Anda di halaman 1dari 4

TUGAS POTENSI ANCAMAN TSUNAMI PROVINSI BANTEN

1. Letak Geografis, Luas Wilayah, dan Adminstratif


Provinsi Banten terletak di ujung barat Pulau Jawa. Secara astronomis, Banten berada
pada koordinat 57'50" - 71'11" LS dan 1051'11" - 106'12" BT. Secara administratif, di bagian
timur Banten berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat dan Jakarta; di sebelah selatan berbatasan
dengan Samudera Hindia, di sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda dan di sebelah utara
berbatasan dengan Laut Jawa. Posisi geografis Banten sangat strategis dengan didukung oleh
Selat Sunda yang merupakan selat penghubung antara Pulau Jawa dan Sumatera, dan bahkan
dilalui kapal besar yang menghubungkan kawasan Asia Tenggara dengan Australia dan Selandia
Baru.
Provinsi Banten mempunyai luas 9.348,27 km2, terdiri dari 4 kota, 4 kabupaten, 140
kecamatan, 262 kelurahan dan 1.242 desa. Kabupaten dan kota tersebut adalah Kab. Lebak, Kab.
Pandeglang, Kab. Serang, Kab. Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang, Kota Tangerang dan
Kota Tangerang Selatan.

2. Topografi
Topografi wilayah Provinsi Banten berkisar pada ketinggian 0 1.000 mdpl. Secara
umum kondisi topografi wilayah Provinsi Banten merupakan dataran rendah yang berkisar antara
0 200 mdpl yang terletak di daerah Kota Cilegon, Kota Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan
sebagian besar Kabupaten Serang. Adapun daerah Lebak Tengah dan sebagian kecil Kabupaten
Pandeglang memiliki ketinggian berkisar 201 2.000 m dpl dan daerah Lebak Timur memiliki
ketinggian 501 2.000 m dpl yang terdapat di Puncak Gunung Sanggabuana dan Gunung
Halimun. Morfologi wilayah Banten secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:
Morfologi datar (kemiringan 0-2 %) seluas 574.090 hektare
Morfologi bergelombang (kemiringan 2-15%) seluas 186.320 hektare
Morfologi curam (kemiringan 15-40%) seluas 118.470,50 hektare

3. Tektonik
Provinsi Banten yang merupakan provinsi termuda dan merupakan wilayah pemekaran
dari Provinsi Jawa Barat, merupakan wilayah yang juga rawan terhadap bencana alam. Salah
satu bencana alam yang rawan adalah tsunami. Bencana tsunami pada umumnya diakibatkan
oleh letusan gunung berapi di bawah laut, gempa bumi yang pusatnya di dalam laut dan
bertubrukannya antara lempeng samudera.
Banten terletak berdekatan dengan pertemuan lempeng tektonik Indian-Australian dan
Eurasian. Di samping itu, Banten mempunyai gunung berapi aktif Anak Krakatau yang
merupakan sisa hasil letusan gunung Krakatau. Sebelumnya bencana tsunami pernah terjadi yang
dihasilkan oleh meletusnya gunung api Krakatau pada tahun 1883. Gelombang raksasa setinggi
41 meter itu menghancurkan 295 kota dan desa di sepanjang pantai Selat Sunda dengan jumlah
korban sekitar 36.000 penduduk Lampung dan Banten. Dengan posisi geologis Banten yang
demikian ini menyebabkan Banten menjadi daerah yang rawan bencana gempa tektonik maupun
vulkanik.

4. Potensi Tsunami

Pada Indeks Risiko Bencana Indonesia (2013) diketahui bahwa provinsi Banten dengan
Kab. Serang dan Pandeglang mempunyai risiko tsunami tinggi dengan skor 24.

Gambar 1. Peta Zonasi Rawan Bencana Tsunami Banten

Daerah-daerah yang berpotensi rawan tsunami diasumsikan daerah-daerah pesisir dengan


elevasi kurang dari 25 m. Angka ini ditentukan oleh BRR, bahwa tinggi gelombang tsunami
maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 - 24 m Berdasarkan asumsi ini sebagian besar
pantai barat dan pesisir selatan Banten karena topografinya yang relatif landai, adalah daerah
rawan tsunami.
Gambar 2. Deliniasi Kawasan Rawan Tsunami Banten

5. Perkiraan Risiko Akibat Tsunami


Akibat adanya tsunami aka nada banyak kerusakan serta kerugian yang ada dan
diperkirakan sebagai berikut:
Banyaknya korban jiwa, serta dapat terganggunya kesehatan masyarakat akibat
pasokan air bersih yang hilang dan adanya banjir
Infrastruktur (bangunan, jalan, rumah, jembatan, dsb) yang rusak maupun hancur
Panen musnah seluruhnya bila pada saat tsunami datang para petani baru saja
menanami sawah dan ladang (tanaman yang masih jemah itu tercabut seluruhnya dari
tanah, dan terseret ombak ke lautan)
Tanah garapan kehilangan kesuburan akibat genangan air laut
Lumbung pangan akan tergenang atau bahkan terseret arus dan tenggelam, dan
persediaan pangan akan rusak sebagian atau seluruhnya bila tidak sempat
diselamatkan ke tempat lain yang lebih tinggi letaknya
Binatang ternak yang tak diungsikan secepatnya akan mati tenggelam atau terseret
arus
Sistem budidaya tanaman pangan (termasuk teras-teras sawah yang rendah, petak-
petak, pengairan, peralatan seperti traktor, bajak, dsb) hancur,hilang terbawa ombak,
atau rusak akibat air garam
Sistem perikanan hancur (kapal dan perlengkapan nelayan remuk atau hilang terseret
ombak)

Daftar Pustaka
Indra, Latif Tito. -. Karakteristik Daerah Potensi Bencana Alam Wilayah Selat Sunda. Jakarta:
UI.
Kurniawan, Lilik. 2013. Indeks Risiko Bencana Indonesia. Sentul: BNPB.
Soleman, M.Khifni. 2012. Pemetaan Multirawan Bencana di Provinsi Banten. Bogor.
Herydictus. -. Tsunami. (https://herydictus.wordpress.com/tsunami/, diakses pada tanggal 9
Januari 2017).
Parian. 2012. Kondisi Geografis Provinsi Banten. (http://bantenprov.go.id/read/program-
kerja.html, diakses tanggal 9 Januari 2017).