Anda di halaman 1dari 21

Istilah "Cicak-Buaya" Pelajaran Bagi Pejabat Negara

Selasa, 3 November 2009 09:54 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal | Dibaca 3770 kali

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring (kanan), berjabat tangan dengan Kapolri Bambang Hendarso
Danuri, usai acara silaturahim Menkominfo, Kapolri dan pimpinan media massa di Depkominfo, Jakarta, Senin (2/11).
( ANTARA/Ujang Zaelani)
Medan (ANTARA News) - Permintaan Polri agar media tidak menggunakan istilah "cicak dan buaya"
menjadi pelajaran bagi pejabat negara untuk tidak sembarangan mengeluarkan pernyataan yang dapat
menjadi "bumerang" dan kontraproduktif.

"Itu menjadi pelajaran agar pejabat negara tidak sembarangan menggunakan istilah yang bisa
menimbulkan polemik," kata pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Drs M. Ridwan
Rangkuti, MA di Medan, Selasa.

Sebenarnya, kata M. Ridwan, keluarnya istilah "cicak dan buaya" itu bukan terjadi begitu saja melainkan
untuk menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.

Digunakannya istilah itu bertujuan untuk memberitahukan keberadaan Polri sebagai institusi negara
yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, khususnya dalam penegakan hukum.

Istilah itu dipergunakan untuk menunjukkan bahwa pihak-pihak lain yang akan berhadapan dengan Polri
harus berpikir dua kali karena institusi penegak hukum itu memiliki kekuasaan.

Namun, kata dia, fenomena tentang pola pikir dan indikasi arogansi terhadap kekuasaan itu bukan
hanya terjadi di kalangan Polri tetapi juga lembaga lain seperti legislatif dan yudikatif.

"Fenomena itu merupakan refleksi keadaan secara nasional," kata Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu
Politik (Fisipol) USU tersebut.

Tanpa sadar, kata dia, rasa kebanggaan itu sering menyebabkan para pejabat negara menggunakan
istilah-istilah untuk menggambarkan kekuasaan yang dipegangnya, termasuk istilah "cicak dan buaya"
tersebut.

Namun, para pejabat negara tidak menyadari bahwa penggunaan istilah justru menjadi bumerang dan
dapat kontraproduktif, khususnya dalam proses penegakan hukum.

"Kalau KPK selaku institusi negara saja dianggap cicak, bagaimana dengan rakyat, mungkin dianggap
semut," katanya.

"Karena itu, istilah `cicak dan buaya` itu menjadi pelajaran bagi pejabat negara," katanya
menambahkan.

Ridwan menilai, untuk merubah dan mencegah terjadinya hal itu lagi, dibutuhkan perubahan pola pikir
para pejabat negara mengenai jabatan dan kekuasaan yang sedang diembannya.
"Jabatan dan kekuasaan itu hanya amanah yang harus dipertanggungjawabkan terhadap rakyat,"
katanya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri meminta maaf kepada masyarakat atas
penggunaan kata "cicak dan buaya" yang disampaikan seorang pejabat Polri dalam menyikapi kasus
hukum yang berujung pada penahanan dua pimpinan KPK non-aktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra
M Hamzah.

Dalam pertemuan dengan pimpinan media massa yang difasilitasi Menkominfo Tifatul Sembiring di
Jakarta, Senin (2/10) itu, Kapolri mengatakan, penggunaan kata "cicak dan buaya" tersebut tidak tepat,
karena Polri merupakan bagian dari unsur KPK sejak awal.(*)

COPYRIGHT 2009
Gerakan CICAK dan Sejarah Kisah Cicak Melawan
Buaya (KPK vs Polri)
Juli 13, 2009
tags: anti korupsi, cicak, cinta indonesia cinta kpk, gerakan cicak, Korupsi, kpk, polisi, Susno Duadji
by nusantaraku

cicak kok mau melawan buaya


(Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Susno Duadji, Majalah TEMPO 6-12 Juli 2009)

Dalam beberapa hari terakhir ini, kemunculan Cicak menjadi perhatian unik tatkala Cicak dikatakan
akan melawan Buaya. Yang pasti, bukanlah cicak dan buaya yang sesungguhnya. Cicak merupakan
gerakan Cinta Indonesia Cinta KPK yang muncul sebagai respons pernyataan Kabareskrim Mabes
Polri Komjen Polisi Susno Duadji (Kabareskrim SD) dalam wawancara majalah Tempo Edisi 6-12
Juli 2009 yang mengatakan KPK sebagai Cicak, sementara Kepolisian adalah Buaya.

Kita tahu bahwa dengan kasus Antasari, lembaga KPK mulai terasa digembosi oleh berbagai pihak.
Jauh sebelumnya, pada April 2008, Ahmad Fauzi- anggota DPR dari Partai Demokrat meminta KPK
dibubarkan [sumber]. Dua bulan yang lalu, Nursyahbani Katjasungkana, anggota DPR dari fraksi
PKB meminta KPK tidak mengambil keputusan alias tidak usah kerja lagi untuk proses penyelidikan
korupsi yang membutuhkan keputusan terkait kasus Antasari [sumber]. Dan 3 minggu yang lalu 24 Juni
2009, Pak SBY mengatakan KPK telah menjadi lembaga superbody sehingga wewenangnya butuh
diwanti (dikurangi wewenangnya). [Kompas Cetak] Dan terakhir pernyataan Kabareskrim SD yang
mengatakan ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak (KPK) kok melawan buaya (Polisi) [sumber]

Pernyataan SD langsung menuai antipati dari para aktivis LSM anti korupsi dengan menggantikan
simbol tikus sebagai koruptor dengan simbol buaya [simbolisasi lembaga kepolisian dari Komjen Pol.
SD]. Selama ini, tikus selalu diidentikkan dengan koruptor karena sifatnya yang suka menggerogoti
barang. Namun, sekarang tikus harus mengalah dari buaya. Sebab, koruptor, saat ini diidentikkan
dengan buaya.

Cikal Bakal Cicak vs Buaya [sumber]

Seorang partisipan gerakan Cinta Indonesia Cinta KPK sedang memakan roti buaya sebagai simbol
keganasan koruptor [kompas

SD gerah ketika telepon genggamnya tersadap oleh KPK. Penyadapan itu terkait dengan penanganan
kasus Bank Century. Dalam pembicaraa tersebut, SD deal-dealan dengan pihak Boedi Sampoerna yang
akan memberi Rp 10 miliar bila depositonya berhasil dicairkan dari Bank Century.
Susno menyatakan dirinya tak marah atas penyadapan itu. Saya hanya menyesalkan, ujarnya.
Lulusan Akademi Kepolisian 1977 ini menyebut penyadapan itu sebagai tindakan bodoh. Sehingga,
ujarnya, ia justru sengaja mempermainkan para penyadap dengan cara berbicara sesuka hati.

Sebelumnya, polisi memeriksa Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah lantaran disebut-sebut melakukan
penyadapan tak sesuai prosedur dan ketentuan. Pemeriksaan Chandra dituding sebagai upaya polisi
untuk melumpuhkan komisi yang galak terhadap koruptor itu. Apa yang terjadi sebenarnya? Pekan lalu,
wartawan Tempo Anne L. Handayani, Ramidi, dan Wahyu Dhyatmika menemui Susno Duadji di ruang
kerjanya untuk sebuah wawancara. Berikut petikan wawancara tersebut.

Polisi dituduh hendak menggoyang KPK karena memeriksa pimpinan KPK dengan tuduhan
penyalahgunaan wewenang penyadapan. Komentar Anda?

Kalangan pers harus mencermati, apakah karena dia (Chandra Hamzah) pimpinan KPK lalu ada
masalah seperti ini tidak disidik. Katanya, asas hukum kita, semua sama di muka hukum. Jelek sekali
polisi kalau ada orang melanggar undang-undang lalu dibiarkan. Kami sudah berupaya netral dan
menjadi polisi profesional.

Apa memang ditemukan penyalahgunaan wewenang untuk penyadapan itu?

Saya tidak mengatakan penyalahgunaan atau apa. Silakan masyarakat menilai. Menurut aturan, yang
boleh disadap itu orang yang dalam penyidikan korupsi. Kalau Rhani Juliani, apa itu korupsi? Dia
bukan pengusaha, bukan pegawai negeri, bukan juga rekanan dari perusahaan. Kalau korupsi, korupsi
apa, harus jelas.

Tapi sikap Anda ini dinilai menggembosi KPK?

Kalau kami mau menggembosi itu gampang. Tarik semua personel polisi, jaksa. Nanti sore juga bisa
gembos. Lalu Komisi III nggak usah beri anggaran. Kami berteriak-teriak ini supaya baik republik ini.

Kami mendapat informasi, saat diperiksa Antasari membeberkan keburukan pimpinan KPK
yang lain.

Saya tidak tahu, tanya ke Antasari. Lha, sekarang kalau pimpinannya yang mengatakan lembaga itu
bobrok, berarti parah, dong. Dia kan yang paling tahu. Dia kan pimpinannya.

Ada kesan polisi dan KPK justru berkompetisi, bukan bersinergi. Benar?

Tidak, yang melahirkan KPK itu polisi dan jaksa. Saya anggota tim perancang undang-undang (KPK).
Kami sangat mendukung. Tapi karena opini yang dibentuk salah, seolah-olah jadi pesaing. Padahal 125
personel yang melakukan penangkapan dan penyelidikan (di KPK) itu kan personel polisi. Penuntutnya
juga dari kejaksaan. Kalau nggak gitu, ya matek (mati) mereka. Jadi, tak benar jika dikatakan ada
persaingan

Anda, kabarnya, juga akan ditangkap tim KPK karena terkait kasus Bank Century?

Ah, ya enggak, itu kan dibesar-besarkan. Mau disergap, timbul pertanyaan siapa yang mau menyergap.
Mereka kan anak buah saya. Kalau bukan mereka, siapa yang mau nangkap? Makanya, Kabareskrim
itu dipilih orang baik, agar tidak ditangkap.

Kalau penyidik KPK yang menangkap?

Mana berani dia nangkap?

Karena adanya berita itu, Anda katanya marah sekali sehingga kemudian memanggil semua
polisi yang bertugas di KPK?

Tidak, saya tidak marah. Mereka kan anak buah saya. Mereka pasti memberi tahu saya. Saya cuma
kasih tahu kepada mereka, gunakan kewenangan itu dengan baik.
Apa benar Anda minta imbalan untuk penerbitan surat kepada Bank Century agar mencairkan
uang Boedi Sampoerno?

Imbalan apa? Apanya yang dikeluarkan? Semua akan dibayar, kok. Bank itu tidak mati, semua aset
diakui dan ada. Terus apa lagi yang mesti diurus? Yang perlu diurus, uang yang dilarikan Robert
Tantular itu.

Jadi, apa konteksnya saat itu Anda mengirim surat ke Bank Century?

Konteksnya, saya minta jangan dicairkan dulu rekening yang besar-besar. Kami teliti dulu. Paling besar
kan punya Boedi Sampoerna, nilainya triliunan rupiah. Kami periksa dulu, kenapa Boedi Sampoerna
awalnya nggak mau melaporkan.

Menurut Anda, kenapa ada pihak yang berprasangka negatif kepada Anda?

Kalau orang berprasangka, saya tidak boleh marah, karena kedudukan ini (Kabareskrim) memang
strategis. Tetapi saya menyesal, kok masih ada orang yang goblok. Gimana tidak goblok, sesuatu yang
tidak mungkin bisa ia kerjakan kok dicari-cari. Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak.
Cicak kok melawan buaya. Apakah buaya marah? Enggak, cuma menyesal. Cicaknya masih bodoh
saja. Kita itu yang memintarkan, tapi kok sekian tahun nggak pinter-pinter. Dikasih kekuasaan kok
malah mencari sesuatu yang nggak akan dapat apa-apa.

Ada Apa dengan Aparat Kepolisian [sumb-1, sumb-2]

Dua lembaga penegakan hukum di Indonesia yakni Kejaksaan dan Kepolisian selama ini mendapat cap
buruk sebagai sarang korupsi dan sarang tindakan kriminal. Pada tahun 2008, Polri mendapat peringkat
pertama sebagai lembaga publik terkorup di Indonesia [TII, 2008]. Sedangkan 2009, giliran lembaga

peradilan/kejaksaan mendapat juara kedua sebagai lembaga


terkorup setelah DPR. [TTI, 2009]. Belum cukup sampai disana, pada 24 Juni 2009, Amnesti
Internasional merilis dokumen setebal 89 halaman berjudul Urusan Yang Tak Selesai:
Pertanggungjawaban Kepolisian di Indonesia dengan inti laporan adalah kepolisian Indonesia
melakukan penyiksaan, pemerasan, dan kekerasan seksual terhadap tersangka yang mana perilaku ini
sebagai budaya melanggar hukum pada 2008 dan 2009 [sumber,2009]

Dan blunder yang paling panas adalah pernyataan Kabareskrim MSD yang menyatakan petinggi
kepolisian tidak dapat disentuh oleh KPK. Pernyataan SD ini membawa ingatan kita pada perseteruan
antara polisi dengan Independent Commission Against Corruption (ICAC), lembaga pemberantasan
korupsi di Hongkong (Kompas, 2 Juli 2009).

Pada tahun 1977, KPK Hongkong tersebut membongkar kasus korupsi Kepala Polisi Hongkong yang
tertangkap tangan menyimpan aset sebesar 4,3 juta dollar Hongkong dan menyembunyikan uang
600.000 dollar AS. Akibatnya, beberapa saat kemudian, Kantor ICAC digempur oleh polisi Hongkong.
Setelah pengadilan memutuskan bahwa Kepala Polisi tersebut memang terbukti bersalah dan ICAC
terbukti bersih, maka Hongkong pun kini dikenal sebagai negara yang relatif bersih dari tindak pidana
korupsi. Dan fakta ini tak lepas dari kinerja ICAC.
Gerakan CICAK [sumber]

Berikut petikan wawancara dengan seorang aktivitis CICAK yang dirilis di Politikana.

Kenapa ada gerakan solidaritas CICAK untuk KPK? Bukankah, sebagaimana diberitakan
media, KPK lembaga super?

KPK memang betul lembaga super, karena superioritas KPK ini, kami dari CICAK yakin, banyak
pihak yang tidak suka dan mulai menyarangkan serangan tersistematisir terhadap KPK. Ini bukan kami
mendramatisasi atau lebay lho, tapi coba Anda lebih jeli deh. KPK adalah lembaga super yang bertugas
memberantas korupsi di Indonesia. Kenapa disebut super? Karena KPK berwenang melakukan
penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai pemeriksaan di pengadilan. Kewenangan penyelidikan
dan penyidikan selama ini dikerjakan oleh kepolisian. Sedangkan penuntutan dan pemeriksaan di
pengadilan dikerjakan oleh kejaksaan. Jadi kerja dua instansi penegak hukum dikerjakan oleh KPK.
Tambah lagi, dalam UU KPK no.30/2002, disebutkan untuk mengadili penuntutan kasus korupsi yang
dilakukan oleh KPK, pengadilan yang berwenang adalah pengadilan korupsi. Artinya, dibentuk
pengadilan baru. Kekhususan pengadilan korupsi ini terutama dari komposisi hakimnya yang terdiri
dari hakim pengadilan negeri dan hakim ad-hoc serta proses beracara. Hakim ad-hoc adalah hakim
tambahan yang bukan berasal dari hakim karir, dari unsur masyarakat.
Kewenangan super KPK lainnya adalah KPK berwenang untuk mengambil alih penyidikan yang
sedang dikerjakan polisi. Apabila KPK mengambil alih penyidikan kasus, maka pihak kepolisian harus
menyerahkan kasus tersebut dalam kurun waktu 14 hari pada KPK dan kepolisian tidak berwenang lagi
menangani perkara tersebut.

Waks! Betul-betul super ya KPK ini. Bisa banyak musuh dong KPK?

Iya. Terutama musuh KPK adalah para koruptor, oknum pejabat dan aparat yang korup. Hal ini
menjelaskan mengapa kami beranggapan ada serangan tersistematisir pada KPK

Ah, dasar cicak paranoid. Lembaga super begitu gimana mau diserang?

Anda sudah baca kan betapa superiornya kewenangan KPK dibanding aparat penegak hukum lain?
Belum lagi kewenangan KPK lain seperti penyadapan, pencekalan, blokir rekening, perintah pemecatan
sampai membina kerjasama dengan Interpol. Dengan sedemikian banyak kewenangan, para koruptor
tentu perlu merapatkan barisan untuk melumpuhkan KPK.

Tadi Anda bilang ada upaya sistematisir penyerangan terhadap KPK. Seperti apa sih?

Contoh paling mudah dengan tertunda-tundanya pembahasan RUU Pengadilan Tipikor. Memang betul
sekarang ada pengadilan korupsi, tapi berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), untuk
peradilan korupsi, harus diatur dalam UU tersendiri, tidak bisa menclok dalam UU KPK seperti
sekarang. Nah masalahnya, dalam putusan MK tersebut ada jangka waktu, yaitu paling lambat tanggal
19 Desember 2009, harus sudah terbentuk UU Pengadilan Korupsi baru. Sedangkan nasib RUU itu
sendiri sekarang masih dibahas oleh Panitia Khusus (Pansus) DPR. Dari limapuluh (50) anggota
Pansus, hanya duapuluh (20) orang yang terpilih kembali. Masa sidang yang tersisa adalah dari 14
Agustus 2009 sampai 30 September 2009. Singkat kan? Itu baru sekedar contoh.
Kemudian seperti yang diberitakan oleh majalah Tempo edisi 6-12 Juli 2009, dilakukan pemeriksaan
atas Wakil Pimpinan KPK Bagian Penindakan Chandra M. Hamzah atas dugaan penyadapan
handphone Rhani dan Nasrudin. Menurut kami, pemeriksaan tersebut terlalu mengada-ada. Bukankah
penyadapan bagian dari kewenangan KPK? Bisa dilihat di UU KPK No.30/2002 pasal 12 ayat 1 huruf
a.

Nah waktu itu ada wawancara di majalah mingguan terkemuka nasional, yang mewawancarai
seorang petinggi kepolisian. Di wawancara tersebut, bapak polisi menyebut soal cicak dan buaya.
Apakah ada hubungannya?

Oh, maksud Anda berita di majalah Tempo 6-12 Juli yang judulnya Ramai-Ramai Gembosi KPK?
Terus terang kami dari gerakan CICAK merasa berterima kasih karena berdasarkan wawancara itu
istilah cicak pertama kali muncul dan membuat kami makin terinspirasi untuk membuat suatu
gerakan.

Apakah gerakan CICAK ditunggangi parpol?

Coba Anda perhatikan, selama ini justru kami para cicak yang menunggangi parpol. Sayangnya
tunggang-menunggang sulit efektif kalau melibatkan parpol, apalagi mereka menyuarakannya hanya
lima tahun sekali. Tolong catat ya.

Apakah Kami CICAK ini gerakan anti aparat?

Tentu tidak. Mengapa kami harus anti aparat penegak hukum? Tidak masuk logika dong,
pemberantasan korupsi tanpa melibatkan aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan
pengadilan. Jangan membuat orang berfantasi yang tidak sehat ah.

Lho, kalau begitu, kenapa sebut-sebut buaya? Terus apa hubungannya dengan cicak? Kan buaya
tidak makan cicak?

Pertama, tahu darimana Anda buaya tidak makan cicak? Memang Anda buaya? Kedua, buaya itu
personifikasi semua yang buruk dari korupsi/koruptor. Memang kasihan sih buayanya, tapi kami yakin
penampakan buaya dimanapun pasti bikin ngeri. Sama seperti koruptor. Ketiga, cicak itu
melambangkan kami yang jumlahnya banyak tapi sering tak diperhitungkan partisipasinya, sering
dilupakan tapi sering apes terjepit pintu atau tertindih lemari. Persis seperti cicak. Keempat, meski
buaya dan cicak sama-sama reptil, sama seperti kami dengan koruptor yang sama-sama manusia, tapi
kami tidak mau mengambil apa yang bukan hak kami, tidak seperti koruptor.

Menurut Anda, penting ya mendukung gerakan KAMI CICAK ini?

Sekarang coba jangan gunakan kata Anda lagi. Gunakan kita. Karena kita sama-sama anti korupsi,
kita percaya Indonesia kita ini, yang kita harus rawat sebaik-baiknya, akan lebih baik tanpa korupsi.
Dan kita, seperti cicak yang sering tak berdaya, tidak dianggap dan terjepit, mampu dan berani bersuara
melawan buaya koruptor

Wah, sepertinya Anda kompor betul ya!

Jangan gunakan Anda lagi! Anda, saya, kita semua, para cicak, akan mendeklarasikan GERAKAN
CICAK. Tunggu tanggal mainnya.

Tunggu, tunggu, pertanyaan terakhir. Jadi siapa sebenarnya cicak?

Siapa itu cicak? Cicak itu anda, saya dan kita semua! Hidup CICAK (Cinta Indonesia, Cinta KPK)

Kita tahu apa dan siapa yang dimaksud sebagai cicak. Perumpamaan cicak jelas merupakan upaya
pengkerdilan dan melemahkan gerakan anti-korupsi. Bila untuk mendukung gerakan anti-korupsi harus
menjadi cicak, marilah kita semua menjadi cicak. Anda cicak, saya cicak, kita semua cicak. Dan
mereka buaya.

Beberapa catatan penting, sudah saya bold atau beri warna pink dan merah.
Namun, sekali lagi diingatkan bahwa gerakan cicak bukan berarti gerakan anti kepolisian. Gerakan
CICAK adalah gerakan solidaritas atas upaya melemahkan fungsi KPK untuk memberantas korupsi
secara independen! Yang menjadi perlawanan CICAK adalah oknum yang berusaha mengkerdilkan
KPK!
Bangkit dan lawan segala bentuk tindak pidana korupsi di negeri ini!

Tulisan-tulisan di atas merupakan kumpulan tulisan di :


Majalah Tempo Edisi 6-12 Juli 2009
Ayo Dukung Cicak Lawan Buaya!
Tanya Jawab Dengan Seekor CICAK
Lebih Ganas Daripada Tikus, Koruptor Kini Disimbolkan Buaya

Salam Nusantaraku,
ech-wan, 13 Juli 2009

Kok, Pejabat Polisi suka dengan analogi buaya. Apakah memang betul polisi itu buaya darat,
buaya peradilan dan buaya uang negarai?

15 Votes

from Artikel Nusantara

104 Tanggapan leave one

1.

November 17, 2009

Dian permalink

Emang dari dulu yang namanya polisi dan aparat lainnya tuh suka ga bener. yang salah dibilang
bener yang benr dibilang salah. dan sekarang semuanya dibalik sama mereka. jahat deh. bibit
sama chandra yang ga salah dibilang salah. pokonya hidup kpk!!!!!

Balas

2.

November 25, 2009

Mirna Jay permalink

Kita semua, seluruh mahasiswa, sekarang sadar dan semakin tahu betul kemahalicikan SBY,
bukan keraguan aau jalan tengah, tetapi sudah merupakan kemahalicikan, dengan alasan lagi-
lagi pembohongan untuk menyelamatkan bangsa. Apa hubungannya? Tidak ada.

Sebetulnya dia hanya mencari aman tetap ebrkuasa menjadi presiden hingga 2014, tanpa
masalah, dan etap bisa jalan-jalan ke lar negeri dengan fasilitas kenegaraan yang nyaman.
Menjadi presiden 10 tahun cukup kaya dari segi materi juga.

Juga tak perlu membela rakyat walaupun rakyatlah yang membawa dia ke kekuasaan yang
kedua. SBY selalu menunjukan karakternya itu karena toh belum ada dalam sejarah Indonesia,
kita mahasiswa melancarkan demo besar tanpa bantuan kekuatan asing yang berkepentingan.

Itu maka kita lagi lagi dibohongi, dikentuti. Saat kita desak copot Kapolri dan Jagung, SBY
panggil keduanya agar hanya copot Susno dan membuat blunder pembohongan klasik, yakni
membuat mutasi, putar sana putar sini dengan alasan klasik juga, tour of duty, hal yang bukan
substantif. SBY memelihara paradigma usang. Tidak seperti pemimpin-pemimpin dunia, yang
berparadigma universal, cepat dan adil dengan sistem tanpa cacat yang disiapkan cepat dengan
ebrbagai UU universal, SBY justru memanfaatkan paradigma lama tersebut. Tentu tunggu akan
kita protes terus hingga dia menyerah mundur. SBY tidak hanya berparadigma usang ala
Suharto, yang juga merangkul cendekia-cendekia bunglon macam Daniel Sparinga, Denny
Indrayana dan Andi Malrangeng, agar tidak vokal lagi maklum mereka sempat miskin kalau di
luar posisi sekarang, tetapi juga mengadopsi cara-cara Suharto memutar-mutar bawahan bila
ada tekanan mahasiswa atau rakyat, sisi paradigma yang harusnya sudah ditinggalkan. Tetapi
Suharto lebih berguna, berani mencopot langsung.

Melihat pemimpin payah SBY, kita harus protes terus; kita sudah jauh tetringgal. Kalau di
Thailand, pergantian rezim bisa lebih cepat bahkan 2 tahun saat seorang pemimpin membuat
kesalahan serius, di Indonesia harusnya begitu. Bayangkan kalau 5-10 tahun baru ebrganti satu
persiden dan dia payah begini, apa kata dunia! Kalau tidak kita ganti, kita orang-orang muda
yang berparadigma nievrsal pastilah tidak mungkin meraih kekuasaan, karena akan selalu
didominasi yang tua-tua yang sudah tertinggal, negara yang gagal, dan akan runtuh, kalau ettap
dengan cara pikir mereka. Indonesia sudah sangat jauh tertinggal di segala bidang, khususnya
negeri ini tidak punya state corporates berteknologi rendah apalagi tinggi yang mampu
berproduksi ekspor. Negara yang hanya bisa berkomsumptif dan tidak memiliki sumber ekspor
cukup pastilah hancur. SBY tidak ad pikir ke sana. SBY juga tidak punya mata hukum dan
keadilan. Bagaimana bisa berpikir mengembangkan sebuah negara ke tahap begitu? Di negeri
ini orang hanya tertipu denganpesona ketampanan dan gelar, doktornya (an sich), doktor macam
apa? Ejabat baru polisi itu pun bergelar doktor juga, tetapi lihat bkti nanti dia bisa apa? Apa
bedanya dengan SBY, yang selalu tidak berani bersikap berpihak kebenaran? SBY bahkan tidak
ada wawasan kenegaraan dan pemerintahan. Nol raksasa! Apa yang bisa diharapkan dari orang
macam ini tapi duduk di puncak sebuah negara. Demi reformasi sejati, demi people power, kita
fokus terus satu-satu. Maju terus! Satu per satu kita tekan, kita libas oknum-oknum elite jahat
ini termasuk dan khususnya SBY bila dia tidak tegas terus. Kita hajar dulu SbY supaya mundur
apabila tidak segera copot kapolri dan jagung. Kita jangan kalah dengan kemahalicikan SBY.

Balas

3.

November 26, 2009

ardi lanet permalink

aq PUNYA USULAN biar kejadian ini gg terjadi lg!


KITA GUNAKAN aturan ALLAH S.W.T yg melanggar POTONG TANGANnya ky d ARAB!
kan SEREM tuh pasti pada TAKUT!klo aturan MANUSIA mana ad yg TAKUT!manusia
paling bisa apa? mukul?masukin penjara?itu SEPELE y kira2 gitu lah pemikiran para
PENJAHAT!

Balas

4.

Desember 8, 2009

Siti Mardiyah permalink

Mel engse rkanSBYbi sa !

Tergantung komitmen dan upaya keras kita semua, khususnya kawan-kawan sesama mahasiswa
seluruh Indonesia. Juga tergantung bekas-bekas dan jenderal-jenderal, tokoh-tokoh masyarakat,
terutama yang di luar kekuasaan, apakah mereka memang masih punya hati nurani melihat
banyak rakyat sudah bunuh diri, anak-anak busung lapar, ketidakadilan menjadi-jadi, kini
setelah Indonesia di bawah SBY yang berkarakter dan bersikap bukan negarawan.

Kawan-kawan harusnya jeli dan jangan mau dibodohi dosen kita yang penakut, itu tu pak
Effendi Ghazali. Dosen-dosen yang lain tidak boleh bersikap mendua seperti pak Effendi dan
harus berani dengan siasat cerdas meraih tujuan reformasi sejati. Melihat berkembangan
terakhir sudah saatnya kita semua turun ke jalan untuk agenda tersembunyi yang cerdas. Kita
setidaknya saat ini masih suka dengan bung Fadjrul yang selalu vokal dan berani, kita juga suka
abang Massardi yang juga berani, setidaknya untuk saat ini, sampai mereka membuktikan
mampu melengserkan SBY boneka itu.

Gerakan 9 Desember tetap dan harus beragendakan pelengseran SBY. Poster-poster berbahasa
Indonesia dan Inggris harus dibuat masif dan komunikatif: LENGSERKAN SBY! SBY STEP
DOWN! dan sebagainya. Kalau sekadar demo damai basa-basi anti korupsi justru akan
menguntungkan SBY yang tidak akan membawa negeri ini baik.

Sudah enak dia 5 tahun, jangan ditambah berkuasa 5 tahun lagi sampai 2014. Kita semua sudah
mengenali watak tidak jelas itu ada pada SBY. Watak tidak mungkin berubah. Kalau selalu ragu
dan tidak jelas, Indonesia tidak akan mampu bangkit. Menjatuhkan SBY untuk situasi saat ini
justru sejalan, seirama dan seuasi dengan UUD 1945. Lihat, tidak ada satu saja kebijakan SBY
yang sesuai dengan UUD 1945. SBY kapitalis tidak, sosialis tidak, agama tidak. Kebijakan
ekonomi dan politik SBY justru bersifat makelar dan koruptif masif tersembunyi.

SBY tidak akan membawa perubahan signifikan dan sengaja membiarkan semuanya liar. SBY
membiarkan semakin banyak ketidakadilan hukum dan ekonomi. Karakter tidak mungkin
berubah. SBY berkarakter ragu, penakut, pengecut, namun selalu saja mencoba menyusun kata-
kata berbunga-bunga, di saat menghadapi berbagai dilema yang harusnya dia pecahkan dengan
memuaskan rakyat.

SBY terinfeksi berbagai sindrom dan penyakit. Sindrom penakut, penyakit menular miskin
wawasan kenegaraan dan miskin pengawasan dan pelaksanaan dalam kebijakan pemerintahan.
Yang dia kenal, tahu sama tahu. Pejabat atau menteri melaksanakan program sekadar menuruti
tren omongan orang tanpa wawasan pembangunan kenegaraan yang benar dan tanpa target
manfaat rakyat. Seluruh dana aman dikorupsi bersama, inilah tahu sama tahu.

Pemimpin negara yang terinfeksi sindrom dan penyakit menular tersebut tidak mungkin
membangun negara. Ini sebab SBY nyaman dan menatang terus dengan semakin banyak
menyusun kata-kata pidato bohong, menonjolkan pribadi seolah-olah negara miliknya.

Di facebook dan yang lain, ini tentu saja normal, SBY dibilang l-e-m-o-t, lemah otak. Tetapi
SBY tidak menyadari dan malah pura-pura tidak tahu dan tetap merangkai kata-kata pidato
mencoba merayu rakyat, dan bersikap defensif.

5 tahun itu berlalu rakyat tidak mendapat manfaat dari SBYdan 5 tahun lagi mungkin akan
berlalu sama. Lambat dan tidak ada tindakan substantif kecuali pembohongan-pembohongan,
pembodohan-pembodohan, cara-cara lama yang terus dipakai SBY. Dia tidak menyadari zaman
sudah berubah, dan rakyat sangat cerdas. Pasti SBY akan diturunkan di tengah jalan dan tidak
lama lagi kalau terus begini.

Mencermati wataknya selama ini jelas SBY tidak akan berbuat banyak untuk rakyat Indonesia.
SBY bukan tipe pemimpin dan apalagi bapak pembangunan seperti Suharto.
Kepandaian menutupi borok-boroknya adalah khususnya karena abang kita yang pandai bicara
dan menutupi kelemahannya, abang Andi Malarangeng, yang maaf ketularan oportunis dan
licik. SBY dan abang Andi hanya jenis manusia saleman kata-kata.

Tentu saja kalau ada di audit komprehensif maka semua proyek periode 2004-2009 bocor
banyak, dikorupsi tidak nampak, atas nama proyek-proyek yang tidak ada manfaat untuk
kecuali disunat sana sini. Maka SBY terpilih lagi. Korupsi terjadi justru banyak orang ambil
manfaat dari pembiarannya. Korupsi merajalela justru karena SBY juga tidak ditakuti.

SBY mengartikan reformasi sekadar slogan untuk dimanfatkan di pidato bukan memahami
makna sejatinya dan luasnya dan dilaksanakan dengan maksimal. Ini juga kesalahan sistem,
negara ini tidak punya MPR dalam arti sebagai majelis tertinggi yang bisa menggantung
presiden buruk dan tidak ada GBHN.

SBY parah kalau dibandingkan Suharto. SBY mengatakan tidak hutang tapi tetap hutang. SBY
pinjam dari ADB dan World Bank tentu bukan dari IMF meskipun saat ini IMF menawarkan
hutang baru dengan syarat longgar.

SBY benar kalau dibilang lemot. Suharto memang pinjam ke IMF dan World Bank tetapi benar-
benar untuk pembangunan masif dan tidak banyak bocor. Suharto punya pengawasan dobel
tripel. Suharto tegas dan memecat siapa saja yang tidak beres. Dalam kabinet SBY, dana-dana
menguap habis. Konon juga untuk mengongkosi kampanye 2009 antara lain dengan pelanjutan
program BLT ini. Pemerintahnya konon juga terlibat skandal talangan tak perlu atas Bank
Century, yang duitnya konon masuk ke putranya sendiri dan pembantu-pembantunya termasuk
ke orang-orang KPU. Penuduh-penuduh bisa salah bisa benar. Mereka mengaitkan itu karena
Budiono jadi wapres dan Mulyani kembali ditunjuk.

SBY tidak mampu apalagi secepat dan setingkat Suharto. Suharto masif membangun termasuk
mendirikan industri dan bisnis Batam yang kini sudah memudar, dan Suharto membangun
jalan-jalan raya dan yang lain bukan sekadar sebelum kampanye, dalam merayu rakyat. SBY
juga tak melanjutkan pembangunan proyek jalan layang dan tol signifikan yang terhenti setelah
sekian lama sejak Suharto lengser.

Di masa Suharto, semua jalan tol, layang dan jalan raya dibangun bagus dan awet karena dana
tidak banyak bocor, bukti konkrit Suharto. Dia mengawasi dan memecat pejabat teras yang
tidak beres. Suharto tidak kata berbunga tetapi tindakan.

SBY lebih suka kata-kata berbunga. Suharto bernasionalisme dengan bukti konkrit tersebut.
Kalau saja dahulu Suharto tidak dilengserkan pasti Indonesia sekarang sudah sama dengan
Malaysia atau sedikit dibawah Singapura. Betapa tidak berartinya SBY saat ini dan dia seallu
menutupi malunya bukan dengan lengser tetapi dengan membuat kata-kata berbunga dalam
setiap kesempatan pidato. Samasekali tidak lucu. Dan lihat jalan layang Kalimalang itu yang
sampai sekarang tetap tidak selesai dibangun, sekian lama setelah Suharto lengser dan sekarang
sudah meninggal. SBY membuktikan tidak mampu meneruskan pembangunan manapun.

Justru presiden boneka seperti SBY yang harus dilengserkan bukan Suharto yang kita sadari
ternyata lebih cinta dan perduli rakyat.

Bangsa ini memang tidak mampu mengenali pemimpin dan negarawan sejati atau bohongan.
Suharto cinta pembangunan, Sukarno cinta rakyat, dilengserkan. Sementara, SBY boneka
imperialis dan pembohong, dibiarkan, tidak dilengserkan. Kitas selalu dibodohi memaksa
lengser presiden adalah makar dan melanggar Konstitusi UUD 1945 adalah kata-kata
pertahanan penguasa. Justru menjatuhkan presiden macam SBY yang tidak perform dan tidak
menjalankan amanat UUD 1945 adalah menegakkan kosntitusi tersebut. Lihat, tidak ada
kebijakan SBY yang sejalan dengan UUD 1945.

Suharto dalam beberapa tahun terakhir berkuasa berhasil membangun masif untuk rakyat dan
bangsa Indonesia, SBY bahkan sampai 2014 juga tidak akan mampu. SBY asyik dengan pidato
kata-kata. Ini karean SBY tidak diberi pelajaran oleh kita yang bersikeras menuntut dia lengser.

Sebagai mahasiswa kita malu punya negara dengan presiden seperti ini yang tidak hanya
boneka imperialis tapi juga miskin wawasan bernegara untuk kepentingan rakyat.

Di facebook dan tv-tv, bahkan SBY dibilang, dan ini wajar saja, l-e-m-o-t. SBY sebenarnya
pandai mengambil keuntungan pribadi dan dia telah menganggap dirinya pemilik Indonesia,
sebuah sindrom yang lain. Beberapa kawan kita telah membuat analisa psikologis sifat dan
watak SBY melalui pidato-pidato SBY.

SBY menegakkan HAM sebatas HAM kebebasan berekspresi dan inipun sangat lemah karena
membiarkan tim hakim di sebuah pengadilan negeri menggangsir kebebasan ini, renungakan
kasus Prita Mulyasari vs RS Omni Internasional, dan SBY tidak minta hakim ketua tersebut
dipecat, hanya untuk menunjukkan dia tidak boleh campur tangan, sebuah kepura-puraan dan
kebodohan. Padahal jaksa agung dan ketua MA sekalipun diangkat oleh Presiden. Ini
mebodohan kepada rakyat. Separah ini tidak mungkin terjadi di masa Suharto.

SBY bukan menegakkan HAM secara komprehensif dan substantif. Buktinya siapa pembunuh
Munir tidak terungkap dan kasus ini lenyap di telan lupa. Tidak substantif, karena jutaan rakyat
dibiarkan tidak berubah nadib mereka, ini pelanggaran HAM masif.

SBY juga membiarkan merajalela korupsi berjamaah dengan memarkup dan menyunat dana-
dana proyek pemerintahannya sendiri. Sedangkan ketidakadilan hukum dan ekonomi menjadi-
jadi, karena SBY dilihat tidak tegas, dilecehkan. Banyak pejabat dan menteri menjalankan
proyek dengan dalih memperbaiki taraf hidup masyarakat, namun yang ada di kepala mereka
sesungguhnya hanya bagaimana caranya mendapat jalan sukses berkorupsi tidak kelihatan, dan
SBY tahu itu. SBY aman tidak dilengserkan. Indonesia dunia terbalik. Hasil pemilu 2009
sesungguhnya tidak sah karena hasilnya bukan mencerminkan kebenaran, dan juga karena
politik duit antara lain jartingan pengaman sosial terselubung, BLT, dan sebagainya. Inilah yang
merusak sistem demokrasi. Demokrasi menjadi tidak disukai karena selalu diselewengkan
penguasa, dalam hal ini, SBY sendiri.

Di Iran hari ini kita menyaksikan demo masif yang digerakkan pemimpin oposisi kalah pemilu
saat melawan Ahamdinejad. Demo tersebut persis sama sebelum pelengseran Suharto. Gerakan
di Iran kali ini didanai CIA dan bertujuan menjatuhkan Ahmadinejad, yang bersikeras tetap
memperkaya uranium ke kadar senjata nuklir dan tidak mau menghentikan program ini.

Di Indonesia esok 9 Desember dan dalam waktu dekat ke depan gerakan mahasiswa itu
mungkin tidak akan mampu melengserkan SBY, karena tidak ada negara dan lembaga kuat dari
luar yang berkepentingan. Amerika belum ada yang meyakinkan lebih nyaman kalau bukan
dengan SBY. Dengan SBY presiden RI, Amerika tetap bisa mangangkuti berton-ton emas dari
Papua dan migas dari daerah-daerah yang lain di Indonesia, membantu mengatasi ekonominya
yang hancur lebur akibat krisis finansial. Jadi harus ada yang meyakinkan bahwa tanpa SBY
kepentingan negeri Paman Sam itu jauh lebih selamat. Belum ada kelompok itu.

Tetapi Tuhan bisa menghendaki lain, kalau seluruh umat beragama di Indonesia berjuang keras,
bangun dan sadar, bahwa negerinya di bawah rezim boneka dan tidak becus, rakyatnya menajdi
sengsara, walaupun Indonesia merdeka sejak tahun 1945.

Yang pasti SBY bisa, bisa dilengserkan, juga atas nama UUD 1945 dan cara lain apa saja kalau
mantan jenderal-jenderal terbuang tidak takut; seluruh rakyat menunggu, dan kalau mereka mau
bersama-sama jaringan mahasiswa dalam arti luas, dan kalau juga mengajak seluruh tokoh
masyarakat penting seperti pak Amien Rais dan pak Gus Dur serta tokoh-tokoh pendemo masa
lalu, turun jalan tetapid engan poster-poster jelas, berbagai bahasa, komunikatif, dengan agenda
pelengseran SBY.

Pak gus Dur dan pak Amien punya basis massa masif dan signifikan. Bersama kita mahasiswa
seluruh Indonesia dan kalau didukung perwira-perwira TNI dan polisi terbuang dan juga yang
aktif, atas nama berbagai pelanggaran dan penyelewengan, kita bisa bersama-sama
melengserkan SBY. Lebih cepat lebih baik. Mereka juga harus meyakinkan CIA dan Amerika,
bicara jelas jangan mendua, saat ditanya agen-agen CIA. Mereja juga harus rajin mengirim
email ke lembaga-lembaga internasional. Mreka juga harus aktif berkomunikasi bisa lewat
email dengan CIA dan bertemu dengan agen-agen CIA di Bangkok dan Singapura bahwa SBY
bukan harapan rakyat dan rakyat bisa marah masif dan kepentingan Amerika tidak dijamin
aman. Amerika pasti tidak ingin kepentingan banyak industri masifnya di Indonesia terganggu
akibat pemimpin yang membuat marah rakyatnya. Pak gus Dur dan pak Amien tidak boleh
anda-anda orang sekadar bicara tetapi buktikan turun ke jalan dan teriakkan lengserkan SBY
juga. Jangan biarkan rakyat itu menderita terus-menerus. Ayooolah, maju terus, sampai SBY
benar-benar mundur. Setuju yang mengatakan bahwa pangkal masalahnya adalah sikap dan
karakter SBY. Memang.

Balas

5.

Desember 13, 2009

ramli permalink

Sebenarnya perusak bangsa dan undang2 itu adalah polisi,coba lihat di daerah2 terpencil.hukum
bs dibayar dengan uang,polisi itu semua bodoh,mereka tidak tahu betapa Hinanya harga dirinya
mau terima suap dari pihak2 yg bersalah,klo menurut saya POLISI ITU SENGAJA INGIN
MEMBUBARKAN KPK

Balas

6.

Desember 28, 2009

Muzrikah binti Rachmad permalink

Sejak semula awak rakan-rakan mahasiswa dan kaum intelektual cerdik pandai Indonesia, dan
kami pun, dah tahu bahawa SBY menang undi 2009 kerana politik wang [money politic].

George Aditjondro memang betul di saat berkata kemenangan SBY kerana politik wang
khususnya dari yayasan milik Cikeas. Keyakinan kita semakin terang selepas terbit buku baru
George Aditjondro. Malang sangat buku tu sengaja digagalkan beredar, tak boleh dibeli publik
luas, kerana semua dah dibeli tangan-tangan SBY. Presiden tu membiarkan terjadi dan tak
perintahkan menghentikan tangan-tangan dia tu tetapi justeru berkata seolah-olah SBY tak
melarang.

Amir Syamsuddin bekerja untuk SBY. Mustinya dia membela kebenaran, sebagai tugas
pengacara. Amir nampak takut sangat kelaparan apabila tidak bekerja untuk SBY. Amir berkata
buku George sampah. Ini justeru menggaris bawah bahawa Amirlah yang sampah tu.
Pernyataan Amir mencoreng wajahnya sendiri dan wajah SBY.

George Aditjondro dikenal luas dunia sebagai peneliti ulung dari negeri jiran Indonesia. Buku-
bukunya di masa Soeharto berhasil mengungkap cancer-cancer kecurangan Soeharto yang
memenangi pemilu berkali-kali dengan politik wang bagi menyalahguna banyak yayasannya.
Ini diterusi SBY. Sesungguhnya hasil undi 09 boleh dianggap ilegal dan dibatalkan. SBY pun
bisa di-impeach. Cara-cara tu melumpuhkan erti dan makna demokrasi yang benar macam di
Amerika Syarikat.

Dalam buku baru George berhasil menunjukkan dengan terang sangat dan tak terbantahkan
bahawa sesungguhnya SBY presiden ilegal. SBY menang lagi kerana politik wang. Boleh jadi
dengan wang yang didalih bagi mem-bailout Bank Century.
Kalau awak rakan-rakan Indonesia mahu berenung SBY sesungguhnya jauh lebih licik
dibandingkan dengan Soeharto. Banyak sangat kes-kes yang menunjukkan kelicikan daripada
rezim tu Termasuk buku baru George gagal beredar pun kerana sisastan ru, dengan semua dibeli
orang yang disuruh SBY, macam Amir. Maka Amir menjilati klimis bokong presiden tu, berkata
hilangnya buku George di pasaran yalah gimik marketing penerbit tu. MasyaAllah.

Sejak awal harusnya awak tahu SBY bukan berbakti kepada rakyat. Dia pun membuat blunder
dengan mempekerjakan terlalu banyak penasihat dan pembantunya, sehingga bermakna
memboros-boroskan wang negara besar sangat pada saat, tengoklah, rakyat tu berkesulitan
ekonomi dimana-mana. SBY juga berkabinet gemuk.

Macam dari raibnya buku George bererti bahawa SBY tidak berbeda dengan Soeharto. Rezim ni
lebih tidak menghargai HAM. Mungkin awak berkata kami Malaysia pun tidak begitu
menghargai HAM tetapi, ingat, kerajaan pemerintah kami bagaimanapun membuat kami
rakyatnya makmur merata dan wang kami ringgit macho sangat dibandingkan dengan wang
awak rupiah yang hancor tidak kembali sedia kala semasa Soeharto [US$1 = Rp 2500] ataupun
semasa Soekarno [US$1 = Rp 60]. Hancor negeri awak oleh SBY, sang oportunis, pem-blunder
dan sangat tukang dusta, pandai berkata-kata dalam pidato-pidato tak bererti tak nyata.

Lagipun HAM yang dipahami oleh SBY dan rezimnya hanyalah dalam erti misalnya sekadar
tidak membunuhi rakyat macam yang berlaku di Soeharto.

HAM oleh SBY dimaknai sekadar rakyat diperolehi berkebebasan bicara semata, ini satu
penafsiran naif HAM yang dikacau oleh rezim SBY. SBY justeru membuat banyak
pembunuhan. Banyak sangat anak-anak dan orangtua mati justeru semasa SBY ni.
Pengkhabaran nyata bahawa di NTB dan NTT anak-anak tu mati kerana busong kelaparan, di
saat rezim SBY. Di ibu negara Jakarta dan sekitarnya beberapa orangtua dimiskini tu
membunuh keluarga mereka dan bunuh diri sendiri kerana ekonomi rezim Indon memburok
menjadi-jadi akibat SBY yang tidak becus mengelola negara. Jangankan mensejahtera rakyat
macam kami Malaysia.

Dia bererti lebih burok dibandingkan dengan Soeharto. SBY hanya sekadar menghargai
kebebasan bicara, contoh dalam interaktif stesyen radio dan tv, dan tidak menghargai satu HAM
yang sesungguhnya macam kebebasan berekspresi mengungkap dan menyebarkan kebenaran.

Senario jahat macam tu bermakna tidak hanya buku baru George Aditjondro, buku-buku lain
yang mengungkap kebenaran juga digagalkan beredar. Benar George berkata buku-buku
daripada beberapa pengarang asing dah digagalkan beredar di Indonesia oleh SBY. Presiden ni
tetap membiarkan tangan-tangan liar tu, mungkin seliar yayasan-yayasan Cikeas. Keliru bila
awak misalnya berkata bahawa SBY menghargai HAM. HAM macam mana? Tak ada.

Buku baru George Aditjondro tu kemungkinan nak boleh beredar di toko-toko buku di sana,
namun buku-buku daripada pengarang asing yang lebih dahsyat tu nampak nak tetap dicekal.
Satu lagi bukti daripada rezim SBY jaug lebih licik. Sebagai serumpun kami tak nak dapat
menyokong banyak, kecuali berdoa rakyat tu dan rakan-rakan nak bangkit melawan. Awak
semua harus bersatu dan jalankan the People Power. Tanpa tu negeri awak tak boleh sejahtera
dangan rezim macam SBY tu. Negeri awak terpurok terus-terusan macam tu. Sedih melihat
awak semua. Lagipun SBY perusak sistem. Macam mana artis-artis boleh jadi governor dan city
officers macam pula kini kandidat Ayu Azhari dan yang lain, ini perusakan oleh tangan-tangan
presiden tu. Awak tahu mereka siapa-siapa. [Opini beda bolehlah dimajukan ke email kami:
muzrikahbintirachmad@msc.my].

Balas

o
Desember 30, 2009

nusantaraku permalink

Terima kasih atas tulisan dan komentarnya.


Muzrikah tinggal di Indonesiakah?

Balas

7.

Januari 5, 2010

Zaenab permalink

Hanya Fitnah & Cari Sensasi? Macam mana opini awak dengan buku baru yang mencuba
melawan kebenaran George Aditjondro tu?

Buku Setiardi pengarang tak sohor tu pasti memalukan, kerana mencari-cari perkara bagi
melawan kebenaran mutlak bukunyo George, Membongkar Cikeas Octopus. George yalah
peneliti kaliber dunia.

A m i e n R a i s turut berkomen dalam buku Setiardi? Rupanya, semasa-masa, Tun Amien


selalu tersesat, terutama selepas dan sejak bertemu presiden di Cengkareng airport di saat
berlaku kontrovesi wang ilegal pula dari kementerian laut jauh sebelum undi 2009. Banyak
bertanya-tanya masa tu ada apa dengan Amien mahu berdamai dengan presiden tu. Sekarang,
Amien tersesat lagi setelah dalam pelukan hangat presiden bersama Tun Hatarajasa, Amien
mahu sahaja berkomen di buku burok Setiardi. Macam ni dimanakah moraliti Amien?

Apabila macam ni terus-terusan, George musti lebih berani lagi, maju terus, dengan tekat
kuatnya bagi memasukkan kebenaran-kebenaran baru daripada buku barunya nanti. George tak
perlu tunduk bagi merevisi, kecuali justeru bagi memperlihatkan bergudang-gudang kebenaran
baru lebih banyak lagi, lebih menerjang lagi, sehingga presiden tu mundur ataupun dijatuhkan.

Tengoklah, menteri keuangan Sri Mulyani, lagi-lagi mencuba-cuba bagi mengelak dan
menyembunyikan kesalahan dia orang turut membuat bagi membailout Bank Century. Melihat
dusta mudah sangat, tengoklah gerakan mata, mulut dan tubuhnya, berdansa dusta.

Kita semua tahu, awak tahu, kami budak-budak mahasiswa seMalaysia pun tahu, bahawa jelas
inti persoalan tu yalah bahawa terdapat wang 6,7 trilyun, bahkan jauh lebih besar lagi, yang
diterbitkan berdasar keputusan kebijakan yang direka-reka diada-adakan. Berkatalah Anwar
Nasution: Yalah tak masuk diakal kepada saya mengapa sebuah bank kecil membutuhkan
bailout dengan wang daripada publik yang besar sangat. Lagipun dah berkata eks wapres Jusuf
bahawa jelas itu Perampokan.

Tapi budak-budak penyokong kerajaan sengaja dan berniat membelokkan perkara membantah
kebenaran daripada buku George dengan berkata George hanya memakai data sekunder,
methodologi tidak tepat dan sebagainya dan sebagainya macam-macam. Itu jelas berniat busuk
untuk membelokkan daripada makna penting terobosan besar daripada buku George yang
mencerahkan. Inti persoalan terang sangat: dana besar sangat yang diterbitkan, masa itu di
bawah Boediono, berdasar keputusan kebijakan yang sengaja diciptakan, bertujuan supaya Rp
6,7 triyun boleh cair. Ini kejahatan terhadap keadilan dan rakyat, membohongi publik dengan
menyalahgunakan peraturan, undang-undang dan hukum. Kemana rinci-rinci daripada perginya
50 prosen lebih daripada wang tu pun haruslah dibongkar. Wang terbit di saat menuju undi
2009. Bank baru tu pun boleh kolaps lagi, kerana walaupun bunga dibuat menarik sangat, tetapi
terlalu tinggi sangat, sementara wang yang disalurkan ke syarikat-syarikat dan individu pasti
nak macet lagi, kerana Indonesia dibawah presiden saat ini tak mampu pulih kecuali dalam
angka-angka palsu rekaan badan statistik negara yang lagi-lagi dipidatokan dia presiden.
Pengkhabaran berkata bahawa Bank Century dibailout bagaimanapun kerana terdapat wang
besar daripada yayasan daripada bank sentral dan beberapa badan usaha negara yang
dikeranjangkan disana, berharap perolehi untung bunga besar sangat dan itulah antara lain yang
memicu penyelamatan bank tersebut, sementara upaya tersebut dibuat tepat menuju undi 2009,
dan Boediono dan Sri Mulyani selalu berdalih bank itu nak mengancam seluruh sistem
kewangan tu.

Tetapi George dah membuka boks pandora ni. Awak semuanya musti membela George. Dia
orang yalah pahlawan, bukan hanya Gus Dur. Tetapi penyokong-penyokong kerajaan SBY,
termasuk sang cebol Deni Indrayana yang rupanya cebol otak, selalu dan lagi-lagi berkata buku
George hanya membuka data sekunder dan sebagainya dan sebagainya. Ah, abang cebol.

Data sekunder, ataupun tersier sekalipun, persaoalan tak, selama benar wujut. George nyata-
nyata menunjukkan realiti ataupun kebenaran mutlak tu. Lagipun pengkhabaran berkata wang
berjumlah besar sangat tu berguna sangat bagi membuat ribuan anak melarat pemiskinan
sistemik rezim Indon negeri tu boleh bersekolah. Pencairan dana tu tepat menuju undi 2009. Di
saat menang, eks governor bank sentral Boediono langsung ditunjuk sebagai wakil presiden,
dan Sri Mulyani dipertahan. Penyokong-penyokong daripada presiden, seperti sang cebol
Indrayana, hanya mencari-cari dalih saat ditanya perkara buku George. Dia orang lagi-lagi dan
selalu berkata bahawa buku George memakai data sekunder dan tidak mempunyai kemaluan
diantaranya berani nekat meminta George merevisi bukunya. Boleh tapi George nak merevisi
dengan bukti-bukti baru lebih dahsyat lagi.

George satu peneliti ulung kaliber Barat, dia orang menggunakan paradigma Barat. George
selalu cerdas membuat kesimpulan, macam banyak peneliti berparadigma Barat yang lain.
Paradigma, cara berpikir keilmuan Barat, belum tertandingi semasa-masa di dunia ni.
Beruntunglah awak kerana masih ada George yang mahu meneliti perkara-perkara delikeit,
perkara-perkara yang memerangkapi Indonesia, termasuk proses perolehi kekuasaan daripada
undi 2009 lepas yang diperolehi dengan kecurangan yang rapi. Indonesia perlu 10 George baru
terbongkarlah mafia kecurangan kekuasaan. Undi 2004 pun hasil rekayasa pemenangan. Kalau
ada 10 George dan kalau ada masing-masing 10 Sri Bintang, 10 dakter Hariman, 10 Kwik Gie,
dan awak diam sahaja? George dah tunjukkan awal kebenaran mutlak tu bagi membuats ebuah
gerakan, apapun, atas nama the people power ataupun yang lain, semua terserah awak
semuanya, sebelum 10 tahun memperkaya pejabat dan presiden semata. Apabila presiden tu
selalu pandai membuat pelbagai perkara atas nama untuk membelok-belokkan, macam mana
awak tak mampu membuat satu perkara yang dashyat atas nama rakyat?

Tengoklah, aakah presiden tu membawa negeri anda siap dengan persetujuan-persetujuan


ASEAN plus China Tiongkok di masa g l o b a l i s a s i ni? Berkonsep macam Soeharto
ataupun Soekarno, presiden tu pun tak. Lama sedari menang undi 2009, lima tahun dah lepas
tanpa makna, sekarang masuk masa jabatan kedua presiden tu sibuk bicara terus-terusan,
pekerjaannya hanya membantah, tong kosong ynaring bunyi, hanya bagi menjaga imej.
Sekarang tiga, empat, lima bulan berlalu diisi sangkalan-sangkalan bagi menjaga imej dan dia
orang mula beramal membangun tak. Banyak peristiwa dah dia sebagai presiden bukan bagi
membangun, tetapi semata rubbish belaka dan dia orang suka membelokkan pelbagai perkara
penting yang tidak dia amalkan, dengan pidato terus-terusan, supaya awak semuanya turut sibuk
mendengarkan dan menonton dia sahaja, sehingga nanti awak baru menyedari 10 tahun (2004-
2014) berlalu tanpa dia orang membangun negeri awak. Dia membawa awak dengan pidato-
pidato omong kosong semata, dia orang tidak bekerja tetapi terus-terusan mengaku bekerja 24
jam.

Tengoklah, b a r a n g a n C h i n a T i o n g k o k dah membanjir bebas lepas ke negeri awak,


presiden awak membuat kebijakan berkonsep kenegaraan yang baik macam yang diperjoangkan
Soekarno pun tak. Tengoklah negeri kami, pelancongan kami maju sangat, pantai-pantai kami
bersih, daratan-daratan kami bersih rapi, nyaman dan aman, majoriti rakyat berpenghasilan
cukop, tidak ada berjualan sebarang, tidak ada berjualan di bus-bus umum, pemimpin kami
menyusun kebijakan-kebijakan kenegaraan yang baik, ramah buruh dan pendidikan. Macam tu
ada di otak pejabat=pejabat dengan pemimpin yang peragu dan lemah? Tak lah. Lagipun,
macam mana eks tentera menjadi presiden pembangunan? Kecuali Soeharto. Macam mana eks
tentera yang peragu dan penakut macam presiden saat ini yang tidak berbiasa berlatih berpikir
berkemampuan membangun negara? Mana mungkin pintar dan muncul konsep dan pelaksanaan
kebijakan bernegara yang baik? Jangankan berkemampuan macam pemimpin dan pejabat-
pejabat Tiongkok dan melayani rakyatnya dan menghukum mati mereka yang benar-benar
korupsi? Mengapa tak awak makzulkan presiden tu dan segera pilih atau tunjuk presiden baru:
presiden sipil yang eks bisnesman ataupun eks tentara yang berjiwa dan eksekutif bisnesman.
Tak pahamkah awak dengan pesan baik kami ni?

Presiden tu selama ni masih terselamatkan dari banyak peristiwa pembelokan oleh alam
maupun pembelokan-pembelokan yang dia rekayasa. Mulai dari kejadian bencana Aceh
sehingga perkara-perkara pembelokan hasil rekayasa macam memusnahi anak bangsa sendiri
tidak berdosa atas nama teroris (Kontras dan NGO yang lain musti ungkap itu semua) dan
yang lain yang sengaja dibuat agar orang tidak terus-terusan mengkritisi dia orang. Tetapi
macam menengok situasi makin teruk saat ini dapatkah presiden tu boleh terselamatkan? Di
saat semua rakyat merata berkesukaran ekonomi? Presiden tu, sedar ataupun pura-pura tak tahu,
telah semakin menestapa rakyatnya. Bukti nyata sangat. Banyak yang dah mati kerana bunuh
diri kerana utamanya berkesulitan ekonomi. Kali ini, di pertengahan jabatan kedua ni, mungkin
tak lagi terselamatkan. Rakyat akan marah sangat. Mereka akan mengamuk dahsyat sangat.
Pembelokan yang nak tangan-tangan presiden tu buat tidak akan mampu membendung gerakan
massa. Tetapi ni pun masih tergantung pemantik dan awak terutama kelompok-kelompok lawan
yang berkepentingan. Sejarah membuktikan bahawa rakyat tu sukar dihasut tanpa terlebih dulu
ada rekayasa demo maupun rekayasa kerusuhan masif yang berlaku. Tanpa perkara yang satu ni
dia orang masih terselamatkan sehingga 2014. Semoga tak. Kerana kami pun turut bersedih
melihat nasib menderita berpanjang-panjang terus-terusan rakyat negeri jiran tu. Kasihan rakyat
tu. [Opini lain sila dimajukan ke saya: zaenabbintiibrahim@msckl.my].

Balas

8.

Januari 5, 2010

kadir permalink

Sepertinya memang sudah tidak tau diri dan keras kepala dan ditambah lagi dg aksi2 kepolisian
utk mengalihkan masalah dan bekerjasama dg para birokrasi tsb ,hanya people power yg bisa
menyadarkan dan meruntuhkanya.

Balas

9.

Januari 28, 2010

Slamet Julianto permalink

setelah saya membaca testimoni dari mantan Kabareskrim SD, saya sanat prihatin bagaimana
nantinya Indonesiaku di masa-masa mendatang, seorang sekaliber pejabat tinggi, bisa berbicara
demikian enjoynya tanpa rasa risih dengan apa yang disampaikan dalam testimoninya yang
menurut pandangan saya testimoni tesebut merupakan skenario paket kedua setelah paket
skenario pertama gagal, skenario paket pertama yang gagal, adalah memang terjadi
kriminalisasi terhadap KPK, karena KPK dianggap terlalu garang dalam menangkapi para
koruptor kakap dinegeri ini, sehingga KPK dan dan komandan KPK target susulan (target
utama untuk dihancurkan), adapun cara untuk menghancurkan mereka yang gemar menngkap
koruptor. adalah dengan cara membentuk opini masyarakat, bahwa KPK tidak bersih, bahwa
KPK ada yang disuap, maka cara untuk membukrikan, bahwa KPK tidak bersih dan KPK
gampang disuap harus ada buktinya . . dan siapa buktinya, maka skenario pertama dijalankan,
pertama harus ada orang yang ahli dalam acara loby-loby sekaligus harus ada yang ahli mencari
kambing hitam dan ternyata ada figur yang pas sebagai ahli mencari kambing hitam dan orang
tesebut adalah anggodo, yaitu (adik dari anggoro wijoyo yang merupakan orang tang dicari
KPK karen adapat dibuktikan oleh KPK telah merugikan negara dengan cara melakukan
tindakan pidana merugikan negara dengan cara memanipulasi Sistem Komunikasi Radio
Terpadu Departemen Kehutanan yang anggarannya pada waktu itu sebesar kurang lebih Rp.
700 milyar) dan anggodo adalah sosok yang sangat piawai dalam membuat orang yang salah
menjadi benar dan sebaliknya orang yang benar menjadi salah, sebab untuk menjalankan peran
dalam menyalahkan orang yang benar dan membenarkan orang yang salah, anggodo
mempunyai segala sarana dan prasarana yang ada yaitu berlimpahnya modal yaitu uang yang
bergelimangan disekitar anggodo serta didukung oleh situasi dan kondisi yang ada, antara lain
banyaknya sochib-sochib kental di berbagai departemen, terutama yang berhubungan dengan
Yudikasi, antara lain oknum-oknum pejabat, baik dikepolisia, Kejaksaan, Pengadilan, atau
didepartemen-departemen lain bahkan mungkin berhubungan dengan oknum-oknum pejabat di
Mahkamah Agung RI termasuk mempunyai hubunan yang kuat dengan oknum-oknum
pengacara yang hanya membela yang bayar tanpa melihat yang dibela itu salah atau benar yang
penting dalam benak oknum-oknum tesebut adalah yang bayar dan tidak mau tahu apakah yang
dibela itu pantas untuk dibela atau tidak karena mereka hnyalah mmikirkan dirinya saja yang
penting dalam pikiran mereka bagaimana menumpuk kekayaan saja . dan tidak ada pikiran lain,
pendek kata, orang-orang seperti itu tidak mungkin memikirkan orang lain apalagi memikirkan
masa depan bangsa tidak akan ada sedikitpun rasa simpati terhadap masa depan bangsa melekar
dipikiran atau hati orang orang seperti itu, sehingga sangat pantas dan sangat cocok orang-
orang yang sejenis itu bergaul, berkumpul dan berdiskusi serta konkow-konkow dengan orang
yang sejenis dengan mereka.

setelah figur ahli mencari kambing hitam telah ditemukan yaitu anggodo dan kawan-kawan,
langkah selanjutnya adalah figur mencari kambing hitam yang cocok dijadikan kambing hitam
yaitu orang yang bisa dituduh menerima suap, maka ahli mencari kambing hitampun berkiprah
menghancurkan sasaran sela dulu sebelum menghancurkan sasaran utama, sasaran sela mereka
yang cocok dan pas untuk dijadikan kambing hitam adalah KPK yaitu lembaga yang tidak
permanen namun getol mencari mangsa yaitu para koruptor dan selanjutnya siapa-siapa figur
yang dianggap paling lemah dan mudah dikriminalisasi di dalam Lembaga KPK tersebut dan
setelah diamati secara cermat oleh mereka yang anti terhadap pemberantasan korupsi, maka
ditemukan figur yang akan dijadikan kambing hitam, yaitu figur Bibid Samad dan Candra
Hamzah, maka pada saat itu dikejar-kejarlah Bibid Samad dan Candra Hamzah oleh oknum
oknum pejabat di kepolisian (makanya saya bertanya-tanya apakah benar SD tidak dilibatkan
dalam penyidikan pimpinan KPK non aktif pada waktu itu ?, sebagaimana ditulis dalam
testimoni SD, padahal SD adalah Kabareskim Polri pada waktu itu) dan apabila berhasil
melumpuhkan Pimpnan KPK nin aktif pada waktu itu, maka pikiran mereka pada waktu itu
KPK pasti lumpuh dan tidak bisa bergerak, padahal tidak seperti itu halnya, meskipun seluruh
Pimpinan KPK dilumpuhkan semuanya, KPK tetap akan tetap berjalan, karena sesuai dengan
UUNo.: 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan tindak pidana Korupsi (KPK) pasal 33
ayat (1) yang berbunyi : dalam hal terjadi kekosongan Pimpinan KPK, Presiden Republik
Indonesia mengajukan calon Pengganti kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
artinya meskipun secara pribadi Pimpinan KPK berhasil dilumpuhkan, namun secara
kelembagaan tidak bisa dihentikan karena Presiden Republik Indonesia bisa mengajukan nama-
nama calon Pimpinan KPK sebagaomana diatur dalam UU tentan KPK jadi apa yang dilakukan
Presiden pada waltu itu adalah sangat prosedural sesuai dengan UU yang berlaku.

selanjutnya yang menggelitik saya lagi tentang testimoni SD adalah yang mengatakan tentang
cicak adalah polei dan buaya adalah KPK dengan alasan bahwa KPK diberi wenang yang lebih
besar daripada Polri, memang kelihatan secara sepintas adalah benar, namun kenyataan yang
dikatakan oleh SD pada waktu itu dengan nada meremehkan artinya dalam pikiran saya pada
waktu itu, meskipun KPK diberi wenang yang besar ibaratnya adalah Lembaga kemarin sore
karena didirikan baru pada tahun 2002, apalagi KPK adalah Komisi, yaitu suatu lembaga yang
tidak permanen, yang mana dibutuhkan karena dalam situasi dan kondisi tertentu karena
lembaga yang berhubungan dengan komisi tersebut tidak berjalan maksimal, sehingga
diperlukan suatu lembaga yang tujuannya adalah membantu lembaga yang sudah permanen
namun belum bisa mengoptimalkan kinerjanya, dan suatu ketika apabila lembaga-lembaga
permanen yang berhubunan dengan Komisi tersebut mampu mengoptimalkan kinerjanya, maka
Komisi tersebut pasti sudah tidak diperlukan lagi, sehingga sangat tidak ketemu nalar apabila
SD menyebut KPK adalah buaya dan Polri adalah cicak, karena jelas Polri baik sarana dan
prasarana dengan infra strukturnya yang tersebar diseluuh Indonesia jauh lebih kuat dan lebih
besar daripada KPK, sehingga saya sangat sulit menerima testimoni SD.

menyngkut masalah bepergian ke Singapura, yang mana SD menyatakan bahwa anggoro


wijoyo menurut kepolisian hanyalah sebagai saksi korban, itu adalah haknya SD untuk
menyatakan bahwa anggoro adalah saksi korban, padahal apabila pernyataan bahwa anggoro
hanyalah saksi korban, berarti anggoro wijoyo adalah korban pemerasan, kalau dikatakan
bahwa anggoro wijoyo adalah korban pemerasan berarti anggoro wijoyo pernah diperas, lalu
kita kejar terus apabila benar-benr diperas, maka pertanyaannya pertama. Siapa yang
memeras ? dan pertanyaan kedua siapa yang menyatakan anggoro diperas ?, dan apabila kita
hubungan dengan kejadian pembukaan sadapan antara anggodo dan lain-lain, maka jawabannya
jelas yaitu Anggodo yang menyatakan bahwa kakaknya diperas dan siapa yang memeras, maka
jawabannya adalah beberapa pimpinan KPK, berarti memang seperti apa yang saya sampaikan
diatas, bahwasanya beberapa Pimpinan KPK sengaja dijadikan kambing hitam untuk
melumpuhkan KPK dan siapa yang ahli dan pas dijadikan sebagai figur mencari kambing
hitam, yaitu anggodo karena anggodo adalah adik dari saksi korban (menurut SD) yaitu anggoro
sebagai korban pemerasan dari apa yang disampaikan oleh SD, bahwa angoro hanyalah saksi
korban, maka sangat tidak sesuai dengan kejadian sesungguhnya karena anggoro wojoyo jelas-
jelas telah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus korupsi anggaran Sistem Komunikasi
Radio Terpadu Departemen Kehutanan karena anggoro telah memanipulasi proyek SKRT
Departemen Kehutanan, sehingga ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka dan karena buron lalu
dicekal oleh KPK, (sebagai lembaga KPK tidak mempunyai SP3 yaitu Surat perintah
penghentian penyidikan sebagaimana dikepolisian dan karena tidak ada SP3, maka KPK dalam
menetapkan tersangka lebih hati-hati dan lebih cermat, karena penyidikan yang dilakukan KPK
tidak bisa dihentikan, sehingga KPK akan lebih cermat, lebih hati-hati dan lebih akurat dalam
melakukan penyidikan terhadap siapapun, termasuk kepada anggoro wijoyo, artinya apabila
KPK sudah menetapkan anggoro wijoyo sebagai tersangka, berarti pihak KPK sudah
mempunyai bukti kuat dan akurat apabila anggoro wijoyo tesebut telah melakukan manipulasi
terhadap anggaran SKRT Departemen sebagai bukti anggoro wijoyo melarikan diri ke singapura
untuk menghindari pemeriksaan apalagi Singapur dan Indonesia tidak mempunyai perjanjian
ektradisi dengan Indonesia sehingga anggoro wijoyo akan merasa aman dan terlindungi di
negeri tersebut dan bagi saya apapun alasannya ketika SD atau siapapun juga pejabat negara
khususnya pejabat Yuridis bertemu orang yang sudah ditetapkan tersangka oleh suatu lembaga
termasuk lembaga KPK (yang dianggap SD sebagai buaya) adalah sangat tidak benar dan
memalukan, karena saya ibaratkan aparat yang mau menangkap maling bertemu dengan maling
diluar lembaga yang bersangkutan, apapun alasan SD, bahwa tindakan tersebut apabila
diteropong atau diamati apalagi diekspos oleh pihak asing, maka hal tesebut diakui atau tidak
diakui telah mencoreng citra Indonesia dalam pergaulan di Luar Negeri, selain itu SD yang
mengatakan perjalanannya ke singapura adalah perjalanan dinas yang dibeayai negara yang
tujuannya adalah mempertemukan penyidik dengan anggoro, namun SD juga menyatakan apa
hasil penyidikannya saya tidak tahu dan tidak harus perlu tahu karena bukan tanggung jawab
saya, setelah bertemu tim penyidik, saya langsung pulang ke Jakarta, dari apa yang disampaikan
dalam testimoni SD ini, saya betul-betul prihatin, sebab sangat tidak selayaknya seorang
Pimpinan Penyidik yang mengakui bepergian ke Singapura atas beaya negara, hanya untuk
MENGANTAR ANAK BUAH (dikatakan oleh SD dalam testimoninya mempertemukan
penyidik dengan anggoro) untuk bertemu dengan seorang tersangka, apalagi menyatakan
TIDAK HARUS PERLU TAHU KARENA BUKAN TANGGUNG JAWAB SAYA, padahal
sebagai Pimpinan pada waktu itu seharusnya bertanggung jawab atas tindakan anak buahnya
sekaligus sebagai pimpinan harus mengetahui apa yang dibicarakan antara penyidik (yang
menjadi anak buahnya) dengan anggoro.

dari testimoni SD ini yang saya berprediksi, bahwa testimoni tersebut sebagai skenario kedua
yaitu memunculkan gerakan-gerakan untuk menurunkani SBY (yang menurut saya merupakan
gerakan yang berurutan), karena dari testimoni SD ada beberapa pernyataan baik langsung
maupn tidak langsung menyebut nama SBY, seperti . . . . pemaksaan kepada Kapolri untuk
membebaskan CH dan BSR menangkap anggodo dan menonakrifkan SD . . . dan secara
langsung menyebut nama SBY yang mana SD menyatakan dalam testimoninya Isu ini adalah
fitnah yang keji yang bertujuan untuk membunuh karakter saya karena dari transkrips
pembicaraan tersebut kalau kita perhatikan dengan seksama tidak ada satu kalimatpun yang
menyatakan saya merekayasa kasus pimpnan KPK, saya tidak pernah berbicara langsung
pertelpon dengan Sdr. anggodo yang ada nama saya disebut anggodo sama halnya dengan
Presiden SBY namanya juga disebut, apa yang disampaikan oleh SD baik langsung maupun
tidak langsung menyebut SBY, terkesan dalam rabaan saya kenapa kalau masyarakat menuding
saya kok ke SBY tidak, padahal yang disampaikan anggodo waktu telponnya dibuka di MK,
tidak sama seperti waktu nama SBY disebut, sebab apabila nama SD disebut oleh anggodo
dalam pembicaraan tersebut terkesan bahwa SD dikesankan oleh percakapan anggodo, bahwa
SD terlibat dalam kriminalisasi KPK, sedangkan pada waktu menyebut nama SBY, yuliana ong
lah yang menyakinkan kepada anggodo bahwa RI 1 mendukung, yang pada waktu itu yuliana
ong mengesankan ke anggodo bahwa RI 1 mendukung yang anatara lain yuliana ong
menyatakan. . . . ngerti yo RI 1 mendukung kita. . . dan anggodo menjawab . . . ojo ngarang
jadi apa yang disampaokan SD tentang dirinya dibandingkan dengan SBY jauh berbeda.

dengan testimoni itulah saya berprediksi bahwa gerakan-gerakan 28 Januari adalah gerakan
yang berniat menurunkan SBY karena SBY menurut pandangan saya masih berusaha keras
memberantas korupsi, namun masih belum mampu mmperbaiki sistem pemerintahan yang lebih
bagus dari sekarang khususnya dalam mengentas kemiskinan, namun saya juga bertanya pada
pemimpin-pemimpin gerakan apabila SBY dijatuhkan sebelum saatnya, SIAPA
PENGGANTINYA Kedua APAKAH TIDAK PARA OPOSAN ATAU SIAPA SAJA TIDAK
SALING BEREBUT KEKUASAAN DAN SALING MENJATUHKAN DIANTARA SATU
DAN LAINNYA Ketiga APAKAH RAKYAT TIDAK MENJADI KORBAN SELAMA
TERJADI PEREBUTAN KEKUASAAN Keempat APAKAH YANG MENGGANTI NANTI
BISA BERBUAT LEBIH BAIK DARI SBY.

demikian komentar saya dan mohon direnungkan dengan apa yang saya prediksi dan saya
sampaikan dan terima kasih atas perenungan dan perhatiannya
November 25, 2009Pengakuan Jusuf Kalla tentang Bank Century

28November 23, 2009BPK : Kebijakan Bailout Century Salah! (Rp 500 M Mengalir
Ke Politisi)

36November 21, 2009Fakta Kesalahan Sistemik BI dalam Penanganan Kasus Bank Century

28September 30, 2009Kasus Bank Century : Boediono Terancam Dipidana (3)

42September 16, 2009Kasus Bank Century : Siapa yang Diuntungkan? (2)

53September 13, 2009Kasus Bank Century : Jangan Gunakan Pisau Menghukum Rakyat (1)