Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bagi seorang dokter gigi, tentunya tindakan pencabutan gigi sudah

merupakan hal yang biasa dilakukan. Keberhasilan dalam melakukan tindakan

pencabutan gigi pada umumnya sudah sering dijumpai. Namun, kesulitan dalam

melakukan pencabutan gigi juga tidak bisa dihindari Apabila dalam melakukan

pencabutan gigi ditemukan kesulitan-kesulitan yang sulit dihindari, maka

dapat terjadi beberapa komplikasi. Karenanya kita perlu waspada dan diharapkan

mampu mengatasi kemungkinan-kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi.

Pencabutan gigi merupakan suatu tindakan pembedahan yang melibatkan jaringan

tulang dan jaringan lunak dari rongga mulut, tindakan tersebut dibatasi oleh bibir

dan pipi dan terdapat faktor yang dapat mempersulit dengan adanya gerakan lidah

dan rahang bawah. (De Haantjes : 2010).

Pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan sebuah gigi atau akar gigi yang

utuh tanpa menimbulkan rasa sakit dengan trauma sekecil mungkin pada jaringan

penyangganya sehingga bekas pencabutan akan sembuh secara normal dan tidak

menimbulkan problema prostetik pasca bedah. (De Haantjes : 2010).

1
Pengetahuan yang mendalam tentang teknik-teknik pencabutan mutlak diperlukan

dalam melakukan tindakan pencabutan khususnya dengan jalan pembedahan, agar

dapat mencegah atau mengurangi terjadinya efek samping/komplikasi yang tidak

kita inginkan. Selain itu, perawatan pasca pembedahan juga merupakan suatu hal

yang penting agar prosedur pencabutan gigi yang dilakukan berhasil dengan baik

dan sempurna. Beberapa peneliti terdahulu telah banyak meneliti mengenai

perdarahan dan dry socket yang merupakan komplikasi pencabutan gigi.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana pemeriksaan pada kasus diatas ?
2. Bagaimana klasifikasi gigi impaksi pada kasus tersebut?
3. Apa saja etiologi dari gigi terpendam?
4. Bagaimana rencana perawatan pada kasus?
5. Bagaimana prosedur yang akan dilakukan pada kasus tersebut?
6. Bagaimanakah teknik pengambilan yang dilakukan pada kasus tersebut?
7. Instrumen apasajakah yang akan digunakan?
8. Bagaimanakah prinsip pembuatan flap?
9. Bagaimana proses hemostatis ?
10. Bagaimanakah proses penyembuhan luka ?
11. Komplikasi apasajakah yang akan terjadi?
12. Kominikasi, Informasi dan Edukasi apa sajakah yang diberikan kepada

pasien?
13. Bagaimanakah prognosis pada kasus tersebut?
1.3. Tujuan

Mahasiswa diberikan kasus atau skenario dapat memahami skenario dan dapat

menyelesaikan skenario yang berhubungan dengan impaksi dan odontektomi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1. Definisi Pencabutan Gigi

Menurut Pedlar dan Frame, pencabutan gigi merupakan suatu prosedur bedah

yang dapat dilakukan dengan menggunakan tang, elevator, atau penekanan trans

alveolar. (Pedlar, Frame 2007)

Ekstraksi gigi adalah suatu tindakan bedah pencabutan gigi dari soket gigi dengan

alat-alat ekstraksi (forceps). Kesatuan dari jaringan lunak dan jaringan keras gigi

dalam cavum oris dapat mengalami kerusakan yang menyebabkan adanya jalur

terbuka untuk terjadinya infeksi yang menyebabkan komplikasi dalam

penyembuhan dari luka ekstraksi. Oleh karena itu, tindakan aseptik merupakan

aturan perintah dalam bedah mulut. (Nina 2009)

Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sangat komplek yang melibatkan

struktur tulang, jaringan lunak dalam rongga mulut serta keseluruhan bagian

tubuh. Pada tindakan pencabutan gigi perlu dilaksanakan prinsip-prinsip keadaan

suci hama (asepsis) dan prinsip-prinsip pembedahan (surgery). Untuk pencabutan

lebih dari satu gigi secara bersamaan tergantung pada keadaan umum penderita

serta keadaan infeksi yang ada ataupun yang mungkin akan terjadi. (Nina,2009)

2.2. Indikasi dan Kontra Indikasi Pencabutan Gigi


2.2.1. Indikasi Pencabutan Gigi

Berikut adalah beberapa contoh indikasi dari pencabutan gigi:

3
1. Persistensi gigi sulung dan supernumerary teeth/crowding teeth

(loekman,2006)
2. Penyakit periodontal yang parah
3. Gigi yang fraktur dan gigi yang menyebabkan abses periapikal
4. Gigi yang terletak pada garis fraktur
5. Karies yang parah.
6. Gigi yang retak
7. Nekrosis pulpa (Peterson,2003)
8. Gigi impaksi
9. Alasan orthodontic
10. Gigi yang mengalami malposisi
11. Pra-prostetik ekstraksi
12. Gigi yang terkait dengan lesi patologis
13. Terapi pra-radiasi
14. Gigi yang mengalami fraktur rahang
15. Estetik
16. Ekonomis
2.2.2. Kontraindikasi Pencabutan Gigi

Kontra indikasi pencabutan gigi atau tindakan bedah lainnya

disebabkan oleh faktor lokal atau sistemik.

A. Kontraindikasi sistemik
1. Kelainan darah. Pasien yang mengidap kelainan darah seperti

leukemia, haemoragic purpura, hemophilia dan anemia


2. Kelainan jantung
3. Diabetes melitus tidak terkontrol sangat mempengaruhi

penyembuhan luka.
4. Pasien dengan penyakit ginjal (nephritis) pada kasus ini bila

dilakukan ekstraksi gigi akan menyebabkan keadaan akut


5. Penyakit hepar (hepatitis).
6. Pasien dengan penyakit syphilis, karena pada saat itu daya tahan

terutama tubuh sangat rendah sehingga mudah terjadi infeksi dan

penyembuhan akan memakan waktu yang lama.


7. Alergi pada anastesi local
8. Rahang yang baru saja telah diradiasi, pada keadaan ini suplai

darah menurun sehingga rasa sakit hebat dan bisa fatal.


9. Toxic goiter

4
10. Kehamilan. Pada trimester ke-dua karena obat-obatan pada

saat itu mempunyai efek rendah terhadap janin.


11. Psychosis dan neurosis pasien yang mempunyai mental yang tidak

stabil karena dapat berpengaruh pada saat dilakukan ekstraksi gigi


B. Kontraindikasi lokal
1. Radang akut. Keradangan akut dengan cellulitis, terlebih dahulu

keradangannya harus dikontrol untuk mencegah penyebaran yang

lebih luas. Jadi tidak boleh langsung dicabut.


2. Infeksi akut. Pericoronitis akut, penyakit ini sering terjadi pada

saat M3 RB erupsi terlebih dahulu.


3. Malignancy oral. Adanya keganasan (kanker, tumor dll),

dikhawatirkan pencabutan akan menyebabkan pertumbuhan lebih

cepat dari keganasan itu. Sehingga luka bekas ekstraksi gigi sulit

sembuh. Jadi keganasannya harus diatasi terlebih dahulu.


4. Gigi yang masih dapat dirawat/dipertahankan dengan

perawatan konservasi, endodontik dan sebagainya


2.3. Odontektomi
Definisi odontektomi menurut Archer (1975) yaitu pengeluaran satu atau

beberapa gigi secara bedah dengan cara membuka flap mukoperiostal,

kemudian dilakukan pengambilan tulang yang menghalangi dengan tatah

atau bur. Menurut Pederson (1996) Odontektomi adalah pengeluaran gigi

yang dalam keadaan tidak dapat bertumbuh atau bertumbuh sebagian

(impaksi) dimana gigi tersebut tidak dapat dikeluarkan dengan cara

pencabutan tang biasa melainkan diawali dengan pembuatan flap

mukoperiostal, diikuti dengan pengambilan tulang undercut yang

meghalangi pengeluaran gigi tersebut, sehingga diperlukan persiapan

yang baik dan rencana operasi yang tepat dan benar dalam melakukan

5
tindakan bedah pengangkatan molar bawah yang terpendam, untuk

menghindari terjadinya komplikasi-komplikasi yang tidak diinginkan.

2.4. Gigi Terpendam ( Impaksi )


Impaksi gigi terjadi jika sebuah gigi terhalang untuk erupsi ke

posisi fungsional penuh.


Hambatan atau halangan ini biasanya berupa hambatan dari sekitar

gigi atau dari gigi itu sendiri.


Hambatan dari sekitar gigi dapat terjadi karena :
1. Tulang yang tebal serta padat ( compact)
2. Tempat untuk gigi tersebut kurang
3. Gigi tetangga menghalangi erupsi gigi tersebut
4. Adanya gigi desidui yang persistensi
5. Jaringan lunak yang menutupi gigi tersebut kenyal atau liat.
6. Hambatan dari gigi itu sendiri :
7. Letak benih abnormal
8. Daya erupsi gigi tersebut kurang

Etiologi Gigi Terpendam Menurut Berger

1. Faktor Lokal
a. Posisi gigi abnormal
b. Tekanan terhadap gigi tersebut dari gigi tetangga
c. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut
d. Kurangnya tempat untuk gigi tersebut
e. Gigi desidui pesistensi
f. Pencabutan gigi yang prematur
g. Inflamasi yang kronis yang menyababkan penebalan mukosa sekeliling

gigi
h. Adanya penyakit-penyakit yang menyebabkan nekrose tulang karena

inflamasi atau abses yang ditimbulkannya


i. Perubahan-perubahan pada tulang karena penyakit eksantem pada

anak-anak
2. Faktor Usia

Gigi terpendam dapat terjadi juga bila tidak ada kausa lokal dan dapat

disebabkan karena :

6
a. Prenatal :
- Keturunan
- Miscegenation

b. Postnatal :

Semua keadaan atau kondisi yang dapat mengganggu pertumbuhan pada

kanak-kanak seperti :

- Ricketsia
- Anemi
- Syphilis kongenital
- TBC
- Gangguan kelenjer endokrin
- Malnutrisi

c. Kelainan Pertumbuhan :
1. Cleido cranial dysostosis
Terjadi pada masa kongenital dimana terjadi kerusakan atau

ketidak beresan dari pada tulang kranial. Hal ini biasanya diikuti

dengan persistensi gigi susu dan tidak erupsinya atau tidak terdapat

gigi permanen, juga ada kemungkinan dijumpai gigi supernumeri

yang rudimenter.
2. Oxycephali
Suatu kelainan dimana terdapat kepala yang lonjong diameter

muka belakang sama dengan dua kali kanan atau kiri. Hal ini

mempengaruhi pertumbuhan rahang.


3. Achondroplasia
Suatu penyakit dari kerangka, yang dimulai dari fetus dan memberi

bentuk kerdil, tulang-tulang rawan tidak tumbuh normal.


4. Progeria
Merupakan suatu kelainan dimana penderita terlalu cepat tua.

Kelainan ini merupakan suatu bentuk infantilisme yang ditandai

dengan :
- Tubuh yang tetap kecil

7
- Tidak ada tanda-tanda kedewasaan seperti bulu ketiak, bulu

pubis dan lain sebagainya.


- Kulit berkerut, rambut putih, muka, kelakuan dan tindakan

seperti orang tua.


5. Celah-celah langit
Dimana tidak ada perlekatan antara tuber maksilaris dengan tuber

palatinalis, kebanyakan kasus ini penyebabnya herediter.

Menurut penyelidikan insidens gigi terpendam terdapat dalam urutan sebagai

berikut :

1) Molar tiga mandibula


2) Molar tiga maksila
3) Kaninus maksila
4) Kaninus mandibula
5) Premolar mandibula
6) Premolar maksila
7) Insisivus pertama maksila
8) Insisivus kedua maksila
2.5. Indikasi Pengambilan Gigi Terpendam ( Odontektomi )
Indikasi pengambilan gigi terpendam ( odontektomi ) yakni :
a. Menimbulkan gejala neuralgia disebabkan tekanan gigi

pada syaraf
b. Pembentukan kista
c. Ada gejala inflamasi
d. Mengalami karies
e. Ada gejala akan menimbulkan karies pada gigi tetangga.
f. Klasifikasi Gigi Terpendam
g. Molar 3 Mandibula Terpendam

Klasifikasi : menurut Pell & Gregory yang meliputi sebagian klasifikasi dari

George B. Winter.

A. Hubungan gigi dengan tepi ramus antara mendibula dan tepi Distal Molar

dua.
Klas I : Ada cukup ruangan antara ramus dan batas distal Molar dua

untuk Lebar mesio distal Molar tiga.

8
Klas II : Ruangan antara distal Molar dua dan ramus lebih kecil daripada

lebar Mesio distal Molar tiga.


Klas III: Sebagian besar atau seluruh Molar tiga terletak di dalam ramus.
B. Dalamnya Molar tiga terpendam di tulang Rahang.
Posisi A : Bahagian tertinggi daripada gigi terpendam terletak setinggi

atau lebih tinggi dari pada dataran oklusal gigi yang normal.
Posisi B : Bagiantertinggi dari pada gigi berada di bawah dataran oklusal

tapi lebih tinggi dari pada serviks Molar dua ( gigi tetangga )
Posisi C : Bagian tertinggi dari pada gigi terpendam, berada di bawah

garisServiks gigi Molar dua.


C. Posisi Aksis memanjang dari pada gigi Molar tiga terhdap aksis Molar

dua:
- Vertikal
- Horizontal
- inverted ( terbalik / kaudal )
- mesio angular
- disto angular
- buko angular
- linguo angular
D. Jumlah / keadaan akar :
- Berakar satu atau akarnya bersatu
- Berakar lebih satu.

Gigi terpendam ini dapat diklasifikasikan lain berdasarkan :

a. Angulasi dan Posisi :


1. Vertikal
2. Horizontal
3. Transversal
4. mesio angular
5. disto angular
6. posisi yang menyamping

Misalnya : di dalam ramus, di dalam angulus dan lain-lain.

b. Keadaan erupsi
Dapat berupa :
- erupsi penuh
- erupsi sebahagian
- tidak erupsi sama sekali

9
- di bawah mukosa
- embedded (tertanam) dalam tulang
c. Jumlah/keadaan akar
- gigi yang berakar satu
- gigi yang berakar dua
- gigi yang akarnya bersatu
- apakah keadaan akar menguntungkan apa tidak
2.6. Flap
2.6.1. Definisi Flap
Flap adalah bagian dari gingiva, mukosa alveolar atau periosteum

yang dipisahkan atau dipotong dari gigi dan prosesus alveolar dengan

suplai darah tetap terpelihara. Flap merupakan pembukaan gingiva

dan atau mukosa yang dipisahkan dari jaringan di bawahnya untuk

meluaskan lapang pandang dan akses menuju tulang dan permukaan

akar. Menurut Yukna, flap didefinisikan sebagai bagian dari gingiva,

mukosa alveolar, atau periosteum yang masih memiliki suplai darah

pada saat diangkat atu dipisahkan dari gigi dan tulang alveolar
2.6.2. Prinsip Desain Flap
Menurut Barnes, prinsip-prinsip dalam desain flap yaitu :
Flap harus memperoleh suplai darah yang cukup, mukosa mulut

penuh dengan pembuluh darah dan dasar flap tidak terlalu sempit

maka nekrosis karena iskemia tidak akan terjadi; flap harus sesuai

ukurannya dan terbuka penuh ( fully reflected ); bila sebuah luka

sembuh dengan penutupan primer maka penyatuannya adalah

berhadapan dan bukan menurut panjangnya sehingga sebuah insisi

yang tidak terinfeksi diharapkan akan sembuh secepatnya. Flap yang

dibuat terlalu kecil dapat menyebabkan operasi tidak dapat dilakukan

secara baik karena aksesnya tidak memadai serta kurang luas daerah

pandang; tambahan pula jaringan akan mudah teregang atau robek

sehingga menimbulkan rasa nyeri sesudah operasi dan memperlambat

10
penyembuhan.Flap harus dapat terbuka penuh dan bersih, serat

periosteum yang masih melekat pada tulang akan berdarah serta

menempel pada bur sewaktu pengambilan tulang dan menyulitkan

identifikasi tanda tanda anatomis yang kecil, bila flap tidak terbuka

dengan bersih maka akan dapat menimbulkan banyak masalah sejak

operasi dimulai; tepi tepi flap harus berada pada tulang yang sehat.
Bila flap dijahit di atas bagian berongga akan memudahkan terjadinya

infeksi dan kehancuran bekuan darah dibawahnya, akibatnya

kesembuhan akan tertunda atau, bila antrum terlibat, akan terjadi

fistula oroantral.
2.6.3. Jenis-Jenis Flap
Menurut Yukna, jenis-jenis flap berdasarkan komponen jaringan,

yaitu :
1. Flap Berketebalan Penuh (Flap Mukoperiosteal/Full-Thickness

Flap)
Flap berketebalan penuh (flap mukoperiosteal) terbentuk atas

gingival, mukosa, submukosa, dan periosteum. Flap ini dibuat

dengan cara memisahkan jaringan lunak dari tulang dengan

pemotongan tumpul. Tekniknya sebagai berikut :


Buatlah insisi serong ke dalam (internal bevel), dari

dekat tepi gingiva ke arah puncak tulang alveolar,

dengan mempertahankan gingiva berkeratin sebanyak

mungkin. Mata pisau No.11,12b,15 atau 15c biasa

digunakan untuk membuat insisi awal ini. Pisau No.11

atau 15c dengan tangkai yang telah dimodifikasi dapat

digunakan dengan baik untuk membuat insisi di

daerah lingual atau palatal. Insisi awal ini sebaiknya

11
diperluas ke sekeliling leher gigi dan daerah

interproksimal untuk mempertahankan tinggi jaringan

papilla interdental untuk penjahitan.Kemudian

pisahkan jaringan dari tulang dengan elevator

periosteal (rasparatorium) atau chisel (blunt

dissection), agar flap dapat dibuka dan mudah

digerakkan, serta memberi akses yang cukup ke

strukturstruktur di bawahnya, seperti puncak tulang,

daerah cacat tulang, sementum nekrotik, dll. Setelah

itu dibuat insisi kedua mengelilingi setiap gigi ke arah

puncak tulang atau aspek koronal dari ligamen

periodontium dengan pisau bedah, chisel Fedi atau

chisel Ochsenbein. Insisi kedua ini memutuskan

serabut gingiva suprakrestal dari permukaan

gigi.Pisau bedah digunakan untuk membuang jaringan

yang tertinggal, dengan cara memotong secara

horizontal tepat di atas puncak tulang (gambar 1).


Penggunan disain flap dengan berketebalan penuh,

diindikasi untuk perawatan alveoplasti multiple dan

fistula oroantral.

12
2. Flap Berketabalan Sebagian (Flap Mukosa/ Partial-Thickness

Flap)
Flap berketebalan sebagian terdiri atas gingiva, mukosa atau

submukosa, tetapi tidak termasuk periosteum. Flap ini dibuat

dengan membuat insisi tajam sampai ke dekat tulang alveolar,

tetapi periosteum dan jaringan ikat tetap dibiarkan melekat ke

tulang dan menutupi tulang.


Teknik untuk melakukan flap ini hampir sama dengan teknik flap

berketebalan penuh, kecuali insisi awal dan cara merefleksi atau

membuka flap yang berbeda. Langkah langkahnya adalah

sebagai berikut :
Buat insisi serong ke dalam (internal bevel)

menggunakan pisau bedah, mulai dari tepi gingival,

sejajar dan dekat ke permukaan luar tulang, tetapi

biarkan jaringan lunak setebal kurang lebih 0,5-1 mm

tetap utuh dan melekat ke tulang. Pisau bedah yang

biasa digunakan adalah No.11, 12b, 15, atau 15c.


Kemudian pemotongan dilakukan menggunakan pisau

bedah (sharp dissection), bukan elevator (blunt

dissection). Hal ini sering menyebabkan perdarahan

yang banyak selama pembedahan. Pada prinsipnya

sama dengan yang dilakukan pada pembuatan flap

berketebalan penuh.

13
Teknik ini dipertimbangkan apabila flap akan digeser atau

ditransfer sehingga menghindari daerah tulang yang

terdedak.

Menurut Barnes, desain dan indikasi masing-masing flap

sebagai berikut :

a. Flap Semilunar Tinggi

Desain Flap ini dibuat pada mukosa setinggi apeks

gigi (Gambar 2).

Gambar 2 . Macam-macam Desain flap : a.

semilunar; b. mid-level; c.amplop

Kelebihannya memberikan perlekatan gingiva dan

sebagian besar mukosa cekat tetap terpelihara

dengan baik walaupun tetap diperoleh jalan masuk

ke regio apikal dan sekitarnya. Sedangkan

kekurangannya flap sukar diangkat, aksesnya

minimum dan tidak mudah diperluas. Bila sebelum

operasi, perencanaannya salah maka kehilangan

14
tulang yang tak terduga, memungkinkan tepi-tepi

flap menutupi rongga, oleh karena mukosa banyak

mengandung pembuluh darah, baik selama operasi

maupun sesudahnya akibat penutupan yang tidak

tepat. Tepi-tepi jahitan kemungkinan besar terjadi

infeksi dan hal ini akan memperlambat

penyembuhan.

Indikasi penggunaan desain flap tepi semilunar pada

kasus kista nasoalveolar

b. Flap Mid-Level

Disain insisi horizontal pada flap mid-level harus

dibuat di mukosa terkeratinisasi dari gingiva cekat,

sepanjang minimal 7 mm di atas tepi gigiva. Akses

yang cukup dapat diperoleh dengan insisi sederhana

dan lurus asal panjangnya memadai (Gambar 3).

Gambar 3. a.Flap mid-level dengan insisi pembebas.


b.lokasi flap dengan menggunakan jahitan pada tiap
sudut. Jahitan tambahan mencegah terbukanya luka

15
Flap ini merupakan prosedur singkat dan sederhana

untuk kasus-kasusyang diseleksi dengan hati-hati.

Adapun syarat-syarat seleksinya yaitu:

Mukosa yang mengalami keritinisasi

harus cukup lebar,kerusakan tulang

apikal harus minimal


Tidak ada poket periodontium.

Indikasi utama untuk melakukan flap mid-level

adalah kebutuhan utuk menjamin tidak terbukanya

tepi-tepi mahkota dengan cepat akibat resesi gingiva.

Kelebihannya mudah dibuat dan diangkat,

penutupannya mudah, penyembuhan umumnya cepat

dan resesi gingiva dini tidak terjadi.

Kekurangannya jika flap dibuka flap akan mengerut

sedikit dan tepi-tepinya cenderung membalik,

kadang-kadang penderita mengeluh adanya nyeri

neuralgik atau hilangnya rasa pada gusi sebagai

akibat terputusnya ujung serat-serat saraf, drainase

nanah yang terlalu lama dari lesi apikal sepanjang

membran periodontal dapat menimbulkan hilangnya

tulang alveolar dan terjadinya dehisens, upaya untuk

menjahit flap garis tengah di daerah yang

mempunyai poket periodontal yang dalam dapat

16
mengakibatkan kerusakan jaringan puncak gingiva

dan pembentukan celah gusi, bila diluar dugaan lesi

tulang ternyata luas atau jika antrumnya terbuka

maka garis insisi berada di atas suatu rongga. Pada

rahang bawah, sabuk mukosa yang mengalami

keratinisasi jarang cukup lebar untuk insisi mid-

level. Sekalipun cukup, umumnya gingiva tipis dan

mudah robek oleh tarikan kuat dari otot-otot mulut

dan mentalis.

c. Flap Amplop (Envelope)

Disain elemen horizontal dari tepi flap dipotong

pada krevis gingiva dan biasanya melalui beberapa

bagian dari satu atau beberapa papila interdental.

Pengangkatan dimungkinkan oleh adanya insisi

pembebas diagonal (diagonal relieving incision)

yang luas ke atas melalui gingiva cekat sampai ke

mukosa yang tidak berkeratin. Dua insisi pembebas

biasanya dibuat pada waktu pengangkatan flap di

daerah anterior, satu insisi tunggal pada sebelah

anterior biasanya memberi akses cukup pada gigi-

gigi belakang. Pada kasus-kasus khusus yang

kehilangan tulang apikalnyaminimal dan akarnya

lurus maka insisi horizontal hanya perlu dibuat

disekeliling leher gigi bersangkutan. Bila ragu-ragu

17
buatlah insisi horizontal meliputi leher dua gigi atau

lebih.

Pisau Swann-Morton nomor 5 ditekankan hampir

vertikal terhadap krevis gingiva sampai menyentuh

puncak alveolar di bawahnya. Kontur tepi gingiva

diikuti sejauh permukaan aproksimal papila

interdental yang kemudian dipotong sampai

mencapai tepi aproksimal tepi gingiva sebelahnya.

Insisi tidak perlu diperdalam sampai ruang

interdental. Insisi pembebas dimulai pada pertemuan

antara papila interdental dan tepi gingiva lengkap

terakhir yang ikut dalam flap. Insisi harus diarahkan

ke atas dan harus cukup diagonal untuk menghindari

terbentuknya benjolan gusi di tepi flap yang akan

menyulitkan penjahitan. Insisi diperluas ke dalam

mukosa dengan mata pisau terus dipertahankan tetap

mengenai tulang.Indikasi penggunaan flap

envelope,yaitu pada kasus eksostotis yang akan

dilakukan perawatan alveolektomi, kista

globulomaksilaris, kista traumatik (kista tulang

soliter), fistula oroantral.

Insisi Pada Rahang Bawah

18
Keadaan anatomi di sudut rahang, yang berjarak

sangat dekat dengan nervus lingualis, harus

dipertimbangkan pada waktu membuat insisi.

Biasanya, insisi bersudut dengan ujung distal pada

bagian ramus asendens mandibula dan perluasan ke

vestibular pada batas gigi molar kedua terbukti baik.

Komplikasi terbentuknya jaringan parut dikarenakan

pemilihan garis insisi yang tidak benar atau

berbahaya. Ramus asendens melebar ke arah lateral

dengan lebar yang berbeda-beda pada setiap

penderita. Semua incisi yang dibuat sepanjang

dataran oklusal distal molar kedua membawa risiko

rusaknya nervus lingualis yang terletak di bawah

membran mukosa. Sebelum dilakukan insisi,

operator harus mengetahui keadaan anatomi daerah

insisi dengan melakukan pemeriksaan palpasi. Insisi

untuk operasi gigi molar ketiga bawah dapat dengan

aman dibuat di atas tepi anterior ramus asendens,

yaitu pada tahanan tulang dengan insisi berbentuk

busur, agar penutupan mukosa yang akan terjadi

setidak-tidaknya terletak sebagian di atas tahanan

tulang

Insisi pada rahang atas

19
Pada rahang, pembuatan insisi dengan bentuk yang

bersudut, sehingga lebih sedikit terjadi kerusakan

karena tidak ada pembuluh darah besar atau nervus

yang melalui sebelah gigi molar ketiga, prosedur

insisi standar harus dimodifikasi sesuai dengan kasus

yang ada, dimana fistula, luka insisi, kerusakan

membran mukosa, jaringan parut dan insisi untuk

gigi yang tidak dioperasi harus benar-benar

dipertimbangkan.

Tujuan utama dari prosedur bedah adalah regenerasi,

yaitu mengembalikan struktur dan fungsi jaringan

seperti semula. Sedangkan perbaikan merupakan

hasil penyembuhan dimana struktur dan fungsi

jaringan tidak kembali seperti semula, pada

umumnya terjadi pembentukan jaringan parut.8Insisi

harus sesuai untuk keadaan tertentu dan merupakan

bagian dari rencana sebelum operasi. Pada dasarnya,

keadaan umum berikut ini perlu dipertimbangkan

sewaktu pembuatan flap mukoperiosteal,yaitu tidak

ada kerusakan pada struktur anatomi yang penting,

pandangan yang baik pada daerah operasi, suplai

darah yang cukup pada flap mukoperiosteal / dasar

flap harus lebar, dimungkinkan perluasan insisi,

20
jahitan luka di atas tahanan tulang yang baik,

pembentukan jaringan parut baik

Sedangkan tipe flap menurut Fragikos (2007) antara

lain :

a. Trapezoid
Dibentuk dengan membuat insisi horizontal

sepanjang gingival dan dua insisi melintang pada

mukosa bukal
Dasar flap yang lebih lebar sangat dibutuhkan untuk

suplai darah yang baik dan adekuat. Flap tipe ini

dibutuhkan untuk prosedur operatif yang luas


b. Triangular
Dibentuk dengan membuat insisi bentuk L dan

insisi horizontal sepanjang gingival diindikasikan

untuk pengambilan ujung akar, kista kecil dan

apikoektomi
c. Envelope
Flap tipe ini adalah hasil perluasan insisi horizontal

sepanjang garis servikal gigi. Biasa digunakan

untuk pembedahan gigi insisivus, premolar dan

molar.
d. Semilunar
Insisi flap berbentuk kurva memberikan fasilitas

jalan masuk ke apical. Melindungi terkoyaknya tepi

gingival
e. Pedikel
Flap pedikel dibuat baik dibukal, lingual atau

palatal. Digunakan untuk migrasi atau transposisi

21
untuk memperbaiki suatu cacat (contoh : fistula

oroantral atau nasoalveolar).


f. Flap insisi Y dan X
Dibuat pada midline palatum.

22
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Skenario

Seorang dokter gigi berencana melakukan operasi odontektomi pada seorang

pasien. Sebelum melakukan tindakan tersebut dokter melakukan analisis terlebih

dahulu terhadap etiologi, klasifikasi dan prosedur pada operasi tersebut.

Kasus yang dihadapi ialah impaksi molar tiga terpendam dimana terdapat cukup

ruangan antara distal molar kedua terhadap ramus mandibula, untuk erupsinya

molar 3 berada setinggi molar 2 serta angulasi mengarah ke mesial. Dokter gigi

tersebut berencana membuat flap dengan bentuk triangular dan jenis flap

mukoperiosteal sesuai dengan prinsip pembuatan flap. Dikarenakan pasien tidak


memiliki penyakit sistemik, diperkirakan darah akibat insisi akan berhenti dengan

normal dan luka insisi pasien sudah akan menyatu pada hari ketujuh operasi.

3.2. Terminologi
- Odontektomi
Pengeluaran satu atau beberapa gigi secara bedah dengan cara membuka

flap mukoperiostal, kemudian dilakukan pengambilan tulang yang

menghalangi dengan tatah atau bur.


- Flap mukoperiosteal
Flap berketebalan penuh (flap mukoperiosteal) terbentuk atas gingival,

mukosa, submukosa, dan periosteum. Flap ini dibuat dengan cara

memisahkan jaringan lunak dari tulang dengan pemotongan tumpul.


- Insisi
Aksi melakukan peotongan pada jaringan tubuh
- Angulasi ke arah mesial
Gigi miring kearah mesiah
- Impaksi
Terjadi jika sebuah gigi terhalang untuk erupsi ke posisi fungsional penuh.
- Triangular
Flap yang terbentuk dari 3 sudut yang berbentuk segitiga
3.3. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemeriksaan pada kasus diatas ?
2. Bagaimana klasifikasi gigi impaksi pada kasus tersebut?
3. Apa saja etiologi dari gigi terpendam?
4. Bagaimana rencana perawatan pada kasus?
5. Bagaimana prosedur yang akan dilakukan pada kasus tersebut?
6. Bagaimanakah teknik pengambilan yang dilakukan pada kasus

tersebut?
7. Instrumen apasajakah yang akan digunakan?
8. Bagaimanakah prinsip pembuatan flap?
9. Bagaimana proses hemostatis ?
10. Bagaimanakah proses penyembuhan luka ?
11. Komplikasi apasajakah yang akan terjadi?
12. Kominikasi, Informasi dan Edukasi apa sajakah yang diberikan

kepada pasien?
13. Bagaimanakah prognosis pada kasus tersebut?
3.4. Analisis Permasalahan
3.4.1. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Subjektif (Anamnesa atau Tanya jawab)
Anamnesis yang baik harus mengacu pada pertanyaan yang sistematis,

yaitu dengan berpedoman pada empat pokok pikiran (The Fundamental

Four) dan tujuh butir mutiara anamnesis (The Sacred Seven). Yang

dimaksud dengan empat pokok pikiran, adalah melakukan anamnesis

dengan cara mencari data :

1. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)

2. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)

3. Riwayat Kesehatan Keluarga

4. Riwayat Sosial dan Ekonomi


1. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)

Hal ini meliputi keluhan utama dan anamnesis lanjutan.

Keluhan utama adalah keluhan yang membuat seseorang datang

ke tempat pelayanan kesehatan untuk mencari pertolongan,

misalnya : demam, sesak nafas, nyeri pinggang, dll. Keluhan

utama ini sebaiknya tidak lebih dari satu keluhan. Kemudian

setelah keluhan utama, dilanjutkan anamnesis secara sistematis

dengan menggunakan tujuh butir mutiara anamnesis, yaitu :

a. Lokasi (dimana ? menyebar atau tidak ?)

b. Onset / awitan dan kronologis (kapan terjadinya? berapa

lama?)

c. Kuantitas keluhan (ringan atau berat, seberapa sering terjadi

?)

d. Kualitas keluhan (rasa seperti apa ?)

e. Faktor-faktor yang memperberat keluhan.

f. Faktor-faktor yang meringankan keluhan.

g. Analisis sistem yang menyertai keluhan utama

Anamnesis secara sistematis ini akan dibahas secara rinci, yaitu :

a. Lokasi Sakit

Seorang penderita yang datang dengan nyeri di ulu hati,

perlu ditanyakan lebih lanjut secara tepat bagian mana yang

dimaksud, bila perlu penderita diminta menunjukkan dengan

tangannya, dimana bagian yang paling sakit dan penjalarannya


ke arah mana. Bila pusat sakit di tengah (linea mediana)

dicurigai proses terjadi di pankreas dan duodenum, hati,

kandung empedu; lambung; sebelah kanan duodenum;

sebelah kiri hati, oesofagus, paru, pleura dan jantung.di atas

Penjalaran nyeri tepat lurus di belakang menunjukkan adanya

proses di pankreas atau lambung dan duodenum;

bawahduodenum dinding belakang; di punggung lebih ke atas

duodenum, kandung empedu, kandung empedu; bahu kanan

belikat kanan diafragma kiri.diafragma kanan; bahu kiri

b. Onset dan kronologis

Perlu ditanyakan kapan mulai timbulnya sakit atau sudah

berlangsung berapa lama. Apakah keluhan itu timbul mendadak

atau perlahan-lahan, hilang timbul atau menetap. Apakah ada

waktu-waktu tertentu keluhan timbul. Misalnya bila nyeri ulu

hati timbul secara dispepsia ulkus peptikum dan tiap pagi

curiga ulkus peptikum, malam hari ritmik non ulkus.

c. Kualitas (sifat sakit)

Bagaimana rasa sakit yang dialami penderita harus

ditanyakan, misalnya rasa sakit yang tajam (jelas) seperti rasa

panas, terbakar, pedih, diiris, tertusuk, menunjukkan inflamasi

organ. Rasa sakit yang tumpul (dull) seperti diremas, kramp,

kolik, sesuatu yang bergerak biasanya menunjukkan proses pada


organ yang berongga (saluran cerna, empedu). Rasa sakit yang

tidak khas menunjukkan organ padat (hati, pankreas).

d. Kuantitas (derajat sakit)

Ditanyakan seberapa berat rasa sakit yang dirasakan

penderita. Hal ini tergantung dari penyebab penyakitnya, tetapi

sangat subjektif, karena dipengaruhi antara lain kepekaan

seorang penderita terhadap rasa sakit, status emosi dan

kepedulian terhadap penyakitnya. Dapat ditanyakan apakah

sakitnya ringan, sedang atau berat. Apakah sakitnya

mengganggu kegiatan sehari-hari, pekerjaan penderita atau

aktifitas fisik lainnya.

e. Faktor yang memperberat keluhan.

Ditanyakan adakah faktor-faktor yang memperberat sakit,

seperti aktifitas makan, fisik, keadaan atau posisi tertentu.

Adakah makanan/ minuman tertentu yang menambah sakit,

seperti makanan pedas asam, kopi, alkohol panas, obat dan

jamu. Bila aktifitas makan/minum menambah sakit

menunjukkan proses di saluran cerna empedu dan pankreas.

Aktifitas fisik dapat menambah sakit pada pankreatitis,

kholesistitis, apendisitis, perforasi, peritonitis dan abses hati.

Batuk, nafas dalam dan bersin menambah sakit pada pleuritis.

f. Faktor yang meringankan keluhan.

Ditanyakan adakah usaha penderita yang dapat

memperingan sakit, misalnya dengan minum antasida rasa sakit


berkurang, menunjukkan adanya inflamasi di saluran cerna

bagian atas. Bila posisi membungkuk dapat mengurangi sakit

menunjukkan proses inflamasi dari pankreas atau hati.

g. Keluhan yang menyertai

Perlu ditanyakan keluhankeluhan lain yang timbul

menyertai dan faktor pencetusnya, misalnya bila penderita

mengeluh nyeri ulu hati, yang perlu ditanyakan lebih lanjut

adalah :

1) Apakah keluhan tersebut berhubungan dengan aktifitas

makan ?

2) Bagaimana buang air besarnya, adakah flatus ?

3) Adakah ikterik ?

4) Adakah pembengkakan, benjolan atau tumor, atau nyeri

tekan ?

5) Adakah demam, batuk, sesak nafas, nyeri dada,

berdebar-debar, keringat dingin atau badan lemas ?

6) Adakah penurunan berat badan ?

2. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)

Ditanyakan adakah penderita pernah sakit serupa

sebelumnya, bila dan kapan terjadinya dan sudah berapa kali dan

telah diberi obat apa saja, serta mencari penyakit yang relevan

dengan keadaan sekarang dan penyakit kronik (hipertensi, diabetes


mellitus, dll), perawatan lama, rawat inap, imunisasi, riwayat

pengobatan dan riwayat menstruasi (untuk wanita).

3. Riwayat Penyakit Keluarga

Hal ini untuk mengetahui status sosial pasien, yang meliputi

pendidikan, pekerjaan pernikahan, kebiasaan yang sering

dilakukan (pola tidur, minum alkohol atau merokok, obat-obatan,

aktivitas seksual, sumber keuangan, asuransi kesehatan dan

kepercayaan).

4. Riwayat Sosial dan Ekonomi

Hal ini untuk mengetahui status sosial pasien, yang

meliputi pendidikan, pekerjaan pernikahan, kebiasaan yang sering

dilakukan (pola tidur, minum alkohol atau merokok, obat-obatan,

aktivitas seksual, sumber keuangan, asuransi kesehatan dan

kepercayaan).

b. Pemeriksaan Objektif
1) Pemeriksaan ekstra oral
- Pemeriksaan Limfonodi
- Pemeriksaan otot mastikasi
- Pemeriksan temporo mandibullar joint (TMJ)
2) Pemeriksaan Intra oral
- Bentuk bibir
- Mukosa labial
- Mukosa bukal
- Dasar mulut dan bagian ventral lidah 8.

Frenulum
- Palatum (keras dan lunak)
- Ginggiva
- Gigi Geligi
Pemeriksaan obyektif gigi dapat dilakuhkan dengan pemeriksaan

beberapa cara antara lain sebagai berikut:

1. Inspeksi 5. Tes mobilitas

2. Sondasi 6. Tes suhu

3. Perkusi 7. Tes elektrik

4. Palpasi 8. Transimulasi

3) Pemeriksaan Penunjang

A. Radiografi

Dental radiografi memegang peranan penting dalam

menegakkan diagnosis dan merencanakan perawatan dan

mengevaluasi hasil perawatan untuk melihat keaadaan gigi

secara utuh. Dalam mempelajari bidang radiologi oral ada 2

hal yang peludiketahui, yakni

- Tehnik dan cara mendapatkan hasil yang optimal

- interprestasi dan menafsirkan radiogram yang telah

dibuat

Ada dua macam dalam radiologi kedokteran gigi

1. radiologi intra oral : tehnik periapikal, tehnik bite wing

atau saya gigit, tehnik oklusal

2. radiografi ekstra oral : panoramik, oblique lateral,

postero anterior PA jaw, reversi towns projection


Radiografi intraoral dibagi menjadi kedalam 3 kategori, yaitu

1. proyeksi periapikal memperlihatkan gambaran

suatu gigi berikut tulang sekitarnya.

Radiografi periapikal

Ada dua cara dalam radiografi periapikal yaitu :

a. tehnik kesejajaran (pararel)

b. tehnik bidang bagi (bisecting)

2. Proyeksi Sayap Gigit ( Bitewing )

Proyeksi ini akan memperlihatkan bberapa

mahkota gigi dan mahkota gigi gigi serta

kista alveolarnya.

3. Proyeksi Oklusal

Menunjukan bagian lengkung gigi relatif luas,

sementara diantaranya adalah palatum, dan struktur

jaringan keras pada lateral.

Indikasi

a) mencari dengan tepat letak akar, gigi

supernumery, gigi tidak tumbuh dan impaksi

b) mencari benda asing dalam rahang, batu alam

duktus glandula sublingualis dan

submandibularis.

c) memperlihatkan dan mengevaluasi keutuhan

sinus maksilari bagian anterior medial dan

lateral
d) membantu pemeriksaan pasien dalam ksus

trimus.

e) menyediaan informasi tentang lokasi, sifat,

perluasan dan perpindahan mandibula maksila

yang fraktur

f) menentukan perluasan penyakit kearah media

dan lateral

Radiografi ekstra oral

Salah satunya adalah rongten panoramik

memperlihatkan maksila dan mandibula secara luas.

Letak pasien

Untuk melihat gambar pada hasil lengkung maksila,

kepala pasien ditegakkan dengan bidang sagital arah

vrtikal dan bidang oklusal horisontal. Untuk mandibulla

sedikit menengah untuk mengimbangi perubahan

bidang oklusal pada saat bibir atas dab bawah terbuka

untuk melihat hasil.

3.4.2. Klasifikasi Gigi Impaksi


Klasifikasi gigi impaksi pada kasus ialah klas I posisi A mesio

angular
3.4.3. Etiologi Gigi Terpendam
1. Gigi yang tidak erupsi dan tidak bisa tumbuh
2. Kurangnya tempat untuk tumbuh gigi tersebut
3. Gigi tetangga prematur loss
4. Tulang yang menutupi tebal
5. Penyakit yang menyebabkan gigi terpendam
6. Prenatal
7. Malnutrisi
8. Adanya labiopalatochizis
3.4.4. Rencana Perawatan
Melakukan Odontektomi
3.4.5. Prosedur
Prosedur pembedahan ekstraksi gigi impaksi antara lain:
1) Aseptik dan isolasi
2) Sedasi/anestesi lokal + anest esi lokal/umum
3) Insisi--desain flap
4) Memunculkan flap mucoperiosteal
5) Menghilangkan tulang sekitar
6) Pemotongan (pembelahan) gigi
7) Pengangkatan gigi
8) Ekstraksi gigi
9) Pembersihan dan penghalusan tulang sekitar
10) Kontrol perdarahan
11) Menutup (menjahit) luka
12) Pengobatanantibiotik, analgesik, dan lain-lain
13) Follow up

3.4.6. Teknik Pengambilan


Intoto adalah teknik odontektomi dimana gigi diambil secara utuh.
3.4.7. Instrumen Pembedahan
Beberapa instrumen yang digunakan dalam tindakan bedah

pencabutan gigi molar ketiga dapat dilihat pada Gambar 1. Prosedur

pencabutan gigi molar ketiga dapat bervariasi pada tiap tindakan. Hal

ini disebabkan oleh perbedaan kondisi tiap pasien, termasuk tipe

impaksi dan anatomi jaringan sekitar, misalnya letak nervus

alveolaris inferior dan nervus lingualis.


3.4.8. Prinsip Pembuatan Desain Flap
- Flap harus memperoleh suplai darah yang cukup,
- flap harus sesuai ukurannya dan terbuka penuh (fully

reflected);
- Flap harus dapat terbuka penuh dan bersih
- tepi tepi flap harus berada pada tulang yang sehat.
- Bila flap dijahit di atas bagian berongga akan memudahkan

terjadinya infeksi dan kehancuran bekuan darah dibawahnya,

akibatnya kesembuhan akan tertunda atau, bila antrum terlibat,

akan terjadi fistula oroantral.


3.4.9. Proses Hemostatis
Hemostasis adalah peristiwa berhentinya mengalirnya darah dari

pembuluh darah yang mengalami trauma.


Proses Hemostasis
Proses hemostasis terjadi melalui tiga proses yaitu :
1. Fase vascular
Terjadi karena akibat dari adanya trauma pada pembuluh darah

maka respon yang pertama kali adalah respon dari

vaskuler/kapiler yaitu terjadinya kontraksi dari kapiler disertai

dengan extra-vasasi dari pembuluh darah, akibat dari extra vasasi

ini akan memberikan tekanan pada kapiler tersebut (adanya

timbunan darah disekitar kapiler).


2. Fase Platelet/trombosit
Pada saat terjadinya pengecilan lumen kapiler (vasokontriksi) dan

extra vasasi ada darah yang melalui permukaan asar (jaringan

kolagen) dengan akibatnya trombosit. Akibat dari bertemunya

trombosit dengan permukaan kasar maka trombosit tersebut akan

mengalami adhesi serta agregasi.

Setelah terjadinya adhesi maka dengan pengaruh ATP akan

terjadilah agregasi yaitu saling melekat dan desintegrasi sehingga

terbentuklah suatu massa yang melekat.

Peristiwa trombosit yang mulai pecah/lepas- lepas hingga

menjadi suatu massa yang melekat disebut Viscous

metamorphosis. Akibat dari terjadinya semua proses ini maka

terjadilah gumpalan plug (sumbatan) baru kemudian terjadi fase

yang ketiga.
3. Fase koagulasi
Fase ini terdiri dari tiga tahapan yaitu :
a. Pembnetukan prothrombinase/ prothrombin activator
b. Perubahan prothrombine menjadi trombone
c. Perubahan fibrinogen menjadi fibrin
Pada proses pembekuan darah terjadi karena adanya factor intrinsic

dan factor ekstrinsik. Factor intrinsic baru terjadi bila ada kontak

aktivasi. Apabila kontak aktivasi tidak ada, kebanyakan factor intrinsic

berada dalam keadaan tidak aktiv (cascade theory dari clotting factor).

Waktu pembuluh darah terputus ada kontak dan adanya cairan

jaringan yang masuk, cairan jaringan ini mengandung thromboplastin.

Jaringan thromboplastin adalaj factor yang berasal dari jaringan.

Factor ekstrinsik reaksinya adalah berjalan dengan cepat (10 11

detik), sedngkan factor intrinsic berjalan selama 8 menit.

FAKTOR FAKTOR PEMBEKUAN DARAH

a. Faktor I = fibrinogen
b. Faktor II = Prhotrombine
c. Faktor III = Fakotr jaringan
d. Faktor IV = Ion kalsium
e. Faktor V = Proaccelerine
f. Faktor VI = Accelerine
g. Faktor VIII = A.H.G (Anti Haemphilly Globulin)
h. Faktor IX = Christmas factor
i. Faktor X = Stuart factor
j. Faktor XI = Plasma thromboplastin antecedent
k. Faktor XII = Hagemen factor
l. Faktor XIII = Fibrine stabilizing factor (fibrinase)

Mekanisme Hemostasis

a. Primer
Mekanisme vasokonstriksi pembuluh darah pada luka yang kecil.
b. Sekunder
Mekanisme yang melibatkan faktor-faktor koagulasi dalam plasma

dan trombosit dengan tujuan akhir pembentukan jala-jala fibrin,

terjadi pada luka yang besar.


c. Tersier
Mekanisme kontrol yang menjaga agar hemostasis tidak berlebihan

melaku sistem fibrinolitik.

3.4.10. Proses Penyembuhan Luka


Penyembuhan luka merupakan suatu proses dinamis yang terdiri dari

4 fase yang terintegrasi, dimana dalam tiap fase harus terjadi secara

tepat dan teratur. Keempat fase ini serta fungsi biofisiologisnya dapat

terjadi dalam suatu rangkaian, pada waktu dan durasi yang spesifik

dan berlanjut dengan intensitas yang optimal.


Proses penyembuhan luka itu sendiri :

Fase Proses selular dan biofisiologis


Hemostatis - Konstriksi vaskular
- Agregasi platelet, degranulasi

dan pembentukan fibrin


Inflamasi - Infiltrasi neutrofil
- Infiltrasi monisit dan

diferensiasi menjadi magrofag


- Infiltrasi limfosit
Proliferasi - Re-epitelisasi
- Angiogenesisi
- Sintesis kolagen
- Pembentukan matriks

extracelular
Remodelling - Remodeling kolagen
- Maturasi vaskular dan regresi

Ketika gigi dicabut, soket gigi yang kosong yang terdiri dari tulang

kortikal (secara radiografik terlihat sebagai lamina dura) ditutupi oleh

ligamen periodontal yang terputus, dengan sejumlah epitel mukosa

yang tertinggal di bagian korona. Segera setelah ekstraksi soket gigi

akan diisi dengan darah dari pembuluh darah yang terputus, yang

mengandung protein dan sel-sel yang rusak. Sel-sel yang rusak

bersama dengan platelet memulai serangkaian peristiwa yang akan

mengarah pada pembentukan jaringan fibrin, kemudian membentuk

gumpalan darah atau koagulum dalam 24 jam pertama. Gumpalan ini

bertindak sebagai matriks yang mengarahkan perpindahan sel

mesenkimal dan growth factors. Neutrofil dan makrofag masuk ke

daerah luka dan melawan bakteri serta sisa jaringan untuk

mensterilkan luka.

Dalam beberapa hari koagulum mulai rusak (fibrinolisis). Setelah 2-4

hari jaringan granulasi secara bertahap menggantikan koagulum.

Jaringan vaskular dibentuk antara akhir minggu pertama dan minggu

kedua. Bagian marginal dari soket ekstraksi ditutupi oleh jaringan

ikat muda yang kaya pembuluh darah dan sel inflamasi. Dua minggu

pascaekstraksi, pembuluh kapiler yang baru berpenetrasi ke pusat


koagulum. Ligamen periodontal yang tersisa mengalami degenerasi

dan menghilang. Epitel berproliferasi melewati permukaan luka

tetapi luka biasanya belum tertutup terutama pada kasus gigi

posterior. Pada soket yang kecil, epitelisasi dapat berlangsung

sempurna. Tepi dari soket alveolar diresorpsi oleh osteoklas. Fragmen

tulang nekrosis yang lepas dari pinggiran soket pada saat ekstraksi

akan diresorpsi.

Pada minggu ketiga, koagulum akan hampir terisi penuh oleh

jaringan granulasi yang matang. Tulang trabekula muda yang berasal

dari osteosid atau tulang yang belum terkalsifikasi terbentuk di

seluruh tepi luka dari dinding soket. Tulang ini terbentuk dari

osteoblas yang berasal dari sel pluripotensial ligamen periodontal

yang bersifat osteogenik. Tulang kortikal dari soket alveolar

mengalami remodeling sehingga terdiri dari lapisan yang padat. Tepi

dari puncak alveolar akan diresorpsi oleh osteoklas. Pada saat ini,

luka akan terepitelisasi secara sempurna.

Pada minggu keempat, luka mengalami tahap akhir penyembuhan.

Sementara itu deposisi dan resorpsi tulang terjadi pada soket. Antara

minggu keempat dan kedelapan setelah ekstraksi, jaringan osteogenik

dan tulang trabekular dibentuk dan diikuti oleh proses pematangan

tulang. Proses remodeling akan berlanjut selama beberapa minggu.

Tulang masih mengalami sedikit kalsifikasi, sehingga akan terlihat

radiolusen pada gambaran radiografik. Pada gambaran radiografik,


proses pembentukan tulang tidak terlihat menonjol hingga minggu ke

enam pascaekstraksi.

3.4.11. Komplikasi
Komplikasi digolongkan menjadi komplikasi perioperatif dan

postoperative. Komplikasi perioperatif adalah komplikasi yang

terjadi selama prosedur pembedahan, sedangkan komplikasi

postoperatif adalah komplikasi yang terjadi selama periode pasca

operasi. (Efa Ismardianita 2016)


Komplikasi perioperatif mencakup : pendarahan, fraktur/ luksasi

gigi, gigi tetangga, cedera jaringan lunak, fraktur prosesus

alveolaris, fraktur tuberositas maksilaris. Sedangkan kompliksi

pascaoperatif mencakup : trismus, hematoma, ecchymosis, edema,

alveolitis (dry soket), infeksi. (Efa Ismardianita 2016)

3.4.12. KIE
Hal- hal yang harus dilakukan setelah prosedur

Gigit kapas atau kasa minimal 1 jam. Biasanya setelah

cabut gigi, dokter gigi memberikan cadangan kasa sehingga

apabila kasa sudah basah atau tidak nyaman bisa langsung

dihanti.

Jika lebih dari satu jam masih ada perdarahan, ganti kapas

atau kasa tersebut.

Minum obat yang telah diberikan sesuai petunjuk dokter.

Biasanya diresepkan antibiotik yang harus dihabiskan dan

antisakit yang dimakan pada saat sakit saja. Jangan


sembarangan minum obat karena ada beberapa obat yang

harus dihindari setelah pencabutan gigi.

Hal-hal yang dihindari setelah dilakukan prosedur

Memegang luka, memainkan bekas luka dengan jari atau

lidah. Luka bekas pencabutan bisa lebih lama sembuhnya.

Berkumur dengan keras, sering membuang ludah dan

menghisap-hisap bekas luka pencabutan. Jika ini dilakukan,

bekuan darah bisa lepas dan bisa terjadi perdarahan lagi.

Makan dan minuman yang panas dan pedas setelah

pencabutan.

Merokok selama 72 jam setelah pencabutan gigi.

Minum alkohol selama 48 jam pencabutan gigi.

3.4.13. Prognosis
Berdasarkan kasus prognosis yang didapatkan baik dikarenakan

pasien tidak memiliki penyakit sistemik, dan dokter memperkirakan

darah akibat insisi akan berhenti dengan normal dan luka insisi

pasien sudah akan menyatu pada hari ketujuh operasi apabila pasien

dapat kooperatif dengan baik


Gigi terpendam ini dapat diklasifikasikan lain berdasarkan:
Angulasi dan Posisi , Keadaan erupsi dan Jumlah/keadaan akar.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Odontektomi yaitu pengeluaran satu atau beberapa gigi secara bedah

dengan cara membuka flap mukoperiostal, kemudian dilakukan

pengambilan tulang yang menghalangi dengan tatah atau bur.


DAFTAR PUSTAKA

Barnes IE. Petunjuk Bergambar Endodontik Bedah, Hipokrates. Jakarta ; 2002,

hal 28-32

De Haantjes van Het Oosten. Pencabutan gigi atau exodontia. 2010.

Available from: URL: http://www.potooloodental.com. Accessed: 2

April 2017

Ismardianita Efa. Eksodonsia, Bedah Mulut. Universitas Baiturrahmah.

2016

Rapley J. Penatalaksanaan Jaringan Lunak : Prosedur Mukogingiva,

Dalam Silabus Periodontiti, Fedi PF, Vernino AR, Gray JL. EGC.

Jakarta ; 2005, hal 23-25

Yukna R. A. Penatalaksanaan Jaringan Lunak : Flap untuk Penanganan Poket,

Dalam Silabus Periodontiti, Fedi PF, Vernino AR, Gray JL. EGC.

Jakarta ; 2005, hal 30-36

YuknaRA. Penatalaksanaan Jaringan Lunak : Gingivoplasti, Gingivektomi dan

Flap Gingiva, Dalam Silabus Periodontiti, Fedi PF, Vernino AR, Gray

JL. EGC. Jakarta ; 2005, hal 42-45