Anda di halaman 1dari 30

6.3.

1 Karakteristik Ekonomi

1. Mata Pencaharian

a. Jenis Mata Pencaharian

Terdapat beberapa mata pencaharian sebagai sumber kehidupan masyarakat Desa Kedunglumpang dengan rincian sebagai berikut.

Tabel 6.35 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

No Mata Pencaharian/Pekerjaan Jumlah Prosentase


1 Pegawai Negeri 14 1,12 %
2 Guru/Dosen 12 0,96 %
3 Anggota dewan 0 0%
4 Pengusaha Menengah 0 0%
5 Pengusaha Kecil 18 1,44 %
6 Pedagang Menengah 36 2,88 %
7 Pedagang Kecil 143 11,45 %
8 Pemilik Lahan Pertanian 252 20,18 %
9 Pemilik Kapal Nelayan 0 0%
10 Buruh (tani, Nelayan) 630 50,44 %
11 Swasta 136 10,89 %
12 ABRI/POLRI 8 0,64 %
13 TKW/TKI 0 0%
Total 1249 100 %

Sumber : Data Hasil Pemetaan Sosial. PnPm Mandiri Desa Kedunglumpang Tahun 2010 (RPJM, 2010)
Dari komposisi penduduk berdasarkan matapencaharian Desa Kedunglumpang dapat diketahui bahwa mata pencaharian penduduk terbanyak
adalah Buruh tani yaitu sebanyak 50,44 %. Jika dilihat dari komoditas yang banyak ditemukan adalah padi jadi sebagian besar penduduk Desa
Kedunglumpang adalah petani padi dan luasan lahan pertanian padi sebesar 212,71 Ha dan jumlah hasil sektor dari pertanian padi sebanyak
2.523,40 Ton/Th. Untuk matapencaharian terbanyak setelah buruh tani adalah sebagai pemilik lahan pertanian.

Selain mata pencaharian di bidang pertanian mata pencaharian yang banyak diminati adalah pedagang kecil meliputi warung-warung makan dan
kopi serta toko toko kecil yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari.

b. Kajian Mata Pencaharian

Kajian mata pencaharian dalam karakteristik ekonomi digunakan untuk mengetahui berbagai aspek penting yang berpengaruh terhadap berbagai
jenis mata pencaharian yang ada di Desa Kedunglumpang. Manfaat dari kajian mata pencaharian adalah untuk mengetahui kelayakan mata
pencaharian serta untuk mengetahui hal-hal penting sebagai pertimbangan dalam pengembangan mata pencaharian. Berikut adalah kajian mata
pencaharian Desa Kedunglumpang.

Tabel 6.36 Kajian Mata Pencaharian Desa Kedunglumpang

TENAGA
KERJA BAHAN
SUMBE PEMASARA BAGAIMAN MASALA
BAKU/HASI
R DAYA N A MEMULAI H
L
L P

Padi 24 6 orang Mudah Mutu baik, Turun Gagal


orang Temurun Panen
Proses 250 ribu/kw Hasil baik Karena
Proses persiapa 395 ribu/kw Hama
tanam n lahan Bibit mudah Wereng

Jagung 14 7 orang Mudah Mutu baik, Praktek Jika musim


TENAGA
KERJA BAHAN
SUMBE PEMASARA BAGAIMAN MASALA
BAKU/HASI
R DAYA N A MEMULAI H
L
L P

Orang Pertanian hujan terus


Proses Harga menerus
Tana mengikuti hasil panen
m harga pasar menjadi
2800 / kg tidak
kering normal dan
terserang
hama putih
yang tidak
dapat
diobati
sehingga
hanya
menjadi
pakan
ternak
Tebu 10 2 orang Mudah Mutu Baik, Belajar dari Jika musm
orang teman panen saat
200 ribu / Kw Hasil Baik musim
280 Ribu hujan
/Kw Bibit mudah ongkos
panen lebih
mahal
Bawang 12 3 orang Mudah Mutu Baik, Belajar dari Merugi
TENAGA
KERJA BAHAN
SUMBE PEMASARA BAGAIMAN MASALA
BAKU/HASI
R DAYA N A MEMULAI H
L
L P

Sayur orang Hasil Baik teman karena


3200/ kg bibit mudah harga turun
1800 / kg

Sapi 4 orang Mudah Mutu hasil Bantuan Jika sedang


Perah bergantung presiden dan hamil dan
Melalui pada pakan. penyuluhan sel telur
Koperasi dan Jika pakan tidak di
jual sendiri damen susu kawinkan
menjadi kering dalam 24
Di koperasi 3- jam maka
4 ribu / liter sel telur
akan mati
Bebek 1 orang Mudah Mutu baik, Belajar sendiri Pada bulan
hasil baik, puasa
1050 / butir bibit mudah makanan
1150 / butir susah dicari

Kambing 1 orang Mudah, Mutu baik, Praktek sendiri Jika musim


hasil baik, penghujan
Saat hari biasa bibit mudah banyak
1.000.000 dan penyakit
saat hari raya menyerang
Qurban kambing
TENAGA
KERJA BAHAN
SUMBE PEMASARA BAGAIMAN MASALA
BAKU/HASI
R DAYA N A MEMULAI H
L
L P

1.500.000

Lele 1 orang Mudah Mutu baik, Belajar dari


hasil baik, teman
9500 / kg bibit mudah

Pentol 8 12 orang Mudah Bahan mudah Praktek sendiri Jika pekerja


orang (tengkulak) di dapat tidak datang
maka
500- Mutu bahan produksi
3000/pentol dan hasil tidak
bagus berjalan

Sumber: Hasil PRA (2011)

c. Kajian Gender

Dalam Karakteristik ekonomi berdasarkan mata pencaharian terdapat kajian gender yang berfungsi sebagai pembandingan peranan laki-laki dan
perempuan dalam kajian mata pencaharian. Berikut adalah kajian gender dalam kajian mata pencaharian Desa Kedunglumpang.

Tabel 6.37 Kajian Gender Desa Kedunglumpang


Sektor Kegiatan Tenaga Kerja

Penggemburan Tanah
Pertanian Padi Per 1 Ha Pembibitan
Tanam
Perawatan
Panen
Pembelian Sapi
Peternakan Sapi Per 10 Mencari Pakan
Ekor Sapi Pemberian Pakan
Pembersihan Kandang
Memandikan sapi
Vaksinasi
Suntik Kawin
Sapi Lahir
Jual Sapi
Pembelian Bahan
Industri Pentol sekali Penggilingan Daging
produksi Pembuatan Adonan Pentol
Pencetakan Pentol
Perebusan Pentol
Pembuatan Saos
Pemasaran Pentol

Sumber: Hasil Analisa,2011


Keterangan: = Laki-laki

= Perempuan

Dari kajian gender tersebut dapat diketahui bahwa peran perempuan pada sektor pertanian lebih dominan tetapi pada sektor peternakan lebih
banyak di kerjakan oleh kaum pria. Sedangkan pada sektor industri pentol peran antara laki-laki dengan perempuan cukup seimbang. Pembagian
pekerjaan yang dilakukan pada proses kegiatan dapat dilihat bahwa para laki-laki cenderung melakukan pekerjaan yang memerlukan banyak
tenaga sedangkan untuk para pekerja perempuan lebih kepada pekerjaan yang tidak begitu memerlukan tanaga yang besar seperi proses
perawatan dan sebagainya.

2. Karakteristik Usaha Tani

a. Hasil Produksi Persektor

1. Hasil Sektor Pertanian

Hasil sektor pertanian Desa Kedunglumpang, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang meliputi padi, jagung, bawang sayur dan tebu.
Sebagian besar hasil sektor pertanian Desa Kedunglumpang dipasarkan kepada tengkulak. Berikut adalah rincian hasil sektor pertanian Desa
Kedunglumpang, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang berdasarkan hasil PRA dan wawancara yang dilakukan.

a) Petani Padi

Padi merupakan Komoditi utama yang terdapat di Desa Kedunglumpang, sebagian besar masyarakat Desa Kedunglumpang menjadikan padi
sebagai mata pencaharian yang utama. Luas lahan untuk pertanian padi adalah 128 Ha dari total lahan yang terdapat di Desa Kedunglumpang.
Dengan hasil panen 6 ton per Ha. Sedangkan harga penjualan hasil panen 300 ribu sampai 400 ribu per kwintal.

Petani Padi yang ada di Desa Kedunglumpang ini memiliki kelompok-kelompok usaha tani (POKTAN) yang berada pada masing-masing dusun
dan diorganisir dalam satu desa yaitu pada Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN). GAPOKTAN bekerjasama dengan Penyuluh Pertanian
memiliki fungsi memberikan penyuluhan terkait usaha tani khususnya perawatan padi serta tukar pendapat masalah pertanian yang terjadi.
Petani padi yang ada di Desa Kedunglumpang umumnya bekerja bukan di lahan miliknya sendiri dan sebagian menyewa pada pemilik lahan
pertanian. Padi yang telah di panen dijual kepada tengkulak.
Padi memiliki masa panen sekitar bulan Februari jika masa tanam dilakukan bulan Desember. Proses yang dilakukan pada umumnya meliputi
penanaman yang selanjutnya ditunggu 11 sampai 15 hari untuk dipupuk, hari ke 25 mencabut rumput liar yang ikut tumbuh selanjutnya
disemprot dengan pembasmi hama dan pada hari ke 36 kembali di pupuk setelah 36 sampai 90 hari perawatan tanaman padi pada hari ke 90- 100
merupakan proses panen. Hasil panen tersebut selanjutnya dijual kepada pengepul atau tengkulak dengan harga 300 hingga 400 ribu / kwintal.

Tabel 6.38 Pemasukan dan Pengeluaran Komoditas Padi

No Proses Keterangan Nilai (Rp)

1 Pemasukan Penjualan padi per Ha Rp 21.000.000


2 Pengeluaran Sewa lahan Rp 10.000.000

Bibit Rp 300.000 per Ha Rp 600.000

Pupuk Rp 1.000.000 Rp 2.000.000

Jumlah Rp 12.600.000

Pendapatan Bersih Rp 8.400.000

Sumber: Hasil Survei (2011)

b) Petani Jagung

Jagung merupakan juga termasuk salah satu komoditas yang ada di Desa Kedunglumpang meski masyarakat desa lebih banyak yang memilih
untuk menanam padi. Proses penanaman jagung seperti pada umumnya dimulai dengan pembibitan, perawatan selama kurang lebih 4 bulan
dengan pemberian pupuk serta mes dan setelah 4 bulan jagung dipanen untuk selanjutnya dijual ke tengkulak.

Tabel 6.39 Pemasukan dan Pengeluaran Komoditas Jagung


No Proses Keterangan Nilai (Rp)

1 Pemasukan Penjualan jagung 1 Ha Rp 1.700.000


2 Pengeluaran Pupuk tetes 40.000 per Rp 40.000
jerigen
Rp 420.000
Pupuk Urea & Phonska
Rp 240.000
Mes Rp 160.000 / Kw
Rp 700.000
Jumlah

Pendapatan Bersih Rp 1.000.000

Sumber: Hasil Wawancara (2011)

c. Petani Bawang sayur

Bawang sayur atau disebut brambang mulai dikembangkan oleh warga Kediri yang menikah dengan penduduk Desa Kedunglumpang. Saat ini
bawang sayur atau brambang telah menjadi salah satu komoditas yang ada di Desa Kedunglumpang. Proses yang dilakukan oleh petani
brambang adalah bibit brambang ditanam dan dirawat selama 45 hari dengan pemberian pupuk 10 hari sekali dan obat anti hama 5 hari sekali.
Setelah dirawat selama kurang lebih 45 hari brambang siap di panen dan dijual kepada tengkulak dengan harga sekitar 1800 rupiah per kilogram.

Tabel 6.40 Pemasukan dan Pengeluaran Komoditas Bawang Sayur

No Proses Keterangan Nilai (Rp)

1 Pemasukan Penjualan brambang Rp 7.200.000


2 Pengeluaran Pupuk 3 sak @ Rp Rp 390.000
130.000
Rp 670.000
Obat anti hama
Rp 1. 060.000
Jumlah

Pendapatan Rp 6.140.000

Bagi hasil 50% Rp 3.070.000

Pendapatan Bersih Rp 3.070.000

Sumber: Hasil Wawancara (2011)

d. Petani Tebu

Perkebunan Tebu yang ada di Desa Kedunglumpang merupakan pemanfaatan kawasan hutan berupa tumpang sari sedangkan warga Desa
Kedunglumpang hanya bertugas untuk mengawasi karena pemilik lahan yang dimanfaatkan untuk kebun tebu tersebut sebagian besar dimiliki
oleh warga di luar Desa Kedunglumpang atau milik Perhutani. Sehingga dalam pelaksanaannya dilakukan sistem bagi hasil yaitu setelah tebu
diolah menjadi gula dan hasil penjualan gula tersebutlah yang akan dibagi hasilnya. Sedangkan untuk harga jual tebu sendiri juga tidak menentu
bergantung juga pada hujan yang turun harga jual tebu terakhir adalah Rp 48.000 per Kw Tebu.

2. Hasil Sektor Peternakan

Hasil sektor pertanian Desa Kedunglumpang, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang meliputi sapi, bebek, lele. Sebagian besar hasil sektor
peternakan Desa Kedunglumpang dipasarkan kepada tengkulak. Berikut adalah rincian hasil sektor Peternakan Desa Kedunglumpang,
Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang berdasarkan hasil PRA dan wawancara yang dilakukan.

a) Sapi
Sapi merupakan salah satu komoditas yang ada di Desa Kedunglumpang. Sebagian besar warga desa memiliki sapi. Untuk peternak sapi pada
awalnya membeli sapi anakan dengan harga Rp 4.000.000 dan dirawat hingga berumur 1 tahun diberikan suntik kawin hingga sapi tersebut
hamil dan melahirkan anak sapi yang Bebek merupakan salah satu komoditas pad sektor peternakan yang ada di Desa Kedunglumpang. Petenak
bebek membeli bebek dan dirawat selama 3 minggu dan bebek hasur diberi sintrat setiap hari selain itu pemberian pakan harus teratur agar masa
produktif lebih lama. Telur yang di hasilkan untuk setiap 100 ekor bebek sekitar 80 butir telur. Selanjutnya telur dijual ke pengelola telor asin
dengan harga jual paling rendah Rp 1000 per butir telur selanjutnya dirawat hingga berumur 4 bulan dan dijual ke Blantik

Tabel 6.41 Pemasukan dan Pengeluaran Komoditas Sapi

No Proses Keterangan Nilai (Rp)

1 Pemasukan Penjualan sapi Rp 8.0000.000


2 Pengeluaran Pakan Rp 25.000

Vaksin Rp 30.000

Jumlah Rp 55.000

Pemdapatan Rp 7.945.000

Bagi hasil Rp 3.972.500

Pendapatan bersih Rp 3.972.500

Sumber: Hasil Wawancara (2011)

b) Bebek
Peternak bebek membeli bebek berusia 6 bulan dirawat dengan memberi makan secara teratur dan memberi sentrat selama 3 minggu agar bebek
lebih produktif setelah bebek bertelur hasil telur di jual kepada pengelola telor asin dengan harga paling murah 1000 rupiah per butir.

Tabel 6.42 Pemasukan dan Pengeluaran Komoditas Bebek

No Proses Keterangan Nilai (Rp)

1 Pemasukan Penjualan Telur per hari Rp 100.000


2 Pengeluaran Pakan 3kali @ Rp 1800 Rp 5 400

Jumlah Rp 5.400

Pendapatan Bersih Rp 94.600

Sumber: Hasil Wawancara (2011)

c) Lele

Sebagai salah satu komoditas yang ada di Desa Kedunglumpang, Lele cukup memberikan hasil yang menjanjikan. Berikut rincian masukan dan
pengeluarannya

Tabel 6.43 Pemasukan dan Pengeluaran Komoditas Lele

No Proses Keterangan Nilai (Rp)

1 Pemasukan Penjualan Lele 6 Rp 5.880.000


Kw @ Rp 980.000
2 Pengeluaran Pakan ikan lele 15 Rp 3.750.000
No Proses Keterangan Nilai (Rp)

karung @ Rp 250
ribu
Pendapatan Bersih Rp 2.130.000

Sumber: Hasil Wawancara (2011)

Untuk komoditas lele sempat mengalami kegagalan karena pada awalnya peternak belum begitu mengerti tentang pemeliharaan lele.

d) Kambing

Tabel 6.44 Pemasukan dan Pengeluaran Komoditas Kambing

No Proses Keterangan Nilai (Rp)

Pemasukan Penjualan perekor Rp 1.000.000


1 kambing

Pengeluaran Vaksin Rp 15.000


2

Pendapatan Bersih Rp 985.000

Sumber: Hasil Survei (2011)


Peternak kambing membeli anak kambing dan diberi pakan yang diperoleh dengan mencari sendiri sehingga tidak memerlukan biaya namun
kambing juga di berikan vaksin 3 bulan sekali dengan biaya sekitar Rp 15.000 dan selanjutnya kambing dijual kepada pedagang daging yang
datang ke tempat peternakan tersebut.

b. Hasil Sektor Industri

a) Pentol

Pentol merupakan omoditas industi yang cukup menjanjikan di Desa Kedunglumpang. Pemasaran hasil produksi pentol sudah ke berbagai
daerah dan untuk peminjaman modal usaha pentol ke Bank jika berasal dari Desa Kedunglumpang akan dimudahkan. Untuk proses produksi
pentol sendiri diawali dengan persiapan bahan pembuatan pentol, kemudian mulai membuat adonan peentol dan bumbuyang di perlukan diselep
(digiling) dan di campur dalam adonan selanjutnya pentol di cetak dan direbus dan juga terdapat pembuatan saos. Setelah semua jadi pentol dan
saos tersebut dibungkus dalam plastik kemudian di pasarkan. Dalam hal pemasaran sendiri sudah terdapat pedagang atau tengkulak yang datang
langsung ke tempat produksi.

Tabel 6.45 Pemasukan dan Pengeluaran Produksi Pentol

No Proses Keterangan Nilai (Rp)

1 Pemasukan Penjualan Pentol Rp 2.625.000


250 Bungkus @
40 pentol dan 30
tahu
2 Pengeluaran Kanji Kw Rp 260.000

Daging 10 Kg Rp 400.000

Vitsin Rp 10.000
Garam Rp 10.000

Bawang 2 Kg Rp 14.000

Seledri 3 Kg Rp 9.000

Tahu Rp 200.000

Jumlah Rp 903.000

Penghasilan Bersih Rp 1.722.000

Sumber: Hasil Wawancara (2011)

3. Sketsa Kebun

Sketsa kebun untuk lahan pertanian di Desa Kedunglumpang menurut komoditas karena seluruh persawahan yang ada di Desa Kedunglumpang
adalah sama sehingga apabila salah satu sawah hasil penen baik maka secara keseluruhan hasil panen juga baik dan apabila terjadi serangan
hama maka hama tersebut juga akan menyerang seluruh persawahan yang ada.

Sebagian besar untuk lahan pertanian di Desa Kedunglumpang memiliki pola tanam untuk tiga musim dalam setahun adalah Padi, Padi. Padi
tetapi berdasarkan keterangan penyuluh pertanian Desa
Kedunglumpang pola tanam tersebut kurang baik karena tanah akan kehilangan unsur hara tertentu karena tanah hanya digunakan untuk satu
jenis tanaman saja. Sedangkan padi membutuhkan banyak air dan penanaman monoton tersebut mengurangi kualitas tanah. Oleh karena itu
penyuluh pertanian berusaha mensosialisasikan pola tanam berganti seperti
padi, padi, jagung untuk di terapkan agar dapat tetap menjaga kualitas tanah yang ada.
4. Kalender Musim

Kalender musim merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui pola dan waktu proses pada komoditas-komoditas yang ada.
Kalender musim digunakan untuk mendiskripsikan periode-periode pertumbuhan komoditas-komoditas pada sektor pertanian maupun
peternakan dari pembibitan hingga hasil. Berikut adalah kalender musim Desa Kedunglumpang

Tabel 6.46 Kalender Musim Desa Kedunglumpang

Sektor Bulan (Musim)

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember
Musim

Padi Dadak Panen Sebar Tanam Dadak Panen Sebar Tanam Dadak Panen Sebar Tanam
Benih Benih Benih

Jagung Tanam Perawatan Panen Perawatan Pasca Tanam Perawatan Panen Perawatan Pasca Panan
Panen

Bawang Panen Tanam Perawatan Panen Tanam Perawatan Panen Tanam Perawatan Panen Tanam Perawatan
Sayur

Tebu Perawatan Panen Tanam Perawatan

Sapi Lahir Kawin Bunting Kering

Bebek Bertelur Bertelur Bertelur Bertelur Bertelur Bertelur Bertelur Bertelur Beli bebek Bertelur Bertelur Bertelur
dan dan Dijual dan Dijual dan dan dan Dijual dan dan Dijual usia 6 bulan dan Dijual dan Dijual dan Dijual
Dijual Dijual Dijual Dijual

Kambing Lahir Lahir Perawatan Kawin


Lele Panen Perawatan dan Panen Perawatan Panen Perawatan Panen Perawatan
pemberian Kosentrat
Pemberian konsentrat Pemberian konsentrat Pemberian konsentrat

Sumber: Hasil PRA (2011)

Kalender musim memberikan gambaran mengenai aktivitas kegiatan masyarakat teutama para petani dan Peternak. Kelender musim ini juga
dapat memberikan gambaran bagi masyarakat mengenai bulan-bulan produktif bagi usaha masyarakat Desa Kedunglumpang.. Untuk sektor
pertanian seperti Padi dan Jagung dalam setahun terdapat tiga kali masa tanam dan panen dan proses yang dilakukan meliputi proses tanam
Dadak (Penyiangan rumput) dan Panen. Sedangkan pada komoditas tebu merupakan tumbuhan tahunan sehingga proses perawatan dilakukan
sepanjang bulan selama satu tahun.

Pada sektor peternakan bulan-bulan produktif tidak menentu atau tidak tetap tetapi pada umumnya pada komoditas bebek yang telah bertelur
dan sedang produktif dapat menghasilkan telur setiap hari. Sedangkan untuk komoditas lele dalam satu tahun terdapat empat kali panen dengan
masa perawatan dua bulan.

5. Bagan Peringkat

Bagan peringkat yang dilakukan dalam PRA berfungsi untuk mengetahui urutan atau peringkat keadaan dari suatu komoditas dalam berbagai
sektor yang ada di Desa Kedunglumpang. Penilaian dilakukan pada beberapa variabel yang dimaksud meliputi

a. Hasil Produksi

Parameter penilaian:

Apabila Produksi yang dihasilkan baik mendapat nilai ***

Apabila Produksi yang dihasilkan sedang mendapat nilai **


Apabila Produksi yang di hasilkan buruk mendapat nilai *

Kualitas

Parameter penilaian:

Apabila Kualitas hasil panen/ternak/produksi baik mendapat nilai ***

Apabila Kualitas hasil panen/ternak/produksi sedang mendapat nilai **

Apabila Kualitas hasil panen/ternak/produksi buruk mendapat nilai *

Wilayah Pemasaran

Apabila Wilayah pemasaran dari hasil panen/ternak/produksi baik mendapat nilai ***

Apabila Wilayah pemasaran dari hasil panen/ternak/produksi sedang mendapat nilai **

Apabila Wilayah pemasaran dari hasil panen/ternak/produksi buruk mendapat nilai *

Keuntungan

Apabila Keuntungan yang didapat dari hasil panen/ternak/produksi baik mendapat nilai ***

Apabila Keuntungan yang didapat dari hasil panen/ternak/produksi sedang mendapat nilai **

Apabila Keuntungan yang didapat dari hasil panen/ternak/produksi buruk mendapat nilai *

Berikut adalah bagan peringkat yang dilakukan di Desa Kedunglumpang

Tabel 6.47 Bagan Peringkat Desa Kedunglumpang


HASIL WILAYAH
NO KOMODITA KUALITA KEUNTUNGA JUMLA PERINGKA
PRODUKS PEMASARA
. S S N H T
I N

*** *** *** ***


1. Padi

12 I

** *** *** *
2. Jagung

9 IV

* * ** **
3. Tebu

6 VII

** * * *
4. Bawang
Sayur
5 VIII
HASIL WILAYAH
NO KOMODITA KUALITA KEUNTUNGA JUMLA PERINGKA
PRODUKS PEMASARA
. S S N H T
I N

** ** *** ***
5. Sapi

10 III

** ** * **
6. Bebek

7 VI

* * * *
7. Kambing

4 IX
HASIL WILAYAH
NO KOMODITA KUALITA KEUNTUNGA JUMLA PERINGKA
PRODUKS PEMASARA
. S S N H T
I N

** ** ** **
8 Lele

8 V

*** *** ***


9 Pentol **

11 II

Sumber: Hasil PRA (2011)

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa komoditas yang paling utama adalah pada sektor pertanian yaitu padi hal ini juga dapat diketahui dari
mata pencaharian 50% warga Desa Kedunglumpang adalah sebagai buruh tani, meski masih terdapat banyak komoditas lain di bidang pertanian
tetapi industri pentol juga merupakan salah satu komoditas yang cukup menjanjikan. Sedangkan sapi merupakan komoditas yang juga cukup
diandalkan karena sebagian besar warga Desa Kedunglumpang memiliki sapi meski tidak untuk dijual dan hanya untuk dimiliki sendiri tetapi
ada pula yang beternak sapi untuk di jual ke pasar hewan. Sedangkan keuntungan yang diperoleh juga cukup baik terutama saat musim Qurban.

6. Diagram Aktifitas
Diagram Aktifitas merupakan salah satu alat yang digunakan dalam PRA Desa Kedunglumpang untuk mengkaji kegiatan sehari-hari yang
dilakukan oleh keluarga dari berbagai profesi di Desa Kedunglumpang. Dengan menggunakan diagram aktifitas tersebut diharapkan juga dapat
mengetahui proporsi kegiatan antara laki-laki dan perempuan karena dalam diagram aktifitas terdiri dari kegiatan ayah, ibu dan anak.

Berikut ini merupakan gambaran aktifitas sehari-hari anggota keluarga dari berbagai jenis mata pencaharian yang ada.

Dari gambar diagram Aktifitas Keluarga Buruh Tani tersebut diketahui bahwa jam produktif yang digunakan untuk bekerja di sawah adalah
mulai pukul 6.00 hingga pukul 17.00 dengan istirahat pada pukul 11.00 dan mulai kembali pada pukul 13.00. dan selebihnya dimanfaatkan untuk
istirahat dan berkumpul dengan keluarga.
Pada keluarga Pemilik Lahan Pertanian memulai kegiatan pada pukul 07.00 hingga pukul 15.00 dan selebihnya juga di manfaatkan untuk
beristirahat dan berkumpul dengan keluarga. Jadi untuk keluarga pemilik lahan pertanian memiliki jam produktif sekitar 8 jam sehari.
Dari diagram aktifitas Keluarga peternak sapi di atas dapat diketahui bahwa bapak merawat sapi mulai pukul 7.00 hingga pukul 14.00 meliputi
memandikan sapi, membersihkan kandang dan mencari rumput. Sedangkan ibu membantu memberi makan sapi. Sehingga jumlah jam efektif
bekerja untuk peternak sapi sekitar 7 jam sehari.
Pegawai Negeri memiliki jam kerja sekitar 8 jam sehari yaitu mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 15.00 . Sedangkan Pegawai negeri seperti
guru yang mengajar di sekolah hanya sampai pukul 12.00 memanfaatkan waktu luangnya untuk beternak bebek.
Keluarga pengusaha pentol memiliki waktu produktif sekitar 8 jam yaitu mulai pukul 07.00 sampai pukul 15.00. sedangkan bapak selain
membantu dalam produksi pentol juga bekerja di sawah sebagai buruh tani.

7. Transek Desa

HUTAN PERMUKIMAN DAN SUNGAI SAWAH JALAN SAWAH PERMUKIMAN HUTAN

KETINGGIAN
TGL Palawija Tempat tinggal, toko, industri kecil, Sawah Jalan Sawah Tempat tinggal, toko, Palawija (tumpang sari),
(tumpang peternakan, pengairan sawah industri kecil, hutan, permukiman kecil
sari), hutan, peternakan, pengairan
permukiman sawah
kecil
VEGETASI Singkong, Pisang, mangga, cangkeh Padi, tebu, Padi, tebu, Pisang, mangga, Singkong, jagung, padi,
jagung, padi, kedelai, kedelai, cangkeh kacang, terong
kacang, jagung jagung
terong
KEPEMILIKAN Perhutani Milik Umum Milik
LAHAN masyarakat masyarakat

HEWAN Kijang, babi, Kucing, kadal, biawak Kucing, kadal, biawak


kera, ayam
hutan, macan
KONDISI Kering, padas Subur Subur Subur Subur Kering, padas berbatu
TANAH berbatu
PENGAIRAN Air hujan, bor Dari sumur, sumber terlingdung Dari sumber Dari sumber Dari sumur, sumber Air hujan, bor bawah
bawah tanah hutan hutan terlingdung tanah
POTENSI Pertambangan Pertambangan batu
batu

MASALAH Penebangan Terjadi banjir saat musim hujan di Serangan Aspal Serangan Terjadi banjir saat Penebangan liar, erosi,
liar, erosi, dataran rendah, kualitas air sumur hama banyak hama musim hujan di DAS tidak lancar,
DAS tidak menurun yang dataran rendah, kebakaran
lancar, rusak kualitas air sumur
kebakaran menurun

Transek merupakan bagian potongan atau irisan dari permukaan bumi yang ditelusuri dari utara hingga ke selatan. Transek Desa
Kedunglumpang mempunyai jenis penggunaan ketinggian berupa tata guna lahan, vegetasi, kepemilikan lahan, hewan, kondisi tanah, pengairan,
potensi, dan masalah. Daerah hutan di Desa kedunglumpang kondisi Tata guna lahan hutan dtitanami tumpang sari pohon palawija serta terdapat
permukiman kecil dengan jenis vegtasi berupa singkong, jagung, padi, dan kacang. Hutan pada Desa Kedung lumpang dikelola oleh pihak
perhutanian. Kondisi tanah di hutan ini kering serta padas berbatu. Terdapat beberapa hewan yang dapat hidup di hutan ini, antara lain kijang,
babi, kera, macan, dan ayam hutan. Kondisi pengairan di hutan ini di dapat dari air hujan, serta bor bawah tanah. Potensi yang terdapat di hutan
ini yaitu pertambangan batu. Sedangkan masalah yang sering timbul di hutan ini antara lain, penebangan liar, erosi, DAS tidak lancar, dan
kebakaran hutan.

Tata guna lahan pada permukiman dan sungai pada umumnya digunakan sebagai tempat tinggal, toko, industri kecil, peternakan serta pengairan
sawah. Vegetasi yang tumbuh di sekitar permukiman dan sungai yaitu pohon pisang, mangga, dan cengkeh. Hewan yang terdapat di permukiman
dan sungai ini antara lain kucing, kadal, biawak, kambing, sapi, bebek dan lele. Kondisi tanah di permukiman dan sungai cukup subur, pengairan
yang dihasilkan berasal dari sumur, dan sumber terlindungi. Masalah yang muncul di permukiman dan sungai yaitu terjadi banjir saat musim
hujan di dataran yang cukup rendah, serta seringkali kualitas air sumur menurun.

Sedangkan untuk area persawahan, tata guna lahan yang dipergunakan hanya untuk persawahan. Vegetasi yang terdapat di sawah antara lain
padi, tebu, kedelai, jagung, bawang, terong. Untuk kepemilikan sawah dimiliki masyarakat itu sendiri. Kondisi tanahnya subur, pengairan yang
di dapat berasal dari sumber air yang ada di hutan. Masalah yang terdapat disawah yaitu sering terjadi serangan hama. Pada area jalan, tata guna
lahan yang digunakan hanya untuk jalan. Kepemilikan lahan merupakan milik umum. Masalah yang ada pada jalan tersebut adalah banyaknya
aspal yang rusak.