Anda di halaman 1dari 5

mat, 02 Desember 2011

ASUHAN GAWAT DARURAT PADA MATA (TRAUMA MATA)

A. PENGERTIAN
Kedaruratan mata adalah sikap keadaan yang mengancam tajam penglihatan seseorang berupa
penurunan tajam penglihatan sampai terjadinya kebutaan (Roper- hall, 1990, FI UI 1982,
perhimpunan indonesia 1994).
B.
Klasifikasi :
Berdasarkan konsep penanganan masalah gawat darurat maka kedaruratan mata dapat
dikelompokkan menjadi beberapa keadaan :
1. Sight threatening condition
Dalam situasi ini mata akan mengalami kebutaan atau cacat yang menetap dengan penurunan
penglihatan yang berat dalam waktu beberapa detik sampai beberapa menit saja bila tidak segera
mendapatkan pertolongan yang tepat. Cedera mata akibat bahan kimia basa (alkali) termasuk
dalam keadaan ini. Oklusi arteria sentralis retina merupakan keadaan bukan trauma yang
termasuk dalam kelompok ini.
2. Mayor condition
Dalam situasi ini pertolongan harus diberikan tetapi dengan batasan waktu yang lebih longgar,
dapat beberapa jam sampai beberapa hari. Bila pertolongan tidak diberikan maka penderita akan
mengalami hal yang sama seperti disebutkan pada sight threatening condition.
3. Monitor condition
Situasi ini tidak akan menimbulkan kebutaan meskipun mungkin menimbulkan suatu penderitaan
subyektif pada pasien bila terabaikan pasien mungkin dapat masuk kedalam keadaan mayor
condition
C. ETIOLOGI
Kedaruratan mata dapat terjadi karena dua hal :

1. Tidak ada hubungannya denga trauma mata, misalnya :


glaukoma akuta
oklusi arteria sentralis retina

2. Disebabkan trauma
Ada 2 macam trauma yang dapat mempengaruhi mata, yaitu:
trauma langsung terhadap mata
trauma tidak langsung, dengan akibat pada mata, misalnya
- trauma kepala dengan kebutaan mendadak
- trauma dada dengan akibat kelainan pada retina

Pembagian sebab-sebab trauma langsung terhadap mata adalah sbb:


1. Trauma mekanik
a. Trauma tajam
Biasanya mengenai struktur diluar bola mata (tulang orbita dan kelopak mata) dan mengenai
bola mata (ruptura konjungtifa, ruptura kornea)
b. Trauma tumpul
Fraktura dasar orbita ditandai enoftalmus. Dapat terjadi kebutaan pasca trauma tumpul pada
orbita. Hematoma palpebra biasanya dibatasi oleh rima orbita, selalu dipikirkan cedera pada
sinus paranasal.
c. Trauma ledakan/ tembakan
Ada 3 hal yang terjadi, yaitu :
- Tekanan udara yang berubah
- Korpus alineum yang dilontarkan kearah mata yang dapat bersifat mekanik maupun zat kimia
tertentu
- Perubahan suhu/ termis
2. Trauma non mekanik
a. Trauma kimia
Dibedakan menjadi 2, trauma oleh zat yang bersifat asam dan trauma yang bersifat basa.
b. Trauma termik
Trauma ini disebabkan seperti panas, umpamanya percikan besi cair, diperlukan sama seperti
trauma kimia
c. Trauma radiasi
Trauma radiasi disebabkan oleh inframerah dan ultraviolet.

D. MANIFESTASI KLINIS
Adapun manifestasi klinisnya adalah sebagai berikut:
lembam
oedema
nyeri
lakrimasi
adanya benda asing
pupil bergeser (T10 meningkat)
adanya zat kimia
perubahan visus.

E. KOMPLIKASI
1. Mengancam penglihatan
glaukoma kronik
perdarahan vitreus
eksoftalmus unilateral
kelainan saraf
2. kerusakan permanen
benda asing (kornea atau intra okuler)
Abrasi kornea
Laserasi bola mata
Infeksi konjungifitis berat, selulitis orbita
Penyumbatan arteri
Pengelupasan retina
Ensoftalmus

F. PENATALAKSANAAN
1. Trauma oftalmik
jangan lakukan penekanan Bila ada kecurigaan adanya laserasi, cedera tembus, ruptur bola
mata
penekanan dapat diakibatkan ekstrusi isi intraokule dan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki
letakkan ibu jari dan jari telunjuk pada atas dan bawah orbita robekan kelopak mata
2. Cedera bola mata
Hindari manipulasi mata sampai saat perdarahan
Pasang balutan ringan (tanpa tekanan) dan perisai logam yang bersandar pada tulang orbita
diplester kedahi dan pipi
jaga jarak bola mata minimal Pembalutan bilateral
antibiotik, analgesik, anti tetanus dll Kolaborasi
Bila ruptur bola mata sudah teratasi periksakan struktur lain dapat dilakukan
penjahitan Laserasi kelopak mata
3. Benda asing
Benda asing tidak menembus dibawah kelopak mata atas
sehingga memungkinkan kelopak mata bawah menyapu benda asing untuk keluar Angkat
kelopak mata atas keatas kelopak mata bawah
hati-hati jangan sentuh kornea Lakukan irigasi
rujuk tutup mata jika benda asing gagal keluar
irigasi benda asing supervisial kornea
pembedahan benda asing tertanam
alat berujung tumpul hindari gunakan aplikator beraujung kapas karena dapat bergesek epitel
terlalu banyak ambil benda asing
4. Abrasi kornea
mengimobilisasi kelopak mata Beri balut tekan mata
Kolaborasi pemberian antibiotik, anastesi, dll
terlambat penyembuhan Monitor efeki anastesi
untuk abrasi ekstensif berlapisan bagian 24 jamPembalutan sebelah penyembuhan tanpa
jaringan parut (24 s/d 48 jam)bawah tidak terkena
Monitor epitelisasi dan penyembuhan
5. Luka bakar kimia
Irigasi segera dengan air bersih atau larutan NaCl
Cuci mata dibawah aliran air keran
mengejap-ngejapkan mata Memasukkan mata kedalam air
Bilas terus selama 20 mnt atau sampai bersih
kolaborasi Lain-lain
Balut mata bilateral
6. Ruptur bola mata
Jangan buat bahaya atau cedera lain
pasang perisai
hindari manipulasi
gunakan spekulum mata saat pemeriksaan mata > tekanan vertikal bukan kedepan
Jangan beri tetes mata
Tutup dan lindungi bola mata
7. Trauma tumpul
kompres es, istirahatkan Kontusio orbita
bedah kamera posisi tegak, dan isrirahatkan mata. Kolaborasikan Hifema
anterior
penurunan dosisanemia sel sabit dan penggunaan obat anti koagulan waspadai

G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pemeriksaan fisik
Inspeksi :
Infeksi palpebra lebih teliti bagi memar/ laserasi
Periksa mata bagi cedera
Periksa kornea bagi laserasi/ kekeruhan
Inspeksi iris
Lihat kedalam pupil
Periksa konjungtifa dan sklera dalam tiap kuadran
2. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan lapang panjang
Pemeriksaan oftalmoskopi untuk melihat mata
Pemeriksaan neurologi/ syaraf-syaraf pada mata
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri B.D cidera, inkontinuitas jaringan, peningkatan tekanan intra okuler
2. Resiko perdarahan B.D kerusakan pembukuh darah mata sekunder terhadap trauma mata,
peningkatan tekanan intraokuler,....
3. Cemas B.D gangguan penglihatan dan gangguan anatomi
4. Perubahan sensori visual B.D trauma okuler, penyakit infeksi, penyakit struktur mata
5. Kurangnya pengetahuan tentang prosedur operasi B.D misperseption, kuragnya mengenal
sumber-sumber informasi.

H. INTERVENSI
1. Untuk diagnosa 1
Pasang balutan mata
cukup terang Atur pencahayaan
Anjurkan untuk tidak melihat TV, membaca
kacamata gelap Anjurkan istirahatkan mata
Anjurkan tidak lakuk atau turunkan TI0an gerakan tiba-tiba mengejan, angkat berat, (hindari
gerakan valsava manauver)
Kolaborasi
2. Untuk diagnosa 2
fiksasi tidak terlalu ketat Pasang balutan mata
Kompres dingin
Hindari gerakan valsava manauver
Kolaborasi
3. Untuk diagnosa 3
bersama dokter Beri informasi hasil pemeriksaan fisik, rencana lanjut pengobatan dan
perawatan serta efeknya
4. Untuk diagnosa 4
Beri penjelasan terkait penurunan visus
Orientasikan ruangan
Kolaborasi..
5. Untuk diagnosa 5
Beri informasi tentang perioperatif care (pre operasi, intra operasi, pasca operasi)
persiapan op terkait anastesi spt puasa, lavement
pembatasan aktivitas, pemasangan tameng mata pasca operasi untuk jangka wakru tertentu.