Anda di halaman 1dari 18

IBADAH PUASA

MAKALAH INDIVIDU
Untuk Memenuhi Tugas
Matakuliah Al Islam Kemuhammadiyahan 2
yang diampu oleh Bapak Faturrahman, M.S.I dan Cahaya Khaeroni, M.Pd.I

Oleh :
Ismi Azizah
16320033
Biologi B

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
PROGAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
Maret 2016 / 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT dengan berkat dan
rahmatnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun berisikan meteri
tentang Ibadah Puasa untuk mempermudah dalam menyelaminya.
Salah satu tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk pengembangan daya
penalaran untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu dalam makalah ini, pembahasan konsep dibuat semenarik mungkin
dan mengedepankan ilustrasi yang memacu berpikir kritis.
Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Cahaya Khaeroni, M.Pd.I dan
Faturrahman, M.S.I selaku pengampu mata kuliah Al Islam
Kemuhammahdiyahan. Rasa sayang kepada kedua orang tua yang tiada henti
memberikan motivasi untuk kami sehingga memiliki semangat lebih dalam belajar
dan berusaha. Oleh karena itu, kami tim penyusun mengharapkan kritik dan saran
demi kemajuan makalah selanjutnya.

Metro,
28 Maret 2017

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Puasa adalah rukun Islam yang ketiga. Karena itu setiap orang yang beriman,
setiap orang islam yang mukallaf wajib melaksanakannya. Melaksanakan ibadah
puasa ini selain untuk mematuhi perintah Allah adalah juga untuk menjadi tangga
ke tingkat takwa, karena takwalah dasar keheningan jiwa dan keluruhan budi dan
akhlak.
Konsepsi puasa dalam pemaknaan istilah seringkali dimaknai dalam
pengertian sempit sebagai suatu prosesi menahan lapar dan haus serta yang
membatalkan puasa yang dilakukan pada bulan ramadhan. Padahal hakekat puasa
yang sebenarnya adalah menahan diri untuk melakukan perbuatan yang dilarang
oleh agama.
Selain itu, puasa juga memberikan ilustrasi solidaritas muslim terhadap umat
lain yang berada pada kondisi hidup miskin. Dalam konteks ini, interaksi sosial
dapat digambarkan pada konsepsi lapar dan haus yang dampaknya akan
memberikan kemungkinan adanya tenggang rasa antar umat manusia.
Pengkajian tentang hakekat puasa ini dapat dikatakan universal dan meliputi
seluruh kehidupan manusia baik kesehatan, interaksi sosial, keagamaan, ekonomi,
budaya dan sebagainya. Begitu universal dan kompleksnya makna puasa
hendaknya menjadi acuan bagi muslim dalam mengimplementasikannya pada
kehidupan sehari-hari. Dengan pengertian lain puasa dapat dijadikan pedoman
hidup.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian puasa itu?
2. Apa dasar hukum pelaksanaan puasa?
3. Apa rukun puasa?
4. Apa macam macam puasa?
5. Apa saja yang membatalkannya?
6. Apa hikmah dan tujuan berpuasa?

C. Tujuan
1. Memahami arti puasa
2. Memahami syarat dan rukun puasa
3. Memahami macam - macam puasa

D. Manfaat
1. Pembelajaran untuk melatih kesabaran
2. Melatih untuk mengendalikan hawa nafsu
3. Media meraih ketaqwaan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Puasa
Puasa adalah terjemahan dari Ash-Shiyam. Menurut istilah bahasa berarti
menahan diri dari sesuatu dalam pengertian tidak terbatas. Arti ini sesuai dengan
firman Allah dalam surat Maryam ayat 26 :

..





sesungguhnya aku bernazar shaum ( bernazar menahan diri dan berbiacara ).
Saumu (puasa), menurut bahasa Arab adalah menahan dari segala
sesuatu, seperti makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat
dan sebagainya.[1]
Menurut istilah agama Islam yaitu menahan diri dari sesuatu yang
membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam
matahari dengan niat dan beberapa syarat.
Menahan diri dari berbicara dahulu disyariatkan dalam agama Bani Israil.
Menurut Syara (istilah agama Islam) arti puasa adalah sebagaimana tersebut
dalam kitab Subulus Salam. Yaitu :




.


.
.
.
.






.




.






Menahan diri dari makan, minum, jima (hubungan seksual) dan lain-lain yang
diperintahkan sepanjang hari menurut cara yang disyariatkan, dan disertai pula
menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan yang diharamkan pada waktu-waktu
tertentu dan menurut syarat-syarat yang ditetapkan.[ 2]

B. Dasar hukum pelaksanaannya


Puasa Ramadhan adalah salah satu dari rukun Islam yang diwajibkan kepada
tiap mukmin. Sebagai dalil atau dasar yang menyatakan bahwa puasa Ramadhan
itu ibadat yang diwajibkan Allah kepada tiap mukmin, umat Muhammad Saw., ialah:

1 Sayyid Sabiq. 1986. Fiqih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 161
2 Hasbi Ash Shiddieqy. 1954. Ibadah Ditinjau Dari Segi Hukum dan Hikmah. Jakarta: PT. Bulan
Bintang. hal: 179
a. Firman Allah Swt., :








.

.


.
.
Artinya : Wahai mereka yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa (Ramadhan)
sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu
bertaqwa. (QS. Al-Baqarah-183).
b. Sabda Nabi Saw., :
.


.






:








.



.
.

Didirikan Islam atas lima sendi: mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah,
mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan dan naik haji ke
Baitullah. (H.R Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).[ 3]
Berdasarkan ketetapan Alquran, ketetapan hadis tersebut, puasa diwajibkan
atas umat Islam sebagaimana diwajibkan atas umat yang terdahulu. Ayat itu
menerangkan bahwa orang yang berada di tempat dalam keadaan sehat, di waktu
bulan Ramadhan, wajib dia berpuasa. Seluruh Ulama Islam sepakat menetapkan
bahwasanya puasa, salah satu rukun Islam yang lima, karena itu puasa di bulan
Ramadhan adalah wajib dikerjakan.
Kecuali itu dalam ilmu kesehatan ada orang yang berpuasa untuk kesehatan.
Walaupun orang ini berpuasa sesuai dengan ketentuan-ketentuan ajaran Islam,
namun mereka puasanya tanpa niat ibadah kepada Allah yaitu dengan niat
berpuasa esok hari karena Allah dan mengharapkan ridho-Nya, maka puasanya
adalah puasa sekuler. Orang ini mendapat manfaat jasmaniah, tetapi tidak
mendapat manfaat rohaniah.[4]
1. Hukum Bagi Yang wajib Berpuasa
Yang dimaksudkan hukum disini ialah kriteria manusia yang diwajibkan
berpuasa, yaitu :
a. Orang Islam Muslim. Sehingga bagi yang non muslim, yang kafir
maupun yang murtad tidak
diwajibkan berpuasa.
b. Berakal. Sehingga orang-orang yang masuk di dalam golongan ini tidak
wajib untuk berpuasa, orang gila dan sejenisnya.
c. Baligh. Maksud baligh ialah apabila seseorang lelaki atau perempuan
telah sampai pada tahap umur tertentu, maka dia menjadi seorang yang
layak menerima taklif (tanggungjawab) yang ditentukan oleh agama
seperti halnya solat, puasa, haji dan lain-lain. Orang Islam yang akil baligh
disebut juga sebagai "mukalaf".
d. Menetap di suatu tempat. Yaitu yang sedang tidak dalam keadaan
kondisi perjalanan atau musafir.
e. Mampu Berpuasa. Maksudnya adalah bahwa orang yang menjalankan
puasa itu bukan orang sakit maupun orang yang telah berusia lanjut (tua).
[5 ]

2. Hukum Bagi Yang TidakWajib Berpuasa

3Sayyid Sabiq. 1986. Fiqih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 165-166
4 Mushlihin Al Hafizh. 2013. Dasar Hukum Puasa. Makasar
5 Sayyid Sabiq. 1986. Fiqih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 176
Hukum disini ialah ciri-ciri seseorang yang tidak wajib melaksanakan puasa,
yaitu :

Pertama: Orang sakit ketika sulit berpuasa

Yang dimaksudkan sakit adalah seseorang yang mengidap penyakit


yang membuatnya tidak lagi dikatakan sehat. Para ulama telah sepakat
mengenai bolehnya orang sakit untuk tidak berpuasa secara umum. Nanti
ketika sembuh, dia diharuskan mengqodho puasanya (menggantinya di hari
lain). Dalil mengenai hal ini adalah firman Allah Taala,

.



.
.


Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain.

(QS. Al Baqarah: 185)

Kedua: Orang yang bersafar ketika sulit berpuasa

Musafir yang melakukan perjalanan jauh sehingga mendapatkan


keringanan untuk mengqoshor shalat dibolehkan untuk tidak berpuasa.

Dalil dari hal ini adalah firman Allah Taala.

.



.
.


Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain.

(QS. Al Baqarah: 185)[6]

Ketiga: Orang yang sudah tua rentah dan dalam keadaan lemah,
juga orang sakit yang tidak kunjung sembuh

Para ulama sepakat bahwa orang tua yang tidak mampu berpuasa,
boleh baginya untuk tidak berpuasa dan tidak ada qodho baginya. Menurut
mayoritas ulama, cukup bagi mereka untuk memberi fidyah yaitu memberi
makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Pendapat
mayoritas ulama inilah yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan firman
Allah Taala :

6 Sayyid Sabiq. 1986. Fiqih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 177





.



Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak
berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (QS.
Al Baqarah: 184)

Begitu pula orang sakit yang tidak kunjung sembuh, dia disamakan
dengan orang tua rentah yang tidak mampu melakukan puasa sehingga dia
diharuskan mengeluarkan fidyah (memberi makan kepada orang miskin bagi
setiap hari yang ditinggalkan).[7]

Keempat: Wanita hamil dan menyusui

Di antara kemudahan dalam syarat Islam adalah memberi keringanan


kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika wanita hamil
takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui
takut terhadap bayi yang dia sapih misalnya takut kurangnya susu- karena
sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa, dan
hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. Dalil yang menunjukkan
hal ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam.







.

.





.






.

Sesungguhnya Allah azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk


musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.[8]

C. Rukun Puasa

1. Niat ; yaitu menyengaja puasa Ramadhan, setelah terbenam matahari hingga


sebelum fajar shadiq. Artinya pada malam harinya, dalam hati telah tergerak
(berniat), bahwa besok harinya akan mengerjakan puasa wajib Ramadhan.
Adapun puasa sunnat, boleh niatnya dilakukan pada pagi harinya.

2. Meninggalkan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga
terbenam matahari.[9]
Berdasarkan Firman Allah Taala :

7 Hasbi Ash Shiddieqy. 1954. Ibadah Ditinjau Dari Segi Hukum dan Hikmah. Jakarta: PT. Bulan
Bintang. hal: 183
8 Hussein Bahreisy. 1981. Pedoman Fiqih Islam. Surabaya: Al Ikhlas. hal: 80-82






.

.
.
.



Artinya: Maka sekarang, bolehlah kamu mencampuri mereka dan hendaklah
kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan makan-
minumlah hingga nyata garis putih dan garis hitam berupa fajar, kemudian
sempurnakanlah puasa sampai malam.
Yang dimaksud dengan garis putih dan garis hitam ialah terangnya
siang dan gelapnya malam. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim bahwa Adi bin Hatim bercerita : Tatkala turun ayat yang
artinya : hingga nyata benang putih dari benang hitam berupa fajar saya
ambillah seutas tali hitam dan seutas tali putih, lalu saya taruh dibawah
bantal dan saya amat-amati di waktu malam dan ternyata tidak dapat saya
bedakan. Maka pagi-pagi saya datang menemui Rasulullah Saw dan saya
ceritakan padanya hal itu. Sabda Nabi Saw :


.

.
.

Artinya: Maksudnya ialah gelapnya malam dan terangnya siang.[ 10]

D. Macam-macam Puasa
a. Puasa Wajib
1. Puasa Ramadhan

Allah taala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk


berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian
agar kalian bertakwa.

(QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, Puasa Ramadhan


merupakan salah satu rukun Islam. Inilah kedudukannya (yang mulia) di
dalam agama Islam. Hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma/kesepakatan

9 Salim Bin Smeer Al Hadhrami. 2008. Terjemah Safinatun Najah. Jakarta: Pustaka Amani. Hal:
42
10 Majlis Tarjih. 1967. Himpunan Putusan Tarjih. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hal: 179
kaum muslimin karena Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan demikian.
(Syarh Riyadhush Shalihin, 3/380).[11]
2. Puasa Nazar
Untuk puasa nazar hukumnya wajib jika sudah niat akan puasa nazar. Jika
puasa nazar tidak dapat dilakukan maka dapat diganti dengan
memerdekakan budak / hamba sahaya atau memberi makan / pakaian pada
sepuluh orang miskin. Puasa nazar biasanya dilakukan jika ada sebabnya
yang telah diniatkan sebelum sebab itu terjadi. Nazar dilakukan jika
mendapatkan suatu nikmat / keberhasilan atau terbebas dari musibah /
malapetaka. Puasa nazar dilakukan sebagai tanda syukur kepada Allah SWT
atas ni'mat dan rizki yang telah diberikan.[12]

3. Puasa Kifarat (Denda)


Dalam syariat Islam puasa kifarat hukumnya wajib bila :
1. Puasa kifarat karena membunuh seorang muslim tanpa disengaja.
Kesalahan tersebut mewajibkan pelaksanaan salah satu dari dua denda, yaitu
diyat atau kifarat.
Kifarat untuk itu ada dua macam yaitu :
1. Memerdekan hamba beriman yang tidak ada cela pada dirinya yang
menghambat kerja atau usaha
2. Puasa 2 (dua) bulan berturut-turut.
2. Puasa kifarat karena seorang melakukan hubungan suami istri
selama puasa, maka :
1. Wajib membayar kifarat, ialah memerdekakan seorang hamba atau jika ia
tidak mampu,

2. Berpuasa 2 bulan berturut-turut. Jika ia tidak kuat berpuasa, maka ia terkena


hokum wajib member makanan untuk orang-orang miskin sebanyak 60 orang
masing-masing 1 mud.13

b. Puasa Sunnah
Adapun macam macam puasa yang disunnahkan oleh Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdasarkan dalil yang shahih adalah sebagai
berikut:
1. Puasa Hari Arafah
Puasa arafah di sunnahkan bagi selain orang yang berhaji yang
dilaksanakan tanggal 9 Dzulhijjah, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Sallam bersabda :
Puasa hari arafah itu menghapus dosa dua tahun, setahun yang silam dan
setahun yang akan datang. Dan puasa asyura itu menghapus dosa setahun
sebelumnya. (HR Muslim).
2. Puasa Tasua dan Puasa Asyura

11 Hussein Bahreisy. 1981. Pedoman Fiqih Islam. Surabaya: Al Ikhlas. hal: 74


12 Hasbi Ash Shiddieqy. 1954. Ibadah Ditinjau Dari Segi Hukum dan Hikmah. Jakarta: PT.
Bulan Bintang. hal: 186
13 Majlis Tarjih. 1967. Himpunan Putusan Tarjih. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hal: 172-
173
Yaitu puasa yang di laksanakan pada tanggal 9 & 10 muharram. Berdasarkan
hadits:
jika sampai pada tahun depan Insya Allah kita puasa Tasua

3. Puasa 6 Hari di Bulan Syawal


Berdasarkan Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam:
Barangsiapa berpuasa di bulan ramadhan dan meneruskannya dengan
(puasa) enam hari di bulan syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang
tahun. (HR Muslim)
4. Memperbanyak Puasa di bulan Syaban
Berdasarkan dalil dari aisyah:
Dari Aisyah Radhiyallaahu 'anha, dia berkata. Aku tidak pernah melihat
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa sebulan
penuh kecuali pada bulan ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Beliau
Shallallaahu alaihi wa Sallam memperbanyak puasa di bulan-bulan lain
seperti syaban. (HR Bukhari-Muslim)
5. Memperbanyak Puasa Dibulan Muharram
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda :
Puasa yang paling utama setelah bulan ramadhan adalah bulan Allah
Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat
malam. (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi & Nasai)
6. Puasa Setiap Hari Senin Dan Kamis
Dari Usamah bin Zaid berkata. Sesungguhnya Nabiyullah Shallallaahu
alaihi wa Sallam puasa pada hari senin dan kamis dan Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah ditanya perihal puasa itu. Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya segala awal seluruh
hamba dipaparkan pada hari senin dan kamis. (HR. Abu Daud)
7. Puasa Tiga Hari Setiap Pertengahan Bulan
Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Sallam Bersabda: Berpuasalah tiga hari pada setiap bulan, karena
sesungguhnya kebaikan di kalikan sepuluh, sehingga puasa itu (puasa 3 hari)
sama dengan puasa satu tahun penuh. (HR Bukhari Muslim)
Juga hadits dari Abu Dzar, dia berkata. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Sallam Bersabda : Wahai Abu Dzar jika engkau berpuasa tiga hari dari setiap
bulan, maka berpuasalah tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.
(HR. Tirmidzi dan Nasai)
8. Puasa Nabiyullah Dawud
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam,
Puasa yang paling di sukai di sisi Allah adalah puasa Dawud, yaitu berpuasa
sehari dan berbuka sehari. (HR Muslim, Nasai dan Ibnu Majjah).[14]

E. Yang Membatalkan Puasa


1. Memasukkan sesuatu kedalam lobang rongga badan dengan sengaja, seperti
makan, minum, merokok, memasukkan benda ke dalam telinga atau ke
dalam hidung hingga melewati pangkal hidungnya. Tetapi jika karena lupa,
tiadalah yang demikian itu membatalkan puasa. Suntik di lengan, di paha, di

14 Sayyid Sabiq. 1986. Fiqih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 196
punggung atau lainnya yang serupa, tidak membatalkannya, karena di paha
atau punggung bukan berarti melalui lobang rongga badan.
2. Muntah dengan sengaja; muntah tidak dengan sengaja tidak
membatalkannya.
3. Haid dan nifas; wanita yang haid dan nifas haram mengerjakan puasa, tetapi
wajib mengqodha sebanyak hari yang ditinggalkan waktu haid dan nifas.
4. Jima pada siang hari.
5. Gila walaupun sebentar.
6. Mabuk atau pingsan sepanjang hari.
7. Murtad, yakni keluar dari agama Islam. [15]

Perlu diterangkan disini tentang sangsi orang yang jima (bercampur)


pada siang hari di bulan Ramadhan; Orang yang berjima (melakukan
hubungan kelamin) pada siang hari bulan Ramadhan, puasanya batal. Selain
itu ia wajib membayar denda atau kifarat, sebagaimana dinyatakan oleh
Rasulullah Saw. :



. .

.






. :
.
:
.



.( ) ..
. : .
.

Artinya: Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya seorang laki-laki pernah
bercampur dengan istrinya siang hari pada bulan Ramadhan, lalu ia minta
fatwa kepada Nabi Saw. : Adakah engkau mempunyai budak ?.
(dimerdekakan). Ia menjwab : Tidak. Nabi berkata lagi : Kuatkah engkau
puasa dua bulan berturut-turut ?. Ia menjawab : Tidak. Sabda Nabi lagi :
Kalau engkau tidak
berpuasa, maka berilah makan orang-orang miskin sebanyak enam puluh
orang. (HR.Muslim).[16]

F. Hikmah dan Tujuan Berpuasa


1. Tujuan Berpuasa
Puasa memiliki beberapa tujuan, yaitu :

Pertama, puasa menjadi sarana pendidikan bagi manusia agar tetap


bertakwa kepada Allah SWT.

Kedua, puasa merupakan media pendidikan bagi jiwa untuk tetap bersabar
dan tahan dari segala penderitaan dalam menempuh dan melaksanakan
perintah Allah SWT.

Ketiga, puasa menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan
persaudaraan terhadap orang lain, sehingga tumbuh rasa empati untuk
menolong sesama yang membutuhkan.

15 Salim Bin Smeer Al Hadhrami. 2008. Terjemah Safinatun Najah. Jakarta: Pustaka Amani.
Hal: 44
16 Majlis Tarjih. 1967. Himpunan Putusan Tarjih. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hal: 172-
173
Keempat, melatih untuk berbuat baik kepada orang lain, Rasulullah ketika
di bulan ramadhan adalah orang yang paling dermawan.

Kelima, melatih agar selalu membaca Al Quran di baca setiap hari.[ 17]

2. Hikmah Berpuasa
Puasa pula memiliki beberapa hikmah, yaitu :

a. Melatih Disiplin Waktu Untuk menghasilkan puasa yang tetap fit dan
kuat di siang hari, maka tubuh memerlukan istirahat yang cukup, hal ini
membuat kita tidur lebih teratur demi lancarnya puasa. Bangun untuk makan
sahur dipagi hari juga melatih kebiasaan untuk bangun lebih pagi untuk
mendapatkan rejeki (makanan).

b. Keseimbangan dalam Hidup Pada hakikatnya kita adalah hamba Allah


yang diperintahkan untuk beribadah. Namun sayang hanya karena hal
duniawi seperti pekerjaan, hawa nafsu dan lain-lain kita sering melupakan
kewajiban kita. Pada bulan puasa ini kita terlatih untuk kembali mengingat
dan melaksanakan seluruh kewajiban tersebut dengan imbalan pahala yang
dilipatgandakan.

c. Mempererat Silaturahmi Dalam Islam ada persaudaraan sesama


muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang
memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid, memberi
ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan
yang dilaksanakan di Masjid.

d. Lebih Perduli Pada Sesama Dalam Islam ada persaudaraan sesama


muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang
memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid, memberi
ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan
yang dilaksanakan di Masjid.

e. Tahu Bahwa Ibadah Memiliki Tujuan Tujuan puasa adalah melatih diri
kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan
Ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil. Tapi jika tujuannya
gagal maka puasa tidak ada arti apa-apa. Jadi kita terbiasa berorientasi
kepada tujuan dalam melakukan segala macam amal ibadah.

f. Tiap Kegiatan Mulia Merupakan Ibadah Setiap langkah kaki menuju


masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat adil pada manusia ibadah,
tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan ibadah, sampai
tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat dijadikan
ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua dapat
bernilai ibadah.

17 Majlis Tarjih. 1967. Himpunan Putusan Tarjih. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. Hal: 174
g. Berhati-hati Dalam Berbuat Puasa Ramadhan akan sempurna dan tidak
sia-sia apabila selain menahan lapar dan haus juga kita menghindari
keharaman mata, telinga, perkataan dan perbuatan. atihan ini menimbulkan
kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga dapat
menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing,
berkata kotor, berbohong, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan
lain sebagainya.

h. Berlatih Lebih Tabah Dalam Puasa di bulan Ramadhan kita dibiasakan


menahan yang tidak baik dilakukan. Misalnya marah-marah, berburuk
sangka, dan dianjurkan sifat Sabar atas segala perbuatan orang lain kepada
kita. Misalkan ada orang yang menggunjingkan kita, atau mungkin meruncing
pada Fitnah, tetapi kita tetap Sabar karena kita dalam keadaan Puasa.

i. Melatih Hidup Sederhana Ketika waktu berbuka puasa tiba, saat minum
dan makan sedikit saja kita telah merasakan nikmatnya makanan yang
sedikit tersebut, pikiran kita untuk makan banyak dan bermacam-macam
sebetulnya hanya hawa nafsu saja.

j. Melatih Untuk Bersyukur Dengan memakan hanya ada saat berbuka,


kita menjadi lebih mensykuri nikmat yang kita miliki saat tidak berpuasa.
Sehingga kita dapat menjadi pribadi yang lebih mensyukuri nikmat Allah SWT.
[18][19]

18 Abdullah Umar. 2015. Hikmah dan Tujuan Puasa. Jakarta

19 Indri Safitri. 2012. Fiqih Puasa. Palembang


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Puasa adalah suatu amalan ibadah yang dilaksanakan dengan cara


menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar
sampai terbenam matahari disertai niat karena Allah dengan syarat dan
rukun tertentu.

Puasa haruslah dilakukan pada selain hari-hari yang telah diharamkan


dan dalam menjalankannya pun harus menghindari hal-hal yang dapat
membatalkan puasa. Diantaranya muntah dengan sengaja, ragu, berubah
niat, dan lain sebagainya.

Di dalam Ibadah Puasa terutama bulan Ramadhan banyak sekali


manfaat-manfaat dan amalan-amalan yang dapat kita kerjakan agar Puasa
kita lebih bermanfaat dan mendapat Ridha-Nya. Puasa mengandung banyak
hikmah baik dalam segi kejiwaan seperti membisakan sabar dan berprilaku
baik. Dalam segi social seperti sikap saling tolong menolong.dalam segi
kesehatan seperti, membersihkan usus. Maupun dalam segi rohani yaitu
selalu berdzikir kepada allah.serta dapat lebih mendekatkan diri kita kepada
Allah SWT.

B. Saran

Manusia adalah tempatnya salah dan dosa, dengan Puasa ini mudah
mudahan kita sebagai manusia dapat mengurangi kesalahan tersebut dan
menjadi manusia yang dimuliakan di sisi Allah SWT. Amiin
DAFTAR PUSTAKA

Al Hadhrami, Salim bin Samer. 2008. Terjemah Safinatun Najah. Jakarta: Pustaka
Anami.
Sabiq, Sayyid. 1986. Fikih Sunnah 3. Bandung: PT.Al Maarif.
Majlis Tarjih. 1967. Himpunan Putusan Tarjih. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Bahreisy, Hussein. 1981. Pedoman Fiqih Islam. Surabaya: Al Ikhlas.
Ash Shiddieqy, Hasbi. 1985. Ibadah dari Segi Hukum dan Hikmah. Jakarta: Bulan
Bintang.
Umar, Abdullah. 2015. Hikmah dan Tujuan Puasa. (Online),
http://www.duniaislam.org/11/07/2015/tujuan-dan-hikmah-puasa-bagi-kaum-
muslim/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2017. 20.30.
Al Hafizh, Mushlihin. 2013. Dasar Hukum Puasa. (Online),
http://www.referensimakalah.com/2013/06/dasar-hukum-puasa.html. Diakses
pada tanggal 28 Maret 2017. 21.00.

Saftri, Indri. 2012. Fiqih Puasa. (Online),

http://indrisafitri04.blogspot.co.id/2012/11/makalah-fiqih-puasa.html. Diakses
pada tanggal 28 Maret 2017. 21.30.