Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN TUTORIAL KELOMPOK 1

Kurang Kalori Protein ( KKP ) Tipe Campuran

Tutor: dr. Anggelia Puspasari

Muhammad Alif Fahren S G1A112003


M Ridho Rifansyah G1A112004
Khalisa Badriani G1A112027
Maizola Putri G1A112031
Anette Mutiara Pardede G1A112051
Rina Silvia Barbara Silalahi G1A112053
Haryani G1A112068
Riyan Irawan G1A112070
Ivo Amrina Rasyada G1A112077

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


UNIVERSITAS JAMBI
2014/2015

1
Skenario 2

Anak F, laki-laki, 22 bulan, berat badan 4,8 kg dan panjang badan 60 cm, dibawa ke RS karena
tidak mau makan. Orangtua An.F khawatir karena badan anaknya semakin lama semakin kurus.
Selama ini berat badannya selalu dibawah garis merah berdasarkan KMS. Saat ini anak tampak
lemas, sangat kurus, mata cekung, perut, muka dan kaki kelihatan semakin membesar, rambut
tipis, mudah rontok dan bibir kering. Menurut ibu, An.F juga sering diare. Saat ini An.F belum
bisa berjalan, baru bisa duduk. An.F adalah anak kelima dari lima bersaudara, ibu F mengatakan
bahwa pertumbuhan An.F lebih lambat dibandingkan kakaknya. Pendidikan terakhir orangtua
An.F adalah SD, ayah bekerja sebagai buruh dan ibu tidak bekerja. Waktu lahir berat badan An.F
2 kg dan panjang badan 40 cm, Lahir spontan ditolong oleh bidan. Sejak lahir anak diberi ASI
saja selama 6 bulan dan setelah itu diberi makanan pendamping ASI seadanya, tidak diberi susu
formula. Pada pemeriksaan fisik didapatkan anak apatis, konjungtiva palpebra anemis, wajah
tampak seperti orangtua. Rambut kemerahan dan mudah dicabut, perut buncit, otot-otot kaki
atrofi, edema tibia (+), crazy pavement dermatosis (+), baggy pants (+). Diagnosis dari RS
adalah anak gizi buruk. Dokter kemudian mencoba memberi tahu status gizi anak dengan
menggunakan standar antropometri penilaian status gizi anak (WHO-NCHS dan CDC). Apa
yang terjadi pada An.F ? Bagaimana penatalaksanaanya ?

Konsep atau teori yang harus dipelajari ( buku tutor )

Kelainan gizi pada anak


Pengukuran antropoometri dan penentuan status gizi pada anak
Tatalaksana gizi pada anak

2
Klarifikasi Istilah

1. Diare1
Frekuensi pengeluaran dan kekentalan feses yang tidak normal.
2. KMS2
Singkatan dari kartu menuju sehat yang merupakan kartu untuk menilai pertumbuhan
anak.
3. Apatis1
Tingkat kesadaran seseorang yang tidak peduli lingkungan, acuh tak acuh.
4. Konjungtiva palpebra anemis2
Kondisi membrane halus yang melapisi kelopak mata dan menutupi bola mata yang
berwarna pucat.
5. Atrofi1
Pengecilan ukuran suatu sel, jaringan, organ atau bagian tubuh.
6. Edema1
Adanya cairan dalam jumlah besar yang abnormal di ruang intraseluler tubuh.
7. Crazy pavement dermatosis2
Kelainan kulit berupa berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna
manjadi coklat kehitaman dan terkelupas.
8. Baggy pants2
Otot paha yang mengendor.
9. Gizi buruk2
Suatu keadaan dimana seseoran kekurangan nutrisi.
10. Antropometri2
Ilmu pengetahuan yang berurusan dengan pengukuran besar, berat dan proporsi tubuh
manusia.

Identifikasi Masalah

1. Apa makna klinis dari berat badan anak dibawah garis merah KMS ?
2. Apa makna klinis anak tampak lemas, sangat kurus, mata cekung perut, muka dan kaki
kelihatan membengkak, rambut tipis, mudah rontok dan bibir kering ?
3. Apa hubungan keluhan dengan diare ?
4. Mengapa di usia 22 bulan An.F belum bisa berjalan, baru bisa duduk dan
pertumbuhannya lebih lambat di banding kakaknya ?
5. Apa hubungan latar belakang ( status social ekonomi ) orang tua dengan keluhan An.F ?

3
6. Apakah ada hubungan riwayat berat badan lahir 2 kg, panjang badan 40 cm dan lahir
spontan dengan keluhan An.F skarang ?
7. Bagaimana intepretasi dari hasil pemeriksaan fisik An.F ?
8. Apa hubungan An.F yang diberi ASI 6 bulan, setelahnya diberi makanan pengganti ASI
seadanya, tidak diberi susu formula dengan keluhan saat ini?
9. Bagaimana cara pengukuran status gizi dengan antropometri pada anak menurut WHO
NCHS dan CDC ?
10. Apa diagnosis banding dari keluhan An.F ?
11. Bagaimana alur diagnosa dari penyakit yang diderita An.F ?
12. Apa yang terjadi dengan An.F ?
13. Apa defenisi dari penyakit An.F ?
14. Apa etiologi dari penyakit An.F ?
15. Apa epidemiologi dari penyakit An.F ?
16. Bagaimana patofisiologi dan pathogenesis dari penyakit An.F ?
17. Apa faktor risiko dari penyakit An.F ?
18. Bagaimana manifestasi klinis dari penyakit An.F ?
19. Bagaimana klasifikasi dari penyakit An.F ?
20. Apa komplikasi dari penyakit An.F ?
21. Bagaimana tatalaksana dari penyakit An.F ?
22. Bagaimana prognosis dari penyakit An.F ?
23. Bagaimana edukasi dan pencegahan dari penyakit An.F ?

Analisis Masalah

1. Apa makna klinis dari berat badan anak dibawah garis merah KMS ?3
makna klinisnya adalah menandakan pertumbuhan balita mengalami gangguan
pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke
Puskesmas/Rumah sakit.
2. Apa makna klinis anak tampak lemas, sangat kurus, mata cekung perut, muka dan kaki
kelihatan membengkak, rambut tipis, mudah rontok dan bibir kering ?4
Tampak lemas dan kurus:
Intake makanan berkurang Glukoneogenesis, proteolisis, lipolisis, dsb Cadangan
lemak dan protein habis karena dipakai untuk pembentukan energi, sel-sel kekurangan
asupan dan kematian sel atropi otot Kurus Lemas (karena dari intake makanan
kurang selain itu kebutuhan pertumbuhan meningkat sehingga membutuhkan asupan
kalori yang cukup untuk metabolisme energy, dan saat kalori tidak tercukupi metabolism
energy terganggu jadi dapat menyebabkan anak lemas tak bertenaga).

Mata cekung dan bibir kering:

4
Diare dan dehidrasi kekurangan cairan dan elektrolit hilang turgor kulit dan lemak
subkutan hilang mata cekung dan bibir kering.

Perut, muka dan kaki kelihatan semakin membesar:


asupan protein yang tidak adekuat menyebabkan ketidakseimbangan mikronutrien dan
asam amino, oleh karena itu terjadi pemecahan protein plasma untuk memenuhi
kebutuhan asam amino, tetapi saat terjadi penurunan konsentrasi protein plasma
menyebabkan menurunnya tekanan onkotik intravaskuler dan terjadi ekstravasasi plasma
ke intertisial edema

Rambut tipis dan mudah rontok:


Karena kekurangan vitamin A,C,E,dan protein merupakan nutrisi penting pada rambut.
Vitamin C akan digunakan untuk reduksi prolin menjadi hidroksiprolin untuk
pembentukan kolagen. Penurunan serum asam amino esensial dan non esensial akan
menurunkan sekresi hidroksiprolin yang digunakan untuk pembentukan kolagen sehingga
rambut menjadi mudah rontok dan mudah dicabut.

3. Apa hubungan keluhan dengan diare ?5


penyebab diare diantaranya adalah infeksi, faktor malabsorbsi (kelainan pada
usus), faktor makanan (kelainana di luar usus), malnutrisi energi protein (atrofi vili).
Normalnya saat karbohidrat yang dimakan sehari-hari terdiri dari disakarida dan
polisakarida masuk kedalam usus kemudian diabsorbsi dan masuk melalui mikrovili usus
halus dan dipecah menjadi monosakarida oleh enzim disakaridase (lactase, sukrase,
maltase) yang ada dipermukaan mikrovili tersebut dengan demikian laktosa dipecah oleh
lactase menjadi glukosa dan galaktosa energy.
pada An. F, terjadi kekurangan kalori dan protein dilihat dari gejala klinis yang
ditemukan pada skenario. seperti yang kita ketahui protein berfungsi juga dalam regulasi
dan pembentukan enzim-enzim penting dalam tubuh, saat terjadi kekurangan asupan
protein baik karena makanan yang diberikan tidak mencukupi kadar protein yang
dibutuhkan selain itu juga karena terdapat hambatan dalam proses penyerapan dan juga
karena proses proteolisis yang terjadi maka kurangnya protein mengakibatkan kurangnya
enzim-enzim yang dibutuhkan, misalnya pada enzim disakaridase yang memecah
disakarida menjadi monosakarida, saat terjadi kekurangan enzim tersebut pada An. F
dapat terjadi intoleransi laktosa akibat enzim pencernaan yang kurang dan hal ini salah
satu penyebab terjadinya diare pada An. F sehingga terjadi malnutrisi yang terlihat pada

5
gejala klinis An. F. Oleh karena itu berdasarkan penelitian yang dilakukan
Scrimshaw,Taylor,dan Gordon (1968) terdapat hubungan antara diare dan malnutrisi.
Pertama,diare dapat menimbulkan malnutrisi dan sebaliknya malnutrisi juga dapat
menimbulkan diare, yang telah diterangkan tadi.
(sumber IKA)

4. Mengapa di usia 22 bulan An.F belum bisa berjalan, baru bisa duduk dan
pertumbuhannya lebih lambat di banding kakaknya ?6
Malnutrisi intake menurun glukoneogenesis, proteolisis, lipolisis, cadangan lemak
dan protein berkurang atropi otot tidak bisa berjalan.
faktor lain yang menyebabkan An.F belum bisa berjalan karena An. F kekuranga
gizi yang dilihat dari berat badan An.F yang akan mengalami pertumbuhan yang lambat pada
pertumbuhan fisiknya. selain itu faktor lain yang menyebabkan anak belum bisa berjalan karena
saat kurang di rangsangnya stimulus perkembangan An. F, yang berhubungan dengan
maturasinya sistem susunan saraf An. F dan kemungkinan juga jarang diajak orang tuanya untuk
latihan berjalan sehingga sistem saraf belum siap untuk itu pada kasus An. F, sehingga
kemampuan perkembangan gerakan motorik kasar. terhambat, yang seharusnya An. F bisa
berjalan pada usia13 bulan.

5. Apa hubungan latar belakang ( status social ekonomi ) orang tua dengan keluhan An.F ?7
a. Pola makan (Makanan pendamping ASI seadanya)
Protein dan karbohidrat adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh
dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup,
tidak semua makanan mengandung protein/ asam amino yang memadai. Bayi
yang masih menyusui umumnya mendapat protein dari ASI yang diberikan
ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI, protein dari sumber-sumber lain
(susu, telur, keju, tahu dan lain-lain ) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap
terjadinya kwashiorkor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti
ASI. dimana seharusnya pola pemberian makanan bayi selama masa transisi
adalah dimulai dari makanan lumat, secara bertahap ke makanan lembek, dan
pada umur sat tahun diharapkan anak sudah dapat makanan biasa. pada awal-awal
umur 4-6 bulan, anak dapat diberi buah-buahan lunak atau air buah (tujuannya
untuk memperkenalkan makanan selain ASI selain itu juga sebagai sumber

6
vitamin mineral dan sedikit kalori. tetapi untuk menambahkan kalori pada usia 4-
6 bulan dapat diberi makanan lumat sperti biscuit atau bubur susu (makanan
pokok sumber kalori di tambah protein hewani atau nabati).
b. Faktor sosial budaya (ayah bekerja sebagai buruh)
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan sosial
dan politik yidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan
tertentu dan sudah berlangsung turun-temurun dapat menjadi hal yang
menyebabkan terjadinya gizi buruk.
c. Faktor ekonomi (Penghasilan seadanya)
Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana
ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.
d. Faktor pendidikan orangtua (orang tuan An. F hanya tamat SD)
Pendidikan orangtua yang rendah membuat ketidaktahuan orangtua akan
kebutuhan gizi anaknya.

6. Apakah ada hubungan riwayat berat badan lahir 2 kg, panjang badan 40 cm dan lahir
spontan dengan keluhan An.F sekarang ?8
Kemungkinan ada hubungannya, pada saat lahir anak tersebut memiliki berat badan yang
kurang (2kg) dimana berat badan normal saat lahir adalah 2500-4000 gr dan tinggi badan
yang juga kurang (40cm) dimana tinggi badan normal saat lahir yakni 48-52 cm. Hasil
tersebut menandakan kebutuhan nutrisi an. F tidak tercukupi dan jika tidak ditangani
maka kekurangan nutrisi tersebut akan berlanjut hingga dewasa maka terjadilah
malnutrisi berkepanjangan menimbulkan keluhan-keluhan demikian.
Tabel berat badan ideal anak dan tinggi ideal anak untuk usia 0 sampai 5 tahun.

Berat (dalam gram) Tinggi (dalam cm)


Umur
Standard 80% Standard Standard 80% Standard
Lahir 3.400 2.700 50,5 40,40
1 Bulan 4.300 3.400 55,0 44,00
2 Bulan 5.000 4.000 58,0 46,40
3 Bulan 5.700 4.600 60,0 48,00
4 Bulan 6.300 5.000 60,5 48,40
5 Bulan 6.900 5.500 64,5 51,60
6 Bulan 7.400 5.900 66,0 52,80
7 Bulan 8.000 6.400 67,5 54,00
8 Bulan 8.400 6.700 69,0 55,20

7
9 Bulan 8.900 7.100 70,5 56,40
10 Bulan 9.300 7.400 72,0 57,60
11 Bulan 9.600 7.700 73,5 58,80
12 Bulan 9.900 7.900 74,5 59,60
1 tahun 3 bulan 10.600 8.500 78,0 62,40
1 tahun 6 bulan 11.300 9.000 81,5 65,20
1 tahun 9 bulan 11.900 9.500 84,5 67,60
2 tahun 0 bulan 12.400 9.900 87,0 69,60
2 tahun 3 bulan 12.900 10.300 89,5 71,60
2 tahun 6 bulan 13.500 10.800 92,0 73,60
2 tahun 9 bulan 14.000 11.200 94,0 75,20
3 tahun 0 bulan 14.500 11.600 96,0 76,80
3 tahun 3 bulan 15.000 12.000 98,0 78,40
3 tahun 6 bulan 15.500 12.400 99,5 79,60
3 tahun 9 bulan 16.000 12.800 101,5 81,20
4 tahun 0 bulan 16.500 13.200 103,5 82,80
4 tahun 3 bulan 17.000 13.600 105,0 84,00
4 tahun 6 bulan 17.400 13.900 107,0 85,60
4 tahun 9 bulan 17.900 14.300 108,0 86,40
5 tahun 0 bulan 18.400 14.700 109,0 87,20

Kesimpulan : Pada An.F, Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) berada di bawah
BB dan TB ideal. Dengan membandingkan TB/U, BB/TB, dapat disimpulkan bahwa
An.F mengalami malnutrisi kronik.

Tabel 3. Panduan klasifikasi malnutrisi pediatrik4

Status nutrisi Berat Tinggi Berat badan/tinggi badan % berat badan


badan/umur badan/umur ideal
kurus Normal atau Normal < persentil 5 < 85%-90%
rendah
Perawakan < persentil 5 < persentil 5 Normal Normal
pendek
Malnutrisi Normal atau Normal < persentil 5 81-90%
ringan rendah
Malnutrisi Normal atau Normal < persentil 5 70-80%

8
sedang rendah
Kwasiokhor Normal atau Normal atau Normal ( edema ) Normal
rendah rendah
Malnutrisi Rendah Normal atau < persentil 5 < 70%
kronik ( sangat rendah
kurus )

7. Bagaimana intepretasi dari hasil pemeriksaan fisik An.F ?9

Interpretasi pemeriksaan fisik didapatkan:

a. Anak apatis : dikarenakan terjadinya malnutrisi dan dehidrasi.


b. Konjungtiva palpebra anemis : terjadi anemia ( defisiensi Fe, asam folat, dan
vitamin)
c. Wajah tampak seperti wajah orang tua : disebakan berkurang atau hilangnya
lemak subkutan.
d. Rambut kemerahan dan mudah dicabut,: berkurangnya vitamin A,C,E dan protein
yang merupakan nutrisi penting bagi rambut.
e. Perut buncit : dapat terjadi pada anak yang mengalami malnutrisi
f. Otot-otot kaki atrofi : berkurangnya protein dan lemak di otot akibat proteolisis
dan lipolisis yang berlebihan.
g. Edema tibia (+) : peningkatan permeabilitas akibat hipoalbuminemia ( kurang
protein)
h. Crazy pavement dermatosis (+) : kulit berupa bercak merah muda yang meluas
dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas karena terjadi
defisiensi protein dalam jumlah yang tinggi dan jangka waktu yang lama. Terjadi
pada malnutrisi kwashiorkor.
i. Baggy pants (+) : otot paha mengendor akibat cadangan lemak berkurang.

8. Apa hubungan An.F yang diberi ASI 6 bulan, setelahnya diberi makanan pengganti ASI
seadanya, tidak diberi susu formula dengan keluhan saat ini?10
Pemberian hanya ASI saja, segera setelah bayi lahir sampai umur 6 bulan tanpa makanan
atau cairan lain termasuk air putih, kecuali obat dan vitamin disebut ASI eksklusif.
Dimana ASI ekslusif berfungsi untuk mencukupi gizi bayi.
Tabel 1. Komposisi kolostrum dan ASI (setiap 100 ml)

9
Setelah umur 6 bulan, setiap bayi membutuhkan makanan lunak yang bergizi yang sering
disebut Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pada skenario ini An. F mendapatkan MP
ASI seadanya.
Susu formula umum adalah formula yang disediakan untuk bayi sehat maupun sakit
dengan penyakit non metabolik sebagai pengganti ASI. Susu formula khusus adalah formula
yang disediakan untuk bayi atau anak dengan penyakit metabolik bawaan atau didapat, seperti
maldigesti, malabsorbsi, dan gangguan enzim maupun hormonal.
Pada kasus ini dengan BB lahir anak yang awalnya 2 kg dimana kemungkinan bayi lahir
prematur atau bisa juga normal berarti telah terjadi kekurangan nutrisi sejak dalam kandungan.
Pemberian konsumsi gizi pada anak yang hanya sebatas ASI dan MP-ASI seadanya tidak dapat
menggantikan kekurangan kalori pada anak. Seharusnya dengan berat badan lahir kurang
tersebut pemberian ASI tidak hanya sampai usia bayi tersebut 6 bulan namun harus diteruskan
hingga gizi anak mencukupi dan frekuensi pemberian ASI juga harus lebih sering dan diberikan
dengan menggunakan pipa sonde karena refleks menghisap pada bayi ini belum berfungsi
dengan baik. Juga memberikan MP-ASI tidak bisa hanya seadanya, pada anak yang BB lahirnya
normal MP-ASI diberikan dengan frekuensi 2-3 kali dalam sehari maka dari itu untuk An. F
harus diberikan lebih sering bisa sampai 5 kali atau lebih dalam sehari.
Tidak diberikannya susu formula mungkin juga berhubungan dengan status pekerjaan
orang tua dan keadaan ekonomi keluarga dimana susu formula memang terbilang cukup mahal.
Sehingga pada kasus ini anak yang hanya diberikan ASI selama 6 bulan, seharusnya sebagai
pengganti ASI, susu formula perlu diberikan. Dan juga mengingat BB lahir An. F yang rendah,
maka sebaiknya dari lahir disamping pemberian ASI yang utama, berikan juga susu formula

10
khusus untuk bayi berat badan lahir rendah, untuk memenuhi kekurangan nutrisi dan mengejar
pertumbuhan agar sesuai dengan pertumbuhan anak lain yang seusianya.

Kesimpulan berdasarkan skenario :

Sehingga hubungannya dengan keluhan yang dialami An. F adalah An. F telah
mengalami kekurangan gizi sejak lahir dengan pemberian nutrisi yang tidak mencukupi, dimana
setelah 6 bulan kebutuhan nutrisi bayi akan meningkat. Kebutuhan nutrisinya tidak tercukupi
hanya dari ASI saja. Sekitar 70% tercukupi dari ASI dan 30% nya dari makanan pendamping.
Berikut ini merupakan makanan pendamping ASI yang seharusnya diberikan pada An. F .
Makanan Pendamping ASI
Tujuan pemberian :
a) Memenuhi kebutuhan zat makanan yang adekuat untuk keperluan hidup,
memelihara kesehatan dan untuk aktivitas sehari-hari.
b) Menunjang tercapainya tumbuh kembang yang optimal
c) Mendidik anak supaya terbina selera dan kebiasaan makan yang sehat, memilih
dan menyukai makanan sesuai dengan keperluan anak.

Tahapan MP-ASI :

1) Sebaiknya MP-ASI diberikan pada umur 4-6 bulan. Pada umut 4-6 bulan pertama
sebaiknya diberi ASI eksklusif.
2) MP-ASI yang diberikan harus dengan susunan menu seimbang ( berasal dari 10-
15% dari protein, 25-35% dari lemak dan 50-65% dari karbohidrat).
3) Pada umur 4-6 bulan, anak dapat diberi buah-buahan lunak atau air buah. Untuk
menambah kalori dapat ditambahkan makan lumat seperti biscuit atau bubur susu.
4) Pada umur 4-6 bulan An.F harus mendapatkan tambahan besi, hal ini didapatkan
dari susu formula. Sebaiknya susu formula yang diberikan adalah susu formula
khusus misalnya untuk pertumbuhan ( growing-up formula ), susu ini selain untuk
pertumbuhan anak, juga sangat baik untuk suplemen anak yang mengalami
kesulitan makan.
5) Pada umur 6-12 bulan anak dapat diberikan makanan lembek/ nasi tim/ multi
mixes. Makanan lembek adalah makanan bayi yang terdiri dari 4 campuran
komponen dasar yaitu; makanan pokok ( padi-padian/umbi-umbian/akar-akaran),
makanan sumber protein; protein hewani ( susu, telor, ikan daging, hati, keju) dan
protein nabati ( kacang-kacangan, tahu, tempe), makanan sumber vitamin dan

11
mineral : buah-buahan, sayur-sayuran, makanan sumber energy: lemak, minyak,
mentega, santan, gula.
6) ASI tetap komponen pokok, karena ASI merupakan sumber energy dan nutrient
selama masa transisi. ASI sebaiknya diteruskan sampai anak berusia 2 tahun.
7) Pada umur setahun anak sudah bisa makan menu makanan keluarga yang tidak
berbumbu keras/pedas.
8) Anak yang sudah sampai umur 2 tahun bisa diberi nasi tim atau makanan lumat.
Bisa diajar untuk makan sendiri dengan menggunakan gelas dan piring sendiri.
9) Untuk mencegah kekurangan gizi maka berat badan An.F harus dipantau terus
secara berkesinambungan dengan menggunakan KMS.

9. Bagaimana cara pengukuran status gizi dengan antropometri pada anak menurut WHO
NCHS dan CDC ?11

CARA PENGUKURAN STATUS GIZI


PENIMBANGAN BERAT BADAN
1. Letakkan timbangan digital ( Seca Scala) pada permukaan yang rata dan keras.
2. Cek timbangan, periksa apakah timbangan masih berfungsi dengan baik.
3. Pengukur meminta klien membuka jaket,sepatu/alas kaki, atau barang yang
memberatkan.
4. Nyalakan connector dan tunggu sampai angka menunjukkan Nol
5. Persilahkan klien naik ke atas timbangan tepat ditengah tempat pijakan.
6. Baca hasil, lalu catat.

12
7.Untuk menimbang bayi, setelah hasil timbangan ibu dicatat, kemudian normalkan
timbangan seca sampai angka nol dan keluar tanda/gambar bayi.
8. Berikan bayi pada ibu kemudian baca hasil timbangan.
9. Catat hasil timbangan bayi.
Titik Kritis :
a) Lepaskan sepatu dan benda yang bias memberatkan
b) Posisi badan tegak
c) Catat hasil timbangan dengan menggunakan alat yang ketelitiannya 0.1 kg.
d) Untuk menimbang bb bayi, normalkan kembali setelah ibu di timbang.

PENGUKURAN PANJANG BADAN


1. Siapkan alat pengukuran panjang badan,letakkan alat pada permukaan yang
datar,lalu rangkai alat dengan benar.
2. Tarik papan penggeser sampai menempel rapat ke dinding tempat menempelnya
kepala.
3. Beri alas pada papan tempat anak di baringkan.
4. Lepas semua asesoris yang menempel di rambut agar tidak mengganggu
pengukuran
5. Tidurkan bayi/ anak pada alat dengan posisi kepala menempel pada dinding papan
atas.
6. Tangan kiri pengukur memegang bagian lutut, tangan kanan memegang telapak
kaki sampai berdiri, lalu geser alat sampai menekan telapak kaki bayi/anak.
7. Asisten memegang bagian kepala anak agar menempel dinding bagian atas alat.
8. Pandangan anak lurus, jika anak rewel minta bantuan kepada orang tua untuk
mengajak bicara, sehingga pandangan lurus, antara mata dengan telinga
membentuk 90 derajat.
9. tekan lutut dan telapak kaki harus lurus, apabila telapak kaki anak tidak tegak,
maka usap telapak kaki hingga kembali lurus.
10. geser alat sampai menekan telapak kaki bayi/anak.
11. baca hasil ukur dalam akurasi 1 m, dan catat
Titik Kritis :
a. Tenangkan bayi/anak.
b. Luruskan seluruh bagian tubuh dan lutut.
c. Posisi telapak kaki harus lurus/berdiri.
d. Catat PB ( cm ) dengan ketelitian 1mm.

PENGUKURAN TINGGI BADAN

13
1. Siapkan alat pengukur tinggi badan, letakkan pada tempat yang rata.
2. Klien diminta melepaskan sepatu/alas kaki, dan aksesoris pada rambut yang
akan mengganggu pengukuran.
3. Persilahkan klien untuk niak ke papan alas dan menempel membelakangi
dinding.
4. Aturlah telapak kaki klien agar menapak sempurna pada papan alas, dan
kepala, bahu, pantat, betis serta tumit harus menempel pada dinding yang rata.
5. Tangan kanan asisten memegang tumit serta tangan kiri menekan bagian perut
( bagi anak-anak ) dan suruh menarik nafas (orang dewasa )
6. Pandangan klien harus tegak lurus.
7. Ukur, dan catat hasil pengukuran dengan ketelitian alat 1 mm.
Titik Kritis :
a. Buka alas kaki dan asesoris di kepala/rambut
b. Berdiri sejajar ( tegak lurus ) dengan dinding pengukur.
c. Perhatikan posisi kepala, pandangan harus lurus ke depan.
d. Dewasa : dengan menarik nafas
Anak-anak : tekan pada bagian perut
e. Catat hasil dengan ketelitian 1 mm.

LINGKAR KEPALA
1. Lingkarkan pita lingkar kepala pada kepala kepala anak
2. Cek posisi pita
3. Baca hasilnya, dan catat

Titik Kritis :
a.lingkarkan pita lingkar kepala dengan tepat di kening.
b. Cek posisi pita jangan sampai longgar
c.Posisi pita ukur harus tepat pada bagian kepala yang paling menonjol
d. Catat hasilnya dengan ketelitian 1 mm

LINGKAR LENGAN ATAS ( ANAK DAN DEWASA )


1. Tetapkan posisi tengah pada lengan bagian atas.
2. Lengan sebelah kiri di tekuk membentuk sudut 90 derajat
3. Cari tulang bahu paling ujung lalu beri tanda.
4. Ukur dari tulang bahu yang telah diberi tanda sampai siku, kemudian cari
posisi tengahnya, lalu beri tanda.( dilihat dan di ukur dari posisi belakang
lengan)

14
5. Lalu ukur menggunakan pita lila, catat hasilnya.

LINGKAR LENGAN ATAS ( BAYI )


1. Tangan kiri anak harus dalam keadaan rileks atau santai
2. Cari titik tengahnya, dan beri tanda
3. Ukur posisi lengan dengan pita lila menekan jaringan kulit
4. Catat hasilnya dengan ketelitian 1 mm
Titik kritis :
a. Menentukan tulang bahu sampai siku
b. Menentukan titik tengah yang akan diukur
c. Posisi pita tidak boleh menekan atau terlalu longgar pada pengukuran
d. Ketelitian alat 1 mm

KRITERIA MEMENTUKAN STATUS GIZI


Langsung : Tak langsung :
1. Antropometri 1. Survey konsumsi
2. Biokimia 2. Statistic vital
3. Klinis 3. Factor ekologi
4. biofisik

Penggolongan keadaan gizi menurut indeks Antropometri.

INTEPRETASI KASUS PADA SKENARIO

Cara WHO-CDC-NCHS

Nilai sekarang / Nilai ideal menurut umur pada kurva CDC- NCHS x 100% =.%

4,8 : 12,5 x 100% = 38,4% ( An.F mengalami gizi buruk karena kurang dari 60%)
Tabel 2. Untuk nilai ideal menurut umur dapat di lihat pada Kurva CDC-NCHS
WHO.

Status gizi Indeks


BB/U TB/U BB/TB
Gizi baik >80% >90% >90%
Gizi sedang 71% - 80% 81% - 90% 81% - 90%
Gizi kurang 61% - 70% 71% - 80% 71% - 80%
Gizi buruk 60% 70% 70%
Catatan : persen dinyatakan terhadap median baku NCHS

Tabel 3. Penilaian menurut cara WHO

15
BB/TB BB/U TB/U Status Gizi
Normal Rendah Rendah Baik, pernah kurang
Normal Normal Normal Baik
Normal Tinggi Tinggi Jangkung, masih
baik
Rendah Rendah Tinggi Buruk
Rendah Rendah Normal Buruk, kurang
Rendah Normal Tinggi Kurang
Tinggi Tinggi Rendah Lebih, obesitas
Tinggi Tinggi Normal Lebih, tidak
obesitas
Tinggi Tinggi Rendah Lebih, pernah
kurang

Menurut Rumus Z Score

a. Nilai individu subjek > nilai median


Z Score = (nilai individual subjek) (nilai median baku rujukan)
(nilai +1 SD) - (Nilai median baku rujukan)
b. Nilai individu subjek < nilai median

Z Score = (nilai individual subjek) (nilai median baku rujukan)


Nilai median baku rujukan (nilai -1 SD)

c. Nila individu subjek = nilai median


Z Score = (nilai individual subjek) (nilai median baku rujukan)
Nilai median baku rujukan

Anak F :

- Usia : 22 bulan
- Berat badan : 4,8 kg
- Panjang badan : 60 cm

16
Indeks BB/U
Z Score = (4,8 11,8)/11,8-10,5)
= -7/1,3
= -5,38
Interpretasi : Nilai z score -5,38 menunjukkan bahwa berat badan An.F sangat
rendah (severe underweight).

Indeks PB/U

Z Score = (60-86,0)/(86-83,1)
= -26/2,9
= -8,9

Interpretasi : Nilai z score -8,9 menunjukkan bahwa An.F panjang badan An.F sangat

pendek ( severe stunted ).

Indeks BB/PB

Z Score = (4,8-5,9)/(5,9-5,5)
= -1,1/0,4
= -2,75

Intepretasi : Nilai z score -2,75 menunjukkan keadaan An.F sangat kurus.

Tabel 4. Klasifikasi Status Gizi Sesuai Z Score

INDEKS STATUS GIZI Z-SKOR

BB/U BB LEBIH (OVER WEIGHT) >+ 2 SD

BB NORMAL (NORMAL WEIGHT) -2 SD S/D +2 SD

BB RENDAH (UNDER WEIGHT) -3 SD S/D <-2 SD

BB SANGAT RENDAH (SEVERE <-3 SD

UNDER WEIGHT)

17
TB/U TB JANGKUNG (TALL) >+ 2 SD

PB/U TB NORMAL (NORMAL HEIGHT) -2 SD S/D +2 SD

TB PENDEK (STUNTED) -3 SD S/D <-2 SD

TB SANGAT PENDEK (SEVERE STUNTED) <-3 SD

BB/TB GEMUK (FATTY) >+ 2 SD

BB/PB NORMAL -2 SD S/D +2 SD

KURUS (WASTED) -3 SD S/D <-2 SD

SANGAT KURUS (SEVERE WASTED) <-3 SD

MENURUT KMS ( Kartu Menuju Sehat )

18
Cara Membaca KMS

Keterangan :
Gizi buruk : pita merah kebawah
Status waspada : pita kuning ke hijau muda
Gizi normal : pita hijau tua
Kelebihan berat badan : pita hijau muda ke kuning

Cara membaca KMS :


a. Isikan bulan lahir anak pada 0 bulan lahir
b. Tulis semua kolom bulan penimbangan berikutnya secara berurutan.
c. Tulis bulan saat penimbangan pada kolom sesuai umurnya.

19
d. Tulis semua kolom bulan penimbangan berikutnya secara berurutan

e. Tulis berat badan di bawah kolom bulan saat penimbangan


f. Letakkan titik berat badan pada titik temu garis tegak (umur) dan garis datar (berat badan).
g. Hubungkan titik berat badan bulan ini dengan bulan lalu. Jika bulan sebelumnya anak
ditimbang, hubungkan titik berat badan bulan lalu dengan bulan ini dalam bentuk garis lurus
h. Jika anak bulan lalu tidak ditimbang, maka garis pertumbuhan tidak dapat dihubungkan

Menentukan Status Pertumbuhan anak

20
Status pertumbuhan anak dapat diketahui dengan 2 cara yaitu dengan menilai garis
pertumbuhannya, atau dengan menghitung kenaikan berat badan anak dibandingkan dengan
Kenaikan Berat Badan Minimum (KBM). Kesimpulan dari penentuan status pertumbuhan
adalahseperti tertera sebagaiberikut:

21
22
Contoh disamping menggambarkan status pertumbuhan berdasarkan grafik
pertumbuhan anak dalam KMS: Catat setiap kejadian kesakitan yang dialami anak.
Contoh:
a. TIDAK NAIK (T); grafik berat badan memotong garis pertumbuhan dibawahnya;
kenaikan berat badan < KBM (<800 g)
b. NAIK (N), grafik berat badan memotong garis pertumbuhan diatasnya; kenaikan berat
badan > KBM (>900 g)
c. NAIK (N), grafik berat badan mengikuti garis pertumbuhannya; kenaikan berat badan
> KBM (>500 g)

23
d. TIDAK NAIK (T), grafik berat badan mendatar; kenaikan berat badan < KBM (<400
g)
e. TIDAK NAIK (T), grafik berat badan menurun; grafik berat badan < KBM (<300 g)

Interprestasinya:
Berdasarkan skenario umur anak 22 bulan dan berat badan hanya 4,8 kg
berdasarkan grafik berada pada garis dibawah pita merah (pada gambar di bawah ini
ditunjukkan oleh tanda panah) artinya anak mengalami gizi buruk.

10. Apa diagnosis banding dari keluhan An.F ?4,7


a) Tidak mau makan : kwashiorkor, diare, gangguan hipotalamus, masalah pada
mulut (sariawan, sakit gigi).
b) Semakin lama semakin kurus dan lemas : hipertiroid, DM, diare kronik, HIV
c) Mata cekung, bibir kering : dehidrasi, gangguan hormon ADH, diare

24
d) Perut, muka, kaki membesar : sindrom nefrotik, chusing sindrom, filariasis
e) Rambut tipis dan mudah rontok : kwashiorkor, post kemoterapi
f) Diare : gastroenteritis, irritable bowel syndrome, HIV, hipertiroid, disentri,
tifoid
g) Belum bisa berjalan : folio, fraktur, TBC tulang, cerebral palsy
h) Apatis : hipoglikemi, stress, gangguan elektrolit
i) Conjungtiva palpebra anemis : anemia, malaria, DBD, hemofilia, thalasemia,
sickle cell anemia
j) Crazy Pavement Dermatosis : Kwashiorkor
k) Baggy pant : Marasmus

11. Bagaimana alur diagnose dari penyakit yang diderita An.F ?11
Anamnesis
Awal :
1) Kejadian mata cekung yang baru saja muncul
2) Lama dan frekuensi muntah atau diarea serta tampilan bahan muntah atau
diare
3) Saat terakhir kencing
4) Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin
Pada An.F didapatkan hasil anamnesis ;
Laki laki, usia 22 bulan, BB 4,8 kg, dan PB 60 cm
Keluhan utama : tidak mau makan
Badan semakin lama semakin kurus
Sangat kurus
Tampak lemas
Mata cekung
Perut, muka, dan kaki membesar
Rambut tipis dan mudah rontok
Bibir kering
Sering diare
Belum bisa berjalan, dan pertumbuuhan lebih lambat
Riwayat ekonomi keluarga : lemah
Mendapatkan ASI selama 6 bulan, setelah itu mpASI seadanya.
Riwayat imunisasi An. F
Riwayat tumbuh kembang An. F terlambat dari kakaknya

Lanjutan :

1) Kebiasaan makan sebelum sakit


2) Makan/minum/menyusui pada saat sakit
3) Jumlah makanan dan cairan yang didapat dalam beberapa hari terakhir.
4) Kontak dengan penderita campak atau tuberculosis paru

25
5) Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
6) Kejadian dan penyebab kematian dari kakak atau adik
7) Berat badan lahir
8) Tumbuh kembang, misalnya : duduk, berdiri dan lain-lain
9) Riwayat imunisasi
10) Apakah ditimbang setiap bulan di posyandu
11) Apakah sudah mendapatkan imunisasi lengkap

Pemeriksaan Fisik

1) Tanda vital
2) Mengukur TB dan BB
3) Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan
TB (dalam meter) dikuadratkan
4) Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan
trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya
dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper).
Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan
lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
5) Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk
memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa
tubuh yang tidak berlemak).
6) Apakah anak tampak sangat kurus/ edema/ pembengkakan kedua kaki
7) Tanda-tanda terjadinya syok ( renjatan ) : tangan dan kaki dingin, nadi lemah
dan kesadaran menurun.
8) Suhi tubuh : hipotermia atau demam
9) Kehausan
10) Frekuensi pernafasan dan tipe pernafasan : gejala pneumonia atau gejala
gagal jantung
11) Berat badan dan tinggi badan atau panjang badan
12) Pembesaran hati dan adanya kekuningan ( ikterus ) pada bagian putih mata
(conjungtiva)
13) Adanya perut kembung, suara usus dan adanya suara seperti pukulan pada
permukaan air ( abdominal splash )
14) Pucat yang sangat berat terutama pada telapak tangan ( bandingkan dengan
telapak tangan ibu )
15) Gejala pada mata : kelainan pada kornea dan konjungtiva sebagai tanda
kekurangan vitamin A
16) Telinga, mulut dan tenggorokan : tanda-tanda infeksi

26
17) Kulit : tanda-tanda infeksi atau adanya purpura
18) Tampilan ( konsisten ) dari tinja.

Pada Anak F didapatkan hasil pemeriksaan fisik yang patognomosis, yaitu :

Anak apatis
Konjungtiva palpebra anemis
Wajah tampak seperti wajah orang tua
Perut buncit
Otot otot kaki atrofi
Edema tibia (+)
Crazy pavement dermatosis (+)
Baggy pants (+)

Pemeriksaan penunjang

Tes Laboratorium
Glukosa darah: Hipoglikemia jika < 3 mmol / L.
Pemeriksaan smear darah dengan mikroskop atau langsung tes deteksi:
Kehadiran parasit adalah indikasi infeksi. Tes langsung cocok tapi mahal.
Hemoglobin: Level lebih rendah dari 40 g/L adalah menunjukkan anemia
parah.
Pemeriksaan urin dan kultur: Bila lebih dari 10 leukosit per bidang daya tinggi
adalah indikasi infeksi. Nitrit dan leukosit diuji pada Multistix juga.
Pemeriksaan mikroskop: Parasit dan darah adalah indikasi dari disentri.
Albumin: Meskipun tidak berguna untuk diagnosis, itu adalah panduan untuk
prognosis; jika albumin yang lebih rendah dari 35 g / L, sintesis protein secara
massal terganggu.
Elektrolit: Mengukur elektrolit jarang membantu dan mungkin menyebabkan
terapi tidak tepat. Hiponatremia adalah temuan yang signifikan.
Alur pencarian kasus anak gizi buruk, yaitu :
a) Penemuan Anak Gizi Buruk, dapat menggunakan data rutin hasil
penimbangan anak di posyandu, menggunakan hasil pemeriksaan di fasilitas
kesehatan (Puskesmas dan jaringannya, Rumah Sakit dan dokter/bidan
praktek swasta), hasil laporan masyarakat (media massa, LSM dan organisasi
kemasyarakatan lainnya) dan skrining aktif (operasi timbang anak).

27
b) Penapisan Anak Gizi Buruk, anak yang dibawa oleh orangtuanya atau anak
yang berdasarkan hasil penapisan Lila < 12,5 cm, atau semua anak yang
dirujuk dari posyandu (2T dan BGM) maka dilakukan pemeriksaan
antropometri dan tanda klinis, semua anak diperiksa tanda-tanda komplikasi
(anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam sangat
tinggi, penurunan kesadaran), semua anak diperiksa nafsu makan dengan cara
tanyakan kepada orang tua apakah anak mau makan/tidak mau makan
minimal dalam 3 hari terakhir berturut-turut.
c) Bila dalam pemeriksaan pada anak didapatkan satu atau lebih tanda berikut:
tampak sangat kurus, edema minimal pada kedua punggung kaki atau tanpa
edema, BB/PB atau BB/TB < -3 SD, LiLA < 11,5 cm (untuk anak usia 6-59
bulan), nafsu makan baik, maka anak dikategorikan gizi buruk tanpa
komplikasi dan perlu diberikan penanganan secara rawat jalan.
d) Bila hasil pemeriksaan anak ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: tampak
sangat kurus, edema pada seluruh tubuh, BB/PB atau BB/TB < -3 SD, LiLA <
11,5 cm (untuk anak usia 6-59 bulan) dan disertai dari salah satu atau lebih
tanda komplikasi medis sebagai berikut: anoreksia, pneumonia berat, anemia
berat, dehidrasi berat, demam sangat tinggi, penurunan kesadaran, maka anak
dikategorikan gizi buruk dengan komplikasi sehingga perlu penanganan
secara rawat inap.
e) Bila hasil pemeriksaan anak ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: BB/TB <
-2 s/d -3 SD, LiLA 11,5 s/d 12,5 cm, tidak ada edema, nafsu makan baik, tidak
ada komplikasi medis, maka anak dikategorikan gizi kurang dan perlu
diberikan PMT Pemulihan.
f) Bila kondisi anak rawat inap sudah membaik dan tidak lagi ditemukan tanda
komplikasi medis, tanda klinis membaik (edema kedua punggung tangan atau
kaki), dan nafsu makan membaik maka penanganan anak tersebut dilakukan
melalui rawat jalan.
g) Bila kondisi anak rawat inap sudah tidak lagi ditemukan tandatanda
komplikasi medis, tanda klinis baik dan status gizi kurang, nafsu makan baik
maka penanganan anak dengan pemberian PMT pemulihan.
h) Anak gizi buruk yang telah mendapatkan penanganan melaluirawat jalan dan
PMT pemulihan, jika kondisinya memburuk dengan ditemukannya salah satu

28
tanda komplikasi medis, atau penyakit yang mendasari sampai kunjungan ke
tiga berat badan tidak naik (kecuali anak dengan edema), timbulnya edema
baru, tidak ada nafsu makan maka anak perlu penanganan secara rawat inap.

12. Apa yang terjadi dengan An.F ?7


An.F mengalami malnutrisi atau KKP ( kurang kalori protein) dengan tipe campuran
yaitu marasmus dan kwasiokor. Dimana menurut IDAI kriteria diagnosis seseorang
menderita KKP adalah13 :
a. Terlihat sangat kurus
b. Edema nutrisional simetris
c. BB/TB <-3 SD
d. Lingkar lengan atas < 11,5

Pada An.F dalam skenario menyatakan bahwa An.F terlihat sangat kurus, ada edema
dan bb/pb < -3SD hal ini sudah menunjukkan bahwa An.F mengalami kekurangan
kalori protein ( KKP ).13

13. Apa defenisi dari penyakit An.F ?4


Kurang kalori protein adalah defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang
mendapatkan masukan makanan yang cukup gizi ataupun asupan kalori dan protein
kurang dalam waktu yang cukup lama.

14. Apa etiologi dari penyakit An.F ?11


Etiologi KKP berdasarkan penyebab langsung dan tidak langsung :
Penyebab langsung :
Konsumsi yang kurang dalam jangka waktu yang lama
Kurangnya asupan makanan; bisa disebabkan oleh kurangnya asupan yang
masuk, atau karena kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara
pemberian yang salah.
Adanya penyakit; terutama penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan
makanan dan penggunaan nutrien dalam tubuh.

Penyebab tidak langsung :

Keterbatasan keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan makanan


Kualitas perawatan ibu dan anak
Buruknya pelayanan kesehatan
Sanitasi lingkungan yang buruk
Etiologi KKP berdasarkan penyebab primer dan sekunder :

29
Primer
Kurangnya asupan energi, protein maupun keduanya
Sekunder
Oleh karena penyakit tertentu yang menyebabkan intake yang tidak optimal,
absorbs maupun penggunaan yang tidak adekuat serta meningkatnya kebutuhan
karena kehilangan gizi maupun meningkatnya penggunaan energy.

15. Apa epidemiologi dari penyakit An.F ?4,7


Marasmus :
Marasmus sering dijumpai pada usia 0-2 tahun.
Pada masyarakat yang menderita kelaparan.
Menurut data WHO sekitar 49 % dari 10,4 juta kematian yang terjadi pada anak
anak dibawah usia 5 tahun di Negara berkembang berkaitan dengan defisiensi
energy dan protein sekaligus.
Kwashiorkor :
Kwashiorkor dijumpai terutama pada golongan umur tertentu yaitu bayi pada
masa menyusui dan pada anak prasekolah, 1 hingga 3 tahun yang merupakan
golongan umur yang relatif memerlukan lebih banyak protein untuk tumbuh
sebaik-baiknya.
Sindrom demikian kemudian dilaporkan oleh berbagai negeri terutama negeri
yang sedang berkembang seperti Afrika, Asia, dan bagian-bagian termiskin di
Eropa . Penyakit ini banyak terdapat anak dari golongan penduduk yang
berpenghasilan rendah.
Bahan makanan tersebut cukup mahal , sehingga tidak terjangkau oleh mereka
yang berpenghasilan rendah. Akan tetapi faktor ekonomi bukan merupakan satu-
satunya penyebab penyakit ini. Pengetahuan yang kurang tentang nilai bahan
makanan, cara pemeliharaan anak. Keadaan higiene yang buruk, sehingga mereka
mudah dihinggapi infeksi dan infestasi parasit dan timbulnya diare mempercepat
atau merupakan trigger mechanisme dari penyakit ini.
Penyakit ini terdapat pada anak dari golongan penduduk yang berpenghasilan
rendah.
16. Bagaimana patofisiologi dan pathogenesis dari penyakit An.F ?4,7
Malnutrisi atau gizi buruk merupakan sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor
diet memegang peranan penting disamping faktor lain seperti faktor lingkungan, faktor
host, ataupun faktor agent. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha
untuk memenuhi kebutuhan energi yang seharusnya. Kemampuan tubuh menggunakan

30
karbohidrat, protein, dan lemak merupakan hal yang penting untuk mempertahankan
kehidupan; karbohidrat dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh seperti bahan bakar,
namun kemampuan penyimpanan karbohidrat tidak lama, sehingga setelah 25 jam sudah
dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi dengan menghasilkan
asam amino yang akan diubah menjadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selama puasa
jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan badan keton. Otot dapat
mempergunakan asam lemak dan badan keton sebagai sumber energi bila terjadi
kekurangan asupan. Tubuh akan terus mempertahankan diri untuk memenuhi kebutuhan
normal tubuh. Namun, pada malnutrisi sudah tidak ada lagi cadangan makanan yang
dapat digunakan sebagai sumber energi. Sehingga tubuh akan mengalami defisiensi
nutrisi yang berlebihan dan dapat sebabkan kematian.
Anak-anak dengan KKP kronis, tergolong kecil untuk anak seumurannya dan cendrung
tidak aktif secara fisik, apatis dan mudah terkena infeksi. Anoreksia dan diare juga sering
dijumpai pada anak yang mengalami KKP. Pada KKP akut, anak tampak kecil, sangat
kurus tampak seperti tulang yang hanya dilapisi kulit tanpa adanya jaringan lemak
dibawah kulit, kulit kering dan baggy pants, rambut jarang dan berwarna coklat atau
kusam atau kuning kemerahan. Temperatur tubuh rendah, denyut nadi dan frekuensi
pernafasan melambat. Mereka juga tampak lemah, irritable dan biasanya lapar walaupun
ada beberapa yang mengalami anoreksia disertai mual dan muntah. Pada penderita yang
mengalami KKP, gejala klinis yang khas untuk marasmus adalah triangular face, amenore
primer atau sekunder, perut melar ( akibat dari hipotonus otot absomen ), prolapsus anal
atau rectal ( akibat kehilangan lemak perianal ), sedangkan pada penderita kwasiokhor
manifestasi klinis yang sering dijumpai adalah edema, perubahan pada warna kulit dan
rambut, anemia, hepatomegali, letargi
17. Apa faktor risiko dari penyakit An.F ?11
1) Asupan makanan
Asupan makanan yang kurang dapat disebabkan berbagai faktor; tidak tersedianya
makanan secara adekuat, anak tidak cukup atau salah mendapat makanan bergizi
seimbang, dan pola makan yang salah.
2) Status sosial ekonomi
Rendahnya ekonomi keluarga, berdampak dengan rendahnya daya beli keluarga
tersebut selain itu rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan merupakan
faktor langsung dari malnutrisi

31
3) Pendidikan ibu
Pengetahuan yang dimiliki ibu berpengaruh terhadap pola konsumsi keluarga.
Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan
yang rendah, dan dapat mempersulit kualitas hidup baik orang tua maupun anak.
4) Penyakit penyerta
Anak yang berada dalam status gizi buruk sangat rentan terhadap penyakit.
Penyakit yang rentan menyertai; diare persisten, tuberkulosis, dan HIV/AIDS.
5) Kesalahan pemberian makanan pada bayi
Kesalahan pemberian makanan pada bayi mempunyai pengaruh kuat terjadinya
KKP pada awal kehidupan balita. Seringkali bayi tidak memperoleh ASI yang
adekuat. Soal pemberian makanan pendamping ASI ( MP-ASI) terlalu dini atau
terlambat dan jumlah serta mutu MP-ASI tidak cukup akan membuat
pertumbuhan balita terhambat.

18. Bagaimana manifestasi klinis dari penyakit An.F ?4,7


Untuk KKP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus.
Gejala klinis KKP berat/gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus,
kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor. Tanpa mengukur/melihat BB bila disertai
edema yang bukan karena penyakit lain adalah KKP berat/Gizi buruk tipe kwasiorkor.
Semua penderita KKP berat umumnya disertai dengan anemia dan defisiensi
mikronutrien lain

a. Kwashiorkor
Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki (dorsum pedis)
Wajah membulat dan sembab
Pandangan mata sayu
Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa
sakit, rontok
Perubahan status mental, apatis, dan rewel
Pembesaran hati
Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna
menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavement dermatosis)

32
Sering disertai :
Penyakit infeksi, umumnya akut
Anemia
Diare.
b. Marasmus :
- Tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit
- Wajah seperti orang tua
- Cengeng, rewel
- Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy
pant/pakai celana longgar)
- Perut cekung
- Iga gambang
- Sering disertai : - penyakit infeksi (umumnya kronis berulang)
- diare kronik atau konstipasi/susah buang air

c. Marasmik-Kwashiorkor :
- Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik Kwashiorkor
dan Marasmus, dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai edema
yang tidak mencolok.

Manifestasi klinis pada malnutrisi

Marasmus Kwasiokhor
Gagal tumbuh ++ +
Severely underweight ++ -
Kehilangan massa otot + ++
Edema - +
Apatis, lemah + ++
Iritable + +
Ketidakseimbangan elektroli + +
( hipokalemia )
Hipoalbuminemia - +
Anemia - +++
Perlemakan hati - +
Suhu tubuh menurun + ++

33
Crazy pavement dermatosis - +

Tanda-tanda dari KKP dibagi menjadi 2 macam yaitu ;

a) KKP Ringan
- Pertumbuhan linear terganggu
- peningkatan berat badan berkurang, terhenti, bahkan menurun
- Ukuran lingkar lengan atas menurun
- Maturasi terlambat
- Ratio berat terhadap tinggi normal atau cendrung menurun
- Anemia ringan atau pucat
- Aktivitas berkurang
- Kelainan kulit ( kering, kusam )
- Rambut kemerahan
b) KKP Berat
- Gangguan pertumbuhan
- Mudah sakit
- Kurang cerdas
- Jika berkelanjutan menimbulkan kematian

19. Bagaimana klasifikasi dari penyakit An.F ?6,11


Berdasarkan berat tidaknya, KKP dibagi menjadi ;
a) KKP ringan / sedang disebut juga sebagai gizi kurang ( undernutrition ) ditandai
dengan adanya hambatan pertumbuhan.
b) KKP berat, meliputi ; kwasiokhor, marasmus, marasmus-kwasiokhor

Manifestasi KKP tercermin dalam bentuk fisik tubuh yang apabila diukur secara
antropometri ( TB/U, BB/U, BB/TB ) kurang dari nilai baku yang dianjurkan.

Klasifikasi Kurang Kalori Protein

Normal Mild Moderate Severe


BB/TB 110-90 90-85 85-75 <75
BB/U 110-90 90-81 80-61 <60
BB/U >90 90-87 87-80 <60
TB/U >95 98-87 87-80 <80
BB/TB 90 90-80 80-70 <70

34
20. Apa komplikasi dari penyakit An.F ?7
Berikut merupakan beberapa komplikasi dari malnutrisi :
1. Gangguan mata

35
2. Gangguan kulit
3. Diare persisten
4. Anemia berat
5. Parasit/cacing
6. Tuberculosis
7. Malaria
8. HIV

21. Bagaimana tatalaksana dari penyakit An.F ?6


PRINSIP DASAR PELAYANAN RUTIN KEP BERAT/GIZI BURUK :
Pelayanan rutin yang dilakukan di puskesmas berupa 10 langkah penting yaitu:
1. Atasi/cegah hipoglikemia
2. Atasi/cegah hipotermia
3. Atasi/cegah dehidrasi
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
5. Obati/cegah infeksi
6. Mulai pemberian makanan
7. Fasilitasi tumbuh-kejar (catch up growth)
8. Koreksi defisiensi nutrien mikro
9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
10. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.

Dalam proses pelayanan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi, fase
transisi, dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang
sesuai untuk setiap fase.
Tata laksana ini digunakan pada pasien Kwashiorkor, Marasmus maupun Marasmik-
Kwashiorkor.
Bagan dan jadwal pengobatan sebagai berikut:
No FASE STABILISASI TRANSISI REHABILITASI
Hari ke 1-2 Hari ke 2-7 Minggu ke-2 Minggu ke 3-7
1 Hipoglikemia
2 Hipotermia
3 Dehidrasi
4 Elektrolit
5 Infeksi
6 MulaiPemberian
makanan
7 Tumbuh kejar
(Meningkatkan
Pemberian Makanan)
8 Mikronutrien Tanpa Fe dengan Fe

36
9 Stimulasi
10 Tindak lanjut

SEPULUH LANGKAH UTAMA PADA TATA LAKSANA KEP BERAT/GIZI BURUK

1. Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia (kadar gula dalam darah rendah)


Hipoglikemia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak dengan KEP
berat/Gizi buruk. Pada hipoglikemia, anak terlihat lemah, suhu tubuh rendah. Jika anak
sadar dan dapat menerima makanan usahakan memberikan makanan saring/cair 2-3 jam
sekali. Jika anak tidak dapat makan (tetapi masih dapat minum) berikan air gula dengan
sendok. Jika anak mengalami gangguan kesadaran, berikan infus cairan glukosa dan
segera rujuk ke RSU kabupaten.
2. Pengobatan dan pencegahan hipotermia (suhu tubuh rendah)
Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 36 0 C. Pada keadaan ini
anak harus dihangatkan. Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau orang dewasa lain
mendekap anak di dadanya lalu ditutupi selimut (Metode Kanguru). Perlu dijaga agar
anak tetap dapat bernafas.
Cara lain adalah dengan membungkus anak dengan selimut tebal, dan meletakkan lampu
didekatnya. Lampu tersebut tidak boleh terlalu dekat apalagi sampai menyentuh anak.
Selama masa penghangatan ini dilakukan pengukuran suhu anak pada dubur (bukan
ketiak) setiap setengah jam sekali. Jika suhu anak sudah normal dan stabil, tetap
dibungkus dengan selimut atau pakaian rangkap agar anak tidak jatuh kembali pada
keadaan hipothermia. Tidak dibenarkan penghangatan anak dengan menggunakan botol
berisi air panas.
3. Pengobatan dan Pencegahan kekurangan cairan
Tanda klinis yang sering dijumpai pada anak penderita KEP berat/Gizi buruk dengan
dehidrasi adalah :
Ada riwayat diare sebelumnya
Anak sangat kehausan
Mata cekung
Nadi lemah

37
Tangan dan kaki teraba dingin
Anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.

Tindakan yang dapat dilakukan adalah :


Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap setengah jam sekali tanpa
berhenti. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan rehidrasi oral dengan
memberi minum anak 50 ml (3 sendok makan) setiap 30 menit dengan sendok. Cairan
rehidrasi oral khusus untuk KEP disebut ReSoMal.
Jika tidak ada ReSoMal untuk anak dengan KEP berat/Gizi buruk dapat
menggunakan oralit yang diencerkan 2 kali. Jika anak tidak dapat minum, lakukankan
rehidrasi intravena (infus) cairan Ringer Laktat/Glukosa 5 % dan NaCL dengan
perbandingan 1:1.
4. Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit
Pada semua KEP berat/Gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan elektrolit diantaranya :
Kelebihan natrium (Na) tubuh, walaupun kadar Na plasma rendah.
Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg)
Ketidakseimbangan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan, untuk pemulihan
keseimbangan elektrolit diperlukan waktu paling sedikit 2 minggu.
Berikan :
Makanan tanpa diberi garam/rendah garam
Untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang diencerkan 2 X (dengan
penambahan 1 liter air) ditambah 4 gr KCL dan 50 gr gula atau bila balita KEP
bisa makan berikan bahan makanan yang banyak mengandung mineral ( Zn,
Cuprum, Mangan, Magnesium, Kalium) dalam bentuk makanan lumat/lunak
Contoh bahan makanan sumber mineral
Sumber Zink : daging sapi, hati, makanan laut, kacang tanah, telur ayam
Sumber Cuprum : daging, hati.
Sumber Mangan : beras, kacang tanah, kedelai.
Sumber Magnesium : kacang-kacangan, bayam.
Sumber Kalium : jus tomat, pisang, kacang2an, apel, alpukat, bayam, daging
tanpa lemak.

38
5. Lakukan Pengobatan dan pencegahan infeksi

Pada KEP berat/Gizi buruk, tanda yang umumnya menunjukkan adanya infeksi seperti
demam seringkali tidak tampak, oleh karena itu pada semua KEP berat/Gizi buruk
secara rutin diberikan antibiotik spektrum luas dengan dosis sebagai berikut :

UMUR KOTRIMOKSASOL AMOKSISILI


ATAU (Trimetoprim + Sulfametoksazol) N
BERAT Beri 2 kali sehari selama 5 hari Beri 3 kali
BADAN sehari
untuk 5
hari
Tablet Tablet Anak Sirup/5ml Sirup
dewasa 20 mg trimeto 40 mg trimeto
80 mg trimeto prim + 100 mg prim + 200 mg 125 mg
prim + 400 sulfametok sulfametok per 5 ml
mg sazol sazol
sulfametok
sazol
2 sampai 4 bulan
(4 - < 6 kg) 1 2,5 ml 2,5 ml
4 sampai 12
bulan 2 5 ml 5 ml
(6 - < 10 Kg)
12 bln s/d 5 thn
(10 - < 19 Kg) 1 3 7,5 ml 10 ml

39
Vaksinasi Campak bila anak belum diimunisasi dan umur sudah mencapai 9 bulan
Catatan :
Mengingat pasien KEP berat/Gizi buruk umumnya juga menderita penyakit infeksi,
maka lakukan pengobatan untuk mencegah agar infeksi tidak menjadi lebih parah.
Bila tidak ada perbaikan atau terjadi komplikasi rujuk ke Rumah Sakit Umum.
Diare biasanya menyertai KEP berat/Gizi buruk, akan tetapi akan berkurang dengan
sendirinya pada pemberian makanan secara hati-hati. Berikan metronidasol 7,5
mg/Kgbb setiap 8 jam selama 7 hari. Bila diare berlanjut segera rujuk ke rumah sakit
6. Pemberian makanan balita KEP berat/Gizi buruk
Pemberian diet KEP berat/Gizi buruk dibagi dalam 3 fase, yaitu :
Fase Stabilisasi, Fase Transisi, Fase Rehabilitasi
Fase Stabilisasi ( 1-2 hari)
Pada awal fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati-hati, karena keadaan faali
anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.
Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan dirancang sedemikian
rupa sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi metabolisma basal saja.
Formula khusus seperti Formula WHO 75/modifikasi/Modisco yang dianjurkan dan
jadwal pemberian makanan harus disusun sedemikian rupa agar dapat mencapai prinsip
tersebut diatas dengan persyaratan diet sebagai berikut :
Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa
Energi : 100 kkal/kg/hari
Protein : 1-1.5 gr/kg bb/hari
Cairan : 130 ml/kg bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/Kg bb/hari)
Bila anak mendapat ASI teruskan , dianjurkan memberi Formula WHO
75/pengganti/Modisco dengan menggunakan cangkir/gelas, bila anak terlalu lemah
berikan dengan sendok/pipet
Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco atau pengganti dan jadwal
pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak

Keterangan :

40
Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema, maka tahapan pemberian
formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2 jam)
Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO 75/pengganti/Modisco dalam
sehari, maka berikan sisa formula tersebut melalui pipa nasogastrik ( dibutuhkan
ketrampilan petugas )
Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari
Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap jam dan
pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam
Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1)
Pantau dan catat :
- Jumlah yang diberikan dan sisanya
- Banyaknya muntah
- Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja
- Berat badan (harian)
- selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan edema , mula-
mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan naik

7. Perhatikan masa tumbuh kejar balita (catch- up growth)


Pada fase ini meliputi 2 fase yaitu fase transisi dan fase rehabilitasi :
Fase Transisi (minggu ke 2)
Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk
menghindari risiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi
makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.
Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.9-1.0 g per 100 ml) dengan
formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal dan protein 2.9 gram per 100 ml) dalam
jangka waktu 48 jam. Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan
dengan kandungan energi dan protein yang sama.
Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit formula tersisa,
biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200 ml/kgbb/hari).

41
Pemantauan pada fase transisi :
1. frekwensi nafas
2. frekwensi denyut nadi
Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi > 25 kali /menit
dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi volume pemberian formula.
Setelah normal kembali, ulangi menaikkan volume seperti di atas.
3. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan
Setelah fase transisi dilampaui, anak diberi:
- Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering.
- Energi : 150-220 Kkal/kg bb/hari
- Protein 4-6 gram/kg bb/hari
- Bila anak masih mendapat ASI, teruskan, tetapi juga beri formula WHO
100/Pengganti/Modisco 1, karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk
tumbuh-kejar.
Setelah fase rehabilitasi (minggu ke 3-7) anak diberi :
- Formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatas dan sering
- Energi : 150-220 kkal/kgbb/hari
- Protein 4-6 g/kgbb/hariBila anak masih mendapat ASI, teruskan ASI, ditambah dengan
makanan Formula ( lampiran 2 ) karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi
untuk tumbuh-kejar.
- Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga
Pemantauan fase rehabilitasi
Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan :
- Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan.
- Setiap minggu kenaikan bb dihitung.
Baik bila kenaikan bb 50 g/Kg bb/minggu.
Kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu, perlu re-evaluasi menyeluruh.

42
TAHAPAN PEMBERIAN DIET
FASE STABILISASI : FORMULA WHO 75 ATAU PENGGANTI
FASE TRANSISI : FORMULA WHO 75 FORMULA WHO
100 ATAU PENGGANTI
FASE REHABILITASI : FORMULA WHO 135 (ATAU PENGGANTI)

MAKANAN KELUARGA

8. Lakukan penanggulangan kekurangan zat gizi mikro


Semua pasien KEP berat/Gizi buruk, mengalami kurang vitamin dan mineral. Walaupun
anemia biasa terjadi, jangan tergesa-gesa memberikan preparat besi (Fe). Tunggu sampai
anak mau makan dan berat badannya mulai naik (biasanya pada minggu ke 2).
Pemberian besi pada masa stabilisasi dapat memperburuk keadaan infeksinya.
Berikan setiap hari :
Tambahan multivitamin lain
Bila berat badan mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi folat atau sirup
besi dengan dosis sebagai berikut :
Dosis Pemberian Tablet Besi Folat dan Sirup Besi
UMUR
TABLET BESI/FOLAT SIRUP BESI
DAN
Sulfas ferosus 200 mg + Sulfas ferosus 150 ml
BERAT BADAN
0,25 mg Asam Folat Berikan 3 kali sehari
Berikan 3 kali sehari
6 sampai 12 bulan tablet 2,5 ml (1/2 sendok teh)
(7 - < 10 Kg)
12 bulan sampai 5 tablet 5 ml (1 sendok teh)
tahun

Bila anak diduga menderita kecacingan berikan Pirantel Pamoat dengan dosis tunggal
sebagai berikut :

UMUR ATAU BERAT BADAN PIRANTEL PAMOAT


(125mg/tablet)

43
(DOSIS TUNGGAL)
4 bulan sampai 9 bulan (6-<8 Kg) tablet
9 bulan sampai 1 tahun (8-<10 Kg) tablet
1 tahun sampai 3 tahun (10-<14 Kg) 1 tablet
3 Tahun sampai 5 tahun (14-<19 Kg) 1 tablet

Vitamin A oral berikan 1 kali dengan dosis


Umur Kapsul Vitamin A Kapsul Vitamin A
200.000 IU 100.000 IU
6 bln sampai 12 bln - 1 kapsul
12 bln sampai 5 Thn 1 kapsul -
Dosis tambahan disesuaikan dengan baku pedoman pemberian kapsul Vitamin A
9. Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional
Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku,
karenanya berikan :
- Kasih sayang
- Ciptakan lingkungan yang menyenangkan
- Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 30 menit/hari
- Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh
- Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dsb
10. Persiapan untuk tindak lanjut di rumah
Bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning anak dapat dirawat di
rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di desa. Pola pemberian
makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan dirumah setelah pasien
dipulangkan dan ikuti pemberian makanan seperti pada lampiran 5, dan aktifitas bermain.

TATALAKSANA DIET KEP


1. Fase stabilisasi diberikan Formula WHO 75 atau modifikasi.
Larutan Formula WHO 75 ini mempunyai osmolaritas tinggi sehingga kemungkinan tidak
dapat diterima oleh semua anak, terutama yang mengalami diare. Dengan demikian pada
kasus diare lebih baik digunakan modifikasi Formula WHO 75 yang menggunakan tepung

44
2. Fase transisi diberikan Formula WHO 75 sampai Formula WHO 100 atau modifikasi
3. Fase rehabilitasi diberikan secara bertahap dimulai dari pemberian Formula WHO 135
sampai makanan biasa

CARA MEMBUAT
1. Larutan Formula WHO75
Campurkan susu skim, gula, minyak sayur, dan larutan elektrolit, diencerkan dengan air
hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml.
Larutan ini bisa langsung diminum
Larutan modifikasi :
Campurkan susu skim/full cream/susu segar, gula, tepung, minyak. Tambahkan air sehingga
mencapai 1 L (liter) dan didihkan hingga 5-7 menit.
2. Larutan Formula WHO 100 dan modifikasi Formula WHO 100
Cara seperti membuat larutan Formula WHO 75
Larutan modifikasi :
Tempe dikukus hingga matang kemudian dihaluskan dengan ulekan (blender, dengan
ditambah air). Selanjutnya tempe yang sudah halus disaring dengan air secukupnya.
Tambahkan susu, gula, tepung beras, minyak, dan larutan elektrolit. Tambahkan air sampai
1000 ml, masak hingga mendidih selama 5-7 menit.
3. Larutan elektrolit
Bahan untuk membuat 2500 ml larutan elektrolit mineral, terdiri atas :
KCL 224 g
Tripotassium Citrat 81 g
MgCL2.6H2O 76 g
Zn asetat 2H2O 8,2 g
Cu SO4.5H2O 1,4 g
Air sampai larutan menjadi 2500 ml (2,5 L)
Ambil 20 ml larutan elektrolit, untuk membuat 1000 ml Formula WHO 75, Formula WHO
100, atau Formula WHO 135. Bila bahan-bahan tersebut tidak tersedia, 1000 mg Kalium
yang terkandung dalam 20 ml larutan elektrolit tersebut bisa didapat dari 2 gr KCL atau
sumber buah-buahan antara lain sari buah tomat (400 cc)/jeruk (500cc)/pisang (250g)/alpukat
(175g)/melon (400g).

45
11. Bagaimana prognosis dari penyakit An.F ?4,7
Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi, kematian sering
disebabkan oleh karena infeksi. Prognosis tergantung dari stadium saat pengobatan mulai
dilaksanakan. Dalam beberapa hal walaupun kelihatannya pengobatan adekuat, bila
penyakitnya progresif kematian tidak dapat dihindari, mungkin disebabkan perubahan
yang irreversible dari sel-sel tubuh akibat under nutrition.

12. Bagaimana edukasi dan pencegahan dari penyakit An.F ?11


Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur tahun merupakan sumber energi yang
paling baik untuk bayi.
Pemberian makanan tambahan yang bergizi pada usia 6 tahun.
Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan
kebersihan perorangan.
Pemberian imunisasi
Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.
Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan
usaha pencegahan jangka panjang.
Pemantauan
ANAMNESISyang teratur pada anak balita didaerah yang endemis kurang
PF gizi,dengan

- cara penimbangan
Laki laki, usia berat badan tiap bulan. - Anak apatis
22 bulan, BB 4,8 - Konjungtiva
kg, dan PB 60 cm palpebra anemis
- Keluhan utama : - Wajah tampak
tidak mau makan seperti wajah
- Badan semakin orang tua
lama semakin - Perut buncit
kurus - Otot otot kaki
- Sangat kurus atrof
- Tampak lemas - Edema tibia (+)
- MIND
Mata MAPPING
cekung - Crazy pavement
- Perut, muka, dan An. F dermatosis (+)
kaki membesar - Baggy pants (+)
- Rambut tipis dan
mudah rontok
- Bibir kering
- Sering diare
- Belum bisa
berjalan, dan
pertumbuuhan
lebih lambat
- Riwayat ekonomi
keluarga : lemah 46
- Mendapatkan ASI
selama 6 bulan,
setelah itu mpASI
Antropometri
WHO-NCHS dan
CDC = 38,4%

KEP (MARASMUS -
KWASHIORKOR
Defnisi Manifestasi

Epidemiologi Penatalaksanaa

Etiologi Komplikasi
HIPOTESIS
Patifsiologi Prognosis
Anak F mengalami kurang kalori protein tipe campuran marasmik-kwashiorkor.

47
SINTESIS

MALNUTRISI TIPE MARASMUS-KWASHIORKOR

Definisi7
Malnutrisi adalah asupan makan yang kurang dari kebutuhan pada seseorang yang
berakibat terjadinya berbagai gangguan biologi dari orang tersebut yang ditandai dengan
penurunan berat badan >10% dari berat badan sebelumnya 3bulan terakhir atau
pengukuran berat badan kurang dari 90% berat badan ideal berdasarkan tinggi badan atau

48
IMT (Indeks Massa Tubuh) <18,5. Marasmus adalah gangguan gizi berupa kekurangan
karbohidrat. Kwashiorkor adalah gangguan gizi berupa kekurangan protein yang biasa
disebut busung lapar.

Epidemiologi9
Kurang energi dan Protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi dan
kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010,
sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi buruk. Data yang
sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6,0% anak sangat kurus dan 17,1%
anak memiliki kategori sangat pendek.
Keadaan ini berpengaruh kepada masih tingginya angka kematian bayi. Menurut
WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk,
oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat.

Patogenesis dan Patofisiologi4

Kekurangan kalori protein akan terjadi pada saat kebutuhan tubuh akan kalori,
protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. Dalam keadaan kekurangan makanan,
tubuh akan memkompensasi untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan
energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak
merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat
(glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, namun
kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam
sudah dapat terjadi kekurangan.
Untuk itu katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan
asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selama puasa
jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan badan keton. Otot dapat

49
mempergunakan asam lemak dan badan keton sebagai sumber energi jika kekurangan
makanan ini terjadi berkepanjangan.
Karena kekurangan protein dalam diet, akan terjadi kekurangan berbagai asam
amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk sintesis dan metabolisme. Bila diet
cukup mengandung karbohidrat, maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian
asam amino dalam serum yang jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan
kejaringan otot. Makin berkurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan
kurangnya produksi albumin oleh hepar, yang kemudian berakibat timbulnya edema.
Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta- lipoprotein, sehingga
transport lemak dari hati terganggu, dengan akibat adanya penimbunan lemak dalam hati.

Manifestasi Klinis7
Terlihat sangat kurus :
o wajah seperti orang tua
o tinggal kulit pembungkus tulang
o iga gambang dan baggy pant
Edema
o (+) Ringan : edem paling awal di kedua punggung kaki.
o (++) Sedang : edem pada bawah kaki, dan tangan.
o (+++) Berat : edem semua ekstremitas dan muka
Keluhan lain seperti kurus, lemas, berkurangnya saliva dan air mata, BB < normal,
hipotonus dinding perut berkurang, dan disertai dengan keluhan seperti diare dan
anemia
Tanda-tanda Kwashiorkor :
a. Edema umumnya di seluruh tubuh terutama pada kaki ( dorsum pedis )
b. Wajah membulat dan sembab
c. Otot-otot mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan
duduk, anak berbaring terus menerus.
d. Perubahan status mental : cengeng, rewel kadang apatis.
e. Anak sering menolak segala jenis makanan ( anoreksia ).
f. Pembesaran hati
g. Sering disertai infeksi, anemia dan diare / mencret.
h. Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut.
i. Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam
terkelupas ( crazy pavement dermatosis ).
j. Pandangan mata anak nampak sayu.
Tanda-tanda Marasmus :
a. Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit.
b. Wajah seperti orangtua

50
c. Cengeng, rewel
d. Perut cekung.
e. Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.
f. Sering disertai diare kronik atau konstipasi / susah buang air, serta penyakit
kronik.
g. Tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang.
Tanda-tanda Marasmus-Kwashiorkor : Tanda-tanda marasmus kwashiorkor
merupakan gabungan tanda-tanda dari marasmus dan kwashiorkor.

Perbedaan marasmus dan kwashiorkor7

Tanda Klinis Marasmus Kwashiorkor


Usia Bayi Tahun ke-2 dan ke-3
Gangguan Pertumbuhan Lazim Lazim
Edema Tidak ada Sangat sering
Perubahan Mental Jarang, berat jika terjadi pada Sangat sering
bayi dan berlangsung lama
Hepatomegali Sering Sangat sering
Perubahan rambut Sering Sangat sering
Dermatosis Jarang Sering
Anemia Sering, berat Sering, ringan
Lemak di bawah kulit Tidak ada Ada, tapi tipis
Penurunan berat badan Parah Parah, tertutup edema
Nafsu Makan Baik Buruk
Infeksi Sering Sangat sering
Diare Tidak lazim Sangat lazim
Penyembuhan luka Baik jika stress tidak lama, Buruk
buruk jika lama
Adaptasi Stres Baik Buruk
Defisiensi vitamin Tidak lazim Lazim
Malabsorbsi Sebagian Luas
Infiltrasi Lemak hati Tidak ada Parah
Toleransi glukosa IV Normal Terganggu
Glukosa Rendah Sangat rendah
Cu, Zn, Na Normal Rendah
Asam amino Normal Tinggi
Kolesterol Normal Rendah
Hormon pertumbuhan Rendah / normal Tinggi
Urea Diatas 65 % Dibawah 50%
Insulin Rendah Rendah

51
Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dilakukan untuk menghindari terjadinya komplikasi, yaitu terutama


Hipotermi, Hipoglikemi, Infeksi, diare dan dehidrasi,yaitu sebagai berikut:

1. Suhu kamar hangat


a. atap tidak bocor, dinding tidak berlubang.
b. tidur tidak dekat jendela.
c. jangan gunakan kipas angin.

2. Tubuh anak dihangati


a. gunakan cara kanguru.
b. gunakan selimut, topi, dan kaus kaki.
c. jangan mandi terlalu lama (< 5 menit).
d. jangan gunakan botol panas.

3. Sering diberi makan (makanan yang benar).


4. Obati infeksi.
5. Dehidrasi diobati dengan pemberian RESOMAL, pada 2 jam pertama diberikan
tiap 30 menit dengan dosis 5 ml/ kgBB. Lalu 10 jam berikutnya diberikan dengan
dosis 5-10 ml/ kgBB.
6. Pemberian diet
- Menyiapkan F 75, F 100
- Memberikan minuman
- Merencanakan diet
- Berapa banyak, berapa kali, bagaimana caranya, siapa yang memberikan
tempel jadwal piket, jenis dan jumlah minuman.
- Memantau pemberian makanan.
7. Pengobatan
Infeksi, dan jika ada tanda bahaya. Vitamin, mineral, obat kulit, salep mata.
8. Perawatan
Hipoglikemi, hipotermi, diare/dehidrasi, kulit, mata.
9. Dietetik
Benar, bertahap, sering, porsi kecil.
10. Pemantauan

52
Suhu tubuh, tanda hipoglikemi, diet, BB, perilaku sehat, sosial ekonomi.
11. Stimulasi
Rasa aman, senyuman dan mainan sesuai kemampuan anak.
PENGUKURAN STATUS GIZI PADA ANAK5

a. Pengukuran status gizi dengan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) 5


Definisi
KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang sederhana dan
murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak.
Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu
dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan,
termasuk bidan dan dokter.
KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga
untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau
ketidakseimbangan pemberian makan pada anak.
KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan
untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan
gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatan-
nya.
KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak,
imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan
anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI, pemberian
makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/ Rumah Sakit.
KMS juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang
tua balita tenta ng kesehatan anaknya
Manfaat KMS (Kartu Menuju Sehat)
Manfaat KMS adalah :
Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara
lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi,
penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan pemberian
ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.
Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak
Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan
penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.
Cara Memantau Pertumbuhan Balita

53
Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil
penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil
penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan
sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik
pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu naik,
mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya.
a. Balita naik berat badannya bila :
Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna, atau
Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna diatasnya.

Gambar 2.1. Indikator KMS bila balita naik berat badannya


b. Balita tidak naik berat badannya bila :
Garis pertumbuhannya turun, atau
Garis pertumbuhannya mendatar, atau
Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya.

Gambar 2.2. Indikator KMS bila balita tidak naik berat badannya

c. Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan balita mengalami
gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung
dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

54
Gambar 2.3. Indikator KMS bila berat badan balita dibawah garis merah

d. Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak nail (3T), artinya balita
mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke
Puskesmas/ Rumah Sakit.

Gambar 2.4. Indikator KMS bila berat badan balita tidak stabil

e. Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap bulannya.

55
Gambar 2.5. Indikator KMS bila berat badan balita naik setiap bulan

f. Balita sehat, jika : Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna
atau pindah ke pita warna diatasnya.

Gambar 2.6. Indikator KMS bila pertumbuhan balita sehat


b. Pengukuran status gizi dengan NCHS
Dalam menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering
disebut reference. Direktorat Bina Gizi Masyarakat,Depkes dalam pemantauan status gizi
(PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan World Health
Organization_National Centre for Health Statistics (WHO-NCHS).
Berdasarkan Semi Loka Antropometri, Ciloto, 1991 telah direkomendasikan
penggunaan baku rujukan WHO-NCHS.
Kriteria keberhasilan nutrisi ditentukan oleh status gizi :
Gizi baik, jika BB menurut umur > 80% standart WHO NHCS.

56
Gizi kurang, jika berat badan menurut umur 61% sampai 80% standart WHO
NHCS.
c. Penilaian status gizi standar WHO-NCHS

Status gizi Indeks


BB/U TB/U BB/TB
Gizi baik >80% >90% >90%
Gizi sedang 71% - 80% 81% - 90% 81% - 90%
Gizi kurang 61% - 70% 71% - 80% 71% - 80%
Gizi buruk 60% 70% 70%
Catatan : persen dinyatakan terhadap median baku NCHS

57
DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland, W. A. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta : EGC.


2. http:/kamuskesehatan.com/memahami-istilah-medis/ diakses pada tanggal 23 desember
2014 pukul 13.00 WIB.
3. Suandi, IKG. 1999. Diit pada pada anak sakit. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC.
4. Soetjiningsih. 1995. Tumbuh kembang anak. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC.
5. Marcdante, Karen J. 2011. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Essensial. Singapore : Elseviere
pte ltd.
6. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS)
bagi balita. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
7. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu
dan Anak. 2011. Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI.
8. Behrman, Eichard E., dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta : EGC.
9. Arisma, M. B. 2010. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.
10. Atmarita. 2009. Analisis kesehatan dan gizi masyarakat. Jakarta : EGC.
11. Suraatmaja, S. 2000. ASI Petunjuk untuk Kesehatan. Jakarta : penerbit buku kedokteran
EGC.
12. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu
dan Anak. 2011. Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. Jakarta : Departemen Kesehatan
RI.
13. Pudjidiadi, Antonius dkk. 2009. Pedoman pelayanan medis ikatan dokter anak Indonesia.
Jakarta : IDAI.

58