Anda di halaman 1dari 30

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-NYA saya dapat
menyelesaikan laporan refreshing pada stase kulit ini khususnya tentang anatomi, fisiologi , dan
Morfologi kulit sesuai dengan yang diharapakan. Tujuan penyusun membuat laporan
refreshing ini untuk melaksanakan salah satu tugas di stase kulit.

Penyusun ucapkan terima kasih banyak kepada dokter pembimbing dan semua staf yang
telah membantu saya yang bersedia meluangkan waktunya dalam menyelesaikan tugas laporan
refreshing ini dengan baik. Semoga laporan refreshing ini bermanfaat bagi kita semua

Kurang lebihnya penyusun mohon maaf, kebenaran datangnya dari Allah SWT dan
kesalahan datangnya dari diri penyusun sebagai manusia. Mudah mudahan laporan refreshing
ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama untuk pembaca sekalian.

Sukabumi, Februari 2017

1
Daftar Isi

Kata Pengantar.................................................................................................................................1
Daftar Isi..........................................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................4
A. Anatomi Kulit...................................................................................................... 4
1. Lapisan Epidermis.........................................................................................................5
2. Lapisan Dermis..............................................................................................................7
3. Lapisan Subkutis (hypodermis).....................................................................................8
4. Vaskularisasi Kulit.........................................................................................................8
5. Kelenjar Getah Bening..................................................................................................8
B. Adneksa Kulit...................................................................................................... 9
1. Kelenjar Kulit................................................................................................................9
2. Kuku............................................................................................................................10
3. Rambut........................................................................................................................11
C. Anatomi Kulit dan Kelamin............................................................................................. 11

D. Fisiologi Kulit....................................................................................................................19

E. Morfologi kulit................................................................................................................. 22

Daftar Pustaka............................................................................................................................30

2
BAB I

PENDAHULUAN

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari ingkungan
hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1.5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan. Kulit
merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit
juga sangat kompleks, elastic dan sensitive, bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan
juga bergantung pada lokasi tubuh. 1

Warna kulit berbeda-beda, dari kulit yang berwarna terang (fair skin), pirang dan hitam,
warna merah muda pada telapak kaki dan tangan bayi, serta warna hitam kecoklatan pada
genitalia orang dewasa. Demikian pula kulit bervariasi mengenai lembut, tipis dan tebalnya.1

Kulit secara garis besar dibagi menjadi tiga lapisan utama yaitu lapisan epidermis, lapisan
dermi dan lapisan subkutis (hypodermis). Fungsi utama kulit ialah proteksi, absorpsi, ekskresi,
persepsi, pengaturan suhu (termoregulasi), pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D dan
keratinisasi.1

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Anatomi Kulit

Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu:1
1. Lapisan epidermis atau kutikel
2. Lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin)
3. Lapisan subkutis (hypodermis)

Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis ditandai dengan
adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel serta jaringan lemak. 1

Gambar 2.1 Struktur Kulit

1. Lapisan Epidermis

4
Epidermis didefinisikan sebagain sel skuamosa bertingkat dengan
ketebalan sekitar 0,1 mm, meskipun ketebalan lebih besar (0,8-1,4 mm) di telapak
tangan dan kaki. Epidermis terdirir dari 4 lapisan, yaitu stratum korneum, stratum
lusidum, stratum spinosum, dan stratum basale. 1,3
a. Stratum Korneum
Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang paling luar
dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang telah mati, tidak berinti,
dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk)
b. Stratum Lusidum
Stratum lusidum terdapat langsung dibawah stratum korneum, merupakan
lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah
menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas
di telapak tangan dan kaki.
c. Stratum Granulosum
Stratum granulosum (lapisan keratohialin) merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel
gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti diantaranya.
Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin. Stratum granulosum juga
tampak jelas di telapak tangan dan kaki.
d. Stratum Spinosum
Stratum spinosum (stratum Malpighi) atau disebut pula prickle cell layer
(lapisan akanta) terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk polygonal
yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis.
Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen, dan inti
terletak di tengah-tengah. Diantara sel-sel stratum spinosum terdapat
jembatan antar sel (intercellular bridges) yang terdiri atas protoplasma dan
tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk
penebalan bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero. Diantara sel
spinosum terdapat pula sel Langerhans. Sel stratum spinosum banyak
mengandung glikogen.

e. Stratum Basale
Terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar) yang tersusun vertical
pada perbatasan dermo-epidermal bergaris seperti pagar (palisade). Sel-sel
basal ini mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri
atas dua jenis sel yaitu:

5
a) Sel-sel yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti
lonjong dan besar, dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan
antar sel
b) Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel
berwarna muda dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan
mengandung butir pigmen (melanosomes).

Gambar 2.2 Lapisan Epidermis

2. Lapisan Dermis

Lapisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih tebal
daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastic dan fibrosa padat
dengan elemen-elemen seluler dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi
menjadi dua bagian yaitu:1
a. Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis , berisi ujung
serabut saraf dan pembuluh darah

6
b. Pars retikulare, yaitu bagian dibawahnya yang menonjol ke arah subkutan.
Bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang seperti serabut kolagen,
elastin dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri dari cairan kental
asam hialuronat dan kondrotin sulfat, dibagian ini terdapat pula fibroblast.
Serabut kolagen dibentuk oleh fibroblast, membentuk ikatan (bundle)
yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifta
lentur dengan bertambahnya usia menjadi kurang larut sehingga makin
stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin biasanya
bergelombang, membetuk amorf dan mudah mengembang serta lebih
elastic.

Gambar 2.3 Gambaran Histologi dari Dermis

3. Lapisan Subkutis (hypodermis)

Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat


longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel ini membentuk kelompok yang
dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula fibrosa. Lapisan sel-sel lemak
disebut panikulus adipose, berfungsi sebagai cadangan makanan. Dilapisan ini
terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan kelenjar getah bening. Tebal

7
tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokalisasinya. Di abdomen
dapat mencapai ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata dan penis sangat sedikit.
Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan.1

4. Vaskularisasi Kulit

Vaskularisasi kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus superfisial atau


upper horizontal plexuses yang terdapat di dermis dan pleksus profunda atau
lower horizontal plexuses yang terdapat di subkutis. Pleksus superficial mensuplai
kapiler, end arteriol dan venula ke papilla dermis. Sedangkan pleksus profunda
terdiri atas pembuluh darah yang lebih besar dibandingkan pleksus superficial. 4

5. Kelenjar Getah Bening

Saluran getah bening dari kulit yang penting dalam mengatur tekanan dari
cairan interstisial oleh resorpsi cairan dilepaskan dari pembuluh dan dalam
membersihkan jaringan sel, protein, lipid, bakteri dan zat terdegradasi. Kelenjar
getah bening mengalir ke pleksus horizontal pembuluh getah bening yang lebih
besar terletak jauh ke pleksus venous subpapillary. sistem vertikal limfatik
kemudian membawa cairan dan debris melalui dermis reticular lain yang lebih
dalam pleksus mengumpulkan sebagai perbatasan reticular dermis-hipodermis.
Aliran getah bening di dalam kulit tergantung pada pergerakan dari jaringan yang
disebabkan oleh denyutan arteri dan kontraksi otot skala besar dan gerakan tubuh,
dengan arus balik dicegah dengan katup bikuspid-seperti dalam pembuluh.

B. Adneksa Kulit

Adneksa kulit terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut dan kuku

1. Kelenjar Kulit

Terdapat di lapisan dermis, terdiri atas:


a. Kelenjar keringat (glandula sudorifera)
Ada dua macam kelenjar keringat, yaitu kelenjar erekrin yang kecil-kecil,
terletak dangkal di dermis dengan secret yang encer, dan kelenjar apokrin

8
yang lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental. Keringat
mengandung air, elektrolit, asam laktat dan glukosa. Biasanya pH keringat
berkisar antara 4-6,8.
Kelenjar erekrin telah dibentuk sempurna pada 28 minggu
kehamilan dan baru berfungsi 40 mnggu setelah kelahiran. Saluran
kelenjar ini berbentuk spiral dan bermuara langsung di permukaan
kulit. Terdapat di seluruh permukaan kulit dan terbanyak di telapak
kaki, tangan, dahi dan aksila. Sekresi bergantung pada beberapa
faktor dan dipengaruhi oleh saraf kolinergik, faktor panas, dan
stress emosional.
Kelenjar apokrin dipengaruhi oleh saraf adrenergic, terdapat di
aksila, areola mammae, pubis, labia minora dan slauran telinga
luar. Fungsi apokrin pada manusia belum jelas, pada waktu lahir
kecil namun pada pubertas mulai esar dan mengeluarkan secret.

b. Kelenjar palit (glandula sebasea)


Terletak di seluruh permukaan kulit manusia kecuali di telapak tangan dan
kaki. Kelenjar palit disebut juga kelenjar holokrin karena tidak berlumen
dan sejret kelenjar ini berasal dari dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar
palit bisanya terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada
lumen akar rambut (folikel rambut). Sebum mengandung trigliserida, asam
lemak bebas, skualen, wax ester dan kolesterol. Sekresi dipengaruhi oleh
hormone androgen.

2. Kuku

Kuku adalah bagian terminal dari lapisan tanduk (stratum korneum) yang
menebal. Bagian kuku yang terbenam dalam jari disebut akar kuku (nail root),

9
bagian yang terbuka di atas dasar jaringan lunak kulit pada ujung jari disebut
badan kuku (nail plate), dan yang paling ujung adalah bagian kuku yang bebas.
Kuku tumbuh dari akar kuku keluar dengan kecepatan tumbuh kira-kira 1mm per
minggu.
Sisi kuku agak mencekung dan membentuk alur kuku (nail groove). Kulit
tipis yang menutupi kuku dibagian proksimal disebut eponikium sedang kulit
kuku yang bebas disebut hiponikium.

Gambar 2.4 Anatomi Kuku

3. Rambut

Terdiri aras bagian yang terbenam dalam kulit (akar rambut) dan bagian
yang berada di luar kulit (batang rambut). Ada dua macam tipe rambut yaitu
rambut halus, tidak mengandung pigmen dan terdapat pada bayi, dan rambut
terminal yaitu rambut yang lebih kasar dengan banyak pigmen, memiliki medulla
dan terdapat pada orang dewasa.
Pada manusia dewasa selain rambut di kepala, juga terdapat di bulu mata,
rambut ketiak, rambut kemaluan, kumis dan janggut yang pertumbuhannya
dipengaruhi oleh hormone seks (androgen).
Rambut tumbuh secara siklik, fase anagen (pertumbuhan) berlangsung 2-6
tahun dengan kecepatan tumbuh kira-kira 0,35 mm per hari. Fase telogen
(istirahat) berlangsung beberapa bulan. Di antara kedua fase tersebut terdapat fase
katagen (involusi temporer).

10
Rambut normal dan sehat berkilat, elastic dan tidak mudah patah.
Komposisi rambut terdiri atas karbon 5-,6-%, hydrogen 6,36%, nitrogen 17,14%,
sulfur 5,0% dan oksigen 20,80%.

Gambar 2.5 Fase Pertumbuhan Rambut

C. Anatomi Alat Kelamin

ALAT KELAMIN LAKI-LAKI2

Uretra

Uretra adalah organ berbentuk pipa yang terdapat antara ostium uretra
internum dan ostium uretra eksternum. Panjangnya 20 cm dan menyerupai
hurup S terbalik horizintal, dari vesika urinaria ke simfisis pubis melengkung
dengan cekungan ke depan atas, sedangkan bagian selanjutnya melengkung
dengan cekungan menghadap ke bawah belakang. Pada uretra terdapat dapat
dibedakan :

- Pars prostatika

- Pars membranasea

- Pars spongiosa

Uretra pars prostatika

Bagian ini terletak dalam glandula prostatika antara ostium uretra internum
dan fasia diagfragma urogenitale superior, panjangnya 3 cm dan merupakan

11
bagian uretra melebar dengan daya dilatasi terbesar. Uretra dilapisi oleh epitel
transisional. Pada dinsing dorsal dapat dilihat :

- Verumontanum : rigi memanjang di garis tengah

- Sinus prostatikus : muara saluran glandula prostata

- Kolikulus seminalis dan duktus eyakulatorius

Uretra pars membranasea

Merupakan bagian uretra terpendek ( 1,2 cm), mulai dari ujung


prostat sampai umbi zakar dan juga dilapisi epitel transisional. Kecuali di ostium
uretra eksternum, bagian ini merupakan bagian uretra tersempit. Disebelah kanan
dan kiri, terletak glandula bulbouretralis cowper. Pars membranasea ini dilingkari
otot lingkar m. Sfingter uretra eksternum.

Uretra pars spongiosa

Merupakan bagian uretra terpanjang ( 15 cm) dari fasia dari fasia


diagfragma urogenitale inferior sampai ostium uretra eksternum. Dilapisi epitel
torak, kecuali 12 mm terakhir (fosa navikularis) yang dilapisi epitel goreng
berlapis. Potongan melintangnya 0,5 cm melebar fosa navikularis, kemudian
menyempit kembali di orifisium uretra eksternum. Di dinding atas dan sisi
terdapat muara kelenjar-kelenjar uretra (littre) yang mengarah ke ventral.

Penis

Di dalam zakar (penis) terdapat badan pengembung (erektil), yaitu :

1. korpus spongiosum penis yang meliputi uretra

2. korpus kavernosum penis, di sebelah dorsoateral kanan dan kiri korpus


spongiosum penis

1. korpus spongiosum penis4

12
Badan pengembung ini melebar di kedua ujungnya dengan membentuk
umbi zakar (bolbus penis) di akar dan di ujung proksimalnya, yakni kepala zakar
(glans penis). Glans penis diliputi oleh kulup (preputium) yang disebelah ventral
berhubungan dengan glans melalui frenulum prepusium. Di kedua sisi glans
melalui frenulum ini bermuara saluran kelenjar sebasea, yaitu tyson yang
menghasilkan smegma.

Duktus parauretralis berupa pipa buntu uang teratur sejajar dengan bagian
terakhir uretra dn bermuara di sekitar bibir orifisium uretra eksternum. Glans
penis dan permukaan dalam preputium dilapisi epitel gepeng.

2. korpus kavernosum penis

Kedua korpus kavernosum penis di akar penis berpancar masing-masing


membentuk krus penis yang memperoleh fiksasi pada ramus inferior os pubis dan
ramus superior os iskii.

Prostat

Berukuran 4x4 cm, terletak di bawah kandung kemih, di atas


digfrahma urogenitale dan meliputi bagian pertama uretra. Terdiri atas 2 lobus
lateral dan 1 lobus medial, salurannya di lapisi oleh epitel torak dan bermuara
pada uretra pars prostatika.

Vesikula seminalis

Kedua vesikula seminalis merupakan alat yang gepeng, lonjong dan


panjang 5 cm. Struktur dalamnya berupa tabung yang berkelok-kelok. Saluran
kedua vesikula seminalis. Masing-masing bersatu dengan bagian terakhir duktus
deferens yang homolateral untuk membentuk duktus eyakulatorius.

Testis dan epididimis

Kedua alat terbeungkus dalam kantung buah zakar (skrotum). Anak buah
zakar (epididimis) melekat pada permukaan posterolateral buah zakar penis. Dari
rete testis dilepaskan 20 pipa, yaitu duktus eferentis yang membentuk kutub atas

13
epididimis, lalu bersatu menjadi satu saluran yang berliku-liku dan membentuk
kaput kauda epididimis.

ALAT KELAMIN PEREMPUAN2

Alat kelamin perempuan dan laki-laki mempunyai asal yang sama, namun
pada perkembangan selanjutnya terjadi beberapa perbedaan.

Mons veneris dan labium pudendi

Kedua bibir kemaluan besar (labium mayus pudendi) masing-masing


berasal dari benjolan genital kanan dan kiri, yang pada laki-laki menghasilkan
kantung buah zakar. Persatuan kedua benjolan genital di sebelah ventrokranial
kemudian diubah menjadi bukit kemaluan (mons pubis atau mons veneris). kedua
bibir kemaluan kecil (labium munus pudendi) berasal dari lipat-lipat urogenital
kanan dan kiri yang pada perempuan tidak bersatu di garis tengah. Dalam mons
veneris terdapat jaringan lemak subkutis. Kedua labium mayus berupa lipat yang
tebal mulai dari mins veneris ke belakang bawah untuk bersatu pada komisura
posterior 2,5 cm, ventral terhadap anus. Dalam labium mayus terdapat jaringan
lemak berbentuk kumparan. Kedua labium minus ini di ventral bertemu
membentuk kutup preputium klitorides dan di dorsal bersatu dalam komisura
poserior (fourchette).

Klitoris (kelentit)

Merupakan homolog bagian dorsal penis dan berasal dari tuberkulum


genitale yang tidak berkembang seperti hanya pada laki-laki. Alat ini berisi 2
badan pengembang yang bersatu pada glans klitorides.

Vestibulum pudendi (serambi kemaluan)

Vestibulum pudendi adalah ruangan yang dibatasi oleh kedua bibir


kemaluan kecil (labia minora). pada ruangan ini bermuara orifisium uretra
eksternum, saluran kelenjar bartholin (glandula vestibularis mayor). Dan ostium
vagine. Di kedua ssi vestibulum terdapat dapat pengembung yang dikenal sebagai

14
bulbus vestibuli. Di ujung inferior bulbus vestibuli sebelah kanan dan kiri terdapat
glandula vestibularis mayor (bartholin) yang dianggap homolog glandula
bulbouretralis (cowper) pada laki-laki. Saluran kelenjar bartholin bermuara di
permukaan dalam labium minus pada perbatasan antara 2/3 bagian deepan dan 1/3
bagian belakang.

Himen (selaput dara)

Merupakan lipatan mukosa membatasi ostium vagina pada gadis.

Uretra

Panjang uretra perempuan hanya 3 cm, dengan epitel transisional di bagian


proksimal dan epitel berlapis di bagian distal. Kelenjar skene terletak di sebelah
kanan dan kiri, lateral dari orifisium uretra eksternum. Saluran dilapisi epitel torak
dan bermuara di vestibulum vagina atau orifisium uretra eksternum

Vagina

Vagina adalah saluran penghubung antara vestibulum pudendi dan serviks


uteri. Panjang dinding depan 9 cm dan dinding belakang 14 cm, terdiri atas epitel
gepeng berlapis yang mengandung banyak glikogen.

Uterus (rahim)

Terdiri atas leher (serviks) dan badan (korpus) uteri. Korpus uteri terdiri
dari 3 lapisan :

- Endometrium

- Miometrium

- Perimetrium

Di dalam korpus uteri terdapat sebuah rongga berukuran 5x8 cm disebut


rongga rahim (kavum uteri). Bagian atas korpus uteri disebut fundus uteri dan di

15
sudut lateral fundus uteri bermuara saluran telur (tuba uterina) ke dalam kavum
uteri.

Tuba uterina dan ovarium

Tuba uterina terlentang melintang di sisi kanan dan kiri rahim, ukuran
panjang 12 cm, terdiri atas pars uteri, ismus, ampula dan fimbrie. Tuba uterina
dilapisi epitel torak berambut getar. Ovarium berbentuk oval dan melekat pada
permukaan dorsal ligamentum latum uteri.

SISTEM PEMBULUH GETAH BENING DAN KELENJAR GETAH BENING


ALAT KELAMIN2

Kelenajar getah bening alat kelamin dapat dibedakan menjadi dua


kelompok besar.

1. traktus horizontalis kelenjar-kelenjar inguinal superfisialis dan kelenjar-


kelenjar inguinal dalam (profundus)

2. kelenjar getah bening dalam panggul da sepanjang aorta abdominalis,


terutama merupakan kelenjar-kelenjar regional bagi alat-alat reproduksi.
Nama kelenjar-kelenjar tersebut disesuaikan dengan nama pembuluh darah
yang diiringinta atau sesuai dengan nama alat yang terdapat berdekatan
dengan kelenjar-kelenjar bersangkutan.

1. pada laki-laki

Penis

Anyaman pembuluh getah bening dangkal ditampung oleh kelenjar-kelenjar


inguinal superfisial medial, kadang-kadang ditampung oleh kelenjar-kelenjar
iliaka eksterna. Anyaman pembuluh getah bening dalam ditampung oleh
kelenjar-kelenjar inguinal dalam medial.

Skrotum

16
Pembuluh getah bening skrotum ditampung oleh kelenjar-kelenjar inguinal
superfisial medial.

Uretra

Getah bening dari uretra pars spongiosa ditampung oleh kelenjar-kelenjar


inguinal superfisial media, kelenjar-kelenjar inguinal dalam, dan kadang-
kadang oleh kelenjar iliaka eksterna. Sedangkan getah bening dari uretra pars
prostatika dan membranasea disalurkan ke kelenjar-kelenjar vesikel dan
selanjutnya ke kelenjar-kelenjar iliaka interna.

Prostata, vesikula-seminalis

Getah bening dari prostata dan vesikula seminalis ditampung oleh kelenjar-
kelenjar sakral, iliaka eksterna, iliaka interna, dan anorektal.

Testis dan epididimis

Getah bening dari testis dan epididimis ditampung oleh kelenjar iliaka eksterna.

2. Pada perempuan

Labium mayus

Getah bening dari labium mayus ditampung oleh kelenjar inguinal superfisisal
medial, kadang-kadang oleh kelenjar iliaka eksterna

Labium minus

Ditampung oleh kelenjar-kelenjar inguinal superfisial medial, inguinal dalam,


dan iliaka eksterna.

Kelenjar bartholin

Ditampung oleh kelenjar-kelenjar vesikel anterior.

Klitoris

17
Anyaman pembuluh getah bening dangkal ditampung oleh kelenjar-kelenjar
inguinal superfisial medial dan kelenjar-kelenjar inguinal dalam medial.
Anyaman pembuluh getah bening dalam ditampung oleh kelenjar-kelenjar
iliaka eksterna.

Uretra

Getah bening uretra ditampung oleh kelenjar-kelenjar inguinal superfisial


medial, kelenjar-kelenjar inguinal dalam, interiliaka, dan gluteal inferior.

Ovarium

Ditampung oleh kelenjar-kelenjar sepanjang aorta abdominalis.

Uterus

Fundus uteri : sama seperti ovarium. Korpus uteri : ke kelenjar-kelenjar


sepanjang aorta, kelenjar-kelenjar inguinal superfisial. Dan interiliaka. Serviks
uteri : ke kelenjar-kelenjar iliaka dan kelenjar-kelenjar aorta

Vagina

Bagian kranial : beranastomosis dengan serviks uteri lalau ke kelenjar iliaka


eksterna dan interiliaka. Bagian kaudal : ke kelenjar-kelanjar interiliaka gluteal
inferior dan beberapa kelenjar inguinal superfisial. Bagian dorsal : ke kelenjar
anorektal

D. Fisiologi Kulit

Kulit pada manusia mempunyai peranan penting, selain fungsi utama yang
menjamin kelangsungan hidup juga memiliki arti lain yaitu estetik, ras, indicator
sistemik, dan sarana komunikasi non verbal antara individu satu dengan yang lain.1
Fungsi utama kulit adalah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu
(termoregulasi), pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D dan keratinisasi.1

1. Fungsi proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik atau mekanis,
misalnya tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi terutama yang bersifat

18
iritan contohnya lisol, karbol, asam dan alkali kuat lainnya; gangguan yang
bersifat panas misalnya radiasi, sengatan sinar ultraviolet; gangguan infeksi luar
terutama kuman/bakteri maupun jamur. Hal tersebut mungkin karena adanya
bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabut-serabut jaringan penunjang
yang berperan sebagai pelindung terhadap gangguan fisik.
Melanosit turut berperan dalam melindungi kulit dari pajanan sinar
matahari dengan mengadakan tanning. Proteksi rangsangan kimia dapat terjadi
karena sifat stratum korneum yang impermeable terhadap berbagai zat kimia dan
air, di samping itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi kontak zat-zat
kimia dengan kulit. Lapisan keasaman kulit ini mungkin terbentuk dari hasill
ekskresi keringat dan sebum, keasaan kulit menyebabkan pH kullit berkisar 5-6,5
sehingga merupakan perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun
jamur. Proses keretinisasi juga berperan sebagai sawar mekanis karena sel-sel
mati melepaskan diri secara teratur.

2. Fungsi absorpsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, Iarutan dan benda padat,
tetapi cairan yang mudah menguap Iebih mudah diserap. begitupun yang larut
lemak. Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2 dan uap air memungkinkan kulit ikut
mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi
oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum.
Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antara sel, menembus sel-sel
epidermis atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi Iebih banyak yang melalui
sel sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar.

3. Fungsi ekskresi
Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi atau
sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan amonia.
Kelenjar lemak pada fetus atas pengaruh hormon androgen dari ibunya
memproduksi sebum untuk melindungi kulitnya terhadap cairan amnion, pada
waktu lahir dijumpai sebagai vernix caseosa. Sebum yang diproduksi melindungi
kulit karena Iapisan sebum ini selain meminyaki kulit juga menahan evaporasi air
yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering. Produk kelenjar lemak dan
keringat di kulit menyebabkan keasaman kulit pada pH 5-6.5.
19
4. Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis.
Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan - badan Ruffini di dermis dan
subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh Badan badan Krause yang terletak di
dermis. Badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperen terhadap rabaan,
demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di epidermis. Sedangkan
terhadap tekanan diperankan oleh bedan Paccini di epidermis. Saraf-saraf sensorik
tersebut Iebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik.

5. Pengaturan suhu (termoregulasi)


Kulit melakukan peranan ini dengan cara mengeluarkan keringat dan
mengerutkan (otot berkontrasi) pembuluh darah kulit. Kulit kaya akan pembuluh
darah sehingga memungkinkan kulit mendepet nutrisi yang cukup baik . Tonus
veskular dipengaruhi oleh saraf simpetis (asetilkolin). Pada bayi biasanya dinding
pembuluh darag belum terbentuk sempurna, sehingga terjadi ekstrevasasi cairan.
karena itu kulit bayi tempak lebih edematosa karena lebih banyak mengendung air
dan Na.

6. Pembentukan pigmen
Sel pembentuk pigmen (melanosit), terletak di Iepisan basal dan sel ini
berasal dari rigi saraf. Perbandingan jumlah sel basal : melanosit adalah 10 : 1.
Jumlah melanosit dan jumlah serta besarnya butiran pigmen (melenasomes)
menentukan warna kulit ras maupun individu. Pada pulasan H.E. Sel ini jernih
berbentuk bulat dan merupakan sel dendrit, disebut pula sebagai clear cell.
Melanosom dibentuk oleh alat Golgi dengen bentuk enzim tirosinaae, ion Cu dan
O2. Pajanan terhadap sinar metahari mempengeruhi produksi melenosom. Pigmen
diseber ke epidermis melalui tangan-tangan dendril sedangkan ke Iapisan kulit (di
bawahnya dibawa oleh sel melanofag (meienofor). Warna kulit tidak sepenuhnya
dipengeruhi oleh pigmen kulit. melainkan juga oleh tebal tipisnya kulit, reduksi
Hb, oksi Hb. dan karoten.

7. Fungsi keratinisasi
Lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama yaitu keratinosit,
sel Langerhans, melanosit. Keratinosit dimulai dari sel basal mangadakan

20
pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya
manjadi sel spinosum, makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula
menjadi sel granulosum. Makin lama inti manghilang dan keratinosit ini menjadi
sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung terus menerus seumur hidup, dan
sampai sekarang belum sepenuhnya dimengerti . Matoltsy berpendapat mungkin
keratinosit melalui proses sintesis dan degradasi manjadi lapisan tanduk. Proses
ini berlangsung normal salama kira-kira 14-21 hari, dan memberi perlingdungan
kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik.

8. Pembentukan vitamin D
Dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dangan hanya
dari hal tersebut, sehingga pemberian vitamin D systemic masih tetap diperlukan.

E. Morfologi kulit2

Efloresensi kulit dapat berubah pada waktu berlangsungnya penyakit. Proses


tersebut dapat merupakan akibat biasa dalam perjalanan proses patologik. Kadang-
kadang perubahan ini dapat dipengaruhi keadaan dari luar, misalnya trauma garukan, dan
pengobatan yang diberikan, sehingga perubahan tersebut tidak biasa sekali. Dalam hal ini
gambaran klinis morfologik penyakit menyimpang dari biasanya dan sulit dikendali.
Demi kepentingan diagnosis penting sekali untuk mencari kelainan yang pertama
(efloresensi primer), yang biasanya khas untuk penyakit tersebut.1

Menurut PRAKEN (1996) yang disebut efloresensi (ruam) primer adalah :


makula, papul, plak, urtika, nodus, nodulus, vesikel, bula, pustul, dan kista. Sedangkan
yang dianggap sebagai efloresensi sekunder adalah skuama (sangat jarang sekali timbul
sebagai efloresensi primer), krusta, erosi, ulkus, sikatriks. 1

21
A. BERBAGAI JENIS LESI (MORFOLOGI KULIT)

Untuk mempelajari macam-macam kelainan kulit lebih sistematis sebaiknya dibuat


pembagian menurut Siemens (1985) yang membaginya sebagai berikut : 1

Ciri khas Morfologi


Setinggi permukaan kulit Makula
Bentuk peralihan tidak terbatas pada Eitema, telangiektasis
permukaan kulit
Diatas pemukaan kulit Urtika, vesikel, bula, kista, pustul, abses, papul,
nodus, tumor, vegetasi
Bentuk peralihan
1. tidak terbatas pada suatu lapisan saja Sikatrik, atrofi, hipertrofi, hipotrofi,
anetoderma, erosi, ekskoriasi, ulkus, fistel
2. melekat di atas kulit Skuama, krusta, sel-sel asing dan hasil
metabolitnya, debris (kotoran)

Berikut ini akan diberikan definisi berbagai kelainan kulit dan istilah-istilah yang
berhubungan dengan kelainan tersebut1

- Makula adalah kelainan kulit berbatas tegas berupa perubahan warna semata-mata.
Contoh adalah melanoderma, leukoderma, purpura, petekie, ekimosis.

22
- Eritema adalah kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran pembuluh darah
kapiler yang reversible.
- Urtika adalah edema setempat yang timbul mendadak dan hilang perlahan-lahan.
- Vesikel adalah gelembung berisi cairan serum, beratap, berukuran kurang dari cm
garis tengah dan mempunyai dasar ; vesikel berisi darah disebut vesikel hemoragik.
- Pustule adalah vesikel yang berisi nanah, bila nanah mengendap di bagian bawah
vesikel disebut vesikel hipopion.
- Bula adalah vesikel yang berukuran lebih besar. Dikenal juga istilah bula hemoragik,
bula purulen, dan bula hipopion.
- Kista adalah ruangan berdinding berisi cairan, sel, maupun sisa sel. Kista terbentuk
bukan akibat peradangan, walaupun dapat meradang. Kista terbentuk dari kelenjar
yang melebar dan tertutup, saluran kelenjar, pembuluh darah, saluran getah bening,
atau lapisan epidermis. Isi kista terdiri atas serum, getah bening, keringat, sebum, sel-
sel epitel, lapisan tanduk, dan rambut.
- Abses adalah kumpulan nanah dalam jaringan, bila mengenai kulit berarti di dalam
kutis atau subkutis.

Berikut adalah morfologi yang berisi jaringan padat

- Papul adalah penonjolan di atas permukaan kulit, sikumskrip,berukuran diameter


lebih kecil dari cm, berisikan zat padat. Warna papul dapat merah akibat
peradangan, pucat, hiperkrom, putih, atau seperti kulit di sekitarnya. Letak papul dapat
epidermal atau kutan.
- Nodus adalah massa padat sirkumskrip, terletak di kutan atau subkutan, dapat
menonjol, jika diameternya lebih kecil dari 1 cm disebut nodulus.
- Plak adalah peninggian di atas permukaan kulit, permukaannya rata dan berisi zat
padat (biasanya infiltrat), diameternya 2 cm atau lebih. Contohnya papul yang
melebar.
- Tumor adalah istilah umum untuk benjolan yang berdasarkan pertumbuhan sel
maupun jaringan.
- Infiltrate adalah tumor terdiri atas kumpulan sel radang.
- Vegetasi adalah pertumbuhan berupa penonjolan bulat atau runcing yang menjadi satu.
Vegetasi dapat dibawah permukaan kulit.
- Sikatriks adalah terdiri atas jaringan tak utuh, relief kulit tdk normal, permukaan
kulit licindan tidak terdapat adneksa kulit. Sikatriks dapat atrofik, kulit mencekung dan
dapat hipertrofik yang secara klinis terlihat menonjol karena kelebihan jaringan ikat.

23
Bila sikatriks hipertrofik menjadi patologik, pertumbuhan melampaui batas luka
disebut keloid (sikatriks yang pertumbuhan selnya mengikuti pertumbuhan
tumor), dan ada kecenderungan terus membesar.
- Anetoderma adalah bila kutis kehilangan elastisitas tanpa perubahan berarti pada
pada bagian kulit yang lain, dapat dilihat bagian-bagian yang bila ditekan dengan jari-
jari seakan-akan berlubang. Bagian yang jaringan elastiknya atrofi disebut anetoderma.
- Erosi adalah kelainan kulit yang disebabkan kehilangan jaringan yang tidak
melampaui stratum basal.
- Ekskoriasi adalah kelainan kulit yang disebabkan oleh hilangnya jaringan sampai
stratum papilare.
- Ulkus adalah hilangnya jaringan yang lebih dalam dari ekskoriasi.
- Fistulae adalah saluran yang menghubungkan rongga di bawah kulit dan luar tubuh
- Skuama adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama dapat halus
sebagai taburan tepung, maupun lapisan tebal dan luas sebagai lembaran kertas. Dapat
dibedakan misalnya pitirasiformis (halus), psoriasiformis(berlapis-lapis), iktiosiformis
(seperti ikan), kutikular (tipis), lamellar (berlapis), membranosa (lembaran-lembaran),
dan keratotik (terdiri atas zat tanduk).
- Krusta adalah cairan badan yang mengering. Dapat bercampur dengan jaringan
nekrotik. Maupun benda asing (kotoran, obat dan sebagainya). Warnanya ada beberapa
macam adalah kuning muda berasal dari serum, kuning kehijauan berasal dari pus, dan
kehitaman berasal dari darah.
- Likenifikasi adalah penebalan kulit disertai relief kulit yang makin jelas.
- Guma adalah infiltrat sirkumskrip, menahun, destruktif, biasanya melunak.\
- Eksentama adalah kelainan pada kulit yang timbul serentak dalam waktu singkat dan
tidak berlangsung lama, umumnya didahului oleh demam.
- Fagedenikum adalah proses yang menjurus ke dalam.
- Terebrans adalah proses yang menjurus ke dalam.
- Monomorf adalah kelainan pada kulit yang satu ketika terdiri atas hanya satu macam
ruam kulit.
- Polimorf adalah kelainan kulit yang sedang berkembang, terdiri atas bermacam-
macam eflolesensi (biasanya lebiih dari 2 efloresensi)
- Telangiektasis adalah pelebaran kapiler yang menetap pada kulit.
- Roseola adalah eksantema yang lentikular berwarna merah tembaga pada sifilis dan
frambusia.
- Enantem : eksantem di mukosa
- Eksantema skariatiniformis adalah erupsi yang difus dapat generalisata atau
lokalisata, berbentuk eritema numular.

24
- Eksantema morbiliformis adalah erupsi yang berbentukk eritema yang lentikular.
- Galopans adalah proses yang sangat cepat meluas.

BERBAGAI ISTILAH UKURAN, SUSUNAN KELAINAN/BENTUK SERTA


PENYEBARAN DAN LOKALISASI DIJELASKAN SEBAGAI BERIKUT:
1. Ukuran
- Miliar: sebesar kepala jarum pentul
- Lentikular: sebesar biji jagung
- Nummular: sebesar uang logam 100 rupiah
- Plakat: lebih besar dari numular

2. Susunan Kelainan/Bentuk
- Liniar: seperti garis lurus
- Sirsinar/anular: seperti lingkaran
- Polisiklik: bentuk pinggiran yang sambung menyambung
- Arsinar: berbentuk bulan sabit
- Korimbiformis: susuan seperti induk ayam yang dikelilingi anak-anaknya

Bentuk Lesi
- Teratur: misalnya bulat, lonjong, dsb
- Tidak teratur

3. Penyebaran dan lokalisasi


- Sirkumskrip: berbatas tegas
- Difus: tidak berbatas tegas
- Generalisata: tersebar pada sebagian besar bagian tubuh
- Regional: mengenai daerah tertent badan
- Universalis: seluruh atau hampir seluruh tubuh (90 100%)
- Solitary: hanya satu lesi
- Herpetiformis: vesikel bekelompok seperti pada herpes zooster
- Konfluens: dua atau lebih lesi yang menjadi satu
- Diskret: terpisah satu dengan yang lain
- Serpiginosa: proses yang menjalar ke satu jurusan diikuti oleh penyembuhan pada
bagian yang ditinggalkan
- Irisformis: eritema berbentuk bulat lonjong dengan vesikel wana yang lebih gelap
ditengahnya
- Simetrik: mengenai kedua belah badan yang sama
- Bilateral: mengenai kedua belah badan

25
- Unilateral: mengenai sebelah badan

26
LAMPIRAN MORFOLOGI KELAINAN
KULIT

Makula
Urtika

Plaque
vesikel

Papula
Nodul

27
Erosi

Ulkus

Pustula

Fisura

Krusta

Atropi

28
Sikatriks

29
Daftar Pustaka

1. Wasitaatmadja, Syarif M. 2013. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Keenam.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedoteran Indonesia, pp:3-8
2. Wasitaatmadja, Syarif M. 2016. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketujuh. Jakarta:
Balai Penerbit Fakultas Kedoteran Indonesia, pp:3-8
3. Gawkrodger, David J. 2003. Dermatology: An Illustrated Colour Text. Edisi Ketiga.
United Kingdom: Churchill Livingstone, pp: 2-7
4. James W, Berger T, Elston D. 2006. Andrews Diseases of the Skin: Clinical
Dermatology. Edisi Keduabelas. Philadelphia: Elsevier, pp: 2-10