Anda di halaman 1dari 4

A.

Transposabel Elemen pada Eukariotik


Meskipun beberapa pelajaran membahas secara rinci tentang transposabel
elemen pada bakteri, namun ada pencarian yang lebih luas yaitu transposon di
eukariotik. Hal ini dimulai dengan kerja klasik dari Mc Clintoc. Beberapa penemuan
tersebut diterima yang meliputi yeast, jagung, dan Drosophila.
1. Elemen Ty pada Yeast
Yeast Saccharomyces cerevisiaemembawa 35 salinan elemen transposabel
dengan genom haploid disebut Ty. Transposon tersebut memiliki panjang sekitar 5900
pasang nukleotida dan masing-masing ujung transposon diikat oleh segmen DNA
yang panjangnya kira-kira 490 pasang nukleotida yang disebut rangkaian .
Rangkaian membentuk long terminal repeat (LTR). Beberapa LTR dapat terlepas
dari elemen Ty disebut solo . Elemen Ty diapit oleh 5 pasang basa nukleotida yang
tercipta dari duplikasi DNA pada tempat sisipan Ty. Target untuk tempat duplikasi
tidak mempunyai rangkaian standar, tetapi memelihara kandungan pasangan basa A-
T.
Organisasi genetic elemen Ty menyerupai eukariotik retrovirus. Rantai
tunggal RNA virus menyintesis DNA setelah RNA mereka memasuki sel. DNA akan
masuk ke dalam tempat genom, target untuk duplikasi. Elemen Ty memiliki dua gen
yaitu A dan B analogi dengan gen gag dan pol di retrovirus. Setelah RNA disintesis
dari DNA Ty, produk gen TyB digunakan RNA untuk membuat rantai dobel DNA.
Proses ini disebut transkripsi balik. Karena sama dengan retrovirus, yeast elemen Ty
disebut retrotransposon.
2. Transposon pada Jagung
a. Elemen Ac dan Ds
Belajar tentang molecular menunjukkan bahwa secara fungsional elemen
autonom, Ac terdiri dari 4563 pasang nukleotida yang diikat 8 pasang nukleotida
ulangan lansung pada saat memasuki tempat pada kromosom. Hal yang menarik yaitu
dimana 11 pasang nukleotida pada akhirnya berlawanan dengan nukleotida yang
lainnya. Keberadaan inverted terminal repeat ini berperan penting dalam proses
transposisi.
Semua elemen Ac pada genom jagung muncul dengan struktur yang sama,
jika tidak identic. Satu kelas elemen Ds berasal dari elemen Ac yang membentuk
delesi rangkaian internal. Elemen Ac memiliki gen yang mengkode transposase
sehingga transposisi bisa terjadi. Delesi atau mutasi pada gen yang mengkode protein
tersebut akan menghapus aktivasi sinyal dan sekaligus menjelaskan bahwa elemen Ds
tidak dapat mengaktifkan dirinya sendiri. Kendati demikian, Ac dapat digunakan
untuk mengaktifkan kedua elemen baik Ac maupun Ds sehingga transposasenya
disebut dengan transacting. Ac elemen tidak dapat mereplikasi dirinya sendiri selama
transposisi, cukup mengcopy secara normal sebelum dan setelah berpindah.
b. Elemen Spm dan dSpm
Selain transposon pada jagung, penelitian yang dilakukan Mc Clintoc
adalah Supresor-mutator. Elemen otonom disebut Spm dan elemen nonotonom
disebut dSpm. Elemen Spm memiliki 8278 pasang nukleotida, termasuk 13 pasang
nukleotida inverted terminal repeat. Ketika mereka menyisipkan ke dalam
kromosom, mereka menciptakan 3 pasang nukleotida inverted terminal repeat.
Elemen dSpm berukuran kecil daripada Spm karena bagian rangkaian DNA
mengalami delesi. Delesi tersebut mengganggu fungsi DNA untuk membawa elemen
Spm secara komplet dan mencegah sintesis produk gen. Selama produk digunakan
untuk transposisi, delesi elemen Spm tidak dapat memacu pergerakan mereka. Fungsi
elemen Spm adalah sebagai moderator pigmentasi, demonstrat pada transacting, dan
mutator. Analisis biokimia mengindikasi bahwa aktivitas elemen Ac dan Spm
dikontrol oleh seleksi metilasi nukleotida di rangkaian DNA.
3. Transposon pada Drosophila
a. Retrotranposon
Transposon pada Drosophila mirip dengan retrotransposon. Elemen ini
memiliki 5000 15000 pasang nukelotida yang pada ujungnya terdapat repeat
terminal sequence (LTR) dengan ratusan pasang nukleotida. Ketika retrotransposon
memasuki kromosom, elemen ini akan melakukan duplikasi pada target. Ukuran
duplikasi tergantung dengan jenis transposonnya. Pelajaran mengenai perbedaan
strain mengindikasi bahwa Drosophilamemiliki ukuran yang bervariasi. Selain itu,
elemen ini boleh menyebar di semua genom, menduduki posisi berbeda pada strain
yang berbeda.
Retrotransposon bertanggung jawab untuk banyak mutasi pada cerita
klasik Drosophila. Misalnya mutasi yang terjadi pada lokus white pengkode warna
mata Drosophila. Adanya insersi retrotransposon ekspresi lokus menghilang, dimana
wild type levelnya dikurangi. Meskipun insersi mutasi pada Drosophilastabil, namun
ada juga yang mengalami pembalikan seperti semula dengan jumlah yang sedikit.
Misalnya insersi elemen gypsi pada lokus sayap cut yang dapat mengubah fenotip
sayap tersebut menjadi wild type. Pembalikan sayap ini juga terjadi jika elemen gypsi
terlepas dari lokus tersebut.
b. Elemen P dan Hybrid Dsgenesis
Elemen P memiliki 31 pasang inverted terminal repeats dan 8 pasang
nukleotida target site duplication. Anggota dari elemen P memiliki ukuran yang
bervariasi. Elemen terbesar memiliki 2907 pasang nukleotida, termasuk inverted
terminal repeatstetapi tidak temasuk target site duplication. Elemen yang lengkap
bersifat otonom karena memiliki gen yang mengkode protein transposase. Sedangkan
elemen P yang tidak lengkap strukturalnya, maka mereka tidak mampu untuk
memproduksi transposase. Namun, elemen tersebut dapat berpindah jika diproduksi
transposase pada tempat lain dalam genom tersebut.
Drosophilayang memiliki elemen P memiliki mekanisme untuk mengatur
pergerakannya. Akibatnya elemen P pada turunan ini bergerak bebas dan
menimbulkan abnormalitas genetic yang disebut dengan P-M hybrid disgenesis. Hal
ini mengakibatkan mutasi dalam frekuensi yang tinggi, sekaligus terjadi pemutusan
kromosom, segregasi kromosom, dan dampak yang lebih fatal adalah kesalahan
perkembangan gonad. Kondisi ini dapat menyebabkan sterilitas. Seluruh turunan
yang dihasilkan dari persilangan jantan cytotype P dengan betina cytotype M
memiliki kelainan tersebut, tetapi kondisinya tampak sehat. Hal ini terjadi karena
pergerakan elemen P hanya pada sel kelamin sedangkan pada sel tubuh elemen P
tidak melakukan transposisi, karena gen yang mengatur pergerakan P tidak dapat
diekspresi pada sel tubuh.
B. Genetic dan Signifikan Evolusioner pada Tranposabel Elemen
1. Mutasi dan kromosom breakage
2. Digunakan pada analisis genetika
3. Isu evolusioner

PERTANYAAN
1. Mengapa pada transposon yeastsetelah mutasi bisa kembali seperti semula?
2. Mengapa transposisi dari transposabel element dapat menyebabkan mutasi?
JAWABAN
1. Karena terdapat elemen Ty1 yang dapat melibatkan proses transkripsi balik
2. Karena transposabel elemen merupakan gen yang dapat berpindah-pindah dari
satu gen ke gen yang lain atau dari satu kromosom ke kromosom lain, terjadi
karena adanya insersi ke dalam suatu gen, dan dapat mempengaruhi ekspres
gen dengan cara isersi ke dalam urutan-urutan pengatur gen.