Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masa anak-anak merupakan masa yang krusial bagi perkembangan manusia,
karena dalam tahap ini pembentukan karakter seseorang sangat ditentukan. Anak-
anak dapat dikatakan sebagi tonggak kemajuan sebuah bangsa, karena masa depan
bangsa tergantung pada masa depan anak-anak bangsa itu sendiri sebagai generasi
penerus.
KPAI mengatakan, kejahatan seksual terhadap anak-anak adalah bencana
nasional bagi bangsa Indonesia. Saat ini, kejahatan seksual telah dikategorikan
sebagai kejahatan luar biasa. Kejahatan seksual akan merusak generasi penerus
bangsa karena adanya kecenderungan dari korban untuk menjadi pelaku saat
mereka dewasa. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus kekerasan seksual anak di
Indonesia mengalami peningkatan. KPAI menyebutkan pornografi, kekerasan
seksual, dan eksploitasi seksual komersial pada anak, pada tahun 2011 tercatat
sebanyak 329 kasus, atau 14,46 persen dari jumlah kasus yang ada. Sementara
tahun 2012 jumlah kasus pun meningkat sebanyak 22,6 persen menjadi 746 kasus.
Terdapat masalah besar menyangkut aspek sosial, psikologis, moral sebagai
akibat kasus pedofilia terutama pada anak sebagai korban. Efek kekerasan seksual
terhadap anak antara lain depresi, gangguan stress pascatrauma, kegelisahan,
kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut pada saat dewasa, dan cedera
fisik untuk anak di antara masalah lainnya.
Penyimpangan seksual merupakan bentuk perbuatan menyimpang dan
melanggar norma dalam kehidupan masyarakat. Penyimpangan seksual adalah
aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan
seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang
tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya
kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil,
dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetic.1

1.2 Rumusan Masalah

1
Bagaimana definisi, prevalensi, etiologi, faktor resiko, klasifikasi, diagnosis,
penatalaksanaan dan prognosis pedofilia pada referat ini.

1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan referat ini untuk mengetahui definisi, prevalensi, etiologi,
faktor resiko, klasifikasi, diagnosis, penatalaksanaan dan prognosis pedofilia.
1.4 Manfaat
1. Menambah wawasan mengenai penyakit Pedofilia.
2. Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti
kepaniteraan klinik bagian ilmu kejiwaan.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kata pedofilia berasal dari bahasa Yunani: paidophiliapais "anak-anak"
dan philia, "cinta yang bersahabat" atau "persahabatan, meskipun ini arti harfiah
telah diubah terhadap daya tarik seksual di zaman modern, berdasarkan gelar
"cinta anak" atau "kekasih anak," oleh pedofil yang menggunakan simbol dan
kode untuk mengidentifikasi preferensi mereka.
Pedofilia adalah diagnosis klinis biasanya dibuat oleh psikiater atau
psikolog. Sebagai diagnosa medis, pedofilia didefinisikan sebagai gangguan
kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan
usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer
atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda,
walaupun pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima tahun lebih muda
dalam kasus pedofilia remaja (16 atau lebih tua) baru dapat diklasifikasikan
sebagai pedofilia.
Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) mendefinisikan pedofilia sebagai
"gangguan kepribadian dewasa dan perilaku" di mana ada pilihan seksual untuk
anak-anak pada usia pubertas atau pada masa prapubertas awal. Istilah ini
memiliki berbagai definisi seperti yang ditemukan dalam psikiatri, psikologi,
bahasa setempat, dan penegakan hukum.1

2.2 Prevalensi
Di antara kasus parafilia yang dikenali, pedofilia adalah jauh lebih sering
dibandingkan dengan yang lainnya. Pada tahun 2011 tercatat sebanyak 329 kasus,
atau 14,46 persen dari jumlah kasus yang ada. Sementara tahun 2012 jumlah
kasus pun meningkat sebanyak 22,6 persen menjadi 746 kasus. Kemudian di
tahun 2013 sampai dengan bulan Oktober, kekerasan seksual pada anak yang
dipantau mencapai 525 kasus atau 15,85 persen. Data ini diperoleh melalui
pengaduan masyarakat, berita di media massa, dan investigasi kasus kekerasan
seksual anak. Sekretaris Jenderal KPAI mengatakan, mayoritas korban kekerasan
seksual adalah anak laki-laki dengan perbandingan persentase 60 persen laki-laki
dan 40 persen perempuan. Adapun profil pelaku di hampir semua kasus

3
merupakan orang terdekat anak, bisa jadi guru, paman, ayah kandung, ayah tiri,
dan tetangga.
Adanya prostitusi terhadap anak-anak di beberapa negara dan maraknya
penjualan materi-materi pornografi tentang anak-anak, menunjukkan bahwa
tingkat ketertarikan seksual terhadap anak tidak jarang. Meskipun demikian,
pedofilia sebagai salah satu bentuk perilaku seksual diperkirakan tidak secara
umum terjadi.2

2.3 Etiologi
Penyebab dari pedofilia belum diketahui secara pasti. Namun pedofilia
seringkali menandakan ketidakmampuan berhubungan dengan sesama dewasa
atau adanya ketakutan untuk menjalin hubungan dengan sesama dewasa. Jadi bisa
dikatakan sebagai suatu kompensasi dari penyaluran nafsu seksual yang tidak
dapat disalurkan pada orang dewasa. Kebanyakan penderita pedofilia menjadi
korban pelecehan seksual pada masa kanak-kanak.
Faktor Penyebab Pedofilia : 4
1. Trauma
Pengalaman selama anak-anak sebagai korban pedofilia ditengarai sebagai
penyebab utama seseorang menjadi pedofil. Mereka belajar dengan mengamati
bahwa kepuasan seksual dapat diperoleh dari anak-anak. Bisa jadi pula mereka
rendah diri menyadari dirinya adalah korban pedofilia. Akibatnya mereka
cenderung menutup diri dan pergaulan pun jadi terbatas. Terkait dengan hal
ini.
2. Kurangnya Kemampuan Sosialisasi
kurangnya keterampilan untuk membina hubungan akrab dengan orang
lain juga menjadi salah satu penyebab pedofilia. Mereka tidak dapat menjalin
hubungan intim dengan orang dewasa yang sebaya. Dalam kondisi ini, tidak
ada yang lebih nyaman selain berinteraksi dengan anak-anak, yang mudah
didekati tanpa melakukan perlawanan sebagaimana dahulu yang terjadi pada
mereka.

3. Merasa Harga Diri Rendah

4
Harga diri yang rendah juga menjadi faktor penyebab. Mereka merasa
tidak memiliki kelebihan, atau merasa gagal dibandingkan pasangan atau
teman-temannya. Menguasai anak, mengancam, dan memanipulasinya,
merupakan suntikan bagi harga diri para pedofil. Orang yang merasa rendah
diri juga mudah mengalami depresi dan kecemasan. Dalam kondisi ini,
melakukan pelecehan seksual terhadap anak dijadikan cara melepaskan
ketegangan.
4. Faktor Ekonomi
Dari segi sosial ditemukan pelaku pedofilia kebanyakan berasal dari
kalangan sosial ekonomi rendah. Sebagian bahkan tidak memiliki pekerjaan.
Ditambah dengan tingkat pendidikan yang umumnya kurang memadai, mereka
sulit menemukan cara penyelesaian masalah yang efektif. Akibatnya mereka
mudah terkena stres dan menggunakan anak untuk mengatasi rasa tertekan
atau ketegangannya akibat stress.

2.4 Diagnosis
Berdasarkan DSM-IV, seseorang dikatakan sebagai penderita pedofilia bila :
A. Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara
seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa
aktivitas seksual dengan anak pre-pubertas atau anak-anak (biasanya berusia 13
tahun atau kurang).
B. Khayalan, dorongan seksual atau perilaku menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau
fungsi penting lainnya.Orang sekurangnya berusia 16 tahun dan sekurangnya
berusia 5 tahun lebih tua dari anak-anak yang menjadi korban.
Kriteria diagnostic Pedofilia menurut PPDGJ-III : 6,7

1. Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya prapubertas atau awal


masa pubertas, baik laki-laki maupun perempuan.
2. Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan.

3. Preferensi tersebut harus berulang dan menetap.

4. Termassuk: laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner


seksual dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang khronis untuk

5
mencapai hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaan beralih
kepada anak sebagai peggganti.

2.5 Klasifikasi 3
Pedofilia dapat diklasifikasikan ke dalam 5 tipe, yaitu :
1. Pedofilia yang menetap
Orang dengan pedofilia tipe ini, menganggap dirinya terjebak pada
lingkungan anak. Mereka jarang bergaul dengan sesama usianya, dan memiliki
hubungan yang lebih baik terhadap anak. Mereka digambarkan sebagai lelaki
dewasa yang tertarik pada anak laki-laki dan menjalin hubungan layaknya
sesama anak laki-laki.
2. Pedofilia yang sifatnya regresi
Di lain pihak, orang dengan pedofilia regresi tidak tertarik pada anak lelaki,
biasanya bersifat heteroseks dan lebih suka pada anak perempuan berumur 8
atau 9 tahun. Beberapa di antara mereka mengeluhkan adanya kecemasan
maupun ketegangan dalam perkawinan mereka dan hal ini yang menyebabkan
timbulnya impuls pedofilia. Mereka menganggap anak sebagai pengganti
orang dewasa, dan menjalin hubungan layaknya sesama dewasa, dan awalnya
bersifat tiba-tiba dan tidak direncanakan.
3. Pedofilia seks lawan jenis
Pria dengan pedofilia yang melibatkan anak perempuan, secara tipik
didiagnosa sebagai pedofilia regresi. Pedofilia lawan jenis umumnya mereka
menjadi teman anak perempuan tersebut, dan kemudian secara bertahap
melibatkan anak tersebut dalam hubungan seksual, dan sifatnya tidak
memaksa. Seringkali mereka mencumbu si anak atau meminta anak
mencumbunya, dan mungkin melakukan stimulasi oral, jarang bersetubuh.
4. Pedofilia sesama jenis.
Orang dengan pedofilia jenis ini lebih suka berhubungan seks dengan anak
laki-laki ataupun anak perempuan dibanding orang dewasa. Anak-anak
tersebut berumur antara 10 12 tahun. Aktivitas seksnya berupa masturbasi
dengan cara stimulasi oral oleh anak-anak tersebut, dan berhubungan lewat
anus.
5. Pedofilia wanita

6
Meskipun pedofilia lebih banyak oleh laki-laki, tetapi juga dilakukan oleh
wanita, meskipun jarang dilaporkan. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya
perasaan keibuan pada wanita. Dan anak laki-laki tidak menganggap hal ini
sebagai sesuatu yang sifatnya negatif, karenanya insidennya kurang
dilaporkan. Biasanya melibatkan anak berumur 12 tahun atau lebih muda.
Sementara itu dalam DSM-IV-TR pedofilia dapat dispesifikasikan dalam
beberapa kelompok antara lain: (a) Sexually attracted to male, (b) Sexually
attracted to female, (c) Sexually attracted to both, (d) Limited to incest, (e)
Exclusive type, (f) Nonexclusive type.
Infantofilia, atau nepiofilia, digunakan untuk merujuk pada preferensi
seksual untuk bayi dan balita (biasanya umur 0-3).
Pedofilia digunakan untuk individu dengan minat seksual utama pada anak-
anak prapuber yang berusia 13 atau lebih muda.
Hebephilia didefinisikan sebagai individu dengan minat seksual utama pada
anak prapubertas yang berusia 11 hingga 14 tahun.[32] DSM IV tidak memasukkan
hebephilia di dalam daftar di antara diagnosis, sedangkan ICD-10 mencakup
hebephilia dalam definisi pedofilia.
Istilah erotika pedofilia diciptakan pada tahun 1886 oleh psikiater asal
Wina, Richard von Krafft-Ebing dalam tulisannya Psychopathia Sexualis. Istilah
ini muncul pada bagian yang berjudul "Pelanggaran Individu Pada Abad Empat
belas," yang berfokus pada aspek psikiatri forensik dari pelanggar seksual anak
pada umumnya. Krafft-Ebing menjelaskan beberapa tipologi pelaku, membagi
mereka menjadi asal usul psikopatologis dan non-psikopatologis, dan hipotesis
beberapa faktor penyebab yang terlihat yang dapat mengarah pada pelecehan
seksual terhadap anak-anak.
Krafft-Ebing menyebutkan erotika pedofilia dalam tipologi "penyimpangan
psiko-seksual." Dia menulis bahwa ia hanya menemukan empat kali selama
karirnya dan memberikan deskripsi singkat untuk setiap kasus, daftar tiga ciri
umumnya yaitu:
1. Individu tercemari [oleh keturunan] (belastate hereditr).
2. Daya tarik utama subyek adalah untuk anak-anak, daripada orang dewasa.

7
3. Tindakan yang dilakukan oleh subjek biasanya tidak berhubungan, melainkan
melibatkan tindakan yang tidak pantas seperti menyentuh atau memanipulasi
anak dalam melakukan tindakan pada subjek.

Psikodinamik

Sejumlah penelitian telah dilakukan mengenai,apa penyebab orang tertarik


pada anak-anak. Pedofilia, terutama jenis eksklusif mungkin sebaiknya
dikategorikan tersendiri sebagai orientasi seksual, tidak dikategorikan kedalam
identitas heteroseksual atau homoseksual.6
Teori ini kemudian menimbulkan pertanyaan, Apakah orang memilih untuk
menjadi pedofil? atau Apakah mereka dilahirkan seperti itu?.Jika mereka
dilahirkan seperti itu, adakah jenis pengobatan yang mengkonversi mereka ke
dalam orientasi seksual orang dewasa normal? Pertanyaan-pertanyaan ini masih
menjadi kontroversi dalam kalangan medis. 6
Informasi berikut ini adalah contoh beberapa teori yang telah diusulkan dan
dipelajari :
1. Perbedaan Neuropsikiatri

Penelitian telah dilakukan untuk mencari perbedaan neuropsikiatri


antara pedofilia dengan populasi masyarakat umum, populasi narapidana,
dan pelaku seksual lainnya. Telah dilaporkan perbedaan mencakup
intelegensi rendah (masih kontroversi), sedikit peningkatan yang menonjol
pada individu kidal, gangguan kemampuan kognitif, perbedaan
neuroendokrin, dan kelainan otak, khususnya perbedaan pada pronto-
kortikal atau kelainan pronto-kortikal. Gangguan kontrol impuls
merupakan factor penyebab tertinggi (contoh: gangguan kepribadian
eksplosif, kleptomania, pyromania, judi patologis) telah ditemukan pada
pedofilia (30% - 55%).Factor-faktor ini telah diterima untuk menunjukkan
bahwa pedofilia mungkin memiliki gangguan perkembangan saraf.
Sebuah penelitian oleh Schiffer et al, menggunakan voxel-based
morphometry magnetic resonance imaging techniques pada 18 orang
dengan pedofilia dari sebuah penjara dengan tingkat keamanan maksimum

8
(9 homoseksual dan 9 pedofil heteroseksual) dengan 24 kontrol (12 laki-
laki homoseksual dan 12 laki-laki heteroseksual ditemukan penurunan
volume gray matter bilateral di striatum ventral, insula, orbitofrontal
cortex, dan otak kecil pada seorang pedofil. Temuan ini serupa dengan
penelitian pencitraan lain dimana didapatkan perubahan pada unilateral
dan bilateral lobus frontalis, lobus temporal, dan cerebellar pada seorang
pedofil. Schiffer et al menyatakan bahwa perubahan ini mungkin berarti
terdapatnya gangguan atribut neurofisiologis. Perubahan serupa juga telah
dilaporkan pada pasien dengan gangguan control inpuls, seperti
kecanduan, Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), dan gangguan
kepribadian antisosial.

2. Factor Sosial atau Lingkungan

Factor lingkungan dapat mempengaruhi individu untuk menjadi


pedofil.Pada seorang pedofil factor lingkungan sering dilaporkan sebagai
factor yang meningkatkan dorongan atau keinginan untuk menyakiti anak.
Salah satu contoh yang paling jelas dari factor lingkungan dimana
meningkatkan kemungkinan seorang individu menjadi seorang pelaku
pedofil jika ia pernah mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-
kanak.Hubungan ini dikenal sebagai victim-to-abuser cycle atau
abused-abusers phenomena.
Banyak teori telah berspekulasi tentang mengapa terjadi abused-
abusers phenomena: identifikasi dengan aggressor, dimana anak yang
mengalami pelecehan seksual mencoba untuk mendapatkan identitas baru
dengan menjadi seorang pelaku pelecehan seksual ; tercetaknya pola
rangsangan seksual yang dibentuk dari pelecehan dini ; pelecehan dini
mengarah ke perilaku hiperseksual ; atau terjadinya suatu bentuk social
learning. Sebagai catatan, walaupun individu yang mengalami pelecehan
seksual kemungkinan besar akan menjadi pelaku pelecehan seksual
terhadap orang lain, kebanyakan individu yang mengalami pelecehan
seksual tidak menjadi pelaku pelecehan seksual. Terdapat perhatian khusus
mengenai ke-valid-an dari banyaknya laporan seorang pedofil, yang

9
mengaku mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanaknya.
Pernyataan ini sering dibuat pada tingkat hukum atau pada suatu kelompok
perawatan dimana seorang pedofil mungkin mencoba untuk mengurangi
masa hukuman mereka atau untuk memperoleh simpati atas perilaku
mereka.

Karakter Pedofilia 5
Empat karakteristik utama yang dimiliki oleh seorang pedofilia :
1. Pola perilaku jangka panjang dan persisten.
Memiliki latar belakang pelecehan seksual.
Penelitian menunjukkan bahwa banyak pelaku kekerasan seksual
merupakan korban dari kekerasan seksual berikutnya.
Memiliki kontak sosial terbatas pada masa remaja.
Pada waktu remaja, pelaku biasanya menunjukkan ketertarikan seksual
yang kurang terhadap seseorang yang seumur dengan mereka.
Sering berpindah tempat tinggal.
Pedofilia menunjukkan suatu pola hidup dengan tinggal di satu tempat
selama beberapa tahun, mempunyai pekerjaan yang baik dan tiba-tiba
pindah dan berganti pekerjaan tanpa alasan yang jelas.
Riwayat pernah ditahan polisi sebelumnya.
Catatan penahanan terdahulu merupakan indikator bahwa pelaku ditahan
polisi karena perbuatan yang berulang-ulang, yaitu pelecehan seksual
terhadap anak-anak.
Korban banyak.
Jika penyidikan mengungkap bahwa seseorang melakukan pelecehan
seksual pada korban yang berlainan, ini merupakan indikator kuat bahwa
ia adalah pedofilia.
Percobaan berulang dan beresiko tinggi.
Usaha atau percobaan yang berulang untuk mendapatkan anak sebagai
korban dengan cara yang sangat terampil merupakan indikator kuat bahwa
pelaku adalah seorang pedofilia

10
2. Menjadikan anak-anak sebagai obyek preferensi seksual
Usia > 25 tahun, single, tidak pernah menikah.
Pedofil mempunyai preferensiseksual terhadap anak-anak, mereka
mempunyai kesulitan dalam berhubunganseksual dengan orang dewasa
dan oleh karena itu mereka tidak menikah.
Tinggal sendiri atau bersama orang tua.
Indikator ini berhubungan erat dengan indikator di atas.
Bila tidak menikah, jarang berkencan.
Seorang laki-laki yang tinggal sendiri,belum pernah menikah dan jarang
berkencan , maka harus dicurigai sekiranya dia memiliki karakteristik
yang disebutkan di sini.
Bila menikah, mempunyai hubungan khusus dengan pasangan.
Pedofilia kadang-kadang menikah untuk kenyamanan dirinya atau untuk
menutupi dan juga memperoleh akses terhadap anak-anak.
Minat yang berlebih pada anak-anak.
Indikator ini tidak membuktikan bahwa seseorang adalah seorang
pedofilia, tapi menjadi alasan untuk diwaspadai. Akan menjadi lebih
signifikan apabila minat yang berlebih ini dikombinasikan dengan
indikator-indikator lain.
Memiliki teman-teman yang berusia muda.
Pedofil sering bersosialisasi dengan anak-anak dan terlibat dengan
aktifitas-aktifitas golongan remaja.
Memiliki hubungan yang terbatas dengan teman sebaya.
Seorang pedofil mempunyai sedikit teman dekat dikalangan dewasa. Jika
seseorang yang dicurigai sebagai pedofil mempunyai teman dekat, maka
ada kemungkinan temannya itu adalah juga seorang pedofil.
Preferensi umur dan gender.
Pedofil menyukai anak pada usia dan gende rtertentu. Ada pedofil yang
menyukai anak lelaki berusia 8-10 tahun , ada juga yang menyukai anak

11
lelaki 6-12 tahun. Semakin tua preferensi umur, semakin eksklusif
preferensi umur.
Menganggap anak bersih, murni, tidak berdosa dan sebagai obyek.
Pedofil kadang memiliki pandangan idealis mengenai anak-anak yang
diekspresikan melalui tulisan dan bahasa, mereka menganggap anak-anak
sebagai obyek,subyek dan hak milik mereka.

3. Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban


Terampil dalam mengidentifikasikan korban yang rapuh.
Pedofilia memilih korban mereka, kebanyakan anak-anak korban broken
home atau korban dari penelantaran emosi atau fisik. Ketrampilan ini
berkembang dengan latihan dan pengalaman.
Berhubungan baik dengan anak, tahu cara mendengarkan anak.
Pedofil biasanya mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan anak-
anak lebih baik daripada orang dewasa lainnya. Mereka juga tahu cara
mendengarkan anak dengan baik.
Mempunyai akses ke anak-anak.
Ini merupakan indikator terpenting bagi pedofil. Pedofil mempunyai
metode tersendiri untuk memperoleh akses keanak-anak. Pedofil akan
berada di tempat anak-anak bermain, menikah atau berteman dengan
wanita yang memiliki akses ke anak-anak, memilih pekerjaan yang
memiliki akses ke anak-anak atau tempat dimana dia akhirnya dapat
berhubungan khusus dengan anak-anak.
Lebih sering beraktifitas dengan anak-anak, seringkali tidak melibatkan
orang dewasa lain.
Pedofilia selalu mencoba untuk mendapatkan anak-anak dalam situasi
dimana tanpa kehadiran orang lain.
Terampil dalam memanipulasi anak.
Pedofil menggunakan cara merayu,kompetisi, tekanan teman sebaya,
psikologi anak dan kelompok, teknik motivasi dan ancaman.
Merayu dengan perhatian, kasih sayang dan hadiah.

12
Pedofil merayu anak-anak dengan berteman, berbicara, mendengarkan,
memberi perhatian, menghabiskan waktu dengan anak-anak dan membeli
hadiah.
Memiliki hobi dan ketertarikan yang disukai anak.
Pedofil mengkoleksi mainan, boneka atau menjadi badut atau ahli sulap
untuk menarik perhatian anak-anak.
Memperlihatkan materi-materi seksual secara eksplisit kepada anak-anak.
Pedofil cenderung untuk mendukung atau membenarkan anak untuk
menelepon ke pelayanan pornografi atau menghantar materi seksual yang
eksplisit melalui komputer pada anak-anak.

4. Fantasi seksual yang difokuskan pada anak-anak


Dekorasi rumah yang berorientasi remaja.
Pedofilia yang tertarik pada remajaakan mendekorasi rumah mereka
seperti seorang remaja lelaki. Ini termasuk pernak-pernik seperti mainan,
stereo, poster penyanyi rock, dll.
Memfoto anak-anak.
Pedofilia memfoto anak-anak yang berpakaian lengkap,setelah selesai
dicetak, mereka menghayalkan melakukan hubungan seksdengan mereka.
Mengkoleksi pornografi anak atau erotika anak.
Pedofil menggunakan koleksi iniuntuk mengancam korban agar tetap
menjaga rahasia aktivitas seksual mereka.Koleksi ini juga digunakan
untuk ditukar dengan koleksi pedofil yang lain.

Bahaya Pedofilia 4
Anak sebagai korban dalam kasus pedofilia, secara jangka pendek dan jangka
panjang dapat mengakibatkan gangguan fisik dan mental. Gangguan fisik yang
terjadi adalah resiko gangguan kesehatan. Saat melakukan hubungan kelamin pun
seringkali masih belum bersifat sempurna karena organ vital dan perkembangan
hormonal pada anak belum sesempurna orang dewasa. Bila dipaksakan
berhubungan suami istri akan merupakan siksaan yang luar biasa, apalagi
seringkali dibawah paksaan dan ancaman. Belum lagi bahaya penularan penyakit

13
kelamin maupun HIV dan AIDS, karena penderita pedofilia kerap disertai gonta
ganti pasangan atau korban. Bahaya lain yang mengancam, apabila terjadi
kehamilan. Beberapa penelitian menunjukkan perempuan yang menikah dibawah
umur 20 th beresiko terkena kanker leher rahim. Pada usia anak atau remaja, sel-
sel leher rahim belum matang. Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV
pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker. Usia anak yang sedang
tumbuh dan berkembang seharusnya memerlukan stimulasi asah, asih dan asuh
yang berkualitas dan berkesinambungan. Bila periode anak mendapatkan trauma
sebagai korban pedofilia dapat dibayangkan akibat yang bisa terjadi.
Perkembangan moral, jiwa dan mental pada anak korban pedofila terganggu
sangat bervariasi. Tergantung lama dan berat ringan trauma itu terjadi. Bila
kejadian tersebut disertai paksaan dan kekerasan maka tingkat trauma yang
ditimbulkan lebih berat

2.6 Diagnosa Banding 5


Perilaku seksual yang terbatas pada anak-anak saja tidak menjamin diagnosa
pedofilia. Perlaku tersebut mungkin terpresipitasi oleh perselisihan dalam
perkawinan, kehilangan yang terjadi dalam waktu dekat atau kesepian yang
berkepanjangan. Pada keadaan-keadaan tersebut, ketertarikan pada anak-anak
mungkin dapat dimengerti
Pada retardasi mental, sindrom perilaku organik dan hitoksikasi alkohol atau
skizoprenia, mungkin terjadi penurunan kemampuan daya nilai, kemampuan
sosial atau pengendalian impuls. Biasanya hal tersebut, walaupun jarang akan
membuat seseorang memiliki preferensi seksual yang terbatas pada anak-anak
tetapi pada kebanyakan kasus, umumnya aktivitas seksual dengan anak-anak
bukan merupakan hal yang mutlak untuk mendapatkan kepuasan seksual.
Pada ekshibisionisme, paparannya mungkin pada anak, tetapi hal ini bukan
merupakan suatu permulaan untuk melakukan aktivitas seksual pada anak-anak.
Sadisme seksual, walaupun jarang, mungkin dapat dihubungkan dengan pedofilia,
dimana pada kedua kasus ini, masing-masing diagnosa harus ditegakkan

2.7 Terapi 1

14
Adapun pengobatan yang dapat diberikan pada pasien pedofilia adalah sebagai
berikut :
1. Psikoterapi
Psikoterapi berorientasi tilikan adalah pendekatan yang paling sering
digunakan untuk mengobati pedofilia. Pasien memiliki kesempatan untuk
mengerti dinamikanya sendiri dan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan
perkembangan penyakitnya. Psikoterapi juga memungkinkan pasien meraih
kembali harga dirinya dan memperbaiki kemampuan interpersonal dan
menemukan metode yang dapat diterima untuk mendapatkan kepuasan seksual.

2. Terapi perilaku
Digunakan untuk memutuskan perilaku pedofilia. Stimuli yang menakutkan,
seperti kejutan listrik atau bau menyengat, telah dipasangkan dengan impuls
tersebut. stimuli dapat diberikan oleh diri sendiri dan digunakan oleh pasien
bilamana mereka merasa bahwa mereka akan bertindak atas dasar impulnya.

3. Terapi obat
Termasuk medikasi antipsikotik dan antidepresan, adalah diindikasikan sebagai
pengobatan skizoprenia atau gangguan depresif, bila pedofilia disertai dengan
gangguan-gangguan tersebut.

2.8 Prognosis 1
Karena tidak adanya informasi yang dapat dipercaya dari berbagai studi
follow-up, maka prognosis tergantung dari riwayat pasien sendiri, lama
penyimpangan seks, adanya gejala penarikan diri secara sosial maupun seksual
dan kekuatan serta kelemahan kepribadian pasien. Tetapi perilaku ini biasanya
tetap dilakukan pasien meskipun sudah diterapi.
Prognosis baik jika pasien memiliki motivasi tinggi untuk berubah, dan jika
pasien datang berobat sendiri, bukannya dikirim oleh badan hukum.

15
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Diagnosa pedofilia :
Pedoman diagnostik F 65.4 Pedofilia menurut PPDGJ-III :
Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa
pubertas, baik laki-laki maupun perempuan.
Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan.
Preferensi tersebut harus berulang dan menetap.
Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual
dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang khronis untuk mencapai
hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaannya beralih kepada
anak-anak sebagai pengganti.

Pedoman diagnostik F 65.4 Paedophilia menurut ICD-10 : ICD-10


mendefinisikan pedofilia sebagai "preferensi seksual untuk anak-anak, anak
laki-laki atau perempuan atau keduanya, biasanya usia prapubertas atau awal
pubertas." Berdasarkan kriteria sistem ini, orang yang berusia 16 tahun atau
lebih memenuhi definisi jika mereka memiliki preferensi seksual terus-
menerus atau pradominan untuk anak-anak praremaja setidaknya lima tahun
lebih muda dari mereka.
Pedoman diagnostik Pedophilia menurut DSM-IV-TR (2000) : terjadi
minimal 6 bulan, rekuren atau intens adanya fantasi seksual yang
membangkitkan gairah, perilaku atau dorongan yang melibatkan beberapa
jenis aktivitas seksual dengan anak praremaja (usia 13 atau lebih muda,
meskipun permulaan pubertas dapat bervariasi) dan bahwa subjek telah
bertindak atas hal tersebut karena dorongan atau mengalami dari kesulitan
sebagai hasil dari memiliki perasaan ini.

2. Psikodinamika pedofilia : 1) Perbedaan neuropsikiatri 2) Factor Sosial atau


Lingkungan.
3. Klasifikasi pedofilia : 1) Pedofilia yang menetap 2) Pedofilia yang sifatnya
regresi 3) Pedofilia seks lawan jenis 4) Pedofilia sesama jenis 5) Pedofilia
wanita.

16
4. Karakter pedofilia : 1) Pola perilaku jangka panjang dan persisten
2)Menjadikan anak-anak sebagai obyek preferensi seksual 3) Memiliki teknik
yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban 4) Fantasi seksual
yang difokuskan pada anak-anak.
5. Penatalaksanaan pedofilia :tidak ada pengobatan yang efektif untuk pedofilia
kecuali pedofil sendiri bersedia terlibat dalam pengobatan.
6. Karena tidak adanya informasi yang dapat dipercaya dari berbagai studi
follow-up, maka prognosis tergantung dari riwayat pasien sendiri, lama
penyimpangan seks, adanya gejala penarikan diri secara sosial maupun
seksual dan kekuatan serta kelemahan kepribadian pasien. Tetapi perilaku ini
biasanya tetap dilakukan pasien meskipun sudah diterapi.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Section F65.4: Paedophilia (online access via ICD-10 site map table of
contents)."Pedophilia". ICD-
10.http://www.who.int/classifications/icd/en/GRNBOOK.pdf. Diakses pada
26 Maret 2017.
2. Liddell, H.G., and Scott, Robert (1959). Intermediate Greek-English
Lexicon. ISBN 0-19-910206-6.
3. FBI's January 2007 "intelligence bulletin" on "symbols and logos used by
pedophiles to identify sexual preferences." The document (see Pages 2-4),
was prepared and distributed to FBI divisions and field offices in 2007 by the
Cyber Division's Innocent Images National Initiative. Goldstein, Bonnie
(2007-12-03). "The Pedophile's Secret
Code". Slate. http://www.slate.com/id/2179052/entry/2179054/. Diakses pada
28 Maret 2017.
4. Tom Philbin, Michael Philbin (2007). The Killer Book of True Crime:
Incredible Stories, Facts and Trivia from the World of Murder and Mayhem.
Sourcebooks, Inc.. hlm. 344. ISBN 1402208294, 9781402208294.
5. World Health Organization, International Statistical Classification of
Diseases and Related Health Problems: ICD-10 Section F65.4: Paedophilia
(online access via ICD-10 site map table of contents). Diakses pada 26 Maret
2017.
6. Maramis WF dan Maramis AA. Catatan ilmu kedokteran jiwa edisi 2.
Surabaya : Airlangga University Press, 2009.
7. Maslim, R., 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-
III. Jakarta: PT. Nuh Jaya

18