Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN

PERBEDAAN BUDAYA ANTAR SUKU JAWA DAN SUKU


BATAK

Dosen:
Abdul Latif Jaohari, M.Pd

Disusun Oleh:
ARIF DWI RAHMAWAN (0516104066)

UNIVERSITAS WIDYATAMA
TEKNIK INDUSTRI REGULER B
KELAS C

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT, atas rahmat dan
karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul PERBEDAAN
BUDAYA ANTAR SUKU JAWA DAN SUKU BATAK, makalah ini disusun untuk
memenuhi salah satu Ujian Tengah Semester mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya
Dasar.
Laporan disusun berdasarkan hasil observasi yang diharapkan berguna
untuk mengembangkan kreatif, daya pikir dan untuk menambah pengetahuan
tentang kebudayaan.
Segala petunjuk, arahan dan bantuan dari berbagai pihak yang penulis
terima dalam menyusun maklah ini sangatlah besar artinya. Untuk itu, dalam
kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan laporan ini.

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ 1

KATA PENGANTAR ...................................................................................... 2

DAFTAR ISI................................................................................................... 3

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... 4

DAFTAR TABEL ............................................................................................ 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang ................................................................................ 6


1.2 Tujuan Penulisan Laporan ............................................................... 7

BAB II LANDASAN TEORI


2.2 Keanekaragaman Suku Bangsa Indonesia ............................... 8
2.2 Budaya Suku Batak ................................................................... 9
2.2.1 Kepercayaan ................................................................... 10
2.2.2 Hubungan antar individu dalam masyarakat ................. 11
2.2.3 Adat Istiadat Suku Batak ................................................ 13
2.2.4 Populasi Suku Batak ....................................................... 16
2.2.5 Bahasa ............................................................................ 17
2.3 Budaya Suku Jawa .................................................................... 17
2.3.1 Sistem kepercayaan/Religi ............................................. 18
2.3.2 Sistem Kekerabatan ........................................................ 19
2.3.3 Adat Istiadat Suku Jawa .................................................. 20
2.3.4 Adat kejawen .................................................................. 21
2.3.5 Populasi Suku Jawa ......................................................... 24
2.4 Pendapat Terhadap Sistem Budaya antar Suku.............................. 24

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan..................................................................................... 25

Daftar Pustaka...................................................................................... 26

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Mayoritas Penduduk Batak di Sumatra Utara............................ 9

Gambar 2. Sistem Kepercayaan dan Religi Suku Batak .............................. 10

Gambar 3 Kebudayaan Bangsa Jawa .......................................................... 18

4
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Data Sensus Penduduk di Indonesia Tahun 2010 ......................... 11

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keragaman budaya atau cultural diversity adalah keniscayaan yang


ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang
tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman
masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat
Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan
yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa
yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana
mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami
dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari
pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga
perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-
kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda.
Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses
asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya
jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan
meluasnya agama-agama besar di Indonesia turut mendukung perkembangan
kebudayaan Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan agama tertentu.
Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat
keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja
keanekaragaman budaya kelompok sukubangsa namun juga keanekaragaman
budaya dalam konteks peradaban, tradsional hingga ke modern, dan
kewilayahan.

Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan


mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia
mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah
pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia

6
mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang
dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi
antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar
peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal Portugis di Banten pada
abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada lingkup
pergaulan dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang
gujarat dan pesisir jawa juga memberikan arti yang penting dalam
membangun interaksi antar peradaban yang ada di Indonesia. Singgungan-
singgungan peradaban ini pada dasarnya telah membangun daya elasitas
bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Disisi yang lain
bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal
ditengah-tengah singgungan antar peradaban itu.

1.2 Tujuan Penulisan Laporan

Adapun tujuan dari penulisan laporan dengan judul Perbedaan Budaya


Antara Suku Jawa dan Suku Batak adalah sebagi berikut :

1. Mahasiswa dapat mengetahui Keanekaragaman Budaya di indonesia.


2. Mahasiswa dapat mengetahui Perbedaan Budaya antara suku Jawa
dan suku Batak.

7
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Keanekaragaman Suku Bangsa di Indonesia


Sejak zaman dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat
yang majemuk. Hal ini tercermin dari semboyan Bhinneka tunggal Ika yang
artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Kemajemukan yang ada terdiri atas
keragaman suku bangsa, budaya, agama, ras, dan bahasa.Adat istiadat,
kesenian, kekerabatan, bahasa, dan bentuk fisik yang dimiliki oleh suku-suku
bangsa yang ada di Indonesia memang berbeda, namun selain perbedaan
suku-suku itu juga memiliki persamaan antara lain hukum, hak milik tanah,
persekutuan, dan kehidupan sosialnya yang berasaskan kekeluargaan.
Suku bangsa adalah golongan manusia yang terikat oleh kesadaran
dan identitas akan kesatuan kebudayaan. Orang-orang yang tergolong dalam
satu suku bangsa tertentu, pastilah mempunyai kesadaran dan identitas diri
terhadap kebudayaan suku bangsanya, misalnya dalam penggunaan bahasa
daerah serta mencintai kesenian dan adat istiadat. Suku-suku bangsa yang
tersebar di Indonesia merupakan warisan sejarah bangsa, persebaran suku
bangsa dipengaruhi oleh factor geografis, perdagangan laut, dan kedatangan
para penjajah di Indonesia. perbedaan suku bangsa satu dengan suku bangsa
yang lain di suatu daerah dapat terlihat dari ciri-ciri berikut ini.

a. Tipe fisik, seperti warna kulit, rambut, dan lain-lain.

b. Bahasa yang dipergunakan, misalnya Bahasa Batak, Bahasa Jawa,


Bahasa Madura, dan lain-lain.

c. Adat istiadat, misalnya pakaian adat, upacara perkawinan, dan


upacara kematian.

d. Kesenian daerah, misalnya Tari Janger, Tari Serimpi, Tari Cakalele,


dan Tari Saudati.

8
e. Kekerabatan, misalnya patrilineal(sistem keturunan menurut garis
ayah) dan matrilineal(sistem keturunan menurut garis ibu).

f. Batasan fisik lingkungan, misalnya Badui dalam dan Badui luar.

2.2 Budaya Suku Batak

Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia.


Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan
beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Pantai Barat dan
Pantai Timur di Provinsi Sumatera Utara.

Gambar 1. Mayoritas Penduduk Batak di Sumatra Utara

Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah Batak Toba, Batak
Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.
Saat ini pada umumnya orang Batak menganut agama Islam, Kristen
Protestan, Kristen Katolik. Tetapi ada pula yang menganut kepercayaan
tadisional yakni: tradisi Malim dan juga menganut kepercayaan animisme,
walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.

9
2.2.1 Kepercayaan

Sebelum suku Batak Toba menganut agama Kristen Protestan,


mereka mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi na
Bolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-
Nya terwujud dalam Debata Natolu. Menyangkut jiwa dan roh, suku
Batak Toba mengenal tiga konsep, yaitu:

Tendi / Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan


kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia.
Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi
meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau
meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari
sombaon yang menawannya.
Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua
orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala
sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau
hula-hula.
Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama
dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Gambar 2. Sistem Kepercayaan dan Religi Suku Batak

10
Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat
dalam pustaha. Walaupun sudah menganut agama Kristen dan
berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau meninggalkan
religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari
mereka.

2.2.2. Hubungan antar individu dalam masyarakat

Masyarakat Batak memiliki falsafah, asas sekaligus sebagai


struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni yang dalam
Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut penyebutan
Dalihan Natolu menurut keenam puak Batak

1. Dalihan Na Tolu (Toba) Somba Marhula-hula Manat


Mardongan Tubu Elek Marboru

2. Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) Hormat Marmora


Manat Markahanggi Elek Maranak Boru

3. Tolu Sahundulan (Simalungun) Martondong Ningon Hormat,


Sombah Marsanina Ningon Pakkei, Manat Marboru Ningon
Elek, Pakkei

4. Rakut Sitelu (Karo) Nembah Man Kalimbubu Mehamat Man


Sembuyak Nami-nami Man Anak Beru

5. Daliken Sitelu (Pakpak) Sembah Merkula-kula Manat


Merdengan Tubuh Elek Marberru

Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini


menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan
adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak) sehingga kepada

11
semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula
(Somba marhula-hula).
Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah
saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang
sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan,
saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-
kadang saling gesek. Namun, pertikaian tidak membuat
hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air
yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu.
Namun kepada semua orang Batak (berbudaya Batak)
dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga.
Diistilahkan, manat mardongan tubu.
Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri
dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi
paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan, baik dalam
pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara
adat. Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti
bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru
harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan


Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat
kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti
pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai
Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara
kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus


berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti
orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai
dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam

12
setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raja ni
Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

2.2.3 Adat Istiadat Suku Batak

Ada lebih dari 400 marga Batak, inilah beberapa di antaranya:


Aritonang, Banjarnahor (Marbun), Baringbing (Tampubolon),
Baruara (Tambunan), Barutu (Situmorang), Barutu (Sinaga),
Butarbutar, Gultom, Harahap, Hasibuan, Hutabarat, Hutagalung,
Gutapea, Lubis, Lumbantoruan (Sihombing Lumbantoruan),
Marpaung, Nababan, Napitulu, Panggabean, Pohan, Siagian
(Siregar), Sianipar, Sianturi, Silalahi, Simanjuntak, Simatupang,
Sirait, Siregar, Sitompul, Tampubolon, Karokaro Sitepu,
Peranginangin Bangun, Ginting Manik, Sembiring Galuk, Sinaga
Sidahapintu, Purba Girsang, Rangkuti.

Masyarakat Batak yang menganut sistim kekeluargaan yang


Patrilineal yaitu garis keturunan ditarik dari ayah. Hal ini terlihat
dari marga yang dipakai oleh orang Batak yang turun dari marga
ayahnya. Melihat dari hal ini jugalah secara otomatis bahwa
kedudukan kaum ayah atau laki-laki dalam masyarakat adat dapat
dikatakan lebih tinggi dari kaum wanita. Namun bukan berarti
kedudukan wanita lebih rendah. Apalagi pengaruh perkembangan
zaman yang menyetarakan kedudukan wanita dan pria terutama
dalam hal pendidikan.

Dalam pembagian warisan orang tua. Yang mendapatkan


warisan adalah anak laki laki sedangkan anak perempuan
mendapatkan bagian dari orang tua suaminya atau dengan kata lain
pihak perempuan mendapatkan warisan dengan cara hibah.
Pembagian harta warisan untuk anak laki laki juga tidak
sembarangan, karena pembagian warisan tersebut ada kekhususan

13
yaitu anak laki laki yang paling kecil atau dalam bahasa batak nya
disebut Siapudan. Dan dia mendapatkan warisan yang khusus.
Dalam sistem kekerabatan Batak Parmalim, pembagian harta
warisan tertuju pada pihak perempuan. Ini terjadi karena berkaitan
dengan system kekerabatan keluarga juga berdasarkan ikatan
emosional kekeluargaan. Dan bukan berdasarkan perhitungan
matematis dan proporsional, tetapi biasanya dikarenakan orang tua
bersifat adil kepada anak anak nya dalam pembagian harta
warisan.

Dalam masyarakat Batak non-parmalim (yang sudah


bercampur dengan budaya dari luar), hal itu juga dimungkinkan
terjadi. Meskipun besaran harta warisan yang diberikan kepada
anak perempuan sangat bergantung pada situasi, daerah, pelaku,
doktrin agama dianut dalam keluarga serta kepentingan keluarga.
Apalagi ada sebagian orang yang lebih memilih untuk menggunakan
hukum perdata dalam hal pembagian warisannya.

Hak anak tiri ataupun anak angkat dapat disamakan dengan


hak anak kandung. Karena sebelum seorang anak diadopsi atau
diangkat, harus melewati proses adat tertentu. Yang bertujuan
bahwa orang tersebut sudah sah secara adat menjadi marga dari
orang yang mengangkatnya. Tetapi memang ada beberapa jenis
harta yang tidak dapat diwariskan kepada anak tiri dan anak angkat
yaitu Pusaka turun temurun keluarga. Karena yang berhak
memperoleh pusaka turun-temurun keluarga adalah keturunan asli
dari orang yang mewariskan.

Dalam Ruhut-ruhut ni adat Batak (Peraturan Adat batak) jelas


di sana diberikan pembagian warisan bagi perempuan yaitu, dalam
hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan hanya

14
memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan Arian),
warisan dari Kakek (Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu
Tali). Dalam adat Batak yang masih terkesan Kuno, peraturan adat
istiadatnya lebih terkesan ketat dan lebih tegas, itu ditunjukkan
dalam pewarisan, anak perempuan tidak mendapatkan apapun.
Dan yang paling banyak dalam mendapat warisan adalah anak
Bungsu atau disebut Siapudan. Yaitu berupa Tanak Pusaka, Rumah
Induk atau Rumah peninggalan Orang tua dan harta yang lain nya
dibagi rata oleh semua anak laki laki nya. Anak siapudan juga tidak
boleh untuk pergi meninggalkan kampong halaman nya, karena
anak Siapudan tersebut sudah dianggap sebagai penerus ayahnya,
misalnya jika ayahnya Raja Huta atau Kepala Kampung, maka itu
Turun kepada Anak Bungsunya (Siapudan).

Dan akibat dari perubahan zaman, peraturan adat tersebut


tidak lagi banyak dilakukan oleh masyarakat batak. Khususnya yang
sudah merantau dan berpendidikan. Selain pengaruh dari hukum
perdata nasional yang dianggap lebih adil bagi semua anak, juga
dengan adanya persamaan gender dan persamaan hak antara laki
laki dan perempuan maka pembagian warisan dalam masyarakat
adat Batak Toba saat ini sudah mengikuti kemauan dari orang yang
ingin memberikan warisan. Jadi hanya tinggal orang-orang yang
masih tinggal di kampung atau daerah lah yang masih
menggunakan waris adat seperti di atas. Beberapa hal positif yang
dapat disimpulkan dari hukum waris adat dalam suku Batak Toba
yaitu laki-laki bertanggung jawab melindungi keluarganya,
hubungan kekerabatan dalam suku batak tidak akan pernah putus
karena adanya marga dan warisan yang menggambarkan
keturunan keluarga tersebut. Dimana pun orang batak berada adat
istiadat (partuturan) tidak akan pernah hilang. Bagi orang tua dalam
suku batak anak sangatlah penting untuk diperjuangkan terutama

15
dalam hal Pendidikan. Karena Ilmu pengetahuan adalah harta
warisan yang tidak bisa di hilangkan atau ditiadakan. Dengan ilmu
pengetahuan dan pendidikan maka seseorang akan mendapat
harta yang melimpah dan mendapat kedudukan yang lebih baik
dikehidupannya nanti.

2.2.4 Populasi Suku Batak

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah


237.641.326 jiwa, yang mencakup mereka yang bertempat tinggal
di daerah perkotaan sebanyak 118.320.256 jiwa (49,79 persen) dan
di daerah perdesaan sebanyak 119.321.070 jiwa (50,21 persen).
Penyebaran penduduk menurut pulau-pulau besar adalah:
pulau Sumatera yang luasnya 25,2 persen dari luas seluruh wilayah
Indonesia dihuni oleh 21,3 persen penduduk, Jawa yang luasnya 6,8
persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Kalimantan yang luasnya
28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Sulawesi yang
luasnya 9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Maluku yang
luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk, dan Papua
yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk. Data
lengkap dari hasil sensus 2010 disajikan sebagai berikut:

Tabel 1 Data Sensus Penduduk Tahun 2010

16
2.2.5 Bahasa
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang
Batak menggunakan beberapa logat, ialah: (1)Logat Karo
yang dipakai oleh orang Karo; (2) Logat Pakpak yang dipakai
oleh Pakpak; (3) Logat Simalungun yang dipakai oleh
Simalungun; (4) Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba,
Angkola dan Mandailing.

2.3 Budaya Suku Jawa

Suku Jawa merupakan suku bangsa dengan jumlah populasi


terbesar di Indonesia. Hampir 45% penduduk Indonesia berasal dari
etnis Jawa. Beberapa orang beranggapan bahwa yang dimaksud
dengan suku Jawa adalah orang-orang yang lahir, mendiami daerah
wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dan menggunakan bahasa Jawa.
Padahal, daerah kebudayaan Jawa itu luas, meliputi seluruh bagian
tengah dan timur dari pulau Jawa. Selain suku bangsa Jawa, ada juga
sub suku dari suku bangsa ini, yaitu suku osing dan suku tengger.

Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut
oleh masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.
Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya
Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur.

Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan


keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa juga sangat
menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Berikut beberapa
budaya dari suku Jawa.

17
2.3.1 Sistem Kepercayaan/Religi
Agama mayoritas dalam suku bangsa Jawa adalah Islam. Selain
itu juga terdapat penganut agama Kristen, Katolik, Hindu, dan
Buddha. Masyarakat Jawa percaya bahwa hidup diatur oleh alam,
maka ia bersikap nrimo (pasrah). Masyarakat Jawa percaya
keberadaan arwah/ roh leluhur dan makhluk halus seperti
lelembut, tuyul, demit, dan jin.
Selamatan adalah upacara makan bersama yang telah diberi
doa sebelumnya. Ada empat selamatan di Jawa sebagai berikut.

1. Selamatan lingkaran hidup manusia, meliputi: hamil tujuh


bulan, potong rambut pertama, kematian, dan kelahiran.
2. Selamatan bersih desa, upacara sebelum, dan sesudah panen.
3. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari/bulan-bulan
besar Islam.
4. Selamatan yang berhubungan dengan peristiwa khusus,
perjalanan jauh, ngruwat, dan menempati rumah baru.

Jenis selamatan kematian, meliputi: nelung dina (tiga hari),


mitung dina (tujuh hari), matang puluh dina (empat puluh hari),
nyatus (seratus hari), dan nyewu (seribu hari).

2.3.2 Sistem Kekerabatan


Sistem kekerabatan suku bangsa Jawa adalah bilateral (garis
keturunan ayah dan ibu). Dalam sistem kekerabatan masyarakat
Jawa, digunakan istilah-istilah sebagai berikut.

1. Ego menyebut orang tua laki-laki adalah bapak/rama.


2. Ego menyebut orang tua perempuan adalah simbok/ biyung.
3. Ego menyebut kakak laki-laki adalah kang mas, kakang mas.
4. Ego menyebut kakak perempuan adalah mbakyu.

18
5. Ego menyebut adik laki-laki adalah adhi, dhimas, dik, atau le.
6. Ego menyebut adik perempuan adalah ndhuk, denok, atau di.

Gambar 3 Kebudayaan Bangsa Jawa

Dalam masyarakat Jawa, istilah-istilah di atas merupakan tata cara


sopan santun pergaulan yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari. Apabila melanggar nasihat orang tua akan sengsara atau disebut
kuwalat.

2.3.3 Adat Istiadat Suku Jawa

Kata Kejawen berasal dari kata "Jawa", yang artinya dalam bahasa
Indonesia adalah "segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan
kepercayaan Jawa (Kejawaan)". Penamaan "kejawen" bersifat umum,
biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa
Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki
ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan
berkehidupan yang mulia), Kejawen sebagai agama itu dikembangkan
oleh pemeluk Agama Kapitayan jadi sangat tidak arif jika
mengatasnamakan Kejawen sebagai agama di mana semua agama yang
dianut oleh orang jawa memiliki sifat-sifat kejawaan yang kental.

19
Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi,
ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti
spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa, laku olah sepiritualis kejawen
yang utama adalah Pasa (Berpuasa) dan Tapa (Bertapa).

Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya


sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti
Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara
pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip
dengan "ibadah"). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan
yang ketat dan menekankan pada konsep "keseimbangan". Sifat Kejawen
yang demikian memiliki kemiripan dengan Konfusianisme (bukan dalam
konteks ajarannya). Penganut Kejawen hampir tidak pernah mengadakan
kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin.

Simbol-simbol "laku" berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris,


wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang
memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Simbol-simbol itu menampakan
kewingitan (wibawa magis) sehingga banyak orang (termasuk penghayat
kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan kejawen dengan
praktik klenik dan perdukunan yang padahal hal tersebut tidak pernah
ada dalam ajaran filsafat kejawen.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat


mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam,
maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu
yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap
tantangan perubahan zaman.

20
2.3.4 Adat Kejawen

Sultan Agung Mataram dianggap sebagai filsuf peletak pondasi


Kejawen Muslim yang kemudian sangat mempengaruhi upacara-
upacara penting terutama yang paling nampak adalah penanggalan
dalam menentukan hari-hari penting. Hari-hari penting kejawen tidak
lepas dari "Kelahiran - Pernikahan - Mangkat" (kematian), yang
ketiganya adalah kehidupan dalam tradisi Jawa. Orang Jawa akan
mendapatkan nama pada ketiga peristiwa tersebut, yaitu nama saat
kelahiran, nama saat pernikahan, nama saat mangkat (nama kematian
dengan menambahkan "bin"/ "binti" nama orang tua di belakang nama
kelahiran). Semua hari-hari penting itu ditetapkan sesuai Kalender Jawa
yang memiliki Primbon sebagai aturan-aturan dalam menentukan hari
penting dan tata caranya. Berikut adalah hari-hari penting dalam
Kejawen :

1. Suran (Tahun Baru 1 Sura).


2. Sepasaran (upacara kelahiran) dan Aqiqah bagi muslim.
3. Mantennan (Pernikahan dengan segala upacaranya).
4. Mangkat (Upacara Kematian) - Mengirim Do'a (Kanduri, Wirid,
Ngaji) 7 Hari, 40 Hari, 100 Hari, 1000 Hari, 3000 Hari.
5. Megeng Pasa - Tanggal 28 dan 29 Bulan Ruwah (Bulan Arwah)
Yang digunakan untuk mengirim Do'a kepada yang telah
mangkat (berangkat) terlebih dahulu, juga waktu Munjung
(mengirim makanan lengkap nasi dan lauk kepada orang yang
dituakan dalam keluarga) untuk mengikat silaturahmi.
6. Megeng Sawal - Tanggal 29 dan 30 Bulan Pasa Yang digunakan
untuk mengirim Do'a kepada yang telah mangkat (berangkat)
terlebih dahulu, juga waktu Munjung (mengirim makanan
lengkap nasi dan lauk kepada orang yang dituakan dalam

21
keluarga) untuk mengikat silaturahmi bagi yang tidak ada
kesempatan pada Megeng Pasa.
7. Riadi Kupat (Hari Raya Kupat) - Tanggal 3, 4 dan 5 Bulan Sawal
(Bagi orang tua yang ditinggalkan anaknya sebelum menikah).

Karena filsafat kejawen juga beragama, hari besar agama juga


merupakan hari penting kejawen. Berikut ini adalah beberapa hari
penting tambahan untuk kejawen muslim :

1. Hari Raya Idul Fitri


2. Hari Raya Idul Adha.
3. Hari Raya Jum'at.
4. Muludan (Maulid Kanjeng Nabi Muhammad, S.A.W.)
5. Sekaten (Syahadatain)

Para penganut kejawen sangat menyukai berpuasa dalam ajaran


islam karena dianggap sama dengan ajaran leluhurnya selain juga
tafakur yang dianggap sama dengan bertapa.

1. Pasa Weton - berpuasa pada hari kelahiranya sesuai penanggalan


jawa.
2. Pasa Sekeman - Puasa pada hari senin dan kamis.
3. Pasa Wulan - Puasa pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 pada setiap
bulan Kalender Jawa.
4. Pasa Dawud - Puasa selang-seling, sehari puasa-sehari tidak.
5. Pasa Ruwah - Puasa pada hari-hari bulan Ruwah (Bulan Arwah).
6. Pasa Sawal - Puasa enam hari pada bulan Sawal kecuali tanggal 1
Sawal.
7. Pasa Apit Kayu - Puasa 10 hari pertama pada bulan ke-12 kalender
jawa.
8. Pasa Sura - Puasa pada tanggal 9 dan 10 bulan Sura.

22
Selain puasa di atas kejawen juga memiliki puasa biasanya untuk
menggambarkan kezuhudan (kesungguhan) dalam mencapai keinginan,
jenis puasa tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pasa Mutih - puasa ini dilakukan dengan jalan hanya boleh makan
nasi putih, tanpa garam dan lauk pauk atau makanan kecil dan
lain-lain, serta minumnya juga air putih.
2. Pasa Patigeni - puasa tidak boleh makan, minum dan tidur serta
hanya boleh dikamar saja tanpa disinari cahaya lampu.
3. Pasa Ngebleng - puasa tidak boleh makan dan minum, tidak boleh
keluar kamar, boleh keluar sekadar tetapi sekadar buang hajat
dan boleh tidur tetapi sebentar saja.
4. Pasa Ngalong - puasa tidak makan dan minum tetapi boleh tidur
sebentar saja dan boleh pergi.
5. Pasa Ngrowot - puasa yang tidak boleh makan nasi dan hanya
boleh makan buah-buahan atau sayur-sayuran saja.

2.3.5 Populasi Suku Jawa


Suku Jawa (Bahasa Jawa Ngoko: Wong Jawa, Krama: Tiyang Jawi)
merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya
41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa Sebelumnya Suku
Jawa Berjumlah 47,05% Pada Tahun 1930 Yang Di Adakan Oleh
Pemerintahan Kolonial Belanda Pada Waktu Itu .Penurunan Ini Terjadi
Karena Banyaknya Orang Jawa Yang Menjadi Bagian Dari Etnis Setempat
Di Beberapa Daerah Di Indonesia. Selain di ketiga provinsi tersebut,
suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Jakarta, Sumatera
Utara, Riau, Sumatera Selatan, Banten dan Kalimantan Timur. Di Jawa
Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu, Kabupaten
Cirebon, dan Kota Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku,
seperti Suku Osing, Orang Samin, Suku Tengger, dan lain-lain.

23
2.4 Pendapat Saya terhadap sistem budaya antar Suku

Adat istiadat adalah sebuah kebudayaan yang sudah menjadi tradisi


pada setiap masyarakat yang sudah menjadi ketentuan daerah tersebut.
Jadi menurut saya walaupun di tiap daerah di Indonesia mempunyai adat
yang berbeda, tetapi mereka tetap satu juga. Karna mereka tinggal di tanah
yang sama yaitu tanah Indonesia, sama seperti semboyan kita Bhineka
Tungal Ika yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu juga. Perbedaan
suku tidak akan mengurangi rasa hormat, saling menghargai dan Gotong
royong antar manusia. Karna sekarang termasuk jaman Globalisasi, banyak
orang yang merantau dari desa ke kota, yang menyebabkan banyak orang
berbeda suku tapi berada dikota yang sama, dan mereka tetap saling
menghargai tradisi, adat istiadat dan kepercayaan masing- masing.Salah
satu contoh sebuah adat istiadat yang masih dilakukan pada sebuah
daerah, yaitu adat istiadat yang terjadi pada masyarakat suku jawa
tengah.Contohnya, Pada saat usia kehamilan 7 bulan, diadakan acara nujuh
bulanan atau mitoni. Pada acara ini disiapkan sebuah kelapa gading dengan
gambar wayang Dewa Kamajaya (jika laki-laki akan tampan seperti Dewa
Kamajaya) dan Dewi Kamaratih (jika perempuan akan cantik seperti Dewi
Kamaratih), gudangan (sayuran) yang dibumbui, lauk.

Sedangkan Upacara kelahiran pada masyarakat suku Batak yaitu :


ketika sang bayi lahir, ayah dari si bayi itu akan membelah kayu secara
demonstrative walaupun kelahiean itu terjadi tengah alam. Kegiatan itu
dilakukan di depan rumahnya dengan menuimbulkan suaa keras dan
jendela rumah pun dibuka lebar-lebar dan asap pun membubung dari
perapian dapur. Inilah yang menjadi tanda bahwa ada terjadi kelahiran,
sehingga warga kampung merasa terpanggil untuk melihat kebahagiaan
tersebut

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Budaya secara bahasa adalah suatu cara hidup yang berkembang,
dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari
generasi ke generasi. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa
Sanskerta yaitu buddhayah" yang merupakan bentuk jamak dari
buddhi" (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan
dengan budi, dan akal manusia.
Suku bangsa adalah golongan manusia yang terikat oleh
kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan. Orang-orang yang
tergolong dalam satu suku bangsa tertentu, pastilah mempunyai
kesadaran dan identitas diri terhadap kebudayaan suku bangsanya,
misalnya dalam penggunaan bahasa daerah serta mencintai kesenian
dan adat istiadat. Suku-suku bangsa yang tersebar di Indonesia
merupakan warisan sejarah bangsa, persebaran suku bangsa
dipengaruhi oleh factor geografis, perdagangan laut, dan kedatangan
para penjajah di Indonesia. perbedaan suku bangsa satu dengan suku
bangsa yang lain di suatu daerah dapat terlihat dari ciri-ciri berikut ini.

a. Tipe fisik, seperti warna kulit, rambut, dan lain-lain.

b. Bahasa yang dipergunakan, misalnya Bahasa Batak, Bahasa Jawa,


Bahasa Madura, dan lain-lain.

c. Adat istiadat, misalnya pakaian adat, upacara perkawinan, dan


upacara kematian.

d. Kesenian daerah, misalnya Tari Janger, Tari Serimpi, Tari Cakalele,


dan Tari Saudati.

e. Kekerabatan, misalnya patrilineal(sistem keturunan menurut


garis ayah) dan matrilineal(sistem keturunan menurut garis ibu).

f. Batasan fisik lingkungan, misalnya Badui dalam dan Badui luar.

25
DAFTAR PUSTAKA

http://bagaskorotrihatmojo.blogspot.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes#Kepercayaan

http://debuh.com/berita-uncategorized/adat-istiadat-suku-jawa-kehamilan-hingga-
kematian/17705/

http://www.satujam.com/budaya-orang-jawa/

http://fatminingsih62.blogspot.co.id/2013/09/adat-istiadat-masyarakat-jawa-
tengah.html
http://enemkabeh.blogspot.co.id/2016/07/6-suku-dengan-jumlah-terbesar-
di.html

26