Anda di halaman 1dari 215

VIII-1

LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA I
(HKKK 323P)

DOSEN PEMBIMBING
CHAIRUL IRAWAN, S.T., M.T., PH. D.
NIP. 19750404 200003 1 002

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK II

DWIKI HERMAWAN (H1D115006)


EKA SEPTIANNISA PUTRI (H1D115007)
HEXAS SARASWATI HANDAYANI PUTRI (H1D115011)
LISA NULFASIHAH (H1D115012)

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
VIII-2

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA


BANJARBARU

2016
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA I

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK II

DWIKI HERMAWAN (H1D115006)


EKA SEPTIANNISA PUTRI (H1D115007)
HEXAS SARASWATI HANDAYANI PUTRI (H1D115011)
LISA NULFASIHAH (H1D115012)
VIII-3

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA
BANJARBARU

2016
ABSTRAK
Setiap kegiatan praktikum merupakan kegiatan yang bersifat ilmiah, dengan mempunyai
suatu tujuan tertentu disamping untuk membantu berbagai macam konsep, pengertian dan kaidah
serta teori yang didapat dari perkuliahan. Selain itu, praktikum ini juga bermaksud untuk
mengembangkan keterampilan dalam menggunakan alat-alat serta dengan metode tertentu. Tujuan
dari percobaan ini adalah untuk memperkenalkan alat-alat laboratorium serta fungsinya dalam
praktikum kimia dasar. Pertama praktikan dikenalkan dengan alat-alat yang ada di laboratorium
yang dipakai untuk melakukan percobaan-percobaan. Kemudian praktikan diajarkan cara memakai
alat-alat sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Hasil yang didapatkan adalah praktikan dapat mengenal dan mengetahui alat-alat
laboratorium beserta fungsinya. Antara lain cara pembacaan miniskus pada alat gelas kaca, yaitu
apabila larutan berwarna bening, maka miniskus yang dibaca adalah dasar miniskus, sedangkan
bila larutan berwarna gelap, maka miniskus yang dibaca adalah posisi atas miniskus, atau untuk
lebih memudahkan dapat menggunakan kertas gelap yang diletakkan di belakang gelas kaca.
Selain itu praktikan dapat melakukan pengeringan suatu zat yang dihasilkan dari endapan
dengan menggunakan oven.

Kata kunci : Alat-alat laboratorium, endapan, gelas kaca, miniskus, oven.


PENGENALAN ALATALAT LABORATORIUM

1 PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah memperkenalkan pembakaran gas dan alat
gelas serta fungsinya dalam praktikum kimia.

1.2 Latar Belakang


Praktikum adalah sebuah kegiatan yang dipergunakan untuk mencoba,
menguji atau mengenal sebuah zat ataupun materi. Dalam sebuah praktikum tentu
saja diperlukan alatalat laboratorium untuk mendukung jalannya praktikum
tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan yang cukup baik dalam
mengenal dan memahami alatalat laboratorium sebelum menggunakannya secara
langsung.
Setiap alat laboratorium tentunya memiliki prosedur penggunaan yang
berbedabeda. Oleh karena itu, bagi pemula pengenalan alatalat laboratorium
merupakan hal yang sangat penting. Semakin pemula tersebut mengenal alatalat
laboratorium maka semakin terampil pula pemula tersebut menggunakannya.

2
Selain mengenali alatalat laboratorium, seorang praktikan juga dituntut untuk
dapat memahami fungsi dari alat tersebut demi kelancaran kegiatan praktikum.
Sebuah laboratorium sangat dibutuhkan dalam dunia industri. Hal ini dapat
dicontohkan seperti aplikasinya dalam pembuatan asam nitrat, dalam pembuatan
asam nitrat terdapat proses pengenceran yang sudah dipastikan memerlukan alat-
alat laboratorium. Percobaan ini sangat bermanfaat untuk praktikan yang ingin
bekerja sebagai peneliti dan analisis. Selain itu, praktikum ini juga melatih
keterampilan praktikan agar ketika bekerja di laboratorium pekerjaan yang
dihasilkan sesuai dengan apa yang diharapkan.

2 DASAR TEORI

Bila kita memecahkan suatu masalah dalam ilmu pengutahuan kita juga akan
melaksanakan langkahlangkah yang hamper sama seperti ini. Oleh sebab itu,
langkah pertama dalam metode ilmu dapat disebut penelitian dan observasi. Hal
ini merupakan tujuan eksperimen yang dibuat dilaboratorium dimana sifat-sifat
dapat diteliti dalam keadaan terkontrol, jadi hasil eksperimen itu dapat di ulangi
dan ditiru kembali (Brady, 1999 : 5).
Mahasiswa pemula akan mendapatkan bahwa waktu yang dihasilkan dalam
merencanakan kerjanya akan menghemat waktu berjamjam waktu praktikumnya.
Sampai dilaboratorium, ia harus mengenal baikbaik eksperimen yang akan
dilakukan. Beberapa operasi kimia analisis sangat memakan waktu. Tetapi
untunglah beberapa operasi menuntut sedikit perhatian apabila sekali telah
dijalankan (Underwood, 1986 : 578).
Peralatan gelas merupakan peralatan dasar pembentukan suatu laboratorium,
baik itu merupakan laboratorium yang sederhana, maupun untuk tujuan penelitian.
Ada beberapa jenis kaca sebagai bahan baku peralatan gelas tersebut dari setiap
jenis mempunyai sifat dan harga yang berbeda. Di dalam melakukan suatu
percobaan dilaboratorium kadangkadang harus dipilih bahan peralatan yang

2
cocok (gelas atau bahan lainnya), sehingga tidak terjadi kekeliruan atau salah
pengertian sifatsifat bahan peralatan sesuai dengan yang ada didalam prosedur
(Alaerts, 1987 : 1).
Sebelum melakukan praktikum, hendaknya praktikan memeriksa alatalat yang
akan digunakan. Untuk alat-alat gelas dalam penggunaannya memerlukan
ketelitian dan kehatihatian, misalnya praktikan memeriksa alat tersebut apa ada
yang cacat atau rusak. Untuk memindahkan zatzat kimia yang berwujud cair kita
sering menghadapi suatu kesulitan yang mungkin disebabkan oleh tekanan biasa
yang mempengaruhi dalam menentukan volume cairan itu dengan tepat. Maka
dari itu digunakan pipet dan buret yang gunanya untuk memindahkan volume
cairan (Arifin, 1996 : 6).
Disamping peralatan biasa yang terdapat dalam laboratorium kimia apapun,
terdapat bendabenda tertentu yang secara istimewa diminati oleh ahli kimia
analisis (Underwood, 1986 : 580 589). Alatalat tersebut antara lain :
1 Botol Cuci
Mahasiswa hendaknya mempunyai botol cuci dengan kapasitas yang wajar dan
dapat menghantarkan aliran air suling (berdiameter 1 mm) dan dalam ujung
paruh yang disambung dengan luwes (fleksibel) ke bagian utama botol itu.
Suatu tipe yang nyaman, dibangun dari labu Florence 1 liter, pipa kaca,
sepotong slang karet (yang pendek) dan sumbat karet berlubang dua. Tipe lain
juga tersedia, antara lain botol polietilena yang tubuhnya ditekan untuk
memaksa air keluar dari ujung paruh. Kadangkadang dapat disarankan untuk
menyediakan botol cuci tambahan untuk air panas dan peralatan istimewa.
Botol cuci, digunakan bilamana aliran air saling terarah, seperti bila membilas
dinding dalam bejana kaca sehingga dijamin untuk tidak ada tetesan larutan
contoh yang tidak terikutkan.
2 Batang Pengaduk
Seperti tersirat dalam namanya, batang pengaduk digunakan untuk mengaduk
larutan atau suspense, biasanya dalam piala. Batang itu dipotong dari batang
kaca yang kokoh, umumnya berdiameter 3 atau 4 mm, sedemikian rupa
sehingga menjorok 6 atau 8 cm keluar dari bagian atas piala. Ujungujungnya

3
hendaknya dipoles dengan memanaskan dalam nyala api. Disamping fungsinya
sebagai pengaduk, batang ini mempunyai maksudmaksud yang berguna.
3 Desikator
Desikator adalah sebuah bejana, biasanya terbuat dari kaca, namun kadang
kadang dari logam, yang digunakan untuk menyetimbangkan objek dengan
udara yang dapat dikendalikan. Karena desikator ini biasanya terletak dalam
ruang terbuka, maka temperature udara itu umumnya mendekat temperature
kamar. Normalnya kelembapan udara inilah yang diamati. Objek seperti botol
timbang dan krus, dan zatzat kimia cenderung menarik kelembapan udara
dalam udara. Desikator ini menyediakan kesempatan bagi bahan semacam itu
untuk berkesetimbangan dengan udara yang rendah dan terkendali
kelembapannya sehingga galat yang karena disebabkan oleh penimbangan air
bersamasama dengan objek itu dapat dihindari.
4 Pipet
Pipet transfer digunakan untuk memindahkan larutan yang volumenya
diketahui dengan tepat, dari suatu wadah kirakira sampai 2 cm diatas garis
etsa dengan menggunakan bola isap. Pipet ukur dibubuhi skala sangat mirip
dengan buret dan digunakan bila dituntut ketepatan tinggi.
5 Buret
Buret itu digunakan untuk menghantarkan volume yang diketahui dengan tepat
namun dapat diubahubah, kebanyakan dalam titrasi. Para pemula harus sangat
berhatihati dalam membaca buret. Agar kenal betul dengan pembagian skala
dan sangat terampil dalam memperkirakan antara dua garis, diperlukan banyak
latihan dalam permulaan kerja di laboratorium itu.
6 Labu Volumetri
Labu itu akan berisi cairan sebanyak volume yang tercantum, bila dasar
miniskusnya berhimpit dengan garis melingkar yang dietsakan. Jika larutan itu
dituangkan akan agak berkurang dibandingkan volume yang untuk mengukur
larutan yang akan dipindahkan ke wadahwadah lain. Labu itu digunakan
bilamana diinginkan untuk membuat larutan sampai ke volume yang tepat
diketahui.

4
7 Corong dan Kertas Saring
Penyaringan dilakukan dengan corong dari kertas saring atau dengan krus
(crucible) saring. Faktor yang penting dalam memilih antara keduanya adalah
temperature kemana endapan itu harus dipanaskan untuk mengubahnya
menjadi bentuk timbangan yang diinginkan dan kemudian mereduksi endapan
itu. Serat selulosa (dari) kertas saring mempunyai kecenderungan yang
mencolok untuk mempertahankan kelembaban dan selembar kertas saring yang
membungkus suatu endapan tidak dapat dikeringkan dan ditimbang
sebagaimana adanya dengan kecepatan yang tinggi maka perlu membakar
habis kertas itu pada temperature tinggi.
Beberapa peralatan gelas seperti tabung reaksi, gelas kimia, gelas Erlenmeyer,
gelas ukur, pipet ukur, vol-pipet, labu takar, buret bahkan botolbotol reagen serta
beberapa peralatan gelas lainnya harus bebas dari kotoran. Kotoran berupa sisa
sisa zat kimia atau noda lainnya dapat menghamburkan data pengamatan bahkan
dapat menggagalkan percobaan atau eksperimen itu sendiri. Kesimpulan yang
diambil pun menjadi kurang tepat atau salah. Bukan itu saja, kerugian akan
dialami dalam hal waktu, tenaga dan juga finansial (pemborosan bahan/zat)
karena akan mempertinggi biaya pelaksanaan eksperimen dari yang seharusnya
atau karena kegagalan harus mengulangi eksperimen serupa dari awal (HAM,
2005 : 201).
Beberapa petunjuk kerja di laboratorium (Svehla, 1990 : 162) diantaranya:
a Selalu bekerja dengan cara yang rapid an sistematis. Perlu diingat bahwa meja
yang rapi menandakan pikiran yang penuh metode. Kain lap katun berguna
untuk membersihkan cairan yang tercecer pada bangku kerja. Alat kaca dan
porselen hendaknya bersih benarbenar.
b Batol reagensia dan tutupnya tidak boleh dibawa ke bangku kerja. Semua harus
segera dikembalikan ke tempat yang benar pad arak setelah digunakan. Jika
botol reagensia kosong, haruslah dikembalikan ke gudang untuk diisi.
c Bila melakukan uji yang bergantung pada pembentukan endapan, harus
diyakini bahwa larutan yang akan diuji dan reagensinya benarbenar bebas dari
partikel yang tersuspensi. Jika tidak, saring dulu larutanlarutan itu.

5
d Tidak memboroskan gas maupun bahan kimia. Besarnya nyala Bunsen jangan
lebih besar dari pada seperluny. Hendaknya dimatikan bila tak lagi diperlukan.
Menghindari penggunaan kelebihan reagensia yang tak perlu. Reagensia harus
selalu ditambahkan setetes demi setetes.
e Membuang sampah dengan benar. Asam kuat maupun baba kuat tak boleh
dibuang ke dalam bak buangan, larutan ini mulamula harus diencerkan dan
saluran buangan disiram air banyakbanyak. Zat padat (gabus, kertas saring
dan lainlain) harus di buang ke keranjang sampah yang di sediakan untuknya
dilaboratorium. Sekalikali tak boleh dibuang ke saluran pembuangan.
f Semua operasi yang melibatkan (i) pengaliran hydrogen sulfide ke dalam
larutan, (ii) penguapan asam pekat, (iii) penguapan larutan untuk membuang
garamgaram ammonium dan (iv) membebaskan uap atau gas yang bersifat
racun atau berbau tidak enak, harus dilakukan dalam ruang asam.
g Semua hasil, baik yang positif, negatif maupun yang tidak menyimpulkan,
hendaknya direkam dengan rapi dalam buku catatan pada saat uji itu dilakukan.
Menulis pengamatan eksperimen tidak boleh ditunda sampai setelah
mahasiswa meniggalkan laboratorium. Terlepas dari kekurang cermatan yang
mungkin terjadi, kebiasaan melakukan percobaan dan segera merakamnya
merupakan hal yang harus dibina sejak awal.
h Jika analisis tak selesai pada akhir suatu waktu kerja laboratorium, berilah
perlakuan dengan jelas semua larutan dalam endapan. Sebaiknya zatzat ini
ditutup dengan kertas saring untuk mencegah masuknya debu dan sebagainya.
Kerapian dalam labotatorium tentu saja harus berlanjut dari meja praktikum
sampai ke rak tempat bahanbahan untuk seluruh kelas. Kerapihan hendaknya
juga mencakup pemeliharaan perabot laboratorium yang permanen seperti oven,
lempeng panas, lemari asam, bak dan mejameja itu sendiri (Underwood, 1998:
579).

6
3 METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Rangkaian Alat


Alatalat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas beker, pengaduk
kaca, pipet volume, corong, kertas saring, neraca analitik, gelas arloji, oven, sudip,
botol semprot, pinggan porselin dan propipet.

Rangkaian alat:

Keterangan:
1 Statif
2 Buret
3 Erlenmeyer

Gambar 1.1 Rangkaian alat titrasi

Keterangan:
1. Gelas beker
2. Corong

7
3. Kertas saring
4. Erlenmeyer

Gambar 1.2 Rangkaian alat penyaringan

3.1 Bahan
Bahanbahan yang digunakan pada percobaan ini adalah Aquadest, 5 mL
CuSO4, 5 mL Pb asetat dan kertas saring.

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Pengenalan Alat Gelas
Langkah pertama gelas beker, propipet dan pipet volume dicuci oleh
praktikan. Setelah selesai dicuci alatalat tersebut dimasukkan 20 mL aquadest ke
dalam gelas beker dengan menggunakan pipet secara perlahan. Tahap selanjutnya
20 mL aquadest dimasukkan lagi ke dalam gelas beker kedua. Setelah
menuangkan aquadest, kedua gelas beker dibaca miniskus masingmasing gelas
beker dan ditentukan volumenya.

3.2.2 Penyaringan

Langkah pertama yaitu diambil 5 mL Pb Asetat (Pb ( CH 3 COOH )2)

0,1 M dari gelas beker, ditambahkan 5 mL CuSO 4 0,1 M, diamati endapan

yang terjadi, dicatat warna endapan. Selanjutnya diambil kertas saring, ditimbang
dengan neraca analitik, dilipat menjadi lingkaran, kemudian kertas saring
dimasukkan pada corong, dibasahi dengan sedikit aquadest hingga melekat pada
dinding corong.
Corong yang diberi kertas saring dimasukkan ke dalam gelas beker untuk
menampung filtrat (cairan cucian). Larutan yang dibuat pada langkah 1
dituangkan ke dalam corong yang sudah diberi kertas saring tadi, kertas saring

8
dan endapan dioven sampai kering dan kertas saring ditimbang bersama
endapannya.

3.3 Flow Chart


3.4.1 Pengenalan Alat Gelas
Tabung Reaksi

- Dimasukkan ke dalam gelas beker pertama menggunakan


pipet.
- Dimasukkan ke dalam gelas beker kedua menggunakan pipet.
- Dibaca miniskus pada gelas beker pertama dan kedua.
Hasil- Ditentukan volume aquadest pada kedua gelas beker.

5 mL Pb Asetat 0,1
3.4.2 Penyaringan

5 mL CuSO4 0,1 M
- Dimasukkan ke dalam gelas beker.

- Ditambahkan ke dalam gelas beker.

5 mL CuSO4 0,1 M
- Diamati dan dicatat warna endapannya.
- Dituang dalam corong berkertas saring.
- Dioven kertas saring.
- Ditunggu 15 menit.
- Ditimbang kertas saring.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

1 Hasil
Tabel 1. Pengenalan alatalat laboratorium
No. Nama Alat dan Gambar Keterangan
1. Gelas ukur Digunakan untuk pengukuran volume
cairan kimia.

2. Tabung reaksi Digunakan untuk mereaksikan zat dalam


jumlah yang sedikit.

10
3. Gelas beker Digunakan sebagai media penyimpanan
sementara dan media pemanasan.

4. Erlenmeyer Digunakan sebagai media penyimpanan dan


juga untuk pemanasan.

5. Labu ukur Digunakan untuk membuat larutan dan media


pengenceran.

6. Buret Digunakan sebagai tempat penyimpanan


penitrasi.

7. Pipet ukur Digunakan untuk mengambil larutan dengan

11
volume yang tepat.

8. Pipet gondok Digunakan untuk mengambil larutan dan


mengukur volume larutan pada satu skala
dengan ketelitian tinggi.

9. Pipet tetes Digunakan untuk mengambil larutan dalam


jumlah sedikit tanpa menggunakan skala.

10. Propipet Digunakan sebagai penghisap pada pipet.


Simbol : A = untuk mengeluarkan udara
E = untuk mengeluarkan cairan
S = untuk menarik/menghisap
cairan

11. Pinggan porselin Digunakan untuk mereaksikan zat dengan


suhu tinggi.

12. Mortar dan alu Digunakan untuk menghaluskan bahan.

12
13. Corong Digunakan sebagai alat pembantu penuangan
larutan ke dalam tempat lain yang mulutnya
lebih kecil

14. Labu didih Digunakan untuk tempat mendidihkan larutan


apabila berada di dalam pemanas mantel.

15. Labu leher tiga Digunakan untuk tempat distilasi.

16. Kertas saring Digunakan untuk menyaring endapan dari


suatu campuran terbuat dari magnes.

17. Kondensor Digunakan untuk memisahkan fase cairan.

13
18. Soxhlet Digunakan untuk ekstraksi.

19. Gelas arloji Digunakan sebagai penutup bejana,


menguapkan cairan dan membantu
menimbang padatan.

20. Pengaduk kaca Digunakan untuk menghomogenkan larutan


yang bersifat asam.

21. Pengaduk besi Digunakan untuk menghomogenkan larutan


yang tidak bersifat asam.

22. Piknometer Digunakan untuk mengukur massa jenis.

14
23. Corong pisah Digunakan untuk memisahkan larutan
berdasarkan densitas.

24. Termometer Digunakan untuk mengukur suhu.

25. Botol semprot Digunakan untuk menyimpan aquadest yang


digunakan untuk membersihkan alatalat
gelas dan untuk membasahi kertas saring.

26. Kaki tiga Terbuat dari besi, digunakan sebagai tungku.

27. Bunsen Digunakan untuk memanaskan larutan,


diletakan di bawah kaki tiga.

15
28. Kasa Digunakan untuk meratakan panas ke seluruh
bagian bawah alat yang dipanaskan.

29. Penjepit (gegep) Digunakan untuk mengambil alat-alat yang


tidak bisa diambil dengan tangan, alat-alat
panas dan sebagainya.

30. Neraca anaitis Digunakan untuk menimbang massa dengan


ketelitian 4 di belakang koma.

31. Statif Digunakan untuk menjepit buret pada saat


kegiatan titrasi dilakukan.

32. Kompor listrik Digunakan untuk memanaskan larutan.

16
33. Hotplate stirrer Digunakan untuk mengaduk larutan secara
otomatis dan memanaskannya.

34. Pemanas mantel Digunakan untuk memanaskan labu didih.

35. Oven Digunakan untuk memanaskan endapan atau


zat steril, mengeringkan bahan kimia dan
mensterilkan pinggan porselin.

36. Desikator Digunakan untuk pengeringan dan


pendinginan suatu zat.

37. Furnace Digunakan untuk memanaskan bahan pada


temperatur lebih dari 200OC.

17
38. Water bath Digunakan untuk menciptakan suhu konstan.

39. Dipcoater Digunakan untuk meneliti performa suatu


bahan.

40. Centrifuge Digunakan untuk memisahkan suatu larutan


dengan berat molekul berbeda.

41. Membrane press Digunakan untul menekan suatu bahan.

18
Tabel 2. Penyaringan
No. Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
1 Mencampurkan 5 mL Pb Asetat 0,1 Terjadi endapan berwarna biru
M dan 5 mL CuSO4 0,1 M dalam muda.
gelas beker
2 Menimbang kertas saring Massa kertas saring 0,8 gram.
menggunakan neraca analitik.
3 Memasukkan kertas saring kedalam Endapan tersaring pada kertas
corong, kemudian memasukkan saring.
campuran larutan diatas kertas
saring.
4 Menimbang kertas saring dan Massa kertas saring + endapan
endapan yang sudah dikeringkan di adalah 0,9 gram.
dalam oven menggunakan neraca
analitik.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengenalan Alat-Alat Laboratorium
Alat-alat laboratorium dalam menanganinya harus dengan penuh perhatian
dan kehati-hatian. Menyimpan alat-alat laboratorium sebaiknya dikelompokkan
dengan bahan pembuatanya seperti kaca, plastik, porselin, logam dan karet agar
mudah mencari dan mengambilnya. Dalam menyimpan alat-alat tersebut haruslah
di tempat yang aman untuk menghindari kerusakan karena alat-alat tersebut
memiliki harga yang cukup mahal. Selain itu diharuskan untuk memperhatikan
faktor-faktor lain yang menyebabkan kerusakan seperti faktor lingkungan yang
meliputi udara, suhu, cahaya, air dan sebagainya.
Meletakkan alat laboratorium sebaiknya di tempat yang kering dan bersih.
Suhu yang tidak sesuai seperti terlalu tinggi dan terlalu rendah dapat
mempengaruhi bentuk alat, terutama alat gelas. Secara umum, menghindarkan
alat-alat laboratorium sebaiknya dari cahaya matahari langsung dengan
menyimpan di dalam lemari tertutup. Botol gelap menggunakannya untuk

19
menyimpan zat yang tahan terhadap cahaya dan tahan terhadap oksidasi seperti
aquadest, NaCl dan lain-lain.
Sesudah menggunakan alat-alat laboratorium atau sebelum menggunakan
harus melakukan pembersihan alat sesegera mungkin, terutama untuk alat gelas.
Bahan yang terbuat dari kaca harus bersih sempurna dan bebas dari lemak atau
zat-zat sisa. Mencuci alat kaca dengan menggunakan detergen dan membilasnya
menggunakan aquadest agar alat-alat tersebut benar-benar bersih. Hal ini
dilakukan agar hasil dari pengukuran atau reaksi tepat. Membuang bahan-bahan
yang berbahaya harus disaluran pembuangan jika berupa cairan dengan denga
cara mengalirinya dengan air yang banyak dan bagi bahan yang sifatnya tidak
larut, membuangnya harus ditempat sampah khusus yang sudah disiapkan, tidak
boleh sembarangan membuangnya untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan. Biasanya setiap laboratorium telah menyediakan tempat sampah
masing-masing.

4.2.2 Prinsip Penimbangan


Prinsip penimbanganan yaitu menimbang zat pada neraca analitik dan
mengkalibrasi gelas arloji terlebih dahulu. Pada dasarnya prinsip penimbangan
mengggunakan hukum kedua Newton yang dirumuskan dengan F = m.g, dengan
m adalah massa dan g adalah percepatan gravitasi. Sesuai asas momen F1.l1 =
F2.l2. Sehingga g1 = g2 dan m1 = m2, m1 adalah massa benda dan m2 adalah massa
timbangan. Jadi, dapat menghitung massa benda dengan mengetahui massa batu
timbangan.
Penimbangan bahan atau zat-zat dalam skala kecil dan teliti dapat
menggunakan neraca analitik. Untuk neraca analitik sebaiknya menyimpan alat
tersebut di tempat yang teduh dan sebisa mungkin bebas dari getaran mekanis
agar tidak mempengaruhi proses penimbangan. Dalam penimbangan angka neraca
analitik pada awalnya haruslah nol. Jangan menyentuh bahan-bahan atau neraca
analitik pada saat proses penimbangan, karena dapat mempengaruhi angka pada
timbangan, sebab neraca analitik sangat sensitif terhadap sentuhan bahkan udara
sekalipun. Dalam menimbang bahan, sebaiknya menimbang wadah yang

20
digunakan untuk mendapatkan berat bahan terlebih dahulu agar berat yang
didapatkan benar-benar murni berat bahan, bukan berat bahan serta wadahnya.

4.2.3 Prinsip Pembuatan


Adapaun prinsip dari pembuatan yaitu manggunakan bahan atau zat yang
telah ditimbang untuk membuat larutan dengan campuran aquadest dan larutan
tersebut akan membentuk endapan. Seperti pada percobaan, untuk membuat suhu
80 C. pada pecobaan endapan didapat setelah memasukkan kertas saring ke
dalam oven selama 15 menit. Massa kertas saring yang didapat adalah 0,9 gram.
Dengan cara menggunakan massa kertas saring sebelum di oven maka akan
didapat berat endapan murni yaitu 0,1 gram.

4.2.4 Pembacaan Miniskus


Miniskus adalah peristiwa mencekung atau mencembungnnya zat cair.
Pembacaan miniskus berbeda untuk larutan terang dan larutan gelap. Pembacaan
miniskus pada semua tabung untuk larutan tidak berwarna atau bening dengan
membaca miniskus bawahnya. Sedangkan untuk larutan berwarna gelap
pembacaan miniskusnya menggunakan miniskus atasnya. Yang menyebabkan hal
ini adalah adanya gaya kohesi dan adhesi. Kohesi adalah gaya tarik menarik antar
partikel-partikel, kohesi yang mempengaruhinya adalah kerapatan dan jarak antar
partikel dalam zat. Gaya kohesi menyebabkan dua zat bila dicampurkan tidak
akan saling melekat. Adhesi adalah gaya tarik menarik antar partikel-partikel yang
tidak sejenis. Gaya adhesi menyebabkan dua zat saling melekat jika dicampurkan.
Jika kohesi lebih besar daripada adhesi yang terjadi adalah miniskus cembung,
sedangkan jika kohesi lebih kecil daripada adhesi maka yang terjadi adalah
miniskus cekung.

4.2.5 Prinsip Penyaringan


Prinsip penyaringan adalah menahan partikel yang lebih besar dibandingkan
zat cair yang melarutkannya dan penyaringan ini terjadi akibat perbedaan tekanan
yang melalui media saring. Dapat diartikan penyaringan sebagai pembersih

21
partikel padat dari suatu larutan dengan melewatkannya pada medium
penyaringan. Menggunakan kertas saring sebagai medium dalam penyaringan.
Saat melakukan penyaringan larutan Pb Asetat Pb((CH3COO)2) yang sudah
ditambahkan dengan larutan CuSO4, menuang larutan harus sedikit demi sedikit
dicorong yang telah berlapis kertas saring. Menuang larutan dengan gerakan
memutar sehingga merata agar hasil saringan dapat semaksimal mungkin.
Menyaring larutan harus benar-benar jatuh ke bawah atau ke tempat
penampungannya. Jika air yang turun mulai melambat tidak boleh menggoyang
atau menggesek kertas saring, karena kertas saring tersebut bisa robek dan
berhati-hati agar larutan tidak tumpah. Reaksi yang terjadi pada saat pencampuran
Pb((CH3COO)2) dengan CuSO4 adalah sebagai berikut :

Pb ((CH3COO)2) + CuSO4 PbSO4 + Cu(CH3COO)2 . . . (1)

Reaksi dari pencampuran Pb((CH3COO)2) dengan CuSO4 ini menghasilkan


endapan berwarna biru muda yang terbentuk dari Cu(CH 3COO)2. Cu(CH3COO)2
mengalami pengkristalan sehingga menjadi endapan. Endapan yang terjadi adalah
karena hasil kali kelarutan pada suhu tertentu, terjadi kesetimbangan ion-ion
dengan padatannya. Dengan demikian, jika nilai tetapan hasil kali kelarutan belum
dilampaui padatan masih dapat larut. Jika yang dilakukan banyaknya ion-ion
tersebut perkaliannya sama persis dengan nilai Ksp nya akan membentuk suatu
endapan dalam larutan itu.

4.2.6 Pemanasan dengan Oven


Oven digunakan untuk memanaskan suatu zat dan mengeringkan kertas
saring. Selain itu, oven juga digunakan untuk mensterilkan alat laboratorium
seperti pinggan porselin dan alat gelas lainnya. Untuk mendapatkan hasil yang
maksimal, pemanasan dengan oven tidak dimulai dengan suhu 0oC tetapi oven
dipanaskan dulu hingga 100oC baru setelah itu sampel dimasukkan kedalam oven.

22
5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pembakar gas adalah alat pemanas yang berfungsi untuk memanaskan bahan
dalam praktikum kimia. Bagian-bagian dari pembakar gas terdiri dari pipa
pemasukkan gas, lubang pemasuk udara dan pipa pencampur gas dan udara. Alat
gelas adalah alat yang memiliki berbagai fungsi, seperti wadah, sebagai tempat

23
untuk mereaksikan zat dan untuk mengukur volume. Misalnya, tabung reaksi,
gelas beker, labu ukur, gelas arloji dan corong.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan untuk percobaan ini ialah sebaiknya pada saat
melakukan proses penyaringan hendaknya menggunakan kertas saring tidak hanya
satu buah untuk memaksimalkan endapan yang dihasilkan. Selain itu, alat-alat
yang sudah digunakan saat percobaan hendaknya dicuci dengan bersih dan
kemudian bilas dengan aquadest agar memastikan tidak ada larutan ataupun zat
yang masih menempel di dinding alat.

24
LP-25

LAMPIRAN PERHITUNGAN

1 Pembuatan Larutan
Diketahui: M CuSO4 = 0,1 M
M Pb Asetat = 0,1 M
V CuSO4 = 20 mL
V Pb Asetat = 20 mL
BM CuSO4 = 250 g/mol
BM Pb Asetat = 379 g/mol
Ditanya: massa CuSO4 dan massa Pb Asetat ?
Jawab:
Massa CuSO4 = M . V . BM
20
= (0,1x 100 ) x 250

250 g
= 0,002 mol x 1 mol

= 0,5 gram

Massa Pb Asetat = M . V . BM
20
(0,1 x )379
100

379 g
0,002 mol x
1 mol

0,758 gram

Pembuatan larutan CuSO4 dan larutan Pb Asetat


a CuSO4 dimasukkan kedalam labu ukur sebanyak 0.5 gram. Kemudian
ditambahkan aquadest sampai 20 mL.
b Pb Asetat dimasukkan kedalam labu ukur sebanyak 0.758 gram. Kemudian
ditambahkan aquadest sampai 20 mL.
LP-26

2 Menghitung massa endapan murni


Diketahui: massa kertas saring = 0,8 gram
massa kertas saring + endapan = 0,9 gram
Ditanya: massa endapan ?
Jawab:
Massa endapan = (massa kertas saring + endapan) massa kertas saring
= (0,9 0,8) gram
= 0,1 gram
ABSTRAK

Larutan adalah fase yang homogen dan mengandung lebih dari satu komponen.
Komponen yang terdapat dalam jumlah besar disebut pelarut. Sedangkan komponen yang lebih
kecil disebut zat terlarut. Konsentrasi suatu larutan yaitu sebagai jumlah terlarut yang ada dalam
jumlah pelarut atau terlarut. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk membuat NaOH dan HCl serta
pengenceran larutan dan melakukan standarisasi larutan HCl dan Na2CO3.
Percobaan ini dilakukan pembuatan dan standarisasi larutan HCl dan NaOH. Standarisasi
pada percobaan ini menggunakan metode titrasi asam basa yaitu proses penambahan larutan
standar dengan larutan asam. Titrasi dilakukan menggunakan buret yang diisi suatu larutan dan
kemudian diteteskan ke dalam erlenmeyer yang berisi larutan yang ingin dititrasi.
Hasil dari percobaan ini adalah didapatkan normalitas HCl dan NaOH aktual adalah
0,0946. Untuk faktor normalitas HCl sebesar 0,946 dan untuk faktor normalitas NaOH sebesar
0,946. Hasil yang didapatkan dari praktikum ini dapat dikatakan bahwa pada HCl berhasil karena
memiliki kesalahan relatif cukup besar, yaitu sebesar 5,4 %. Pada NaOH dikatakan berhasil karena
memiliki kesalahan relatif cukup kecil, yaitu sebesar 5,4 %.

Kata kunci : faktor normalitas, HCl, larutan, NaOH, standarisasi.

PERCOBAAN I
PEMBUATAN DAN STANDARISASI LARUTAN

1 PENDAHULUAN

1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk membuat NaOH dan HCl serta
pengenceran larutan dan melakukan standarisasi larutan HCl dan Na2CO3.

2 Latar Belakang
Larutan adalah fase yang homogen dan mengandung lebih dari satu
komponen. Komponen yang terdapat dalam jumlah besar disebut pelarut.
Sedangkan komponen yang lebih kecil disebut zat terlarut. Konsentrasi suatu
larutan yaitu sebagai jumlah terlarut yang ada dalam jumlah pelarut atau terlarut.
Larutan sangat penting karena hampir semua reaksi terjadi dalam larutan.
Percobaan ini dilakukan standarisasi larutan, seperti pada HCl, NaOH dan larutan
Na2CO3. Standarisasi pada percobaan ini menggunakan metode titrasi asam basa
yaitu proses penambahan larutan standar dengan larutan asam. Titrasi dilakukan
menggunakan buret yang diisi dengan suatu larutan dan kemudian diteteskan ke
dalam erlenmeyer yang berisi larutan yang ingin dititrasi.

I-2
Aplikasi dari pembuatan dan standarisasi larutan adalah pembuatan deterjen,
pestisida, pupuk dan penentuan kadar tablet vitamin C. Sehingga praktikan dapat
menguasai materi ini secara keseluruhan. Oleh karena itu, praktikan tentu harus
tahu dan memahami bagaimana cara menghitung konsentrasi larutan serta
konsentrasi pengencer larutan.

2 DASAR TEORI

Dua zat yang berbeda dimasukkan dalam suatu wadah ada tiga kemungkinan,
yaitu bereaksi, bercampur dan tidak bercampur. Jika bereaksi terbentuk zat baru
yang sifatnya berbeda dari zat semula. Zat itu bereaksi, telah diterangkan dalam
energetika kimia. Disini akan dibahas mengenai campuran. Kalau zat bercampur
maka sifatnya tidak berubah dan dapat dipisahkan kembali dengan cara fisika,
seperti dengan destilasi, kristalisasi, kromatografi dan lain-lain. Di bumi ini jarang
ditemukan zat murni, pada umumnya berupa campuran, misalnya air mengandung
berbagai garam dan gas. Udara berisi nitrogen, oksigen dan gas lain. Sedangkan
tanah adalah campuran berbagai zat padat dan cair. Dua zat atau lebih disebut
bercampur, bila partikelnya tersebar dalam wadah yang sama sehingga
bersentuhan satu sama lain. Komponen-komponen campuran dapat mempunyai
komposisi atau perbandingan beragam dan bergantung pada kebutuhan. Misalnya,
dapat membuat campuran air dan alkohol dengan perbandingan 1 : 10, 1 : 1, 3 : 1
dan sebagainya. Pada reaksi kimia, perbandingan itu harus tertentu dan tetap,
contohnya perbandingan massa reaksi hidrogen dengan oksigen harus 1 : 9 untuk
menghasilkan air. Dua zat dapat bercampur bila ada interaksi antara partikelnya.
Interaksi itu ditentukan oleh wujud dan sifat zatnya. Oleh sebab itu, campuran

I-2
dapat dibagi atas gas-gas, gas-padat, cair-cair, cair-padat dan padat-padat (Syukri,
1999:350).
Beberapa hal, ada batas dari jumlah zat terlarut yang dapat larut dalam
sejumlah pelarut pada suhu tertentu. Misalnya, apabila ditambahkan natrium
klorida pada 100 mL air pada 0 C hanya 35,79 gram yang akan larut, berapa
banyaknya jumlah garam yang kita masukkan. NaCl yang berlebih akan
mengendap didasar wadah. Suatu larutan yang mengandung sejumlah zat terlarut
yang larut dan mengadakan kesetimbangan dengan zat terlarut padatnya disebut
larutan jenuh dan jumlah zat terlarut yang larut dalam larutan jenuh ini dinamakan
kelarutan tersebut. Jadi, kelarutan dari natrium klorida dalam air pada 0 C. Suatu
larutan tidak jenuh masih mampu melarutkan lebih banyak zat terlarut, dalam hal
ini penambahan 15,7 gram NaCl dapat dilarutkan tiap 100 mL air. Penting
diketahui bahwa istilah jenuh dan tidak jenuh tidak ada hubungan secara langsung
dengan istilah larutan pekat dan encer. Misalnya, suatu larutan jenuh perak klorida
pada suhu kamar hanya mengandung 0,000089 gram AgCl/100 mL air sehingga
bisa dianggap larutan encer. Akan tetapi, sebaliknya diperlukan kira-kira 500 gram
litium klorat (LiClO3) per 100 mL untuk membuat larutan jenuh pada suhu yang
sama. Padahal larutan yang mengandung 400 gram LiClO 3 dalam 100 mL air
sudah dikatakan pekat, walaupun belum jenuh. Akhirnya, ada beberapa zat yang
seringkali membentuk larutan lewat jenuh (supersaturated), yaitu larutan yang
mengandung lebih banyak zat terlarut daripada yang diperlukan untuk larutan
jenuh (Brady, 2010:190-191).
Menyiapkan larutan standar diikuti prosedur berikut. Corong berpipa pendek
ditaruh ke dalam leher labu volumetri yang ukurannya tepat. Zat dengan kuantitas
yang cocok ditaruh dalam sebuah botol timbang yang ditimbang, dan kemudian
kuantitas yang diperlukan dari zat itu dipindahkan dari botol timbang ke corong,
dengan dijaga agar tak ada partikel yang lepas. Setelah botol timbang ditimbang
kembali, zat dalam labu disiram dengan aliran cairan masuk ke dalam labu.
Corong dicuci bersih baik kerucut maupun pipanya dan kemudian diambil dari
labu itu, isi labu dilarutkan, jika perlu dengan mengguncangkan atau
mengguncang-putar cairan dan kemudian menambahi cairan sampai tanda, untuk

I-3
penyesuaian terakhir volume digunakan pipa tetes yang ujungnya disempitkan
dengan mengulurnya (dengan nyala). Sehingga terbentuk paruh yang sangat halus
(Basset, 1994 : 113).
Suatu larutan adalah campuran homogen dari molekul, atom ataupun ion dari
dua zat atau lebih. Suatu larutan disebut suatu campuran karena susunannya dapat
berubah-ubah. Disebut homogen karena susunannya begitu seragam sehingga tak
dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop
optis sekalipun. Dalam campuran heterogen permukaan-permukaan tertentu dapat
dideteksi anatara bagian-bagian atau fase-fase yang terpisah. Biasanya dengan
larutan dimaksudkan fase cair. Lazimnya salah satu komponen (penyusun) larutan
semacam itu adalah suatu cairan sebelum campuran itu dibuat. Cairan ini disebut
medium pelarut atau pelarut (solvent). Komponen lain, yang dapat berbentuk gas,
cairan ataupun zat padat dibayangkan sebagai terlarut ke dalam komponen
pertama . Zat yang terlarut disebut zat terlarut (solute). Dalam hal-hal yang
meragukan, zat yang kuantitasnya lebih kecil disebut zat terlarut. Seperti diduga,
mungkin dijumpai kesulitan dalam menerapkan pedoman ini. Dalam hal pertama,
baik alkohol maupun air dapat disebut zat terlarut. Dalam hal kedua, karena air
tetap mempertahankan keadaan fisiknya, dan gaya berubah keadaan fisiknya,
kebanyakan orang memilih menyebut air sebagai pelarut (Keenan, 1991:372).
Larutan dapat didefinisikan sebagai phase yang homogen yang mengandung
lebih dari 1 komponen. Jadi tiap-tiap bagian dari larutan itu mempunyai
komposisi kimia dan sifat-sifat fisika yang sama. Bila sistem hanya terdiri dari 2
zat maka disebut larutan biner, misalnya alkohol dalam air. Zat yang ada dalam
jumlah besar disebut pelarut (solvent), sedangkan zat yang ada dalam jumlah yang
lebih kecil disebut zat terlarut (solute) (Respati, 1992:99).
Proses yang digunakan untuk menentukan secara teliti konsentrasi suatu
larutan, dikenal sebagai standarisasi. Suatu larutan standar kadang-kadang dapat
dibuat dari sejumlah contoh solut yang diinginkan yang secara teliti diukur
volumenya. Cara ini biasanya tidak dapat dilakukan, akan tetapi karena relatif
sedikit pereaksi kimia dapat diperoleh dalam bentuk cukup murni untuk
memenuhi permintan analis akan ketelitiannya. Beberapa zat tadi yang memadai

I-4
dalam hal ini, disebut standar primer. Untuk titrasi asam basa biasanya dibuat
larutan-larutan asam atau basa dengan sekitar konsentrasi yang diinginkan dan
kemudian distandarisasikan salah satu dari larutan dengan suatu standar primer.
Larutan dengan demikian telah distandarisasikan dapat dipakai sebagai suatu
standar sekunder untuk memperoleh normalitas larutan yang lainnya (Underwood,
1981:59-60).
Larutan merupakan campuran homogen antar dua atau lebih zat berbeda jenis.
Ada dua komponen utama pembentuk larutan, yaitu zat terlarut (solute) dan
pelarut (solvent). Fasa larutan dapat berupa fasa gas, cair atau fasa padat
bergantung pada sifat kedua komponen pembentuk larutan. Apabila fasa larutan
dan fasa zat-zat pembentuknya sama zat yang berada dalam jumlah terbanyak
umumnya disebut pelarut sedangkan zat lainnya sebagai zat terlarut (Mulyono,
2005:48).
Unsur terpenting yang menentukan keadaan bahan dalam larutan adalah
pelarut. Komponen yang jumlahnya lebih sedikit dinamakan zat terlarut (solute).
Larutan yang menggunakan air sebagai pelarut dinamakan larutan dalam air atau
aqueous. Larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah banyak dinamakan
larutan pekat. Jika jumlah zat terlarut sedikit, larutan dinamakan larutan encer.
Istilah larutan biasanya mengandung arti pelarut cair dengan cairan, padatan atau
gas sebagai zat yang terlarut. Tiga contoh larutan dalam keadaan cair (Petrucci,
1985:55) sebagai berikut :
Bensin : Campuran sejumlah hidrokarbon air.
Air laut : Larutan berair dari natrium klorida dan padatan ion lainnya.
Air berkarbonat : Larutan berair dari CO2 (g).
Titrasi adalah cara analisis yang memungkinkan untuk mengukur jumlah
yang pasti dari suatu larutan dengan mereaksikan suatu larutan lain yang
konsentrasinya diketahui. Analisis semacam ini yang menggunakan pengukuran
volume larutan pereaksi disebut analisis volumetri. Pada suatu titrasi, salah satu
larutan yang mengandung suatu rektan dimasukan ke dalam buret, sebuah tabung
panjang yang slah satu ujungnya mempunyai kran dan diberi skala dalam miliiter
dan sepersepuluh mililiter. Larutan dalam buret disebut penitrasi (titran) dan

I-5
selama titrasi, larutan ini diteteskan secara perlahan melalui kran ke dalam labu
erlenmeyer yang mengandung larutan reaktan lain. Larutan penitrasi ditambahkan
sampai seluruh reaksi selesai yang dinyalakan dengan berubahnya warna
indikator, suatu zat yang umumnya ditambahkan ke dalam larutan dalam
bejana penerima dan yang mengalami perubahan warna ketika reaksi berakhir .
Perubahan warna ini menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi, diberi nama
demikian karena pada titik ini, penetesan larutan penitrasi dihentikan dan
volumenya dicatat (Brady, 2010 : 239-240).

Tabel 1.1 Jenis-jenis Larutan (Chang, 2003:4)


Zat Wujud Larutan yang
Pelarut Contoh
Terlarut Dihasilkan
Gas Gas Gas Udara
Air Soda (CO2 dalam
Gas Cairan Cairan
air)
Gas Padatan Padatan Gas H2 dalam paladium
Cairan Cairan Cairan Etanol dalam air
Padatan Cairan Cairan NaCl dalam air
Kuningan (Cu/Zn),
Padatan Padatan Padatan
solder (Sn/Pb)

Konsentrasi larutan yang dinyatakan dalam persen tak mempunyai signifikan


teori, tetapi umumnya digunakan. Persen massa/volume banyak digunakan dalam
laboratorium biologi dan kedokteran. Sedangkan persen massa/massa sering
digunakan dalam industri kimia. Masih ada satuan konsentrasi lain yang
digunakan dalam kimia klinis, misalnya massa persatun volume, yaitu terlarut/cm 3
larutan.
Konsentrasi Molar (Molaritas) diartikan sebagai berikut :
1 Stoikiometri reaksi kimia didasarkan pada jumlah nisbi atom, ion atau molekul
yang bereaksi.

I-6
2 Banyak reaksi kimia yang dilakukan dalam larutan. Karena alasan ini
konsentrasi dinyatakan berdasarkan jumlah partikel terlarut atau konentrasi
molar, yang dinyatakan dalam dua cara.

jumlah mol terlarut jumlah m mol larutan. . . (1.1)


Konsentrasi molar ( M ) = =
jumlah Llarutan jumlah mL larutan

Konsentrasi molar (molaritas), molaritas adalah fungsi siku. Hal ini


disebabkan karena kuantitas larutan didasarkan pada volume. Padahal volume
merupakan fungsi suhu. Misalnya larutan dibuat pada suhu 20 C. Jika suhu
. . .tetapi
ditingkatkan dari 20 C menjadi 25 C, jumlah zat terlarut tetap sama, (1.2)
volumenya bertambah sedikit jumlah mol terlarut perliter (yaitu molaritas)
menurun sedikit. Bermacam-macam penggunaan diperlukan satuan larutan yang
tak tergantung suhu. Satuan yang dimaksud adalah apabila keduanya menyatakan
kuantitas terlarut atau pelarut, dinyatakan berdasarkan massa. Massa zat tidak
tergantung suhu. Satuan yang berguna molalitas, yang jumlahnya terlarut
dinyatakan dalam mol dan kuantitasnya pelarut (bukan larutan) dalam kilogram.
Satuan molalitas menjadi mol terlarut per kilogram pelarut. Larutan yang dibuat
dari 1 mol NaCl dilarutkan dalam 1000 gram air dinyatakan sebagai larutan 1
molal dan diberi lambang 1 m NaCl. Konsentrasi molal didefinisikan dengan
persamaan berikut :

jumlah mol terlarut


Konsentrasi molal (m)=
jumlah kilogram pelarut

Fraksi mol, satuan konsentrasi molalitas dan molaritas menyatakan jumah


terlarut dalam mol, tetapi kuantitas pelarut atau larutan dalam massa atau volume.
Untuk menghubungkan sifat-sifat fisik larutan dengan konsentrasi larutan.
Kadang-kadang perlu digunakan satuan konsentrasi yang semua komponen
larutannya dinyatakan berdasarkan mol. Hal ini dapat dilakukan melalui fraksi
mol. Fraksi mol komponen i, dilambangkan xi adalah fraksi dari semua molekul
dalam larutan yang berjenis i. Fraksi mol komponen j adalah xj dan seterusnya.

I-7
Jumlah fraksi mol dari semua komponen larutan adalah i. Fraksi mol dari
komponen larutan didefinisikan melalui persamaan berikut :

mol komponen i
xi=
jumlah mol semua komponen dalamlarutan

Satuan konsentrasi lain yang berhubungan dengan fraksi mol adalah persen mol,
persen mol dari komponen larutan adalah persen. Jenis mol tertentu terhadap
semua molekul dalam larutan. Persen mol adalah fraksi mol dikalikan 100
(Petrucci, 1985:56-57).
Natrium hidroksida adalah salah satu basa yang umum digunakan di
. . . (1.3)
laboratorium. Namun demikian, karena padatan natrium hidroksida sulit diperoleh
dalam keadaan murni, larutan natrium hidroksida harus distandarisasi terlebih
dahulu sebelum digunakan dalam kerja analitis yang memerlukan keakuratan.
Menstandarisasi larutan natrium hidroksida dengan menitrasinya menggunakan
larutan asam yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat (Chang, 2005:112).
Asam (acid) dapat digambarkan sebagai zat yang menghasilkan ion hidrogen
(H+) ketika dilarutkan dalam air. Rumus untuk asam tersusun atas satu atau lebih
atom hidrogen dan sebuah gugus anion. Anion yang namanya diakhiri dengn -
ida mempunyai bentuk asam dengan nama yang diawali dengan kata asam dan
diikuti dengan nama anion tersebut. Dalam beberapa kasus, dua nama yang
berbeda diberikan untuk rumus kimia yang sama . Sebagai contoh, HCl dikenal
sebagai hidrogen klorida dan asam klorida. Nama yang digunakan untuk senyawa
ini bergantung pada wujud fisiknya. Dalam wujud gas atau cairan murni, HCl
adalah suatu senyawa molekular yang disebut hidrogen klorida. Ketika dilarutkan
dalam air, molekul HCl terurai menjadi ion H + dan Cl-, dalam keadaan ini zat
tersebut dinmakan asam klorida (Chang, 2005:48).
Indikator adalah suatu zat yang mempunyai warna dalam keadaan asam dan
basa berlainan. Misalnya lakmus dalam suasana basam berwarna merah muda,
sedangkan dalam keadaan basa warnanya biru. Indikator lain yang biasa
diguanakan di laboratorium adalah fenolftalein. Fenolftalein dalam suasana asam

I-8
tidak berwarna, sedangkan dalam suasana basa berwarna merah muda (Brady,
2010:240).
Indikator harus dipilih yang berubah warna disekitar titik ekuivalen dari
titrasi. Untuk asam lemah, pH pada titik ekuivalen diatas 7 dan fenolftalein
merupakan indikator yang lazim digunakan. Untuk basa lemah, yang memiliki pH
dibawah 7, indikator yang sering digunakan oleh metil merah (4,2 sampai 6,2)
atau metil oranye. Untuk asam dan basa kuat, indikator yang sesuai adalah metil
merah, bromtimul biru dan fenolftalein (Underwood, 1981:144).

3 METODOLOGI

1 Alat dan Rangkaian Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer, buret,
gekas beker, labu ukur, pipet tetes, propipet, corong, gelas arloji, neraca analitik,
botol semprot, pipet mohr, sudip, pengaduk kaca dan oven.

Rangkaian Alat :

Keterangan :
1 Buret

2 Statif dan klem

3 Erlenmeyer

Gambar 1.1 Rangkaian Alat Titrasi Larutan

2 Bahan

I-9
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah HCl pekat (kadar 36 %)
0,8 mL, NaOH 0,4 gram, larutan Na2CO3 0,5 gram, indikator fenolfetalein (pp)
dan indikator metil merah.

3 Prosedur Kerja
1 Pembuatan Larutan HCl 0,1 N
Labu takar 100 mL disiapkan, diambil 0,86 mL HCl (HCl memiliki kadar
36 % dan densitas 1,179 kg/L) digunakan pipet tetes ukuran 1 mL. Akuades
ditambahkan hingga tanda tera lalu dikocok hingga homogen larutan tersebut.

2 Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N


Gelas arloji ditimbang lalu dikalibrasi, NaOH ditambahkan sebanyak 0,4
gram di atas gelas arloji. Setelah ditimbang, NaOH dimasukkan ke dalam gelas
beker, akuades ditambahkan secukupnya. Aduk menggunakan pengaduk kaca
sampai homogen. Akuades dimasukkan ke dalam labu takar hingga tanda tera.

3 Standarisasi Larutan HCl 0,1 N dengan larutan Na2CO3


Larutan HCl (langkah 1.3.3.1) sebanyak 10 mL dimasukkan ke dalam
erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes inidkator metil merah. Buret diisi dengan
Na2CO3 0,1 N sebanyak 50 mL. Miniskus awalnya dibaca dan larutan dititrasi
hingga terjadi perubahan warna. Dicatat berapa volume larutan Na2CO3 0,1 N
yang diperlukan untuk titrasi.

4 Standarisasi Larutan NaOH dengan HCl


Pertama, larutan NaOH (langkah 1.3.3.2) dimasukkan sebanyak 10 mL ke
dalam erlenmeyer dan ditambahkan 3 tetes inidikator PP, kemudian buret diisi
dengan larutan HCl 0,1 N (langkah 1.3.3.1), dibaca miniskus awalnya. Larutan
dititrasi dan dicatat perubahan volume setelah terjadi perubahan warna pada
larutan.

I-10
4 Flow Chart

1.3.4.1 Pembuatan Larutan HCl 0.1 N


HCL Pekat

- Disiapkan gelas ukur


- Dimasukkan 10 mL HCl pekat ke dalam labu takar

Akuades
- Ditambahkan akuades sampai tanda tera
- Dikocok hingga homogen

Hasil

Gambar 1.2 Skema Prosedur Pembuatan Larutan HCl 0,1 N

1.3.4.2 Pembuatan Larutan NaOH 0.1 N


NaOH Padat

- Ditimbang NaOH sebanyak 0,4 gram dengan neraca analitik


- Dilarutkan dalam gelas beker dengan akuades

I-11

Hasil
- Diaduk sampai homogen
- Dimasukkan ke dalam labu takar
- Ditambahkan akuades hingga tanda tera
- Dikocok agar homogen

Gambar 1.3 Skema Prosedur Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N

1.3.4.3 Standarisasi Larutan HCl 0.1 N dengan Larutan Na2CO3

Larutan HCL
- Dimasukan sebanyak 10 mL ke dalam erlenmeyer
- Ditambahkan 3 tetes metil merah

Na2CO3
- Diisi ke dalam buret
- Dibaca miniskus awalnya
- Dititrasi larutan HCl hingga terjadi perubahan warna
- Dicatat volume larutan Na2CO3 yang diperlukan titrasi

Hasil

Gambar 1.4 Skema Prosedur Standarisasi Larutan HCl 0,1 N dengan Larutan
NaOHNa2CO3

1.3.4.4 Penentuan Konsentrasi NaOH dan HCl

HCl
- Dimasukan 10 mL ke dalam erlenmeyer

I-12

Hasil
- Ditambahkan 3 tetes indikator fenolftalein (PP)

- Dimasukkan ke dalam buret


- Dibaca miniskus awalnya
- Dititrasi larutan
- Dibaca volume akhir setelah perubahan warna

Gambar 1.5 Skema Prosedur Penentuan Konsentrasi NaOH dan HCl

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

1 Hasil Pengamatan
Tabel 1.2 Pembuatan Larutan HCl
No
Langkah Kerja Hasil Pengamatan
.
HCl 0,1 N dituangkan ke dalam VHCl = 0,86 mL
1.
labu takar VAkuades = 75 mL
Kabu takar diisi akuades hingga
2. tanda tera dan dikocok hingga Vlarutan = 100 mL
homogen

Tabel 1.3 Pembuatan Larutan NaOH


No
Langkah Kerja Hasil Pengamatan
.
1. NaOH padat ditimbang Massa = 0,4 gram
NaOH dilarutkan dalam gelas beker
2.
dengan sedikit akuades
3. Larutan NaOH dimasukkan ke labu Larutan NaOH encer yang

I-13
takar 100 ml. Ditambahkan akuades homogen
hingga tanda tera VLarutan = 100 mL

Tabel 1.4 Pembuatan Larutan Na2CO3


No
Langkah Kerja Hasil Pengamatan
.
1. Na2CO3 padat ditimbang Massa = 0,53 gram
Na2CO3 dilarutkan dengan sedikit
2.
akuades dalam gelas beker
Larutan Na2CO3 dimasukkan ke
Larutan Na2CO3 encer yang
dalam labu takar 100 ml. Akuades
3. homogen
ditambahkan hingga tanda tera dan
VLarutan = 100 mL
dikocok hingga homogen

Tabel 1.5 Standarisasi Larutan HCl dengan Larutan Na2CO3


No
Langkah Kerja Hasil Pengamatan
.
Larutan HCl yang tadi dibuat
dimasukkan ke dalam erlenmeyer Larutan berubah warna dari
1.
dan ditambahkan 3 tetes metil bening menjadi merah muda
merah
Buret diisi dengan larutan Na2CO3
2. Volume awal pada buret = 50 mL
dan dibaca miniskus awalnya
Larutan HCl dititrasi dengan
larutan Na2CO3 ke dalam Vtitran rata-rata = 9,46 mL
3.
erlenmeyer. Dicatat volume dan Larutan menjadi kuning
perubahan warnanya

Tabel 1.6 Standarisasi Larutan NaOH dengan Larutan HCl


No
Langkah Kerja Hasil Pengamatan
.
1. Larutan NaOH yang tadi dibuat VNaOH = 10 mL
dimasukkan ke dalam erlenmeyer Larutan berwarna ungu

I-14
dan ditambahkan indikator pp 2
tetes
Buret diisi dengan larutan HCl dan
2. Volume awal pada buret = 50 mL
dibaca miniskus awalnya
Larutan NaOH dititrasi dengan
larutan HCl ke dalam erlenmeyer. VTitran rata-rata = 10 mL
3.
Dicatat volume dan perubahan Larutan menjadi kuning
warnanya

2 Pembahasan
Asam klorida (HCl) merupakan asam pilihan dalam titrasi untuk
menentukan jumlaah basa. Pada pengenceran HCl, didapat reaksi sebagai berikut :

HClpekat + H2O(l) HCl(aq) . . . (1.4)


Reaksi tersebut mengalami eksotermik yaitu dimana terjadi peristiwa energi
tumbukan pada HCl pekat dan H 2O. Berdasarkan teori tumbukan, ketika dua buah
zat kimia bereaksi maka partikel-partikelnya harus bertumbukan satu sama lain
dengan energi yang cukup untuk berlangsungnya reaksi tersebut. Dengan kata
lain, agar suatu reaksi kimia dapat berlangsung maka harus terjadi tumbukan yang
efektif antara partikel-partikel zat yang bereaksi. Tumbukan yang efektif tersebut
dapat terjadi apabila partikel-partikel tersebut memiliki energi kinetik yang cukup
besar. Sehingga terjadi perubahan antar struktur ikatan atom zat. Energi kinetik
minimum yang dimiliki partikel untuk menghasilkan tumbukan efektif yang dapat
menghasilkan suatu reaksi disebut energi aktivasi.
Pembuatan larutan NaOH dengan melarutkan padatan NaOH dengan
akuades, yang bertujuan untuk mempertahankan keadaan kebasaan NaOH itu
sendiri. Pada proses ini terjadi eksotermik, yaitu ditandai dengan suhu larutan
NaOH terasa lebih hangat dikarenakan terjadi penggunaan energi molekulnya
untuk tumbukan. Saat menambahkan akuades warna larutan tetap bening. Hal ini
menunjukkan NaOH terionisasi sempurna dalam air Reaksinya adalah sebagai
berikut :

NaOH(s) + H2O(l) NaOH(aq) . . . (1.5)

I-15
Standarisasi larutan HCl dengan larutan Na2CO3, indikator yang digunakan
adalah indikator metil merah. Karena larutan metil merah dapat membedakan
antara larutan netral dengan larutan asam. Larutan asam ditetesi metil merah maka
. . . (1.6)
warna tetap berwarna merah. Sedangkan larutan netral berwarna kuning bila
ditetesi metil merah. Oleh karena itu, pembuatan dan standarisasi larutan HCl
dengan larutan Na2CO3 digunakan indikator metil merah. HCl yang awalnya
berwarna bening, ketika ditetesi indikator metil merah, dititrasi dengan larutan
Na2CO3 , larutan berubah warna dari merah muda menjadi kuning terang.
Perubahan warna tersebut terjadi saat larutan telah mencapai titik ekuivalennya
yaitu ketika ekuivalen asam dan basanya telah mencapai titik keseimbangan dan
mol pada asam dan basa telah setara, sehingga warna larutan berubah. Volume
rata-rata Na2CO3 yang digunakan untuk mentitrasi HCl adalah 9,134 mL. Adapun
reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

2HCl(aq) + Na2CO3(l) 2NaCl(aq) + H2O(l) + CO2

Penentuan konsentrasi NaOH dengan HCl dilihat dari volume titran yang
digunakan oleh indikator, dengan menggunakan indikator PP. Indikator PP pada
lingkungan asam, larutan PP tidak berwarna. NaOH yang saat awal berwarna
bening, ketika ditetesi indikator PP warnanya menjadi ungu. Setelah dititrasi
dengan larutan HCl, warnanya berubah menjadi putih bening dengan kisaran
volume tertentu. Karena larutan tersebut telah mencapai titik ekuivalennya yaitu
ketika ekuivalen asam dan basanya telah mencapai titik kesetimbangan dan mol
pada asam dan basa telah setara, sehingga warnanya berubah. Volume rata-rata
HCl yang digunakan adalah 10 mL. Reaksinya adalah sebagai berikut :

NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l) . . . (1.7)

Normalitas merupakan jumlah gram ekuivalen solute dalam 1 liter larutan.


Penentuan konsentrasi larutan HCl dengan Na2CO3 pada standarisasi larutan
didapatkan normalitas HCl aktual sebesar 0,0946 N. Pada perubahan konsentrasi
larutan NaOH dengan HCl didapatkan normalitas NaOH aktual sebesar 0,0946 N.
Diketahui faktor normalitasnya 0,946 dan 0,1 normalitas NaOH mempunyai

I-16
faktor normalitas sebesar 0,946. Faktor yang mempengaruhi normalitas yaitu
kurang akuratnya pada saat menimbang sehingga mengakibatkan kelebihan
Na2CO3, NaOH dilarutkan dengan akuades yang kurang sempurna serta pH
akuades yang terlalu tinggi yang mengakibatkan faktor normalitas tidak sama
dengan 1. Hasil persentase kesalahan yang diperoleh dari percobaan ini adalah 5,4
% pada HCl dan 5,4% pada NaOH.

5 PENUTUP

1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percoban ini adalah penentuan
konsentrasi larutan HCl dengan larutan Na2CO3 pada standarisasi larutan
didapatkan normalitas HCl aktual sebesar 0,0946 N. Dan pada penentuan
konsentrasi NaOH dengan HCl didapatkan normalitas NaOH aktual sebesar
0,0946 N. Didapatkan faktor normalitas HCl sebesar 0,946 dan faktor normalitas
NaOH sebesar 0,946. Hasil yang didapatkan dari praktikum ini dapat dikatakan
bahwa pada HCl berhasil karena memiliki kesalahan relatif cukup besar, yaitu
sebesar 5,4 %. Pada NaOH dikatakan berhasil karena memiliki kesalahan relatif
cukup kecil, yaitu sebesar 5,4 %.

2 Saran
Saran yang dapat diberikan dari percobaan ini adalah agar percobaan
selanjutnya dapat menggunakan variabel yang bermacam-macam. Serta
memperbanyak percobaan dengan mengulangi 3 kali percobaan pada satu
sampelnya, sehingga lebih jelas dan akurat data yang didapat.

I-17
LP-18

LAMPIRAN PERHITUNGAN

1. Menghitung volume HCl


BM N V
Volume HCl=
n k L
kg
36,5 0,1 N 0,1 L
mol

kg
1 1,179 0,36
L
0,86 mL

2. Menghitung massa NaOH


BM N V
Massa=
e
kg
40 0,1 N 0,1 L
mol

1
0,4 gram

3. Menghitung massa NaCO3


BM N V
Massa=
e
kg
106 0,1 N 0,1 L
mol

2
0,53 gram

4. Menghitung N HCl aktual


N V NaCO3
N HCl aktual= NaCO 3
V HCl
0,1 N 9,46 mL

10 mL
0,0946 N

5. Menghitung N NaOH aktual


LP-19

N HCl aktual V
N NaOH aktual= HCl

V NaOH
0,0946 N 10 mL

10 mL
0,0946 N

6. Menghitung faktor normalitas HCl dan faktor normalitas NaOH


N
Faktor Normalitas HCl= HCl aktual
N HCl teoritis
0,0946 N

0,1 N
0,946 N

N NaOH aktual
Faktor Normalitas NaOH =
N NaOH teoritis
0,0946 N

0,1 N
0,946 N

7. Menghitung presentasi kesalahan


HCl= |
10,946
1 |
100

5,4

NaOH= |10,946
1 | 100
5,4
ABSTRAK

Koloid merupakan sistem yang terdiri dari dua komponen atau lebih yang bukan homogen
(larutan), tetapi juga tidak heterogen (campuran) melainkan diantara homogen dan heterogen.
Contoh koloid yang sering dijumpai seperti susu, tinta, agar-agar, shampoo bahkan asap dan kabut.
Percobaan diperlukan untuk mempelajari sifat-sifat fisik dan kimia dari koloid dan sistem koloid.
Ada dua macam pengamatan dalam percobaan ini, yaitu dengan koloid artifisial (buatan)
menggunakan serbuk tanah/debu serta koloid alami berupa air rawa dan air gambut. Setelah
dilakukan percobaan diketahui bahwa keadaan koloid suatu campuran memiliki dua fase, yaitu
fase terdispersi dan fase pendispersi. Koloid memiliki sifat-sifat sistem antara lain efek Tyndall,
gerak Brown, adsorpsi dan koagulasi. Penambaban HCl pada larutan koloid menyebabkan
penurunan pH larutan karena adanya daya adsorpsi koloid terhadap ion H + dari HCl. Pemberian
tawas dan larutan kanji pada koloid membuat larutan menjadi bening dan cahaya dapat diteruskan.

Kata Kunci : Adsorpsi, air gambut, air rawa, efek Tyndall, gerak Brown, koloid

PEROBAAN II
KIMIA KOLOID: SIFAT FISIKOKIMIA KOLOID LAHAN GAMBUT

2.1 PENDAHULUAN

2.1.1 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari sifat-sifat fisik dan
kimia dari koloid dan sistem koloid lahan gambut.

2.1.2 Latar Belakang


Kimia koloid sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Contoh koloid
yang sering dijumpai seperti susu, tinta, agar-agar, shampoo bahkan asap dan
kabut. Koloid merupakan sistem yang terdiri dari dua komponen atau lebih yang
bukan homogen (larutan), tetapi juga tidak heterogen (campuran) melainkan
diantara homogen dan heterogen.
Ada dua macam pengamatan dalam percobaan ini, yaitu dengan koloid
artifisial (buatan) dan koloid alami. Prosedur kedua pengamatan masing-masing
sama, yang berbeda hanyalah bahan yang digunakan adalah serbuk tanah atau
debu kemudian dilarutkan. Sedangkan pada koloid alami bahan yang digunakan
adalah air gambut. Keduanya larutan pH-nya diatur hingga menjadi asam.

II-2
Pengamatan dilakukan dengan menyinari larutan induk dengan senter dan diamati
perbedaan yang tejadi,
Pengaplikasian koloid dalam kehidupan sehari-hari maupun di industri
misalkan diantaranya pada industri kosmetika seperti foundation, finishing dan
deodorant berbentuk koloid dan umunya berupa koloid emulsi. Ada juga yang
terdapat pada industri tekstil yaitu pada proses pencelupan bahan untuk
pewarnaan. Selain itu koloid juga berfungsi dalam penjernihan air dan sebagainya.

2.2 DASAR TEORI

Koloid disebut juga dispersi koloid dan suspensi koloid adalah campuran-
campuran yang berada antara larutan sejati dan suspensi. Misalnya adalah susu
segar, yang terdiri dari butir-butir halus lemak mentega yang terdespersi dalam
fase cair yang juga mengandung susu protein dan beberapa zat lainnya. Dalam
koloid seperti susu, partikel zat terlarutnya lebih besar daripada partikel larutan,
tetapi lebih kecil dari partikel yang mengapung pada suspensinya. Oleh karena
bentuk ukuran dari partikel koloid dibandingkan dengan ukuran medium dimana
partikel itu tersebar, maka disini tidak digunakan istilah zat terlarut dan pelarut
melainkan fase terdispersi dan medium pendispersi (Brady, 2010: 579).
Ada dua cara terbentuknya partikel koloid. Pertama dari senyawa bermolekul
besar yaitu satu molekul menjadi satu partikel koloid, contohnya protein dan
plastik. Kedua, satu partikel koloid terbentuk dari gabungan (agregat) banyak
partikel kecil. Dari segi bentuknya, partikel koloid dapat berupa lembaran
(laminer), serat (febriler) dan butiran (korpuskular). Bentuk itu ditentukan oleh
jenis dan cara terbentuknya koloid. Koloid yang terbentuk dengan cara
seteristalisasi mempunyai bentuk sesuai dengan struktur kristalnya, tetapi apabila
dibuat dengan memecah atau menggerus partikel besar akan berbentuk acak atau
beraneka ragarn (Syukri, 1999: 453454).

II-2
Zat yang terpecah halus di dalam suatu medium atau pelarut disebut zat
terdispersi, sedangkan pelarutya disebut zat pendispersi, atau medium pendispersi.
Sistem yang terbentuk dari dua komponen ini disebut sistem pendispersi. Ada dua
sistem dispersi, yaitu sistem dispersi molekuler (atau sistem koloid) dan sistem
dispersi kasar (atau suspensi). Ciri-ciri sistem koloid (Mulyono, 2005: 183-184)
antara lain:
1. Bidang batas antar zat terdispersi dan medium pendispersi hanya dapat
dideteksi dengan bantuan mikroskop ultra.
2. Bersifat dua fase tetapi sukar memisah (cukup stabil).
3. Tak dapat disaring dengan kertas saring biasa.
Ukuran partikel koloid terletak antara ukuran partikel larutan (diameter: < 1
nm) dan partikel suspensi (diameter: > 200 nm). Partikel larutan pada sistem
larutan dapat diubah menjadi partikel koloid dengan cara memperbesar ukurannya
disebut cara kondensasi meliputi cara pertukaran pelarut, cara hidrolisis, cara
redoks dan cara dekomposisi ganda. Sebaliknya, partikel suspensi dapat diubah
menjadi partikel koloid dengan cara memperkecil ukurannya disebut cara dispersi,
meliputi cara dispersi mekanik, cara dispersi peptisasi dan cara dispersi listrik.
Pembuatan koloid dengan cara dispersi (Syukri, 1999: 454460) sebagai
berikut:
1. Cara mekanik, yaitu cara menggerus (menggiling) partikel kasar sampai
berukuran koloid, contohnya membuat koloid belerang dan urea masing-
masing dari butirannya.
2. Cara elektronik, yaitu membuat koloid dengan mencelupkan dua elektroda
logam (seperti emas) kedalam air. Kemudian diberi listrik tegangan tinggi
sehingga suhunya sangat tinggi. Akibatnya atom-atom emas lepas dari
elektroda dan bergabung membentnk koloid emas.
3. Cara peptisasi, yaitu membuat koloid dengan menambahkan suatu cairan
kepada partikel kasar (endapan) sehingga pecah menjadi koloid.
Sedangkan pembuatan koloid dengan cara kondensasi yaitu sebagai berikut:
1. Cara reaksi kimia, yaitu dengan cara menambahkan pereaksi tertentu kedalam
larutan sehingga hasil reaksinya berupa koloid.

II-3
2. Cara pertukaran pelarut, koloid dapat dibuat dengan menukar pelarut atau
menambahkan pelarut lain, jika senyawa lebih sukar larut dalam pelarut kedua.
3. Pendinginan berlebih, koloid dapat terjadi bila campuran didinginkan sehingga
salah satu senyawa membuka (koloid).
Jika dua sel dengan tanda muatan berlawanan, dicampur biasanya terjadi
saling koagulasi, karena muatan-muatan saling menetralkan. Pernyataan ini
terutama berlaku untuk koloid liofibik. Koloid liofilik umumnya lebih sukar
dikoagulasi dibandingkan dengan koloid liofibik. Jika suatu koloid liofilik
ditambahkan kepada suatu koloid liofibik, maka koloid liofibik itu nampak
terlindung kuat terhadap daya memflokulasi (dari) elektrolit-elektrolit. Koloid
liofilik ini disebut koloid pelindung. Ini menjelaskan kestabilan relatif yang
dihasilkan pada penambahan sedikit gelatin kepada sol emas yang kalau tidak
adalah tidak stabil, karena alasan ini pula bahan organik yang mungkin
membentuk suatu koloid pelindung umumnya diuraikan tersebut dahulu sebelum
memulai analisis organik (Svehla, 1990: 476).
Sifat sistem koloid timbul akibat partikelnya yang lebih besar daripada
partikel larutaa (Keenan, l 984: 458-460) sifat itu adalah sebagai berikut:
1. Efek Tyndall
Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan dispersi koloid dari suatu
larutan biasa karena atom, molekul kecil, ataupun ion yang berada dalam suatu
larutan tidak menghamburkan cahaya secara jelas dalam contoh-contoh yang
tebalnya tak seberapa. Penghamburan cahaya Tyndall dapat menjelaskan
buramnya dispersi koloid.
2. Gerak Brown
Jika suatu mikroskop optis difokuskan pada suatu dispersi koloid pada arah
yang tegak lurus pada berkas cahaya dan dengan latar belakang gelap, akan
nampak partikel-partikel koloid, bukan sebagai partikel dengan batas yang
jelas, melainkan sebagai bintik yang berkilauan. Dengan mengikuti bintik-
bintik cahaya yang dipantulkan ini orang dapat melihat bahwa partikel koloid
terdispersi ini bergerak terus-menerus secara acak menurut jalan yang berliku-

II-4
berliku. Gerakan acak partikel koloid dalam suatu medium pendispersi ini
disebut gerak Brown.
3. Adsorpsi
Adsorpsi pada permukaan partikel terdapat gaya Van Der Waals yang belum
terimbangi atau bahkan gaya valensi yang dapat menarik dan mengikat atom-
atom dari zat asing. Adhesi zat asing ini pada permukaan suatu partikel disebut
adsorpsi. Zat-zat teradsorpsi terikat dengan kuat dalam lapisan-lapisan yang
biasanya tebalnya tak lebih dari satu atau dua molekul.

Dipandang dari kelarutannya, koloid dibagi atas koloid dispersi dan koloid
asosiasi (Syukri, 1999: 454-455) yaitu:
1. Koloid dispersi yaitu koloid yang tidak dapat larut secara individu dalam
medium, yang terjadi hanyalah penyebaran (dispersi) partikel tersebut.
2. Koloid asosiasi yaitu koloid yang terbentuk dari gabungan (asosiasi) partikel
kecil yang larut dalam medium.
Ditinjau dari fasa terdispersi (medium) koloid dapat juga dibagi atas koloid
liofil dan liofib:
1. Koloid liofil yaitu koloid yang suka berikatan dengan mediumnya sehingga
sulit dipisahkan atau stabil. Jika mediumnya air disebut koloid hidrofil yaitu
suka air.
2. Koloid liofib yaitu koloid yang tidak menyukai mediumnya sehingga
cenderung memisah dan akibatnya tidak stabil. Bila mediumnya air disebut
koloid hidrofib yaitu tidak suka air. Koloid dapat berubah menjadi tidak kolid
atau sebaliknya.
Berdasarkan perubahan itu ada koloid reversible dan irreversible:
1. Koloid reversible yaitu suatu koloid yang dapat berubah, jadi tak koloid dan
kemudian menjadi koloid lagi.
2. Koloid irreversible yaitu koloid yang setdah berubah menjadi bukan koloid,
tidak dapat menjadi koloid lagi.

II-5
Meskipun partikel-partikel koloid tak dapat dipisahkan dan partikel-partikel
yang berdimensi molekul dengan memakai kertas saring biasa, kertas saring
kuantitatif yang terbaik menahan partikel-partikel yang berdiameter lebih besar
kira-kira 1 nm. Pemisahan dapat dilakukan dengan memakai alat-alat khusus.
Prosedur yang dikenal sebagai dialisis memanfaatkan fakta bahwa zat-zat dalam
larutan sejati, disebutkan molekulnya tak terlalu besar dapat lolos menembus
selaput (membran) dari perkamin atau koloidun, sedangkan partikel-partikel
koloid tertahan. Pemisahan juga dapat dihasilkan dengan penyaringan ultra.
Kertas saring dijenuhi dengan koloidan atau gelatin yang dititrasikan dengan
formaldehide, sehingga pori-pori menjadi cukup kecil untuk menahan partikel-
partikel dengan dimensi koloid. Ukuran terakhir dari pori-pori tergantung pada
kertas yang dipakai dan pada konsentrasi larutan yang dipakai untuk
menjenuhinya. Larutan dituang diatas saringan dan aliran cairan dipercepat
dengan hisapan atau tekanan. Disini dapat disebutkan bahwa faktor-faktor lain
(misalnya laju difusi dan adsorpsi) disamping ukuran pori, menentukan apakah
partikel ukuran tertentu akan lolos atau tidak melalui saringan ultra (Shevla, 1990:
92).
Suatu koloid biasanya mengandnng senyawa lain yang dapat dimurnikan
dengan cara dialisis, elektro-osmosis dan elektroforesis (Sukri, 1999: 460461).
1. Dialisis
Partikel koloid umumnya tidak dapat melewati pori-pori saringan kertas
perkamen, selofan atau plastik tertentu tetapi saringan tersebut dapat dilewati
oleh molekul kecil dan ion yang larut dalam medium. Saringan seperti itu
disebut selaput semipermeabel, karena pori-porinya amat kecil ( 1 nm). Jika
selang yang terbuat dari selaput permeabel dimasukkan kedalam koloid dan
dialiri aliran murni terns-menerus, maka molekul kecil atau ion lama kelamaan
akan makin murni.
2. Elektro-osmosis
Kolid yang mengandung ion dapat dimurnikan dengan cara elektro-osmosis,
yaitu memaksa ion-ion melewati pori semipermeabel dengan bantuan listrik.
3. Elektroforesis

II-6
Campuran beberapa koloid yang bermuatan listrik dapat dipisahkan dengan
cara elektroforesis karena koloid akan tertarik ke elektroda yang berlawanan
muatannya. Koloid yang sama muatannya dapat dipisahkan berdasarkan
difusinya. Koloid yang cepat berdifusi akan sampai di elektroda terlebih
dahulu. Cara ini sering dipakai dalam analisis protein, asam nukleat dan
polisakarida dalam biokimia dan biologi.

2.3 METODOLOGI PERCOBAAN

2.3.1 Alat dan Rangkaian Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas beker 500 mL
dan 100 mL, gelas ukur 100 mL, gelas arloji, pipet tetes, sudip, pengaduk kaca,
tabung reaksi, pH meter, botol semprot, plastik (rolls), neraca analitik, senter
baterai, tempat tabung reaksi, mesin centrifuge dan kertas label.

Rangkaian alat:
Keterangan:
1. Tombol on/off
2. Pembuka tutup mesin
3. Pengatur waktu
4. Tutup mesin centrifuge
5. Tempat tabung centrifuge
6. Pengatur kecepatan
Gambar 2.1 Rangkaian Alat Centrifuge

II-7
Keterangan:
1. Tombol on/off
2. Indikator pH
3. Angka pH
Gambar 2.2 pH meter

2.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah serbuk tanah/debu
15 gram, tawas 15 gram, air gambut 400 mL, air rawa 400 mL, HCl pekat 6 M,
kanji 15 gram dan akuades.
2.3.3 Prosedur Kerja
2.3.3.1 Koloid Buatan
Pertama, dibuat larutan koloid dengan cara ditimbang serbuk tanah/debu
15 gram, kemudian ditambahkan akuades 400 mL kedalam gelas beker 500 mL,
diaduk hingga membentuk larutan yang homogen. Selanjutnya pisahkan antara
koloid dan endapan dengan cara didekantir selama 10 menit. Setelah didekantir
masukkan kedalam gelas beker 500 mL, larutan ini sebagai larutan induk.
Langkah selanjutnya diambil larutan (II) 200 mL, gunakan gelas ukur 100 mL
sebanyak 2 kali, kemudian masukkan kedalam gelas beker 500 mL. Lakukan
penyinaran pada larutan tersebut dengan senter baterai. Amati jalannya sinar,
apakah sinar diteruskan, diserap sebagian atau diserap semuanya. Kemudian ukur
pH dengan pH meter, turunkan pH dengan ditambahkan HCl pekat 1 tetes.
Kemudian larutan (III) 200 mL, gunakan gelas ukur 100 mL sebanyak 2 kali,
kemudian masukkan kedalam gelas beker 500 mL, lalu tambahkan 15 gram tawas,
aduk hingga homogen. Kemudian didekantir selama 10 menit. Amati perubahan
yang terjadi, lakukan kembali penyinaran pada larutan dengan senter baterai,
tetapi ditambahkan larutan kanji 15 mL. Langkah terakhir adalah tabung reaksi
diisi dengan larutan koloid, ditutup dengan plastik (rolls) masukkan kedalam

II-8
mesin centrifuge dengan mengatur kecepatan 2000 rpm selama 15 menit dan
amati perubahan yang terjadi.

2.3.3.2 Koloid Alami


Pertama, amati air gambut atau air rawa yang keruh 400 mL, larutan ini
sebagai larutan induk. Selanjutnya pisahkan antara koloid dan endapan dengan
cara didekantir selama 10 menit. Setelah didekantir masukkan kedalam gelas
beker 500 mL, larutan ini sebagai larutan induk. Langkah selanjutnya diambil
larutan (II) 200 mL, gunakan gelas ukur 100 mL sebanyak 2 kali, kemudian
masukkan kedalam gelas beker 500 mL. Lakukan penyinaran pada larutan
tersebut dengan senter baterai. Amati jalannya sinar, apakah sinar diteruskan,
diserap sebagian atau diserap semuanya. Kemudian ukur pH dengan pH meter,
turunkan pH dengan ditambahkan HCl pekat 1 tetes. Kemudian larutan (III)
200 mL, gunakan gelas ukur 100 mL sebanyak 2 kali, kemudian masukkan
kedalam gelas beker 500 mL lalu tambahkan 15 gram tawas, aduk hingga
homogen. Kemudian didekantir selama 10 menit, amati perubahan yang terjadi.
Lakukan kembali penyinaran pada larutan dengan senter baterai, tetapi
ditambahkan larutan kanji 15 mL. Langkah terakhir adalah tabung reaksi diisi
dengan larutan koloid, ditutup dengan plastik (rolls) masukkan kedalam mesin
centrifuge dengan mengatur kecepatan 2000 rpm selama 15 menit dan amati
perubahan yang terjadi.

II-9
Serbuk tanah/debu

Larutan koloid/induk

2.3.4 Flow Chart


2.3.4.1Larutan 2
Koloid Buatan (Artifisial)

- Ditimbang 15 gram
- Ditambahkan 400 mL akuades
- Diaduk sampai homogen

Larutan 3
- Didekantasi selama 10 menit
- Dimasukkan kedalam gelas beker 500 mL

Larutan Induk
- Diukur larutan induk 200 mL
- Dimasukkan kedalam gelas ukur 100 mL sebanyak 2 kali
- Dimasukkan kedalam gelas beker 200 mL
- Disinari dengan senter baterai
- Diamati jalannya sinar

- Diukur pH dengan pH meter


- Ditambahkan HCl pekat 1 tetes, ukur lagi pH-nya

II-10

Hasil
- Dimasukkan kedalam gelas beker 500 mL sebanyak 200 mL
- Ditambahkan 15 gram tawas
- Diaduk hingga homogen
- Didekantir selama 10 menit
- Diamati perubahan yang terjadi
- Ditambahkan 15 mL larutan kanji
- Diaduk hingga homogen
- Diamati jalannya sinar
- Dimasukkan kedalam tabung reaksi
Serbuk tanah/debu
- Dimasukkan kedalam mesin centrifuge
- Dilakukan centrifuge pada kecepatan 200 rpm selama 15 menit
Larutan koloid/induk
- Diamati perubahan yang terjadi

2.3.4.2 Koloid Alami (Air Gambut dan Air Rawa)


Larutan 2

- Diamati 400 mL air gambut/rawa


Larutan 3

- Didekantasi 10 menit
- Dimasukkan kedalam gelas beker 500 mL

- Diukur larutan induk sebanyak 200 mL

- Dimasukkan kedalam gelas ukur 100 mL sebanyak 2 kali


Larutan Induk
- Dimasukkan kedalam gelas beker 500 mL
- Disinari dengan senter baterai
- Diamati jalannya sinar
- Diukur pH dengan pH meter
- Ditambahkan HCl pekat 1 tetes, ukur lagi pH-nya

- Dimasukkan kedalam gelas beker 500 mL sebanyak 200 mL


- Ditambahkan 15 gram tawas

II-11

Hasil
- Diaduk hingga homogen
- Didiamkan selama 10 menit
- Diamati perubahan yang terjadi
- Ditambahkan 15 mL larutan kanji
- Diaduk hingga homogen
- Diamati jalannya sinar
- Dimasukkan kedalam tabung reaksi
- Dimasukkan kedalam mesin centrifuge
- Dilakukan centrifuge pada 200 rpm selama 15 menit
- Diamati perubahan yang terjadi

2.4 HASIL DAN PEMBAHASAN

2.4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 2.1 Hasil Pengamatan Koloid Artifisial (Buatan)
No Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
1. Membuat larutan koloid Massa serbuk = 15 gram
- Mengambil serbuk debu/tanah Volume akuades = 400 mL
- Menimbang serbuk debu/tanah
- Memasukkan kedalam gelas beker
sebanyak 500 mL
- Menambahkan akuades
2. Memisahkan larutan koloid dengan Volume larutan = 200 mL
endapan, didekantir selama 10 menit, Warna larutan coklat keruh
kemudian dimasukkan kedalam gelas
beker 500 mL
3. Mengambil larutan induk Volume larutan = 200 mL
4. Menyinari larutan induk Cahaya diserap sebagian
5. Mengukur pH larutan pH = 7,5
6. Menambahkan larutan HCl pekat 1 pH = 3,73
tetes

II-12
7. Mengambil larutan induk, lalu Volume larutan induk = 200 mL
menambahkan kedalam gelas beker 500 Massa tawas = 15 gram
mL dan menambahkan tawas.
8. Menyinari larutan dengan senter baterai Larutan terlihat lebih jernih
setelah ditambah larutan kanji 15 mL Cahaya diserap semua
9. Memasukkan larutan kedalam tabung Warna menjadi bening, terdapat
reaksi dan ditutup dengan plastik rolls endapan coklat
kemudian memasukkan tabung reaksi
kedalam mesin centrifuge dan diatur
kecepatan 2000 rpm selama 15 menit

Tabel 2.2 Hasil Pengamatan Kolid Alami (Air Gambut)


No Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
1. Mengambil air gambut Volume larutan = 400 mL
2. Memisahkan endapan dan larutan Volume larutan = 400 mL
koloid dengan cara didekantir
3. Mengambil larutan induk Volume larutan = 200 mL
4. Menyinari larutan induk Cahaya diserap sebagian
5. Mengukur pH pH = 7,59
6. Menambahkan HCl pekat 1 tetes pH = 3,84
7. Mengambil larutan induk Volume larutan = 200 mL
8. Menambahkan larutan dengan tawas Larutan terlihat lebih jernih,
dan larutan kanji 15 mL, lakukan cahaya diserap semua
penyinaran Massa tawas = 15 gram
9. Memasukkan larutan kedalam tabung Larutan menjadi bening,
reaksi dan ditutup dengan plastik rolls, terdapat
kemudian memasukkan tabung reaksi endapan coklat didasar tabung
kedalam mesin centrifuge dan diatur
kecepatan 2000 rpm selama 15 menit

Tabel 2.3 Hasil Pengamatan Kolid Alami (Air Rawa)


No Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
1. Mengambil air gambut Volume larutan = 400 mL
2. Memisahkan sndapan dan larutan Volume larutan = 400 mL
koloid dengan cara didekantir
3. Mengambil larutan induk Volume larutan = 200 mL

II-13
4. Menyinari larutan induk Cahaya diserap sebagian
5. Mengukur pH pH = 6,96
6. Menambahkan HCl pekat 1 tetes pH = 3,68
7. Mengambil larutan induk Volume larutan = 200 mL
8. Menambahkan larutan dengan tawas Larutan terlihat lebih jernih,
dan larutan kanji 15 mL, lakukan cahaya diserap semua
penyinaran Massa tawas = 15 gram
9. Memasukkan larutan kedalam tabung Larutan menjadi bening,
reaksi dan ditutup dengan plastik rolls, terdapat
kemudian memasukkan tabung reaksi endapan coklat didasar tabung
kedalam mesin centrifuge dan diatur
kecepatan 2000 rpm selama 15 menit

2.4.2 Pembahasan
2.4.2.1 Koloid Artifisial (Buatan)
Percobaan koloid artifisial dilakukan menggunakan serbuk tanah. Ukuran
partikel koloid buatan (debu) yaitu partikel yang sering dijumpai di alam,
biasanya terdiri dari partikel-partikel yang berukuran lebih besar daripada 40
mikron, sedangkan yang terkecil dapat dilihat melalui mikroskop adalah 0,25
mikron. Pada proses pencampuran serbuk tanah/debu dengan air dilakukan, maka
lama kelamaan endapannya akan turun kedasar gelas beker dan warna dari
larutannya sangat keruh kecoklatan. Pemisahan koloid dilakukan didekantir,
pemisahan ini bertujuan untuk memisahkan larutan koloid dan endapannya
dengan cara menuangkan larutan secara perlahan kewadah yang baru tanpa
mengikut sertakan endapannya. Dalam pemisahan ini larutan yang dihasilkan
lebih jernih dari sebelumnya dan endapan lebih sedikit.
Saat dilakukan penyinaran, cahaya akan diteruskan sebagian. Berdasarkan
teori, hal tersebut terjadi karena adanya efek Tyndall, yaitu sifat dimana apabila
seberkas cahaya dilewatkan akan disebarkan atau dihamburkan. Oleh karena itu,
sebagian cahayanya dipantulkan dan dihamburkan oleh partikel-partikel koloid
tanah yang lebih rapat. Pada saat pengukuran pH larutan, angka pH yang tertera
pada monitor pH meter berubah-ubah. Hal ini terjadi karena sebagian partikel

II-14
koloidnya selalu bergerak ke segala arah sesuai dengan teori gerak Brown. Terjadi
penurunan pH disebabkan oleh ion-ion H + dan HCl sehingga larutan yang diukur
bertambah asam, karena sifat koloid yang memiliki daya adsorpsi yang besar.
Pada penambahan tawas, larutan menjadi lebih jernih dibandingkan dengan
sebelumnya, selain itu juga dapat meneruskan cahaya yang mengenainya.
Partikel-partikel koloid memiliki luas permukaan yang sangat besar, karena
larutan koloid mempunyai daya adsorpsi yang besar. Koloid yang ditambahkan
tawas akan menjadi koloid Al(OH)3. Koloid mengadsorpsi pengotor dalam
larutan, mengumpulkan dan mengendapkannya, sehingga larutan menjadi jernih.
Al(OH)3 dapat melepaskan ion positif Al3+ dalam air yang alan menetrlakan ion-
ion negatif dalam larutan, sehingga terjadi koagulan partikel koloid yang tidak
stabil dan mengendap. Reaksi yang terjadi adalah:

Al2SO4 + 6H2O 2Al(OH)3 + 3H2SO4 . . . (2.1)

Penambahan kanji 5% 15 mL, membuat larutan menjadi lebih kental dan


pekat, berubah warna menjadi putih susu. Hal ini terjadi karena partikel-partikel
koloid sebelumnya relatif besar menjadi lebih kecil dikarenakan terjadinya
penggumpalan daya antara larutan koloid dan kanji. Setelah diberi sinar, cahaya
diserap semua, ini mempakan sifat koloid yaitu efek Tyndall. Kemudian larutan
dicentrifuge pada kecepatan 2000 rpm selama 15 menit, untuk memisahkan antara
larutan dan endapan. Hasil yang didapat yaitu larutan menjadi bening dan terdapat
endapan dibagian dasar tabung. Hal ini sesuai dengan prinsip kerja centrifuge,
yaitu partikel yang lebih berat jatuh ke dasar tabung reaksi dan akhimya menjadi
endapan. Pemakaian mesin centrifuge ini agar waktu untuk proses koagulasi
berlangsung lebih cepat. Sebagaimana yang ditunjukkan perbedaanya pada
gambar 2.3.

II-15
a b

Gambar 2.3 Larutan Koloid Buatan (Serbuk Tanah/Debu) (a). Sebelum


Dicentrifuge; (b). Sesudah Dicentrifuge

2.4.2.2 Koloid Alami (Air Rawa)


Percobaan ini menggunakan air rawa sebagai sampel. Larutan koloid alami
ini kemudian disinari dengan senter baterai dan cahaya diserap sebagian. Hal ini
dapat terjadi karena di dalam larutan tersebut terdapat partikel koloid yang dapat
menghamburkan cahaya. Efek penghamburan cahaya ini disebut efek Tyndall,
bisa digunakan untuk memberikan cahaya dispersi koloid dengan suatu larutan
biasa. Partikel-partikel larutan berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat
menghamburkan cahaya. Sedangkan partikel-partikel koloid cukup besar untuk
menghamburkan cahaya.
Larutan koloid alami kemudian diukur pH-nya dan hasil yang didapat
untuk pH awalnya adalah 6,96. Setelah ditetesi HCl pekat l tetes pH turun menjadi
3,68. Pada saat pengukuran menggunakan pH meter, angka pada pH meter terus
berubah-ubah. Hal ini dapat terjadi karena partikel koloid selalu bergerak kesegala
arah. Pergerakan partikel ini disebut dengan gerak Brown. Gerak Brown terjadi
akibat adanya tumbukan partikel-partikel pendispersi terhadap partikel-partikel
terdispersinya. Penurunan pH terjadi karena partikel koloid memiliki kemampuan
daya adsorpsi untuk menyerap muatan.
Tawas ditambahkan sebanyak 15 gram dan didiamkan selama 10 menit.
Larutan tersebut berubah menjadi bening disebabkan tawas dapat menstabilkan
koloid. Tawas atau Al(SO4)3 terurai menjadi Al3+ dan SO42- yang dapat

II-16
menggumpalkan partikel koloid sehingga air menjadi lebih jernih. Reaksi yang
terjadi adalah:

Al(SO4)3 + 6H2O 2Al(OH)3 + 3H2SO4 . . . (2.2)

Larutan kemudian ditambahkan kanji 15 mL, larutan menjadi lebih kental


dan berwarna putih. Saat dilakukan penyinaran, sinar yang dihasilkan yaitu
cahaya diserap semuanya. Hal ini disebabkan kanji berdaya rekat yang tinggi,
kanji tercampur partikel koloid alami.
Larutan air rawa dimasukkan kedalam mesin centrifuge untuk
mempercepat koagulasi. Setelah dicentrifuge larutan didapatkan menjadi bening
atau lebih jernih dan terdapat sedikit endapan didasar tabung. Dalam hal ini sesuai
dengan prinsip kerja mesin centrifuge, yaitu partikel yang lebih berat jatuh
kedalam tabung reaksi dan menjadi endapan sebagaimana yang ditunjukkan
perbedaanya pada gambar 2.4.

a b

Gambar 2.4 Larutan Koloid Alami (Air Rawa) (a). Sebelum Dicentrifuge;
(b). Sesudah Dicentrifuge

2.4.2.3 Koloid Alami (Air Gambut)


Percobaan ini menggunakan air gambut sebagai sampel. Larutan koloid
alami ini kemudian disinari dengan senter baterai dan cahaya diteruskan sebagian.
Hal ini dapat terjadi karena di dalam larutan tersebut terdapat partikel koloid yang
dapat menghamburkan cahaya, efek penghamburan cahaya ini disebut efek
Tyndall. Efek Tyndall bisa digunakan untuk memberikan antara dispersi koloid
dengan suatu larutan biasa. Partikel-partikel larutan berukuran sangat kecil

II-17
sehingga tidak dapat menghamburkan cahaya. Sedangkan partikel-partikel koloid
cukup besar untuk menghamburkan cahaya.
Larutan koloid alami kemudian diukur menggunakan pH meter dan pH
awalnya adalah 7,59. Setelah ditetesi HCl pekat 1 tetes pH larutan kembali diukur,
pH turun menjadi 3,84. Pada saat pengukuran pH menggunakan pH meter, angka
pada pH meter terus berubah-ubah. Hal ini dapat terjadi karena partikel koloid
selalu bergerak kesegala arah. Pergerakan partikel ini disebut gerak Brown. Gerak
Brown terjadi akibat adanya tumbukan partikel-partikel pendispersi terhadap
partikel terdispersinya. Penurunan pH terjadi karena partikel koloid memiliki
kemampuan daya adsorpsi untuk menyerap muatan.
Tawas 15 gram ditambahkan dan didiamkan selama 10 menit. Larutan
tersebut berubah menjadi bening dikarenakan tawas dapat menstabilkan koloid
sehingga air menjadi jernih. Reaksi yang terjadi:

Al(SO4)3 + 6H2O 2Al(OH)2 + 3H2SO4 . . . (2.3)

Larutan kemudian ditambahkan 15 mL kanji yang sudah menjadi larutan.


Pelarut kanji pada larutan hanya 15 mL, larutan menjadi kental dan berwarna
putih. Saat dilakukan penyinaran, sinar yang dihasilkan yaitu cahaya diserap
semua. Hal ini disebabkan kanji berdaya rekat tinggi, kanji tercampur partikel
koloid alami.
Larutan air gambut dimasukkan ke mesin centrifuge untuk mempercepat
koagulasi. Setelah disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit
larutan didapatkan menjadi bening atau jernih dan terdapat sedikit endapan di
dasar tabung. Dalam hal ini sesuai dengan prinsip kerja mesin centrifuge, yaitu
partikel yang lebih berat jatuh ke dasar tabung reaksi dan akhirnya menjadi
endapan, sebagaimana yang ditunjukkan perbedaanya pada gambar 2.5.

II-18
a b

Gambar 2.5 Larutan Koloid Alami (Air Gambut) (a). Sebelum Dicentrifuge
(b). Sesudah Dicentrifuge

II-19
2.5 PENUTUP

2.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah keadaan koloid suatu
campuran memiliki dua fase, yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi. Koloid
memiliki sifat-sifat sistem antara lain efek Tyndall, gerak Brown, adsorpsi dan
koagulasi. Penambahan HCl pada larutan koloid dapat menyebabkan penurunan
pH larutan karena adanya daya adsorpsi koloid terhadap ion H+ dari HCl.
Pemberian tawas pada koloid dan larutan kanji 15 mL membuat larutan menjadi
bening dan cahaya diteruskan setelah dilakukannya centrifuge dengan kecepatan
2000 rpm selama 15 menit agar larutan menjadi jernih dengan cepat.

2.5.2 Saran
Saran yang diberikan pada percobaan selanjutnya praktikan harus
mengetahui cara meletakkan tabung reaksi kedalam mesin centrifuge, agar tetap
seimbang. Selain itu, dalam percobaan ini praktikan diharapkan mampu membaca
dan menentukan alat pengukuran pH yaitu pH meter dengan tepat sehingga hasil
yang didapat lebih akurat.

II-20
ABSTRAK

Gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu.
Bagian besar dari penentuan, secara analitis gravimetri meliputi transformasi unsur atau radikal ke
senyawa murni stabil menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Gravimetri
menggunakan metode penimbangan, pengendapan, penyaringan dan pemijaran. Adapun tujuan
dari percobaan analisa gravimetri ini adalah menentukan berat BaSO4 dari hasil Ba2+ dan H2SO4.
Tahap pengukuran dalam gravimetri adalah penimbangan. Analitnya secara fisik
dipisahkan dari semua komponen lain dari sampel itu maupun dari pelarutnya. Zat yang telah
diendapkan ini disaring dan dikeringkan serta ditimbang dan diusahakan endapan itu harus
semurni mungkin. Berdasarkan percobaan diketahui massa endapan BaSO 4 sebesar 1,4 gram dan
kadar Ba2+ dalam sampel BaCl2 adalah 37,13 %.

Kata kunci : BaCl2, BaSO4, endapan, gravimetri, penimbangan

PERCOBAAN III
ANALISA GRAVIMETRI

3.1 PENDAHULUAN

3.1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan berat BaSO4 dari hasil Ba2+
dan H2SO4.

3.1.2 Latar Belakang


Gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau
senyawa tertentu. Bagian besar dari penentuan, secara analitis gravimetri meliputi
transformasi unsur atau radikal ke senyawa murni stabil menjadi bentuk yang
dapat ditimbang dengan teliti. Gravimetri menggunakan metode penimbangan,
pengendapan, penyaringan dan pemijaran.
Tahap pengukuran dalam gravimetri adalah penimbangan. Analitnya secara
fisik dipisahkan dari semua komponen lain dari sampel itu maupun dari
pelarutnya. Selain itu, analisa gravimetri merupakan suatu cara analisa kimia
kuantitatif yang didasarkan pada prinsip penimbangan berat yang didapat dari
proses pemisahan analit dari zat-zat lain dengan metode pengendapan. Zat yang
telah diendapkan ini disaring dan dikeringkan serta ditimbang dan diusahakan

III-2
endapan itu harus semurni mungkin. Untuk memisahkan endapan tersebut maka
sangat dibutuhkan pengetahuan dan teknik yang cukup dan wajiib dimiliki
seorang praktikan.
Aplikasi analisa gravimetri dalam industri kimia antara lain, analisis kation
dari unsur-unsur yang terdapat dalam sistem periodik unsur untuk analisis
kuantitatif bahan organik tertentu, seperti kolesterol pada sereal dan laktosa pada
produk susu. Selain itu juga terdapat pada minyak goreng, gas alam,
elektrogravimetri dan lain-lain. Praktikum ini sangat bermanfaat dalam dunia
industri.

3.2 DASAR TEORI

Prinsip dasar analisa gravimetri ialah salah satu metode analisis kualitatif
dengan penimbangan. Tahap awal analisa gravimetri adalah pemisahan komponen
komponen lain yang terdapat dalam suatu sampel kemudian dilakukan
pengendapan. Pengukuran dalam metode gravimetri adalah dengan penimbangan
banyaknya komponen yang dianalisis, massa atom relatif, massa molekul relatif
dan berat endapan hasil reaksi. Persyaratan berikut haruslah dipenuhi agar metode
gravimetri berhasil (Underwood, 1998) adalah :
1. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang
tak terendap secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang
dalam menetapkan penyusun utama dari suatu mikro).
2. Zat yang mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni atau sangat
hampir murni bila tidak akan diperoleh hasil yang galat.
Endapan dapat pula dipisahkan dengan cara pengenap-tuangan. Dengan cara
itu, endapan yang berada dalam cairan induknya diendapkan beberapa saat,
kemudian cairan bagian atasnya dituangkan ke dalam wadah lain. Pekerjaan ini,
dilakukan berulang-ulang sampai semua cairan terpisah dari endapan (Rivai,
1995).
Metode pengendapan adalah metode yang paling penting pada analisa
gravimetri. Bahan yang akan ditetapkan diendapan dari dalam suatu larutan dalam

III-2
bentuk yang begitu sedikit dapat larut, sehingga tidak terjadi kehilangan yang
berarti bila endapan dipisahkan dengan menyaringnya dan ditimbang. Begitulah
pada penetapan perak, suatu larutan zat itu diolah dengan larutan natrium atau
kalium klorida yang berlebihan, endapan disaring, dicuci baik-baik untuk
menghilangkan garam-garam yang larut, dikeringkan pada 130-150 C, dan
ditimbang sebagai perak klorida (Mendham, 1994).
Metode analisis gravimetri adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada
pengukuran berat. Yang melibatkan pembentukan, isolasi dan pengukuran berat
dari suatu endapan. Kinerja dari metode gravimetri cukup lambat, memerlukan
sedikit peralatan yakni neraca dan oven, tidak memerlukan kalibrasi karena hasil
didasarkan pada berat molekul (Widiarto, 2009).
Prosedur gravimetri yang lazim, suatu endapan ditimbang, dan dari nilai ini
analit dalam sampel dihitung. Maka persentase Analit A (Underwood, 1998)
adalah:

Bobot A
A= 100 . . . (3.1)
Bobot Sampel

Untuk menghitung bobot analit dari bobot endapan sering digunakan faktor
gravimetri. Faktor ini didefinisikan sebagai beberapa gram analit dalam 1 gram
(atau ekuivalen lg) endapan. Perkalian bobot endapan, P dengan faktor gravimetri
memberikan banyaknya analit gram sampel adalah :

Bobot A=bobot P Faktor gravimetri . . . (3.2)

Bobot P faktor gravimetri


%A= x 100 . . . (3.3)
Bobot sampel

Faktor gravimetri timbul dengan wajar, jika metode mol digunakan untuk
memecahkan masalah stoikiometri.

III-3
Analisa gravimetri penentuan jumlah zat didasarkan pada penimbangan,
dalam hal ini penimbangan hasil reaksi setelah bahan yang dianalisa direaksikan.
Hasil reaksi ini dapat berupa sisa bahan atau gas yang terjadi, atau suatu endapan
yang dibentuk dari bahan yang dianalisa itu. Berdasarkan macam hasil yang
ditimbang itu dibedakan cara-cara gravimetri, yaitu cara evolusi dan cara
pengendapan. Cara evolusi bahan direaksikan, sehingga timbul suatu gas, caranya
dapat memanaskan bahan tersebut atau mereaksikan dengan suatu pereaksi. Pada
umumnya yang dicari ialah banyaknya gas yang terjadi. Cara mencari jumlah gas
tersebut (Harjadi, 1993) adalah :
1. Tidak langsung, dalam hal ini analitlah yang ditimbang setelah bereaksi, berat
gas diperoleh sebagai selisih berat sebelum dan sesudah reaksi itu.
2. Langsung, gas yang terjadi ditimbang setelah diserap oleh suatu bahan yang
khusus untuk gas yang bersangkutan, sebenarnya yang ditimbang ialah bahan
penyerap itu yaitu sebelum dan sesudah penyerapan sedangkan berat gas
diperoleh sebagai selisih kedua penimbangan.
Cara pengendapan, analit direaksikan sehingga terjadi suatu endapan dan
endapan itulah yang ditimbang. Atas dasar cara membentuk endapan maka
gravimetri dibedakan menjadi dua macam :
1. Endapan dibentuk dengan reaksi analit dengan suatu pereaksi, biasanya berupa
senyawa. Baik kation maupun anion dari analit mungkin diendapkan, bahan
pengendapannya mungkin anorganik bisa juga organik, cara itulah yang
biasanya disebut gravimetri.
2. Endapan dibentuk secara elektrokimia dengan perkataan lain analit
dielektrolisa, sehingga terjadi logam sebagai endapan. Cara ini biasanya
disebut elektrogravimetri. Dengan sendirinya umumnya kation yang
diendapkan.
Postpresipitasi dan kopresipitasi merupakan dua fenomena yang berbeda.
Sebagai contoh, pada postpresipitasi, semakin lama waktunya, maka kontaminasi
bertambah sedangkan pada kopresipitasi kemungkinan bertambahnya kontaminasi
sangat besar pada postpresipitasi dibandingkan kopresipitasi (Khopkar, 1990).

III-4
Suatu metode gravimetri untuk analisis biasanya didasarkan pada suatu reaksi
kimia (Underwood, 1998) seperti :

aA+ rR AaRr . . . (3.4)

a molekul analit A, bereaksi dengan r molekul R, produknya AaRr, Biasanya


berupa zat yang sangat sedikit dapat larut, yang dapat ditimbang dalam keadaan
demikian setelah pengeringan, atau yang dapat dipanggang menjadi senyawa lain
yang susunannya diketahui, kemudian ditimbang. Misalnya, Kalsium dapat
ditetapkan secara gravimetri dengan pengendapan kalsium oksalat dan
pemanggangan oksalat itu menjadi kalsium oksida :

4 CaC 2 O4 (s) . . . (3.5)


2++ C2 O
Ca

CaC 2 O 4 CaO(s )+ CO2 (g) +CO(g ) . . . (3.6)

Pengendapan juga mempunyai aturan umum yang diikuti untuk mencapai


keadaan optimum (Khopkar, 1990) diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Pengendapan harus dilakukan pada larutan encer yang bertujuan untuk
memperkecil kesalahan akibat kopresipitasi (kontaminasi endapan)
b. Pereaksi dicampurkan perlahan-lahan dan teratur dengan pengadukan yang
tetap.
c. Pengendapan dilakukan pada larutan panas, bila endapan yang terbentuk stabil
pada temperatur tinggi.
d. Endapan kristal biasanya dibentuk dalam waktu yang lama dengan
menggunakan pemanas uap.
e. Endapan harus dicuci dengan larutan encer.
f. Untuk menghindari postpresipitasi atau kopresipitasi sebaiknya dilakukan
pengendapan ulang.

III-5
Kesempurnaan kelarutan endapan dibuat sepanas mungkin dengan mengatur
faktor-faktor kelarutan zat (Harjadi, 1993) diantaranya :
a. Sifat endapan itu sendiri, yang dapat dilihat dari Kspnya.
b. Pemberian ion pengendap yang berlebih.
c. Pada umumnya pada suhu tinggi kelarutan endapan lebih besar daripada pada
suhu rendah. Tetapi banyak endapan yang pada suhu tinggi hanya sedikit
berbeda kelarutannya daripada pada temperatur rendah, contohnya BaSo 4, jadi
tidak perlu diendapkan dengan cara air es, malah sebaliknya diendapkankan
dalam larutan mendidih.
d. Ada kalanya kepolaran larutan diubah (dikurangi).
Pengendapan dilakukan pada larutan yang panas, sebab kelarutan bertambah
seiring dengan bertambahnya temperatur. Pengendapan dilakukan dalam larutan
encer yang ditambahkan pereaksi perlahan-lahan dengan pengadukan yang teratur.
Partikel yang terbentuk lebih dahulu berperanan sebagai pusat pengendapan.
Untuk memperoleh pusat pengendapan yang besar suatu reagen ditambahkan agar
kelarutan endapan bertambah besar (Khopkar, 1990).
Analisa gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur
atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan senyawa gravimetri
meliputi transformasi unsur atau radikal senyawa murni stabil yang dapat segera
diubah menjadi bentuk yang padat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dapat
dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat atau unsur-unsur atau senyawa
yang dikandung, dilakukan dengan berbagai cara seperti metode pengendapan,
metode penguapan, metode elektroanalisis, atau berbagai macam cara lainnya.
Pada prakteknya 2 metode pertama adalah yang terpenting, metode gravimetri
memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada konstituen dapat dipuji
dan bila perlu faktor-faktor pengoreksi dapat digunakan (Khopkar, 1990).
Gravimetri dapat digunakan untuk menentukan hampir semua anion dan
kation anorganik serta zat-zat netral seperti air, belerang dioksida, karbondioksida
dan isodium. Selain itu, berbagai jenis senyawa organik pula ditentukan dengan
mudah secara gravimetri. Contoh-contohnya antara lain penentuan kadar laktosa
dalam susu, salisilat dalam sediaan obat, fenolflalein dalam obat pencahar,

III-6
nikotina dalam pestisida, kolesterol dalam biji-bijian dan bemeldehida dalam
buah-buahan tertentu. Jadi sebenarnya, cara gravimetri merupakan salah satu cara
yang paling banyak digunakan dalam pemeriksaan kimia (Rivai, 1995).
Perkalian endapan (p) dengan faktor gravimetri adalah untuk mendapatkan
berat dan analit (Underwood, 1999). Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :

Ar atau Mr yang dicari


Faktor Gravimetri= . . . (3.7)
Mr endapan yang ditimbang

Asam sulfat merupakan asam anorganik dengan rumus H2SO4, zat cair kental
menyerupai minyak, tak berwarna, higroskopis, dalam larutannya (cair) bersifat
asam kuat, dalam keadaan pekat bersifat oksidator dan bersifat dapat mengikat air
(sebagai zat pende hidrasi). Asam sulfat merupakan bahan yang sangat penting,
karena kegunaannya yang luas seperti untuk industri pupuk, rayon, bahan peledak
dan untuk berbagai produk lainnya serta untuk pemurnian minyak bumi di
samping digunakan untuk air aki dengan titik leleh 10 C, titik didih 315-338 C
dan diameter 1,8 (Mulyono, 2005).
Barium klorida, garam anorganik dengan rumus kimia BaCl 2 2H2O. Tidak
berwarna, bersifat racun dan mudah larut dalam air. Digunakan sebagai zat aditif
untuk minyak pelumas dan digunakan dalam ekstraksi barium melalui elektrolisis.
Berbentuk kristal kubus yang larut dalam air dengan titik leleh 960 C dan
diameter 3,1 (Mulyono, 2005).

III-7
3.3 METODOLOGI PERCOBAAN

3.3.1 Alat dan Rangkaian Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas beker (100 mL
dan 500 mL), pipet volume 100 mL, pipet gondok (15 mL dan 25 mL),
erlenmeyer 500 mL, corong, sudip, propipet, labu takar 250 mL, gelas arloji, botol
semprot, pengaduk kaca, oven, pinggan porselin, desikator, magnetic heated
stirrer, neraca analitik, termometer dan alumunium foil.

Rangkaian Alat :
Keterangan :
1. Pipet tetes
2. Pengaduk kaca
3. Gelas beker 500 mL
4. Alumunium foil
5. Magnetic heated stirrer

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Pemanasan dan Pencampuran Larutan

III-8
Keterangan :
1. Gelas beker 500 mL
2. Kertas saring
3. Corong
4. Erlenmeyer 50 mL

Gambar 3.2 Rangkaian Alat Penyaringan Endapan

3.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah BaCl 2 0,2 M,
H2SO4 0,5 M, AgNO3 0,1 M, akuades dan kertas saring.

3.3.3 Prosedur Kerja


Larutan BaCl2 0,2 M diambil sebanyak 25 mL menggunakan pipet gondok
25 mL, lalu dimasukkan ke dalam labu takar 250 mL. Larutan BaCl 2 kemudian
diencerkan dengan akuades sampai tanda tera lalu dikocok hingga homogen.
Setelah itu larutan BaCl2 dimasukkan ke dalam gelas beker 500 mL dan
dipanaskan menggunakan magnetic heated stirrer sampai medidih. H2SO4 0,5 M
sebanyak 15 mL ditambahkan setetes demi setetes ke dalam larutan BaCl 2 sambil
diaduk, lalu dibiarkan hingga dingin dan dibiarkan hingga ada endapan di dasar
gelas beker.
Kertas saring ditimbang terlebih dahulu, kertas saring dicatat beratnya,
kemudian dipasang pada corong, corong diletakkan di atas erlenmeyer dan
penyaringan diulangi sebanyak 9 kali. Larutan AgNO 3 0,1 M kemudian diteteskan
sebanyak 1 tetes ke dalam sisa dari larutan BaCl2, tujuannya untuk mengetahui
apakah endapan yang terbentuk sudah murni atau tidak. Lalu kertas saring beserta
endapan dimasukkan ke dalam pinggan porselin yang sebelumnya sudah

III-9
dipijarkan selama 15 menit pada suhu 60 C dan dimasukkan dalam desikator
selama 5 menit sehingga beratnya konstan. Endapan dipijarkan dalam oven
selama 25 menit pada suhu 95 C. Kemudian endapan dimasukkan ke dalam
desikator selama 10 menit dan massa endapan ditimbang menggunakan neraca
analitik, kemudian dicatat berat endapannya.

3.3.4 Flow Chart


Larutan BaCl2 0,2 M

- Diambil dengan pipet gondok 25 mL


- Diencerkan dalam labu takar 250 mL sampai tanda tera
- Dikocok hingga homogen
- Dimasukkan dalam gelas beker 500 mL
- Dipanaskan dengan magnetic heated stirrer sampai mendidih
Larutan H2SO4 0,5 M

- Ditambahkan H2SO4 0,5 M sebanyak 15 mL setetes demi


setetes sambil diaduk
- Didinginkan dan dibiarkan hingga mengendap
- Diencerkan dalam labu takar 250 mL sampai tanda tera
- Dikocok hingga homogen
Endapan

- Disaring dengan kertas saring


- Diteteskan AgNO3 sebanyak 1 tetes dalam larutan BaCl2
- Dimasukkan kertas saring dalam pinggan porselin yang telah
dipijarkan

III-10

Hasil
- Dipijarkan dalam oven selama 25 menit pada suhu 95 C
- Dimasukkan ke dalam desikator selama 10 menit
- Ditimbang

Gambar 3.3 Skema Prosedur

3.4 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 3.1 Hasil Pengamatan
No. Langkah Percoban Hasil Pengamatan
1. Pengambilan larutan BaCl2 0,2 M V1 = 25 mL
2. Pengenceran BaCl2 dengan akuades V2 = 250 mL, larutan bening
3. Pemanasan dan penambahan H2SO4 0,5 V H2SO4 = 15 mL, larutan
M putih keruh
4. Penimbangan kertas saring m = 1,7 gram
5. Pemijaran dan penimbangan pinggan m = 41,2 gram
porselin
6. Penyaringan endapan 9 kali
7. Pemijaran endapan dalam oven T = 95 C, t = 25 menit
8. Pendinginan endapan dalam desikator t = 10 menit
9. Penimbangan endapan dan kertas saring Mpinggan +kertas saring + endapan = 44,3
+ pinggan porselin gram
Endapan berbentuk kristal
putih
10. Perhitungan massa endapan mendapan = 3,1 1,7 =1,4 gram

III-11
3.4.2 Pembahasan
Analisa gravimetri adalah penentuan zat didasarkan pada penimbangan hasil
reaksi bahan-bahan yang dianalisa dan biasanya berupa endapan. Pada percobaan
ini diharapkan terbentuk endapan BaSO4 dari hasil reaksi bahan antara Ba2+ dan
H2SO4 dengan menggunakan Ba2+ dari barium klorida untuk ditentukan berat
endapannya. Larutan Ba2+ yang diambil, diencerkan agar kesalahan akibat
kopresipitasi dapat diperkecil. Kopresipitasi adalah kontaminasi endapan oleh zat
lain yang larut dalam pelarut. Proses pendidihan harus berlangsung sempurna agar
seluruh partikel pada larutan barium klorida mengalami pemanasan yang
sempurna dan telah mencapai titik didihnya sehingga menghasilkan endapan yang
sempurna.
Barium klorida mengalami pengionan menjadi ion Ba 2+ dan ion Cl- di dalam
air. Selanjutnya, ion-ion itu akan bereaksi dengan penambahan H 2SO4 sedikit demi
sedikit sambil diaduk. Pengadukan dilakukan agar tidak terjadi penumpukan
konsentrasi. Penambahan H2SO4 sedikit demi sedikit dilakukan agar endapan
BaSO4 berukuran besar sehingga mempercepat proses pengendapan dan
penyaringan. Proses pencampuran ini dilakukan pada saat larutan barium klorida
masih dalam keadaan panas karena temperatur sangat berperan dalam proses
pengendapan, semakin tinggi suhu kelarutan zat terlarut dalam pelarut maka akan
semakin besar. Jadi, pencampuran larutan dalam keadaan panas ini mempercepat
proses pengendapan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

BaCl2 + H2SO4 BaSO4 + 2HCl . . . (3.8)

Endapan BaSO4 yang terbentuk berwarna putih dan terletak di dasar gelas
beker. Endapan ini terbentuk di bawah akibat adanya gaya gravitasi. Warna
larutan menjadi putih keruh dikarenakan waktu pengendapan prosesnya belum
sempurna. Hal ini dikarenakan waktu endapan yang kurang lama, sehingga
partikel yang terikat belum semua mengendap. Namun ketika dilakukan
pemeriksaan terhadap pengendapan BaSO4 dengan penambahan H2SO4 lagi pada
larutan hasil penyaringan, tidak lagi terbentuk endapan BaSO4. Hal ini

III-12
menandakan bahwa Ba2+ telah bereaksi dengan H2SO4. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut :

Ba2+ + SO42- BaSO4 . . . (3.9)

Endapan dicuci terlebih dahulu menggunakan H2SO4. Setelah itu, dicuci


menggunakan akuades untuk menghilangkan kontaminasi pada permukaan
endapan maupun yang terbawa pada saat memanaskan. Larutan pencuci harus
mudah menguap agar mudah untuk menimbang endapannya. Misalnya, H2SO4
reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

2Cl- + H2SO4 2HCl + SO42- . . . (3.10)

Penambahan AgNO3 pada filtrat berfungsi untuk memastikan apakah


endapan pada larutan telah mengendap sempurna atau sudah tidak ada lagi Cl -
yang bereaksi. Saat penetesan AgNO3 larutan akan keruh sesaat dan terbentuk
endapan AgCl serta jatuh ke dasar gelas beker akibat pengaruh gaya gravitasi.
Reaksi yang terjadi adalah sebgai berikut :

AgNO3 + HCl AgCl + HNO3 . . . (3.11)

Pemijaran pinggan porselin berfungsi untuk mensterilkan dari zat-zat


pengotor akibat pemakaian sebelumnya, karena zat pengotor dapat menambah
berat pinggan porselin sehingga hasil yang didapat kurang akurat. Massa pinggan
porselin yang didapat adalah 41,2 gram. Pemijaran endapan dilakukan untuk
menguapkan zat-zat pengotor serta mengeringkan endapan. Pendinginan endapan
dilakukan menggunakan desikator agar suhunya menyamai suhu neraca analitik.
Sebelum ditimbang perbedaan suhu yang terlalu besar dapat menyebabkan
kerusakan pada neraca analitik, bahkan dapat terjadi sesuatu yang dapat
menyebabkan penimbangan tidak teliti akibat adanya konversi udara. Pendinginan
harus dilakukan di dalam desikator, karena pendinginan di udara terbuka dapat
menyebabkan terjadinya penyerapan uap air lebih oleh pinggan porselin dan

III-13
endapan yang sangat kering sehingga berpengaruh terhadap berat endapan. Dari
hasil penimbangan diperoleh massa endapan BaSO4 sebesar 1,4 gram dan kadar
Ba2+ memiliki persentasi sebesar 37,13 %. Kadar Ba 2+ yang diperoleh tidak
mencapai 100 % dikarenakan adanya endapan yang tertinggal pada saat
penyaringan, yang disebabkan oleh partikel berukuran besar akan tertinggal pada
penyaringan. Sedangkan partikel yang berukuran kecil akan lolos pada saat
penyaringan.
3.5 PENUTUP

3.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah analisa gravimetri
merupakan proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu
setelah direaksikan dengan zat lain untuk menentukan jumlah dalam sampel.
Massa BaSO4 yang diperoleh sebesar 1,4 gram. Kadar Ba 2+ yang ada dalam
endapan sebesar 37,13 %.

3.5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah dengan menggunakan
metode lain, seperti metode elektrolisis dan sebaiknya setiap kelompok
melakukan percobaan penentuan kadar dengan sampel yang berbeda, misalnya
seperti larutan Fe(OH)3, AgCl dan sebagainya agar didapat hasil yang lebih
variatif.

III-14
LP-15

LAMPIRAN PERHITUNGAN

Diketahui: V1 BaCl2 = 25 mL
M1 BaCl2 = 0,2 M
V2 BaCl2 = 250 mL
m pinggan porselin = 41,2 gram
m kertas saring = 1,7 gram
m endapan = 1,4 gram
BM BaSO4 = 233,34 gram/mol
BM BaCl2 .2H2O = 244,34 gram/mol
BM Ba+ = 135,34 gram/mol

b
Ditanya: % ( b ) kadar Ba2+ dalam sampel (BaCl2) ?

Jawab:
M1 .V1 = M2 . V2
M 1 . V1
V2
M2 =
0,2 M . 25 mL
250 mL
M2 =
M2 = 0,02 M

Massa BaCl2 .2H2O = M2 . V2 BaCl2 . BM BaCl2 .2H2O


= 0,02 M . 250 x 10-3 L. 244,34 gram/mol
= 1,2217 gram

Ba2+
BM mendapan
BM BaSO 4
2+=
Massa Ba
LP-16

gram
135,34
mol
1,4 gram
gram
233,34
mol

0,81 gram

Ba2+
BM
BM BaCl2 . 2 H 2 O
Faktor gravimetri=

gram
135,34
mol

gram
244,34
mol

0,56

2 + x faktor gravimetri
Ba
m 100
m BaCl2 .2 H 2 O
2+ =
kadar Ba

0,81 gram x 0,56


100
1,2217 gram

37,13
ABSTRAK

Tanaman kedelai (alycine max (L) merrill) merupakan salah satu tanaman palawija
yang digolongkan kedalam famili leguminoceae, sub famili papilionoideae. Lebih dari
50% produk pangan dibuat dari minyak kedelai mengandung kurang lebih 82% asam
lemak tak jenuh. Minyak mempunyai peran penting dalam rumah tangga maupun
industri. Pada kehidupan rumah tangga minyak dijadikan bahan untuk menggoreng,
sedangkan pada industri miyak digunakan sebagai campuran pada bahan pangan atau
semacamnya. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menganalisa kandungan minyak
atau lemak dalam biji-biji hasil pertanian.
Metode yang digunakan pada percobaan ini untuk mendapatkan minyak dari bahan
kacang kedelai digunakan proses ekstrasi soxhlet dan distilasi. Ekstraksi dilakukan untuk
memperoleh minyak dari kedelai dengan pelarut. Sedangkan distilasi dilakukan untuk
memisahkan minyak dengan pelarut. Pelarut yang digunakan adalan n-heksana karena
memiliki titik didih yang rendah daripada minyak yaitu 68C sehingga dapat
mempercepat proses penguapan dan sirkulasi. Selain itu pelarut ini juga tidak melarutkan
air dan zat-zat hidrotilik lainnya.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, diketahui bahwa kacang kedelai dapat
menghasilkan minyak dengan menggunakan metode ektraksi dan distilasi. Dari hasil
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan 20 gram kacang kedelai, didapatkan
minyak sebanyak 13,9 gram dengan persen berat (%bb) minyak sebesar 69,5% serta
persen recovery pelarutnya adalah sebesar 67%.

Kata Kunci : Minyak, asam lemak, distilasi, ekstraksi, kacang kedelai, n-heksana,
recovery

PERCOBAAN IV
ANALISA MINYAK DALAM BAHAN INDUSTRI

4.1 PENDAHULUAN

4.1.1 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah menganalisa kandungan minyak atau
lemak dalam biji-biji hasil pertanian.

4.1.2 Latar Belakang


Minyak dan lemak merupakan hal yang kita kenal dan sering dijumpai.
Minyak mempunyai peran penting dalam rumah tangga maupun industri. Pada
kehidupan rumah tangga minyak dijadikan bahan untuk menggoreng, sedangkan

IV-2
pada industri miyak digunakan sebagai campuran pada bahan pangan atau
semacamnya.
Bahan utama dalam percobaan ini adalah biji kacang kedelai untuk
mendapatkan minyak. Lebih dari 50% produk pangan dibuat dari minyak kedelai
mengandung kurang lebih 82% asam lemak tak jenuh (Sastrohamidjojo, 1986).
Untuk mendapatkan minyak dari bahan (kacang kedelai) maka digunakan proses
ekstrasi dan distilasi. Ekstraksi dilakukan untuk memperoleh minyak dari kedelai
dengan pelarut. Sedangkan distilasi dilakukan untuk memisahkan minyak dengan
pelarut.
Minyak dan lemak banyak digunakan dalam kimia maupun industri kimia
maupun maupun industri bahan pangan seperti minyak goreng, mentega dan lain-
lain. Analisa juga digunakan untuk mengetahui kandungan minyak atau lemak
pada suatu bahan. Selain itu analisa sangat membantu dalam merancang
pengolahan bahan dalam industri kimia.

4.2 DASAR TEORI

Lipid merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicirikan oleh sifat
kelarutannya. Terutama, lipid tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut
organik non polar seperti eter. Struktur kimia lipid sangat beragam, sekalipun sifat
kelarutannya mirip. Beberapa diantaranya berupa eter, lainnya berupa hidrokarbon
sebagai arsiklik dan lainnya sedikit, bahkan polisiklik. Lemak dan minyak
merupakan hal yang kita kenal setiap hari. Lemak yang lazim memLiputi lemak
mentega, lemak hewan dan bagian lemak dari daging. Lemak berwujud padat dan
minyak berwujud cair, keduanya memiliki struktur dasar organik yang sama.
Lemak dan minyak ialah triester dari gliserol dan disebut sebagai trigliserida. Bila
mendidihkan lemak atau minyak dengan dengan alkali, lalu mengasamkan larutan
yang dihasilkan adalah (Hart, 2003):

IV-2
... (4.1)

Umumnya, lemak atau minyak atau lemak tertentu bukanlah trigliserida


tunggal melainkan campuran rumit dari trigliserida. Dengan alasan inilah
komposisi lemak atau minyak biasanya dinyatakan dengan persentase berbagai
asam.
Lemak dan minyak umumnya merupakan trigliserida yang tidak homogen
dengan beberapa pengecualian. Oleh sebab itu kebanyakan trigliserida
mengandung dua atau tiga asam lemak yang berbeda misalnya satu asam palmitat,
satu asam stearat dan satu asam oleat sebagai esternya. Golongan asam lemak
yang ada dalam trigliserida tergantung pada jenis spesies dan dan kondisi lainnya,
misalnya makanan yang dimakan dan temperatur yang mempengaruhi
kehidupannya.

Tabel 4.1 Beberapa Asam Lemak


JumLa
Titik
Nama h Formula
leleh
karbon
Jenuh
Laurat 12 CH3(CH2)10CO2H 44
Myristat 14 CH3(CH2)12CO2H 58
Palmitat 16 CH3(CH2)14CO2H 63
Stearat 18 CH3(CH2)16CO2H 70
Arachidonat 20 CH3(CH2)18CO2H 75
Tidak jenuh
Palmiteleat 16 CH3(CH2)5CH = CH(CH2)7CO2H 32

IV-3
Oleat 18 CH3(CH2)7CH = CH(CH2)7CO2H 7
Linoleat 18 CH3(CH2)4CH = CHCH2CH -5
Linolenat 18 CH2CH2CH = CH3(CH2)7CO2H -11
Arachidonat 20 CH3(CH2)4(CH = CHCH2)2CH2CH2CO2H -50

Tabel diatas memperlihatkan daftar asam lemak yang pada umumnya


ditemukan dalam bentuk ester dengan gliserol dalam lemak dan minyak. Efek
tidak jenuh pada titik leleh minyak nabati pada umumnya dalam bentuk cair dan
lemak hewani dalam bentuk padat, sebab minyak nabati biasanya mengandung
banyak ikatan rangkap karbon-karbon dalam rantai hidrokarbon lemaknya. Oleh
sebab itu minyak nabati sering dalam bentuk trigliserida yang banyak iakatan
tidak jenuhnya (Fessenden, 1997).
Lemak dan minyak memiliki sifat-sifat seperti (Sultary, 1985):
1. Sifat-sifat fisik lemak
a. Titik cair
Sifat fisik lemak atau minyak yang penting adalah titik cairannya yang
sangat erat hubungannya dengan tujuan penggunaan lemak itu. Sifat minyak
nabati hewan selain tergantung pada iklim juga dipengaruhi oleh keadaan
gizi ternak, musim serta lemak hewan yang dikandungnya yaitu panjang
rantai karbonnya, jumLah ikatan tidak jenuh dan konfigurasinya apakah
terdapat dalam bentuk cis atau trans.
b. Titik kelunakan
Tidak semua lemak dapat diukur pada titik ini, tetapi umumnya titik
kelunakan diukur pada saat minyak mulai menentes.
c. Titik asap (smoke point), titik nayala (flash point) dan titik bakar (fire point)
Titik asap ialah suhu dimana lemak mulai berasap tipis kebiruan pada waktu
lemak dipanaskan. Jika pemanasan dilanjutkan, akan tetapi suatu keadaan
dimana minyak mulai memperlihatkan nyala dengan adanya udara. Suhu
dimana nyala ini disebut titik nyala (flash point). Selanjutnya lemak terbakar
secara tetap pada titik bakarnya (fire point).
d. Titik kekeruhan

IV-4
Jika minyak dipanaskan ditambahkan pelarut sampai terlarut sempurna, lalu
didinginkan, maka pada saat dimana campuran mulai terpisah disebut
kekeruhan. Suhu dimana terjadi kekeruhan disebut titik kekeruhan.
e. Panas jenis
Panas jenis minyak dan lemak biasanya diukur pada suhu 25C. Panas jenis
naik dengan bertambahnya ikatan tidak jenuh baik dalam bentuk lemak.
f. Kekentalan
Kekentalan minyak naik dengan bertambahnya panjang rantai karbon asam
lemak dan turun dengan bertambahnya ikatan jenuh.
2. Sifat kimiawi lemak
Sifat kimiawi lemak dibutuhkan untuk menguji mutu lemak atau minyak serta
mengetahui ada tidaknya pemalsuan.
a. Bilangan penyabunan
b. Bilangan Reichert Mersei
c. Bilangan Polenske
d. Bilangan Itehre
e. Bilangan Iod

Tabel 4.2 Komposisi Asam Lemak Beberapa Lemak dan Minyak


Jenis lemak atau Komposisi
minyak Palmitat Stearat Oleat Linoleat
Lemak hewani
Lard 30 - 45 5
Mentega 25 8 35 5
Lemak Manusia 25 8 46 10
Minyak nabati
Kelapa 8 2 6 1
Jagung 10 5 45 38
Kedelai 10 - 25 55
Olive 5 5 80 7

Tabel diatas memperlihatkan komposisi asam lemak beberapa lemak dan


minyaknya (Fessenden, 1997). Tanaman kedelai (alycine max (L) merrill)

IV-5
merupakan salah satu tanaman palawija yang digolongkan kedalam famili
leguminoceae, sub famili papilionoideae. Tanaman ini berasal dari kedelai liar
China, Manchuria dan Korea. Kedelai merupakan salah satu komoditi pangan
yang semakin penting, bukan hanya menghasilkan sumber pangan yang langsung
dapat dikonsumsi, juga sebagai pakan ternak dan bahan baku industri (Suprapto,
1997).
Kadar protein di dalam kedelai berhubungan dengan kadar non proteinnya.
Jika kadar protein naik maka kadar lemak menurun sebesar 0,33%, gula 0,33%
dan sisanya holoselulosa dan protein. Kandungan minyak dan komposisi asam
lemak dalam kedelai dipengaruhi oleh varietas dan tempat tumbuh berdasarkan
iklim. Lemak kasar terdiri dari trigliserida sebesar 90 95%. Sedangkan sisanya
ialah fosfatuda, asam lemak bebas, sterol dan tokoferol.

Tabel 4.3 Standar Mutu Minyak Kedelai


Sifat Nilai
Bilangan asam Maksimum 3
Bilangan penyabunan Minimum 190
Bilangan yang tidak tersabunkan Maksimum 1,2
Bilangan Iod 129 143
Bahan yang menguap (%) Maksimum 0,2
Indeks bias (20C) 1,473 1,477
Bobot jenis (15,5/15,5C) 0,924 0,928

Tabel diatas menunjukkan data standar suatu minyak kedelai. Kegunaan


minyak kedelai yang sudah dimurnikan dapat digunakan untuk pembuatan minyak
salad, minyak goreng (cooking oil) serta segala keperluan pangan. Lebih dari 50%
produk pangan dibuat dari minyak kedelai, terutama margarin dan shortening.
Hampir 90% dari produksi minyak kedelai digunakan dalam bidang pangan dalam

IV-6
bentuk telah dihidrogenasi, karena minyak kedelai mengandung kurang lebih 85%
asam lemak tak jenuh. Minyak kedelai juga digunakan pada pabrik lilin, sabun,
varnish, lacquers, cat, semir, insektisida dan desinfektan (Sastrohamidjojo, 1986).
Heksana adalah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14.
Awalan heks- merujuk pada enam atom karbon yang terdapat pada heksana dan
akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang dapat
menghubungkan atom-atom karbon tersebut. n- heksana merupakan jenis pelarut
organik. Fungsi dari n- heksana adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk
melarutkan lemak, sehingga depat merubah warna dari kuning menjadi jernih
(Eviawas, 2011).
Soxhlet merupakan ekstraksi padat-cair digunakan untuk memisahkan analit
yang terdapat pada padatan menggunakan pelarut organik. Padatan yang akan
diekstrak dilembutkan terlebih dahulu dengan cara ditumbuk atau juga dipotong-
potong. Kemudian padatan yang telah halus dibungkus dengan kertas saring.
Padatan yang dibungkus kertas saring dimasukkan kedalam alat ekstraksi soxhlet.
Pelarut organik dimasukkan kedalam labu alas bulat, kemudian alat ekstraksi
dirangkai dengan kondensor. Ekstraksi dilakukan dengan memanaskan pelarut
organik sampai semua analit terekstrak (Andri, 2014).
Ekstraksi adalah suatu pemisahan kandungan senyawa kimia dari jaringan
tumbuhan atau hewan dengan menggunakan pelarut tertentu atau dapat juga
diartikan sebagai suatu proses pemisahan suatu zat dari suatu padatan atau cairan
dengan bantuan pelarut. Pemisahan yang terjadi atas dasar kemampuan larutan
yang berbeda dari komponen-komponen tersebut. Ekstraksi biasa digunakan
untuk memisahkan dua zat berdasarkan perbedaan kelarutan. Ekstraksi juga
merupakan suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang
diduga mengandung minyak atau lemak (Ketaren, 1986).
Distilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan titik didih
atau titik cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam
proses distilasi terdapat dua tahap proses yaitu tahap pengembunan dan tahap
penguapan. Proses distilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang
memiliki titk didih lebih rendah akan menguap. Uap yang menguap menuju

IV-7
kondensor yaitu proses pendinginan. Proses pendinginan terjadi karena pipa
mengalirkan air kedalam dinding (bagian luar kondensor), sehingga uap-uap yang
dihasilkan akan kembali menjadi air. Proses ini bejalan terus menerus dan
akhirnya dapat memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam campuran
homogen tersebut (Zulfikar, 2010).
Prinsip kerja kondensor zat dipanaskan kemudian uap panas naik lalu
dialirkan air dingin melalui selang sehingga uap panas tidak terlepas ke udara
tetapi kembali mengembun dan jatuh lagi kebawah. Pada prinsip kerja kondensor,
terdapat dua jenis panas yang bekerja. Kedua panas ini antara lain adalah panas
sensible dan panas laten. Panas sensible adalah panas yang mengubah fase, tetapi
suhunya tidak berubah (Hartaty, 2010).
Kolom vigreoux adalah jenis kondensor udara dimana blower kaca telah
diubah tabung sederhana untuk menyertakan kelimpahan lakukan menunjuk ke
bawah. Sehingga secara dramatis meningkatkan luas permukaan persatuan
panjang dari kondensor. Fungsi kolom vigreoux pada distilasi fraksionasi adalah
sebagai penyambung atau penghubung yang merupakan tempat terjadinya
pengembunan dan penguapan secara bertingkat, atau sebagai tempat yang dilalui
oleh uap dan kondensat untuk menjadi distilat. Kolom vigreoux juga dapat
mengatur keseimbangan suhu (Firman, 2005).

Faktor yang mempengaruhi proses distilasi adalah (Triana, 2012):


1. Bahan baku yang digunakan dan alat distilasi itu sendiri. Bahan yang
digunakan sangat berpengaruh dalam proses distilasi, karena bahan tersebut
haruslah bahan-bahan tertentu yang memiliki aroma atau bau dan mengandung
minyak.
2. Bobot produk awal. volume air untuk melarutkan zat yang terkandung pada
bahan dan lama distilasi.
3. Alat distilasi. Apabila alat distilasi itu sederhana (terutama pada kondensornya)
maka memerlukan waktu yang lama untuk proses distilasi, sedangkan alat
untuk distilasi yang modern (terutama pada kondensornya) memerlukan waktu
yang lebih cepat.

IV-8
Tujuan proses distilasi adalah (Ketaren, 1986):
1. Untuk memperoleh minyak atau lemak tanpa dirusak oleh proses itu dan dalam
keadaan semurni mungkin.
2. Untuk memperoleh hasil minyak atau lemak setinggi mungkin.
3. Untuk menghasilkas sisa (residu) yang dinilai setinggi mungkin.

4.3 METODOLOGI PERCOBAAN

4.3.1 Alat dan Rangkaian Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah 1 set soxhlet,
termometer, desikator, labu leher tiga 500 mL, labu didih 250 mL, labu ukur 100
mL, pinggan porselin pipet tetes, gelas arloji, pengaduk, sudip, magnetic heated
stirrer, neraca analitik, oven, stopwatch, kolom vigreoux, statif dan klem, mortar
dan alu, sumbat karet dan kondensor lurus.

Rangkaian Alat:
Keterangan:
1. Labu leher tiga
2. Magnetic heated stirrer
3. Soxhlet
4. Kondensor gelembung
5. Termometer

IV-9
6. Pengatur skala panas
7. Statif dan klem
8. Tempat bahan
Air masuk atau air keluar
Gambar 4.1 Rangkaian alat ekstraksi soxhlet

Keterangan:
1. Labu leher tiga
2. Magnetic heated stirrer
3. Termometer
4. Kondensor lurus
5. Labu didih
6. Pengatur skala panas
7. Statif dan klem
8. Kolom vigreoux
Air masuk atau air keluar
Gambar 4.2 Rangkaian Alat distilasi

4.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kacang kedelai
sebanyak 20 gram, pelarut organik (n-heksana) sebanyak 200 mL dan kertas
saring

4.3.3 Prosedur Kerja


Langkah pertama merangkai alat soxhlet seperti gambar 4.1. Kacang kedelai
yang sudah dihaluskan, ditimbang sebanyak 200 gram menggunakan neraca
analitik. Kemudian kacang kedelai yang sudah ditimbang dibungkus dengan
kertas saring dan diikat dengan benang, lalu dimasukkan dalam soxhlet. n-heksana
sebanyak 200 mL dimasukkan kedalam labu leher tiga. Kondensor dialiri dengan
air dingin dan dipanaskan dengan magnetic heated stirrer. Pelarut minyak pada
soxhlet diamati dan dihitung sirkulasinya. Proses ekstraksi dihentikan setelah 18
kali sirkulasi.

IV-10
Langkah kedua rangkai alat distilasi seperti gambar 4.2. Kemudian
campurkan minyak dengan n-heksana dipisahkan dengan cara distilasi. Cairan
hasil proses pengamatan ditampung di dalam labu didih sampai pelarut tidak ada
lagi di dalam labu leher tiga. Setelah minyak terpisah dengan pelarut n-heksana,
minyak dimasukkan kedalam pinggan porselin yang sudah ditimbang dan
dipijarkan dengan oven sampai beratnya konstan. Sedangkan volume pelarut yang
sudah dipisahkan diukur. Minyak yang dihasilkan dan pinggan dipijarkan
menggunakan oven kemudian didesikator. Tahap terakhir minyak ditimbang
dengan neraca analitik dan dipijarkan di dalam oven hingga berat konstan.

Kacang Kedelai

n-heksana

4.3.4 Flow Chart

- Dihaluskan dan ditimbang 20 gram


- Dibungkus dengan kertas saring
- Dimasukkan kedalam soxhlet

Minyak + n-heksana
- Dimasukkan 200 mL kedalam labu leher tiga
- Dialiri dengan air dingin
- Rangkaian alat ekstraksi dipanaskan dengan magnetic heated
sterrer
Minyak
- Diamati alirannya pada soxhlet
- Dilakukan sampai 18 sirkulasi

Pelarut
IV-11

Hasil
- Dipisahkan dengan cara distilasi
- Diembunkan menjadi cairan
- Ditampung dalam labu didih

- Dimasukkan kedalam pinggan porselin


- Ditimbang menggunakan neraca analitik
- Dipanaskan menggunakan oven

- Diukur volumenya yang telah dipisahkan dengan minyak

4.4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 4.1 Hasil pengamatan analisa minyak
No. Keterangan Hasil Percobaan
1. Massa kacang kedelai Massa = 200 gram
2. Volume pelarut n-heksana Volume = 200 mL
3. Suhu dan waktu sirkulasi
Sirkulasi 1 T = 64C t = 23 menit 42 detik
Sirkulasi 2 T = 61C t = 09 menit 21 detik
Sirkulasi 3 T = 59C t = 20 menit 47 detik
Sirkulasi 4 T = 62C t = 07 menit 45 detik
Sirkulasi 5 T = 59C t = 19 menit 45 detik
Sirkulasi 6 T = 58C t = 24 menit 31 detik
Sirkulasi 7 T = 61C t = 10 menit 27 detik

IV-12
Sirkulasi 8 T = 62C t = 20 menit 37 detik
Sirkulasi 9 T = 58C t = 22 menit 04 detik
Sirkulasi 10 T = 61C t = 16 menit 31 detik
Sirkulasi 11 T = 59C t = 25 menit 55 detik
Sirkulasi 12 T = 60C t = 33 menit 21 detik
Sirkulasi 13 T = 59C t = 37 menit 49 detik
Sirkulasi 14 T = 59C t = 25 menit 15 detik
Sirkulasi 15 T = 60C t = 25 menit 55 detik
Sirkulasi 16 T = 61C t = 32 menit 10 detik
Sirkulasi 17 T = 60C t = 12 menit 54 detik
Sirkulasi 18 T = 60C t = 13 menit 32 detik
4. Total waktu t = 382 menit 21 detik
5. Massa pinggan porselin Massa = 32,0 gram
6. Massa pinggan porselin dan minyak Massa = 45,9 gram
7. Massa minyak Massa = 13,9 gram
8. Volume sisa pelarut Volume = 134 mL
4.4.2 Pembahasan
Percobaan analisa minyak atau lemak ini menggunakan kacang kedelai dan
pelarut yang digunakan adalan n-heksana. n-heksana dipilih karena memiliki titik
didih yang rendah daripada minyak yaitu 68C sehingga dapat mempercepat
proses penguapan dan sirkulasi (Sciencelah.com, 2013). Selain itu pelarut ini juga
tidak melarutkan air dan zat-zat hidrotilik lainnya. Namun pada saat percobaan
titik didih n-heksana yang terjadi adalah sekitar 58C 64C. Hal ini disebabkam
karena faktor dari ruang tertutup (terisolasi) di dalam labu leher tiga, sehingga
suhuyang dihasilkan tidak maksimal dan tidak sesuai dengan literatur. Pemilihan
n-heksana sebagai pelarut pada percobaan ini karena n-heksana memiliki titik
didih yang rendah daripada minyak sehingga dapat mempercepat proses
penguapan dan sirkulasi.
Sirkulasi pertama pada percobaan ini, waktu yang diperlukan lebih lama
dari sirkulasi lainnya, sebab n-heksana harus membasahi permukaan kertas saring
lebih dahulu dan perlahan melarutkan bahan dalam minyak. Air juga

IV-13
memperlambat proses sirkulasinya karena air bersifat polar, sehingga
menghambat pelarut yang merupakan senyawa non-polar untuk dapat melarutkan
minyak. Untuk sirkulasi selanjutnya, lebih cepat karena suhu pada rangkaian alat
sudah konstan.
Sirkulasi pada percobaan ini dilakukan sebanyak 18 kali agar menghasilkan
minyak yang banyak. Semakin banyak sirkulasi yang dilakukan, maka jumlah
minyak yang didapat semakin banyak. Hal ini karena yang naik ke soxhlet akan
melarutkan minyak yang terkandung dalam bahan. Untuk itu, ukuran partikel juga
mempengaruhi dalam proses ekstraksi. Semakin kecil ukuran partikel, maka
kontak antara permukaan bahan dengan pelarut akan semakin luas, sehingga
proses ekstraksi lebih optimal. Banyaknya sikulasi juga menjadikan pelarut n-
heksana yang semula bening menjadi kuning. Hal ini menandakan adanya
kandungan minyak yang terlarut dalam n-heksana. Setelah proses ekstraksi
selesai, proses dilanjutkan dengan memisahkan pelarut dan minyak dengan cara
distilasi. Pada saat proses distilasi, pelarut n-heksana akan menguap, sedangkan
minyak tidak menguap. Ini disebabkan karena titik didih minyak lebih tinggi
daripada pelarut n-heksana.
Percoban analisa minyak atau lemak pada bahan kacang kedelai ini, setelah
melalui proses ekstraksi dan distilasi didapatkan sisa pelarut n-heksana sebanyak
134 mL dari jumlah pelarut awal 200 mL. Sehingga persen recovery yang
diperoleh sebesar 67%. Pengurangan pelarut tersebut disebabkan karena sebagian
pelarut menguap di udara dan sebagian lagi tertinggal pada kertas saring yang
digunakan untuk membungkus bahan. Sedangkan kadar minyak yang dihasilkan
pada percobaan ini sebesar 69,5%. Bedasarkan literatur, kadar minyak atau lemak
dalam kacang kedelai mengadung kurang lebih 85% yang terdiri dari asam lemak
tak jenuh (Sastrohamidjojo, 1986). Perbedaan hasil percobaan dengan literatur
disebabkan oleh larutnya partikel kacang kedelai dan mengendap pada minyak
hasil ekstraksi tersebut. Selain itu terdapat faktor lain yang mempengaruhi
efisiensi ekstraksi minyak antara lain jenis biji, kadar air, tingkat kemasakan biji,
suhu dan kepekatan minyak (Buckle, 2009).

IV-14
4.5 PENUTUP

4.5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan percobaan analisa minyak terhadap kacang kedelai, maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Kacang kedelai dapat menghasilkan minyak yang dapat dianalisa dengan
menggunakan metode ekstraksi dan distilasi.
2. Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan menggunakan 20 gram kacang

b
kedelai, didapatkan minyak sebanyak 13,9 gram dengan persen berat ( b

minyak sebesar 69,5%.


3. Persen recovery pelarutnya adalah sebesar 67%.

4.5.2 Saran

IV-15
Saran yang dapat diberikan untuk percobaan ini adalah untuk bahan atau
pelarut diharapkan untuk lebih variatif, misalnya untuk pelarut yaitu kloroform,
karbon disulfida, heptana dan senyawa non-polar lainnya. Agar minyak yang
dihasilkan dari proses percobaan lebih banyak, maka sebaiknya untuk jumlah
proses sirkulasi ditambah, karena semakin banyak sirkulasi yang dilakukan
jumlah minyak yang didapat juga akan semakin banyak.

IV-16
LP-17

LAMPIRAN PERHITUNGAN

Diketahui:
Massa minyak =13,9 gram
Massa kacang kedelai = 20 gram
Volume pelarut awal = 200 mL
Volume pelarut akhir = 134 mL

Ditanya:
b
a) % ( b ) minyak

b) Recovery pelarut

Jawab:
b massa minyak
a ( ) minyak= 100
b massa kacang kedelai

13,9 gram
100
20 gram

69,5

V pelarut akhir
b recovery pelarut= 100
V pelarut awal

134 mL
100
200mL

67
ABSTRAK

Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya suatu
gesekan dalam fluida. Satuan Standard Internasional (SI) untuk viskositas adalah Ns/m 2 atau
pascal sekon (Pa.s). Percobaan ini bertujujuan untuk mengetahui cairan newton dan cairan non
newton, membedakan cairan newton dan cairan non newton, menggunakan alat-alat penentuan
viskositas cairan serta menentukan viskositas cairan newton dan cairan non newton.
Viskositas dapat diukur dengan menggunakan laju aliran cairan yang melalui viskometer.
Percobaan ini menggunakan metode bola jatuh. Bola baja dijatuhkan ke dalam tabung kaca yang
diukur kecepatannya dalam menempuh jarak yang sudah ditentukan. Kecepatan yang diperoeh
selanjutya akan digunakan untuk menentukan koefisien viskositas. Bahan yang digunakan yakni
air, minyak goreng dan oli.
Viskositas yang dapatkan yaitu pada air yakni 2,235 poise pada bola kecil, 4,134 poise pada
bola sedang , 6,632 poise pada bola besar. Pada minyak yakni 2,642 poise pada bola kecil 5,202
poise pada bola sedang, 8,914 poise pada bola besar. Pada oli yakni 3,571 poise pada bola kecil,
6,757 poise pada bola sedang dan 12,180 poise pada bola besar.

Kata kunci : cairan newton, cairan non newton, koefisien viskositas, metode bola jatuh,
viskositas.

PERCOBAAN V
VISKOSITAS CAIRAN

5.1 PENDAHULUAN

5.1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah
1 Menerangkan arti viskositas cairan Newton dan cairan non-Newton
2 Membedakan cairan Newton dan cairan non-Newton
3 Menggunakan alat-alat penentuan viskositas cairan
4 Menentukan viskositas cairan Newton dan cairan non-Newton

5.1.2 Latar Belakang


Viskositas atau kekentalan dari suatu cairan adalah salah satu sifat cairan
yang menentukan besarnya perlawanan terhadap gaya geser. Viskositas terjadi
terutama karena adanya interaksi antara molekul-molekul cairan. Pada dasarnya
viskositas tidak hanya pada fluida saja. Namun juga terdapat pada fase gas dalam
suatu keadaan.

V-2
Percobaan viskositas ini menggunakan metode bola jatuh. Metode bola
jatuh yaitu masing-masing bola dijatuhkan kedalam cairan yang ingin diukur
viskositasnya. Fluida yang digunakan pada percobaan ini yaitu air, minyak
goreng, dan oli. Lalu mengukur kecepatan bola jatuh dari batas awal (permukaan
awal) sampai batas akhir yang ditentukan. Selanjutnya menghitung viskositas.
Viskositas mempunyai peran penting dalam industri. Terutama pada industri
yang banyak menggunakan cairan. Industri-industri yang menentukan prinsip
viskositas diantaranya industri pasta gigi dan shampoo.

V-2
V-3

5.2 DASAR TEORI

Viskositas merupakan ukuran gesekan fluida internal yang cenderung


berlawanan dengan setiap perubahan dinamik dalam gerak fluida. Dengan kata
lain jika fraksi atau gesekan antara lapisan-lapisan fluida kecil (viskositas rendah).
Pemberian suatu gaya gesek akan menghasilkan gradien kecepatan besar. Begitu
viskositas bertambah, tiap lapisan fluida mengimbanginya dengan hambatan gesek
(frictional frag) terhadap lapisan-lapisan yang bersebelahan sehingga gradien
kecepatan berkurang (Reid,1991).
Viskositas (viscosity) adalah ukuran hambatan suatu fluida untuk mengalir.
Makin besar viskositas, makin lambat aliran cairan. Viskositas cairan biasanya
turun dengan meningkatkan suhu. Jadi sirup gula panas mengalir lebih cepat dari
pada sirup gula dingin. Cairan yang memiliki gaya antar molekul yang kuat
memiliki viskositas yang lebih besar dibanding cairan yang memiliki gaya antar
molekul lemah. Air memiliki viskositas lebih besar dibandingkan kebanyakan
cairan karena kemampuannya untuk membentuk ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen
memiliki gaya antar molekul yang kuat (Chang,2003.
Fluida mengalir secara lunak lewat sebuah pipa panjang horizontal
berpenampang konstan yang sempit. Tekanan sepanjang pipa akan konstan.
Namun, dalam praktek ternyata turunnya tekanan bila kita bergerak sepanjang
arah aliran. Melihat hal ini dengan cara lain, suatu perbedaan tekanan dibutuhkan
untuk mendorong fluida lewat pipa horizontal. Perbedaan ini diperlukan karena
gaya gesekan diperlukan oleh tiap lapisan pada lapisan fluida tegangannya yang
bergerak dengan kecepatan berbeda. Gaya-gaya gesekan ini dinamakan gaya
visko. Akibat gaya-gaya visko ini, kecepatan fluida tidak konstan disepanjang
diameter pipa. Alih-alih kecepatan ini paling besar didekat pusat pipa dan paling
kecil didekat tepinya, dimana fluida bersinggungan dengan dinding pipa.
Misalkan P1 adalah tekanan di titik 1 dan P 2 adalah tekanan di titik 2, pada jarak L

kelilir dari titik 1. Penurunan tekanan P = P1 + P2 sebanding dengan laju

aliran volume (Tipler,1998).


V-4

P=P 1+ P2=Iv R
. . . (5.1)

Keterangan :
P = Penurunan tekanan

P = Tekanan
Iv = Laju aliran volume
R = Konstanta kesebandingan resistensi terhadap aliran

Koefisien viskositas secara umum diukur dengan dua metode. Metode yang
pertama menggunakan viscometer Oswald. Merupakan waktu yang dibutuhkan
untuk mengalirkan sejumlah tertentu cairan dicatat (Dogra,1990).

( P ) RT
= . . . (5.2)
8v L

Keterangan :
= Koefisien viskositas
P = Perubahan tekanan

R = Tetapan kesebandingan resistensi


v = Kecepatan
t = waktu
L = panjang

Metode yang kedua adalah metode bola jatuh, menyangkut gaya gravitasi
yang seimbang dengan gerakan aliran pekat, dan hubungan sebagai berikut :

2
2 r g (dbd)
= . . . (5.3)
9v

Keterangan :
= Koefisien viskositas
V-5

r = Jari-jari
d = Massa jenis
g = Gravitasi
v = Kecepatan aliran
Viskositas merupakan gesakan dalam fluida. Besarnya viskositas menyatakan
kekentalan fluida. Fluida yang mengalir dalam suatu tabung memiliki kecepatan
terkecil (=0) dimiliki oleh lapisan yang bersentuhan dengan dinding sedangkan
kecepatan terbesar terdapat dilapisan tengah. Ketika lapisan-lapisan ini bergerak,
mereka bergerak satu sama lain. Gesekan antara inilah yang dinamakan viskositas
(Surya,2009).
Sederhananya, bila suatu gas mengalami tegangan geser sehingga terjadi
suatu gerakan bulk (bulk motion), molekul-molekul pada setiap titik mempunyai
vektor kecepatan bulk disamping vektor kecepatan acaknya sendiri. Tumbukan-
tumbukan molekuler menyebabkan tercampur aduknya momentum diseluruh
fluida, sehingga kecepatan (atau momentum) gerak bulk ini terdistribusi.
Pertukaran momentum molekul yang acak inilah yang merupakan penyebab
utama viskositas gan (Reid,1991).
Viskositas cairan sangat dipengaruhi oleh temperature. Jika temperature naik,
viskositas gas dan viskositas cairan berkurang. Beberapa harga viskositas (Sears,
1984).

Tabel 5.1 Beberapa Harga Viskositas


Temperature Viskositas minyak Viskositas air Viskositas oli
((C) (poise) (sentipoise) (sentipoise)
0 53 1,792 171
20 9,86 1,005 181
40 2,31 0,656 190
60 0,80 0,469 200
80 0,30 0,357 209
100 0,17 0,284 218
V-6

Apabila fluida sempurna yang viskositasnya nol mengalir melewati sebuah


bola, atau apabila sebuah bola bergerak dalam suatu fluida yang diam, garis-garis
arusnya akan membentuk suatu pola yang simetris sempurna disekeliling bola itu.
Tekanan terhadap titik lawan titik tersebut pada permukaan bola yang
menghadap kearah hilir aliran dengan gaya resultan terhadap bola itu nol
(Sears,1984).
Mekanisme atau teori viskositas gas sudah dijelaskan secara memuaskan
melalui penerapan teori kinetic gas, tetapi teori viskositas zat cair masih belum
dikembangkan dengan baik. Karena viskositas didefinisikan sebagai tegangan
persatuan luas dibagi dengan gradient kecepatan, maka dimensinya adalah (gaya)
(waktu)/panjang2 atau massa/(panjang)(waktu). Kedua dimensi diatas boleh
digunakan, meskipun pada kebanyakan pekerjaan ilmiah viskositas diekspresikan
dalam poise, sentipoise, mikropoise, dan sebagainya. Satu poise (P) dinyatakan
sebagai viskositas 1 dyne s/cm2 atau 1 g.massa/scm dan 1,0 cP = 0,01P. Dengan
viskositas dalam poise dan kecepatan dalam gram persentimeter pangkat tiga
satuan viskositas kinematik adalah stoke (Reid,1991).
Apabila tegangan geser diberikan kesuatu bagian pada suatu fluida yang
terkurung, fluida itu akan bergerak dan gradient kecepatan yang terbentuk akan
bergerak dan gradient kecepatan yang terbentuk akan menggambarkan kecepatan
maksimum pada titik tempat tegangan diberikan. Kalau tegangan geser persatuan
luas pada suatu titik dibagi dengan gradien kecepatan nisbah yang diperoleh
didefinisikan sebagai viskositas medium bersangkutan (Reid,1991).
Viskositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (Tipler,1998) :
1 Temperatur atau suhu
Koefisien viskositas akan berubah sejalan dengan suhu.
2 Gaya tarik antar molekul dengan jumlah molekul terlarut
Perbedaan kuat gaya kohesi menjadi faktor penentu kekentalan suatu fluida.
3 Tekanan
Pada saat tekanan mengikat, viskositas akan naik.
Fluida diklasifikasikan sebagai fluida newton dan fluida non Newton. Dalam
fluida Dalam fluida non Newton Terdapat hubungan yang tak linear antara
V-7

besarnya tegangan geser yang ditetapkan dan laju perubahan sudut. Cairan yang
mempunyai tipe alir Newton misalnya etanol,air, gliserin, minyak pelumas serta
yang mempunyai senyawa terlarut dengan ukuran partikel kecil atau larutan gula.
Untuk menentukan viskositas cairan Newton dapat digunakan semua alat
pengukur viskositas misalnya viskositas ostwald, hopper, brookfeeld, stromer, dan
lain-lain. Satuan viskositas adalah poise yaitu gaya geser yang diperlukan untuk
menghasilkan kecepatan 1cm/dt antara dua bidang pararel dan zat cair yang
luasnya 1 cm2 dan dipisahkan jarak 1 cm. Kemudian cairan non Newton adalah
zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran Newton. Diversi heterogen cairan
dan padatan seperti koloid emulsi suspensi cair salep dan lain-lain. Jika bahan-
bahan non Newton dianalisa dalam suatu viskometer Putar dan hasilnya diplot
maka diperoleh berbagai kurva konsentrasi yang menggambarkan adanya tiga
kelas aliran yaitu aliran plastic atau Binggam bodies, aliran pseudoplastic dan
aliran dilatan (Tipler,1998).
V-8

5.3 METODOLOGI PERCOBAAN

5.3.1 Alat dan Rangkaian Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah viskometer,
piknometer, gelas beker, pinggan porselin, termometer, stopwatch, jangka sorong,
neraca analitik dan bola (besar,sedang dan kecil).

Rangkaian Alat :

Keterangan:

1 Bola
2 Viskometer
3 Fluida

Gambar 5.1 Rangkaian alat viskometer bola jatuh

5.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah air, minyak
goreng dan oli.

5.3.3 Prosedur Percobaan


Massa masing-masing bola ditimbang dengan neraca analitik dan
diameternya diukur dengan menggunakan jangka sorong. Selanjutnya piknometer
kosong ditimbang dengan neraca analitik, kemudian diisi dengan jenis-jenis fluida
yaitu air, minyak goreng dan oli. Piknometer yang telah diisi fluida (air, minyak
goreng , oli) ditimbang. Selanjutnya masing-masing fluida dimasukkan ke dalam
gelas beker kemudian diukur suhunya dengan menggunakan termometer.
V-9

Viskometer diisi dengan air sampai ketinggian yang ditentukan, bola


(besar,sedang dan kecil) dijatuhkan ke dalam viskometwe yang berisi air, dicatat
waktu jatuhnya. Percobaan yang sama juga dilakukan pada fluida minyak goreng
dan oli.
4 Flow Chart

Bola

- Ditimbang masing-masing dengan neraca analitik


- Diukur diameter masing-masing dengan jangka sorong

Piknometer
- Ditimbang menggunakan neraca analitik
- Diisi dengan masing-masing jenis fluida cairan
- Ditimbang kembali yang telah diisi dengan fluida

Cairan

- Dimasukkan ke dalam gelas beker


- Diukur suhunya dengan termometer lalu dicatat
- Dimasukkan ke dalam viskometer hingga ketingian yang telah
ditentukan
- Dijatuhkan bola ke dalam viskometer
- Dicatat waktu tempuh bola jatuh
- Diulang untuk setiap bola pada masing-masing cairan yang
berbeda

Hasil

Gambar 5.2 Diagram Alir Fluida


V-10

Diameter Jari-jari Volume


No Bola Massa (g)
(cm) (cm) (cm3)
1. Bola kecil I 3,6 1,24 0,620 0,998
2. Bola kecil II 3,8 1,26 0,630 1,047
3. Bola kecil III 3,7 1,25 0,625 1,022
4. Bola sedang I 11,2 1,8 0,900 3,052
5. Bola sedang II 12,2 1,85 0,925 3,314
6. Bola sedang III 12,5 1,86 0,930 3,362
7. Bola besar 1 35,1 2,62 1,310 9,412
8. Bola besar II 34,4 2,61 1,305 9,305
9. Bola besar III 35,7 2,63 1,315 9,520

5.4 HASIL DAN PENGAMATAN

5.4.1 Tabel Hasil Pengamatan


Tabel 5.2 Hasil Pengamatan pada Bola

Tabel 5.3 Hasil Pengamatan pada Fluida


Massa
Massa
piknometer Massa Volume
No Fluida piknometer
berisi fluida fluida (g) (mL)
(g)
(g)
1. Air 13,8 26,5 12,7 13
2. Minyak goreng 13,5 25,7 12,2 13
3. Oli 13,8 25,0 11,2 13

Tabel 5.4 Hasil Pengamatan Waktu Bola Jatuh pada Fluida Jarak 50 cm
Waktu bola jatuh pada fluida
No Bola
Air Minyak goreng Oli
V-11

1. Bola kecil I 0,67 0,79 1,03


2. Bola kecil II 0,62 0,72 0,95
3. Bola kecil III 0,65 0,75 0,99
4. Bola sedang I 0,56 0,69 0,89
5. Bola sedang II 0,54 0,67 0,84
6. Bola sedang III 0,52 0,65 0,80
7. Bola besar I 0,42 0,57 0,74
8. Bola besar II 0,45 0,54 0,71
9. Bola besar III 0.39 0,51 0,71

5.4.2 Tabel Hasil Perhitungan


Tabel 5.5 Massa Jenis Fluida
No Fluida Massa jenis (g/cm3)
1. Air 0,977
2. Minyak goreng 0,938
3. Oli 0,862

Tabel 5.6 Massa Jenis Bola


Massa jenis rata-rata
No Bola Massa jenis (g/cm3)
(g/cm3)
1. Bola kecil I 3,608
2. Bola kecil II 3,630 3,619
3. Bola kecil III 3,620
4. Bola sedang I 3,670
5. Bola sedang II 3,682 3,688
6. Bola sedang III 3,712
7. Bola besar I 3,729
8. Bola besar II 3,697 3,725
9. Bola besar III 3,700
V-12

Tabel 5.7 Hasil Perhitungan Kecepatan Bola Jatuh pada Fluida


Kecepatan
Jarak jatuh Kecepatan
No Bola rata- rata
(cm) (m/s)
(cm/s)
1. Bola kecil I 65 97,015
2. Bola kecil II 65 104,834 100,618
3. Bola kecil III 65 100,000
4. Bola sedang I 65 116,071
5. Bola sedang II 65 120,376 120,481
6. Bola sedang III 65 125,000
7. Bola besar I 65 154,762
8. Bola besar II 65 144,444 155,291
9. Bola besar III 65 166,667

Tabel 5.8 Hasil Perhitungan Kecepatan Bola Jatuh pada Minyak Goreng
Kecepatan
Jarak jatuh Kecepatan
No Bola rata- rata
(cm) (m/s)
(cm/s)
1. Bola kecil I 65 82,278
2. Bola kecil II 65 90,278 86,408
3. Bola kecil III 65 86,667
4. Bola sedang I 65 94,203
5. Bola sedang II 65 97,015 97,073
6. Bola sedang III 65 100,000
7. Bola besar I 65 114,035
8. Bola besar II 65 110,169 117,219
9. Bola besar III 65 127,451

Tabel 5.9 Hasil Perhitungan Kecepatan Bola Jatuh pada Oli


No Bola Jarak jatuh Kecepatan Kecepatan
V-13

rata- rata
(cm) (m/s)
(cm/s)
1. Bola kecil I 65 63,107
2. Bola kecil II 65 68,421 65,728
3. Bola kecil III 65 65,657
4. Bola sedang I 65 73,034
5. Bola sedang II 65 77,381 77,222
6. Bola sedang III 65 81,250
7. Bola besar I 65 87,838
8. Bola besar II 65 84,416 87,934
9. Bola besar III 65 91,549

Tabel 5.10 Hasil Perhitungan Koefisien Viskositas ( ) dan Gaya (F) pada Air


Jarak
rata- F rata-
No Bola jatuh F (dyne)
(poise) rata rata (F)
(cm)
(poise)
1. Bola kecil I 65 2,270 2572,722
2. Bola kecil II 65 2,187 2,235 2721,749 2647,298
3. Bola kecil III 65 2,248 2647,423
4. Bola sedang I 65 4,092 8053,986
5. Bola sedang II 65 4,187 4,134 8783,658 8621,193
6. Bola sedang III 65 4,121 9075,936
7. Bola besar I 65 6,647 25387,08
8. Bola besar II 65 6,984 6,632 9 25353,65
9. Bola besar III 65 6,266 24802,48 6
2
25871,51
6
V-14

Tabel 5.11 Hasil Perhitungan Koefisien Viskositas ( ) dan Gaya (F) pada

Minyak Goreng

Jarak
rata- F rata-
No Bola jatuh F (dyne)
(poise) rata rata (F)
(cm)
(poise)
1. Bola kecil I 65 2,716 2610,371
2. Bola kecil II 65 2,577 2,642 2761,208 2685,830
3. Bola kecil III 65 2,632 2685,950
4. Bola sedang I 65 5,114 8169,026
5. Bola sedang II 65 5,269 5,202 8908,553 8743,482
6. Bola sedang III 65 5,224 9152,868
7. Bola besar I 65 9,146 25741,84
8. Bola besar II 65 9,288 8,914 9 25710,00
9. Bola besar III 65 8,307 25157,84 8
1
26230,35
4

Tabel 5.12 Hasil Perhitungan Koefisien Viskositas ( ) dan Gaya (F) pada Oli


Jarak
rata- F rata-
No Bola jatuh F (dyne)
(poise) rata rata (F)
(cm)
(poise)
1. Bola kecil I 65 3,645 2685,550
2. Bola kecil II 65 3,497 3,571 2840,125 2762,893
3. Bola kecil III 65 3,574 2763,003
4. Bola sedang I 65 6,782 8399,105
5. Bola sedang II 65 6,791 6,727 9158,344 8988,060
6. Bola sedang III 65 6,608 9406,731
V-15

7. Bola besar I 65 12,202 26431,37


8. Bola besar II 65 12,456 12,180 0 26417,14
9. Bola besar III 65 12,881 25852,03
8
26948,03
0

5.4.3 Pembahasan
Metode viskositas ini dilakukan dengan metode bola jatuh, yaitu dengan
cara menjatuhkan bola yang berbeda ukurannya kedalam viskometer yang berisi
cairan. Pada percobaaan ini menggunakan air, minyak goreng dan oli sebagai
cairan yang akan di ukur vikositasnya dengan menggunakan 3 ukuran bola yakni
kecil, sedang dan besar yang masing-masing memiliki tiga jenis yang berbeda.
Berdasarkan percobaan, untuk mengetahui massa jenis fluida digunakan
piknometer. Dari hasil perhitungan didapat massa jenis air 0,997 gram/cm 3, massa
jenis minyak sebesar 0.938 gram/cm3 dan massa jenis oli adalah 0.862 gram/cm 3.
Menurut (Anjarsari, 2015) massa jenis air 1,00 gram/cm3, massa jenis minyak
sebesar 0.995 gram/cm3 dan massa jenis oli adalah 0.85 gram/cm3. Terdapat
sedikit perbedaan massa jenis antara percobaan dan teori, hal ini disebabkan alat
ukur berat (neraca analitik) yang digunakan menunjukkan skala pembulatan satu
angka di belakang koma, sehingga berat yang digunakan pada perhitungan
bukanlah berat sebenarnya. Ukuran dan massa bola yang berbeda-beda digunakan
untuk mengetahui pengaruh berat bola terhadap viskositas cairan dan kecepatan
setiap bola. Pengaruh diameter dengan kecepatan bola saat dijatuhkan ialah
semakin besar diameter bola, maka semakin cepat bola itu jatuh. Bola yang
bermassa paling besarakan mengalami kecepatanter besar. Hal itu terjadi akibat
berat benda akan dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi (Sumilat, 2015).
Pengaruh viskositas terhadap kecepatan jatuhnya bola yaitu semakin kental suatu
V-16

zat cair atau fluida maka gaya untuk memperlambat suatu gerakan jatuhnya bola
semakin besar. Sehingga semakin lambat pergerakan benda yang jatuh di
dalamnya. Sebaliknya, semakin encer suatu zat cair atau fluida.Maka semakin
cepat benda yang jatuh kedalamnya (Sumilat, 2015). Berikut adalah gambar
perbandingan antara kecepatan bola jatuh terhadap fluida.
180,000
155291
160,000
140,000
120,481 117219
120,000
100,618 97,073 97934
100,000 86,408
Kecepatan (cm/s) 77,222 Bola Kecil
80,000 65,728
60,000 Bola Sedang
Bola Besar
40,000
20,000
0
Air Minyak Goreng Oli

Fluida

Gambar 5.4 Perbandingan Kecepatan Bola Jatuh Terhadap Fluida

Berdasarkan gambar 5.4 dapat dilihat kecepatan bola kecil, sedang dan besar
di dalam air, minyak goreng dan oli. Bola dijatuhkan dengan jarak yang sama
yaitu 65 cm didapatkan kecepatan bola kecil, bola sedang dan bola besar pada
fluida air berturut-turut 100,618 cm/s , 120,481 cm/s, dan 155, 291 cm/s. Pada
minyak goreng kecepatan bola kecil 86,408 cm/s bola sedang 97,073 cm/s dan
bola besar 177,219 cm/s. sedangkan pengujian pada fluida oli didapatkan
kecepatan bola kecil sebesar 65,278 cm/s, bola sedang 77,222 cm/s dan bola besar
87,934 cm/s. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada air bola yang dijatuhkan
kecepatannya lebih besar dari pada bola yang dijatuhkan pada fluida lainnya
(minyak goreng dan oli). Hal ini dikarenakan gesekan dalam air lebih kecil dari
pada gesekan pada minyak goreng dan oli, hal ini sesuai dengan teori
(Martoharsono, 2006) yang menyatakan bahwa gesekan juga biasa disebut dengan
V-17

viskositas, semakin besar viskositas, semakin sulit benda padat bergerak dalam zat
cair tersebut.
Menurut (Eriska, 2013) tingkat kekentalan suatu fluida juga bergantung
pada suhu. Semakin tinggi suhu zat cair, semakin kurang kekentalan zat cair
tersebut .Sebaliknya, semakin rendah suhu zat cair maka semakin kental pula zat
cair tersebut.Hal ini dikarena kan pada temperature tinggi molekul zat cair
memperoleh energy dan bergerak sehingga gaya antar molekul melemah. Selain
itu, densitas juga berpengaruh pada viskositas fluida. Data hasil yang diperoleh
setelah melakukan percobaan, bahwa air memiliki nilai densitas lebih besar dari
pada minyak dan oli.Hal ini dikarenakan massa air lebih besar dibanding yang
lainnya yaitu minyak goreng dan Oli . berikut ini adalah gambar perbandingan
yaitu grafik koefisien viskositas fluida terhadap bola :

14,000
12,180.000
12,000

10,000 8,914
8,000
6,632.000 6,727
Koefisien Viskositas (Poise) 6,000 5,202
Bola Kecil Bola Sedang 4,134 Bola Besar
4,000 3,571
2,235 2,642
2,000

0
Air Minyak Goreng Oli

Fluida

Gambar 5.5 Perbandingan Koefisien Viskositas Fluida Terhadap Bola Jatuh

Berdasarkan gambar 5.5 didapatkan nilai viskositas pada fluida air terhadap
bola kecil, sedang dan besar yaitu 2,235 poise ; 4,134 poise ; 6,632 poise. Nilai
pada fluida minyak goreng terhadap bola kecil, sedang dan besar yaitu 2,642 poise
; 5,202 poise ; 8,914 poise. Dan nilai viskositas pada fluida oli terhadap bola kecil,
sedang dan besar yaitu 3,571 poise ; 6,520 poise ; 12,180 poise. Nilai viskositas
V-18

air paling rendah karena air adalah larutan encer sehingga hanya sedikit gaya
gesek yang dihasilkan ketika menjatuhkan benda, menurut (Bird,1987) viskositas
atau kekentalan sebenarnya merupakan gaya gesekan antara molekul-molekul
yang menyusun suatu fluida. Semakin besar gaya gesek, semakin besar pula
viskositas fluida tersebut.
Percobaan ini diperoleh gaya gesek pada bola kecil, sedang dan besar pada
air berturut-turut adalah 2647,298 dyne ; 8621,193 dyne ; 25353,656 dyne. Pada
minyak goreng gaya gesek bola kecil 2683,830 dyne, bola sedang 8743,482 dyne
dan bola besar 25710,008 dyne. Pada oli diperoleh gaya gesek bola kecil
2762,893 dyne, bola sedang 8988,06 dyne dan bola besar 26417,14 dyne. Pada
gambar tersebut viskositas cairan yang didapat sesuai dengan teori (Sarojo,2009)
yang menyatakan bahwa suatu Jenis cairan yang mudah mengalir dapat dikatakan
memiliki viskositas yang rendah dan sebaliknya bahan-bahan yang sulit mengalir
dikatakan memiliki viskositas tinggi.Viskositas juga dipengaruhi oleh gaya gesek .
hubungan viskositas dengan gaya gesek adalah semakin besar gaya gesek antara
lapisan maka viskositasnya juga semakin besar atau berbanding lurus .
Tingkat kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu. Dalam
percobaan ini, suhu pada air yakni 30 o C, minyak goreng 30o C dan oli 30o C.
Berdasarka teori (Hasim,2014) apabila terhadu kenaikkan suhu atau suhu tinggi
maka viskositas cairan akan menurun. Karena pada suhu tinggi molekul zat cair
memperoleh energi dan bergerak, sehingga gaya interaksi antara molekul
melemah. Jadi semakin tinggi suhu suatu zat cair, semakin kurang kekentalan zat
air tersebut.
V-19

5.5 PENUTUP

5.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah
1 Viskositas cairan newton adalah viskositas suatu cairan yang hanya
dipengaruhi temperatur dan tekanan saja, sedangkan viskositas cairan non
newton adalah viskositas suatu cairan yang dipengaruhi temperatur, tekanan
dan kecepatan geser (shear rate)
2 Cairan newton memiliki viskositas yang konstann sekalipun terdapat gaya yang
bekerja terhadap cairan. Cairan non newton akan mengalami perubahan
viskositas ketika terdapat gaya yang bekerja pada cairan tersebut, seiring
dengan berubahnya nilai shear rate
3 Viskositas cairan dapat ditentukan menggunakan viskommeter dengan metode
bola jatuh.
4 Viskositas rata-rata pada air yakni 2,235 poise pada bola kecil, 4,134 poise
pada bola sedang , 6,632 poise pada bola besar. Pada minyak yakni 2,642 poise
pada bola kecil 5,202 poise pada bola sedang, 8,914 poise pada bola besar.
Pada oli yakni 3,571 poise pada bola kecil, 6,757 poise pada bola sedang dan
12,180 poise pada bola besar.

5.5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah pada praktikum
selanjutnya untuk menggunkan tinggi yang sama misalnya 70cm sehingga dapat
V-20

diketahui viskositas cairan yang sebenarnya dengan merata-ratakan semua hasil


dari berbagai kelompok.
LP-21

LAMPIRAN PERHITUNGAN VISKOSITAS CAIRAN

1 Menghitung volume (V) dan massa jenis ( ) bola

Diketahui:

m bola kecil I = 3,6 gram


m bola kecil II = 3,8 gram
m bola kecil III = 3,7 gram
m bola sedang I = 11,2 gram
m bola sedang II = 12,2 gram
m bola sedang III = 12,5 gram
m bola besar I = 35,1 gram
m bola besar II = 34,4 gram
m bola besar III = 35,7 gram
d bola kecil I = 1,24 cm r = 0,620 cm
d bola kecil II = 1,26 cm r = 0,630 cm
d bola kecil III = 1,25 cm r = 0,625 cm
d bola sedang I = 1,8 cm r = 0,900 cm
d bola sedang II = 1,85 cm r = 0,925 cm
d bola sedang III = 1,86 cm r = 0,930 cm
d bola besar I = 2,62 cm r = 1,310 cm
d bola besar II = 2,61 cm r = 1,305 cm
d bola besar III = 2,63 cm r = 1,315 cm

Ditanya :

V dan masing-masing bola ?

Jawab :

3
a V bola kecil I = 4/3 r

= 4/3(3,14)(0,620)3
= 0,998 cm3
LP-22

m bolakecil I
bolakecil I =
V bolakecil I
3,6

0,998

3
3,608 g /cm

3
b V bola kecil II = 4/3 r

= 4/3(3,14)(0,630)3
= 1,047 cm3

mbola kecil II
bolakecil II =
V bola kecil II

3,8

1,047
= 3,630 g/cm3

3
c V bola kecil III = 4/3 r

= 4/3(3,14)(0,625)3
= 1,022 cm3
mbola kecil III
bolakecil III =
V bola kecil III

3,7

1,022

= 3,620 g/cm3

3
d V bola sedang I = 4/3 r

= 4/3(3,14)(0,900)3
= 3,052 cm3
LP-23

m bola sedang I
bola sedang=
V bola sedang I

11,2

3,052

= 3,676 g/cm3

3
e V bola sedang II = 4/3 r

= 4/3(3,14)(0,925)3
= 3,314 cm3
mbola sedang II
bola sedangII = V bola s edang II
12,2
= 3,314
= 3,682 g/cm3

3
f V bola sedang III = 4/3 r

= 4/3(3,14)(0,930)3
= 3,368 cm3
mbola sedang III
bola sedang III = V bola sedang III
12,5
= 3,368

= 3,712 g/cm3
3
g V bola besar I = 4/3 r

= 4/3(3,14)(1,310)3
= 9,412 cm3
mbola besar I
bola besar I = V bola besar I
35,1
= 9,412
= 3,729 g/cm3
LP-24

3
h V bola besar II = 4/3 r

= 4/3(3,14)(1,305)3
= 9,305 cm3
mbola besar II
bola besar II = V bola besar II
34,4
= 9,305
= 3,686 g/cm3

3
i V bola besar III = 4/3 r

= 4/3(3,14)(1,315)3
= 9,520 cm3
mbola besar III
bola besar III = V bola besar III
35,7
= 9,520
= 3,756 g/cm3

2 Menghitung massa jenis ( ) masing-masing fluida

Diketahui :
m air = 13,7 g V air = 13 mL
m minyak goreng = 11,6 g V minyak goreng = 13 mL
m oli = 12,1 g V oli = 13 mL
Ditanya :
fluida ?

Jawab :
m 13,7
a air : v = = 0,977 g/mL
13
LP-25

m 11,6
b minyak goreng : v = = 0,938 g/mL
13

m 12,1
c oli : v = = 0,862 g/mL
13

3 Menghitung kecepatan (v) bola pada masing-masing fluida


Diketahui :
Waktu (t) bola jatuh pada air s = 65 cm
t bola kecil I : 0,67 s
t bola kecil II : 0,62 s
t bola kecil III : 0,65 s
t bola sedang I : 0,56 s
t bola sedang II : 0,54 s
t bola sedang III : 0,52 s
t bola besar I : 0,42 s
t bola besar II : 0,45 s
t bola besar III : 0,39 s
Waktu (t) bola jatuh pada minyak goreng s = 65 cm
t bola kecil I : 0,79 s
t bola kecil II : 0,72 s
t bola kecil III : 0,75 s
t bola sedang I : 0,69 s
t bola sedang II : 0,67 s
t bola sedang III : 0,65 s
t bola besar I : 0,57 s
t bola besar II : 0,59 s
t bola besar III : 0,51 s
Waktu (t) bola jatuh pada oli s = 65 cm
t bola kecil I : 1,03 s
t bola kecil II : 0,95 s
t bola kecil III : 0,99 s
LP-26

t bola sedang I : 0,89 s


t bola sedang II : 0,84 s
t bola sedang III : 0,80 s
t bola besar I : 0,74 s
t bola besar II : 0,77 s
t bola besar III : 0,71 s
Ditanya :
v bola pada masing-masing fluida ?
Jawab :
a Pada air :
s
v bola kecil I : t = 97,015 cm/s

s
v bola kecil II : t = 104,839 cm/s

s
v bola kecil III : t = 100,000 cm/s

s
v bola sedang I : t = 116,071 cm/s

s
v bola sedang II : t = 120,370 cm/s

s
v bola sedang III : t = 125,000 cm/s

s
v bola besar I : t = 154,762 cm/s

s
v bola besar II : t = 144,444 cm/s

s
v bola besar III : t = 166,667 cm/s
LP-27

b Pada minyak goreng :


s
v bola kecil I : t = 82,278 cm/s

s
v bola kecil II : t = 90,278 cm/s

s
v bola kecil III : t = 86,667 cm/s

s
v bola sedang I : t = 94,208 cm/s

s
v bola sedang II : t = 97,015 cm/s

s
v bola sedang III : t = 100,000 cm/s

s
v bola besar I : t = 114,035 cm/s

s
v bola besar II : t = 110,169 cm/s

s
v bola besar III : t = 127,451 cm/s

c Pada oli :
s
v bola kecil I : t = 65,107 cm/s

s
v bola kecil II : t = 68,421 cm/s

s
v bola kecil III : t = 65,657 cm/s

s
v bola sedang I : t = 73,034 cm/s

s
v bola sedang II : t = 77,381 cm/s
LP-28

s
v bola sedang III : t = 81,250 cm/s

s
v bola besar I : t = 87,838 cm/s

s
v bola besar II : t = 84,416 cm/s

s
v bola besar III : t = 91,545 cm/s

4 Menghitung koefisien viskositas ()fluida dan gaya (F) masing-masing


fluida
Diketahui :
Air dengan bola kecil I Air pada bola kecil II
r = 0,620 cm r = 0,630 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbkI = 97,015 cm/s vbkII = 104,839 cm/s
bkI = 3,608 g/cm3 bkII = 3,629 g/cm3
air = 0,977 g/mL air = 0,977 g/mL

Air dengan bola kecil III Air pada bola sedang I


r = 0,625 cm r = 0,900 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbkIII = 100 cm/s vbsI = 116,071 cm/s
bkIII = 3,620 g/cm3 bsI = 3,670 g/cm3
air = 0,977 g/mL air = 0,977 g/mL

Air dengan bola sedang II Air pada bola sedang III


r = 0,925 cm r = 0,930 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbsII = 120,370 cm/s vbsIII = 125 cm/s
LP-29

bsII = 3,681 g/cm3 bsIII = 3,711 g/cm3


air = 0,977 g/mL air = 0,977 g/mL

Air dengan bola besar I Air pada bola besar II


r = 1,310 cm r = 1,305 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbbI = 154,762 cm/s vbbII = 144,444 cm/s
bbI = 3,729 g/cm3 bbII = 3,697 g/cm3
air = 0,977 g/mL air = 0,977 g/mL

Air dengan bola besar III


r = 1,315 cm
g = 980 cm/s2
vbbIII = 166,667 cm/s
bbIII = 3,750 g/cm3
air = 0,977 g/mL

Minyak goreng dengan bola kecil I Minyak goreng pada bola kecil II
r = 0,620 cm r = 0,630 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbkI = 82,278 cm/s vbkII = 90,278 cm/s
bkI = 3,607 g/cm3 bkII = 3,629 g/cm3
minyak = 0,938 g/mL minyak = 0,938 g/mL

Minyak goreng dengan bola kecil III Minyak goreng pada bola sedang I
r = 0,625 cm r = 0,900 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbkIII = 86,667 cm/s vbsI = 94,203 cm/s
bkIII = 3,620 g/cm3 bsI = 3,670 g/cm3
LP-30

minyak = 0,938 g/mL minyak = 0,938 g/mL

Minyak goreng dengan bola sedang II Minyak goreng pada bola sedang III
r = 0,925 cm r = 0,930 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbsII = 97,015 cm/s vbsIII = 100 cm/s
bsII = 3,682 g/cm3 bsIII = 3,711 g/cm3
minyak = 0,938 g/mL minyak = 0,938 g/mL

Minyak goreng dengan bola besar I Minyak goreng pada bola besar II
r = 1,310 cm r = 1,305 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbbI = 114,035 cm/s vbbII = 110,169 cm/s
bbI = 3,729 g/cm3 bbII = 3,697 g/cm3
minyak = 0,938 g/mL minyak = 0,938 g/mL

Minyak goreng dengan bola besar III


r = 1,315 cm
g = 980 cm/s2
vbbIII = 127,451 cm/s
bbIII = 3,750 g/cm3
minyak = 0,938 g/mL

Oli dengan bola kecil I Oli pada bola kecil II


r = 0,620 cm r = 0,630 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
LP-31

vbkI = 63,107 cm/s vbkII = 68,421 cm/s


bkI = 3,607 g/cm3 bkII = 3,629 g/cm3
oli = 0,862 g/mL oli = 0,862 g/mL

Oli dengan bola kecil III Oli pada bola sedang I


r = 0,625 cm r = 0,900 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbkIII = 65,657 cm/s vbsI = 73,034 cm/s
bkIII = 3,620 g/cm3 bsI = 3,670 g/cm3
oli = 0,862 g/mL oli = 0,862 g/mL

Oli dengan bola sedang II Oli pada bola sedang III


r = 0,925 cm r = 0,930 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbsII = 77,381 cm/s vbsIII = 81,250 cm/s
bsII = 3,682 g/cm3 bsIII = 3,711 g/cm3
oli = 0,862 g/mL oli = 0,862 g/mL

Oli dengan bola besar I Oli pada bola besar II


r = 1,310 cm r = 1,305 cm
g = 980 cm/s2 g = 980 cm/s2
vbbI = 87,838 cm/s vbbII = 84,416 cm/s
bbI = 3,729 g/cm3 bbII = 3,697 g/cm3
oli = 0,862 g/mL oli = 0,862 g/mL

Oli dengan bola besar III


LP-32

r = 1,315 cm
g = 980 cm/s2
vbbIII = 91,549 cm/s
bbIII = 3,729 g/cm3
oli = 0,862 g/Ml

Ditanya :
a masing-masing fluida ?
b F masing-masing fluida ?
Dijawab :
Air pada bola kecil I
2 r 2 g ( bola air)
a bkI = 9v

2
2 x (0,620) x 980 x ( 3,6070,977 )
= 9 x 97,015

= 2,270 poise

b F = 6 bkIv r
= 6 x (3,14) x (2,270) x (97,015) x (0,620)

= 2572,722 dyne

Air pada bola kecil II

2 r 2 g ( bola air)
a bkII = 9v

2
2 x (0,630) x 980 x ( 3,6290,977 )
= 9 x 104,839

= 2,187 poise

b F = 6 bkIIv r
= 6 x (3,14) x (2,359) x (104,839) x (0,630)
LP-33

= 2721,749 dyne
Air pada bola kecil III

2 r 2 g ( bola air)
a bkII = 9v

2 x (0,625)2 x 980 x ( 3,6200,977 )


= 9 x 100
= 2,248 poise

b F = 6 bkIIIv r
= 6 x (3,14) x (2,445) x (100) x (0,625)

= 2647,423 dyne

Air pada bola sedang I

2 r 2 g ( bola air )
a bsI = 9v

2
2 x (0,900) x 980 x ( 3,6700,977 )
= 9 x 116,071
= 4,092 poise

b F = 6 bsIv r
= 6 x (3,14) x (3,784) x (116,071) x (0,900)

= 8053,986 dyne

Air pada bola sedang II

2 r 2 g ( bola air)
a bsI I = 9v

2 x (0,925)2 x 980 x ( 3,6820,977 )


= 9 x 120,370
= 4,187 poise

b F = 6 bsIIv r
LP-34

= 6 x (3,14) x (3,916) x (120,370) x (0,925)

= 8783,658 dyne

Air pada bola sedang III

2 r 2 g ( bola air)
a bsI II = 9v

2 x (0,930)2 x 980 x ( 3,7110,977 )


= 9 x 125
= 4,121 poise

b F = 6 bsIIIv r
= 6 x (3,14) x (3,603) x (125) x (0,930)

= 9025,936 dyne

Air pada bola besar I

2 r 2 g ( bola air)
a bbI = 9v

2 x (1,310)2 x 980 x ( 3,7290,977 )


= 9 x 154,762
= 6,647 poise

b F = 6 bbIv r
= 6 x (3,14) x (6,598) x (154,762) x (1,310)

= 25357,087 dyne

Air pada bola besarII

2 r 2 g ( bola air)
a bbII = 9v
LP-35

2 x (1,305)2 x 980 x ( 3,6970,977 )


= 9 x 144,444
= 6,957 poise

b F = 6 bbIv r
= 6 x (3,14) x (5,881) x (144,444) x (1,305)

= 24705,874 dyne

Air pada bola besar III

2 r 2 g ( bola air)
a bbIII = 9v

2
2 x (1,315) x 980 x ( 3,7500,977 )
= 9 x 166,667
= 6,266 poise

b F = 6 bbIIIv r
= 6 x (3,14) x (6,092) x (166,667) x (1,315)

= 25871,516 dyne

Minyak goreng pada bola kecil I

2 r 2 g ( bola minyak goreng)


a bkI = 9v

2
2 x (0,620) x 980 x ( 3,6070,938 )
= 9 x 82,378
= 2,716 poise

b F = 6 bkIv r
LP-36

= 6 x (3,14) x (2,864) x (82,378) x (0,620)

= 2610,331 dyne

Minyak goreng pada bola kecil II

2 r 2 g ( bola minyak goreng)


a bkII = 9v

2 x (0,630)2 x 980 x ( 3,6290,938 )


= 9 x 90,278
= 2,577 poise

b F = 6 bkIIv r
= 6 x (3,14) x (2,981) x (90,278) x (0,630)

= 2761,208 dyne

Minyak goreng pada bola kecil III

2 r 2 g ( bola mnyak goreng)


a bkIII = 9v

2 x (0,625)2 x 980 x ( 3,6200,938 )


= 9 x 86,667
= 2,632 poise

b F = 6 bkIIIv r
= 6 x (3,14) x (3,017) x (86,667) x (0,625)

= 2685,950 dyne

Minyak goreng pada bola sedang I

2 r 2 g ( bola minyak goreng)


a bsI = 9v

2 x (0,900)2 x 980 x ( 3,6700,938 )


= 9 x 94,203
LP-37

= 5,114 poise

b F = 6 bsIIIv r
= 6 x (3,14) x (4,900) x (94,203) x (0,900)

= 8169,026 dyne

Minyak goreng pada bola sedang II

2 r 2 g ( bola minyak goreng)


a bsII = 9v

2
2 x (0,925) x 980 x ( 3,6810,938 )
= 9 x 97,015

= 5,269 poise

b F = 6 bsIIv r
= 6 x (3,14) x (5,509) x (97,015) x (0,925)

= 8908,553 dyne

Minyak goreng pada bola sedang III

2 r 2 g ( bola minyak goreng)


a bsIII = 9v

2
2 x (0,930) x 980 x ( 3,7110,938 )
= 9 x 100
= 5,224 poise

b F = 6 bsIIIv r
= 6 x (3,14) x (5,628) x (100) x (0,930)

= 9152,868 dyne

Minyak goreng pada bola besar I


LP-38

2 r 2 g ( bola minyak goreng)


a bbI = 9v

2 x (1,310)2 x 980 x ( 3,7290,938 )


= 9 x 114,035
= 9,146 poise

b F = 6 bbIv r
= 6 x (3,14) x (8,694) x (114,035) x (1,310)

= 25741,849 dyne

Minyak goreng pada bola besar II

2 r 2 g ( bola minyak goreng)


a bbII = 9v

2
2 x (1,305) x 980 x ( 3,6970,938 )
= 9 x 110,169
= 9,251 poise

b F = 6 bbIIv r
= 6 x (3,14) x (8,739) x (110,169) x (1,305)

= 25056,587 dyne

Minyak goreng pada bola besar III

2 r 2 g ( bola minyak goreng)


a bkIII = 9v

2
2 x (1,315) x 980 x ( 3,7500,938 )
= 9 x 127,415
= 8,307 poise
LP-39

b F = 6 bkIIIv r
= 6 x (3,14) x (9,256) x (127,415) x (1.315)

= 26230 dyne

Oli pada bola kecil I

2 r 2 g ( bola oli)
a bkI = 9v

2
2 x (0,620) x 980 x ( 3,6070,862 )
= 9 x 63,107
= 3,643 poise

b F = 6 bkIv r
= 6 x (3,14) x (4,256) x (63,107) x (0,620)

= 2685,550 dyne

Oli pada bola kecil II

2 r 2 g ( bola oli)
a bkII = 9v

2
2 x (0,630) x 980 x ( 3,6290,862 )
= 9 x 68,421
= 3,497 poise

b F = 6 bkIIv r
= 6 x (3,14) x (4,478) x (68,421) x (0,630)

= 2840,125 dyne

Oli pada bola kecil III


LP-40

2 r 2 g ( bola oli)
a bkIII = 9v

2 x (0,625)2 x 980 x ( 3,6200,862 )


= 9 x 65,657
= 3,574 poise

b F = 6 bkIIv r
= 6 x (3,14) x (4,438) x (65,657) x (0,625)

= 2763,003 dyne

Oli pada bola sedang I

2 r 2 g ( bola oli)
a bsII = 9v

2
2 x (0,900) x 980 x ( 3,6700,862 )
= 9 x 73,034
= 6,782 poise

b F = 6 bsIIv r
= 6 x (3,14) x (6,088) x (73,034) x (0,900)

= 8399,105 dyne

Oli pada bola sedang II

2 r 2 g ( bola oli)
a bsII = 9v

2
2 x (0,925) x 980 x ( 3,6810,862 )
= 9 x 77,381
= 6,791 poise

b F = 6 bsIIv r
= 6 x (3,14) x (6,559) x (77,381) x (0,925)
LP-41

= 9158,344 dyne

Oli pada bola sedang III

2 r 2 g ( bola oli)
a bsIII = 9v

2
2 x (0,930) x 980 x ( 3,7110,862 )
= 9 x 81,250
= 6,608 poise

b F = 6 bsIIIv r
= 6 x (3,14) x (6,912) x (81,250) x (0,930)

= 9406,731 dyne

Oli pada bola besar I

2 r 2 g ( bola oli)
a bbI = 9v
2
2 x (1,310) x 980 x ( 3,7290,862 )
= 9 x 87,838
= 12,202 poise

b F = 6 bbIv r
= 6 x (3,14) x (11,503) x (87,838) x (1,310)

= 26451,370 dyne

Oli pada bola besar II

2 r 2 g ( bola oli)
a bbII = 9v
LP-42

2 x (1,305)2 x 980 x ( 3,6970,862 )


= 9 x 84,416
= 12,411 poise

b F = 6 bbIIIv r
= 6 x (3,14) x (10,874) x (84,416) x (1,305)

= 25758,015 dyne

Oli pada bola besar III

2 r 2 g ( bola oli)
a bbIII = 9v

2
2 x (1,315) x 980 x ( 3,7500,862 )
= 9 x 91,549
= 11,881 poise

b F = 6 bbIIIv r
= 6 x (3,14) x (11,253) x (91,549) x (1,315)

= 26948,030 dyne

5 Menghitung kecepatan (v) rata-rata masing-masing bola pada fluida

a Pada air :
97,105+ 104,839+ 100
Bola kecil : 3 = 100,618 cm/s

116,071+ 120,370+ 125


Bola sedang : 3 = 120,481

cm/s
154,762+144,444+ 166,667
Bola besar : 3 = 155,291

cm/s
LP-43

b Pada minyak goreng :


82,278+ 90,278+86,667
Bola kecil : 3 = 86,408 cm/s

100+ 97,015+94,203
Bola sedang : 3 = 97,073 cm/s

114,035 +110,169+127,451
Bola besar : 3 = 117,219

cm/s
c Pada oli :
63,107 +68,421+ 65,657
Bola kecil : 3 = 65,728 cm/s

73,034 +77,381+ 81,250


Bola sedang : 3 = 77,222 cm/s

87,838+ 84,416+91,549
Bola besar : 3 = 87,934 cm/s

6 Menghitung koefisien viskositas () rata-rata masing-masing fluida

a Pada air :
2,180+ 2,359+ 2,445
Bola kecil : 3 = 2,235 poise

3,784 +3,916+3,603
Bola sedang : 3 = 4,134 poise

6,598+ 5,881+ 6,092


Bola besar : 3 = 6,623 poise

b Pada minyak goreng :


2,864 +2,981+3,017
Bola kecil : 3 = 2,642 poise

4,900+5,509+5,628
Bola sedang : 3 = 5,202 poise
LP-44

8,694+8,739+9,256
Bola besar : 3 = 8,901 poise

c Pada oli :
4,256+ 4,478+ 4,438
Bola kecil : 3 = 3,571 poise

6,088+ 6,559+6,912
Bola sedang 3 = 6,727 poise

11,503 +10,874+11,253
Bola besar : 3 = 12,165 poise

7 Menghitung gaya (F) rata-rata masing-masing fluida

a Pada air :
2495,479+2641,467+ 2570,533
Bola kecil : 3 = 2647,298

dyne
7824,560+ 8530,517+8767,908
Bola sedang : 3 = 8621,193

dyne
2472,896+ 24098,622+25154,528
Bola besar : 3 = 25321,493

dyne
b Pada minyak goreng :
2655,062+2808,099+2732,703
Bola kecil : 3 = 2685,83

dyne
8308,440+ 9057,144+9302,803
Bola sedang : 3 = 8743,482

dyne
LP-45

26167,197+ 25578,511+26664,367
Bola besar : 3 =

25676,263 dyne
c Pada oli :
2616,520+ 2768,228+ 2693,663
Bola kecil : 3 = 2762,893

dyne
8192,700+ 8929,976+9174,789
Bola sedang : 3 = 8980,060

dyne
25808,942+25221,831+26300,914
Bola besar : 3 =

26385,805 dyne

8 Menghitung densitas ( rata-rata masing-masing bola


bkI + bkII + bkIII
Bola kecil : 3 =

3,607+ 3,629+3,620
3
= 3,619 g/cm3
bsI + bsII + skIII
Bola sedang : 3 =

3,670+ 3,681+3,711
3

= 3,688 g/cm3
bbI + bbII + bbIII
Bola besar : 3 =

3,729+3,697 +3,750
3

= 3,722 g/cm3
ABSTRAK

Protein adalah monomer monomer asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida.
Percobaan analisa protein ini bertujuan untuk mempelajari reaksi kimia spesifik pada protein
(asam amino) serta memanfaatkan sifat kimia untuk identifikasi protein pada sampel. Sampel yang
digunakan dalam percobaan ini adalah susu dan putih telur. Asam amino adalah asam organik yang
mengandung gugus amino, -NH2 yang bersifat basa dan mengandung gugus karboksil, - COOH
yang bersifat asam. Ada dua puluh macam asam amino yang terdapat dalam protein dan
dibedakan menjadi asam amino esensial dan asam amino non esensial. Asam amino sangat
penting dalam proses pembentukan protein. Uji analisa ini dapat dilakukan melalui reaksi
Pengendapan, reaksi Biuret, reaksi Xanthoprotein, reaksi Hopkins-Cole, dan Millon Nasse.
Pada reaksi pengendapan, pada putih telur terbentuk endapan, sedangkan pada susu tidak
semuanya berbentuk endapan. Pada biuret kedua sampel terbentuk endapan berwarna ungu. Pada
reaksi Xanthoprotein kedua sampel terbentuk endapan atau lapisan yang berwarna orange
kekuningan. Pada reaksi Hopkins-Cole, pada sampel putih telur dan susu terbentuk endapan putih
yang lapisan atasnya berwarna kuning. Pada uji Millon Nasse pada sampel putih telur terbentuk
gumpalan putih dan pada susu larutan menjadi keruh.

Kata kunci :Biuret, Hopkins-Cole, Millon Nasse, Protein, Xanthoprotein.

PERCOBAAN VI
TEGANGAN PERMUKAAN

6.1 PENDAHULUAN

6.1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan tegangan permukaan suatu
fluida dengan menggunakan metode cincin du nouys.

6.1.2 Latar Belakang


Tegangan permukaan adalah gaya atau tarikan ke bawah yang menyebabkan
permukaan cairan berkontraksi. Permukaan zat cair kelihatan tegangan seperti
bersifat elastis. Tegangan pada suatu permukaan merupakan fenomena menarik
yang terjadi pada fluida yang berada pada keadaan statis. Hal ini disebabkan oleh
gaya tarik menarik antar molekul air dengan wadahnya yang tidak seimbang pada
antarmuka cairan.
Prosedur percobaan yang pertama menyiapkan rangkaian alat, dalam
percobaan ini menggunakan alat Du nouys tester. Bahan yang digunakan adalah

VI-2
larutan sabun, minyak goreng, oli dan akuades. Du nouys tester dipasang dengan
benar. Meletakkan cincin kawat sedemikian rupa sehingga dapat berada di
permukaan cairan dan diamati sudut puntiran yang dihasilkan. Kemudian
mencatat sudut puntiran larutan fluida.
Aplikasi tegangan permukaan dalam bidang industri kimia adalah pada
pembuatan surfaktan dan sabun. Surfaktan dan sabun dapat mengurangi tegangan
permukaan air. Selain itu tegangan permukaan juga diaplikasikan pada industri
tekstil, cat, pelapis dan perminyakan. Semakin tinggi tegangan permukaan pada
zat atau pelapis, maka akan semakin kuat daya rekatnya dan tentunya kualitas
semakin baik.

6.2 DASAR TEORI

Tegangan permukaan didefinisikan sebagai kerja yang dilakukan dalam


memperluas permukaan cairan dengan satu-satuan luas. Satuan untuk tegangan
permukaan () adalah J.m-2 atau dyne cm-1 atau N.m-1. Metode yang paling umum
untuk mengukur tegangan permukaan adalah kenaikan atau penurunan cairan
dalam pipa kapiler, yaitu (Dogra, 1990):

d .r . g .l
= . . . (6.1)
2

Dimana d adalah kerapatan cairan, r adalah jari-jari kapiler, l adalah panjang


cairan yang ditekan atau yang akan naik, g adalah konstanta gravitasi. Dalam
metode perbandingan, tegangan permukaan cairan yang tidak diketahui dapat
dihitung dari persamaan dibawah ini:

1 d 1. l1
= . . . (6.2)
2 d 2. l2

VI-2
Tegangan permukaan ( ) dan tegangan uap tetes cairan yang sangat kecil

dihubungkan dengan persamaan:

P 2 m . . . (6.3)
ln =
P 0 drRT

dimana P0 adalah tekanan uap normal cairan dan P adalah tekanan uap normal
dari tetesan kecil. Tekanan uap (P0) untuk setiap cairan dapat dihitung dengan
persamaan Clausius Clapeyron:

H uap
ln P0= + konstanta . . . (6.4)
RT

Keluarnya cairan perlahan-lahan dari penetes obat bukanlah seperti arus yang
tidak putus-putus, melainkan setetes demi tetes. Sebatang jarum, jika diletakkan di
atas permukaan air, akan membuat lekukan kecil pada permukaan air itu dan tidak
akan tenggelam, biarpun rapatnya sepuluh kali rapat massa air. Bila sebuah pipa
gelas bersih berlubang kecil dicelupkan ke dalam air, maka air akan naik di dalam
pipa, tetapi jika dicelupkan ke dalam raksa, raksa ini akan tertekan ke bawah.
Fenomena-fenomena ini dan banyak lainnya yang sama sifatnya, berhubungan
dengan adanya permukaan batas antara zat cair dan zat lainnya (Sears dan
Zemansky, 1982).
Fenomena-fenomena permukaan menunjukkan bahwa permukaan zat cair
dapat dianggap sebagai dalam keadaan tertegang, demikian rupa sehingga kalau
ditinjau setiap garis di dalam atau yang membatasi permukaannya, maka zat-zat di
kedua sisi garis tersebut saling tarik-menarik. Tarikan ini terletak di dalam bidang
permukaan itu dan tegak lurus terhadap garis tadi. Efek demikian dapat diperlihat
dengan alat sederhana seperti gelang kawat dan jerat benang lemas yang
dicelupkan ke dalam larutan sabun (Sears & Zemansky, 1982).
Tegangan permukaan memegang peranan penting dalam gejala menarik yang
lain misalnya kapitalis. Suatu pengamatan umum menyatakan bahwa air dalam
wadah gelas sedikit naik bila ia bersentuhan dengan gelas. Air dikatakan
membasahi gelas. Sebaliknya air raksa akan ditekan bila bersentuhan dengan

VI-3
gelas, air raksa tidak membasahi gelas. Suatu fluida dikatakan membasahi atau
tidak terhadap permukaan zat padat ditentukan oleh kekuatan gaya kohesi relatif
atau antara molekul-molekul cairan wadahnya. Kohesi mengacu pada gaya antar
molekul molekul yang berbeda tipe. Air membasahi gelas karena molekul-
molekul air lebih kuat menarik molekul gelas daripada molekul-molekul air yang
lain. Sebaiknya untuk air raksa gaya kohesi lebih kuat daripada gaya adhesi di
dalam tabung yang mempunyai diameter yang sangat keci,l cairan terlihat naik
atau turun relatif terhadap level cairan sekitarnya. Gejala ini disebut kapilaritas
dan tabung yang kecil disebut kapiler (Giancoli, 2001).
Sebuah jarum dapat dibuat terapung dipermukaan air jika ditempatkan
secara hati-hati. Gaya-gaya yang menopang jarum itu bukan gaya apung, tetapi
disebabkan karena tegangan permukaan. Di bagian dalam cairan, sebuah molekul
dikelilingi di semua sisinya oleh molekul-molekul lain, tetapi di permukaannnya
tidak ada molekul di atas molekul-molekul permukaan. Jika sebuah molekul
permukaan sedikit dinaikkan, ikatan molekuler antar molekul ini dan molekul
yang lain diregangkan, dan ada gaya pemulih yang berusaha menarik molekul itu
kembali ke permukaan. Dengan cara sama, bila sebuah jarum ditempatkan secara
hati-hati di permukaan, molekul-molekul permukaan agak ditekan dan molekul-
molekul yang lainnya memberikan gaya pemulih ke atas pada mereka untuk
menopang jarum itu. Jadi permukaan cairan adalah seperti selaput elastis yang
diregangkan. Gaya yang diperlukan untuk memecahkan permukaan dapat diukur
dengan mengangkat jarum lepas dari permukaan seperti ditunjukkan pada
Gambar 6.1. Tegangan permukaan mengerjakan sebuah gaya jarum ke arah
permukaan.

Gambar 6.1. Jarum di Permukaan Air

VI-4
Gaya ini ditemukan sebanding dengan panjang permukaan yang pecah, yang
adalah dua kali panjang jarum karena terdapat selaput permukaan pada kedua sisi
jarum. Bila jarum mempunyai massa m dan panjang L, gaya F yang dibutuhkan
untuk mengangkatnya lepas dari permukaan adalah (Tipler, 1998) :

F= 2 L+mg . . . (6.5)

dengan adalah koefisien tegangan permukaan, yaitu gaya per satuan panjang

yang diberikan oleh selaput. Tegangan permukaan lah yang menyebabkan tetes-
tetes cairan cenderung berbentuk bola. Ketika tetsan itu terbentuk, tegangan
permukaan menarik permukaannya bersama-sama, dengan meminimumkan luas
permukaan dan membuat tetesan itu berbentuk bola.
Gaya tarik menarik antara sebuah molekul di dalam cairan dan molekul-
molekul lain dalam cairan dinamakan gaya kohesi. Gaya antara sebuah molekul
cairan dengan bahan lain, seperti dinding pipa yang sempit dinamakan gaya
adhesi. Bila gaya adhesi relative lebih besar terhadap gaya kohesi, seperti pada
kasus air dan permukaan gelas, campuran dikatakan membasahi permukaan bahan
lainnya. Dalam hal ini, permukaan kolom cairan dalam sebuah pipa adalah konkaf
diatas seperti ditunjukkan pada Gambar 6.2.

Gambar 6.2. Permukaan Cairan Dalam Pipa yang Sempit untuk Kasus Dimana
Gaya Adhesi Lebih Besar dari Gaya Kohesi

Sudut kontak c antara dinding dan permukaan menunjukkan kekuatan

relative gaya kohesi dan adhesi. Untuk cairan yang membasahi permukaan, sudut
kontak lebih kecil dari 900, seperti tampak pada Gambar 6.2. Bila gaya adhesi
relative lebih kecil terhadap gaya kohesi, seperti hanya air raksa dan gelas cairan

VI-5
tidak membasahi permukaan dan permukaan adalah konveksi seperti ditunjukkan
pada Gambar 6.3.

Gambar 6.3. Bila Gaya Kohesi Lebih Besar dari Gaya Adhesi, Permukaan Cairan
adalah Konveksi

Dalam hal ini, sudut kontak lebih besar dari 90 0. Gaya kohesi dan adhesi sulit

dihitung secara teoritis, tetapi sudut kontak c pada Gambar 6.2 dan 6.3 dapat

diukur. Untuk air raksa dan gelas, sudut itu sekitar 1400 (Tipler, 1998).
Sepotong kawat dibengkokkan menjadi U dan sepotong lagi digunakan
sebagai pelucur. Jika kerangka ini dicelupkan ke dalam larutan sabun lalu

diangkat kembali, kawat peluncur itu (jika beratnya W1 tidak terlalu besar) dengan
cepat tertarik ke atas. Peluncur ini dapat disetimbangkan dengan menambahkan
W2. Ternyata gaya F = W1 + W2 dapat menahan peluncur dalam sembarang posisi,
berapa pun luas selaput, asal saja suhu selaput konstan. Ini amat berlainan dengan
sifat elastis lembaran karet, dalam mana gaya tersebut akan menjadi lebih besar
kalau lembaran itu ditarik (Sears & Zemansky, 1983).
Gambar 6.4. Kawat Peluncur Horizontal Dalam Keadaan Seimbang Akibat Kerja
Gaya Permukaan 2 L dan Tarikan ke Bawah W1 + W2

Sebagai standar, tegangan permukaan air pada berbagai suhu adalah seperti
yang terdapat dalam tabel berikut ini:

VI-6
Tabel 6.1 Tegangan Permukaan Air (dyne/cm) pada Berbagai Suhu T (C)

T T T T

0 75,62 16 73,34 20 72,75 24 72,12

5 74,90 17 73,20 21 72,60 25 71,96

10 74,20 18 73,05 22 72,44 30 71,15

15 73,34 19 72,89 23 72,28 40 69,55

Permukaan cairan agar naik, diperlukan gaya dan kerja untuk membawa
molekul dari dalam ke permukaan. Kerja ini menaikkan energi potensial molekul
dan kadang kala disebut sebagai energi permukaan. Jumlah kerja yang diperlukan
untuk menaikkan luas permukaan dan dapat dihitung dari persamaan (Giancoli,
2001) :

W =F . x

L x
. . . (6.6)
W = A

Kebanyakan cairan dalam pipa kapiler mempunyai permukaan lebih tinggi


daripada permukaan di luar pipa. Ini terjadi, bila cairan membasahi bejana dalam
hal ini cairan membentuk permukaan yang cekung (concave). Bila cairan tidak
membasahi bejana, cairan membentuk permukaan yang cembung.
Cekung bila: gaya adhesi > kohesi
Cembung bila : gaya adhesi < kohesi
Pipa kapiler dengan jari-jari r dimasukkan dalam cairan yang membasahi
gelas. Dengan membasahi dinding bagian dalam,zat cair ini naik, kenaikkan ini
disebabkan oleh gaya akibat adanya tegangan muka (Sukardjo, 1997).
Tegangan permukaan suatu zat cair dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya suhu dan zat terlarut. Dimana zat terlarut dalam suatu cairan akan
mempengaruhi besarnya tegangan permukaan terutama molekul zat yang berada

VI-7
pada permukaan cairan berbentuk lapisan nonmolekuler yang disebut dengan
molekul surfaktan (Giancoli, 2001).

6.3 METEDOLOGI PERCOBAAN

6.3.1 Alat dan Rangkaian Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah du nouys tester, gelas
beker 250 mL, gelas arloji, thermometer, neraca analitik, sudip, gelas ukur 10 mL,
botol semprot dan pengaduk kaca.

Rangkaian Alat :
Keterangan:
1 Du nouys tester
2 Cincin Kawat
3 Gelas Beker 250 mL

VI-8
Gambar 6.5. Rangkaian Alat Du nouys tester

6.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah akuades, minyak goring, oli dan
larutan sabun.

6.3.3 Prosedur Percobaan


Langkah pertama alat dan bahan disiapkan serta dirangkai Du nouys tester
yang akan digunakan. Selanjutnya larutan sabun diambil dan ditimbang sebanyak
1 gram dengan neraca analitik. Kemudian larutan sabun dilarutkan dengan pelarut
akuades sebanyak 250 ml, diaduk dengan menggunakan kaca hingga homogen,
lalu larutan sabun dimasukkan ke dalam gelas beker sebanyak 250 ml, dan
suhunya diukur. Kemudian cincin kawat diletakkan di permukaan larutan sabun
lalu cincin kawat diangkat hingga selaput tipis pada samping cincin kawat pecah
dan dicatat sudut puntiran atau skala yang dihasilkan. Perbedaan diulang
sebanyak 3 kali. Selanjutnya tegangan permukaan dihitung, lalu gelas ukur 10 ml
ditimbang menggunakan neraca analitik. Kemudian larutan sabun dimasukkan
sebanyak 10 ml ke dalam gelas ukur dan ditimbang. Kemudian densitas larutan
sabun dihitung. Selanjutnya mengulangi percobaan dengan larutan Sabun dengan
akuades minyak goreng dan Oli.

VI-9
6.3.4 Flow Chart

6.3.4.1 Larutan Sabun

Sabun
- Ditimbang sebnyak 1 gram pada nerca analitik
Gelas Beker 150 mL

- Diisi dengan Sabun 1 gram dan akuades sebanyak 250 mL


- Diukur suhunya
Du nouys tester

- Diperiksa kelengakapan alat dan dipasang dengan benar


- Digantungkan cincin kawat ke permukaan larutan sabun
- Diangkat cincin dari permukaan larutan sabun
- Di catat sudut puntiran yang dihasilkan sebanyak 3 kali
- Dihitung tegangan permukaannya
Gelas ukur 10 mL

- Ditimbang berat kosong menggunakan neraca analitik


- Dimasukkan Larutan sabun 10 mL dan ditimbang
menggunakan neraca analitik
- Diperoleh massa larutan sabun
- Dihitung densitas larutan sabun.

Hasil

VI-10
6.3.4.2 Akuades

Gelas Beker 150 mL


- Diisi dengan akuades sebanyak 250 mL
- diukur suhunya
Du nouys tester

- Diperiksa kelengakapan alat dan dipasang dengan benar


- Digantungkan cincin kawat ke permukaan akuades
- Diangkat cincin dari permukaan akuades
- Di catat sudut puntiran yang dihasilkan sebanyak 3 kali
- Dihitung tegangan permukaannya
Gelas ukur 10 mL

- Ditimbang berat kosong menggunakan neraca analitik


- Dimasukkan Larutan sabun 10 mL dan ditimbang
menggunakan neraca analitik
- Diperoleh massa larutan sabun
- Dihitung densitas larutan sabun.
- Diualngi percobaan mengganti akuades dengan minyak dan oli
Hasil

6.4 HASIL DAN PEMBAHASAN

6.4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 6.2. Data Hasil Pengamatan pada akuades
Percoban ke Skala ()
1 9
2 10
3 9,5
Jumlah 28,5
Rata-rata 9,5

VI-11
Tabel 6.3. Data Hasil Pengamatan pada Minyak Goreng
Percoban ke Skala ()
1 7
2 6
3 6
Jumlah 19
Rata-rata 96,33

Tabel 6.4. Data Hasil Pengamatan pada Oli


Percoban ke Skala ()
1 5
2 4
3 5
Jumlah 14
Rata-rata 4,67

Tabel 6.5. Data Hasil Pengamatan pada Larutan Sabun

Percoban ke Skala ()
1 4
2 3,9
3 4,2
Jumlah 12,1
Rata-rata 4,03

VI-12
Tabel 6.6. Data Hasil Perhitungan Tegangan Permukaan () dan Densitas ()
Tegangan Permukaan () Densitas ()
No Cairan
(dyne/cm) ( gram/mL)
1 Akuades 71,47 0,99
2 Minyak goreng 47,88 0,9
3 Oli 35,15 0,87
4 Larutan Sabun 30,02 1,01

6.4.2 Pembahasan
Tegangan permukaan merupakan gaya atau tarikan ke bawah yang
menyebabkan permukaan cairan berkontraksi oleh suatu benda. Hal tersebut
disebabkan oleh gaya-gaya tarik antar muka cairan yang tidak seimbang. Gaya
kohesi menyebabkan permukaan zat cair menegang seperti ditutupi oleh suatu
lapisan elastis. Gaya kohesi sendiri merupakan gaya tarik menarik antar molekul
yang sejenis, sedangkan gaya adhesi merupakan gaya tarik menarik antar molekul
yang berbeda jenis. Tegangan permukaan terjadi karena adanya kohesi dibawah
zat cair lebih besar daripada kohesi di permukaan zat cair. Jika molekul cairan
lebih kuat daripada gaya adhesi maka permukaan cairan akan membentuk
lengkungan ke atas. Jika gaya adhesi lebih kuat permukaan cairan akan
membentuk lengkungan ke bawah. Tegangan yang terjadi pada air akan berkurang
dengan penambahan bahan sabun. Seperti pada Gambar 6.8 berikut :

VI-13
80
70
60
50
40
30
Tegangan Permukaan (dyne/cm)
20
10
0

Fluida

Gambar 6.8. Hasil Tegangan Permukaan Tiap Fluida

Berdasarkan gambar 6.8 , menunjukkan bahwa nilai tegangan permukaan


yang paling besar adalah akuades sebesar 71,47 dyne/cm. Nilai tegangan
permukaan terbesar kedua dengan nilai 47,88 dyne/cm adalah minyak goreng.
Nilai tegangan permukaan terbesar ketiga dengan nilai 35,15 dyne/cm adalah oli
dan yang terakhir dengan nilai tegangan permukaan sebesar 30,02 dyne/cm
adalah larutan sabun.
Hasil yang diperoleh dari percobaan tegangan permukaan ini disimpulkan
bahwa nilai tegangan permukaan akuades yang paling besar dibandingkan dengan
minyak goreng oli dan larutan sabun secara teori (Giancoli, 2001), nilai tegangan
permukaan akuades lebih besar dari oli dan minyak goreng. Hal ini dikarenakan
massa jenis akuades lebih besar daripada massa jenis oli dan minyak goreng. Hal
ini terjadi karena massa jenis suatu zat cair berbanding lurus dengan tegangan
permukaan zat cair sedangkan pada larutan sabun tegangan permukaan berada
pada yang paling rendah karena sabun adalah surfaktan yang dapat menurunkan
nilai tegangan permukaan (Douglas, 2001).
Berdasarkan hasil percobaan ini, nilai tegangan permukaan minyak goreng
lebih besar dari oli. hal ini membuktikan bahwa tegangan permukaaan tidak
hanya dipengaruhi oleh massa jenis, melainkan ada faktor suhu dan zat terlarut
(Stanford 1985). Tegangan permukaan banding minyak goreng lebih besar dari

VI-14
oli karena memiliki gaya tarik molekul yang tinggi (Giancoli, 2001) ini
menunjukkan bahwa jenis larutan juga mempengaruhi tegangan permukaan suatu
fluida.
Berdasarkan pembahasan yang telah dijabarkan, dapat ditarik kesimpulan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan antara lain adalah
suhu, zat terlarut, surfaktan dan jenis larutan. Oleh sebab itu tegangan permukaan
tidak dapat ditentukan dengan satu faktor saja, namun diperlukan peninjauan
dengan seluruh faktor.

VI-15
6.5 PENUTUP

6.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah tegangan permukaan
adalah gaya persatuan panjang yang dikerjakan secara sejajar dengan permukaan
untuk mengimbangi gaya tarikan ke dalam cairan. Prinsip kerja alat Du nouys
tester berdasarkan pada kenyataan bahwa gaya yang dibutuhkan untuk melepas
cincin yang tercelup pada zat cair sebanding dengan tegangan permukaan atau
tegangan antar muka. Nilai tegangan permukaan paling besar adalah akuades,
tegangan permukaan pada larutan sabun yang paling rendah karena sabun
mengandung surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan. Tegangan
permukaan pada cairan akuades adalah 71,47 dyne/cm, pada minyak 47,88
dyne/cm, pada oli 35,15 dyne/cm dan pada larutan sabun 30,02 dyne/cm.
Tegangan permukaan dipengaruhi oleh suhu, massa jenis, tekanan, konsentrasi zat
terlarut, kecepatan, surfaktan dan Jenis cairan itu sendiri.

6.5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah agar menggunakan
larutan lain seperti alkohol, gliserin dan larutan gula.

VI-16
LP-17

LAMPIRAN PERHITUNGAN

1 Menghitung tegangan permukaan pada akuades :

Diketahui : akuades pada T1 = 30C = 71,15 dyne/cm


: akuades pada T0 = 25C = 71,96 dyne/cm
Ditanya : akuades pada T2 = 28C =?
Penyelsaian :

T1 = 30
T2 = 28
T0 = 25
71,15 akuades 71,96

T 1T 2 T 1T 0
=
1akudes 1 0

3028 3025
=
71,15 71,1571,96

2 5
=
71,15 0,81

355,755 =1,62

5 =1,62355,75

5 =357,37

357,37
=
5

=71,474 dyne /cm

2 Menghitung tegangan permukaan pada minyak


Diketahui : akuades = 71,47 dyne/cm
akuades = 9,5
LP-18

minyak = 6,73
Ditanya : minyak =?

Penyelesaian :
minyak
minyak = akuades .
akuades

6,33
71,47 dyne /cm.
9,5

71,47 dyne /cm. 0,67

47,88 dyne /cm

3 Menghitung tegangan permukaan pada oli


Diketahui : akuades = 71,47 dyne/cm
akuades = 9,5
oli = 4,67
Ditanya : oli =?
Penyelesaian :
oli
oli = akuades .
akuades

4,67
71,47 dyne /cm
9,5

71,47 dyne / cm. 0,49

35,15 dyne /cm

4 Menghitung tegangan permukaan larutan sabun


Diketahui : akuades = 71,47 dyne/cm
akuades = 9,5
larutan sabun = 4,67
LP-19

Ditanya : larutan sabun =?

Penyelesaian :
larutan sabun
oli = akuades .
akuades

71,47 dyne 4,03


.
cm 9,5

71,47 dyne /cm. 0,42

30,02 dyne/cm

5 Menghitung densitas masing-masing fluida


Diketahui : m akuades = 9,9 gram
m minyak = 9 gram
m oli = 8,7 gram
m larutan sabun = 10,1 gram
v fluida = 10 mL
Ditanya : a. Densitas akuades
b. Densitas minyak
c. Densitas Oli
d. Densitas Larutan Sabun
Penyelesaian :
m 9,9 gram
a . Densitas akuades= = =0,99 gram/mL
v 10 mL

m 9 gram
b . Densitas minyak= = =0,9 gram/mL
v 10 mL
LP-20

m 8,7 gram
c . Densitas oli= = =0,87 gram/mL
v 10 mL

m 10,1 gram
d . Densitas larutan sabun= = =1,01 gram/mL
v 10 mL
ABSTRAK

Protein adalah monomer monomer asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida.
Percobaan analisa protein ini bertujuan untuk mempelajari reaksi kimia spesifik pada protein
(asam amino) serta memanfaatkan sifat kimia untuk identifikasi protein pada sampel. Sampel yang
digunakan dalam percobaan ini adalah susu dan putih telur. Asam amino adalah asam organik yang
mengandung gugus amino, -NH2 yang bersifat basa dan mengandung gugus karboksil, - COOH
yang bersifat asam. Ada dua puluh macam asam amino yang terdapat dalam protein dan
dibedakan menjadi asam amino esensial dan asam amino non esensial. Asam amino sangat
penting dalam proses pembentukan protein. Uji analisa ini dapat dilakukan melalui reaksi
Pengendapan, reaksi Biuret, reaksi Xanthoprotein, reaksi Hopkins-Cole, dan Millon Nasse.
Pada reaksi pengendapan, pada putih telur terbentuk endapan, sedangkan pada susu tidak
semuanya berbentuk endapan. Pada biuret kedua sampel terbentuk endapan berwarna ungu. Pada
reaksi Xanthoprotein kedua sampel terbentuk endapan atau lapisan yang berwarna orange
kekuningan. Pada reaksi Hopkins-Cole, pada sampel putih telur dan susu terbentuk endapan putih
yang lapisan atasnya berwarna kuning. Pada uji Millon Nasse pada sampel putih telur terbentuk
gumpalan putih dan pada susu larutan menjadi keruh.

Kata kunci : Biuret, Hopkins-Cole, Millon Nasse, Protein, Xanthoprotein.

PERCOBAAN VII
ANALISA PROTEIN

7.1 PENDAHULUAN

7.1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah:
1 Mempelajari reaksi kimia spesifik pada protein (asam amino).
2 Memanfaatkan sifat kimia untuk identifikasi protein pada sampel.

7.1.2 Latar Belakang


Protein adalah senyawa terpenting penyusun sel hidup. Senyawa ini terdapat
dalam semua jaringan hidup baik hewan maupun tumbuhan. Fungsi protein sangat
beragam antara lain sebagai sumber energi, pembangunan, pengatur dan
pertahanan.
Asam amino merupakan hasil hidrolisis dari protein. Untuk menganalisa
protein digunakan beberapa reaksi kimia. Analisa protein dapat dilakukan dengan
metode kualitatif terdiri atas reaksi xanthoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi
Millon-Nasse, reaksi Biuret dan reaksi pengendapan.

VII-2
Pengaplikasian protein dalam bidang industri, dapat digunakan dalam
bidang pangan, yakni susu, mentega, tepung terigu yang berpotensi dan kecap
ikan. Pada bidang kimia dapat dilakukan tes darah untuk mengetahui kadar
protein dalam darah. Dengan demikian, dalam melakukan percobaan analisa
protein ini. Praktikan dapat menambah kemampuan dan pengetahuan dalam hal
analisa protein ataupun sintesis protein.

VII-2
VII-3

7.2 DASAR TEORI

Protein adalah polipeptida yang terbentuk secara alami dengan berat molekul
lebih besar dari 5000 makromolekul ini mempunyai keanekaragaman sifat-sifat
fisik, mulai dari enzim-enzim yang dapat larut dalam air sampai keratin jaringan
rambut dan jaringan tanduk yang tidak dapat larut dalam air. Protein mempunyai
fungsi biologis yang sangat luas. Struktur dan sifat protein bergantung pada
sekuens asam amino dalam polipeptida. Protein terkonjugasi juga mengandung
senyawa lain yang terpisah dari asam amino. Bagian yang bukan merupakan asam
amino disebut gugus prostetik. Bagian yang bukan disebut juga gugus prostetik.
Bagian proteinnya disebut apoprotein, glikoprotein dan proteoglikan mengandung
karbohidrat yang terikat secara kovalen sedangkan lipoprotein mengandung lipid
sebagai gugus prostetik nya (Philips, 2002 : 17).
Semua atom dan molekulnya saling tarik-menarik sebagai akibat dari
interaksi sesaat atau antar dipol. Suatu molekul tidak harus mempunyai muatan
netto agar dapat ikut serta dalam interaksi dipolar. Kerapatan elektron dapat
bersifat sangat asimetrik jika atom-atom yang dingin traksi mempunyai
elektromagnetikan yang berbeda. Interaksi dipolar saat ini dikenal dengan
interaksi Van Der Waals. Interaksi ini termasuk lemah dan energinya tidak
bervariasi energi interaksi biasanya kurang dari 1 kJ.mol-1 (Philips, 2002 : 18-19).
Gugus asam amino dapat mengalami alkilasi, terutama yang lazim metilasi.
Betain 8 merupakan senyawa dipolar yang diperoleh dari glisin melalui sarkosin
dan juga dimetilglisin yang mengalami metilasi penuh. Jalan biosintesis menjadi
betain bermula dari serin yang mengalami fosforilasi, dekarbolaksilasi, metilasi
dan akhirnya oksidasi. Betain diisolasi dari Lycium Barbarum oleh Huseman pada
tahun 1896 dan oleh Scheibler dari gula beet, beta vulganis, pada tahun 1896
(Pine, 1998 : 176).
Fungsi protein ditentukan oleh konformasinya, atau pola lipatan tiga
dimensinya, yang merupakan pola dari rantai polipeptida. Beberapa protein,
seperti keratin rambut dan bulu, berupa serabut dan tersusun membentuk struktur
linear atau struktur seperti lembaran dengan pola lipatan berulang yang teratur.
VII-4

Protein lainnya, seperti kebanyakan enzim, terlipat membentuk konformasi


globular yang padat dan hampir menyerupai bentuk bola. Konformasi akhir
bergantung pada berbagai macam interaksi yang terjadi (Philips, 2002 : 18).
Protein tidak hanya bervariasi dalam jumlah dan urutan asam amino, tetapi
juga dalam alur rantai peptidanya. Rantai itu mungkin lurus, membelok, memutar,
melilit, dan melipat dalam tiga dimensi. Berdasarkan alur tersebut, protein dapat
dibagi atas struktur primer, sekunder, tersier, kuaterner (Syukri,1995 : 714) yaitu :
1 Struktur Primer
Protein disebut struktur primer apabila rantai peptida membujur dan membelok
sehingga terdapat penyempitan pada beberapa tempat dan terangkai oleh ikatan
s s , seperti pada insulin sapi.
2 Struktur Sekunder
Struktur sekunder suatu protein ditandai dengan adanya ikatan hidrogen antara
asam amino dalam rantai peptida. Ikatan itu dapat terjadi antara asam amino
yang agak berdekatan dalam rantai tersebut. Jika ikatan ini terjadi secara
terartur mengakibatkan rantai peptida melilit (berbentuk spiral), yang disebut
-heliks.
3 Struktur Tersier
Protein mempunyai struktur tersier apabila suatu untaian heliks melipat dan
bersilang berimpit beberapa kali sehingga membentuk gumpalan membolak
dengan demikian struktur menjadi lebih rumit.
4 Struktur Kuartener
Protein disebut berstruktur kuartener apabila mempunyai dua polipeptida atau
lebih yang bergabung disebut protomer, sedangkan proteinnya disebut
oligomer.
Seperti halnya lemak dan karbohidrat, protein adalah zat yang dibentuk oleh
sel-sel yang hidup lebih dari separuh zat yang berbentuk padat didalam jaringan-
jaringan manusia dan binatang mamalia terdiri atas protein. Protein mempunyai
peranan penting didalam tubuh manusia dan binatang, karena ia bertanggung
jawab untuk menggerakan otot-otot, protein hemoglobin mempunyai peranan
mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan ke seluruh tubuh. Sehingga
VII-5

protein sangat penting untuk masing-masing individu (Sastrohamidjojo,2006 :


116).
Protein adalah zat yang dibentuk oleh sel-sel yang hidup. Lebih dari separuh
zat-zat yang berbentuk padat di dalam jaringan-jaringan manusia dan binatang
mamalia terdiri atas protein. Protein mempunyai peranan yang penting di dalam
tubuh manusia dan binatang. Karena ia bertanggung jawab untuk menggerakan
otot-otot, protein hemoglobin mempunyai peranan mengangkut oksigen dari paru-
paru ke jantung dan jaringan seluruh tubuh sehingga protein sangat penting untuk
masing-masing individu. Berbeda dengan lemak dan karbohidrat dimana susunan
dasarnya adalah C, H dan O maka protein tersusun atas ketiga unsur tersebut dan
masih mengandung juga unsur-unsur seperti nitrogen, belerang, fosfor, besi dan
unsur-unsur yang lain. Presentase rata-rata dari unsur-unsur di dalam bermacam-
macam protein adalah kurang lebih sebagai berikut :

Karbon : 50 55 %
Hidrogen : 6.5 7.3 %
Oksigen : 20 24 %
Nitrogen : 15 18 %
Belerang : 0.4 2.5 %
Fosfor : 0.1 1.0 %

Kalau semuanya dijumlah ternyata kurang dari 100 %, hal ini karena adanya
unsur-unsur lain yang jumlahnya sangat sedikit. Presentase dari nitrogen di dalam
protein sangat dekat dengan 16%. Analisis ini digunakan untuk menafsir jumlah
protein dalam suatu bahan. Jumlah nitrogen yang diperoleh dengan analisa
berdasarkan Kjehldal dengan melipatkan dengan faktor 6,25 memberikan
presentasi protein dalam binatang dan tumbuh-tumbuhan. Protein terdapat antara
lain di dalam kulit, rambut, otot, tanduk, sutra, putih telur dan sebagainya. Protein
terdiri dari molekul-molekul yang besar (Sastrohamidjojo,2006 : 117-118).
Struktur protein terbagi menjadi beberapa tingkatan (Philips, 2002 : 23) :
1 Struktur primer, sekuens dari asam-asam amino
VII-6

2 Struktur sekunder, pola lipatan berulang yang teratur (seperti atau pelat ),
distabilkan oleh ikatan hidrogen antara gugus-gugus peptida dalam
sekuensnya.
3 Struktur supersekunder, struktur sekunder dengan motif berulang yang sama
yang terdapat dalam banyak protein. Pola-pola yang termasuk motif tersebut
adalah motif , motif jepit rambut , motif dan motif silinder .
4 Struktur tersier, segmen-segmen protein yang melipat secara tiga dimensi,
distabilkan oleh interaksi antara sekuens-sekuens yang berjauhan.
5 Struktur domain, domain adalah salah satu ciri umum pada banyak protein
globular berukuran besar. Sering kali domain-domain memiliki fungsi yang
berbeda-beda.
6 Struktur kuarter, interaksi antara rantai-rantai polipeptida yang berbeda
menghasilkan struktur oligometrik yang distabilkan hanya oleh ikatan
nonkovalen.
Bila suatu protein dihidrolisis dengan asam, alkali, atau enzim, akan
dihasilkan capuran-campuran asam amino. Sebuah asam amino terdiri dari sebuah
gugus amino, sebuah gugus karboksil, sebuah atom hidrogen dan gugus R yang
terikat pada sebuah atom C yang dikenal sebagai karbon , serta gugus R
merupakan rantai cabang. Semua asam amino berkonfigurasi dan mempunyai
konfigurasi L kecuali glisin yang tidak mempunyai atom C asimetrik. Hanya asam
amino L yang merupakan komponen protein. Karena itu penulisan isomer optik
jarang dilakukan, dan bila tidak ada tanda apa-apa maka yang disebut asam amino
L. Simbol D dan L tidak mewakili tanda rotasi optik tetapi menunjukkan
hubungan konfigurasi yang ditetapkan dengan konfigurasi senyawa aldehida atau
konfigurasi absolut (Keenan, 1992 : 401).
Kriteria yang biasanya digunakan untuk menentukan senyawa organik
seperti : titik cair, titik didih, berat mmolekul, bentuk kristal tidak dapat digunakan
dalam protein,. Dasar unutuk mengklasifikasikan protein terutama didasarkan atas
kelarutan protein dalam berbagai media. Protein digolongkan dan diklasifikasikan
sebagai berikut (Sastrohamidjojo, 2006 : 119-120 ) :
1 Albumin : Oleh panas menggumpal, larut dalam air dan
VII-7

dalam larutan garam yang encer. Albumin telur, albumin serum


terdapat dalam darah, laktatbumin dari susu.
2 Globulin : Terdapat dalam biji-bijian dan dalam darah
binatang. Mengumpal oleh panas, tak larut dalam air, larut
dalam larutan netral encer dari garam-garam dari asam-asam
kuat, basa kuat (NaCl, MgSO4).
3 Glutelin : Terdapat dalam biji-bijian. Tidak larut dalam air
atau dalam larutan-larutan encer, larut dalam asam atau alkali
encer. Glutelin terdapat dalam gandum.
4 Prolamin : Terdapat dalam sebangsa gandum atau padi. Tidak
latut dalam air, larut dalam alkohol 80%.
5 Albuminoid : Terdapat dalam jaringan , rambut, bulu, tanduk,
dan sebagainya. Tidak larut dalam air, larutan garam, asam
encer, atau alkali encer.
6 Hitsome : Tidak menggumpal oleh panas larut dalam air, atau
dalam larutan NH4OH encer. Histome terdapat dalam kelenjar
timus.
7 Protamin : Tidak mengumpal oleh panas, larut dalam larutan
ammonia dan dalam air.
Asam amino adalah senyawa dengan molekul yang mengandung baik gugus
fungsional amino maupun karboksil meskipun ratusan asam ini telah disintesis
hanya 20 yang telah diperoleh dengan hidrolisis protein dengan asam asam ini
gugus amino selalu terletak pada atom karbon di dekat gugus karboksil (Keenan,
1992 : 421) :

H N C C OH . . . (7.1)

H Z O

Dalam asam aminoasetat, glisina, asam amino tersederhana yang diperoleh


dari protein. Z dalam rumus tersebut adalah hidrogen dalam asam-asam lain, Z
VII-8

dapat berupa gugus alkil, suatu rantai karbon yang juga mengandung atom-atom
belerang, suatu gugus siklik, atau suatu gugusasam atua basa tambahan. Sifat-sifat
protein yang beraneka ragam diterangkan oleh keanekaragaman Z dan oleh
ukuran molekul protein.
7.3 METODOLOGI PERCOBAAN

7.3.1 Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah bunsen, pembakar
bunsen, gelas beker 100 mL dan 500 mL, gelas ukur 10 mL, tabung reaksi, rak
tabung reaksi, labu ukur 250 mL, gegep, pipet tetes dan botol semprot.

Rangkaian Alat :

Keterangan :
1 Rak Tabung Reaksi
2 Tabung Reaksi

Gambar 7.1 Rak Tabung Reaksi dan Tabung Reaksi

7.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah formaldehid
(1:500), akuades, HCl 1 M, H2SO4 10%, NaOH 1 N, CuSO4, H2SO4 pekat, HgSO4
1 %, NaNO4, putih telur entok, susu diamond fresh milk dan amonia serta
aluminium foil.

7.3.3 Prosedur Percobaan


7.3.3.1 Reaksi Pengendapan
7.3.3.1.1 Reaksi Pengendapam (asam dan basa)
Putih telur entok dipisahkan dari kuning telurnya. Putih telur entok
dimasukkan ke dalam gelas beker. Susu diamond fresh milk diambil. Susu
diamond fresh milk dimasukkan ke dalam gelas beker lainnya. Susu siamond fresh
milk dan putih telur entok diambil dan dimasukkan masing-masing sampel 1 mL
VII-9

ke dalam gelas ukur menggunakan pipet tetes. Masing-masing sampel dituang


dari gelas ukur ke tabung reaksi. Masing-masing tabung reaksi ditambahkan 2 mL
akuades. Masing-masing sampel ditambahkan 11 tetes HCl 1 M. Sampel dikocok
hingga sempurna. Kemudian sampel ditambahkan 11 tetes NaOH. Sampel
dikocok lagi hingga terbentuk endapan atau gumpalan putih. Bentuk fisik sampel
diamati dan dicatat perubahannya kemudian sampel difoto.

7.3.3.1.2 Reaksi Pengendapan (HNO3)


Susu diamond fresh milk dan putih telur entok diambil dan dimasukkan
masing-masing sebanyak 1 mL ke dalam gelas ukur menggunakan pipet tetes.
Masing-masing sampel dituangkan dari gelas ukur ke tabung reaksi. Kemudian
masing-masing tabung reaksi ditambahkan 2 mL akuades. Masing-masing sampel
ditambahkan 1 mL HNO3 pekat. Sampel dipanaskan hingga mendidih. Bentuk
fisik sampel diamati dan dicatat perubahannya. Sampel didinginkan dan diamati
lagi. Kemudian sampel difoto.

7.3.3.1.3 Reaksi Pengendapn Murni


Susu diamond fresh milk dan putih telur entok diambil dan dimasukkan
masing-masing 1 mL ke dalam geals ukur menggunakan pipet tetes. Masing-
masing sampel dituangkan dari gelas ukur ke tabung reaksi. Masing-masing
sampel ditambahkan 2 mL akuades. Kemudian sampel dipanaskan hingga
mendidih. Bentuk fisik sampel diamati dan dicatat perubahannya kemudian
sampel difoto.

7.3.3.1.4 Reaksi Pengendapan Asam Asetat


Susu diamond fresh milk dan putih telur entok diambil dan dimasukkan
masing-masing 1 mL ke dalam gelas ukur menggunakan pipet tetes. Masing-
masing sampel dituangkan dari gelas ukur ke tabung reaksi. Masing-masing
sampel ditambahkan 2 mL akuades menggunakan gelas ukur. Kemudian sampel
ditambahkan 11 tetes asam asetat. Bentuk fisik sampel diamati dan dicatat
perubahannya. Kemudian sampel difoto.
VII-10

7.3.3.2 Reaksi Biuret


Susu diamond fresh milk dan putih telur entok diambil dan dimasukkan
masing-masing sebanyak 1 mL ke dalam gelas ukur menggunakan pipet tetes.
Masing-masing sampel dituangkan dari gelas ukur ke tabung reaksi. Masing-
masing sampel ditambahkan 2 mL akuades. Kemudian sampel ditambahkan 5
tetes CuSO4 dan NaOH. Sampel dikocok hingga sempurna. Bentuk fisik sampel
diamati dan dicatat perubahannya. Kemudian sampel difoto.

7.3.3.3 Reaksi Xanthoprotein


Susu diamond fresh milk dan putih telur entok diambil dan dimasukkan
masing-masing 1 mL ke dalam gelas ukur menggunakan pipet tetes. Masing-
masing sampel dituangkan dari gelas ukur ke tabung reaksi. Masing-masing
sampel ditambahkan 1 mL HNO3 pekat. Kemudian sampel dikocok. Bentuk fisik
sampel diamati dan dicatat perubahannya. Kemudian sampel difoto. Kemudian
sampel ditambahkan 5 tetes amonia. Kemudian sampel dikocok. Bentuk fisik
sampel diamati dan dicatat perubahannya. Kemudian sampel difoto.

7.3.3.4 Reaksi Millon-Nasse


Susu diamond fresh milk dan putih telur entok diambil dan dimasukkan
masing-masing sebanyak 1 mL ke dalam gelas ukur menggunakan pipet tetes.
Masing-masing sampel dituangkan dari gelas ukur ke tabung reaksi. Sampel
ditambahkan 8 tetes. Kemudian sampel dipanaskan dan diamati perubahannya
kemudian sampel didinginkan. Sampel ditambahkan NaNO 3 8 tetes. Sampel
dipanaskan lagi. Bentuk fisik sampel diamati dan dicatat perubahannya.
Kemudian sampel difoto.

7.3.3.5 Reaksi Hopkins-Cole


Susu diamond fresh milk dan putih telur entok diambil dan dimasukkan
masing-masing sebanyak 1 mL ke dalam gelas ukur menggunakan pipet tetes.
Masing-masing sampel dituangkan dari gelas ukur ke tabung reaksi. Sampel
VII-11

ditambahkan formaldehid, HgSO4 dan asam sulfat (H2SO4) masing-masing


sebanyak 6 tetes, 4 tetes dan 5 tetes. Sampel dikocok. Bentuk fisik sampel diamati
dan dicatat perubahannya. Kemudian smapel difoto.
VII-12

4 Flow Chart
1 Penyiapan Bahan

Telur Entok
- Dipisahkan putih dan kuningnya
- Dimasukkan ke dalam gelas beker 100 mL
- Ditutup dengan aluminium foil
Hasil

Susu diamond fresh milk

- Dimasukkan ke dalam gelas beker 100 mL


- Ditutup dengan aluminium foil
Hasil

Gambar 7.2 Diagram alir Penyiapan Bahan

2 Reaksi Pengendapan
1 Reaksi Pengendapan (Asam dan Basa)

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel telur ke dalam tabung reaksi
- Ditambah 2 mL akuades
- Ditambah 11 tetes HCl
- Ditambah 11 tetes NaOH
Hasil
VII-13

Tabung Reaksi

- Diisi 1 mL sampel susu ke dalam tabung reaksi


- Ditambah 2 mL akuades
- Ditambah 11 tetes HCl
- Ditambah 11 tetes NaOH
Hasil

Gambar 7.3 Diagram Alir Reaksi Pengendapan (Asam dan Basa)

2 Reaksi Pengendapan (HNO3 pekat)

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel telur ke dalam tabung reaksi
- Ditambah 1 mL HNO3 pekat
- Ditambah 2 mL akuades
- Dipanaskan hingga mendidih
Hasil

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel susu ke dalam tabung reaksi
- Ditambah 1 mL HNO3 pekat
- Ditambah 2 mL akuades
- Dipanaskan hingga mendidih
Hasil

Gambar 7.4 Diagram Alir Reaksi Pengendapan (HNO3 pekat)


VII-14

3 Reaksi pengendapan Murni

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel telur ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan 2 mL akuades
- Dipanaskan
Hasil

Tabung Reaksi

- Diisi 1 mL sampel susu ke dalam tabung reaksi


- Ditambahkan 2 mL akuades
- Dipanaskan
Hasil

Gambar 7.5 Diagram Alir Reaksi Pengendapan Murni

4 Reaksi Pengendapan Asam Asetat

Tabung Reaksi

- Diisi 1 mL sampel telur ke dalam tabung reaksi


- Ditambahkan 1 mL akuades
- Ditambahkan 11 tetes asam asetat
Hasil

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel susu ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan 1 mL akuades
- Ditambahkan 11 tetes asam asetat
Hasil

Gambar 7.6 Diagram Alir Reaksi Pengendapan Asam Asetat


VII-15

3 Reaksi Biuret

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel telur ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan 2 mL akuades
- Ditambahkan 5 tetes CuSO4 dan NaOH
- Dikocok hingga sempurna
Hasil

Tabung Reaksi

- Diisi 1 mL sampel susu ke dalam tabung reaksi


- Ditambahkan 2 mL akuades
- Ditambahkan 5 tetes CuSO4 dan NaOH
- Dikocok hingga sempurna
Hasil

Gambar 7.7 Diagram Alir Reaksi Biuret

4 Reaksi Xanthoprotein

Tabung Reaksi

-Diisi 1 mL sampel telur ke dalam tabung reaksi


-Ditambahkan 2 mL akuades
-Ditambahkan 1 mL HNO3 pekat
-Dikocok
-Dibagi menjadi dua bagian

Tabung Reaksi Tabung Reaksi

Tidak ditambah amonia Ditambah amonia


Hasil Hasil
VII-16

Tabung Reaksi

-Diisi 1 mL sampel susu ke dalam tabung reaksi


-Ditambahkan 2 mL akuades
-Ditambahkan 1 mL HNO3 pekat
-Dikocok
-Dibagi menjadi dua bagian

Tabung Reaksi Tabung Reaksi

Tidak ditambah amonia Ditambah amonia


Hasil Hasil

Gambar 7.8 Diagram Alir Reaksi Xanthoprotein

5 Reaksi Millon-Nasse

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel telur ke dalam tabung reaksi
- Ditambah 8 tetes HgSO4
- Dipanaskan
- Didinginkan
- Ditambahkan 8 tetes NaNO3
Hasil

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel susu ke dalam tabung reaksi
- Ditambah 8 tetes HgSO4
- Dipanaskan
- Didinginkan
- Ditambahkan 8 tetes NaNO3
Hasil

Gambar 7.9 Diagram Alir Reaksi Millon-Nasse


VII-17

6 Reaksi Hopkins-Cole

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel telur ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan formaldehid 6 tetes
- Ditambahkan HgSO4 4 tetes
- Ditambahkan H2SO4 5 tetes.
- Dikocok dengan kuat
Hasil

Tabung Reaksi
- Diisi 1 mL sampel susu ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan formaldehid 6 tetes
- Ditambahkan HgSO4 4 tetes
- Ditambahkan H2SO4 5 tetes.
- Dikocok dengan kuat
Hasil

Gambar 7.10 Diagram Alir Reaksi Pengendapan Hopkins-Cole


VII-18

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

7.4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 7.1 Hasil Pengamatan Reaksi Pengendapan
Hasil Pengamatan
No. Langkah Percobaan Susu Diamond Putih Telur
fresh milk Entok
Menyiapkan masing-masing 1
1. mL sampel sabanyak 4 tabung
reaksi
Menambahkan 2 ml akuades Warna putih Warna bening
Menambahkan NaOH 11 tetes Warna putih Warna bening
2.a. Terbentuk
Terbentuk
Menambahkan HCl 11 tetes endapan bening
endapan putih
dan cairan putih
Menambahkan 2 ml akuades Warna putih Warna bening
2.b Terbentuk Terbentuk
Menambahkan 1 mL HNO3
. endapan gumpalan putih
pekat
berwarna putih keruh
Menambahkan 2 ml akuades Warna putih Warna bening
2.c. Menambahkan 11 tets asam Terbentuk Terbentuk
asetat endapan putih gumpalan putih
2.d Menambahkan 2 mL akuades Terbentuk Terbentuk
. memanaskan hingga mendidih endapan putih endapan putih
VII-19

Tabel 7.2 Hasil Pengamatan Reaksi Biuret


Hasil pengamatan
No
Langkah Percobaan Susu Diamond Putih Telur
. fresh milk Entok
Menyiapkan masing-masing 1
1. mL sampel ke dalam tabung
reaksi
2. Menambahkan 2 ml akuades Warna putih Warna bening
Larutan Endapan bening,
Menambahkan 4 tetes NaOH berwarna ungu
3. lapisan tengah
serta 4 tetes CuSO4 5% dan terdapat biru, warna ungu
endapan biru pada bagian atas

Tabel 7.3 Hasil Pengamatan Reaksi Xanthoprotein

No Hasil Pengamatan
Langkah Percobaan Susu Diamond
. Putih Telur Entok
fresh milk
Menyiapkan masing-masing 1
1. mL sampel ke dalam tabung
reaksi
2. Menambahkan 2 ml akuades Warna putih Warna bening
Menambahkan 1 mL HNO3
3. Warna putih Warna bening
pekat serta memanaskan
Gumpalan putih
4. Tanpa amonia Endapan bening
kekuningan
5. Menambahkan amonia Endapan kuning Endapan bening
VII-20

Tabel 7.4 Hasil Pengamatan Millon-Nasse (untuk triptopan)

No Hasil Pengamatan
Langkah Percobaan Susu Diamond Putih Telur
. fresh milk Entok
Menyiapkan masing-masing 1
1. mL sampel ke dalam tabung
reaksi
Menambahkan 8 tetes reagen Terbentuk endpan Terbentuk endpan
2.
mercuri dan dipanaskan putih putih
Terbentuk
Didinginkan dan
endapan kuning Endapan putih
3. menambahkan NaNO3 8 tetes
cairan putih cairan bening
serta dipansakan
kuning

Tabel 7.5 Hasil Pengamatan Reaksi Hopkins-Cole

No Hasil Pengamatan
Langkah Percobaan Susu Diamond Putih Telur
. fresh milk Entok
Menyiapkan sampel ke dalam
1.
tabung reaksi
Menambahkan 4 tetes reagen Terbentuk cairan Terbentuk cincin
2. mercuri dan 6 tetes berwarna merah berwarna merah
formaldehid ( 1 : 500 ) muda muda kekuningan
Terbentuk cincing Terbentuk cincin
Menambahkan 5 tetes asam
3. berwarna merah berwarna merah
sulfat (H2SO4)
muda muda kekuningan
VII-21

7.4.2 Pembahasan
7.4.2.1 Reaksi Pengendapan
Pada percobaan ini sampel yang digunakan adalah susu Diamond fresh
milk dan putih telur entok. Reaksi pengendapan adalah terbentuknya gumpalan
yang dikarenakan sampel dipengaruhi pemanasan. pH dan zat tambahan seperti
HNO3 yang menyebabkan protein rusak atau denaturasi. Denaturasi adalah proses
pemecahan ikatan hidrogen, interaksi hidrofilik, ikatan garam dan terbentuknya
lipatan atau molekul yang mengakibatkan protein menggumpal (Winarno, 2002).
Pada tabung reaksi pertama, menambahkan 2 mL akuades pada sampel
untuk melarutkan asam amino. Pada percobaan penambahan 11 tetes HCl dan 11
tetes NaOH mengakibatkan terbentuknya endapan karena perubahan keasaman
mempercepat endapan. Disamping itu, funsi penambahan NaOH untuk
menetralkan HCl sehingga larutan hampir netral. Reaksi yang terjadi pada proses
ini adalah :

R CH COOH + HCl R CH COOH


| |
NH2 NH3Cl
Asam amino Asam klorida Endapan/Gumpalan . . . (7.2)

R CH COOH + NaOH R CHCOONa H2O


| |
NH3+ + Cl NH3+ + Cl- . . . (7.3)

Pada persamaan 7.2 dan 7.3 menunjukkan pada tabung reaksi pertama
yaitu sampel menambahkan aquades dan 11 tetes HCl. Kemudian menambahkan
NaOH sebanyak 11 tetes. Penambahan HCl menyebabkan terbentuknya endapan
pada sampel. Seperti pada gambar berikut :
VII-22

Endapan berwarna bening


E n d a p a n b e rw ar n a
Endapan berwarna p u t i h me m b a s a h i
bening diding

(a) (b)
Gambar 7.11 Hasil Sampel pada Pengendapan Susu (a). dan Telur; (b). Saat
penambahan HCl dan NaOH

Berdasarkan gambar 7.11 terlihat bahwa perbdaan jenis endapan pada susu
dan telur berbeda. Hal ini dikarenakan penambahan HCl yang sifatnya menambah
sifat asam pada sampel . Selain itu penambahan NaOH melarutkan endapan.
Namun dari hasil percobaan menunjukkan pemisahan antara sampel dan NaOH.
Reaksi pengendapan kedua yaitu dengan menambahkan HNO3 pekat pada
sampel. Reaksi yang terjadi adalah :

R CHOOH + HNO3 R CHCOOH


| |
NH3+ + Cl NH3+ + NO3- . . . (7.4)

Pada persamaan reaksi (7.4) menunjukkan bahwa mekanisme pada tabung


reaksi kedua yaitu dengan menambahkan HNO3 sehingga membentuk gumpalan
berwarna kuning seperti pada gambar berikut :

Endapan berwarna Terbentuk gumpalan


putih-kuning putih
VII-23

a (b)
Gambar 7.12 Hasil Pengamatan Sampel pada Susu (a) dan Telur (b) Saat
Penambahan HNO3

Berdasarkan gambar 7.12 terlihat perbedaan terbentuknya gumpalan pada telur (b)
dan endapan pada susu (a). Terbentuknya gumpalan dan endapan pada sampel
karena penambahan ion H+ dari HNO3 menyebabkan perubahan pH sehingga
terjadi denaturasi.
Reaksi pengendapan ketiga dilakukan dengan cara penambahan asam
asetat encer sebanyak 11 tetes. Reaksi yang terjadi adalah :

R CH COOH + CH3COOH R CH COOH


| |
NH2+ H3NCH3COO . . . (7.5)

Persamaan reaksi (7.5) menunjukkan bahwa mekanisme pada tabung


reaksi ketiga yaitu dengan penambahkan asam asetat (CH3COOH) sehingga
membentuk endapan berwarna putih seperti pada gambar berikut :

Terbentuk Endapan
Tidak ada endapan Putih Melayang
VII-24

a (b)
Gambar 7.13 Hasil Pengamatan pada Susu (a) dan Telur (b) pada
Penambahan Asam Asetat

Berdasarkan Gambar 7.13 terlihat bahwa tabung reaksi ketiga, sampel


mengalami denaturasi sehingga membentuk endapan putih (a) dan endapan putih
melayang pada telur (b).
Reaksi pengendapan keempat dilakukan dengan penambahan akuades dan
dipanaskan. Pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi. Proses ini
ditandai dengan terbentuknya endapan pada sampel. Seperti pada Gambar berikut
:

Tidak terbentuk Terbentuk


Endapan Putih Endapan Putih
VII-25

a (b)
Gambar 7.14 Hasil Pengamatan pada Susu (a) dan Telur (b) dengan
pemanasan

Berdasarkan Gambar 7.14 terlihat bahwa tabung reaksi keempat, pada


susu (a) tidak mengalami pengendapan karena terjadi pemanasan mendadak dan
pada telur (b) mengalami denaturasi sehingga membentuk endapan putih pada
telur.

7.4.2.2 Reaksi Biuret


Prinsip kerja reaksi biuret (Albert, 1994) adalah reaksi antara tembaga
sulfat dalam alkali dengan senyawa yang berisi dua atau lebih ikatan peptida.
Warna ungu biru yang dihasilkan menunjukkan reaksi positif adanya protein.
Reaksi yang terjadi adalah :
O O=C C=O
O CH C HN NH
CN NH CH + Cu2+ RCH HCR
OH
R C Cu2+ C
OH HN+ HN+
RCH HCR ...(7.6)
Larutan protein reagen biuret kompleks ungu
Persamaan reaksi (7.6) menunjukkan sampel membentuk ikatan kompleks
antara Cu2+ dengan gugus CO dan NH dari ikatan peptida pada sampel. Hal ini
VII-26

dibuktikan pada percobaan dimana sampel menunjukkan warna positif, yaitu


warna ungu dan warna biru. Seperti pada Gambar berikut :

a (b)
Gambar 7.15 Hasil Pengamatan pada Susu (a) dan Telur (b) dengan

Terjadi perubahan
Terjadi perubahan warna ungu
warna biru

penambahan NaOH dan CuSO4

Berdasarkan Gambar 7.15 terlihat bahwa tabung reaksi, pada susu (a)
terjadi perubahan warna biru keungu-unguan dan pada telur (b) terjadi perubahan
warna ungu, karena membentuk ikatan kompleks antara Cu2+ dengan gugus CO
dan NH dari ikatan peptida pada sampel.

7.4.2.3 Reaksi Xanthoprotein


Reaksi ini diawali dengan penambahan NaOH pekat pada larutan protein
(Sundin, 2005) serta dilanjutkan dengan pemanasan dan menghasilkan endapan
kuning yang merupakan cincin benzena. Hasil positif menunjukkan terbentuknya
endapan berwarna kuning. Penambahan HNO3 pada percobaan ini berfungsi
sebagai reagent yang breaksi dengan cincin benzena pada protein, sehingga akan
membentuk senyawa nitro. Penambahan HNO3 pada sampel membentuk reaksi
berikut :

O O2N O
HO CH2 CH C OH + HNO3 HO CH2-CH-C-OH
VII-27

NH2 ...(7.7)
Cincin Fenil asam asetat nitro benzena

Pada persamaan reaksi (7.7) menunjukkan mekanisme pada tabung yaitu


sampel menambahkan asam nitrat (HNO3). HNO3 akan bereaksi dengan sampel
yang mengandung cincin benzena sehingga membentuk senyawa nitro. Sehingga
pada percobaan ini endapan yang dihasilkan berwarna bening dan gumpalan
berwarna putih kekuningan. Warna tersebut dihasilkan dari senyawa nitro benzena
yang terbentuk. Seperti pada Gambar berikut :

Terdapat endapan Terdapat gumpalan


bening putih kekuningan

a (b)
Gambar 7. 16 Hasil Pengamatan pada Susu (a) dan Telur (b) dengan
penamabahan HNO3

Berdasarkan Gambar 7.16 terlihat bahwa tabung reaksi, pada susu (a)
terjadi endapan bening dan pada telur (b) terdapat gumpalan berwarna putih
kekuningan, karena HNO3 bereaksi dengan sampel yang mengandung cincin
benzena dan membentuk senyawa nitro.
Penambahan amonia pada percobaan ini mengakibatkan larutan berwarna
kuning. Sehingga amonia berfungsi untuk memperjelas adanya ikatan benzena.
Seperti pada Gambar berikut :

Terdapat
endapan
berwarna
Terdapat endapan putih
bening kekuningan
VII-28

a (b)
Gambar 7.17 Hasil Pengamatan pada Susu (a) dan Telur (b) dengan
penambahan HNO3 dan amonia

Berdasarkan Gambar 7.17 terlihat bahwa tabung reaksi, pada susu (a)
terjadi endapan bening dan pada telur (b) terdapat endapan berwarna putih
kekuningan, karena amonia berfungsi memperjelas ikatan benzena.

7.4.2.4 Reaksi Millon-Nasse


Reaksi Millon-Nasse dibuat dengan melarutkan merkuri di dalam asam
nitrat pekat. Larutkan dengan air. Reaksi ini positif untuk fenol. Karena protein
yang mengandung tirosin akan memberikan hasil yang positif (Teguh, 2012).
Reaksi yang terjadi adalah :

H+ NaNO3 O
HO CH2 CH CO2H + HgNO3 O2N CH2-CH C
kalor NH2 O- Hg+ ...(7.8)
tirosin reagen merkuri endapan merah bata
Pada persamaan reaksi (7.8) menunjukkan mekanisme pada tabung reaksi
yaitu menambahkan reagen ke dalam sampel. Memanaskan lalu mendinginkan
lalu menambahkan 8 tetes NaNO3. Penambahan reagen pada sampel membuat
sampel membentuk endapan putih. Seperti pada Gambar berikut :
VII-29

Terdapat endapan
kuning
Terdapat endapan
kuning
a (b)
Gambar 7.18 Hasil Pengamatan pada Susu (a) dan Telur (b) dengan
penambahan reagen merkuri (HgSO4 dan H2SO4), dan
NaNO3
Berdasarkan gambar 7.18 terlihat bahwa tabung reaksi, pada susu (a)
terjadi endapan kuning dan pada telur (b) terdapat endapan berwarna kuning, pada
percobaan yang dilakukan sampel tidak membentuk endapan merah bata dan
hanya membentuk endapan kuning karena sampel belum bereaksi sempurna.
Penambahan NaNO3 berfungsi untuk memekatkan endapan yang terbentuk.

7.4.2.5 Reaksi Hopkins-Cole


Uji ini dilakukan untuk menunjukkan adanya asam amino triptofan. Reaksi
positif ditunjukkan dengan adanya cincin pada bidang batas (Arina, 2005). Reaksi
yang terjadi adalah :
O CH2 CH
CH2 CH COOH + H C COOH COOH
NH2 C = NH ...(7.9)
NH Triptopan asam formaldehid kompleks berwarna violet
Pada persamaan reaksi (7.9) menunjukkan mekanisme pada tabung reaksi
yaitu sampel ditambahkan reagen merkuri sulfat sebanyak 4 tetes, formaldehid
(1:500) sebanyak 6 tetes, dan H2SO4 sebanyak 5 tetes. Larutan protein pada
sampel yang mengandung triptofan direaksikan dengan asam formil format

Terdapat endapan
kuning
VII-30

membuat gugus idol menjadi senyawa berwarna violet. Fungsi penambahan asam
sulfat adalah sebagai oksidator agar terbentuk cincin pada larutan sampel.
Pada percobaan ini sampel menunjukkan reaksi positif dengan adanya
lingkaran cincin berwarna merah muda pada bidang batas. Seperti pada Gambar
7.19 berikut :

terbentuk cincin
pink terbentuk cincin
pink kekuningan

a (b)
Gambar 7.19 Hasil Pengamatan pada Susu (a) dan Telur (b) dengan
penambahan reagen merkuri (HgSO4 dan H2SO4),
formaldehid dan H2SO4

Berdasarkan gambar 7.19 terlihat bahwa tabung reaksi, pada susu (a)
terbentuk cincin pink dan pada telur (b) terbentuk cincin pink kekuningan. Karena
protein pada sampel yang mengandung triptopan bereaksi dengan asam formil
format membuat gugus indol. Dan asam sulfat berfungsi sebagai oksidator agar
terbentuk cincin pada sampel.

5 PENUTUP

7.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
VII-31

1 Reaksi pengendapan, positif dengan terbentuknya endapan pada kedua sampel.


Reaksi ini menunjukkan bahwa protein mengalami denaturasi, yaitu rusaknya
molekul protein karena adanya perubahan pH, adanya perubahan suhu, dan
adanya zat-zat pengganggu.
2 Reaksi biuret, menunjukkan adanya ikatan peptida lebih dari satu pada molekul
protein. Uji ini positif dengan terbentuknya gumpalan, dan adanya perubahan
warna menjadi ungu.
3 Reaksi xanthoprotein, menunjukkan adanya nitrasi inti benzena pada molekul
protein. Uji ini positif dengan terbentuknya endapan dan gumpalan berwarna
kuning pada sampel.
4 Reaksi Millon-Nasse, bertujuan untuk menunjukkan adanya gugus fenol pada
asam amino. Uji ini positif ditandai dengan adanya endapan berwana putih
kekuningan pada putih telur dan endapan kuning pada susu.
5 Reaksi hopkins-cole, bertujuan untuk menunjukkan adanya gugus fenol pada
protein. Uji ini positif dengan lingkaran atau cincin.

7.5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah agar sampel dapat
menggunakan produk selain susu dan telur, seperti daging ikan. Untuk menambah
wawasan praktikum mengenai analisis protein.
ABSTRAK

Glukosa adalah bahan makanan bagi sel manusia dan merupakan sumber karbon untuk
sintesis senyawa lainnya. Percobaan ini bertujuan menganalisa pati tepung maizena untuk
menentukan kadar glukosa.. Pati tepung maizena di hidrolisi dengan larutan HCl 1 N pada suhu 80
C selama 60 menit. Larutan hasil hidrolisis dinetralkan dengan NaOH O,1 N. Penambahan NaOH
bertujuan untuk menetralkan asam berlebih pada larutan. Larutan yang telah dinetralkan
ditambahkan fehling A dan fehling B. Larutan campuran dititrasi dengan glukosa standar dan
volume titran yang didapatkan sebanyak 12,3 mL. Hasil perhitungan kadar glukosa yang diperoleh
dari 2,5 gram pati tepung maizena sebesar 16 %.

Kata kunci : Glukosa, Pati, Fehling, Titrasi, Hidrolisis

PERCOBAAN VIII
ANALISIS GLUKOSA

8.1 PENDAHULUAN

8.1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan percobaan ini adalah menganalisa bahan alam yang berupa bahan
makanan untuk menentukan kadar glukosa.

8.1.2 Latar Belakang


Glukosa adalah bahan makanan bakar bagi sel manusia dan merupakan
sumber karbon untuk sintesis senyawa lainnya. Senyawa jenis sel manusia
menggunakan glukosa untuk memperoleh energi. Glukosa merupakan
monosakarida yang paling umum dan senyawa organik yang paling banyak
terdapat di alam.
Percobaan ini bertujuan agar praktikum dapat memahami cara mendeteksi
ada atau tidaknya glukosa pada bahan makanan yang mengandung pati. Salah satu
metode untuk analisis glukosa adalah hidrolisis. Hidrolisis merupakan reaksi


pengikatan gugus hidrolisis atau OH oleh suatu senyawa. Hasil akhir yang

VIII-2
didapatkan adalah volume titran yang digunakan untuk menghitung kadar
glukosa.
Aplikasinya dibidang industri farmasi adalah penggunaan pati sebagai
bahan penyusun dalam serbuk amur dan sebagai bahan pembantu dalam
pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahan pengisi tablet dan pembuatan
tablet dengan cara granulasi basah. Percobaan ini penting untuk dilakukan agar
praktikan dapat memahami bagaimana cara untuk menentukan kadar glukosa yang
terkandung dalam suatu bahan

8.2 DASAR TEORI

Karbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton yang


mempunyai rumus molekul umum (CH2OH). Yang pertama lebih dikenal sebagai
golongan aldusan, yang kedua adalah ketosa. Dari rumus umum dapat diketahui
bahwa karbohidrat adalah suatu polimer. Senyawa yang yang menyusunnya
adalah suatu monomer-monomer. Dari jumlah monomer yang menyusun polimer
itu, maka kerbohidrat digolongkan menjadi: monosakarida, disakarida, trisakarida,
dan seterusnya sampai polisakarida, bilamana jumlah monomer yang
menyusunnya berturut-turut adalah satu, dua, tiga dan banyak. Untuk mudahnya
biasanya dibagi menjadi tiga golongan yaitu monosakarida, oligosakarida,
mengandung 2 sampai 10 monomer dan polisakarida lebih dari sepuluh
(Martoharsono, 2006).
Pati adalah bentuk polimer glukosa pada tumbuh-tumbuhan dan glikogen
mempunyai peran yang sama pada binatang. Sebagian besar unit glukosa pada
pati dan gliogen terdapat dalam ikatan -1,4. Glikogen mempunyai percabangan
yang dibentuk oleh ikatan-ikatan -1,6. Lebih banyak dari yang terdapat pada pati,
yang membuat gikogen lebih mudah larut selulusa, polimer struktural utama
dinding sel tumbuh-tumbuhan, terdiri dari unit-unit glukosa yang berikatan

VIII-2
melalui -1,4. Ikatan ini menimbulkan rantai lurus panjang yang membentuk serat
dengan daya rentang tinggi. Sangat berbeda, ikatan-ikatan pada pati dan
glukogen menyebabkan pilihan-pilihan terbuka, sesuai dengan perannya sebagai
simpanan energi yang dapat dimobilutasi (Stryer,1996).
Monosakarida dapat digolongkan berdasarkan gugusan fungsional utama
(aldehid atau keton) dan jumlah atom karbon dalam rantai karbon. Jika suatu
monosakarida adalah suatu aldehid, maka digolongkan sebagai aldosa. Jika suatu
keton, maka digolongkan ketosa.
Monosakarida dengan tiga atom karbon digolongkan sebagai triosa, dengan
empat atom karbon, tetrosa dan seterusnya. Kedua cara penggolongan ini dapat
digabungkan. Misalnya aldoheksosa adalah aldehid monosakarida dengan enam-
karbon dan suatu keto-heksoda adalah keton monosakarida dengan enam karbon.
Apabila ketosa digolongkan dengan baik gugusan fungsional maupun jumlah
karbon yang dimilikinya, akhiran-ulosa sering digunakan. Misalnya suatu
ketoheksosa dapat digolongkan sebagai suatu heksulosa (Fessenden,1997).
Golongan karbohidrat dapat dihubungkan satu sama lain dengan hidrolisa.
Gula sederhana, atau monosakarida adalah polihidroksi aldehid dan keton yang
tidak dapat dihidrolisa menjadi bagian karbohidrat yang lebih kecil. Monosakarida
dengan demikian adalah monomer dasar bangunan untuk semua bentuk
karbohidrat yang lain. Suatu struktur yang terdiri dari dua monosakarida terikat
satu sama lain disebut disakarida (dari di dua). Struktur yang mengandung tiga
monosakarida terikat satu sama lain disebut trisakarida.
Karbohidrat yang terdiri dari dua sampai sepuluh unit sakarida
digolongkan sebagai olisakarida. Struktur yang mengandung unit sakarida lebih
dari sepuluh digolongkan sebagai polisakarida yang lebih rendah. Tidak ada garis
batasan yang jelas yang membagi antara oligasosakarida dan polisakarida karena
sifat-sifat dari oligosakarida yang lebih tinggi dengan polisakarida yang lebih
rendah (Fessenden, 1997).
Semua monosakarida yang terdapat dialam adalah aldehid rantai
berkesinambungan atau keton. Pada monosakarida keton,gugusan karbonil selalu

VIII-3
berada pada asam karbon kedua dari rantai. Kekewalian prinsip adalah gula
deoksi, gula amino, dan asam glukosonat (Fessenden, 1997).

Gambar 8.1 Glukosa Monosakarida yang Umum

Karbohidrat adalah sumber energi utama untuk manusia. Kebanyakan


karbohidrat yang kita makan adalah tepung atau amilum atau pati yang ada dalam
gandum, jagung, beras, kentang, dan padi-padian lainnya. Pati juga terdapat pada
buah-buahan dan sayur.
Gula adalah bagian dari percakan atau bahasa sehari-hari dan menunjukan
suatu kristal karbohidrat manis, biasanya gula pasir. Gula adalah kata kuno yang
berasal dari bahasa sansekerta yang ebrarti gula. Istilah sakarida (latin saccharum,
gula) juga dipakai untuk menentukan gula (Fessenden, 1997).
Karbohidrat (gula) merupakan istilah umum untuk senyawa-senyawa
polihidroksi yang mengandung gugus fungsional karbonit. Karbohidrat

diklasifikasikan sesuai dengan jumlah atom karbonit. Heptosa, C6 heksosa,

C5 pentosa, dan sebagainya, atau sesuai dengan jumlah satuan dalam molekul,

monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Gula yang mengandung gugus


fungsional aldehid disebut aldosa dan jika mengandung gugus fungsional keto
dikenal sebagai ketosa. Mereka semua pada benda hidup dan menghasilkan dan
menyimpan tenaga. Heksosa sejauh ini merupakan tipe gula yang paling umum
dan gula merupakan salah satu heksosa yang tersebar luas dan terdapat dalam
jumlah besar. Meskipun demikian konfigurasi mutlak tidak dapat pada saat tahun

VIII-4
1896. Bila glukosa dan manosa dioksidasi dengan asam nitrat maka diperoleh
asam glukarat yang berbeda sifat aktif optiknya. Hingga struktur simetri I dan II
dapat dieleminasi demikian pula III. Hal ini disebabkan konfigurasi glukosa dan

manosa hanya berbeda pada C2 . Perubahan konfigurasi III pada C2

memberikan baik maupun II, hingga struktur asam manarat dan glukarat harus
dinyatakan dengan IV VI (Sastrohadimidjojo,1996).

Gambar 8.2 Struktur Asam-asam Glukosa


Sakarida untuk gula dengan konfigurasi -0 telah ditentukan dengan analisa
secara rajin dan teliti dari D-gliseraldehida, dengan menggunakan reaksi-reaksi
yang stereokimia pereaksi telah tetap dipertahankan. Gula-D penting dalam
sebuah alam pada sistem-sistem hidup, bayangan cerminnya yang membentuk
imbangan-L jarang ditemukan dalam alam. Beberapa pasangan-L jarang
ditemukan dalam alam. Beberapa pasangan-L terdapat didalam struktur dinding
sel bakteri tertentu (Page,1997).

VIII-5
Gambar 8.3 Sruktur Beberapa Gula D Penting

8.3 METODOLOGI PERCOBAAN

8.3.1 Alat dan Rangkaian Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer 100 mL,
labu ukur 100 mL, kondensor, pipet volume 10 mL dan 5 mL, gelas beker 250
mL, neraca analitik, buret, stirrer, gelas ukur 10 mL, sudip, piper tetes, pengaduk
gelas, corong, statif, dan klem, gelas arloji, propipet, botol semprot, pH meter,
alumunium foil, hotplate stirrer, termometer, labu leher tiga dan gelas ukuran 100
mL.

Rangkaian Alat Hidrolisis :


Keterangan :
1 Statif
2 Kondensor
3 Labu leher tiga
4 Termometer
5 Stirrer
6 Hotplate stirrer
Air pendingin masuk dan keluar

Gambar 8.4 Rangkaian Alat Hidrolisis

8.3.2 Bahan

VIII-6
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tepung maizena
2,5 gram, fehling A, fehling B, kertas saring, akuades, larutan glukosa standar,
NaOH 0,1 N, HCl 1 N, indikator metil biru (MB) dan indikator fenolftalein (PP).

8.3.3 Prosedur Kerja


8.3.3.1 Standarisasi Larutan Fehling
Langkah pertama larutan fehling A dan fehling B diambil sebanyak
masing-masing 5 mL ke dalam erlenmeyer dan larutan glukosa standar diambil 50
mL dimasukkan kedalam buret. Kemudian larutan campuran dipanaskan di
hotplate hingga mendidih. Larutan campuran yang telah mendidih di titrasi
dengan larutan glukosa standar hingga terjadi perubahan warna dari biru menjadi
biru kemerahan kemudian ditambahkan 3 tetes indikator metil biru lalu
dipanaskan lagi menggunakan hotplate hingga mendidih. Kemudian larutan yang
telah mendidih di titirasi kembali dengan larutan glukosa standar hingga warna
biru pada larutan standar benar-benar hilang dan terbentuk endapan merah bata,
lalu volume akhir titran (F) dicatat.

8.3.3.2 Analisa Kadar Glukosa


Langkah pertama tepung maizena ditimbang sebanyak 2,5 gram (w), lalu
ditambahkan 125 mL HCl 0,1 N dan dimasukan kedalam labu leher tiga,
dihubungkan dengan kondensor lalu dihidrolisis dengan hotplate stirrer pada suhu
80 C selama 1 jam. Kemudian didinginkan. Larutan hasil hidrolisis disaring
dengan menggunakan kertas saring lalu diambil sebanyak 5 mL. Kemudian
diencerkan hingga 100 mL didalam labu ukur. Larutan hasil hidrolisis yang telah
diencerkan kemudian dimasukkan dalam gelas beker untuk dinetralkan dengan
NaOH 0,1 N, dimana kondisi netral ditandai perubahan warna larutan dari bening
menjadi merah muda (ditambah 3 tetes indikator PP untuk menandai kondisi
netral). Larutan yang telah dinetralkan diambil 5 mL lalu diencerkan hingga 10
mL dalam gelas ukur. Kemudian fehling A dan fehling B dan larutan hasil
pengenceran ditambahkan masing-masing 5 mL kedalam erlenmeyer, lalu larutan
campuran dipanaskan di hotplate hingga mendidih. Larutan campuran yang telah

VIII-7
mendidih dititrasi dengan glukosa standar hingga terjadi perubahan warna dari
biru menjadi biru kemerahan. Kemudian ditambahkan 3 tetes metil biru lalu
dipanaskan kembali di hotplate hingga mendidih. Kemudian larutan campuran
yang telah mendidih dititrasi kembali dengan larutan glukosa standar hingga
warna biru larutan benar-benar hilang dan terbentuk endapan merah bata. Volume
akhir titran (M) dicatat untuk digunakan menghitung kadar glukosa yang
dihasilkan.

8.3.4 Flow Chart


8.3.4.1 Standarisasi Larutan Fehling
Fehling A dan Fehling B

- Diambil masing-masing 5 mL kedalam erlenmeyer

Larutan Glukosa Standar


- Diambil sebanyak 50 mL dimasukkan kedalam buret
- Dipanaskan larutan campuran Fehling A dan Fehling B
hingga mendidih
- Dititrasi hingga warna biru kemerahan

Metil biru
- Ditambahkan sebanyak 3 tetes
- Dipanaskan kembali
Larutan Glukosa Standar

- Dititrasi hingga warna biru pada larutan benar-benar hilang


dan terbentuk endapan merah bata
- Dicatat volume titran yang diperlukan (F)

Hasil

8.3.4.2 Analisa Kadar Glukosa

Tepung Beras

VIII-8
HCl 1N
- Ditimbang sebanyak 2,5 gram

- Ditambahkan sebanyak 125 mL


- Dimasukkan kedalam labu leher tiga
- Dihubungkan dengan kondensor

Larutan Hasil Hidrolisis


- Dihidrolisis selama 60 menit pada suhu 80 C
- Didinginkan

- Disaring dengan kertas saring


- Diencerkan hingga 100 mL
- Dinetralkan dengan NaOH 0,1 N (gunakan indikator
fenolftalein untuk menandai kondisi netral) sehingga larutan
Larutan Hasil Pengenceran
berwarna merah muda
- Diambil 5 mL
- Diencerkan hingga 10 mL
Fehling A dan Fehling B

- Diambil 5 mL

- Standar
Larutan Glukosa Ditambahkan masing-masing 5 mL
- Dimasukkan ke dalam erlenmeyer
- Dipanaskan hingga mendidih
Metil Biru

- Di titrasi hingga warna biru kemerahan

Larutan Glukosa Standar

VIII-9

Hasil
- Ditambahkan 3 tetes
- Dipanaskan kembali

- Dititrasi hingga warna biru larutan benar-benar hilang dan


terbentuk endapan merah bata
- Dicatat volume titran untuk analisis glukosa

8.4 HASIL DAN PEMBAHASAN

8.4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 8.1 Hasil Pengamatan Standarisasi Larutan Fehling
No Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
1. Mengambil larutan fehling A dan V fehling A= 5 mL
fehling B kedalam erlenmeyer V fehling B= 5 mL
dan masukan kedalam larutan V larutan glukosa standar 50 mL
glukosa standar kedalam buret larutan berwarna biru
2. Memanaskan campuran Larutan bewarna biru
3. Mentitrasi larutan dengan larutan V titran 1= 5,3 mL
glukosa standar Larutan berwarna biru kemerahan
4. Menambahkan 3 tetes indikator Larutan berwarna biru kemerahan
metil biru
5. Memanaskan hingga mendidih
6. Mentitrasi larutan dengan V titran 2= 9,5 mL, larutan bening
glukosa standar dan ada endapan merah bata
7. Mencatat total volume titran V = V titran 1 + V titran 2
= 5,3 mL + 9,5 mL = 14,8 mL

Tabel 8.2 Hasil Pengamatan Analisa Kadar Glukosa


No Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
1. Menimbang tepung maizena m = 2,5 gram
2. Menambahkan HCl 1 N melarutkan V HCl = 125 mL

VIII-10
kedalam labu leher tiga Larutan menjadi putih susu
3. Mehidrolisis campuran hingga Larutan menjadi keruh
mendidih selama 60 menit pada suhu
80 C dan didinginkan
4. Menyaring larutan hasil hidrolisis Larutan menjadi bening
5. Mengambil larutan hasil hidrolisis V = 5 mL
yang telah disaring
6. Mengencerkan larutan hasil hidrolisis V larutan pengenceran = 100
mL
7. Menambahkan 3 tetes indikator Lerutan menjadi merah muda
fenolftalein (PP) dan menetralkan
dengan NaOH
8. Mengambil dan mengencerkan larutan V larutan penetraalan = 5 mL
yang telah netral V larutan pengenceran = 10 mL
9. Mencampurkan larutan Fehling A dan V fehling A = 5 mL
Fehling B serta larutan pengenceran Vfehling B = 5 mL
memerlukan kedalam erlenmeyer V larutan pengenceran =5 mL
Larutan bewarna biru
10. Memanaskan hingga mendidih Larutan berwarna biru
11. Mentitrasi dengan larutan glukosa V titran 1 = 9,5 mL
standar Larutan berwarna biru
kemerahan
12. Menambahkan 3 tetes indikator metil Larutan berwarna biru
biru dan memanaskan kembali hingga kemerahan
mendidih
13. Mentitrasi dengan larutan glukosa V titran 2 = 2,8 mL
standar Larutan bening dan ada endapan
merah bata
14. Mencatat total volume titran V = Vtitran 1 + Vtitran 2
=9,5 mL +2,8 mL =11,3 mL

8.4.2 Pembahasan
Sampel yang digunakan dalam percobaan analisa glukosa ini adalah tepung
maizena (jagung). Tepung maizena (jagung) adalah pati yang didapatkan dari

VIII-11
endosperma biji jag ung. Tepung maizena (jagung) merupakan bahan makanan
populer yang biasa digunakan sebagai bahan pengental sup atau saus, dan
digunakan untuk membuat sirup jagung dan pemanis lainnya. Proses hidrolisis
dilakukan setelah pati dicampur dengan HCl 1 N. Penggunaan HCl sebagai
pelarut bertujuan untuk mengaktifkan air karena ion H+ yang dimiliki HCl dan
berfungsi sebagai katalisator. Dipilihnya HCl sebagai katalisator karena HCl tidak
akan menghasilkan reaksi samping dari terbentuknya sifat garam pada penetralan
HCl. Pati yang dilarutkan dengan HCl akan berwarna putih.
Pemanasan berfungsi agar pati dapat menyerap air sehingga tidak terjadinya
gelatinesi (proses berkurangnya viskositas) serta untuk mempercepat reaksi agar
pati yang terhidrolisis lebih banyak. Reaksi yang terjadi adalah:

(C6H10O5)n + nH2O n(C6H12O6) . . . (8.1)


Pati Air Glukosa

Penggunaan kondensor berfungsi untuk menjaga volume larutan konstan.


Kondisi yang terjadi adalah pada saat larutan dipanaskan akan menimbulkan uap.
Uap tersebut masuk kedalam kondesor lalu masuk kedalam spiral yang bagian
luarnya terdapat air dingin. Air dingin tersebut membuat uap mengembun lebih
cepat sehingga uap itu berubah menjadi cair kembali dan turun ke dalam labu
leher tiga, sehigga volume larutan konstan. Penggunaan labu leher tiga berfungsi
untuk mempertahankan volume dan suhu larutan. Labu leher tiga memiliki tiga
lubang pemasukan, lubang pemasukan pertama berfungsi sebagai tempat
mengontrol suhu dimana alat yang digunakan yaitu termometer. Lubang
pemasukan kedua sebagai jalan keluar masuknya uap pemanasan menuju
kondensor. Dan lubang ketiga sebagai tempat masuk dan keluarnya sampel.
Penyaringan laruta hidrolisis berfungsi untuk memisahkan filtrat dari ampas
atau zat lain yang tidak dibutuhkan. Larutan yang telah disaring lalu diencerkan
dan dinetralkan dengan NaOH. Indikator fenolftalein (PP) yang mempunyai
trayek pH 8,2 -10,0 digunakan dalam menandai larutan telah netral. Larutan yang

VIII-12
telah netral akan bewarna merah muda. Fungsi dari NaOH adalah untuk
menetralkan HCl yang berlebihan dalam larutan. Reaksi yang terjadi adalah:

HCl + NaOH NaCl + H2O . . . (8.2)


Asam basa Garam Air

Pereaksi fehling terdiri atas fehling A (34,65 gram kupri sulfat dalam 500
mL air) dan fehling B (campuran 173 gram natrium hidroksida dan 125 gram
kalium natrium tartrat dalam 500 mL air). Campuran larutan fehling A dan larutan
fehling B merupakan larutan berwarna biru (Sumardjo,2006). Penggunaan
glukosa standar sebagai titran karena kadar glukosa terdapat gugus aldehid yang
merupakan reduktor kuat yang dapat mereduksi fehling menjadi Cu2O. Endapan

2+ 2+
merah bata berasal dari reaksi ion Cu . Reaksi reduksi
Cu adalah:

O
||
R C H + 2Cu2+ + 5OH- RCOO- + Cu2O + 3H2O . . . (8.3)

Tujuan digunakan fehling A dan fehling B adalah untuk mendeteksi adanya


pati apabila dititrasi dengan glukosa standar. Campuran fehling A dan fehling B
dipanaskan agar membantu mempercepat terjadinya reaksi akibat pemanasan
sehingga endapan dapat dengan mudah terbentuk. Jika fehling A dan fehling B
dicampur, maka reaksi yang terjadi adalah:

. . . (8.4)
CuSO4 + 2NaOH Cu (OH )2 + Na2SO4

Fehling A Fehling B Garam

Indikator metil biru yang memiliki trayek pH 10,6 13,4 digunakan dalam
percobaan ini. Penggunaan metil biru dikarenakan metil biru merupakan indikator
yang paling tepat untuk titik ekuivalen dalam suasana basa, terlebih dengan

VIII-13
penambahan larutan fehling B yang mengandung NaOH. Penambahan indikator
metil biru berfungsi intuk dapat memudahkan pengamatan pada saat titik
ekuivalen tercapai. Titik ekuivalen adalah titik dimana titran yang ditambahkan
tepat bereaksi dengan seluruh zat yang di titrasi tanpa adanyatitran yang tersisa.
Dengan kata lain, pada titik ekuivalen jumlah mol titran setara dengan jumlah mol
titran menurut stokiometri.
Titrasi blanko dilakukan sebagai perbandingan pada titrasi sampel. Total
volume titran yang digunakan pada titrasi blanko adalah 16,2 mL, sedangkan total
volume yang digunakan pada titrasi sampel hanya 14 mL. Terdapat perbedaan
volume titran pada kedua titrasi tersebut karena pada titrasi blanko tidak ada
tambahan glukosa pada larutan, sedangkan pada titrasi sample terdapat glukosa
dari pati tepung maizena (jagung) yang telah dihidrolisis. Dari hasil perhitungan,
didapatkan 16% kadar glukosa yang terkandung pada tepung maizena (jagung)
yang digunakan sebagai sampel dalam percobaan ini.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses hidrolisis yaitu katalisator,
waktu, suhu, pengadukan, dan perbandingan zat preaksi. Kenaikan suhu
mengakibatkan ikatan antar pati akan mudah putus. Waktu pemanasan yang
terlalu lama tidak efektif karena dapat mengakibatkan jaringan ikatan pati
menjadi putus. Apabila katalisator terlalu asam, menyebabkan garam yang
dihasilkan lebih banyak sehingga hasil yang didapat tidak akurat. Pengadukan
dilakukan supaya zat pereaksi dapat saling bertumbukan dengan baik dan
mempercepat terjadinya homogenitas antar partikel dan cairan. Untuk
perbandingan zat pereaksi, jika salah satu zat preaksi lebih banyak jumlahnya
maka keseimbangan akan bergeser kesebelah kanan. Oleh karena itu, suspensi pati
yang keduanya rendah akan menghasilkan hasil yang lebih baik dibandingkan pati
ddengan kadar suspensi yang tinggi. Bila kadar suspensi diturunkan, maka
konversi akan bertambah. Pada permukaan suspensi pati yang tinggi, molekul-
molekul zat pereaksi akan sulit bergerak.

VIII-14
8.5 PENUTUP

8.5.1 Kesimpulan
1 Hasil perhitungan kadar glukosa yang didapat dari pati tepung maizena adalah
sebesar 16%.
2 Hidrolisis pati dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu katalisator, suhu, waktu,
pengadukan dan pertandingan zat pereaksi.

8.5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan dalam percobaan ini adalah menggunakan bahan
sampel yang berbeda untuk dibandingkan kadar glukosanya, contoh dengan
menggunakan sampel lain seperti tepung tapioka, tepung beras, tepung sagu,
tepung roti dan lain-lain.

VIII-15
LP-16

LAMPIRAN PERHITUNGAN

Diketahui : F = 14,8 mL
M = 12,3 mL
W = 2,5 gram
Ditanyakan : Kadar Glukosa (%) = ...?
Penyeesaian:
2
( FM ) 40 100
500
Kadar glukosa()=
W

2
( 14,812,3 ) 40 100
500

2,5

16

Jadi, kadar glukosa pada tepung maizena sebesar 16%


DP-1

DAFTAR PUSTAKA

Arina. 2005. Uji Hopkins Cole. www.edobio.info.


Diakses pada tanggal 17 November 2016.
Andri Purnama. 2014. Jurnal Soxhletasi.
http://www.e-jurnal.com
Diakses pada tanggan 08 November 2016.
Brady, J.E. 2010. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid I. Biharupa Aksara :
Jakarta.

Dogra,S.IT. 1990. Kimia Fisika dan Soal-Soal. UI Press. Jakarta.


Eviawas. 2011. Msds Lemah Soxhlet.
http://journal.unnes.ac.id
Diakses pada tanggal 08 November 2016.
Fessenden, F. J dan Joah S. Fessenden. 1990. Kimia Organik Edisi 2 Jilid 3.
Erlangga. Jakarta.
Firman, dkk. 2015. Makalah Distilasi Bertingkat.
http://www.academia.edu
Diakses pada tanggan 08 November 2016.
Giancolli, D.C. 2001. Fisika Jilid I. Erlangga. Jakarta.
Hart, H. 2003. Kimia Organik Suatu Kimia Singkat. Erlangga. Jakarta.
Hartaty, A. 2012. Kondensasi.
http://www.scribd.com
Diakses pada tanggal 29 Oktober 2016
Kachel, Philips dan Grogory B. Raiston. 2002. Biokimia. Erlangga : Jakarta.

Keenan, W. Charles. 1992. Kimia Untuk Universitas Jilid 1. Erlangga : Jakarta.


Keenan. 1984. Kimia Untuk Universitas Jilid I. Erlangga : Jakarta.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas
Indonesia. Jakarta.
Lehninger, Albert. L. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3. 1994. Erlangga : Jakarta.
Mulyono. 2005. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Bumi Aksara : Jakarta.
DP-2

Pine, Stanley H. 1998 . Kimia Organik 2. Institute Teknologi Bandung : Jakarta.


Sastrohamidjojo, Hardjono. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak
Pangan. UI Press. Jakarta.
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2006. Kimia Organik. Universitas Gadjah Mada :
Yogyakarta.
Sears dan Zemansky. 1982. Fisika Untuk Universitas. Binacipta. Bandung.
Shevla, G. 1990. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. Kalman Media Pusaka: Jakarta.
Sukardjo. 1985. Kimia Anorganik. Bina Aksara. Yogyakarta.
Sultary, R. dan Kosenger B. 1985. Kimia Pangan. Badan Kerjasama Perguruan
Tinggi Indonesia Bagian Timur. Makassar.
Sundin. 2005. Protein and Amino Acids : Isolation of Casein Protein and Amino
Acids Tests. People.Uwplatt.edv.
Diakses pada tanggal 23 November 2016.
Suprapto, H. S. 1997. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta.
Syukri, S. 1990. Kimia Dasar 2. Institut Teknologi Bandung : Bandung.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 3. Insitut Teknologi Bandung : Bandung.
Tipler, Paul A. 1998. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid I. Erlangga. Jakarta.

Triana, Agus. 2012. Faktor yang Mempengaruhi Distilasi.


Http://www.e-journal.com
Diakses pada tanggal 08 November 2016.
Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama : Jakarta.
Zulfikar. 2010. Distilasi.
http://www.chem.is.try.org
Diakses pada tanggal 29 Oktober 2016