Anda di halaman 1dari 47

0|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

1|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

MENGENAL Kedua orang tuanya sudah


bisa memperkirakan bahwa
ARSITEK
Soejoedi kelak akan bekerja yang
SOEJOEDI
berkaitan dengan gambar-
Soejoedi Wirjoatmodjo lahir di menggambar. Kakak dan adiknya,
Rembang, sebuah kota di bagian di lain pihak, mengenali teknik
utara Jawa Tengah dekat pesisir. menggambarnya yang halus dan
Tanggal kelahiran beliau alami, sehalus tutur katanya
bertepatan dengan pengakuan sehingga tidak ada seorang pun
kedaulatan Indonesia, yaitu pada dari mereka yang tega mengusik
tanggal 27 Desember 1928. Sejak mana kala Soejoedi sedang
kecil, Soejoedi terkenal pediam menggambar.
dan senang menggambar sejak Ketika beliau berusia 18
kecil. Kegemarannya hanya tahun, Soekarno dan Hatta
memperhatikan lingkungan memproklamasikan kemerdekaan
sekitar, apalagi ketika diajak Indonesia. Seperti remaja yang
berjalan-jalan. lainnya pada saat itu, beliau
terpanggil untuk
mempertahankan kemerdekaan
melalui perjuangan bersenjata .
Soejoedi bergabung dengan
kesatuan Tentara Pelajar sampai
menjabat Kepala Staf Tentara
Pelajar Brigade 17 Detasemen II
Rayon V, Surakarta.

Ir. Soejoedi
2|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Pada tahun 1949 Belanda Selain itu gaya hidup di


meninggalkan Indonesia. Namun Prancis yang bertolak belakang
pengajar dari Belanda tetap dari sifat Soejoedi yang pendiam
mengajar anak pribumi dan dan santun, iklim 4 musim yang
pelajar dari belanda di sekolah dan berrat bagi tubuhhnya, kulinernya
perguruan tinggi di Indonesia. yang jauh dari rasa yang biasa ia
Satu tahun kemudian, pada tahun makan dan bahasa yang sama
1950 Soejoedi menjadi mahasiswa sekali baru baginya. Untuk
jurusan bangunan di College melepaskan kerinduannya kepada
Teknik Bandung . Beliau tanah air Soejoedi sering
menyelesaikan kuliah selama 4 berkunjung ke kediaman staf
tahun. Beliau cukup dekat dengan kedutaan besar Indonesia di Paris
Prof. Van Romondt dan akhirnya sekedar menikmati hidangan
Soejoedi dipromosikan untuk Indonesia, juga berkumpul
memperoleh beasiswa ke Eropa dengan sesama warga Indonesia.
dalam rangka memperoleh
Soejoedi pernah juga
wawasan yang lebih luas.
mencoba kemungkinan untuk
Pada tahun 1954 Soejoedi pindah ke Inggris, mengikuti
menerima beasiswa dari beberapa temannya sesama
pemerintah perancis untuk mantan tentara pelajar. Namun
meneruskan studi di LEcole des negara Inggris juga kurang cocok
Beaux Artst di Paris. Namun bagi pribadinya sehingga urung
program pendidikan yang telah di menjadi pilihan tempat studi yang
laluinya di Bandung tidak diakui baru.
sehingga beliau diperlakukan
Soejoedi tertarik dengan
sebagai mahasiswa baru sehingga
mahasiswa Indonesia di Belanda.
merasa bosan.
3|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Di Technische Hoogeschool, yang beroperasi di Indonesia.


Delft. Terdapat mahasiswa Pemerintah Kerajaan Belanda
Indonesia yang menempuh sebagai pihak yang paling
pendidikan dalam bidang dirugikan oleh tindak tersebut
Arsitektur. Jumlah mereka melakukan pembalasan dengan
lumayan banyak dibandingkan menarik semua tenaga ahli yang
dirinya yang sendirian di LEcole diperbantukan ke Pemerintah
des Beaux-Arts. Sebab itu lah Republik Indonesia.
beliau sangat untuk pindah
Karena itulah Soejoedi dan
kesana. Beliau pindah di bantu
para mahasiswa Indonesia di Delft
oleh Prof. Van Rammondt menuju
merasa tidak pada tempatnya
ke Technische Hoogeschool untuk
untuk tetap mengikuti pendidikan
bertemu para guru besar di sana
di Negara yang tengah
pada tahun 1955.
berkonfrontasi dengan
Soejoedi beruntung karena pemerintah Indonesia, meskipun
hasil karyanya selama mengikuti lembaga pendidikan tinggi Delft
pendidikan di Indonesia diakui. tersebut tidak keberatan apabila
Apalagi beliau diantar oleh Prof. mereka tetap bersekolah di situ.
Van Rommondt salah seorang Sebagian besar dari mereka
lulusan perguruan tinggi teknik memilih pindah ke negara Eropa
tersebut. Tanpa kesulitan Soejoedi lainnya untuk melanjutkan studi
di terima sebagai mahasiswa dan Jerman Barat menjadi salah
tingkat IV. satu pilihan karena sistem dan
program pendidikannya tergolong
Pada tahun 1957 Presiden
progresif sementara letaknya yang
Soekarno memerintahkan
tak jauh dari Belanda.
nasionalisasi perusahaan asing
4|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Soejoedi memilih perkantoran berlantai banyak


mendaftarkan diri di Technische dengan optimasi lahan dan ruang
Universitat, Berlin Barat, pada luar melalui komposisi huruf Y
tahun 1958 hanya beberapa saja yang lazim diterapkan baik di
yang bersama Soejoedi. Jerman Barat maupun Berlin Barat
Sedangkan rekan yang lain ketika itu.
mendaftarkan diri di perguruan
tinggi Jerman Barat lain dan ada
pula yang menempuh studi di
Itali, Prancis, serta negara
Skandinavia. Pada saat masa studi
di Jerman Soejoedi memiliki
pengalaman mengikuti kerrja
praktik di Biro Arsitek Kasper,
Freiburg, pada tahun 1958, dan
bekerja sebagai arsitek di Biro
Arsitek Heintrich dan Petschnigg
pada tahun 1960-1961. Biro arsitek
Heintrich dan Petschnigg tersebut Soejoedi di studio perancangan
menghasilkan rancangan gedung arsitektur Berlin Barat

perkantoran yang khas yaitu Soejoedi kembali ke-


menggeser separuh massanya Indonesia pada tahun 1961 untuk
mengikuti pola denah sehingga menjadi ketua jurusan arsitektur
terwujud yang tipis tanpa di Institut Teknologi Bandung.
mengurangi kapasitasnya. Di lain Kondisi perekonomian tidak
pihak Soejodi juga mengenal baik sedang baik. Kehidupan sehari
kiat merancang bangunan hari pun jauh lebih sulit
5|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

ketimbang kehidupannya semasa Soejoedi ditunjuk sebagai


menjadi mahasiswa di Eropa. Ketua Desain Paviliun Indonesia
Penghasilan bulanan yang untuk New York World fair pada
diperoleh tidak cukup untuk tahun 1962. Dalam kegiatan
memenuhi kebutuhan sehari hari. tersebut setiap negara berlomba
menampilkan kehebatan budaya
Dengan kondisi sudah
dan perradaban masing-masing
berkeluarga, Soejoedi harus
dan beberrapa paviliun dalam
menjalani kehidupan berat
pameran-pameran dunia tersebut
tersebut dalam posisinya sebagai
berhasil menorehkan nama dalam
Ketua Jurusan Arsitektur, Institut
sejarah arsitektur modern.
Teknologi Bandung. Keluarga
menempati rumah dinas di Namun pada akhirnya
kawasan Dago, bekas tempat Soejoedi mengundurkan diri dari
tinggal salah seorang guru besar jabatan sebagai Ketua Tim Desain
Institut Bandung yang ditarik Paviliun Indonesia itu dengan
pulang oleh pemerintah Kerajaan alasan yang tidak ketahui. Desain
Belanda sebagai balasan terhadap Paviliun Indonesia di pekan raya
program nasionalisasi yang di dunia itu kahirnya bukan hasil
jalankan oleh Pemerintah dati Soejoedi.
Republik Indonesia.
Dengan kesibukannya
Soejoedi masih juga diangkat
sebagai Ketua Lembaga Campus
Planning Departemen PTIP pada
tahun 1963. Jabatan tersebut
dimanfaatkannya dengan optimal
untuk membina pendidikan
Soejoedi beserta istri dan anak-anaknya
6|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

arsitektur Indonesia. Soejoedi Pada Tahun 1965 Soejoedi


berpendapat bahwa lembaga beserta keluarga pindah ke
Campus Planning itu harus Jakarta. Setelah ditetapkan
mempunyai sebuah pusat desain ( menjadi pemenang sayembara
desain center ) tempat para tenaga proyek canefo, Soejoedi diangkat
ahli mencurahkan pemikiran dan sebagai ketua tim desain
perhatiannya untuk organisasi koppronef ( komando
merencanakan dan merancang operasional projek canefo ).
kampus kampus perguruan Mempertimbangkan besarnya
tinggi di seluruh Indonesia. tanggung jawab yang harus
dipikul, Soejoedi memutuskan
Untuk menambah
untuk pindaj ke Jakarta bersama
penghasilan sehari hari Soejoedi
keluarganya. Pada tahun 1965
bergabung dengan biro arsitek
keluarga Soejoedi menempati
Estetika dan mengepalai kantor
kamar Wisma Hasta bersama
cabang Bandung yang terletak di
seluruh tim pelaksana proyek
garasi rumah dinas kediamannya.
canefo. Kemudian mereka pindah
Dibantu teman teman semasa
ke rumah kontrakkan di
studi di Eropa, Biro Arsitek
kebayoran baru. Setelah di angkat
Estetika cabang Bandung tersebut
menjadi kepala proyek gedung
menghasilkan sejumlah karya
MPR/DPR pada tahun 1967,
yang mengawali program
Soejoedi bersama keluarganya
perancangan arsitektur khas
bermukim di Rawangmangun
miliknya. Kemudian Soejoedi
membentuk biro arsitek sendiri Pemancangan tiang pertama
yaitu Prakarsa. proyek Canefo dilaksanakan
tanggal 19 April 1965. Dan sejak itu
sebagian besar tenaga ahli bidang
7|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

bangunan gedung Indonesia Prakarsa yang didirikannya di


berada di Senayan untuk Bandung semasa menjabat Ketua
menyelesaikan pekerjaan yang Jurusan Aristektur di Intitut
amat monumental itu sebelum Teknologi Bandung.
tanggal 17 Agustus 1966. Mereka
Dengan intensitas dan
hanya memberi waktu kurang
volume kegiatan yang padat
lebih setaun saja. Untuk itu
kesehatan jasmaninya semakin
perusahaan bangunan negara
terganggu sehingga beliau sering
dikerahkan dalam pekerjaan yang
ke rumah sakit hingga pada
berlainan.
akhirnya istirahat total pada tahun
Bersama teman-teman 1981 di Magelang. Soejoedi
semasa di tentara pelajar, Soejoedi meninggal pada tanggal 17 Juni
mendirikan PT Gubahlaras yang 1981 dan dibawa kembali ke
tercatat di lembaran negara pada Jakarta dan dimakamkan di TPU
tanggal 6 Februari 1969. Dibawah Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
perrusahaan ini Soejoedi mulai
menangani berbagai proyek yang
mengangkatnya sebagai salah satu
arsitek Indonesia yang patut di
perhitungkan. Peruhaannya juga
berada digaris terdepan dalam
wacana arsitektur Indonesia.
Selain menjabat Arsitek kepala
sekaligus direktur PT Gubahlaras
Soejoedi masih terlibat dalam
berbagai proyek lain yang tangani
sendiri atas nama biro arsitek
8|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Karya karya arsitek-arsitek muda,


rancangannya memberikan
Soejoedi
ruang interaksi sosial tanpa
mengorbankan lingkungan
Karya awal Soejodi adalah
sekitar.
Cafe Restoran Braga Permai yang
pernah dinamai Maison
Bogerijen. Bentuk awalnya mirip
vila Eropa yang sering ditandai
dengan atap curam empat sisi
yang disebut atap mansard.
Karya-karyanya antara lain
gedung Sekretariat ASEAN,
gedung kedubes Perancis di
jakarta, Gedung Konsulat
Indonesia di Beograd,Gedung
KBRI di Kuala Lumpur, dan
Stasiun PLTA di Karang Kates,
Jawa Timur. Selain itu , Soejoedi
turut merancang masterplan tata
kota kotamadya Pontianak,
Kalabar, masterplan daerah
pariwisata Nusa Dua, Bali dan
masterplan pengembangan
pariwisata Jawa Tengah.
Warisannya adalah membawa
bentuk arsitektur non-
tradisional sebagai inspirasi
9|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

1.Maison Bogerijen kosong terbuka yang masif berada


di dalam batas pembangunan.
Masa terbagi menjadi satu bagian
masif dan satu bagian transparan
berisi deretan jendela yang sama
dan sebangun, dan sebagian
diantaranya dapat dibuka dengan
teknik geser. Bagian paling bawah
berupa bidang masif yang amat
tebal sementara bagian diatasnya,
yaitu deretan jendela dan atap
datar.
Pembagian lantai dasar di braga
permai menjadi 2 fungsi yaitu kafe
Karya pertama Soejoedi adalah
dan tempat etalase kue serta roti,
Caf Restoran Braga Permai yang
cukup ditandai sebuah tangga
dulu bernama Maison Bogerijen.
yang membawa para pegunjung ke
maison berasal dari bahasa
restoran di lantai atas sekaligus
Perancis yang berarti rumah. Kata
mengalirkan ruang dalam dari
Bogerijen diambil dari nama
bawah ke atas.
pemilik maison ini yakni L. van
Bogerijen. Maison Bogerijen bisa
diartikan dalam bahasa indonesia
yakni rumah milik tuan Bogerijen.
Gugusan masanya simetris dan
dimundurkan dari garis sempadan
untuk menghasilkan ruang
10 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

berpermukaan miring. Dengan


langit langit yang dibuat rendah,
rancangan detail yang tembus
cahaya tersebut jelas terlihat dan
terjangkau tangan sehingga
menciptakan proporsi sekaligus
menciptakan susana yang
manusiawi.

Proyek ini merupakan sebuah


rancangan menyeluruh (total
design) sebagai mana di praktikan
oleh para arsitek Skandinavia
masa pasca perang dunia II.
Pencahayaan alami dilain pihak,
diwujudkan dengan membuat
lubang cahaya yang sempit
memanjang sehingga berkas sinar
yang masuk kedalam bangunan
gedung menjjadi lebih dramatis.
Adapun detail yang tampaknya
asli selain tangga dan railing
adalah langit langit tembus
cahaya yang terbuat dari bahan
acrylic, dipotong menjadi wujud
segitiga dan digabungkan menjadi
sebuah wujud kotak
11 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

2.Gedung MPR/DPR persidangan, sekretariat, dan


RI (Jakarta). kegiatan pendukung.
(1964-1983)
Massa bangunan untuk ke-giatan
persidangan diletakkan frontal
menghadap jalan masuk, dengan
massa bangunan sekretariat di
sampingnya. Massa bangunan
perjamuan diletakkan linier
Dibangun pada tanggal 8 Maret terhadap massa bangunan
1965 dan selesai pada tanggal 1 sekretariat, sedangkan massa
Februari 1983 bangunan auditorium diletakkan
Lokasi: Jalan Gatot Subroto, tegak lurus terhadapnya, jadilah
Senayan, Jakarta Pusat kompleks MPR/DPR.

The New Emerging Forces


(Conefo), sebuah organisasi baru
yang digagas untuk menandingi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
di New York, Amerika Serikat.

Soejoedi pun maju dalam


sayembara perancangan proyek
Conefo, dengan menerapkan pola
pemikiran arsitek Prancis, Le
Corbusier. Dia memasukkan
fungsi-fungsi utama sebuah
kawasan political venues, yaitu
12 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

3.Kedutaan Besar dalam posisi frontal terhadap


Perancis matahari pagi dan sore. Soejoedi,
(1969 1973) dilain pihak, meletakkan sisi
terpanjang bangunan gedung
Proyek ini dikerjakan tahun 1969
tegak lurus terhadap jalan MH
1973. Berawal dari terpesonyanya
Thamrin sehingga berada di jalur
Duta Besar Republik Perancis
pergerakan matahari, sekaligus
kepada gedung persidangan
dalam posisi frontal terhadap sisi
kompleks MPR/DPR RI ketika
terpendek gedung Sarinah yang
menghadiri acara kenegaraan di
jauh lebih besar. Dengan
sana. Menurutnya gedung
perletakan seperti itu bangunan
persidangan tersebut benar
gedung Kedutaan Besar Republik
benar mencerminkan sebuah
Perancis memperoleh keuntungan
bangunan modern di negara
berupa pencahayaan alami
beriklim tropis sehingga
sepanjang hari di kedua sisi
mendorongnya untuk menemui
terpanjangnya.
Soejoedi dan menugasi pekerjaan
merancang gedung Kedutaan
Besar Republik Perancis untuk
Indonesia.

Proyek ini terletak di jalan MH


Thamrin, di sebelah kiri gedug
Sarinah dari arah Tugu Selamat
Datang. Semua bangunan gedung
di sepanjang jalan tersebut
menghadapkan sisi terpanjangnya
13 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

Soejeodi menampilkan teknik Lengkungan masif tersebut juga


yang sudah diterapkan di gedung mengarah kan kendaraan yang
sekretariat proyek, yaitu sebuah memasuki gedung, karena tidak
gubahan selubung bidang yang seperti biasanya, pintu masuk
disayat dan digeser sejajar, namun utama Kedutaan Besar Perancis ini
tanpa tekukan. Selubung bidang terletak di samping sehingga
tersebut dibiarkan memanjang terlindung baik dari pandangan
menghadap ke gedung Sarinah mata diluar bangunan maupun
sedangkan sisi masifnya kebisingan di sekitarnya. Dengan
menghadap ke jalan MH Thamrin. demikian keamanan dan
Ketika itu gedung Sarinah berada keselamatan yang memasuki
di salah satu sudut sebuah gedung ini terjamin
bundaran yang mengalirkan
kendaraan dari arah MH Thamrin
ke arah jalan KH Wahid Hasyim,
yang ditanggapi oleh Soejoedi
dengan membuat lengkungan di
sisi masif selubung bidang
terdepan. Permukaan atas
selubung bidang terdepan itupun
di lengkungkan sehingga
terbentuklah sudut pertemuan
bidang lengkung. Selubung di
bagian belakang hanya di
lengkungkan di permukaan atas
karena merupakan tampak
belakang bangunan gedung.
14 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

4.PUSAT GRAFIKA berkas cahaya ke dalam ruangan-


INDONESIA ruangan di dalam tiap lantai
(1971-1976) bangunan gedungnya.

Proyek ini dikerjakan pada tahun


1971-1976. Tapak ini berada di
daerah perpotongan jalan jenderal
Gatot Subroto dengan jalan H.R.
Rasuna Said, Jakarta. Dalam
mendesain bangunan dalam tapak
ini Soejoedi mempertimbangkan
seluruh situasi di sekitar
perempatan tersebut. Konsep
desain yang dilakukan oleh
Soejoedi yaitu menerapkan
selubung bidang. Dua selubung
bidang berbeda ukuran di susun Gambar Konsep Desain

sedemikian rupa hingga Bangunan Pusat Grafika

menghasilkan komposisi yang Indonesia

memberikan kesan melayang pada


bagian bangunan tersebut. Kesan
Tahun 1980-an diambil alih oleh
melayang itulah yang menjadi ciri
pihak swasta, lalu digantikan
khas dari desain Soejoedi. Massa-
dengan bangunan baru di tepi
massa ini merepresentasikan
kawasan sungai kampus UI di
fungsi kegiatan tertentu. Jarak
Depok. Tetapi kuaitasnya lebih
antar massa dimanfaatkan
rendah daripada pusat grafika
sebagain lubang sempit
karya soejoedi. Selanjutnya
transparan yang memasukan
15 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

gedung PGI karya Soejoedi ini itu Karya Soejoedi inilah yang
dibiarkan bertahun-tahun. Dan dianggap berani dalam
kini tampak terbagi menjadi 2 mengekspresikan system struktur,
bagian terpisah dengan pemilik dan belum ada arsitek lain yang
dan perawatan yang berbeda pula, berani untuk membangun
sehingga tidak akan tau bangunan dengan system seperti
bagaimana nasib daripada ini.
bangunan Soejoedi ini. Gambar-
gambar kerja sudah tidak
ditemukan lagi. Informasi
mengenai proses pengubahan
massa selubung bidang di proyek
ini berasal dari penjelasan
Soejoedi mengenai selubung
bidang berjenjang, yang
dikatakannya sebagai
pengembangan dari konsep
tritisan datar dengan konstruksi
kentilever yang amat lebar dan
panjang seperti biasa
dilakukannya di proyek-proyek
pembangunan sebelumnya.

Yang membuat bangunan ini unik


yaitu permainan gubahan massa
yang menggunakan sistem
kantilever yang cukup sulit
dikerjakan dilapangan, pada saat
16 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

5.RUMAH TINGGAL DI berlaku di kawasan hunian


RAWAMANGUN perkotaan, yaitu menyisakan
(1972) ruang terbuka pada kedua sisi
bagian depan. Garis garis utama
Terletak di Jl. Balai Pustaka IV,
yang mempresentasikan dinding
Rawamangun, Jakarta Timur, yang
yang disusun sejajar membentuk
ketika itu masih merupakan
ruangan ruangan lepas.
kawasan pinggiran kota Jakarta.
Sementara garis garis sekunder
Tapaknya memanjang sejajar
yang mempresentasikan dinding
jalan, menghadap ke sebuah
disusun dalam posisi tegak lurus
kawasan yang ketika itu masih
untuk menghasilkan pertemuan
berupa lahan kosong, dengan
yang membentuk kamar kamar.
wujud tapak itu sendiri tidak
beraturan. Untuk membuat dua
buah rumah tinggal di tapak
tersebut, Soejoedi memotongnya
tepat di tengah sehingga
menghasilkan dua tapak yang
mirip satu sama lain meskipun
luasannya sedikit berbeda. Penataan denah tersebut
Kemudian disusunlah memperlihatkan tuga bagian
perancangan arsitektur yang sama utama rumah tinggal ini, yaitu
bagi kedua bagian tapak tersebut. bagian umum, semi-privat dan
privat. Bagian umum dibagi
Soejoedi dan keluarganya
menjadi dua. Bagian pertama
menempati unit rumah tinggal di
dimulai dari halaman depan
tapak yang lebih kecil. Denahnya
sampai dinding depan ruangan
mengikuti ketentuan yang lazim
tempat penerima tamu. Jalan
17 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

masuk kendaraan menuju ke Kedua, bagian semi-privat berupa


garasi yang menanjak berada ruang tempat berkumpulnya
dlaam posisi kontras terhadap keluarga. Ruangan tersebut diapit
halaman depan yang dibuat dua ruang-luar dengan kedua sisi
menurun sehingga menciptakan ini ditutupi bingkai pintu-jendela
batas batas alami sebuah ruang penuh drai lantai sampai ke langit
luar yang memisahkan seluruh langit. Sementara satu sisi
tapak dari lingkungan sekitarnya. lainnya dipasangi dinding
Bagian kedua dimulai dar horizontal lagi yang memisahkan
perhentian titik tanjakan tadi ruangan ini dari deretan kamar
sampai dengan dinding depan tidur di sebelahnya. Namun
ruangan tempat berkumpul pemisahan itu tidak menghasilkan
keluarga. Disini, sebuah teras dan kesan terpisah karena masih tetap
bingkai pintu-jendela menerima berada dalam sebuah volume
para tamu yang telah diarahkan bersama deretan kamar tidur
oleh pasangan dinding depan yang berkat cara pemasangan
sejajar, horizontal, untuk dindingnya ynag tetap terpisah
memasuki ruangan tamu yang dengan jarak yang amat dekat dari
menghada ke halaman-dalam. langit langit.
Ruangan tempat menerima tamu
Ketiga, bagian privat berupa
juga diapit dua dinding
deretan kamar tidur dan ruangan
berpasangan, masing masing
tempat bersantap yang
terpisah dari langit langit dalam
berdekatan dengan bagian servis,
jarak yang amat dekat sehingga
baik dpaur, kamar tidur pembantu
fungsinya sebagai bidang
maupun kamar mandi. Seluruh
pembatas.
ruangan tersebut membentuk
formasi berbentuk huruf L yang
18 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

menghadap ke halaman belakang.


Bagian dinding terpanjang
menampilkan sebuah bidnag
transparan karena seluruhnya
terbuat dari susunan bingkai
pintu-jendela, sehingga bagian
privat tersebut terasa lebih lega.
Bagian servis pun demikian.
Meskipun serba sempit, tiap
kamar dihadapkan ke ruang luar
baik dalam rangka membuatnya
terasa semakin lega maupun
untuk memperoleh pencahayaan
serta pengudaraan alami yang
memadai.
19 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

mendesain bangunan secara


6.Gedung KBRI di vertical yaitu berlantai banyak.
Malaysia Padahal prinsip naungan dalam
(1974-1976) khasanah arsitektur hanya
terdapat di bangunan gedung
berlantai 1 atau 2

Meru, merupakan sebuah tempat


suci bagi umat hindu yang berada
di Bali. Meru memiliki wujud yang
Proyek ini dikerjakan tahun 1974-
unik, dan hanya berada di
1976. Pada saat awal tercetusnya
Indonesia. Bentuknya yang seperti
sebuah konsep bangunan,
tumpukan atap yang semakin
soejoedi harus berpedoman
mengerucut keatas, membuat
bagaimana rancangan bangunan
Soejoedi membuat sebuah inovasi
yang dapat merepresentasikan
rancangan desain. Menurutnya
Indonesia di negri orang, yaitu
bangunan meru merupakan satu-
Malaysia. Soejoedi melakukan
satunya konstruksi bertingkat
suatu pendekatan yaitu
banyak dalam khasanah arsitektur
pendekatan arsitektur vernacular
vernacular Indonesia pada saat
Indonesia. Factor yang
itu.
menyebabkan Soejoedi
menggunakan pendekatan
arsitektur vernacular Indonesia
yaitu karena desain bangunan
kedutaan besar RI memiliki fungsi
yang banyak sedangkan tapaknya
terbatas, mau tidak mau soejoedi
20 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

Lumpur, Malaysia. Di dalam


bangunan tersebut, soejoedi
mendesain bangunan dengan
menyesuaikan terhadap bentuk
bangunannya. Sehingga ada
beberapa dari interior bangunan
ini yang kurang baik, terutama
dari segi fungsi nya. Beberapa
ruang serbaguna juga nampak
informal. Tetapi bangunan ini
tetap memiliki nuansa arsitektur
vernacular pada langit-langit nya
yaitu merepresentasikan sebuah
naungan.
Gambar Bangunan Meru di Bali, Indonesia

Konstruksi Meru unik karena


atapnya memiliki bentuk yang
menggelembung di setiap
sudutnya, dan hal itu disebabkan
oleh tumpukan ijuk atau alang-
alang yang tersusun secara rapi.
Dengan keunikan tersebut
Soejoedi menjadikan desain
tumpukan atap dengan
kemiringan yang sama tersebut
menjadi tumpukan lantai pada
Gambar Perspektif KBRI di Kuala Lumpur,
desain Kedutaan Besar RI di Kuala
Malaysia
21 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

Gambar Kerja KBRI di Kuala Lumpur,


Malaysia
22 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

7.SEKRETARIAT pengatur kendaraan yang beralih


ASEAN arah dari satu arah ke jalan
(1978 1981)
lainnya. Saat Soejoedi mulai
melakukan gubahan massa
bangunan gedung, Soejoedi
mempertimbangkan letak serta
bentuk bangunan di sekitar tapak,

Sesuai dnegan namanya, gedung salah satunya dengan

Sekretariat ASEAN ini mempertimbangkan keberadaan

diperuntukkan bagi tempat kerja Kantor Walikota Jakarta Selatan

para wakil negara negara di yang terletak di sisi Timur tapak

wilayah Asia Tenggara yang di proyek Gedung Sekretariat

utus untuk melaksanakan semua ASEAN. Massa bangunan gedung

program kerja yang telah kantor Walikota Jakarta Selatan

disepakati para pemimpin masing tersebut terdiri dari 2 gubahan,

masing. yaitu sebuah massa memanjang


yang dipasang sejajar Jl. Trunojoyo
Terletak di salah satu pojokan
dan sebuah massa lainnya untuk
perempatan Jl. Sisingamangaraja
kantor Walikota yang diletakkan
dan Jl. Kyai Maja-Trunojoyo, tapak
di salah satu pojokan di depan
gedung ini berseberangan dengan
massa pertama tadi.
perumahan dinas Perum
Arthayasa, gedung Kejaksaan
Tinggi RI dan kantor PLN
Kebayoran Baru. Ketika itu,
perempatan tersebut masih
ditandai sebuah bundaran yang
disebut bundaran CSW sebagai
23 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

Dari gedung Kejaksaan Agung itu periode pasca Perang Dunia II


Soejoedi pasti melihat gubahan dalam dalam penggubahan massa
massa bangunan gedung komplek bangunan di sekitar bundaran
Kantor Walikota Jakarta Selatan atau perpotongan jalan.
dengan jelas, khususnya gubahan Selanjutnya gugusan massa
ruang-luar yang terbentuk dari berwujud hirif L tadi ditambahi
formasi 2 massa yangs aking satu gugusan massa berwujud 4
terpisah itu. Dari peninjauan persegi panjang yang ditempelkan
tersebut, Soejoedi menentukan di bagian belakang, satu sisi
untuk tidak akan mengulangi merespons Jl. Sisingamangaraja
gubahan massa bangunan gedung dan Bundaran CSW sementara sisi
Kantor Walikota Jakarta Selatan. lainnya menghadap ke tapak
tapak di sekitar bangunan ini.
Yang pertama dilakukan oleh
Soejoedi adalah menyikapi Komposisi gubahan massa di atas
Bundaran CSW. Usuan salah satu selanjutnya diperlakukan
staf di PT Gubahlaras yaitu tumpukan massa dengan tampilan
menggubah massa bangunan garis garis horizontal yang
berwujud huruf L yang semakin keatas semakin mundur
menghadap ke bundaran, posisinya. Formasi tersebut
demikian pula dengan diilhami teras persawahan yang
pemancungan salah satu sisinya banyak ditemukan bukan hanya di
secara diagonal untuk merespons Indonesia melainkan di semua
kedatangan pengunjung yang Negara yang tergabung dalam
harus memasuki tapak dari arah Jl. ASEAN. Logo ASEAN yang
Sisingamangaraja, karena sesuai berbentuk ikat padi yang baru
dengan prinsip yang dianut dipotong dari sawah sehingga
Arsitektur Modern di Eropa terdapat kesinambungan antara
24 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

bentuk gedung Sekretariat ASEAN


dengan logo ASEAN.

Salah satu bidang vertikalnya


dibuat miring sehingga
menghujam ke permukaan tanah
dan keseluruhan massa bangunan
gedungnya terasa lentur, yang
menghasilkan sudut yang
tampaknya diarahkan ke titik
pusat Bundaran CSW. Kemiringan
tersebut dimaksudkan sebagai
respons terhadap Gedung Utama
Kejaksaan Agung
25 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

8.Departemen keteraturan seperti itu namun


Perhubungan tetap melakukannya dengan
(1980 1982) keteraturan yang sama. Sebab itu
pada dasarnya Soejoedi
Proyek ini dikerjakan pada tahun melakukan gubahan massa
1980 1982 dalam periode yang bangunan gedung yang lazim
sama dengan 4 proyek lainnya diterapkan olehnya, yaitu
yaitu Pusat Kehutanan, selubung bidang yang kemudian
Departemen Pertanian, KBRI di diisi tumpukan lantai dalam
Kolombo dan Bank Ekspor Impor ekspresi garis-garis tebal
di Balikpapan. horizontal. Tampilan tersebut
Lokasi tapaknya juga bukan dengan sendirinya serasi terhadap
sembarangan, yaitu di Jalan deretan bangunan gedung
Merdeka Barat, diapit sejumlah disepanjang jalan merdeka barat,
bangunan gedung pemerinahan karena selain dari bangunan
lain yang mengelilingi lapangan gedung buatan abad ke 18 dan 19
merrdeka dengan monumen yang dipertahankan sesuai aslinya,
nasional di pusatnya. bangunan gedung lain
ditampilkan atas dasar prinsip
garis-garis tebal horizontal. Akan
tetapi Soejoedi mengubah
gubahan massanya dari sistem
grid yang sejajar dengan lapangan
merdeka, menjadi diagonal.
Dengan demikian bidang-bidang
Soejoedi tampaknya ingin agar
masif dari selubung bidang yang
bangunan gedung gubahannya
sedianya menghadap ketepi tapak
menjadi aksen diantara
26 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

kini menjadi bagian dari tampak seluruh bangunan gedungnya


muka, bersama dengan garis-garis seakan terangkat dari permukaan
tebal horizontal yang tanah dan tumpukan masa
menghubbungkan bidang-bidang berwujud garis tebal masif dan
masif tersebut dengan permukaan horizongtal itu mennjadi terasa
yang lebih luas. ringan.

Meskpun demikian gubahan masa


Untuk lebih menegaskan
bangunan gedung tersebut tidak
pemutaran posisi tersebut maka
memperoleh rekomendasi Tim
garis garis tebal horizontal
Penasehat Arsitektur Kota (PTAK)
diantara bidang bidang masif
sehingga Soejoedi mengubah
tadi semakin kebawah diletakan
menjadi menghilangkan bidang
semakin maju, sehingga tampak
masif dari gubahan selubung
muka lebih volumetrik sementara
bidangnya dan menggantikan
bagian terbawah sekaligus
dengan garis garis tebal
berfungsi sebagai kanopi bagi
horizontal juga. Perubahan
daerah entrance utama banguna
tersebut memang mengurangi
gedungnya. Bidang bidang
ketegasan posisi grid diagonal
pembatas lantai dasar
bangunan gedungnya terhadap
dimundurkan amat dalam untuk
lingkung seputar Lapangan
memberi tempat bagi kendaraan
Merdeka namun tetap
yang akan menurunkan
memperlihatkan sikap yang
penumpang di daerah entrance
berbeda dari bangunan- bangun
utama dan mengililingi bagian
gedung disepanjang jalan
lantai dasar tersebut menuju
Merderka Barat sehingga masih
ketempat parkir di halaman
terus mengundang pertanyaan
belakang. Dengan cara seperti itu
27 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

dari para pemerhati bidang


arsitektur di Indonesia.

Interior
28 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

9.Departemen kelengkapan fasilitas parkir


Pertanian sendiri sendiri sehingga
(1980 1984) mengingatkan pada teknik
pembukaan tapak kawasan
Proyek ini dikerjakan pada hunian berpola Kota
tahun 1980 sampai dengan Taman.
1884. Tapaknya terletak di
salah satu pojok
perpotongan jalan tama
Margasatwa dan Harsono
R.M. dengan Jalan Outer
Ringroad (JORR). Diproyek
ini Soejoedi bahkan
menyediakan 3 masa
selubung bidang berwujud Daerah Entrance utama tersebut
huruf Y, yang digabungkan terletak di bangunan gedung
dengan sebuah masa terdepan, akan tetapi posisinya
selubung bidang menjadi tidak simetri. Dan bukan
formasi yang menghasilkan merupakan satu satunya tempat
sebuah ruang luar di dalam memasuki komples departemen
kumpulannya. Formasi ini. Tujuannya yaitu membentuk
tersebut diletakkan diatas ruang luar yang mengarahkan
podium menerus yang pengunjung ke suatu daerah
membuat ruang luar tadi entrance kedua du dalam formasi
menjadi berwujud segilima. terkait, bekerja dengan sebuah
Tiap masa bangunan danau di jalur sepanjang
gedung kemudian diberi perjalanan menuju kedaerah
29 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

entrance kedua tersebut. Teknik tempat kompleks bangunan


ini kemungkinan besar dipelajari gedung departemen
Soejoedi di proyek Conefo, yaotu pertanian itu amat
dalam rangka memperluas mengganggu; tidak selaras,
pandangan perspektif ruang luar serasi atau seimbang,
sekaligus memperkaya rona bahkan tidak pula kontras.
landsekap alami setempat.
Seluruh bidang luar di lantai
dasar dimundurkan untuk
memperoleh tritisan sebagai
perlindungan terhadap terik
matahari dan siraman
hujan, sekaligus
menghasilkan kesan
bangunan gedungg ang
terangkat dari permukaan
tanah. Sehingga terasa lebih
ringan dari seharusnya
Disana sekarang berdiri
sebuah bangunan gedung
baru dengan gubahan masa
yang jelas. Diilhami
piramida karya arsitek
I.M.Pei dimuseum Louvre,
Paris. Akan tetapi dengan
hasil yang jauh berbeda
karena keberadaannya di
30 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

10. BANK EKSPOR kemballi mengikuti Eximbank di


IMPOR Pematang Siantar, yaitu
(EXIMBANK)
BALIKPAPAN monokromatik putih sehingga
(1981 1983) terasa polos, keras serta massif.

Berbeda dari proyek sebelumnya,


bidang terdepan di bagian lantai
dasar tampaknya tidak dibuat
mundur melainkan sebaliknya,
gugusan massanya dibuat lebih
Gubahan massanya merupakan
mau membentuk tampilan
kombinasi dari proyek Bank
katilaver di lantai atas bangunan
Ekspor Impor di Pematang Siantar
gedungnya. Pola zig zag sendiri
dan Kedutaan Besar Repubik
justru dimundurkan di lantai
Indonesia di Beograd. Selubung
ketiga.
bidang dalam posisi zig zag dari
proyek Eximbank Pematang
Siantar digabungkan dengan
bidang diagonal dari Kedutaan
Besar Republik Indonesia di
Beograd sementara warnanya
0|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Studi Gedung DPR MPR RI

- Lokasi : Jakarta Selatan, Jakarta, Indonesia


- Pembangunan dimulai : 08 Maret 1965
- Pembangunan selesai : 01 Februari 1983
- Tinggi : 100 m
- Arsitek : Soejoedi Wirjoatmodjo
1|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Tampak Bangunan
2|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Potongan melintang

- Lingkungan
Sebelah barat berbatasan dengan Jalan Gelora, sebelah selatan
dengan Komplek Kantor Menteri Olahraga RI, Komplek Televisi
Republik Indonesia (TVRI), dan Komplek Taman Ria Senayan, di
sebelah timur berbatasan dengan Jalan Gatot Subroto, dan
Komplek Menteri Kehutanan di sebelah utaranya.

Sejarah Pembangunan

Gedung Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat


(DPR/MPR) didirikan pada 8 Maret 1965. Saat itu, Presiden Soekarno
mencetuskan untuk menyelenggarakan CONEFO (Conference of the New
Emerging Forces) yang merupakan wadah dari semua New Emerging
Forces. Anggota-anggotanya direncanakan terdiri dari negara-negara Asia,
Afrika, Amerika Latin, negara-negara Sosialis, negara-negara Komunis, dan
semua Progresive Forces dalam kapitalis.
3|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Conefo dimaksudkan sebagai suatu tandingan terhadap Perserikatan


Bangsa-bangsa (PBB). Bahkan, Soekarno ingin agar gedung itu lebih baik
dari markas PBB di New York atau Juga harus lebih bagus dari People Palace
di Beijing. Melalui Keppres No. 48/1965, Soekarno menugaskan kepada
Soeprajogi sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga (PUT). Menteri
PUT kemudian menerbitkan Peraturan Menteri PUT No. 6/PRT/1965
tentang Komando Pembangunan Proyek Conefo.

Ide Rancangan

Soejoedi pun maju dalam sayembara perancangan proyek Conefo,


dengan menerapkan pola pemikiran arsitek Prancis, Le Corbusier. Dia
memasukkan fungsi-fungsi utama sebuah kawasan political venues, yaitu
persidangan, sekretariat, dan kegiatan pendukung.

Awal mulanya, Soejoedi ketika itu merancang desain gedung MPR-


DPR bersama tim arsiteknya yang terdiri dari Ir Sutami selaku struktur
engineer dan Ir Nurpontjo selaku staf Soejoedi yang ditugaskan untuk
membikin maket bangunan. Dengan hanya mempunyai waktu kurang
lebih dua minggu, mereka pun terburu-buru merancang desain bangunan.

Ir. Sutami
4|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Ketika di penghujung tenggang waktu (deadline) sayembara, mereka


terkendala gedung bangunan utama yang belum beratap. Mereka berfikir,
sebenarnya ada beberapa alternatif bentuk atap. Adapun bentuk paling
sederhana dan sudah umum dipakai adalah bentuk dan struktur kubah
beton. Tergantung pilihan, apakah ingin berbentuk kubah murni, setengah
bola atau sebagian dari bola (tembereng bola).

Mengingat sudah tersisa hari esok dan sayembara desain rancangan


sudah harus diserahkan, dengan terpaksa Ir Nurpontjo yang ditugaskan
membuat maket bangunan, tetap merancang atap bangunan utama
berbentuk kubah murni. Dia menggunakan bahan maket plastik yang di-
press di antara dua kuali penggorengan kue serabi yang diisi air panas.
Sayang, cara ini tidak berhasil dengan baik karena selalu muncul keriput-
keriput persis pada bagian puncak kubah.

Pada waktu itu pula Soejoedi menghampirinya dan bertanya soal


maket tersebut. Bersamaan dengan datangnya Soejoedi, Nurpontjo yang
ketika itu sedang merasa putus asa, segera mengambil gergaji dan
membelah dua hasil cetakan maket tadi. Dengan harapan, jika kubah
dibelah dua, maka akan ada beberapa potongan lebih mulus, sehingga bisa
digabung untuk menjadi kubah utuh sempurna tanpa keriput.

Ketika Soejoedi melihat dua potongan maket tersebut di atas meja,


dia bereaksi dengan mengatakan bahwa hasil dua potongan maket tadi
bagus dan malah mengusulkan sebaiknya seperti itu saja atap yang
digunakan. Bahkan, dia berkata demikian sambil tangannya memegang
dan mereka-reka bentuk yang akan terjadi jika potongan-potongan hasil
5|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

tadi disatukan. Lantas, segera dia menanyakan terlebih dahulu kepada


rekan kerja lainnya yakni Sutami.

Tak disangka, Sutami pun sangat sigap melakukan perhitungan dan


memberikan jawaban dalam waktu yang sangat singkat. Dia menjelaskan,
struktur ini bakal menghasilkan prinsip sama dengan membuat sayap
(wing) yang menempel pada badan pesawat terbang, memakai prinsip
struktur kantiver. Sutami malah bisa menjamin, dengan bentangan 100
meter pun, bentuk dan struktur tersebut masih bisa
dipertanggungjawabkan. Bagian yang akan berfungsi sebagai badan
pesawat terbang (fuselage) adalah dua busur beton yang dibangun
berdampingan dan nantinya bertemu pada satu titik puncak.
6|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Soejoedi (kiri) bersama Soeharto(kedua dari kiri); Soeharto menerangkan tentang proyek
gedung MPR/DPR

Sistem struktur atap

Struktur sepasang busur beton dengan satu titik temu tersebut


kemudian harus diteruskan masuk ke dalam bumi, untuk bisa
7|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

menyalurkan beban. Struktur semacam ini merupakan satu kesatuan yang


sangat kokoh dan stabil, agar nantinya bisa dibebani dengan sayap-sayap
berukuran dua kali setengah kubah beton. Penambahan tersebut juga bisa
ikut membentuk atap bangunan utama seperti sayap burung Garuda.

Massa bangunan untuk ke-giatan persidangan diletakkan frontal


8|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

menghadap jalan masuk, dengan massa bangunan sekretariat di


sampingnya. Massa bangunan perjamuan diletakkan linier terhadap
massa bangunan sekretariat, sedangkan massa bangunan auditorium
diletakkan tegak lurus terhadapnya, jadilah kompleks MPR/DPR.

Karya lainnya ialah gedung Kedutaan Besar Prancis, di Jalan MH Thamrin,


Jakarta, yang ia kerjakan antara 1969 dan 1973. Soejoedi membuat
lengkungan di sisi masif selubung bidang terdepan sebagai pengarah
kendaraan yang memasuki gedung. Pintu masuk utama yang terletak di
bagian samping gedung itu menjadikan gedung terlindung, baik dari
pandangan mata luar maupun kebisingan di sekitarnya. Desain ini juga
menjamin keamanan dan keselamatan pengunjung.

Proyek itu menerapkan konstruksi beton di Indonesia. Pengudaraan


buatan di dalam bangunan gedung dilakukan dengan teknik menurunkan
ketinggian langit-langit di sclasar bagian dalam, supaya tersedia rongga
tempat meletakkan AC yang mengalirkan udara dingin ke ruangan-
ruangan. Tampilan lain adalah sirip-sirip yang membagi bidang
permukaan vertikalmenjadi sejumlah bukaanberukuran sama dan
sebangun.

Karya yang dihasilkan Soejoedi, banyak diakui, sangat bergaya Barat,


sesuai tempat ia menimba ilmu
9|ARSITEK SOEJOEDI DAN KARYA - KARYANYA

Proses Pembangunan
10 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

Bertepatan dengan Perayaan Dasa Warsa Konferensi Asia-Afrika


pada 19 April 1965 dipancangkanlah tiang pertama pembangunan proyek
political venues di Komplek Senayan Jakarta. Rancangan Soejoedi
Wirjoatmodjo Dpl Ing ditetapkan dan disahkan presiden pada 22 Februari
1965. Maketnya menampakkan seluruh bangunan komplek dan rancangan
aslinya tampak keseluruhan saat dipandang dari Jembatan Semanggi.
Ketika pembangunannya dilanjutkan oleh pemerintah Orde Baru
pimpinan Presiden Soeharto, nuansa danau buatan tak tampak dan
bangunan komplek terlihat ketika melewati Jalan Gatot Subroto. Ruang
Arkada di bawah tanah ditiadakan dan luasnya menjadi 60 ha, dengan
luas bangunan sekitar 80.000 m2

Karena Bung Karno ingin cepat, maka pembangunan gedung


Conefo pun dipacu. Akhirnya, pro dan kontra bermunculan terhadap
rencana tersebut. Bahkan sampai-sampai royek itu disebut sebagai
Megalomania Soekarno. Selain itu harus selesai dalam waktu satu tahun
karena Conefo akan diselenggarakan akhir tahun 1966. Namun sayang
proyek ini harus mandeg, lantaran terjadi peristiwa G 30 S/PKI pada 1965.
11 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

Pada 9 November 1966, Soeharto, sebagai ketua Presidium Kabinet


Ampera, menginstruksikan untuk melanjutkan proyek gedung Conefo.
Bedanya, gedung diubah peruntukannya, yaitu sebagai gedung DPR/MPR.
Saat itu, DPR/MPR bermarkas di kawasan Lapangan Banteng.

Secara bertahap, satu per satu gedung yang sudah selesai,


diserahkan ke Sekretariat Jenderal DPR/MPR. Gedung Utama Konferensi
pada Maret 1968. Gedung Sekretariat dan Balai Kesehatan pada Maret
1983. Berikutnya, Gedung Perjamuan pada 1983. Setelah itu beberapa
bangunan dibangun menyusul. Gedung-gedung itu diberi nama dengan
bahasa sanskerta, yaitu cikal bakal bahasa jawa kuno. Seperti, Grahatama,
Lokawirasabha Tama, Ganagraha, Lokawirasabha, Pustakaloka,
Grahakarana, dan Samania Sasanagraha.

Sekjen DPR/MPR Afif Maroef ketika itu, menjelaskan, ada usulan


agar nama-nama gedung itu diganti dengan bahasa Indonesia.
Penggagasnya antara lain anggota DPR/MPR Salim Said lewat petisi yang
ditandatangani sejumlah anggota Dewan. Akhirnya, Dewan menunjuk
12 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

Wakil Ketua DPR Fatimah Achmad untuk memimpin tim penggantian


nama gedung.

Pada 14 Desember 1998, resmilah gedung-gedung itu berganti nama.


Grahatama menjadi Gedung Nusantara, Lokawirasabha Tama (Gedung
Nusantara I), Ganagraha (Gedung Nusantara II), Lokawirasabha (Gedung
Nusantara III), Pustakaloka (Gedung Nusantara IV), Grahakarana
(Gedung Nusantara V), Samania Sasanagraha (Gedung Sekretariat
Jenderal DPR RI), dan Mekanik Graha (Gedung Mekanik).
13 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

KESIMPULAN

Soejoedi merupakan sosok arsitek yang pendiam, tidak suka bicara,


namun karyanya hebat.

Kepekaan menangkap kecenderungan alam lingkungan daniklim


untuk mencipta sebuah karya besar adalah sebuah kesan yang dapat
ditangkap dari karya Soejoedi. Soejoedi merupakan sosok yang
Nasionalis dan mencintai tanah air. Beliau mencoba bagaimana
untuk mengangkat Indonesia kedalam dunia Internasional.
Kemudian beliau mencari identitas lokal Indonesia dalam arsitektur
modern. Sehingga beliau bermain main dengan bayangan. Dalam
arsitektur modern terdapat kesan polos rapi tetapi beliau mencoba
memberikan bayangan bayangan yang merupakan salah satu sikap
tanggap iklim

....what is a good design. Dari pertanyaan tersebut Soejoedi


meyakini bahwa fasada bangunan gedung merupakan tambilan
utama untuk mempresentasikan sebuah rancang bangun yang baik.
Sehingga dalam karya karyanya seolah tidak ada tampak belakang

Dalam karya nya dapat ditemukan beberapa karakter antara lain:

Horizontalisme contohnya pembuatan dinding dan atap yang


terpisah ventilasi yang memanjang.
Pengelompokan ruang dan disusun linear pada rumah tinggal
Entrance luas yang menghadap halaman samping pada rumah
tinggal
14 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

Massa empat persegi panjang yang seakan terangkat dari


permukaan tanah dan volumetrik
Tidak mengutamakan spatial melainkan memenuhi tuntutan
fungsional. Yaitu mementingkan pada gubahan massa bangunan,
dan beliau tidak memperlihatkan terobosan pada denah
15 | A R S I T E K S O E J O E D I D A N K A R Y A - K A R Y A N Y A

DAFTAR RUJUKAN

Sukasa, Budi A. 2011. Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi. Bandung:


Gubahlaras Arsitek dan Perencana.
Pratiwi, Dhera Arizona. 2016. Uniknya Arsitektur Gedung MPR DPR.
www.economy.okezone.com. Online. Diakses pada 30 September 2016
Kuntjoro. 2011. Sejarah Gedung MPR-DPR.
http://koentjoro16.blogspot.co.id/2011/08/sejarah-gedung-dpr-mpr.html. Online.
Diakses pada 30 September 2016
Wiryomartono,Bagoes.2013. ,International Journal of Architectural Research.
http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents. online. Diakses Pada 27
September2016