Anda di halaman 1dari 12

Pengertian Perjanjian.

1. Menurut Kitab Undang Undang Hukum Perdata


Perjanjian menurut Pasal 1313 Kitab Undang Undang Hukum Perdata berbunyi : Suatu
Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang lain atau lebih.

Ketentua pasal ini sebenarnya kurang begitu memuaskan, karena ada beberapa kelemahan.
Kelemahan- kelemahan itu adalah seperti diuraikan di bawah ini:

a) Hanya menyangkut sepihak saja, hal ini diketahui dari perumusan, satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya.

b) Kata perbuatan mencakup juga tanpa consensus

c) Pengertian perjanjian terlalu luas

d) Tanpa menyebut tujuan

e) Ada bentuk tertentu, lisan dan tulisan

f) Ada syarat- syarat tertentu sebagai isi perjanjian, seperti disebutkan di bawah ini:

1. syarat ada persetuuan kehendak

2. syarat kecakapan pihak- pihak

3. ada hal tertentu

4. ada kausa yang halal

2. Menurut Rutten
Perjanjian adalah perbuatan hokum yang terjadi sesuai dengan formalitas-formalitas dari
peraturan hukum yang ada, tergantung dari persesuaian pernyataan kehendak dua atau lebih
orang-orang yang ditujukan untuk timbulnya akibat hukum demi kepentingan salah satu pihak
atas beban pihak lain atau demi kepentingan dan atas beban masing-masing pihak secara timbal
balik.
3. Menurut adat
Perjanjian menurut adat disini adalah perjanjian dimana pemilik rumah memberikan ijin
kepada orang lain untuk mempergunakan rumahnya sebagai tempat kediaman dengan
pembayaran sewa dibelakang (atau juga dapat terjadi pembayaran dimuka).

Pengertian perjanjian internasional, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Konvensi Wina 1969, perjanjian internasional adalah perjanjian yang


diadakan oleh dua negara atau lebih yang bertujuan untu mengadakan
akibat-akibat hukum tertentu.
2. Konvensi Wina 1986, Perjanjian internasional sebagai persetujuan
internasional yang diatur menurut hukum internasional dan ditanda tangani
dalam bentuk tertulis antara satu negara atau lebih dan antara satu atau
lebih organisasi internasional, antarorganisasi internasional.
3. UU No 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, perjanjian
internasional adalah perjanjian dalam bentuk dan sebutan apapun yang
diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh pemerintah
RI dengan satu atau lebih negara, organisasi internasional atau subjek
hukum internasional lainnya, serta menimbulkan hak dan kewajiban pada
pemerintah RI yang bersifat hukum publik.
4. UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, perjanjian
internasional adalah perjanjian dalam bentukdan nama tertentu yang diatur
dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan
hak dan kewajiban di bidang hukum publik.
5. Oppenheimer-Lauterpact, Perjanjian internasional adalah suatu persetujuan
antarnegara yang menimbulkan hak dan kewajiban diantara pihak-pihak
yang mengadakan.
6. Dr. B. Schwarzenberger, Perjanjian internasional adalah persetujuan antara
subjek hukum internasional yang menimbulkan kewajiban-kewajiban yang
mengikat dalam hukum internasional, dapat berbentuk bilateral maupun
multilateral. Adapun subjek hukum yang dimaksud adalah lembaga-
lembaga internasional dan negara-negara.
7. Prof. Dr. Muchtar Kusumaatmaja, S.H. LLM, Perjanjian internasional
adalah perjanjian yang diadakan antarbangsa yang bertujuan untuk
menciptakan akibat-akibat tertentu.

Kerjasama internasional secara hukum diwujudkan dalam bentuk perjanjian internasional, yaitu
negara-negara dalam melaksanakan hubungan atau kerjasamanya membuat perjanjian
internasional. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, disimpulkan bahwa perjanjian
internasional adalah perjanjian yang dilakukan oleh subjek-subjek hukum internasional dan
mempunyai tujuan untuk melahirkan akibat-akibat hukum tertentu.

Perjanjian antarbangsa atau yang sering disebut sebagai perjanjian internasional merupakan
persetujuan internasional yang diatur oleh hubungan internasional serta ditandatangani dalam
bentuk tertulis. Contoh perjanjian internasional diantaranya adalah antarnegara atau lebih,
antarorganisasi internasional atau lebih, dan antarorganisasi internasional.

Perjanjian internasional pada hakekatnya merupakan suatu tujuan atau agreement. Bentuk
perjanjian internasional yang dilakuka antarbangsa maupun antarorganisasi internasional ini
tidak harus berbentuk tertulis. Dalam perjanjian internasional ini ada hukum yang mengatur
perjanjian tersebut. Dalam perjanjian internasional terdapat istilah subjek dan obyek. Yang
dimaksud subjek perjanjian internasional adalah semua subjek hukum internasional, terutama
negara dan organisasi internasional. Sedangkan yang dimaksud dengan obyek hukum
internasional adalah semua kepentingan yang menyangkut kehidupan masyarakat internasional,
terutama kepentingan ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

a. Perjanjian Internasional Bilateral, yaitu Perjanjian Internasional yang jumlah peserta atau
pihak-pihak yang terikat di dalamnya terdiri atas dua subjek hukum internasional saja (negara
dan / atau organisasi internasional, dsb). Kaidah hukum yang lahir dari perjanjian bilateral
bersifat khusus dan bercorak perjanjian tertutup (closed treaty), artinya kedua pihak harus
tunduk secara penuh atau secara keseluruhan terhadap semua isi atau pasal dari perjanjian
tersebut atau sama sekali tidak mau tunduk sehingga perjanjian tersebut tidak akan pernah
mengikat dan berlaku sebagai hukum positif, serta melahirkan kaidah-kaidah hukum yang
berlaku hanyalah bagi kedua pihak yang bersangkutan. Pihak ketiga, walaupun mempunyai
kepentingan yang sama baik terhadap kedua pihak atau terhadap salah satu pihak, tidak bisa
masuk atau ikut menjadi pihak ke dalam perjanjian tersebut.
b. Perjanjian Internasional Multilateral, yaitu Perjanjian Internasional yang peserta atau
pihak-pihak yang terikat di dalam perjanjian itu lebih dari dua subjek hukum
internasional. Sifat kaidah hukum yang dilahirkan perjanjian multilateral bisa bersifat khusus
dan ada pula yang bersifat umum, bergantung pada corak perjanjian multilateral itu sendiri.
Corak perjanjian multilateral yang bersifat khusus adalah tertutup, mengatur hal-hal yang
berkenaan dengan masalah yang khusus menyangkut kepentingan pihak-pihak yang
mengadakan atau yang terikat dalam perjanjian tersebut. Maka dari segi sifatnya yang khusus
tersebut, perjanjian multilateral sesungguhnya sama dengan perjanjian bilateral, yang
membedakan hanya dari segi jumlah pesertanya semata. Sedangkan perjanjian multilateral
yang bersifat umum, memiliki corak terbuka. Maksudnya, isi atau pokok masalah yang diatur
dalam perjanjian itu tidak saja bersangkut-paut dengan kepentingan para pihak atau subjek
hukum internasional yang ikut serta dalam merumuskan naskah perjanjian tersebut, tetapi juga
kepentingan dari pihak lain atau pihak ketiga. Dalam konteks negara, pihak lain atau pihak
ketiga ini mungkin bisa menyangkut seluruh negara di dunia, bisa sebagian negara, bahkan bisa
jadi hanya beberapa negara saja. Dalam kenyatannya, perjanjian-perjanjian multilateral
semacam itu memang membuka diri bagi pihak ketiga untuk ikut serta sebagai pihak di dalam
perjanjian tersebut. Oleh karenanya, perjanjian multilateral yang terbuka ini cenderung
berkembang menjadi kaidah hukum internasional yang berlaku secara umum atau universal.

1. 1. Standar Kontrak

Upaya manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan bisnis, diantaranya adalah


mewujudkannya dalam bentuk kontrak bisnis. Dalam bisnis, kontrak merupakan bentuk
perjanjian yang dibuat secara tertulis yang didasarkan kepada kebutuhan bisnis. Kontrak atau
contracts (dalam bahasa Inggris) dan overeenskomst (dalam Bahasa Belanda) dalam pengertian
yang lebih luas kontrak sering dinamakan juga dengan istilah perjanjian.[1]
Istilah kontrak atau perjanjian dalam sistem hukum nasional memiliki pengertian yang
sama, seperti halnya di Belanda tidak dibedakan antara pengertian contract dan
overeenkomst.[2] Kontrak adalah suatu perjanjian (tertulis) antara dua atau lebih orang
(pihak) yang menciptakan hak dan kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan hal
tertentu.[3]
Dalam hukum kontrak sendiri terdapat asas yang dinamakan kebebasan berkontrak. Menurut
Pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dari bunyi pasal tersebut
sangat jelas terkandung asas :
a. Konsensualisme, adalah perjanjian itu telah terjadi jika telah ada konsensus antara pihak-
pihak yang mengadakan kontrak;
b. Kebebasan berkontrak, artinya seseorang bebas untuk mengadakan perjanjian, bebas
mengenai apa yang diperjanjikan, bebas pula menentukan bentuk kontraknya;
c. Pacta Sun Servanda, artinya kontrak itu merupakan Undang-undang bagi para pihak yang
membuatnya (mengikat).[4]
Asas kebebasan berkontrak adalah refleksi dari perkembangan paham pasar bebas yang
dipelopori oleh Adam Smith. Dalam perkembangannya ternyata kebebasan berkontrak dapat
mendatangkan ketidakadilan karena prinsip ini hanya dapat mencapai tujuannya, yaitu
mendatangkan kesejahteraan seoptimal mungkin, bila para pihak memiliki bargaining power
yang seimbang.[5]
Communis opinio doctorum selama ini dengan bertitik tolak pada pasal 1313 KUH Perdata
menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan hukum yang berisi dua (een
tweezijdige rechtshandeling) untuk menimbulkan persesuaian kehendak guna melahirkan
akibat hukum. Yang dimaksud dengan satu perbuatan hukum yang berisi dua ialah penawaran
(aanbod/offer) dan penerimaan (aanvaarding acceptance). Penawaran dan penerimaan itu
masing-masing pada hakekatnya adalah perbuatan hukum. Sedangkan yang dimaksud dengan
perbuatan hukum adalah perbuatan subyek hukum yang didasarkan pada kehendak yang
dinyatakan untuk menimbulkan akibat hukum yang dikehendaki dan diakui oleh hukum.
Berarti masing-masing pihak seyogyanya mempunyai kebebasan kehendak. Itulah sebabnya
Buku III KUH Perdata dikatakan menganut sistem terbuka dan didasarkan pada asas kebebasan
berkontrak.[6]
Tetapi kebebasan kehendak tersebut dalam kenyataanya seringkali didapati salah satu pihak
yang menentukan syarat didalam suatu kontrak, sedangkan pihak lain hanya dapat menerima
atau menolak (misalnya dalam kontrak standar: syarat umum dari bank, syarat penyerahan dari
produsen, dan sebagainya). Tidak dipungkiri bahwa kegiatan bisnis tersebut menjadi latar
belakang tumbuhnya perjanjian baku. Menurut Gras dan Pitlo, latar belakang lahirnya
perjanjian baku antara lain merupakan akibat dari perubahan susunan masyarakat. Masyarakat
sekarang bukan lagi merupakan kumpulan individu seperti pada abad XIX, tetapi merupakan
kumpulan dari sejumlah ikatan kerja sama (organisasi).[7]. Perjanjian baku lazimnya dibuat
oleh organisasi-organisasi poerusahaan. Hal inilah yang membuat perjanjian baku sering telah
distandarisasi isinya oleh pihak-pihak ekonomi kuat, sedangkan pihak lainnya hanya diminta
untuk menerima atau menolak isinya. Apabila debitur menerima isinya pernjanjian tersebut, ia
menandatangani perjanjian tersebut, tetapi apabila ia menolak, perjanjian itu sianggap tidak ada
karena debitur tidak menandatangani perjanjian itu. Disinilah letak kontradiksi antara asas
kebebasan berkontrak dengan pemberlakuan pelaksanaan perjanjian baku.
Untuk itulah perlu adanya penelitian dan pemahaman terhadap hukum kontrak yang meninjau
dasar hukum pemberlakuan perjanjian baku/standard contract dengan mengenyampingkan asas
kebebasan berkontrak.
2. Permasalahan
Dari uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan yaitu apa yang menjadi dasar
berlakunya perjanjian baku/standar kontrak ditinjau dari sudut pengenyampingan asas
kebebsan berkontrak.
3. Metode Penelitian
Dalam penulisan makalah ini metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif,
dimana dipaparkan mengenai dasar hukum pemberlakuan perjanjian baku dengan
mengenyampingkan asas kebebasan berkontrak.

Istilah perjanjian baku berasal dari terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu standard contract.
Standar kontrak merupakan perjanjian yang telah ditentukan dan dituangkan dalam bentuk
formulir. Kontrak ini telah ditentukan secara sepihak oleh salah satu pihak, terutama pihak
ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah. Kontrak baku menurut Munir Fuadi adalah :[8] Suatu
kontrak tertulis yang dibuat oleh hanya salah satu pihak dalam kontrak tersebut, bahkan
seringkali tersebut sudah tercetak (boilerplate) dalam bentuk-bentuk formulir tertentu oleh
salah satu pihak, yang dalam hal ini ketika kontrak tersebut ditandatangani umumnya para
pihak hanya mengisikan data-data informatif tertentu saja dengan sedikit atau tanpa perubahan
dalam klausul-klausulnya dimana para pihak lain dalam kontrak tersebut tidak mempunyai
kesempatan atau hanya sedikit kesempatan untuk menegosiasi atau mengubah klausul-kalusul
yang sudah dibuat oleh salah satu pihak tersebut, sehingga biasanya kontrak baku sangat berat
sebelah.[9] Sedangkan menurut Pareto, suatu transaksi atau aturan adalah sah jika membuat
keadaan seseorang menjadi lebih baik dengan tidak seorangpun dibuat menjadi lebih buruk,
sedangkan menurut ukuran Kaldor-Hicks, suatu transaksi atau aturan sah itu adalah efisien jika
memberikan akibat bagi suatu keuntungan sosial. Maksudnya adalah membuat keadan
seseorang menjadi lebih baik atau mengganti kerugian dalam keadaan yang memeprburuk.[10]
Menurut Treitel, freedom of contract digunakan untuk merujuk kepada dua asas umum
(general principle). Asas umum yang pertama mengemukakan bahwa hukum tidak membatasi
syarat-syarat yang boleh diperjanjikan oleh para pihak: asas tersebut tidak membebaskan
berlakunya syarat-syarat suatu perjanjian hanya karena syarat-syarat perjanjian tersebut kejam
atau tidak adil bagi satu pihak. Jadi ruang lingkup asas kebebasan berkontrak meliputi
kebebasan para pihak untuk menentukan sendiri isi perjanjian yang ingin mereka buat, dan
yang kedua bahwa pada umumnya seseorang menurut hukum tidak dapat dipaksa untuk
memasuki suatu perjnjian. Intinya adalah bahwa kebebasan berkontrak meliputi kebebasan
bagi para pihak untuk menentukan dengan siapa dia ingin atau tidak ingin membuat perjanjian.
[11] Tanpa sepakat dari salah satu pihak yang membuat perjanjian, maka perjanjian yang dibuat
tidak sah. Orang tidak dapat dipaksa untuk memberikan sepakatnya. Sepakat yang diberikan
dengan dipaksa adalah contradictio in terminis. Adanya paksaan menunjukkan tidak adanya
sepakat. Yang mungkin dilakukan oleh pihak lain adalah untuk memberikan pihak kepadanya,
yaitu untuk setuju mengikatkan diri pada perjanjian yang dimaksud atau menolak mengikatkan
diri pada perjanjian yang dimaksud. Dengan akibat transasksi yang diinginkan tidak dapat
dilangsungkan. Inilah yang terjadi dengan berlakunya perjanjian baku di dunia bisnis pada saat
ini.[12]
Namun kebebasan berkontrak diatas tidak dapat berlaku mutlak tanpa batas. Artinya kebebasan
berkontrak tidak tak terbatas.
Dalam melihat pembatasan kebebasan berkontrak terhadap kebolehan pelaksanaan kontrak
baku terdapat dua pendapat yang dikemukaan oleh Treitel yaitu terdapat dua pembatasan. Yang
pertama adalah pembatasan yang dilakukan untuk menekan penyalahgunaan yang disebabkan
oleh karena berlakunya asas kebebasan berkontrak. Misalnya diberlakukannya exemption
clauses (kalusul eksemsi) dalam perjanjian-perjanjian baku. Yang kedua pembatasan kebebasan
berkontrak karena alasan demi kepentingan umum (public interest).[13]
Dari keterangan diatas dapat di ketahui bahwa tidak ada kebebasan berkontrak yang mutlak.
Pemerintah dapat mengatur atau melarang suatu kontrak yang dapat berakibat buruk terhadap
atau merugikan kepentingan masyarakat. Pembatasan-pembatasan terhadap asas kebebasan
berkontrak yang selama ini dikenal dan diakui oleh hukum kontrak sebagaimana telah
diterangkan diatas ternyata telah bertambah dengan pembatasan-pembatasan baru yang
sebelumnya tidak dikenal oleh hukum perjanjian yaitu pembatasan-pembatasan yang
datangnya dari pihak pengadilan dalam rangka pelaksanaan fungsinya selaku pembuat hukum,
dari pihak pembuat peraturan perundang-undangan (legislature) terutama dari pihak
pemerintah, dan dari diperkenalkan dan diberlakukannya perjanjian adhesi atau perjanjian baku
yang timbul dari kebutuhan bisnis.[14]
Di Indonesia kita ketahui pula ada dijumpai tindakan negara yang merupakan campur tangan
terhadap isi perjanjian yang dibuat oleh para pihak. Sebagai contoh yang paling dikenal adalah
yang menyangkut hubungan antara buruh dan majikan/pengusaha.
Tetapi tidak semua tingkat peraturan perundang-undangan dapat membatasi asas kebebasn
berkontrak, namun hanya UU atau Perpu atau peraturan perundan-undagan yang lebih tinggi
saja yang memepunyai kekuatan hukum untuk emmbatsai bekerjanya asas kebebasan
berkontrak.
Bila dikaitkan dengan peraturan yang dikeluarkan yang berkaitan dengan kontrak baku atau
perjanjian standar yang merupakan pembolehan terhadap praktek kontrak baku, maka terdapat
landasan hukum dari berlakunya perjanjian baku yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia,
yaitu :
1. Pasal 6.5. 1.2. dan Pasal 6.5.1.3. NBW Belanda
Isi ketentuan itu adalah sebagai berikut :
Bidang-bidang usaha untuk mana aturan baku diperlukan ditentukan dengan peraturan.
Aturan baku dapat ditetapkan, diubah dan dicabut jika disetujui oleh Menteri kehakiman,
melalui sebuah panitian yasng ditentukan untuk itu. Cara menyusun dan cara bekerja panitia
diatur dengan Undang-undang.
Penetapan, perubahan, dan pencabutan aturan baku hanya mempunyai kekuatan, setelah ada
persetujuan raja dan keputusan raja mengenai hal itu dalam Berita Negara.
Seseorang yang menandatangani atau dengan cara lain mengetahui isi janji baku atau
menerima penunjukkan terhadap syarat umum, terikat kepada janji itu.
Janji baku dapat dibatalkan, jika pihak kreditoir mengetahui atau seharunya mengetahui pihak
kreditur tidak akan menerima perjanjian baku itu jika ia mengetahui isinya.
2. Pasal 2.19 sampai dengan pasal 2.22 prinsip UNIDROIT (Principles of International
Comercial Contract).
Prinsip UNIDROIT merupakan prinsip hukum yang mengatur hak dan kewajiban para pihak
pada saat mereka menerapkan prinsip kebebasan berkontrak karena prinsip kebebasan
berkontrak jika tidak diatur bisa membahayakan pihak yang lemah. Pasal 2.19 Prinsip
UNIDROIT menentukan sebagai berikut :
Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak menggunakan syarat-syarat baku, maka
berlaku aturan-aturan umum tentang pembentukan kontrak dengan tunduk pada pasal 2.20
pasal 2.22.
Syarat-syarat baku merupakan aturan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu untuk digunakan
secara umum dan berulang-ulang oleh salah satu pihak dan secara nyata digunakan tanpa
negosiasi dengan pihak lainnya.
Ketentuan ini mengatur tentang :
a. Tunduknya salah satu pihak terhadap kontrak baku
b. Pengertian kontrak baku.
3. Pasal 2.20 Prinsip UNIDROIT menentukan sebagai berikut :
Suatu persyaratan dalam persyaratan-persyaratan standar yang tidak dapat secara layak
diharapkan oleh suatu pihak, dinyatakan tidak berlaku kecuali pihak tersebut secara tegas
menerimanya.
Untuk menentukan apakah suatu persyaratan memenuhi ciri seperti tersebut diatas akan
bergantung pada isi bahasa, dan penyajiannya.
4. Pasal 2.21 berbunyi :dalam hal timbul suatu pertentangan antara persyaratan-persyaratan
standar dan tidak standar, persyaratan yang disebut terakhir dinyatakan berlaku.
5. Pasal 2.22
Jika kedua belah pihak menggunakan persyaratan-persyaratan standar dan mencapai
kesepakatan, kecuali untuk beberapa persyaratan tertentu, suatu kontrak disimpulkan
berdasarkan perjanjian-perjanjian yang telah disepakati dan persyaratan-persyaratan standar
yang memiliki kesamaan dalam substansi, kecuali suatu pihak sebelumnya telah menyatakan
jelas atau kemudian tanpa penundaan untuk memberitahukannya kepada pihak lain, bahwa hal
tersebut tidak dimaksudkan untuk terikat dengan kontrak tersebut.
6. UU No 10 Tahun 1988 tentang Perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
7. UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Dengan telah dikeluarkannya peraturan-peraturan tersebut diatas menunjukkan bahwa pada
intinya kontrak baku merupakan jenis kontrak yang diperbolehkan dan dibenarkan untuk
dilaksanakan oleh kedua belah pihak karena pada dasarnya dasar hukum pelaksanaan kontrak
baku dibuat untuk melindungi pelaksanaan asas kebebasan berkontrak yang berlebihan dan
untuk kepentingan umum sehingga perjanjian kontrak baku berlaku dan mengikat kedua belah
pihak yang membuatnya.

1. 2. Macam-macam Perjanjian

Jenis jenis Perjanjian

1) Perjanjian timbale balik dan perjanjian sepihak, perjanjian sepihak adalah perjanjian yang
memberikan kewajibannya kepada satu pihak dan hak kepada satu pihak dan hak kepada pihak
lainnya, misalkan hibah.

2) Perjanjian percuma dan perjanjian dengan alas hak yang membebani


3) Perjanjian bernama dan tidak bernama

4) Perjanjiankebendaan dan perjanjian obligatoir

5) Perjanjian konsensual dan perjanjian real

Macam-Macam Perjanjian Internasional


Perjanjian internasional sebagai sumber formal hukum internasional dapat diklasifikasikan
sebagai berikut.

1. Berdasarkan Isinya

Segi politis, seperti pakta pertahanan dan pakta perdamaian.


Segi ekonomi, seperti bantuan ekonomi dan bantuan keuangan.
Segi hukum
Segi batas wilayah
Segi kesehatan.

Contoh :

NATO, ANZUS, dan SEATO


CGI, IMF, dan IBRD

2. Berdasarkan Proses/Tahapan Pembuatannya

Perjanjian bersifat penting yang dibuat melalui proses perundingan,


penandatanganan, dan ratifikasi.
Perjanjian bersifat sederhana yang dibuat melalui dua tahap, yaitu
perundingan dan penandatanganan.

Contoh :

Status kewarganegaraan Indonesia-RRC, ekstradisi.


Laut teritorial, batas alam daratan.
Masalah karantina, penanggulangan wabah penyakit AIDS.

3. Berdasarkan Subjeknya

Perjanjian antarnegara yang dilakukan oleh banyak negara yang


merupakan subjek hukum internasional.
Perjanjian internasional antara negara dan subjek hukum internasional
lainnya.
Perjanjian antarsesama subjek hukum internasional selain negara, yaitu
organisasi internasional organisasi internasional lainnya.

Contoh :
Perjanjian antar organisasi internasional Tahta suci (Vatikan) dengan
organisasi MEE.
Kerjasama ASEAN dan MEE.

4. Berdasarkan Pihak-pihak yang Terlibat.

Perjanjian bilateral, adalah perjanjian yang diadakan oleh dua pihak.


Bersifat khusus (treaty contact) karena hanya mengatur hal-hal yang
menyangkut kepentingan kedua negara saja. Perjanjian ini bersifat tertutup,
yaitu menutup kemungkinan bagi pihak lain untuk turut dalam perjanjian
tersebut.
Perjanjian Multilateral, adalah perjanjian yang diadakan oleh banyak
pihak, tidak hanya mengatur kepentingan pihak yang terlibat dalam
perjanjian, tetapi juga mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan
umum dan bersifat terbuka yaitu memberi kesempatan bagi negara lain
untuk turut serta dalam perjanjian tersebut, sehingga perjanjian ini sering
disebut law making treaties.

Contoh :

Perjanjian antara Indonesia dengan Filipina tentang pemberantasan dan


penyelundupan dan bajak laut, perjanjian Indonesia dengan RRC pada
tahun 1955 tentang dwi kewarganegaraan, perjanjian ekstradisi antara
Indonesia dan Singapura yang ditandatangani pada tanggal 27 April 2007
di Tampaksiring, Bali.
Konvensi hukum laut tahun 1958 (tentang Laut teritorial, Zona
Bersebelahan, Zona Ekonomi Esklusif, dan Landas Benua), konvensi Wina
tahun 1961 (tentang hubungan diplomatik) dan konvensi Jenewa tahun
1949 (tentang perlindungan korban perang).
Konvensi hukum laut (tahun 1958), Konvensi Wina (tahun 1961) tentang
hubungan diplomatik, konvensi Jenewa (tahun 1949) tentang Perlindungan
Korban Perang.

5. Berdasarkan Fungsinya

Law Making Treaties / perjanjian yang membentuk hukum, adalah suatu


perjanjian yang meletakkan ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah
hukum bagi masyarakat internasional secara keseluruhan (bersifat
multilateral).
Treaty contract / perjanjian yang bersifat khusus, adalah perjanjian yang
menimbulkan hak dan kewajiban, yang hanya mengikat bagi negara-negara
yang mengadakan perjanjian saja (perjanjian bilateral).

Contoh :

Perjanjian Indonesia dan RRC tentang dwikewarganegaraan, akibat-akibat yang timbul dalam
perjanjian tersebut hanya mengikat dua negara saja yaitu Indonesia dan RRC.
Perjanjian internasional menjadi hukum terpenting bagi hukum internasional positif, karena
lebih menjamin kepastian hukum. Di dalam perjanjian internasional diatur juga hal-hal yang
menyangkut hak dan kewajiban antara subjek-subjek hukum internasional (antarnegara).
Kedudukan perjanjian internasional dianggap sangat penting karena ada beberapa alasan,
diantaranya sebagai berikut :

1. Perjanjian internasional lebih menjamin kepastian hukum, sebab perjanjian internasional


diadakan secara tertulis.

2. Perjanjian internasional mengatur masalah-masalah kepentingan bersama diantara para


subjek hukum internasional.

1. 3. Syarat Sahnya Perjanjian

Perjanjian yang sah artinya perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh
undang- undang, sehingga ia diakui oleh hukum (legally concluded contract). Menurut
ketentuan pasal 1320 KUHPdt, syarat- syarat sah perjanjian adalah sebagai berikut:

1) Ada persetujuan kehendak antara pihak- pihak yang membuat perjanjian (consensus)

2) Ada kecakapan pihak- pihak untuk membuat perjanjian (capacity)

3) Ada suatu hal tertentu (a certain subject matter)

4) Ada suatu sebab yang halal (legal cause)

Perjanjian yang sah artinya perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh
undang- undang, sehingga ia diakui oleh hukum (legally concluded contract). Menurut
ketentuan pasal 1320 KUHPdt, syarat- syarat sah perjanjian adalah sebagai berikut:

1) Ada persetujuan kehendak antara pihak- pihak yang membuat perjanjian (consensus)

2) Ada kecakapan pihak- pihak untuk membuat perjanjian (capacity)

3) Ada suatu hal tertentu (a certain subject matter)

4) Ada suatu sebab yang halal (legal cause)

Berdasarkan ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, suatu perjanjian
dinyatakan sah apabila telah memenuhi 4 (empat) syarat komulatif. Keempat syarat untuk
sahnya perjanjian tersebut antara lain :

1. Sepakat diantara mereka yang mengikatkan diri. Artinya para pihak yang
membuat perjanjian telah sepakat atau setuju mengenai hal-hal pokok atau
materi yang diperjanjikan. Dan kesepakatan itu dianggap tidak ada apabila
diberikan karena kekeliruan, kekhilafan, paksaan ataupun penipuan.
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Arti kata kecakapan yang
dimaksud dalam hal ini adalah bahwa para pihak telah dinyatakan dewasa
oleh hukum, yakni sesuai dengan ketentuan KUHPerdata, mereka yang
telah berusia 21 tahun, sudah atau pernah menikah. Cakap juga berarti
orang yang sudah dewasa, sehat akal pikiran, dan tidak dilarang oleh suatu
peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu.
Dan orang-orang yang dianggap tidak cakap untuk melakukan perbuatan
hukum yaitu : orang-orang yang belum dewasa, menurut Pasal 1330
KUHPerdata jo. Pasal 47 UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan;
orang-orang yang ditaruh dibawah pengampuan, menurut Pasal 1330 jo.
Pasal 433 KUPerdata; serta orang-orang yang dilarang oleh undang-
undang untuk melakukan perbuatan hukum tertentu seperti orang yang
telah dinyatakan pailit oleh pengadilan.
3. Suatu Hal Tertentu. Artinya, dalam membuat perjanjian, apa yang
diperjanjikan harus jelas sehingga hak dan kewajiban para pihak bisa
ditetapkan.
4. Suatu Sebab Yang Halal. Artinya, suatu perjanjian harus berdasarkan
sebab yang halal yang tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 1337
Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yaitu : Tidak bertentangan dengan
ketertiban umum; Tidak bertentangan dengan kesusilaan; dan Tidak
bertentangan dengan undang-undang.

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, syarat kesatu dan kedua dinamakan syarat subjektif,
karena berbicara mengenai subjek yang mengadakan perjanjian, sedangkan ketiga dan keempat
dinamakan syarat objektif, karena berbicara mengenai objek yang diperjanjikan dalam sebuah
perjanjian. Dalam perjanjian bilamana syarat-syarat subjektif tidak terpenuhi maka
perjanjiannya dapat dibatalkan oleh hakim atas permintaan pihak yang tidak cakap atau yang
memberikan kesepakatan secara tidak bebas. Selama tidak dibatalkan, perjanjian tersebut tetap
mengikat. Sedangkan, bilamana syarat-syarat objektif yang tidak dipenuhi maka perjanjiannya
batal demi hukum. Artinya batal demi hukum bahwa, dari semula dianggap tidak pernah ada
perjanjian sehingga tidak ada dasar untuk saling menuntut di pengadilan.

1. 4. Saat Lahirnya Perjanjian

Saat Lahirnya Perjanjian


Menetapkan kapan saat lahirnya perjanjian mempunyai arti penting bagi :
a) kesempatan penarikan kembali penawaran;
b) penentuan resiko;
c) saat mulai dihitungnya jangka waktu kadaluwarsa;
d) menentukan tempat terjadinya perjanjian.

Berdasarkan Pasal 1320 jo 1338 ayat (1) BW/KUHPerdata dikenal adanya asas konsensual,
yang dimaksud adalah bahwa perjanjian/kontrak lahir pada saat terjadinya konsensus/sepakat
dari para pihak pembuat kontrak terhadap obyek yang diperjanjikan.
Pada umumnya perjanjian yang diatur dalam BW bersifat konsensual. Sedang yang dimaksud
konsensus/sepakat adalah pertemuan kehendak atau persesuaian kehendak antara para pihak di
dalam kontrak. Seorang dikatakan memberikan persetujuannya/kesepakatannya (toestemming),
jika ia memang menghendaki apa yang disepakati.
Mariam Darus Badrulzaman melukiskan pengertian sepakat sebagai pernyataan kehendak yang
disetujui (overeenstemende wilsverklaring) antar pihak-pihak. Pernyataan pihak yang
menawarkan dinamakan tawaran (offerte). Pernyataan pihak yang menerima penawaran
dinamakan akseptasi (acceptatie).
Jadi pertemuan kehendak dari pihak yang menawarkan dan kehendak dari pihak yang akeptasi
itulah yang disebut sepakat dan itu yang menimbulkan/melahirkan kontrak/perjanjian.

Ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk menentukan saat lahirnya kontrak yaitu:
a. Teori Pernyataan (Uitings Theorie)
Menurut teori ini, kontrak telah ada/lahir pada saat atas suatu penawaran telah ditulis surat
jawaban penerimaan. Dengan kata lain kontrak itu ada pada saat pihak lain menyatakan
penerimaan/akseptasinya.
b. Teori Pengiriman (Verzending Theori).
Menurut teori ini saat pengiriman jawaban akseptasi adalah saat lahirnya kontrak. Tanggal cap
pos dapat dipakai sebagai patokan tanggal lahirnya kontrak.
c. Teori Pengetahuan (Vernemingstheorie).
Menurut teori ini saat lahirnya kontrak adalah pada saat jawaban akseptasi diketahui isinya
oleh pihak yang menawarkan.
d. Teori penerimaan (Ontvangtheorie).
Menurut teori ini saat lahirnya kontrak adalah pada saat diterimanya jawaban, tak peduli
apakah surat tersebut dibuka atau dibiarkan tidak dibuka. Yang pokok adalah saat surat tersebut
sampai pada alamat si penerima surat itulah yang dipakai sebagai patokan saat lahirnya
kontrak.

1. 5. Pembatalan dan Pelaksanaan Suatu Perjanjian

BATALNYA PERJANJIAN :

1. Batal demi hukum : suatu perjanjian menjadi batal demi hukum apabila
syarat objektif bagi sahnya suatu perjanjian tidak terpenuhi. Jadi secara
yuridis perjanjian tersebut dianggap tidak pernah ada.
2. Atas permintaan salah satu pihak : pembatalan dimintakan oleh salah satu
pihak misalnya dalam hal ada salah satu pihak yang tidak cakap menurut
hukum. Harus ada gugatan kepada Hakim. Pihak lainnya dapat
menyangkal hal itu, maka harus ada pembuktian.
o UU memberikan kebebasan kepada para pihak apakah akan
menghendaki pembatalan atau tidak oleh UU pembatalan tersebut
dibatas sampai 5 thn, diatur oleh pasal 1454 KUHPer tetapi
pembatasan waktu tersebut tidak berlaku bagi pembatalan yang
diajukan selaku pembelaan atau tangkisan.

*Asas konsensus yang terdapat dalam pasal 1320 KUHPer tidak berlaku secara keseluruhan
tetapi ada pengecualiannya. Undang-undang menetapkan suatu formalitas untuk perjanjian
tertentu, misalnya hibah benda tak bergerak, maka harus dibuatkan dengan akta notaris,
perjanjian perdamaian harus dibuat tertulis, dll. Apabila perjanjian dengan diharuskan dibuat
dengan bentuk tertentu tersebut tidak dipenuhi maka perjanjian itu BATAL DEMI HUKUM.

Pelaksanaan

Itikad baik dalam pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata merupakan ukuran objektif untuk menilai
pelaksanaan perjanjian, artinya pelaksanaan perjanjian harus mengindahkan norma-norma
kepatutan dan kesusilaan. Salah satunya untuk memperoleh hak milik ialah jual beli.
Pelaksanaan perjanjian ialah pemenuhan hak dan kewajiban yang telah di perjanjikan oleh
pihak-pihak supaya perjanjian itu mencapai tujuannya.
Jadi perjanjian itu mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa. Perjanjian yang telah di buat
secara sah mengikat pihak-pihak, perjanjian tersebut tidak boleh di atur atau dibatalkan secara
sepihak saja.

Referensi:

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/04/bab-iii-jukum-perjanjian/

http://www.akta-online.com/main/index.php?view=article&catid=46:mata-kuliah-
&id=251:hukum-perikatan-aamp-persetujuan-khusus&option=com_content&Itemid=58

http://www.eko-purwanto.co.cc/2011/04/hukum-perjanjian.html

http://www.tanyahukum.com/perdata/164/syarat-sah-perjanjian/

http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2008/07/makalah-hukum-perikatan.html

http://wisbenbae.blogspot.com/2010/12/macam-macam-perjanjian-internasional.html

http://oraetlabora-aiueo.blogspot.com/2011/02/5hukum-perjanjian.html

http://gitandriy.tumblr.com/post/342536732/macam-macam-perjanjian-internasional