Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Elektrokimia merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari hubungan

antara reaksi kimia dengan arus listrik. Elektrokimia dapat diaplikasikan dalam

berbagai keperluan manusia, seperti keperluan sehari-hari dalam skala rumah tangga

dan industri-industri besar seperti industri yang memproduksi bahan-bahan kimia

baik organik maupun anorganik, farmasi, polimer, otomotif, perhiasan,

pertambangan, pengolahan limbah dan bidang analisis (Riyanto, 2013).


Reaksi elektrokimia melibatkan perpindahan elektron-elektron bebas dari

suatu logam kepada komponen di dalam larutan. Kesetimbangan reaksi elektrokimia

sangat penting dalam sel galvani (sel yang menghasilkan arus listrik) dan sel

elektrolisis (sel yang mengunakan/memerlukan arus listrik). Dalam bidang

elektrokimia antara sel galvani dan sel elektrolisis terdapat perbedaan yang nyata.

Perbedaannya berhubungan dengan reaksi spontan dan reaksi tidak spontan. Reaksi

spontan artinya reaksi elektrokimia tidak menggunakan energi atau listrik dari luar,

sedangkan reaksi tidak spontan yaitu reaksi yang memerlukan energi atau

listrik (Riyanto, 2013).


Salah satu penerapan yang elektrokimia yang dibahas pada percobaan ini,

yaitu anodasi. Anodasi bertujuan untuk menebalkan lapisan oksida pada logam

tertentu. Logam yang digunakan dalam anodasi adalah logam tertentu dimana lapisan

oksida yang terbentuk dapat melekat erat pada logamnya. Berdasarkan penjelasan

tersebut, maka dilakukanlah percobaan ini untuk mempelajari prinsip anodasi pada

umumnya.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah untuk mempelajari peningkatan ketebalan

lapisan oksida logam aluminium melalui reaksi oksidasi.


1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah :
1. Menghitung berat logam aluminium dan mengamati perubahan warna yang

terjadi sebelum dan sesudah reaksi

2. Menghitung rendemen logam aluminium hasil anodasi

1.3 Prinsip Percobaan

Prinsip dari percobaan ini adalah logam aluminium dianodasi melalui proses

elektrokimia dengan cairan elektrolit asam sulfat. Pewarnaan logam hasil anodasi

melalui pencelupan logam ke dalam campuran FeCl3 dan (NH4)2C2O4, kemudian

dicelupkan ke dalam air mendidih.

1.4 Manfaat Percobaan


Manfaat yang dapat diperoleh dari percobaan ini yaitu, dapat mengetahui

prinsip sel elektrokimia terutama sel elektrolisis yang berkaitan dengan anodasi

sehingga dapat digunakan prinsip tersebut dalam cakupan ilmu yang lain. Selain itu,

dapat juga mengetahui fungsi anodasi dalam kehidupan sehari-hari.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu peninjauan yang saat ini telah berkembang dari salah satu cabang

ilmu kimia adalah elektrokimia. Pada cabang ilmu ini tidak hanya menjelaskan

bahwa suatu reaksi kimia yang spontan yang akan menghasilkan energi listrik,

cabang ilmu ini menjelaskan juga mengenai penggunaan energi listik untuk

membalikkan arah suatu reaksi tidak spontan, dimana sebenarnya reaksi tidak

spontan adalah reaksi yang spontan pada arah sebaliknya. Elektrokimia juga

menyediakan teknik untuk melihat reaksi kimia dan mengukur sifat dari larutan,

seperti pKa suatu asam dan karakteristik reaksi termodinamika. Elektrokimia dapat

juga digunakan untuk melihat aktivitas otak dan hati, pH darah dan munculnya

polutan dalam penyediaan air (Atkins dan Loretta, 2010).

Peralatan elektrokimia minimal terdiri dari tiga komponen penting yaitu,

anoda, katoda, dan elektrolit. Anoda adalah elektroda tempat berlangsungnya reaksi

oksidasi, elektroda adalah konduktor yang digunakan untuk bersentuhan dengan

bagian non-logam dari sebuah sirkuit (misalnya semikonduktor, elektrolit). Anoda

berupa logam penghantar listrik, pada sel elektrokimia anoda akan terpolarisasi jika

arus listrik mengalir ke dalamnya. Arus listrik mengalir berlawanan dengan arah

pergerakan elektron. Pada sel galvani (baterai) maupun sel elektrolisis, anoda

merupakan tempat berlangsung reaksi oksidasi. Katoda merupakan elektroda yang

terpolarisasi jika arus listrik mengalir keluar darinya (Riyanto, 2013).

Elektrolit adalah suatu zat yang larut atau terurai ke dalam bentuk ion-ionnya.

Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat terlarut atau solut,

sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan
disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut membentuk larutan

dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan dalam proses pencampuran zat

terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi. Larutan terdiri

dari larutan non-elektrolit dan larutan elektrolit. Larutan non-elektrolit adalah larutan

yang tidak dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan elektrolit adalah

larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan mudah. Elektrolit dapat berupa

asam, basa, dan garam (Riyanto, 2013).

Sel elektrolisis adalah sel yang menggunakan arus listrik untuk

berlangsungnya reaksi kimia. Pada sel elektrolisis, reaksi kimia tidak terjadi secara

spontan tetapi melalui perbedaan potensial yang dipicu dari luar sistem. Anoda

berfungsi sebagai elektroda bermuatan positif dan katoda bermuatan negatif,

sehingga arus kawat mengalir dari anoda ke katoda. Sel ini terdiri dari sumber arus

searah yang dihubungkan dengan kawat penghantar pada dua buah elektroda (katoda

dan anoda), kedua ujung elektroda dicelupkan dalam bejana yang berisi cairan

elektrolit. Elektroda dengan kutub positif berfungsi sebagai anoda, sedangkan katoda

adalah elektroda dengan kutub negatif (Riyanto, 2013).

Paduan aluminium digunakan dalam pembuatan komponen otomotif,

diantaranya piston, dimana komponen ini merupakan komponen yang bergerak, yang

tentunya harus memenuhi sifat fisis dan mekanis tertentu seperti ketahanan aus dan

kekerasan. Untuk memperbaiki sifat fisis dan mekanis seperti ketahanan aus dan

kekerasan pada paduan aluminium, maka dilakukan proses anodizing. Proses ini akan

meningkatkan kekerasan paduan aluminium sehingga ketahanan aus dari logam ini

juga akan meningkat. Peningkatan kekerasan serta keausan pada paduan aluminium
ini terjadi karena adanya lapisan oksida aluminium yang terbentuk pada proses

anodizing (Sidharta, 2014).


Anodasi adalah proses oksidasi elekrolitik. Hasil yang baik mempunyai

variasi elektrolit menggunakan arus searah (DC). Anodasi dianggap mampu

membentuk lapisan tipis film oksida yang selalu melekat pada aluminium. Dalam

penelitian, lapisan oksida terbentuk di permukaan aluminium menggunakan arus

bolak balik di bawah jangkauan kerapatan 1-5 A/dm2 dan suhu 15-25 oC dalam

elektrolit asam sulfat yang mengandung natirum sulfat. Waktu anodasi

mempengaruhi rasio lapisan dan ketebalan lapisan anodik. Suhu elektrolit sangat

memberikan pengaruh terhadap rasio pelapisan dan ketebalan anodik. Penambahan

suhu elektrolit mengurangi ketebalan dan rasio pelapisan. Penambahan natrium lauril

sulfat dalam elektrolit anodasi meningkatkan kerapatan mencapai 5 A/dm2. Sehingga,

banyak faktor-faktor yang mempengaruhi anodasi, diantaranya suhu, elektolit, dan

arus yang digunakan (Sigamani dkk., 2014).


Anodizing atau yang dikenal dengan nama pelapisan logam (plating) atau

(surface treatment), adalah suatu perlakuan permukaan untuk melapisi permukaan

logam dengan lapisan oksida protektif hingga ketebalan tertentu agar terlindungi dari

pengaruh destruktif lingkungan yang menyebabkan korosi, keausan, dan

meningkatkan daya tahan abrasi disamping itu metode anodizing juga menghasilkan

tampilan logam yang lebih menarik, bertekstur, dan berwarna. Dari hasil pengujian

menunjukan bahwa penambahan konsentrasi asam sulfat pada larutan selama proses

anodizing berpengaruh terhadap ketebalan lapisan oksida, struktur permukaan, dan

kekerasan permukaan alumunium. Sehingga, pada konsentrasi tertentu asam sulfat,

dihasilkan lapisan oksida terbaik (Arifin, 2015).


BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah lempeng logam

aluminium, larutan H2SO4 3 M, serbuk FeCl3, serbuk (NH4)2C2O4, akuades, amplas,

sabun cair, dan tissue roll.

3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain neraca analitik, gelas

kimia 50 mL, gelas kimia 250 mL, power supply, penjepit buaya (alligator clips),

perangkat pemanas listrik, pinset, gunting, sendok tanduk, sikat tabung, dan kawat.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Anodasi Aluminium

Lempeng aluminium dilekukkan menyerupai silinder sesuai ukuran gelas

kimia 50 mL. Kemudian gelas kimia 50 mL tersebut diisi dengan asam sulfat 3 M.

Setelah itu, keping aluminium digunting, sebanyak 2 keping dan diamplas kemudian

dicuci dengan sabun lalu dibilas dengan akuades. Kedua lempeng aluminium tersebut

ditimbang menggunakan neraca analitik. Keping aluminium yang sudah ditimbang,

dihubungkan ke adaptor dengan kawat dan penjepit aligator. Keping tersebut

diletakkan persis di tengah silinder aluminium di dalam gelas kimia 50 mL,

sedemikian rupa sehingga tidak bersentuhan dengan silinder dan diusahakan agar

keping aluminium tercelup setengahnya. Dalam hal ini, keping bertindak sebagai

anoda dan silinder bertindak sebagai katoda. Setelah itu, kedua kawat dihubungkan
ke sumber arus DC 6 Volt selama beberapa menit, kemudian dinaikkan arusnya ke 12

Volt hingga 5 menit. Diberikan perlakuan yang sama untuk variasi waktu anodasi

selama 10 menit dan 15 menit.

3.3.2 Perwarnaan Logam

Larutan pewarna disiapkan dengan melarutkan 0,25 gram (NH4)2C2O4 dan

0,25 gram FeCl3 dalam 50 mL akuades, kemudian dipanaskan sampai mendidih.

Setelah dilakukan proses elektrolisis setiap kepingnya, tiap-tiap keping dimasukkan

ke dalam larutan pewarna selama beberapa menit, lalu dicelupkan ke dalam air

mendidih. Setelah itu, keping aluminium dikeringkan dan ditimbang dengan neraca

analitik. Dicatat hasil penimbangan yang diperoleh.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 1. Hasil Penimbangan

Kepin Berat Sebelum Berat Berat Lapisan Berat


g anodasi (g) sesudah oksidasi (g) Rendemen (%)
Al anodasi (g)

I 0,23169 0,2326 0,00091 1,722


II 0,2170 0,2172 0,0002 0,252

Tabel 2. Hasil Anodasi dengan Variasi Waktu

Keping Al Waktu Anodasi Hasil Anodasi


I 10 +
II 15 ++

Keterangan : + = Gelembung yang dihasilkan sedikit

++ = Gelembung yang dihasilkan cukup banyak

4.2 Reaksi

Setengah reaksi :

Anoda : Al Al3+ + 3e- x2

Katoda : 2H+ + 2e- H2 x3

Anoda : 2Al 2Al3+ + 6e-

Katoda : 6H+ + 6e- 3H2

2Al + 6H+ 2Al3+ + 3H2

2Al + 3H2SO4 Al2(SO4)3 + 3H2


Ion aluminium sangat tidak larut dalam air, sehingga akan membentuk oksida di

permukaan logam:

2Al3+ + 3H2O Al2O3 + 6H+

Al2(SO4)3 + 3H2O Al2O3 + 3H2SO4

Sehingga reaksi totalnya:

2Al + 3H2SO4 Al2(SO4)3 + 3H2

Al2(SO4)3 + 3H2O Al2O3 + 3H2SO4

2Al + 3H2O Al2O3 + 3H2

4.3 Pembahasan

Pada percobaan ini dilakukan anodasi aluminium untuk meninjau lapisan

oksida aluminium yang terbentuk dimana lapisan oksida ini mencegah dan

menghambat proses korosi pada aluminium. Proses anodasi aluminium didasarkan

pada prinsip sel elektrolisis dimana elektroda yang digunakan adalah aluminium.

Katoda adalah lempeng aluminium yang dilekukkan berupa silinder dan anoda

adalah keping aluminium. Sel elekrolisis adalah salah satu sel elektrokimia dimana

suatu reaksi yang tidak spontan dibalikkan arah reaksinya menggunakan suatu arus

listrik sehingga reaksi yang dijalankan adalah reaksi spontan. Secara singkat, sel

elektrolisis adalah sistem dimana energi kimia diubah menjadi energi listrik.

Pada percobaan ini, dilakukan dua tahap penting yaitu, anodasi aluminium

dan pewarnaan pada aluminium yang telah dianodasi. Pada tahap anodasi aluminium

terdapat beberapa perlakuan yang diberikan dimana perlakuan tersebut memiliki

fungsi masing-masing. Keping aluminium yang telah disiapkan diamplas terlebih

dahulu agar lapisan oksida yang sudah terbentuk sebelumnya dapat hilang sebelum
dilakukan anodasi. Selanjutnya, keping yang telah diamplas, dicuci dengan sabun dan

dibilas dengan akuades sampai bersih bertujuan untuk menghilangkan lapisan lemak

yang tertempel pada keping logam. Adapun cara-cara untuk menghindari lapisan

lemak dan oksidasi sebelum anodasi yaitu, keping yang telah bersih ditaruh diatas

tissue dan keping yang akan dianodasi sebaiknya tidak diambil dengan tangan. Selain

itu, lempeng logam dibentuk menjadi silinder untuk memperbesar luas permukaan

elektroda. Setelah itu, silinder silinder aluminium dan keping aluminium

dihubungkan ke adaptor dengan penjepit aligator. Hal ini dilakukan supaya arus

listrik dapat mengalir ke elektroda. Silinder aluminium digunakan sebagai katoda dan

keping aluminium digunakan sebagai anoda. Keping aluminium diletakkan di tengah

silinder aluminium di dalam gelas kimia, diatur agar keping tidak mengenai silinder

karena dapat menyebabkan terjadinya perpindahan elektron sehingga dapat

menghasilkan data yang menyimpang dari yang diharapkan. Selain itu, diharapkan

proses anodasi dapat berjalan dengan baik dan perpindahan elektron tidak terhambat.

Selanjutnya dimasukkan asam sulfat 3 M ke dalam gelas kimia sampai

sebagian besar keping tercelup. Asam sulfat berfungsi sebaga larutan elektrolit yaitu,

media perpindahan elektron yang mengalami reaksi dari oksidasi ke reduksi. Kedua

kawat dihubungkan dengan sumber arut DC 6 Volt selama 5 menit, lalu sumber arus

dinaikkan menjadi 12 Volt sampai 10 menit. Dengan tahap yang sama, waktu anodasi

divariasikan dimana kawat dihubungkan dengan sumber arus DC 6 Volt selama 7,5

menit, lalu sumber arus dinaikkan menjadi 12 Volt sampai 15 menit. Selama anodasi,

terdapat pengamatan yang dapat ditinjau. Terbentuknya gelembung pada silinder

aluminium disebabkan karena munculnya gas hidrogen dimana gas hidogen ini
terbentuk karena reduksi H+ dari asam sulfat menghasilkan gas hidrogen. Variasi

waktu anodasi dilakukan untuk melihat pengaruh waktu anodasi terhadap hasil

anodasinya. baik massa oksida yang terbentuk maupun banyak gelembung yang

dihasilkan.

Setelah anodasi, keping aluminium diberikan pewarnaan dengan cara

mencelupkan keping ke dalam campuran amonium oksalat dan besi(III) klorida

dalam larutannya yang memberikan warna kuning pada lapisan oksida aluminium.

Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi lapisan oksida yang terbentuk setelah

anodasi dimana lapisan oksida pada keping memiliki pori-pori yang teratur yang

dapat menyerap partikel pewarna. Setelah keping tersebut berwarna, keping

kemudian dicelupkan lagi ke dalam air yang telah dipanaskan dengan tujuan agar

warna pada lapisan oksida aluminium tidak cepat memudar. Dari percobaan ini

dihasilkan logam aluminium yang lebih tahan karat karena aluminium ketika

teroksidasi akan membentuk lapisan oksida yang sangat melekat pada permukaan

aluminium dimana lapisan oksida ini mampu mencegah oksidasi lebih lanjut dari

aluminium.

Sebelum proses anodasi, diperoleh berat keping I sebesar 0,23619 gram dan

keping II sebesar 0,2170 gram. Sedangkan berat sesudah anodasi untuk keping I

sebesar 0,2326 gram dan keping II sebesar 0,2172 gram. Sehingga diperoleh persen

rendemen anodasi berturut-turut sebesar 1,722 % untuk keping I dan 0,252 % untuk

keping II. Anodasi dengan variasi waktu 10 menit terdapat sedikit gelembung gas,

sedangkan oada variasi waktu 15 menit gelembung gas semakin banyak. Hal tersebut

disebabkan semakin lama waktu yang digunakan dalam proses anodasi sehingga

semakin banyak pula gelembung gas yang terbentuk.


Hasil percobaan ini sangat jauh dari teori yang ada jika ditinjau dari persen

rendemen yang dihasilkan, dimana massa logam yang dihasilkan ketika anodasi

sangat kecil. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat dijelaskan. Pertama,

mengenai sumber arus. Sumber arus yang digunakan pada saat percobaan tidak

terlalu baik penggunannya terutama pada kawat penghubung, sehingga seringkali

terjadi penggantian kawat penghubung berulang kali untuk memperoleh hasil. Kedua,

mengenai kertas amplas yang digunakan. Kertas amplas yang digunakan adalah

kertas amplas yang halus sehingga ketika mengamplas, pengotor atau lapisa oksida

yang sudah terbentuk sebelumnya susah hilang dan mengakibatkan hasil yang

diperoleh jauh dari hasil teori.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan ini, yaitu bobot sebelum

anodasi keping I adalah 0,23169 gram dan keping II adalah 0,2326 gram. Berat

aluminium setelah dianodasi dengan waktu masing-masing 10 menit dan 15 menit

adalah 0,2170 gram dan 0,2172 gram. Berat rendemen dari keping I adalah 1,722 %

dan keping II adalah 0,252 %.

5.2 Saran
5.2.1 Saran untuk Laboratorium

Sebaiknya alat-alat yang digunakan dalam laboratorium dapat dijaga dengan

baik sehingga ke depannya proses dalam percobaan dapat lebih baik lagi.

5.2.2 Saran untuk Percobaan

Sebaiknya percobaan yang dilakukan menggunakan beberapa variasi,

sehingga tiap regu dapat menjalankan percobaan dengan variasi yang berbeda.

5.2.3 Saran untuk Asisten


Sebaiknya asisten dapat menjelaskan mengenai percobaan dan laporan

dengan lebih baik lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, A. Z., 2015, Pengaruh Variasi Konsentrasi Larutan Asam Sulfat (H 2SO4)
Pada Proses Anodizing dengan Bahan Alumunium Seri 1XXX, Universitas
Muhammadiyah, Yogyakarta.

Atkins, P. dan Jones, L., 2010, Chemical Principles The Quest For Insight Fifth
Edition, W. H. Freeman and Company, New York.

Riyanto, 2013, Elektrokimia dan Aplikasinya, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Sidharta, B. W., 2014, Pengaruh Konsentrasi Elektrolit Dan Waktu Anodisasi


Terhadap Ketahanan Aus, Kekerasan serta Ketebalan Lapisan Oksida Paduan
Aluminium pada Material Piston, Jurnal Teknologi Technoscientia, 7 (1): 10-
21.

Sigamani, S., Thangavelu, P. R., Srinivasan, K. N. dan Selvan, M., 2014, Studies on
AC Anodizing of Aluminum in Sulfuric Acid Electrolyte Containing Sodium
Sulfate, International Journal of Innovative Research in Science, Engineering
and Technology, 3 (6): 13870-13875.
Lampiran 1. Bagan Kerja

A. Anodasi Aluminium

Lempeng Keping Aluminium


Aluminium (1,5 x 3 cm)

- Digunting - Dibersihkan, dibilas


dengan aquades
- Dilekukkan
menyerupai - Ditimbang
silinder sesuai
ukuran gelas - Dihubungkan ke
kimia 50 mL adaptor dengan penjepit
aligator
- Dihubungkan ke
adaptor dengan - Diletakkan di tengah
penjepit silinder aluminium ke
alligator dalam gelas kimia

- Diatur menjadi - Diatur menjadi anoda


katoda
Gelas kimia

- Dituangkan asam sulfat 3 M sampai


sebagian keping tercelup

- Diberi arus 6 Volt

- Diamati perubahan yang terjadi

- Setelah setengah waktu yang


ditentukan lalu arus dinaikkan
menjadi 12 Volt (waktu anodasi yang
ditentukan masing-masing 10 menit
dan 15 menit).

Hasil anodasi
B. Pewarnaan Keping Al

0,25 g FeCl3 0,25 g (NH4)2C2O4


- Dilarutkan dengan akuades 50 mL
- Didihkan

- Dicelupkan keping aluminium hasil anodasi ke dalam


larutan larutan pewarna selama 5 menit.

- Diangkat lalu dimasukkan ke dalam air mendidih selama


5 menit

- Diperhatikan perubahan yang terjadi


- Ditimbang berat keping

Data
Lampiran 2. Perhitungan

I = 0,5 ampere

Mr
BE Al2O3 = n

102
= 6

= 17 g/mol ekuivalen

a. Keping I, t = 10 menit = 600 detik


BE x I x t
1. Berat teori = F

17 g/mol ekuivalen x 0,5 ampere x 600 detik


= 96500 Coulomb

= 0,05285 gram

2. Berat praktek = berat setelah anodasi berat sebelum anodasi

= 0,2326 gram 0,23169 gram

= 0,00091 gram

berat praktek
x 100 %
3. Berat rendemen = berat teori

0,0 009 1
x 100 %
= 0,05285

= 1,722 %

b. Keping II, t = 15 menit = 900 detik


BE x I x t
1. Berat teori = F

17 g/mol ekuivalen x 0,5 ampere x 900 detik


= 96500 Coulomb

= 0,0793 gram
2. Berat praktek = berat setelah anodasi berat sebelum anodasi

= 0,2172 gram 0,2170 gram

= 0,0002 gram

berat praktek
x 100 %
3. Berat rendemen = berat teori

0,0002
x 100 %
= 0,0793

= 0,252 %
Lampiran 3. Foto Percobaan

Lempeng dan keping Rangkaian alat anodasi aluminium


sebelum anodasi

Proses anodasi Aluminium Keping hasil anodasi dan pewarnaan