangan masyarakat
pedesaan yang dikemukakan di sini ialah tipologi
pengembangan masyarakat pedesaan yang di-
dasarkan pada mata-pencaharian penduduknya.
Alasannya ialah: (1) mata-pencaharian adalah realita
yang ada di pedesaan; (2) tidak asing bagi para
penduduk dalam arti digeluti dan ditekuni dalam
kehidupan sehari-hari sehingga menjadi milik
penduduk desa dan bersifat indigenous', (3)
pengembangannya dibutuhkan oleh masyarakat
pedesaan sehingga geraknya dimulai dari bawah, dan
menumbuhkan home industry di pedesaan; dan
(4) dan bisa menumbuhkan koperasi yang tepat
guna.
Karakteristik budaya pedesaan di Indonesia
sangat beragam. Hal yang mempengaruhi adalah
letak desa serta mata-pencaharian penduduknya.

402
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Pemerintah, dalam hal ini Departemen Dalam


Negeri, juga menyadari akan hal ini. Kemudian
dibuadah tipologi desa atas dasar mata pencaharian
penduduknya. Dari situ terdapat tipologi: (1) desa
persawahan; (2) desa perkebunan; (3) desa
peternakan; (4) desa nelayan; (5) desa jasa dan
perdagangan; (6) desa industri kecil dan industri
besar; (7) desa perladangan; (8) desa buruh; dan (9)
desa hutan.
Dalam penulisan buku Keswadayaan Masyarakat Desa
Tertinggal, Prof. Dr. Mubyarto (1994: 3-13) ahli
ekonomi pedesaan, mengambil sampel pedesaan di
propinsi Jawa Tengah. Desa Malang Kabupaten
Purworejo mewakili desa persawahan\ desa Simego
Kabupaten Pekalongan mewakili desa perkebunatr,
desa Jenar Kabupaten Sragen mewakili desa
perladangan, khususnya perkebunan teh dan tebu lahan
kering; desa Lanjaran Kabupaten Boyolali mewakili
desa peternakan', desa Jatisari Kabupaten Rembang
mewakili desa nelayan\ desa Gunung Gajah
Kabupaten Klaten mewakili desa hutarr, desa Jambu
Kidul Kabupaten Klaten mewakili desa industri kecil,
desa Kawengan Kabupaten Ungaran mewakili desa
burub, dan desa Pekiringan Kabupaten Tegal mewakili
desa jasa danperdagangan.

a. Desa Malang Kec. Ngombol Purworejo


Desa ini adalah salah satu desa miskin dari
150 desa miskin di Kabupaten Purworejo. Data-

403
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

nya sebagai berikut: sarana transportasi sangat


sedikit, tidak memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus,
dan drainase; tempatpembuangan sampah tidak
memadai dan tidak memenuhi syarat minimum
hidup sehat; pertanian tergantung hanya satu jenis
tanaman\ permodalan lemah; prvduklivitas rendah;
penghaulan di luarpertanian pun (buruh tebu, buruh
bangunan, pembantu rumah tangga, mencari
ikan) belum dapat men- cukupi hidup layak,
migrasi ke kota bukan merupakan jalan keluar
memecahkan masalah mereka, karena pendidikan
rendah, dan ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan
hidup di kota juga rendah.
Ikatan warga masyarakat di desa Malang
Ngombol ini dipelihara melalui kegiatan sinoman,
kematian, sambatan, RT, PKK, Karang Taruna, dan
kelompok kesenian nDolalak. Hubungan
masyarakat melibatkan berbagai lapisan, tetapi
belum semua terlibat dalam kegiatan desa. Kelompok
di sini adalah kumpulan orang yang bekerja sama
dan kumpulan orang yang bekerja bersama-sama.
RT dan nDolalak (kelompok kesenian yang
bertujuan meningkatkan pendapatan dan
bergerak di bidang shoit>- business) mewakili bentuk
swadaya. Kelompok- kelompok inilah yang dapat
dijadikan peng- gerak dinamisasi ekonomi, sosial,
budaya, dan agama dalam pengembangan
masyarakat yang akan datang.

404
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

b. Desa Simego di Pekalongan


Desa ini adalah desa lahan kering dan miskin.
Proses kemiskinan desa Simego terjadi karena tiga
hal; ksterisolasian, sulit air, hsbodohan dan keterbatasan sumber
daya. Langkah awal mengentas kemiskinan adalah
membuka isolasi dengan membangun sarana dan
prasarana transportasi. Usaha pemerintah melalui
P2WK (Proyek Pengembangan Wilayah Khusus);
kegiatan proyek ini memberi insentif petani teh
yang mempunyai lahan minimal 2 hektar untuk
mengembangkan teh sebagai tanaman perdagangan,
dan mendorong munculnya tiga kelompok petani
teh. Sayangpetani miskin tidak terlibat program, karena
tidak memiliki lahan. Kelompok swadaya
yangmelibatkanperan serta orangmiskinialah selapatian
tingkatdusun, meru- pakan akumulasipotensi sebagai
alternatif pe- nanggulangan kemiskinan.
Jika akan diterapkan kebijakan baruyang
menguntungkanpetani miskin perlu dilakukan dm hal,
yaitu pengembanganjaringan pemasaran dan mengembangkan
tanaman perdagangan lain (selain teh), seperti tembakau
untuk menutup kerugi- an bila pasaran teh
merosot.

c. Desa Jenar di Sragen


Keadaannya sbb: alam sangat berat karena
struktur tanahnya batu codas bercampur kapuryang kering;
hasil pertaniannya kurang berarti; sarana transportasi
belum mampu mengangkat kondisi- kondisi sosial

405
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

ekonomi; komoditi yang diper- dagangkan ialah


daun jati, daun pisang, dan yang rendah nilai
ekonominya. Akibat kondisi alam yang berat ini,
waktu dan tenaga dicurahkan untuk mencukupi kebutuhan
primer; pangan, sandang, dan papan; anak
bersekolah berarti mengurangi tenaga keluarga dan
membutuhkan biaya yang besar, sehingga
pendidikan merupakan kebutuhan sekunder.
Akibatnya, mutu sumber daya manusia rendah,
dan sulit bagi penduduk untuk terlibat berbagai
macam kegiatan pembangunan; listrik belum
menjangkau desa, radio dan televisi lebih merupakan
media intertainment daripada media informasi. Paket
mBangun Desa TVRI Yogya kurang men- dapat
perhatian penduduk. Keswadayaan keluarga
sangat tinggi, tetapi banyak kendala kalau
dikembangkan menjadi swadaya kelompok dusun.
Eksistensi keluarga terasa mendapat be- ban berat
karena rendahnya mutu sumber daya manusia dan
terbatas hanya untuk keluarga. Berkembangnya
organisasi sosial ekonomi tergantung pada guru
dan mantri hutan yang dipandang tinggi di kalangan
masyarakat Jenar.

d. Desa Lanjaran Musuk Boyolali


Sebagian besar pendapatan penduduk desa
ini dari peternakan sapi perah. Pendapatan per kapita
(1992) Rp. 248,597. Sumbangan dari sektor
peternakan mencapai 65,1%. Kemiskinan yang

406
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

dialami penduduk desa karena faktor lingkungan dan


sumber daya alam, terutama kondisi jalan dan air.
Topografi wilayah yang berat dzn berbukit-bukit
menyebabkan lahanpertanian sulit dikelola secara
optimal. Tidak terse- dianya sarana transportasi
menyebabkan pedesaan sulit dimasuki. Pasar
terletak di desa tetangga, jaraknya 3 km, dan
ditempuh dengan jalan kaki. Mereka bekerja
sebagai peternak petiggaduh, buruh tani, atau serabutatu
Tingkatpen- cUcHkan sangat rendah, tidak memiliki
lahan pertanian, atau kalau memiliki, sangat sempit,
dan tidak memiliki bak PAH (Penampungan Air
Hujan). Kehidupan berkelompok, tertampung pada UB
Pasir Batu, UB Buruh Macul, dan Kelompok
Pemerah Susu. Dasarpengelompokan adalah kepentingan,
tetapi ikatan komunal yang didukung kondisi
alam berbukit-bukit, maka kelompok yang masih
bisa bertahan adalah dusun. Keswadayaan akan
efektifbiSa dilakukan perdusun. Problem persusuan
adalah pemasaran dan rendahnya kualitas. Akibatnya
ialah harga susu rendah, dan pendapatan petemak sapi
perah juga rendah. Apabila masalah ini dapat
diatasi, diharapkan kesejahteraan penduduk desa
Lanjaran juga akan meningkat.

e. Desa Jatisari Sluke Rembang


Penduduk yang berpencaharian nelayan
sebanyak 71 %. Kemiskinan desa ini dapat dilihat
dari keadaan saratta dan tempat tinggal. Sebesar 73%

407
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

rumah penduduk berdinding bambu dan berlantai tanah,


tidak memiliki jamban keluarga, dan belum ada sarana
kesehatan. Karakte- ristiknya adalah nelayan berbeda
dengan petani pada umumnya. Pendapatan nelayan
perhari hanya cukup untuk makan hari itu (daily
incre-
merit) dengan jumlah yang sulit ditentukan, ber- gantung
pada musim dan status nelayan. Produk mereka bukan
makanan pokok, mudah rusak, dan harus segera
dipasarkan, menyebabkan ke- tergantungan mereka pada
pedagang. Ketergan- tungan pada pemilik perahu yang
disebutpan- dega, menyebabkan para buruh penangkxip
ikan banyak dirugikan. Potensi nelayan tinggi karena
mobilitas dalam pembangunan desa. Kelompok ada
tiga: (1) karena inisiatif sendiri-, (2) karena dorongan
tokoh masyarakat (guru mengaji atau pengurus arisan);
(3) bentukzin pemerintah, yaitu PKK. Dari kelompok-
kelompok ini, kelompok pengajian merupakan
kelompok yang relatif berhasil.
Dalam konteks pembangunan pedesaan,
potensi keswadayaan tersebut berfungsi stretegis sehingga
perlu dikembangkan. Selama ini kebijakan
pembangunan tingkat makro terbukti kurang
mendapat peluang bagi berkembangnya
keswadayaan nelayan. Implikasi yang timbul adalah
partisipasi semu yang bersifatparsial dari para nelayan,
yang tidak mendukung muncul- nya pembangunan
berkelanjutan di pedesaan. Selain itu timbul
kesenjangan sosial yang semakin lebar antar kelas

408
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

nelayan. Situasi demikian itu kurang mendukung bagi


berkembangnya keswadayaan nelayan kecil dan juga
dapat
menghilangkan kemandirian mereka karena
semakin tergantung pada nelayan besar.

Desa Gunung Gajah Bayat Klaten


Desa ini termasuk kriteria desa hutan karena
letak desa yang dekat dengan hutan dan adanya
kegiatan sektor kehutanan yang menyo- lok. Kegiatan
pembangunan hutan melalui sistem agrqfarestry dan
pengembangan kebmpok tani hutan atau KTH
melalui pendekatan CD. Kegiatan KTH sejak
tahun 1988 merupakan cikal kegiatan kelompok
masyarakat yang
modern.
Semula kegiatan KTH hanya di bidang tanaman.
Perlahan-lahan berkembang menjadi usaha produksi
seperti arisan, pengembangan unit usaha wanita
tani seperti unit usaha tenun, membatik, dan ngentung
(memperbaiki benang yang rusak). Pengembangan
usaha wanita tersebut karena potensi usaha dan
keahlian individual yang dimiliki penduduk, dan telah
men- datangkan tambahan pendapatan bagi keluarga
mereka.
Potensi pengembangan usaha ekonomi desa
oleh wanita masih terpusat pada dusun II, karena
kelompok usaha telah dikelola de- ngan baik, dan

409
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

dibantu dana oleh Perum Per- hutani. Kelompok


yang dimaksud ialah KTH KWTH. Sementara itu
di dusun I dan III, para wanita, mereka
sebenamya telah melaksanakan usaha tersebut
tetapi belum berhasil. Fak- tor-faktor
penyebabnya ialah banyaknya penduduk miskin,
belum ada modal dan pemasaran, serta tidak terkelola.
Pemecahannya dibentuk KSM (Kegiatan Swadaya
Masyarakat) dengan tujuan peningkatan SDM-nya
agar dapat meng- hilangkan faktor-faktor
penyebab tersebut.
g. Desa Jambu Kidul Ceper Klaten
Desa ini adalah satu-satunya desa miskin dari
18 desa dalam Kecamatan Ceper Kabupaten
Klaten dengan tipologi desa industri kecil.
Dimasukkan ke dalam kategori desa miskin
disebabkan fasilitas desa dan lingkungan yang
kurang memadai. Sedangkan keadaan ekonomi
penduduk cukup baik. Penduduk yang ber- gerak
pada sektor industri kecil cukup lumayan
(23,68%), dan yang menggantungkan hidupnya
pada sektor pertanian (36,57 %).
Secara umum, mayoritas penduduknya
(57,60%) bekerja sebagai buruh (buruh tani,
industri kecil, dan bangunan). Banyak alternatif
pekerjaan lain yang dapat dilakukan di- sela-sela
tugas memburuh, maka penghasilan
mereka cukup baik yang tercermin dari kemampuan
mereka memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari

410
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

seperti pangan, sandang, dan papan.


Mereka dianggap miskin karena masih menghadapi
kesulitan untuk memenuhi kebutuhan biayapendidikan
dan perawatan kesehatan.
Tingkat keswadayaan masyarakat desa Jambu Kidul
cukup tinggi, yang terbentuk dalam kelompok, baik
yang dibentuk oleh pihak pemerintah, atau yang muncul atas
inisiatif masyarakat sendiri. Ada kelompok pengusaha industri
kecil, dana sosial, koperasiprimer, pengajian, dharma tirta, dan
kelompokpenerima program P2LDT (Perbaikan
Perumahan dan Lingkungan Desa Terpadu) sebagai
bentukan pemerintah.
Adanya kelompok-kelompok ini kiranya masih
menghadapi kegagalan, dalam arti tidak menjamin
kegiatan berkelanjutan dan berman- faat bagi
anggotanya. Sebab-sebabnya, antara lain, kurangnya
kesadaran akan artipentingnya keijasama untuk mencapai tujuan
bersama, kurang try a hohesivitas kelompok, kurangtya kemampuan
dan kemauan memimpin kelomp)ok
Secara umum, masyarakat pedesaan Jambu
Kidulpotensialuntuk dikembangkan de- ngan pembenahan
kelompok, penyiapan anggota,
kaderisasipemimpin kelompok, disertai kebijakan makro
untuk menciptak&n iklim kerja yang baik bagi usaha-
usaha masyarakat, terutama industri kecil dan
pertanian.

411
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

h. Desa Kawengen Ungaran Semarang


Desa Kawengen adalah satu dari tiga desa
miskin di dalam wilayah Kecamatan Ungaran.
Jarak desa ke pusat kota (kabupaten) sekitar 18
km melalui jalan beraspal sepanjang 10 km, dan
sisanya sepanjang 8 km dalam keadaan rusak.
Kemiskinan desa Kawengen ditandai dengan:
(1) tanahnya (+ 75%) berupa tanah kering yang
tandus. Akibatnya: produktivitas padi (bersifat
subsisten) dan tanaman perdagangan sangat rendah;
berkembang usaha kecil-kecilan yang disebut eber-eber
sebagai upaya penduduk untuk tetap bertahan;
dan tidak sedikit yang bermigrasi ke kota-kota besar
(Jakarta, Semarang) untuk bekerja sebagai buruh.
Sebab kemiskinan yang lain (2) sulitnya mendapat air
bersih dan buruknya kondisi prasarana jalan; (3) secara
ekonomis posisi masyarakat desa sangat rentan karena:
rendahnya produktivitas pertanian; tidak ada
organisasi yang dapat mening-
katkan daya tawar menawar {bargainingposition) untuk
menghadapi pedagang pengumpul; pemilikan tanah
rata-rata 0,1 ha per-KK; dan 50% penduduk tidak
memiliki lahan garapan. Sebab kemiskinan lain
adalah (4) kualitas SDM rendah, di mana sebesar 81,6%
penduduk berpendidikan SD, bahkan sebanyak 5%
dari penduduk adalah buta huruf, dan sarana kese-
hatan jauh dari memadai; (5) suasana peme-
rintahan desa kurang terbuka akibat gaya
kepemimpinan elit pedesaan yang akibatnya: timbul

412
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

kondisi konflik dalam masyarakat sejak tahun 1970-


an; tumbuh rasa ketidakpuasan secara diam-diam dalam
masyarakat; dan kecuri- gaan dalam penggunaan dana-
dana pembangunan desa.
Sedangkan dalam solidaritas komunal masyarakat
desa Kawengen masihlah cukt-cp tinggi. Hal ini dapat
dilihat keikutsertaan masyarakat, baik dari hasil
mobilisasi maupun persuasi (dengan bentuk hasilnya
adalah partisipasi), dalam penyelenggaraan kegiatan-
kegiatan desa, yang terbagi menjadi tiga kategori:
kegiatanyangmuncul karetui bentukanpemerintah, seperti PKK,
Dasa Wisma, LKMD, Klompen- capir, PKMD,
Kelompok Tani dan sebagainya; kegiatan tradisional
seperti selamatan kehamil- an, puputan, selapanan, duk
lemah dan samba tan;
dun kegiatan yang dilakukan okh sekelampok or- angyang
memilikiprofesi sama. Kelompok ini sengaja dibentuk
karena adanya bantuan modal uang dari BPD
Ungaran, bagi tengkulak-teng- kulak kecil, yaitu eber-
eber.
Jika kunci untuk mengentaskan rakyat dari kemiskinan
berada pada kekuatan rakyat sendiri, maka hal itu
sama artinya dengan upaya pemberdayaan rakyat
{empoweringpeople). Upaya ini tidak sama atau tidak hanya
berupa tindakan memberi bantuan uang, betapa pun
besarnya. Praktik pemberdayaan rakyat adalah lebih
berupa tindakan-tindakan konkrit yang dapat
meningkatkan kualitas SDM.
Di sebuah desa yang miskin upaya empoiv-

413
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

eringpeopk berbentuk tindakan-tindakan mitumal yang


harus dilakukan untuk menghilangkan kendala-
kendala yang menghalangi kemajuan masyarakat.
Tindakan itu diawali berupa pem- berian bantuan
yang bersifat material. Selanjut- nya, dan ini jauh lebih
penting dan harus segera dilakukan, proses perubahan
sikap para elit pedesaan dalam melakukan hubungan
dengan rakyat menjadi lebih terbuka dan demokratis.
Sesudah itu, baru dilakukan proses perubahan SDM
(rakyat) ke arah yang lebih baik. Peran LSM dalam
kaitan ini jelas sangat besar dengan
syarat LSM mampu menempatkan diri sccara
proporsional hanya sebagai kawan atau mitra
semata (sebagai katalisator dan fasilitator pen-
demokrasian masyarakat pedesaan). LSM tidak
boleh terjebak menjadi neo-patron di desa.

i. Desa Pekiringan Talang Tegal


Dari sudut pencaharian penduduknya, desa
ini merupakan desaperdagangan. Ekonomi
perdagangan telah dikenal masyarakat di
Kecamatan Talang sejak %aman koloniaL Waktu itu
sekitar kecamatan Talang didirikan pabrik gula
oleh pemerintah kolonial. Adanya pabrik gula ini
memerlukan lahan pertanian yang luas, sehingga
rakyat tidak lagi memiliki lahan pertanian yang
baik untuk bercocok tanam. Itulah sebabnya,
mereka kemudian mengusahakan indmtri kecil dan
perdagangan sebagai pengganti pencaharian mereka.

414
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan

Tradisi perdagangan ini terus berkembang hingga


sekarang dan mewar- nai kelompok yang tumbuh
dalam masyarakat. Walaupun demikian,
masyarakat Pekiringan ternyata tak dapat
terhindar dari kondisi kemiskinan.
Kemiskinan di desa Pekiringan, terutama
bersumber pada kurangnya kesempatan yang bisa
dimiliki masyarakat untuk memanfaatkan sumber
daya secara maksimal. Dapat dikatakan bahwa
mereka miskin karena tidak, mereka miliki aset produksi
dan kemampuan untuk meningkatkan produksi.
Dari gejala yang berkembang dalam masyarakat
desa, sejauh ini munculnya gerakan swadaya, dalam
bentuk kelompok-kelompok, merupakan reaksi atas
kenyataan kemiskinan yang menimpa sebagian
masyarakat desa dalam mewujudkan kesejahteraan
mereka.
Ada dua kategori pengelompokan, yaitu
kelompok dengan orientasi ekonomi, dan kelompok sosial
kemasjrtakatan. Kelompok orientasi ekonomi terdiri
dari kelompokpettgolah ikan, koperasipengolah ikan,
kebmpokpengusaha tahu, koperasi tahu, ksbtTtpok bongkarmuat
(BM), kelotfjpok tukang becak, dan kelompok delapan
(kelompok simpan pinjam yang hanya berang-
gotakan 8 orang).
Kelompok sosial kemasyarakatan terdiri dari
kelompok selapanan (bagian dari rembug desa sebagai
sarana penjelasan rencana pembangunan desa, dan
kelompokjamiah.

415
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Keberadaan kelompok dengan orientasi


ekonomi yang didirikan atas dasar rasio dan
kepentingan, pada kenyataannya tidak dapat
menampung semua orang yang mempunyai kegiatan
profesi itu. Bahkan kemudian memi- sahkan
masyarakat menjadi kelompok majikan dan buruh,
atau kelompok anggota dan non- anggota yang pada
akhirnya merenggangkan ikatan sosial.
Dalam keadaan semacam ini kelompok sosial
kemasyarakatan, seperti kelompok jami- ah, menjadi
satu-satunya alternatif yang dapat mempertemukan
mereka dalam satu kebersa- maan. Alasannya adalah
kelompok ini terbebas dari rasa persaingan dagang dan
perbedaan sosial yang tajam.
Dari pengalaman tersebut yang dapat dipetik
adalah suatu hikmah bahwa kelompok sosial
kemasyarakatan mempunyai akar yang sangat kuat
dalam masyarakat untuk meng- gerakkan sumber
daya lokal yang sebenamya bisa dipakai untuk usaha-
usaha peningkatan kesejahteraan. Hanya saja,
anggota kelompok kemasyarakatan merasa keberatan
seandainya kelompok mereka digunakan untuk
kegiatan pengembangan, karena dikhawatirkan akan
merusakkan kekerabatan sosial yang mereka miliki.
Akan tetapi, paling tidak, kelompok sosial
kemasyarakatan ini bisa dipergunakan sebagai model
untuk mengembangkan kelompok swadaya masyarakat dalam
pengembangan masyarakat pedesaan.

416
Model Pengembangan Masyarabat Pedesaan
00O00
Biodata Penulis

Abd Qolik
A. Halim, Drs. M.Ag., lahir di Pati Jawa Tengah
pada tanggal 25 Juli 1963. Pendidikan formal-
nya dilalui dari Madrasah Ibtidaiyah (1974),
Madrasah Tsanawiyah (1977), Madrasah Aliyah
(1981) di Pondok Pesantren Raudlatul XJlum Pati.
Sarjana lengkapnya diperoleh di Fak. Adab IAIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta (1989), sedangkan S2-
nya diperoleh di IAIN Sunan Ampel Surabaya
(1997) dengan kon- sentrasi Pemikiran Politik
Islam.
Sejak tahun 1991, bapak 2 orang putera yang
selalu tampil energik ini tercatat sebagai Dosen
Tetap pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan
Ampel Surabaya, dan terhitung dari
tahun 2001 melaksanakan amanat Pimpinan
Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya
untuk mengelola Jurusan Pengembangan
Masyarakat Islam (PMI). Karena sejak maha- siswa

417
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

selalu mengaktifkan diri dalam berbagai kegiatan,


baik intra maupun ekstra kampus, maka bersama-
sama dengan pada seniornya di Fakultas Dakwah
IAIN Sunan Ampel Surabaya: Dr. H. Moh. Ah
Aziz, M.Ag (Dekan Fakultas Dakwah), Dr. H. Nur
Syam, M.Si, Dra. Hj. Rr Suhartini, M.Si, dan Ir.
Imam Khambali, MPPM (Dosen Jurusan PMI dan
Poltekkes Surabaya) mendirikan LSM La- SAINS,
yang mempunyai visi terwujudnya masyarakat
mandiri, produktif, sejahtera dan berakhlak mulia.
Sesuai dengan Komitmennya untuk ikut serta
memberdayakan masyarakat sekaligus memantapkan
diri untuk menjadi motivator dan fasilitator
Pemberdayaan Masyarakat, maka kegiatan yang
secara sinergis dilakukan adalah Penelitian dan
Pelatihan. Di antaranya penelitian yang telah
dilakukan adalah: Par- tisipasi Perempuan Domestik dalam
Pemberdayaan Masyarakat Pantai di Situbondo (2001);
Pondok Pesantren dan Penghijauan Pesisir: Studi Tentang Peran
dan Kiprah Kiyai dalam Penghijauan Panted
Melaka Penanaman Mangrove di Situbondo (2002); dan
Pesantem dan Pengembagan Ekonomi Kerak- yatan: Studi
'Tentang Pemberdayaan Pondok Pesantren Melalui Penerapan
Tekono/ogi Tepat Guna PengolahAir Minum di Gresik (2003).
Sedangkan pelatihan yang selalu dilak-
sanakan secara berkesinambungan adalah
Peningkatan Kualitas SDM Santri dan Pe-
ngembangan Potensi Pondok Pesantren dijawa

418
Biodata Penulis

Timur. Program terbaru yang pelaksanaannya


Himnlai awal 2005 bekerjasama dengan Garda
Budaya Indonesia Jakarta adalah Pengembangan
Wira Usaha 100 Pondok Pesantren di Jawa Timur.
Sementara itu, program pemberdayaan di luar
komunitas pesantren yang telah dilakukan adalah:
Advokasi dan Konsultasi Publikpada Masyarakat Korban
Tanah Tongsordi PacetMojokerto
(2003) ;Pemberdayac
mMasyamkatDaerah Tandus Melalui PenerapanAkuiferBuatan
SimpananAir Hujan (ABSAH) diPadtan (2004); dan
Penguatan Ijembaga Komunitas Desa Binaan Fakultas Dakwah,
di Desa Randu Padangan, Gresik (2004).
Selain itu, di tengah kesibukannya meng- ajar,
pria berkacamata minus ini juga aktif menjadi
Trainer bagi calon pelatih fasilitator pemberdayaan
masayarakat di wilayah kerja
Balai Pemberdayaan Kimpraswil Surabaya yang
ada di 8 Propinsi.

Bagong Suyanto
Fatkur Rohman, S.Ag., M.Si., lahir di Lamongan, 04
Desember 1973. Pendidikan formalnya diawali
dari SD, SMP, SMA di Lamongan mulai tahun
1979-1991. Jenjang pendidikan S-l dan S-2
dengan konsentrasi Sosiologi Agama diperoleh
dari Universitas Muhammadiyah Malang tahun

419
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

1995 dan 2000. Sebagai seorang PNS di


lingkungan IAIN Sunan Ampel Surabaya, beliau
aktif dalam kegiatan yang terkait dengan
tugasnya, yaitu di Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat IAIN Sunan Ampel
seperti Pendidikan Islam dalam Perspektif Salaf
Ibn Taimiyah, Penelitian Dakwah Kultural
Muhammadiyah, Studi fasilitas Tempat Ibadah
Masjid di wilayah Surabaya Pusat, Timur, dan
Barat. Selain aktivitas tersebut juga terlibat dalam
kegiatan ekstra kampus, antara lain menjadi
anggota Tim Pemantau Jaring Pengaman Sosial
di Jawa Timur.
H. Moh. Ali Aziz, Prof., Dr., M.Ag., adalah guru
Besar Ilmu Dakwah yang lahir di Lamongan, 09
Juni 1957. Pendidikan formal diawali dari SD
merangkap MI di Lamongan (lulus 1969), MTs
dan MA Ihyaul Ulum Gresik (1973, 1975),
Sarjana Lengkap (Drs.) Fakultas Dakwah IAIN
Sunan Ampel Surabaya Jurusan Penerangan dan
Penyiaran Agama Islam (PPAI) lulus tahun 1982,
S-2 Universitas Islam Malang (lulus 2000), dan S-
3 dengan kon- sentrasi manajemen publik
diselesaikan di UNTAG Surabaya tahun 2004.
Pendidikan non-formal antara lain: National
English Course for Lectures di Jakarta
(1983/1984), Pelatihan Penelitian Tenaga
Edukatif Tingkat Nasional PTAI di Ciawi Bogor

420
Biodata Penulis

(1994), Pelatihan pemandu Orientasi


Pengembangan Pem- bimbing Kemahasiswaan
Diknas (2000), dan Pelatihan Agamawan Muda
Nasional (1998).
Karya tulis: Dasar-dasar Nlanajemen (1989),
Nlanajemen Dakwah (1990), Ilmu Dakwah (1992),
Eogzka (1993), ESP (Engslish for Specific Purpose) tahun
1994, dan Short Introduction of Is lam (2000).
Selain sebagai tenaga edukatif di Fakultas
Dakwah IAIN Sunan Ampel dan beberapa PTAI
di Jawa Tiinur, beliau juga aktif sebagai
Pengasuh Mimbar Islam RRI Svitabaya dan Ra-
dio Elvictor (1983-sekarang), Pengasuh Mimbar
Islam di TVRI Surabaya dan Jakarta (1985-
sekarang), Penceramah Islam di Mauritius Afrika
(2000), pengasuh Mimbar Islam di JTV (2002),
Pengasuh Rubrik Muallaf di Tabloid Nurani
(2002-sekarang), dan Penceramah se- kaligus
Pembina Agama Islam di Hongkong
(2004) . Karena kiprah dan prestasinya dalam
pengembangan ilmu dan aktivitas dakwah yang
demikian inilah, beliau telah memperoleh bebe-
rapa piagam penghargaan antara lain: Dosen
Favorit (1998), Piagam Tanda Kehormatan
Presiden RI Satya Lencana Karya Satya (2001),
dan Penerima Dosen Award tingkat Nasional
dari Departemen Agama (2004).

421
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Hj. Rr. Suhartini, Dra. M.Si., lahir di Blitar 13


Januari 1958. Menyelesaikan SI di Fakultas
Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya (1985)
dengan konsentrasi Bimbingan dan Penyuluhan
Agama, sedangkan S2-nya diperoleh dari Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Airlangga Surabaya tahun (1997) dengan fokus
kajian pada Proses Santrinisasi Priyayi.
Selain Pendidikan Formal, Ibu 3 orang putera
yang sejak tahun 2000-2005 menjadi
Pembantu Dekan II Fakultas Dakwah IAIN Sunan
Ampel Surabaya, juga pernah mengikuti kursus
Manajemen pada Senior Manager Program
Executive Intitut McGill University Montreal
Canada tahun (1998).
Sejak tahun 1985 menjadi Dosen Tetap pada
Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya,
dengan keahlian Konselor dan Sosial Studies,
serta Gender Poverty and Equity. Karena kepeduliannya
dalam upaya mewujud- kan kesejahteraan sosial,
maka pada tahun 2000 bersama-sama dengan Tim
yang selama ini menggeluti Kaiian tentang
Fenomena Sosial dalam Proses dan Pengembangan
Dakwah, mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat:
La- SAINS.
Di sini ia sekaligus menjadi pengurus inti pada
Lembaga yang secara garis besar bergerak dalam

422
Biodata Penulis

bidang Pemberdayaan Masyarakat. Selain itu beliau


juga aktif menjadi Trainer Fasilitator Pemberdayaan
Masyarakat di Balai Pemberdayaan Kimpraswil
Surabaya yang wilayahnya meliputi 8 propinsi,
antara lain: Jawa Timur, NTB, NTT, Bali, dan
Kalimantan.
Kegiatan lain yang tidak pernah ditinggal- kan
adalah melakukan Pemberdayaan Pondok Pesantren
di Jawa Timur, yang programnya
antara lain adalah Pembinaan dan Peningkatan
Kualitas SDM, Pembinaan dan Pemberdayaan
Ekonomi Islam, serta Pembinaan Manajemen
dan Komunikasi Pondok Pesantren.

Hj. Sri Soehartatie, Ir., lahir di Surabaya 09 April


1951. Pengalaman Pekerjaan: Kepala Seksi
Produksi di Balai Produksi Bahan Pelatihan
Audio Visual Surabaya Pusdiklat Dep. Pekerjaan
Umum (1995 s.d 2001) memproduksi bahan
pendidikan dan pelatihan audio visual bidang
pekerjaan umum. Pernah menjadi dosen di
Lembaga Pendidikan Pekerjaan Umum-Institut
Teknologi Sepuluh November (ITS), dan
beberapa perguruan tinggi swasta di Surabaya.
Kepala Balai Pemberdayaan Kimpraswil
Surabaya, Pusat Pengembangan Peran
Masyarakat, Badan Pengembangan Sumber Daya

423
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Manusia, Dep. Pekerjaan Umum (2001-sekarang)


melaksanakan pemberdayaan masyarakat bidang
pekerjaan umum di Propinsi Jawa Timur, Bali,
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur,
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.
Pengalaman Pendidikan: Sarjana Teknik Sipil
Isntitut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya (ITS) tahun 1979. Mengikuti pen-
didikan singkat produksi bahan pelatihan audio
visual di Jepang dan beberapa kali di Surabaya,
terakhir mengikuti pelatihan Urban and Regional
Development Management and Regional
(URDMR) di Surabaya.

Imam Khambali, Ir., MPPM., lahir di Lamongan 3


Maret 1962. Pendidikan formal- nya ditempuh
pada Sekolah Pembantu Penilik Hygiene
Surabaya (D-2) tahun 1983. Kemu- dian D-3
Kesehatan Lingkungan pada Aka- demi
Kesehatan Ling-kungan Surabaya tahun 1993, SI
Teknik Penyehatan Lingkungan dengan gelar
insinyur tahun 1995, dan S2 dari University of
Southrn California, Los Angeles, USA, lulus
tahun 2000 dengan gelar Mag- ister Public Policy
and Management (MPPM).
Organisasi profesi yang digelutinya adalah

424
Biodata Penulis

pengurus Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan


(HAKLI), Sekretaris Koalisi Jawa Timur Sehat
(sejak 2000), dan sejak tahun 2000 tercatat
sebagai pendiri sekaligus Direktur Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) La- SAINS Jawa
Timur.
Profesi formal yang ditekuninya adalah dosen
tetap sekaligus ketua Laboratorium Lingkungan
Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik
Kesehatan Surabaya, juga dosen luar biasa dalam
mata kuliah AMDAL, Pengembangan Wilayah dan
Permukiman, dan TTG di Jurusan PMI Fakultas
Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Selain aktif
mengajar beliau juga aktif melakukan penelitian dan
memberikan pelatihan.
Hasil penelitian yang telah didokumen- tasikan
antara lain Penggunaan Effective Microor- gimsms dalam
Pengeblaan Sampah Orgtmk untuk, Bokasih di Surabaya
(2001); Studi Analisis Peng- angkutan Sampah Kota Surabaya
(2002); Pemanfaatan Sludge PT Sier sebagai Media Tanampada
Tanaman Budidaya (2002); Penerapan Teknologi Pengolahan
Air Bersih Pedesaan di Kabupaten Tamongan (2003);
Pemanfaatan Double Ultra Violet sebagai SteriHf^torAirAiinum
(2003); Penerapan Teknologi Pengolal)AirSiap Minum untuk
Masyarakat (2004).
Adapun pelatihan yang sering dilakukan antara
lain adalah: Pembinaan dan Penerapan Teknologi Tepat
Gunapada Komunitas Pondok Pesantren di Jawa Timur (sejak

425
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

2000); Pelatihan Tenaga Sanitasi Dasar Kecamatan se-Jawa


Timur
(2000-2005), Konsultasi dan A dvokasi Publik di daerah
Rawan Tongsor (2003); dan Penyehatan Kawasan
Permukiman Korban Banjirdi Situbondo dan Probolinggo Jawa
Timur (2002-2003).
Sejak tahun 2003 tercatat sebagai Koordi-
nator sekaligus Penanggung Jawab Program
Sanitasi Dasar Pondok Pesantren di Gresik Jawa
Timur, yang dalam tahap awal dimulai dengan
Pelatihan dan Penetapan Teknologi Pengolah Air
Minum Bahan Baku Lokal. Alat yang diproduksi
oleh Laboratorium Poltekkes yang dipimpinnya
dalam proses memperoleh hak paten dari
lembaga yang berwenang ini telah diterapkan di
empat pondok pesantren di Gresik sebagai pilot
project.

M Yahya Mansur, Drs., lahir 17 Desember 1940. di


Gempol-Pasuruan, anak dari H. Mansur Mukri
(aim) dan Sitti Rahmah (almarhumah).
Pendidikan: Pendidikan Dasar (Umum Ijazah SR
Wonorejo,Tahun 1952) dan Diniyyah
(Awwaliyah, Tahun 1951); Menengah Pertama
(Ijazah SMI Pasuruan, Tahun 1954); Menengah
Atas (Ijazah SMA Pasuruan,Tahun 1957);
Perguruan Tinggi Agama/Syariah (Baccaleuriat

426
Biodata Penulis

Fakultas Syariah PTAIN-Yogya- Cabang


Surabaya, 1963-1964), Umum/Hukum
(Baccaleuriat Fakultas Hukum UNAIR Tahun
1967-1968), Umum/Pendidikan (Ijazah Fakultas
Ilmu Pendidikan Jurusan), Pengembangan
Masyarakat/CD IKIP (Malang, Tahun 1978; S-2
PLS IKIP Malang 1983-1986; dan Pelatihan Pusat
Latihan Penelitan Ilmu-Ilmu Sosial (Aceh, Tahun
1982).
Pengalaman Kerja: Guru dan Kepala SMA
Tebuireng, tahun 1979-1982 atas Biaya LP3ES
Menjadi Ketua Pusat Data Pesantren, di Tebuireng;
Mengajar Sejarah Pendidikan di Fakultas Tarbiyah
IKAHA Tebuireng, 1979- 1981; Mengajar
Penelitian dan Pendidikan Islam pada Fakultas
Tarbiyah Nurul Jadid Paiton Kraksaan-Probolinggo,
Tahun 1988-1992; Mengajar Penelitian Agama dan
Sejarah Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah
Univer- sitas Muhammadiyah Surabaya, 1962-1995;
Dosen Patologi Sosial, Psiko & Sosio Terapi, dan
Dawah Pengembangan IAIN SA Surabaya, Tahun
1982-1995; Pengawas Guru Agama Kanwil Depag
Jatim, Tahun 1995-1999; dan: Sekretaris Kajian
Prilaku Ummat Antar Agama di
Sumberpucung/Makng-Kalijaring/Jombang-
Pacitan-Lamongan, Tahun 1996
Karya Tulis: Sistem Kekerabatan Masyarakat Aceh,
LPIIS Jakarta, 1983; Psiko Terapi dan

427
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

Sosio Terapi, Biro Penerbitan, Fakulatas Dakwah


Surabaya IAIN Sunan Ampel, 1989; Metodologj.
Penelitian, Dasar FiIsafat, Jenis Pene- litian, dan Metode
Penelitian pustakaan, Pusat Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat IAIN Sunan Ampel
Surabaya, 1990; Psiko Terapi, Biro Penerbitan
Fakultas Dakwah Surabaya, IAIN SA.Pendidikan
Perbandingan, Fakultas Tarbiyah, Universitas
Muhammadiyah Surabaya, 1995; Penelitian
I&talitatifXJntuk Pendidikan, Fakultas Tarbiyah
Univertas Muhammadiyah Surabaya, 1996;
Dakwah dan Perubahan Sosial, Pondok
Pesantren Walisongo Ngabar, Pono- rogo, 1997;
Patologi Sosial dan Terapi-Terapi Relevan, Lembaga
Kajian, Penerapan Ilmu, Pendidikan, dan
Penerbitan (LKP3), Surabaya, 1998; dan Teori
PoUtik Islam (terjemahan), LIT TRAPIS Ikhwatul
Muminin Sidoarjo, 2000.

Moch. Khoirul Arif


Nur Syam, Dr. H., M.Si., lahir di Tuban, 7 Agustus
1958. Pendidikan Tinggi (sarjana SI) ditempuh di
Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Sebelum itu, beliau malang melintang di beberapa
sekolah menengah atas. Karena dorongan
kakeknya, ia sempat sekolah
di PGAN selama 4 tahun, walaupun juga per- nah

428
Biodata Penulis

menjadi siswa SMEA swasta di kotanya.


Selepas PGAN 4 tahun, masuklah ia ke PGAN
6 tahun dan selesai 1977. Keinginan- nya memang
menjadi guru, tetapi di IAIN Sunan Ampel Surabaya
ia justru masuk ke Fakultas Dakwah yang
diselesaikannya dalam waktu yang cukup lama, 6
tahun, tahun 1985. Maklum karena ia menjadi aktifis
mahasiswa, baik kegiatan intra maupun ekstra
mahasiswa. Jabatan Sekretaris Badan Pelaksana
Kegiatan Mahasiswa (BPKM) IAIN Sunan Ampel
pun pemah disandangnya, dan itu mengantarkan-
nya bisa ke berbagai forum pelatihan di tingkat
nasional, semisal Pelatihan Kepemimpinan
Mahasiswa Tingkat Nasional maupun Pelatihan
Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Nasional.
Studi S2 diselesaikan pada tahun 1997 di
Program Studi Ilmu-Ilmu Sosial, PPS UNAIR. Di
universitas yang sama, pada tahun 2003 ia
menyelesaikan studi S3 dan memperoleh gelar
Doktor dalam Ilmu Sosial. Semenjak tahun 1987
hingga seka-rang menjadi Dosen tetap di
Almamaternya.
Penelitian-penelitian yang telah banyak dilakukan,
yaitu Penelitian Kompetetitif De- partemen Agama:
Dakwah Islam dalam Meng- ehminasi Tradisi Nyaminpada
Alasyarakat Samin Bojonegoro, 1994; Pemilihan Kepala Desa di
Pitu Ngnvi: Studi tentangKepemimpitianl^okal Aliansi Golongm

429
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

dan Motivasi Keagamaan, 1996; Tarekat dan Petani: Studi


tentang Penganut Tarekat di Mojosari, Mo/okerto, 1996.
Juga melakukan Penelitian Kompetetif
Balitbang Depag: Komunitas Islam di tengah Perubahan:
Mempetiabankan TradisiTokaldiTengih Gerakan Purifikasipada
Komunitas Pesisir Tuban, Jawa Timur, 2001. Juga Penelitian
Kompetetif IAIN Sunan Ampel Surabaya Sunan
Ampel: Tarekat dan Negara: Studi Dinamika l lubungan
Tarekat dan Kekuasaan Politik dalam Kasus Tarekat di Jombang,
1999; Tradisi Keluarga Perempuan Meminang dalam Sistem
Perkawinan Tuban Jawa Timur, 2001.
Juga melakukan beberapa penelitian kerja- sama
IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Pemerintah
Propinsi Jawa Timur: Studi Evaluasi Pelaksanaan Operasi
Pasar Khusus bagi Keluarga Pra-sejahtera di Kabupaten Bondowoso
dan Probolinggo, 1999; Pemetaan Potensi Ekonomi di Kabupaten
Situbondo, 2000. Juga penelitian tesis: Agama dan Politik:
Makna Ajiliasi Politik Penganut Tarekat Qadiriyah
waNagsyabandiah di
Cukir, Jombang, 1997; dan penelitian desertasi: Tradisi
Islam Tokal Pesisiran: Studi Konstruksi Sosial XJpacarapada
JSAasyarakat Pesisir Palang Tubart Jawa Timur, 2003.
Buku yang sudah terbit adalah: Metodologi
Penelitian Dakwah: Sketsa Pengembangan Ilmu Dakwah
(Ramadhani: Solo, 1991); SosiologiKomunitas Islam
(Jenggala Pustaka Utama, 2003), Pembangkangan Kaum
Tarikat (Lepkis, 2004); Bukan Dunia Berbeda (Jenggala

430
Biodata Penulis

Pustaka Utama, 2004); dan akan terbit Per-spektif


dalams\ntro- pologp E volusionisme, StruktumJisme, Kognitivisme
dan Interpretatif Simbolisme (Indra Media Press).
Selain menjadi dosen di Fakultas Dakwah
IAIN Sunan Ampel, juga mengajar di Program
Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, Institut
Agama Islam Ibrahimi, Sukorejo dan Sekretaris
Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam
(Kopertais) Wilayah IV (Jawa Timur, Bali, NTB dan
NTT).
Ia juga salah seorang pendiri sekaligus Tim
Ahli di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) La-
SAINS (Lembaga Swadaya Insan Sejahtera Jawa
Timur) dan Tim Ahli Lembaga Pengabdian
Masyarakat (LPM) di IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Pradoto Iman Santoso, lahir di Banyuwangi 09 Juni
1956. Pengalaman Pekerjaan Korespon- den
Mingguan Buana Minggu di Surabaya (1983-
1990). Kepala Seksi Perencanaan di Balai Diklat
Wilayah IV Surabaya, Pusdiklat Departemen
Pekerjaan Umum (1998-2002) berpengalaman
menyelenggarakan pendidikan pelatihan
kedinasan bidang pekerjaan umum. Kepala Seksi
Penyelenggaraan di Balai Pemberdayaan
Kimpraswil Surabaya, Pusat Pengembangan
Peran Masyarakat, Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia, Dep. Pekerjaan Umum (2002 s.d
sekarang) menye- lenggarakan kegiatan

431
Model-Model Pemberdayaan Masyarabat

pemberdayaan masyarakat bidang pekerjaan


umum di Propinsi Jawa Timur, Bali, Nusa
Tenggara Barat, juga di Nusa Tenggara Timur,
Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur,
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.
Pengalaman Pendidikan: Sarjana Ilmu
Komunikasi STIKOSA-AWS tahun 1988,
mengikuti pendidikan singkat cinematography di IKJ
(dh LPKJ), pendidikan singkat produksi media
audio visual dijepang, Jakarta dan beberapa kali di
Surabaya, terakhir mengikuti pelatihan untuk
melatih fasilitator yang dise-
lenggarakan Pusat Pengembangan Peran
Masyarakat di Bandung.

Susinggih Wijana

432
Biodata Penulis

433