Anda di halaman 1dari 15

IBADAH PUASA

MAKALAH INDIVIDU
Untuk Memenuhi Tugas
Matakuliah Al Islam Kemuhammadiyahan 2
yang diampu oleh Bapak Faturrahman, M.S.I dan Cahaya Khaeroni, M.Pd.I

Oleh :
I Nyoman Sukaredana
16320032
Biologi B

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
PROGAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
Maret 2016 / 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT dengan berkat dan
rahmatnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun berisikan meteri
tentang Ibadah Puasa untuk mempermudah dalam menyelaminya.
Salah satu tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk pengembangan daya
penalaran untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu dalam makalah ini, pembahasan konsep dibuat semenarik mungkin
dan mengedepankan ilustrasi yang memacu berpikir kritis.
Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Cahaya Khaeroni, M.Pd.I dan
Faturrahman, M.S.I selaku pengampu mata kuliah Al Islam
Kemuhammahdiyahan. Rasa sayang kepada kedua orang tua yang tiada henti
memberikan motivasi untuk kami sehingga memiliki semangat lebih dalam belajar
dan berusaha. Oleh karena itu, kami tim penyusun mengharapkan kritik dan saran
demi kemajuan makalah selanjutnya.

Metro,
Maret 2017

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sebagai seorang muslim, sudah menjadi suatu kewajiban untuk menjalankan
perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, manusia diciptakan tidak lain tujuannya
untuk beribadah kepada Allah, seperti yang kita ketahui agama islam memiliki lima
rukun islam yang salah satnya adalah ibadah yang dilaksanakan oleh orang muslim
yang memerlukan kekuatan fisik yaitu puasa, namun kenyataannya banyak umat
islam yang tidak melaksanakan nya.dikarenakan mereka belum mengetahui
manfaat dan hikmah puasa bahkan banyak yang tidak mengetahui pengertian
puasa, dan bagaimana menjalankan puasa yang baik dan benar.sangatlah rugi bagi
kita jika sudah berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala. oleh karena itu pada
makalah ini kami akan memaparkan dan mencoba menjelaskan tentang
puasa mulai dari definisi puasa, macam macam, tujuan, permasalahan trentang
puasa di Indonesia serta hikmah puasa.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah definisi puasa?
2. Apasajakah macam macam puasa?
3. Apakah ketentuan puasa?
4. Apa tujuan dari puasa?

C. Tujuan
1. Memahami arti puasa
2. Memahami syarat dan rukun puasa
3. Memahami macam - macam puasa

D. Manfaat

1. Membentuk sikap dan perilaku yang baik

2. Ketahanan tubuh yang lebih baik

3. Tidur yang lebih Sehat

4. Mengubah perilaku jelek

5. Menjaga konsentrasi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Puasa
Puasa yang juga dikenal dengan sebutan shiyam atau shoum berasal
dari bahasa arab. Secara bahasa shiyam atau shoum berarti berpantang atau
menahan diri dari sesuatu. Termasuk dalam pengertian bahasa ini tidak bicara
dengan orang lain atau berpantang bicara seperti termaktub dalam Al Quran Surat
Maryam ayat 26,









Artinya:Maka katakanlah (Maryam), sesungguhnya Aku telah bernazar berpuasa
untuk Tuhan yang maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang
manusiapun pada hari ini.[1]

Berdasarkan ayat Alquran dan Hadis Rosulullah maka para ahli fiqih seperti tersebut
dalam kitab subulus salam memberikan pengertian secara syari dengan :

Artinya: Menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual dan lainlain yang
telah diperintahkan menahan diri daripadanya sepanjang hari menurut cara yang
telah disyariatkan. Disertai pula menahan diri dari perkataan sia sia (membuat),
perkataan yang merangsang (porno)perkatan perkataan lain baik yang haram
maupun makruh.pada waktu yang ditetapkan dan menurut syara yang telah
ditentukan

Dari pengertian syara tersebut dapat ditarik makna bahwa puasa atau
shiyam adalah satu ibadah kepada Allah denga syarat dan rukun tertentu dengan

1 Sayyid Sabiq. 1986. Fikih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 161
jalan menahan diri dari makan, minum hbngan seksual danlain lain perbatan yang
dapat merugikan atau mengrangi makna atau nilai daripada puasa, semenjak terbit
fajar sampai terbenam matahari.[2]

Pengambilan makan dari pengertian puasa tersebut maka alghozali dalam


ihya ulumuddin membagi tingkata puasa itu dalam 3 tingkatan yaitt puasa umum,
khusus dan puasa khusus al khusus.

Puasa umum adalah puasa dengan hanya menahan diri dari makan minum dan
berhubungan seksual sedangkan puasa khusus disamping pengertian umum diatas
ditambah dengan menahan diri dari perkataan.pandangan penglihatan dan
perbuatan anggota tubuh yang cenderung kepada hal yang kurang baik /tidak
pantas.adapun tingkatan ketiga puasa khusus alkhusus disamping pengertian dua
diatas ditambah lagi dengan puasa hati dari segala maksud dan pikiran duniawi. [3]

B. Dasar hukum pelaksanaannya


Puasa Ramadhan adalah salah satu dari rukun Islam yang diwajibkan kepada
tiap mukmin. Sebagai dalil atau dasar yang menyatakan bahwa puasa Ramadhan
itu ibadat yang diwajibkan Allah kepada tiap mukmin, umat Muhammad Saw., ialah:
a. Firman Allah Swt., :















Artinya : Wahai mereka yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa (Ramadhan)
sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu
bertaqwa. (QS. Al-Baqarah-183.

b. Sabda Nabi Saw., :













:













Didirikan Islam atas lima sendi: mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah,
mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan dan naik haji ke
Baitullah. (H.R Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)[4]
Berdasarkan ketetapan Alquran, ketetapan hadis tersebut, puasa diwajibkan
atas umat Islam sebagaimana diwajibkan atas umat yang terdahulu. Ayat itu
menerangkan bahwa orang yang berada di tempat dalam keadaan sehat, di waktu
bulan Ramadhan, wajib dia berpuasa. Seluruh Ulama Islam sepakat menetapkan
bahwasanya puasa, salah satu rukun Islam yang lima, karena itu puasa di bulan
Ramadhan adalah wajib dikerjakan.

2 Hasbi Ash Shiddieqy. 1985. Kuliah Ibadah. Jakarta: PT. Bulan Bintang. hal: 179
3 Imam Ghazali. 2004. Ihya Ulumuddin Jilid 2. Surabaya: Himmah Jaya. hal: 65
4 Hasbi Ash Shiddieqy. 1985. Ibadah Ditinjau Dai Segi Hukum dan Hikmah. Jakarta: PT. Bulan
Bintang. hal: 180
Orang yang tidak beriman ada pula yang mengerjakan puasa sekarang dalam
rangka terapi pengobatan. Meskipun mereka tidak beriman namun mereka
mendapat manfaat juga dari puasanya yaitu manfaat jasmaniah.
Kecuali itu dalam ilmu kesehatan ada orang yang berpuasa untuk kesehatan.
Walaupun orang ini berpuasa sesuai dengan ketentuan-ketentuan ajaran Islam,
namun mereka puasanya tanpa niat ibadah kepada Allah yaitu dengan niat
berpuasa esok hari karena Allah dan mengharapkan ridho-Nya, maka puasanya
adalah puasa sekuler. Orang ini mendapat manfaat jasmaniah, tetapi tidak
mendapat manfaat rohaniah.[5]

C. Ketentuan Puasa

a. Syarat Puasa
Ada beberapa syarat yang harus di penhi dalam melaksanakan puasa, syarat
syarat tersebut terdiri dari syarat syarat wajib dan syarat syarat sah. Syarat wajib
adalah syarat yang menyebabkan seseorang harus melakkan puasa, sedangkan
syarat sah adalah syarat syarat yang harus di penuhi oleh seseorang agar puasanya
sah.

1) Syarat Wajib Puasa

a) Islam

b) Baligh dan berakal sehat

Tanda tanda baligh:

Bermur 15 tahun bagi laki laki maupn perempuan

Pernah mimpi basah baik laki laki walaupun belum berumur 15 tahun

Bagi perempuan belum berumur 15 tahun tapi sudah haid

c) Mampu (kuasa melakukanya)

d) Menetap (mukim)

2) Syarat Sah Puasa

a. Islam

b. Tamyiz yaitu anak anak yang mampu membedakan yang baik dan
buruk(sekitar sudah berumur 17 tahun)

c. Suci dari haid dan nifas

d. Bukan pada hari hari yang diharamkan[6]

5 Sayyid Sabiq. 1986. Fikih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 165-167
b. Fardlu Puasa

Pada waktu kita berpuasa ada 2 fardhu / rukun yang harus diperhatikan dengan
betul yaitu:

a. Niat, yaitu menyengaja untk berpuasa tiap tiap malam dengan menyatakan
akan melakukan puasa wajib

b. Meningglkan sesuatu yang membatalkan puasa mulai fajar hingga terbenam


matahari.[7][8]

c. Sunah Sunah dalam Waktu Puasa

Ada beberapa pekerjaan yang disunatkan pada waktu berpuasa yaitu sebagai
berikut :

1) Makan sahur meskipun sedikit

2) Mengakhirkan makan sahur selama belum terbit fajar (kita kita 10 menit
setelah subuh)

3) Menyegerakan berbuka puasa jika benar benar telahtiba waktunya

4) Membaca Doa ketika berbuka puasa


5) Berbuka dengan ya ng manis manis atau dengan kurma sebelum makan


yang lainnya,
6) Memperbanyak amalan amalan bulam ramadan
7) Memberi makan pada orang lain yang berbuka puasa
8) Memperbanyak membaca alquran

9) Meninggalkan perkataan yang tidak baik (kotor)[ 9]

6 Salim Bin Sameer Al Hadhrami. 2008. Terjemah Safinatun Najah. Jakarta: Pustaka Amani.
Hal: 40-41
7 Sayyid Sabiq. 1986. Fikih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 173
8 Salim Bin Sameer Al Hadhrami. 2008. Terjemah Safinatun Najah. Jakarta: Pustaka Amani.
Hal: 42
9 Sayyid Sabiq. 1986. Fikih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 211
d. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa
Hal hal yang membatalkan puasa antara lain adalah sebagai berikut :

1) Makan minum sengaja

2) Bersetubh atau melakkan hubungan suami istri pada siang hari

3) Keluar darah haid /nifas

4) Keluar mani /mazi yang sengaja

5) Masuknya sesuatu lewat lubang(mulut, hidung, telinga, dubur, kubul)

6) Menyengaja muntah

7) Gila

8) Murtad (keluar dari islam)[10]

D. Macam Macam Puasa

Puasa bila ditinjau dari segi pelaksanaan hukumnya dibedakan menjadi ;

1. Puasa wajib yang meliputi puasa bulan Ramadlan, puasa kifarat, puasa
nadzar dan puasa Qodlo.

2. Puasa sunnah atau puasa tathawu yang meiputi puasa 6 hari bulan syawwal,
puasa senin kamis, puasa hari arafah (tanggal 9 Dzulhijjah kecuali bagi orang
yang sedang mengerjakan ibadah haji tidak disunnatkan), puasa Syura
(tanggal 10 Muharram), puasa bulan syaban, puasa tengah bulan ( tanggal
13,14, dan 15 bulan qomariyyah)

3. Puasa makruh, yaitu puasa yang dilakukan terus menerus sepanjang masa
kecuali pada bulan haram, disamping itu makruh puasa pada setiap hari
sabtu saja atau tiap jumat saja.

4. Puasa haram yaitu haram berpuasa pada waktu waktu yang diharamkan,
seperti :

a. Hari raya Idul Fitri (1 Syawwal)

b. Hari raya Idul Adha (10 Dzulhujjah)

c. Hari hari tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah)[11]

10 Sayyid Sabiq. 1986. Fikih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 227
11 Sayyid Sabiq. 1986. Fikih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT. Al Maarif. hal: 202
E. Puasa Ramadhan Termasuk Rukun Islam

Puasa Ramadhan adalah fardhu yang suci, yang termasuk ibadah dalam
agama islam serta termasuk ibadah dalam agama islam serta termasuk syiar yang
amat besar.bahkan termask rukun islam yang kelima, tentang wajibnya puasa
ramadhan ulama mendasarkan pada Alquran, hadist dan ijma ulama

Dalam Al Quran Allah berfirman,

Hai orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
telah diwajibkan atas orang orang sebelum kamu, agar
kamubertaqwa(yaitu)beberapa hari yang tertentu (Al Baqarah 183,184)

Kemudian dalam firman berikutnya Allah menegaskan (yaitu) bulan


ramadhan yang padanya(mulai)diturunkan Al Quran sebagai pemimpin bagi umat
manusia sebagai petunjuk jalan dan pembeda yang terang oleh karena itu barang
siapa diantara kamu melihat bulan itu hendaklah ia berpuasa. (Al Baqarah:185)

Dalam sebuah hadis yang lebih dikenal dengan sebutan hadist jibril yang
diriwayatkkan oleh umar bin khotobdari NabiMuhammad SAW, kata beliau:

Islam adalah kamu beraksi bahwa tiada ilah selain Allah bahwa Muhammad adalah
Rosulllah SAW : kamu menegakkan soalat, kamu mengeluarkan zakat kamu
berpasa ramadhan dan kamu menunaikan ibadah haji ke baitulah, jika kamu
mampu kesana

Hadist hadist yang semakna dengan hadist diatas amat banyak bahkan
kutubussittah dan lainnya telah memuatnya.hingga derajat hadist temaksud diatas
mencapai mutawatir manawi.

Kaum muslimin dari semua madhzab dan golongan sejak periode


NabiMuhammad. Hingga hari ini telah sepakat atas wajibnya puasa
ramadhan, fardu ain atas tiap tiap muslim mukallaf tanpa kecuali baik pada jaman
dahulu maupun jaman modern ini. puasa ramadhan merupakan kewajiban yang
ditetapkan berdasarkan tawatur yakni (hadis yang diyakini eksistensinya)bahkan
sudah di mengerti baik oleh para pelajar dan maupun orang awam sehingga
mengenai wajibnya puasa ini tidak perlu dikaji dan dibahas lebih lanjut.[ 12]

F. Tujuan Puasa

Secara jelas Al Quran menyatakan bahwa tujuan puasa yang hendaknya


diperjuangkan adalah untuk mencapai ketakwaan atau laallakum tattaqun. Dalam
rangka memahami tujuan tersebut agaknya perlu digaris bawahi beberapa
penjelasan dari Nabi mhammad SAW.misalnya.``banyak diantara orang yang
berpuasa tidak memperoseh sesuat dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.

12 Ahmad Maftuh. 2015. Fiqih Puasa. Kudus, Jawa Tengah


Ini berarti bahwa menahan dari lapar dan dahaga bkan tujan tama dari
puasa.ini dikuatkan pula dengan firmanya bahwa``Allah menghendaki untuk
kamu kemudahan bukan kesulitan

Disisi lain dalam sebuah hadist qudsi. Allah berfirman Semua amal putra
putri adam untuk dirinya, kecuali puasa, puasa adalah untukk dan ak yang memberi
ganjaran atasnya.

Ini berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik.tentu saja
banyak segi keunikan puasa yang dapat dikemukakan, misalnya bahwa manusia
merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya sendiri.bukankah manusia
yang berpuasa dapat bersembnyi untuk minum dan makan ? bahkan sebagai
insan, siapapun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk makan dan minumpada
saat saat tertent dari siang hari puasa ? Nah, kalau demikian apa motovasinya
menahan diri dari keinginan itu ? tentu tentu kan karena takut atau segan dari
manusia, sebab jika demikian dia dapat saja bersembunyi dari pandangan mereka,
disini disimpulkan bahwa orang yang berpuasa melakukannya demi karena Allah
SWT.

Demikian antara lain penjelasan sementara ulamatentang keunikan puasa


dan makna hadist qudsi diatas. Sementasa pakar ada yang menegaskan bahwa
puasa dilakukan manusia dengan berbagai motif misalnya protes, turut
berbelasungkawa, penyucian diri, kesehatan dan sebagainya.tetapi seorang yang
berpuasa ramadhan dengan benar sesuai dengan cara yang ditentukan oleh Al-
Quran maka pastinya ia akan melakukannya karena Allah semata. [13]

G. Hikmah Puasa

Pada umumnya puasa dalam agama agama terdahulu dilakukan sebagai


tanda berkabung kemalangan dan duka cita. Oleh karena itu mereka berpuasa pada
saat menerima musibah tersebut. Hal itu tampak misalnya pada agama yahudi
dimana Nabi Dawud menjelaskan puasa tujuh hari pada waktu putranya masih kecil
sakit seperti termaktub dalam kitab Samuel II 12;16,8. Juga dalam kitab Samuel I :
31 13. Puasa tersebut sebagai tanda berkabung. Hanya puasa nabi musa selama
empat puluh hari yang bukan pertanda duka cita. Tetapi sebagai persiapan untuk
menerima wahyu.

13 Lukman Tauhid Nurul Mustofa. 2015. Puasa. Jakarta


Agama Nasrani tidak membawa makna baru tentang puasa, tetapi hanya
m,eneruskan apa yang ada pada agama yahudi seperti tercantum dalam Koriuntus
6:4,5,6 yang menyebutkanDengan banyak sabar didalam sengsara, didalam
kesukaran, didalam ketakutan, dengan kena susah, dengan kena penjara, dengan
kena berbagai hura hura, dengan berjaga dengan puasa.Juga pernyataan yesus
kristus dalam Matius 5 :32 sampai 35 yang menyatakan bahwa murid murid beliau
akan kerapa kali menjalankan puasa setelah beliau wafat.

Islam membawa konsep baru tentang puasa. Puasa bukan pertanda duka
cita, kemalangan atau berkabng dan bukan pula untuk pereda kemurkaan tuhan
serta memohon kasih sayangnya. Puasa dalam islam mempunyai makna yang
mulia (khususnya puasa ramadlan) dan dilaksanakan sekali dalam setahun untak
selama sebulan penuh tidak pandang apakah orang dalam berkabung ataukah
tuhan sedang member cobaan.

Puasa dijalankan sebagai suatu ibadah kepada Allah ntuk mencapai derajat
Muttaqin yaitu mencapai derajat rohani yang tinggi. Puasa dalam islam
merupakan arena dan metode untuk melatih disiplin tingkat tinggi bagi jasmani,
akhlak dan rohani manusia. Makna ini agak berbeda dengan makna kifarat yang
disebutkan dalam Al Quran.

Pada puasa kifarat (tebusan) pelaksana puasa bukan sebagai tanda duka
cita, berkabng, dan kemalangan, serta bukan pula untuk memohon kasih sayang
atau untuk meredakan kemurkaan Tuhan, tetapi puasa kifarat ini dilakukan karena
tidak dapat memenuhi ketentuan dan peraturan Allah dan hanya merupakan salah
satu alternative diantara alternative alternative lainnya (member makan orang
miskin atau memerdekakan hamba sahaya).

Secara terperinci diantara hikmah puasa adalah sebagai berikut :


1. Mensyukuri nikmat Allah

2. Mendidik jiwa agar berlaku amanah (dapat dipercaya)

3. Menjahkan sifar jiwa dari sifat sifat kebinatangan

4. Menambahkan sifat solider, penh kasih sayang pada orang yang tidak
mampu

5. Dengan merasakan rasa has dan dahaga akan mengingatkan pada siksa di
akhirat

6. Menyehatkan badan[14]

14 M. Ilhamul Wafi. 2014. Ibadah Puasa dan HIkmahnya Ditinjau Dari Berbagai Aspek. Kediri, Jawa Timur
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Puasa atau shiyam adalah satu ibadah kepada Allah denga syarat dan rukun
tertentu dengan jalan menahan diri dari makan, minum hubungan seksual dan lain
lain perbuatan yang dapat merugikan atau mengurangi makna atau nilai daripada
puasa, semenjak terbit fajar sampai terbenam matahari. Ketentuan puasa meliputi:
Syarat, Fardlu (Rukun), Sunnah, dan yang membatalkan puasa. Tujuan puasa adalah
untuk mencapai ketakwaan atau laallakum tattaqun dan mendekatkan diri kepada
Allah. Macam puasa diantaranya ; Puasa Fardlu (Wajib), Puasa Sunnah, Puasa
Makruh, dan Puasa Haram.

B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini tentu saja tidak lepas dari kekurangan. Oleh
karena itu penyusun mengharapakan saran yang membangun. Semoga dengan
adanya makalah ini dapat membantu dunia fikih dan pendidikan khususnya dan
menambah wawasan bagi pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Al Hadhrami, Salim bin Samer. 2008. Terjemah Safinatun Najah. Jakarta: Pustaka
Anami.
Sabiq, Sayyid. 1986. Fikih Sunnah 3. Bandung: PT.Al Maarif.
Ghazali, Imam. 2004. Ihya Ulumuddin Jilid 2. Surabaya: Himmah Jaya.

Ash Shiddieqy, Hasbi. 1985. Ibadah dari Segi Hukum dan Hikmah. Jakarta: Bulan
Bintang.

Al Khaibawi, Usman. 1990. Durratun Nasihin. Semarang: Al Munawar

Ilhamul Wafi, M. 2014. Ibadah Puasa dan HIkmahnya Ditinjau Dari Berbagai Aspek. (Online),
http://rrna48.blogspot.co.id/2014/11/makalah-pendidikan-agama-islam-ibadah.html. Diakses pada
tanggal 27 Maret 2017. 20.00.
Maftuh, Ahmad. 2015. Fiqih Puasa. (Online),
http://cyanomod.blogspot.co.id/2015/07/makalah-puasa-matakuliah-fiqih-pba-cii.html. Diakses
pada tanggal 27 Maret 2017. 20.30.
Nurul Mustofa, Lukman Tauhid. 2015. Puasa. (Online),
http://plus.google.com/+Lukmantauhidnurrulmustofa/posts/7EXtAVSVSp7. Diakses pada tanggal
27 Maret 2017. 21.00.