Anda di halaman 1dari 8

1. Apa saja komponen yang terdapat pada saliva?

Komponen-komponen saliva, yang dalam keadaan larut disekresi oleh


kelenjar saliva, dapat dibedakan atas komponen organik dan anorganik.
Namun
demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan
serum
karena pada saliva bahan utamanya adalah air yaitu sekitar 99.5%.
Komponen
anorganik saliva antara lain : Sodium, Kalsium, Kalium, Magnesium,
Bikarbonat,
Khlorida, Rodanida dan Thiocynate (CNS), Fosfat, Potassium dan Nitrat.
Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa
enzim
amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kretinin, musin, vitamin C,
beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti
testosteron dan kortisol. 2,12
Komponen Anorganik
Dari kation-kation, Sodium (Na+ ) dan Kalium (K+ ) mempunyai
konsentrasi tertinggi dalam saliva. Disebabkan perubahan di dalam
muara pembuangan, Na+ menjadi jauh lebih rendah di dalam
cairan mulut daripada di dalam serum dan K+ jauh lebih tinggi.
Ion Khlorida merupakan unsur penting untuk aktifitas
enzimatik -amilase.
Kadar Kalsium dan Fosfat dalam saliva sangat penting untuk
remineralisasi email
dan berperan penting pada pembentukan karang gigi dan plak
bakteri. Kadar
Fluorida di dalam saliva sedikit dipengaruhi oleh konsentrasi
fluorida dalam air minum dan makanan. Rodanida dan
Thiosianat(CNS- ) adalah penting sebagai
agen antibakterial yang bekerja dengan sisitem laktoperosidase.
Bikarbonat
adalah ion bufer terpenting dalam saliva yang menghasilkan 85%
dari kapasitas bufer.

Komponen Organik
Komponen organik dalam saliva yang utama adalah protein. Protein
yang
secara kuantitatif penting adalah -Amilase, protein kaya prolin,
musin dan imunoglobulin. Berikut adalah fungsi protein-protein
dalam saliva:
1. -Amilase mengubah tepung kanji dan glikogen menjadi
kesatuan karbohidrat yang kecil. Juga karena pengaruh -Amilase,
polisakarida mudah dicernakan.19
2. Lisozim mampu membunuh bakteri tertentu sehingga berperan
dalam sistem penolakan bakterial.
3. Kalikren dapat merusak sebagian protein tertentu, di antaranya
faktor pembekuan darah XII, dan dengan demikian berguna bagi
proses pembekuan darah.
4. Laktoperosidase mengkatalisis oksidasi CNS (thiosianat) menjadi
OSCN (hypothio) yang mampu menghambat pertukaran zat bakteri
dan pertumbuhannya.
5. Protein kaya prolin membentuk suatu kelas protein dengan
berbagai fungsi penting: membentuk bagian utama pelikel muda
pada email gigi.
6. Musin membuat saliva menjadi pekat sehingga tidak mengalir
seperti air disebabkan musin mempunyai selubung air dan terdapat
pada semua permukaan mulut maka dapat melindungi jaringan
mulut terhadap kekeringan. Musin juga untuk membentuk makanan
menjadi bolus.

Pada saliva mengandung


beberapa elektrolit (Na+, K+, Cl-, HCO3-, Ca2+, Mg2+, HPO42-,
SCN-, dan F-),
protein (amilase, musin, histatin, cystatin, peroxidase, lisozim, dan
laktoferin),
immunoglobulin (sIgA, Ig G, dan Ig M), molekul organik (glukosa,
asam amino,
urea, asam uric, dan lemak), dan komponen-komponen yang lain
seperti
Epidermal growth factor (EGF), insulin, cyclic adenosine
monophosphate
binding protein, dan serum albumin (Nanci, 2003; Rai, 2007).
amilase saliva yang merupakan suatu enzim yang memecah
polisakarida menjadi disakarida
mucin merupakan sekelompok protein yang sering disebut dengan
mucin dan memberikan konsistensi mukus pada saliva. Mucin juga
berperan sebagai glikoprotein karena terdiri dari rangkaian protein
yang panjang dengan ikatan rantai karbohidrat yang lebih pendek
memiliki fungsi bakterisida danfungisida (terutama
terhadapCandida albicans ), juga mencegah pengendapangaram
kalsium fosfat padagigi dari saliva.
Lisozim adalah enzimyang dapat memecahpeptidoglikanyang
merupakan komponen penting dalam dinding sel bakteri gram
positif dan menghambataglutinasi bakteri yang memiliki
muatanpositif yang kuat.
Laktoferin memiliki efek bakterisida, fungisida, dan sebagai
antivirus. Laktoferin mengikat ion bebas pada saliva sehingga
menyebabkan efek bakterisid dan bakteriostatik terhadap
mikroorganisme, salah satu diantaranya adalah Streptococcus
mutans

Cyastatin berpartisipasi dalam pelikel pembentukan bantuan


mempertahankan hidroksil - kristal keseimbangan dan menghambat
proteolisis
Peroxidase membantu proses bersama amilase
SIgA bertindak pada jalur utama perlindungan mukosa mulut
terutama oleh pengikatan sederhana untuk melarutkan dan
memecah antigen, pertahanan terhadap serbuan mikrobial. SIgA
merupakan pertahanan imun spesifik yang dominan pada ,rongga
mulut. SlgA membatasi melekatnya sptreptokokus oral, gonococci
dan anggota enterobacteriaceae pada sel epitel yang terisolasi,
mengaglutinasi bakteri, menetralkan racun, enzim dan virus-virus
dalam rongga mulut.
Jika IgM mengacu
pada antibodi yang dihasilkansegera setelah terpapar penyaki
t, IgG mengacu
pada respon nanti. IgG umumnyamemberikan kekebalan
terhadap pasien hanya terhadap penyakit tertentu
yang spesifik.

Perbedaan penting antara kedua antibodi adalah terkait dengan


eksposurnya. AntibodiIgM biasanya ditemukan dalam tubuh
manusia setelah
sudah terpajan penyakit,sedangkan IgG merupakan respon jangka
panjang dari tubuh terhadap suatu penyakit

IgM adalah antibodi sementara yang hilang dalam waktu


dua atau tiga minggu, yangkemudian digantikan
oleh IgG yang berlangsung selama hidup dan memberikan
kekebalan abadi kepada orang tersebut

www.pps.unud.ac.id
repository.usu.ac.id
2. Growth faktor untuk penyembuhan luka (khususnya pencernaan
karbohidrat)
Dalam 24 jam, kelenjar-kelenjar saliva dapat mensekresi kira-kira 1
sampai 1,5
liter. Saliva disekresi karena adanya rangsangan, baik secara langsung
oleh ujung
ujung saraf yang ada di mukosa mulut maupun secara tidak langsung oleh
rangsangan
mekanis, termis, kimiawi, psikis atau olfaktori. Rangsang mekanik
merupakan
rangsang utama untuk meningkatkan sekresi saliva. Sel-sel plasma dalam
kelenjar
saliva menghasilkan antibodi, terutama dari kelas Immunoglobulin A (IgA)
yang
ditransportasikan ke dalam saliva. Selain antibodi, saliva juga
mengandung beberapa
jenis enzim antimikrobial seperti lisozim, laktoferin dan peroksidase serta
beberapa
komponen seperti growth factor, yang berguna untuk menjaga kesehatan
dari
jaringan luka mulut dan dapat membantu proses pencernaan, khususnya
karbohidrat
Faktor pertumbuhan syaraf (Nerve Growth Factor) yang dihasilkan oleh
glandula submandibularis dibutuhkan bagi diferensiasi dan pertumbuhan
sel-sel
syaraf adrenergik. Selain itu, glandula submandibularis juga menghasilkan
faktor
pertumbuhan epidermal (Epidermal Growth Factor) yang berperan pada
perkembangan jaringan kulit, epitel dan erupsi elemen gigi-geligi. Kedua
protein
saliva tersebut diresorpsi melalui saluran usus lambung, atau langsung
diteruskan
pada peredaran darah. Selajutnya sebagai hormon dapat bekerja pada sel-
sel sasaran

Protection against inflammatory damage and repair Under stress


conditions IgA secretion is accompanied with increased cortisol and its
conversion to cortisone in salivary glands. The mechanism appears to
check inflammatory over reaction. Calcitonin gene related peptide
adrenomedulin is also secreted in saliva with direct bacteriolytic property
and promotes recruitment of leucocytes to site of insult.Melatonin in saliva
is important in controlling inflammation associated oxidative stress and
promotion of healing. Apart from histatin, saliva also contains epidermal
growth factor and vascular endothelial growth factor helping regeneration
of oral tissue. Genes of a variety of cytokines express in salivary glands,
specially the sub-mandibular glands. Their increased transcription in
specific diseases apparently serves modulation of inflammatory response
in oral structures. Increased epidermal growth factor and leptin
particularly occurs upon needs for repair and regeneration. Leptin also
counters lipo-polysaccheride induced inhibition of salivary mucin
secretion. Epidermal growth factor causes speedy angiogenesis and cell
proliferation. Coagulation factors in saliva may be helpful in boosting
haemostasis. Salivary kallikerin induces dilation of microvasculature
around mucosal wounds, reinforcing the nutrient and oxygen supply at site

Perlindungan terhadap kerusakan inflamasi dan perbaikan kondisi stres


IgA sekresi disertai dengan peningkatan kortisol dan konversi kepada
kortison di kelenjar ludah. Mekanisme muncul untuk memeriksa inflamasi
lebih reaksi. gen kalsitonin peptida terkait adrenomedulin juga
disekresikan dalam air liur dengan properti bacteriolytic langsung dan
mempromosikan perekrutan leukosit ke lokasi insult.Melatonin dalam air
liur adalah penting dalam mengendalikan peradangan yang terkait stres
oksidatif dan promosi healing. Terlepas dari histatin, air liur juga
mengandung faktor pertumbuhan epidermal dan faktor pertumbuhan
endotel vaskular membantu regenerasi jaringan oral. Gen dari berbagai
sitokin mengungkapkan di kelenjar ludah, khususnya glands.sub-
mandibula meningkat transkripsi mereka dalam penyakit tertentu ternyata
berfungsi modulasi respon inflamasi di structures.Peningkatan faktor
pertumbuhan epidermal lisan dan leptin terutama terjadi pada kebutuhan
untuk perbaikan dan regenerasi. Leptin juga counter lipo-polysaccheride
diinduksi penghambatan ludah musin faktor pertumbuhan epidermal
secretion.menyebabkan angiogenesis cepat dan proliferasi sel. faktor
koagulasi dalam air liur dapat membantu dalam meningkatkan
hemostasis. kallikerin saliva menginduksi pelebaran microvasculature
sekitar luka mukosa, memperkuat gizi dan pasokan oksigen

eprints.undip.ac.id
www.jdentistry.ui.ac.id

3. Fisiologi, histologi, innervasi dan vaskularisasi kelenjar saliva


FUNGSI FISIOLOGI
Saliva mempunyai fungsi yang sangat penting untuk kesehatan rongga
mulut karena mempunyai hubungan dengan proses biologis yang terjadi
dalam
rongga mulut. Secara umumnya saliva berperan dalam proses
perlindungan pada
permukaan mulut, pengaturan kandungan air, pengeluaran virus-virus dan
produk
metabolisme organisme sendiri dan mikro-organisme, pencernaan
makanan dan pengecapan serta diferensiasi dan pertumbuhan sel-sel
kulit, epitel dan saraf
Saliva dapat berperan sebagai anti-kabut (anti-fog). Penyelam skuba
selalu
melapisi kaca mata menyelam mereka dengan selapis tipis saliva untuk
menghidari kabut. Selain itu saliva juga berperan efektif sebagai agen
pembersih
untuk memelihara lukisan. Cotton swab yang dilapisi saliva disapukan
pada lukisan untuk membuang kotoran yang melekat pada lukisan
tersebut

Kelenjar saliva merupakan kelenjar merokrin yang bentuknya berupa


tubuloasiner atau tubuloaveoler. Bagian dari kelenjar saliva yang
menghasilkan sekret
disebut asini. Berikut adalah sel-sel yang menyusun asini kelenjar saliva.
a. Asini serous
Asini serous tersusun dari sel-sel berbentuk piramid yang mengelilingi
lumen
kecil dan berinti bulat. Di basal sel terdapat sitoplasma basofilik dan di
apeks
terdapat butir-butir pro-enzim eosinofilik, yang akan disekresikan ke lumen
asini menjadi enzim. Hasil sekresi aini serous berisi enzim ptialin dan
bersifat
jernih dan encer seperti air.
b. Asini mukous
Asini mukous tersusun dari sel-sel berbentuk kuboid sampai kolumner
yang
mengelilingi lumen kecil dan memiliki inti pipih atau oval yang terletak di
basal. Sitoplasma asini mukous yang berada di basal sel bersifat basofilik
sedangkan daerah inti dan apeks berisi musin yang bewarna pucat. Hasil
sekresi asini mukous berupa musin yang sangat kental.
c. Asini campuran
Asini campuran mempunyai struktur asini serous serta mukous. Bagian
serous
yang menempel pada bagian mukous tampak sebagai bangunan
berbentuk
bulan sabit.
Pada kelenjar saliva juga ditemukan struktur lain yaitu mioepitel.
Mioepitel
terdapat di antara membran basalis dan sel asinus. Sel ini berbentuk
gepeng, berinti
gepeng, memiliki sitoplasma panjang yang mencapai sel-sel sekretoris,
dan memiliki
miofibril yang kontraktil di dalam sitoplama sehingga membantu memeras
sel
sekretoris mengeluarkan hasil sekresi.
Hasil sekresi kelenjar saliva akan dialirkan ke duktus interkalatus yang
tersusun
dari sel-sel berbentuk kuboid dan mengelilingi lumen yang sangat kecil.
Beberapa
duktus interkalatus akan bergabung dan melanjut sebagai duktus striatus
atau duktus
intralobularis yang tersusun dari sel-sel kuboid tinggi dan mempunyai
garis-garis di
basal dan tegak lurus dengan membrana basalis yang berfungsi sebagai
transport ion.
Duktus striatus dari masingmasing lobulus akan bermuara pada saluran
yang lebih
besar yang disebut duktus ekskretorius atau duktus interlobularis.
4. Perbedaan kadar saliva pada keadaan normal dan pada keadaan puasa
5. Enzim-enzim yang berperan dalam saliva
6. Mengapa saat tidur saliva menurun
Laju aliran saliva sangat mempengaruhi kuantitas saliva yang dihasilkan.
Laju aliran saliva tidak terstimulasi dan kualitas saliva sangat dipengaruhi
oleh
waktu dan berubah sepanjang hari. Terdapat peningkatan laju aliran saliva
saat
bangun tidur hingga mencapai tingkat maksimal pada siang hari, serta
menurun
drastis ketika tidur. Refleks saliva terstimulasi melalui pengunyahan atau
adanya
makanan, asam dapat meningkatkan laju aliran saliva hingga 10 kali lipat
atau
lebih.
Pada orang normal, laju aliran saliva dalam keadaan tidak terstimulasi
sekitar 0,3-0,4 ml/menit. Jumlah sekresi saliva per hari tanpa distimulasi
adalah
300 ml. Sedangkan ketika tidur selama 8 jam, laju aliran saliva hanya
sekitar 15
ml. Dalam kurun waktu 24 jam, saliva rata-rata akan terstimulasi pada
saat makan
selama 2 jam. Lalu saliva berada dalam kondisi istirahat selama 14 jam,
dengan
total produksi saliva 700-1500 ml. Sisanya merupakan saliva dalam
kondisi
istirahat.17 Ketika saliva distimulasi, laju aliran saliva meningkat hingga
mencapai
1,5-2,5 ml/menit. Pasien disebut xerostomia jika saat terstimulasi laju
aliran saliva
kurang dari 0,7 ml/menit.

Irama siang dan malam


Pada keadaan istirahat dan segera setelah bangun tidur, pH saliva
meningkat dan kemudian turun kembali dengan cepat. Pada
seperempat jam setelah makan (stimulasi mekanik), pH saliva juga
tinggi dan turun kembali dalam waktu 30-60 menit. pH saliva agak
meningkat sampai malam, setelah itu turun kembali.

7. Cara untuk mencegah mulut kering