Anda di halaman 1dari 23

TUGAS KELOMPOK MAKASSAR, MARET

2013
Dosen Pembimbing : Hasnah S.Kep, Ns, M.Kes

Atrial Septal Defect

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK

ANDICA BASMAH (10.1101. )


MARIA ADRIANA PAPU (10.1101. )
ABDUL MAJID (10.1101. )

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan hidayah yang diberikan kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah kami yang berjudul atrial septal defeck .

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran dari dosen pembimbing maupun
teman-teman guna menjadi masukan buat kami agar pembuatan makalah
berikutnya lebih baik lagi.

Pada akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan


kita semua yang ada di kelas EF.10 dan semoga makalah ini merupakan
amal ibadah yang tinggi nilainya. Terima Kasih

Makassar, Maret 2013

Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal
pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan
jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah
defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara
serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan
pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat
muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya
menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu
kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum
adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat
antar bilik atau pada bantalan endokard.
ASD(Atrial Septal Defect) merupakan kelainan jantung bawaan
tersering setelah VSD (ventrikular septal defect). Dalam keadaan normal,
pada peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiri dan
kanan sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Pada saat bayi
lahir, lubang ini biasanya menutup. Jika lubang ini tetap terbuka, darah
terus mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan (shunt). Maka darah bersih
dan darah kotor bercampur.

Sebagian besar penderita ASD tidak menampakkan gejala


(asimptomatik) pada masa kecilnya, kecuali pada ASD besar yang dapat
menyebabkan kondisi gagal jantung di tahun pertama kehidupan pada
sekitar 5% penderita. Kejadian gagal jantung meningkat pada dekade ke-4
dan ke-5, dengan disertai adanya gangguan aktivitas listrik jantung
(aritmia).

Seluruh penderita dengan ASD harus menjalani tindakan


penutupan pada defek tersebut, karena ASD tidak dapat menutup secara
spontan, dan bila tidak ditutup akan menimbulkan berbagai penyulit di
masa dewasa. Namun kapan terapi dan tindakan perlu dilakukan sangat
tergantung pada besar kecilnya aliran darah dan ada tidaknya gagal
jantung kongestif, peningkatan tekanan pembuluh darah paru (hipertensi
pulmonal) serta penyulit lain.

Sampai 5 tahun yang lalu, semua ASD hanya dapat ditangani


dengan operasi bedah jantung terbuka. Operasi penutupan ASD baik
dengan jahitan langsung ataupun menggunakan patch sudah dilakukan
lebih dari 40 tahun. Tindakan operasi ini sendiri, bila dilakukan pada saat
yang tepat (tidak terlambat) memberikan hasil yang memuaskan, dengan
risiko minimal (angka kematian operasi 0-1%, angka kesakitan rendah).
Pada penderita yang menjalani operasi di usia kurang dari 11 tahun
menunjukkan ketahanan hidup pasca operasi mencapai 98%. Semakin
tua usia saat dioperasi maka ketahanan hidup akan semakin menurun,
berkaitan dengan sudah terjadinya komplikasi seperti peningkatan
tekanan pada pembuluh darah paru. Namun demikian, tindakan operasi
tetap memerlukan masa pemulihan dan perawatan di rumah sakit yang
cukup lama, dengan trauma bedah (luka operasi) dan trauma psikis serta
relatif kurang nyaman bagi penderita maupun keluarganya. Hal ini
memacu para ilmuwan untuk menemukan alternatif baru penutupan ASD
dengan tindakan intervensi non bedah (tanpa bedah jantung terbuka),
yaitu dengan pemasangan alat Amplatzer Septal Occluder (ASO).

B. Rumusan Masalah

1. Apa defenisi dari Defek Septum Atrium?


2. Bagaimana etiologi dari ASD?
3. Apa patofisiologi dari ASD?
4. Bagaimanakah manifestasi klinis dari ASD?
5. Bagaimana bentuk pemeriksaan diagnostik dari ASD?
6. Bagaimana cara pengobatan dari ASD?
7. Bagaimana bentuk penatalaksanaan dari ASD?
8. Bagaimanakah bentuk pencegahan dari ASD?
9. Apa yang menjadi komplikasi dari ASD?
10. Begaimana bentuk penyimpangan KDM dari ASD?
11. Bagaimana model Asuhan Keperawatan dari ASD?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa defenisi ASD,


2. Untuk dapat mengetahui patofisiologi dan etiologi dari ASD.
3. Untuk mengetahui bagaimana menifestasi klinis ASD,
4. Agar mengetahui bentuk pemeriksaan diagnostic, pengobatan,
penatalaksanaan serta dari ASD, cara pencegahan dari ASD,
5. Untuk mengetahui komplikasi dari ASD,
6. Agar dapat menyusun penyimpangan KDM serta Asuhan
Keperawatan dari ASD.

D. Manfaat

Penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah


pengetahuan mengenai apa defenisi, anatomi fisiologi, etiologi, gejala
klinis, patofisiologi, penata laksanaan serta mampu menyusun asuhan
keperawatan disertai bentuk penyimpangan KDM dari Defek Septum
Atrium. Manfaat dari asuhan keperawatan anak dengan Defek Septum
Atrium Ini bermanfaat untuk melakukuan askep yang valid mulai dari
pengkajian, diagnose keperawatan, proses kaperawatan, implementasi,
evaluasi, serta lengkap dengan model penyimpangan KDM.

BAB II
PEMBAHASAN

1. KONSEP MEDIS
A. Defenisi
ASD adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada
septum interatrial (sekatantar serambi) yang terjadi karena kegagalan
fungsi septum interatrial semasa janin. Defek Septum Atrium (ASD, Atrial
Septal Defect) adalah suatu lubang pada dinding(septum) yang
memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan). Kelainan
jantung ini mirip seperti VSD, tetapi letak kebocoran di septum antara
serambi kiridan kanan. Kelainan ini menimbulkan keluhan yang lebih
ringan dibanding VSD.
Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal
pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan
jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah
defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara
serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan
pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara
vena kavasuperior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup
spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan
pembentukan septum sekundum dan defek septumprimum adalah
kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar
bilik atau pada bantalan endokard.
Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah
sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari
kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah
terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan.
Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan
jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakron.
Berdasarkan lokasi lubang, diklasifikasikan dalam 3 tipe, yaitu
1) Ostium Primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah
septum,mungkin disertai kelainankatup mitral.
2) Ostium Secundum (ASD 2), letak lubang di tengah septum.
3) Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara Vena Cava Superior
dan Atrium Kanan.
ASD diklasifikasikan menjadi:

1) ASD sederhana dengan defek pada septum dan disekitar fossa


ovalis(dikenaldengan DSA sekundum), defek pada tepi bawah septum
(DSAprimum) dan defek disekitar muara VCS (defek sinus venosus)
yangseringkali disertai anomali parsialdrainase vena pulmonalis.

2) ASD kompleks yang merupakan bentuk dari defek endocardial


cushion yangsekarang dikenal sebagai defek septum
atrioventrikular(DSAV) atau AVcanal.Defek septum atrium sekundum
adalah kelainan yang dimana terdapat lubang patologis di tempat fossa
ovalis. Akibatnya terjadi pirau dari atrium kiri ke atriumkanan, dengan
beban volume di atrium dan di ventrikel kanan.

B. . Etiologi
Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada
beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan
angka kejadian ASD.
Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu:
1) Faktor Prenatal.
a) Ibu menderita infeksi Rubella
b) Ibu alkoholisme
c) Umur ibu lebih dari 40 tahun
d) Ibu menderita IDDM
e) Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu
2) Faktor genetic
a) Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
b) Ayah atau ibu menderita PJB
c) Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down
d) Lahir dengan kelainan bawaan lain

ASD merupakan suatu kelainan jantung bawaan.Dalam keadaan


normal, pada peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium
kiridan kanan sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Pada saat bayi lahir,
lubang inibiasanya menutup. Jika lubang ini tetap terbuka, darah terus
mengalir dari atrium kiri keatrium kanan (shunt). Penyebab dari tidak
menutupnya lubang pada septum atrium ini tidak diketahui

C. Patofisiologi
Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi, darah
yang mengandung oksigendari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak
sebaliknya. Aliran yang melaluidefek tersebut merupakan suatu proses akibat
ukuran dan complain dari atrium tersebut.Normalnya setelah bayi lahir
complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikelkiri yang
menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga
berakibatvolume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan
meningkat.
Jika complain ventrikel kanan terus menurun akibat beban yang
terus meningkat shunt dari kiri kekanan biasa berkurang. Pada suatu saat
sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru yang terus
bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga
sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen
akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis.

D. Manifestasi Klinik
Sebagian besar penderita ASD tidak menampakkan gejala
(asimptomatik) pada masakecilnya, kecuali pada ASD besar yang dapat
menyebabkan kondisi gagal jantung di tahunpertama kehidupan pada
sekitar 5% penderita. Kejadian gagal jantung meningkat pada dekade ke-4
dan ke-5, dengan disertai adanya gangguan aktivitas listrik jantung
(aritmia). Gejala yang muncul pada masa bayi dan kanak-kanak adalah
adanya infeksi saluran nafasbagian bawah berulang, yang ditandai dengan
keluhan batuk dan panas hilang timbul (tanpapilek). Selain itu gejala gagal
jantung (pada ASD besar) dapat berupa sesak napas, kesulitanmenyusu,
gagal tumbuh kembang pada bayi atau cepat capai saat aktivitas fisik
pada anak yang lebih besar. Selanjutnya dengan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang seperti elektro-kardiografi (EKG), rontgent dada
dan echo-cardiografi, diagnosis ASD dapat ditegakkan.
Gejalanya bisa berupa :
1) Sering mengalami infeksi saluran pernafasan.
2) Dispneu (kesulitan dalam bernafas)
3) Sesak nafas ketika melakukan aktivitas
4) Jantung berdebar-debar (palpitasi)
5) Pada kelainan yang sifatnya ringan sampai sedang, mungkin
sama sekali
6) Tidak ditemukangejala atau gejalanya baru timbul pada usia
pertengahan Aritmia.

E. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang sering dilakukan pada penderita ASD
adalah:

1) Foto toraks

Pada penderita ASD dengan pirau yang bermakna, foto toraks AP


menunjukkan atrium kanan yangmenonjol, dan dengan konus pulmonalis
yang menonjol.Jantung hanya sedikit membesar dan vaskularisasi paru
yang bertambah sesuai dengan besarnya pirau.

2) Elektrokardiografi
Menunjukkan pola RBBB pada 95%, yang menunjukkaN beban
volume ventrikel kanan. Deviasi sumbu QRS ke kanan (right axis
deviation) padaASDsekundum membedakannya dari defek primum yang
memperlihatkan deviasi sumbu kiri (left axis deviation). Blok AV I
(pemanjangan interval PR) terdapat pada 10% kasus defek sekundum
3) Ekokardiografi

Tujuan utama pemeriksaan ekokardiografi pada ASD adalah


untuk mengevaluasi pirau dari kiri ke kanan di tingkat atrium antara lain
adalah:
a) Mengidentifikasi secara tepat defek diantara ke dua atrium
b) Memisualisasikan hubungan seluruh vena pulmonalis
c) Menyingkirkan lesi tambahan lainnya
d) Menilai ukuran ruang-ruang jantung (dilatasi)
e) Katerisasi jantung

Penderita di operasi tanpa katerisasi jantung, katerisasi hanya


dilakukan apabilaterdapat keraguan akan adanya penyakit penyerta atau
hipertensi pulmonal.

F. Pengobatan
Pengobatan khusus untuk ASD akan ditentukan oleh dokter anak

berdasarkan:
1) Usia anak Anda, kesehatan secara keseluruhan, dan sejarah medis
2) Luasnya penyakit
3) Toleransi anak untuk obat tertentu, prosedur, atau terapi
4) Harapan untuk perjalanan penyakit
5) Pendapat atau preferensi

G. Terapi medis

1) Pembedahan penutupan defek dianjurkan pada saat anak berusia 5-


10 tahun. Prognosis sangat ditentukan oleh resistensi kapiler paru, dan
bila terjadi sindrome Eisenmenger, umumnya menunjukkan prognosis
buruk.

2) Amplazer Septal Ocluder


3) Sadap jantung (bila diperlukan).

H. Penatalaksanaan
1) Pembedahan
Untuk tujuan praktis, penderita dengan defek sekat atrium dirujuk ke
ahli bedah untuk penutupan bila diagnosis pasti. Berdalih tentang
pembedahan jantung yang didasarkan pada ukuran shunt menempatkan
lebih pada kepercayaan terhadap data dari pada alasan yang diberikan.
Dengan terbuktinya defek sekat atrium dengan shunt dari kiri ke kanan
pada anak yang umurnya lebih dari 3 tahun, penutupan adalah beralasan.
Agar terdeteksi, shunt dari kiri ke kanan harus memungkinkan rasio
QP/QS sekurang-kurangnya 1,5 : 1 ; karenanya mencatat adanya shunt
merupakan bukti cukup untuk maju terus. Dalam tahun pertama atau
kedua, ada beberapa manfaat menunda sampai pasti bahwa defek tidak
akan menutup secara spontan. Sesudah umur 3 tahun, penundaan lebih
lanjut jarang dibenarkan. Indikasi utama penutupan defek sekat atrium
adalah mencegah penyakit vascular pulmonal abstruktif. Pencegahan
masalah irama di kemudian hari dan terjadinya gagal jantung kongesif
nantinya mungkin jadi dipertimbangkan, tetapi sebenarnya defek dapat
ditutup kemudian jika masalah ini terjadi. Sekarang resiko pembedahan
jantung untuk defek sekat atrium varietas sekundum benar-benar nol. Dari
430 penderita yang dioperasi di Rumah Sakit Anak Boston, tidak ada
mortalitas kecuali untuk satu bayi kecil yang amat sakit yang mengalami
pengikatan duktus arteriosus paten. Kemungkinan penutupan tidak
sempurna pada pembedahan jarang. Komplikasi kemudian sesudah
pembedahan jarang dan terutama adalah masalah dengan irama atrium.
Berlawanan dengan pengalaman ini adalah masalah obstruksi vaskular
pulmonal yang sangat menghancurkan pada 510 persen penderita, yang
menderita penyakit ini. Penyakit vaskular pulmonal obstruktif hampir selalu
mematikan dalam beberapa tahun dan dengan sendirinya cukup alasan
untuk mempertimbangkan perbaikan bedah semua defek sekat atrium

2) Penutupan Defek Sekat Atrium dengan kateter.

Alat payung ganda yang dimasukan dengan kateter jantung


sekarang digunakan untuk menutup banyak defek sekat atrium. Defek
yang lebih kecil dan terletak lebih sentral terutama cocok untuk
pendekatan ini. Kesukaran yang nyata yaitu dekatnya katup
atrioventrikular dan bangunan lain, seperti orifisium vena kava, adalah
nyata dan hingga sekarang, sistem untuk memasukkan alat cukup besar
menutup defek yang besar tidak tersedia. Keinginan untuk menghindari
pemotongan intratorak dan membuka jantung jelas. Langkah yang paling
penting pada penutupan defek sekat atrium transkateter adalah penilaian
yang tepat mengenai jumlah, ukuran dan lokasi defek. Defek yang lebih
besar dari pada diameter 25 mm, defek multipel termasuk defek di luar
fosa ovalis, defek sinus venosus yang meluas ke dalam vena kava, dan
defek dengan tepi jaringan kurang dari 3-6 mm dari katup trikuspidal atau
vena pulmonalis kanan dihindari.

Untuk penderita dengan defek yang letaknya sesuai, ukuran


ditentukan dengan menggembungkan balon dan mengukur diameter yang
direntangkan. Payung dipilih yang 80% lebih besar daripada diameter
terentang dari defek. Lengan distal payung dibuka pada atrium kiri dan
ditarik perlahan-lahan tetapi dengan kuat melengkungkan sekat ke arah
kanan. Kemudian, lengan sisi kanan dibuka dan payung didorong ke
posisi netral. Lokasi yang tepat dikonfirmasikan dan payung dilepaskan.
Penderita dimonitor semalam, besoknya pulang dan dirumat dengan
profilaksi antibiotik selama 6-9 bulan. Seluruh penderita dengan ASD
harus menjalani tindakan penutupan pada defek tersebut, karena ASD
tidak dapat menutup secara spontan, dan bila tidak ditutup akan
menimbulkan berbagai penyulit di masa dewasa. Namun kapan terapi dan
tindakan perlu dilakukan sangat tergantung pada besar kecilnya aliran
darah (pirau) dan ada tidaknya gagal jantung kongestif, peningkatan
tekanan pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) serta penyulit lain.
Sampai 5 tahun yang lalu, semua ASD hanya dapat ditangani dengan
operasi bedah jantung terbuka. Operasi penutupan ASD baik dengan
jahitan langsung ataupun menggunakan patch sudah dilakukan lebih dari
40 tahun, pertama kali dilakukan tahun 1953 oleh dr. Gibbson di Amerika
Serikat, menyusul ditemukannya mesin bantu pompa jantung-paru
(cardio-pulmonary bypass) setahun sebelumnya.

Tindakan operasi ini sendiri, bila dilakukan pada saat yang tepat
(tidak terlambat) memberikan hasil yang memuaskan, dengan risiko
minimal (angka kematian operasi 0-1%, angka kesakitan rendah). Murphy
JG, et.al melaporkan survival (ketahanan hidup) paska opearsi mencapai
98% dalam follow up 27 tahun setelah tindakan bedah, pada penderita
yang menjalani operasi di usia kurang dari 11 tahun. Semakin tua usia
saat dioperasi maka survival akan semakin menurun, berkaitan dengan
sudah terjadinya komplikasi seperti peningkatan tekanan pada pembuluh
darah paru

3) Terapi intervensi non bedah

Aso adalah alat khusus yang dibuat untuk menutup ASD tipe
sekundum secara non bedah yang dipasang melalui kateter secara
perkutaneus lewat pembuluh darah di lipat paha (arteri femoralis). Alat ini
terdiri dari 2 buah cakram yang dihubungkan dengan pinggang pendek
dan terbuat dari anyaman kawat nitinol yang dapat teregang
menyesuaikan diri dengan ukuran ASD. Di dalamnya ada patch dan
benang polyester yang dapat merangsang trombosis sehingga
lubang/komunikasi antara atrium kiri dan kanan akan tertutup sempurna.

I. Pencegahan

Dalam kebanyakan kasus, cacat septum atrium tidak dapat dicegah.


Jika Anda memiliki riwayat keluarga cacat jantung atau kelainan genetik
lainnya, pertimbangkan berbicara dengan seorang konselor genetik untuk
menilai risiko apa yang mungkin sebelum hamil.

J. Komplikasi
1) Gagal Jantung
2) Penyakit pembuluh darah paru
3) Endokarditis
4) Aritmia
PENYIMPANGAN KDM

Ibu mengonsumsi
alkohol

Gangguan perkembangan
janin

gangguan pada perkembangan


atrium(abnormal)

Ukuran atrium kanan mengecil dan kiri


membesar

peningkatan Beban atrium


kanan

ASD

Perubahan aliran darah dari kiri ke


kanan

Suplai O2 ke Sirkulasi
perifer sistemik
Resiko tinggi
sianosi
penurunan curah
hipoksia s

Gangguan
Penurunan Penurunan suplai O2 transportasi
fungsi dan nutrisi ke O2
pulmonal jaringan

Resiko Perubahan Metabolism Gangguan


infeksi tumbuhh e anaerob pembentuka
kembang n ATP
ko
ml
ika
si

Kelemahan Kelemahan
imun fisik

Intoleran
Resiko tinggi Resiko
infeksi tinggi
edema

Kurangnya komlikasi
pengetahua

Koping yang
tidak adekuat

stressor

ansiet

2. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1) Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail
terhadap jantung.
a) Denyut arteri pulmonalis dapat diraba di dada
b) Pemeriksaan dengan stetoskop menunjukkan bunyi jantung yang
Abnormal.
c) Bisa terdengar murmur akibat peningkatan aliran darah yang melalui
katup pulmonalisTanda-tanda gagal jantung
d) Jika shuntnya besar, murmur juga bisa terdengar akibat peningkatan
aliran darah yangmengalir melalui katup trikuspidalis

2) Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.


3) Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:InspeksiStatus nutrisi
a) Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan
dengan penyakit jantung.
b) Warna Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung
kongenital,
c) Sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai
penyakit jantung.Deformitas dada Pembesaran jantung terkadang
mengubah konfigurasi dada.Pulsasi tidak umum Terkadang terjadi
pulsasi yang dapat dilihat.
d) Ekskursi pernapasan Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea,
dispnea, adanya dengkur ekspirasi).
e) Jari tabuh Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung
kongenital.Perilaku Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan
ciri khas dari beberapa jenispenyakit jantung.
f) Palpasi dan perkusiDada Membantu melihat perbedaan antara
ukuran jantung dan
g) karakteristik lain (sepertithrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat
mampalpasi)Abdomen Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin
terlihat.
h) Nadi perifer Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat
menunjukkanketidaksesuaian.AuskultasiJantung Mendeteksi adanya murmur
jantung.
i) Frekwensi dan irama jantung Menunjukkan deviasi bunyi dan
intensitas jantung yangmembantu melokalisasi defek jantung.
j) Paru-paru Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.
k) Tekanan darah Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung
(mis; ketidaksesuaianantara ekstremitas atas dan bawah)Bantu dengan
prosedur diagnostik dan pengujian mis; ekg, radiografi, ekokardiografi, ,
ultrasonografi, angiografi, analisis darah (jumlah darah, haemoglobin,
volumesel darah, gas darah), kateterisasi jantung.

B. Diagnosa Keperawatan
1) Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek
struktur.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport
oksigen
3) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan
ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
4) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.
5) ansietas berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit
jantung (ASD)

C. Rencana Asuhan Keperawatan


1. Dx I : Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan
defek struktur.
Tujuan : Klien akan menunjukkan perbaikan curah jantung. Dengan
Kriteria Hasil :

Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada


batas normal sesuai usia.

Keluaran urine adekuat (antara 0,5 2 ml/kgbb, bergantung pada


usia )

Intervensi
1. Beri digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan
yang dibuat untuk mencegah toxisitas.

2. Beri obat penurun afterload sesuai program

3. Beri diuretik sesuai program

2. Dx II : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan system


transport oksigen
Tujuan: Klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa
stress tambahan.
Kriteria Hasil :

Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan


kemampuan.

Anak mendapatkan waktu istirahat/tidur yang tepat.

Intervensi

1. Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa


gangguan.

2. Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.

3. Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan
kemampuan.

4. Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau


hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.

5. Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.

6. Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari


distress.
3. Dx III : Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan
dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi
sosial.
Tujuan : Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi
badan. Anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam
aktivitas yang sesuai dengan usia

Kriteria Hasil :

Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat.

Anak melakukan aktivitas sesuai usia

Anak tidak mengalami isolasi social

Intervensi

1. Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan


yang adekuat.

2. Pantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik


pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan.

3. Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila


dianjurkan.

4. Dorong aktivitas yang sesuai usia.

5. Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap


sosialisasi seperti anak yang lain.

6. Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas


karena anak akan beristirahat bila lelah.
4. Dx IV : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang
lemah
Tujuan : Klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil :
1. Anak bebas dari infeksi.
Intervensi

1. Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi

2. Beri istirahat yang adekuat

3. Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.

4. Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi

5. Beri istirahat yang adekuat

5. Dx V: ansietas berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit


jantung (ASD)

Tujuan : Klien/keluarga mengalami penurunan rasa takut dan ansietas


Klien menunjukkan perilaku koping yang positif
Kriteria hasil :

Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya

Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif

Intervensi

1. Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang


ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya
pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.
2. Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak
selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di
rumah.

3. Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan


anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.

4. Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode


disiplin yang tepat untuk anak.

D. Implementasi
lakukan tindakan keperawatan berdasarkan intervensi yang telah di
buat dan sesuai dengan respon serta kondisi pasien

E. Evaluasi
Proses : langsung setelah setiap tindakan Hasil; Tujuan yang
diharapkan yaitu :
1) Tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal sesuai dengan
usia
2) Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia
3) Anak bebas dari komplikasi pasca bedah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pasien dengan defek septum atrium mengalami peningkatan
risiko fibrilasi atrium. Peningkatan gelombang P memprediksi dispersi
pengembangan fibrilasi atrium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menentukan perbedaan antara dispersi P penutupan transkateter dengan
Amplatzer septum occluder dan penutupan bedah di masa kecil.
Sebanyak 68 anak (usia rata-rata adalah 7,2 plus atau minus 3,3 tahun;
mean secundum atrial septum cacat diameter 17,3 plus atau minus 5,4
milimeter) dievaluasi dalam penelitian ini. Penutupan transkateter adalah
berusaha dalam 41 anak-anak dengan cacat septum atrium secundum,
dan cacat dalam 27 pasien ditutup dengan teknik bedah. P maksimum, P
minimal dan P dispersi diukur oleh permukaan 12-lead elektrokardiografi.
P maksimum, minimum dan dispersi P P ditemukan serupa pada pasien
dengan pra-dan pasca-prosedur (98,0 plus atau minus 19,3 dibandingkan
95,1 plus atau minus 23,0 milidetik; 68,0 plus atau minus 20,8
dibandingkan 67,6 plus atau minus 24,3 milidetik, plus atau minus 29,9
11,0 dibandingkan 27,1 plus atau minus 12,1 milidetik, masing-masing).
Ada ada signifikansi statistik dalam perbandingan dispersi P antara kedua
kelompok. Namun dalam kelompok bedah, P-gelombang dispersi adalah
menurun lebih signifikan dibandingkan dengan nilai awal (nilai p sama
dengan 0,03). Kesimpulannya, tidak ada dispersi P antara transkateter
penutupan dengan Amplatzer occluder septum dan bedah penutupan
defek septum atrium secundum.

B. Saran

Bagi perawat yang akan memberikan asuhan keperawatan pada


bayi dengan penyakit tetanus neonatorum harus lebih memperhatikan dan tahu
pada bagian- bagian mana saja dari asuhan keperawatan pada bayi yang
perlu ditekankan.
Perawat juga memberikan pendidikan kesehatan kepada bapak
dan ibu atau keluarga dari anak tentang bahaya tetanus dan penyuluhan
untuk melakukan persalinan di rumah sakit, puskesmas, klinik bersalin,
atau pelayanan kesehatanlain
Untuk keluarga bayi semestinya harus lebih tanggap terhadap
pengkajian- pengkajian yang dilakukan perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan
Untuk keluarga bayi semestinya harus lebih tanggap terhadap
pengkajian- pengkajian yang dilakukan perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan