Anda di halaman 1dari 13

MINI C-EX

KONJUNGTIVITIS VERNALIS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

Ilmu Penyakit Mata RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo

Diajukan Kepada :
dr. Evita Wulandari, Sp. M

Disusun Oleh :
Kania Arfiani
20110310200

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016
HALAMAN PENGESAHAN

MINI C-EX

Disusun Oleh:
Kania Arfiani
20110310200

Telah disetujui dan dipresentasikan pada 27 Agustus 2016

Mengetahui,
Dokter pembimbing

dr. Evita Wulandari, Sp. M

BAB I
LAPORAN KASUS
I. A
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Sdri. DN
Usia : 13 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Ngadisono RT 07/01 Kaliwiro

II. Anamnesis
Keluhan Utama :

Mata merah sejak 10 hari

Keluhan Tambahan :

Sangat gatal dan terasa pedas

Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien datang dengan keluhan mata merah di sertai dengan sangat gatal, terasa pedas
dan mengeluarkan air namun sedikit, kotoran mata sedikit, demam(-), pusing (+) pada bagian
depan kepala, silau (-). Untuk membuka mata saat bangun tidur pagi hari tidak ada keluhan.
Keluhan di rasakan sejak + 10 hari yang muncul hanya pada mata kanan. Setelah 5 hari
kemudian keluhan yang sama muncul pada mata yang kiri. Teman-teman pasien dalam
asrama mengeluhkan hal yang sama dengan pasien. Pasien tidak ada riwayat memakai
softlens, tetes mata atau obat-obat lain. Di pondok pesantren pasien banyak tumbu-tumbuhan.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat keluhan serupa disangkal
Riwayat penyakit asma dan alergi disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa
Riwayat alergi (-), asma (-)

Riwayat Personal Sosial :


Pasien adalah seorang pelajar di salah satu pondok pesantren di purworejo.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital :
Frekuensi Nadi : 80 kali/menit
Frekuensi Nafas : 18 kali/menit
Suhu : afebris
B. STATUS OPTHALMOLOGIS
Pemeriksaan Subjektif:

OD OS

Pemeriksaan OD OS
Visus 3/60 3/60
Palpebra
Pasangan Simetris Simetris
Spasme (+) (+)
Oedem (+) (+)
Retraksi (-) (-)
Tremor (-) (-)
Sikatrik (-) (-)
Lesi (-) (-)

Bola Mata
Pasangan Simetris Simetris
Gerakan Normal Normal

Konjungtiva (-) (-)

Oedem (+) (+)


(+) (+)
Hiperemis (-) (-)
Inj. Konjungtiva
Inj. Perikornea
(-) (-)
(+) (+)
Inj. Episklera
(-) (-)
(-) (-)
Sub. Konj. Bleding (+)
(+)
Sekret (+) (+)

Serose

Mukoid

Mukopurulen

Purulen

Papil (Cobble stone)


Folikel

Kornea Jernih Jernih


Licin Licin
Warna (-) (-)
Permukaan (-) (-)
(+) (+)
Lesi

Edema

Tantras dot

Dalam Dalam
COA
Iris / Pupil Bulat Bulat
3 mm 3 mm
Bentuk Sentral Sentral
Diameter (+) (+)
(+) (+)
Kedudukan
Refleks direk
Refleks indirek

Lensa Jernih Jernih


Sentral Sentral
Warna
Letak

N N
TIO

Tidak dilakukan Tidak dilakukan


Funduskopi

C. USULAN PEMERIKSAAN
Sediaan hapusan eksudat konjungtiva
D. DIAGNOSIS BANDING
ODS Konjungtivitis Vernalis
ODS Konjungtivitis Virus
ODS Konjungtivitis Jamur
E. DIAGNOSIS KERJA
ODS Konjungtivitis Vernalis
F. PENATALAKSANAAN
Farmakologi
o Sel mast stabilizer , Cromolyn sodium 20mg. (C. Conver 2% TM) md 4x ODS
o Gabungan antihistamin dengan vasokontriktor, Naphazoline hydrocloride dan
pheniramine Maleate (C. VernacelTM) md 4x ODS
o Antiinflamasi, Fluorometholone (OcuflamTM) ed 4x ODS
o Artificial eye tear drop (C. LyteersTM) ed 6x ODS
Edukasi
o Kompres mata dengan air dingin
o Hindari terpapar alergen
o Agar gejala tidak memburuk jangan menggosok mata walau terasa gatal
G. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad Bonam
Ad sanationam : Dubia ad Malam
Ad visam : Dubia ad Bonam
Ad kosmetikam : Dubia ad Bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konjungtiva

1. Anatomi

Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis
yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva palpebralis melapisi
permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan
inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan
membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris
melekat longgar ke septum orbital di forniks dan melipat berkali-kali. Adanya lipatan-
lipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan
konjungtiva sekretorik.

Gambar 1. Anatomi mata


Gambar 2. Anatomi Konjungtiva

2. Histologi

Secara histologis, lapisan sel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima lapisan sel
epitel silindris bertingkat, superfisial dan basal. Sel- sel epitel superfisial mengandung
sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus yang diperlukan untuk dispersi air
mata. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan
dapat mengandung pigmen.

Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisialis) dan satu
lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan tidak
berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Lapisan fibrosa tersusun dari
jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus dan tersusun longgar pada
mata.

3. Perdarahan dan Persarafan


Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan arteria
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama dengan banyak
vena konjungtiva membentuk jaringan vaskular konjungtiva yang sangat banyak.
Konjungtiva juga menerima persarafan dari percabangan pertama nervus V dengan
serabut nyeri yang relatif sedikit.

B. Konjungtivitis
1. Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit ini adalah
penyakit mata yang paling umum di dunia. Karena lokasinya, konjungtiva terpajan
oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor lingkungan lain yang mengganggu.
Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata berair sampai
konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental.
Jumlah agen-agen yang pathogen dan dapat menyebabkan infeksi pada mata
semakin banyak, disebabkan oleh meningkatnya penggunaan oat-obatan topical dan
agen imunosupresif sistemik, serta meningkatnya jumlah pasien dengan infeksi HIV
dan pasien yang menjalani transplantasi organ dan menjalani terapi imunosupresif
2. Pembagian Konjungtivitis
a. Konjungtivitis Bakteri
i. Definisi
Konjungtivitis Bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh
bakteri. Pada konjungtivitis ini biasanya pasien datang dengan keluhan mata
merah, sekret pada mata dan iritasi mata.
ii. Etiologi dan Faktor Resiko
Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk, yaitu hiperakut,
akut, subakut dan kronik. Konjungtivitis bakteri hiperakut biasanya
disebabkan oleh N gonnorhoeae, Neisseria kochii dan N meningitidis. Bentuk
yang akut biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumonia dan
Haemophilus aegyptyus. Penyebab yang paling sering pada bentuk
konjungtivitis bakteri subakut adalah H influenza dan Escherichia coli,
sedangkan bentuk kronik paling sering terjadi pada konjungtivitis sekunder
atau pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis.
Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata kemudian mengenai
mata yang sebelah melalui tangan dan dapat menyebar ke orang lain. Penyakit
ini biasanya terjadi pada orang yang terlalu sering kontak dengan penderita,
sinusitis dan keadaan imunodefisiensi.
iii. Patofisiologi
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti
streptococci, staphylococci dan jenis Corynebacterium. Perubahan pada
mekanisme pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normal
tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapat
terjadi karena adanya kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ sekitar
ataupun melalui aliran darah.
Penggunaan antibiotik topikal jangka panjang merupakan salah satu
penyebab perubahan flora normal pada jaringan mata, serta resistensi terhadap
antibiotik.
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel
yang meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya
adalah sistem imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan
imunoglobulin yang terdapat pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan
oleh lakrimasi dan berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada
mekanisme pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi pada konjungtiva.
iv. Gejala Klinis
Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis bakteri biasanya
dijumpai injeksi konjungtiva baik segmental ataupun menyeluruh. Selain itu
sekret pada kongjungtivitis bakteri biasanya lebih purulen daripada
konjungtivitis jenis lain, dan pada kasus yang ringan sering dijumpai edema
pada kelopak mata.
Ketajaman penglihatan biasanya tidak mengalami gangguan pada
konjungtivitis bakteri namun mungkin sedikit kabur karena adanya sekret dan
debris pada lapisan air mata, sedangkan reaksi pupil masih normal. Gejala
yang paling khas adalah kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari
sewaktu bangun tidur.
v. Diagnosis
Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia, karena
mungkin saja penyakit berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh
pada pasien yang lebih tua. Pada pasien yang aktif secara seksual, perlu
dipertimbangkan penyakit menular seksual dan riwayat penyakit pada
pasangan seksual. Perlu juga ditanyakan durasi lamanya penyakit, riwayat
penyakit yang sama sebelumnya, riwayat penyakit sistemik, obat-obatan,
penggunaan obat-obat kemoterapi, riwayat pekerjaan yang mungkin ada
hubungannya dengan penyakit, riwayat alergi dan alergi terhadap obat-obatan,
dan riwayat penggunaan lensa-kontak.
vi. Komplikasi
Blefaritis marginal kronik sering menyertai konjungtivitis bateri,
kecuali pada pasien yang sangat muda yang bukan sasaran blefaritis. Parut di
konjungtiva paling sering terjadi dan dapat merusak kelenjar lakrimal
aksesorius dan menghilangkan duktulus kelenjar lakrimal. Hal ini dapat
mengurangi komponen akueosa dalam film air mata prakornea secara drastis
dan juga komponen mukosa karena kehilangan sebagian sel goblet. Luka parut
juga dapat mengubah bentuk palpebra superior dan menyebabkan trikiasis dan
entropion sehingga bulu mata dapat menggesek kornea dan menyebabkan
ulserasi, infeksi dan parut pada kornea.
vii. Penatalaksanaan
Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada temuan agen
mikrobiologiknya. Terapi dapat dimulai dengan antimikroba topikal spektrum
luas. Pada setiap konjungtivitis purulen yang dicurigai disebabkan oleh
diplokokus gram-negatif harus segera dimulai terapi topical dan sistemik .
Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus
dibilas dengan larutan saline untuk menghilangkan sekret konjungtiva.

Tetes mata setiap jam atau salep 4-5 kali sehari. Apabila memakai tetes
mata dapat menggunakan sulfasetamid 10-15% atau khloramfenicol

b. Konjungtivitis Virus
i. Definisi
Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang dapat disebabkan oleh
berbagai jenis virus, dan berkisar antara penyakit berat yang dapat
menimbulkan cacat hingga infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri dan dapat
berlangsung lebih lama daripada konjungtivitis bakteri.
ii. Etiologi dan Faktor Resiko
Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus, tetapi
adenovirus adalah virus yang paling banyak menyebabkan penyakit ini, dan
herpes simplex virus yang paling membahayakan. Selain itu penyakit ini juga
dapat disebabkan oleh virus Varicella zoster, picornavirus (enterovirus 70,
Coxsackie A24), poxvirus, dan human immunodeficiency virus.
Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak dengan
penderita dan dapat menular melalu di droplet pernafasan, kontak dengan
benda-benda yang menyebarkan virus (fomites) dan berada di kolam renang
yang terkontaminasi.
iii. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya konjungtivitis virus ini berbeda-beda pada
setiap jenis konjungtivitis ataupun mikroorganisme penyebabnya.
Mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit ini dijelaskan pada
etiologi.
iv. Gejala Klinis
Gejala klinis pada konjungtivitis virus berbeda-beda sesuai dengan
etiologinya. Pada keratokonjungtivitis epidemik yang disebabkan oleh
adenovirus biasanya dijumpai demam dan mata seperti kelilipan, mata berair
berat dan kadang dijumpai pseudomembran. Selain itu dijumpai infiltrat
subepitel kornea atau keratitis setelah terjadi konjungtivitis dan bertahan
selama lebih dari 2 bulan.
Pada konjungtivitis ini biasanya pasien juga mengeluhkan gejala pada
saluran pernafasan atas dan gejala infeksi umum lainnya seperti sakit kepala
dan demam.
Pada konjungtivitis herpetic yang disebabkan oleh virus herpes
simpleks (HSV) yang biasanya mengenai anak kecil dijumpai injeksi
unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri, fotofobia ringan dan sering disertai
keratitis herpes. Konjungtivitis hemoragika akut yang biasanya disebabkan
oleh enterovirus dan coxsackie virus memiliki gejala klinis nyeri, fotofobia,
sensasi benda asing, hipersekresi airmata, kemerahan, edema palpebra dan
perdarahan subkonjungtiva dan kadang-kadang dapat terjadi kimosis.
v. Diagnosis
Diagnosis pada konjungtivitis virus bervariasi tergantung etiologinya,
karena itu diagnosisnya difokuskan pada gejala-gejala yang membedakan
tipetipe menurut penyebabnya. Dibutuhkan informasi mengenai, durasi dan
gejala-gejala sistemik maupun ocular, keparahan dan frekuensi gejala, faktor-
faktor resiko dan keadaan lingkungan sekitar untuk menetapkan diagnosis
konjungtivitis virus.
Pada anamnesis penting juga untuk ditanyakan onset, dan juga apakah
hanya sebelah mata atau kedua mata yang terinfeksi. Konjungtivitis virus sulit
untuk dibedakan dengan konjungtivitis bakteri berdasarkan gejala klinisnya
dan untuk itu harus dilakukan pemeriksaan lanjutan, tetapi pemeriksaan
lanjutan jarang dilakukan karena menghabiskan waktu dan biaya.
vi. Komplikasi
Konjungtivitis virus bisa berkembang menjadi kronis, seperti
blefarokonjungtivitis. Komplikasi lainnya bisa berupa timbulnya
pseudomembran, dan timbul parut linear halus atau parut datar, dan
keterlibatan kornea serta timbul vesikel pada kulit
vii. Penatalaksanaan
Konjungtivitis virus yang terjadi pada anak di atas 1 tahun atau pada orang
dewasa umumnya sembuh sendiri dan mungkin tidak diperlukan terapi, namun
antivirus topikal atau sistemik seperti Acyclovir oral dosis tinggi (800mg
peroral lima kali sehari selama 10 hari) harus diberikan untuk mencegah
terkenanya kornea. Pasien konjungtivitis juga diberikan instruksi hygiene
untuk meminimalkan penyebaran infeksi.

c. Konjungtivitis Alergi
i. Definisi
Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata yang paling sering
dan disebabkan oleh reaksi inflamasi pada konjungtiva yang diperantarai oleh
sistem imun. Reaksi hipersensitivitas yang paling sering terlibat pada alergi di
konjungtiva adalah reaksi hipersensitivitas tipe 1.

ii. Etiologi dan Faktor Resiko


Konjungtivitis alergi dibedakan atas subkategori, yaitu konjungtivitis
simpleks, konjungtivitis vernal, konjungtivitis atopik.
Etiologi dan faktor resiko pada konjungtivitis alergi berbeda-beda
sesuai dengan subkategorinya. Misalnya konjungtivitis alergi musiman dan
tumbuh tumbuhan biasanya disebabkan oleh alergi tepung sari, rumput, bulu
hewan, dan disertai dengan rinitis alergi serta timbul pada waktu-waktu
tertentu. Vernal konjungtivitis sering disertai dengan riwayat asma, eksema
dan rinitis alergi musiman. Konjungtivitis atopik terjadi pada pasien dengan
riwayat dermatitis atopic, sedangkan konjungtivitis papilar rak pada pengguna
lensa kontak atau mata buatan dari plastik.
iii. Gejala Klinis
Gejala klinis konjungtivitis alergi berbeda-beda sesuai dengan
subkategorinya. Pada konjungtivitis alergi musiman dan alergi tumbuh-
tumbuhan keluhan utama adalah gatal, kemerahan, air mata, injeksi ringan
konjungtiva, dan sering ditemukan kemosis berat. Pasien dengan
keratokonjungtivitis vernal sering mengeluhkan mata sangat gatal dengan
kotoran mata yang berserat, konjungtiva tampak putih susu dan banyak papila
raksasa di konjungtiva tarsalis inferior.
Sensasi terbakar, pengeluaran sekret mukoid, merah, dan fotofobia
merupakan keluhan yang paling sering pada keratokonjungtivitis atopik.
Ditemukan jupa tepian palpebra yang eritematosa dan konjungtiva tampak
putih susu. Pada kasus yang berat ketajaman penglihatan menurun, sedangkan
pada konjungtiviitis papilar raksasa dijumpai tanda dan gejala yang mirip
konjungtivitis vernal.
iv. Diagnosis
Diperlukan riwayat alergi baik pada pasien maupun keluarga pasien
serta observasi pada gejala klinis untuk menegakkan diagnosis konjungtivitis
alergi. Gejala yang paling penting untuk mendiagnosis penyakit ini adalah rasa
gatal pada mata, yang mungkin saja disertai mata berair, kemerahan dan
fotofobia.
v. Komplikasi
Komplikasi pada penyakit ini yang paling sering adalah ulkus pada
kornea dan infeksi sekunder.
vi. Penatalaksanaan
Penyakit ini dapat diterapi dengan tetesan vasokonstriktor-antihistamin
topikal dan kompres dingin untuk mengatasi gatal-gatal dan steroid topikal
jangka pendek untuk meredakan gejala lainnya.
d. Konjungtivitis Jamur
Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida albicans dan
merupakan infeksi yang jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak
putih dan dapat timbul pada pasien diabetes dan pasien dengan keadaan sistem
imun yang terganggu. Selain Candida sp, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh
Sporothrix schenckii, Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis walaupun
jarang.
Infeksi ini berespon terhadap amphotericin B (3-8 mg/mL) dalam larutan air
(bukan garam) atau terhadap nystatin tetes mata, empat sampai enam kali sehari.
Obat ini harus di berikan secara hati-hati agar benar-benar masuk dalam saccus
conjunctivalis dan tidak hanya menumpuk di tepi palpebra.

REFERENSI

Ilyas, S., Yulianti, S. R. 2015. Ilmu Penyakit Mata Edisi 5. Balai Penerbit FKUI :
Jakarta.
Riordan-Eva, P., Witcher, J. P. 2012. Vaughan dan Asbury : Oftalmology Umum Edisi
17. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.