Anda di halaman 1dari 4

Penyakit hawar daun

Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Helminthosporium turcicum atau yang sering
disebut northern corn leaf blight ini merupakan penyakit yang sangat penting pada tanaman
jagung manis. Bila infeksi terjadi sebelum pembungaan kerugian yang ditimbulkan dapat
mencapai 50%, akan tetapi bila infeksi terjadi 6 minggu setelah pembungaan, kerugian yang
ditimbulkan sangat kecil (Semangun 1991).
Pada musim kering, penyakit ini jarang menyebabkan kehilangan hasil yang berarti. Pada
saat musim hujan, penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 30% terutama bila
serangan pertama terjadi sebelum bunga jantan muncul (White 1999). Jika daun jagung manis
banyak yang terserang penyakit hawar daun maka produktivitasnya akan berkurang, hal ini
sesuai dengan pernyataan Robert, 1953 Jika daun jagung manis banyak yang terserang penyakit
ini maka biji jagung dapat tidak terisi. Hal ini dapat terjadi karena nutrisi tanaman menjadi
berkurang. Pada fase pematangan awal, tanaman lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan
dengan fase pematangan berikutnya.

Gambar penyakit hawar daun pada jagung

Gejala penyakit
Gejala penyakit pertama kali tampak pada tanaman yang berumur sekitar dua minggu.
Mula-mula daun yang diserang H. turcicum adalah daun bagian bawah (White 1999). Gejala
awal adanya penyakit ini adalah terjadinya bercak bercak kecil, jorong, hijau tua atau hijau
kelabu kebasahan. Gejala tersebut berkembang menjadi bercak yang membesar dan mempunyai
bentuk yang khas yaitu berbentuk kumparan atau perahu. Di tengah-tengah bercak sering
terdapat tepung berwarna hitam yang terdiri dari konidia dan konidiofor cendawan patogen.
Gejala tersebut bermula pada permukaan ujung daun kemudian meluas sampai ke pangkal daun.
Bercak-bercak tersebut sebagian besar terdapat pada daun pertama dan kedua terutama pada
bagian ujung daun. Beberapa bercak dapat bersatu membentuk bercak yang sangat besar yang
dapat membunuh seluruh daun (Semangun 1991).
Patogen
Penyakit hawar daun pada jagung manis disebabkan oleh Helminthosporium turcicum,
mempunyai konidia berwarna hijau kelabu pudar, ramping dan biasanya melengkung, berukuran
20 x 105 mm dengan 3-8 sekat dan dengan hilum yang menonjol keluar (White 1999). Namun
Semangun (1991) mengatakan, konidianya terdiri dari 4-9 septa palsu dan berukuran 50-144 x
18-33 mm yang kebanyakan 20-24 mm. H. turcicum dapat bertahan sebagai miselium dan
konidia dalam bagian tanaman yang terserang. Konidia dihasilkan dalam jumlah banyak di atas
bercak dan disebarkan oleh angin. Penyakit berkembang biak baik pada kelembaban tinggi.
Infeksi pada inang terjadi bila terdapat lapisan tipis air pada permukaan daun. Infeksi tersebut
memerlukan waktu 6-18 jam pada suhu 18-27C. Gejala lesio berkembang 7-12 hari setelah
inokulasi. Sporulasi dapat terjadi bila keadaan lembab (Lipps & Mills 2002).

Gambar mikroskopis Helminthosporium turcicum


Faktor yang mempengaruhi Penyakit

Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan patogen penyebab penyakit hawar


daun tersebut adalah kurangnya sanitasi lapang, adanya pertanaman jagung manis sepanjang
musim serta adanya faktor lingkungan yang menguntungkan perkembangan patogen. Faktor
lingkungan tersebut adalah cuaca yang lembab karena curah hujan cukup tinggi. Konidia tersebut
dapat tersebar dan berkembang pada tanaman lain dengan bantuan angin dan percikan air
Perkembangan penyakit yang disebabkan H. turcicum dipengaruhi oleh curah hujan, suhu, dan
intensitas penyinaran matahari yang kurang. Intensitas serangan patogen cenderung semakin
meningkat dengan bertambahnya umur tanaman. Intensitas serangan penyakit pada saat tanam
jagung berumur 66 hari mencapai 78,72% (Semangun 1991).
gejala penyakit tampak lebih berat pada daun bagian bawah dibanding daun bagian atas.
Hal ini disebabkan oleh keadaan iklim mikro pada bagian bawah lebih lembab dibandingkan
keadaan di bagian atas tanaman. Kemungkinan penyebab lain adalah konidia sebagai sumber
inokulum, konidia yang telah jatuh ke tanah lebih dahulu dapat mencapai daun bagian bawah.
Pengendalian penyakit

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk menekan luas serangan pathogen di lapang
antara lain melakukan pengolahan tanah yang baik karena patogen dapat bertahan pada
permukaan tanah, sanitasi lapang dengan membersihkan gulma dan membuang sisa-sisa tanaman
jagung manis yang terserang karena patogen dapat bertahan pada sisa tanaman sakit yang
terdapat di permukaan tanah tetapi tidak pada sisa tanaman sakit yang dipendam dalam tanah
(Semangun 1991). Pergiliran tanaman, penyemprotan fungisida berbahan aktif mankozeb pada
awal musim hujan, karena pada saat itu kemungkinan penyebaran dan perkembangan pathogen
lebih cepat dapat pula dilakukan dalam usaha mengendalikan penyakit ini (Suprapto 1998).
Aplikasi fungisida sejak awal gejala timbul dan menghindari penanaman terus-menerus
serta perlakuan benih dapat mengurangi gejala penyakit pada pertanaman jagung manis dengan
thiram dan karboxin atau dengan perawatan udara panas selama 17 menit dengan suhu 54-55 C
(Robert, 1953).
Daftar Pustaka

Lipps PE & Mills D. 2002. Northern corn leaf blight. www.ohioline.osu.edu/acfact/0020.html-


7k.[17 April 2005].
Robert AL. 1953. Some of the leaf blights of corn. Di dalam: Stefferud A, editor. Plant Diseases
The Year Book of Agriculture. Washington DC: United State of Agriculture. 381-382.
Semangun S. 1991. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Suprapto. 1998. Bertanam Jagung. Jakarta: PT Penebar Swadaya..
White DG. ed. 1999. A Compendium of Corn Diseases. St. Paul: APS Press.