Anda di halaman 1dari 4

SIFILIS

PENDAHULUAN

Meskipun insidens sifilis kian menurun, penyakit ini tidak dapat diabaikan, karena
merupakan penyakit berat. Hampir semua alat tubuh dapat diserang, termasuk sistem
kardiovaskular dan saraf. Selain itu wanita hamil yang menderita sifilis dapat menularkan
penyakitnya ke janin sehingga menyebabkan sifilis kongenita yang dapat menyebabkan
kelainan bawaan dan kematian. Istilah kita untuk penyakit ini yaitu raja singa karena sangat
tepat untuk keganasannya.

DEFINISI

Sifilis ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh treponema pallidum, sangat kronik dan
bersifat sistemik. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat
menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin.

SINONIM

Menurut sejarahnya terdapat banyak sinonim sifilis yang tak lazim dipakai. Sinonim yang
umum ialah luas veneres atau biasanya disebut lues saja. Dalam istilah indonesia disebut raja
singa.

EPIDEMIOLOGI

Asal penyakit ini tak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di eropa. Ada yang
menganggap penyakit ini berasal dari penduduk indian yang dibawa oleh anak buah columbus
waktu mereka kembali ke spanyol pada tahun 1942. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di napoli.
Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis dan gonore disebabkan oleh infeksi
yang sama.

Pada abad ke-15 terjadi wabah di eropa, sesudah tahun 1860 merbilitas sifilis di eropa
menurun cepat, mungkin karena perbaikan sosioekonomi. Selama perang dunia kedua
insidensnya meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 1946, kemudian makin menurun.

Insidens sifilis di berbagai negeri di seluruh dunia pada tahun 1996 berkisar antara 0,04-
0,052%. Insidens yang terendah di cina, sedangkan yang tertinggi di amerika selatan. Di
indonesia insidensnya 0,61%. Di bagian kami penderitanya yang terbanyak ialah stadium laten,
disusul sifilis stadium l yang jarang, dan yang langka ialah sifilis stadium ll.

ETIOLOGI

Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh schaudinn dan hoftman ialah treponema
palidum, yang termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetacea, dan genus treponema.
Bentuknya sebagai spiral teratur, panjangnya antara 6-15 cm um, lebar 0,15 um, terdiri atas
delapan sampai dua puluh empat lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju
seperti gerakan pembuka botol. Membiak secara pembelahan melintang. Pada stadium aktif
terjadi setiap tiga puluh jam.

Pembiakan pada umumnya tidak dapat dilakukan di luar bedah. Di luar badan kuman
tersebut cepat mati, sedangkan dalam darah untuk transfusi dapat hidup tujuh puluh dua jam.
KLASIFIKASI

Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan sifilis akuisita (didapat). Sifilis kongenital dibagi
menjadi : dini (sebelum dua tahun), lanjut (sesudah dua tahun), dan stigmata. Sifilis akuisita
dapat dibagi menurut dua cara, secara klinis dan epidemioogik. Menurut cara pertama sifilis
dibagi menjadi tiga stadium: stadium l (S l), stadium ll (Sll), dan stadium lll (S lll). Secara
epidemiologik menurut WHO dibagi menjadi :

1. stadium dini menular (dalam satu tahun, sejak infeksi), terdiri atas S l, S ll, stadium
rekuren, dan stadium laten dini.

2. stadium lanjut tak menular (setelah satu tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten
lanjut dan S lll.

PATOGENESIS

Stadium dini

Pada sifilis yang didapat, T. Pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput
lendir, biasanya melalui senggama. Kuman tersebut membiak, jaringan bereaksi dengan
membentuk infiltrat yang terdiri atas ses-sel limfosit dan sel-sel plasma, terutama di
perivaskular, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi di kelilingi oleh T.pallidum dan
sel-sel radang. Treponema tersebut terletak di antara endotelium kapiler dan jaringan
perivaskular di sekitarnya. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan
hipertrofik endotelium kapiler dan jaringan perivaskular disekitarnya. Enarteritis pembuluh
darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofik endotelium yang menimbilkan obliterasi lumen
(enarteritis obliterans). Kehilangan perdarahan akan menyebakan erosi, pada pemeriksaan
klinis tampak sebagai S l.

Sebelum S l terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen
dan membiak. Pada saat itu pula terjadi pula penjalaran hematogen dan menyebar ke semua
jaringan di badan, tetapi manifestasinya akan tampak kemudian. Multoplikasi ini diikuti oleh
reaksi jaringan sebagai S ll, yang terjadi enam sampai delapan minggu sesudah S l. S l akan
sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut jumlahnya berkurang, kemudian
terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatriks. S ll juga mengalami
regresi perlahan-lahan dan lalau menghilang.

Tibalah stadium laten yang tidak disertai gejala, meskipun infeksi yang aktif masih terdapat.
Sebagai contoh pada stadium ini seorang ibu dapat melahirkan bayi dengan sifilis kongenita.

Kadang-kadang proses imunitas gagal mengontrol infeksi sehingga T.pallidum membiak


lagi pada tempat S l dan menimbulkan lesi rekuren atau kuman tersebut menyebar melalui
jaringan menyebabkan reaksi serupa dengan lesi rekuren S ll, yang terakhir ini lebih sering
terjadi daripada yang terdahulu. Lesi menular tersebut dapat timbul berulang-ulang, tetapi pada
umumnya tidak melibihi dua tahun.

Stadium lanjut

Stadium laten dapat berlangsung bertahun-tahun, rupanya treponema dalam keadaan dorman.
Meskipun demikian antibodi tetap ada dalam serum penderita. Keseimbangan antara treponema
dan jaringan dapat sekoyong-koyong berubah, sebabnya belum jelas, mungkin trauma
merupakan faktor presipitasi. Pada saat itu munculah S lll berbentuk guma. Meskipun pada
guma tersebut tidak dapat ditemukan T.pallidum, reaksinya hebat karena bersifat destruktif dan
berlangsung bertahun-tahun. Setelh mengalami masa laten yang bervariasi guma tersebut
timbul di tempat-tempat lain

Treponema mencapai sistem kardiovaskular dan sistem saraf pada waktu dini, tetapi
kerusakan terjadi perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk
menimbulkan gejala klinis. Penderita dengan guma biasanya tidak mendapat gangguan saraf
dan kardiovaskular, demikian pula sebaliknya. Kira-kira dua pertiga kasus dengan stadium laten
tidak memberikan gejala.

GEJALA KLINIS

SIFILIS AKUISITA

A. Sifilis dini

l. Sifilis primer (S l)

masa tunas biasanya dua sampai empat minggu, T.pallidum masuk ke dalam selaput lendir
atau kulit yang telahmengalami lesi/mikrolesi secara langsung, biasanya melalui senggama.
Treponema tersebut akan berkembang biak, kemudian terjadi penyebaran secara limfogen dan
hematogen.

Kelainan kulit dimulai sebagai papul lentikular yang permukaannya segera menjadi erosi,
umumnya kemudian menjadi ulkus. Ulkus tersebut biasanya bulat, solitar, dasarnya ialah
jaringan granulasi berwarna merah dan bersih, di atasnya hanya tampak serum. Dindingnya tak
bergaung, kulit sekitarnya tidak menunjukkan tanda-tanda radang akut. Yang khas ialah ulkus
tersebut indolen dan teraba indurasi karena itu disebut ulkus durum.
Kelainan tersebut dinamakan afek primer dan umumnya berlokasi pada genitalia eksterna.
Pada pria tempat yang sering dikenal ialah sulkus korinarius, sedangkan pada wanita di labia
minor dan mayor. Selain itu juga dapat di ekstragenital, misalnya di lidah, tonsil, dan anus.

Afek primer tersebut sembuh sendiri, antara tiga sampai sepuluh minggu. Seminggu setelah
afek primer, biasanya terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional di inguinalis
medialis. Keseluruhannya disebut kompleks primer. Kelenjar tersebut solitar, indolen, tidak
lunak, besarnya biasanya lentikular, tidak supuratif, dan tidak terdapat periadenitis. Kulit
diatasnya biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda radang akut.

Istilah syphilis demblee dipakai, jika tidak terdapat afek primer. Kuman masuk ke jaringan
yang lebih dalam, misalnya pada transfusi darah atau suntikan.

ll. Sifilis sekunder (S ll)

Biasanya S ll timbul setelah enam sampai delapan minggu sejak S l dan sejumlah sepertiga
kasus