Anda di halaman 1dari 28

REFLEKSI KASUS

ULKUS KORNEA

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

Ilmu Penyakit Mata RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo

Diajukan Kepada :
dr. Evita Wulandari, Sp. M

Disusun Oleh :
Kania Arfiani
20110310200

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016
HALAMAN PENGESAHAN

REFLEKSI KASUS

Disusun Oleh:
Kania Arfiani
20110310200

Telah disetujui dan dipresentasikan pada 5 September 2016

Mengetahui,
Dokter pembimbing

dr. Evita Wulandari, Sp. M


BAB I
LAPORAN KASUS
I. A
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. J
Usia : 76 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Bendosari RT 4 RW 1 Bendosari

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama :

Mata kanan terasa sakit, sejak 9 hari.

Keluhan Tambahan :

Mata kanan merah, terasa pedas, nyeri sekali, silau dan pusing

Riwayat Penyakit Sekarang:

- 13 HSPRS, saat malam hari hendak tidur pasien merasakan seperti ada serangga yang
masuk ke mata sebelah kanan, kemudian pasien mengkucek mata tersebut. Tidak ada
keluhan nyeri, atau perih saat itu.
- 9 HSPRS, setelah bangun tidur pasien merasa pada mata kanan terasa pedas dan
ngeres seperti ada yang mengganjal. Mual (-), kotoran mata (-). Beberapa jam
kemudian mata pasien menjadi merah ,silau dan nyeri sekali serta muncul putih-putih
pada mata pasien. Pasien tidak langsung memeriksakan nya, hanya di kompres
dengan air hangat.
- HPRS, pasien mengeluhkan penglihatan kabur, mata merah, nyeri sekali, dan pusing.
- Pasien tidak pernah menggunakan obat tetes mata sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat keluhan serupa disangkal
Riwayat penyakit asma dan alergi disangkal.
Riwayat Hipertensi dan Diabetes Mellitus disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa.
Riwayat alergi dan asma disangkal.
Riwayat Hipertensi dan Diabetes Mellitus disangkal.
Riwayat Personal Sosial :
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, yang tinggal satu rumah bersama
anak nya. Kegiatan pasien setiap hari berkebun di belakang rumah.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak menahan sakit
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital :
Frekuensi Nadi : 90 kali/menit
Frekuensi Nafas : 20 kali/menit
Suhu : afebris
B. STATUS OPTHALMOLOGIS
Pemeriksaan Subjektif:

OD OS
Pemeriksaan OD OS
Visus PS b 3/60
1/300 PW b

Palpebra Asimetris Asimetris


Spasme (+) (-)
Oedem (-) (-)
Retraksi (-) (-)
Tremor (-) (-)
Sikatrik (-) (-)
Lesi (-) (-)
Bola Mata
Pasangan Simetris Simetris
Gerakan sdn (nyeri) sdn

Konjungtiva (+) (-)

Oedem (+) (-)


Hiperemis (+) (-)
(-) (-)
Inj. Konjungtiva (-) (-)
Inj. Perikornea
(-) (-)
(-) (-)
Inj. Episklera
(-) (-)
(-) (-)
Sub. Konj. Bleeding

Sekret

Serose
Mukoid

Purulen

Mukopurulen

Kornea Keruh Arcus Senilis


Tidak rata Licin
Warna (-) (-)
Permukaan (+) (-)
(+) (-)
(-) (-)
Edema

Infiltrat

Defek

Neovaskularisasi

Hipopion + 2mm Dalam


COA

Iris / Pupil Bulat Bulat


3mm 3 mm
Bentuk Sentral Sentral
Diameter (-) (+)
(-) (+)
Kedudukan
Refleks direk
Refleks indirek

Lensa Sdn Keruh tipis


Sdn Sentral
Warna
Letak

Sdn (Nyeri) N
TIO

Tidak dilakukan Tidak dilakukan


Funduskopi
C. USULAN PEMERIKSAAN
Pemeriksaan slit lamp
Uji fluoresein
Uji placido
Pemeriksaan KOH 10% kerokan kornea
Pemeriksaan Gram
Jika karena bakteri dapat di lakukan Kultur dan Sensitifitas

D. DIAGNOSIS BANDING
OD Ulkus Kornea e.c Bakteri
OD Ulkus Kornea e.c Jamur

E. DIAGNOSIS KERJA

OD Ulkus Kornea e.c Bakteri


F. PENATALAKSANAAN
Farmakologi
o Antibiotika topikal : Levofloxacin tetes mata, setiap jam OD
o Antibiotika sistemik : Ciprofloxacin 500mg, 2xTab I
o Kortikosteroid : Metil prednisolon 4 mg, 3xTab I
o Antifungal : Ketokonazole 1x200 mg
o Sikloplegia : Sulfas atropin tetes mata, 3xOD
o Artificial eye tear drop
Nonfarmakologis dan Edukasi
1. Menjaga kebersihan mata
2. Mata tidak diperbolehkan dibebat.
3. Menggunaan pelindung mata untuk mengurangi paparan debu dan silau
4. Penyembuhan dan pengobatan membutuhkan waktu lama

G. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad Bonam
Ad sanationam : Dubia ad Bonam
Ad visam : Dubia ad Malam
Ad kosmetikam : Dubia ad Malam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.
A. ANATOMI KORNEA
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran 11-
12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37. Kornea
memberikan kontribusi 74 % atau setara dengan 43,25 dioptri (D) dari total 58,60
kekuatan dioptri mata manusia. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi
glukosa dari aqueus humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata.
Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea
adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf terbanyak dan
sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan konjungtiva. Kornea dewasa
rata-rata mempunyai tebal 550 m, diameter horizontalnya sekitar 11,75 mm dan
vertikalnya 10,6 mm.

Secara histologis, lapisan sel kornea terdiri dari lima lapisan, yaitu lapisan
epitel, lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan endotel :
Gambar 1. Lapisan Kornea

Gambar 2. Corneal Cross Section

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam:

1. Lapisan epitel
Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan
menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel
basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal
didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.
Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila
terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren.
Epitel berasal dari ectoderm permukaan.
2. Membran Bowman
Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen
yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan
stroma.
Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.
3. Jaringan Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu
dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang
dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15
bulan.Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast
terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan
dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
4. Membran Descement
Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.
Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal
40 m.
5. Endotel
Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40 m.
Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula
okluden.

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar
longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke
dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung
Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara. Daya regenerasi
saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.

Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous,


dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir.
Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan
deturgensinya.

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas
cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya yang
uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi relatif
jaringan kornea, dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh
fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih
penting daripada epitel. Kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel berdampak jauh
lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya, kerusakan pada epitel hanya
menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan meghilang bila sel-sel
epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata prekorneal
menghasilkan hipertonisitas ringan pada lapisan air mata tersebut. Hal ini mungkin
merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan
membantu mempertahankan keadaan dehidrasi. Penetrasi kornea utuh oleh obat
bersifat bifasik. Substansi larut-lemak dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air
dapat melalui stroma yang utuh. Agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak
dan larut-air sekaligus. Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya
mikroorganisme kedalam kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang
avaskular dan membran Bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam
organisme, seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur.

B. ULKUS KORNEA

1. DEFINISI ULKUS KORNEA

Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh


adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas
jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea
merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan
kornea. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat
uuntuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi seperti
desmetokel, perforasi, endoftalmitis.

2. ETIOLOGI ULKUS KORNEA

a. Infeksi
Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan
spesies Moraxella merupakan penyebab paling sering. Hampir
semua ulkus berbentuk sentral. Gejala klinis yang khas tidak
dijumpai, hanya sekret yang keluar bersifat mukopurulen yang
bersifat khas menunjukkan infeksi P aeruginosa.

Infeksi Jamur : disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus,


Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides.
Infeksi virus
Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai.
Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil
dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus
dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di
bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia
(jarang).

Acanthamoeba
Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat didalam
air yang tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik.
Infeksi kornea oleh acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin
dikenal pada pengguna lensa kontak lunak, khususnya bila memakai
larutan garam buatan sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada
bukan pemakai lensa kontak yang terpapar air atau tanah yang
tercemar.

b. Noninfeksi
Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH.
Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik,
organik dan organik anhidrat. Bila bahan asam mengenai mata maka
akan terjadi pengendapan protein permukaan sehingga bila
konsentrasinya tidak tinggi maka tidak bersifat destruktif. Biasanya
kerusakan hanya bersifat superfisial saja. Pada bahan alkali antara
lain amonia, cairan pembersih yang mengandung kalium/natrium
hidroksida dan kalium karbonat akan terjadi penghancuran kolagen
kornea.

Radiasi atau suhu


Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari yang
akan merusak epitel kornea.

Sindrom Sjorgen
Pada sindrom Sjorgen salah satunya ditandai keratokonjungtivitis
sicca yang merupakan suatu keadan mata kering yang dapat
disebabkan defisiensi unsur film air mata (akeus, musin atau lipid),
kelainan permukan palpebra atau kelainan epitel yang menyebabkan
timbulnya bintik-bintik kering pada kornea. Pada keadaan lebih
lanjut dapat timbul ulkus pada kornea dan defek pada epitel kornea
terpulas dengan flurosein.

Defisiensi vitamin A
Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan
vitamin A dari makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan
ganggun pemanfaatan oleh tubuh.

Obat-obatan
Obat-obatan yang menurunkan mekanisme imun, misalnya;
kortikosteroid, IDU (Iodo 2 dioxyuridine), anestesi lokal dan
golongan imunosupresif.

Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma.


Pajanan (exposure)
Neurotropik
c. Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas)
Granulomatosa wagener
Rheumathoid arthritis
3. PATOFISIOLOGI ULKUS KORNEA

Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui


cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih,
sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan
cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam
bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan
yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat
menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di
daerah pupil.
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan
tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak
vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang
terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru
kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan
tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-
sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang
mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna
kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin,
kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea
baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia.
Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama
palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi
bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia,
sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena
reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris.
Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut.
Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini
menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul
kecil dan superficial maka akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini
menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan
sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan
menyebabkan terjadinya sikatrik.

4. KLASIFIKASI ULKUS KORNEA

Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:

1. Ulkus Kornea Sentral

a.Ulkus Kornea Bakterialis

1) Ulkus Streptokokus

Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah


tengah kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning
keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang
menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan
menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang
dihasilkan oleh streptokok pneumonia.

2) Ulkus Stafilokokus

Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik


kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah
defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan
terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan
infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus
seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal.

3) Ulkus Pseudomonas

Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea.


ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke
dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat
mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam.
gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan
kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-
kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata
depan dapat terlihat hipopion yang banyak.

4) Ulkus Pneumokokus

Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam.


Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan
sehingga memberikan gambaran karakteristik yang
disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel
yang penuh dan berwarna kekuning-kuningan.
Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus
yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak
kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak
selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang
terlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.

Gambar 3.a Ulkus Kornea Bakterialis Gambar 3.b Ulkus Kornea Pseudomonas

b. Ulkus Kornea Fungi

Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari


sampai beberapa minggu sesudah trauma yang dapat
menimbulkan infeksi jamur ini. Pada permukaan lesi terlihat
bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak kering. Tepi
lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu
pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal
penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit
disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang
disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong
dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat
rangsangan radang serta terdapat injeksi siliar disertai hipopion.

Gambar 4. Ulkus Kornea Fungi

c.Ulkus Kornea Virus

1) Ulkus Kornea Herpes Zoster

Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan perasaan


lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya
gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel dan edem
palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat
terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat
berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda dengan
dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna
abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea
hipestesi tetapi dengan rasa sakit keadaan yang berat pada
kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder.

2) Ulkus Kornea Herpes simplex

Infeksi primer yang disebabkan oleh virus herpes simplex


dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini
dimulai dengan tanda injeksi siliar yang kuat disertai
terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea
disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi.
terdapat hipertesi pada kornea secara lokal kemudian
menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel.
Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas
diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya.

Gambar 5. Ulkus Kornea Herpetik

d. Ulkus Kornea Acanthamoeba

Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan


kliniknya, kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah
ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural.

Gambar 6. Ulkus Kornea Acanthamoeba

2. Ulkus Kornea Perifer

a. Ulkus Marginal
Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel
berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat
pada infeksi stafilococcus, toksit atau alergi dan gangguan
sistemik pada influenza disentri basilar gonokok arteritis
nodosa, dan lain-lain. Yang berbentuk cincin atau multiple dan
biasanya lateral. Ditemukan pada penderita leukemia akut,
sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.

Gambar 7. Ulkus Marginal

b. Ulkus Mooren

Merupakan ulkus yang berjalan progresif, kronik, yang


menyerang stroma kornea perifer dan epitel. Biasanya ulkus
berjalan dari perifer kornea kearah sentral, menyebar secara
sirkumferensial dan sentripetal. Penyebab ulkus mooren sampai
sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan
salah satu adalah teori hipersensitivitas tuberculosis, virus,
alergi dan autoimun. Gejala klinis antara lain nyeri pada mata,
fotofobia dan mata sering berair. Ulkus Mooren unilateral
biasanya menyerang orang berusia lanjut sedang ulkus bilateral
lebih umum pada populasi di Afrika dengan progresifitas cepat
dan berespon jelek pada intervensi medis maupun bedah.
Gambar 8. Mooren's Ulcer

c. Ring Ulcer

Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat


ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam
limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang timbul
perforasi. Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat
menjadi satu menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang
sebetulnya tak ada hubungan dengan konjungtivitis kataral.

5. DIAGNOSIS ULKUS KORNEA

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik


dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan
laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat
diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat
penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus
herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat
pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan
predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes
simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti
diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus.

Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa :

1. Gejala Subjektif

a. Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva

b. Sekret mukopurulen

c. Merasa ada benda asing di mata

d. Pandangan kabur
e. Mata berair

f. Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus

g. Silau

h. Nyeri

i. Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus


terdapat pada perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan
lapisan epitel kornea.

2. Gejala Objektif

a. Injeksi siliar

b. Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltra

c. Hipopion

Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar,
kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus berat
dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion.

Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :

1. Ketajaman penglihatan

2. Tes refraksi

3. Tes air mata

4. Pemeriksaan slit-lamp

5. Keratometri (pengukuran kornea)

6. Respon reflek pupil

7. Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.

8. Pada pewarnaan akan tampak defek epitel pada kornea yang dilihat
dengan cobalt blue light
9. Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau
KOH). Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan
spatula kimura dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop
dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa. Lebih baik lagi
dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan periodic acid
Schiff.

10. kultur dengan agar sabouraud atau agar ekstrak maltosa

6. PENATALAKSANAAN ULKUS KORNEA

Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis
mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada
ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang
mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi
reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila mengancam perforasi,
pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan
perlunya obat sistemik.

1. Penatalaksanaan medikamentosa

a. Antibiotik topikal

Terapi inisial (sebelum didapatkan hasil kultur dan tes


sensitivitas) hendaknya diberikan antibiotik spektrum luas.
Dianjurkan tetes mata gentamycin (14 mg/ml) atau tobramycin
(14mg/ml) bersama dengan cephazoline (50mg/ml), setiap
setengah hingga satu jam untuk beberapa hari pertama kemudian
dikurangi menjadi per dua jam . Setelah respon yang diinginkan
tercapai, tetes mata dapat diganti dengan Ciprofloxacin (0.3%),
Ofloxacin (0.3%), atau Gatifloxacin (0.3%).

b. Antibiotik sistemik

Biasanya tidak diperlukan. Akan tetapi, cephalosporine dan


aminoglycoside atau oral ciprofloxacin (750 mg dua kali sehari)
dapat diberikan pada kasus berat dengan perforasi atau jika sklera
ikut terkena.

c. Anti jamur

Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya


preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis
yang dihadapi bisa dibagi :

1) Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya :


topikal amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10
mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole

2) Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal,


Natamicin, Imidazol

3) Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol

4) Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa,


berbagai jenis anti biotik

d. Anti Viral

Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan


streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik, antibiotik
spektrum luas untuk infeksi sekunder, analgetik bila terdapat
indikasi serta antiviral topika berupa salep asiklovir 3% tiap 4
jam.
Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA,
interferon inducer. Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi
infeksi supuratif karena dapat menghalangi pengaliran sekret
infeksi tersebut dan memberikan media yang baik terhadap
perkembangbiakan kuman penyebabnya.

e. Obat Siklopegik

Dianjurkan salep mata atau tetes mata atropin 1% untuk


mengurangi nyeri karena spasme siliar dan untuk mencegah
pembentukan sinekia posterior karena iridosiklitis sekunder.
Atropin juga meningkatkan suplai darah ke uvea anterior dengan
mengembalikan tekanan di arteri siliaris anterior sehingga
membawa lebih banyak antibodi di aqueous humour, juga
mengurangi eksudat dengan menurunkan permeabilitas vaskular
dan hiperemi. Siklopegik lain yang dapat digunakan ialah tetes
mata homatropin 2%. Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena
bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropine :

1) Sedatif, menghilangkan rasa sakit.

2) Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.

3) Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor


pupil.
Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai
daya akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat.
Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi
midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada
dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia
posterior yang baru.

f. Obat analgesik sistemik dan anti inflamasi


Paracetamol and ibuprofen dapat menghilangkan rasa sakit dan
mengurangi edem atau dapat pula diberikan tetes mata pantokain
atau tetrakain

g. Vitamin
Vitamins (A, B-complex dan C) membantu mempercepat
penyembuhan ulkus.

Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman yang virulen, yang tidak


sembuh dengan pengobatan biasa, dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc
atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya cukup
baik. Dengan penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan
sampai melebihi 39,5C. Akibat kenaikan suhu tubuh ini diharapkan
bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi lekas sembuh.

Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan.


Lesi kornea sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-
baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik.
Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain
harus segera dihilangkan.

2. Penatalaksanaan non medikamentosa

a. Konsumsi makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan


yang sehat.

b. Penggunaan kaca mata gelaap untuk mengurangi fotofobia.

c. Sebaiknya mata yang sakit tidak dibebat.

3. Penatalaksanaan Bedah

a. Kauterisasi

1) Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam


karbolik, larutan murni trikloralasetat

2) Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai


elektrokauter atau termophore. Dengan instrumen ini
dengan ujung alatnya yang mengandung panas
disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna
keputih-putihan.

b. Debridement mekanik

Debridement mekanik dilakukan untuk menghilangkan material


nekrosis dengan mengerok dasar ulkus dengan spatula dengan
bantuan anestesi lokal. Debridement ini dapat mempercepat
penyembuhan.

c. Flap Konjungtiva

Cornea ditutup dengan flap konjungtiva sebagian atau


seluruhnya untuk menyokong jaringan yang lemah.

d. Keratoplasti
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika penatalaksanaan diatas
tidak berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang
mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea yang
menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi
beberapa kriteria yaitu :

1) Kemunduran visus yang cukup menggangu


aktivitas penderita

2) Kelainan kornea yang mengganggu mental


penderita.

3) Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.

7. KOMPLIKASI ULKUS KORNEA

Komplikasi yang paling sering timbul berupa:

1. Komplikasi paling serius ialah perforasi kornea dengan infeksi


sekunder

2. Perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis

3. Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat

4. Prolaps iris

5. Sikatrik kornea

6. Katarak sekunder

7. Glaukoma sekunder
BAB III

KESIMPULAN

Ulkus kornea dapat terjadi akibat adanya trauma pada oleh benda asing, dan dengan
air mata atau penyakit yang menyebabkan masuknya bakteri atau jamur ke dalam kornea
sehingga menimbulkan infeksi atau peradangan. Ulkus kornea merupakan luka terbuka pada
kornea. Keadaan ini menimbulkan nyeri, menurunkan kejernihan penglihatan dan
kemungkinan erosi kornea. Kekeruhan kornea ini terutama disebabkan oleh infeksi
mikroorganisme berupa bakteri, jamur, dan virus dan bila terlambat didiagnosis atau diterapi
secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut
yang luas.

Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata
agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea
tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus,
anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid.
REFERENSI

1. Vaughan D. Opthalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika, Jakarta, 2000


2. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi ketiga FKUI, Jakarta, 2004
3. Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia, Ulkus Kornea dalam : Ilmu Penyakit
Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi ke 2, Penerbit Sagung Seto,
Jakarta,2002
4. Wijaya. N. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-4, 1989