Anda di halaman 1dari 8

Newcastle disease (ND) merupakan suatu penyakit pernafasan dan sistemik,

yang bersifat akut dan mudah sekali menular, yang disebabkan oleh virus
dan menyerang berbagai jenis unggas terutama ayam. Penyakit ini dikenal
juga dengan berbagai nama, yaitu Pseudofowl pest, Pseudovogel pest,
atypishe geflugelpest, pseudopoultry plaque, avian pest, avian distemper,
Ranikhet disease, tetelo disease, Korean fowl plaque dan avian
pneumoencephalitis.
Newcastle disease merupakan suatu penyakit yang bersifat komplek oleh
karena isolat dan strain virus yang berbeda dapat menimbulkan variasi yang
besar dalam derajad keparahan dari penyakit, termasuk pada spesies
unggas yang sama, misalnya ayam.

Berdasarkan gejala klinik yang timbul pada ayam, maka ND dapat dibagi
atas lima bentuk, yaitu Doyle, Beach, Beaudatte, Hitchner, dan enterik
simptomatik (Charles, 2000).
1. Bentuk Doyle merupakan bentuk per akut atau akut, menimbulkan
akematian pada ayam segala umur dengan mortalitas 100%. Lesi
menciri dengan adanya perdarahan pada saluran pencernaan. Bentuk
ini disebabkan oleh virus strain velogenik. Penyakit ini terjadi secara
tiba-tiba, ayam mati tanpa menunjukkan gejala klinis, ayam kelihatan
lesu, respirasi meningkat, jaringan sekitar mata bengkak, diare
dengan feses hijau atau putih dapat bercampur darah, tortikalis,
tremor otot, paralisa kaki dan sayap.
2. Bentuk Beach atau velogenic neitropic Newcastle disease (VVND)
bersifat akut, menimbulkan gejala pernafasan dan syaraf, dan
menimbulkan kematian ayam segala umur dengan angka mortalitas 50
% pada ayam dewasa dan 90 % pada yam muda.

3. Bentuk Baudette, kurang ganas dibandingkan bentuk Beach


menyebabkan kematian pada ayam muda, bentuk ini disebabkan oleh
virus galur mesogenik. Pada ayam dewasa ditandai dengan penurunan
produksi telur biasanya terjadi 1-3 minggu.

4. Bentuk Hitchner disebabkan oleh virus ND galur lentogenik, gejala


klinisnya bersifat ringan atau tidak tampak jelas, tidak menimbulkan
kematian pada ayam dewasa dan biasanya dipakai sebagai vaksin.

5. Bentuk enteric asimptomatik merupakan bentuk yang tidak


menunjukkan gejala klinis dan gambaran patologis, tetapi ditandai
dengan infeksi usus oleh virus-virus galur lentogenik yang tidak
menyebabkan penyakit (Wawunx, 2008).

Etiologi
Newcastle Disease (ND) juga di kenal dengan sampar ayam atau Tetelo yaitu
penyakit yang disebabkan oleh Newcastle Disease Virus dari golongan
Paramyxovirus. Virus ini biasanya berbentuk bola, meski tidak selalu
(pleomorf) dengan diameter 100 300 nm. Genome virus ND ini adalah
suatu rantai tunggal RNA. Virus ini menyerang alat pernapasan, susunan
jaringan syaraf, serta alat-alat reproduksi telur dan menyebar dengan cepat
serta menular pada banyak spesies unggas yang bersifat akut, epidemik
(mewabah) dan sangat patogen (Anonimus, 2009).
Virus ND dibagi dua tipe yakni tipe Amerika dan tipe Asia. Pembagian ini
berdasarkan keganasannya dimana tipe Asia lebih ganas dan biasanya
terjadi pada musim hujan atau musin peralihan, dimana saat tersebut
stamina ayam menurun sehingga penyakit mudah masuk. Yang ganas cepat
sekali menular, dan seringkali menimbulkan kematian secara mendadak.
Penyakit ini pertama ditemukan oleh DOYLE pada tahun 1926 di Newcastle
(Inggris), dan mengidentifikasinya sebagai paramyxovirus-1 (PMV- 1). Saat
ini dikenal empat strain PMV-1 yaitu, strain Viscerotropic velogenik bersifat
akut dan menginfeksi saluran pencernaan, dapat menimbulkan tingkat
kematian yang tinggi 90%, Neurotropic velogenic yang dapat menyebabkan
paralisis kaki, strain mesogenik dapat menyebabkan akut pernapasan dan
menimbulkan kematian lebih dari 50%, dan strain lentogenik yang kurang
virulen. Penularannya cepat dan kematian yang ditimbulkan sangat tinggi.
Sampai sekarang ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit
ini, tetapi bagaimanapun dapat digunakan vaksin untuk mencegah penyakit
ini. Untuk itu lebih baik mencegah daripada mengobati (Anonimus, 2009).

Klasifikasi
Group : Group V ((-)ss RNA)
Order : Mononegavirales
Family: Paramyxoviridae
Genus : Avulavirus
Species: Newcastle disease virus

Morfologi :
Newcastle Disease virus biasanya berbentuk bola, meski tidak selalu
(pleomorf) dengan diameter 100 300 nm. Genome dari virus ND adalah
suatu rantai tunggal RNA. Newcastle Disease virus mempunyai amplop yang
mengandung dua protein yaitu protein hemagglutinin/neuraminidase dan
protein peleburan. Kedua protein ini bersifat penting dalam menentukan
keganasan dan infektivitas virus. Protein hemagglutinin/neuraminidase
melaksanakan dua fungsi. Hemagglutinin mengikat selaput sel inang dan
bagian neuraminidase dilibatkan di dalam pelepasan; pembebasan virus dari
selaput sel inang. Protein peleburan digunakan untuk peleburan amplop
virus kepada selaput sel inang, sehingga genom dari virus dapat masuk sel.
Untuk melaksanakan fungsi ini, protein peleburan perlu dibelah oleh suatu
protease sel inang (Anonimus, 2010).
Cara Penularan
Penularan Virus Newcastle Disease (ND) dapat terjadi secara langsung dari
ayam sakit ke ayam yang peka, tetapi dapat juga terjadi secara tidak
langsung. Cara penularan dari ayam sakit ke ayam peka tergantung pada
tempat bereplikasi virus tersebut. Ayam yang menunjukkan gejala gangguan
pernafasan akan menyebabkan adanya udara bercampur titik air yang
mengandung virus ND yang berasal dari mukosa ayam sakit, dalam hal ini
penularan terjadi secara inhalasi.
Virus ND yang terutama bereplikasi dalam saluran pencernaan akan
menyebabkan adaya feses yang tercemar oleh virus tersebut. Dalam hal ini
penularan terjadi melalui oral akibat ingesti feses yang mangandung virus
ND.
Pada infeksi alami leleran tubuh yang mengandung virus ND akan
dibebaskan dari ayam sakit sebagai akibat replikasi virus dalam saluran
pencernaan. Partikel yang mengandung virus ND dapat dihirup atau
ditimbun pada membrana mukosa (Charles, 2000).
Penularan virus ND dari satu tempat ke tempat lain terjadi melalui alat
transportasi, pekerja kandang, liter, dan peralatan kandang, burung dan
hewan lain. Debu kandang, angin, serangga, makanan dan karung makanan
yang tercemar, dapat pula melalui telur terinfeksi yang terpecah dalam
inkubator dan mengkontaminasi kerabang telur lain.
Penyebaran virus ND oleh angin bisa mencapai radius 5 kn. Burung-burung
pengganggu, ayam kampung dan burung peliharaan lain merupakan
reserpoir ND. Penularan ND terutama melalui udara. Melalui batuk, virus
mudah terlepas dari saluran pernafasan penderita ke udara dan mencemari
pakan, air minum, sepatu, pakaian dan alat-alat sekitarnya. Virus dengan
cepat menyebar dari ayam ke ayam lain, dari satu kandang ke kandang lain.
Sekresi, ekresi dan bangkai penderita merupakan sumber penularan penting
bagi ND. Virus yang tercampur lendir atau dalam feses dan urin mampu
bertahan dua bulan, bahkan dalam keadaan kering tahan lebih lama lagi
(Anonimus, 20010).

Gejala Klinis
Gejala klinis yang disebabkan oleh virus ND tergantung dari starin virus,
spesies unggas, umur induk semang, status kekebalan induk semang, ada
tidaknya infeksi mikroorganisme lain, kondisi lingkungan, dan jalur atau
dosis infeksi virus ND . Pada umumnya gejala klinis yang terlihat dari infeksi
virus ND adalah bulu sayap terkulai, lesu, dan anoreksia. Selain itu gejela
pernafasan dengan kepala dan leher berputar disertai diare juga terlihat.
Infeksi virus ND dapat menyebabkan penurunan produksi telur pada ayam
petelur. Pada infeksi yang parah dapat menyebabkan gangguan saraf dan
sampai menimbulkan kematian yang mendadak. Gejala penyakit akibat
infeksi virus ND dimulai dengan anoreksia diikuti peningkatan suhu tubuh
yang mencapai 430C, selanjutnya lesu, haus, bulu yang kusam, jengger
berdarah, mata selalu tertutup, laring serta faring kering, dan bersin-bersin.
Setelah sembuh dapat mengakibatkan kerusakan sistem saraf pusat dengan
tampak gejala paresis kaki, ataksia, tortikolis, dan tremor.
Menurut (Alexander ,1997), tipe Velogenik Viscerotropik gejala dimulai
dengan lesu, peningkatan aktivitas pernafasan, lumpuh, dan akhirnya mati.
Pada tipe Velogenik Neurotropik dimulai dengan penyakit pernafasan
mendadak dan parah yang diikuti gejala saraf setelah 1-2 hari. Terjadi juga
penurunan produksi telur dan akhirnya mati. Tipe Mesogenik dimulai
penyakit pernafasan pada infeksi luas, penurunan produksi telur dalam
beberapa minggu dan kadang-kadang timbul gejala saraf serta diikuti
kematian. Pada tipe Lentogenik tidak ada gejala-gejala yang tampak pada
unggas dewasa, sedangkan pada unggas yang masih muda tampak ada
gejala pernafasan dan sampai menimbulkan kematian.

Epidemiologi
Tingkat morbiditas penyakit Newcastle Disease sangat tinggi yaitu ssekitar
90-100% dengan tingkat kematian penderita hampir 100%. Biasanya wabah
terjadi pada peralihan musim, dari musim panas ke musim hujan atau
sebaliknya, yaitu pada saat ayam mengalami stres. Hampir semua jenis
unggas (ayam, itik, angsa, termasuk juga bangsa burung seperti kakatua,
merpati, nuri, beo) peka terhadap penyakit ini.penyakit dapat ditularkan
melalui kontak langsung unggas sakit dengan yang sehat. Disamping itu
penularan juga terjadi secara kontak tidak langsung antara unggas sehat
dengan orang, bahan / alat-alat, ddebu, udara yang tercemar virus
Newcastle Disease (buku hijau).
Penyebaran Newcastle Disease tergantung pada usaha eradikasi dan
pengendalian yang dilakukan oleh suatu negara tertentu. Keberhasilan
program pengendalian Newcastle Disease tergantung pada situasi industri
perunggasan pada suatu negara. Jiika negara tertentu bayak memlihara
ayam jenis lokal yang tidak divaksinasi terhadap Newcastle Disease maka
penyakit tersebut biasanya akan lebih sulit untuk ditanggulangi. Penyebaran
virus ND erat hubungannya dengan tingkat kecepatan peternakan ayam
komersial disuatu negara, lalu lintas burung peliharaan antar-negara yang
tergolong spesies psittacine yang dipelihara untuk berbagai tujuan yang
dapat merupakan sumber penularan virus tersebut pada ayam ( Charles,
2000).

Perubahan patologi
Perubahanmakroskopis
Perubahan makroskopik biasanya erat hubungannya dengan galur dan tipe
patologik dari virus ND, jenis unggas, faktor lingkungan, dan infeksi
campuran dengan mikroorganisme lain. Perubahan makroskopik yang
terlihat pada VVND tersifat oleh adanya nekrosis dan hemoragi pada saluran
pencernaan meliputi proventrikulus, ventrikulus dan berbagai bagian usus.
Tidak dijumpai perubahan pada sistem syaraf, kadang-kadang juga pada
saluran nafas. Jika ditemukan perubahan pada saluran nafas maka akan
terlihat hemorhagi dan kongesti berat pada trakea. Penebalan kantong udara
disertai timbunan eksudat kataral sampai mengeju pada permukaannya.
Organ reproduksi mengalami hemoragi dan perubahan warna menjadi lebih
pucat (Toni, 2010).

Perubahan mikroskopis
Perubahan histopatologik yang ditimbulkan oleh ND juga berhubungan
dengan galur virus, rute infeksi, factor lingkungan, ataupun infeksi
campuran dengan mikroorganisme lainnya. Perubahan mikroskopik pada
pembuluh darah meliputi hiperemi, edema, hemorrhagi, trombosis, dan
nekrosis pembuluh darah. Pada infeksi sub akut dijumpai hiperplasia sel-sel
reticulohistiositik dan nekrosis multifokal pada hati. Nekrosis pada lympha.
Degenerasi lymphocyt bursa fabricius. Nekrosis dan hemorragi pada usus.
Kongesti dan infiltrasi sel radang pada trachea. Hemorragi dan edema pada
bagian-bagian paru. Perivascular cuffing sel limposit dan nekrosis dari
neuron pada otak (Toni, 2010).

Diagnosis
Karena gejalanya tidak spesifik diagnosis harus dipastikan dengan isolasi
virus dan serologi. Virus dapat diisolasi dari limpa, otak atau paru-paru
melalui inokulasi alantois dari telur berembrio umur 10 hari, virus dibedakan
dengan yang lainnya dengan menggunakan uji penghambatan-jerapan darah
dan penghambatan hemaglutinasi. Penentuan virulensi sangat diperlukan
untuk isolat lapangan. Sebagai tambahan atas indeks kerusakan syaraf dan
rataan waktu kematian dari embrio ayam, juga dipakai pembentukan plak
dalam keadaan ada atau tidak adanya tripsin pada sel ayam. Uji
penghambatan-hemaglutinasi digunakan dalam diagnosis dan pemantauan
penyakit Newcastle kronis di negara tempat bentuk penyakit ini merupakan
endemis (Anonimus, 2008).
Untuk mengetahui unggas yang terinfeksi ND adalah dengan melacak
keberadaan antibodi pada serumnya. Metode yang dipergunakan adalah
metode Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dan Western
Imunoblotting. Caranya sampel darah diambil dari unggas yang tidak pernah
divaksinasi dengan vaksin ND. Sehingga, adanya antibodi ND pada sampel
yang diperiksa menandakan bahwa unggas itu pernah terinfeksi virus ND
bukan akibat vaksinasi. Darah diambil dari vena brachialis (vena di bagian
sayap),menggunakan dispossible syringe 2,5 CC yang digunakan sekali
pakai. Darah ditampung dalam sebuah tabung reaksi, didiamkan semalam
pada lemari pendingin, kemudian serum dipisahkan dengan cara di
centrifuge (Dinas Peternakan Kalimantan Timur, 2009).
Diferensial diagnosis
Penyakit ini menyerupai penyakit penyakit ingisan (coryza ganggraenosa
bovum,bovine malignant fever), hanya daya penyakit yang akhir ini
menunjukkan perubahan-perubahan selaput lendir yang lebih hebat dan
juga keruh kornea lebih banyak terlihat. Erosi, nekrosa dan mumifikasi kulit
jelas terlihat pada Bali-zeekte, tetapi tidak terllihat pada penyakit ingusan.
Kedua penyakit ini juga mudah dibedakan secara mikroskopik yaitu dengan
adanya penyebukan perivaskuler oleh sel-sel limposit pada berbagai bagian
otak hewan yang terserang penyakit ingusan (Ressang, 1983).

Pengendalian dan Pencegahan


Tindakan vaksinasi merupakan langkah yang tepat sebagai upaya
pencegahan terhadap penyakit ND. Program vaksinasi yang secara
umum diterapkan, yaitu (1) pada infeksi lentogenik ayam pedaging,
dicegah dengan pemberian vaksin aerosol atau tetes mata pada anak
ayam umur sehari dengan menggunakan vaksin Hitchner B1 dan
dilanjutkan dengan booster melalui air minum atau secara aerosol (2)
pada infeksi lentogenik ayam pembibit dapat dicegah dengan
pemberian vaksin Hitchner B1 secara aerosol atau tetes mata pada
hari ke-10. Vaksinasi berikutnya dilakukan pada umur 24 hari dan 8
minggu dengan vaksin Hitchner B1 atau vaksin LaSota dalam air,
diikuti dengan pemberian vaksin emulsi multivalen yang diinaktivasi
dengan minyak pada umur 18 20 minggu. Vaksin multivalen ini
dapat diberikan lagi pada umur 45 minggu, tergantung kepada titer
antibodi kawanan ayam, resiko terjangkitnya penyakit dan faktorfaktor
lain yang berhubungan dengan pemeliharaan.
Tindakan pencegahan selain vaksinasi adalah sanitasi. Hal-hal yang
perlu diperhatikan, antara lain (1) sebelum kandang dipakai, kandang
dibersihkan kemudian dilabur dengan kapur yang dibubuhi NaOH 2%.
Desinfeksi kandang dilakukan secara fumigasi dengan menggunakan
fumigant berupa formalin 1 2% dan KMnO4, dengan perbandingan 1
: 5000 (2) liter diupayakan tetap kering, bersih dengan ventilasi yang
baik. Bebaskan kandang dari hewan-hewan vektor yang bisa
memindahkan virus ND. Kandang diusahakan mendapat cukup sinar
matahari (3) hindari penggunaan karung bekas (4) DOC harus berasal
dari perusahaan pembibit yang bebas dari ND (5) di pintupintu masuk
disediakan tempat penghapus hamaan, baik untuk alat transportasi
maupun orang. (6) memberikan pakan yang cukup kuantitas maupun
kualitas.

Tindakan pengendalian untuk menekan penularan penyakit ND sangat


diperlukan. Tindakan-tindakan tersebut, antara lain meliputi (1) ayam yang
mati karena ND harus dibakar atau dikubur (2) ayam penderita yang masih
hidup harus disingkirkan, disembelih dan daging bisa diperjualbelikan
dengan syarat harus dimasak terlebih dahulu dan sisa pemotongan harus
dibakar atau dikubur (3) larangan mengeluarkan ayam, baik dalam keadaan
mati atau hidup bagi peternakan yang terkena wabah ND, kecuali untuk
kepentingan diagnosis(4) larangan menetaskan telur dari ayam penderita ND
dan izin menetaskan telur harus dicabut selama masih ada wabah ND pada
perusahaan pembibit (5) penyakit ND dianggap lenyap dari peternakan
setelah 2 bulan dari kasus terahir atau 1 bulan dari kasus terakhir yang
disertai tindakan penghapus hamaan.
Trauma terhadap pembuluh darah dapat disebabkan oleh irisan, tertusuk,
tertembak, akibat pemeriksaan secara invasive dan oleh geseakn fragmen
yang patah.
Kontusi terdap arteri tidak segera menyebabkan terjadinya trombsis,
berlainan dengan kontusi terhadap vena. Walaupun dinding arteri terlihat
utuh, namun lapisan intimannya dapat rusak sehingga dapat bertindak
sebagai katup yang dapat bervariasi dari benjolan kecil dinding pembuluh
langsung sering terjadi pada arteri yang terletak agak di permukaan. Kontusi
juga terjadi oleh gesekan fragmen ulang yang patah.

METODE PELAKSANAAN BEDAH BANGKAI


Pada tanggal 18 Juni 2010, pengambilan seekor ayam broiler jantan di
Teaching Farm Peternakan Unsyiah desa Rukoh. Ayam tersebut
memperlihatkan gejala penyakit lemas, bulu kotor, rongga hidung berlendir,
sayap terkulai, mengantuk, pada saat bernafas ada suara aneh dan feses
cair berwarna hijau.
Setelah dibawa ke laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan
Unsyiah, maka dilakukan pembedahan dan nekropsi. Untuk pembedahan
dilakukan sebagai berikut:
1. Untuk membunuh ayam yang akan dibedah dilakukan dengan
menyuntikkan udara kedalam jantung.
2. Celupkan bangkai ayam kedalam ember berisi air kecuali bagian
kepala untuk mencegah bulunya beterbangan.

3. Letakkan ayam dalam posisi dorso recumbensi dan lakukan


penyayatan pada kedua selangkangan paha.

4. Periksa Nervus Ischiadicus pada kedua paha.

5. Potong paruh bagian atas untuk melihat sinus dan rongga hidung.

6. Buka oesophagus dan trakea dengan melakukan pemotongan dari


rongga mulut dan amati perubahannya.

7. Buka dan kuakkan kulit dari perut sampai ke bagian dada dan amati
jaringan sub cutan.
8. Buka dan kuakkan kulit dari perut sampai ke bagian dada dan amati
jaringan sub cutan.

9. Buka rongga abdomen, perhatikan selaput peritonium, dan rongga


abdomen apakah ada ascites.

10. Potong sendi diantara costae dan sternum (cartilago


intercostalis) untuk membuka rongga dada. Perhatikan kantong udara,
rongga dada dan letak dari setiap organ apakah masih dalam keadaan
normal atau tidak.

11. Keluarkan usus, ventriculus, proventriculus, hati, jantung, limpa


dan kantong empedu. Lakukan pemeriksaan pada setiap organ yang
diangkat.

12. Keluarkan paru-paru, testis dan ginjal serta lakukan juga


pemeriksaan.

13. Dari sekian perubahan yang terdapat pada organ maka tentukan
diagnosa.

Patologi Anatomi (makroskopis)


Perubahan Patologi Anatomi (makrospis) terlihat nekrosis dan hemoragi
pada saluran pencernaan, meliputi proventrikulus, ventrikulus dan berbagai
bagian usus. Pada saluran pernafasan terlihat hemoragik pada trakea dan
radang kantong udara. Pada sistem pertahanan terlihat adanya ptechi dan
hemoragi pada seca tonsil.

Histopatologi (Mikroskopis).
Perubahan histopatologi (mikroskopis) yang ditimbulkan oleh Newcastle
Disease (ND) pada pembuluh darah, meliputi hemoragi, hiperemi, udema.
Perubahan lain yang dapat ditemukan meliputi emfisema, fibrin dan trombus
maka jelaslah ayam terjadi gangguan pernafasan sehingga saat bernafas
ada suara aneh seperti ngorok.

Kesimpulan
Berdasarkan gejala klinis, perubahan patologi anatomi dan perubahan
histopatologis maka dapat disimpulkan bahwa ayam broiler menderita
penyakit Newcastle Disease (ND) pada saluran pencernaan dan pernafasan.