Anda di halaman 1dari 13

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sikap

2.1.1 Definisi
Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
tertentu. Sebagai contohnya yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi
yang bersangkutan atau senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik,
dan sebagainya. Sikap juga merupakan evaluasi atau reaksi perasaan mendukung
atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak memihak (unfavorable) pada
objek tertentu.7,10

2.1.2 Indikator Sikap Terhadap Kesehatan


Indikator untuk sikap kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan,
antara lain :11
1. Sikap terhadap sakit dan penyakit
Adalah bagaimana penilaian atau pendapat seseorang tehadap gejala atau
tandatanda penyakit, penyebab penyakit, cara penularan penyakit dan
sebagainya.
2. Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat
Adalah penilaian atau pendapat seseorang terhadap cara-cara memelihara dan
cara-cara (berperilaku) hidup sehat. Dengan perkataan lain pendapat atau
penilaian terhadap makanan, minuman, olahraga, istirahat cukup dan
sebagainya.
3. Sikap terhadap kesehatan lingkungan
Adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap lingkungan dan
pengaruhnya terhadap kesehatan. Misalnya pendapat atau penilaian terhadap
air bersih, pembuangan limbah, polusi dan sebagainya. Pengukuran sikap dapat
dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Dapat melalui wawancara atau
angket.
6

2.2 Tindakan

Tindakan adalah mekanisme dari suatu pengamatan yang muncul dari


persepsi sehingga ada respon untuk mewujudkan suatu tindakan. Kebiasaan setiap
anak dalam berperilaku mencuci tangan dengan sabun agar terhindar dari berbagai
macam penyakit sehingga dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Tindakan
mempunyai beberapa tingkatan yaitu :11
1. Persepsi (perception) yaitu mengenal dan memilih berbagai objek yang
akan dilakukan.
2. Respon terpimpin yaitu melakukan segala sesuatu sesuai dengan urutan
yang benar.
3. Mekanisme yaitu melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis
4. Adaptasi yaitu suatu praktek atau tindakan yang yang sudah berkembang
dan dilakukan dengan baik.

2.3 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

2.3.1 Pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan
yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat
menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam
kegiatan-kegiatan kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan
di masyarakat.12
Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) adalah perilaku yang berkaitan
dengan upaya atau kegiatan seseorang yang mempertahankan dan meningkatkan
kesehatannya.13

2.3.2 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Institusi Pendidikan


Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di sekolah merupakan
sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru, dan masyarakat
lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga
secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta
berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Penerapan PHBS ini dapat
dilakukan melalui pendekatan Usaha Kesehatan Sekolah.
7

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di sekolah adalah kebiasaan/perilaku


positif yang dilakukan oleh setiap komponen lingkungan sekolah yaitu oleh setiap
siswa, guru, penjaga sekolah, petugas kantin sekolah, orang tua siswa, dan lain-
lain yang dengan kesadarannya untuk mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatannya serta aktif dalam menjaga lingkungan sehat di sekolah. PHBS perlu
dilakukan sekolah dengan tujuan agar siswa, guru, penjaga sekolah, petugas
kantin sekolah, orang tua siswa dan lain-lain terlindungi dari berbagai gangguan
dan ancaman penyakit, sekolah menjadi bersih dan sehat sehingga meningkatkan
semangat proses belajarmengajar dan akhirnya meningkatkan prestasi belajar
siswa. Beberapa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah :
1. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun.
Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun itu
penting karena air bersih yang mengalir membersihkan kotoran dan kuman-
kuman, sabun dapat membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena
tanpa sabun, kotoran dan kuman masih tertinggal di tangan. Air kotor juga
banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit antara lain,
mencret/diare, cacingan, typhus, flu burung, dan lain-lain.
2. Jajan di kantin sekolah yang sehat.
Jajanan sehat adalah jajanan yang bersih, aman, sehat dan mengandung zat
gizi seperti karbohidrat, protein dan vitamin. Contoh jajanan sehat: gado-
gado, pisang goreng, lemper, tahu isi, singkong, bakwan, buah-buahan, dan
lain-lain. Ketika kita jajan sembarangan, kita tidak dapat memastikan apakah
jajanan tersebut bersih, bergizi, sehat dan aman. Jajanan tidak bersih dapat
tercemar kuman. Jajan sembarangan tidak aman karena kita tidak tahu apakah
bahan makanan tambahan yang digunakan seperti zat pewarna, zat pengawet,
bumbu penyedap apakah aman bagi kesehatan kita.
3. Membuang sampah pada tempatnya.
Sampah adalah sarang kuman dan bakteri penyakit. Membuang sampah pada
tempatnya menghindari tubuh supaya tidak tertular penyakit, juga menjaga
kebersihan lingkungan sekolah.
4. Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah.
8

Tujuan olahraga secara rutin adalah agar tubuh selalu bugar, untuk
memelihara kesehatan fisik dan mental agar tetap sehat dan tidak mudah
sakit, untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik yang optimal. Sedangkan
manfaat dari olahraga teratur adalah berat badan terkendali, otot lebih lentur
dan tulang lebih kuat, bentuk tubuh ideal dan proporsional, daya tahan tubuh
terhadap penyakit lebih baik.
5. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan
Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan secara teratur paling
tidak 6 bulan sekali, berarti siswa dapat mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan badan serta status gizi: kurang, baik atau lebih. Dengan
mengamati pertumbuhan berat badan dan tinggi badan dari waktu ke waktu,
dapat diketahui perkembangan kesehatannya.
6. Bebaskan diri dari asap rokok
Rokok berbahaya karena pada 1 batang rokok mengandung 4000 bahan kimia
dan 43 senyawa tersebut terbukti menyebabkan kanker. Bahan utama rokok
terdiri dari nikotin, tar dan karbonmonoksida. Bahaya merokok ialah dapat
menderita kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, batuk-batuk yang
menahun (kronik), kelainan kehamilan, kerusakan gigi, dan kehilangan
pendengaran. Cara untuk terhindari dari merokok ialah jang pernah mencoba
untuk merokok, jangan mau terbujuk oleh rayuan merokok, berani katakan
tidak kalau ada yang menawari merokok, pilih dan bergaulah dengan teman
yang tidak merokok.
7. Memberantas jentik nyamuk di sekolah.
Perlunya dilakukan pemberantasan jentik di sekolah adalah agar siswa
terhindar dari berbagai penyakit yang ditularkan oleh nyamuk seperti demam
berdarah, malaria, dan kaki gajah, dan juga membuat lingkungan sekolah
menjadi bersih dan sehat. Cara memberantas jentik nyamuk yaitu dengan
melakukan cara 3M, yaitu menguras tempat penampungan air seminggu
sekali, menutup rapat tempat penampungan air, menguburkan barang-barang
bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, plastik, dan
lain-lain. Pemeriksaan jentik berkala dan
3M dilakukan secara teratur setiap minggu di sekolah.
9

8. Buang air kecil dan air besar di jamban sekolah


Pentingnya untuk membuang air besar dan kecil di jamban adalah untuk
menjaga lingkungan agar selalu bersih, sehat dan tidak berbau, tidak
mencemari sumber air yang ada di sekitarnya, dan tidak menimbulkan
datangnya lalat yang dapat menjadi penular penyakit diare, kolera, disentri,
tipus, cacingan, dan lain-lain. Cara menggunakan jamban dengan benar
adalah menggunakan jamban duduk jangan berjongkok karena kaki/alas kaki
akan mengotori jamban, kemudian menyiram bersih setelah buang air kecil
dan besar, tidak membuang sampah pada lubang jamban agar tidak tersumbat
dan mengingatkan warga sekolah untuk menjaga kebersihannya.

2.3.3 Sasaran Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di Sekolah


1. Sasaran Primer
Adalah sasaran utama dalam institusi pendidikan yang akan dirubah
perilakunya murid atau guru yang bermasalah (individu/kelompok dalam
institusi pendidikan yang bermasalah).
2. Sasaran Sekunder
Adalah sasaran yang dapat memengaruhi individu dalam institusi pendidikan
yang bermasalah, misalnya kepala sekolah, guru, orang tua, murid, kader
kesehatan sekolah, tokoh masyarakat, petugas kesehatan, dan lintas sektor
terkait.
3. Sasaran Tersier
Adalah sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam
menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk
tercapainya pelaksanaan PHBS di institusi pendidikan, misalnya kepala desa,
lurah, camat, Kepala Puskesmas, Dinas Kesehatan, guru, tokoh masyarakat
dan orang tua murid.

2.5.4 Manfaat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah


1. Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat sehingga peserta didik, guru,
dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan
ancaman penyakit.
10

2. Meningkatnya semangat proses belajar-mengajar yang berdampak pada


prestasi belajar peserta didik.
3. Citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga
mampu menarik minat orang tua (masyarakat) untuk menyekolahkan anaknya
di sekolah tersebut.
4. Meningkatnya citra pemerintah daerah di bidang pendidikan.
5. Menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain

2.4 Siswa Sekolah Dasar

2.4.1 Pengertian Anak Siswa Sekolah Dasar


Anak usia sekolah dasar adalah periode perkembangan anak usia antara 6-12
tahun dikenal sebagai periode laten. Tidak seperti bayi dan usia pra-sekolah, anak
usia sekolah sudah dapat menentukan kehendak/keinginan sesuai dengan
kemampuan mereka untuk memilih yang lebih baik.16
Menurut Piaget, perkembangan anak pada masa ini berada pada tahap
konkret operasional. Konkret karena anak hanya mampu memahami hal-hal
berbentuk (tangible) dan operasional karena mampu berfikir dengan cara
sistematis dan logis.

2.4.2 Ciri-Ciri Anak Usia Sekolah


Orangtua, pendidik, dan ahli psikologis memberikan berbagai label kepada
periode ini dan label-label itu mencerminkan ciri-ciri penting dari periode anak
usia sekolah. Label-label tersebut yaitu : 15
1. Label yang digunakan oleh orang tua
a. Usia yang menyulitkan
Suatu masa dimana anak tidak mau lagi menuruti perintah dan dimana ia
lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang
tua dan anggota keluarga lainnya.
b. Usia tidak rapi
Suatu masa dimana anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh
dalam penampilan, dan kamarnya sangat berantakan. Sekalipun ada
peraturan keluarga yang ketat mengenai kerapian dan perawatan
11

barangbarangnya, hanya beberapa saja yang taat, kecuali bila orang tua
mengharuskan melakukannya dan mengancam dengan hukuman.
2. Label yang digunakan oleh para pendidik
a. Usia sekolah dasar
Pada usia tersebut anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan
yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada
kehidupan dewasa, dan mempelajari berbagai ketrampilan penting tertentu,
baik ketrampilan kurikuler maupun ekstra kurikuler.
b. Periode kritis
Suatu masa dimana anak membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses,
tidak sukses, atau sangat sukses. Sekali terbentuk, kebiasaan untuk bekerja
dibawah, diatas atau sesuai dengan kemampuan cenderung menetap
sampai dewasa. Dilaporkan bahwa tingkat perilaku berprestasi pada masa
kanakkanak mempunyai korelasi yang tinggi dengan perilaku berprestasi
pada masa dewasa.
3. Label yang digunakan ahli psikologi
a. Usia berkelompok
Suatu masa dimana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima
oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok, terutama kelompok
yang bergengsi dalam pandangan teman-temannya. Oleh karena itu, anak
ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui kelompok dalam
penampilan, berbicara, dan perilaku.
b. Usia penyesuaian diri
Suatu masa dimana perhatian pokok anak adalah dukungan dari
temanteman sebaya dan keanggotaan dalam kelompok.
c. Usia kreatif
Suatu masa dalam rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah
anakanak menjadi konformis atau pencipta karya yang baru dan orisinil.
Meskipun dasar-dasar untuk ungkapan kreatif diletakkan pada awal masa
kanak-kanak, namun kemampuan untuk menggunakan dasar-dasar ini
dalam kegiatan-kegiatan orisinal pada umumnya belum berkembang
12

sempurna sebelum anak-anak belum mencapai tahun-tahun akhir masa


kanak-kanak.
d. Usia bermain
Bukan karena terdapat lebih banyak waktu untuk bermain daripada
periodeperiode lain, namun terdapat tumpang tindih antara ciri-ciri
kegiatan bermain anak-anak yang lebih muda dengan ciri-ciri bermain
anak-anak remaja. Jadi alasan periode ini disebut sebagai usia bermain
adalah karena luasnya minat dan kegiatan bermain dan bukan karena
banyaknya waktu untuk bermain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa masa ini adalah masa atau usia dini yang
paling tepat bagi anak memperoleh pendidikan kesehatan mencuci tangan. Masa
dimana anak senang mempelajari apa yang ada di sekitarnya dengan suka bermain
dan berkelompok dengan temantemannya baik dalam keluarga, sekolah,
masyarakat, dan lingkungan di sekitarnya. Anak akan mudah diberikan masukan
mengenai pendidikan kesehatan mencuci tangan sehingga dapat merubah perilaku
yang sebelumnya tidak rajin mencuci tangan. Setelah mendapatkan pendidikan
kesehatan, anak menjadi tahu pentingnya mencuci tangan dan merubah perilaku
mencuci tangannya.5

2.5 Penyuluhan

Penyuluhan adalah suatu kegiatan pendidikan yang bersifat non-formal yang


ditujukan untuk mengubah perilaku baik pengetahuan, sikap, dan keterampilan
manusia.17
Penggunaan kombinasi dari berbagai penyuluhan akan banyak membantu
mempercepat proses perubahan. Penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak
penyuluhan yang akan digunakan, akan lebih banyak perubahan yang terjadi
dalam diri individu. Kombinasi metode penggunaan penyuluhan juga dilakukan
pada kelompencapir. Dalam operasional di lapangan, kelompencapir
menggunakan berbagai cara/metode komunikasi yaitu metode komunikasi banyak
tahap (multi step of communication) yaitu arus komunikasi mengalir dari media
masyarakat kepada pemuka masyarakat, dari pemuka masyarakat secara tatap
muka disalurkan kepada anggota kelompencapir melalui diskusi-diskusi
13

kelompok tentang topik yang dibahas oleh media massa, dan selanjutnya
disebarkan kepada khalayak secara bersilang dan menyeluruh.
Menurut Mounder dalam Suriatna (1987), menggolongkan metode
penyuluhan menjadi 3 (tiga) golongan berdasarkan jumlah sasaran yang dapat
dicapai:
1. Metode berdasarkan pendekatan perseorangan. Dalam metode ini, penyuluhan
berhubungan dengan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan
sasaran secara pororangan. Yang termasuk ke dalam metode ini adalah:
a. Surat-menyurat
b. Kontak informal
c. Undangan
d. Hubungan telepon
e. Magang
2. Metode berdasarkan pendekatan kelompok. Dalam metode ini, penyuluhan
berhubungan dengan sekelompok orang yang menyampaikan
pesannya.Beberapa metode pendekatan kelompok antara lain:
a. Ceramah dan diskusi
b. Rapat
c. Demonstrasi
d. Temu karya
e. Temu lapang
f. Perlombaan
g. Pemutaran slide
h. Penyuluhan kelompok lainnya
3. Metode berdasarkan pendekatan massal. Metode ini dapat menjangkau sasaran
yang lebih luas (massa). Beberapa metode yang termasuk dalam golongan itu,
antara lain:
a. Rapat umum
b. Siaran melalui media massa
c. Pertunjukan kesenian rakyat
d. Penerbitan visual
e. Pemutaran film
14

Sedangkan para ahli yang laim menggolongkan metode berdasarkan teknik


komunikasi dan berdasarkan indra penerimaan sasaran. Berdasarkan teknik
komunikasi, penyuluhan dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Penyuluhan langsung. Artinya para petugas penyuluhan, langsung bertatap
muka dengan sasaran. Misalnya anjangsana, kontak personal, demonstrasi, dan
lain-lain.
2. Penyuluhan tidak langsung. Dalam hal ini pesan yang disampaikan tidak secara
langsung dilakaukan oleh penyuluh teteapi melalui perantara atau media.
Misalnya pertunjukan film atau slide, siaran melalau radio atau televisi dan
penyebaran bahan tercetak.
Adapun penggolongan metode berdasarkan indera penerima dibagi menjadi
3 golongan yaitu :
1. Metode yang dilaksanakan dengan jalan memperhatikan. Pesan yang diterima
melalui indra penglihatan. Misalnya penempelan poster, pemutaran film dan
pemutaran slide.
2. Metode yang disampaikan melalui indra pendengaran. Misalnya siaran
pertanian melalui radio dan hubungan telephone serata alat-alat audiotif
lainnya.
3. Metode yang disampaikan, diterima oleh sasaran melalui beberapa macam
indra secara kombinasi. Misalnya :
a. Demonstrasi hasil (dilihat, didengar, dan diraba)
b. Demonstrasi cara (dilihat, didengar, dan diraba)
c. Siaran melalui televisi (didengar dan dilihat)

2.6 Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

2.6.1 Pengertian Perilaku Mencuci Tangan dengan Sabun


Cuci tangan adalah salah satu bentuk kebersihan diri yang penting. Selain
mencuci tangan juga dapat diartikan menggosok dengan sabun secara bersama
seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas yang kemudian dibilas di
bawah air yang mengalir.17
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah salah satu tindakan sanitasi
dengan membersihkan tangan dan jari-jemari menggunakan air dan sabun oleh
15

manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci
tangan dengan sabun merupakan salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini
dilakukan karena tangan sering menjadi agen yang membawa kuman dan
menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan
kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-
permukaan lain seperti handuk, gelas). Tangan 16 yang bersentuhan langsung
dengan kotoran manusia dan binatang, ataupun cairan tubuh lain (seperti ingus)
dan makanan/minuman yang terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun dapat
memindahkan bakteri, virus, dan parasit pada orang lain yang tidak sadar bahwa
dirinya sedang ditulari.4
Perilaku mencuci tangan adalah suatu aktivitas, tindakan mencucin tangan
yang dikerjakan oleh individu yang dapat diamati secara langsung maupun tidak
langsung. Mencuci tangan adalah kegiatan membersihkan bagian telapak,
punggung tangan dan jari agar bersih dari kotoran dan membunuh kuman
penyebab penyakit yang merugikan kesehatan manusia seta membuat tangan
menjadi harum baunya.

2.6.2 Pentingnya Mencuci Tangan dengan Sabun


Kebiasaan mencuci tangan dengan air saja tidak cukup untuk melindungi
seseorang dari kuman penyakit yang menempel di tangan. Terlebih bila mencuci
tangan tidak di bawah air mengalir. Mencuci tangan pakai sabun terbukti efektif
dalam membunuh kuman yang menempel ditangan. Tujuan utama dari cuci tangan
secara higienis adalah untuk menghalangi transmisi patogen-patogen kuman
dengan cepat dan secara efektif.18

2.7.3 Bahaya Jika tidak Mencuci Tangan dengan Sabun


Jika tidak mencuci tangan menggunakan sabun, kita dapat menginfeksi diri
sendiri terhadap kuman dengan menyentuh mata, hidung atau mulut. Dan kita juga
dapat menyebarkan kuman ke orang lain dengan menyentuh permukaan yang
mereka sentuh juga seperti handel pintu.
Penyakit infeksi umumnya menyebar melalui kontak tangan ke tangan
termasuk demam biasa, flu dan beberapa kelainan sistem pencernaan seperti diare.
Kebersihan tangan yang kurang juga dapat menyebabkan penyakit terkait
16

makanan seperti infeksi Salmonella dan E. Coli. Beberapa mengalami gejala yang
mengganggu seperti mual, muntah, dan diare.19

2.7.4 Teknik Mencuci Tangan yang Baik dan Benar serta Penggunaan Sabun
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka mencuci tangan haruslah
dengan air bersih yang mengalir, baik itu melalui kran air atau disiram dengan
gayung, menggunakan sabun yang standar, setelah itu keringkan dengan handuk
bersih atau menggunakan tisu.13
Untuk penggunaan jenis sabun dapat menggunakan semua jenis sabun
karena semua sabun sebenarnya cukup efektif dalam membunuh kuman penyebab
penyakit. Teknik mencuci tangan yang benar harus menggunakan sabun dan di
bawah air yang mengalir dengan langkah-langkah sebagai berikut:13
1. Basahi tangan dengan air di bawah kran atau air mengalir.
2. Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan, akan lebih baik jika
sabun yang mengandung antiseptik.
3. Gosokkan pada kedua telapak tangan.
4. Gosokkan sampai ke ujung jari.
5. Telapak tangan kanan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya)
dengan jari-jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan
tangan kiri, gosokkan sela-sela jari tersebut. Hal ini dilakukan pada kedua
tangan.
6. Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling
mengunci.
7. Usapkan ibu jari tangan kanan dengan punggung jari lainnya dengan gerakan
saling berputar, lakukan hal yang sama dengan ibu jari tangan kiri.
8. Gosokkan telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan
gerakan kedepan, kebelakang, berputar. Hal ini dilakukan pada kedua tangan.
9. Pegang pergelangan kanan kanan dengan pergelangan kiri dan lakukan
gerakan memutar. Lakukan pula pada tangan kiri.
10. Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir.
11. Keringkan tangan dengan menggunakan tissue atau handuk, jika
menggunakan kran, tutup kran dengan tisu.
17

Karena mikroorganisme tumbuh berkembang biak di tempat basah dan di air


yang menggenang, maka apabila menggunakan sabun batangan sediakan sabun
batangan yang berukuran yang kecil dalam tempat sabun yang kering. Hindari
mencuci tangan di waskom yang berisi air walaupun telah ditambahkan bahan
antiseptik, karena mikroorganisme dapat bertahan dan berkembang biak pada
larutan ini.
Apabila menggunakan sabun cair jangan menambahkan sabun apabila
terdapat sisa sabun pada tempatnya, penambahan dapat menyebabkan kontaminasi
bakteri pada sabun yang baru dimasukkan. Apabila tidak tersedia air mengalir,
gunakan ember dengan kran yang dapat dimatikan sementara menyabuni kedua
tangan dan buka kembali untuk membilas atau gunakan ember dan kendi/teko.20

2.8 Kerangka Konsep

Dari kerangka teori menjadi kerangka konsep menggunakan Teori Precede


Proceed dari Lawrence Green yang dimodifikasi dengan teori segitiga
epidemiologi yaitu perilaku seseorang tentang kesehatan ditentukan oleh
pengetahuan, dan sikap yang mendukung terjadinya perilaku tersebut, dalam hal
ini perilaku cuci tangan pakai sabun. Kerangka konsep penelitian ini digambarkan
sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen

Perilaku CTPS
Penyuluhan