Anda di halaman 1dari 13

Dalam Islam, Iman kepada malaikat adalah salah satu Rukun Iman.

Iman kepada malaikat adalah


percaya dan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa malaikat Allah SWT benar-benar ada.
Keberadaan malaikat bersifat gaib, artinya tidak dapat dilihat oleh mata, tetapi keberadaannya
dapat diketahui dan dipahami, seperti adanya wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul. Para
nabi dan rasul tsb menerima wahyu melalui perantara malaikat Allah SWT.

Iman kepada malaikat adalah Rukun Iman yang ke-2. Rukun Iman yang jumlahnya ada 6
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, juga tidak dapat dipilih-pilih.
Sehingga tidak disebut orang beriman jika tidak meyakini salah satu dari Rukum Iman tsb.

A. Fungsi Iman Kepada Malaikat

Beriman kepada malaikat adalah bagian dari rukun iman yang wajib diyakini. Iman kepada
malaikat adalah meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah SWT. telah menciptakan
malaikat sebagai pesuruh untuk melaksanakan perintah-Nya.

Malaikat adalah mahkluk Allah SWT. yang ghaib dan harus diyakini keberadaannya, sesuai
dengan firman Allah SWT.: (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,dan
menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. (AlBaqarah/2:2-3)

Dalam ayat tersebut tetdapat kata ghaib, yaitu segala sesuatu yang diyakini adanya, tetapi
tidak kelihatan oleh mata dan kepala serta tidak dapat ditangkap panca indra yang lainnya.
Sebagai mahkluk ghaib dimensi malaikat tentu berbeda dengan dimensi manusia. Misalnya,
dalam hal waktu, satu hari malaikat = 50.000 tahun manusia.

Mengenai firman Allah dalam surat Al baqarah ayat 3 yaitu tentang orang yang beriman
kepada yang ghaib Abu Jafar Ar Razi menceritakan, dari Ar Rabi bin Anas, dari Abu Al Aliyah,
ia mengatakan: Mereka beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatnya, Kitab-kitabnya, Rasul-
rasulnya, hari akhir, surga dan neraka, serta pertemuan dengan Allah, dan juga beriman akan
adanya kehidupan setelah kematian, serta adanya kebangkitan. Dan semua itu adalah hal yang
ghaib.

Iman kepada malaikat Allah merupakan salah satu dari rukum iman yang menjadi tanda
seseorang itu beriman kepada Allah, hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surah Al Baqarah ayat
177 yang berbunyi: (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan
tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-
malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-
orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-
orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-
orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.(QS Al Baqarah :
177)

Beriman kepada malaikat dapat meningkatkan pengetahuan indra manusia kepada


pengetahuan yang berada dibelakang benda atau materi yang disebut dengan pengetahuan
metafisika. Namun, terkadang terjadi salah penafsiran yang mengakibatkan mereka terjerumus
dalam cerita khurafat, dan tahayul yang pada akhirnya menimbulkan rasa takut yang tidak
beralasan. Untuk menghilangkan rasa takut itu, mereka menyediakan bermacam-macam sesajian,
seperti melalui upacara menanam kepala kerbau yang di yakini dapat menyelamatkan manusia.
Oleh karena itu, dengan mengimani adanya malaikat dan hal-hal ghaib lainnya yang diterangkan
dalam Al Quran dan hadist Nabi Saw. Jiwa manusia akan terbebas dari rasa takut yang tidak
beralasan, khurafat, dan tahayul.

Iman kepada malaikat menjadikan manusia berhati-hati dalam tindak-tanduknya karena


mereka yakin ada dan akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Iman kepada
malaikat mempunyai pengaruh positif dan manfaat yang besar bagi kehidupan seseorang, antara
lain sebagai berikut:

1. Semakin meyakini kebesaran, kekuatan dan kemahakuasaan Allah SWT.

2. Bersyukur kepada-Nya, karena telah menciptakan para malaikat untuk


membantu kehidupan dan kepentingan manusia dan jin.

3. Menumbuhkan cinta kepada amal shalih, karena mengetahui ibadah para


malaikat

4. Merasa takut bermaksiat karena meyakini berbagai tugas malaikat seperti


mencatat perbuatannya, mencabut nyawa dan menyiksa di naar.

5. Cinta kepada malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah SWT, dan
karena mereka selalu membantu dan mendoakan kita.

Jumlah malaikat yang diciptakan oleh Allah SWT sangatlah banyak, hal ini dijelaskan
Rasulullah SAW dalam 2 buah hadits berikut:

1. Bersabda Nabi SAW: Sesungguhnya aku mendengar langit berkeriut Dan


bergemeretak, Dan tidaklah Ada satu tempat sebesar sejengkal kecuali Ada
seorang malaikat meletakkan dahinya sedang bersujud atau berdiri shalat.

2. Bersabda Nabi SAW: Masuk ke dalam baitul Mamur pada setiap harinya
70.000 malaikat Dan tidak pernah keluar lagi sampai Hari Kiamat.

Tapi jumlah malaikat yang patut diketahui manusia hanyalah 10 nama, yaitu:
1. Jibril, sesuai dengan firman dalam surat Al Baqarah ayat 98 yang berbunyi(Lihat Al-
Quran onlines di Google)

Artinya: Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-


rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang
kafir.(QS Al Baqarah : 98)

1. Mikal atau sering disebut Mikail, seperti diterangkan dalam ayat diatas

2. Israfil

3. Izrail atau sering disebut dengan Malakul Maut, hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam
surah As Sajadah ayat 11: (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: Katakanlah: Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu


akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan
dikembalikan. (QS As Sajadah : 11)

1. Munkar

2. Nakir

3. Raqib

4. Atid, Raqib dan Atid diberi tugas yang sama oleh Allah untuk mencatat amal perbuatan
manusia semasa hidupnya, dan dalam nama lain dua malaikat ini dinamai oleh Allah
dengan Kiraman Katibin sesuai dengan firmannya yang berbunyi: (Lihat Al-Quran
onlines di Google)

Artinya : 10. Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang


mengawasi (pekerjaanmu), 11. yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat
(pekerjaan-pekerjaanmu itu), ( QS Al Infithar : 10-11)

1. Malik atau Zabaniyah

2. Ridwan

A. Kedudukan Manusia dan Malaikat

1. Kedudukan Manusia dan Malaikat di Sisi Allah

Manusia adalah mahkluk sebaik-baik kejadian dibanding mahkluk lain. Karena itu,
Allah mengangkat manusia sebagai khalifah, sebagaimana firman-Nya: (Lihat Al-Quran
onlines di Google)
Artinya:Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa
yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-
orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya
dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian
mereka belaka.

Keterkaitan antaraa manusia dan malaikat terletak dalam kedudukan dan tugasnya.
Manusia sebagai hamba Allah SWT. dan khalifah-Nya di mka bumi, wajib percaya
sepenuhnya terhadap keberadaan malaikat sebagai hamba Allah SWT. yang bertugas,
antara lain mengawasi semua perbuatan manusia. Manusia bertugas memakmuran bumi
dengan sebaik-baiknya, sedangkan malaikat bertugas antara lain sebagai pengawas
terhadap tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

2. Perbedaan Manusia dan Malaikat

Perbedaan manusia dan malaikat dapat di lihat dari berbagai segi.

a. Berbeda dalam asal kejadiannya

Di dalam Al Quran diterangkan dengan jelas asal terjadinya manusia, yaitu dari
tanah liat, sebagaimana disebutkan dalam surah Al Hijr ayat 26: (Lihat Al-Quran onlines
di Google)

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Al Hijr/15:26)

Mengenai malaikat Al Quran tidak menjelaskan asal terjadinya, tetapi Nabi


menerangkan bahwa malaikat itu dijadikan dari cahaya, sebagaimana sabdanya:

Artinya:Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin dari nyala api dan Adam
diciptakan dari apa yang telah diterangkan pada semua (dari tanah). (Riwayat Muslim
dari Aisyah).

b. Berbeda dalam sifat-sifatnya

Ada beberapa hal yang membedakan sifat-sifat manusia dan malaikat.

1) Manusia mempunyai akal, nafsu, dan perasaan sedangkan malaikat tidak.


2) Manusia merupakan mahkluk kasar (nyata) yang perlu makan dan minum,
berlainan jenis, serta melakukan perkawinan, sedangkan malaikat merupakan
mahkluk halus (ghaib) yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Malaikat itu
bukan laki-laki dan bkan perempuan. Malaikat tidak makan dan tidak minum.
3) Manusia ada yang taat dan ada yang durhaka kepada Allah SWT. sedangkan
malaikat tidak berbuat maksiat (durhaka) kepada Allah SWT. dan selalu taat
melaksanakan segala perintah-Nya.
Firman Allah SWT. : (Lihat Al-Quran onlines di Google) Artinya:
Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai)
anak, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-
hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan
mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. (Al Anbiya/21:26-27)
4) Manusia tidak dapat berubah wujud, sedangkan malaikat dapat berubah wujud
dan menjelma sebagai manusia atas qudrat dan iradat Allah SWT. misalnya,
malaikat Jibril pernah menampakkan diri kepada nabi Saw. Sebagai Dihyah
(seorang pemuda yang tampan).
Nabi Saw. Bersabda, yang artinya :
Kadang-kadang malaikat (Jibril) itu menjelma di hadapanku sebagai seorang
laki-laki, kemudian berbicara kepadaku, sedangkan aku juga paham (mengerti)
apa-apa yang ia katakan. (Riwayat Bukhari)
Iman kepada Malaikat berarti mengimani bahwa Allah swt dan selalu patuh
mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Kedudukan manusia dan malaikat di sisi
Allah swt antara lain untuk mengawasi perbuatan manusia, mencatat amal
perbuatan manusia, mencabut nyawa manusia, menanyai manusia dalam kubur,
menyampaikan wahyu, menjaga neraka dan menjaga surga.
Kedudukan manusia dan malaekat di sisi Allah swt adalah bahwa manusia
diciptakan dari tanah, dengan sebaik-baik bentuk dan kejadian, sebagai khalifah di
Bumi. Manusia ada yang taat dan ada pula yang ingkar kepada Allah SWT.

Sifat-sifat Malaikat

Kita telah paham bahwa pengetahuan kita tentang malaikat hanyalah berdasar
pada dalil wahyu. Maka, wahyu juga yang menjelaskan kepada kita dari apa malaikat
diciptakan dan seperti apa tabiat mereka. Allah swt. telah menciptakan malaikat dari
cahaya berbeda dengan Adam diciptakan dari tanah, dan jin diciptakan dari api.

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
Malaikat diciptkan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa
yang telah diceritakan pada kamu (tanah).

Para ulama mengatakan bahwa para malaikat adalah jawahir basithah yang diberi
akal, tidak memerlukan tempat, ada yang berhubungan dengan benda konkret seperti
otak, ada pula yang berhubungan dengan yang abstrak seperti jiwa. Malaikat memiliki
kemampuan logika akal yang tidak sempurna. Mereka tidak terhalang dari cahaya Allah.
Dan tidak dilarang berada bersamanya pada suatu waktu, pada suatu keadaan dengan
tidur, lalai atau syahwat. Bahkan mereka menikmati dengan apa yang mereka saksikan.
Ketaatan mereka adalah karakter dan kemaksiatan mereka adalah tugas. Ini berbeda
dengan manusia yang ketaatannya adalah tugas dan mengikuti hawa nafsu adalah
karakter (lihat Al-Kulliyat karya Abul Baqa, halaman 854, penerbit Ar-Risalaat).
Simak beberapa firman Allah swt. berikut ini: (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang
diperintahkan (kepada mereka). (An-Nahl: 50)

Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-
perintahNya. (Al-Anbiya: 27) (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat
yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahriim: 6)

Kedudukan dan Keutamaan Malaikat

Para ulama berbeda pendapat dalam hal menjadikan manusia lebih utama
daripada malaikat. Ada yang berpendapat bahwa para rasul dari golongan manusia lebih
utama dari para rasul dari golongan malaikat dan para wali dari golongan manusia lebih
utama dari para wali golongan malaikat. Sementara yang lain berpendapat bahwa
malaikat lebih utama dari manusia selain para rasul.

Malaikat Bukan Lelaki dan Bukan Perempuan

Orang-orang musyrikin Arab Jahiliyah beranggapan bahwa malaikat adalah anak-


anak perempuan Allah. Mereka telah melakukan kebodohan besar ketika mengatakan
bahwa Allah memiliki anak dan anak-anaknya adalah para wanita (malaikat). Sementara
di sisi lain mereka tidak senang dengan anak-anak perempuan. Lihat gambaran ini di
surat An-Nahl ayat 58. (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan,
hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

Tentang kebohongan mereka, Allah menjelaskan di dalam surat Az-Zukhruf ayat 19.
(Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-
hamba Allah yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka
menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka
dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.

Perhatikan juga surat Al-Isra ayat 40 di bawah ini. (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang dia
sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu
benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).
Bukan sesuatu yang aneh keyakinan yang salah ini masih mempengaruhi akal dan
hati banyak orang. Contoh yang paling jelas adalah menyerupakan malaikat dengan
perempuan-perempuan berkostum putih dan membuat patung atau gambar malaikat pada
bentuk anak-anak perempuan dan wanita-wanita cantik yang memiliki sayap. Gambar-
gambar itu dijual di pasar-pasar dalam bentuk ucapan selamat pada hari bahagia dan hari
raya. Bahkan ada yang membuat boneka malaikat dengan wujud anak perempuan atau
wanita cantik. Tentu hal ini adalah kekufuran yang jelas. Barangsiapa yang meyakini
bahwa suara perempuan adalah suara malaikat atau para perempuan merupakan potret
malaikat rahmah, ia adalah kafir. Begitu pendapat Al-Bani dalam buku Arkanul Iman.

Ada juga ulama berpendapat tidak sekeras Al-Bani. Mereka berpendapat,


menggambar bentuk malaikat adalah bidah yang sangat berbahaya dan dapat
mengeluarkan seorang muslim dari iman. Namun, dalam percakapan sehari-hari, orang
banyak kadang mengasosiasikan sesuatu yang sempurna dalam penglihatan dengan
malaikat. Misalnya para wanita bangsawan yang terkesima dengan ketampanan Nabi
Yusuf. Mereka mengasosiasikan Nabi Yusuf dengan malaikat (lihat surat Yusuf: 31).
Tapi, mereka tidak menyakini bahwa Nabi Yusuf itu malaikat.

Malaikat Tidak Makan, Tidak Minum

Dalil bahwa malaikat tidak makan dan tidak minum adalah Al-Quran yang
menceritakan tentang para tamu Nabi Ibrahim dari golongan malaikat yang diutus oleh
Allah untuk menghancurkan perkampungan kaum Luth. Lihat surat Adz-Dzaariyaat ayat
24-28. (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: 24. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim
(yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? 25. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke
tempatnya lalu mengucapkan, Salaamun. Ibrahim menjawab, Salaamun (kamu)
adalah orang-orang yang tidak dikenal. 26. Maka dia pergi dengan diam-diam
menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. 27. Lalu
dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, Silakan Anda makan. 28.
(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka.
Mereka berkata, Janganlah kamu takut. Dan mereka memberi kabar gembira
kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).

Malaikat Tidak Dapat Dilihat Dalam Bentuk Aslinya

Pada kisah tamu Ibrahim di atas, malaikat dapat dilihat di saat berbentuk pada
wujud selain aslinya. Sedangkan pendapat yang shahih bahwa malaikat tidak dapat
dilihat oleh manusia biasa, dalilnya adalah firman Allah swt. di surat Furqan ayat 21-22.
(Lihat Al-Quran onlines di Google)

21. Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami,


Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak)
melihat Tuhan kita? Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan
mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman. 22. Pada
hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang
yang berdosa mereka berkata, Hijraan mahjuuraa.

Ibnu Hazm di Al-Fashl juz 4 halaman 57, mengomentari ayat ini dengan kalimat,
Allah telah menjadikan permintaan manusia akan diturunkannya malaikat sebagai suatu
masalah besar, yang dianggap sebagai kesombongan dan melampaui batas; dan Allah
menjelaskan kepada kita bahwa kita sebagai manusia tidak akan pernah dapat melihat
malaikat sampai hari kiamat.

Jika manusia biasa tidak dapat melihat malaikat, tapi ada kekhususan bagi
Rasulullah saw. Rasulullah saw sebagai seorang nabi bisa melihat malaikat jibril dalam
bentuk aslinya ketika di malam Isra Miraj. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dalam musnadnya dari Masruq, dia berkata: aku pernah bersama Aisyah, beliau berkata,
Bukankah Allah telah berfirman di surat At-Takwiir ayat 23, Dan sesungguhnya
Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan surat An-Najm ayat 13, Dan
sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu
yang lain. Lalu Aisyah berkata, Aku orang pertama dari umat ini yang bertanya kepada
Rasulullah tentang ayat di atas, maka Rasulullah saw. menjawab, Sesungguhnya dia
adalah malaikat Jibril. Rasul tidak melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali dua kali.
Rasul melihatnya pertama kali di saat Malaikat Jibril turun ke bumi dan sayapnya
menutupi antara langit dan bumi. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 halaman 251-252).

Walaupun kita, manusia, tidak dapat melihat malaikat, namun ada sebagian
makhluk yang diberi kelebihan khusus sehingga dapat melihat malaikat. Bukhari dan
Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw.
bersabda, Jika kamu mendengar suara ayam jago, maka mintalah kepada Allah sebagian
dari karunianya, karena ayam jago itu dapat melihat malaikat; dan bila kamu mendengar
suara ringkik keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena ia melihat
setan.

Sebagian orang menganggap hadits seperti ini aneh, bagaimana mungkin burung-
burung dan binatang dapat menyaksikan apa-apa yang tidak dapat kita saksikan.
Jawabnya sederhana. Benda mati saja dapat memperlihatkan kepada kita sesuatu yang
kita tidak dapat melihatnya dalam kondisi biasa. Contohnya televisi. Benda ini dapat
memperlihatkan gambar-gambar yang entah di mana adanya ke hadapan kita yang
sedang duduk di dalam kamar. Padahal kita tahu isi televisi itu adalah rangkaian
komponen elektronik saja.

Malaikat Mampu Berubah-ubah Bentuk

Dalam kisah tamu Nabi Ibrahim, para malaikat datang dengan menjelma sebagai
laki-laki dewasa. Karena itu, Nabi Ibrahim langsung menjamu mereka dengan makanan.
Contoh lain adalah ketika malaikat datang kepada Maryam ibu Nabi Isa a.s. Perhatikan
surat Maryam ayat 16-17 ini. (Lihat Al-Quran onlines di Google)
Artinya: 16. Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia
menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, 17. Maka ia
mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami
(Jibril a.s.) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang
sempurna.

Malaikat Jibril datang menjumpai Rasulullah dalam bentuk manusia yang


berbeda-beda bentuknya. Kadangkala menyerupai seorang shahabat yang bernama
Dahyah bin Khalifah Al-Kalbi karena Dahyah seorang pemuda tampan dan memiliki
postur yang ideal. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan di dalam shahihnya
dari Umar bin Khaththab, ia berkata, Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah tiba-
tiba muncul seorang laki-laki dengan mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambut
yang sangat hitam, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Rasulullah dan
meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasul, dan ia berkata, Wahai
Muhamad, beritahu saya tentang Islam. Kemudian bertanya lagi tentang iman, ihsan,
dan hari kiamat. Kemuian meninggalkan tempat itu. Lalu Rasulullah saw. bertanya
kepada Umar, Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa yang bertanya tadi? Umar
menjawab, Allah dan RasulNya lebih tahu. Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan,
Dia adalah Malaikat Jibril yang telah datang kepadamu mengajarkan kami tentang
agamamu.

Malaikat Memiliki Kemampuan Yang Luar Biasa

Malaikat memiliki kemampuan yang luar biasa yang tidak dapat dibayangkan.
Misalnya, 8 malaikat pemikul Arsy. (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari


itu delapan malaikat menjunjung Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al-Haaqqah:
17)

Jika kursi Allah swt. luasnya seluas tujuh lapis langit dan bumi, coba bayangkan
sebesar apa Arsy dan bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki para
malaikat pemikul Arsy. Coba bayangkan bagaimana kekuatan malaikat peniup
sangkakala dimana saat sangkakala ditiupkan seluruh makhluk yang ada di langit dan
bumi mati seketika. (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya:Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi
kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka
tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). (Az-Zumar: 68)

Bisakah kita bayangkan apa yang dilakukan malaikat terhadap kaum Nabi Luth
seperti yang digambarkan Allah swt. dalam firman-Nya di surat Hud ayat 82 ini? (Lihat
Al-Quran onlines di Google)
Artinya: Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di
atas ke bawah (Kami balikkan, red.), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah
yang terbakar dengan bertubi-tubi.

Itulah gambaran yang menakutkan tentang kekuatan malaikat.

Adapun kecepatan malaikat lebih cepat dari apa yang dibayangkan manusia.
Allah berfirman di dalam surat Al-Maarij ayat 4. (Lihat Al-Quran onlines di Google)

Artinya: Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari
yang kadarnya lima puluh ribu tahun.

Cukup untuk diketahui bahwa malaikat Jibril memirajkan Rasulullah saw. ke


langit tertinggi kemudian kembali lagi ke bumi, hanya dalam satu malam, bahkan
sebagian dari malam. Kita tahu bahwa langit yang paling dekat ke bumi memerlukan
jutaan tahun kecepatan cahaya. Artinya, kita perlu hidup jutaan tahun untuk sampai ke
sana bila kita jalan dengan kecepatan cahaya yang 300 km per detik. Pertanyaannya,
siapa yang dapat melakukannya? Dari mana kita mendapat umur yang panjang untuk
perjalanan itu?

Malaikat Diciptakan Untuk Taat Dan Bertasbih

Ketaatan dan ibadah bagi malaikat adalah sifat asli mereka (jibillah) sebagaimana
Allah mensifati mereka di surat At-Tahrim ayat 6. (Lihat Al-Quran onlines di Google)

..Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-
perintahNya. (Al-Anbiya: 27)

Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (Al-Anbiya: 20)

Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang
di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada
(pula) merasa letih. (Al-Anbiya: 19)

Para ulama berbeda pendapat tentang cara bertasbihnya malaikat. Ibnu Masud
dan Ibnu Abbas berkata, tasbih mereka adalah shalat. Ini berdasarkan firman Allah

seandainya ia bukan orang yang selalu bertasbih,


yang dimaksud dengan bertasbih di sini adalah shalat.

Qotadah berkata, tasbih malaikat adalah sebagaimana dipahami dari


bahasa. Al-Qurthubi mendukung pendapat ini. Dalilnya adalah hadits riwayat Abu Dzar
r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, Ucapan apa yang paling afdlal? Rasulullah
saw. menjawab, Ucapan yang paling afdlal adalah kata-kata yang telah dipilihkan oleh
Allah untuk malaikat, yaitu ( Muslim)
Dan Abdurrahman bin Qarth bahwa Rasulullah saw. pada malam Isra dan Miraj
mendengar suara tasbih di langit yang paling atas:
. (Al-Baihaqi, Tafsir Al-Qurthubi juz 1/267).
Dan shalatnya malaikat adalah berdiri dan sujud. Dari Hakim bin Hizam, ia
berkata, ketika Rasulullah saw. bersama para sahabat, beliau bersabda, Apakah kalian
mendengar apa yang saya dengar? Mereka menjawab, Kami tidak mendengar
sesuatu. Rasulullah saw. berkata, Sesungguhnya aku mendengar hentakan langit. Tidak
ada satu jengkal pun bagian langit yang terhentak melainkan di atasnya malaikat sedaang
sujud atau sedang berdiri. (At-Tabrani, Mujam Al-Kabir, Al-Asyqar Alamul Malaikah
Al-Abrar, halaman.31,1989)

Keadaan malaikat diciptakan untuk beribadah sehingga sebagian ulama meyakini


bahwa malaikat bukan makhluk mukallaf. Yang sahih bahwa taklif mereka tidak sama
dengan taklif kita. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa mereka bukan makhluk
mukallaf adalah pendapat yang salah karena mereka diperintahkan untuk beribadah dan
taat. Allah swt. berfirman:

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang
diperintahkan (kepada mereka). (An-Nahl: 50)

Khauf adalah di antara tingkatan ubudiyah dan ketaatan yang paling tinggi. (Al-Asyqar
halaman 29,1989).

Dalil yang paling kuat bahwa malaikat makhluk mukallaf adalah kisah tentang
perintah Allah kepada mereka untuk susjud kepada Adam. Allah swt. berfirman di dalam
surat Al-Baqarah ayat 34:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada
Adam. Maka sujudlah mereka, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah ia
termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Malaikat Terpelihara Dari Salah

Dari paparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa malaikat terhindar dari
kesalahan dan perbuatan dosa. Namun, jumhur ulama berpendapat, malaikat tidak
mashum. Dalil-dalil sebagai berikut.
Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu
bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.
(Fushilat: 38)

Di ayat 30 surat Al-Baqarah, malaikat berkata, Mengapa Engkau hendak menjadikan


(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan
darah. Malaikat mencela terjadinya maksiat yang dilakukan Adam dan keturunannya,
dan ini berarti menunjukkan bahwa mereka (malaikat) bebas dari dosa. Sikap mereka itu
diperkuat dengan kata-kata, Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau
dan mensucikan Engkau. Yang berarti mereka senantiasa bertasbih dan mensucikan
Allah tanpa henti.

Sedangkan dalil yang mengatakan bahwa malaikat tidak mashum adalah seperti
yang dikemukakan Imam Ar-Razi dalam tafsirnya yang juga bantahan atas pendapat
malaikat terbebas dari salah.

Menurut Ar-Razi, firman Allah swt., Sesungguhnya Aku hendak menjadikan


seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata, Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau? adalah dalil yang mencela para malaikat bukannya sebagai dalil
tentang bebasnya malaikat dari kesalahan. Hal itu ditinjau dari beberapa sisi:

1. Bahwa perkataan malaikat, Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di


muka bumi. Mereka berkata, Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi
itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah adalah
bantahan mereka terhadap Allah dan sikap ini di antara dosa yang paling besar.

2. Bahwa para malaikat telah melakukan ghibah Adam dan keturunannya dengan
mempertanyakan tentang mereka, sementara ghibah adalah salah satu dosa besar.

3. Bahwa malaikat telah memuji diri mereka sendiri setelah mempertanyakan keturunan
Adam dengan perkataan, Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau
dan mensucikan Engkau. Bukankah memuji diri sendiri adalah tercela dan dapat
mengakibatkan ujub atau bangga terhadap diri sendiri, dan ini adalah sikap tercela
sebagaimana Allah berfirman dalam surat An Najm ayat 32?

4. Bahwa perkataan mereka, Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari
apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana. adalah sikap minta permakluman dan itu tidak terjadi
kecuali karena telah melakukan kesalahan.

5. Bahwa firman Allah swt., Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu
memang benar orang-orang yang benar! Dapat dipahami bahwa mereka telah berdusta
pada apa yang mereka katakan.
6. Bahwa firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 33, Bukankah sudah Ku katakan
kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan
mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? Dapat dipahami
bahwa mereka meragukan bahwa Allah mengetahui segala hal.

7. Bahwa tuduhan mereka terhadap manusia hanya berdasar dugaan (dzhan) dan ini tidak
dibenarkan sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Israa ayat 36.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya.