Anda di halaman 1dari 7

2.

1 Konsep Dasar Kota


2.1.4. Bentuk dan Perkembangan Kota
A. Bentuk Kota
Menurut Kostof dalam bukunya The City Shaped pola kota secara garis
besar dapat dibagi dalam tiga bentuk, yaitu grid, organik dan diagram.
1. Pola Grid
Pola kota dengan sistem grid dapat ditemui hampir di semua kebudayaan
dan merupakan salah satu bentuk kota tua. Pola kota dengan sistem grid
dikembangkan oleh Hippodamus, salah satunya adalah kota Miletus. Pola
grid ini merupakan mekanisme yang cukup universal dalam mengatur
lingkungan dan pola ini terbentuk karena adanya kebutuhan suatu sistem
yang berbentuk segi empat (grid iron) guna memberikan suatu bentuk
geometri pada ruangruang perkotaan. Blok-blok permukimannya dirancang
untuk memungkinkan 18 rumah tersebut dihubungkan kepada bangunan dan
ruang publik (Kostof, 1991).
2. Pola Organik
Pola organik merupakan organisme yang berkembang sesuai dengan
nilai-nilai budaya dan sosial dalam masyarakatnya dan biasanya
berkembang dari waktu ke waktu tanpa adanya perencanaan. Pola organik
ini perubahaanya terjadi secara spontan serta bentuknya mengikuti kondisi
topografi yang ada. Sifat pola organik ini adalah fleksibel, tidak geografis,
biasanya berupa garis melengkung dan dalam perkembangan masyarakat
mempunyai peran yang besar dalam menentukan bentuk kotanya. Berbeda
dengan bentuk grid dan diagram yang biasanya ditentukan penguasa kotanya
(Kostof, 1991).
3. Pola Diagram
Pola kota dengan sistem diagram ini biasanya digambarkan dalam
simbol atau hirarki yang mencerminkan bentuk sistem sosial dan kekuasaan
yang berlaku saat ini. Berbeda dengan sistem grid yang lebih mengutamakan
efisiensi dan nilai ekonomis, motifasi dasar dari pola kota dengan sistem
diagram ini adalah (Kostof, 1991) :
a. Regitimation, sistem kota yang dibentuk berdasarkan simbol
kekuasaan dan dari segi politik berfungsi untuk
mengawasi/mengorganisir sistem masyarakatnya. Seperti bentuk
kerajaan atau monarki (Versailles) dan demokrasi (Washington DC).
19
b. Holy City, kota yang dibangun berdasarkan sistem kepercayaan
masyarakatnya seperti kota Yerusalem.
Bentuk kota yang sering dijumpai dan dipakai sebagian, keseluruhan
ataupun gabungan adalah berupa garis, memusat, bercabang, melingkar,
berkelompok, pola geometris dan organisme hidup. Bentuk-bentuk tersebut erat
pula berkaitan dengan sejarah kehidupan kota tersebut, baik itu sejarah secara
fisik ataupun ideologis. Perwujudan spasial fisik merupakan produk kolektif
perilaku budaya masyarakatnya serta pengaruh kekuasaan tertentu yang
melatar belakanginya. Perkembangan dan pembentukan kota seringkali
merupakan wujud dari ekpresi masyarakat yang hidup di dalamnya. Sejumlah
kota seringkali dipengaruhi oleh kondisi sosial politik dan kondisi pemerintah
atau pemerintahannya. Sementara itu bentuk-bentuk lainnya sangat mungkin
sekali oleh kondisi karakteristik lingkungannya, seperti yang terjadi di sebagian
Manhattan, New York. Kota-kota berkembang pula dengan kondisi-kondisi
setempat serta pengaruh-pengaruh yang datangnya dari luar. Pada sisi lainnya
perkembangan penduduk, juga perkembangan karena proses urbanisasi menjadi
sebab perubahan bentuk dan struktur suatu kota.
Bentuk kota adalah pola atau wujud yang terbangun dari sebaran
kawasan non pertanian/perkotaan atau disebut sebagai kawasan terbangun.
Bentuk kota dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

- Pola jaringan jalan,


- Daya dukung lahan,
- Sebaran sumberdaya alam,
- Kebijakan pemerintah.
Berdasarkan pada penampakan morfologi kota serta jenis penyebaran
areal perkotaan yang ada, Hudson dalam Yunus (1999), mengemukakan
beberapa alternatif model bentuk atau pola kota.Pola suatu kota tersebut dapat
menggambarkan arah perkembangan dan bentuk fisik suatu kota.Ekspresi
keruangan morfologi kota secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu bentuk
kompak dan bentuk tidak kompak(Yunus, 2000: 14). Berikut comtoh macam-
macam bentuk kota
1. Bentuk Kompak
Bentuk kompak mempunyai 7 macam bentuk, yaitu:
a. Bentuk Bujur Sangkar (The Squre city) Kota berbentuk bujur
sangkar menunjukan adanya kesempatan perluasan kota ke segala
arah yang relatif seimbang dan kendala fisikal relatif tidak
begitu berarti. Hanya saja, adanya jalur transportasi pada sisi-sisi
memungkinkan terjadinya percepatan pertumbuhan areal kota pada
arah jalur yang bersangkutan.
b. Bentuk Empat Persegi Panjang (The Rectangular Cities) Melihat
bentuknya sudah terlihat jelas bahwa dimensi memanjang sedikit
lebih besar daripada dimensi melebar. Hal ini dimungkinkan timbul
karena adanya hambatan-hambatan fisikal terhadap perkembangan
areal kota pada salah satu sisi-sisinya.Hambatan-hambatan tersebut
antara lain dapat berupa lereng yang terjal, perairan, gurun pasir,
hutan, dan lain sebagainya. Space untuk perkembangan arealnya
cukup besar baik melebar maupun memanjang.
c. Bentuk Kipas (Fan Shaped Cities) = Bentuk semacam ini
sebenarnya merupakan bentuk sebagian lingkaran. Dalam hal ini,
ke arah luar lingkaran kota yang bersangkutan mempunyai
kesempatan berkembang yang relatif seimbang. Oleh sebab-sebab
tertentu pada bagian-bagian lainnya terdapat beberapa hambatan
perkembangan areal kekotaannya yang dapat diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu Hambatan-hambatan alami (natural constraints),
misalnya perairan, pegunungan ; Hambatan-hambatan artificial
(artificial constraints), misalnya saluran buatan, zoning, ring road
d. Bentuk Bulat (Rounded Cities) = Bentuk kota seperti ini merupakan
bentuk paling ideal daripada kota. Hal ini disebabkan karena
kesempatan perkembangan areal ke arah bagian luarnya sama.
Tidak ada kendala-kendala fisik yang berarti pada sisi-sisi luar
kotanya. Pada bagian-bagian yang terlalu lambat
perkembangannya, dipacu dengan peraturan-peraturan misalnya
Planned Unit Development sedang untuk bagian-bagian yang
terlalu cepat perkembangan areal kekotaannya dapat dihentikan,
misalnya dengan Devolopment Moratoria. Batas terluar dari pada
kotanya ditandai dengan green belt zoning atau growth
limitation dengan ring roads. Dengan demikian terciptalah
bentuk bulat artifisial.
e. Bentuk Pita (Ribbon Shaped Cities) = Sebenarnya bentuk ini juga
mirip rectangular city namun karena dimensi memanjangnya jauh
lebih besar dari pada dimensi melebar maka bentuk ini menempati
klasifikasi tersendiri dan mengambarkan bentuk pita. Dalam hal ini
jelas terlihat adanya peranan jalur memanjang (jalur transportasi)
yang sangat dominan dalam mempengaruhi perkembangan areal
kekotaannya, serta terhambatnya perluasan areal ke samping.
Sepanjang lembah pegunungan, sepanjang jalur transportasi darat
utama adalah bagian-bagian yang memungkinkan terciptanya
bentuk seperti ini. Space untuk perkembangan areal kekotaannya
hanya mungkin memanjang saja.
f. Bentuk Gurita / Bintang (Octopus/Star Shaped Cities) = Peranan
jalur transportasi pada bentuk ini juga sangat dominan sebagaimana
dalam ribbon-shaped city. Hanya saja, pada bentuk gurita jalur
transportasi tidak hanya satu arah saja, tetapi beberapa arah ke luar
kota. Hal ini hanya dimungkinkan apabila daerah hinterland dan
pinggirannya tidak memberikan halangan-halangan fisik yang
berarti terhadap perkembangan areal kekotaanya.
g. Bentuk Yang Tidak Berpola (Unpatterned Cities) = Kota seperti ini
merupakan kota yang terbentuk pada suatu daerah dengan kondisi
geografis yang khusus. Daerah di mana kota tersebut berada telah
menciptakan latar belakang khusus dengan kendala-kendala
pertumbuhan sendiri. Sebuah cekungan struktural dengan beberapa
sisi terjal sebagai kendala perkembangan areal kekotaannya, sangat
mungkin pula ditempati oleh suatu kota dengan bentuk yang khusus
pula. Contohnya adalah sebuah kota pulau yang mempunyai bentuk
khusus, karena perkembangan arealnya terhambat oleh laut dari
berbagai arah.
2. Bentuk Tidak Kompak
Bentuk tidak kompak mempunyai empat macam bentuk, yaitu:
a. Berantai (chained cities). Merupakan bentuk kota terpecah tapi
hanya terjadi di sepanjang rute tertentu. Kota ini seolah-olah
merupakan mata rantai yang dihubungkan oleh rute transportasi,
sehingga peran jalur transportasi sangat dominan.
b. Terpecah (fragment cities). Merupakan bentuk kota dimana
perluasan areal kota tidak langsung menyatu dengan induk, tetapi
cenderung membentuk exclaves (umumnya berupa daerah
permukiman yang berubah dari sifat perdesaan menjadi sifat
perkotaan).
c. Terbelah (split cities). Merupakan bentuk kota kompak namun
terbelah perairan yang lebar. Kota tersebut terdiri dari dua bagian
yang terpisah yang dihubungkan oleh jembatan-jembatan.
d. Satelit (stellar cities). Merupakan bentuk kota yang didukung oleh
majunya transportasi dan komunikasi yang akhirnya tercipta bentuk
kota megapolitan. Biasa terdapat pada kota-kota besar yang
dikelilingi oleh kota-kota satelit. Dalam hal ini terjadi gejala
penggabungan antara kota besar utama dengan kota-kota satelit di
sekitarnya, sehingga kenampakan morfologi kotanya mirip telapak
katak pohon.

STRUKTUR KOTA
Menurut Hadi Sabari Yunus secara garis besar terdapat tiga macam
proses perluasan area perkotaan menjadi lebih terstruktur, yaitu sebagai berikut :

1. Teori konsentris dapat dikatakan bahwa kota meluas secara merata dari suatu
inti asal, sehingga tumbuhlah zona-zona yang masing-masing meluas sejajar
dengan pentahapan kolonisasi ke arah zona yang letaknya paling luar. Dengan
demikian dapat ditemukan sejumlah sejumlah zona yang letaknya konsentris,
sehingga strukturnya bergelang. Dalam kenyataannya zona-zona konsentris ini
tidak dapat ditemukan dalam bentuknya yang murni. Konsentrasi pelayanan
berada di suatu pusat, dengan jaringan transportasi yang terarah ke suatu titik.

Keterangan model teori konsentrik menurut Teori Konsentris Dari Ernest W.


Burgess (1929) :
Zona pusat wilayah kegiatan
Zona peralihan
Zona permukiman kelas proletar.
Zona permukiman kelas menengah.
Zona penglaju.

2. Teori Sektoral. Menurut Hommer Hoyt (1939), pengelompokkan tata guna


lahan di kota menyebar dari pusat ke arah luar berupa sektor. Hal ini disebabkan
oleh sifat masyarakat kotanya, latar belakang ekonomis, kondisi fisik geografis
kotanya, serta rute pengangkutan. Namun pada dasarnya teori ini merupakan
modifikasi dari teori konsentris Burgess. Dari teori ini, terjadi proses
penyaringan (filtering process) dari penduduk yang tinggal pada sektor-sektor
yang ada.

Keterangan Teori Sektoral (Sector Theory) dari Homer Hoyt :


Zona 1: Zoona pusat wilayah kegiatan.
Zona 2: Zona dimana terdapat grossier dan manufactur.
Zona 3: Zona wilayah permukiman kelas rendah.
Zona 4: Zona permukiman kelas menengah.
Zona 5: Zona permukiman kelas tinggi.

3. Teori inti ganda (multiple nuclei). Menurut Harris dan Ullman (1945), pola
konsentris dan sektoral itu akan ada, namun dalam kenyataannya sifatnya lebih
rumit lagi. Pertumbuhan kota mulai dari intinya dirumitkan lagi oleh adanya
beberapa pusat tambahan. Di sekeliling suatu inti tata guna lahan yang saling
bertalian, munculah sekelompok tata guna tanah yang akan menciptakan suatu
struktur perkotaan yang memiliki sel-sel pertumbuhan lengkap. Teori ini disebut
teori multiple nuclei yang sifatnya serba akurat, tertib, dan fleksibel.
Pembentukan inti-inti ganda merupakan gejala lanjut dari kota yang berpola
sektoral, sedangkan makin menuju ke kota makin jelas adanya pola konsentris
teori inti ganda ini sesuai dengan keadaan kota-kota besar.

Keterangan:
Zona 1: Zona pusat wilayah kegiatan.
Zona 2: Zona wilayah terdapat para grossier dan manufactur.
Zona 3: Zona wilayah permukiman kelas rendah.
Zona 4: Zona permukiman kelas menengah.
Zona 5: Zona permukiman kelas tinggi.
Zona 6: Zona manufactur berat
Zona 7: Zona wilayah di luar pusat wilayah Kegiatan (PWK)
Zona 8: Zona wilayah permukiman suburb
Zona 9: Zona wilayah industri suburb