Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH ILMU KALAM

Posted by carmi92 14.28, under mata kuliah | No comments

MAKALAH ILMU KALAM KERANGKA BERPIKIR ALIRAN ALIRAN ILMU KALAM,


LATAR BELAKANG, PERBEDAAN PENDAPAT DALAM ISLAM DAN PERSOALAN
PERSOALAN KALAM

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mengkaji aliran aliran ilmu kalam pada dasarnya merupakan upaya memahami kerangka
berpikir dan peroses pengambilan keputusan para ulama aliran teologi dalam menyelesaikan
persoalan persoalan kalam. Yang memiliki dua metode yaitu metode rasional yang memiliki
perinsif perinsif yaitu: Hanya terkait pada dogma dogma yang dengan jelas disebut dalam al
quran dan hadis nabi yaitu hadis qathi dan memberikan kebebasan kepada manusia dalam
berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat pada akal.

Adapun metode berpikir tradisional berpikir memiliki perinsif perinsif yaitu: Terkait pada
dogma dogma dan ayat ayat yang mengandung arti zhanni, Tidak memberikan kebebesan
kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat, yang memberikan daya yang kecil pada akal.

Menurut Harun Nasution kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan kalam dipicu oleh
persoalan politik yang menyangkut peristiwa penbunuhan utsman bin affan, yang terbentuk
dalam penolakan muawiyah atas kekhalifaan Ali bin Abi thalib. Persoalan ini telah menimbukan
3 aliran teologi dalam islam yaitu: Aliran khawarij, aliran ini berpendapat atau menegaskan
bahwa orang yang berdosa besar atau kafir dalam arti telah keluar dari islam maka wajib
dibunuh. Aliran murjiah yaitu menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap
mumin dan bukan kafir, adapun dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah untuk
mengampuni atau menghukumnya.Aliran mutazilah.

B. Rumusan masalah

A. Seperti apakah kerangka berpikir aliran aliran ilmu kalam ?


B. Apakah latar belakang perbedaan pendapat dalam islam ?

C. Bagai manakah persoalan persoalan kalam?

C. Tujuan

A. Untuk mengetahui kerangka berpikir aliran aliran ilmu kalam.

B. Untuk mengetahui latar belakang perbedaan pendapat dalam islam.

C. Untuk mengetahui persoalan persoalan kalam

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kerangka Berpikir Aliran Aliran Ilmu Kalam

Sebelum kita membahas tentang kerangka berpikir ilmu kalam, kita harus memahami apa
depenisi dari ilmu kalam itu sendiri. Ilmu kalam biasa disebut dengan beberapa nama yaitu:

1. Ilmu ushuludin

2. Ilmu tauhid

3. Fiqih ak-bar

4. Teologi islam

Jadi dapat disimpulkan bahwa Ilmu kalam adalah ilmu yang membahas berbagai masalah
keTuhanan dengan menggunakan argomentasi logika atau filsafat secara teoritis

Sebagaimana sumber ilmu kalam, Al Quran banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan
masalah keTuhanan seperti :

a. Q. S al iklas ( 112 ) : 3- 4 ayat ini menunjukan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak
diperanakan, serta tidak ada sesuatupun didunia ini yang tanpak sekutu baginya.

b. Q. S . asy syura ( 42 : 7 ayat ini menunjukan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun
didunia ini. Ia maha mendengar dan maha mengetahui.

c. Q. S. Ali imron ( 3) : 84 85, ayat ini menunjukan bahwa Tuhanlah yang menurunkan
petunjuk jalan kepada para nabi.

Ayat ayat diatas berkaitan dengan dzat, sifat, asma, perbuatan,tuntunan, dan hal hal lain yang
berkaitan dengan ekstensi Tuhan, yaitu pembicaraan tentang hal hal yang berkaitan dengan
keTuhanan itu disistimatiskan yang pada giliranhnya menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan
istilah ilmu kalam.

B. Latar Belakang Perbedaan Pendapat Dalam Islam

Latar belakang ilmu kalam muncul karena disebabkan oleh dua faktor yaitu :

1. Faktor internal adalah yang menyebabkan timbulnya ilmu kalam karena masalah masalah
politik karena akal pikiran mereka mulai memfilsafatkan agama, dan karena Al Quran itu
tidak hanya sebagai seruan dakwah.

2. Faktor eksternal yang menyebabkan timbulnya ilmu kalam karena kebanyakan orang
orang memeluk agama islam sesuda kemenangannya, karena golongan islam yang terdahulu
terutama mutazilah lebih mementingkan atau memusatkan perhatian untuk dakwah islamiyah
dan membantah orang orang yang membanta alasan orang orang yang memusuhi islam.

Mengkaji aliran aliran ilmu kalam pada dasarnya merupakan upaya memahami kerangka
berpikir dan peroses pengambilan keputusan para ulama aliran teologi dalam menyelesaikan
persoalan persoalan kalam.

Adapun perbedaan metode berpikir secara garis besar dapat dikategoikan menjadi dua macam
yaitu kerangka berpikir tradisional metode tradisional dan berpikir rasional .

Metode rasioal memiliki perinsif perinsif sebagai berikut :

1. Hanya terkait pada dogma dogma yang dengan jelas disebut dalam al quran dan hadis
nabi yaitu hadis qathi

2. Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan
daya yang kuat pada akal.

Adapun metode berpikir tradisional memiliki perinsif perinsif yaitu:

1. Terkait pada dogma dogma dan ayat ayat yang mengandung arti zhanni.
2. Tidak memberikan kebebesan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.

3. Memberikan daya yang kecil pada akal.

a. Aliran antroposentris

Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intracosmos dan impersonsl, ia
berhubungan erat dengan masyarkat cosmos baik yang natural maupun yang supernatural dengan
demikian manusia harus mampu menghapus, keperibadian kemanusiannya. Untuk meraih
kemerdekaan lilitan natural.

b. Teologi teosentris

Aliran ini mengagap bahwa hakikat realitas transenden bersifat supercosmos personal dan
ketuhanan. Kadang kala manusia teoritis untuk manusia yang statis sering kali terjebak dalam
kepasraan mutlak kepada Tuhan sikaf kepasraan menjadikan penguasa mutlak yang tidak dapat
diganggu gugat.

Aliran tioritis menggap bahwa daya yang menjadi potinsi perbuatan baik atau jahad manusia bisa
datang sewaktu dari Tuhan, bahkan manusia dapat dikatakan tidak mempunyai daya sama sekali
terhadap segala perbuatannya aliran teologi tergolong dalam kategori Jabariayah.

c. Aliran konvergensi / sentesis

Aliran ini menganggap bahwa hakekat realitas terensinden bersifat super sekaligus intracosmos
dan sifat lain yang dikotomik. Aliran konvergensi memandang bahwa pada dasarnya, segala
sesuatu itu selalu berada dalam ambigu ( serba ganda ) baik substansional maupun formal.
Substansi atau sesuatu mempunyai nilai nilai batinyah, hawiyah, dan enternal.

Aliran ini berkaitan bahwa hakikat daya manusia merupakan proses kerjasama antara daya yang
transendental ( Tuhan ) dalam bentuk kebijakan dan daya temporal ( manusia ) dalam bentuk
teknis. Kesimpulannya aliran ini berpendapat bahwa kehendak manusia yang perofan selalu
berdampingan dengan Tuhan yang sakral dan menyatu dalam daya manusia. Aliran yang dapat di
masukan kedalam kategori ini adalah asyariyah.

d. Aliran Nihilis

Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transendental hanyalah ilus. Aliran ini pun
menolak Tuhan yang mutlak, tetapi menerima berbagai variasi Tuhan cosmos. Manusia hanyalah
bintik kecil dari aktivitas mekanisme dalam suatu masyarakat yang serbah kebetulan.
C. Persoalan Persoalan Kalam

Menurut Harun Nasution kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan kalam dipicu oleh
persoalan politik yang menyangkut peristiwa penbunuhan utsman bin affan, yang terbentuk
dalam penolakan muawiyah atas kekhalifaan Ali bin Abi thalib.

Persoalan ini telah menimbukan 3 aliran teologi dalam islam yaitu:

a. Alira khawarij

Aliran ini menegaskan bahwa orang yang berdosa besar atau kafir dalam arti telah keluar dari
islam maka wajib dibunuh.

b. Aliran murjiah

Aliran ini menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap mumin dan bukan
kafir, adapun dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah untuk mengampuni atau
menghukumnya.

c. Aliran mutazilah

Aliran ini menegaskan bahwa tidak menerima kedua pendapat kahawarij dan murjiah, karena
bagi mereka orang yang berdosa bukan kafir tetapi bukan pula mumin. Mereka mengambil
antara mumin dan kafir, yang dalam bahasa arabnya dikenal dengan istilah Al- Manzilah
Manzilatan ( posisi diantara 2 posisi.

Dalam islam timbul pula dua aliran dalam tiologi yang terkenal dengan nama Qadariyah dan
Jabariyah. Menurut Qadariyah manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan
perbuatannya. Adapun jabariah adalah bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam
kehendak dan perbuatannya.

Aliran aliran khawarij. murjiah dan mutazilah tak mempunyai wujud lagi, kecuali dalam
sejarah. Adapun yang masih ada sampai sekarang adalah aliran asyariyah dan maturidiyah yang
keduanya disebut Ahluussunnah Wal Jamah .

Hubungan Ilmu Kalam Dengan Filsafat Islam Banyak para ahli yang berpendapat bahwa ilmu
kalam dan filsafat Islam memiliki hubungan karena pada dasarnya ilmu kalam adalah ilmu
ketuhanan dan keagamaan. Sedangkan filsafat Islam adalah pembuktian intelektual. Seperti
halnya Dr. Fuad Al-Ahwani dalam bukunya filsafat Islam tidak setuju kalau sama dengan ilmu
kalam. Karena ilmu kalam dasarnya adalah keagamaan atau ilmu agama. Sedangkan filsafat
merupakan pembuktian intelektual. Obyek pembahasannya bagi ilmu kalam berdasar pada Allah
swt. Dan sifat-sifatnya serta hubungannya dengan alam dan manusia yang berada di bawah
syariat-Nya. Obyek filsafat adalah alam dan manusia serta pemikiran tentang prinsip wujud dan
sebab-sebabnya. Seperti filosuf Aristoteles yang dapat membuktikan tentang sebab pertama yaitu
Allah. Tetapi ada juga yang mengingkari adanya wujud Allah swt. Sebagaimana aliran
materialisme. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya ilmu kalam dan filsafat tidak
memiliki hubungan karena obyek kajiannya berbeda. Kalam obyek kajiannya lebih mendasar
pada ketuhanan sedangkan filsafat Islam objek kajiannya tentang alam manusia yang berada
pada syariatnya.

HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU KALAM

Ilmu kalam adalah disiplin ilmu keIslaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang
persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai
pada perbincangan yang mendalam dengan dasar- dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah)
maupun naqliyah. Argumentasi yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung
menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi
pada argumentasi berupa dalil-dalil Al-Quran dan hadits. Pembicaraan materi-materi yang
tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah. Sebagai contoh, ilmu kalam
menerangkan bahwa Allah bersifat Sama, Bashar, Kalam, Iradah, Qudrah, Hayat, dan
sebagainya. Namun, ilmu kalam tidak menjelaskan bagaimana seorang hamba dapat merasakan
langsung bahwa Allah mendengar dan melihatnya, bagaimana pula perasaan hati seseorang
ketika membaca Al-Quran, bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta
merupakan pengaruh dari kekuasaan Allah ? Pernyataan-pernyataan diatas sulit terjawab hanya
dengan berlandaskan pada ilmu kalam. Biasanya, yang membicarakan penghayatan sampai pada
penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu Tasawuf. Disiplin inilah yang membahas

bagaimana merasakan nilai-nilai akidah dengan memperhatikan bahwa persoalan bagaimana


merasakan tidak saja termasuk dalam lingkup hal yang diwajibkan. Pada ilmu kalam ditemukan
pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan
batasannya. Sementara pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis
untuk merasakan keyakinan dan ketentraman. Sebagaimana dijelaskan juga tentang
menyelamatkan diri dari kemunafikan. Semua itu tidak cukup hanya diketahui batasan-
batasannya oleh seseorang. Sebab terkadang seseorang sudah tahu batasan-batasan kemunafikan,
tetapi tetap saja melaksanakannya. Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu Tasawuf
mempunyai fungsi sebagai berikut.1. Sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman
kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati terhadap ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih
terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu Tasawuf merupakan
penyempurna ilmu kalam.

Berfungsi sebagai pengendali ilmu Tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang
bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-
Quran dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan
atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah, atau belum pernah
diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu harus ditolak.

Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan- perdebatan kalam.


Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu
yang mengandung muatan rasional disamping muatan naqliyah, ilmu kalam dapat bergerak
kearah yang lebih bebas. Disinilah ilmu Tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga
ilmu kalam terkesan sebagai dialektika keIslaman belaka, yang kering dari kesadaran
penghayatan atau sentuhan hati. Andaikata manusia sadar bahwa Allahlah yang memberi,
niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna, kalau saja dia tahu kedudukan penghambaan diri,
niscaya tidak akan ada rasa sombong dan membanggakan diri. Kalau saja manusia sadar bahwa
Allahlah pencipta segala sesuatu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya. Dari sinilah dapat
dilihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam

Pendakian menuju Allah (pendakian para kaum sufi). Dalam ilmu Tasawuf, semuapersoalan yang
berada dalam kajian ilmu kalam terasa lebih bermakna, tidak kaku,tetapi akan lebih dinamis dan
aplikatif.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ilmu yang berkaitan dengan dzat, sifat, asma,
perbuatan,tuntunan, dan hal hal lain yang berkaitan dengan ekstensi Tuhan, yaitu pembicaraan
tentang hal hal yang berkaitan dengan keTuhanan itu disistimatiskan yang pada giliranhnya
menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan istilah ilmu kalam.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa makalah yang disusun ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh
karena itu keritik, saran, dan masukan yang sifatnya membangun sangatlah kami harapkan untuk
baiknya makalah ini ke depannya