Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB)

A. PENGERTIAN

Abnormal Uterine Bleeding/ Perdarahan Uterus Abnormal merupakan


perdarahan yang terjadi diluar siklus menstruasi yang dianggap normal.
Perdarahan Uterus Abnormal dapat disebabkan oleh faktor hormonal,
berbagai komplikasi kehamilan, penyakit sistemik, kelainan endometrium
(polip), masalah-masalah serviks / uterus (leiomioma) / kanker.
Namun pola perdarahan abnormal seringkali sangat membantu dalam
menegakkan diagnosa secara individual. (Ralph. C Benson, 2009).
Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD) digunakan untuk menunjukan
semua keadaan perdarahan melalui vagina yang abnormal.DUB disini
didefenisikan sebagai perdarahan vagina yang terjadi didalam siklus <20
hari /
>40 hari, berlangsung >8 hari mengakibatkan kehilang darah > 80 mL
& anemia. Ini merupakan diagnosis penyingkiran dimana penyakit lokal &
sistemik harus disingkirkan. Sekitar 50 % dari pasien ini sekurang-kurangnya
berumur 40 th & 20 % yang lain adalah remaja, karena merupakan saat siklus
anovulatori lebih sering ditemukan. (Rudolph,A. 2006).

B. ETIOLOGI
Etiologi dan Evaluasi Perdarahan Uterus Abnormal
Sebelum menarche
Keganasan
Trauma
Kekerasan seksual
Pemeriksaan panggul (dengan anestesi ) harus dilakukan mengingat bahwa
54% kasus disebabkan oleh adanya lesi traktus genitalis dan 21% diantaranya
bersifat ganas.

Perdarahan uterus disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara menarche
dan menopause. Tetapi, kelainan ini lebih sering dijumpai pada masa permulaan dan
pada mssa akhir fungsi ovarium. Pada usia perimenars, penyebab paling mungkin
adalah faktor pembekuan darah dan gangguan psikis1.
Pada masa pubertas sesudah menarche, perdarahan tidak normal disebabkan
oleh gangguan atau terlambat proses maturasi pada hipotalamus, dengan akibat
bahwa pembuatanreleasing factor dan hormon gonadotropin tidak sempurna.
Pada wanita dalam masapremenopasuse proses terhentinya proses ovarium tidak
selalu berjalan lancar
Perdarahan Uterus Disfungsional dapat dibedakan menjadi penyebab dengan siklus
Ovulasi dan penyebab yang berhubungan dengan siklus anovulasi. Namun ada
beberapa kondisi yang dikaitkan dengan perdarahan rahim disfungsional, antara lain:
Kegemukan (obesitas)
Faktor kejiwaan
Alat kontrasepsi hormonal
Alat kontrasepsi dalam rahim (intra uterine devices)
Beberapa penyakit dihubungkan dengan perdarahan rahim (DUB), misalnya:
trombositopenia (kekurangan trombosit atau faktor pembekuan darah),
Kencing Manis (diabetus mellitus), dan lain-lain
Walaupun jarang, perdarahan rahim dapat terjadi karena: tumor organ
reproduksi, kista ovarium (polycystic ovary disease), infeksi vagina, dan lain-
lain.

C. Patofisiologi
Pasien dengan perdarahan uterus disfungsional telah kehilangan siklus
endometrialnya yang disebabkan oleh gangguan pada siklus ovulasinya. Sebagai
hasilnya pasien mendapatkan siklus estrogen yang tidak teratur yang dapat
menstimulasi pertumbuhan endometrium, berproliferasi terus menerus sehingga
perdarahan yang periodik tidak terjadi.
Schroder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada uterus dan ovarium
pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan perdarahan yang
dinamakan metropatia hemoragika terjadi karena persistensi folikel yang tidak pecah
sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Akibatnya, terjadilah
hiperplasi endometrium karena stimulasiestrogen yang berlebihan dan terus-
menerus.
Penelitian lain menunjukkan pula bahwa perdarahan disfungsional dapat
ditemukan bersamaan dengan berbagai jenis endometrium, yaitu endometrium
atrofik, hiperplastik, proliferatif dan sekretoris, dengan endometrium jenis non
sekresi merupakan bagian terbesar. Pembagian endometrium menjadi endomettrium
sekresi dan non sekresi penting artinya, karena dengan demikian dapat dibedakan
perdarahan ovulatoar dari yang anovulatoar. Klasifikasi ini memiliki nilai klinik
karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini memiliki dasar etiologi yang
berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda. Pada perdarahan disfungsional
yang ovulatoar gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor neuromuskular,
hematologi dan vasomotorik, yang mekanismenya belum seberapa dimengerti,
sedang perdarahan anovulatoar biasanya dianggap bersumber pada gangguan
endokrin

D. Tanda Gejala
Perdarahan rahim yang dapat terjadi tiap saat dalam siklus menstruasi. Jumlah
perdarahan bisa sedikit-sedikit dan terus menerus atau banyak dan berulang. Pada
siklus ovulasi biasanya perdarahan bersifat spontan, teratur dan lebih bisa
diramalkan serta seringkali disertai rasa tidak nyaman sedangkan pada anovulasi
merupakan kebalikannya.1Selain itu gejala yang yang dapat timbul diantaranya
seperti mood ayunan, kekeringan atau kelembutan Vagina serta juga dapat
menimbulkan rasa lelah yang berlebih.

Pada siklus ovulasi


Karakteristik PUD bervariasi, mulai dari perdarahan banyak tapi jarang, hingga
spotting atau perdarahan yang terus menerus.
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan
siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk menegakan
diagnosis perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Jika karena
perdarahan yang lama dan tidak teratur sehingga siklus haid tidal lagi dikenali maka
kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat menolong.
Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi
tanpa ada sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologi :
1. korpus luteum persistens : dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang
bersamaan dengan ovarium membesar. Dapat juga menyebabkan pelepasan
endometrium tidak teratur.
2. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia
atau polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron disebabkan
oleh gangguan LH releasing faktor. Diagnosis dibuat, apabila hasil biopsi
endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang
seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.
3. Apopleksia uteri: pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya
pembuluh darah dalam uterus.
4. Kelainan darah seperti anemia, purpura trombositopenik dan gangguan
dalam mekanisme pembekuan darah.

Pada siklus tanpa ovulasi (anovulation)


Perdarahan tidak terjadi bersamaan. Permukaan dinding rahim di satu bagian baru
sembuh lantas diikuti perdarahan di permukaan lainnya. Jadilah perdarahan rahim
berkepanjangan.
Perdarahan ovulatoar
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan
siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk menegakkan
diagnosis perdarahan ovulatoar, perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid.
Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi,
maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat menolong. Jika sudah
dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya
sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologiya :
1. Korpus luteum persistens; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang
bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus dibedakan dari
kehamilan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan panggul
sering menunjukkan banyak persamaan antara keduanya. Korpus luteum
persisten dapat pula menyebabkan pelepasan endometrium tidak teratur
(irregular shedding). Diagnosa irregular shedding dibuat dengan kerokan yang
tepat pada waktunya, yakni menurut Mc Lennon pada hari ke-4 mulainya
perdarahan. Pada waktu ini dijumpai endometrium dalam tipe sekresi disamping
tipe nonsekresi.
2. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting,
menoragia atau polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron
disebabkan oleh gangguan LH releasing factor. Diagnosis dibuat, apabila hasil
biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran
endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.
3. Apopleksia uteri; pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya
pembuluh darah dalam uterus.
4. Kelainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik dan gangguan dalam
mekanisme pembekuan darah.

Perdarahan anovulatoar
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan
menurunnya kadar estrogen dibawah tingkat tertentu, timbul perdarahan yang
kadang-kadang bersifat siklis, kadang-kadang tidak teratur sama sekali.
Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut-pautnya dengan jumlah folikel yang pada suatu
waktu fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum
mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel-folikel baru. Endometrium
dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus, dan dari endometrium yang mula-mula
proliferatif dapat terjadi endometrium bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran itu
dijumpai pada sediaan yang diperoleh dengan kerokan, dapat diambil kesimpulan
bahwa perdarahan bersifat anovulatoar.
Walaupun perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap waktu dalam
kehidupan menstrual seorang wanita, tapi paling sering pada masa pubertas dan
masa premenopause. Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali
dan ada harapan bahwa lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi
ovulatoar, pada seorang wanita dewasa terutama dalam masa premenopasue dengan
perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk menentukan ada tidaknya
tumor ganas.
Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan
penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang
menahun, tumor-tumor ovarium dan sebagainya. Disamping itu stress dan pemberian
obat penenang juga dapat menyebabkan perdarahan anovulatoar yang bisanya
bersifat sementara.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan umum dinilai adanya hipo/hipertiroid dan gangguan
homeostasis seperti ptekie, selain itu perlu diperhatikan tanda-tanda yang menunjuk
kearah kemungkinan penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit menahun dan
lain-lain.
Pada pemeriksaan ginekologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainan-
kelainan organik, yang menyebabkan perdarahan abnormal (polip, ulkus, tumor,
kehamilan terganggu).

E. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah biopsi endometrium
(pada wanita yang sudah menikah), laboratorium darah dan hemostasis, USG,
serta radio immuno assay
Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap harus dilakukan dalam pemeriksaan
pasien. Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya penyakit
sistemik, maka penyelidikan lebih jauh mungkin diperlukan. Abnormalitas pada
pemeriksaan pelvis harus diperiksa dengan USG dan laparoskopi jika diperlukan.
Perdarahan siklik (reguler) didahului oleh tanda premenstruasi (mastalgia, kenaikan
berat badan karena meningkatnya cairan tubuh, perubahan mood, atau kram
abdomen ) lebih cenderung bersifat ovulatori. Sedangkan, perdarahan lama yang
terjadi dengan interval tidak teratur setelah mengalami amenore berbulan bulan,
kemungkinan bersifat anovulatori.
Peningkatan suhu basal tubuh ( 0,3 0,6 C ), peningkatan kadar progesteron serum
( > 3 ng/ ml ) dan atau perubahan sekretorik pada endometrium yang terlihat pada
biopsi yang dilakukan saat onset perdarahan, semuannya merupakan bukti ovulasi.
Pemeriksaan penunjang:
1) Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid , dan kadar HCG, FSH,
LH, Prolaktin dan androgen serum jika ada indikasi atau skrining gangguan
perdarahan jika ada tampilan yang mengarah kesana.
2) Deteksi patologi endometrium melalui (a) dilatasi dan kuretase dan (b)
histeroskopi. Wanita tua dengan gangguan menstruasi, wanita muda dengan
perdarahan tidak teratur atau wanita muda ( < 40 tahun ) yang gagal berespon
terhadap pengobatan harus menjalani sejumlah pemeriksaan endometrium.
Penyakit organik traktus genitalia mungkin terlewatkan bahkan saat kuretase.
Maka penting untuk melakukan kuretase ulang dan investigasi lain yang
sesuai pada seluruh kasus perdarahan uterus abnormal berulang atau berat.
Pada wanita yang memerlukan investigasi, histeroskopi lebih sensitif
dibandingkan dilatasi dan kuretase dalam mendeteksi abnormalitas
endometrium.
3) Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang tidak berhasil dalam
uji coba terapeutik.
4) Pemeriksaan abdomen
Inspeksi & palpasi misalnya menunjukkan kehamilan / iritasi peritoneum.
Uterus yang membesar menandakan adanya kehamilan ektopik maupun
missed abortion, uterus yang lebih besar (dari ukuran kehamilan bila dilihat
dari HPHT) kemungkinan menandakan kehamilan mola, kehamilan ganda /
kehamilan dalam suatu uterus fibroid.
5) Pemeriksaan pelvis
Spekulum digunakan untuk memeriksa kuantitas darah & sumber
perdarahan, laserasi vagina, lesi servik, perdarahan ostium uteri, benda asing.
Bimanual digunakan untuk pemeriksaan patologis.
6) Data Diagnostik Tambahan
a. Biopsi endometrium atau kuretase yang dapat memberikan suatu
diagnosis histologi spesifik
b. Biopsi vulva, vagina atau serviks, lesi harus dibiopsi kecuali jika lesi
khas untuk penyakit trofoblastik metastatik dan dapat berdarah hebat
bila dibiopsi.
c. Cairan serviks untuk perwarnaan gram terutama jika dicurigai
adanya infeksi.
d. Tes kehamilan terhadap hCG. Tes positif kuat mengesankan adanya
jaringan trofoblastik baik intra maupun ekstrauterin.
e. Determinasi serangkaian hematokrit.
f. Tes koagulasi dapat dilakukan bila dicurigai adanya kelainan
koagulasi.
g. Tes fungsi tiroid dapat diindikasikan sewaktu evaluasi lanjut

F. Penatalaksaaan
Tujuan penanganan perdarahan uterus disfungsional adalah untuk mengontrol
perdarahan yang keluar, mencegah komplikasi, memperbaiki keadaan umum pasien,
memelihara fertilitas dan menginduksi ovulasi bagi pasien yang menginginkan anak
Terkadang pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak.
Sehingga penderita harus bed rest dan diberi transfusi darah. Pada usia premenars,
pengobatan hormonal perlu bila tidak dijumpai kelainan organik maupun kelainan
darah, gangguan terjadi selama 6 bulan atau 2 tahun setelah menarche belum
dijumpai siklus haid yang berovulasi, perdarahan yang terjadi sampai mebuat
keadaan umum memburuk.
Setelah pemeriksaan ginekologik menunjukkan bahwa perdarahan berasal
dari uterus dan tidak ada abortus inkomplitus, perdarahan untuk sementara waktu
dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat diberikan :
a. Estrogen dosis tinggi, supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan
berhenti. Dapat diberikan estradiol dipropionat 2,5mg atau estradiol benzoat 1,5mg
secara intramuskular. Kekurangan terapi ini adalah setelah suntikan dihentikan,
perdarah timbul lagi.
b. Progesteron, dengan pertimbangan bahwa sebagian besar perdarahan
fungsional bersifat anovulatoar, sehingga pemberian progesteron mengimbangi
pengaruh estrogen terhadap endometrium. Dapat diberikan kaproas hidroksi-
progesteron 125mg, secara intamuskular atau dapat diberikan peroral sehari
norethindrone 15mg atau medroksi-progesteron asetat (provera) 10mg, yang dapat
diulangi. Terapi ini berguna pada wanita masa puberas.
Androgen berefek baik terhadap perdarahan disebabkan oleh hiperplasia
endomentirum. Terapi ini tidak boleh diberikan terlalu lama, karena bahaya virilisasi.
Dapat diberikan testosteron propionat 50 mg intramuskular yang dapat diulangi 6
jam kemudian. Pemberian metiltestosteron peroral kurang dapat efeknya. Androgen
berguna pada perdarahan disfungsional berulang, dapat diberikan metil testosteron 5
mg sehari. Erapi oral lebih baik dari pada suntikan, dengan pedoman pemberian
dosis sekecil-kecilnya dan sependek mungkin.
Kecuali pada masa pubertas, terapi paling baik adalah dilatase kuretae. Tindakan ini
penting untuk diagnosis dan terapi, agar perdarahan tidak berulang. Bila ada
penyakit lain maka harus ditangani pula.
Apabila setelah dilakukan kerokan perdarahan disfungsional timbul lagi, dapat
diusahakan terapi hormonal. Pemberian estrogen saja kurang bermanfaat karena
sebagian besar perdarahan disfungsional disebabkan oleh hiperestrenisme.
Pemberian progesteron saja berguna apabila produksi estrogen secara endogen
cukup. Dalam hubungan hal-hal tersebut diatas, pemberian estrogen dan progesteron
dalam kombinasi dapat dianjurkan, untuk keperluan ini pil-pil kontrasepsi dapat
digunakan. Terapi ini dpat dilakukan mulai hari ke-5 perdrahan terus untuk 21 hari.
Dapat pula diberikan progeseteron untuk 7 hari, mulai hari ke ke-21 siklus haid.
Pil kontrasepsi dapat menekan pertumbuhan endometrium, mengontrol sifat
perdarahan, menurunkan perdarahan terus-menerus dan menurunkan resiko anemia
defesiensi besi3.
Bila setelah dialakukan kerokan masih timbul perdarahan disfungsional, dapat
diberikan terapi hormonal. Pemberian kombinasi estrogen dan progestron, seperti
pemberian pil kontrasepsi dapat digunakan. Terapi ini dapat dilakukan mulai hari ke
5 perdarahan sampai 21 hari. Dapat diberikan progesteron untuk 7 hari, mulai hari ke
21 siklus haid.,
Sebagai tindakan terakhir pada wanita dengan peredarahan disfungsional terus-
menerus (meski telah kuretase) adala histerektomi.
Setelah menegakkan diagnosa dan setelah menyingkirkan berbagai kemungkinan
kelainan organ, teryata tidak ditemukan penyakit lainnya, maka langkah selanjutnya
adalah melakukan prinsip-prinsip pengobatan sebagai berikut:
1. Menghentikan perdarahan.
2. Mengatur menstruasi agar kembali normal
3. Transfusi jika kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 8 gr%.
PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSI YANG ANOVULATOIR
Pil kontrasepsi oral digunakan untuk mengatur siklus haid dan kontrasepsi.
Pada penderita dengan siklus haid tidak teratur akibat anovulasi kronik (oligo
ovulasi), pemberian pil kontrasepsi mencegah resiko yang berkaitan dengan
stimulasi estrogen berkepanjangan terhadap endometrium yang tidak diimbangi
dengan progesteron (unopposed estrogen stimulation of the endometrium). Pil
kontrasepsi secara efektif dapat mengendalikan perdarahan anovulatoir pada
penderita pre dan perimenopause. Bila terdapat kontraindikasi pemberian pil
kontrasepsi ( perokok berat atau resiko tromboflebitis) maka dapat diberikan terapi
dengan progestin secara siklis selama 5 12 hari setiap bulan sebagai alternatif.
PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSI OVULATOIR
Terapi medikamentosa untuk kasus menoragia terutama adalah NSAID (asam
mefenamat) dan AKDR-levonorgesterel (Mirena)
Efektivitas asam mefenamat, pil kontrasepsi, naproxen, danazol terhadap menoragia
adalah setara.
Efek samping dan harga dari androgen (Danazol atau GnRH agonis)
membatasi penggunaannya bagi kasus menoragia, namun obat-obat ini dapat
digunakan dalam jangka pendek untuk menipiskan endometrium sebelum dikerjakan
tindakan ablasi endometrium.
Obat antifibrinolitik secara bermakna mengurangi jumlah perdarahan, namun
obat ini jarang digunakan dengan alasan yang menyangkut keamanan ( potensi
menyebabkan tromboemboli).

G. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, agama dan alamat, serta data penanggung jawab
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakit klien merasa nyeri pada daerah
perut & terasa ada massa di daerah abdomen, menstruasi yg tidak berhenti-
henti.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang Keluhan yang dirasakan klien adalah
nyeri pada daerah abdomen bawah, ada pembengkakan pada
daerah
perut, menstruasi yang tidak berhenti, rasa mual dan
muntah.
b. Riwayat kesehatan keluarga kaji riwayat keluarga dlm kelainan
ginekologi
4. Riwayat kehamilan dan persalinan Dengan kehamilan dan
persalinan/tidak
5. Riwayat menstruasi kadang-kadang terjadi digumenorhea dan bahkan sampai
amenorhea. menarche, lama, siklus, jumlah, warna dan bau
6. Pemeriksaan Fisik Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah
secara sistematis.
a. Abdomen Nyeri tekan pada abdomen, Teraba massa pada
abdomen.
b. Ekstremitas Nyeri panggul saat beraktivitas, Tidak ada kelemahan.
c. Eliminasi, urinasi Adanya konstipasi, Susah BAK
7. Data Sosial Ekonomi kaji golongan masyarakat dan tingkat umur, baik
sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
8. Data Psikologis Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita,
dimana ovarium sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi dari ovarium
tersebut sementara pada klien dengan perdarahan abnormal pervaginam hal
ini akan mempengaruhi mental klien yang ingin hamil
9. Pola kebiasaan Sehari-hari Biasanya klien mengalami gangguan dalam aktivitas,
dan tidur karena merasa nyeri

10. Pemeriksaan Penunjang


a. Data laboratorium pemeriksaan darah lengkap (NB, HT, SDP)
b. Pemeriksaan fisiki ada tidaknya benjolan dan ukuran benjolan

B. DIAGNOSA
1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan otot, system saraf &
gangguan sirkulasi darah
2. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan
pervaginam berlebihan
3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit,
prognosis dan kebutuhan pengobatan
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
kebutuhan dan suplai oksigen

C. Nursing Care Plan


1. Nyeri akut b.d agen injuri fisik
Definisi :
Yaitu sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman
emosional yang muncul secara aktual/ potensial kerusakan jaringan
menggambarkan adanya kerusakan, intensitasnya dari ringan sampai berat
yang dapat diprediksi dan durasi kurang dari 6 bulan.

NOC
Setelah dilakukan perawatan 1 x 24 jam klien mampu mencapai level
nyaman, dengan indikotor:
1. Klien mampu melaporkan secara fisik sehat
2. Klien dapat mengontrol nyeri
3. Pesien melaporkan secara psikologis baik
4. Dapat mengekspresikan puas dengan fisiknya
5. Mengekspresikan puas dengan hubungan sosial
6. Mengekspresikan puas secara spiritual
7. Melaporkan puas dengan kemandiriannya
8. Puas terhadap kemampuan mengontrol nyeri

2. Risiko infeksi
Definisi :
Keadaan dimana terjadi peningkatan resiko terpapar mikroorganisme
pathogen.

NOC
Selama perawatan dan proses penyembuhan diharapkan pasien tidak
mengalami infeksi, dengan indikator:
Klien mampu mencegah status infeksi
Tidak mengalami nyeri saat berkemih
Tidak demam
Tidak menggigil/ kedinginan
Tidak mengalami gangguan kognitif

Intervensi :
Observasi tanda-tanda infeksi
Monitor dan catat pemeriksaan terutama leukosit
Lakukan semua tindakan invasive perawatan luka
Perawatan alat medis invasive dengan prinsip steril
Beri penjelasan pada klien dan keluarga cara pengontrolan
Infeksi termasuk cuci tangan, faktor resiko, cara mencegah infeksi
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotic

3. Resiko kekurangan volume cairan


Definisi :
Resiko mengalami dehidrasi vaskuler, seluler dan intrasel
Faktor resiko :
Faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan (status
hipermetabolik)
Pengobatan deuritik
Kehilangan cairan melalui jalur abnormal
Kurangnya pengetahuan tentang volume cairan
Banyaknya kehilangan cairan melalui jalur normal
Usia lanjut
NOC :
Setelah menjalani perawatan selama di rumah sakit, diharapkan Cairan
intrasel dan ekstrasel dalam tubuh klien seimbang.
Dengan kriteria hasil :
Keseimbangan cairan
TD
Tekanan Arteri rata-rata IER.
Tekanan vena sentral IER.
BB stabil.
Tidak ada edema, peridetal.
Tidak terjadi kebisingan
Hidrasi kulit
Intervensi :
Manajemen elektrolit
Monitor elektrolit sebelum abnormal
Monitor manifestasi keseimbangan cairan
Berikan cairan
Pertahankan keakuratan intake dan output
Berikan elektrolit tindakan tambahan (oral, NGT, 10) sesuai resep
Ajarkan pasien dengan keluarga tentang tipe, penyebab, treamorit
dalam keseimbangan cairan.
Manajemen cairan
Naikkan masukan obat oral
Cairan intravena
Berikan cairan IV temperatur ruang
Monitor