Anda di halaman 1dari 20

MANAJEMEN PAJAK

CARA MENGHADAPI PEMERIKSAAN


DENGAN CARA MENGHINDARI LEBIH BAYAR

Oleh :
Kadek Riska Antari Dewi (1415644045)

DIV-6C

PROGRAM STUDI D4 AKUNTANSI MANAJERIAL


POLITEKNIK NEGERI BALI
2017
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, makalah
Manajemen Pajak yang berjudul Cara Menghadapi Pemeriksaan Dengan Cara
Menghindari Lebih Bayar dapat penyusun selesaikan tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi kewajiban mata kuliah Manajemen
Pajak.
Dalam kesempatan yang baik ini penyusun menyampaikan terima kasih kepada
yang terhormat:
1. Bapak Dr. I Nyoman Sentosa Hardika, MM., Ak, BKP selaku dosen mata kuliah
Manajemen Pajak yang telah membimbing kami.
2. Seluruh teman-teman kelas D4-6C yang telah membantu dalam pemberian ide serta
motivasi selama penyusunan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan,
baik dalam segi penyajian materi maupun dalam segi penyajian data-datanya. Hal
tersebut disebabkan oleh keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh
penyusun. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun dari semua pihak untuk disajikan untuk program dimasa yang akan
datang.

Jimbaran, Maret 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR.................................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................2
1.3 Tujuan Penyusuan.............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi, Tujuan, Dan Jenis Pemeriksaan.........................................................3
2.2 Cara-Cara Pengelakan Pajak.............................................................................7
2.3 Contoh Kasus Pemeriksaan Pajak Karena Lebih Bayar Beserta Solusinya.....11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................15
3.2 Saran.................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1 Latar Belakang
Di Indonesia, sejak zaman kolonial Belanda ternyata telah diberlakukan cukup
banyak undang-undang yang mengatur mengenai pembayaran pajak. Akan tetapi, terlalu
banyaknya undang-undang yang dikeluarkan pada saat itu mengakibatkan masyarakat
mengalami kesulitan dalam pelaksanaannya. Selain itu, beberapa undang-undang yang
dibuat pada saat itu ternyata dalam perkembangannya tidak memenuhi rasa keadilan,
dan masih memuat unsur-unsur kolonial. Maka pada tahun 1983, Pemerintah bersama
dengan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat untuk melakukan reformasi undang-undang
perpajakan yang ada dengan mencabut semua undang-undang yang ada dan
mengundangkan lima paket undang-undang perpajakan yang bersifat lebih mudah
dipelajari dan dipraktikkan serta tidak menimbulkan duplikasi dalam hal pemungutan
pajak dan unsur keadilan menjadi lebih diutamakan, bahkan sistem perpajakan yang
semula official assessment diubah menjadi self assessment. Upaya pemberdayaan
masyarakat melalui pelaksanaan sistem self assessment, perlu diikuti dengan tindakan
pengawasan guna mewujudkan tercapainya sasaran kebijakan perpajakan. Wajib pajak
untuk meminimalisasi beban pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari
yang masih ada dalam bingkai peraturan perpajakan sampai dengan yang melanggar
peraturan perpajakan. Maka dari itu, perlu diadakan pemeriksaan pajak oleh fiskus.
Tujuan utama dari pemeriksaan pajak adalah meningkatkan kepatuhan (tax compliance),
melalui upaya- upaya penegakan hukum (law enforcement) sehingga dapat
meningkatkan penerimaan pajak. Sistem self assesment dalam peraturan perundang-
undangan pajak di Indonesia ini sangat berpengaruh bagi wajib pajak. Wajib pajak
diberi kepercayaan untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri jumlah pajak
yang seharusnya terutang tetapi kondisi ini mengharuskan wajib pajak untuk siap
menghadapi pengujian kepatuhan atas pajak yang dilaporkan, yakni menghadapi
pemeriksaan pajak. Baik pemeriksaan karena SPT lebih bayar, SPT rugi, SPT tidak atau
terlambat disampaikan, dan adanya pengaduan dari masyarakat sekitar. Wajib pajak
harus dapat memahami pemeriksaan pajak, tidak merasa ketakutan dengan adanya

1
pemeriksaan, dan tentu saja pemeriksaan bukan untuk dihindari tetapi yang lebih tepat
adalah dihadapi dengan persiapan-persiapan yang memadai.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penyusun akan membahas lebih lanjut
khusus mengenai kasus cara menghadapi pemeriksaan dengan cara menghindari lebih
bayar beserta solusinya dan cara pengelakan pajak yang sering terjadi dimana-mana.

2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalahnya, yaitu :
1. Bagaimana definisi, tujuan, dan jenis pemeriksaan pajak ?
2. Bagaimana cara-cara pengelakan pajak ?
3. Contoh kasus pemeriksaan pajak karena lebih bayar beserta solusinya ?

3 Tujuan Penyusunan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini, yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi, tujuan, serta jenis pemeriksaan pajak.
2. Untuk mengetahui cara-cara pengelakan pajak.
3. Untuk mengetahui contoh kasus pemeriksaan pajak karena lebih bayar beserta
solusinya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi, Tujuan, Dan Jenis Pemeriksaan Pajak


2.1.1 Definisi Pemeriksaan Pajak
Berdasarkan Pasal 1 angka 25 pada Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan (KUP), dijelaskan bahwa pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan
menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara
objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
2.1.2 Tujuan Pemeriksaan Pajak
Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan Pemeriksaan dengan tujuan untuk
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam
rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan sesuai
dengan Nomor 625/KMK.04/1994
1. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak
Ruang lingkup Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dapat meliputi satu, beberapa, atau seluruh jenis pajak, baik untuk satu atau
beberapa Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak dalam tahun-tahun lalu
maupun tahun berjalan.
Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan kewajiban
perpajakan Wajib Pajak dilakukan dengan menelusuri kebenaran SPT, pembukuan atau
pencatatan, dan pemenuhan kewajiban perpajakan lainnya dibandingkan dengan
keadaan atau kegiatan usaha sebenarnya dari Wajib Pajak.
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
dilakukan dalam hal memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Wajib Pajak yang mengajukan permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang
KUP
b. terdapat keterangan lain berupa data konkret sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (1) huruf a Undang-Undang KUP

3
c. Wajib Pajak menyampaikan SPT yang menyatakan lebih bayar, selain yang
mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
sebagaimana dimaksud pada huruf a
d. Wajib Pajak yang telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak
e. Wajib Pajak menyampaikan SPT yang menyatakan rugi
f. Wajib Pajak melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi,
pembubaran, atau akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya
g. Wajib Pajak melakukan perubahan tahun buku atau metode pembukuan atau
karena dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap
h. Wajib Pajak tidak menyampaikan atau menyampaikan SPT tetapi melampaui
jangka waktu yang telah ditetapkan dalam surat teguran yang terpilih untuk
dilakukan Pemeriksaan berdasarkan Analisis Risiko atau
i. Wajib Pajak menyampaikan SPT yang terpilih untuk dilakukan Pemeriksaan
berdasarkan Analisis Risiko.
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan harus dilaksanakan dengan jenis
Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor.
2. Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang
undangan perpajakan
Ruang lingkup Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat meliputi penentuan,
pencocokan, atau pengumpulan materi yang berkaitan dengan tujuan Pemeriksaan.
a. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan selain yang dilakukan
berdasarkan Verifikasi
b. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak selain yang dilakukan berdasarkan
Verifikasi pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
selain yang dilakukan berdasarkan Verifikasi
c. Wajib Pajak mengajukan keberatan
d. Pengumpulan bahan guna penyusunan norma penghitungan penghasilan neto
e. Pencocokan data dan/atau alat keterangan
f. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil
g. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai
h. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak

4
i. Penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu
kompensasi kerugian
j. Sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan dan/atau
k. Memenuhi permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian Penghindaran
Pajak Berganda.
Pemeriksaan untuk tujuan lain dilaksanakan sesuai dengan standar Pemeriksaan
yang meliputi standar umum, standar pelaksanaan Pemeriksaan, dan standar pelaporan
hasil Pemeriksaan. Standar umum Pemeriksaan merupakan standar yang bersifat pribadi
dan berkaitan dengan persyaratan Pemeriksa Pajak dan mutu pekerjaannya.
2.1.3 Jenis Pemeriksaan Pajak
Jenis Pemeriksaan sehubungan dengan pengujian kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan Wajib Pajak :
1. Pemeriksaan Kantor
Pemeriksaan Kantor adalah Pemeriksaan yang dilakukan di kantor Direktorat
Jenderal Pajak. Pemeriksaan Kantor terkait dengan pemeriksaan dalam rangka menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dilakukan dalam jangka waktu paling lama
paling lama 4 (empat) bulan, yang dihitung sejak tanggal Wajib Pajak memenuhi Surat
Panggilan Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor sampai dengan tanggal Surat
Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) disampaikan kepada Wajib Pajak. dapat
diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan, kecuali untuk Pemeriksaan
atas keterangan lain berupa data konkret yang dilakukan dengan Pemeriksaan Kantor
tidak dapat diperpanjang.
Perpanjangan jangka waktu pengujian Pemeriksaan Kantor dilakukan dalam hal :
a. Pemeriksaan Kantor diperluas ke Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak lainnya
b. Terdapat konfirmasi atau permintaan data dan/atau keterangan kepada pihak
ketiga
c. Ruang lingkup Pemeriksaan Kantor meliputi seluruh jenis pajak dan/atau
d. Berdasarkan pertimbangan kepala unit pelaksana Pemeriksaan.
2. Pemeriksaan Lapangan

5
Pemeriksaan Lapangan adalah Pemeriksaan yang dilakukan di tempat kedudukan,
tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, tempat tinggal Wajib Pajak, atau tempat
lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak.
Pemeriksaan Lapangan terkait dengan pemeriksaan dalam rangka menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dilakukan dalam jangka waktu paling lama
6 (enam) bulan, yang dihitung sejak Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan
disampaikan kepada Wajib Pajak sampai dengan tanggal SPHP disampaikan kepada
Wajib Pajak. Selanjutnya dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 2 (dua)
bulan. dilakukan dalam hal:
a. Pemeriksaan Lapangan diperluas ke Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak lainnya
b. terdapat konfirmasi atau permintaan data dan/atau keterangan kepada pihak
ketiga
c. ruang lingkup Pemeriksaan Lapangan meliputi seluruh jenis pajak dan/atau
d. berdasarkan pertimbangan kepala unit pelaksana Pemeriksaan.
Sedangkan terkait dengan:
a. Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi
b. Wajib Pajak dalam satu grup atau
c. Wajib Pajak yang terindikasi melakukan transaksi transfer pricing dan/atau
transaksi khusus lain yang berindikasi adanya rekayasa transaksi keuangan
dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan dan dapat
dilakukan paling banyak 3 (tiga) kali sesuai dengan kebutuhan waktu untuk
melakukan pengujian.
Jangka waktu untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam
rangka Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dan pelaporan paling lama 2 (dua) bulan,
yang dihitung sejak tanggal SPHP disampaikan kepada Wajib Pajak sampai dengan
tanggal LHP.
Pemeriksaan Lapangan terkait dengan pemeriksaan untuk tujuan lain dilakukan
paling lama 4 (empat) bulan yang dihitung sejak tanggal Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan disampaikan kepada Wajib Pajak sampai dengan tanggal LHP.
Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap Wajib Pajak, termasuk terhadap instansi
pemerintah dan badan lain sebagai pemungut pajak atau pemotong pajak.

6
2.2 Cara-Cara Pengelakan Pajak
Ada enam cara pengelakan pajak yang biasa dipraktekkan dimana-mana, yaitu:
1. Penggeseran
2. Kapitalisasi
3. Transformasi
4. Penyelundupan (evasion) dan penghindaran (avoidance)
5. Pengecualian
Ada tiga konsep yang saling berhubungan dalam perpajakan yang perlu
dimengerti, yaitu dampak perpajakan (impact of taxation), penggeseran pajak (shifting),
dan insiden pajak (incidence of tax). Dampak perpajakan terjadi jika wajib pajak terkena
pajak sehingga diwajibkan membayar pajak kepada Negara. Orang pribadi atau badan
yang membayar pajak disebut subjek pajak. Namun, tidak semua subjek pajak
diwajibkan membayar pajak, misalnya orang yang mempunyai penghasilan kurang dari
penghasilan tidak kena pajak.
Penggeseran pajak (shifting) ialah pemindahan atau mentransfer beban pajak dari
subjek pajak kepada pihak lain. Dengan demikian, orang atau badan yang dikenakan
pajak mungkin sekali tidak menanggungnya. Jenis pajak yang dapat dialihkan kepada
pihak lain adalah pajak tidak langsung, yaitu pajak pertambahan nilai. Penggeseran
tidak berarti pembayarannya kepada negara dialihkan kepada pihak lain, tetapi
bebannya yang ditransfer.
Insiden pajak ialah saat penanggung pajak akhirnya diketahui. Insiden pajak ini
dapat terjadi jikalau terjadi transfer beban pajak dari wajib pajak kepada pihak lain.
Namun, adakalanya insiden pajak terjadi tanpa penggeseran pajak yaitu bila terjadi
transformasi. Jadi, dampak perpajakan adalah gejala pertama, penggeseran pajak
merupakan proses selanjutnya, sedangkan insiden pajak adalah hasil akhirnya. Karena
itu, dampak pajak pertambahan nilai (PPN) terjadi terhadap pabrikan atau pedagang
besar, yang kemudian mengalihkan bebannya kepada konsumen yang akhirnya
menanggung insiden pajak. Perlu diketahui bahwa beban pajak langsung, yaitu pajak
penghasilan tidak dapat digeser kepada pihak lain. Dengan demikian, wajib pajak
adalah penanggung beban pajak sekaligus ditindaklanjutkan dengan insiden pajak tanpa
proses pengalihan. Dengan demikian, bila penggeseran pajak tidak terjadi, pajak
ditanggung oleh wajib pajak sendiri.
1. Penggeseran

7
Ada dua jenis penggeseran pajak yang sering dilakukan dalam pengelakan pajak, yaitu :
a. Penggeseran pajak ke depan
Penggeseran ini terjadi apabila pabrikan mentransfer beban pajaknya kepada
penyalur utama, pedagang besar, dan akhirnya kepada konsumen. Penggeseran ini
mengakibatkan kenaikan harga sebanyak pajak yang dikenakan. Apabila PPN sebesar
Rp 500,- tetapi kenaikan harga hanya Rp 400,- maka pajak sebanyak Rp 100,- tidak
ditransfer.
b. Penggeseran pajak ke belakang
Penggeseran ini terjadi bilamana beban pajak ditransfer dari konsumen atau
pembeli melalui faktor distribusi kepada pabrikan. Jadi, pajak pertama kali dikenakan
kepada konsumen atau pembeli, kemudian ia menggeser pajak tersebut kepada penyalur
dengan cara pembelian setelah harga dipotong sebesar pajak yang dikenakan
kepadanya. Demikian pula akhir penyalur menggeser beban pajak tersebut kepada
pabrikan. Pajak yang digeser ke belakang mengakibatkan pemotongan harga jual.
Apabila pajak yang dikenakan terhadap pembeli sebesar Rp 500,- dialihkan kepada
pabrikan maka harga belinya berkurang sebesar Rp 500,-. Jika yang dialihkan hanya Rp
250,- sisanya ditanggung oleh pembeli.
2. Kapitalisasi
Kapitalisasi pajak adalah pengurangan harga objek pajak sama dengan jumlah
pajak yang akan dibayarkan kemudian oleh pembeli. Kapitalisasi ini sering terjadi jika
pembeli harta tetap seperti tanah atau gedung dibebani pajak balik nama. Agar beban ini
tidak menjadi tanggungan pembeli, beban pajak dialihkan kepada penjual. Dengan
demikian, harga beli harta menjadi berkurang. Kapitalisasi pajak ini dapat dikatakan
salah satu bentuk pengalihan pajak ke belakang.
3. Transformasi
Transformasi adalah cara pengelakan pajak yang dilakukan oleh pabrikan dengan
cara menanggung beban pajak yang dikenakan terhadapnya. Cara ini biasanya
dilakukan oleh produsen sehingga kenaikan harga jual tidak menurunkan pangsa
pasarnya. Supaya keuntungan perusahaan tidak berkurang, beban pajak yang seharusnya
dapat ditransfer kepada konsumen dapat dikompensasikan dengan meningkatkan
efisiensi perusahaan. Di sini pengelakan pajak bukan dengan cara menggeser beban
pajak, tetapi dengan mengubah pajak (transformasi) ke dalam keuntungan yang
diperoleh melalui efisiensi produksi. Dengan perkataan lain, meskipun pajak masih

8
ditambahkan ke harga jual, tetapi pengaruhnya tetap sama saja meskipun pengalihan
beban pajak tidak dilakukan.
4. Tax Evasion vs Tax Avoidance
Tax evasion merupakan penghindaran pajak dengan melanggar ketentuan
peraturan perpajakan. Cara ini disebut penyelundupan atau penggelapan pajak. Dalam
manajemen pajak, cara penyelundupan pajak tidak sejalan dengan prinsip manajemen.
Tujuan manajemen jauh dari penggelapan pajak, karena itu tidak dianjurkan. Agar kita
tidak sampai dituduh karena pelanggaran pajak, sebaiknya ketentuan perpajakan perlu
dipelajari. Misalnya, pemegang saham membeli harta perusahaan jauh di bawah harga
pasar yang sedang berlaku. Selisih harga antara harga beli dengan harga jual adalah
pembagian dividen terselubung. Karena itu, selisih itu terkena pajak penghasilan.
Tax avoidance adalah penghindaran pajak dengan menuruti aturan yang ada.
Sebab itu, pengelakan pajak dengan cara ini legal dan tidak perlu merasa berdosa.
Perbedaan antara penggelapan dan pengelakan (avoidance) pajak dapat diilustrasikan
sebagai berikut :
Seseorang yang hendak pergi ke Bogor dapat melalui jalan tol atau jalan
alternative. Jika ia pergi melalui jalan tol dan tidak membayar tol maka tindakannya
adalah termasuk pelanggaran (tax evasion). Jika ia pergi melalui jalan alternative yang
tidak perlu membayar tol, cara yang ditempuhnya adalah penghindaran (tax avoidance).
Ada beberapa cara yang biasa dilakukan wajib pajak dalam upaya menghindari
kewajiban pembayaran pajak (tax evasion). Contoh-contoh pengelakan pajak tersebut
berikut ini adalah cara yang telah diketahui oleh fiskus. Karena contoh pengelakan
pajak tersebut termasuk sebagai pelanggaran/penyelundupan pajak, selain telah
diketahui oleh fiskus maka dianjurkan agar tidak melakukannya. Sesuai dengan
ketentuan peraturan undang-undang perpajakan, barang siapa melakukan cara-cara yang
melanggar peraturan perpajakan akan dikenakan sanksi denda maupun pidana
perpajakan.
a. Merendahkan (memperkecil) penghasilan yang diperoleh dengan cara antara lain, hanya
melaporkan sebagian penghasilan yang diperoleh atau tidak melaporkan seluruh
penghasilan, atau merendahkan harga jual maupun kuantitas barang yang dijual.
b. Meninggikan (memperbesar) harga pokok barang yang dijual dengan cara antara lain,
meninggikan harga pembelian, membuat pembelian fiktif, membebankan pajak
masukan yang telah dikreditkan ke dalam harga pokok penjualan.
c. Meninggikan (memperbesar) biaya usaha dengan cara antara lain, membuat utang fiktif
guna memperbesar biaya bunga dan biaya fiktif yang tidak didukung dokumen ekstern.

9
d. Menggunakan penghasilan bersama-sama dengan memperkecil biaya sehingga angka
laba bruto tampak tinggi.
e. Meninggikan harga impor barang atau jasa dari perusahaan yang ada hubungan
istimewa di luar negeri.
f. Merendahkan harga ekspor barang kepada perusahaan yang ada hubungan istimewa di
luar negeri.
g. Merendahkan besarnya penghasilan pegawai atau pembayaran lainnya dalam rangka
penghitungan PPh Pasal 21, sementara di dalam penghitungan PPh perusahaan
ditinggikan.
h. Pembayaran dividen kepada pemegang saham secara terselubung dengan cara
menciptakan seolah-olah pembayaran utang sebagai upaya untuk menghindarkan
pengenaan PPh Pasal 23 atau PPh Pasal 26.
5. Pengecualian
Pengecualian pajak (tax exemption) adalah pengecualian pengenaan pajak yang
diberikan kepada perseorangan atau badan. Pengecualian pengenaan pajak di Indonesia
diberikan berdasarkan undang-undang. Banyak contoh-contoh penghasilan atau objek
pajak yang tidak dikenakan pajak sesuai undang-undang. Misalnya, masjid dan tempat
ibadah tidak dikenakan pajak bumi dan bangunan. Penghasilan yang diterima oleh
yayasan yang semata-mata untuk keperluan sosial tidak dikenakan pajak penghasilan.
Pemerintah tidak punya wewenang memberian pengecualian pajak. Hak pemberian
pengecualian pajak terletak di tangan rakyat yaitu melalui wakil-wakilnya di Dewan
Perwakilan Rakyat.

10
Bagan

2.3 Contoh Kasus Pemeriksaan Pajak Karena Lebih Bayar Beserta Solusinya
Dalam sistem perhitungan dan pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) bagi Wajib
Pajak Orang dan Wajib Pajak Badan, PPh yang terutang atas penghasilan yang diterima
selama 1 tahun pajak dilunasi melalui cara:
1. Pelunasan PPh dalam tahun berjalan oleh Wajib Pajak sendiri. Pelunasan sendiri
ini dapat berupa pembayaran angsuran PPh setiap bulan selama tahun pajak
berjalan sebagai PPh Pasal 25 dan pembayaran kekurangan PPh, karena pajak
yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih besar daripada kredit pajak
yang telah dilunasi selama tahun berjalan baik melalui pelunasan sendiri maupun
pelunasan melalui pihak lain atau yang dikenal sebagai PPh Pasal 29.
2. Pelunasan PPh dalam tahun berjalan melalui pihak lain. Pelunasan PPh melalui
pihak lain ini adalah berasal dari pemotongan dan pemungutan PPh yang
dilakukan oleh pihak yang ditunjuk sebagai pemotong/pemungut PPh yang dapat
berupa PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 24, PPh Pasal 26.

11
Pelunasan PPh yang dilakukan melalui pembayaran sendiri berupa PPh Pasal 25
dan pelunasan melalui pemotongan atau pemungutan oleh pihak lain berupa PPh Pasal
21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, dan PPh Pasal 26 dihitung berdasarkan perkiraan atau
proyeksi (yang besarnya ditentukan oleh ketentuan perpajakan) karena pelunasan ini
dilakukan selama tahun pajak berjalan dan belum dapat diketahui berapa sebenarnya
total penghasilan yang akan diperoleh dan berapa besar PPh yang akan terutang pada
akhir tahun pajak.
Setelah tahun pajak berakhir, Wajib Pajak akan menghitung kembali PPh yang
terutang atas seluruh penghasilan yang telah diterima atau diperoleh selama tahun pajak
yang bersangkutan melalui Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh. PPh yang terutang
berdasarkan perhitungan kembali setelah akhir tahun pajak ini akan diperhitungkan
terlebih dahulu dengan kredit pajak yang berasal dari pelunasan pajak yang telah
dilakukan selama tahun berjalan yang berasal dari pelunasan yang dilakukan sendiri
(PPh Pasal 25) maupun pelunasan melalui pihak lain (PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh
Pasal 23, PPh Pasal 24, PPh Pasal 26).
Perhitungan kembali PPh yang terutang atas seluruh penghasilan yang diperoleh
pada akhir tahun pajak dengan memperhitungkan setoran PPh yang telah dilakukan
(baik melalui pelunasan sendiri maupun pelunasan oleh pihak lain, sebagai kredit
pajak), akan menyebabkan hal sebagai berikut:
1. PPh yang telah dilunasi selama tahun pajak berjalan sebagai kredit pajak adalah
lebih kecil dari PPh yang terutang atas seluruh penghasilan selama satu tahun
pajak sehingga menyebabkan adanya kurang bayar PPh. Kekurangan bayar PPh
ini harus dilunasi sendiri oleh Wajib Pajak yang bersangkutan sebagai PPh Pasal
29.
2. PPh yang telah dilunasi selama tahun pajak berjalan sebagai kredit pajak adalah
sama besarnya dengan PPh yang terutang atas seluruh penghasilan selama satu
tahun pajak sehingga menyebabkan tidak ada lagi kekurangan bayar PPh (nihil).
Dengan demikian seluruh PPh terutang telah dilunasi lagi oleh Wajib Pajak
sehingga Wajib Pajak tidak perlu lagi melakukan penyetoran PPh.
3. PPh yang telah dilunasi selama tahun pajak berjalan sebagai kredit pajak adalah
lebih besar dari PPh yang terutang atas seluruh penghasilan selama satu tahun
pajak sehingga menyebabkan adanya kelebihan bayar PPh. Atas kelebihan bayar

12
PPh ini, Wajib Pajak dapat meminta pengembalian kembali (restitusi) dan akan
diproses oleh pihak Direktorat Jenderal Pajak melalui proses verifikasi atau
pemeriksaan pajak.
Lebih Bayar PPh
Pembayaran PPh yang dilakukan dimuka selama tahun pajak berjalan (baik
melalui pelunasan sendiri maupun pelunasan oleh pihak lain) yang menyebabkan
terjadinya kelebihan pembayaran PPh terutang setelah dihitung kembali pada akhir
tahun pajak tentu akan mengakibatkan terjadi in-efisiensi bagi Wajib Pajak yang
bersangkutan. Kelebihan pembayaran PPh ini dapat pula mengganggu likuiditas
finansial Wajib Pajak karena untuk proses pengembalian kelebihan bayar PPh ini harus
dilakukan melalui proses verifikasi atau pemeriksaan. Proses verifikasi atau
pemeriksaan dapat memakan waktu antara 1 (satu) bulan hingga 1 (satu) tahun sejak
SPT Tahunan PPh yang menyatakan kelebihan pembayaran PPh tersebut disampaikan
secara lengkap ke Kantor Pelayanan Pajak ditambah lagi waktu maksimal 1 bulan untuk
proses transfer kelebihan bayar PPh hasil dari verifikasi atau pemeriksaan tersebut ke
rekening Wajib Pajak.
Wajib Pajak dapat mencegah terjadinya kelebihan pembayaran PPh karena pelunasan
yang dilakukan sendiri maupun pelunasan yang dilakukan oleh pihak lain melalui
pemotongan dan pemungutan ini dengan cara sebagaimana diatur dalam ketentuan
perpajakan, sebagai berikut:
a. Mengajukan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 selama tahun pajak berjalan.
Apabila sesudah 3 (tiga) bulan atau lebih berjalannya suatu tahun pajak, Wajib
Pajak dapat menunjukkan bahwa Pajak Penghasilan yang akan terutang untuk tahun
pajak tersebut kurang dari 75% (tujuh puluh lima persen) dari Pajak Penghasilan yang
terutang yang menjadi dasar penghitungan besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25, maka
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan besarnya Pajak Penghasilan
Pasal 25 secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat Wajib
Pajak terdaftar.
Pengurangan angsuran PPh Pasal 25 ini baru dapat diterapkan oleh Wajib Pajak
setelah mendapatkan surat keputusan yang diterbitkan oleh Kepala KPP.
Pengajuan pengurangan pembayaran angsuran ini harus melampiri :
o Proyeksi perhitungan laba rugi tahun berjalan.

13
o Proyeksi neraca pada akhir tahun yang bersangkutan.
o Proyeksi besarnya PPh badan yang terutang, yang akan menjadi kelebihan
pembayaran pajak, apabila besarnya angsuran tidak dikurangi.
o Bukti bukti pembayaran pajak yang sudah dilakukan.
b. Mengajukan permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan
PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 26 yang dilakukan oleh
pihak lain.
Wajib Pajak yang dalam tahun pajak berjalan dapat membuktikan tidak akan
terutang Pajak Penghasilan karena:
o Mengalami kerugian fiskal;
o Berhak melakukan kompensasi kerugian fiskal;
o Pajak Penghasilan yang telah dan akan dibayar lebih besar dari Pajak Penghasilan
yang akan terutang;
o Wajib Pajak yang atas penghasilannya hanya dikenakan pajak bersifat final, dapat
mengajukan permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan
Pajak Penghasilan oleh pihak lain kepada Direktur Jenderal Pajak dalam hal ini
melalui Kepala KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.
Wajib Pajak yang setelah mendapatkan keputusan tentang pembebasan dari
pemotongan dan/atau pemungutan PPh dari Kepala KPP (berupa Surat Keterangan
Bebas/SKB) dapat memperoleh pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan
dari pihak yang membayarkan penghasilan.
Selain itu, apabila perusahaan melakukan impor dapat mengajukan permohonan
pembebasan PPh Pasal 22 impor. Permohonan ini harus melampiri :
o Proyeksi impor setiap bulan dalam tahun yang bersangkutan.
o Proyeksi perhitungan laba rugi tahun berjalan.
o Proyeksi perhitungan PPh badan yang terutang dan angsuran PPh Pasal 25, serta
PPh Pasal 22 yang menunjukkan lebih bayar apabila dilakukan pembayaran PPh
Pasal 22.
o Proyeksi neraca pada akhir tahun yang bersangkutan.

BAB III
PENUTUP

14
3.1 Kesimpulan
1. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data,
keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional
berdasarkan suatu standar pemeriksaan dengan tujuan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain
dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Jenis pemeriksaan ada dua, yaitu pemeriksaan kantor dan lapangan.
2. Cara pengelakan pajak ada enam yang sering terjadi dimana-mana, yaitu :
penggeseran, kapitalisasi, transformasi, enyelundupan (evasion) dan
penghindaran (avoidance), serta pengecualian.
3. Wajib Pajak dapat mencegah terjadinya kelebihan pembayaran PPh karena
pelunasan yang dilakukan sendiri maupun pelunasan yang dilakukan oleh
pihak lain melalui pemotongan dan pemungutan ini dengan cara sebagaimana
diatur dalam ketentuan perpajakan, yakni : mengajukan pengurangan
angsuran PPh Pasal 25 selama tahun pajak berjalan, mengajukan permohonan
pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh Pasal 21, PPh Pasal
22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 26 yang dilakukan oleh pihak lain, dan
mengajukan permohonan pembebasan PPh Pasal 22 impor jika perusahaan
melakukan kegiatan impor.

3.2 Saran
Wajib pajak sebaiknya lebih aktif untuk menanyakan tata cara permohonan
kelebihan pajak kepada pihak kantor pelayanan pajak. Namun, jika dokumen-dokumen
yang disampaikan tidak lengkap maka wajib pajak tidak bisa melakukan restitusi.
Sebaiknya, wajib pajak yang sudah berestimasi akan mengalami lebih bayar pajak,
dapat menggunakan cara untuk menghindari lebih bayar tersebut dan juga dapat
menghindari pemeriksaan yang akan terjadi. Sedangkan untuk pihak aparatur pajak
harus lebih teliti dalam pemeriksaan kelengkapan dokumen-dokumen wajib pajak baik
berhubungan dengan lebih bayar pajak ataupun tidak.

15
16
DAFTAR PUSTAKA

Lumbantoruan, Sophar. 2004. Akuntansi Pajak. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana


Indonesia.
Diana, Anastasia dan Lilis Setiawati. 2010. Perpajakan Indonesia. Yogyakarta: Penerbit
Andi.
http://pajaktaxes.blogspot.co.id/2007/05/alasan-pemeriksaan-pajak.html (diakses pada
tanggal 18 Maret 2017)
http://www.pajak.go.id/content/pemeriksaan-pajak (diakses pada tanggal 18 Maret
2017)
https://www.coursehero.com/file/12275822/Full-Makalah-Perencanaan-Perpajakan-
Pemeriksaan-dan-Penyidikan/ (diakses pada tanggal 18 Maret 2017)
http://www.ortax.org/ortax/?mod=studi&page=show&id=108 (diakses pada tanggal 22
Maret 2017)
http://visitama.co.id/menghindari-kelebihan-bayar-pph/ (diakses pada tanggal 22 Maret
2017)
http://pajaktaxes.blogspot.co.id/2013/09/supaya-tidak-lebih-bayar.html (diakses pada
tanggal 22 Maret 2017)
http://www.mas-software.com/blog/108-strategi-dalam-tax-planning-perencanaan-pajak
(diakses pada tanggal 22 Maret 2017)

17