Anda di halaman 1dari 145

FISIKA LINGKUNGAN

Oleh:

Prof. DR. Rolles N. Palilingan, MS


DR. Meity M. Pungus, MS

Physics Department., Faculty of Mathematics and


Natural Sciences,
Manado State University

MENU 1
MENU
HOME
BAB V
JANGKAUAN FISIKA ANALISIS FOURIER
LINGKUNGAN

BAB I dan II BAB VI


HUKUM GAS DAN TRANSFER
RADIASI ATMOSFERIK

BAB III
ANALISIS BAB VII
DIMENSIONAL ANALISIS
SENSITIVITAS
BAB IV
TRANSFER PANAS,
MASSA DAN AKHIR
MOMENTUM
JANGKAUAN FISIKA LINGKUNGAN

MENU 3
Hukum-Hukum Gas dan
Radiasi
Oleh:
Prof. DR. Rolles N. Palilingan, MS
DR. Meity M. Pungus, MS
Physics Department., Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Manado State University

MENU MENU BAB I & II 4


MANU BAB I & II
HOME
BAB I & II HUKUM
RADIASI
TEKANAN, ASAL
KERAPATAN HUKUM
GAS RADIASI
DAN SUHU
RADIASI
UAP AIR BENDA
PARAMETER HITAM
KELEMBABAN
LAIN PELEMAHAN
PROSES SINAR
TRANSFER PARALEL
MOLEKULER

ANALOGI DGN AKHIR


HUKUM OHM MENU 5
1.1. Tekanan Kerapatan dan
Suhu
Tekanan

Kerapatan

Suhu

MENU MENU BAB I & II 6


Tabel 1-1. Kompoaiai Udara Kering

MENU MENU BAB I & II 7


1.2. Uap Air
102 eM 217e

RT T

MENU MENU BAB I & II 8


Gambar 1-1. Hubungan antara tekanan uap jenuh dan suhu

MENU MENU BAB I & II 9


Parameter Kelembaban lain:
1. Kelembaban Relatif:

2. Suhu Titik Embun:

3. Defisit Tekanan Uap

MENU MENU BAB I & II 10


1.3. Proses Transfer Molekular
ANALOGI:

MENU MENU BAB I & II 11


Analogi dengan Hukum Ohm:

MENU MENU BAB I & II 12


Analogi dengan hukum Ohm

MENU MENU BAB I & II 13


2. Hukum-Hukum Radiasi

MENU MENU BAB I & II 14


2.1. Asal Radiasi

MENU MENU BAB I & II 15


2.2. Radiasi Benda Hitam
Hukum Wien:

Hukum Radiasi Planck:

Hukum Stefan Boltzmann:

MENU MENU BAB I & II 16


Radiasi Benda Hitam

MENU MENU BAB I & II 17


2.3 Pelemahan Sinar paralel

MENU MENU BAB I & II 18


Analisis Dimensional
Oleh:
Prof. DR. Rolles N. Palilingan, MS
DR. Meity M. Pungus, MS
Physics Department., Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Manado State University

MENU MENU BAB III 19


Menu BAB III
HOME
METODE
BAB III
RAYLEIGH
PRINSIP
ANALISIS METODE
DIMENSIONAL LAIN

MENENTUKAN
KELOMPOK TAK
HUBUNGAN
BERDIMENSI
FISIK

HUKUM CONTOH
KESERAGAMAN APLIKASI
DIMENSI DALAM FL

AKHIR
MENU 20
Prinsip Analisis Dimensional:

MENU MENU BAB III 21


Kelompok tak berdimensi:

Gerak Jatuh Bebas

MENU MENU BAB III 22


Hukum Keseragaman Dimensi:

1 2
X = X0 + v0 t + at
2
MENU MENU BAB III 23
Metode Rayleigh

MENU MENU BAB III 24


Metode Rayleigh

MENU MENU BAB III 25


Metode Lain:

Metode Buckingham

Metode Cepat

MENU MENU BAB III 26


Menentukan Hubungan Fisik

MENU MENU BAB III 27


Contoh Aplikasi dalam Fisika Lingkungan

MENU MENU BAB III 28


Contoh Aplikasi dalam Fisika Lingkungan

MENU MENU BAB III 29


Contoh Aplikasi dalam Fisika Lingkungan

MENU 30
Contoh Aplikasi dalam Fisika Lingkungan

MENU MENU BAB III 31


Contoh Aplikasi dalam Fisika Lingkungan

MENU MENU BAB III 32


Transfer Panas, Massa dan
Momentum
Oleh:
Prof. DR. Rolles N. Palilingan, MS
DR. Meity M. Pungus, MS
Physics Department., Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Manado State University

MENU MENU BAB IV 33


HOME Tahanan pada
BAB IV transfer panas dan
Menu BAB IV
massa dalam
PENDAHULUAN konveksi paksa KONVEKSI
laminar BEBAS
Transfer Entitas
pada Objek Alam
dan Mahluk
Hidup Kombinasi
Konveksi Paksa
BOUNDAR dan Konveksi
Y LAYER Bebas
Transport
DIFUSI /Transfer
MOLEKULER Momentum

KONVEKSI AKHIR
MENU 34
Transfer Panas, Massa dan Momentum

Pendahuluan
Makhluk hidup bergantung pada
transfer panas, massa (seperti CO2, O2
dan uap air) dan momentum pada
medium udara. Transfer (pertukaran)
tersebut dapat terjadi antara permukaan
objek-objek alam atau organisme
dengan udara.
MENU MENU BAB IV 35
Transfer Panas, Massa dan Momentum

Sebagai contoh pertukaran suatu entity


(panas, massa dan momentum) pada
permukaan tubuh manusia, hewan, atau
objek-objek alam. Dilihat dalam skala
ruang ini merupakan tinjauan fenomena
transfer dalam skala mikro.

MENU MENU BAB IV 36


Transfer Panas, Massa dan Momentum

Transfer entitas dapat juga dilihat dalam skala


makro yaitu pada permukaan suatu hamparan.
Misalnya di atas permukaan hamparan tanaman
pertanian, padang rumput (atau padang pasir),
hamparan tegakan hutan, hamparan pemukiman
(kota) dan lain-lain. Fenomena transfer dalam
tinjauan ini disebut transfer atmosferik.

MENU MENU BAB IV 37


Transfer Panas, Massa dan Momentum

Dalam bab ini pembahasan tentang fenomena


transfer difokuskan untuk skala mikro.

MENU MENU BAB IV 38


Transfer Entitas pada Objek Alam dan
Mahluk Hidup
Pertama akan dibahas difusi molekuler. Melalui
proses ini suatu entitas berpindah ke atau dari
permukaan objek alam atau mahluk hidup. Difusi
molekuler juga penting dalam transfer panas
konvektif dan transfer massa antara permukaan dan
fluida yang bersentuhan dengan permukaan karena
boundary layer tipis selalu terbentuk dekat
permukaan di mana didalamnya transport
berlangsung secara difusi molekuler.
MENU MENU BAB IV 39
Boundary Layer

Boundary
Di dalam layer
Boundary (Lapisan
layer Objek
batas)
berlangsung Berbentuk
difusi Bola
Transfer
molekuler Momentum
Transfer Transfer
Uap Air Transfer Massa
MENU Panas MENU BAB IV 40
Transfer pada boundary layer

Kerapatan fluks sesuai persamaan-persamaan di


atas dihitung apabila property yang ditinjau (suhu
atau konsentrasi) diukur dan r ditentukan
berdasarkan sifat-sifat permukaan, materi yang
berdifusi dan sifat-sifat lingkungan sekitar. Jika r
tidak dapat diduga, maka persamaan-persamaan
tersebut hanya memberikan gambaran tentang
driving forces (daya penggerak) terhadap transfer
suatu entitas.

MENU MENU BAB IV 41


Difusi molekuler.
Difusi molekuler. Deskripsi analitik tahanan
transfer (r) dapat dengan mudah diperoleh untuk
kondisi dimana panas atau massa berpindah
(diangkut) melalui gerak molekuler acak. Hukum
Fick untuk difusi suatu komponen, j, dalam satu
dimensi, dalam suatu sistem Permukaan-Udara
adalah
.....(4.4)

di mana Dj adalah difusivitas komponen j, dj/dx


adlah gradien konsentrasi.
MENU MENU BAB IV 42
Difusi molekuler.

Jika kita menganggap bahwa semua material


yang berdifusi melintasi batas imajiner di x
berawal dari permukaan (gambar 4.1) dengan
luas A(s) dimana kerapatan fluks adalah Fj(s),
suatu konstanta, maka,

.....(4.5)

MENU MENU BAB IV 43


Difusi molekuler.

MENU
Difusi molekuler.

Integrasi persamaan (4.5) dan subtitusi


dari persamaan,

.....(4.3)

memberikan.

.....(4.6)

MENU MENU BAB IV 45


Difusi molekuler.

Persamaan 4.6 dapat dipecahkan dengan mudah


untuk beberapa bentuk objek alam yang teratur
(sederhana) seperti bentuk plat, bola dan
silender. Penyelesaian persamaan 4.6 untuk
objek alam berbentuk plat, bola dan silender
masing-masing diperoleh:

berbentuk plat:
.....(4.7)

MENU MENU BAB IV 46


Difusi molekuler.

berbentuk bola:
.....(4.8)
l

berbentuk Silinder:

.....(4.9)

MENU MENU BAB IV 47


Difusi molekuler.

Sebelum kita dapat menggunakan persamaan (4.7) sampai (4.9) kita


perlu mengetahui nilai Dj. Nilai ini bergantung pada sifat-sifat material
(entitas) yang berdifusi dan medium dimana difusi terjadi. Difusivitas
diudara dapat di koreksi untuk efek suhu dan tekanan dengan
hubungan,

.....(4.10)

Djo adalah difusivitas pada level laut ( 100 kPa ) dan suhu
dasar, To, dan n = 2 untuk CO2 dan 1,75 untuk gas lainnya.
MENU MENU BAB IV 48
Difusi molekuler.

Dalam kisaran suhu terbatas yang sesuai


dengan biofisika lingkungan, yaitu 5 s/d 50o C,
persamaan berikut cukup akurat untuk tujuan-
tujuan praktis.
Dj ( T ) = Djo ( 1 + 0,007 T ) .....(4.11)
dimana T adalah suhu dalam derajat Celsius
dan koefisien dalam satuan m2s 1 adalah :

MENU MENU BAB IV 49


Konveksi. Dalam bagian terdahulu kita telah
Konveksi

membahas transfer panas dan massa melalui


proses difusi molekular. Udara dianggap tenang
atau bergerak dengan aliran laminar sehingga tidak
ada gradien konsentrasi dalam arah aliran.
Sekarang akan dibahas transport konvektif ke atau
dari permukaan objek alam (organisme) yang ada
dalam fluida. Dalam hal ini asumsi yang dipakai
untuk difusi molekular tidak dapat digunakan.
Namun demikian persamaan (4.1) sampai (4.3)
masih dapat digunakan asalkan r didefenisikan
secara tepat. MENU MENU BAB IV 50
Konveksi

Analisis fundamental transport konvektif dapat


menjadi sangat kompleks dan belum mungkin
untuk kebanyakan bentuk permukaan. Untuk
alasan ini pendekatan empirik telah digunakan
sebagai alternatif yang memuaskan. Untuk
membuat hasil-hasil studi empirik dapat berlaku
pada sebanyak mungkin situasi yang berbeda,
kelompok-kelompok tak berdimensi dari variabel-
variabel fisik telah di bentuk secara empirik.

MENU MENU BAB IV 51


Konveksi
Tabel 4.1

MENU MENU BAB IV 52


Konveksi

MENU MENU BAB IV 53


Tahanan pada transfer panas dan massa
dalam konveksi paksa laminar
Konveksi paksa ( forced convection ) menunjuk
pada kondisi dimana fluida dipindahkan melalui
suatu permukaan oleh gaya-gaya eksternal
(analisis akan sama dengan permukaan yang
bergerak dalam fluida yang diam). Sedangkan
konveksi bebas (free convection) menunjuk pada
gerak fluida yang disebabkan oleh gradien
kerapatan dalam fluida pada saat udara
dipanaskan oleh permukaan pertukaran.
MENU MENU BAB IV 54
Tahanan pada transfer panas dan massa dalam konveksi paksa laminar

Tahanan pada transfer panas untuk permukaan


dengan konveksi paksa diperoleh dengan
mengkombinasikan persamaan (4.1) dengan
definisi bilangan Nusselt dari tabel 4.1 dan di
peroleh,
.....(4.12)

Kita membutuhkan perkiraan Nu untuk


mendapatkan rH. Untuk plat datar dalam aliran
laminar, teori transfer panas memberikan
hubungan berikut : MENU MENU BAB IV 55
Tahanan pada transfer panas dan massa dalam konveksi paksa laminar

.....(4.13)
Oleh karena itu persamaan (4.12) menjadi,

.....(4.14)

Khusus untuk udara pada 20o C dan tekanan 100


kPa, substitusi dari tabel 4.1 untuk Re
mendapatkan,
MENU MENU BAB IV 56
Tahanan pada transfer panas dan massa dalam konveksi paksa laminar

.....(4.15)

dimana d adalah dalam meter (m) dan u adalah


dalam m/s, rH dalam s/m.
Persamaan (4.15) diturunkan hanya untuk aliran
laminar di atas plat datar. Persamaan itu
merupakan tahanan terhadap transfer panas dari
satu sisi plat. Persamaan (4.13) dapat digunakan
untuk semua korelasi bola dan silender untuk
bilangan Reynolds yang biasa ditemui di alam.

MENU MENU BAB IV 57


Tahanan pada transfer panas dan massa dalam konveksi paksa laminar

Oleh karena itu kita akan menggunakan


persamaan (4.15) untuk menentukan tahanan pada
objek alam (organisme) yang berbentuk (mendekati
bentuk) plat, bola, dan silender, dengan d adalah
diameter bola atau silender atau panjang plat (atau
panjang silender dalam arah longitudinal) dalam
arah aliran.
Dengan mengkombinasikan persamaan 4.2 atau
4.3 dengan definisi bilangan Sherwood dari tabel
4.1 kita memperoleh,
MENU MENU BAB IV 58
Tahanan pada transfer panas dan massa dalam konveksi paksa laminar

.....(4.16)

Untuk plat dalam aliran laminar, teori transfer


massa memberikan persamaan berikut
.....(4.17)

Dari ini, persamaan tahanan adalah,

.....(4.18)
MENU MENU BAB IV 59
Tahanan pada transfer panas dan massa dalam konveksi paksa laminar

Substitusi variabel-variabel yang sesuai untuk Sc


dan Re dari tabel 4.1 memberikan hubungan-
hubungan berikut untuk udara pada tekanan 100
kPa dan suhu dasar 20oC:

.....(4.19)

.....(4.120)

.....(4.21)
MENU MENU BAB IV 60
Tahanan pada transfer panas dan massa dalam konveksi paksa laminar

di mana rc adalah untuk CO2 dan ro adalah untuk


oksigen. Persamaan-persamaan ini juga dapat
dipakai untuk bentuk bola dan silender.

Persamaan-persamaan yang sama untuk transport


material lainnya atau transport dalam fluida selain
udara dapat diturunkan dari persamaan 4.16 dan
4.18 jika aliran laminar dan kondisi steady-state
dipenuhi.

MENU MENU BAB IV 61


Konveksi bebas.
Transport melalui konveksi bebas terjadi ketika
suatu benda (tubuh) pada suhu tertentu
ditempatkan dalam fluida pada suhu yang lebih
rendah atau lebih tinggi. Transfer panas antara
benda (tubuh) dan fluida menyebabkan gradien
kerapatan dalam fluida dan gradien kerapatan ini
menyebabkan fluida bercampur.

MENU MENU BAB IV 62


Konveksi bebas

Proses-proses transfer adalah sama dengan


dalam konveksi paksa kecuali bahwa dalam
konveksi paksa kecepatan fluida meningkat
dengan jarak dari permukaan sedangkan dalam
konveksi bebas kecepatan fluida meningkat
kemudian menurun lagi. Ini ditunjukan dalam
Gambar 4.2.

MENU MENU BAB IV 63


Ganbar 4.2 Perbandingan distribusi kecepatan fluida dalam konveksi bebas dan konveksi paksa

MENU MENU BAB IV 64


Konveksi bebas

Untuk transfer panas, pengamatan-pengamatan


dikorelasikan dengan menggunakan kelompok-
kelompok tak berdimensi Nu, Pr, dan Gr (tabel
4.1). Untuk konveksi bebas laminar, suatu
ekspresi yang cukup memadai untuk objek
berbentuk silender (horisontal atau vertikal), bola,
plat datar vertikal, dan permukaan datar yang
dipanaskan yang menghadap ke atas atau
permukaan datar yang didinginkan yang
menghadap ke bawah

MENU MENU BAB IV 65


Konveksi bebas

.....(4.22)
Untuk permukaan yang didinginkan yang
menghadap ke atas atau permukaan yang
dipanaskan yang menghadap ke bawah, transfer
panas hanya setengah efisien sehingga Nu hanya
setengah dari persamaan (4.22).
.....(4.23)

Dengan mengkombinasikan persamaan 4.12


dengan persamaan 4.22 kita dapat menyatakan rH
sebagai. MENU MENU BAB IV 66
Konveksi bebas

.....(4.24)

Untuk udara pada suhu 20oC dan tekanan 100


kPa, dan dengan menggunakan definisi Gr dari
tabel 4.1, kita dapat menulis

.....(4.25)

dimana rH adalah dalam s/m, d dalam m, dan T dalam oC


MENU MENU BAB IV 67
Konveksi bebas

Untuk transfer massa melalui konveksi bebas,

.....(4.26)

Tahanan konveksi bebas adalah 0,92, 1,34 dan


1,05 kali tahanan transfer panas (persamaan
4.25) untuk berturut-turut uap air, CO2 dan O2.

MENU MENU BAB IV 68


Konveksi bebbas

Ketika uap air ditransport gradien kerapatan


mengembang sebagaimana udara yang
dipanaskan, karena udara basah kurang padat dari
pada udara kering. Hal ini lebih sesuai
diperhitungkan dengan menggunakan suhu virtual
dalam persamaan (4.25) dari pada suhu aktual.

MENU MENU BAB IV 69


Konveksi Bebas

Suhu virtual adalah suhu yang dibutuhkan udara


kering untuk membuat kerapatannya sama
dengan kerapatan udara basah dengan kerapatan
uap tertentu. Suhu virtual didekati oleh
persamaan.

.....(4.27)

Oleh karena itu perbedaan suhu untuk persamaan


4.25 akan menjadi :
MENU MENU BAB IV 70
Konveksi bebas.

.....(4.28)

Dalam sistim basah dengan TsTa kecil, faktor


koreksi dalam persamaan 4.28 dapat menjadi
beberapa kali lebih besar dari TsTa sehingga
kontribusinya menjadi penting.

MENU MENU BAB IV 71


Kombinasi Konveksi Paksa dan Konveksi Bebas
Hampir semua proses transfer konvektif di alam
melibatkan keduanya konveksi paksa dan konveksi
bebas. Biasanya salah satu proses mendominasi
dan tahanan yang digunakan adalah tahanan yang
dihitung berdasarkan proses yang dominan
(konveksi bebas atau konveksi paksa). Kriteria
yang biasa digunakan untuk melihat proses mana
yang dominan adalah dengan melihat rasio
Gr/Re2. Jika rasio ini kecil, konveksi paksa yang
dominan.
MENU MENU BAB IV 72
Kombinasi Konveksi Paksa dan Konveksi Bebas

Sebaliknya jika rasio ini besar, konveksi bebas


yang dominan. Kalau rasio ini mendekati satu
maka konveksi paksa maupun konveksi bebas
keduanya harus diperhitungkan, dan nilai r
tergantung pada kecepatan aliran sesuai prinsip
pada gambar 4.2.

MENU MENU BAB IV 73


Transport Momentum.
Ketika fluida bergerak di atas suatu permukaan,
fluida mengerjakan gaya gesekan (frictional force)
pada permukaan dalam arah aliran. Permukaan
mengerjakan gaya yang sama besar dan
berlawanan arah pada fluida. Kecepatan fluida nol
pada permukaan kemudian meningkat dengan jarak
dari permukaan. Jika suatu plat datar tipis
ditempatkan dalam fluida yang sedang bergerak
dengan arah yang sedemikian rupa sehingga fluida
mengalir halus di atas plat, kerapatan fluks pada
salah satu sisi plat diberikan oleh
MENU MENU BAB IV 74
Transport momentum

.....(4.29)
kerapatan fluks ini disebut skin friction.
Fluks momentum dapat juga dinyatakan sebagai
perbedaan konsentrasi momentum antara aliran
bebas dan permukaan, dibagi dengan tahanan :
.....(4.30)

sehingga rM didefenisikan sebagai,


MENU MENU BAB IV 75
Transport Momentum.

.....(4.31)

untuk udara pada suhu dasar 200C dan tekanan


dasar 100 kPa,
.....(4.32)

Pada bilangan Reynolds (Re) di atas 10 gaya fluida


pada benda disebut form drag. Dalam pengalaman
kita mengenal form drag sebagai gaya yang
dilakukan angin atau air yang bergerak pada kita atau
juga pembengkokan pohon karena tipuan angin.
MENU MENU BAB IV 76
Transport Momentum.

Dengan pemahaman form drag memungkinkan


kita untuk menghitung gaya angin pada tubuh kita
atau pada sebuah pohon atau suatu hamparan
tanaman. Kita juga dapat menghitung kerja yang
dibutuhkan manusia (atau hewan) pada waktu
berenang dalam air.
Gaya rata-rata pada suatu benda (tubuh) karena
form drag per satuan luas melintang tegak lurus
arah aliran dapat dihitung dari.
.....(4.33)

MENU MENU BAB IV 77


di mana Cd adalah koefisien drag, kerapatan
Transport Momentum.

fluida, dan u adalah kecepatan fluida.

Tabel 4.2 memberikan koefisien-koefisien drag


beberapa bentuk umum untuk kisaran Re dan
menunjukkan bagaimana luas untuk penggunaan
persamaan 4.32 ditentukan. Pada Re lebih rendah
dari nilai yang dinyatakan dalam tabel, Cd
meningkat dan mendekati nilai yang diprediksi
oleh persamaan 4.29, yaitu Cd = 0,644 Re-1/2.

MENU 78
Transport Momentum.

MENU MENU BAB IV 79


ANALISIS FOURIER
Oleh:
Prof. DR. Rolles N. Palilingan, MS
DR. Meity M. Pungus, MS
Physics Department., Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Manado State University

MENU MENU BAB V 80


HOME
BAB V KONTINUASI/
Menu BAB V
DISKRITISASI
DEFINISI
ANALISIS
FOURIER
Contoh
FUNGSI Kasus
FOURIER

PLOTTING
FUNGSI
FUNGSI FOURIER FOURIER
DUA DIMENSI

AKHIR
FUNGSI FOURIER
TIGA DIMENSI
MENU 81
Definisi Analisis Fourier
Sebagian besar variabel-variabel fisik
lingkungan adalah variabel yang berubah
menurut ruang dan waktu. Sebagai contoh:
Suhu udara, Intensitas radiasi matahari,
kecepatan angin, kelembaban, konsentrasi
massa, laju transfer (momentum, panas,
massa) dan lain-lain.

MENU MENU BAB V 82


Definisi Analisis Fourier

Variabel yang memiliki sifat seperti ini


memenuhi syarat Dirichlet: Jika suatu fungsi
periodik bermakna fisis dinyatakan oleh f(t)
dan periodenya adalah T maka
f(t) = f( t+T )
dimana T adalah nilai terkecil dari

MENU MENU BAB V 83


Definisi Analisis Fourier

periode yang mungkin dimiliki oleh fungsi f(t).


Variabel t dapat berupa koordinat ruang atau
waktu, dan sebagainya. Andaikan f(t) suatu
fungsi yang berkelakuan baik, yaitu
memenuhi syarat-syarat Dirichlet berikut:

MENU MENU BAB V 84


Definisi Analisis Fourier

1. f(t) bernilai tunggal dimana-mana;


2. f(t) terintegrasi secara mutlak, artinya
to T


to
f (t ) dt ada

(berhingga) untuk setiap pemilihan t ;

MENU MENU BAB V 85


Definisi Analisis Fourier

3. f(t) memiliki ketakmalaran (diskontinuitas)


yang terbatas jumlahnya dalam setiap
periode;
4. f(t) mempunyai nilai ekstrim (maksimum
dan minimum) yang terbatas banyaknya
dalam t tiap periode.

MENU MENU BAB V 86


Definisi Analisis Fourier

maka f(t) dapat dijabarkan ke dalam deret suku-


suku harmonik sinus dan / atau kosinus
berbentuk :

oo
a0
f(t) =
2
(a
n =1
n Cos nt + b n Sin nt)

MENU MENU BAB V 87


Definisi Analisis Fourier

dimana suatu konstanta matematik


(yang bermakna fisis) dan memenuhi
definisi.

2

T

MENU MENU BAB V 88


Definisi Analisis Fourier

Bila t variabel waktu maka adalah parameter


frekuensi bernilai waktu. Dan variabel ruang
(seperti x, y, z, atau yang sejenis) maka
adalah parameter frekuensi bernilai ruang yang
biasa bersimbol k. Dalam persamaan (6.1) an
dan bn dinamakan koefisien Fourier dan
diberikan oleh persamaan.

MENU MENU BAB V 89


Definisi Analisis Fourier

to +T
2
An =
T
to
f(t) Cos nt

to + T
2
Bn =
T
to
f (t)Sin n t

MENU MENU BAB V 90


Fungsi Fourier

Satu Dimensi

MENU MENU BAB V 91


Dua Dimensi

MENU MENU BAB V 92


Tiga Dimensi

MENU MENU BAB V 93


Kontinuisasi dan Diskrititasi dengan Analisis
Fourier
Dalam rujukan aplikasi statistik analisis Fourier
persamaan fungsi Fourier dinyatakan dalam
bentuk diskrit. Andaikan bahwa XoXn 1
adalah kumpulan n pengamatan suatu
variabel fisis, maka dapat ditentukan.

MENU MENU BAB V 94


Definisi Analisis Fourier

n-1
1
A0 =
n
f (t) = X
t=0

n-1
2
Aj=
n
f(t)cos jt
t=0

n-1
2
Bj =
n
f
t=0
(t) sin jt

MENU MENU BAB V 95


FUNGSI FOURIER
Fungsi Fourier dituliskan sebagai berikut:

f(t)= A0 +
0<j<(n-1)/2
(A j cos jt + Bj sin jt)

n-1
2
f(t)= A0 + (A j cos jt + B j sin jt)
j=0

MENU MENU BAB V 96


Definisi Analisis Fourier

dimana Cj = (aj2 + bj2)1/2

dan
j = arc Sin (Bj/Cj)

SKj = (Cj2 / 2S2) x 100%

MENU MENU BAB V 97


Sumbangan Keragaman

SKj = (Cj 2 / 2S )
2 x 100%

Cj = (aj2 + bj2)1/2

MENU MENU BAB V 98


Contoh Kasus

MENU MENU BAB V 99


Contoh Kasus

MENU MENU BAB V 100


Contoh Kasus

MENU MENU BAB V 101


Contoh Kasus

MENU MENU BAB V 102


Plotting Fungsi Fourier

MENU MENU BAB V 103


Transfer Atmosferik
Oleh:
DR. Rolles N. Palilingan, MS
DR. Meity M. Pungus, MS
Physics Depatment., Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Manado State University

MENU MENU BAB VI 104


HOME PENDUGAAN PERHITUNGAN
BAB VI LAJU TRANSFER LAJU
Menu
MenuBAB
BABIVVI
TRANSFER
PENDAHULUAN PLOTTING u(z),
T(z), (z) terhadap
ln (Z)
BOUNDARY
LAYER Trial and Errod
Pendugaan nilai
Metode Tiga parameter d (pergeseran
Energi
Titik bidangh nol)
Richardson
dan Stabilitas
Atmosfir Perhitungan Laju
Transfer dari AKHIR
Persamaan Profil
BILANGAN
RICHARDSON
MENU 105
Pendahuluan

Transfer Panas, Massa dan Momentum


Atmosfir Dekat Permukaan
Pada pembahasan yang lalu kita telah
membahas transfer panas massa (seperti
CO2, O2 dan uap air) dan momentum pada
skala mikro yaitu pada permukaan mahluk
hidup atau organisme pada umumnya.

MENU MENU BAB VI 106


Transfer Panas, Massa dan Momentum
Atmosfir Dekat Permukaan

Pada bagian transfer atmosferik masih


membahas transfer entitas yang sama
tetapi dalam skala makro. Yaitu transfer
entitas di atas suatu hamparan
permukaan seperti padang rumput, di
atas hamparan tanaman pertanian, di
atas hamparan pemukiman dan lain-
lain.

MENU MENU BAB VI 107


Boundary Layer

Dalam konteks ini tetap kita


membicarakan boundary layer tetapi
dalam skala mikro. Sistem yang ditinjau
adalah pada beberapa meter di atas
permukaan.

MENU MENU BAB VI 108


BoundaryLayer

MENU MENU BAB VI 109


Boundary layer

MENU MENU BAB VI 110


Energi Richardson dan Stabilitas Atmosfir
Setelah melalui analisis matematis yang rumit,
Calder (1949) menunjukkan persamaan untuk rata-
rata energi kinetik turbulensi udara adalah

..(4.33)

di mana : D, menggambarkan kehilangan energi


karena viskositas; w, fluktuasi kecepatan dalam
arah vertikal; p, perubahan tekanan udara; ,
rata-rata kerapatan udara
MENU MENU BAB VI 111
Energi Richardson Stabilitas Atmosfir

Untuk atmosfer dekat permukaan; tekanan udara


(p) dan kerapatan udara () dapat dianggap
konstan, di samping itu suhu potensial () sama
dengan suhu mutlak (T). Dengan mengabaikan
kedua suku terakhir dalam persamaan (4.33)
diperoleh persamaan energi Richardson,

.....(4.34)

MENU MENU BAB VI 112


KM(z),KH(z) = koefisien difusi eddy untuk
Energi Richardson Stabilitas Atmosfir

momentum dan panas (yaitu


viskositas eddy dan konduktivitas
eddy).

g = percepatan gravitasi.
= laju perubahan suhu adiabatik kering
(dry adiabatic lapse rate), yang sama
dengan g/cp = 0,98 0C/100 m.
MENU MENU BAB VI 113
yang merupakan persamaan yang mendasari
Energi Richardson Stabilitas Atmosfir

parameter-parameter penentu stabilitas atmosfer.


Faktor pertama ruas kanan menggambarkan
produksi mekanis dan faktor kedua adalah
produksi konvektif energi kinetik turbulent.
Persamaan (4.34) dapat diubah dalam bentuk,

.....(4.35)
dan suku terakhir ruas kanan adalah besaran tak
berdimensi yang disebut bilangan Richardson,
MENU MENU BAB VI 114
Bilangan Richardson Stabilitas Atmosfir

Secara umum bilangan Richardson menghubungkan


peran relatif buoyancy (pembilang) terhadap gaya
mekanis (penyebut), yaitu konveksi bebas (free
convection) dan konveksi paksa (forced convection)
dalam aliran turbulent. Dalam kondisi tidak stabil
konveksi bebas mendominasi dan Ri negatif. Dalam
kondisi stabil Ri positif dan dalam kondisi netral Ri
mendekati nol.
MENU MENU BAB VI 115
Energi Richardson Stabilitas Atmosfir

Turbulensi atmosfir akan makin besar sejalan


dengan makin tidak stabilnya kondisi atmosfir.
Apabila Ri negatif (Ri<0,01) maka E(z,t)/t
semakin besar, yang berarti turbulensi semakin
besar, sebaliknya makin kecil bila Ri dalam
persamaan tersebut positif (Ri>0,01)

MENU MENU BAB VI


Pendugaan Laju Transfer
Berikut ini akan diberikan beberapa pendekatan
dalam memperkirakan besarnya laju transfer
entitas (panas, massa dan momentum). Ada
tiga metode yang dikenal yaitu:
a) Metode profil
b) Metode persamaan fluks
c) Metode Monteith

MENU MENU BAB VI 117


(a) Metode Profil
Metode profil dilakukan dengan mengadakan
pengukuran properti yaitu:
a) Kecepatan angin, u
b) Suhu udara, T
c) Konsentrasi uap air
d) Konsentrasi CO2
e) Konsentrasi O2 atau gas lain
Pada lebih dari dua ketingin di atas permukaan.
MENU MENU BAB VI 118
Metode Profil
z
Arah Angin
Titik Pengukuran 1,
z1 sampai 4, z4
z4

z3

z2

z1

Permukaan rumput pendek


MENU MENU BAB VI 119
Transfer MomentumKecepatan angin
Metode Profil

(a) Kondisi adiabatik (netral)

MENU MENU BAB VI 120


Plottting terhadap ln (z)

MENU MENU BAB VI 121


Perhitungan Laju Transfer Momentum:
u* 2
u* ditentukan dari kemiringan garis
pada gambar (b) di atas, di mana k
adalah suatu konstanta empirik yang
besarnya 0,41
u u *

z kz
Bentuk persamaan u z
profil angin adalah u ( z) 1n
sebagai berikut: k z
MENU MENU BAB VI 122
Perhitungan Laju Transfer Momentum:

Nilai zo (roughness lengthpanjang kekasaran


permukaan) ditentukan dengan cara extrapolasi
pada gambar (b). Perpotongan garis lurus pada
sumbu vertikal (len z) merupakan nilai dari len
zo sehingga zo dapat dihitung dengan cara,
Misalkan len zo= a maka zo = ea di mana e =
2,72.

Bila permukaan adalah permukaan kasar maka


persamaan profil angin akan berbentuk:
MENU MENU BAB VI 123
Perhitungan Laju Transfer Momentum:

(d = pergeseran bidang nol)


Yang valid bila z>>h (tinggi elemen permukaan)
Dalam praktek parameter d diperoleh dengan memplot
u(z) terhadap ln(z-), katakan untuk beberapa nilai
sekitar 0,6h sampai 0,8h, sebagaimana ditunjukkan
dalam gambar (b). Asalkan bahwa pengukuran
kecepatan angin dalam kondisi stabilitas netral, nilai
yang menghasilkan garis lurus, adalah nilai d yang
dibutuhkan. Maka nilai zo yang sesuai dapat diperoleh
dari intercept garis ini pada skala sumbu vertikal.
MENU MENU BAB VI 124
Perhitungan Laju Transfer Momentum:

MENU MENU BAB VI 125


Trial and error pendukaan nilaid

MENU MENU BAB VI 126


Pendugaan nilai d_Metode tiga titik

MENU MENU BAB VI 127


Perhitungan laju Transfer dari
Persamaan Profil
Perhitungan laju transfer

MENU MENU BAB VI 128


Transfer Panas dan MasaSuhu Udara, Konsentrasi masa

MENU MENU BAB VI 129


ANALISIS SENSITIVITAS
Oleh:
Prof. DR. Rolles N. Palilingan, MS
DR. Meity M. Pungus, MS
Physics Department., Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Manado State University

MENU MENU BAB VII 130


HOME
Contoh
BAB VII
Menu Bab VII
Skenario

PENGANTAR
Contoh
Kasus

METODE
DIFERENSIAL AKHIR

Persentasi perubahan
Variabel, Berdasarkan
persamaan diferensial

MENU 131
Pengantar
Analisis Sensitivitas (Sensitivity Analysis) dalam
fisika, prinsipnya sebenarnya sudah lama
dikenal dalam Fisika, yaitu pada pokok tentang
Teori Kesalahan.
Sebenarnya banyak metode yang digunakan
dalam analisis sensitivitas. Akan tetapi dalam
konteks buku ini, hanya akan dibatasi pada
metode Diferensial.

MENU MENU BAB VII 132


Metode Diferensial
Metode ini sudah lama dikenal dalam fisika.
Sebagaimana yang sudah dikenal dalam teori
kesalahan prinsip analisis sensitivitas dapat
dijelaskan sebagai berikut:
Andaikan kita ingin mengetahui perubahan
suatu variabel katakanlah u yang dipengaruhi

MENU MENU BAB VII 133


Metode Diferensial

beberapa variabel, katakanlah x, y dan z.


Secara matemastis hubungan variabel-
variabel tersebut dapat dituliskan sebagai,

u f ( x, y, z)
dimana u adalah variabel tergantung dan x, y,
z adalah variabel bebas.

MENU MENU BAB VII 134


Metode Diferensial

Perubahan dalam u dapat ditentukan dengan


metode diferensial parsial sebagai berikut:

u u u
u x y z
x y zz
dimana u, x, y, dan z menyatakan
perubahan dalam u, x, y, dan z.

MENU MENU BAB VII 135


Metode Diferensial

u/x, u/y, u/z masing-masing adalah


turunan parsial u terhadap x, y, dan z.
Persentasi perubahan masing-masing variabel
dapat dituliskan sebagai:

u x y z
x100%; x100%; x100% dan x100%
u x y z

MENU MENU BAB VII 136


Persentasi perubahan Variabel, Berdasarkan persamaan diferensial

Dengan demikian persamaan diferensial dapat


diubah menjadi,

u x u x y u y z u z

u u x x u y y u z z
u x u x y u y z u z
( ) x100% ( ) x100% ( ) x100% ( ) x100%
u u x x u y y u z z

MENU MENU BAB VII 137


Persentasi perubahan Variabel, Berdasarkan persamaan diferensial

Dengan demikian persentasi perubahan dalam


u dapat diketahui dengan mengetahui
persentasi perubahan dalam x, y dan z.
Dalam aplikasi prinsip analisis sensitivitas
dalam fisika maka dapat dibuatkan skenario
perubahan dalam masing-masing variabel.
Kemudian akan dilihat sensitivitas perubahan

MENU MENU BAB VII 138


Persentasi perubahan Variabel, Berdasarkan persamaan diferensial

masing-masing variabel x, y, z terhadap


perubahan dalam u.
Variabel yang paling sensitiv adalah variabel
yangmenunjukkan kecnederungan:
persentasi perubahan kecil tetapi
menyebabkan persentasi perubahan yang
lebih besar pada variabel tergantung u.

MENU MENU BAB VII 139


Contoh Skenario

Contoh Skenario:

Skenario u x y z
1 ? 1% 1% 1%
2 ? 1% 2% 3%
3 ? 2% 2% 2%
4 ? 3% 2% 1%
5 ? 3% 3% 3%

MENU MENU BAB VII 140


Contoh Kasus
Soal:
Diketahui suatu persamaan yang menyatakan
hubungan variabel fisis sebagai berikut:
2
ax
u 0,5 3/2
by z
a dan b adalah parameter yang nilai umumnya

MENU MENU BAB VII 141


berkisar antara 0,45<a<0,75 untuk parameter a
dan antara 0,05<a<0,07 untuk parameter b.
Contoh kasus

x,y dan z adalah variabel fisis yasng dianggap


tanpa satuan.
Dianggap data simulasi untuk x, y dan z yang
dianggap masing-masing diukur 5 kali, adalah
sebagaimana dalam tabel.

MENU MENU BAB VII 142


Contoh Kasus

Pengukuran Variabel
x y z
1 3,5 10,3 100
2 3,6 15,2 150
3 4,0 20,4 125
4 3,7 16,3 130
5 3,8 15,6 140

MENU MENU BAB VII 143


Contoh Kasus

Buatlah skenario perubahan sebagaimana


contoh yang sudah diberikan, kemudian
tentukan presentasi perubahan dalam u
berdasarkan skenario perubahan yang anda
tentukan. Jelaskan apa kesimpulan anda
tentang sensitivitas parameter berdasarkan
skenario yang anda susun.

MENU MENU BAB VII 144


SEKIAN

MENU 145